Marriage
Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja πππ
Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita πππ
Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee ππ)
Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.
Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay ππ
Info umur karakter :
1. Uzumaki Naruto : 29 tahun
2. Uchiha Sasuke : 30 tahun
3. Sabaku Gaara : 30 tahun
4. Haruno Sakura : 29 tahun
5. Uchiha Sarada : 6 tahun
.
.
.
.
.
Chapter 1 : Pertemuan yang tidak disengaja.
.
.
.
.
.
Selamat membaca! πππ
.
.
.
~0~0~0~
"Ladies and gentlemen, Welcome aboard JAPAN Airlines on flight number JPA 471 destination to Konoha city. The commander of this Flight is Captaint Akasuna Sasori, assisted by first officer Richard Smith and I am Uzumaki Naruto your supervisor flight attendant today. Flying to Konoha city will take about 1 hours and 10 minutes. For safety reason your luggage must place at underneath the seat in front of you or in an overhead bin. Please take your seat and fasten your seat belt And also make sure your seat back and folding trays are in their full upright position. If you are seated next to an emergency exit, please read carefully the special instructions card located by your seat. If you do not wish to perform the functions described in the event of an emergency, please ask a flight attendant to reseat you. At this time, we request that all mobile phones, pagers, radios and remote controlled toys be turned off for the full duration of the flight, as these items might interfere with the navigational and communication equipment on this aircraft. We remind you that this is a non-smoking flight. Smoking is prohibited on the entire aircraft, including the lavatories. Thank you and enjoy your flight"
Naruto menginstruksikan flight attendant dengan bahasa inggrisnya yang fasih, disertai gerakan-gerakan kecil sebagai kelengkapan tugasnya dalam mengkomando penumpangnya sebelum terbang mengudara.
Siapa 'sih yang nggak kenal Uzumaki Naruto?! Pramugari primadona di salah satu maskapai penerbangan yang terkenal di Jepang.
Kulitnya yang putih mulus, parasnya yang ayu dengan paduan ke-bule-an, serta otaknya yang cemerlang yang menjadikannya sebagai salah satu pramugari dengan jam terbang yang paling padat diantara pramugari-pramugari cantik lainnya.
.
.
.
Naruto mendesah lelah dan kembali kedalam ruangannya bersama dengan sesama rekan pramugari dan pramugaranya. Wanita itu duduk dan menyesap teh hijau dengan nikmat, sedikit merilekskan kepalanya yang seperti mau pecah.
"Ada apa denganmu Naru?!"
Naruto dapat melihat seorang gadis yang memiliki tinggi menyerupainya, serta surai pirang seperti miliknya namun dalam warna yang lebih muda berjalan menghampirinya dengan wajah cemasnya dan mengusap bahunya.
"Aku tidak apa-apa Ino, aku hanya sedikit lelah karena dalam sehari ini aku mendapat tiga kali jam terbang" keluh Naruto sambil memijit pelipisnya. "Tiga kali jam terbang dalam sehari. Seperti minum obat saja!" Gerutu Naruto tidak jelas yang membuat gadis yang bernama Ino itu cekikikan.
"Bukankah, ini sudah sesuai yang kau inginkan Naru?! Kenapa kau harus mengeluh dengan pilihanmu?!"
Naruto bangkit berdiri dengan kesal sambil memutar kedua bolamatanya cepat. Sahabatnya ini, selalu bisa saja membalikkan semua perkataannya dan membuat dia tidak mampu membalas perkataannya lagi. "Kau benar! Ini keinginanku, jadi sekarang aku akan ke depan dan menjalankan tugasku kembali"
Ino tidak habis pikir dengan sahabat baiknya ini yang sangat mudah kesal dengan ucapannya. Dengan tawanya yang masih menggema, Ino menahan kepergian Naruto dan membawa gadis itu untuk kembali duduk di sofa yang memang disediakan bagi para pramugari dan pramugara.
"Jangan cepat marah begitu! Nanti keriputmu akan semakin bertambah banyak! Kau mau karirmu hancur begitu saja karena hal mengerikan itu?!" Ino memegang kedua pipinya dengan ekspresi mendramatisir keadaannya. "Oh aku tidak mau keriput-keriput itu cepat muncul di wajah cantikku!"
"Jika kau menahanku disini hanya untuk mendengarkan keluh kesahmu, lebih baik aku pergi keluar saja membantu pramugari dan pramugara lainnya untuk melayani para penumpang" jengah Naruto sambil kembali bangkit berdiri namun kembali tahan oleh Ino.
"Ayolah Naruto! Jangan cepat marah seperti itu!" Ujar Ino dengan sedikit merayu. "Aku hanya ingin mendengar dari mulutmu sendiri bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Captain Sasori?!"
"Aku dengar...kalian sudah merencanakan kejenjang yang lebih serius. Benarkah itu?!" tambah Ino dengan semangat lalu memekik girang.
"Kyaaa~ apa aku akan segera mendengar lonceng pernikahan kalian secepatnya?!"
Naruto yang terlalu terkejut langsung menyumpal mulut Ino yang terlalu ember menurutnya dengan kedua telapak tangannya sambil melotot garang. "Apa kau tidak bisa memelankan suaramu itu 'hm?!" Balas Naruto sambil memelankan suaranya dan melirik lingkungan sekitarnya berharap tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi benar bahwa kau akan melangsungkan pernikahan dengan captain Sasori, Naru?!" pekik Ino tertahan yang langsung kembali dibungkam oleh Naruto.
"Tidak Ino! Itu tidak benar! Kau tahu sendiri bahwa aku, Uzumaki Naruto tidak akan kembali jatuh kelubang yang sama yang dinamakan cinta dan pernikahan itu. Tidak akan Ino! Tidak akan!"
Ino menghela nafas panjang lalu menggenggam kedua tangan sahabatnya. "Naruto, aku tahu kau masih trauma akan kegagalan kisah cintamu dan pernikahanmu itu. Tapi Hey?! bukan berarti kau memutuskan hal sebesar ini secepat mungkin!" Ino menangkup kedua pipi Naruto dengan teduh. "Apa kau tidak ingin mempunyai sebuah keluarga sebagai tempatmu melepas lelah dan semua keluh kesahmu?! Sejauh yang aku amati, bukankah hubunganmu dengan Captain ini berjalan dengan lancar?"
"Hubungan kalian bahkan bisa bertahan selama lebih dari 3 bulan, bukankah itu sebuah pertanda yang baik?!" Ino mengetukkan telunjuknya didagunya dengan ekspresi berpikirnya. "Sepertinya Captain Sasori adalah pria baik dan bertanggungjawab" tambah Ino yang membuat Naruto kembali memutar kedua bola matanya bosan.
"Berbicara denganmu hanya membuat kepalaku semakin pusing, Ino! Lebih baik aku keluar sekarang sebelum julukan ratu gosipmu kembali kumat disini!" Elak Naruto mengalihkan pembicaraan dengan segera keluar dari tempat itu.
.
.
.
.
.
Marriage
.
.
.
.
.
Seorang gadis kecil dengan kacamata berwarna merah yang bertengger manis diwajahnya cantik merengut sebal, menatap ayahnya yang sejak tadi hanya tertidur sambil menyumpal telinganya dengan headset. "Papa bangun papa! Sarada bosan! Ayo temani Sarada bermain!" Pekik gadis kecil itu dengan pipinya yang mengembung serta kedua tangan mungilnya yang terus menggoyangkan tubuh Sasuke. Hingga mau tidak mau, Sasuke harus membuka kedua matanya dan menatap Sarada dengan sorot lelahnya.
"Sara-chan, mengertilah... papa sangat lelah saat ini. Kepergian kita ke Konoha kali ini, bukan untuk liburan. Tapi karena papa harus bertemu dengan klient penting papa, jadi bisa'kah kau menjadi putri papa yang baik dan penurut selama kita berada disini?!" Sasuke menegakkan punggungnya dan mengacak rambut putrinya sayang. "Papa akan memberimu hadiah jika kau menjadi putri papa yang penurut"
"Benarkah itu pa?"
Sasuke kembali tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Sarada tidak akan mengganggu tidur papa hari ini. Sarada mau ambil Ipad Sarada dulu" balas Sarada semangat lalu berdiri meraih tas ransel yang di letakkan di atas kabin sedangkan Sasuke kembali menatap pemandangan luar jendela dalam diam.
.
.
.
Sarada terus meraih tali tas ranselnya, dan menariknya dengan susah payah. Namun saat dia berhasil menarik tas ranselnya, sebuah travel bag yang cukup besar ikut tertarik olehnya dan hampir menimpanya jika seseorang pramugari ini tidak menolongnya tadi.
"Adik manis, apa kau baik-baik saja?!"
Sarada membuka kedua matanya dengan perlahan. Ia menatap kagum paras cantik sang pramugari dihadapannya ini. Entah kenapa dia sangat menyukai pancaran bola mata berwarna shappire dihadapannya ini.
"Lain kali, kau bisa memanggilku atau rekanku yang lain jika kau membutuhkan bantuan. Untung saja, tas besar ini tidak jadi menimpamu sayang"
Sarada langsung memeluk kedua kaki jenjang pramugari itu dengan senang. "Terima kasih tante cantik, tante cantik sangat baik sekali. Sarada berharap bisa bertemu lagi dengan tante cantik"
Naruto melepas kedua tangan Sarada yang melingkar di kakinya dan berjongkok sehingga tingginya menyamai gadis kecil itu. Perlahan dia membelai pipi Sarada dengan mata yang berkaca-kaca. "Jadi namamu adalah Sarada?!"
Sarada mengangguk semangat.
"Perkenalkan nama tante, Naruto. Jika putra tante masih ada, mungkin dia akan seumuran denganmu dan bisa jadi teman baikmu sayang" tambah Naruto dengan senyumnya yang memikat. Naruto merogoh sakunya dan mengambil sebuah kartu nama miliknya dan memberikannya kepada Sarada. "Ini kartu nama tante, kau bisa menghubungi nomer tante jika kau ingin bertemu denganku lagi."
Naruto membelai rambut hitam Sarada dengan lembut. "Maaf, tante harus pergi menjalankan tugas tante dulu. Sebaiknya kau cepat duduk yang manis, karena kita akan segera mendarat. Kau mengerti?!"
Sarada mengangguk mengerti dan kembali duduk di kursinya. Naruto hanya tersenyum lembut lalu kembali mengelus pipi Sarada dan kembali pergi.
Sasuke cukup heran melihat wajah putrinya yang tersenyum merekah sambil memegang erat ranselnya. Tidak biasanya putrinya itu bisa tersenyum setelah berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, apalagi orang itu tidak dikenal oleh putrinya. Sepintas, ia tadi melihat putrinya berbicara dengan seorang pramugari di pesawat ini.
Dan Sasuke cukup merasa aneh dengan sikap putrinya. Bagaimana tidak?! Sarada adalah anak yang sangat sulit bersosialisasi dengan teman-temannya. Bahkan Sarada hanya mau berbicara akrab dengan dirinya dan kedua orangtuanya saja.
Putrinya itu juga selalu bersikap nakal saat dia membawa kekasihnya ke rumah. Sebegitu spesial'kah pramugari itu dimata putrinya hingga dia bisa melihat senyum manis terukir diwajah putrinya itu.
"Pa, papa!? Papa tahu tidak, tadi ada tante cantik yang sangat baik yang menolongku mengambil ranselku" ujar Sarada bercerita sambil menunjukkan tas ranselnya. "Tante cantik itu juga menolongku, saat aku hampir tertimpa tas besar dari situ pa?!" Tambah Sarada sambil menunjuk kabin pesawat.
Sasuke terkesiap terlalu terkejut. Ia merasa telah lalai menjaga putrinya yang hampir saja celaka jika pramugari itu tidak menolong putrinya. "Tapi kau tidak apa-apa'kan Sara-chan?!" Sahut Sasuke mencemaskan keadaan putrinya sambil mengecheck kondisi putrinya.
Sasuke mendesah lega lalu mencium puncak kepala putrinya saat putrinya itu menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa putrinya itu baik-baik saja. "Apa pramugari itu sangat cantik hingga kau memanggilnya seperti itu 'hm?!"
"Tante itu memang sangat cantik pa! Sungguh! Tante itu punya rambut berwarna emas lembut dan berkilau pa, dan matanya. Sarada suka melihat mata tante cantik itu pa. Matanya berwarna biru seperti lautan, kesukaan Sarada"
Sasuke menghentikan belaian tangannya pada putrinya mendengar pendeskripsian wanita yang disebutkan oleh putrinya ini. Ia teringat akan seorang wanita, yang memiliki unsur fisik yang sama dengan yang di ceritakan oleh putrinya ini.
Seorang wanita, yang masih bertahta di hatinya sampai detik ini juga...
"Kau tahu Sarada?! dulu papa juga mempunyai seseorang yang spesial dalam hidup papa. Dia memiliki ciri fisik yang sama dengan yang kau ceritakan pada papa itu"
"Lalu dimana dia pa?! Mengapa aku tidak pernah mengenal orang itu pa?!"
Sasuke tersenyum pedih lalu kemudian kembali menatap putrinya. "Dia menghilang... dia pergi karena papa sudah menyakitinya terlalu dalam Sarada. Papa yang meninggalkannya dulu"
"Apa dia secantik tante Naruto, pa?!"
Sasuke terlalu terkejut dengan ucapan putrinya hingga ia tidak sadar bahwa ia telah mengguncang kedua bahu putrinya hingga ketakutan. "Bagaimana kau mengenalnya? Dan- dan bagaimana kau bisa bertemu dengannya 'huh?!"
Sasuke menghentikan gerakannya dan langsung memeluk Sarada yang menangis ketakutan karena perbuatannya sambil terus mengucapkan maaf pada putrinya. "Papa hiks...hiks... aku tidak mengerti dengan siapa dia yang papa maksud itu hiks...hiks...hiks..., aku hanya mengenal tante cantik itu saja pa" Sarada mengusap airmatanya dan kembali menatap kedua mata Sasuke. "Nama tante cantik itu adalah Naruto, pa. Tante Uzumaki Naruto"
Seketika itu juga, Sasuke langsung terdiam terpaku dan memundurkan badannya hingga membentur kursi pesawat dengan cukup keras.
Uzumaki Naruto...
Nama itu?! Sudah cukup lama, Sasuke tidak mendengar sebuah nama yang sangat ia rindukan dulu. Ia dulu pernah melakukan kebodohan dengan menyakiti dan melepaskan wanita itu, dan sekarang- ia dipertemukan kembali dengan wanita itu. Sasuke tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk bertemu dengannya dan memohon pengampunan pada wanita itu.
Sasuke berjanji tidak akan mengganggu kehidupan wanita itu, bila wanitanya telah bahagia dengan keluarganya. Tetapi setidaknya, dia harus bertemu dengannya dan menjelaskan kepadanya mengapa dia menghilang begitu saja dari hidupnya!
Sasuke kembali menatap putrinya dengan penuh tatapan menuntut. "Apa kau tahu dimana tante cantik itu sekarang, Sara-chan?! papa harus bertemu dengannya sekarang?!"
Sarada menunjuk sebuah tempat dimana ada sebuah ruangan yang biasa dipakai oleh para kru-kru pesawat disini. "Tante cantik itu berjalan kesana pa!"
Sasuke langsung berdiri dan hendak berjalan ke tempat yang dimaksud oleh putrinya, namun seorang pramugari lainnya melarangnya untuk pergi kemana-mana dan kembali duduk karena pesawat akan segera mendarat.
.
.
.
Sasori berlari menerobos kerumunan penumpang pesawat dan berjalan menuju ruangan kru pesawat setelah ia berhasil mendaratkan pesawatnya dengan baik. Ia melihat sahabat kekasihnya sedang duduk dan bergosip dengan pramugari lainnya. "Ino, apa kau tahu dimana Naruto?! Biasanya dia akan menunggu di depan pintu ruanganku selesai mengumumkan flight attendantnya"
Ino tersenyum jahil lalu berdiri menghampiri Sasori dan memainkan dasi pria itu. "Kau duduk saja dulu, captaint. Aku yakin Naruto tidak akan keberatan bila kita menikmati waktu kita berdua disini sambil menunggunya disini. Aku ingin menanyakan banyak hal padamu captaint!"
"Maaf nona Yamanaka, aku yakin jika terjadi sesuatu pada Naruto. Tidak biasanya dia langsung menghilang seperti ini. Aku permisi dulu" balas Sasori langsung melesat keluar pesawat.
Sasori memelankan langkahnya saat ia melihat sepasang kaki jenjang berdiri di belakang pesawat. Ia sangat mengenal postur tubuh itu...
Sasori mempercepat langkahnya saat ia melihat kedua bahu wanita itu bergetar. Dengan sigap, ia merengkuh Naruto kedalam pelukannya dan menenangkan wanita itu. "Kenapa kau menangis 'hm?!" Sasori mengusap airmata yang jatuh dari kelopak mata Naruto. "Apa ada para awak pesawat yang menyakitimu?!"
Naruto menggeleng pelan dengan sesekali sesenggukan. Wanita cantik itu menunduk menatap perutnya dan mengusap perutnya lembut dengan sorot sedihnya. "Tadi di pesawat, aku menolong seorang gadis kecil yang mungkin akan seumuran dengan Boruto bila putraku masih ada disini, Sasori. Senyumnya begitu terasa hangat dan lembut di hatiku, hingga rasanya aku seperti melihat dia sebagai anakku Sasori. Melihatnya membuat aku kembali teringat putraku yang telah tiada, dan membuatku tidak menerima kenyataan bahwa putraku telah tiada!" Tangis Naruto kembali pecah. "Kenapa bukan aku saja yang pergi, Sasori. Kenapa harus Boruto yang pergi?! Hiks...hiks...hiks..."
Sasori menarik bahu Naruto dan menatap kedua mata Naruto dengan iris hazelnya. "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Boruto sudah bahagia disana, aku yakin dia tidak ingin ibunya bersedih seperti ini, Naru"
"Sekarang lebih baik kita ke apartemenmu dulu, kau sudah merindukan ibumu bukan?!" Lanjut Sasori membuat wanita itu sedikit lebih tenang. "Ibumu pasti senang melihat kedatanganmu kesini. Ayo!" Ajak kembali Sasori yang langsung dibalas anggukan dari Naruto.
.
.
.
Sedangkan di dalam pesawat, Sarada memberenggut kesal karena papanya menghiraukan panggilannya dan terus mencari keberadaan tante cantiknya.
"Papa! Ayo kita turun sekarang! Aku sudah bosan berada disini!"
"Sarada, papa mohon bersabarlah sebentar" Sasuke masih menelusuri seisi pesawat yang mulai sepi penumpang. "Sebentar saja" gumam kembali Sasuke yang masih teguh mencari keberadaan wanitanya.
Akhirnya Sasuke menggandeng tangan putrinya dan menghampiri seorang pramugara yang tengah berbincang dengan seorang pramugari disana. "Permisi, maaf mengganggu. Apa saya bisa bertemu dengan rekan anda yang bernama Uzumaki Naruto, sekarang?!"
"Maaf tuan, sepertinya Uzumaki-san sudah keluar dari pesawat ini lebih dulu"
"Ah begitu ya?! Terimakasih informasinya, saya permisi dulu" Sasuke membungkukkan badannya sejenak lalu segera turun dari pesawat. Sasuke langsung menggendong tubuh Sarada dan berlari ke dalam bandara mencari keberadaan Naruto yang tiba-tiba kembali menghilang. Dia berjanji bahwa dia tidak akan membiarkan wanitanya itu pergi lagi, tidak akan!
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Haii guys...πππ
Lama bgt gk posting di ffn nih, abis etha kesusahan bwt log-in disini ππππππ
Tp mulai hr ni etha mulai aktif lg di ffn, meskipun gk bs sesering di wattpad yaaahh π³π³π³
Etha hadir dg new story...yeayyyy ππππ
Jangan lp reviewnya guys πππ
Untuk Only you, sekali lagi maaf bgt krn Etha bongkar ceritanya. Doain aja biar proses revisinya cepet yah...
Oke cukup sekian dari etha
Sampai jumpa di chapter selanjutnya πππ
Senin, 20 Maret 2017
ππEthatataππ
