Kiku menimang-nimang kaset lagu tradisional pengiring tarian indah Nesia yang tertinggal di sela ia beristirahat dari mengerjakan artikelnya.

"okashii... Atau itu watak asli Nesia-san? Tapi masa orang segalak itu bisa menarikan tarian selembut itu... Dan..." Kiku berhenti sejenak. Ia kembali mengingat saat Nesia pingsan.

"benar-benar aneh..."


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


"bagaimana mengenal Nesia?" Mei mengulang pertanyaan Kiku, "ya... Dia datang kepadaku dan memperkenalkan diri... Kemudian dia menunjukkan bakatnya dan juga karena kita butuh anggota, kita rekrut lah..." jelasnya.

"sou ka..."

"memangnya ada apa?" Mei giliran bertanya.

"iie... T-tapi, bagaimana sifatnya... Ma-maksudku... Tentang caranya bicara atau gerak geriknya atau..." Kiku menghentikan pertanyaannya ketika menyadari muka Mei telah berubah dan siap menggodanya.

"ah... aku tahu dia sungguh berbakat, gemulai, cantik, manis dan sopan... Sesuai dengan tipemu ya?"

"M-mei san... Bukan itu... A-aku hanya ingin tahu..."

"ingin tahu saja... Atau ingin tahu banget?" godanya lagi dengan senyum kucing yang membuat Kiku sebal.

"Mei-san..." alis Kiku mulai bertautan.

"iya... Iya..." akhirnya Mei mau mengalah, "Nesia sungguh anak yang baik, dia juga perhatian kepada para senpainya... Dia juga sangat manis... Tapi juga sangat pasif dan tidak banyak bergerak dan bicara... Seperti boneka... dan hanya hidup ketika menari... Yah... Tapi itu bukan masalah sih... Soalnya dia jadi semakin manis!" tanpa sadar Mei mulai mengguncangkan tubuh Kiku yang kini terantuk-antuk tidak karuan.

"dan juga... Dia masih tanggap ketika diajak bicara... Jadi ya... Nggak masalah..." ucapnya sambil berhenti mengguncangkan tubuh Kiku yang kini setengah tepar.

"hoeeeee... Kiku! Kau baik-baik saja?!"

"n-nan... -touka..." ucapnya lemas. Kepalanya saat ini serasa ditarik oleh shinigami.

"Oh ya... Dia juga sangat pemalu dan sepertinya sangat ketakutan pada laki-laki... Kau lihat tidak gelagatnya saat Hong datang atau saat tak sengaja berdiri di dekatnya?"

"a-ah... Nesia-san memilih menjaga jarak dan bersembunyi di belakang Vie-san..." ucap Kiku sambil memijat keningnya.

"tapi dengan Yong-san dan Thai-san nampaknya tidak apa-apa..." lanjut Kiku.

"er... Yong dan Thai, yah..." Mei menahan tawanya.

"nan-desu ka?" tanya Kiku heran.

"Mereka sih... tidak masalah karena... Kalau Thai... Sepertinya mereka teman lama atau semacam saudara sangat jauh begitu... Dan Yong..." Mei menghentikan penjelasannya.

"a-ada apa dengan Yong?" tanya Kiku penasaran.

Melihat Kiku yang penasaran, Mei mulai mendekat ke arah telinga Kiku dan membisikkan sesuatu, "tampaknya... Nesia tak menganggapnya sebagai laki-laki...?"

.

Mei menahan tawa massive-nya.

.

"e-eh? H-hountou ka?" seru Kiku lemot, "j-ja..."

"tampaknya Nesia lebih memilih memasukkannya ke folder makhluk jadi-jadian..." ucap Mei sambil mengangkat kedua pundaknya disertai senyum puas, "Yong sepertinya tidak tahu dan tidak peduli... Tapi sebenarnya aku ingin Yong tahu dan melihat mukanya saat tahu ia ada di dalam kategori itu!" lanjutnya sambil terus cengengesan. Tak pernah Kiku melihat Mei seperti ini sebelumnya, bahagia seperti dendamnya berhasil di balaskan secara tidak langsung lewat Nesia.

"S-sou ka?" Kiku mulai mengasihani Yong.

"oh ya..." ucap Mei setelah kembali normal, "Yang aneh tentang Nesia... Terkadang ia tak menoleh saat kami panggil 'Nesia'... Seperti itu bukan namanya... Dan lagi..."

Mata Kiku membesar, pikirannya kini sangat terfokus pada kata-kata yang siap dilontarkan lagi oleh Mei.

"Ketika ia pertama memperkenalkan diri... Dia memperkenalkan dirinya sebagai Pertiwi..."

Hati Kiku melengos di sana.

"aneh bukan? Jelas-jelas nama di buku siswa dan kartu siswanya adalah Nesia? Tapi kami tak mempermasalahkan hal itu lagi sih..."

"A-aku pergi dulu... Ada sesuatu yang... Mendesak..." pamit Kiku terburu-buru.

"oh... Oke... Cepat kembali sebelum pak guru datang!" seru Mei.

*O*

Memang masih istirahat, tapi tinggal 10 menit lagi. Oleh karena itu Kiku melakukan hal yang bagi orang lain sangat tak biasa ia lakukan; berlari melintasi koridor-koridor.

Kiku dikenal sebagai siswa cerdas yang tenang dan kalem, selalu merencanakan apa yang akan ia perbuat sehingga gerakannya selalu terstruktur dan teratur. Jarang sekali membuat teman-temannya heran -paling hanya kebingungan sampai ingin mati atas rumitnya rancangan 'konspirasi' yang Kiku buat. Pendek kata, Kiku adalah tipe seorang Mastermind.

Namun tidak kali ini, ia benar-benar lari seperti dikejar anjing tetangga atau telat bangun atau ketika ia baru sadar bahwa ia melewatkan tanda tangan seorang seiyuu dan harus balik untuk mengambilnya; yang sepertinya tak mungkin terjadi dalam hidupnya karena ia telah merencanakan segalanya.

Bahkan, saking herannya Alfred pun jadi salah mengambil scone special edition sebesar hamburger milik Arthur dan segera melesat ke toilet terdekat.

Kiku terus berlari sampai akhirnya tiba di gedung seberang, tempat siswa tahun pertama berada. Dicarinya wajah asia tenggara yang menjadi pertanyaannya sejak kemarin.

"N-nesia san?" sapa Kiku saat melihat seseorang yang mirip dengan Nesia, tapi ternyata bukan,

"ah... Sumimasen..." ucap Kiku menyesal, ditinggalkannya anak itu dan mulai mencari di kelas-kelas.

"senpai cari anak yang namanya Nesia ya?" sapa seorang kohai laki-laki berambut agak bergelombang yang tak sengaja memperhatikannya, "Tuh... Orangnya di sana tuh!" ucapnya sambil menunjuk-tunjuk gadis yang sedang bercengkrama riang dengan teman-temannya.

"aku panggilkan ya?" ucap kohai itu menawarkan bantuan,

"Oooi, ndooon! Ada yang cari luh nih!"

Yang sontak dijawab, "Apaan sih Malon? Ganggu aja!"

"ada senpai yang cari loe nih! Buruan! Keburu lumutan bin jamuran!" teriaknya lagi.

Kiku melihat Nesia mendekat padanya dan mengamati dirinya.

"aku masuk dulu ya, senpai..."

"h-hai... Arigatou, Malon-san..." ucap Kiku sembari membungkuk kecil untuk berterimakasih yang membuat si cowok langsat itu cengo dan Nesia tertawa sejadi-jadinya.

"senpai ini! Namaku Razak! Huh!" sebalnya sembari melenggang,

"a-ah... Sumimasen Razak-san... Hountou ni..."

"ya sudahlah! Heh, kalau ditembak ingat PJ (pajak jadian), ya ndon!" ucap Razak sarkatis.

"enak aja! Kenal juga nggak! Lagian kalau jadianpun tak ada PJ buatmu!" cibir Nesia.

Kenal juga nggak?

Kiku bertambah heran sekarang.

"jadi... Senpai siapa? Ada perlu apa dengan saya?"

*O*

Kiku benar-benar bingung sekarang. Pelajaran matematika sesi ini tidak ia hiraukan sama sekali. Semua ini karena satu makhluk; Nesia.

Bukan hanya karena ia telah memperkenalkan dirinya tiga kali kepada orang yang sama, namun juga atas jawabannya yang super-duper aneh ketika ditanya tentang klub,

"aku tidak ikut klub apapun... Klub tari ya? Aku tak tahu ada klub seperti itu..." jawab Nesia dengan muka polos, benar-benar tak mengerti, "lagian aku juga nggak bisa menari... Bisa-bisa aku jadi bahan ledekan Malay lagi kalo ikutan klub gitu..."

"kaset? Ini bukan milikku... Senpai kan lihat ada namanya di sini? Tulisannya Pertiwi... Bukan Nesia kan?" lanjutnya saat menerima kaset yang Kiku berikan.

Kiku tak habis pikir. Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia akhirnya hanya merebahkan tubuhnya di meja dan bergumam kecil, "okashii..."

*O*

"Kiku... Kiku... Kikkuuuuuu!" akhirnya Ludwig membentak Kiku yang melamun.

"h-hai... N-nani ga arimasuka?" ucap Kiku setelah dirinya sadar.

"kau itu... Tidak seperti biasanya..." jawab Ludwig, "ada sesuatu yang mengganggumu?"

"beritahukan kami, veee... Kami pasti akan membantumu..." imbuh Feli.

"iie... Nandemonai... Maaf telah membuat kalian khawatir... Daijoubu desu..." bohong Kiku, padahal dari tadi pikirannya pergi mencari jawaban tentang Nesia.

Tidak pernah, sekalipun, Kiku menyalah-gunakan fasilitas. Tapi parameter kepenasaranan Kiku sudah mencapai puncaknya. Ini misteri yang mungkin bisa dimasukkan ke 7 keajaiban sekolah -sebagai misteri ke 8.

Kiku merasa aneh, karena untuk misteri ini tadi dia harus meng-hack sistem data sekolah dan masuk ke jaringan data siswa, padahal dialah yang selalu membetulkan apabila sistem sekolah di-hack oleh trio labil tahun ketiga yang salah satunya adalah kakak dari Ludwig yang kalem dengan alasan yang mereka klaim sangat mulia; mencari pekerjaan.

Iya, mulia. Penerapannya kagak.

lah, yang mereka lakukan adalah deface situs sekolah, pemblokiran, mengubah data pribadi siswa-siswi lain seperti foto profil seorang Englishman menjadi scone beralis, atau bahkan nama sebagus Elizaveta bisa berubah menjadi Miss-Teflon-Melayang.

Tidak berguna!

Setelah ia masuk ke sistem data sekolah, mencari data tentang Nesia yang hanya ada satu dan tidak ada yang mirip dengannya di angkatan manapun -jadi penari itu bukan hantu gentayangan yang memiliki tragedi mengerikan yang biasa diceritakan di film-film horor.

"Kiku, kau melamun lagi..." tegur Ludwig, "kau juga belum menyelesaikan artikelmu tentang klub baru itu..."

"a-ah... Sumimasen..." Kiku merasa malu atas dirinya sekarang. Sudah tidak fokus, belum menyelesaikan tugasnya pula.

"dan kau juga lupa mengambil foto mereka kan?"

"ah... Iya..." jawab Kiku lemas. Baru kali ini ia sampai lupa melakukan hobinya.

"yah... Masih ada 3 hari lagi sih... Tidak apa-apa..." ucap Ludwig menetralkan.

"Kiku... Kau tahu.. Kau sangat diluar karaktermu hari ini... Ada apa sebenarnya?" Pertanyaan Ludwig tak didengarkan lagi oleh Kiku.

"KIKU!" tegur Ludwig sekali lagi, membuat Feli kaget dan tersedak pastanya.

"h-hai?!" ucap Kiku (kembali) kaget.

"hgh... aku mengerti kalau setiap orang punya masalah... Tapi kau tidak boleh terlarut di sana..."

"benar kata Ludwig, veee..." pemuda italia itu membenarkan setelah ia meneguk air minum dan mengelap mulutnya.

Sebenarnya ini bukan masalah juga... Tapi misteri...

"hegh... Kalau fokusmu seperti ini percuma kita adakan rapat klub... Kita akhiri saja... Oh ya... Besok klub tari diadakan lagi bukan? Jangan lupa fotonya ya... Dan juga kalau bisa artikelnya..." ucap Ludwig.

"Veee~~! Berarti kita bisa pergi ke supermarket untuk beli pasta, Ludwig!" seru Feli ceria di sela kunyahan pastanya. Sepertinya Feli mulai ketularan Alfred.

"telan dulu, Feli!" tegur pemuda Jerman itu lelah.


esoknya...

"ya... Gak masalah! Malah tambah ramai bukan?" jawab Mei riang saat Kiku kembali meminta ijin untuk ikut melihat klub tari lagi.

"s-sou ka?"

"ya... Tapi aku ada urusan sebentar dengan perpustakaan... Jadi kau duluan ke sana bagaimana? Sekalian ijinin aku ya kalau aku telat, teehee..." lanjutnya cengengesan.

"a-ah... Baiklah... Terimakasih ya... Maaf mengganggu kalian..."

"Kiku sama sekali tidak mengganggu kok... Kan Kiku hanya berdiri melihat saja? Atau kau mau ikut menari?" tawar Mei semangat, "biar Nesia yang ajarin... Hihihi..."

"i-iie... Arigatou..." Kiku sweatdrop.

*O*

Kiku melangkah cepat menyusuri koridor sekolah yang kini ramai dijajaki oleh para murid. Membelah dan melawan arus anak-anak yang hendak keluar dari gedung dan pulang ke habitat mereka masing-masing. Ia menuju ke kelas Nesia sekarang.

Kenapa?

Baru saja ada makhluk halus yang menyuruh Kiku men-stalk Nesia.

.

.

.

.

Tidak juga.

Hanya saja Kiku mendapat ide untuk melakukan pengawasan lebih ketat pada objek misterinya itu setelah ia tak sengaja mendengar Arthur bercerita heboh pada Alfred tentang Sherluk Homes karangan 'Sir Arthur' CD yang melakukan investigasi pada suspek.

Dan Nesia adalah suspek utama Kiku sekarang dalam kasus personality.

Kiku melihat Nesia dengan ceria melambaikan tangannya ke arah teman-temannya.

Sepertinya ia akan berpisah...

Kiku masuk ke dalam salah satu kelas, tak peduli pada tatapan heran para kohainya yang telah secara tidak langsung mengecap Kiku sebagai senpai aneh. Setelah Nesia melewati kelas dimana Kiku bersembunyi, ia terus berjalan, tetapi bukan ke arah ruang klub tari berada. Kiku pun terus membuntutinya perlahan dan waspada bak ninja yang menjadi trademark negarannya itu sehingga Nesia tak menyadari bahwa ia dibuntuti oleh detektif jadi-jadian sekarang.

Kemana Nesia-san akan pergi? Arah ini... Perpustakaan? Taman tengah?

Kiku terus membuntuti Nesia sampai akhirnya mereka berada di sebuah koridor sepi yang jarang dilalui orang. Koridor di lantai dasar yang arsitekturnya nanggung banget karena ternyata murid lebih memilih keluar gedung dan melewati taman untuk ke gedung tetangga ketimbang koridor sepi yang lorong masuknya tersembunyi di sebelah toilet ini.

Tampaknya koridor ini dibuat hanya demi mengindahkan aturan fisika bangunan, dan lalu lalang janitor, bukan untuk murid pada umumnya.

"oke... Kau bisa keluar..." ucap Nesia sembari menghentikan langkahnya.

Kiku bingung sekarang, apakah ia ketahuan telah membuntuti Nesia? Tajam sekali insting Nesia?

"ish! Keluar kau!" ucap Nesia sembari membalikkan badan dan menerjang ke arah Kiku. Kiku tak bergeming, hanya membiarkan kerah seragamnya ditarik di detik selanjutnya.

"kau yang kemarin, huh? Apa maksudmu mengikutiku?" ujarnya sambil menarik-narik kerah Kiku dan memojokkannya ke arah tembok serta mengunci gerak pemuda oriental malang itu.

Jika ada orang yang entah karena nasib apes apa lewat dan melihat mereka, pasti akan merengut keheranan melihat apa yang dilakukan oleh senpai-kohai ini.

Atau malah tertawa karena melihat hal yang cukup lucu; Nesia perlu berjinjit-jinjit untuk mengancam pemuda di hadapannya karena tinggi tubuh Nesia hanya sepundak Kiku, butuh usaha keras bagi Nesia untuk meneror pemuda yang tampaknya sudah kalang kabut dan panik walau tanpa ia ancam.

Padahal Kiku itu senpai dan dia laki-laki pula.

Atau yang paling parah mungkin berpikir bahwa ada yang sedang meminta 'pertanggung jawaban'.

#QuotesOfTheDay : Tatsuketeee~~~! -Kiku

Yabai! Ini Nesia-san yang galak!

Kiku makin panik, ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa sekarang setelah tertangkap basah oleh Angry-Nesia. Ia tak merencanakan situasi seperti ini.

"cepat jawab!" lanjut Nesia bertambah galak.

"a-a-aku... Hanya..." Kiku tak punya alasan yang cukup meyakinkan untuk diberikan pada Nesia yang semakin memaksa.

Kalau saja ia adalah orang Italy, pasti ia telah melambaikan bendera putih -dan memanggil-manggil seorang Jerman.

"kau ini... Cowok bukan, huh?!"

"h-hai!"

"cepat jawab! Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" tanya Nesia ulang.

Terbesit di otak Kiku, akhirnya, sebuah emergency door.

"a-aku... Hanya ingin mengembalikan sesuatu..."

"h-huh? Mengembalikan?" Nesia mulai mengendorkan genggamannya pada kerah baju pemuda Jepang yang teraniyaya itu.

"i-ini..." ucap Kiku sembari memberikan kaset yang ditinggalkan oleh -Kiku sendiri tak yakin siapa.

"bukan milikku..." ucap Nesia ketus.

"t-tapi kau menjatuhkannya kemarin..."

"benarkah? Coba lihat..." akhirnya Nesia benar-benar melepaskan Kiku dan perhatiannya teralihkan pada kaset yang kini di pegang olehnya.

"kemarin... Saat aku mengangkatmu... Mungkin itu terjatuh..." ucap Kiku mencoba mencairkan ketegangan yang malah disambut tatapan tajam dari Nesia.

A-aku salah apa lagi?!

"kau... Tidak... Mengangkatku! Jelas?!" desak Nesia kembali memojokkan Kiku.

"tapi kemarin..."

"jelas?!"

"h-hai!" Kiku akhirnya mengalah.

Nesia kembali mundur untuk sekali lagi memastikan kaset tersebut, "bukan milikku... Lihat... Namanya Pertiwi... Bukan aku..."

"l-lalu... Kau siapa?" tanya Kiku mulai frustasi.

"aku? Aku Garuda..."

.

.

.

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah?!


A/N:

Yeeeey... Chapter 2 yeeeey :D
Dan romance masih jauh... Humornya juga jayus...

Gomenna... \(T.T\)
#Authorbiasanulishal2serius

Mohon repiuw, kripik lan sarang yea... :D :D