Salah Sasaran (Jaemin Side)

Author : Cho Minseo

Cast :

Huang Renjun

Na Jaemin

Huang (Wang) Junkai (GS)

Lee Haechan

Mark Lee

Summary :

Karena bosan di rumah, Jaemin memutuskan pergi ke café milik adik ibunya. Tanpa diduga dia pertemu sang gebetan di sana. Jaemin rasa hari minggu kali ini hari keberuntungannya.

Rate : T

Genre :

Romance, sedikit Humor

Warning :

BxB, Yaoi, gs juga, summary ancur, alur cepat, cerita aneh, bahasa berbelit-belit, harap maklum kalo sulit dipahami, and mian for typo.. hehe

-oO0Oo-

Setelah berpikir-pikir akan sangat membosankan bila seharian di rumah, Jaemin rasa ada baiknya dia pergi keluar dari rumah. Mengunjungi teman mungkin, atau jalan-jalan di sekitar taman kota mumpung masih belum terlalu siang, setelahnya mampir di café milik ahjumma Lee. Yang terakhir merupakan ide yang bagus. Apa sebaiknya dia mengajak Haechan? Tidak buruk juga, setidaknya dia tidak sendirian. Sekalian mengakrabkan Haechan dengan calon mertua – ahjumma Lee.

Jaemin membuka kunci layar ponselnya, mencari nomor ponsel Haechan.

"Haechan, diawali huruf H. Emm, D, E, G, H. Haechan-ssi eodi? Oh, ini dia." Jaemin langsung menekan tombol untuk menelpon.

"Hallo my best friend.. Sudah lama kita tidak berjumpa." Jaemin basa-basi setelah Haechan mengangkat panggilan darinya.

"Huh, gayamu sok-sokan Jaemin. Bukankah kemarin kita menstalk gebetanmu bersama-sama?" Haechan datar setelah mendengar sapaan tidak bermutu yang dilontarkan Jaemin.

"Hehehe, iya yaa. Aku lupa." Jaemin cengengesan(?).

"Ada apa?" Haechan singkat.

"Ayo, kita pergi keluar, jalan-jalan ke taman kota, lalu mampir di café milik eomma Jeno hyung!" Ajak Jaemin.

"Aku ingin pergi sih, siapa tahu di sana ketemu Jeno di sana sekalian mengakrabkan diri pada calon mertua."

"Karena itu ayo kita pergi."

"Tapi sayang hari ini aku tak bisa Jaemin, aku sedang di rumah halmoni sekarang. Maaf yaa.."

"Ohh.. Ya sudah lain kali saja kita kesana, aku hari ini pergi sendirian saja." Jaemin lesu memikirkan dirinya akan pergi sendirian.

"Aku titip salam kalau kau bertemu Jenoku sayang di sana. Katakan padanya aku akan segera melamarnya."

"Kau gila Haechan. Bahkan kalian belum resmi jadian, bisa-bisanya kau berniat melamar Jeno hyung duluan."

"Jaman sekarang uke juga harus menjunjung tinggi emansipasi(?) uke. Kalau kita tidak cepat-cepat kita akan keduluan orang Jaemin."

"Huh, kau saja yang uke, aku seme. Sorry yaa tak level."

"Dasar teman tak setia, mentang-mentang punya gebetan berwajah uke. Tapi siapa tahu 'dia' sesungguhnya seme."

"Tidak mungkin, 'dia' uke sejati."

"Dari mana kau tau 'dia' uke sejati, mendekatinya saja kamu tidak berani. Aku bertaruh kalau kau dan 'dia' jadian 'dia' pasti ada diposisi seme. Ngakunya seme tapi tak berani melakukan pendekatan."

"Baiklah kalau begitu, aku akan mendekati 'dia' dan langsung menembaknya."

"Okay, aku tunggu kabar tersebut, man. Semoga kau tak ditolak. Huahahaha…"

"Itu tidak akan terjadi, tidak ada yang berani menolak pesona ketampanan seorang Na Jaemin."

"Huh, kau terlalu narsis. Kita sudahi pembicaraan ini, aku sudah dipanggil-panggil halmoni dari tadi, bye.. Jangan lupa sampaikan salamku pada Jenoku tersayang. Muah Jaeminnie."

"Hoeekk, bye Haechannie."

Jaemin memutus panggilannya dengan Haechan dan bergegas menuju kamar mengambil dompet, setelah memastikan penampilannya hari ini di cermin Jaemin keluar dari kamarnya berpamitan pada sang ibu yang tengah berkutat dengan kue bolu cokelatnya.

CUP

"Eomma, aku pergi keluar sebentar yaa." Pamit Jaemin setelah memeluk Joonmyeon dan mengecup pipinya.

"Pergi kemana, sayang?" Tanya Joonmyeon masih berkutat dengan adonan kue bolunya.

"Ke taman kota setelah itu mampir ke café Sehun ahjumma, eomma." Jaemin melepas pelukannya.

"Baiklah, hati-hati di jalan. Sampaikan salam eomma pada Sehunnie." Joonmyeon membuat bulatan-bulatan kecil lalu ditaruh pada loyang.

"Nee, eomma aku pergi dulu. Annyeong."

Tanpa menunggu respon Joonmyeon, Jaemin langsung melesat keluar dapur menuju bagasi untuk menjemput teman yang akan mengantar Jaemin jalan-jalan, yaitu motor matic kesayangannya. Setelah mengeluarkan motor kesayangannya, Jaemin menstater(?) motornya dan pergi melesat meninggalkan rumah.

-oO0Oo-

Suasana di taman kota memang selalu ramai, apalagi pada hari minggu seperti ini, uhh sangat ramai. Banyak yang datang bersama keluarga mengadakan piknik kecil-kecilan, sepasang kekasih yang memilih ke sini untuk berkencan, ada yang mengajak peliharaannya untuk jalan-jalan, dan ada juga yang hanya melamun di kursi panjang yang memang disediakan untuk pengunjung taman. Salah satu orang yang melamun itu adalah Jaemin. Ya elah, buat apa datang ke sini kalau ujung-ujungnya melamun (Kata sang author).

Okay, abaikan. Kita lanjut menelisik Jaemin lebih dekat.

Ternyata dia bukan hanya sekedar melamun, tapi dirinya sedang memikirkan cara untuk mendekati sang gebetan. Ouh, pantesan Jaemin dari tadi cuma diam saja.

"Uh, bagaimana cara mendekatinya yaa. Secara aku dengannya beda sekolah. Apakah aku harus pura-pura nyasar sampai sekolahnya? Hmm, boleh juga. Tapi kalau dia cuek dengan orang lain bagaimana? Ah, itu tidak mungkin, wajahnya saja menunjukkan kalau dia orang yang baik." Jaemin mengangguk-anguk, "Patut untuk dicoba. Baiklah, besok aku akan pura-pura tersesat di depan sekolahnya."

"Sepertinya hari sudah siang," Jaemin melihat jam tangan, "Pantesan, hampir jam setengah sebelas. Sebaiknya aku ke café sekarang." Jaemin beranjak dari duduknya menuju motor matic kesayangannya terparkir. Lalu bergegas menuju café milik ibu Jeno yang sebenarnya adik dari ibunya. Tunggu dulu, bukankah seharusnya Jaemin yang dipanggil hyung? Itu seharusnya sih, tapi Jenonya yang tak mau. Secara dia lahir terlebih dulu dari Jaemin – padahal cuma berjarak empat bulan – jadi dia ngotot menyuruh Jaemin memanggilnya hyung, Jaemin yang saat itu masih kecil hanya mengangguk-anguk mengerti lalu dengan polosnya memanggil Jeno dengan embel-embel hyung. Sejak saat itulah dirinya terbiasa memanggil Jeno, Jeno hyung.

Sesampainya di depan café, Jaemin memakirkan motornya dan memasuki café itu. Seolah milik sendiri, Jaemin memasuki ruangan yang merupakan ruangan khusus untuk Sehun setelah dirinya bertanya pada Jaehyun yang sedang berjaga di kasir.

"Sehun ahjumma, aku bermain ke sini boleh?" Jaemin dengan senyum lebarnya menyapa adik ibunya.

"Tentu saja boleh, Jaemin sayang. Kapanpun kau boleh berkunjung kemari." Sehun menghampiri keponakannya dan memeluknya erat.

"Mau pesan apa?" Sehun setelah melepas pelukannya dan mengajak Jaemin duduk di sofa.

"Nanti saja ahjumma. Jeno hyung di mana?"

"Ada di rumah, adikmu itu tak mau ahjumma ajak ke mari, bosan katanya kau sering-sering ke mari." Jangan bingung kalau Sehun menyebut Jeno 'adikmu', bukankah memang seharusnya begitu?

"Oh, padahal di sini aku betah ahjumma. Sayang dong kalau begitu."

"Kenapa memangnya?" Sehun penasaran.

"Itu ahjumma, sebenarnya tadi aku mau mengajak temanku untuk ke sini. Tapi dianya sedang di rumah halmoninya. Dan dia titip salam ke Jeno hyung, katanya sebentar lagi dia akan melamar Jeno hyung."

"Wow, temanmu itu cukup agresif juga yaa.. hahaha, ahjumma tak menyangka adikmu akan dilamar oleh temanmu itu."

"Iyaa, katanya emansipasi uke, dia harus bertindak cepat sebelum keduluan orang lain."

Perkataan Jaemin membuat Sehun tertawa keras, "Aigoo, siapa nama temanmu itu?"

"Haechan, Lee Haechan ahjumma."

"Seperti pernah mendengar namanya, tapi ahjumma lupa."

"Benarkah, wow. Haechan cukup terkenal juga ternyata. Baiklah kalau begitu, aku mau ke bawah dulu ingin pesan minum, sudah haus." Jaemin berdiri, "Oh, iyaa.. tadi eomma titip salam ke ahjumma."

"Sampaikan juga ke eommamu salamnya sudah ahjumma terima." Sehun turut berdiri, "Nikmati pesananmu, Jaeminnie."

"Neee, aku ke bawah dulu ahjumma."

"Iyaa sayaang."

-oO0Oo-

Setelah memesan minuman dingin Jaemin duduk di dekat jendela kaca yang menyajikan pemandangan di luar café, sambil bermain ponsel Jaemin menyeruput dikit demi sedikit minuman yang dipesannya.

Karena terlalu asik dengan dunianya, Jaemin mengacuhkan bisik-bisikkan pengunjung perempuan di café yang membicarakan ketampanannya.

"Kalian lihat, pemuda itu tampan. Aku jadi ingin menjadi pacarnya."

Jangan harap, hatiku sudah ada yang memiliki.

"Astaga, dia bukan cuma tampan, dia juga imut, manis. Aku suka."

Apa katanya 'imut, manis' oh, kalian enyahlah sekarang juga. Jaemin mendengus mendengarnya. Dirinya itu tampan, bukan imut apalagi manis. Kembali berkutat dengan ponsel, Jaemin menulikan telinganya, Jaemin tak mau mendengar pembicaraan mereka lagi. Ketika dirinya fokus, tiba-tiba sesuatu yang lembut dengan lancang mendarat di pipinya.

CUP

"Annyeong Lee Sunbae. Apa sunbae sudah terlalu lama menunggu? Dan aku sudah memenuhi janjiku."Seorang gadis tersenyum manis memamerkan gingsulnya sambil jari telunjuknya menyentuh halus pipinya sebagai isyarat 'aku sudah memenuhi janjiku'. Lalu dengan seenaknya duduk di hadapan Jaemin.

Mendapat perlakuan mendadak dari gadis itu membuat Jaemin terkejut, tapi langsung disembunyikannya dengan cepat.

Bukankah dia Junkai? Kenapa dia memanggilku 'Lee Sunbae'?

"Wah, sunbae sudah memesan duluan yaa? Di lihat dari minuman sunbae yang tinggal setengah sepertinya sunbae sudah datang dari tadi. Apa sunbae sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganku makanya sunbae datang duluan? Maaf yaa sunbae, karena janjian kita jam 11 dan sekarang masih jam 11.05 jadi aku tidak terlalu terlambat datangnya."

"Hmm." Jaemin bergumam dirinya masih penasaran kenapa Junkai memanggilnya Lee sunbae. Bukankah seharusnya dia tahu kalau aku Jaemin, bukan Lee sunbae? Yeah, karena memang aku dan dia teman satu sekolah satu tingkat tapi beda kelas saja, bukankah dia teman sekelas Haechan. Atau jangan-jangan? Jaemin tersenyum setan dalam hati. Baiklah Renjunnie sayang aku ikuti permainanmu.

Dengan canggung Renjun tertawa lirih, "Baiklah, karena sunbae sudah memesan, aku juga akan memesan sekarang." Renjun meraih buku menu dan membukanya.

Jaemin tidak mengalihkan pandangannya pada Renjun, melihat Renjun sesekali meliriknya dari balik buku menu. Saat pandangan mereka bertemu pipi Renjun bersemu merah, lalu segera dia menutupi mukanya dengan buku menu.

Aigoo, sayang. Kau membuatku semakin mencintaimu. Ingin deh, mencubit pipi menggemaskanmu.

Dengan salah tingkah, Renjun memusatkan pandangannya lagi ke buku menu yang berisi makanan-makanan yang terlihat menggiurkan.

"Junnie." Sebuah suara membuat Renjun mengalihakan pandangan pada daftar menu makanan yang tadi dipandangnya.

"Nee." Renjun menjawab sapaan yang sebenarnya ditunjukan untuk adiknya.

"Maaf aku datang terlambat." Kata seorang pemuda berjaket biru tua, berambut cokelat tua berantakan belah tengah, kulit putih di hadapannya.

Oh, jadi dia ingin bertemu dengan Mark hyung. Huh, tidak bisa dibiarkan.

"Jaemin, kau juga di sini?" Pertanyaan pemuda yang baru datang pada pemuda di hadapannya membuat Renjun semakin tambah bingung.

"Hmm." Jaemin menanggapi Mark singkat.

"Tak ku sangka kau juga mengenal Jaemin, Junnie?" Renjun semakin bingung mendengarnya.

"Jae.. min?" Renjun ragu, menatap iris mata Jaemin.

"Atau kalian baru saja berkenalan, maafkan aku Junnie, membuatmu menunggu lama sehingga kau berkenalan dengan Jaemin untuk menghapus rasa jenuhmu." Mark yang baru datang itu masih betah dengan posisi berdirinya.

"Jaemiin..?!"

"Dasar bodoh." Maaf, sayang. Aku hanya ingin terlihat cool dihadapanmu.

"Apa katamu, Jaemin-ssi?" Bentak Renjun kalap. Membuat dia lupa bahwa dia sedang menyamar menjadi adiknya yang kalem ketika di hadapan laki-laki.

"Kalian akrab sekali. Junnie kenapa suaramu sedikit memberat yaa? Atau hanya perasaanku saja?" Jelaslah, dia bukan Junkai, tapi kakak kembar laki-lakinya. Dasar Mark hyung bodoh.

"Mmm, ituu.. sebenarnya aku sedang sedikit tidak enak badan." Renjun berusaha menyembunyikan kegugupannya. Takut penyamarannya terbongkar.

"Seharusnya kita batalkan saja kencan kita hari ini, aku takut kau jadi tambah sakit."

"Eh, tidak apa-apa kok Lee sunbae."

Saat mereka sibuk mengobrol, kesempatan itu Jaemin gunakan untuk mengirim pesan terhadap seseorang.

To: Jeno (menyebalkan) hyung

Hyung cepat suruh Mark hyung pergi dari hadapanku, atau kalau tidak kau lakukan, akan aku adukan kau ke Sehun ahjumma, kalau hyung mengoleksi berbuku-buku majalah dewasa.

Drrt.. Drrtt..

Jeno hyung ternyata takut terhadap acamanku, baguslah. Jaemin menduga Jeno menelpon Mark.

Melihat siapa yang menghubunginya membuat Mark mengurungkan perkataan yang akan di bicarakannya pada Renjun.

"Bentar yaa Junnie."

"Ahh, nee." Mendengar jawaban Renjun, Mark segera keluar café untuk mengangkat panggilan yang di terimanya.

"Jadi, namamu Jaemin bukan Mark Lee?" Renjun setelah Mark pergi meninggalkan mereka berdua.

"Bodoh." Maafkan aku, bukan maksudku untuk mengataimu bodoh, kau pintar sayang. Pintar membawa hatiku kabur.

"Mwo? Apa katamu?!" Renjun mencengkeram kerah baju Jaemin.

"Jadi begini tingkah seorang perempuan."

Tersadar akan kesalahan yang di lakukannya, Renjun melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk dengan anggun.

Lucunya.

"Mian. Kenapa tidak bilang dari awal?" Renjun memelankan suaranya.

"Kau saja yang tidak tanya." Jaemin sinis – pura-pura.

Renjun kesal menyadari kesalahannya.

Hentikan agyeomu itu, sayaang. Sebelum aku kelepasan.

"Aku baru tahu, ada seseorang yang memiliki janji mencium pipi," Jaemin menunjuk pipinya, "Tapi tidak tahu siapa yang diciumnya."

Renjun gelagapan mendengar pernyataan Jaemin, "Bukan begitu, mmm.. hanya saja.. hanya saja.."

"Junnie, sepertinya kencan kita tertunda. Maaf yaa, lain kali saja kita pergi kencannya, aku ada urusan mendadak." Ucapan Mark memotong pembicaraan Renjun. Bagus cepat pergi sana, hush hush.

"Gwaenchana sunbae, janjinya sekarang saja sunbae." Renjun menunjuk-tunjuk pipinya pelan.

Jaemin melotot melihat isyarat Renjun. Jangan sayang, bibirmu hanya milikku.

"Ahh, baiklah." Mark tersenyum lebar mendengar pernyataan Renjun.

Tak akan aku biarkan.

"Hyung, bukankah hyung memiliki janji dengan Jeno hyung?"

"Iyaa, aku tahu. Tapi setelah ini kan bisa?"

"Bukankah hyung tahu Jeno hyung tidak suka menunggu?" Jaemin dengan nada memerintah mutlaknya.

"Okay.. okay.. aku pergi sekarang. Junnie ciumnya kapan-kapan saja yaa. Bye…" Mark meninggalkan mereka berdua lagi.

"Baiklah, karena urusanku sudah selesai aku juga mau pulang sekarang. Bye Jaemin-ssi."

Ouh, tidak semudah itu kau pergi sayang. Kau harus bertanggung jawab karena telah membawa hatiku pergi bersamamu.

Jaemin langsung bergegas berdiri dan menyusul Renjun setelah selesai membayar minuman yang tadi dia pesan.

Dengan langkah cepat Jaemin menyusul Renjun yang sudah di luar café dan mencengkram lengannya membuat Renjun menghentikan langkahnya.

"Yak, apa-apaan kau Jaemin-ssi?" Renjun setelah berhadapan dengan Jaemin.

"Aku? Aku mau menagihmu sesuatu." Jaemin menatap mata bening Renjun.

"Aku belum memesan sesuatu, jadi kau tidak perlu menagih uang untuk membayar sesuatu yang bahkan tidak aku pesan."

Aku sudah tak tahan, sekarang kesempatanmu Jaemin. Jangan kau sia-siakan. Jaemin menatap intens Renjun mendekatkan wajahnya mencium bibir Renjun dan sedikit melumatnya, lalu melepasnya.

Hentikan ekspresi menggemaskanmu itu. Jaemin kembali mendaratkan bibirnya di bibir manis Renjun, kali ini hanya menempel lebih lama.

Renjun mendorong Jaemin membuat ciuman mereka terlepas paksa, "Yak apa yang kau lakukan?!" Teriak Renjun setelah tersadar apa yang dilakukan Jaemin pada dirinya.

"Aku menciummu."

"Aku juga tahu kau menciumku, maksudku kenapa kau menciumku?"

Polosnya kekasihku, kekeke. "Aku mau menagih kembali ciumanku."

"Okay, aku memang mencium pipimu tanpa ijin.. aku minta maaf. Tapi seharusnya kau menciumku di pipi bukan di bibirku Jaemin-ssi."

CUP

"Seperti ini." Ujar Jaemin setelah mencium pipi Renjun.

"Iyaa seperti itu."

"Yaakk kau menciumku lagi…" Jaemin terkekeh mendengar rengekan Renjun.

"Okay, lupakan soal itu. Kenapa kau menciumku dua kali?"

"Karena kau mencium Mark hyung."

"Kau banyak alasan Jaemin-ssi, aku belum mencium Mark sunbae."

"Jangan sampai kau mencium orang lain, selain Na Jaemin, Renjunnie." Bisik Jaemin di telinga Renjun.

"Bagaimana kau tahu namaku?" Renjun terkejut mengetahui Jaemin tahu namanya. Itu gampang sayang, hanya aku dan Haechan yang tahu kau saudara kembar Junkai.

"Rahasia. Ayo aku antar pulang." Jaemin merangkul bahu Renjun mengajaknya pulang, "Minggu depan kita kencan, tanpa kau menyamar jadi perempuan Renjunnie."

CUP

"Sekarang kau pacarku." Ujar Jaemin setelah mengecup pipinya sekali lagi. Haechan, sekarang aku benar-benar jadian dengan gebetanku. Ku dahului kau, terbukti kan kalau aku seme sejati. Hahaha.

-oO0Oo-

.

.

END

Kelar juga, tinggal sequelnya. Buat yang nunggu ini terlalu lama, mian yaa.. aku lagi males ngetik wkwk… Buat Cheon Yi makasih udah selalu ngingetin di setiap kamu review di ff ku yang lain…

Balesan review;

ludfidongsun: hehee, mian. Soalnya aku menganut harem renjun, siapapun pasangannya asalkan renjun uke semua lucu menurut pandanganku..

nichi: Jaemin bukan satu sekolah sama renjun, tp sama adiknya..

JaeEun21: sequelnya kamu tunggu aja yaaa…

Guest1: kencan ala mereka berdua? Mmm, itu masih rahasia..

B8jaemjaem: harap ditunggu sequelnyaa…

FujoshGirl: emang jaemin stalker renjun..

It's YuanRenKai: mian aku buat junkai jagi gs, hanya untuk keperluan cerita.. habis bingung sihh kalo member nct dream gg ada yg mirip renjun..

nhy17Boonon: adiknya renjun bukan jahat sih, Cuma dia ingin membuat oppanya keluar rumah, tp rencananya terlalu ekstrimm…

kono Ouji sama ga inai: jaemin modus kkkk

renjun23: abis dia rambutnya orange sihh, waktu liat pertama kali aku langsung inget Pain dehh

Cheon Yi: aku harap sih kedepannya mereka punya momen

lyracheonsa: KAK LY, KANGEN /bales peluk kakak kenceng-kenceng/ emang langka banget kak, mangkanya aku sekali-kali ingin buat ff mereka. Mark langsung ninggalin renjun karna di ancem sama jeno wkwk. Jaemin udah sering ketemu sama renjun kak, kan dia stalker sejati renjun. Renjun trima dicium Jaemin karena Jaemin termasuk pacar idamannya.

nrlyukkeuri96: kakak tunggu aja sequelnya… aku buat momen mereka lucu-lucu gimana gituhh sampe yg baca bingung hahaha

Tabifangirl: anak-anakku memang lucu wkwk

Guest2: aduh cup cup jangan nangis sayang, habis mau gimana lagi aku kepikirannya gituhh.. kamu bayangin aja dia bukan junkai, hanya pinjam nama..

Okay, review kalian mana?

Sign

Minnie