Marriage

Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja 😁😁😁

Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita 😝😝😝

Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee 😜😜)

Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.

Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay 😜😜

Info umur karakter :

1. Uzumaki Naruto : 29 tahun

2. Uchiha Sasuke : 30 tahun

3. Sabaku Gaara : 30 tahun

4. Haruno Sakura : 29 tahun

5. Uchiha Sarada : 6 tahun

.

.

.

.

.

Chapter 4 : Hubungan yang rumit

.

.

.

.

.

Selamat membaca! 😉😉😉

.

.

.

~0~0~0~

"Naruto tunggu!" Sasori memegang lengan Naruto menahan kepergian wanita itu, yang selama hampir seminggu ini selalu menghindari dirinya.

Pagi ini, Sasori memang sengaja menunggu wanita itu di depan pintu apartemennya. Sudah hampir seminggu telepon bahkan pesan darinya tidak pernah di gubris oleh Naruto. "Naru, tolong dengarkan penjelasanku sebentar saja!" Pinta Sasori dengan parau.

Sasori tidak tahu bagaimana cara membujuk Naruto lagi. Ia merutuki kebodohannya yang terlalu gegabah mengambil sikap. Selama hampir enam bulan dia menjalin hubungan dengan wanita itu, Sasori tahu betul bahwa Naruto berwatak keras kepala. Bahkan dulu, Ia sangat sulit meyakinkan Naruto untuk menjalani suatu hubungan dengannya. "Aku mohon, beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku ingin memperbaiki hubungan kita kembali, Naru."

Helaan nafas berat, keluar dari mulut Naruto bersamaan dengan tawa sinisnya. "Apa yang harus aku dengarkan darimu, Sasori?! Apalagi yang harus kau jelaskan kepadaku?!" Naruto melepas tangan Sasori yang menggenggam tangannya. "Semuanya sudah jelas dan hubungan kita dari dulu memang salah Sasori. Lebih baik kita akhiri sekarang, sebelum kau akan lebih tersakiti lagi karena aku" putus Naruto mengakhiri pembicaraan mereka dan berjalan menuju lift apartemennya.

Naruto terus berjalan cepat menghindari kejaran Sasori, hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis kecil di lobby apartemennya.

"Maafkan tante sayang, tante tidak senga~"

"~Tante cantik?!"

Naruto segera meminta maaf pada anak kecil yang ia tabrak tadi. Namun perkataannya terpotong saat gadis yang ia tabrak memanggilnya dengan panggilan yang sangat familiar untuknya. Ternyata, gadis kecil itu adalah gadis yang sama yang ia temui di pesawat. Entah kenapa, ia sangat senang karena dapat bertemu gadis itu lagi. "Sarada?!"

Naruto berjongkok di hadapan Sarada menyamai tinggi gadis kecil berkacamata merah ini dan membingkai wajah Sarada. "Sayang, kamu ngapain disini sendirian? Mana kedua orangtua kamu 'hm?!" Tanya Naruto dengan nada lembut.

"Naru aku mohon dengarkan dulu penje~ Sarada?!"

Belum Sarada menjawab perkataan Naruto, tiba-tiba namanya kembali dipanggil oleh seorang laki-laki yang berdiri dibelakang 'tante cantiknya'

"Paman?!"

Panggilan Sarada membuat Naruto bergantian menatap wajah Sasori dan Sarada. "Kalian saling mengenal?!" Tanya bingung Naruto.

Sarada mengangguk membenarkan perkataan Naruto. "Paman ini adalah teman papa, tante cantik."

"Lalu dimana papamu sayang?! Kenapa kamu disini sendirian?! Kemana mamamu 'hm?!" Naruto kembali melayangkan pertanyaan yang sama. Dia sendiri heran, kenapa dia harus merasa cemas dengan gadis kecil ini?!

Apa mungkin karena Sarada seumuran dengan Boruto, jadi dia menganggap Sarada seperti putrinya, ucap Naruto membenarkan dalam hati.

"Papa masih kerja, tante cantik. Dan mama Sakura~ mama tinggal di Amegakure, tante cantik. Sara disini, karena Sarada tinggal bersama papa di apartemen ini tante cantik" jawab Sarada dengan lancar.

Naruto akui, gadis kecil ini adalah gadis yang tergolong pintar. Karena diusianya yang Naruto perkirakan berumur enam tahun ini, Sarada dapat menjawab setiap pertanyaannya dengan lancar. Naruto bangkit berdiri lalu menggendong tubuh Sarada yang menurutnya sangat ringan. "Sarada mau mampir ke apartemen tante?! Tante juga tinggal di apartemen ini"

Mata Sarada berbinar menatap Naruto dengan senyumnya yang mengembang. Senyum yang jarang Sarada perlihatkan pada orang lain selain pada kakek dan neneknya, serta papanya juga. "Apa boleh tante cantik?!"

Naruto mengangguk dan mengecup kening Sarada. "Tentu saja boleh, cantik. Nanti tante akan membuatkan banyak kue yang enak untukmu. Setuju?!"

Sarada merapatkan pelukannya pada Naruto sambil mengangguk antusias. Naruto kembali berbalik berjalan menuju apartemennya sambil menggendong Sarada.

Sasori menghentikan langkah Naruto dan menatap kedua bola mata shappire Naruto dengan pandangan bersalahnya. "Tunggu Naruto, kau tidak boleh pergi begitu saja. Kita perlu membicarakan ini sampai permasalahan di antara kita ini selesai" Sasori memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya sejenak. "Aku sudah memutuskan bahwa aku akan tetap menikahimu. Aku tidak akan menuntutmu untuk memiliki anak, ataupun menuntutmu yang lain. Jika perlu, kita bisa mengadopsi seorang anak. Aku hanya ingin kita hidup bersama, Naru. Beri aku kesempatan satu kali lagi aku mohon"

Naruto terdiam dan menghentikan langkahnya. Sarada yang sejak tadi hanya bingung melihat Sasori yang memohon pada Naruto akhirnya menangkup wajah Naruto. "Tante cantik, paman itu sudah meminta maaf dan memohon pada tante cantik. Seharusnya tante cantik memaafkan paman dan mendengarkan penjelasan paman Sasori dulu. Bukankah semua orang berhak mendapatkan maaf dan kesempatan kedua, tante cantik?!" timpal Sarada memberi nasehat padanya.

Naruto tertawa pelan lalu mencium kedua pipi Sarada dengan rakus. Dia benar-benar gemas dengan gadis kecil yang berada dalam gendongannya ini. Bagaimana mungkin seorang anak berusia enam tahun seperti ini, memiliki pemikiran sebijak ini?!

"Kau benar sayang, memang setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua"

Sasori mengambil sebelah tangan Naruto dan menggenggamnya lalu menciumnya. "Jadi, apa kau telah memaafkanku? Hubungan kita akan kembali seperti dulu'kan Naru?!"

Naruto memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas dengan perlahan. "Kau pria yang baik, Sasori. Tidak perlu meminta maaf atau memberi penjelasan apapun kepadaku. Kau hanya manusia biasa, wajar jika kau tidak akan bisa menerima kenyataan ini"

Sasori tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya. Ia membuka kotak itu dan mengambil sebuah cincin yang sudah ia siapkan sejak lama, lalu memakaikannya ke jari manis Naruto. "Kemarin aku hanya terlalu terkejut saja, Naru. Dan sekarang aku sudah bisa mengendalikan diriku, aku akan menerima segala konsekuensinya asal aku bisa terus hidup bersamamu. Aku sangat mencintaimu, Naru. Menikahlah denganku!"

Naruto menarik tangannya cepat saat Sasori hampir melepaskan cincin yang masih tersemat di jari manisnya agar cincin dari Sasori dapat dikenakan olehnya. "Maaf Sasori, tapi kau berhak hidup bahagia dengan wanita lain yang sanggup memberi kebahagiaan untukmu. Kau tidak perlu mengorbankan kebahagiaanmu untukku, Lagipula aku memang tidak ingin menjalani hubungan yang lebih serius, Sasori. Sekali lagi maafkan aku. Lebih baik kita akhiri sampai disini saja"

"Tidak Naru, aku hanya mencintai dirimu dan kebahagiaanku adalah bersama denganmu. Baiklah, jika kau belum siap untuk menikah denganku tidak apa-apa. Tapi aku mohon jangan akhiri hubungan kita, beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan kita. Aku sudah mendengar trauma pernikahanmu dari ibumu, dan aku tidak akan menyerah Naru. Aku akan membuat kau yakin untuk bersanding denganku di depan altar gereja Nanti" Sasori kembali mengamit sebelah tangan Naruto dan mengecupnya singkat.

"Tante cantik?! Kenapa tante cantik tidak menjawab perkataan paman?" tanya polos Sarada yang masih dalam gendongan Naruto.

Melihat perjuangan Sasori sejak dulu, membuat Naruto tidak tega untuk menyakiti hati pria ini. Pria yang mampu membuatnya bersandar pada bahu kokohnya dan pria yang mampu membuatnya merasa nyaman. Naruto menghembuskan nafas lega dan memasang senyum manisnya pada Sasori dan juga Sarada.

"Dua lawan satu, kalian menang. Baiklah, aku menyerah... Sekarang siapa yang mau lemon butter cookies dan chocolate chip cookies buatan tante?" Iming Naruto pada Sarada yang langsung di sambut tepukan sorak gembira dari Sarada. "Apa kau juga mau, Sasori?!"

Sasori tersenyum dan mengangguk cepat lalu mencium kening Naruto. "Aku tidak akan melewatkan kue terenak buatan kekasih cantikku ini" canda Sasori yang langsung disambut tawa dari Naruto.

Mereka bertiga berjalan menuju apartemen Naruto dan kedatangan mereka bertiga disambut dengan senyum bahagia dari Kushina. Naruto langsung masuk lebih dahulu ke dalam dapur sambil menggendong Sarada, sedangkan Kushina mempersilahkan Sasori duduk di ruang santai apartemennya. "Ibu senang melihat hubungan kalian kembali membaik"

Sasori bangkit berdiri dan berlutut dihadapan Kushina. "Maafkan saya bi, seharusnya saya tidak bersikap seperti itu bi"

"Sasori apa yang kau lakukan 'nak?! Ayo bangkit berdiri dan duduk disini" Balas Kushina sambil menepuk sofa di sebelahnya. "Ibu tahu, kau hanya butuh beradaptasi saja dengan situasi ini. Sejak awal Naruto mengenalkanmu pada ibu, ibu sudah yakin bahwa kau adalah pria yang sangat tepat untuk mendampinginya. Semoga kalian selalu terhindar dari hal buruk yang dapat merusak hubungan kalian. Restu ibu ada padamu Nak!"

"Terima kasih, bi"

Telunjuk Kushina teracung dihadapannya dan digoyangkan ke kanan dan kiri. "Bukan bibi, Saso-kun. Mulai hari ini, kau bisa memanggilku ibu. Sama seperti Naruto" Sasori tersenyum bahagia karena wanita paruh baya ini, menyambut dirinya dengan tangan terbuka. Sasori tidak akan menyesali keputusannya ini, karena di balik ini semua dia seperti mendapat keluarga baru yang sangat menerima dirinya dengan sambutan hangat.

"Sasori, lepaskan tanganmu dari ibuku. Dan jangan coba-coba merebut ibu dariku!"

Sasori menoleh kearah sumber suara, mendapati wanita yang paling dicintainya itu menatapnya kesal sambil menggendong Sarada yang membawa dua toples kue. Sasori mengambil alih Sarada dari gendongan Naruto dan mendudukkannya tepat di sebelah dirinya bersama dengan Naruto sehingga Sarada duduk di tengah-tengah Naruto dan Sasori. "Kau tidak akan mendapat jatah kue dariku, Sasori! Tidak akan!"

Sasori terkekeh lucu kemudian mengacak rambut Sarada yang sedang asik menikmati kuenya. "Paman! Jangan membuat rambutku menjadi berantakan! Paman dan papa sama saja! Kalian berdua hanya bisa membuat rambutku menjadi jelek seperti ini! Tanpa mama Sakura disini, aku kesulitan menata rambutku!"

"Memang kau disini tidak bersama dengan mamamu, Sarada?!"

Sarada menggeleng cepat, "Tidak paman, mama Sakura tinggal di Amegakure"

"Kenapa mamamu tidak ikut kesini sayang?!" Sarada terdiam sesaat dengan pandangan menerawang. Gadis itu menautkan kedua alisnya bingung bagaimana menjawab pertanyaan tante cantiknya ini, karena dia juga tidak mengerti kenapa. "Sarada tidak tahu tante cantik. Papa dan mama tidak tinggal bersama"

Menyadari ucapan Sarada membuat Naruto merasa bersalah karena menanyakan hal yang sangat pribadi pada anak ini. Jika kedua orangtuanya sudah tidak tinggal bersama, apa artinya kedua orangtuanya sudah bercerai?!

Entah kenapa hatinya tergerak untuk memeluk Sarada, membelai rambut gadis kecil itu, dan mengecup puncak kepalanya. Bahkan gadis sekecil Sarada, sudah menjadi korban pernikahan. Pernikahaan kedua orangtuanya yang pada akhirnya mendatangkan ke egoisan mereka dan mengorbankan kebahagiaan putri mereka.

"Maafkan tante sayang, karena tante membuatmu sedih. Mulai sekarang tante yang akan merapikan rambutmu, dan kau bebas main ke apartemen tante kapan saja kau mau" Ucap Naruto lembut pada Sarada.

"Benarkah itu, tante cantik?!"

Naruto tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pernikahan bukan sesuatu hal yang patut disepelehkan, Naruto mengerti pernikahan adalah bukan hanya tentang siapa mencintai siapa ataupun siapa melindungi siapa. Tetapi pernikahan adalah sebuah komitmen kuat, dimana dua orang berbeda watak membuang segala ego mereka dan menyatukan visi mereka untuk saling memahami satu sama lain.

Sasori mengeluarkan ponselnya dan bangkit berdiri. "Aku keluar sebentar, aku akan menghubungi ayah Sarada. Dia pasti cemas bila mendapati putrinya tidak ada di apartemennya"

.

.

.

.

.

"Naruto, kau mau kemana?!"

Setelah memastikan bahwa dompet dan ponselnya sudah terbawa, Naruto menutup tasnya dan menatap Sasori yang sedang membantu Sarada mewarnai buku gambarnya. "Beberapa persediaan bahan makanan disini sudah habis. Aku akan pergi ke supermarket sebentar"

Sasori berdiri dan mengambil kunci mobil dari sakunya. "Biar aku yang mengantarmu"

"Tidak perlu Sasori, Supermarketnya ada di seberang apartemen ini. Lagipula ada Sarada disini. Kau temani saja ibu dan Sarada. Aku pergi dulu!"

Sampai di supermarket, Naruto segera mengambil trolly lalu memasukkan segala barang kebutuhannya ke dalam trolly dan membayar barang belanjanya di kasir. Naruto menenteng dua kantung plastik dan segera kembali ke apartemen. Langkahnya terhenti sejenak dan merogoh isi tasnya mencari ponselnya yang terus berdering.

"Ya ino, ada apa?!"

"..."

Naruto kembali berjalan tanpa memutuskan panggilan sahabatnya disana.

"Julukan ratu gosip sepertinya sangat cocok untukmu"

"..."

"Tidak, hubungan kami baik-baik saja"

"..."

"Dia sedang ada di apartemen bersama dengan ibu dan juga sarada"

"..."

"Sarada adalah anak kecil yang pernah aku temui di pesawat kemarin"

"..."

"Apa?! Itu sangat tidak mungkin ino. Sasori adalah pilot yang handal, bagaimana bisa pihak maskapai memindahkan dia menjadi co-pilot?"

"..."

"Tidak, Sasori belum menceritakannya kepadaku"

"..."

"Ayolah, meskipun pilot itu adalah pilot internasional sekalipun. Aku yakin kemampuan Sasori tidak bisa di pandang remeh"

"..."

"Besok aku akan menemui manajer dan membicarakan ini kepada~"

Perkataannya terputus bersamaan dengan ponselnya yang jatuh karena tanpa sengaja Ia bertabrakan dengan seorang pria bertubuh tegap dan tinggi. Pria itu langsung memegang pinggangnya sehingga dia tidak terjatuh.

Semuanya terasa begitu lambat, hingga dia tidak menyadari bagaimana posisinya saat ini begitupun dengan pria yang memeganginya saat ini. "Maaf aku tadi tid~"

"~Dobe?!"

Sosok itu?!

Suara itu?!

Dan panggilan itu?!

Hanya ada satu orang yang seenaknya memanggil dirinya seperti itu...

Naruto mengenalnya dan bahkan sangat hafal dengan sosok itu. "Teme~" Tanpa sadar, Naruto ikut mengumamkan panggilan yang tidak seharusnya Ia ucapkan.

Kedua tangan Naruto langsung spontan mendorong dada bidang pria itu dan segera pergi dari tempat itu begitu ia menyadari siapa yang telah ia tabrak tadi. Naruto merasa terlalu gugup dan tidak bisa berpikir lagi, karena yang ada dipikirannya saat ini adalah pergi menjauh dari pria brengsek ini.

Kenapa dia harus kembali bertemu dengan pria brengsek ini?!

Tidak!

Dia tidak ingin melihat pria brengsek ini lagi!

Pria pertama dalam hidupnya yang mengenalkan indahnya cinta sekaligus luka dari sebuah pengkhianatan. Dia juga, pria pertama yang sudah memperlakukannya layaknya sebuah permen karet yang habis manis, sepah dibuang. Sampai kapanpun, Naruto tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepadanya...

"Naruto tunggu! Dengarkan penjelasanku dulu!" Sasuke langsung mengambil ponsel Naruto yang terjatuh dan segera berlari mengejar Naruto yang seperti ingin menghindarinya kembali. Sasuke tidak akan membiarkan wanitanya kembali menghilang sebelum mendengarkan penjelasannya dulu.

Sasuke langsung menarik lengan Naruto kuat-kuat, sehingga Naruto kehilangan keseimbangan lalu memeluknya erat-erat sambil menghisap aroma tubuh yang sangat Sasuke rindukan. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu"

"Maaf, saya tidak mengenal anda. Lepaskan saya!" jawab Naruto sambil berusaha melepaskan pelukan Sasuke.

"Tidak, kau berbohong dobe! Kau tidak akan langsung menghindariku saat ini, bila kau tidak mengenalku." Sasuke menangkup kedua pipi Naruto dan menatap kedua bola mata jernih yang sangat Sasuke sukai. Dengan perlahan ia membingkai wajah Naruto dengan jemarinya, mengirimkan sebuah gelenyar aneh yang selama ini berusaha Naruto pendam dalam-dalam.

"Kau semakin cantik dengan penampilanmu yang seperti ini Naru." Sasuke terus mengamati penampilan Naruto yang terlihat sangat cantik sekaligus terlihat sexy dan elegan.

Dengan cepat Naruto menangkis tangan Sasuke dari wajahnya. "Berhenti berbicara omong kosong. Setelah apa yang kau lakukan dulu, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!" Tegas Naruto dengan tatapan tidak bersahabatannya. "Sekarang, biarkan aku pergi dan menjalani hidup tenangku seperti tujuh tahun yang lalu, saat kau meninggalkanku dulu!" Naruto kembali berjalan tergesa meninggalkan Sasuke yang menatapnya penuh dengan rasa bersalah.

Sasuke kembali berdiri menghalangi kepergian Naruto lalu memegang kedua bahu mungil Naruto. "Maka dari itu kau harus mendengarkan penjelasanku!" Sasuke menarik lengan Naruto untuk mengikutinya. "Sebaiknya kita berbicara di tempat yang lain."

Lagi-lagi Naruto menyentakkan tangan Sasuke dari lengannya. Dengan amarah yang mulai memuncak Naruto mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Sasuke. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Sasuke. Dulu kau yang lebih memilih meninggalkanku, jadi tidak ada gunanya kita berbicara lagi!"

"Aku tahu, aku memang banyak bersalah terhadapmu. Tetapi aku meninggalkanmu karena ada sesuatu hal yang tidak mungkin aku bicarakan di tempat ini. Aku mohon ikut aku sekarang dan dengarkan penjelasanku!" pinta Sasuke sambil kembali berusaha menggandeng lengan Naruto. Sebenarnya Sasuke sangat tidak tega melihat kedua mata indah itu kembali mengeluarkan airmata karena dirinya. Tetapi Sasuke harus melakukan ini, dia harus menghentikan semua kesalahpahaman yang telah ia timbulkan.

Naruto terus meronta dalam cengkraman Sasuke. "Semua penjelasan itu tidak ada gunanya, Sasuke! Karena kenyataannya kau tetap meninggalkanku!" Naruto menangis sambil memukul-mukul dada bidang Sasuke dihadapannya. "Apa kau tidak ingat?! Aku sudah memberi kesempatan terakhir untukmu, tapi kau tetap saja meninggalkanku!"

"Hiks...hiks... kau tidak hanya meninggalkanku, Sasuke! Hiks...hiks... Kau pergi meninggalkan kami!" Naruto menyentakkan tangan Sasuke kuat-kuat dan menendang perut Sasuke dengan lututnya hingga Sasuke memekik kesakitan sambil memegangi perutnya.

Sasuke kembali menegakkan punggungnya dengan sedikit meringis kesakitan berusaha mendekati Naruto yang terus berjalan mundur. "Apa maksudmu Naru?! Aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataanmu. Kesempatan apa?! Kau yang tidak hadir di hari pernikahanku dan kau juga yang menghilang dariku setelah itu."

"Tidak ada gunanya kita membahas ini. Hubungan kita sudah berakhir saat kau lebih memilih untuk menikah dengan wanita lain disaat aku lebih membutuhkanmu" Naruto menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya ke hadapan Sasuke. "Kau lihat ini! Aku sudah menikah, jadi jangan ganggu aku lagi! Aku membencimu, Sasuke! Aku sangat membencimu!" kata Naruto menambahkan dengan nada tingginya.

Setelah mengucapkan itu, Naruto langsung berlari keluar supermarket. Dia tidak peduli bila harus menerobos hujan deras sekalipun, Naruto tidak peduli. Naruto hanya ingin segera pergi karena bayang-bayang masa lalu yang begitu menyakiti dirinya itu kembali muncul menghantui dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.