Kuroko Tetsuya berjalan menyusuri lorong panjang yang membawanya kembali ke ruang kerja. Tempat di mana ia beradu cinta dengan kekasih rupawannya tadi. Langkah kaki menggema pada lorong panjang. Kedua mata tertuju fokus pada jalan yang tengah ia tapakki.
Sesampainya di depan pintu, pemuda biru membuka pelan lalu masuk ke dalam—berjalan menuju meja yang di atasnya terdapat beberapa kain yang telah ia gunakan. Mau tidak mau. Sebelum pulang, ia harus membereskan bahan-bahan yang telah ia pakai. Mulai dari kain, jarum, benang, pensil, penggaris, hingga aksesoris.
"Kau yang memulai. Kau yang mengakhiri." Itulah dua patah kalimat yang dilafalkan Kuroko sebelum ia beranjak berbenah.
Menggulung kembali sisa kain yang masih bisa dipakai lalu dimasukkan ke dalam lemari. Menusuk beberapa jarum kembali pada busa yang dilapisi oleh kain berwarna ungu terang. Menaruh beberapa aksesoris serta benang ke dalam kotak khusus, lalu meletakkannya tepat di samping peralatan tulis. Merapikan alat tulis dan menggendong ransel yang sedari tadi menganggur di atas meja.
Setelah selesai berbenah, barulah ia keluar dari ruang kerja sembari menggendong sebelah tangan ransel pada pundak. Ia berjalan menuju lift, hendak masuk sebelum—
"Tetsu-kun!" Suara cempreng menghentikkan langkah pemuda biru. Sontak, ia menoleh ke belakang dan mendapati Momoi tengah berlari kecil menghampirinya. Sebuah tas selempang kecil berwarna merah muda melingkar manis pada tubuhnya.
Kuroko membalikkan badan, "Jangan lari-lari, Momoi-san. Nanti kau terjatuh."
"Ah. Aku sudah biasa kok," ujar Momoi seraya menghentikkan langkah tepat di hadapan pemuda biru.
Kuroko menatap dua iris magenta cantik itu dengan dalam, "Jadi? Ada apa, Momoi-san?"
Mendengar pertanyaan itu, senyum sumringah melebar di paras cantik wanita ini. Menambah kesan manis dan imut serupa madu lebah. Wanita pink menjawab dengan semangat, "Habis ini kau ada acara tidak?" Suara khas yang diselimuti oleh keceriaan membuat Kuroko terpaku sejenak.
Apakah ia ada acara sehabis ini? Rasanya tidak.
Pemuda biru menatap jam digital yang melingkar di pergelangan kiri. Sudah jam satu siang dan sepertinya ia kosong—sangat kosong. Kuroko mengangguk sebagai jawaban, "Tentu aku kosong. Memangnya ada apa?"
"Mau menemaniku jalan sebentar?" tawar Momoi.
Kuroko memegang dagu, "Hmm… gimana ya?"
"Ayolah cuman sebentar saja kok."
"Sebentar atau lama? Karena biasanya perempuan itu paling betah kalo diajak jalan—bahkan sampai tidak mau pulang," tanya Kuroko meyakinkan wanita pink.
Momoi terkekeh kecil. "Hehehe... lumayan lama sih. Tetsu-kun mau, kan?" Momoi bertanya sekali lagi—kembali meyakinkan lawan bicaranya.
Kuroko berpikir sejenak. Mencari kesimpulan dari hasil keputusannya. Kalau ia mengikuti ajakan Momoi berarti ia harus rela mengorbankan raga—terutama kaki. Karena pada akhirnya, ia akan berakhir dengan beberapa kantung belanja yang berisi kosmetik, pakaian, bahkan sepatu.
Oke, sudah menjadi tugas seorang pria bila berurusan dengan hal tersebut.
Pemuda biru menghela napas sembari menganggukkan kepala, "Baiklah. Aku akan pergi."
"Benarkah?" Momoi meyakinkan sekali lagi—takut-takut bila Kuroko berbohong.
"Tentu saja, Momoi-san. Lagian jadwalku benar-benar kosong hari ini."
Mendengar jawaban Kuroko, sontak Momoi langsung memeluk lengan kanan pemuda biru. Ia senang dengan jawaban yang diberikan Kuroko padanya. Pelukan tersebut membuat Kuroko harus menahan beban tubuh yang sedikit bertambah.
"Baik. Kalau begitu, ayo kita pergi!" ujar Momoi seraya menekan tombol lift yang terletak di sebelah pintu.
"Oke."
Selang sepuluh detik, pintu lift terbuka. Memperlihatkan ruang kosong yang berukuran tiga petak. Keduanya pun masuk ke dalam lift. Momoi menekan tombol berangka satu di mana angka tersebut akan memperlihatkan lantai dasar dengan dunia luar.
Kuroko tersenyum kecil melihat tingkah laku lucu dari wanita pink. Meski terlihat dewasa tapi tetap saja—sifat manja seorang perempuan tak pernah luput dari sosoknya.
.
MADRE
Giovanno
.
Beatue et Mode
Kira-kira seperti itu namanya. Sebuah toko butik wanita yang berada di pusat perkotaan Jepang ini menjadi salah satu toko yang disorot mewah oleh para wanita. Toko yang menyediakan berbagai macam pakaian model terbaru yang menjadi trend tiap musim. Tidak hanya pakaian, toko ini juga menjual berbagai macam aksesoris, tas, dan sepatu yang tak kalah bagusnya.
Tentunya berbelanja di sini tidaklah murah, malah sebaliknya. Wanita manapun rela menghabiskan uang mereka demi membeli sebuah pakaian yang dijual di butik ini. Belerbihan? Tentu tidak. Karena pada dasarnya, wanita itu suka sekali berbelanja.
Kuroko dan Momoi masuk ke dalam toko tersebut. Begitu masuk, aroma permen menjadi hal pertama yang Kuroko rasakan. Ah ya. Satu lagi.
Feminim dan mewah.
Dua kata itulah yang menjadi kesimpulan terakhir pemuda biru ketika ia masuk ke dalam toko ini. Ruangan serba putih yang dihiasi berbagai macam rak, mannequin, sofa, dan beberapa pernak-pernik lain.
Rak yang berjumlah belasan itu diisi oleh beberapa pakaian yang dilipat—ada juga yang digantung sebagai contoh dari pakaian yang dilipat. Beberapa mannequin di pajang dengan terbalut pakaian model terbaru yang sengaja dipamerkan. Ada yang diletakkan di dekat rak pakaian. Ada yang diletakkan tepat sekitar sepuluh meter dari pintu masuk, dan ada juga yang diletakkan bersebalahan dengan ruang ganti. Beberapa rak sepatu, aksesoris, dan tas dipajang rapi—membuat pengunjung semakin tertarik untuk membeli.
Sepasang sofa abu yang diletakkan di tengah ruangan itu dilapisi oleh karpet beludru putih. Posisi sofa dihadapakan bersebrangan. Benar-benar gaya khas dari sebuah butik wanita.
Keduanya berpisah di pintu utama. Momoi berjalan menelusup rak yang dipenuhi oleh sepatu dan tas, sedangkan Kuroko berjalan menelusup rak pakaian. Keduanya berpencar masing-masing.
Pemuda biru berjalan mendekat pada rak pakaian. Iris biru menatap jeli beberapa pakaian modis yang memikat hati. Manis dan anggun. Kuroko berpendapat jujur dan tidak berbohong. Kalau soal fashion ia selalu memberikan apresiasi lebih, dan tidak segan-segan memberikan dua jempol bagi fashion yang menurutnya benar-benar menarik.
Kuroko mengambil dua buah pakaian dari dalam rak. Yang satu adalah sebuah hotpants jeans dan yang satu lagi adalah sebuah kaos crop tee warna krem dilengkapi oleh tulisan yang tertera pada kaos tersebut. Pemuda biru memejamkan mata—membayangkan sosok Momoi Satsuki mengenakan baju ini.
Cocok—sangat cocok.
Oke, Kuroko sudah mendapatkan pakaian yang cocok dipakai oleh wanita pink itu. Lalu, ia memasukkan pakaian tersebut ke dalam kantung belanjaan. Sebenarnya, ini bukan ide Kuroko untuk membeli, melainkan Momoi. Wanita pink itu menginginkan Kuroko untuk memilih baju untuknya—karena Kuroko seorang fashion designer, maka Momoi lebih setuju bila Kuroko yang memilihkan baju untuknya.
Ada udang dibalik batu.
Pepatah tersebut mungkin sangat cocok dipakai untuk Momoi saat ini.
Kuroko menghela napas. "Baru ketemu satu." Ia melangkah kembali menuju deretan rak lain. Iris biru menatap jeli tiap baju yang terlipat rapi pada rak.
"Hmm… yang mana ya?" tanyanya sembari berpikir.
Pemuda biru mencari-cari pakaian yang cocok. Lalu, barulah, selang sepuluh menit ia mendapati sebuah dress casual yang menarik perhatiannya. Kuroko mengambil dress tersebut pada rak gantungan.
Mata bulat menatap pakaian yang tengah digenggamnya.
Sebuah dress berwarna dasar biru tosca dengan corak bunga. Bagian depan pendek di atas lutut sepuluh senti sedangkan bagian belakang panjang hingga betis. Bagian depan dress dibuat agak menyilang dan sedikit melengkung. Dress yang simpel namun terkesan anggun sekali. Kuroko membayangkan kembali Momoi dengan balutan busana ini.
Rambut pink belah tengah yang diikat setengah ditambah dengan sepasang wedges warna cokelat muda. Bibir cherry itu dilapisi oleh sebuah lip gloss tipis.
Cantik dan manis.
Senyuman tipis terlukis di paras tampan Kuroko. Pemuda itu memasukkan dress tersebut ke dalam kantung belanja. Selesai sudah ia berburu pakaian. Sekarang, saatnya ia menemui wanita pink itu.
Kuroko berjalan kembali menyusuri ubin putih yang terbuat dari granit. Ia menelusup masuk ke dalam jajaran rak sepatu dan tas. Iris biru mencari-cari wanita pink di sekitar rak. Tak kunjung lama, ia berhasil menemukan sosok figur dari wanita cantik bernama lengkap Momoi Satsuki.
Momoi tengah memilih-milih sepatu di rak. Sebelah tangan menggenggam wedges berwarna dasar biru tosca dengan corak bunga, sedangkan sebelahnya lagi menggenggam flat shoes berwarna dasar soft pink dengan corak polkadot cokelat. Ia bingung dengan dua sepatu tersebut.
Melihat itu, Kuroko tersenyum seraya berjalan mendekati wanita itu, "Sudah ketemu?" Suara datar mengagetkan Momoi. Sontak, wanita itu menoleh ke belakang dan mendapati Kuroko tengah berdiri di depannya seraya menggenggam kantung belanjaan.
Momoi mengerucutkan bibir, "Aku bingung. Sepatu ini sama-sama bagus. Tetsu-kun, kira-kira kau mau pilih yang mana?"
Kuroko menatap dua sepatu yang diperlihatkan oleh Momoi. Dua-duanya sama bagus dan tak kalah modis.
Pemuda biru menautkan sebelah alis, "Aku pun juga. Habis, sepatu ini sama-sama punya modis tersendiri."
"Lalu, aku harus pilih yang mana?"
Kuroko memegang dagu—tengah berpikir. Bagus atau tidak itu relatif. Ia tidak bisa menentukan siapa yang lebih unggul. Namun, pada akhirnya ia memberikan sebuah keputusan.
"Aku tidak bisa menunjuk siapa yang lebih bagus. Tapi, kalau kau memadukannya dengan pakaian yang kupilih mungkin bisa terlihat."
"Benarkah?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
Momoi mengangguk. "Kalau begitu, boleh aku lihat pakaian yang sudah kau pilih?" tanyanya dengan nada memohon yang terselip pada pengucapan.
Kuroko mengangguk seraya menyerahkan kantung belanjaan, "Boleh. Ini."
"Oke. Trims. Aku akan mencobanya. Ah iya. Apakah sepatunya juga harus kubawa?"
"Tentu. Supaya bisa terlihat mana yang lebih pantas kau pakai."
"Oke."
Wanita pink melesat menuju sebuah kamar pas yang berada di sudut ruangan. Bagaimana dengan Kuroko? Pemuda itu menghempaskan tubuh pada sofa abu empuk yang melepas beban di tubuh.
Sekarang bagaimana? Ia harus menunggu hingga Momoi keluar dari ruang ganti. Sambil menunggu, ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Menekan tombol unlock dan melihat notif yang tertera di layar.
Tidak ada yang penting.
Pemuda ini menghela napas seraya memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. Menunggu hingga sosok cantik Momoi keluar dari balik pintu. Lima belas menit kemudian, Momoi keluar dari dalam kapar pas. Wanita itu terbalut oleh dress yang dipilih oleh Kuroko tadi, dipadu dengan sepasang wedges berwarna dasar biru tosca dengan corak bunga.
Satu kata yang terlintas—
Manis.
Ya. Kuroko mengakui bahwa Momoi sangat manis dengan balutan dress tersebut.
Wanita itu berjalan menghampiri Kuroko. Jarak dua meter dari Kuroko duduk, ia berhenti dan menatap iris biru yang memandang takjub dirinya. Momoi tersenyum manis, "Tetsu-kun. Bagaimana dengan ini?"
"Kau sangat manis sekali," jawab Kuroko jujur.
"Eh? Benarkah?"
"Tentu. Hanya sedikit polesan make up kau sudah tampak seperti bidadari bagi kaum adam."
"Aduh. Tetsu-kun, jangan berlebihan seperti itu!"
"Tapi memang benar kok. Wanita itu bagaikan mutiara indah di hadapan para lelaki. Mau seperti apa rupanya tetap saja cantik. Itulah kelebihan dari seorang wanita," ujar Kuroko panjang lebar yang ditanggapi oleh wajah merah Momoi.
Wanita itu tidak marah melainkan malu. Kalimat yang dilontarkan Kuroko tadi begitu menyentuh. Memang benar, wanita itu surga idaman. Kuroko tidak pernah ragu bahkan sungkan untuk memuji orang. Itulah sifatnya.
Momoi memegang sebelah tangan sembari menatap ke arah lain, "Jadi? Bagaimana?"
"Coba pakai baju yang satunya lagi, Momoi-san. Biar gampang untuk dinilai," jawab Kuroko memberi saran.
Momoi tidak menolak, melainkan mengangguk mengiyakan. Ia masuk kembali ke dalam kamar pas—membuat Kuroko harus menunggu lagi. Tuh kan. Benar apa yang dikatakannya tadi. Momoi memang cocok dengan balutan dress itu. Tidak salah ia memilih model yang bagus dan cocok untuk dipakai oleh wanita pink.
Tak lama kemudian, Momoi keluar dengan balutan kaos crop tee krem yang dipadu dengan sebuah hotpants jeans. Kakinya dibalut oleh sepasang flat shoes berwarna dasar soft pink dengan corak polkadot cokelat. Iris biru menangkap sosok figur wanita pink yang tengah berjalan menghampirinya.
"Bagaimana dengan ini?" Momoi berhenti tepat dua meter dari tempat Kuroko duduk.
Pemuda biru menatap sosok Momoi dari bawah hingga atas. Model casual yang cocok. Terkesan tomboy namun terselip kesan feminim pada pakaian yang ia kenakan. Modelnya yang simpel memberikan kesan natural pada wanita ini.
Kuroko mengangguk, "Bagus. Momoi-san terkesan natural dan tampak fresh."
"Jadi, selama ini aku tidak tampak fresh?" tanya Momoi.
"Bukan begitu. Maksudku, kau tampak lebih segar dengan balutan pakaian ini."
"Benarkah?" Momoi bertanya dengan semangat. "Wah! Kalau begitu, bagus yang mana, Tetsu-kun? Yang pertama atau kedua?"
"Dua-duanya sama bagus. Aku terjerat ke dalam pesona anggun kedua pakaian itu."
"Jadi, bagus yang pertama?"
"Bagaimana kalau keduanya?"
"Jadi aku harus membeli keduanya, Tetsu-kun?"
"Menurutku iya. Selagi masih bisa, kapan lagi? Lagian tidak mungkin model ini akan keluar di musim berikutnya," ujar Kuroko panjang lebar.
Mendengar itu, Momoi mengangguk mengerti, "Baiklah. Aku akan membelinya. Tapi, sebelum itu, darimana Tetsu-kun tahu ukuran bajuku?"
"Eh?" Kuroko menautkan sebelah alis. "Aku hanya mengira-ngira saja."
"Mengira-ngira?"
"Pada dasarnya, wanita cenderung sensitif bila ditanya dua hal."
"Memang apa itu, Tetsu-kun?"
"Berat dan tinggi badan. Mereka pasti marah bila ditanya seperti itu. Aku benar, kan?" tanya Kuroko ragu seraya menatap iris magenta yang tengah memandangnya. Mendengar itu, Momoi terkekeh kecil. Memang benar juga. Setiap wanita pasti sensitif bila ditanya dua hal tersebut.
Berat dan tinggi badan.
Jangan pernah bertanya hal tersebut bila tidak ingin terkena kata-kata manis yang berujung sakit.
Momoi tersenyum seraya berbalik badan, "Baiklah. Aku ganti baju dulu ya."
"Kutunggu di depan kasir, Momoi-san."
"Oke."
.
.
.
"Terima kasih dan semoga datang kembali."
Kalimat sakral yang selalu dilafalkan oleh setiap penjaga toko mengakhiri aktivitas membayar. Kini keduanya berjalan keluar dari toko butik. Kuroko keluar sembari menggenggam kantung belanja yang berisi baju, sedangkan Momoi keluar sembari menggenggam kantung belanja yang berisi sepatu.
Keduanya berjalan menyusuri trotoar ramai. Iris biru Kuroko memandang pertokoan yang berjejer rapi di pinggir trotoar. Ada toko butik, mini market, toko kue, toko elektronik, dan yang terakhir ialah toko buku. Sebuah toko yang menjadi pusat surga dunia bagi seorang pemuda bernama lengkap Kuroko Tetsuya.
Iris magenta menangkap pergerakan simpel dari seorang pemuda biru. Meski raga berjalan namun hati dan pikiran terpaku pada toko buku. Momoi tersenyum, "Tetsu-kun, mau mampir sebentar ke sana?" Ia bertanya lembut sembari menunjuk toko buku dengan telunjuk kanan—memperlihat kuku jari yang dipoles warna soft pink.
Kuroko menoleh, "Bolehkah?"
"Tentu," jawab Momoi seraya menganggukkan kepala. Kuroko hendak masuk ke dalam sebelum wanita itu menarik paksa lengan Kuroko agar masuk ke dalam. Begitu masuk, aroma khas kertas menguar hingga menggelitik hidung mancung pemuda biru.
Mabuk.
Ya. Kuroko dibuat mabuk oleh aroma khas yang selalu dirindukannya.
Ruangan toko yang dicat cokelat susu dengan hiasan batu pualam. Belasan rak kayu yang berisi puluhan buku tertata rapi di setiap penjuru ruangan. Sekitar lima meter dari pintu masuk, sebuah meja berbentuk persegi panjang besar diletakkan di tengah ruangan—memamerkan belasan buku edisi terbaru. Lampu berbentuk down light menjadi penerang toko ini. Meja kasir yang dipenuhi oleh beberapa buku keluaran terbaru serta aksesoris seperti pulpen, gantungan kunci, sticker, dan masih banyak lagi.
Pemuda biru melesat menuju rak buku yang berisi kumpulan novel. Iris biru menatap judul yang tertera pada puluhan novel. Mencari judul yang menarik. Biasanya, judul yang menarik mengandung isi yang penuh misteri dan itulah yang Kuroko cari.
Sejenak, kedua mata menatap lekat sebuah novel. Tangan kanan tergerak meraih novel yang terhimpit oleh teman-temannya. Iris biru menatap judul dari novel tersebut.
The Phantom Of The Opera
Judul yang menarik memikat hati pemuda biru ini.
Kuroko membalikkan buku karangan Gaston Leoux hingga terlihat sinopsis dari novel tersebut.
'Aku ini bukan jin, setan, ataupun iblis… melainkan cinta dibalik topeng.'
Wow. Kalimat puitis menjadi pemandangan pertama yang Kuroko jumpai. Ia mulai membaca tiap baris kalimat yang tercetak dibalik cover. Membaca mulai dari atas hingga bawah. Selesai membaca, satu kesimpulan yang menjadi kunci utama—
Puitis bahasanya. Sokongan misteri pada judul.
Oke, Kuroko sudah menemukan bacaan yang akan menemaninya sekarang. Buku karangan sastrawan Prancis ini berhasil memikat hati seorang Kuroko untuk semakin dibuat penasaran.
Pemuda biru hendak berbalik badan sebelum—
"Tetsu-kun, sudah ketemu yang kau cari?" Momoi Satsuki berdiri di belakang pemuda biru seraya menepuk pundaknya pelan. Kuroko tersentak kaget dan menoleh ke belakang—mendapati Momoi tengah memandang penasaran dirinya.
Kuroko menghela napas, "Jangan mengagetkanku seperti itu, Momoi-san."
"Hehehe… maaf, tapi kau sudah menemukannya bukan?"
"Dari mana Momoi-san tahu?" tanya Kuroko bingung seraya menautkan sebelah alis.
Momoi terkekeh kecil sembari menunjuk novel yang digenggam Kuroko. "Tentu saja dari yang kau pegang sekarang." Iris biru menangkap genggaman di tangan kanan. Ah ya. Betul juga.
"Cuman satu saja?"
"Sepertinya iya, karena kalau banyak pun tidak mungkin bisa dibaca."
"Baiklah. Tetsu-kun mau ke kasir?" tanya Momoi sembari menatap iris biru nan teduh.
Kuroko mengangguk ragu, "Iya? Mungkin. Tapi aku masih mau melihat-lihat lagi."
Momoi mengangguk paham. Wanita itu tahu kalau pemuda biru merupakan seorang kutu buku. Bukan cenayang maupun dukun. Tapi, semua bisa terlihat dari bahasa tubuh yang memintanya untuk terus menetap di tempat ini.
Wanita itu tersenyum manis, "Baiklah. Kalau begitu aku akan melihat-lihat buku yang lain."
"Eh? Tidak mau pergi ke tempat lain?" tanya Kuroko heran.
Momoi menggeleng pelan, "Aku tahu Tetsu-kun masih ingin berada di sini kan? Tidak usah berbohong. Terlihat dari bahasa tubuhmu."
Kuroko diam membisu. Jackpot keras untuk pemuda biru.
Wanita pink tertawa pelan, "Sudah. Aku mau mencari buku tentang kecantikan dulu, ya." Momoi berbalik badan seraya berjalan melesat menuju rak yang berisi puluhan majalah serta buku panduan yang berisi kecantikan.
Kuroko menghela napas. Wanita memang tak pernah luput dari hal yang berbau kecantikan. Akhirnya, pemuda biru berjalan menuju rak yang berisi puluhan majalah yang beraneka ragam. Mulai dari kesehatan hingga fashion.
Penasaran, pemuda itu mencari-cari majalah mengenai fashion. Berbagai pose dari figur model terpampang jelas di cover. Disaat tengah mencari, iris biru menangkap sebuah majalah yang mencuri perhatiannya—lebih tepatnya majalah tersebut memajang postur dari model bernama Akashi Seijuurou.
Pemuda itu semakin dibuat penasaran. Akhirnya, ia mengambil majalah tersebut dan mulai melihat.
Mode Homme
Judul yang berasal dari Bahasa Prancis membuat Kuroko terpaku sejenak. Pemuda merah ini memang dikontrak di perusahaan Perancis kan Tentu saja. Nama perusahaan Yvest Saint Laurent memang berasal dari seorang fashion designer asal negara romansa.
Untungnya, majalah ini sudah terbuka dari awal. Penasaran, akhirnya ia mulai membuka isi dari majalah tersebut. Begitu dibuka, banyak sekali model baju yang dikenakan oleh Akashi. Model terbaru menjadin sorotan pertama Akashi.
Tidak semua dipenuhi oleh wajah tampan Akashi, tapi ada juga model lain yang terdapat di majalah ini. Disaat tengah asyik dengan dunianya sendiri, tiba-tiba suara baritone pelan keluar tepat di belakang Kuroko.
"Permisi, bolehkah geser sedikit?"
Kuroko tersentak kaget dan sontak menoleh ke belakang, "Tentu sa—eh? Kau—"
Suara baritone yang berasal dari seorang pemuda berambut cokelat menghentikan kalimat Kuroko tepat di tenggorokan. Iris biru membulat sempurna memandang sosok yang berada di depannya.
Bukan ragu ataupun gugup yang disorotkan pemuda ini, melainkan sebuah kesenangan.
"Kau—Ogiwara-kun?" tanya Kuroko memastikan.
Pemuda cokelat—Ogiwara Shigehiro, mengangguk beberapa kali sebagai jawaban. Iris cokelat yang senada dengan rambutnya kembali menatap postur tubuh dari lawan bicaranya.
Ah. Sudah lama sekali.
"Betul sekali! Kau—kau Kuroko, kan? Sahabatku semasa SMA?" tanya Ogiwara memastikan kembali dan mendapat anggukan singkat dari lawan bicaranya.
Melihat itu, rasa senang memuncak hingga reflek pemuda cokelat memeluk erat sahabat semasa SMA nya dulu. Kuroko tidak mengelak malu, melainkan balas memeluk sahabatnya itu. Hampir lima tahun mereka tidak bertemu dan akhirnya pertemuan mereka pun terjadi tepat di toko buku ini.
Selesai menumpah rindu, Ogiwara melepas pelukannya. "Kuroko. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja. Kalau Ogiwara-kun sendiri?"
"Oh jangan tanya. Aku seratus persen baik sekali—bahkan lebih. Ah, sekarang kau bekerja di mana, Kuroko?" tanya Ogiwara penasaran.
Kuroko tersenyum tipis, "Aku bekerja sebagai fashion designer."
"Wow. Hebat sekali tapi memang bakatmu di sana. Kau menjadi fashion designer perusahaan apa?"
"Yvest Saint Laurent."
"Apa!? Perusahaan kelas dunia itu?!"
Satu anggukan ia dapati.
Ogiwara memberi apresiasi tinggi pada sahabatnya ini.
Kuroko kembali mengulas senyum tipis, "Kalau Ogiwara-kun sendiri gimana?"
"Aku bekerja dibidang yang sama denganmu."
"Kalau begitu biar kutebak. Kau jadi fotografer model? Ah. Atau mungkin make up artist?"
Ogiwara mengulas senyum lebar seraya mengacungkan dua jari berbentuk V di hadapan Kuroko. "Rahasia dong."
"Kenapa harus main rahasia-rahasiaan? Ini bukan permainan poker yang tidak boleh saling mencontek," ujarnya datar.
Bukannya dijawab, pemuda cokelat malah menyunggingkan senyum lebar—membuat pemuda biru dibuat gondok oleh kelakuannya sendiri. Hendak pemuda biru itu berbicara, namun suara cempreng nan khas memotong pembicaraan di antara keduanya.
"Tetsu-kun, kau su—ah siapa dia?" Momoi bertanya seraya berhenti melangkah tepat di samping Kuroko. Telunjuk ramping menunjuk lawan bicara pemuda biru sedari tadi.
Pemuda biru membuka mulut, memperkenalkan sahabatnya yang sudah tidak ia temui selama lima tahun lamanya. "Momoi-san, perkenalkan, ini sahabatku semasa SMA namanya Ogiwara Shigehiro."
Ogiwara tersenyum menatap wanita cantik yang tengah memandangnya lugu. Ia mengulurkan tangan hendak berjabat tangan, "Perkenalkan, namaku Ogiwara Shigehiro, nona."
Momoi sedikit tersipu dengan kata nona yang terselip pada pelafalan pemuda cokelat tadi. Tapi, ia masih punya etika. Wanita itu membalas jabatan Ogiwara, "Momoi Satsuki. Senang berkenalan denganmu, Ogi-kun. Ah, dan jangan panggil aku nona."
"Kenapa tidak? Rupamu sangat cantik bagaikan bunga di padang rumput. Apalagi rambutmu itu bagaikan mahkota ratu yang tak tergantikan oleh apapun."
"He-hei! Tidak baik menggoda orang yang baru saja kau kenal."
"Tapi itu memang faktanya."
"Ogi—"
"Sudah. Daripada beradu mulut di sini, bagaimana kalau kita pergi ke café? Momoi-san mau ikut?" tawar Kuroko—berusaha memecahkan atmosfir sekitar.
Momoi mengangguk mantap, "Tentu saja boleh."
"Ogiwara-kun, kau mau ikut?"
Ogiwara berpikir sejenak. Telunjuk ia taruh di depan dagu.
"Baiklah, aku ikut. Lagian aku ingin mengobrol banyak denganmu, Kuroko."
Kuroko mengangguk, "Baik. Kalau begitu, aku akan ke kasir dulu untuk membayar." Pemuda itu berbalik seraya melangkah menuju meja kasir yang berada di sudut ruangan. Belum lama ia pergi, Momoi membuka mulut—
"Ah. Tetsu-kun, kami tunggu di luar ya?" Pertanyaan Momoi dibalas oleh acungan jempol dari pemuda biru. Melihat itu, Momoi memegang lengan Ogiwara.
"Ogi-kun, ayo kita keluar."
"Hei. Ngapain pegang-pegang?"
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Ah. Mau mencari kesempatan pegang-pegang ya? Iya, aku tahu aku tampan, tapi tidak begitu juga."
Perkataan Ogiwara sukses menghadiahkan cubitan maut dari wanita pink hingga ia mengaduh kesakitan. Iris magenta melotot kesal ke arah Ogiwara.
"Aduh! Jangan dicubit. Sakit tahu," ujar Ogiwara sembari meringis.
Momoi menjawab ketus, "Suruh siapa berkata seperti itu? Sudah. Ayo keluar."
Ogiwara tidak mengelak—melainkan mengikuti.
Menolak berarti siap dengan hadiah maut.
"Baik. Baik. Ayo kita keluar."
.
.
.
Selesai berpetualang seputar buku, kini ketiganya berada di sebuah café yang jaraknya tak jauh dari toko buku. Café yang menjual berbagai jenis kopi, mulai dari kopi arabian hingga luak. Ya. Café Starbuck memang tempat yang cocok untuk melepas penat sehabis beraktivitas. Tempat ini juga cocok menjadi tempat pertemuan atau mengerjakan tugas.
Dan di sinilah mereka. Duduk berhadapan ditemani tiga jenis kopi.
Macchiato. Frappuccino. Vanilla Latte.
Ah. Sesekali terdengar canda gurau dari mereka bertiga.
Mengobrol. Bersenda gurau. Jahil.
Tiga kata tersebut mewakili ketiganya. Sesekali terlihat Momoi yang merengek karena dijahili oleh Ogiwara. Sesekali terlihat Kuroko berbicara mengenai pengalamannya di bidang fashion designer. Dan sesekali juga Ogiwara tertawa puas mendengar cerita dari Kuroko semasa mereka berada di bangku SMA.
Hanya percakapan hangat yang menuntun mereka saat ini. Disaat tengah asyik berbincang, Kuroko berdiri dari kursi—membuat dua kepala berbeda warna rambut menatapnya heran.
"Kau mau ke mana, Kuroko?" tanya Ogiwara penasaran.
"Aku mau ke toilet."
"Jangan lama-lama, Tetsu-kun."
"Oke."
Jawaban singkat mengakhiri pembicaraan. Kuroko berjalan keluar dari tempat mereka duduk. Tungkai kaki melangkah hendak menuju toilet yang berada di sebelah kasir. Sedikit lagi ia sampai namun—
Bruk.
Sebuah suara berhasil mengagetkan pandangannya. Kuroko mundur dua langkah begitu ia menabrak sesuatu. Suara halus dari percikan air tertangkap oleh indra pendengar Kuroko. Perlahan, ia dongakkan kepala hingga iris biru menangkap sosok figur di hadapannya namun—
Betapa terkejutnya ia.
Sosok yang ia tabrak secara tidak sengaja itu adalah Akashi Seijuurou. Si model angkuh yang selalu tampak mempesona. Kuroko terpaku diam begitu mendapati noda kopi membasahi baju pemuda merah.
Akashi menatap tajam lawan bicaranya, "Bagus sekali, Tetsuya. Kau sudah mempermalukanku di depan umum."
"Aku tidak sengaja, Akashi-kun. Dan maaf, aku sama sekali tidak melihat," ujar Kuroko datar namun menyorotkan penyesalan.
"Kau pikir baju ini semurah bajumu yang selalu di obral di toko murahan?"
Kejam dan tega. Akashi tidak tanggung-tanggung bila berurusan dengan hal seperti ini.
Apa katanya? Baju obral? Lancang sekali dirinya berkata seperti itu.
Kuroko menatap dalam iris dwi warna yang memandangnya rendah, "Maaf, Akashi-kun. Tapi, bisakah kau menghargai hasil karya orang lain?"
"Untuk apa aku menghargai karya sampah seperti kalian?"
"Apa kata—"
Akashi mengibas tangan di depan wajah pemuda biru. Jengan dengan basa-basi yang berujung omong kosong.
"Daripada kau mengelak, ada baiknya kau membelikan baju untukku."
Kuroko menautkan alis begitu mendengar perkataan Akashi. "Apa? Baju baru? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk mengganti kerugian yang sudah kau perbuat."
"Kau kan punya banyak uang. Lebih baik membeli sendiri ketimbang—"
"Kau yang menabur, kau yang menuai. Kau harus bisa mengambil konsekuensi, Tetsuya."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian. Ah. Baiklah. Aku akan memberikanmu dua pilihan," ujar Akashi dengan nada remeh yang terselip pada pengucapannya.
Kuroko melipat kedua tangan di depan dada. "Apa itu?"
"Membelikanku baju atau kusiram kau dengan kopi di depan umum. Untuk baju, aku tidak sudi memakai merek sampah yang tidak tahu asal-usulnya."
Ketika dua pilihan mengancam dirinya. Mana yang akan Kuroko pilih?
Membeli baju baru untuk si model atau rela disiram di depan umum?
.
.
.
-To Be Continued-
Balasan review:
sofi asat: Halo, terima kasih sudah membaca. Sudah update chapter 3 dan semoga makin suka.
Zafreena: Review itu tidak bersifat memaksa kok. Natural saja. Saya sudah senang bisa menghibur pembaca lewat cerita saya ini. Sudah update chapter 2 semoga makin penasaran~
annovt: Pastinya saya gak enek atau bosen kok ngeliat kotak review dari kamu. Akashi di sini memang terkesan angkuh dan sombong—itulah ciri khas sifat Akashi di fik MADRE ini. Adegan rate M? Mungkin ada tapi tidak sekarang. Terima kasih bila cerita saya bisa membuatmu semakin suka. Sudah update dan semoga makin gregetan bacanya.
Kirariie: Wow ternyata ada juga yang tegang masalah pemotretan hahaha. Oke, sudah update semoga makin terhibur.
ChocoWhiteMuffin: Coba dibaca cerita bagus dan menarik loh menurut saya. Hahaha Akashi memang udah seperti ini di MADRE. Sukanya bikin orang pengen nampar bolak-balik dengan sifatnya. Sudah update chapter 2 dan semoga semakin kejang2 bacanya.
Ryuusuke583: Momen AkaKuro? Akan ada tapi seiring berjalannya waktu. Saya tidak mau terburu-buru menulis adegan tersebut. Terima kasih untuk pengoreksiannya. Sudah update nih dan semoga makin terhibur.
Chiharu Nao TomatoOrange: Sudah panjang nih chapter 3 hehehe semoga makin gregetan~
Guest: Trims. Sudah update dan semoga makin suka.
Gise No Kazu: Halo, Gise. Makasih udah baca cerita saya. Iya, saya udah tau kamu dari Kazu kok. Sudah update nih dan semoga makin suka bacanya yaa~
adelia santi: Halo, Adelia. Hahaha saya gak bisa jahit kok cuman ngerti aja caranya gimana. Mungkin baru masuk konflik untuk chapter ini. Penambahan chara? Silakan dibaca untuk chapter ini hahaha. Sudah update dan semoga makin terhibur yaa.
Hanaseiirumi: Mungkin kamu yang jarang kali hahaha. Sudah update chapter 3 dan semoga makin penasaran.
Ningie Cassie: Wah saya jadi malu deh kalo akhirnya cerita saya memikat hati Ningie(?) Hehehe Andrei Aksana? Wah saya belum baca mungkin boleh juga tuh rekomennya. Terima kasih untuk pengoreksiannya dan ini sudah update semoga makin cinta sama ceritanya.
Akari Kareina: Cerita ini tertuju pada AkaKuro kok jadi tenang aja. Sudah update dan semoga makin terhibur.
November With Love: Hoo~ Saya memang seperti itu orangnya hahaha. Cerita itu emang bagus bertahap, kalau langsung ke konflik tidak hidup nanti ceritanya. Sudah update chapter 3 dan semoga makin suka~
Kuroi Kanra: Halo, Kuroi. Salam kenal. Anti mainstream? Yep. Saya memang tipe orang anti mainstream sih. Di sini memang belum ada momen AkaKuro tapi di chapter ini mulai masuk ke konflik. Penasaran dengan photoshoot? Saya pun begitu. Mayu jadi orang ketiga? Wow nanti yang ada malah saya buat incest sama Kuroko. Oke, sudah update chapter 3 dan semoga makin tertarik bacanya.
siucchi: sudah update nih chapter 3 dan sori kalo dipotong tepat di chapter yang lagi rame. Semoga makin suka~
azurefey: Halo, Azura. Wow langsung dibabat habis 3 chapter nih—kejar tayang 45 kayanya kamu hahaha. Yep, saya lebih suka bertahap untuk soal cerita ketimbang langsung masuk ke dalam konflik. Mereka berdua straight atau gak sih? Semua akan terjawab seiring berjalannya cerita ini. Sudah update chapter 3 dan semoga makin terhibur yaa.
A/N:
Chapter 3 kelar dan bener-bener baru masuk konflik. Maaf kalo agak lama untuk masuk konflik, karena saya suka bertahap.
Terima kasih untuk para readers yang sudah me-review, fav, dan follow di chapter sebelumnya. Dan terima kasih juga sudah mampir dan membaca chapter 2 fik MADRE ini.
Ah ya. Bila ada yang ingin bertanya-tanya seputar MADRE atau penulisan bisa langsung menghubungi saya melalui Facebook dengan nama Giovanno Mattheus. Feel free to add me and ask anything~
Saya mohon maaf sebesar-besarnya bila banyak kekurangan dalam cerita ini.
Silahkan memberi kritik, komentar, dan saran melalui kotak review atau bisa langsung PM saya.
See you in next chapter! XD
Tertulis,
Giovanno
