Marriage

Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja 😁😁😁

Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasori-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita 😝😝😝

Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee 😜😜)

Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.

Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay 😜😜

Info umur karakter :

1. Uzumaki Naruto : 29 tahun

2. Uchiha Sasuke : 30 tahun

3. Akasuna Sasori : 30 tahun

4. Sabaku Gaara : 30 tahun

5. Haruno Sakura : 29 tahun

6. Uchiha Sarada : 6 tahun

.

.

.

.

.

Chapter 8 : Penyesalan

.

.

.

.

.

Selamat membaca! 😉😉😉

.

.

.

~0~0~0~

Sasuke membuka pintu mansion kediamannya dengan sangat keras, bahkan hampir seluruh maid yang bekerja dirumahnya tidak berani menyapa Sasuke yang terlihat sangat marah.

Mikoto berjalan tergopoh-gopoh membawa Sarada dalam gendongannya. "Sasuke kau sudah pulang? Kenapa cepat se~"

"~Sasuke!" Panggil Mikoto sekali lagi saat ia melihat putranya tidak menggubris perkataannya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.

Mikoto menyerahkan Sarada pada baby sitter kepercayaan keluarganya dan mengejar Sasuke ke dalam kamarnya. Mikoto tahu, putranya ini pasti sedang menghadapi masalah yang besar sehingga dia menjadi uring-uringan tidak jelas seperti ini...

Mikoto dapat melihat Sasuke mengobrak-abrik seluruh isi kamarnya, membuat kacau kamarnya yang sudah susah payah dirapikan oleh Mikoto sendiri saat mendengar putranya akan datang. "Sasuke kau sedang mencari apa? Mengapa kau mengacaukan seluruh isi kamarmu? ibu sudah merapikan kamarmu dengan susah payah tadi!"

Sasuke masih mengobrak-abrikkan isi kamarnya mencari sebuah benda kecil yang tidak pernah disentuhnya sejak tujuh tahun terakhir. "Bu, apa ibu melihat kotak kado berbentuk balok kecil berwarna merah maroon di kamar ini? Aku masih ingat, tujuh tahun yang lalu aku menyimpan benda itu di lemari ini"

"Tunggu! Sepertinya ibu pernah melihatnya!"

Sasuke langsung menghampiri Mikoto dan menuntun ibunya untuk duduk di pinggir ranjangnya. "Dimana bu? Katakan padaku, dimana benda itu?"

"Ibu ingat, sepertinya kotak itu disimpan oleh Samui di lemari di kamarnya"

Sasuke mengernyitkan keningnya heran. "Bagaimana bisa kotak itu, berada di kamar kak Samui bu?"

Mikoto menggelengkan kepalanya pelan. "Samui bilang itu adalah hadiah yang kau berikan atas pernikahan kalian"

"Tidak bu! Kotak itu adalah hadiah dari seorang wanita yang telah aku campakkan bu!" pungkas Sasuke lalu berlari menuju kamar yang dimaksud. Sampai di kamar itu Sasuke menemukan sebuah kotak yang Ia cari, tersimpan rapi diantara tumpukan baju di lemari.

Melihat dari tampilan pitanya yang telah terbuka, sepertinya kotak itu pernah dibuka oleh seseorang...

Dengan gemetar, Sasuke membuka perlahan kotak kado berwarna merah maron itu...

Kotak itu berisi sebuah testpack yang dihiasi pita kecil berwarna merah. Dengan tangannya yang gemetar, Sasuke mengambil benda pipih berwarna putih.

Dua garis merah?!

Naruto hamil?!

Naruto hamil, darah dagingnya dan Ia mencampakkan wanitanya dalam keadaan mengandung darah dagingnya? Semua mimpinya itu, ternyata adalah petunjuk Tuhan kepadanya selama ini!

Kenapa aku bisa sebodoh ini! Saat itu, Naruto pasti ingin menyampaikan ini kepadaku dan dengan teganya aku tidak mau mendengarkan perkataannya dan malah pergi meninggalkannya dalam keadaan mengandung, sesal Sasuke dalam hati.

Mikoto menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat melihat benda apa yang berada di dalam kotak itu. Sebuah testpack dengan dua garis merah terpampang disana. Mikoto tahu apa arti dua garis merah itu...

"Sasuke, i-itu testpack siapa?" tanya Mikoto lirih tanpa menghilangkan rasa keterkejutannya.

Sasuke menangis dengan penuh penyesalannya. "Ini testpack milik wanita yang selama ini selalu aku cintai bu. Aku pria yang brengsek bu! Aku meninggalkannya dalam keadaan sedang mengandung darah dagingku, bu! Pantas saja dia begitu membenciku setelah tujuh tahun kita tidak bertemu, bu!" Jawab Sasuke tanpa melepaskan pandangannya dari benda pipih berwarna putih itu.

Mikoto ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putranya. Bagaimanapun ini semua adalah kesalahannya, Sasuke terjebak dalam keadaan ini karena memenuhi permintaannya. Sebagai seorang ibu, Mikoto merasa gagal menjadi ibu yang baik bagi putranya.

"Maafkan ibu, Sasuke! Kalau saja ibu tidak memaksamu menikah dengan Samui, mungkin kau akan hidup bahagia dengan wanita itu dan buah hati kalian. Maafkan ibu! Maafkan ibu!"

"Bu, aku mohon tinggalkan aku sendiri bu!" pinta Sasuke tanpa memandang ibunya.

"Tapi Sasuke, kau~"

"~aku mohon bu! Aku butuh menyendiri, saat ini!" potong Sasuke dengan tatapan memohonnya. Mikoto mengangguk dan pergi meninggalkan Sasuke yang terlarut dalam kesedihannya.

.

.

.

.

.

Marriage

.

.

.

.

.

Sasori berlari masuk kedalam sebuah klub elite dengan perasaan cemas. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut klub ini yang penuh dengan hingar bingar musik yang keras dan lampu disko yang berwarna-warni.

Sasori melihat orang yang ia cari sedang tertidur dimeja di dampingi oleh dua orang yang sangat ia kenal yakni, Ino dan Sai. "Akhirnya kau sampai juga, captaint! Aku sudah kewalahan menghadapi kekasihmu ini! Kekasihmu ini benar-benar luar biasa saat dia mabuk!" keluh Sai sambil menunjuk Naruto yang tertidur di meja. "Kau tahu, tariannya tadi sangat luar biasa. Aku yakin, semua pria di klub ini pasti menginginkan wanitamu untuk menghangatkan ranjang mereka!" Lanjut Sai dengan seringaian nakalnya.

Sai mendekatkan wajahnya pada telinga Sasori yang memerah. Sai tahu, Sasori adalah typikal pria pencemburu. Dia ingin melihat, seberapa serius sahabatnya itu kepada wanita ini. "Sepertinya dia terlihat sangat hebat diranjang, Sasori! Pilihanmu memang tidak pernah salah! Kalau aku belum mempunyai Ino-chan, mungkin malam ini aku akan menghabiskan malamku bersamanya diatas ranjang dan saling berbagi kehangatan yang menggairahkan" bisik Sai menggoda Sasori.

Sasori langsung mendorong Sai untuk menjauh darinya. "Hentikan pikiran jorokmu sekarang juga!" Telunjuk Sasori teracung tepat di depan wajah Sai. "Aku tidak akan segan-segan menghajarmu, bila kau masih memikirkan hal yang tidak-tidak tentang dia! Kau mengerti?!"

Sai langsung mendapat sikutan dan pelototan mata dari Ino, saat Ia tertawa terbahak-bahak melihat keposesifan Sasori terhadap Naruto. Bahkan ia tidak bisa menghentikan tawanya walau Ino telah mencubit lengannya dengan sangat keras, hingga membiru.

"Captaint, tolong bawa sahabatku ini dengan utuh dan selamat. Entah apa yang akan dikatakannya nanti, kau jangan terlalu mendengarkan ucapannya. Dia sedang mabuk saat ini!" tambah Ino pada Sasori.

Sasori mengangguk sebentar dan menggendong Naruto yang hampir tidak sadar ala bridal style. "Kau mau membawaku kemana 'hm?! Aku masih ingin minum!" Racau Naruto dalam dekapan Sasori.

"Tidak Naru, kau sudah sangat mabuk saat ini!"

Naruto memukul dada bidang Sasori. "Tapi aku masih ingin menari disini! Turunkan aku!" Pinta Naruto.

Sasori terus menghiraukan perkataan Naruto dan membawa Naruto masuk kedalam mobilnya lalu membetulkan sabuk pengaman untuk wanitanya. Sasori menghembuskan nafas lega, saat Naruto tertidur di dalam mobilnya. Dengan sebelah tangannya yang tidak ia gunakan untuk mengemudi, Sasori membelai wajah Naruto tersenyum tipis menatap wajah damai wanitanya.

"Gaara?!" Racau Naruto dalam tidurnya.

Sasori tersenyum miris. Jadi ini alasan Naruto menumpahkan keluh kesahnya pada alkohol?

"Kau sama brengseknya dengan dia, Gaara! Kau meninggalkanku disaat aku mulai mencintaimu" ucap Naruto kembali meracau.

Sasori langsung meminggirkan mobilnya saat Naruto tiba-tiba terbangun dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa kau tidak mengatakan langsung kepadaku tentang kondisimu. Aku akan menerima kondisimu dan tidak berharap banyak atas keinginanku itu Gaara!" Naruto mendekatkan wajahnya pada Sasori dan mencium bibir Sasori dengan penuh gairah.

Sasori sendiri mulai merasa kehilangan akalnya dan ikut tersulut dalam gairah yang di timbulkan Naruto. Sasori langsung melepaskan pagutannya saat ia menyadari apa yang dilakukannya saat ini. "Maaf Naru, aku Sasori. Bukan Gaara!" Ucap Sasori dengan sedikit mendorong tubuh Naruto.

Setelah sampai dihotel tempat semua kru maskapai menginap. Sasori kembali menggendong Naruto ala bridal style dan menidurkan kekasihnya di kamar Naruto. Sampai di kamar milik Naruto, Sasori melepas sepatu hak tinggi yang dikenakan Naruto. Dia langsung mengambil kotak P3K dan mengobati kaki Naruto yang lecet.

"Terkutuklah sepatu itu! Aku heran, bagaimana bisa kau memakai sepatu terkutuk itu selama berjam-jam" gerutu Sasori tidak jelas.

Sasori ikut berbaring disebelah Naruto. Ia menyingkirkan semua anak rambut Naruto yang menutupi paras cantik wanitanya ini. "Aku sangat mencintaimu, Naru. Jangan pernah pergi dariku" ucap Sasori tulus lalu mencium kening Naruto. Sasori mengernyit tidak suka, saat aroma alkohol yang begitu pekat kembali menguar menggelitik indra penciumnya. "Kau meminum Tequilla, Naru?! Astaga! Sepertinya aku juga harus mengganti pakaianmu! Maafkan atas kelancanganku, tapi aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu."

Sasori bangkit berdiri dan mengambil satu stel piyama dari dalam koper Naruto. Dia juga mengambil sewadah berisi air hangat dan handuk kecil. Dengan telaten Sasori menyeka seluruh tubuh Naruto, Sasori bahkan berkali-kali menelan ludahnya berusaha meredam hasratnya yang timbul karena melihat tubuh sexy dan mulus milik Naruto.

"Sasori?!"

Naruto membuka matanya dan memanggil Sasori lalu tertawa tidak jelas dan akhirnya menangis kembali. Sasori tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya Naruto masih berada dibawah pengaruh alkohol.

"Apa kau tahu Sasori, ternyata Gaara menceraikanku bukan karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Tapi lebih karena dia yang mandul Sasori! Dia bodoh! Dia bodoh karena tidak mengatakan hal sepenting itu kepadaku! Apa dia tidak berpikir, aku akan menerimanya dalam keadaan apapun?"

Sasori melirik Naruto sebentar lalu kembali menyeka tangan Naruto. "Yah...dia memang pria yang bodoh!" Jawab Sasori.

Naruto kembali menangis putus asa. "Kenapa dia tidak berpikir, saat dulu dia mau bertanggungjawab atas anak yang kukandung walau itu bukan darah dagingnya, dia telah menerimaku dengan apa adanya! Jadi kenapa aku tidak bisa menerima kondisinya juga, aku juga bukan wanita baik-baik!"

Akhirnya Sasori lebih memilih diam dan coba mendengarkan semua cerita yang keluar dari mulut Naruto. Naruto kembali tertawa pedih. "Ahahahaha...tidak!tidak! Dia menceraikanku karena dia merasa aku masih mencintai teme brengsek itu! Hahahahaha dia tidak sadar bila aku benar-benar mulai mencintainya hahahahaha"

"Apa kau masih mencintai Gaara?!" Tanya Sasori hati-hati.

"Cinta?!" Sasori mengangguki ucapan Naruto. "Aku sudah tidak percaya dengan yang namanya cinta! Cinta hanya membuatmu jatuh ke dalam lubang kesengsaraan, Sasori dan aku bukan keledai bodoh yang akan jatuh kedalam lubang yang sama!" Ucap Naruto dengan nada yang dibuat-buat.

"Lalu apa kau mencintaiku?!" Tanya kembali Sasori dengan ragu. Dia tahu, pertanyaan bodohnya ini akan mendatangkan jawaban yang mungkin akan menyakiti hatinya. Selama mereka berpacaran, Naruto bahkan tidak pernah sekalipun membalas ungkapan cintanya dengan sungguh-sungguh.

Naruto menegakkan punggungnya dan menangkup wajah Sasori. "Kau pria yang baik, Sasori! Tapi maaf aku sudah tidak percaya dengan yang namanya cinta! Aku menyayangimu! Sungguh!"

Sasori tersenyum kecut sambil kedua tangannya memakaikan piyama ke badan Naruto. "Aku akan membuat kau kembali mempercayai cinta, Naru! Aku janji!" Ucap Sasori dengan sungguh-sungguh.

Gaara tersenyum lega mendengar semua perkataan Sasori dari balik pintu. Benar...tanpa sengaja, Gaara melihat Sasori menggendong Naruto dalam keadaan tidak sadar. Gaara juga bisa melihat kesungguhan perasaan Sasori dari sikapnya yang begitu menjaga Naruto. Di dalam hati, Gaara lega telah melepaskan wanita itu untuk mendapatkan pria yang baik seperti Sasori...

Setelah pertemuannya kembali dengan mantan rivalnya dulu, Uchiha Sasuke. Gaara merasa pikirannya sangat kacau dan menumpahkannya pada sebotol vodka. Gaara bahkan menyesal telah meminum minuman terkutuk itu, karena gara-gara meminum minuman itu dia meninggalkan Naruto sendirian di restoran dan bahkan dia juga tidak mengingat apa saja yang telah ia katakan pada Naruto. Tapi satu hal yang pasti, Naruto telah mengetahui salah satu rahasia terbesarnya yang selama ini dia simpan rapat-rapat.

Gaara berjalan kembali menuju kamar hotelnya, lalu mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian ia telah terhubung dengan seseorang itu.

"..."

"Ini aku, Gaara. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"

"..."

"Benarkah?"

"..."

"Aku akan menemuinya jika kau membawanya ke rumahmu"

"..."

"Hm"

Gaara kembali meletakkan ponselnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk berwarna putih itu. "Sebentar lagi" gumamnya tidak jelas.

Gaara kemudian mengambil bingkai foto pernikahannya dengan Naruto dan membelai foto Naruto dengan lembut seolah-olah foto itu adalah diri Naruto yang asli. "Tunggu sebentar lagi, Naru. Dengan cepat aku akan menyelesaikan semua masalah ini dan aku akan membawa kebahagiaan lagi untukmu Naru! Aku berjanji!"

.

.

.

.

.

~0~0~0~

"Selamat pagi semuanya!" Sapa seorang wanita cantik berkulit putih dengan surai merah mudanya yang mencolok. Sarada menghentikan sarapannya dan berbalik menatap seseorang yang baru saja datang menghampirinya.

"Mama Sakura?" Pekiknya senang lalu berlari kearah Sakura.

Sakura membuka kedua tangannya dan memeluk Sarada dengan sayang. "Kau semakin bertambah besar saja, Sarada!" Sakura mencium pipi Sarada dengan gemas lalu menggendong Sarada dan mencium tangan Mikoto dan Fugaku.

"Ayo Sakura, bergabunglah sarapan bersama kami!" Ajak Mikoto padanya.

Sakura mengangguk kecil lalu ikut duduk di bangku makan keluarga Uchiha, lalu Sakura melirik meja makan keluarga Uchiha yang terasa tidak lengkap tanpa kehadiran Sasuke disana. "Papamu tidak ikut sarapan, Sara-chan?"

Mikoto tersenyum tipis dan mengambilkan segelas airputih untuk suaminya. "Sasuke sedang tidak enak badan Sakura, jadi dia sarapan di dalam kamarnya. Sarada mau tambah?"

Sarada menggelengkan kepalanya. "Tidak nenek, Sarada sudah kenyang"

Sakura mengangguk paham kemudian tersenyum pada Sarada. "Tuan Uchiha, Nyonya Uchiha, kedatangan saya disini bermaksud untuk mengajak Sarada ke rumah saya. Apa anda memperkenankan saya membawa Sarada ke rumah saya?" pinta Sakura pada Fugaku dan Mikoto.

Mikoto melirik suaminya yang diam dengan wajah datarnya lalu menyikutnya pelan. Suaminya itu hanya mengangguk pelan dan kembali sibuk dengan ponselnya.

"Maafkan suami tante ya Sakura. Tentu saja kau boleh membawa Sarada! Kau sudah menjadi ibu'nya kan?!"

Sarada mengalihkan pandangannya pada Sakura. "Ma, apa kita akan bertemu dengan a~" perkataan Sarada langsung diputus oleh sakura dengan menempelkan telunjuknya pada bibir gadis mungil itu. Sakura hanya mengisyaratkan 'iya' dengan anggukannya hingga Sarada memekik senang.

"Sarada akan ke kamar papa dulu agar Sarada di izinkan menginap di rumah mama Sakura" Sarada berlari menuju kamar Sasuke.

Neneknya bilang papanya sedang tidak enak badan dan tidak bisa di ganggu jadi Sarada memutuskan bahwa ia hanya meminta ijin kepada Sasuke untuk menginap di rumah Sakura agar tidak merepotkan papanya. "Pa? Apa Sarada boleh masuk?"

Sarada langsung masuk begitu saja ke kamar Sasuke saat Sasuke tidak kunjung menjawab panggilan Sarada. Sarada mengamati ruang gelap ini dengan heran, tidak biasanya kamar papanya ini begitu berantakan seperti ini. Sarada bahkan terlonjak kaget melihat papanya yang menatap kosong sebuah ponsel berwarna putih. Papanya bahkan sama sekali tidak menyadari kedatangannya...

Sarada duduk disebelah Sasuke dan menggoyakan lengan Sasuke sedikit meminta perhatian dari pria berusia 30-an itu. "Pa, Sarada ingin meminta ijin papa untuk menginap dirumah mama Sakura. Apa boleh pa?" Sarada mengibaskan tangannya di depan muka papanya saat Sasuke masih tidak merespon perkataannya. "Apa papa mendengarkan Sarada?"

Tangan Sarada langsung bergetar saat papanya menatapnya tajam seperti saat ini, walau begitu Sarada berusaha membuang semua ketakutannya dan memeluk Sasuke. "Papa, bolehkah malam ini Sarada menginap di rumah mama Sakura?"

"hn" jawab Sasuke dengan gumaman tidak jelasnya.

"Hn yang papa maksud itu iya atau tidak pa? Sarada bingung mengartikan bahasa alien papa!" Gerutu Sarada yang langsung membuat perhatian Sasuke teralihkan.

"Teme! Hn itu maksudnya iya atau tidak? Aku bingung mengartikan kosakata alienmu itu!"

Tiba-tiba Sasuke memegang kepalanya saat kenangan itu kembali muncul di kepalanya dan membuat perasaan bersalah didadanya semakin bertambah. "Pergi! Aku bilang cepat keluar dari tempat ini!" Bentak Sasuke pada Sarada.

Sarada kembali mendekati Sasuke dengan ragu. "Tapi pa, Sarada cuma mau~"

"~Aku bilang pergi artinya kau harus pergi!" Bentak Sasuke kembali pada Sarada. Sasuke memegang kedua bahu Sarada dan menguncangnya dengan cukup keras hingga membuat Sarada shock dan menangis. "Apa kau tahu?! Gara-gara dirimu, aku harus mengorbankan anakku dengan wanita yang sangat aku cintai! Aku rela mengorbankan kebahagiaanku, tapi tidak dengan kebahagiaan anakku dan kebahagiaan wanita yang sangat aku cintai!"

Mendengar suara Sasuke yang cukup keras membuat Mikoto langsung berlari masuk ke kamar Sasuke diikuti Sakura dan Fugaku. "Sasuke cukup! Apa yang kau lakukan ini?!" Mikoto langsung menggendong Sarada yang menangis ketakutan dan menyerahkannya kepada Sakura. "Sakura, tante mohon kamu jaga Sarada untuk malam ini ya? Papanya Sarada sedang banyak masalah, jadi sebaiknya Sarada tinggal bersamamu untuk sementara waktu"

Sakura mengangguk paham lalu membawa Sarada pulang kerumahnya sambil berusaha menenangkan tangisan Sarada.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hai, chapter baru hadir dg karakter baru yah 😉😉.

FYI Di sini istri Sasuke adalah Samui. Yang penggemar berat film Naruto pasti udah tahu siapa dia yaahhh 😳😳😳 dan ntr etha akan bahas siapa Samui, saat flashback aja yah 😊😊😊.

Yang minta Sasuke menderita, tenang aja etha bakal siksa abang Sasuke yg udah tega ama Naru aku 😂😂😂😂😂. N sdkit menjawab pertanyaan kalian, Naruto melahirkan setelah menikah dengan Gaara dan hamil sebelum menikah dengan Gaara. Jadi tahu-kan maksudnya apa?

Btw menurut kalian kira-kira bs gk nih abang Sasori menuhi janjinya untuk membuat Naruto jatuh cinta? 😚😚😚

Cukup sampai disini yahh 😳😳

Sampai jumpa di chapter depan 😊😊😊

Selasa, 02 Mei 2017

😘😍Ethatata 😘😍