My stalker
Cast:
Lee Eunhyuk
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
Lee Ryeowook
Kim Yesung
Kim Kibum
Others (seiring berjalanya cerita)
Synopsis:
Seorang namja periang bertemu dengan namja tampan yang sangat dingin. membuat si namja manis terperangkap dengan perasaan penasaran, jengkel dan..."apakah aku mencintainya?"/ "kau mengatakan aku pengecut"/ "jadi selama ini kau membuntutiku?"/ "menjadi stalker itu lumayan juga, mencintai tanpa harus mengatakanya"
Warning: yaoi/BL, AU, EYD berserakan, OOC, abal+Geje
.
Tidak suka jangan dibaca
.
.
.
Chapter 8
Di kamar bernuansa baby blue itu, tampak Eunhyuk sedang duduk di meja belajar sambil memainkan pensil. Buku tebal didepanya tampak tidak menarik. Dia lebih memilih berada di dunia khayalannya. Jam alarm di sampingnya berbunyi menandakan waktu tidur datang. Dengan malas namja pemilik gummy smile ini mematikan alarm dan berjalan ke tempat tidur. Dia berbaring, menatap langit kamar. Entah kenapa matanya terasa berat hanya untuk terpejam. Bayang-bayang seseorang yang membuatnya terus seperti ini.
"Donghae… aku mohon jangan bermunculan di pikiranku?" mohonya sambil mengacak rambut frustasi. Tiba-tiba Eunhyuk terduduk dari tempatnya.
"OMO! Dimana benda itu kutaruh ya?" tanya Eunhyuk entah pada siapa. Dia segera meloncat dari tempat tidur dan mulai mencari barang yang dimaksud. "ini dia!" seru Eunhyuk sambil memegang dua tiket dari dalam laci.
"Ini berlaku sampai… APA MINGGU INI?" Eunhyuk membelalakkan mata. "aa~ Gimana caranya memberikan tiket ini?" Eunhyuk berguling di lantai kamarnya. "argh… eomma appa eothoke? Tidak, tidak! Berpikir positif Hyukkie, eum bukan maksudku ingin mengobrol atau pergi dengan Donghae-ssi tapi…." Wajahnya langsung merona, dia mengalihkan tatapanya dan berjalan ke jendela.
"argh… ada apa sih denganku? Eum… iya masih ada 3 hari kan? Waktu tiga hari itu pasti bisa untuk memberikan tiket ini? Yah kan Cuma kasih tiket kenapa aku mesti bingung?" Eunhyuk mengepalkan tangan ke udara, dia tidak menyadari seseorang menatapnya sambil tersenyum.
…haehyuk…
#Eunhyuk pov
Pagi ini adalah hari pertama misiku. Yaitu misi memberikan tiket! Yah, hanya memberikan tiket bukan mengajak? Eum tidak apa-apa sih kalau bisa jalan berdua? Hah… apa yang barusan aku katakan? Oh demi seluruh pisang di planet mars! Tidak! Salah, salah aku tidak bermaksud seperti itu!
Untungnya kelas dance free jadi aku bisa full berada di kelas music. Seperti biasa aku duduk bersama Kibum, mendengarkan Jung songsaenim, dosen paling killer seantreo jagat raya memberikan pelajaran tentang sejarah music. Membosankan, aku jadi ngantuk mendengarnya. Oh iya apa yang Donghae lakukan saat ini ya? Dengan perlahan aku menoleh kebelakang. Melihat Donghae yang tengah duduk di pojokan dekat jendela. Sepertinya dia sedang asik membaca buku. Dosen killer ini tidak akan marah, siapa juga yang bisa marah dengan mahasiswa terpintar seperti Donghae. Walaupun Donghae bergoyang gangnam style, atau berdiri satu kaki diatas meja pun aku yakin dosen hanya diam. Hu'uh aku jadi iri…
"Eunhyuk-ssi, apa papan tulis ini sudah berpindah ke belakang?" aku terkejut dan menatap Jung ssaem yang tengah berkacak pinggang di depan. Mati aku? Huwaaa siapa saja tolong aku? "kenapa malah nyengir? Berdiri di depan kelas" Kibum tersenyum menyemangati. Dengan malu aku berjalan ke depan dan berdiri di pojokan. Dasar dosen kurang kerjaan, coba aku jadi presiden udah aku pecat dosen-dosen macam dia. Mereka tertawa melihatku, aku mendengus kesal lalu mengalihkan tatapanku di bangku pojok. Donghae, namja dingin itu tetap serius dengan bukunya, tidak melihatku atau tertawa seperti yang lain. Membuatku jadi semakin penasaran…
Huwaa eomma appa bukan maksudku berbuat seperti ini. Sekarang aku sedang berjalan di taman. Lebih tepatnya mengikuti Donghae. Bukan, bukan maksudku membuntutinya, aku hanya ingin mencari waktu yang pas untuk memberikan tiket ini!
Dia berhenti di kursi bawah pohon lalu duduk disana. Aku terus memperhatikanya dari balik pohon besar tidak jauh dari kursi itu. Dia menutup mata, membiarkan angin menggoyangkan rambut brunettenya. Waah tampanya seperti pangeran, omo! apa yang barusan aku katakana? Aduh tidak, focus Hyukkie, focus!
_skip time_
Aku berjalan menyusuri trotoar yang sepi. Hari ini misi gagal. Jangankan menyerahkan tiket, menyapanya saja tidak! Aku malah membuntutinya… huwaaa Hyukkie pabo!
Tapi karena hal ini aku jadi tahu, Donghae itu orang yang suka ketenangan. Dia akan memilih tempat yang sepi seperti di taman belakang kampus dekat gedung tua yang katanya angker, lalu jika di kantin dia hanya membeli minum dan membawanya di atap sekolah, di perpustakaan pasti memilih bangku dekat jendela sama seperti di kelas, dan juga pulang sampai parkiran sepi. Benar-benar namja misterius! Padahal dia cukup popular dikalangan yeoja dan namja di kampus. Aku tahu saat dia membuka loker, terdapat banyak sekali surat disana, lalu saat dia lewat banyak yang bergerombol dan membicarakan ketampanan dan sikap coolnya. Tapi dia tetap cuek, contohnya hari ini, ada 3 mahasiswi menembaknya, dengan wajah datar dan tanpa bicara dia pergi begitu saja. Dasar tidak sopan! Mungkin memang dia berasal dari planet jupiter, datang ke bumi berniat menyebarkan serbuk es, omo kalau sampai orang-orang terkena serbuk itu mereka juga bisa bersikap dingin. Hah… Hyukkie jangan gila? Gara-gara satu orang aku jadi bicara ngelantur seperti ini.
Aku berdiri di depan pintu kontrakkan, aduh dimana ya aku taruh kunci?
'DEG' perasaaan ini muncul lagi. Aku menoleh kebelakang tidak ada siapa-siapa lalu menatap sekeliling, sepi hanya ada aku disini. Tapi perasaan ini? Aku tidak salah kan? Selalu saja, sampai kapan perasaanku bisa tenang? Stalker kurang kerjaan banget sih? Kenapa juga jadi stalker, dasar pengecut. #ga' nyadar padahal dianya sendiri stalker -_-
…haehyuk…
Huwaaa… sampai kapan aku seperti ini? Eomma, appa anakmu memalukan! Sudah dua hari aku membuntuti Donghae, tanpa berbuat apa-apa. Hanya membuntutinya? Apa yang harus aku lakukan? Masa iya aku harus berguru dulu di tong samchong? #ya jadinya monyet ketemu monyet? *ditabok. Atau berguru ke pendekar gua hantu? Aish, aku jadi gila kalau begini! Hyukkie ada apa sih, ngomong aja kok susah banget! Tinggal ngomong, bukan menyatakan perasaan!
Aku menghela napas berat lalu mengacak rambut. Aku frustasi, bahkan psikiater terhebat di seluruh dunia pun tidak akan bisa membantuku. Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah aku memang mencintai Donghae? argh… kenapa Donghae sih? Kenapa harus namja dingin, kaku, ngeselin, misterius dan sempurna macam dia?
"saranghae tjanha uri hamkkehan manheun nal dongan
hamkke apahaetjanha seoroui irin juldo moreugo
neon eodi inneun geoni naui moksori deullijil annni apeun nae simjangi neoreul chatneunda neoreul bureunda michidorok…." #suju-memories
Aku terdiam mendengar suara ini. Karena penasaran aku mendekati suara merdu itu. Aku terkejut melihat Donghae duduk menutup mata sambil memainkan gitar. Mendengar suara ini aku jadi terbuai. Baru pertama kali aku mendengar Donghae menyanyi. Ternyata selain pintar memainkan music dia juga ahli bernyanyi. Benar-benar namja sempurna. Aku mengerjap-ngerjapkan mata saat nyanyian ini berhenti. Dengan ragu aku menatap Donghae.
Huwaaaa! Tuh kan dia melihatku! Aduh, kenapa hari ini sial sekali sih? Apa yang harus aku lakukan? Lari, tidak mungkin! Aku bisa malu seumur hidup dong! Tetap disini, pura-pura tidak tahu? Itu namanya tindakan bodoh! Menyapanya? Apa aku punya keberanian untuk itu? Kalau dia tanya apa yang aku lakukan disini, aku harus jawab apa?
Aku kembali menatap Donghae ragu, lho kemana dia? Kok langsung menghilang. Aku menoleh dan terkejut mendapati Donghae sudah berdiri di sampingku. Jantungku berhentilah menggila! Jangan sampai Donghae mendengar detak jantung ini. Eomma, appa tolong Hyukkie kali ini saja? Tolong turunkan naskah dari surga agar Hyukkie tahu apa yang harus di katakan. Oh, jangan gerogi Hyukkie, ini hanya Donghae bukan juri dance.
"hai" sapaku spontan. Hyukkie pabo! Apa tidak ada kata-kata lain selain itu? Aish.. tuhan aku mohon buat hujan atau bom nuklir jatuh supaya aku bisa menjauh dari Donghae. huweee tidak! Kau harus tenang Hyukkie, tenang… aku kan sudah sedikit akrab dengan Donghae, kenapa aku mesti takut? "suaramu bagus" kataku sambil mengangkat dua ibu jari. Dia malah menaikkan sebelah alisnya. Oh tidak! Hyukkie kenapa kau bodoh sekali? Bagaimana kalau Donghae menganggapku aneh? Terus bagaimana kalau Donghae mengira aku membuntutinya? Wajahku mau ditaruh dimana?
"kenapa?" tanyanya. Membuatku menautkan alis bingung.
"ye?"
"pasti ada alasan kenapa kau kemari?" tanyanya yang membuatku mati kutu. Inilah yang aku takutkan dan bingung apa jawabanya.
"eum i-itu anu… ma-maksudnya tentang i-itu…" huwaaaa! Bibirku yang sexy ayo dong ngomong yang bener?
Tiba-tiba Donghae menarik tubuhku, membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpanya. Sepersekian detik setelahnya bola berkekuatan tinggi terbang di atasku. Aku hanya bisa membelalakkan mata, syok sekaligus kaget.
'DEG' 'DEG' 'DEG' oh tuhan? Saat melihat bayanganku ada di mata Donghae, seperti mulutku tidak bisa berbicara dan mataku hanya terpaku kesana. Eomma appa apakah rasa cinta itu serumit ini?
"mian, apakah bola tadi mengenai kalian?" tanya sebuah suara yang membuatku dan Donghae memutuskan tatapan itu. Aku segera berdiri dari atas tubuh Donghae dengan wajah memerah tentunya.
"mian, apa kalian baik-baik saja?" tanya namja satunya. Aku mengangguk lalu melirik Donghae yang berdiri.
"gwenchana, tapi lain kali berhati-hatilah" kataku mencoba tersenyum membuat dua namja dengan pakaian olahraga ini mengangguk.
"waaa kau manis juga! Dari fakultas apa?" tanya si namja bersurai merah. Yang langsung diangguki namja berbadan kekar disampingnya. Aku menggaruk belakang kepala. Malunya dibilang manis. Entah kenapa Donghae langsung menarikku ke kesampingnya dan berjalan pergi meninggalkan dua namja yang saling bertatapan bingung.
Kenapa aku hanya diam tidak bisa menolak dan mengikuti Donghae kembali ke kelas. Apa yang terjadi dengan Donghae? apa dia terganggu adanya dua namja tadi? Dan bodohnya aku tidak bisa bertanya padanya?
_skip time_
Kampus sudah sepi dan aku masih sibuk mencari sesuatu.
"Huwaaa dimana aku taruh barang itu! Kalau sampai hilang, sia-sia dong pengorbananku waktu itu!" teriakku frustasi sambil sekali lagi membuka tas yang isinya sudah berserakan di lantai. terlalu focus mencari sampai tidak menyadari seseorang berdiri di depanku dan mengulurkan sesuatu yang aku cari itu. Aku mendongak mendapati Donghae berdiri sambil tersenyum kecil. Aku hanya mengedipkan mata beberapa kali, berusaha mencerna apa yang terjadi. Setelah itu aku langsung membelalakkan mata dan bersemu merah.
"Do-donghae ke-kenapa i-itu ada di kamu?" tanyaku terbata.
"bukanya tadi kau menjatuhkannya" jawabnya dengan santai. ni namja tidak tahu apa, bagaimana jantungku saat ini? Dasar alien planet Jupiter! Coba kalau ada kapsul masa depan kaya di dragon ball, uda aku kirim ni namja ke asalanya! Huwaaa eomma appa terus aku harus jawab apa?
"go-gomawo" kataku pelan lalu mengambil dua tiket itu. Donghae mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan kelas. Apa pergi? Hanya begitu saja? Kenapa sih Donghae tidak tanya kenapa aku bawa tiket ini sampai ke kampus? Kenapa dia tidak berbasa-basi 'kau masih menyimpanya?' atau apa gitu! Atau langsung saja mengajakku bersamanya! Kenapa langsung pergi! Kenapa? Bahkan ilmuan hebat pun tidak tahu apa jawabanya! Lalu aku harus gimana? Diam saja disini? Tidak, lalu apa hasilku mengikutinya sampai dua hari. Mengejarnya lalu mengajaknya? Apa aku punya keberanian sebesar itu? Bagaimana kalau dia menolak? Mau ditaruh dimana wajah seorang Lee Eunhyuk! Eomma dan appa di surga pasti sudah menertawakanku, terserah kalian bilang aku pengecut! Gini-gini aku juga anak kalian!
Aku menatap dua tiket itu lagi. Tidak, kemungkinan terburuknya jangan dipikirkan dulu! Lebih baik bilang terus terang! Capek jika harus seperti ini terus! Dan bukanya ini kesempatan bisa berbicara dengan Donghae lagi? #dasar otak modus-_- #ditendang
Aku berlari mengejar Donghae yang tengah berjalan di koridor. Tapi langsung berhenti saat merasakan kebimbangan lagi. Huwaaa Hyukkie kau bukan yeoja kan? Kau namja! Tunjukkan keberanianmu. Ayolah?
"Donghae!" panggilku, membuatnya berhenti dan membalik badan. Dia menatapku sambil mengantongi tangan di celana. Ayo Hyukkie bicaralah. Dengan ragu aku mendekati Donghae. setelah jarak kami cukup dekat aku mengulurkan 2 tiket ini. "eum… bu-bukanya waktu itu, eum… Donghae juga ambil bagian, eum masa hanya aku saja yang menerima tiket ini" kataku lalu menundukkan kepala. Cukup lama aku menunggu Donghae berbicara, dengan takut aku mendongak melihatnya. Dia mengambil tiket itu, lalu melihatnya.
"besok tanggal terakhir masa tiket itu" kataku pelan. Dia mengembalikan tiketnya. Lho? Apa dia tidak tertarik, apa dia mau menolakku! Bagaimana ini tuhan? Aku tidak berani melihatnya, aku takut?
"besok aku jemput jam 9" katanya lalu berjalan pergi. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, dan langsung melihatnya yang menghilang di belokan jalan. Apakah ini mimpi? Tuhan… aku tidak sedang bermimpi kan? Aku sungguh akan jalan dengan Donghae? jadi ini seperti kencan kan? Kencan kyaaaaa…! Spontan aku meloncat-loncat kegirangan.
.
.TBC
.
Yah akirnya selesai juga ni chapter 8
Tapi mian, kayaknya otak saya tambah eror, jadi mian untuk fanficnya yang tambah GJ, huweeee mianhae?
Gomawo untuk para pembaca yang sudah menyempatkan membaca fanfic aneh ini, maaf kalau tidak puas dengan fanfic ini, saya memang bukan author yang handal. Penuh kekurangan dan kejelekan yang lain….
Mian untuk semuanya, saya rasa saya akan hiatus saja dari dunia fanfiction, soalnya makin sedikit saja penyemangat saya disini, huweee hiks hiks padahal saya bukanlah tipe orang yang dengan mudah meninggalkan pekerjaan, tapi mungkin memang sayanya yang tidak mahir dalam membuat dan meramaikan dunia fanfiction, iya kan? Mianhae…
Gomawo untuk:
Isroe106|narty2h0415|para FN|ratu Kyuhae|nanazzukahyukkie|ranigaem1|para guest|haehyuk|UruRubaek|Kimjoungwook|bluerissing|novaanchofishy|milkyhyukie|depi|fitria
Gomawo nde? Review kalian sangat membantu saia^^
Akhir kata….
See you next chap…..
