RR:
Oichiflippy: Arigatou ficnya dibilang keren ^^ Alfrednya udah tampil yaa~
kanasvetlana: Horornya pas? Aku kira kurang ._.)a Oke, ini 4 chapter sekaligus lho~ xD
Irgill Kirkland: Arthurnya sudah nongol/? ya dear~
ChocoDdy: Padahal kayanya itu ga terlalu serem deh ._. Udah dipanjangin itu, 4 chapter pula xD Ehh, Natalya udah muncul xD Btw thanks reviewnya ^^)b
Nao Kozakura: UL Jepang? Oke, nanti diusahakan ^^ Thanks reviewnya~ *bow*
*Just info, Mark is 2P!Canada
Urban Legend
A Hetalia Fanfiction by UltimateFujo
All the characters belong to Hidekaz Himaruya
I own this fic
this time,
I Know
from Unknown
'Even if you won't say it; i already know'
Hetalia's Canada
Matthew menunduk.
Sesekali ia terbatuk menahan sakit, pukulan-pukulan itu masih terasa. Tubuhnya meringkuk di sudut ruangan kelas. Gelakan menjijikkan itu masih terdengar di telinganya.
Masih tertawa, Mark berjalan pelan ke arahnya. Mata elang laki-laki itu menatap sinis ke arah Matthew. Sementara Matthew hanya terdiam ditempatnya, bahkan ketika Mark meludah ke arahnya.
"Awas kau, akan kuhajar bila kau mengadukannya kepada ibumu"
Matthew menatap lelaki itu melalui ekor matanya, memperhatikan ketika Mark dan kawanannya keluar dari kelas. Ia menghela nafas sebentar, sebelum berusaha bangkit dari tempatnya. Sakit yang teramat sangat melanda tubuhnya, tapi ia memaksakan diri untuk terus bergerak. Matthew meraih tasnya dan berjalan pelan keluar ruangan, berniat untuk pulang.
Ya, Matthew adalah salah satu dari sekian banyak korban bully. Ironisnya lagi, dia dan Mark –orang yang selalu membullynya- bahkan masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Matthew tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak menguasai teknik bela diri seperti Wang Yao, ia juga bukan seorang superstar di sekolah layaknya Gilbert. Ia hanya Matthew. Walau begitu, Matthew cukup dikenal di sekolah karena selalu menjadi juara umum. Ia juga selalu menjuarai lomba yang ia ikuti.
Selain Mrs. Lily, tidak ada yang tahu tentang pembullyan yang dilakukan Mark terhadapnya. Mrs. Lily pun tak bisa berbuat apa-apa, mengingat keluarga Mark cukup disegani di daerahnya. Mark memang suka berbuat semena-mena karena posisi keluarganya.
"Aku pulang" ucap Matthew saat memasuki rumahnya. Ibunya keluar dari dapur dan terkejut melihatnya.
"Ck, ada apa dengan tubuhmu hah?" tanya ibunya penuh selidik. Matthew menggeleng.
"Terjatuh saat bermain bola" jawabnya enteng. Ibunya mengangkat sebelah alisnya.
"Terjatuh saat bermain bola tak akan membuat tubuhmu lebam sampai seperti itu!" bentak wanita itu. Matthew menghela nafas pelan sebelum berjalan melewati orang yang telah membesarkannya.
"Ibu tak akan mengerti..." lirihnya pelan ketika memasuki kamarnya.
Hari telah berganti.
Matthew berjalan menuju sekolahnya dengan lesu. Ia ingat hari ini ada tes matematika, ditambah lagi ia belum belajar kemarin. Matthew menghela nafas pelan. Laki-laki itu menundukkan kepala dan menendang kerikil dihadapannya. Pandangannya terlihat kosong, seolah pikirannya melayang entah kemana.
"Ha, lihat siapa yang sudah datang"
Matthew tersentak ketika mendengar suara itu, itu Mark. Namun bagaimanapun, dia enggan mengangkat wajahnya, jadi ia hanya menunduk sepanjang koridor sekolah. Ia sama sekali tak menyadari sejak kapan ia sampai disini.
Test matematika mengambil waktu 2 jam, untungnya Matthew merasa soalnya tak terlalu sulit. Ia mengerjakannya dengan jujur, berbeda dengan Mark yang –selalu- menyontek hasil pekerjaan orang lain. Setelah mengumpulkan tugasnya, kelas mereka kosong hingga jam pulang tiba.
TEETTTTTTTTTTTTTTT
Bel panjang mengakhiri pertemuan hari itu.
Matthew bersiap untuk pulang, memasukkan barang-barangnya ke tas lalu memakai sepatunya. Baru saja satu langkah ia berjalan, telinganya mendengar ada yang memanggilnya.
"Hey kau," panggil Mark. Matthew berhenti berjalan, namun tak membalikkan badannya.
"Nanti malam halloween kan? Kutunggu kau malam ini di Heta Cemetery" perintah Mark. "Tak ada penolakan, tuan muda" lanjutnya sambil terkekeh.
Matthew mengangguk pasrah lalu pulang ke rumahnya.
Sebenarnya, Mark sudah menyiapkan 'kejutan' untuk anak itu. Dia akan menggali tanah menyerupai makam, mengenakan kostum vampir dan bersembunyi disana. Dan saat Matthew lewat, ia akan menarik kakinya kedalam lalu memukulinya lagi. Matthew juga menyuruh teman-temannya ikut sehingga ketika Matthew melawan ia bisa meminta bantuan.
'Kkk, ide yang sempurna' pikir Mark dalam hati.
Malamnya, Matthew benar-benar datang ke pemakaman itu. Angin dingin menyeruak seolah menusuk tulang, padahal ia sudah memakai sweater yang cukup tebal. Pohon-pohon yang menjulang diiringi suara burung hantu terkadang membuatnya takut. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa berkata 'tidak' pada Mark.
Perlahan, Matthew melangkahkan kakinya, menyusuri setiap makam yang ada. Matthew benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan, karena Mark hanya menyuruhnya datang kesini.
'Ck, seharusnya aku tak datang saja kalau begini jadinya' gerutu Matthew dalam hati.
Lelaki itu masih berjalan. Matanya terkadang mendelik ketika mendapati suara aneh –yang ternyata hanya daun berguguran-. Ia tidak suka suasana ini. Mungkin bukan tidak suka, melainkan benci.
Saat Matthew asik dengan pikirannya, ia merasakan ada sesuatu menariknya dari bawah. Matthew menjerit ketika dirinya terperosok dan memukul makhluk itu berkali-kali.
"Whoa, whoa, calm down, ini aku, Mark" ujar Mark sambil menghindar. Ruang yang sempit membuatnya tak leluasa bergerak.
Matthew berhenti menyerang ketika mengetahui itu adalah Mark. Matanya membulat dan mulutnya terbuka sedikit. Ia terkejut, namun tidak lama ekspresinya itu berganti.
Matthew menyeringai.
Mark menaikkan sebelah alisnya ketika melihat Matthew merogoh sakunya, mencari sesuatu. "Sedang apa kau, freak?" tanyanya dengan nada mengancam. Matthew tampak tak menggubris, ia masih merogoh sakunya hingga ia menemukan benda yang ia cari.
Mark membulatkan mata ketika melihat apa yang Matthew raih dari sakunya.
Sebuah pisau.
"M-Matthew... Apa yang akan kau lakukan?" tanya Mark dengan gemetar.
Matthew tak menjawab. Ia hanya melangkah maju sambil tertawa. Tawa yang terdengar jahat.
"Ma-maafkan aku...atas apa yang aku lakukan..." kata Mark sambil berjalan mundur, berusaha menghindar dari Matthew.
Bruk
Mark sudah tak bisa mundur. Punggungnya telah menyentuh tanah. Ia tak menyangka idenya bisa menjadi seburuk ini.
"Se-sebenarnya... Dari a-awal aku hanya bercanda..." ujar Mark mencoba memberi penjelasan. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya.
"Justru itu..." kata Matthew sembari mengangkat pisaunya. Mata Mark membulat.
Cleb!
Pisau itu mendarat di perut Mark. Matthew tersenyum ketika darah terciprat ke wajahnya. Lelaki canadian itu kemudian berbisik di telinga Mark.
"... Sejak awal aku tahu kau hanya bercanda"
Who's next?
You decide it~
