Marriage
Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja πππ
Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasori-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita πππ
Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee ππ)
Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.
Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay ππ
Info umur karakter :
1. Uzumaki Naruto : 29 tahun
2. Uchiha Sasuke : 30 tahun
3. Sabaku Gaara : 30 tahun
4. Haruno Sakura : 29 tahun
5. Akasuna Sasori : 30 tahun
6. Uchiha Sarada : 6 tahun
.
.
.
.
.
Chapter 10 : Dinner yang kacau?!
.
.
.
.
.
Selamat membaca! πππ
.
.
.
~0~0~0~
Naruto membersihkan sisa makanan yang mengotori wajah cantik Sarada. Gadis kecilnya ini terlihat begitu lapar, setelah ia dan Gaara mengajaknya untuk naik ke beberapa wahana permainan di taman bermain yang ada di kota ini.
"Sara, pelan-pelan makannya! Nanti kau tersedak!" Ujar Gaara sambil kembali menyuapi Sarada.
Naruto tersenyum melihat ketelatenan Gaara dalam menyuapi Sarada. Jauh didalam hatinya, Naruto membayangkan dirinya juga berada di posisi yang sama saat ini, namun mereka bersama dengan Boruto. Putranya dengan Gaara...
Tiba-tiba bayangan Sasuke kembali menyeruak di kepalanya. Naruto menggelengkan kepalanya dan terus memungkiri suara hatinya yang seperti sedang melakukan perang batin.
'Boruto bukan putra Sasuke, ayah Boruto adalah Gaara!' Jerit Naruto dalam hati.
"Kau tidak pernah berubah Naru! Kau selalu saja bisa melamun dimanapun kau berada. Aku tahu pasti saat ini kau mengkhayal yang tidak-tidak tentang aku" ejek Gaara yang membuat Naruto tersadar dari lamunannya. Naruto melihat Sarada sudah kembali bermain kembali di area bermain yang ada di restoran yang mereka singgahi.
Naruto tersenyum tipis menatap Gaara lalu bergantian mengawasi Sarada yang sedang bermain saat ini. "Kau juga tidak pernah berubah Gaara! Kau selalu saja overconfident dan membuatku kesal dengan perkataanmu" Naruto ikut tersenyum dan melambaikan tangannya pada Sarada yang saat ini juga melambaikan tangannya kepada dirinya. "Seandainya Boruto masih ada bersama kita, mungkin sekarang kita akan seperti saat ini Gaara. Aku, kau, dan Boruto, kita akan jalan-jalan layaknya sebuah keluarga" lanjut Naruto dengan tatapan pedihnya.
Gaara hanya terdiam membuang muka pada Naruto dengan tatapan bersalahnya. "Maaf" lirih Gaara.
Naruto menggeleng pelan kemudian kembali menyunggingkan senyum tipisnya. "Kenapa kau meminta maaf padaku, Gaara?! Ini bukan salahmu" Naruto menarik sebelah tangan Gaara, membuat pria itu kembali menatapnya gugup. "Aku tahu, hubungan kita tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti dulu. Tapi setidaknya kita bisa menjadi seorang sahabat, seperti dulu sebelum kita menikah. Kau adalah sahabat terbaikku"
Gaara kembali terdiam dengan pandangan menyesalnya. Jika saja kata-kata seandainya itu tidak pernah ada didunia ini, maka mungkin dia tidak perlu berandai-andai untuk memiliki keluarga utuh bersama istri dan putri mereka.
'Jika kau tahu, apa yang telah aku lakukan enam tahun yang lalu. Mungkin kau akan sangat membenciku, Naruto!' Batin Gaara sambil tersenyum miris.
Gaara kembali melempar senyum palsunya kepada Naruto. Dia mungkin telah berbuat suatu kesalahan yang sangat fatal dalam hidup Naruto. Tapi Gaara berjanji, dia akan segera memperbaikinya!
Sampai saat itu tiba, Gaara akan mengembalikan semua hak-hak dan kebahagiaan Naruto. Meski itu bukan sekarang...
Naruto melipat ke empat jari Gaara, dan hanya menyisakan jari kelingking yang teracung dihadapannya. "Janji?!" Naruto menautkan kelingkingnya pada kelingking Gaara.
Gaara kembali tersenyum dan mengangguk setuju. "Janji"
.
.
.
.
.
Marriage
.
.
.
.
.
Kakashi duduk dengan gugup dihadapan pasangan Uchiha senior beserta Sasuke yang saat ini membelakanginya. Ia menunduk sebentar kemudian menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat.
"Aku lebih suka mendengar laporannya dari mulutmu sendiri, Kakashi" ujar Fugaku dengan penuh ketegasan.
Sasuke membalikkan badannya dan ikut duduk di sebelah ibunya dengan kecemasan yang luar biasa. Mikoto mengusap lengan Sasuke, seolah mencoba memberi kekuatan pada putranya ini. Mikoto mengangguk pelan kepada Kakashi mempersilahkan pria itu untuk melaporkan laporannya.
"Memang benar tuan Uchiha, wanita yang bernama Uzumaki Naruto telah menikah dengan Sabaku Gaara putra dari sang Kazekage, Sabaku Rasa sekitar 7 tahun yang lalu. Desas desus yang terdengar di kota itu, mereka berdua melakukan pesta pernikahan secara tertutup. Menurut salah satu mantan maid disana mengatakan bahwa putra bungsu tuan Sabaku Gaara melakukan pernikahan tertutup karena sang mempelai wanita telah mengandung terlebih dahulu sebelum mereka melakukan pernikahan. Keluarga Sabaku menutup rapat hal ini karena mereka merasa bahwa ini aib untuk keluarga mereka"
Sang Uchiha senior langsung menggelengkan kepalanya dan menghela nafas berat. "Lalu bagaimana dengan anak yang dikandung wanita itu?"
Kakashi menggeleng berat dengan kedua matanya yang terpejam. "Tidak ada satupun orang yang mengetahui mengenai bayi itu. Salah sumber kepercayaan saya mengatakan bahwa nyonya Sabaku Naruto mengalami kecelakaan pada tanggal 31 maret dan dilarikan di Rumah Sakit Internasional Amegakure. Mereka bilang, karena kecelakaan itu Nyonya Sabaku kritis dan koma selama lebih dari 3 bulan dan akhirnya langsung dilarikan di Rumah Sakit yang berada di London. Setelah kejadian itu, tidak ada satupun orang yang mengetahui kabar mereka ataupun putra mereka. Kazekage benar-benar hebat, menutup rapat semua berita tentang keluarganya"
Tenggorokan Sasuke terasa tercekat. "Pu-putra?!" Sasuke tersenyum lirih dan menatap ibunya sebentar. "Bu, aku memiliki seorang putra"
Mikoto menangis terharu dan mengangguk pelan. "Dunia memang benar-benar sempit, di tanggal itu dan di tempat yang sama Samui-chan juga mengalami kecelakaan hingga akhirnya dia melahirkan Sarada disana, walau akhirnya kita harus kehilangan Samui. Kita begitu bodoh dan tidak menyadari keberadaan mereka disana!"
"Kakashi, apa kau sudah menanyakan pihak rumah sakit mengenai keberadaan anak itu?" Tanya Fugaku sekali lagi dengan penuh wibawa.
"Maafkan saya tuan, tetapi pihak rumah sakit sama sekali tidak mau memberi informasi tentang anak itu. Bahkan beberapa perawat disana tidak ada yang mengetahui tentang kelahiran anak itu. Tuan Sabaku membatasi beberapa perawat dan beberapa dokter untuk memantau cucu dan menantunya. Namun~"
Sasuke bangkit berdiri dan menghampiri Kakashi lalu mencengkram kerah kemeja orang kepercayaan ayahnya ini. "Namun apa? Katakan padaku dengan jelas!"
Fugaku menarik Sasuke kembali duduk disampingnya. "Katakan saja Kakashi"
Kakashi mengangguk pelan kemudian menunduk dalam menatap lantai keramik yang dipijaknya. "Saya mendengar desas desus jika putra mereka telah meninggal"
Emosi Sasuke kembali naik mendengar laporan Kakashi. Dengan gerakan cepat dia kembali mencengkram kerah kemeja Kakashi dan hendak memukul wajah orang kepercayaan ayahnya itu. "Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan saat ini? Dia putraku, bukan putra Sabaku sialan itu! Dan jika aku mendengar kau sekali lagi mengatakan hal buruk tentang putraku, aku tidak akan diam!" Ancam Sasuke lalu melepas cengkramannya dan pergi berlalu begitu saja.
.
.
.
.
.
Setelah mengantarkan Sarada kembali ke rumah Sakura, Gaara dan Naruto juga langsung menuju hotel tempat mereka menginap dan berpisah saat mereka sampai di basement hotel. Naruto menyipitkan matanya, saat dia melihat sosok Sasori sedang tertidur di sofa saat menunggunya di lobby hotel.
Naruto menghampiri Sasori mengusap pelan bahu Sasori. "Sudah kubilang jangan menungguku pulang!" Keluh Naruto pada Sasori.
Sasori menarik Naruto untuk duduk dipangkuannya dan memeluk wanita itu dari belakang. "Aku merindukanmu" jawab Sasori sambil menghirup aroma tubuh Naruto.
"Astaga Sasori! Kita hanya berpisah selama 4 jam dan kau sudah mengeluh merindukanku?!" Gerutu Naruto lagi yang membuat Sasori gemas terhadap Naruto lalu mengecup pipi Naruto.
Naruto langsung memukul paha Sasori dengan keras. "Apa yang kau lakukan 'hm? ini tempat umum, banyak orang yang akan melihat kita!" Naruto menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Astaga memalukan!" Tambah Naruto dengan hentakan kakinya.
"Nanti malam, kita ada briefing untuk penerbangan kita selanjutnya"
Naruto berdiri lalu duduk disofa sebelah Sasori. "Malam ini juga?" Sasori mengangguk menjawab pertanyaan Naruto. "Ah...mungkin aku harus mengajukan cuti lebih awal" gerutu Naruto akan aktivitasnya yang hampir tidak pernah ada hentinya.
"Bagaimana tadi, apa kau sudah bertemu dengan ayah Sarada?"
Naruto mengangguk pelan. "Ya, dan kau tahu siapa ayah Sarada?!"
"Tentu saja aku tahu! Ayah Sarada adalah teman baikku semasa Senior High School, Naru!"
Naruto menyipitkan matanya pada Sasori. "Benarkah?! Yang aku lihat, sejak awal kalian bertemu kau selalu menunjukkan aura permusuhanmu padanya" Naruto kembali mencerna perkataan Sasori lagi. Saat tersadar ia telah salah paham, Naruto langsung tertawa dan menepuk dahinya. "Astaga, aku lupa mengatakan kepadamu bahwa ayah yang di maksud Sarada adalah seseorang yang di anggap ayahnya. Bukan ayah kandungnya dan yang mengejutkanku orang itu adalah Gaara!"
"Gaara?!"
Naruto tersenyum dan mengangguk. "Iya, Gaara!" "Apa ada yang aneh dengan perkataanku?" Tanya Naruto lagi saat melihat wajah heran Sasori.
"Ku rasa ada yang salah, aku sangat mengenal watak ayah Sarada. Rasanya tidak mungkin dia membiarkan putrinya memanggil oranglain dengan sebutan ayah selain dirinya"
Naruto memutar kedua bola matanya bosan. "Buktinya Sarada memanggilku ibu!"
Sasori berpindah duduk ke sebelah Naruto dan memeluk wanitanya dengan sebelah tangannya. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Sebenarnya aku menunggumu karena aku ingin mengajakmu makan malam sebelum briefing di mulai. Kita akan makan malam di tempat yang mungkin akan kau sukai"
Naruto bersorak riang lalu menepuk pelan pipi Sasori. "Aku akan siap dalam setengah jam" ujarnya lalu pergi menuju kamarnya.
"Aku tunggu di kamarku, dandan yang cantik! Love you, babe" balas teriak Sasori.
.
.
.
.
.
Sasori mengalihkan pandangannya pada pintu kamarnya yang terbuka. Seketika itu juga, Sasori merasa terpukau dengan penampilan kekasihnya malam ini. Malam ini Naruto memakai sebuah dress brukat sederhana berwarna merah marun di padukan dengan stilleto berwarna hitam dan anting kecil berlian yang menghiasi telinganya membuat penampilannya terlihat sederhana namun terlihat elegan.
Sasori langsung melempar ponselnya asal di atas tempat tidurnya dan menghampiri Naruto. "Malam ini kau terlihat sangat cantik, babe" puji Sasori lalu mencium punggung tangan Naruto.
"Memangnya setiap hari aku terlihat tidak cantik, begitu?!" jawab Naruto pura-pura tersinggung.
"Tidak...tidak... kau selalu terlihat cantik, babe. Hanya saja malam ini kau terlihat sangat menawan. Aku bahkan merasa seperti jatuh cinta lagi kepadamu, babe." bisik Sasori dengan nada seduktifnya. Ia melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang mungil Naruto, dan Naruto pun ikut melingkarkan kedua lengannya di leher Sasori.
Sasori senang, sejauh hubungan mereka selama ini Naruto selalu saja menolak kontak fisik diantara mereka. Tapi malam ini, Naruto benar-benar menepati janjinya untuk membuka hati untuknya...
Sasori berharap tidak ada pengganggu dalam hubungan mereka.
~0~0~0~
Naruto tidak bisa menutupi rasa terkejut sekaligus rasa kagum saat ia melihat tempat yang telah di siapkan Sasori untuk dinner mereka. Tempat itu dihiasi bunga-bunga dan lilin yang membawa nuansa romantis untuk mereka. "Wow... kau menyiapkan ini semua untukku?" Kagum Naruto pada suasana dinner mereka.
Sasori menarik kursi untuk Naruto. "Of course, babe. This is specials just for you" Jawab Sasori lalu ikut duduk dihadapannya. Sasori mengangkat tangannya memberi tanda kepada pelayan untuk mengantar pesanannya.
Pelayan itu menuangkan wine ke gelas mereka lalu memberikan kotak kecil berwarna hijau toska yang sudah di hiasi pita kepada Naruto. "Untukku?!" beo Naruto.
Sasori menganggukkan kepalanya cepat. "Buka saja kotaknya" pinta Sasori pada Naruto. Perlahan Naruto membuka kotak kado yang diberikan oleh Sasori, dan Naruto kembali dibuat terkejut oleh kejutan yang Sasori berikan kepadanya. Pria bermarga Akasuna itu memberikan sebuah cincin berlian yang sangat indah kepadanya.
"Will you marry me, my love Uzumaki Naruto?!"
Sasori melamarnya?!
Ya...pria itu kembali melamarnya. Naruto bingung harus mengatakan apalagi, sudah berapa kali dia menolak lamaran Sasori. Dan sudah berapa kali juga Naruto menyakiti perasaan pria sebaik Sasori?!
"Jika kau menerima lamaranku, kau ambil cincin itu dan pakai di jari manismu. Jujur saja, aku sangat tidak suka kau masih memakai cincin pernikahanmu dulu. Tetapi jika kau menolakku, kau simpan saja cincin itu untukmu asal kau tetap melepas cincin pernikahanmu dulu"
Naruto tertawa kecil sambil mengamati cincin indah yang diberikan Sasori kepadanya. "Bukankah itu sama saja artinya?! Aku menerima atau menolak lamaranmu-pun, cincin ini akan jadi milikku?!"
Sasori mengangguk menyetujui perkataannya. "Setidaknya cincin itu bisa menggantikan cincin yang melingkar di jari manismu itu. Namun jika kau menolak cincin ini, sebagai pengganti kerugian atas penolakanmu kau harus~" Sasori memberi jeda sesaat perkataannya sambil menunjuk bibirnya. "~Kau harus menciumku" lanjutnya dengan seringaian jahilnya.
"Dasar mesum!" Balas Naruto sambil melempar setangkai bunga yang terletak di mejanya. Kemudian Naruto kembali meletakkan cincin itu ke dalam kotaknya dan mengembalikannya kepada Sasori. "Maafkan aku Sasori, aku tidak~"
Sasori memotong perkataan Naruto dan mengambil kotak cincin itu. "Aku sudah tahu apa yang menjadi jawabanmu, Naru. Aku tahu kau pasti akan mengatakan 'Maafkan aku Sasori, aku tidak bisa menerima lamaranmu. Pernikahan bukan menjadi tujuan hidupku saat ini, jika kau keberatan dengan jawabanku kau boleh meninggalkanku sekarang' Benar begitu?!"
Naruto tertawa renyah mendengar perkataan Sasori. "Sepertinya kau sudah menghafalnya di luar kepala"
"Tapi aku tidak akan menyerah meyakinkanmu untuk menikah denganku" Sahut Sasori cepat. Sasori mengambil sebuah rantai kalung emas putih dari dalam kantung jasnya dan memasukkan cincinnya sebagai liontin kalung itu. "Sudah ku katakan, kau boleh menolak lamaranku tapi kau tidak boleh menolak cincinnya. Sebagai gantinya kau bisa memakai cincin ini sebagai kalung di lehermu. Mungkin saja suatu hari nanti kau mengubah pikiranmu, kau tinggal memakai cincin dariku ini" ucap Sasori sambil mengalungkan kalung berliontin cincin itu ke leher Naruto.
"Sepertinya kau tidak ingin rugi dengan membelikanku cincin yang baru lagi?!" Naruto mengangkat gelas winenya
Sasori juga ikut mengangkat gelas winenya dihadapan Naruto."Tentu saja, kau pasti tahu berapa kali aku membeli cincin untuk melamarmu"
"Baiklah captain Sasori yang sangat pelit. Sekarang mari kita bersulang untuk hari ini. Bersulang?!"
"Yeah...bersulang untuk penolakanmu" jawab Sasori dengan candaannya. Akhirnya Naruto dan Sasori saling bersulang, namun tiba-tiba seorang pelayan tanpa sengaja menyenggol tangan Naruto sehingga minuman Naruto tumpah dibajunya.
"Sasori, aku ketoilet sebentar untuk membersihkan ini" Ujar Naruto sambil berusaha membersihkan dressnya dengan tissue. Sasori mengangguk dan Naruto beranjak dari tempatnya menuju toilet restoran itu.
Saat Naruto sedang pergi ke toilet, Sasori mengamati seorang gadis kecil melambaikan tangannya ke arahnya bersama ke empat orang dewasa yang Sasori kenal. "Hai paman?! paman makan malam disini?" Sapa Sarada riang.
Sasori langsung berdiri dan menunduk hormat pada kedua Uchiha senior, Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. "Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan dan Nyonya Uchiha"
"Sudah lama rasanya kau tidak pernah main ke kediaman kami, Sasori. Bagaimana kabarmu? Apa pekerjaanmu sekarang?! karena selepas kalian lulus Senior High School kalian menjalani pendidikan yang berbeda" sapa Mikoto dengan hangat.
Sasori hanya tersenyum simpul dan mengangguk. "Kabar saya sangat baik tante, tentunya tante sekeluarga juga begitu bukan?! Sekarang saya adalah seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan di Jepang, tante" jawab Sasori tenang.
"Jadi kau adalah seorang pilot. Kau pasti senang dengan pekerjaannu ini karena setiap hari kau akan dikelilingi oleh pramugari-pramugari cantik"
Sasori tertawa renyah dan kembali menyambut candaan Mikoto. "Tentu saja tante, apalagi pramugari cantik itu menjadi orang spesial untuk saya. Saya semakin bersemangat untuk bekerja, tante"
"Tante jadi kasihan kepada istrimu, pasti setiap hari istrimu itu akan mencemburuimu karena pekerjaanmu itu. Apa kau ke sini bersama dengan istrimu?" Mikoto mengamati disekitar Sasori mencari keberadaan wanita spesial pria bermarga Akasuna itu. "Dimana istrimu Sasori?! Tante sangat ingin berkenalan dengannya dan bertanya bagaimana rasanya menjadi istri seorang pilot sepertimu" tambah Mikoto dengan candaannya.
Sasuke tertawa dan menyikut perut Sasori. "Sasori belum menikah bu lagipula calon Sasori adalah pramugarinya sendiri. Apa ibu tidak melihat usaha Sasori malam ini bu?!" ejek Sasuke saat melihat nuansa romantis yang sengaja Sasori pesan untuk makan malam mereka. Sasuke tersenyum tipis menatap sebuah kotak kecil yang ia perkirakan berisi sebuah cincin.
"Bagaimana?! Apa kau sudah berhasil melamarnya?" Tanya Sasuke dengan ekspresi senangnya. Ia senang karena sahabatnya ini sudah memantapkan hatinya untuk melangkah ke jenjang hubungan yang lebih serius, dalam arti Menikah.
Sasori hanya mengendikkan kedua bahunya yang bisa Sasuke perkirakan sebagai penolakan wanita itu. Sebagai sahabatnya Sasuke hanya bisa memberi dukungan serta doa yang terbaik bagi kelangsungan hubungan sahabatnya ini. "Jangan pernah menyerah! Sebagai mantan playboy kelas kakap sepertimu seharusnya kau bisa menaklukan hatinya dengan sangat mudah." Ejek Sasuke kembali.
"Ini tidak semudah yang kau bayangkan Sasuke! Dia benar-benar membuatku kewalahan" balas Sasori sambil mendengus pelan.
Sasuke kembali terkekeh lalu menaikkan sebelah alisnya dengan senyum menyeringai. "Apa kau mau aku yang mencobanya?"
Sasori hendak menjawab candaan Sasuke namun tiba-tiba Sarada menarik-narik celana Sasori agar perhatian pria itu beralih pada putrinya. Sasori langsung menghentikan perkataannya dan sedikit membungkuk menyamai tinggi putri sahabatnya yang sudah sejak tadi menatapnya dengan penuh harap. "Ya Sarada, ada apa?" Tanya Sasori.
"Paman, dimana ibu? Kenapa aku tidak melihat ibuku yang paling cantik itu?" Bisik Sarada ke telinga Sasori.
Sasori sedikit menekuk keningnya dan mengangguk perlahan saat ia menyadari siapa yang dimaksud oleh Sarada. Sasori menyunggingkan senyumnya dan menunjuk sebuah toilet wanita yang berada tidak terlalu jauh dari tempat mereka. "Dia sedang berada di toilet untuk membersihkan bajunya yang terkena tumpahan minuman. Kau bisa langsung menyusulnya kesana" jawab Sasori sambil mengacak rambut Sarada sebelum akhirnya gadis kecil itu berlari menuju toilet.
Sasuke tidak mengerti apa yang dibisikkan oleh Sarada kepada Sasori. Namun mendengar jawaban Sasori, sepertinya Sarada sangat mengenal sosok wanita kekasih Sasori. Selepas kepergian Sarada Sasori langsung berbisik pada Sasuke dan menunjuk Sakura dengan dagunya. "Apa dia ibu Sarada?"
Sasuke hanya tersenyum simpul tidak menjawab. Namun Sasori dapat artikan sebagai persetujuan Sasuke atas pertanyaannya. "Bagaimana jika om dan tante sekeluarga bergabung saja di meja saya? Sepertinya meja restoran ini sudah penuh dipesan" tawar Sasori saat melihat ramainya pengunjung di restoran.
"Apa kami akan menolak kesempatan bagus ini?! Lagipula tante sangat ingin mengenal sosok wanita yang mampu menaklukkan hati anak nakal sepertimu! Kau sudah seperti putra tante sendiri Saso-kun" jawab Mikoto senang lalu ikut duduk bergabung bersama Sasori. "Oh iya. Perkenalkan, dia Haruno Sakura calon istri Sasuke"
"Ibu jangan berkata seperti itu. Aku belum menyetujui permintaan ibu itu'kan?!" Sahut Sasuke kesal.
Sasori bergantian menatap Mikoto lalu Sasuke dengan bingung. Bukankah wanita itu adalah ibu dari Sarada?!
"Calon istri?! Bukankah Sasuke sudah~"
"~Istri Sasuke, Samui-chan sudah meninggal Saso-kun" jawab Mikoto menjawab keheranan Sasori. Sasori yang merasa sungkan langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka hingga mereka mengobrol begitu saja dengan lancar. Sasori tersenyum bahagia melihat wanita yang ia cintai berjalan ke arahnya sambil menggendong Sarada.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Holaa semuanya πππ
Chapter 10 udh update yaahhh ππ
Mungkin krg 1 chapter lg baru flashback ke masa lalu Sasuke-Naruto-Gaara yaaa πππ
Sebenarnya etha agak ragu sih bwt publish chapter ini, cs disini konfliknya padet bgt πππ
Etha berharap kalian gk bosen2 bwt dukung cerita ini, dg review kalian. Review kalian berguna bgt buat koreksi penulisan etha nih πππ
Sampai jumpa di chapter depan
Jum'at, 05 May 2017
ππEthatataππ
