Marriage
Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja 😁😁😁
Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasori-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita 😝😝😝
Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee 😜😜)
Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.
Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay 😜😜
Info umur karakter :
1. Uzumaki Naruto : 29 tahun
2. Uchiha Sasuke : 30 tahun
3. Sabaku Gaara : 30 tahun
4. Haruno Sakura : 29 tahun
5. Uchiha Sarada : 6 tahun
.
.
.
.
.
Chapter 5 : Mungkinkah?!
.
.
.
.
.
Selamat membaca! 😉😉😉
.
.
.
~0~0~0~
Sasori membuka pintu apartemen Naruto dengan sangat terkejut. Dia melihat Naruto yang duduk berjongkok di depan pintu apartemen dengan keadaan basah kuyup dengan bahu yang bergetar. Sasori tidak tahu apa yang terjadi pada kekasihnya, tetapi dia tahu wanitanya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Wanitanya sedang menangis...
"Naruto?!" Sasori ikut berjongkok dihadapan Naruto, lalu memeluknya wanitanya dan mengusap punggung kecil Naruto. "Apa sesuatu terjadi saat kau pergi ke supermarket 'hm ?!" tanya lembut Sasori pada Naruto.
"Dia kembali" Naruto mengangkat wajahnya mengamati wajah Sasori yang menatapnya penuh dengan kesabaran. "Sasori, dia kembali! Hiks...hiks..."
Sasori mengangkat tubuh Naruto untuk berdiri dan memapahnya masuk ke dalam apartemennya. "Kau bisa sakit dengan pakaianmu yang seperti ini, sebaiknya kau mengganti pakaianmu dahulu setelah itu kau bisa bercerita kepadaku" Sasori menuntun tubuh Naruto untuk duduk di ruang santainya lalu berlari mengambilkan handuk dan menyelimutkannya pada tubuh Naruto.
"Ibu, apa ibu bisa menggantikan baju Naruto saat ini?!" Ujar Sasori pada Kushina saat dia melihat wanita paruh baya itu datang menghampiri mereka sambil membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk. "Dia bisa sakit bila seperti ini terus, bu"
Dengan wajah khawatirnya, Kushina menghampiri Naruto yang masih menangis sesenggukan lalu meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja. "Sayang, kau kenapa 'nak ?!" Kushina duduk di sebelah Naruto dan memeluk Naruto dengan penuh kasih sayangnya.
"Ibu, aku bertemu dia lagi bu! Aku bertemu pria brengsek itu lagi, bu!"
Kushina melirik Sasori yang terdiam setelah mendengar ucapan Naruto. Kushina tahu, pria itu sedang bertanya-tanya di dalam hatinya siapa pria yang dimaksudkan putrinya itu. Kushina menarik tubuh Naruto untuk berdiri dan menuntun putrinya masuk ke dalam kamarnya.
Naruto langsung menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan apartemennya. "Ibu, kenapa aku tidak melihat Sarada?! Bukankah ia tadi disini?"
Sasori ikut berdiri di sebelah Naruto dan mengusap lengannya. "Aku sudah mengantarnya pulang. Kebetulan dia adalah putri sahabatku, dan kebetulan juga dia tinggal di apartemen ini" Naruto mengangguk pelan lalu kembali berjalan ke kamarnya, meninggalkan Sasori yang tersenyum tipis menatapnya.
.
.
.
Naruto sedikit membuka kedua kelopak matanya saat ia sedikit mendengar suara decitan pintu kamarnya. "Masuklah Sasori, jangan seperti pencuri yang kerjaannya hanya mengintip di balik pintu ini! Kau sudah sangat mengenal seluruh isi apartemenku!"
Sasori tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu duduk disamping ranjang Naruto. "Sebenarnya aku lebih suka bila dapat mencuri hatimu, babe." Ucap Sasori kemudian mengecup kening Naruto. "Sudah merasa lebih baik?!"
Naruto mengangguk pelan. "Yeah...ku rasa" Naruto menggeser tubuhnya dan menepuk sebelah tempat tidurnya. "Kemarilah, Saso-kun!?"
Sasori terkekeh pelan lalu menaikkan sebelah alisnya heran. "Bisa ulangi kembali perkataanmu barusan, babe ?!" Sasori ikut berbaring di sebelah Naruto dan tertawa keras melihat muka Naruto yang memerah malu. "Aku sangat suka melihat mukamu yang memerah seperti ini, Naru" tambah Sasori sambil membelai rambut Naruto dan mencium puncak kepalanya.
Naruto ikut tersenyum dan meringkuk menyandarkan kepalanya pada dada bidang Sasori. "Terima kasih" ucap singkat Naruto yang membuat Sasori mengernyit bingung.
"Untuk?!"
Tangan Naruto terulur mengelus pipi Sasori. "Untuk semuanya" singkat Naruto.
Sasori menangkap tangan Naruto, menggenggamnya lalu mengecupnya. "Tidak perlu kata terima kasih untuk cinta, babe. Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu" balas Sasori yang membuat Naruto terdiam membuang mukanya. Naruto melepaskan genggaman tangan Sasori padanya lalu menegakkan punggungnya, menyender pada punggung tempat tidurnya.
"Kau tidak ingin bertanya kenapa aku menangis seperti itu, sas?!"
Sasori menarik lengan Naruto dan memeluknya. "Apa kau mau menceritakannya kepadaku?!" Kata Sasori balik bertanya. "Aku tidak akan memaksamu bercerita jika kau tidak menginginkannya. Aku akan menunggu hingga kau siap menceritakannya kepadaku kapanpun itu" tambah Sasori penuh pengertian.
Naruto tersenyum tipis dan menyurukkan kepalanya pada dada bidang Sasori. Jika dulu, ia memiliki Gaara sebagai suaminya yang selalu bisa membuatnya merasa aman dan nyaman, sekarang ada Sasori yang selalu bisa membuatnya merasa aman dan nyaman.
Yups...
Salah satu alasan Naruto menerima Sasori sebagai kekasihnya adalah karena Sasori tidak pernah menuntut lebih untuk mengetahui masa lalunya dulu. Dan pria itu yang selalu bisa membuatnya nyaman dan tenang, seperti yang sanggup dilakukan oleh Gaara dulu...
Naruto membutuhkan Sasori sebagaimana dia membutuhkan Gaara dulu.
Terkadang Naruto merasa bersalah karena mempermainkan perasaan Sasori seperti ini. Alasan lain Naruto mempertahankan hubungannya dengan pria itu adalah fisik Sasori yang hampir menyerupai Gaara, membuat Naruto merasa nyaman. Ia merasa seperti bersama dengan Gaara, pria yang sanggup membuatnya mengenal kembali apa yang namanya cinta, meski tidak bisa dipungkiri pria itulah yang membuatnya kembali tidak mempercayai cinta.
"Jika aku menceritakannya kepadamu, apa kau akan meninggalkanku Sasori?!" Tanya Naruto ragu yang langsung dibalas gelengan kepala dari Sasori.
"Kenapa aku harus meninggalkanmu?!"
Naruto menyamankan posisi tidurnya sambil memiringkan badannya menghadap Sasori. "Mungkin saja kau akan merasa jijik kepadaku, setelah aku menceritakan masa laluku dulu" jawab enteng Naruto.
Sasori menggelengkan kepalanya lalu mengecup puncak kepala Naruto lagi. "Untuk apa aku jijik kepadamu?! itu hanya masa lalumu" Sasori tersenyum pada Naruto dan mengusap lembut pipi wanitanya. "Bagiku yang terpenting adalah kau disini bersamaku, dan aku yakin itu yang akan jadi masa depanmu kelak. Tidak! Masa depan kita!" Lanjut Sasori dengan sangat yakin.
Naruto tertawa kecil dan melemparkan sebuah bantal ke muka Sasori. "Kata-katamu membuat perutku terasa mual"
"Sepertinya Akasuna junior sudah hadir disana" canda Sasori sambil mengelus perut rata Naruto membuat Naruto kembali memukul wajah Sasori dengan bantal ditangannya.
"Jangan sembarang berbicara! Hubungan kita tidak sejauh itu!" ucap Naruto dengan pelototan matanya. "Bagaimana jika ibu mendengar perkataanmu ini?"
"Dengan senang hati, ibumu akan menbantuku untuk menyeretmu ke depan altar gereja" balas Sasori yang membuat Naruto cemberut.
Sasori merentangkan sebelah lengannya agar bisa dijadikan sebagai bantalan untuk kepala Naruto, dengan senang hati Naruto menyamankan posisinya di dalam pelukan Sasori. "Bisa kita tidak membahas tentang pernikahan, Sas?!"
Sasori mengangguk dengan senyum tipisnya. "Apapun keinginanmu babe " Sasori mendekatkan wajahnya pada Naruto. "Tetapi walau kau menolak untuk membahas pernikahan, aku tidak akan berhenti meyakinkanmu untuk menikah denganku nanti" Sasori semakin mendekat pada wajah Naruto lalu menangkup dagu Naruto dengan jemarinya dan mencium bibir Naruto dengan lembut.
Sasori mengepalkan tangannya dan melepaskan pagutannya pada Naruto, saat kekasihnya itu tidak merespon ciumannya. Sampai detik inipun, Sasori merasa sulit menembus dinding tebal di hati wanitanya...
"Maafkan aku Sasori, tapi aku~"
Sasori menghela nafasnya dengan dengan desahannya lalu menggeleng pelan. "Tidak, harusnya aku yang meminta maaf dan tidak memaksakan kehendakku~"
"~ssstttt!" Naruto menggeleng pelan dan menempelkan telunjuknya pada bibir Sasori. Naruto memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada Sasori lalu mengecup bibir Sasori sebentar. "Mungkin aku tidak siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan, tapi aku akan mencoba membuka diriku untukmu."
"Ada satu hal yang harus kau ketahui mengenai diriku. Sebenarnya, Gaara bukan ayah kandung Boruto." Lanjut Naruto dengan menahan semua perasaannya yang bergejolak.
Sasori sedikit terkejut atas pernyataan Naruto barusan, tetapi pria itu berusaha menormalkan sikapnya di hadapan Naruto. "Lalu, siapa ayahnya?!" Tanya Sasori dengan lembut.
Naruto memejamkan matanya dan kembali terisak, dengan segala kesabarannya Sasori langsung merengkuh tubuh Naruto berusaha menenangkan wanitanya yang kembali menangis. "Maafkan aku, jika itu membuatmu menangis lebih baik kau tidak menceritakannya kepadaku"
"Maafkan aku Sasori, aku belum siap menceritakan siapa pria brengsek itu kepadamu. Maafkan aku!" Jawab Naruto pada Sasori yang terus mengusap airmatanya. "Cukup hari ini aku bertemu dengannya tadi, aku tidak ingin mengingat dia lagi"
Sasori membantu Naruto untuk berbaring di ranjangnya dan menyelimuti wanitanya hingga sebatas dada lalu bangkit berdiri. "Sebaiknya kau beristirahat saja sekarang, karena besok kita sudah mulai bekerja lagi Naru" Sasori mencium kening Naruto dengan lembut. "Selamat malam, dan semoga malam ini kau akan memimpikan aku dalam tidurmu"
Naruto ikut tertawa kecil dan menahan tangan Sasori yang hendak beranjak dari tempatnya. "Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, Sasori. Kenapa kau malah menjebak dirimu bersama denganku?"
Sasori kembali tergelak dan mengusap kening Naruto. "Aku tidak merasa jika aku terjebak denganmu, jika perlu aku akan memborgol tanganku dengan tanganmu agar kita selalu bersama"
.
.
.
.
.
Marriage
.
.
.
.
.
Sasuke tersenyum melihat keberadaan Naruto di hadapannya, dengan kerinduan yang meluap ia menghampiri wanita yang sangat cintai namun wanita itu malah melangkah mundur. "Aku sangat mencintaimu, dobe! Kenapa kau menghindar dariku?"
"Aku membencimu teme, aku sangat membencimu! Kau meninggalkan kami, teme! Kau jahat!"
Sasuke berusaha mengejar Naruto yang menangis menghindarinya. "Kami siapa Naru?! Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti!"
Sasuke tidak mengerti karena tiba-tiba Naruto menghilang begitu saja dari pandangannya. Kemudian ia merasa bingung karena tiba-tiba ia berada di sebuah kafe kecil. Sebuah kafe bernuansa modern dengan furniture kayu minimalis serta lantai kayu yang terlihat unik.
Sasuke ingat, kafe ini adalah kafe langganan dirinya dengan Naruto semasa mereka berpacaran. Kafe inilah yang menjadi saksi bisu atas terjalinnya hubungan diantara mereka, sekaligus menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan mereka.
Sasuke tersenyum mendapati seorang gadis muda dengan rambut di ikat ke atas dan kacamata hitamnya yang cukup besar tersenyum melambaikan tangannya kearahnya. Gadis itu memakai atasan sederhana berwarna kream di padu dengan rok diatas lutut berwarna biru dongker serta stocking hitam yang menutupi kaki indahnya. Penampilan yang sederhana namun tidak mengurangi kecantikan gadisnya.
Uzumaki Naruto..
Sasuke ikut melambaikan tangannya ke arah Naruto yang berjalan mendekat ke arahnya, namun ia semakin bingung saat Naruto berjalan melewatinya begitu saja seolah gadis itu tidak dapat melihat dirinya.
"Hai teme?! Apa kau sudah lama menungguku? Kau sudah pesan makananmu?! Bila belum aku~"
Sasuke semakin bingung karena ia seperti melihat bayangan dirinya sendiri dalam versi lebih muda dari saat ini, sedang berbicara di hadapan Naruto. Sasuke melihat dirinya menghentikan perkataan kekasihnya dengan raut wajah dingin.
"~Itu tidak perlu, ada suatu hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu" potong Sasuke dalam versi muda. Sasuke menjadi ingat, moment ini adalah hari dimana Ia bertemu Naruto untuk yang terakhir kalinya setelah ia memutuskan hubungannya dengan Naruto.
Naruto mengangguk semangat kemudian merogoh tasnya mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah maroon yang di hiasi dengan pita diatasnya. "Aku juga. Aku ingin memberikanmu ini"
Sasuke mengangkat kotak kado dari Naruto dengan kernyitan alisnya. "Apa ini?!"
"Buka saja!" Jawab singkat Naruto dengan penuh semangat. Bukannya membuka kado yang Naruto berikan justru Sasuke langsung menyimpan kado dari Naruto ke dalam tasnya. "Kenapa tidak dibuka?!" ungkap Naruto kecewa karena Sasuke tidak membuka hadiah darinya.
"Lupakan saja! Aku bisa membukanya dirumah"
"Baiklah"
Sasuke menegakkan punggungnya menatap Naruto dengan ragu-ragu. Namun dalam sekali tarikan nafas akhirnya dia mampu mengucapkan kata itu pada Naruto.
"Naruto kita putus"
Mata Naruto mulai berair. Dengan bibirnya yang bergetar, Naruto menjawab perkataan Sasuke. "Kenapa?! kenapa kita putus? tidak ada yang salah pada hubungan kita~"
"~Kesalahannya ada padamu, Naru!" Balas Sasuke dengan nada tinggi. "Seminggu lagi aku akan menikah dengan wanita yang lebih pantas untukku. Dia berasal dari keluarga terpandang, dan saat ini dia sedang mengandung anakku. Kau boleh hadir dipesta pernikahanku nanti" lanjut Sasuke dengan nada dinginnya.
Sedangkan Sasuke dalam versi dewasa terus mengamati setiap moment itu dengan penyesalannya. Pantas Naruto sangat membencinya, dia begitu jahat mengatakan itu pada kekasihnya tanpa menjelaskan alasan yang sebenarnya dan kenapa Ia melakukan pernikahan itu.
Dengan segala tangis kesedihannya Naruto bangkit berdiri dan berjongkok dihadapan Sasuke dengan tatapan memohonnya. "Tidak teme! Kau tidak bisa melakukan ini teme! Aku membutuhkanmu!" Mohon Naruto parau.
Seolah menulikan telinganya Sasuke mulai bangkit berdiri meninggalkan Naruto yang masih berjongkok di tempatnya. Naruto langsung mengusap kasar airmatanya dan mengejar keberadaan Sasuke. "Teme, kau pasti bercanda'kan?! kau tidak mungkin meninggalkanku seperti ini! Kita saling mencintai" kata Naruto mencoba meyakinkan Sasuke yang terus berjalan menuju mobilnya.
Sasuke masih terdiam, membuka pintu mobilnya dan sedikit mendorong tubuh Naruto agar ia bisa masuk kedalam lalu menutup pintu mobilnya. Naruto menangis sambil memukul kaca jendela mobil Sasuke. "Kau tidak boleh meninggalkanku Sasuke! Tidak boleh! Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku setelah apa yang kita lakukan, Sasuke! Tapi kenapa sekarang kau mengingkarinya?!"
Sasuke dalam versi dewasa terus mengamati kejadian itu dengan tatapan penyesalannya. Dia ingat, saat itu dia sengaja memutar musik dengan suara yang sangat keras hingga dia tidak mendengar suara Naruto dari luar. Namun hari ini, dia mendengarnya. Sasuke mendengar semua yang dikatakan Naruto hari itu.
Naruto mengejar mobil Sasuke sambil terus memukul jendela mobil Sasuke yang mulai berjalan. "Sasuke, jangan pergi!" Naruto sedikit berlari sambil memegangi perutnya yang masih datar. "Kami membutuhkanmu, Sasuke! Aku sedang mengandung anakmu teme! Jangan tinggalkan kami!"
Sasuke mulai menambahkan kecepatannya hingga Naruto tidak mampu lagi mengejar mobil Sasuke. Dengan sisa tenaganya, Naruto kembali berteriak. "Aku akan menunggumu teme! Aku akan menunggumu ditempat favorite kita, teme!" Naruto jatuh bersipuh di jalanan. "Aku hamil Sasuke! Hiks...hiks... Jangan tinggalkan kami!Hiks...hiks...hiks"
Sasuke tercengang hebat dengan apa yang ia dengar saat ini. Dia tidak menyangka hari itu, dia melewatkan pernyataan penting dari Naruto.
.
.
.
"Kami membutuhkanmu, Sasuke! Aku sedang mengandung anakmu teme! Jangan tinggalkan kami!"
"Aku hamil Sasuke! Hiks...hiks... Jangan tinggalkan kami!Hiks...hiks...hiks"
Kata-kata Naruto seolah terus terngiang di kepalanya secara berulang-ulang. Kedua tangan Sasuke bergetar menutup kedua daun telinganya dengan raut penyesalannya. Sasuke kembali dibuat bingung, tiba-tiba sekarang ia berada di sebuah supermarket tempat ia bertemu dengan Naruto tadi siang. Ia melihat Naruto dalam versi dewasa sedang berdiri dihadapannya dengan tatapan kebencian.
"Kau tidak hanya meninggalkanku, Sasuke! kau meninggalkan kami!"
Sasuke mencoba menggenggam tangan Naruto dihadapannya. "Tidak Naruto! Maafkan aku, aku tidak tahu bila kau sedang~"
"~Aku membencimu Sasuke! Aku sangat membencimu!" Kata Naruto memotong perkataan Sasuke.
"Tidak dobe! dengarkan aku! aku menikahi wanita itu hanya sebagai~" Sasuke mencoba menjelaskannya pada Naruto, namun tiba-tiba sosok Naruto dihadapannya semakin memudar hingga akhirnya hilang dari hadapannya.
"Naruto!"
Sasuke terbangun di dalam kamarnya dengan bulir-bulir keringat dingin. Ia menatap Sarada yang tertidur di sampingnya lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju ke balkon kamarnya. Udara di malam hari dikota ini terasa lebih sejuk bila dibandingkan tempat tinggalnya di Amegakure. "Mimpi itu?! Apa maksud mimpi itu?!" Gumam Sasuke bertanya pada dirinya sendiri.
Sasuke mengepalkan tangannya erat. "Kado itu?! Aku harus menemukannya dan membukanya!" Sasuke mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang.
"Hn, pesankan aku tiket ke Amegakure pada jam penerbangan pertama besok"
"..."
"Hn"
Sasuke memutus sambungan telepon dari seberang kemudian menghela nafas berat. Pikirannya kembali melayang memikirkan semua mimpinya. Apa maksud mimpinya tadi?!
Benarkah saat itu dobe-nya sedang mengandung?! Mengandung anaknya?!
'Tuhan, aku mohon bantu aku mencari semua kebenaran ini. Jika mimpi itu benar adanya, kali ini aku tidak akan melepaskannya Tuhan' ucap Sasuke dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai-hai para readers sekalian...
Chapter 5 sdh update yeayyy... \{^•^}/
Gmn nih menurut kalian? Apa msh ada yg bingung dg hubungan antara Naruto-sasuke-gaara dan sasori? (-_-)?
Dan menurut kalian kira-kira kalian dukung siapa nih ?
#Team Sasuke?
#Team Gaara?
#Team Sasori?
Sedikit cuap-cuap dr etha nih,
Utk ff ini alurnya bakalan maju mundur gitu, sesuai dg kebutuhan cerita. Dan etha minta maaf bgt klo misal bnyk kekurangan etha dlm menulis smua ff ini, semoga kalian mau tetap dukung smua ff aku hingga tamat.
Btw, ff apa salahku gtw kpn etha update lg nih, blm etha periksa n revisi. N buat kalian yg emang gk sabar bwt ff apa salahku, boleh baca di wattpad aku dg id ethatata. Dsna ak jg bs lgsg jawab pertanyaan kalian atau mungkin yg mau ajak bincang-bincang aku, mending lewat sma aja yaahhh{°}. Ak emang lbh dlu up dsna cs dsna gmpng bwt nulis, edit n nyimpen draftnya sih :P
See u next chapter yah guys...
Selasa, 04 april 2017
Ethatata
