"Selamat datang di Yvest Saint Laurent. Semoga kau betah bekerja di sini."
Suara baritone yang berasal dari kedua belah bibir Midorima, menuntun Kuroko menganggukkan kepala. Hati dan pikiran sudah dimantapkan. Mau tidak mau. Terjadi atau tidak. Kuroko harus berani mengambil resiko juga konsekuensi yang sudah ia putuskan.
Bekerja di perusahaan dunia bukanlah hal yang mudah.
Dibutuhkan kerja keras tinggi untuk mendapat gelar atau jabatan. Dan di sinilah, Kuroko Tetsuya. Membuka lembaran baru untuk awal yang baru. Ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya, agar memberikan hasil yang maksimal atas kerja keras.
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Sebuah pepatah singkat yang mengajarkan banyak makna dibalik kalimat.
Midorima menatap Kuroko yang sedari tadi terus membisu. Mungkin dia masih kaget untuk menginjakkan kaki di sini. Pria hijau berdeham memecahkan suasana—membuyarkan pikiran pemuda biru yang langsung menatap dirinya.
Midorima menenggelamkan jemari kanan ke dalam saku celana, "Baiklah, kau bisa bekerja mulai besok, nodayo."
"Baik. Saya menerima dengan senang hati," ujar Kuroko sopan sembari membungkukkan badan.
Lima belas detik. Hening menyelimuti suasana.
Jengah dengan suasana hening, Mayuzumi menyikut pelan lengan Akashi—memberi isyarat agar melanjutkan photoshootnya kembali. Pemuda merah mengangguk tipis sebagai jawaban. Lalu, keduanya pun melangkahkan kaki dari tempat mereka berpijak, menuju daerah yang sudah di desain khusus untuk photoshoot.
Mayuzumi mulai menjamah kembali kekasihnya—sebuah kamera DSLR yang selalu dibawanya kemana-mana. Menempelkan kamera hingga setara dengan wajah. Mata ia picingkan agar fokus pada sebuah lensa kecil. Tangan kiri mulai memainkan zoom pada kamera. Mencari fokus yag pas untuk sekali bidikan.
Akashi mulai berpose di hadapan kamera. Tangan kiri masuk ke dalam saku celana. Tangan kanan menyentuh tengkuk. Kepala sedikit ia dongakkan ke atas. Tungkai kaki sedikit dilebarkan. Sorot mata tajam nan memukau—menatap fokus sebuah kamera di depan.
Terkesan maskulin dan gagah.
Merupakan gaya seorang Akashi Seijuurou.
"Oke. Tahan. Ya." Mayuzumi memberi aba-aba pada Akashi. Lalu, dalam hitungan detik, satu bidikan berhasil di dapat. Pria abu menatap sekilas hasil bidikannya. Sejenak, ia tersenyum puas dengan hasil.
Kuroko melihat interaksi non-verbal atar dua tokoh. Mulut pemuda biru terbuka hingga melafalkan sebuah kalimat, "Akashi-san itu orang yang keren." Tulus dan tidak dibuat-buat. Kuroko patut mengacungkan jempol dengan profesi yang sekarang sedang dikenyam oleh pemuda bernama Akashi Seijuurou.
Midorima menoleh dan mendapati tatapan datar Kuroko yang tengah melihat kedua rekan kerjanya. Ia menghela napas, "Baiklah, Kuroko, untuk sekarang kau boleh pulang lebih awal. Dan jangan lupa, besok kembali datang tepat pukul sembilan pagi, nodayo." Mendengar itu, Kuroko mengangguk sebagai jawaban.
Tanpa basa-basi, Kuroko berpamitan dengan pria hijau, "Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu. Terima kasih sudah menerima saya bekerja di sini, Midorima-san."
"Sama-sama. Tapi—bisakah kau tidak perlu se-formal itu, nanodayo?" tanya Midorima canggung.
Kuroko menatap polos pria di hadapannya, "Eh? Memangnya kenapa?"
"Agak janggal bila kau berlaku seperti itu. Jangan diambil tegang, nodayo. Santai saja."
Kuroko mengangguk sebagai jawaban. Tanpa basa-basi lagi, ia berpamitan dengan Midorima. Keluar dari ruangan dan masuk ke dalam lift, menuju lantai dasar yang menghubungkan perusahaan dengan dunia luar.
.
MADRE
Giovanno
.
Tin. Tin. Tin.
Suara nyaring yang berasal dari alarm, membuat seseorang bergeliat dibalik selimut hitam kotak-kotak. Sinar mentari menerobos paksa tirai putih susu—membuat seseorang semakin menggeliat tak nyaman.
Suara alarm semakin menggema nyarin dalam ruangan.
Akhirnya, dengan terpaksa, orang tersebut menyibak selimut dan mematikan alarm dengan kasar. Orang itu—Kuroko Tetsuya, yang masih setengah mengantuk, terpaksa bangun karena bunyi dari alarm sialan. Iris biru yang merah akibat kurang tidur, harus bertemu sapa dengan sinar mentari yang dengan seenaknya menerobos retina.
Kuroko mengerjapkan mata beberapa kali—mencoba menyesuaikan. Ia merasa tubuhnya lemas dan kepalanya sedikit pening—akibat dari begadang.
Sebenarnya, Kuroko begadang bukan karena mengerjakan pekerjaan atau membaca novel. Malah justru sebaliknya. Ia tidak bisa tidur. Kejadian kemarin membuat ia serasa terbang ke langit ke tujuh. Antara mimpi dan kenyataan, Kuroko Tetsuya tak dapat membedakan. Namun sayangnya, ini adalah kenyataan. Bukan sebuah ilusi semata yang dibuat secara klise.
Kuroko menghela napas. Hari ini ia harus datang ke perusahaan jam sembilan. Lirikan mata menangkap alarm yang terletak di atas meja kecil.
Sudah jam setengah delapan.
Sebaiknya ia harus segera bergegas agar tidak terlambat.
Dengan sigap, Kuroko bangkit dari kasur lalu berjalan sembari mengambil handuk yang tergantung di rak. Kemudian, ia masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dengan balutan sabun vanilla yang disiram dengan air hangat di pagi hari.
Merupakan aktivitas yang disukai oleh seorang pemuda biru—Kuroko Tetsuya.
.
.
.
Kuroko berjalan menyusuri trotoar yang lumayan padat. Berjalan kaki dari apartmen sampai ke perushaan di mana ia bekerja, kurang lebih berjarak lima ratus meter. Namun hal tersebut tidak memutuskan semangat Kuroko—malah justru sebaliknya. Pemuda biru itu lebih suka berjalan kaki ketimbang menaiki kendaraan umum.
Bukan berarti ia tidak suka. Hanya saja, jika jaraknya mudah di jangkau, alangkah baiknya untuk berjalan kaki. Ini merupakan salah satu tindak penghematan uang. Bila dilihat, tinggal di negeri sakura tidaklah mudah. Biaya hidup yang mahal sangat mempengaruhi pola hidup.
Ia berjalan menyusuri pertokoan yang menghiasi trotoar. Begitu banyak toko-toko yang berjajar. Mulai dari mini market sampai toko buku. Kuroko menikmati jalan paginya. Seketika, perpaduan antara aroma cokelat daan susu menggelitik hidung mancungnya. Pemuda biru perlahan memejamkan kedua mata—merasakan aroma wangi yang membuat mabuk isi pikiran.
Lirikan mata terfokus pada sebuah toko roti yang kini berada di sampingnya. Beberapa menu roti hari ini dipamerkan dalam rak roti yang diletakkan tepat di sebelah kaca. Ada roti isi cokelat dengan taburan kacang. Roti pandan dengan keju serut. Roti prancis. Roti isi selai strawberry. Roti moccachino dan masih banyak lagi.
Cacing mendemo dalam perut—membuat sedikit getaran lapar. Membuat pemuda itu reflek memegang perut. Akhirnya, Kuroko berjalan dua langkah ke depan mendekati sebuah papan dengan tinggi yang setara dengan pinggangnya. Iris biru menangkap daftar menu yang tertera pada papan.
Special Menu For Today!
Frappuccino Smiley
Mr. Giggle Double Meet
Mrs. Sausage Clumsy
Shy Vanilla
Kekehan kecil keluar dari belah bibir Kuroko setelah membaca daftar menu.
Satu kata yang terlintas—
Unik.
Sangat unik sekali. Membuat pemuda ini semakin dibuat penasaran. Kuroko melangkahkan kaki masuk ke dalam toko. Begitu masuk, aroma daging dan susu bercampur aduk meracuni pikiran pemuda biru. Toko dengan gaya vintage tahun sembilan puluhan yang ditata sederhana. Tidak kuno dan tidak modern.
Terkesan sederhana.
Kuroko berjalan mengambil nampan beserta penjepit kue. Kemudian, ia berjalan mendekat pada salah satu rak roti dan mulai mengambil roti Shy Vanilla. Bentuk luar roti yang putih dengan tambahan potongan jeruk dihias semenarik mungkin, menjadi aksesoris unik roti ini. Lalu, kenapa roti ini disebut Shy Vanilla?
Ah, Kuroko tidak tahu.
Setelah mengambil, ia pun berjalan ke kasir dan menaruh nampannya tepat di sebelah mesin kasir. Seorang wanita yang merupakan penjaga kasir, menyapa Kuroko sopan lalu mulai mengemas roti.
Selesai mengemas, wanita itu berkata, "Totalnya tiga ratus yen, Tuan."
Roti yang dibeli Kuroko dikemas ke dalam sebuah kantung roti yang dicetak khusus, lalu diberi pita pada ujung ikatan. Hanya satu roti saja sudah dikemas sedemikian rupa. Kuroko mengeluarkan dompet di balik saku celana, lalu memberikan dua lembar uang, "Ini."
Wanita itu menerima uang yang disodorkan Kuroko dengan senang hati, "Baik, uangnya pas. Terima kasih dan selamat datang kembali."
"Trims," ujar Kuroko singkat lalu berjalan keluar dari toko.
Saat sedang berjalan, Kuroko membuka makanannya. Membuka mulut lalu mendekatkan roti. Deretan gigi putih menggit, lalu merobek roti. Perlahan ia mulai mengunyah. Ketika sedang mengunyah, pemuda biru merasakan manisnya roti yang bercampur dengan masamnya jeruk—membuat rongga mulut sedikit ngilu akibat rasa asam. Reflek ia memicingkan mata akibat rasa yang ditimbulkan.
Oh. Kuroko mengerti.
Alasan mengapa roti ini disebut Shy Vanilla.
Perpaduan antara manisnya vanilla bersatu dengan rasa asam jeruk. Yang pada akhirnya membuat rongga mulut terasa ngilu sejenak. Oke, ia berhasil memecahkan kasus nama yang terkandung dalam roti ini.
Tak ingin membuang waktu, Kuroko mempercepat langkah kaki dan memasukkan roti yang tadi ia beli ke dalam ransel. Ia tak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja.
.
.
.
Kuroko Tetsuya berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan. Dengan pakaian sederhananya—kemeja biru muda yang digulung hingga sikut yang dipadu dengan celana jeans, serta sepasang sepatu sneekers menjadi pelengkap. Ia berjalan hendak menuju lift sebelum—
"Permisi, apakah Anda pekerja baru yang bernama Kuroko Tetsuya?" Seseorang bertanya sembari menyentuh singkat punggung pemuda biru. Sontak, Kuroko menghentikkan langkah sembari membalikkan badan. Iris biru menangkap sosok cantik dari seorang wanita berambut pink.
Wanita itu mengenakan baju putih tanpa lengan yang dipadu dengan rok pendek warna merah. Sepasang sepatu boots wedges pendek berwarna merah maroon menjadi pelengkap busananya. Rambut pinknya dikepang setengah. Menyambung dari ujung ke ujung.
Benar-benar sangat cantik.
Kuroko mengulas senyum tipis seraya mengangguk, "Ya. Saya pekerja baru di sini."
"Ah! Akhirnya saya bisa bertemu dengan Anda! Perkenalkan, nama saya Momoi Satsuki. Saya bekerja sebagai make up artist di sini!" jawab wanita yang bernama lengkap Momoi Satsuki sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Kuroko dibuat kaget olehnya. Ia kira, wanita ini adalah seorang model. Tapi nyatanya, ia seorang make up artist. Kuroko benar-benar tidak menyangka.
Iris magenta menatap bingung lawan bicaranya, "Kuroko-san? Anda tidak apa-apa?"
Seketika Kuroko tersadar oleh suara lembut yang mengalun jelas di telinga, "Ya, saya tidak apa-apa. Nama saya Kuroko Tetsuya. Senang berkenalan dengan Anda dan mohon juga untuk kerja samanya." Kuroko menjawab sopan sembari balas menjabat.
"Umm… bisakah kita tidak se-formal ini?" tawar Momoi.
Sebelah alis terangkat, "Hmm? Memangnya kenapa, Momoi-san?"
Momoi tertawa kecil mendengar pertanyaan Kuroko.
"Ayolah, Tetsu-kun. Kita ini sesama rekan kerja, jadi jangan formal seperti itu. Nanti malah terkesan canggung. Ah, bolehkan aku memanggilmu 'Tetsu-kun'?"
Kuroko mengangguk singkat sebagai jawaban. Wanita berambut pink menepuk tangan senang.
"Tetsu-kun, kau mau ke ruang photoshoot?"
Kuroko menautkan alis, "Eh? Darimana kau tahu, Momoi-san?"
"Tentu saja—Hei! Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak berlaku formal?" tanya Momoi kesal. Wajahnya yang kesal sangat lucu dipandang—membuat Kuroko terkekeh sendiri melihat tingkah laku lucu dari rekan kerjanya.
"Kenapa ketawa?"
"Wajahmu lucu juga ya kalau lagi marah."
"Tetsu-kun!"
"Baik, baik. Aku minta maaf, Momoi-san."
"Nah, baru dibilang sudah dilakukan lagi."
"Sori. Tapi aku tidak biasa memanggil suffix 'chan' untuk perempuan," tukas Kuroko jujur dan sukses membuat Momoi kesal. Kali ini, ia menggembungkan pipi yang membuat Kuroko berusaha untuk menahan tawanya.
Waktu terus bergulir. Tiga puluh detik menghabiskan keheningan antar dua tokoh. Jengah dengan suasana, Momoi mulai membuka topik, "Ah, ya. Tetsu-kun, kau mau ke ruang photoshoot kan?" Momoi bertanya sekali lagi—hanya untuk memastikan tepatnya.
Kuroko mengangguk, "Iya. Dirimu sendiri?"
"Sama. Ayo, Tetsu-kun. Lekas beranjak. Aku yakin yang lain sudah menunggu."
"Baik."
Momoi memimpin di depan, sedangkan Kuroko berjalan di belakangnya. Keduanya masuk ke dalam lift. Momoi menekan angka tujuh yang tertera pada tombol lift. Tak perlu waktu lama, pintu lift otomatis terbuka dan keduanya berjalan keluar dari lift. Deru langkah yang timbul dari sepasang boots wedges dan sneekers menggema nyaring pada lorong gedung.
Setibanya di depan pintu, Momoi membuka pintu tersebut dan keduanya masuk ke dalam ruangan. Di sana, sudah hadir sosok dari fotografer—Mayuzumi Chihiro.
Seperti biasa, dengan balutan kemeja putih yang satu kancing atas dibuka. Dibalut oleh celana jeans hitam dan sepasang sepatu pantofel hitam—menunjukkan style dari seorang pria berambut abu.
Momoi berlari kecil mendekati Mayuzumi yang tengah duduk di kursi sembari membersihkan lensa kamera.
"Mayu-kun, kau sudah di sini sejak kapan?" tanya Momoi penasaran dengan nada imut.
"Sejak aku membersihkan lensa," jawab Mayuzumi santai yang masih fokus membersihkan.
Momoi menggembungkan pipi, "Ditanya serius jawabnya ngelantun."
"Aku serius."
"Iya, iya. Gimana Mayu-kun saja."
"Baru segitu saja sudah ngambek. Itulah kenapa kau diputuskan oleh pacarmu."
Iris magenta membulat sempurna. Reflek, Momoi mencubit kesal lawan bicaranya hingga Mayuzumi mengaduh sakit.
"Aduh! Kau ini jadi perempuan jangan kasar."
"Salahmu sendiri. Main sebar-sebar aib orang."
"Lah? Itu kan kenyataan."
"Tapi tidak di sini, Mayu-kun."
Mendengar itu, Mayuzumi menautkan alis, "Tidak di sini? Oke, nanti kusebarkan lewat media sosial."
"Tidak! Kau ini menyebalkan!" Momoi kembali menyubit pria abu. Kuroko yang menyaksikan adegan konyol ini, hanya bisa menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Sakit—"
"Mayuzumi-kun, Momoi-san, sudah hentikan. Kalian seperti anak kecil saja," ujar Kuroko sembari melerai keduanya. Mayuzumi menghela napas sembari mengangguk malas, lalu ia kembali pada kegiatan awal—membersihkan lensa.
Bagaimana dengan Momoi?
Oh. Wanita itu mendengus kesal sambil melempar tatapan tajam ke arah Mayuzumi—namun si empu tidak peduli.
Kuroko menghela napas, "Mayuzumi-kun, kau sudah di sini sejak kapan?"
"Hmm? Sekitar setengah jam yang lalu," jawab Mayuzumi.
"Tuh. Kalau Tetsu-kun yang tanya langsung di jawab jujur."
"Ya suka-suka dong," ujar Mayuzumi enteng.
Momoi semakin dibuat gemas oleh tingkah laku pria abu, "Kau ini punya dendam kesumat ya? Rasanya setiap ngobrol sama kamu, emosiku naik sampe ke ubun-ubun."
"Berlebihan banget."
"Mayu—"
Perdebatan mereka terpotong oleh suara pintu yang terbuka. Sontak, perhatian ketiganya langsung tertuju pada pintu yang menampilkan seorang pemuda merah yang keluar dari balik pintu.
Akashi Seijuurou.
Ia mengenakan kaos putih dengan garis biru dongker yang menghiasi dada. Celana cokelat muda yang dipadu dengan sepasang sepatu basket warna hijau lumut dengan garis hitam. Ditambah sebuah kalung salib kecil yang dipasang agak pas dengan leher.
Benar-benar gaya dari seorang model.
Akashi berjalan menghampiri Momoi yang diapit oleh dua kaum adam.
"Akashi-kun! Akhirnya kau datang juga!" teriak Momoi bahagia sembari memeluk manja lengan Akashi.
Pemuda merah menghela napas sembari menatap tajam Momoi, "Oi, bisakah kau tidak memeluk lenganku setiap aku datang, Satsuki?" Ia bertanya dengan ketus.
"Ukh, Akashi-kun ini, kau sendiri kan sudah tahu kalau ini kebiasaanku."
"Tapi tidak padaku. Sekarang, lepaskan tanganku."
Momoi mengerucutkan bibir. Kemudian, ia melepas pelukan pada lengan Akashi. Sejenak, Iris dwi warna menangkap sosok figur Kuroko yang sedari tadi menatapnya datar.
"Ah, kau. Siapa nama—"
"Kuroko Tetsuya."
"Tepat sekali. Cepat siapkan baju untukku."
Kuroko menatap bingung Akashi, "Maksudmu?"
"Pakaian yang akan kukenakan untuk photoshoot hari ini. Kau lupa?"
"Tapi aku tidak tahu apa tema photoshoot hari ini," jawab Kuroko jujur.
Mendengar itu, Mayuzumi menaruh lensa ke dalam tas khusus seraya menjawab, "Tema kali ini adalah Tuxedo Mask."
"Tuxedo Mask? Berarti berhubungan dengan pesta dansa?" tanya Kuroko ragu.
Mayuzumi menjentikkan jemari, "Tepat sekali."
"Tapi aku tidak membawa perlengkapanku."
Sejenak, Mayuzumi menghentikkan aktivitas. Ditatapnya wajah datar dan minim ekspresi. Ia bertanya, "Apakah Midorima tidak memberi tahumu apa-apa mengenai photoshoot hari ini?"
Kuroko menggeleng, "Tidak. Ia hanya berkata untuk datang ke sini esok pagi."
Mendengar itu, Mayuzumi menghela napas sembari menepuk keningnya pelan. Di satu sisi, Momoi tahu atmosfir di ruangan ini memanas. Untuk itu, ia mencoba untuk mencairkan suasana.
"Baiklah. Tidak usah ambil pusing. Tetsu-kun adalah orang baru dan dia tidak tahu apa-apa. Jadi begini, setiap photoshoot pasti berganti busana bukan? Nah, tugasmu adalah merancang busana yang akan dipakai untuk setiap photoshoot," tukas Momoi panjang lebar.
Kuroko mengangguk, "Lalu, bagaimana caranya?"
"Caranya, kau harus menanyakan pada fotografernya—Mayu-kun soal tema apa yang akan diluncurkan saat photoshoot nanti."
Kuroko mengangguk, "Lalu, untuk sekarang bagaimana?"
"Nah, untuk sekarang, kau bisa merancang busana di ruangan khusus fashion designer. Sekarang akan kutunjukkan, mari ikut—"
"Tunggu sebentar," potong Kuroko dengan cepat. Pemuda itu mulai menaruh ransel di atas meja sembari membuka resleting. Masuk dan mencari-cari sesuatu dalam ransel. Seketika, tangannya keluar dengan menggenggam sebuah meteran gulung.
Ia berjalan mendekati Akashi yang kini menatapnya bingung. Gulungan meter dibuka—memperlihatkan panjang gulungan sampai kaki. Perlahan, Kuroko hendak menyentuh lengan Akashi sebelum—
Plak.
Akashi menepis kasar tangan si fashion designer hingga membuatnya tercengang.
Pemuda merah menatap sinis Kuroko. Ia perhatikan sosok figur pemuda biru—mulai dari kepala hinggga kaki.
Ia berseru, "Kau. Pekerja baru di sini tapi sudah berlaku lancang."
"Eh? Lancang apanya?" tanya Kuroko polos sembari menatap bingung lawan bicaranya.
Akashi menatap angkuh, "Jangan sentuh aku. Dasar tidak sopan."
"Tidak sopan apanya? Aku hanya ingin mengukurmu saja, agar nanti lebih mudah untuk merancang," jawab Kuroko datar.
"Ternyata kau tidak punya etika ya? Berani sekali menyentuhku. Aku heran, kenapa Shintarou memilihmu untuk bekerja di sini? Padahal sikapmu sudah kelewat fatal."
"Ap—"
"Sudah hentikan. Akashi-kun, maaf bila Tetsu-kun lancang. Ia orang baru yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Baiklah, kami permisi dulu." Dengan gesit, Momoi langsung menyeret Kuroko keluar dari ruangan sembari menyambar ransel dengan cepat—meninggalkan dua sosok lelaki di dalam ruangan.
Mayuzumi menggeleng kepala malas, "Sei, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu."
"Maksudmu?" tanya Akashi sinis.
Pria abu menghela napas lalu bangkit dari tempatnya duduk, "Ah, sudahlah. Lebih baik kau bersiap-siap dulu saja, Sei. Pakai baju yang kemarin dulu saja."
"Hmm." Jawaban singkat menjadi akhir dari pembicaraan mereka.
.
.
.
Kini, keduanya—Momoi dan Kuroko—berjalan memasuki suatu ruangan. Begitu masuk, beberapa mannequin dan perlatan menjahit menjadi pemandangan pertama yang Kuroko lihat.
Sebuah ruangan bercat putih yang dihiasi oleh beberapa ornament klasik menghiasi dinding. Sebuah meja kotak berkuran sedang yang ditempati oleh tempat berbentuk kotak yang berisi berbagai macam alat tulis, dan beberapa ragam penggaris. Patung-patung mannequin diletakkan berjajar. Sebuah lemari putih yang berisi puluhan kain serta aksesoris jahit. Dan terakhir adalah sebuah mesin jahit yang diletakkan di sudut ruangan. Menjadi ciri khas dari ruangan ini.
Momoi melepas pegangan pada lengan Kuroko. Kemudian ia berjalan mendekati laci meja dan membukanya. Mengambil secarik kertas dan menutupnya kembali. Wanita pink mendekati Kuroko sembari memberi kertas yang digenggamnya.
"Tetsu-kun. Ini."
Kuroko menerima dengan senang hati, "Apa ini?" Ia bertanya sambil membaca tulisan yang tertera pada kertas tersebut.
"Itu adalah ukuran baju Akashi-kun. Dan maaf bila sikapnya lancang seperti tadi. Dia memang kaku dengan orang baru." Momoi berkata dengan lirih. Meski bukan salahnya, tetap saja ia merasa malu dengan sikap Akashi tadi.
Pemuda biru mengangguk sembari mengulas senyum, "Tidak apa-apa, Momoi-san. Aku paham. Akashi-kun adalah model dan pastinya ia canggung dengan orang baru."
"Syukurlah kalau kau mengerti, Tetsu-kun. Ah, ya. Kutinggal ya? Tidak apa-apa kan?" tanya Momoi memastikan.
Kuroko mengangguk, "Tidak masalah."
"Baiklah. Kutinggal, ya. Selamat bekerja!" seru Momoi yang langsung menghilang di balik pintu.
Kuroko menghela napas sembari menaruh ranselnya di atas meja. Iris biru menatap kembali kertas yang masih berada di genggamannya. Ia melihat ukuran baju Akashi—sangat ideal untuk ukurang model terutama lelaki.
"Baiklah. Tuxedo Mask. Tantangan pertama bekerja di sini dan aku siap untuk bergulat dengan kekasih setia."
Kain. Benang. Jarum. Mesin jahit. Aksesoris. Pola.
Kuroko siap bergulat cinta dengan sang kekasih—sebuah profesi yang sedang ia jalani.
.
.
.
-To Be Continued-
Balasan review:
Ryuuhi Akira: Halo! Sudah update chapter 1 dan semoga senang.
annovt: Wah terima kasih untuk pujiannya. Meningkatkan sinyal fujo? Hahaha dapet untung berarti ya. Sudah update chapter 1 dan semoga bisa bikin kejang-kejang. Cowo atau cewe? Hahaha bisa cari tahu sendiri aja ya saya gak akan ngasih tahu~
frozen fragment: Wow terima kasih sekali untuk pujiannya dan terima kasih banyak untuk sarannya. Ya, saya memang gak tau karena emang orang baru di sini sih hehehe. Tapi sudah saya ganti kok sumarry-nya. Sudah update dan semoga semakin tertarik untuk membaca.
Aka to Kuro: Jarang ya Kuroko jadi FD dan Akashi jadi model? Wahahaha berarti anti mainstream dong—berbeda di antara yang lain. Udah gak sabar? Oke, MADRE update chapter 1! Semoga senang dengan ceritanya.
Bona Nano: Mohon bantuannya juga. Ada typo kah? Oke, saya akan lebih teliti lagi untuk ke depannya dan semoga di chapter 1 ini tidak ada typo. Nah, sekarang sudah update dan selamat membaca.
ginna ginaa giina: Wahaha terima kasih banyak dan pastinya akan fighting sampe akhir cerita. Lanjutannya sudah update! Selamat membaca~
Yuna Seijuurou: Halo, Yuna. Salam kenal juga dan mohon bantuannya. Jujur aja, untuk cerita pertama ini masih ada kurang-kurangnya. Tapi terima kasih banyak untuk pujiannya dan terima kasih juga sudah memberi warning pada summary saya. Sangat membantu sekali. Kelanjutannya sudah update dan semoga makin memikat hati.
hinamorilita-chan: Halo juga. Wah terima kasih banyak lho dan iya Yvest Saint Laurent saya ambil dari nama FD asal Perancis hahaha. Wah kena jebakan batman nih. Sudah update dan semoga makin cinta dengan Akashinya yaa~
el cierto: Halo. Ah ya, untuk usia ya? Seiring berjalannya cerita nanti akan ketahuan kok. Karena saya tidak terlalu fokus pada usia. Tapi nanti seiring berjalannya cerita pasti akan terungkap. Ruby? Warna yang cantik memang. Tapi saya lebih cenderung Akashi dengan mata dwi warna. Gunting gaje? No. Tidak ada gunting-guntingan di sini jadi tenang saja. Chapter 1 sudah update dan semoga bisa membuatmu meleleh saat membaca.
Uzumaki Yuura: Terima kasih dan sudah update semoga suka.
Hanaseiirumi: Halo dan terima kasih. Sudah update dan semoga dibuat makin penasaran oleh ceritanya.
Yoshikuni Rie: Dua orang kena jebakan batman MADRE. Hahaha saya senang bisa membuat pembaca terkecoh. FF yang panjang? Bisa jadi—malah mungkin iya. Kelanjutannya sudah update dan semoga suka.
adelia santi: AkaKuroMayu or MayuAkaKuro? Temukan rahasianya seiring bergulirnya waktu ya hahaha. Agak aneh dengan keputusan Midorima? Aahhh pasti penasaran ya? Oke, tetap terus baca cerita ini pokoknya. Sudah update dan semoga bisa bikin gregetan ya.
Zafreena: Wow terima kasih banyak untuk pujiannya dan ini sudah update. Semoga senang dan semakin tertarik.
A/N:
Baik. Chapter 1 sudah selesai dan menurut saya ini emang tahap permulaan.
Halo, terima kasih untuk para pembaca yang sudah me-review, fav, dan follow cerita saya yang sebelumnya. Terima kasih sudah memberikan kritik, saran, dan komentar di cerita sebelumnya. Terima kasih juga sudah mampir dan membaca kelanjutan cerita saya.
Oh iya, untuk summary. Jujur saja, saya memang tidak tahu kalau sumarry saya sama dengan salah seorang penulis terkenal di fandom sebelah. Begitu saya bertanya dengan teman saya dan dia memberi tahu kalau sumarry tersebut sama—saya langsung melihat dan benar saja.
Untuk menghindari surat cinta dari berbagai pandangan pertama, maka saya pun memutuskan cepat untuk mengganti sumarry menjadi yang sekarang dipakai. Terima kasih banyak untuk Yuna Seijuurou dan forzen fragment yang sudah memberi tahu saya soal ini. Sangat membantu sekali.
Saya mohon maaf sebesar-besarnya bila banyak kekurangan dalam cerita ini.
Silahkan memberi kritik, komentar, dan saran melalui kotak review atau bisa langsung PM saya.
See you in next chapter! XD
Tertulis,
Giovanno
