SAYA BALIKK WWW AHHH MAAF LAMA BANGET DX DAN INI PENDEK PULA ORZ

Awas, saya yakin ini bakalan ooc :'D Dan terima kasih sekali untuk semua dukungan serta review yang saya terima! Saya janji akan apdet lebih sering kalau ada kesempatan :'D *real life sucks men

Selamat membaca~!


Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya

Baggage Claim

from Unknown

'This... isn't mine,'

Hetalia's Romano


Lovino menatap arlojinya.

Ini sudah pukul 10.30, yang mana artinya pesawat yang ia tunggu telah telat 15 menit. Gerutuan kesal meluncur begitu saja dari bibir semerah mawar tersebut. Dia memang tak pernah belajar dan tak pernah ingin menjadi sabar. Menyia-nyiakan waktu adalah pantangan terbesar baginya.

Lelaki itu baru saja akan membatalkan keberangkatan ketika speaker mengudarakan pengumuman.

"Untuk para penumpang, pesawat tujuan Italia baru saja datang. Mohon maaf jika telat karena terjadi sebuah kecelakaan. Penerbangan Jerman-Italia akan dilakukan 5 menit lagi, dimohon bagi para penumpang untuk segera bersiap-siap."

Lovino menghela napas lega. Akhirnya, batinnya dalam hati.

Sudah 3 tahun ia berada di Jerman, mewujudkan impian untuk menyelesaikan pendidikannya. Jadi karena pengalaman yang ia dapat sudah cukup, ini saatnya kembali ke kampung halamannya.

Lovino melangkah menuju pesawat, dalam hati sudah berniat untuk beristirahat sejenak. Sayang sekali petugas dengan lembut memberi tahu bahwa semua tas dan koper harus dibawa terpisah.

"Tidak bisakah pihak penerbangan memberiku keringanan untuk membawa koper sendiri?" petugas wanita itu menggeleng pelan, seolah sudah terbiasa dengan kasus seperti ini.

Lovino menarik napas panjang, membuangnya kasar lalu menyerahkan koper miliknya. Agak tidak rela sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Dia memang tak punya wewenang untuk itu semua. Selesai memberikan, kakinya melangkah dengan terhuyung, menapaki jalan menuju pesawat.

Sampai di sana Lovino segera duduk di tempatnya. Kebetulan ia duduk di dekat jendela. Matanya menatap landasan yang makin lama makin jauh. Mengecil perlahan seperti ciutnya balon gas. Hah, ia akan merindukan Jerman setelah ini.

Tak berapa lama seorang pramugari datang membawakan bolognese untuknya. Lovino menerimanya dengan senang hati, menyuapkan sesendok demi sesendok spaghetti itu ke dalam mulutnya. Merasakan nikmatnya cita rasa yang tersemat di makanan itu. Dia suka pasta, sangat suka. Terlebih jika disajikan dengan saus tomat.

Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, Lovino meletakkan piring itu dan bersandar ke kursinya. Kelopak matanya mulai membungkus iris hitam miliknya, sebelum dewi mimpi menghampiri dan membawanya.

Entah berapa lama Lovino terlelap, yang pasti saat ia bangun pesawat sudah sepenuhnya mendarat. Ia menguap dan berjalan keluar dari sana, menuju ke bagian pengambilan tas dan koper. Menunggu disana.

Pikirannya melayang, memikirkan banyak hal. Kira-kira bagaimana kabar teman-temannya? Sudah setinggi apa adiknya? Dan oh, ia sudah lama hilang kontak dengan teman-temannya di smp dulu.

Bah, memikirkannya saja membuat Lovino berubah masam.

Entah mengapa tangannya bergerak meraih sebuah koper hitam. Lovino menoleh ketika lengannya bersinggungan dengan lengan lain. Ah, ada lelaki yang juga hendak mengambil koper miliknya. Pemuda itu sempat melirik dan mendapati koper lelaki itu sama persis dengan miliknya.

"Maaf, aku duluan ya" ujar lelaki itu. Lovino menarik bibirnya dan mengukir lengkungan disana. Tak peduli sebenarnya.

Setelah mendapati apa yang ia butuhkan, Lovino bergegas pergi dari sana. Ia menghampiri sebuah taksi yang kebetulan berada di depan bandara dan menaikinya. Terdengar hela napas lega ketika Lovino duduk di jok belakang.

Di saat hendak melanjutkan mimpinya, Lovino tersentak dan menyadari sesuatu. Tangannya dengan terburu-buru membuka resleting koper, hanya sedikit.

Ia ingat ia membawa oleh oleh dari Jerman sana. Sesuatu yang seharusnya milik temannya.

Matanya membulat ketika menyadari disana tak ada benda yang ia cari. Nafasnya memburu, irisnya bergerak gusar menatap ke sana ke mari.

"K-Koper ini..." dia tergagap dalam bisikan kecil. Nyaris tak terdengar. Pikirannya berguncang hebat memutar ulang seluruh kejadian yang ia alami hari ini. Begitu ketakutan. Begitu panik.

Karena koper itu bukan miliknya. Sesuatu yang ia cari adalah milik teman sekamarnya di sana, Ludwig.

Matanya membulat sempurna ketika mengingat lelaki di bandara itu.

Lelaki itu memiliki sesuatu dari Ludwig.

Lelaki itu memiliki kepalanya.