Kiku hanya mematung melihat senpainya dengan heran. Masalahnya, selain senpainya itu memasang muka heran, merah dicampur malu, senpainya itu melihat ke arahnya dengan muka nafsu.
Elizaveta namanya. Siswi tahun terakhir yang biasa menjadi partner in crime Kiku dalam hal men-stalk pasangan-pasangan tampak sangat...
Bahagia!
Walaupun ada sedikit guratan kekecewaan.
"s-senpai?" ucap kiku ragu.
Namun belum mampu menyadarkan Elizaveta yang masih berada dalam dunianya sendiri. Ia masih sibuk memeriksa kelengkapan sarana prasarana (?).
2 orang - check. Walaupun bukan cowok semua.
Keringat - check.
Baju berantakan - check.
Posisi - check! Tertangkap basah sekali! Mereka baru selesai ya? Aku datang terlambat dong...
"s-se-senpai... A-anda... Ini..." ucap Kiku horor menyadari apa yang mungkin ada di dalam pikiran si senpai. Kepalanya celingukan antara Nesia yang setengah berada di bawahnya dan senpainya yang mulai mengambil kamera.
-Cklik-
.
.
.
"S-Senpai! Ini tidak seperti itu!" seru Kiku. Ia mencoba untuk tetap sopan dalam berteriak.
"Kiku... Walaupun aku kecewa karena selama ini aku selalu pairing kau dengan pemuda Yunani di kelasmu atau si Yao... Tapi tak apa lah... Eh ya... Kau berani sekali melakukannya di sekolah!"
.
Chigaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuaaaaaaaaaauuuuu!
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Kiku yang tenaganya habis dikuras oleh kegilaan gadis Asia Tenggara, kini hanya bisa menatap pasrah senpai sarap asal Eropanya. Ia kini mulai mengakui bahwa hukum karma sepertinya memang berjalan di muka bumi ini, namun dengan cara lain. Apakah ini balasan atas semua yang ia lakukan dulu? Dan apa pula memasangkan dirinya dengan Heracles-san? Oke, mereka memang dekat dan pasti menimbulkan masalah bagi otak perempuan Hungaria ini. Tapi Yao yang notabene kakak sepupunya? Akur saja kadang!
"Senpai! Ini salah paham!" ucap Kiku lagi.
"Eh? Benarkah? Kalau begitu kau masih sama pemuda Yunani itu?" ucap Elizaveta sambil terus mengabadikan momen tersebut.
"i-iie! Itu juga!" tolak Kiku lagi, "dan berhentilah mengambil foto seperti itu!"
"yah... Selama kau masih memasang pose ngelonin macam itu... Kenapa harus di sia-siakan?"
#QuotesOfTheDay : Selalu perhatikan posisimu, jangan biarkan orang salah paham. -Kiku
"uh..." decak Kiku yang baru ingat, ia segera menarik tubuhnya jauh-jauh dari Nesia juga bersiap untuk merebut kamera dari senpainya yang sudah lenyap dari tempat saat Kiku menengadahkan kepalanya.
Iiieeeeeeeeee!
Pemuda jepang itu kembali berteriak histeris di dalam hatinya. Sepertinya tadi malam ia tidak hanya meloncati sesuatu, tapi malah menginjak!
Kehormatanku... Apakah aku harus harakiri sekarang?
"u-unh..." terdengar suara dari Nesia, tampaknya ia akan segera bangun.
Secepat Nesia membuka matanya, secepat itu pula-lah Kiku lari untuk bersembunyi di belakang tembok pilar.
"u-ukh?" Nesia mulai duduk dan mengamati sekitarnya, sepertinya sangat bingung atas apa yang sedang terjadi. Kiku sedikit kasihan melihatnya, tapi ia tak akan keluar sebelum ia yakin siapa yang ada di dalam tubuh Nesia saat ini.
"Ini... Dimana?" ucap gadis itu kebingungan.
Kiku mengawasinya dengan was-was. Terlihat Nesia kini telah dalam posisi berdiri, sangat kebingungan, kepalanya tidak henti-hentinya bercelingukan, mengamati sekelilingnya yang sepertinya sangat tidak ia kenal. Wajahnyapun ketakutan, sampai-sampai ia terlihat hampir menangis.
Haruskah aku... T-tapi kalau orang itu muncul lagi... Ukh...
Kiku tetap di posisinya, ia bingung antara meninggalkan cewek aneh itu sendirian atau menghampirinya.
J-jujur saja aku seram jika harus menghampirinya... Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya...
.
.
Tunggu... Ini tidak seperti diriku...
"u-ukh... Ukh.. Hiks..."
Eh?
Perhatian Kiku tercuri oleh Nesia yang menangis. Kini gadis yang ia beri tittle kurang waras itu benar-benar tampak seperti anak kecil yang tersesat.
Aku tak punya pilihan huh?
.
.
"a-ano... Ne..." Kiku dengan penuh kehati-hatian mencoba mendapatkan perhatian.
"h-huh?" Nesia menghentikan sementara tangisannya, ia melihat ada yang mendatanginya.
"eh... Aku..." Kiku mencoba menjelaskan maksud sapaannya yang langsun dibalas dengan langkah seribu ke belakang oleh Nesia.
"t-tunggu!" cegah Kiku seraya mengambil langkah pula.
"berhenti!" seru Nesia dengan suara kecil.
"eh?"
"b-berhenti d-di s-sana... K-ku-kumohon..."
"h-hai?" tak yakin, namun Kiku menuruti gadis yang kini bersembunyi di balik tembok pilar yang berada di kejauhan 5 meter.
"u-uh... K-ka-kakak tahu... Aku... Aku... Tidak berharga untuk diculik!"
.
.
.
S-siapa juga yang mau menculikmu?!
"a-asal kakak tahu... Aku... Aku..." lanjut Nesia terbata.
Matte... Jangan bilang dia ketakutan?
Pemuda jepang itu mengusap mukanya dan tengkuknya. Ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya. Melihat hal tersebut Nesia semakin waspada.
"aku tidak akan menculikmu... Tenang saja... Aku..." Kiku menghentikan penjelasannya mendadak setelah mengamati reaksi salah Nesia.
-tte! Kenapa dia makin ketakutan?
"hgh... Kau menangis... Jadi aku ingin bertanya... Kenapa?"
.
.
"hanya itu saja..." ucap Kiku menegaskan.
.
.
"tersesat... Tak tahu dimana..." ucap Nesia lemah sampai-sampai hampir tak terdengar Kiku.
"S-sumimasen?"
"A-aku tersesat!" seru Nesia malu-malu.
"Tersesat ya? Mnh..."
Itu mustahil kan... Maksudku... Nesia-san bersekolah di sini sudah sebulan lebih... Jangan-jangan...
"uh... Siapa namamu?"
.
.
"... -wi..."
"s-sumimasen... Tidak terdengar jelas..."
"P-pertiwi..."
.
Pertiwi-san? Kalau begitu...
"ah... Apakah... Ini kasetmu?" tanya Kiku mencoba untuk ramah.
"u-uh?"
"er... A-aku Kiku... Tahun ke dua... Klub surat kabar... Teman Mei..." Kiku mencoba untuk mengeluarkan seluruh info tentang dirinya yang mungkin diketahui oleh si gadis.
"uh... Teman Mei-senpai?"
Jadi dia tahu Mei... Sepertinya dia Nesia-san yang menari kemarin...
"u-un... Saya yang kemarin datang dan mewawancarai klub tari... K-kau mengenalku, mungkin?"
"u-uh..." Nesia mulai memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya, dengan malu-malu dan takut-takut ia mendekati Kiku. Terlihat bagaimana tubuhnya bergetar menahan ketakutannya.
"u-uh... Kakak y-yang kemarin..."
"y-ya... Aku yang kemarin... Kiku Honda... Itu namaku..."
"Kak H-honda... y-ya?" ucap Pertiwi masih ketakutan walau sudah sedikit mereda.
"hai..." ucap Kiku ramah sembari memberikan kaset yang ia temukan.
"a-ah... Ini milikku..." wajah Pertiwi mulai cerah.
"begitukah? Syukurlah..." ucap Kiku lega.
"T-terimakasih banyak! Kak Honda!" seru Pertiwi bahagia, "Terimakasih! Ini sangat berharga buatku..."
Kiku tertegun.
Kawaaaiii! Aku tak percaya dia yang tadi menerorku sampai aku ingin mati...
"benar-benar terimakasih... Nii-san sungguh baik..."
Tunggu... Kenapa dia panggil aku Nii-san? Dan caranya bicara...
"eh... Kenapa kau panggil aku dengan nii-san?" tanya Kiku heran. Yang kemudian hanya dibalas dengan tatapan heran dari Nesia.
"err... Pertiwi-san yah?"
Nesia mengangguk
"Pertiwi-san tersesat?"
Angguk lagi.
"Pertiwi-san benar-benar tak mengenal tempat ini?"
Angguk.
"Pertiwi-san kan sekolah di sini?"
Geleng-geleng.
"h-huh? Kalau begitu kenapa Pertiwi-san ada di sini?"
"Aku tak tahu... S-seharusnya aku berada di sebuah ruangan yang digunakan untuk menari... Tapi... Aku..." ucap Pertiwi sembari celingukan.
Apakah dia hanya tahu ruang tari?
"Pertiwi-san... Sebenarnya kau ini siapa?" tanya Kiku lagi.
"uh... A-aku... Namaku Pertiwi... A-aku suka menari... Aku sangat suka menari dan aku selalu... Menari dan..."
"selain menari?" potong Kiku.
"aku... Uh..."
Dia... Tidak punya ingatan selain menari?
"Aku... Pergi ke Hetalia Elementary School..."
.
.
H-hai?! Elementary school?!
Kiku berusaha sekuat tenaganya untuk tidak freak-out. Ini terlalu aneh!
Kiku memandangi dari atas ke bawah sikap dan cara Nesia membawa dirinya.
"a-ada yang aneh, onii-san?"
"Pertiwi-san... Berapa umurmu?"
"sembilan..."
.
.
"s-sembilan... Y-ya?" Kiku dalam taraf kebingungan yang luar biasa sekarang.
"a-anu... Honda nii-san..."
"uh?"
"M-mei senpai... Dimana ya?" tanya Pertiwi penuh harap, "juga... Tempat menari..."
"o-oh... Itu..."
"t-tolong... Bisakah... Onii-san... Antarkan..."
.
Kiku menghela nafas sembari tersenyum simpul.
"hai... Mochiron desu..." ucap Kiku memamerkan senyum hangatnya.
Tampak wajah Pertiwi merekah senang, "terimakasih! Honda nii-san..."
M-maaa... Dia cukup manis... Sungguh berbeda dari yang mengaku bernama Garuda tadi...
-tep-
.
Eng?
Wajah Kiku sontak berubah horor saat dengan innosennya Pertiwi menyentuh celananya. Refleks ia tepis tangan gadis 'polos' itu dan mundur beberapa langkah.
Kiku nampaknya masih trauma akan kejadian naas yang barusan menimpanya sehingga tak sengaja menghindari Pertiwi. Sedangkan Pertiwi hanya menunduk diam.
.
.
"P-pertiwi-san?" tanya Kiku setelah terjadi kesunyian yang cukup lama. Tampaknya baru saja ia membuat kesalahan. Ia mencoba untuk menyentuh Pertiwi, namun si gadis malah mundur beberapa langkah.
"m-ma-maaf... Hiks..." isaknya.
N-nani? Apa yang...
"m-maaf... Maaf... Hiks... Jangan benci Pertiwi... Hiks... Hiks..."
"a-a-ah! Tidak... Tidak... A-aku tidak membenci Pertiwi-san... Sungguh... T-tadi itu... M-maaa... Gimana menjelaskannya ya... T-tapi aku tidak membenci Pertiwi-san..."
"hiks... B-benar?" ucap Pertiwi di sela tangisannya "H-honda nii-san... Tidak... Membenciku?"
"y-ya... Hanya saja... Aku tidak begitu suka celanaku ditarik... Itu..." Kiku membuang pandangannya saat kembali teringat akan mimpi buruknya yang barusan berakhir.
"m-maaf... Maaf..." ucap Pertiwi sembari mengusap air matanya yang semakin deras.
"T-tunggu... Uh... Aku antarkan ke Mei sekarang... Ya? Berhentilah menangis... Ya?" pinta Kiku sembari mengambil sapu tangannya, "ini..."
"u-uh... T-terimakasih..." ucap Pertiwi lemah sembari mengambil sapu tangan Kiku.
Selagi Pertiwi mengusap air matanya, Kiku terus bertanya-tanya akan perubahan drastis pada personality 'Nesia-san'. Yang tadinya sungguh mendominasi dan menyebalkan menjadi begitu rapuh dan seperti anak kecil.
"kalau begitu... Kita berangkat sekarang?" tanya Kiku sambil melangkah saat Pertiwi telah selesai menghapus air matanya.
"t-tunggu..."
-tep-
H-huh?
Kiku sungguh kaget saat tangannya disentuh oleh tangan kecil Pertiwi. Bagaikan ada sengatan listrik yang menggelitik dari tangannya sampai ke rongga di dadanya. Listrik kecil itupun membuat wajahnya memerah sekarang.
"t-tunggu..." pinta Nesia seraya mendongakkan kepalanya dan mengeratkan pegangan tangannya, "jangan tinggalkan aku..."
.
.
Sempurna.
Tepat mengenai sasaran.
Bagaikan dijatuhi bom atom, pikiran Kiku meledak dan berantakan hebat sampai-sampai ia mengabaikan kalimat selanjutnya, yang Kiku anggap tak penting lagi.
*O*
"k-kenapa kalian memukulku... Mei-san? Thai-san?" keluh Kiku setelah ia dihadiahi dua bogem dari teman-temannya.
"a-aku tak tahu... Kiku... Kau... Ternyata..."
"Kau apakan Nesia, ana?!" senyum Thai sudah tak semanis madu lagi.
"i-iie! Aku tak melakukan apapun!" ucap Kiku saat ia akhirnya berhasil mengerti apa yang mungkin ada dipikiran dua orang penggebuk dirinya.
"K-kalau begitu kenapa Nesia datang denganmu? Digandeng olehmu? Dengan mukamu yang memerah dan Nesia menangis?" Mei mengintrogasi.
Vie memeluk Nesia, mencoba menyembunyikannya dari Kiku. Berbeda dengan Yong yang entah mengapa menjadi pemandu sorak dadakan. Sedangkan Hong hanya geleng-geleng kepala.
"aku sungguh tak melakukan apapun!" Kiku kini merasa nyawanya kembali diancam. Hari ini dia benar-benar kelewat apes.
"Honda nii-san tak melakukan apapun, Senpai... Tadi aku hanya tersesat... Dan Honda nii-san yang membantuku kemari..." jelas Nesia.
"apakah kalian dengar?!" tekan Kiku.
.
.
"Kau ancam apa anak sepolos Nesia, ana?! Mana mungkin ada anak tersesat? Kan ada MOS? Lagipula Nesia bukan anak TK!" desak Thai dengan senyuman shinigaminya lagi.
Kiku tak tahu harus apa lagi. Mungkin ini saatnya mempersiapkan nyawanya yang akan diregang.
"a-aku tidak bohong, Thai-nii..." ucap Nesia lagi, "Honda-nii san menolongku..."
"Lalu apa pula 'Honda nii-san' itu, ana?!" tanya Thai lagi, "sejak kapan kedua produsen mobil itu merger, ana?"
"A-apa maksudmu dengan produsen mobil?" protes Kiku, "a-aku tak tahu... Tiba-tiba Pertiwi-san memanggilku seperti itu..."
"KALIAN SUDAH PUNYA NAMA SAYANG YA?!" seru Yong yang membuat semua muka syok, kecuali Nesia yang tak paham apa yang terjadi.
Chigaaaaauuu! Yamette kudasai!
"tampaknya kita harus lapor ke Yao-gege... Hong... Aku tak mau mengakui saudara jauh dengannya!" isak Mei pada Hong yang mengangguk mengiyakan.
Kalian membuangku?! -tte... Bukan masalah sih... Biarkan saja...
"apakah aku tak boleh memanggilnya demikian?" tanya Pertiwi heran, "juga... Kenapa senpai jahat pada Honda nii-"
"jangan sebut itu!" seru semuanya kompak.
"er... Panggil saja aku Honda-senpai..." ucap Kiku canggung.
"Honda-senpai... Kan baik?" ucap pertiwi dengan tampang polosnya.
.
.
"Kiku! Kau... Selesaikan masalahmu dengan kami... Ambil foto kami atau apa dan pergi dari sini!" ucap Mei tak tahan.
Dan Kiku hanya mematung.
Oh iya... Foto...
.
.
Elizaveta-senpai!
Kiku langsung melesat meninggalkan klub tari. Ada hal yang lebih menakutkan yang harus ia urus.
.
.
"Kita nggak jadi foto, da ze?"
A/N:
Yeeeeeeeeeeeeeeeeeey... Chapitra ke 4 keluar :D :D
Mohon kritik, saran dan komentarnya yaaaaaaa :D
