Marriage
Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja 😁😁😁
Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasori-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita 😝😝😝
Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee 😜😜)
Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.
Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay 😜😜
Info umur karakter :
1. Uzumaki Naruto : 29 tahun
2. Uchiha Sasuke : 30 tahun
3. Akasuna Sasori : 30 tahun
4. Sabaku Gaara : 30 tahun
5. Haruno Sakura : 29 tahun
6. Uchiha Sarada : 6 tahun
.
.
.
.
.
Chapter 2 : Seseorang di masa lalu
.
.
.
.
.
Selamat membaca! 😉😉😉
.
.
.
~0~0~0~
Naruto menatap Sasori dengan cemas lalu kembali menatap pintu apartemennya yang bernomor 511. Naruto melihat, Sasori mengangguk pelan dan jemari lentiknya segera memencet bel apartemennya.
Sebenarnya ini adalah apartemen miliknya, dia bisa saja masuk sesuka hatinya tanpa perlu meminta izin siapapun apalagi memencet bel seperti ini. Tetapi ibunya juga tinggal di dalam apartemennya, jadi jelas Naruto menghormati keberadaan ibunya dengan menunggu di depan pintu seperti ini sekaligus dia ingin memberi kejutan pada ibunya hari ini.
Naruto dapat mendengar suara lembut ibunya dari dalam apartemen yang memintanya untuk menunggu, dan ketika pintu itu terbuka, Naruto langsung memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat. "Ibu, aku sangat merindukanmu"
Kushina tersenyum tipis dan menepuk pelan punggung putrinya, tetapi tiba-tiba dia melepas pelukan putrinya dan memukul lengan Naruto dengan cukup keras hingga membuat putrinya itu mengaduh kesakitan. "Dasar anak nakal! Kemana saja kau selama ini 'hm?! hingga tidak mengabari ibu selama tiga hari ini?"
"Apa kau tahu, bahwa ibu sangat mencemaskanmu disini!" Tambah Kushina yang masih diliputi dengan kecemasan di wajah cantiknya.
Naruto meringis pelan dan berjalan mundur kebelakang bahu Sasori mencari perlindungan pria itu dari pukulan ibunya. "Maafkan aku, bu! Jam terbangku memang terlampau padat" Naruto sedikit mendorong bahu Sasori agar mendekat ke hadapan ibunya. "Jika ibu tidak percaya kepadaku, ibu bisa menanyakan kebenarannya pada Sasori"
Kushina mendesah lelah lalu membuka pintu apartemennya cukup lebar. "Sudahlah! Ibu cukup lelah mendengar semua alasanmu itu" Kushina masuk kedalam apartemen di ikuti Naruto dan Sasori dibelakangnya. "Ah Sasori, bibi sampai lupa menyambut kedatanganmu disini karena putri bibi yang nakal ini. Kebetulan bibi memasak banyak hari ini, jadi kau juga ikut makan malam disini, okay?!" tawar Kushina yang dibalas dengan anggukan sungkan Sasori.
Setelah membersihkan diri serta mengganti pakaiannya, Naruto menghampiri ibunya yang sedang sibuk menata sajian makanan di atas meja, lalu memeluk ibunya dari belakang. "Bu, maafkan aku karena sudah membuat ibu cemas. Aku berjanji, ini yang terakhir kalinya aku membuat ibu cemas"
Kushina membalikkan badannya dan mengelus pipi mulus putrinya. "Ibu juga meminta maaf karena sudah memukulmu tadi."
Naruto tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. "Aku pantas mendapatkannya bu!"
"Dengarkan ibu, Naru! Ibu tidak akan bisa berhenti mencemaskanmu sebelum ibu melihat kau memulai membangun kembali kehidupan rumah tangga bersama pria yang baik dan bertanggung jawab,sayang!"
"Ibu, kita sudah sering membicarakan permasalahan ini bu!"
Kushina kembali memotong perkataan Naruto dan berusaha meyakinkan putrinya kembali. "Ibu rasa Sasori adalah pria yang baik dan bertanggung jawab untuk mendampingimu 'nak?!"
"Ibu aku mohon bu~"
Naruto langsung menghentikan ucapannya, saat ia melihat Sasori berjalan menghampirinya serta ibunya.
"Saso-kun, kenapa kau tidak mengganti pakaianmu?!" Tanya Kushina saat Sasori sudah berdiri disebelah Naruto.
"Tadi saya lupa membawa koper saya kesini bi" jawab Sasori halus. Kushina menghembuskan nafasnya perlahan lalu melirik putrinya dan memberikan isyarat mata pada Naruto untuk meminjamkan baju untuk Sasori.
Naruto mengangguk pelan. "Ayo ikut aku! Aku akan meminjamkan satu stel pakaian untukmu"
Naruto berjalan menuju kamarnya diikuti Sasori di belakangnya. Ia membuka lemarinya dan mengambil satu stel pakaian pria dari dalam lemarinya. "Kau bisa pakai ini, Sasori" Naruto memberikan satu stel baju kepada Sasori. "Pakaian ini masih sangat baru dan belum pernah dipakai"
Naruto tersenyum tipis, namun bukan senyum bahagia yang Sasori lihat. Melainkan senyum pedih yang membuat Sasori mengepalkan tangannya dan ingin memukul pria yang pernah menyakiti hati wanitanya. "Sebenarnya pakaian ini adalah pakaian yang akan aku hadiahkan untuk mantan suamiku dulu, tetapi karena sesuatu hal aku batal memberikan itu kepadanya. Kau tidak keberatan memakainya 'kan?!"
Sasori menggeleng pelan dan menarik tangan Naruto untuk duduk di pinggir ranjang lalu memeluk wanitanya. "Apa kau masih mencintai mantan suamimu dulu?! Apa aku boleh tahu penyebab perceraian kalian?!" Seketika Sasori merasakan tubuh Naruto menegang dalam pelukannya. Ia menyesal dan merutuki kebodohannya karena sudah menanyakan hal sentimentil kepada wanitanya.
Naruto langsung melepas pelukan Sasori dan kembali berjalan ke lemarinya yang masih terbuka. Jari-jari lentiknya menggenggam sepatu mungil berbulu berwarna abu-abu. "Aku tidak tahu apakah aku masih mencintainya atau tidak, bagaimanapun juga kami sudah hidup ber-rumahtangga selama hampir lima tahun. Dan mengenai perceraian kami~ Kami bercerai karena aku tidak akan bisa memberikan kebahagiaan untuknya dan untuk keluarga besarnya" jawab Naruto parau.
"Itu tidak benar, Naru!?" Sasori menghampiri Naruto dan menarik tubuh wanitanya agar menatap kedua bola mata hazel miliknya. "Kau wanita yang sempurna, tidak ada hal yang lebih membahagiakanku selain kau yang selalu berada disisiku"
Naruto menarik tangannya dari genggaman Sasori dan menutup pintu lemarinya. "Kau tidak akan pernah mengerti, Sas. Aku tidak sesempurna seperti yang kau lihat sekarang"
Sasori memerangkap tubuh Naruto dengan kedua lengan kekarnya. "Karena itu~ Buat aku mengerti, Naru. Buat aku lebih mengenalmu lagi." Sahut Sasori sambil membelai pipi Naruto lembut. "Aku mencintaimu, sayang" lanjut Sasori dengan nada seduktif, mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.
"Menikahlah denganku"
Naruto memalingkan mukanya kesamping, membuat Sasori sadar pada posisinya dan melepaskan Naruto dari tubuhnya. "Maafkan aku, Naru. Aku tidak bermaksud~"
"~Aku mengerti, sas" Naruto mendorong pelan tubuh Sasori yang terlalu dekat dengannya. "Sebaiknya kita segera ke ruang makan, sas. ibu pasti sudah menunggu kita disana" tambah Naruto yang dibalas anggukan kepala Sasori
.
.
.
Kushina tersenyum senang melihat kedatangan Naruto bersama Sasori disampingnya. Kushina berharap, pria disamping putrinya saat ini adalah pria yang sanggup memberi kebahagiaan untuk putrinya. "Naru, ambilkan makanan untuk Saso-kun dong! Anggap saja ini sebagai latihan kalian, saat kalian hidup bersama nanti"
Naruto berdehem kecil menetralkan suasana meja makan yang tiba-tiba hening. "Sepertinya masakan ibu sangat lezat", dengan cekatan tangan mulusnya menyiapkan makanan ke atas piring Sasori dan memberikannya pada Sasori.
"Terimakasih"
Naruto tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Tatapan antara putrinya dengan pria bermarga Akasuna ini tidak lepas dari pengamatan Kushina. Kushina dapat merasakan cinta yang begitu besar dari pancaran mata Sasori. "Ayo dimakan Saso-kun, kau tidak akan kenyang hanya dengan memandangi Naruto saja" ucap Kushina yang membuat Sasori memalingkan wajahnya menahan malu dari dalam hatinya.
"Ibu, Sasori tidak akan bisa makan jika ibu terus menggodanya seperti itu" sahut Naruto sambil menatap sebal ibunya.
Naruto tahu, sebentar lagi ibunya pasti akan membahas hal itu lagi, dan dia bosan karena harus mencari alibi atas perkataan ibunya.
"Ibu sangat senang melihat kalian semakin sering bersama" Kemudian Kushina menegakkan punggungnya dan menunjuk Sasori dan Naruto bergantian. "Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" tanya Kushina tiba-tiba yang langsung membuat Naruto terbatuk tersedak.
Sasori langsung menyomot segelas air putih dihadapannya lalu memberikannya kepada Naruto, membantu wanitanya untuk meminum air sambil mengusap punggung Naruto lembut.
"Lihat?! Sasori bisa menjadi suami yang sigap untukmu, Naru"
Naruto mengusap bibirnya dengan lengannya. "Bu, aku mohon bu. Berhenti membahas hal ini lagi"
"Kenapa ibu harus berhenti? Ibu hanya ingin tahu kelanjutan hubungan kalian. Kalian bukan remaja lagi, yang kisah percintaannya hanya diisi dengan pacaran dan senang-senang saja! Ingat umur kalian! Sudah waktunya kalian melangkah ke jenjang pernikahan" Kushina menghentikan aktivitasnya dan menatap Sasori dengan serius. "Saso-kun, Apa kau tidak serius dengan putri bibi?! Apa kau tidak mencintai putri bibi?!" tanya Kushina lagi.
Sasori menghentikan aktivitas makannya dan membersihkan bibirnya dengan tissue sebelum kembali berbicara dengan Kushina. "Saya serius bi dan saya sangat mencintai Naruto" jawab Sasori mantap. "Kedua orangtua saya juga siap kapanpun untuk datang kesini melamar putri bibi untuk saya"
"~Ah...ya! Bibi mengerti sekarang! Permasalahannya ada di putri bibi'kan?!" Kata Kushina yang mulai mengerti duduk permasalahan putrinya. "Kedua orangtua Saso-kun sudah setuju dan Saso-kun juga sangat mencintaimu, Jadi apa yang kau ragukan lagi Naru?!"
"Bu, cinta saja tidak cukup dalam membina sebuah hubungan rumah tangga" sahut Naruto menjawab dengan nada tenangnya. "Apa ibu lupa?! Aku dan Gaara saling mencintai dan akhirnya-?! Ibu bisa melihat hubungan kami berakhir dengan perceraian"
Kushina memicingkan matanya menatap putrinya yang masih cuek dan melahap makanannya dengan asyik. "Sejak awal ibu memang meragukan keputusanmu untuk menikah dengan Gaara saat itu!"
"Ibu cukup bu! Berhenti membahas masa laluku bu! Ibu tidak ingat jika ada Sasori disini?!" Balas Naruto yang mulai kesal dengan pokok bahasan mereka saat ini.
"Memangnya kenapa jika ibu membahas ini di depan Sasori. Dia calon suamimu jadi dia juga berhak mengetahui masa lalumu!" Kata Kushina dengan nada mulai meninggi. "Sampai kapan kau akan seperti ini, Naru?! Apa kau tidak ingin membangun sebuah keluarga bersama dengan Sasori? Ibu juga tidak sabar ingin menimang cucu ibu"
Naruto langsung bangkit berdiri serta membanting sendok dan garpunya dengan kesal hingga suara dentingan peralatan makannya menggema di seluruh ruangan apartemen. "Dan itulah permasalahan utamanya bu!" Amuk Naruto.
"Ibu bilang dia berhak mengetahui masa laluku 'kan?" Naruto menujuk Sasori yang sudah bangkit berdiri berusaha menenangkan Naruto. "Baiklah!"
Naruto berlari menuju sebuah ruangan yang Sasori ketahui sebagai kamar Naruto. Ia melihat Naruto kembali dengan membawa sebuah kotak besar dan menumpahkannya di hadapannya. Sasori berjongkok dan melihat benda apa saja yang ditumpahkan oleh Naruto disana.
Dia melihat banyak sekali perlengkapan bayi, album foto pernikahan Naruto dengan mantan suaminya, dan yang terakhir, Sasori melihat sebuah dokumen terjatuh disana. Ia memungut kertas-kertas yang berceceran di lantai, lalu membacanya satu persatu.
Dokumen-dokumen itu berisi akta pernikahan Naruto dengan seorang laki-laki yang bernama Sabaku Gaara, lalu surat perceraian mereka berdua, serta sebuah surat hasil pemeriksaan dari sebuah rumah sakit internasional yang cukup terkenal di Sunagakure. Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, Sasori membaca surat hasil pemeriksaan dengan atas nama Sabaku Naruto dengan seksama.
"Bagaimana Sasori?! Apa sekarang aku masih terlihat sempurna dimatamu?" Ujar Naruto saat melihat wajah tercengang Sasori membaca surat hasil pemeriksaan kesehatannya saat dirinya masih 'menjabat' sebagai nyonya Sabaku. "Mantan suamiku adalah Sabaku Gaara, putra tunggal dari walikota Sunagakure tuan Sabaku Rasa. Alasan utama dia menceraikanku adalah karena aku tidak akan bisa memberinya seorang putra ataupun putri yang dapat melengkapi kebahagiaan kami"
"Jadi menurutmu, apa cinta saja cukup untuk membangun sebuah keluarga?" Tambah Naruto dengan sinis. Naruto jatuh bersipuh dilantai, dengan airmatanya yang segera meluap keluar. "Aku wanita cacat, Sasori! Aku wanita yang tidak berguna!" raung Naruto dengan tangis pilunya.
"Saat aku tengah mengandung Boruto, aku mengalami sebuah kecelakaan yang mengharuskan aku melahirkan Boruto dalam keadaan prematur. Tetapi putraku tidak bisa bertahan, Sasori! Putraku meninggalkanku setelah dia dilahirkan" Naruto mengusap airmatanya dengan kasar. "Tidak hanya itu saja! Kecelakaan itu tidak hanya merenggut putraku dari tanganku, tetapi kecelakaan itu juga membuat rahimku terluka dan cacat, hingga sampai detik perceraianku dengan suamiku, aku tidak bisa memberikan seorang keturunan untuknya"
"Tapi Naru~ bagaimana mungkin~" Entah kenapa Sasori merasa tenggorokannya tercekat hingga tidak mampu mengucapkan kata-kata yang ingin di keluarkannya. "Hasil tes itu pasti salah!" gumam Sasori pada dirinya sendiri namun masih dapat di dengar oleh telinga Naruto.
"Tidak! Hasil tes itu benar adanya!" Naruto bangkit berdiri mendekati Sasori yang masih terdiam mematung. "Aku wanita cacat, kau dengar itu?!" Naruto mengguncangkan kedua bahu Sasori dengan segala emosi yang memuncah di hatinya. "Aku wanita yang tidak bergu~"
Plakkk...
Naruto tidak mengerti sama sekali, saat dia mencoba menyadarkan Sasori dengan kata-katanya dan tiba-tiba tubuhnya ditarik dan di tampar oleh ibunya. Naruto memegang pipinya yang memerah dan memandang Kushina dengan perasaan yang bercampur aduk. "Ibu?!"
"Cukup Naruto! Cukup!" Kushina mengelus pipi Naruto yang memerah bekas tamparannya. "Kau tidak mandul, Naru! Kau masih bisa menjadi seorang ibu walau peluang itu sangat kecil, sayang!"
Kushina menghampiri Sasori yang masih diam tidak mengeluarkan satu patah katapun. "Sasori, bibi yakin kau laki-laki yang cerdas. Kau tentu bisa membedakan kata-kata 'tidak bisa' dengan 'berpeluang kecil' bukan?!" Kushina menggenggam tangan pemuda dihadapannya dengan pandangan penuh harap. "Bibi sangat yakin dengan dirimu, Sasori. Kau berbeda dengan mantan suami Naruto. Benar begitu 'bukan?!"
Sasori kembali terdiam.
"Saso-kun?!" Sasori melepaskan tangan Kushina dari lengannya. "Maaf bi, saya akan memikirkan semua ini" Sasori menjatuhkan kertas hasil pemeriksaan Naruto begitu saja, lalu pergi dari apartemen Naruto.
Tangis Naruto kembali pecah di dalam apartemennya. Naruto mencengkram kuat dadanya yang begitu terasa menyesakkan. Semua kenangan buruk itu, seperti kembali menghantuinya. "Inilah alasanku, kenapa aku tidak ingin membahas pernikahan ataupun cinta bu! Semua laki-laki itu sama brengseknya bu! Mereka akan meninggalkanku, setelah mereka mendapat apa yang mereka inginkan bu!"
Kushina sangat merasa bersalah karena membuat putrinya kembali dalam keadaan menyedihkan seperti ini dengan mengingat semua masa lalunya. Dengan terus mengucapkan kata maaf, Kushina menghampiri putrinya dan memapah putrinya untuk beristirahat di kamarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
