Bagai burung dalam sangkar, Kuroko Tetsuya dibuat terpaku oleh tawaran dari model papan atas—Akashi Seijuurou. Saat dua pilihan menghantui pikirannya dan pilihan tersebut bukanlah pilihan yang bagus. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Ia harus tetap memilih. Kenyataan membuatnya harus menelan pil pahit.

Membelikan baju atau disiram kopi.

Orang cenderung akan memilih pilihan 'membelikan baju'. Namun, bagaimana bila baju yang dipilih merupakan kelas atas yang mampu menyikat habis dompetmu hingga tak bersisa? Pasti kita akan berpikir dua kali bukan?

Hal tersebut berlaku bagi pemuda biru yang bernama lengkap Kuroko Tetsuya.

Ia lebih memilih untuk membelikan baju, tapi satu sisi ada juga konsekuen yang datang menghantui. Sepertinya ia harus rela kehabisan uang dalam kurun waktu sehari. Ayolah, apakah tidak ada pilihan Akashi selain membeli baju dan disiram kopi?

Terkadang Kuroko berpikir lebih baik ia disiram kopi ketimbang harus membelikan baju dengan merek termahal selera si model. Tapi juga satu sisi ia tidak ingin menjatuhkan martabatnya di depan umum hanya karena masalah sepele.

Apakah seorang Akashi selalu memperbesar suatu masalah?

Ah. Ia tidak tahu. Yang jelas adalah ia harus memilih salah satu pilihan yang diberikan oleh Akashi.

Akhirnya, pemuda biru menghela napas, "Apakah tidak ada pilihan lain selain itu, Akashi-kun?"

Pemuda merah yang merasa terpanggil menatap tajam lawan bicaranya. Sorot mata menandakan bahwa tawarannya absolut dan tidak bisa ditawar lagi—ia bukan seorang pedagang pasar yang dengan seenak jidat pembeli menawar harga barang dengan tawaran sadis.

"Cepat pilih, Tetsuya. Atau kau mau cari mati duluan?" tanya Akashi dengan nada yang tak tanggung-tanggung.

Oke. Kuroko pasrah.

Pemuda biru menghela napas, "Baiklah, aku—"

"Oi, Kuroko."

Suara baritone yang berasal dari pemuda cokelat—Ogiwara, memotong cepat kalimat yang akan Kuroko lontarkan. Sontak, dua pemuda berbeda rambut menoleh dan mendapati sosok Ogiwara tengah berjalan menghampiri mereka.

.

MADRE

Giovanno

.

Dua ditambah satu hasilnya tiga.

Kini, dua sosok tersebut ditambah satu hingga terdapat tiga tokoh pelaku yang tengah memainkan peran masing-masing—seperti di atas panggung teater. Dan di sini, Akashi terlihat seperti memainkan peran tokoh antagonis yang hendak menerkam mangsanya—itu menurut Kuroko, tapi entah menurut yang lain.

Akashi menautkan sebelah alis. "Siapa kau?" Pertanyaan dingin terlontar dari bibir pemuda merah. Pertanyaan tersebut tertuju pada Ogiwara seorang. Bukannya menjawab, pemuda cokelat itu malah memandang sekeliling—takut-takut bukan dia yang menjadi sasaran.

Namun, persepsinya salah total.

"Oi, kau yang berambut cokelat. Tentu saja aku bertanya padamu."

Oh. Ogiwara baru paham.

Ternyata dirinya yang ditanya.

Pemuda itu berdehem sejenak lalu menjawab, "Setidaknya kau bersikap santun bila bertanya dengan seseorang."

Tegur.

Ya, Ogiwara menegur Akashi yang sudah berkata ketus padanya. Pemuda cokelat itu sebenarnya tidak mempermasalahkan perkataan ketus dan menusuk yang terselip disetiap pengucapan Akashi, namun setidaknya sikap sopan terhadap orang lain pantas dijunjung tinggi. Itu yang Ogiwara dapat dari pendidikan karakter yang diajarkan oleh keluarganya.

Sepertinya ada baiknya untuk mencontoh sikap Ogiwara.

Ah, sudahlah.

Akashi yang mendengar jawaban Ogiwara langsung memberikan tatapan melotot. Ya, Akashi memelototi Ogiwara yang malah tidak digubris oleh si lawan bicaranya. Pemuda merah melipat kedua tangan di depan dada. Dua mata menyorotkan keangkuhan yang amat tinggi—memperlihatkan martabat kelas atasnya.

Ia tertawa sinis, "Aku tidak butuh kata-kata seperti itu. Lebih baik kau cepat memberitahukan siapa namamu. Lekas. Aku tidak suka membuang waktu."

"Namaku—"

"Ogiwara. Ogiwara Shigehiro namanya, Akashi-kun," potong Kuroko cepat sembari menatap dua iris dwi warna yang dingin.

Oh. Ogiwara namanya.

Hanya perlu jawaban itu saja harus bertele-tele. Bertanya malah balik bertanya. Bicara keras malah dijawab tidak punya sopan. Jujur saja, Akashi jengah dengan hal seperti itu. Untuk itu, ada rasa lega dihati begitu Kuroko memberitahu nama pemuda cokelat itu.

Kuroko memang peka dengan atmosfir sekeliling.

Tapi belum tentu ia peka dengan masalah percintaan.

Kuroko menghela napas, "Namanya Ogiwara-kun, dia temanku semasa SMA, Akashi-kun."

"Aku tidak peduli dia temanmu atau bukan."

"Setidaknya aku ingin memberitahu agar lebih jelas dan spesifik."

"Aku tidak butuh penjelasan."

"Setidaknya kau tahu—"

"Aku tidak mau tahu."

Oke. Kuroko melambaikan bendera putih tanda mengalah.

Berdebat dengan Akashi tidak akan ada ujungnya. Lebih baik ia mengalah agar suasana tidak semakin panas.

Membantah sama dengan mencari darah.

Akhirnya, Kuroko menghela napas—lagi. "Akashi-kun—"

"Kuroko, sebenarnya ada masalah apa kau dengan si pendek angkuh ini?" Pertanyaan Ogiwara sontak membuat bola biru itu membulat sempurna. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabat karibnya itu.

Ogiwara, sepertinya kau sudah memancing singa dari jeratan maut.

Perlahan, iris biru menangkap raut wajah Akashi. Pemuda merah itu terlihat tenang bagaikan air yang mengalir—namun yang membedakan ialah sorot mata. Iris dwi warna memberi sorot mata tajam dan sinis. Ia tidak suka dengan pertanyaan Ogiwara tadi.

Mau tidak mau. Malas atau tidak. Ia menjawab pertanyaan dari sahabat karib Kuroko.

"Dia menabrakku hingga kopi yang tadi kubeli menodai bajuku."

"Lalu?" tanya Ogiwara seraya menautkan sebelah alis.

Akashi menatap fokus lawan bicara, "Aku ingin dia mebelikanku baju baru sebagai tanda permohonan maaf."

"Hanya itu saja harus seperti itu?" tanya Ogiwara dan dijawab oleh anggukan singkat dari si empu. "Kau ini childish sekali ya, Akashi. Benar kan namamu Akashi?" Ogiwara bertanya sekali lagi.

Pemuda merah menjawab diselingi oleh decakan lidah, "Childish katamu? Aku memang seperti ini dan ya namaku Akashi—Akashi Seijuurou. Kau jangan macam-macam padaku, Shigehiro."

"Hei, apa-apaan sikapmu itu? Kau berani mengancamku? Memangnya kau ini siapa? Dewa? Tidak ada yang berhak mengancamku kecuali kedua orang tuaku sendiri. Dan sepertinya kau memang lancang ya, dengan seenak jidat langsung memanggil dengan nama kecilku."

"Lalu? Apakah itu menjadi masalah? Ini hidupku. Hakku. Jadi terserah aku karena kau bukan—"

"Stop. Akashi-kun dan Ogiwara-kun lebih baik kita sudahi perdebatan ini." Kuroko melerai keduanya secara non-verbal melalui perkataan. Lalu, tangan mungil pemuda biru tergerak menggenggam tangan si model. Menarik paksa pemuda itu agar mengikuti dirinya. "Ayo kita pergi, Akashi-kun."

"He-hei—"

"Kita cari udara segar," potong Kuroko cepat sembari melesat keluar café—meninggalkan Ogiwara yang masih terpaku di tempat.

.

.

.

Hangat.

Itulah yang mereka rasakan sekarang—terutama Kuroko. Dinginnya AC yang bertemu sapa dengan hembusan hangat angin luar, memadukan kehangatan tersendiri ketika mereka keluar dari café.

Saat sudah keluar dari café, Akashi menepis kasar tangan Kuroko yang sedari tadi menggenggam pergelangan tangannya. Terdapat bercak kemerahan yang melingkar manis pada pergelangan kanannya—sepertinya Kuroko terlalu keras untuk taraf menggenggam. Lihat saja, tangan model itu kini terdapat bercak merah yang sebentar lagi akan menjadi sorotan mata publik.

Akashi menatap pemuda yang lebih pendek sedikit darinya itu dengan tatapan tajam yang selalu ia sorotkan. Kedua belah bibir terbuka, "Apa-apaan perlakuanmu tadi? Kau lihat? Sekarang terdapat bercak kemerahan dan itu sangat mengganggu."

"Yang terpenting perdebatan kalian tadi selesai. Aku tidak ingin gara-gara masalah ini kita menjadi bahan buah bibir masyarakat," jawab Kuroko polos.

Akashi memutar bola matanya malas, "Memang apa hubungannya dengan menjadi bahan buah bibir?"

"Akashi-kun itu model. Siapa tau diam-diam ada paparazzi di sekitar sini dan tiba-tiba ia mengambil foto lalu—"

"Cukup, Tetsuya. Imajinasi fanamu itu terlalu liar," tukas Akashi.

Kuroko menautkan sebelah alis, "Liar? Maksudmu?"

Akashi mengibas tangan di depan wajah Kuroko. "Sudah lupakan, yang terpenting kau harus bertanggung jawab dengan bercak kemerahan ini," ujar Akashi seraya menunjuk pergelangan kanannya.

Iris biru menangkap bercak kemerahan tersebut. Seketika tampang poker face menjadi pemandangan pertama yang Akashi lihat dari perubahan raut wajahnya. Maksudnya, ayolah! Itu cuman bercak kemerahan saja. Apa harus dipermasalahkan juga?

Pemuda biru menjawab, "Akashi-kun, bercak kemerahan seperti ini lama-kelamaan juga akan hilang. Tinggal tunggu lima belas menit saja."

"Aku tidak percaya dengan omonganmu, Tetsuya."

"Akashi-kun, memangnya kau tidak pernah memiliki bercak kemerahan?"

"Pernah."

"Lalu?"

"Hilangnya tiga hari dan itu membuatku muak. Aku tidak ingin dicap sebagai korban BDSM oleh publik dengan bercak seperti ini," jawab Akashi seraya melipat kedua tangan di depan dada dan memandang sekitar.

Kuroko menelengkan kepalanya ke kanan—pertanda bingung.

"BDSM itu apa?" tanyanya dengan polos dan secara tidak langsung, Akashi menoleh ke arahnya. Iris dwi warna itu melotot sempurna—membuat Kuroko sedikit bergidik ngeri dengan tatapan tajamnya yang seperti itu.

Akashi menjawab, "Kau tidak tahu BDSM?"

Satu gelengan ia dapati.

"Serius kau tidak tahu arti dari BDSM?"

Kuroko menggeleng, "Aku sama sekali tidak tahu, Akashi-kun. Memangnya itu apa?"

For God sake.

Akashi sering bertemu dengan orang polos, namun baru kali ini bertemu dengan orang yang polosnya benar-benar tak terhitung. Orang tersebut adalah Kuroko Tetsuya. Oke, mungkin untuk ukuran BDSM dia tidak tahu tapi apakah ia tahu arti lain yang mengandung unsur sex?

Pemuda merah menghirup lalu membuang napasnya perlahan. Oke, ia sudah siap.

Perlahan, kedua katup bibir terbuka dan melafalkan sebuah pertanyaan, "Oke, tidak apa-apa bila kau tidak tahu. Tapi, apakah kau tahu apa itu hardcore?"

Sejenak, pertanyaan yang dirangsang oleh indra pendengar langsung mengimpuls saraf ke otak—membuat pemuda itu dengan cekatan menjentikkan jemari.

Ah. Tentu saja ia tahu, masa tidak?

Kuroko menjawab, "Aku tahu itu."

"Apa?" tanya Akashi yang dilanda oleh rasa penasaran.

"Itu aliran musik metal yang nadanya tidak beraturan itu kan? Tentu saja aku tidak sebodoh yang kau kira, Akashi-kun." Kuroko menjawab enteng.

Satu kesimpulan yang menjadi keputusan mutlak dari model bernama Akashi Seijuurou.

Kuroko Tetsuya adalah pemuda yang terbilang polos sekali.

Rasanya ia tidak tega menodai pikiran suci pemuda biru itu. Oke, lebih baik ia tidak melanjutkan pertanyaan omong kosong ini—karena percuma saja. Pada akhirnya Kuroko tidak mengerti apapun yang berhubungan dengan sex atau sebangsanya.

Akashi menghela napas berat, "Baik. Tidak perlu dilanjutkan, lebih baik aku pulang sekarang juga daripada aku mendadak gila berada terus bersamamu."

Kuroko menautkan sebelah alis, "Eh? Lalu bagaimana dengan tanggung jawabku untuk membelikanmu baju?"

Bagaimana ya?

Sebenarnya Akashi ingin agar Kuroko bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, satu sisi ia tidak ingin dikatai 'childish' oleh Ogiwara atau siapapun itu. Ia tetap harus menjaga martabatnya sebagai model.

Menjunjung tinggi martabat adalah hal terpenting bagi Akashi.

Si model menghela napas berat lagi, "Untuk kali ini, kau kumaafkan. Meski dengan berat hati—tapi kujamin dompetmu akan meraung bila membelikan baju untukku, karena aku tidak suka dengan merek melarat yang tidak jelas asal usulnya."

"Akashi-kun, kau—"

"Hush!" Akashi mengibas kembali tangan di wajah Kuroko—membuat si empu kaget dan diam membisu. "Kau ini cerewet ya, Tetsuya. Aku sudah tahu dan tidak perlu kau beritahu lagi. Sudah, I'm off." Perbincangan mereka berakhir dengan Akashi yang berbalik badan lalu berjalan menuju sebuah mobil Ferarri warna merah metalik dengan garis hitam yang menjadi aksesoris kecil mobil ini.

Iris biru membulat sempurna mendapati mobil yang tengah Akashi tumpangi. Maksudnya, ia tidak salah lihat bukan? Sebuah mobil Ferarri yang bisa ia lihat dengan hitungan jari, kini terpampang sombong di hadapannya. Entah mengapa, kakinya serasa tertancap di tanah. Tidak bisa bergerak sama sekali. Serasa ada yang menahannya untuk tetap tinggal.

Mobil Ferarri yang ditumpangi Akashi—merupakan mobil idaman pemuda biru ini.

Suara mobil yang dinyalakan menderu di udara terbuka, Akashi memindahkan porsneling mobil ke depan lalu menancap gas. Sesaat roda mobil berputar—membawa Akashi yang mengambil alih kemudi beranjak dari tempat parkir. Meninggalkan Kuroko yang masih terpaku di tempat.

Iris biru masih memandang lekat mobil yang lama-kelamaan menghilang dari pandangan. Tanpa disadari, getaran ponsel membangunkannya dari khayalan fana. Sontak, pemuda itu merogoh saku celana dan mengambil ponsel yang tadi bergetar.

Ditekannya tombol unlock dan terdapat satu pesan yang menghiasi layar ponsel. Tanpa basa-basi, Kuroko menekan pesan tersebut dan keluarlah sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

+456-543-xxx: Kuroko, untuk photoshoot minggu depan kau tidak perlu membuat pakaian. Semua sudah ditanggung oleh perusahaan. –Mayuzumi Chihiro

Oh. Ternyata dari Mayuzumi.

Pemuda itu mengangguk tipis seraya membalas pesan.

Kuroko: Baiklah. Kalau begitu aku harus apa di sana nanti?

Mayuzumi: Lebih rincinya akan kujelaskan minggu depan. Kita akan kedatangan tamu.

Kuroko: Tamu? Memangnya siapa tamu itu?

Mayuzumi: Sudah, nanti akan kujelaskan minggu depan. Pokoknya, turuti saja perintahku ini. Jangan membantah.

Kuroko: Baik. Trims untuk infonya.

Mayuzumi: Sama-sama.

Pesan terakhir menjadi akhir pembicaraan maya antara keduanya. Kuroko memasukkan kembali ponsel ke dalam saku dan berjalan masuk ke dalam café.

Sejujurnya, ia penasaran siapa tamu yang akan datang ke tempat kerjanya itu.

Apakah seorang fotografer pro? Make up artist? Fashion Designer? Sponsor? Atau mungkin model?

Rentetan pertanyaan yang memenuhi pikiran membuat pening kepalanya. Sejenak, ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan soal pekerjaan. Mari kembali bernostalgia dengan sahabat karib setelah sekian lama tidak bertemu.

Bagi Kuroko, hal tersebut merupakan pelepas penat akan runyamnya pekerjaan.

.

.

.

Libur pendek selesai. Mari kembali pada rutinitas sehari-hari.

Bangun pagi. Pergi bekerja. Pulang larut malam. Tidur.

Empat aktivitas yang tak pernah lepas dari seorang pekerja—sudah menjadi rutinitas sehari-hari yang tidak bisa dilepas dengan mudahnya. Kadang rasa pegal dan nyeri melanda tubuh, namun tetap saja tidak ada kata malas bagi seorang pekerja keras—termasuk Kuroko.

Kini, pemuda biru melangkah masuk ke dalam tempat kerjanya. Tidak ada kata malas di setiap langkah yang ia tapakki. Kuroko berjalan semangat memasuki lift menuju ruang photoshoot—yang diketahui sebagai markas besar perusahaan ini. Seperti detektif saja, tapi itulah fakta.

Tungkai kaki berhenti tepat di depan ruang photoshoot. Perlahan, tangan mungil tergerak memegang gagang pintu. Mendorong ke bawah dan membuka lebar pintu tersebut. Begitu masuk, pemandangan pertama yang iris biru itu tangkap adalah—

—Mayuzumi, Momoi, serta Akashi tengah berdiri menatap pintu yang terbuka. Tentu saja, pandangan mereka terfokus pada Kuroko yang masuk ke dalam ruangan. Derit pintu yang membuat pandangan mereka fokus pada satu titik.

Kuroko menatap ketiga rekan kerjanya bingung. Namun, tentu saja, dengan muka datar ia berpura-pura santai meski dalam hati beribu pertanyaan merasuki pikiran.

"Selamat pagi," sapa Kuroko datar.

"Ah. Selamat pagi, Tetsu-kun. Tumben kau datang telat."

Kuroko melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan kiri. Sepertinya ia tidak telat, malah sebaliknya.

Pemuda itu menjawab, "Sepertinya aku tidak telat—bahkan tepat dua menit lagi jam sepuluh."

"Kau memang tidak telat, Kuroko," jawab Mayuzumi yang sedari tadi menatap keberadaannya. Kuroko menoleh dan mendapati Mayuzumi tengah berkacak pinggang dengan sebelah tangan.

Ah, ya. Ada sesuatu yang harus ia sampaikan.

Bisa dibilang itu adalah sebuah janji terselubung.

Kuroko menatap balik pria abu dengan datar, "Mayuzumi-kun, kau akan memberitahuku soal teknis photoshoot hari ini bukan?" Pertanyaan pemuda biru dijawab oleh jentikkan jemari dari si lawan bicara. Tentu saja ia tidak lupa, malah sebaliknya.

Mayuzumi menghela napas sembari menyibak poninya ke atas, "Hari ini kita akan kedatangan tamu. Seorang model dari perusahaan sebelah—sepertinya Midorima menyetujui kontrak antar keduanya. Ia akan datang sebentar lagi."

"Model? Jadi kalau begitu apakah Akashi-kun akan berkolaborasi dengan model itu?" tanya Kuroko memastikan.

Mayuzumi mengangguk, "Tentunya iya, dan kau tidak perlu repot-repot membuat pakaian untuk keduanya. Semua sudah ditanggung oleh perusahaan. Tugasmu hanya menjadi style mode."

"Style mode? Oke, aku paham," jawab Kuroko diselingi anggukan singkat. "Lalu, di mana modelnya?"

"Dia akan da—"

Suara derit pintu memotong cepat perkataan Mayuzumi. Sontak, sorot mata semua tertuju pada penunggu dibalik pintu yang sebentar lagi akan muncul. Suara langkah kaki menggema dalam ruang photoshoot yang berkisar empat kali empat—membuat penasaran mereka berempat.

Lalu, tampaklah sesosok pemuda dengan pakaian casual style yang menjadi pelengkap tubuh. Kepala yang ditutupi topi bertuliskan SWAG itu perlahan dilepas dan menampilkan sosok rambut berwarna cokelat.

Orang yang pertama kali tersentak di tempat adalah Kuroko—yang kedua barulah Akashi.

Sosok orang yang tak asing lagi kini tampak kembali—bagai hantu yang keluar dari kegelapan.

Sosok tersebut berjalan santai menghampiri ke empatnya. Mayuzumi yang menyadari mulai mendekati dan bertanya, "Apakah kau modelnya?" Ia bertanya dengan sopan dan pelan—menunjukkan ciri khas seorang pria Mayuzumi.

Pemuda itu mengangguk, "Iya. Aku modelnya."

"Perkenalkan, namaku Mayuzumi Chihiro. Seorang fotografer perusahaan ini," ujarnya seraya mengulurkan tangan—mengisyarat untuk berjabat tangan.

Tidak sungkan, pemuda itu membalas jabatan Mayuzumi, "Perkenalkan, aku Ogiwara Shigehiro. Model yang menjadi tamu di perusahaan ini. Salam kenal, Mayuzumi."

Dengan demikian, perkenalan singkat menjadi sebuah kejutan kecil bagi keduanya—Akashi dan Kuroko.

Akashi yang tidak menyangka bahwa pemuda yang ditemuinya minggu lalu adalah model sepertinya—namun yang lebih dibuat terkejut adalah Kuroko.

Kuroko tidak percaya atau mungkin dibuat kaget oleh sahabat karibnya itu.

Jadi percakapan singkat di toko buku minggu lalu adalah—ini jawabannya?

Antara terkejut bukan main atau senang ia tidak tahu.

Yang jelas sebuah kejutan kecil menjadi hadiah yang didapati Kuroko hari ini.

.

.

.

-To Be Continued-


Special thanks for:

Kuhaku, Gise No Kazu, HK Jamur Handsome, Ryuusuke583, NAnamikaze-CHIkamatsu13, SheraYuki, Guest, Ai Minkyoo Chan, azurefey, siucchi, adelia santi, ItachiDeidara, .1, ChocoWhiteMuffin, macaroon waffle, , annovt, Chiharu Nao TomatoOrange, Tetsuya Ran, Pierrot bukan mak errot, Akashi Sorata, TukTikTakTikTuk, dinodeer, Shizuka c, dan pembaca setia MADRE lainnya~


A/N:

Oke, chapter 4 kelar juga meski banyak tersendat-sedatnya saat menulis.

Sebelumnya terima kasih bagi para readers yang sudah me-review, fav, dan follow cerita ini. Terima kasih kepada silent reader yang senantiasa setia membaca cerita karangan saya. Terima kasih juga bagi para readers yang sudah berkenan mampir dan membaca kelanjutan cerita karangan saya.

Di sini, saya akan menjawab berbagai pertanyaan readers mengenai MADRE chapter sebelumnya. Oke kita mulai—

Jadi, mengapa KuroMomo mengambil hampir sebagian isi cerita?

Jawabannya karena saya ingin mendekatkan dua rekan kerja di mana mereka sama-sama bekerja dalam satu perusahaan. Lalu, saya ingin menjelaskan bahwa pada dasarnya Kuroko itu masih straight dan belum belok sama sekali. Saya tidak ingin terburu-buru masuk ke dalam konflik di mana AkaKuro saling beradu satu sama lain. Memang saya ini orangnya berproses, namun bila readers lihat dari awal hubungan AkaKuro sama sekali tidak berjalan mulus—malah sebaliknya. Jadi, tidak mungkin kan orang benci tiba-tiba saling suka hanya karena perlakuan? Nah, itu alasan saya mengapa momen AkaKuro itu sangat minim untuk awal-awal. Saya berharap readers mengerti maksud dan jalan pikiran saya. Agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi.

Tapi, seiring berjalannya cerita, momen AkaKuro akan berkembang. Keinginan readers menjadi keinginan saya juga yang sedang ditunggu-tunggu.

Menulis itu tidak perlu terburu-buru. Dibawa santai saja seperti air yang mengalir. Biarkan cerita mengalir agar terkesan hidup. Membawa pembaca masuk dan berpetualang dalam cerita.

Itu prinsip saya sebagai seorang pengarang.

Oke, sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya bila banyak kekurangan dalam cerita ini.

Kritik, saran, dan komentar sangat diperlukan untuk kelanjutan cerita ini. Bisa melalui kolom review yang sudah disediakan atau melalui PM.

Oh iya, selain aktif facebook saya juga punya twitter loh. Penasaran? Boleh di follow dengan username giovannotheus. Feel free to follow and ask anything~

See you in next chapter! XD

Tertulis,

Giovanno