"Ogiwara…-kun?"

Suara baritone halus keluar dari kedua belah bibir tipis Kuroko Tetsuya. Pemuda mungil menatap lawan bicara Mayuzumi dengan datar—meski sorotan mata menyorotkan keterkejutan yang amat sangat. Ogiwara mengulas senyum tipis. Tungkai kaki melangkah pelan menghampiri pemuda mungil itu.

Ia menyapa, "Hai, Kuroko. Kita bertemu lagi." Sapaan hangat yang terkuar membuat sang fotografer sedikit terkejut. Sontak ia berbalik dan menatap dua rekan kerjanya itu.

Ia bertanya, "Kalian sudah saling kenal?"

"Tentu saja. Kami kenal sejak SMA—lebih tepatnya bersahabat, Mayuzumi-kun," jawab Kuroko enteng dan dijawab oleh anggukan paham Mayuzumi.

Satu sisi, Akashi menatap terkejut Ogiwara—tak disangka bahwa pemuda cokelat ternyata seorang model papan atas yang sepadan dengannya. Mengingat tidak mudah bekerja sama dengan perusahaan ini.

Bagaimana dengan Momoi?

Ah. Wanita itu menyambut hangat Ogiwara—meski pria abu mengisyaratkan pertanyaan yang sama ketika ia lontarkan pada Kuroko, tapi tetap saja, jawaban yang di dapat tak jauh dari jawaban pemuda biru.

Bagai buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Mayuzumi menghela napas.

Mungkin sudah waktunya.

"Baiklah. Shall we go now?" tawarnya seraya melirik jam bulat berukuran sedang yang menggantung manis di dinding putih. Pertanyaan singkat dijawab oleh anggukan singkat dari empat rekan kerjanya.

Ia mengangguk sembari melipat kedua tangan di depan dada.

"Okay. Let's go."

.

MADRE

Giovanno

.

Nishi Beach.

Merupakan pantai paling terkenal sekaligus terindah di Jepang. Pantai ini terletak di Pulau Hateruma yang termasuk ke dalam Kepulauan Yaeyama, Provinsi Okinawa. Kawasan kepulauan paling selatan Jepang ini memang dipenuhi dengan pulau-pulau dengan pantai cantik—termasuk Pantai Nishi ini. Selain airnya yang jernih dan biru, pantai ini juga kaya akan biota laut serta tempat paling aman untuk berselancar dan aktifitas olahraga air lainnya.

Pantai yang bersih dan jernih dengan pasir putih menjadi pelengkap. Beberapa pohon kelapa rindang yang di bawahnya terdapat beberapa kursi panjang yang menjadi ciri khas pantai. Beberapa kedai makanan serta minuman yang menjual khas pantai berjejer rapi. Beberapa pengunjung yang bermain voli pantai, layangan, istana pasir, dan olahraga air menjadi suasana damai pantai ini.

Setelah perjalanan yang kurang lebih memakan waktu dua jam, akhirnya mobil berkuran besar dengan lambang Toyota ini berhenti di tempat parkir yang dekat dengan pantai. Perlahan pintu mobil terbuka dan turunlah Mayuzumi beserta rekan kerjanya yang lain. Hari itu matahari sudah berada di atas kepala—pertanda bahwa hari sudah siang. Namun, dengan hawa yang panas tidak menurunkan kinerja kerja mereka.

Setelah semuanya berada di luar, Mayuzumi memberikan komando, "Baiklah. Akashi dan Ogiwara, silakan kalian berganti baju dan kalian akan ditemani oleh Kuroko."

"Apa? Tetsuya?" tanya Akashi heran. "Kenapa harus ditemani dengannya?"

Mayuzumi menghela napas, "Akashi, dia ini seorang style mode untuk photoshoot hari ini. Jadi dia lebih tahu pakaian apa yang cocok untuk dipakai oleh kalian saat photoshoot berlangsung."

"Apakah harus—"

"Kau ini berisik sekali, Akashi. Sudah turuti saja apa yang dikatakannya," potong Ogiwara cepat sembari melirik sinis pemuda merah yang berdiri di sebelahnya.

Ah. Oh.

Sepertinya Ogiwara berhasil memancing singa jantan keluar dari dalam sangkar. Bagai menumpahkan air ke dalam minyak, kini emosi pemuda merah terpancing seketika oleh rentetan kalimat yang dilontarkan Ogiwara tadi. Akashi melirik lawan bicaranya dengan sinis—pertanda bahwa ia tidak suka.

Akashi mendecak remeh. "Itu bukan berisik namanya. Justru bertanya. Kau ini tidak bisa membedakan mana pertanyaan mana penolakan ya?" tanyanya dengan nada mengejek yang terselip pada pengucapan. Mendengar itu, sontak Ogiwara melotot kesal ke arah Akashi namun dianggap angin lalu oleh pemuda ini.

"Kau—"

"Sudah cukup. Hentikan, Akashi-kun dan Ogiwara-kun. Lebih baik cepat kalian berganti baju dan tidak mengulur waktu lagi." Kuroko memotong cepat perkataan Ogiwara—berusaha melerai di antara keduanya.

"Tapi Tetsu—"

"Sudahlah hentikan. Kalian ini seperti anak kecil yang berebut mainan saja. Tampang maskulin tapi sifat seperti anak kecil bukanlah seorang lelaki sejati," tukas Kuroko tegas.

Sepertinya ada benarnya juga. Tidak ada yang salah dari pengucapannya.

Akhirnya, mau tidak mau. Suka tidak suka. Keduanya menghela napas berat dan mulai berjalan menuju mobil hendak mengambil pakaian yang sudah disediakan perusahaan namun—

"Akashi-kun, Ogiwara-kun, biarkan aku yang membawanya. Kalian tinggal masuk ke dalam ruang ganti," sanggah Kuroko.

Akashi menautkan alis seraya melihat sekeliling, "Memang di mana ruang gantinya?"

Ah, betul juga. Selama mengoceh, Kuroko bahkan tidak tahu ruang gantinya di sebelah mana. Benar-benar seorang pemuda yang kikuk. Bola mata biru bulat itu melihat sekeliling—mencoba mencari jalan alternatif.

Tiga puluh detik waktu terbuang membuat jengah suasana. Akhirnya, Mayuzumi yang sedari tadi tidak sabar, mengajukan diri untuk berbicara.

"Bagaimana jika kalian ikut ganti baju di kedai itu?" tawarnya seraya menunjuk sebuah kedai makanan yang berjarak sepuluh meter dari tempat mereka berpijak.

Are you seriously?

Maksudnya—ayolah! Mereka ini model ternama—papan atas pula. Kenapa harus ganti baju di kedai? Oke, untuk ruang ganti di sekitar sini memang susah—bahkan nyaris tidak ada. Tapi apakah harus mengganti baju di kedai makanan? Mau ditaruh di mana muka mereka jika ada yang tahu.

Ogiwara melirik bolak-balik kedai makanan dan Mayuzumi. Bagai orang kelabakan. Ia menunjuk ragu, "Apa tidak ada yang lain selain ini?"

"Tidak ada. Sudah lekas ganti. Aku tidak ingin membuang waktu lagi," jawab Mayuzumi jengah.

Akashi menggeleng cepat, "Tidak. Aku tidak ingin berganti di sini. Lebih baik di tempat lain saja."

"Di tempat lain? Baiklah. Kalau begitu kalian ganti sekarang juga di sini. Tidak ada tempat untuk ganti selain kedai tersebut. Masa bodoh menjadi bahan tontonan atau teriakan fantastis dari para wanita. Yang jelas aku sudah siap dengan kameraku." Mayuzumi sudah mempersiapkan kamera DSLR nya sedari tadi—bersiap untuk memotret objek menarik. "Pilih mana? Kalau kalian berganti di sini perusahaan kita akan mendapat keuntungan komersil yang besar, namun dengan konsekuensi nama baik kalian tercemar di hadapan publik."

Satu kesimpulan yang di dapat.

Mayuzumi Chihiro memang seorang pria yang tidak tanggung-tanggung bila menyangkut dengan masalah seperti ini.

Ia bisa menjadi orang yang nekat sekaligus jahat pada suatu waktu. Habis mau bagaimana lagi? Dua model muda itu terus mengeluh hanya karena masalah kecil. Ya, seperti anak kecil saja. Wajarkan karena mereka berdua adalah model. Tetap ingat itu.

Akhirnya, Ogiwara dan Akashi mengalah. Jackpot untuk keduanya karena sama-sama tidak bisa menjawab pilihan Mayuzumi. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Mereka akan berganti pakaian di kedai itu—ikut numpang berganti lebih tepatnya.

Mereka berharap toilet yang digunakan nanti sesuai dengan harapan.

.

.

.

For God Sake.

Harapan serta impian mereka untuk menjejakkan kaki di depan toilet pupus sudah. Ternyata itu berada di luar perkiraan mereka. Toilet yang sederhana untuk ukuran kedai, namun yang membuat mereka jengah melihat ialah—toilet tersebut kotor, seperti tidak dibersihkan oleh petugas. Lihat saja, banyak beberapa tissue yang kotor berserakan di mana-mana. Karena ini toilet umum maka banyak juga—maaf pembalut wanita yang tidak dibersihkan dengan rapi hingga terlihat noda merah meski sekilas.

Ogiwara dan Akashi menatap jijik toilet di hadapan mereka. Mempersilakan salah satu diantara mereka untuk masuk ke dalam. Namun yang didapat hasilnya nihil. Tidak ada yang mau masuk duluan.

Kuroko menghela napas sembari memutar bola matanya malas, "Akashi-kun, Ogiwara-kun, lekas berganti. Kasihan Mayuzumi-kun dan Momoi-san sudah menunggu di luar."

"Aku mempersilakan Shigehiro terlebih dahulu."

"Apa?! Tentu saja kau yang kupersilakan, Akashi."

"Tidak, kau."

"Kau—"

"Sudah cukup," tukas Kuroko seraya melerai keduanya. "Tidak ada kata penolakan lagi sekarang. Ogiwara-kun, lekas masuk dan berganti."

Ogiwara tersentak kaget setelah mendengar perintah dari Kuroko. Kenapa harus dirinya yang duluan? Pemuda cokelat hendak membantah sebelum Kuroko memberikan tatapan datar namun mematikan. Melihat itu saja Ogiwara sudah tidak berani. Akhirnya ia menghela napas sembari melangkah berat masuk ke dalam toilet.

Kini, Akashi dan Kuroko menunggu di luar.

Selang lima menit, Ogiwara keluar dari dalam toilet. Tubuhnya yang atletis tanpa ada sehelai benang pun yang membalut tubuh—terekspos sempurna. Memperlihatkan otot-otot kekar yang dirawat setiap hari. Kedua tungkai kaki itu terbalut oleh celana renang se-paha berwarna dasar hitam pekat dengan garis oranye yang menjadi pelengkap. Tak lupa juga, sebuah kalung berbentuk taring melingkar manis pada leher pemuda ini.

Terkesan maco dengan tubuh maskulin ini.

Kuroko tersenyum simpul mendapati sahabatnya yang tampan dengan balutan pakaian itu. Berarti ia tidak salah dalam memilih pakaian. Ia membuka kedua belah bibir, "Ogiwara-kun, langsung saja ke mobil untuk menaruh pakaian. Nanti kami menyusul."

"Oke."

Jawaban singkat menjadi akhir dari percakapan mereka. Kemudian Kuroko menyuruh Akashi untuk masuk ke dalam. Awalnya agak riskan, namun akhirnya ia menurut saja. Kuroko menunggu di luar—lagi. Memang sudah seharusnya seperti ini.

Tak lama kemudian, Akashi keluar dari dalam toilet. Ia mengenakan kemeja putih yang sengaja tidak dikancing—memperlihatkan tubuh atletis yang memamerkan otot-otot dada. Sepasang celana renang pendek berwarna dasar merah maroon dengan garis-garis hitam sebagai pemadu.

Dengan pakaian sederhana seperti ini Akashi terlihat seperti orang kelas atas. Itu tergantung dari caranya berpakaian.

Kuroko mengulas senyum simpul melihat Akashi yang berpakaian seperti itu. "Akashi-kun, kau—"

"Tunggu sebentar," potong Akashi seraya menempelkan jari telunjuk tepat di depan bibir pemuda mungil. Ia mulai menajamkan kedua telinga—fokus akan suatu suara. Lalu, terdengarlah sebuah percakapan antar dua wanita yang tengah membicarakan sesuatu.

"Hei, tahu tidak? Katanya di pantai ini ada model loh."

"Model? Benarkah?"

"Tentu saja. Kalau tidak salah, model tersebut merupakan The Best Top Model Asia loh. Ada dua katanya dan mereka ada di sini."

"Benarkah? Siapa mereka?"

"Akashi Seijuurou dan Ogiwara Shigehiro. Mereka berdua merupakan model favoritku sepanjang masa! Dan apakah kau tahu? Tubuh mereka sangat menggoda sekali bila terbit di majalah-majalah! Aku berharap bisa berfoto dengannya."

"Aku juga menyukai mereka! Aku pun berharap yang serupa denganmu!"

Oh tidak. Ternyata dua orang wanita tersebut merupakan penggemar berat Akashi—berhubung yang di sini hanyalah Akashi si model papan atas itu. Kuroko hendak melnoleh ke belakang, namun dengan sigap Akashi menarik tangannya untuk masuk ke dalam toilet dan mengunci pintu. Kuroko kaget dengan perlakuan Akashi barusan.

"Akashi-kun, apa yang—" Ucapan Kuroko terpotong dengan Akashi yang membekap mulutnya dan tanpa disengaja mendorong tubuh Kuroko hingga berhimpitan dengan tembok. Akashi melirik sedikit hingga terdengar sebuah suara lagi.

"Aku akan ke toilet sebentar."

Oh shit.

Salah seorang wanita itu hendak masuk ke dalam toilet. Otak Akashi bekerja keras dalam waktu singkat seperti ini. Oke, mau tidak mau ia harus lakukan.

Akashi menatap Kuroko serius seraya berbisik, "Tetsuya, cium aku." Mendengar itu, kedua mata biru membulat sempurna. Apa katanya? Cium? Ia tidak salah dengar bukan? Perlahan, tangan yang membekap mulut jatuh oleh gaya gravitasi bumi. Membebaskan bibir ranum pemuda mungil dari bekapan tangan kekar si model.

"Hah? Maksudmu?" tanya Kuroko seraya menggaruk pipinya ikuk—ia kalut akan situasi ini. Tidak mengerti dengan perintah Akashi tadi.

"Laku—"

Kalimat Akashi terpotong akan bunyi gagang pintu yang ditekan—hendak dibuka namun terhalang oleh besi kecil yang menggantung pada selop pintu. Bagai dicekik oleh algojo, waktu Akashi semakin sedikit dalam kurun waktu beberapa detik. Ia harus memikirkan cara agar mereka bisa keluar dari sini—tepatnya Akashi sudah muak dengan keadaan toilet di sini.

"Oh ada orang? Baiklah aku menunggu saja di sini."

Damn it!

"Tetsuya, cepat!" bisik Akashi gemas.

Kuroko menggeleng cepat, "Tidak mau."

"Cepat jangan mengulur waktu lagi!"

"Tidak!"

"Baiklah bila itu maumu."

Dengan gesit, Akashi menjilat pucuk kuping Kuroko hingga membuat pemuda itu kaget dan menggeliat geli. Kedua tangan ditahan oleh tangan kekar Akashi—mengunci pergerakan pemuda biru.

"A-akashi-kun! A-apa yang—"

Belum sempat bertanya, ia sudah disuguhi serangan kedua. Belaian halus di dada merupakan tempat sensitif Kuroko. Tangan kekar itu menelusup masuk ke dalam kaos yang Kuroko kenakan. Membelai halus bagian perut serta dada. Tidak hanya membelai, Akashi mengecup kedua mata Kuroko beserta pangkal hidung pemuda itu.

"Apa yang—kha—"

"Mengeranglah, Tetsuya."

"A-akashi—khun!"

Kuroko merasakan sentuhan aneh dikala Akashi menyentuh kedua nipplenya. Seperti sengatan listrik sejenak, namun dipadu dengan umpama kupu-kupu yang beradu dalam perut. Menjilat serta mengecup paksa leher jenjang pemuda biru. Mencubit pelan nipple Kuroko hingga terdengar erangan tertahan dari si lawan.

Demi apapun, Kuroko tidak ingin mengeluarkan suara menjijikan itu. Terdengar seperti jalang menurutnya.

Perlahan, kedua tangan Kuroko memegang tangan Akashi yang dengan lancangnya menyentuh bagian tubuh yang paling sensitif. Berharap si model menghentikan aksi beringas yang sudah kelewat lancang.

"Ada ap—oh maaf kalau saya mengganggu. Saya permisi."

Rencana Akashi sukses besar.

Akhirnya wanita itu pergi setelah mendengar suara serta desahan tertahan dari dalam yang dibuat oleh Kuroko. Akashi menghentikan aksinya dan membuka pintu.

Sudah aman ternyata.

Baiklah, berarti mereka sudah bisa keluar. Pemuda merah keluar dari dalam toilet diikuti oleh pemuda biru dari belakang. Hendak keluar kedai sebelum—

"Akashi-kun! Apa maksudmu dengan perlakuan seperti itu?!" Ternyata Kuroko marah. Lihat saja dari wajahnya yang merah—antara bercampur dengan malu dan amarah.

Akashi memutar bola matanya malas, "Itu hanyalah sebuah taktik agar si penggosip itu tidak masuk ke dalam kamar mandi."

"Tapi harusnya ada cara lain. Bukannya seperti itu."

"Yang jelas aku tidak merenggut paksa keperjakaanmu bukan?"

"Tapi bagaimana jika ada yang tahu? Bagaimana jika ada sisi TV di dalam?"

"Tetsuya, imajinasimu kelewat liar untuk hal seperti itu. Mana ada sisi TV di dalam toilet? Yang ada itu merupakan tindak pencabulan yang sesegera mungkin diberantas."

"Tapi kau melakukan itu padaku. Bukankah itu cabul?"

"Itu kulakukan agar ia berpikir bahwa ada seseorang yang tengah melakukan hubungan sex dalam toilet. Memang siapa yang mau menganggu? Pasti riskan bukan bila menganggu? Lagipula aku terpaksa melakukan itu. Jadi jangan terlalu percaya diri, lagian aku ini masih normal tidak belok. Ingat itu." Percakapan panjang merupakan akhir dari perbincangan mereka. Akashi keluar dari dalam kedai sembari membawa pakaiannya menuju mobil, meninggalkan Kuroko yang masih terpaku dengan kata-kata Akashi.

Ada benarnya juga. Lagian mengapa ia menganggap ini serius? Toh Kuroko sendiri masih merasa normal—meski kejadian tadi membuatnya merinding seketika.

Tanpa Kuroko sadari, Akashi menyelamatkan mereka berdua dari jeratan maut para fans maniak.

.

.

.

"Baiklah semua sudah berkumpul? Mari kita lakukan photoshoot kali ini. Ah, Kuroko. Tolong ambilkan dua papan selancar di dekat mobil."

"Sudah kubawa, Mayuzumi-kun."

"Terima kasih. Nah, kalian berdua ambil masing-masing selancar yang akan kalian pakai."

Ogiwara dan Akashi menatap dua papan selancar dengan ukiran yang berbeda. Yang satu berwarna dasar putih dengan corak biru melingkar, sedangkan yang satu berwarna dasar putih dengan putih dengan corak garis merah. Simpel namun menarik. Berterima kasihlah pada Kuroko Tetsuya yang sudah memilihkan papan selancar simpel ini.

Tangan kekar Ogiwara tergerak mengambil papan selancar biru, sedangkan Akashi yang merah. Oke, mereka sudah siap dengan properti. Mari bekerja.

Mayuzumi mengintruksi Ogiwara untuk berdiri dekat pesisir—merasakan deburan ombak kecil yang menghantam kakinya. Dingin menyelimuti kulit—Ogiwara tersenyum kecil begitu ombak kecil menghantam kakinya. Ia rindu akan masa kecilnya.

"Pegang selancarmu namun pandanganmu jangan lihat pada kamera."

"Candid maksudmu?"

"Bisa jadi."

Ogiwara mulai berpose. Tangan kanan menggenggam selancar. Badan menyerong sedikit ke kiri—memperlihatkan tubuh atletis dan kekar dari seorang model. Pandangan fokus pada satu titik nun jauh di laut. Lekukan senyum hingga memperlihatkan deretan gigi putih mengambang di paras tampan model ini. Ia sudah siap dengan posenya.

Mayuzumi mulai memainkan kembali kekasihnya. Mencari angle yang pas untuk bidikan foto. Setelah pas, barulah ia menekan tombol bidik dan satu foto berhasil di dapat.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Ogiwara penasaran.

Mayuzumi melirik pemuda cokelat, "Nanti saja, sekarang kita fokus kerja dulu. Untuk hasil itu belakangan." Ogiwara mencibir kesal dengan jawaban yang diberikan Mayuzumi. Tapi memang ada benarnya juga.

"Pose kedua, kau lari sambil membawa papan tersebut."

"Baiklah."

Mayuzumi berbalik lalu berjalan lima belas langkah dari tempatnya berpijak. Setelah terasa lumayan jauh dari Ogiwara, barulah ia berbalik dan mempersiapkan kameranya lagi sembari mengisyaratkan Ogiwara agar segera berlari.

Si model cokelat mengangguk paham. Tungkai kaki mulai melangkah lalu dipercepat. Membuat jejak kaki pada pasir putih yang hangat. Cipratan ombak menjadi efek berlari. Merasa bahwa ini adalah momen yang tepat, Mayuzumi segera membidik si model. Alhasil, ia mendapat apa yang menjadi keinginannya.

Si fotografer melihat kembali hasil bidikan yang ia dapat. Sejenak ia tersenyum puas. Oke, untuk Ogiwara selesai sampai di sini dulu. Nah mari kita berlanjut pada Akashi. Tungkai kaki melangkah bergerak menghampiri pemuda merah yang tengah berdiri sembari memegang papan selancarnya.

Mayuzumi menatap iris dwi warna tajam itu, "Akashi, sekarang giliranmu."

Tanpa basa-basi, Akashi langsung turun saat itu juga. Ia mengikuti langkah Mayuzumi yang membawanya ke pesisir pantai. Mayuzumi menoleh, "Akashi, pegang papan selancarmu sambil kau menyibak ponimu ke belakang."

Akashi paham betul dengan titah Mayuzumi. Itu sudah menjadi ciri khasnya sebagai model. Oke, Akashi mulai menyerongkan badan sedikit ke kanan. Papan selancar di pegang oleh tangan kiri sedangkan tangan kanan mulai menyibak poni ke belakang. Sorotan mata yang tajam juga menggoda menatap lurus lensa kamera yang berjarak beberapa langkah dari tempatnya berpijak.

Sang fotografer mulai mengambil angle yang pas. Pastikan agar lekukan tubuh atletis serta sorotan mata yang menyorotkan emosi tertangkap oleh kamera. Memutar-mutar pelan lensa kamera lalu membidik. Oke, satu gambar berhasil di gambar. Mari ke pose selanjutnya.

"Akashi, coba kau jalan masuk ke dalam air perlahan."

"Baiklah."

Akashi mulai berjalan masuk ke dalam air. Dengan sigap, Mayuzumi berlari kecil dan mengambil bidikan gambar dari belakang.

Tidak buruk untuk pengambilan gambar. Mayuzumi malah berharap menjadi siluet hasilnya—namun itu hanyalah fana. Karena siluet biasa diambil pada pagi atau sore hari. Bukannya di siang hari.

Satu sisi, Kuroko menatap fokus Akashi yang tengah sibuk akan pose. Lekukan tubuh atletis itu memang idaman para pria—termasuk Kuroko sendiri. Tapi pada akhirnya Dewi Fortuna berpaling darinya. Jujur saja, Kuroko menginginkan postur tubuh seperti Akashi dan Ogiwara—ya setiap pria pasti juga ingin. Namun ia harus tetap bersyukur diberi postur tubuh mungil seperti ini.

Di saat tengah fokus, tanpa disadari Ogiwara menepuk pelan bahu Kuroko.

"Oi, Kuroko."

"Ogiwara-kun?" tanya Kuroko setengah kaget karena reaksi tepukan tersebut.

Pemuda cokelat menatap sahabatnya lalu tersenyum, "Bagaimana kalau kita main selancar?"

"Jangan bercanda, Ogiwara-kun. Aku tidak membawa baju ganti."

"Pakai punyaku saja nanti."

"Tidak mungkin."

"Ayolah, sekali ini saja."

"Tidak. Aku tidak bisa berselancar Ogiwara-kun. Tidak sepertimu."

Ogiwara menghela napas berat, "Baiklah, kalau begitu tunggu sini. Lihat kemampuanku nanti." Kalimat singkat menjadi akhir dari percakapan mereka berdua. Kedua tungkai kaki Ogiwara melangkah cepat masuk ke dalam laut.

Menindihkan tubuh di atas papan selancar dan mulai berenang dengan bantuan kedua tangan. Setelah dirasa sudah jauh dari pesisir, barulah ia duduk di atas papan selancar. Menunggu ombak besar menghantam. Setelah dikiranya sudah cukup, akhirnya sebuah ombak besar mulai mendekat. Kedua sudut bibir terangkat hingga membentuk sebuah lekukan senyum puas.

Perlahan ia mulai menaiki papan selancar dan begitu ombak menghadang, barulah papan selancar bergerak mengikuti arahnya ombak. Ogiwara menjadi nahkoda pada papan selancar. Ia gerakkan ke kiri hingga papan selancar sedikit melengkung ke atas. Kalung berbentuk taring bergoyang seiring berhembusnya angin.

"Wuuhuuu!"

Sebuah teriakan gembira keluar dari tenggorokan Ogiwara Shigehiro. Pemuda biru yang melihat dari jauh cukup kagum dengan keahlian sahabatnya itu. Tidak buruk dan cukup pro untuk kalangannya.

"Mayu-kun! Lihat! Itu Ogi-kun! Cepat ambil gambarnya saat ia berselancar!" teriak Momoi antusias. Mendengar itu, Mayuzumi sesegera mungkin mengganti lensanya dengan lensa panjang—karena tidak mungkin menggunakan lensa standar disaat seperti ini.

Setelah mengganti, Mayuzumi cepat-cepat mengatur posisi untuk pengambilan gambar. Jemari kekar itu mulai menjamah manis kekasihnya. Beberapa pengaturan untuk mengatur komposisi kamera ia ubah dalam kurun waktu sekejap. Barulah ia memainkan rotasi pada lensa.

Ia menunggu Ogiwara masuk di dalam gelombang ombak. Saat target masuk pada sasaran, ia langsung membidik gambar. Begitu dan terus berulang.

"Ogi-kun keren!"

"Iya, dia memang keren, Momoi-san."

"Ah ya, Tetsu-kun. Apakah Ogi-kun memang suka berselancar?"

"Itu memang sudah menjadi rutinitasnya sejak kecil."

"Maksudmu, Tetsuya?" tanya Akashi tiba-tiba tertarik akan percakapan ini.

Kuroko menghela napas, "Ogiwara-kun itu adalah anak nelayan. Ayahnya meninggal saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar karena hanyut oleh ombak besar. Sejak saat itu, ibunya banting tulang untuk menafkahi keluarga."

"Ah benarkah? Aku minta maaf kalau begitu," keluh Momoi tidak enak.

Kuroko tersenyum, "Sudah tidak apa-apa, Momoi-san."

"Pantas saja kulitnya hitam."

"Maksdumu?" tanya Kuroko sembari menatap lawan bicaranya—Akashi Seijuurou.

Akashi menunjuk Ogiwara yang sedang menikmati olahraga airnya, "Ya maksudku lihat saja, untuk ukuran Jepang ia dikategorikan kulit hitam—tidak hitam sekali sih. Lebih tepatnya sawo matang."

"Tapi tetap saja ia model bukan?" tanya Kuroko.

Akashi menghela napas seraya memutar bola matanya malas. Ia hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Setidaknya ia bahagia dengan kehidupannya sekarang," ujar Kuroko seraya menyimpulkan senyum manis.

.

.

.

Siang menjelang sore. Dan inilah saatnya mereka untuk pulang.

Sebelum pulang, Kuroko berjalan di pesisir pantai—menikmati indahnya sunset pantai. Berjalan tanpa alas kaki memang menjadi kesenangan tersendiri—begitu pula dengan Kuroko. Saat tengah menikmati sunset, tanpa disadari sebuah suara baritone masuk ke dalam indra pendengar.

"Tetsuya."

Otomatis ia menoleh dan mendapati sosok figur Akashi yang berdiri tepat dibelakangnya—tentunya dengan pakaian yang tadi ia kenakan sebelum berganti. Ia menatap polos si model, "Ada apa, Akashi-kun?"

"Yang lain sudah menunggumu daritadi."

"Lima menit lagi, Akashi-kun. Tolong beritahu mereka."

"Kau sedang apa memangnya?"

"Menikmati sunset," jawab pemuda biru enteng sembari menatap kembali sunset. Akashi maju dua langkah dan berdiri tepat di samping Kuroko. Iris dwi warna menatap indahnya sunset pantai saat itu.

Kuroko tersenyum, "Bukankah ini indah, Akashi-kun?"

"Ya, kau benar."

"Andaikan aku bisa menikmati sunset lebih lama lagi," ujar Kuroko dengan lirih pada pengucapan. Ia sudah lama tidak melihat pemandangan indah ini dan berharap bisa lebih lama lagi di sini. Akashi yang mendengar menoleh dan menatap pemuda yang lebih pendek beberapa senti darinya.

"Suatu saat kau pasti akan ke tempat ini dengan orang yang kau cintai," ujar Akashi seraya melipat kedua tangan di depan dada.

Mendengar itu, Kuroko menoleh hingga menatap iris dwi warna yang tajam, "Benarkah? Aku bisa ke sini lagi?"

"Ya. Dan aku berharap kau ke sini dengan orang yang kau cintai."

"Aku hanya ingin pergi ke sini seorang diri."

"Aku mendoakan."

"Akashi-kun jahat."

"Tadi kau sendiri yang bilang ingin pergi seorang diri."

"Baiklah aku tarik ucapanku."

Akashi menahan tawa begitu mendengar jawaban Kuroko. Percakapan mereka berakhir dengan keheningan yang menyelimuti keduanya—sama-sama terhenyak akan keindahan alam yang tengah mereka pandang. Tidak ada yang mengeluarkan suara lagi kecuali deburan ombak yang menghantam lembut pesisir.

Kuroko Tetsuya.

Terkadang pemuda ini bisa saja kikuk dan memang polos sekali. Tapi toh Akashi tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Yang terpenting ialah bahwa mereka hanya sebatas rekan kerja—itu sudah cukup bagi Akashi.

.

.

.

-To Be Continued-


Special Thanks For:

dinodeer, ChocoWhiteMuffin, Kuhaku, adelia santi, annovt, SheraYuki, Cherry237283, Erucchin, Ai Minkyoo Chan, Nippon, NAnamikaze-CHIkamatsu13, azurefey. .1, macaroon waffle, , shizuka clytaemnestra, November With Love, Pierrot bukan mak errot, Arlert09, .Conan1, Keiansa, purikazu, Scrybean, nero, versetta, dan pembaca setia MADRE lainnya~


A/N:

Oke, chapter 5 akhirnya kelar juga dan saya malah gregetan sendiri nulis AkaKuro di sini hahaha.

Sebelumnya, terima kasih pada para readers yang sudah me-review, fav, dna follow cerita ini. Terima kasih juga untuk kritik dan sarannya sangat membantu sekali untuk kelanjutan cerita ini. Dan terima kasih juga sudah mau mampir dan membaca kelanjutan cerita ini.

Untuk beberapa readers yang sudah memberi kritik dan saran, saya mencoba untuk menerapkannya pada cerita ini dan berharap chapter ini lebih baik dari sebelumnya. Kalo memang belum maksimal mohon maaf karena ini pun saya mencoba secara bertahap.

Oh iya, ada backsoundnya juga loh. Penasaran?

Adegan Akashi dan Ogiwara saat sesi photoshoot: Taio Cruz – Dynamiteyoutube,com/watch?v=Vysgv7qVYTo

Adegan Ogiwara berselancar: The Black Eyed Peas – Pump Ityoutube,com/watch?v=ZaI2IlHwmgQ

Adegan AkaKuro melihat sunset: The Neighbourhood - Sweater Weatheryoutube,com/watch?v=GCdwKhTtNNw

Saya mohon maaf sebesar-besarnya bila banyak kekurangan dalam cerita ini. Kritik, saran, dan komentar sangat diperlukan untuk kelanjutan cerita. Bisa melalui kolom review atau langsung PM saya.

See you in next chapter! XD

Tertulis,

Giovanno