Tuxedo Mask.

Tu-xe-do.

Satu kalimat. Enam huruf. Tiga penggal. Satu makna.

Pesta dansa.

Ya, tuxedo selalu diibaratkan pakaian formal kelas atas yang selalu tampil pada acara pesta dansa, perjamuan, pernikahan, dan masih banyak lagi. Kaum adam dengan gaya maskulin mengenakan tuxedo sebagai sarana pelengkap.

Kuroko mulai membayangkan tuxedo yang akan ia buat. Hmm… tuxedo hitam dengan balutan kemeja putih mungkin bagus. Ah, tapi terlalu pasaran. Bagaimana dengan tuxedo biru dongker yang dibalut kemeja putih? Tidak. Tuxedo itu kurang cocok bila dipakai oleh Akashi. Kulitnya yang putih kurang kontras bila memakai tuxedo tersebut.

Pusing berkutat dengan pikiran, tungkai kaki berjalan mendekati lemari yang sedari tadi menghantui pandangan. Kedua tangan tergerak untuk membuka pintu lemari. Begitu dibuka, bertumpuk kain dengan berbagai macam model serta warna menggoda keinginan Kuroko untuk segera membuat.

Kuroko bingung. Kain apa yang akan ia pakai terlebih dahulu. Apakah kain merah maroon atau silver? Tidak ingin ambil pusing, pemuda biru mengeluarkan tumpukan kain pertama lalu menaruhnya di atas meja. Sejenak, ia mulai memilih-milih kain yang cocok dan bagus untuk tuxedo.

Selang lima belas menit, ia sudah memilih kain yang akan ia gunakan.

Putih. Merah Maroon. Hitam dengan pola bulat putih.

Baik. Ia sudah siap dengan bahan yang akan ia gunakan.

Menyulap kain mentah menjadi sebuah tuxedo yang gagah.

.

MADRE

Giovanno

.

Kuroko mulai membentangkan kain putih yang berukuran satu setengah meter pada meja. Sejenak, lirikan mata menangkap ukuran baju Akashi. Ia mengangguk mengerti. Tangan kanan tergerak meraih pensil, sedangkan tangan kiri tergerak untuk mengambil gulungan meter serta penggaris. Ia letakkan gulungan meter untuk mengukur panjang kain yang akan dipakai. Setelah mengukur, barulah ia membuat pola dengan menggunakan dua sarana—pensil dan penggaris.

Ia tarik garis mulai dari atas sampai bawah. Membuat pola setengah lingkaran untuk bagian ketiak. Kuroko tidak hanya membuat satu pola, melainkan dua pola dengan ukuran yang sama. Ukuran badan selesai dibuat. Kuroko mulai dengan membuat ukuran lengan.

Iris biru melirik kembali kertas tersebut. Ia mengangguk paham.

Kuroko mulai membuat dua pola yang sama dengan media yang ia pakai. Hanya tarikan garis lurus yang memiliki sudut kemiringan kurang lebih tiga puluh lima derajat. Selesai membuat pola, Kuroko menyelipkan pensil pada telinga lalu meraih gunting dari kotak yang berisi alat tulis. Kuroko mulai menggunting pola pada kain yang sudah ia buat secara perlahan—takut-takut membuat kesalahan fatal.

Setelah menggunting, ia berjalan sembari membawa beberapa potongan pola kain putih menuju mesin jahit yang terletak di sudut ruangan. Ia duduk dan menaruh potongan pola di samping mesin jahit, kemudian ia mulai menyalakan mesin jahit.

Kuroko mulai menjahit dari pola badan. Ia letakkan pola pada mulut jarum. Perlahan, ia mulai menjahit dengan jalan lurus, lalu mulai dengan jalan berliku. Iris biru memandang fokus kegiatannya saat ini. Ia tidak ingin membuat kesalahan sedikit pun. Ia harus bisa bersikap pro—layaknya seorang fashion designer kelas atas.

"Selesai," ujarnya sembari menaruh pola badan yang sudah jadi di sebelah mesin jahit. Pola badan sudah selesai dibuat tanpa cacat. Waktunya gantian dengan temannya—pola lengan.

Kuroko melakukan hal yang sama. Menarik pelan kain—membuat mulut jarum menerobos paksa kain agar bersatu dengan benang. Selesai bergelut dengan lengan, pemuda biru baru menyatu padukan pola lengan dengan badan yang sudah jadi. Ia satukan kain lalu menjahit dengan jalan berliku—perlahan agar tidak salah.

Pemuda biru mengulas senyum, "Baik. Tahap awal selesai. Sekarang masuk ke tahap dua." Ia beranjak dari kursi lalu berjalan menuju salah satu mannequin. Dipakaikannya mannequin tersebut kain putih yang sudah disulap menjadi sebuah kemeja putih nan gagah.

"Hmm?" Kuroko menatap dua potong kain yang masih menganggur. Merah maroon atau hitam dengan pola bulat putih? Kira-kira mana yang lebih bagus dibuat?

Kuroko menjentikkan jemari, "Baik. Merah maroon. Kau sudah membuatku jatuh pada pandangan pertama. Jadi, perkenankan aku untuk menyentuh rupamu nan cantik." Pemuda biru meraih gulungan kain merah maroon dan mulai membentangkannya.

Ia akan membuat tuxedo beserta vest—jangan lupakan juga, sepasang celana yang menjadi pelengkap busana. Kuroko kembali meraih penggaris dan pensil yang tadi sempat ia selipkan di telinga. Membuat dua pasang pola dengan ukuran yang sama—namun, begitu ia selesai membuat pola tubuh dan beralih pada bagian celana, iris biru melirik lagi kertas yang terletak di samping.

"Oh. Seperti itu. Baiklah, aku mengerti."

Kuroko mulai membuat pola yang baru. Pensil menggores kain merah maroon nan polos. Pensil diselipkan kembali pada sela telinga. Gunting ia raih—siap untuk memotong pola. Dengan perlahan, Kuroko mulai memotong pola celana dengan hati-hati tapi—

"Akh!"

Ah. Oh.

Satu kesalahan membuat tubuhnya seketika menegang.

Genggaman pada gunting semakin mengerat—membuat buku-buku jarih memutih seketika.

Ah. Pekerjaannya harus ia ulang lagi. Karena kecerobohannya sendiri, kain merah maroon tergunting cacat ke kiri. Harusnya Kuroko menggunting ke kanan tapi malah ke kiri. Istilah salah masuk kamar pun terjadi.

Mau tidak mau. Kuroko harus mengulang—lagi.

Kuroko mendengus kesal, "Kau benar-benar mengujiku." Tanpa basa-basi, ia mulai membuat pola pada bagian celana—yang tadi sempat salah menggunting. Setelah pola tergunting semua, barulah ia menuju mesin jahit dan mulai menjahit lagi.

Kali ini dengan perasaan tenang—supaya tidak membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Ya. Kuroko sedikit gugup saat memotong pola tadi—otomatis ia harus mengulang pekerjaan yang sama.

Lurus. Berliku. Lurus. Melingkar.

Pemuda biru berkali-kali melakukan hal yang sama saat menjahit. Berhubung busana yang dikenakan oleh si model terbilang mudah—tidak banyak aksesoris bahkan lika-liku aneh dalam model desain.

Selang setengah jam, ia telah selesai membuat tiga pola utama yang menjadi pelengkap. Kuroko beranjak dari kursi sembari membawa hasil kerjaan menuju mannequin yang sudah terbalut oleh kemeja putih.

Pertama, ia kenakan sebuah vest merah maroon dengan kancing berukuran sedang warna hitam. Kedua, ia kenakan tuxedo yang sengaja tidak dikancing. Ketiga, ia kenakan sepasang celana yang membalut kaki mannequin tersebut.

Oke. Tiga bahan utama selesai dirancang.

Kuroko menatap hasil karyanya. Kedua sudut bibir terangkat ke atas, membentuk sebuah lekukan senyum.

"Sangat gagah dan menawan," ujar Kuroko seraya menatap bangga hasil karyanya.

Tunggu dulu. Pekerjaannya tidak berakhir begitu saja. Masih ada yang harus ia kerjakan.

Membuat dasi—merupakan hal terakhir yang menjadi kesempurnaan hasil karyanya.

Kuroko berkacak pinggang, "Kegagahanmu belum sempurna tanpa sepasang dasi menawan." Pemuda biru menjentikkan jemari seraya menunjuk mannequin, "Tunggu sebentar, ya."

Dengan sigap, Kuroko meraih gulungan kain hitam berpola bulat putih kecil. Ia bentangkan kain yang berukuran satu meter itu di atas meja. Dasi tidak susah untuk dibuat—karena pada dasarnya, membuat dasi ialah hal yang paling mudah.

Ia ambil penggaris dan pensilnya. Menarik garis dari atas hingga bawah—pada bagian bawah, ia gambar sedikit miring ke dalam. Setelah itu, Kuroko mulai menggunting dan menjahit pekerjaan terakhirnya—sebuah dasi yang menjadi pelengkap.

Akhirnya, selang dua puluh menit, pekerjaan Kuroko Tetsuya selesai. Ia bangkit dari kuris dan berjalan mendekati mannequin. Ia pasangkan dasi dengan simpul segitiga. Selesai sudah pekerjaannya yang ia kerjakan dalam kurun waktu sekitar satu jam setengah—mengingat bahwa tuxedo merupakan pekerjaan yang tidak banyak memakan waktu.

Kuroko menatap bangga hasil karyanya yang sudah ia buat—sebuah tuxedo merah maroon yang dipadu dengan dasi hitam berpola bulat putih kecil. Ia tersenyum, "Aku yakin, Akashi-kun terlihat gagah bila mengenakan tuxedo ini."

Tak mau membuang waktu, ia lepaskan pakaian yang melekat pada mannequin lalu melipatnya. Berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju ruang photoshoot—tempat di mana sang model bergelut ekspresi di hadapan kamera.

.

.

.

"Sudah selesai, Satsuki?" tanya Akashi yang tengah duduk berhadapan dengan lawan bicaranya.

Momoi menjawab, "Dikit lagi, Akashi-kun." Dengan perlahan, wanita pink mengusap lembut wajah mulus itu dengan spon yang sudah dilumuri oleh bedak. Tidak tebal dan tidak tipis. Standar untuk ukuran lelaki.

Kini, keduanya masih berada di ruang photoshoot. Di mana Momoi tengah memoles paras tampan pemuda merah dengan perlatan cantiknya, sedangkan Akashi hanya menunggu sampai wanita itu selesai. Tak lama kemudian, Momoi selesai dengan pekerjaannya. Di masukkan spon beserta bedak yang tadi sempat ia pakai ke dalam tas make up.

Momoi menepuk tangan sekali, "Wah, Akashi-kun semakin tampan ya." Dengan suara imut juga kekagumannya, Momoi berkata jujur. Ya, Akashi memang sangat tampan juga menawan. Tidak salah lagi, model papan atas ini memang memiliki banyak penggemar di luar sana.

Akashi menghela napas, "Ya, aku tahu."

"Akashi-kun, kau kenapa? Kau terlihat lesu," tanya Momoi sembari menatap dalam sepasang dwi warna yang selalu memancarkan sorotan tajam pada siapapun.

Akashi menggeleng tipis, "Tidak apa. Aku memang seperti ini."

"Aka—"

Derit pintu membuyarkan pandangan. Sontak, semua mata tertuju pada pintu yang menjadi sumber suara. Dari balik pintu, keluarlah Kuroko sembari membawa hasil pekerjaannya. Tungkai kaki mendekat menuju dua sosok yang tengah menatapnya sembari duduk di kursi.

Momoi mengulas senyum, "Ah. Tetsu-kun. Kau sudah selesai?" Ia bertanya dengan lembut—persis seperti rupanya.

"Ya. Dan aku ke sini untuk memberikan hasil pekerjaanku pada Akashi-kun," jawabnya seraya menyerahkan hasil pekerjaannya. "Ini, Akashi-kun. Kau bisa memakainya."

Akashi menatap ragu busana yang disodorkan oleh Kuroko, "Kau yakin aku bisa memakai hasil kerjamu, Tetsuya?"

Mendengar itu, Momoi melotot. Reflek wanita pink itu mencubit tangan Akashi hingga pemuda itu mengaduh sakit.

"Akashi-kun! Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak berlaku seperti itu, hmm?" tanya Momoi dengan nada kesal yang terselip.

Akashi mengusap lengan yang terkena sengatan maut, "Bukankah itu fakta? Untuk tidak terlalu percaya pada orang baru."

"Tapi setidaknya Tetsu-kun sudah mau bersusah payah membuat pakaian yang akan kau pakai untuk photoshoot hari ini."

Akashi mendecak kesal, "Tch! Baik-baik." Dengan malas, ia beranjak berdiri sembari menyambar pakaian yang tadi sempat disodorkan Kuroko. Melihat itu, Momoi semakin dibuat gemas oleh kelakuan si model.

"Akashi-kun. Jangan berlaku seperti itu pada Tetsu-kun!"

"Apa peduliku padanya? Dia hanyalah seorang pekerja baru di sini."

"Aka—"

"Sudah tidak apa-apa, Momoi-san. Itu tidak masalah," potong Kuroko cepat—menghindari perdebatan antar dua tokoh. Momoi yang disanggah hanya bisa mengangguk pahit. Mulut pedas Akashi memang sudah di luar batas.

Kuroko menatap figur Akashi dengan dalam seraya berkata, "Akashi-kun, kau boleh mangata-ngataiku seperti itu. Tapi tidak kubiarkan kau menginjak harga diriku meski level kita berbeda."

"Omonganmu terbilang lancang juga ya, Tetsuya."

"Aku berkata seperti ini hanya untuk memperingatkanmu agar tidak diluar batas."

Akashi tersenyum remeh, "Terserah apa katamu. Hanya saja, kata-kata bijak dan mutiara dusta itu tidak berlaku bagiku." Dengan santai, Akashi berjalan menuju ruang ganti yang berada di sudut ruangan. Pandangan mata Kuroko masih tertuju pada ruang ganti. Ia menghela napas sembari mengusap dadanya.

Ia harus tabah menghadapi sifat angkuh Akashi.

Mungkin memang sudah sifat mutlaknya seperti itu. Ah. Kuroko tidak tahu—bahkan tidak mau tahu.

Selang sepuluh menit, Akashi keluar dari ruang ganti. Begitu tampan dan gagah. Ia terbalut oleh busana serba merah maroon. Tuxedo yang sengaja tidak dikancing, ia biarkan terbuka—menampilkan vest merah maroon yang melapisi kemeja putih. Sepasang celana dengan warna yang senada. Ditambah sepasang sepatu pantofel kulit keluaran terbaru Yvest Saint Laurent.

Akashi nampak gagah dan menawan dengan balutan tuxedo merah maroon.

Ah. Jangan lupakan juga. Rambutnya di style ke atas menambah kesan tampan pemuda ini.

Akashi berjalan mendekati keduanya, "Satuski, segera beritahu Chihiro kalau aku sudah siap."

"Baik!" jawab Momoi semangat lalu berlari kecil keluar dari ruangan—meninggalkan Akashi dan Kuroko berdua dalam ruangan.

Kuroko menatap kagum model di hadapannya. Memang benar dugaannya. Akashi sangat cocok dengan balutan tuxedo merah maroon dan Kuroko mengakui itu.

Pemuda biru tersenyum kecil, "Tuxedo itu memang pantas untukmu, Akashi-kun."

"Tetsuya, kau menghinaku?" tanya Akashi sembari membenarkan kancing di pergelangan kiri.

Kuroko menggeleng, "Tentu saja tidak."

"Aku memang cocok dengan jenis busana apapun. Tak patut untuk diragukan."

Percaya diri tanpa ragu sedikit pun. Memang ciri khas dari seorang Akashi Seijuurou.

Mendengar itu, Kuroko hanya bisa menghela napas sembari mengangguk singkat. Tak lama kemudian, Momoi kembali masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Mayuzumi—sang fotografer dari belakang.

"Kau sudah siap?" tanya Mayuzumi sembari mengeratkan genggaman pada kamera.

Akashi menjawab, "Tentu."

"Baiklah. Kita mulai photoshoot hari ini."

Mayuzumi dan Akashi mulai berjalan menuju panggung ekspresi, sedangkan Kuroko dan Momoi duduk di belakang Mayuzumi yang fokus mengarahkan kamera pada Akashi.

Pose pertama, ialah Akashi duduk di atas kursi tinggi dengan salah satu kaki menempel pada lantai dan satu kaki bertengger di penyangga bawah kursi. Ia memegang renggang pergelangan kiri sembari melirik ke arah kanan. Dan inilah momen yang harus di bidik oleh sang fotografer.

"Siap. Tahan. Ya."

Satu bidikan berhasil di dapat. Sekarang masuk ke dalam pose dua.

Pose kedua, ialah Akashi berdiri sembari memasukkan kedua tangan pada saku celana. Kepala sedikit ditundukkan dan sorot mata menatap tajam kamera di depan. Mayuzumi sendiri mulai mencari angle yang pas untuk bidikan. Setelah memberi aba-aba, barulah bidikan kedua berhasil di ambil.

"Sei. Coba satu tanganmu di keluarkan. Pandangan masih fokus ke depan."

Akashi mengerti dengan aba-aba yang diberikan oleh Mayuzumi. Ia pun mulai mengeluarkan tangan kiri dari dalam saku. Pandangan masih fokus ke depan.

"Baik. Tahan. Ya."

Bidikan ketiga berhasil di ambil.

"Sei. Coba kau pegang kedua tuxedo mu itu. Ekspresinya harus keren dan maskulin."

"Aku mengerti."

"Nah, cobalah."

Pemuda merah memegang kedua tuxedo merah maroonnya. Alis sedikit ditukik ke atas. Pandangan maskulin fokus menatap kamera. Mayuzumi memberi aba-aba lagi untuk bidikan ke empat. Ia menekan tombol bidikan pada kamera dan hasil bidikannya ke empat berhasil di dapat.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk photoshoot.

Akhirnya, photoshoot berakhir juga.

Akashi berjalan menuju Momoi yang tengah menyodorkan handuk kecil beserta sebotol air mineral. Pemuda merah menerima dengan senang hati sodoran kedua benda tersebut. Perlahan, ia membuka tutup botol dan menempelkan mulut botol pada bibirnya yang kering. Tegukan pertama berhasil membasahi kerongkongan.

Ah. Sangat lega dan menyejukkan dahaga.

Kuroko menatap datar Akashi yang tengah meneguk sebotol air mineral. Tanpa disadari, seseorang menepuk pundaknya pelan.

Puk.

Kaget. Sontak Kuroko menoleh ke belakang dan mendapati Mayuzumi tengah berdiri di belakangnya.

"Kuroko. Besok tidak ada photoshoot."

"Lalu, ada lagi kapan?"

"Hmm? Minggu depan."

Kuroko mengangguk, "Apa tema photoshoot untuk minggu depan?"

"Belum terpikir. Tapi nanti akan kuberitahu. Ah, ya. Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Mayuzumi seraya mengeluarkan ponsel dari balik saku celana.

Kuroko mengangguk, "Tentu saja."

"Baik. Berapa?" tanya Mayuzumi. Kuroko menjawab pertanyaan pria abu—ia berikan nomor ponselnya itu. Hitung-hitung berbagi informasi seputar photoshoot nanti.

"Baiklah. Kalau begitu terima kasih untuk kerja samanya hari ini. Sekarang kau boleh pulang," ujar Mayuzumi seraya memasukkan ponsel ke dalam celana.

"Eh? Secepat itu?"

"Ya. Memangnya kenapa?"

"Aku kira akan berjalan lama, Mayuzumi-kun."

"Tidak. Kalau photoshoot berjalan lama, kasian modelnya. Bisa-bisa ia tergelatak duluan."

Kuroko terkekeh kecil, "Tidak begitu juga, Mayuzumi-kun."

"Ah sudahlah. Sampai jumpa minggu depan, Kuroko."

Kuroko mengangguk, "Baik."

Hari ini cukup sampai di sini. Kuroko sudah berusaha keras hari ini. Sekarang, mari beranjak pergi mengambil tas lalu pulang. Bertemu sapa dengan kekasih empuk—kasur. Rasa lega menyelimuti hati Kuroko karena hari ini semuanya berjalan mulus tanpa ada kendala apapun—meski tadi ia sempat salah memotong pola tapi itu tidak menjadi masalah.

Yang terpenting ialah, Kuroko sempat melihat Akashi tersenyum tipis memakai busana yang sudah dibuatnya susah payah.

.

.

.

-To Be Continued-


Balasan review:

annovt: Bokushi or Oreshi? Bisa Bokushi dan bisa Oreshi. Fleksibel dan tidak menetap. Hahaha terima kasih untuk kritiknya, ya memang ada typo yang sangat mengganggu pemandangan. Yes, saya emang fudan tapi gak 100% amat kok karena saya masih demen pair straight. Sudah update dan semoga makin gregetan bacanya ya~

Yoshikuni Rie: Meski tampang uke tapi tetaplah—Kuroko juga manly dan saya emang suka membuat Kuroko manly meski dia adalah uke Akashi. Sweet momen dibagian Momoi dan Kuroko? Yeah, memang sweet tapi tetep kok pair utama AkaKuro. Sudah update dan semoga makin kejang-kejang.

Zafreena: Update tergantung plot dan kecepatan menulis saya sebenarnya. Sifat Akashi di sini memang sengaja saya buat dingin karena dia merupakan model papan atas. Sudah update chap 2 dan semoga makin suka.

loliconkawaii: Ya. Saya baru pertama kali buat fik dan ini bukanlah akun kedua hahaha. Terima kasih untuk saran dan komentarnya. Sangat membantu sekali untuk kelancaran fik ini. Tidak apa-apa, sesame author harus saling mengingatkan pada utamanya. Sudah update dan semoga makin penasaran sama ceritanya.

ChochoWhiteMuffin: Ya. Akashi memang jahat dan kejam. Bener-bener minta dibegal pada dasarnya. Terima kasih untuk pujiannya dan memang banyak sekali yang kena trap. Readers selalu berpikir Akashi pemilik perusahaan padahal bukan hahaha dan itu adalah point plus buat saya. Sudah update chap 2 dan semoga makin suka.

adelia santi: Halo, Adelia. Gunting? Banyak kok. Mau yang mana? Gunting kuku, gunting kertas, atau gunting rumput? Hahaha Kuroko memang orang yang stay calm di situasi apapun. Was-was? Kenapa? Takut hasil rancangan Kuroko jelek ya? Hehehe. Sudah update dan semoga makin gregetan bacanya.

November With Love: MADRE. Merupakan judul pengarang favorit saya, yaitu Dee (Dewi Lestari). Bukunya yang berjudul MADRE dan berisi kumpulan cerpen membuat saya semakin tertarik. Itulah alasan saya memakai judul MADRE di fik ini—bentuk kesukaan saya pada novel tersebut. Sudah update dan semoga makin suka bacanya.

Ningie Cassie: Halo, Ningie. Salam kenal dan mohon bantuannya. Ya, nama saya manly sesuai dengan gender saya. Ini tulisan perdana saya yang di publish dan bukan akun kedua atau apapun lah itu. Terima kasih untuk komentar dan kritiknya sangat membantu sekali untuk kelancaran fik ini. MADRE memang diambil dari novel pengarang favorit saya—karena saya memang suka sekali dengan novel tersebut. Sudah update chap 2 dan semoga makin suka dan penasaran tentunya.

Ryuusuke583: Untuk pair ini tetap AkaKuro. Tidak bisa diganggu gugat dan mutlak. Sudah update dan semoga suka.

Naenia99: Thank You. Sudah update dan semoga makin penasaran.

Kazu Kirana: Halo, Kazu. Hahaha kamu ini bisa aja. Saya memang sudah begini sejak awal dan jujur aja ini masih kurang kok. Trims sekali untuk pujiannya dan semoga kamu gak penasaran lagi soal tuxedo yang dibuat Kuroko hahaha. Sudah update dan semoga makin gregetan bacanya~ jangan kolaps ya.

daun salak: Halo. Untuk momen AkaKuro saya tidak ingin terburu-buru. Semua butuh proses. Sudah update chapter 2 dan semoga makin suka.

Akari Kareina: Akashi galak tapi tetep aja Kuroko suka hahaha. Sudah update dan semoga makin penasaran bacanya yaa.


A/N:

Selesai chapter 2. Mulai masuk terbuka sedikit demi sedikit.

Terima kasih untuk para readers yang sudah me-review, fav, dan follow di chapter sebelumnya. Dan terima kasih juga sudah mampir dan membaca chapter 2 fik MADRE ini.

Sebelumnya, banyak yang meminta adegan AkaKuro di chapter depan—khusunya chapter ini. Sebelumnya mohon maaf, saya tidak ingin terburu-buru menulis adegan tersebut. Karena pada dasarnya, sebuah cerita harus dimulai dengan proses—proses di mana interaksi antar dua tokoh pair secara perlahan-lahan hingga menemui titik temu suatu konflik.

Jadi, saya mohon maaf bila readers sekalian meminta adegan AkaKuro pada chapter ini.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya bila banyak kekurangan dalam cerita ini.

Silahkan memberi kritik, komentar, dan saran melalui kotak review atau bisa langsung PM saya.

See you in next chapter! XD

Tertulis,

Giovanno