Marriage
Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja πππ
Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita πππ
Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee ππ)
Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.
Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay ππ
Info umur karakter :
1. Uzumaki Naruto : 29 tahun
2. Uchiha Sasuke : 30 tahun
3. Sabaku Gaara : 30 tahun
4. Haruno Sakura : 29 tahun
5. Uchiha Sarada : 6 tahun
.
.
.
.
.
Chapter 3 : Seandainya...
.
.
.
.
.
Selamat membaca! πππ
.
.
.
~0~0~0~
Sasuke menarik selimut hingga menutupi tubuh Sarada sebatas dada lalu mengecup kening putrinya dengan lembut. Sasuke tersenyum tipis sambil tangannya bergerak menyisihkan sebagian rambut yang menutupi wajah cantik putri kecilnya.
Hanya Sarada-lah, yang menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap menjalani hidupnya dengan tegar...
Sasuke kembali mendesah lelah dan berjalan ke jendela kaca dimana Ia dapat menikmati pemandangan di luar apartemennya. Hari ini, ia merasa menjadi orang yang paling bodoh karena selama berjam-jam ia terus mencari-cari keberadaan Naruto di Bandara. Sasuke masih berharap bahwa dia akan bertemu dengan wanita yang sampai detik ini juga selalu menggenggam hatinya dengan erat.
Lamunan Sasuke langsung buyar, saat ia merasakan handphonenya terus bergetar seolah memaksa Sasuke untuk mengangkat panggilannya.
"Hn"
"..."
"Katakan saja, apa kepentinganmu hingga menghubungiku saat ini"
"..."
"Besok?!"
"..."
"Baiklah, kita bertemu saat jam makan siang saja"
Sasuke mengakhiri panggilan diseberang sana dan kembali menyimpan handphonenya ke dalam sakunya. Panggilan tadi berasal dari sepupunya, Uchiha Sai yang mengajaknya bertemu dengan semua teman-teman dekatnya saat mereka masih duduk di bangku Senior High School.
Sasuke menggeleng pelan lalu ikut berbaring di samping putrinya, Sarada. Setidaknya, panggilan dari Sai membuat pikirannya sedikit teralihkan.
"Dobe, apa yang kau lakukan pada hatiku?! Hingga detik ini-pun, aku masih merindukan segala yang ada pada dirimu" gumam Sasuke entah pada siapa saat ini. Sasuke memiringkan badannya dan membelai putrinya yang sudah tertidur damai. "Melihat Sarada tertidur seperti ini, entah kenapa aku seperti melihat dirimu yang tertidur disini"
Sasuke membelai wajah putrinya dengan lembut lalu menggenggam tangan putrinya lalu mengecupnya penuh kasih sayang. "Papa tidak pernah menyesal memilikimu dalam hidup papa, meski papa harus kehilangan belahan jiwa papa, Sarada. Papa sangat menyayangimu" ucap Sasuke sebelum ikut memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
Marriage
.
.
.
.
.
Sasuke masuk kedalam sebuah restoran mewah dengan sebelah tangannya menggandeng tangan Sarada. Pria tegap itu dapat melihat Sai yang melambaikan tangannya dengan senyum palsunya, dia juga melihat teman-teman lamanya sudah duduk berkumpul serta bercengkrama.
Sasuke membungkuk menyamai tinggi Sarada. "Sarada, dengarkan papa! Kau tidak boleh kemana-mana tanpa ijin papa terlebih dahulu, dan satu hal lagi! Kau tidak perlu menanggapi pembicaraan teman papa, karena yang mereka bicarakan hanya omong kosong. Mengerti?!" Sarada tersenyum dan mengangguk cepat.
"Sarada mengerti pa"
"Anak pintar" balas Sasuke kembali tersenyum dan mengacak rambut Sarada.
Sai menghampiri mereka dengan senyum lebarnya yang menurut Sasuke sangat menjijikkan. Dengan cepat Sasuke menarik tangan putrinya agar berlindung di belakang punggungnya.
"Sasuke?! kau membawa anakmu kesini?!"
"Hn, kenapa?" Balas Sasuke bertanya.
Sai tidak menggubris pertanyaan Sasuke dan berusaha mendekati Sarada namun tubuh Sasuke kembali menghalanginya. "Ayolah, aku ini pamannya. Aku tidak akan menyakiti putrimu"
"Tapi kau akan meracuni pikiran putriku"
Sai mendengus kesal atas tanggapan Sasuke padanya lalu mengacuhkan keberadaan sepupunya dan kembali berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Sedangkan Sasuke, pria itu langsung mengajak putrinya menghampiri teman lamanya yang sedang duduk dengan wajah frustasinya.
"Apa casanova kita ini, sudah kehilangan pesonanya sehingga kau menumpahkan semua keluh kesahmu pada minuman terkutuk itu?!" Pria itu tersenyum tipis, bahkan saking tipisnya hingga hampir tidak terlihat dengan kasat mata. "Apa kabar, Sasori?!" tambah Sasuke pada pria disebelahnya ini sambil mengangkat tangannya, mengacungkan tos yang biasa mereka lakukan.
Sasori mendengus tetapi membalas tos Sasuke. "Buruk" jawab singkat Sasori. Hari ini, moodnya sedang tidak baik. Permasalahannya dengan Naru yang belum tuntas membuatnya merasa frustasi.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, dan terkekeh pelan. "Apa karena seorang wanita?!"
Sasori terdiam sehingga bisa Sasuke asumsikan sebagai jawaban 'iya'
"Aku seperti tidak mengenalimu, Sasori!?" Ejek Sasuke yang membuat Sasori kembali mendengus kesal. "Aku semakin penasaran dengan sosok wanita yang mampu membuat seorang player handal di sekolah kita ini bertaubat " Sasuke kembali terkekeh mengejek.
Sasori kembali mendengus kasar dan meneguk minumannya dalam sekali tegukan. "Itu, putrimu?!" Tanya Sasori sambil menunjuk Sarada dengan dagunya.
"Hn" jawab Sasuke sambil mengacak rambut hitam Sarada.
Sasori ikut tersenyum dan mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan. "Kau ingin minum apa?" Tanya Sasori pada Sarada.
"Milkshake jeruk, paman" jawab Sarada dengan nada khas anak-anaknya.
"Apa itu minuman favoritemu?"
Sarada mengangguk antusias. "Sarada sangat menyukai milkshake jeruk paman!"
Sasori kembali meneguk minumannya dalam sekali tegukan. "Minuman favoritemu sama seperti minuman favoritenya" gumam Sasori yang masih dapat di dengar oleh Sasuke. Kemudian Sasori memesankan segelas milkshake jeruk dan cheese cake untuk Sarada yang langsung mendapat sorak girang dari Sarada.
"Sasuke?! Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah?! Apa hidupmu bahagia?!" Tanya Sasori datar tanpa melepas tatapannya dari Sarada. Sasuke terkekeh kecil dan ikut menatap putrinya
"Rasanya sangat luar biasa. Benar-benar luar biasa hingga kau tidak mampu bagaimana mendeskripsikannya" Sasuke ikut menuangkan botol minuman Sasori ke dalam gelasnya lalu meminumnya dengan perlahan. "White wine 'huh?!" Heran Sasuke sambil mengangkat sebelah alisnya.
Tiba-tiba Sai ikut bergabung diantara mereka dan memeluk leher Sasori dengan sebelah tangannya. "Kau pikir dia akan minum apa?! Minuman alkohol dengan kadar yang tinggi seperti sampagne?!" Sai tertawa keras dan menepuk bahu Sasori. "Captain kita ini sudah bertobat, Sasuke! Pramugari cantik itu benar-benar hebat hingga membuat casanova kita ini berubah"
"Pramugari?!" kernyit Sasuke bingung.
"Iya benar, pramugari itu yang membuat teman kita yang menjabat sebagai 'playboy kelas kakap' ini bertekuk lutut hanya memandang wanita itu saja!" Sahut Suigetsu yang tiba-tiba menginterupsi perbincangan mereka. "Dan apa kau tau Sasuke, yang lebih parah adalah wanita itu seorang janda beranak satu yang sudah bercerai dengan suaminya hampir sekitar dua tahun yang lalu"
Sasori menggeplak kepala suigetsu. "Heh hiu jelek! Siapa yang mengizinkanmu ikut dalam pembicaraan kami 'huh ?!" Ujar Sasori jengkel karena ke-ember-an mulut temannya ini.
"Jadi karena hal itu, kau patah hati dan frustasi seperti ini?!" Sasuke kembali melayangkan ejekannya pada temannya dan langsung mendapat gelak tawa dari suigetsu dan sai. Sasuke terdiam untuk beberapa saat dan kembali menyesap wine dengan nikmat. "Apa kau tidak bisa menerima anaknya?! Jika kau memang mencintai ibunya, maka bagaimanapun juga kau harus mencintai anaknya" lanjut Sasuke dengan tampang datarnya.
Sasori menggeleng pelan, dan kembali meneguk wine dari gelasnya. "Tidak, putranya sudah meninggal sejak dilahirkan"
"Lalu, apa masalahnya?!"
Sai kembali merangkul bahu Sasori. "Masalahnya adalah karena wanita itu, adalah wanita yang sangat sulit ditakhlukkan oleh pria manapun di dunia ini" Sai menepuk bahu Sasori dengan tawanya yang menggema. "Wanita itu, tidak akan bisa bertahan menjalani hubungan dengan pasangannya selama lebih dari tiga bulan. Apalagi setiap pasangannya itu mengajaknya untuk menikah, pasti hubungan mereka selalu berakhir dengan kata 'putus'. Ya setidaknya itu yang aku dengar dari Ino-chan"
"Ino?!"
Sai mengangguk cepat. "Ya, Ino adalah salah satu pramugari di maskapai penerbangan tempat Sasori bekerja. Terlebih lagi, dia kekasihku. Dan si 'casanova cunguk' kita ini telah jatuh hati pada sahabat dari kekasihku ini"
"Diam kau!" Amuk Sasori sebal sambil menghentakkan tangan Sai dari bahunya. "Lebih baik kau pergi saja! Enyahlah!" Usir Sasori pada sai sambil mengibaskan tangannya.
Sai langsung kembali tertawa renyah dan menepuk bahu suigetsu yang ikut tertawa renyah. "Ayolah suigetsu, lebih baik kita pergi dari sini daripada dia lebih mengamuk karena 'casanova cunguk' ini tidak berhasil memikat wanita pilihannya"
Sasori langsung melemparkan umpatannya pada Sai dan Suigetsu yang sudah menjauhinya, sedangkan Sasuke langsung menutup kedua telinga Sarada. "Jangan mengumpat disini! Pendengaran putriku bisa rusak bila mendengar semua umpatanmu itu!"
Sasori kembali mendengus kesal. "Seperti kau tidak pernah melakukannya saja!"
Sasuke meringis pelan. "Kau akan merasakannya setelah kau memiliki seorang anak, Sasori"
Sarada yang mulai bosan, menarik-narik tangan Sasuke dan merengek meminta untuk segera pulang. Namun dengan sedikit bujukan dari Sasuke, Sarada akhirnya dapat kembali ditenangkan. Entah kenapa, Sasuke merasa sangat ingin mendengar cerita sahabatnya ini. Sasuke sendiri merasa aneh karena dia sangat tertarik untuk mengetahui sosok wanita yang menjadi bahan pembicaraan mereka.
Sasuke menghentikan tangan Sasori yang hendak memesan sebotol brendy pada pelayan. "Lebih baik kau bercerita saja kepadaku, apa permasalahanmu itu. Daripada kau terus melampiaskannya pada minuman terkutuk itu!"
.
.
.
Akhirnya Sasori menceritakan begitu saja tentang apa yang menjadi keluh kesahnya saat ini. Dari dulu, Sasori sangat mempercayai Sasuke sebagai teman baiknya. Pembawaan Sasuke yang tenang selalu membuatnya nyaman untuk menceritakan hal yang menjadi masalahnya, Sasuke selalu bisa memberikan solusi atau jalan keluar bagi permasalahannya.
"Apa kau mau mendengar pendapatku, Sasori?!" tanya Sasuke hati-hati.
"Jika kau tidak keberatan memberikan saran untukku, Sas!"
Sasuke kembali terkekeh pelan dan menegakkan punggungnya. "Jika kau benar-benar mencintai wanita itu kejar dia sebelum kau akan benar-benar kehilangannya. Kebahagiaan sebuah pernikahan di dapat apabila kau bisa hidup bersama dengan wanita yang kau cintai" Sasuke terdiam untuk beberapa saat dan kembali bersuara. "Lagipula, dia tidak mandul. Kalian masih tetap bisa mempunyai seorang keturunan meski kau harus lebih bersabar untuk hal itu"
"Atau, kalian bisa mengadopsi seorang bayi dan menjadikan anak itu sebagai putra/putri kalian. Anak kandung atau anak angkat, bagiku status itu tidak penting karena pada intinya seorang anak selalu bisa membawa kebahagiaan tersendiri bagi kedua orangtuanya"
Sasori terdiam untuk beberapa saat, mencerna setiap kata yang diucapkan Sasuke dengan baik. Senyumnya kembali terbit diikuti oleh senyum yang juga terbit dari wajah Sasuke. "Kau benar, Sasuke. Harusnya aku tidak bersikap seperti ini kepadanya. Aku akan meminta maaf padanya, semoga dia mau memaafkanku" Sasori mengeluarkan smartphone miliknya dan menghubungi nomor Naruto.
Sasori mendesah kecewa karena Naruto tidak mengangkat panggilannya. "Sepertinya dia sangat marah padaku" Sasori bangkit berdiri dan kembali memasukkan smartphonenya ke dalam tasnya. "Lebih baik aku menemuinya dan meminta maaf langsung padanya"
Sasuke tersenyum tipis dan menepuk lengan Sasori. "Selamat berjuang kawan" Sasori mengangguk pelan dan segera meninggalkan tempat itu. Sasuke menatap kepergian Sasori dengan tatapan menerawang.
Seandainya dulu, dia bisa mengejar cintanya, memohon maaf, dan menjelaskan semua kebenarannya. Mungkin dia tidak akan kehilangan wanitanya seperti ini.
'Dobe, bila kita bertemu nanti. Apa kau akan memaafkanku?!'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai-hai gaessss... πππ
Maaf blm bs bales reviewnya satu persatu yah. Krn etha lg kejar target bwt nyamain chapter yg disini sm yg di watty yaahhhh ππππ
Etha harap kalian gk bosen2 bwt mendukung cerita ini dg review kalian yaaa πππ
Btw, etha baca kok smua review kalian n klo ada waktu luang bakal etha balas smua review kalian. Ok?! πππ
See u next chapter guys...
Jum'at, 24 Maret 2017
Ethatataππ
