Kiku mendesah lemas. Ia merebahkan tubuhnya di mejanya. Tragedi pagi tadi cukup menguras seluruh tenaganya. Padahal hari baru mau mulai nanti, setelah bel masuk berbinyi.
"K-kiku..."
"H-huh? Mei-san?" Kiku mengambil posisi tegapnya lagi.
"Er... Bagaimana menjelaskannya,ya... Mnh... Maaf! Sudah menuduhmu macam-macam..." ucap Mei sembari mengatupkan kedua tangannya memohon ampun.
"H-hai?"
"Kemarin Nesia menceritakan kejadiannya... Kau mengembalikan kasetnya dan mengantarkannya ke ruang tari..."
"Sekarang kau percaya? Mei-san?" ucap Kiku sembari bertopang dagu.
"Y-yah... Nesia tidak mungkin bohong... Lagipula..." Mei mulai memandangi Kiku yang mulai curiga.
Entah mengapa… Aku punya firasat lain tentang hal ini...
"T-tidak... P-pokoknya itu saja ya..." ucap Mei canggung, "Terus... Umnh... Kapan artikel kita terbit?"
.
.
.
Sou desu ka? Hooo...
Kiku memandang Mei dengan tatapan nakal. Siap untuk melakukan hobinya yang lain selain fotografi; usil.
"Ah... Kita hampir masuk... Aku kembali ke bangku-ku ya... Hahaha..." menyadari tatapan aneh Kiku, Mei langsung melarikan diri.
Hgh... Hountou ni...
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Pagi tadi, setelah Kiku sarapan bersama murid lainnya, ia menggenggam erat sebuah kantung mungil yang berjudulkan 'o-mamori' dalam tulisan kanji seraya berdoa dengan sangat khusyuk sebelum berangkat ke sekolah.
Semoga hari ini tidak seperti kemarin! Dan semoga hari ini lancar-lancar saja! Semoga hari ini tidak menemui masalah!
Ya, Kiku mempersiapkan hari ini lebih matang daripada hari-hari yang telah lalu karena hari ini adalah hari penentuan yang sangat penting. Di perjalanan berangkat ke sekolah Kiku terus menggumamkan sesuatu. Tampaknya ia berlatih untuk mengucapkan beberapa rangkaian kalimat.
Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Kiku mengatur nafasanya agar dirinya menjadi lebih tenang dan rileks. Kemudian ia seret langkahnya dengan segera menuju ke markas khusus yang sangat tersembunyi dan hanya diketahui oleh beberapa orang sebagai anggotanya.
Bukan sebuah klub legal, namun memiliki anggota yang tidak bisa dibilang sedikit. Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah anggota mereka dan dimana saja mereka menyebar -karena sangat teramat rahasia. Maka, jangan sekali-kali anda melakukan hal-hal 'menjurus', karena anda tak akan tahu, kapan tindakan manis anda kepada sahabat anda menjadi 'santapan' mereka.
Dan di sinilah ia, di depan 'ruangan' klub super rahasia. Dan Kiku akan bertemu dengan ketuanya.
Bertemu Elizaveta.
*O*
"Senpai sudah di sini…" sapa Kiku dengan nada hati-hati pada senpai cantik yang sedang bersandar di salah satu pilar bangunan sekolah.
Elizaveta tak segera menjawab sapaan Kiku. Pandangannya masih mengarah ke jendela besar yang menghiasi hampir seluruh bagian gedung tua Hetalia Gakuen.
"senpai…" sapa Kiku lagi.
"Hari ini…. Sangat cerah ya…" balas surai coklat itu dengan ceria. Tak lupa ia memamerkan senyum khas-nya yang manis.
Namun Kiku hanya bisa menatap horror semua itu. Pagi ini memang cerah, sangat cerah dengan cuaca yang nyaman pula. Sangat sempurna, sampai-sampai Kiku berpikir dunia juga sedang ikut mengolok perasaannya yang sedang mendung.
Elizaveta mengambil beberapa langkah, membuatnya berdiri sekitar 4-5 meter tepat di hadapan Kiku. Tatapannya berubah serius, namun bibirnya masih mengulaskan senyum lebar yang bahagia. Ia bagaikan koboy yang siap berduel -dan ia sangat percaya diri untuk bisa menang.
"Kau bawa yang aku minta?" tanya perempuan Hungaria itu menuntut.
"Senpai… anda…"
"Kau bawa? Atau tidak?"
Kiku meneguk ludahnya. Sia-sia sudah apa yang sedari pagi ia siapkan. Kiku tahu sejak awal, bahwa posisinya memang sudah tak bisa menang lagi melawan gadis Hungaria ini. Meskipun begitu, ia bukan tipikal orang yang semudah itu menyerah. Paling tidak, ia mencoba melawan, walau hasilnya seperti apa yang telah ia prediksikan: gagal.
"Y-ya…" jawab Kiku lemah.
"Bagus… bagus…" ucap Elizaveta sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
.
.
"Senpai... Ini bisa dikategorikan sebagai meneror loh..."
"Aku tidak peduli…" ucapnya dengan senyum manis.
.
.
Kiku menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
Duel belum berakhir. Selama ia belum menyerah, mungkin saja aka nada suatu keajaiban nanti.
"Kalau senpai tak peduli… Aku juga tidak peduli…."
"Bagus kalau begitu! Dengan begini aku bebas mem-posting foto ini di mana saja yang aku mau dan aku bias memeras si Albiino itu sesukaku. Kau tahu Kiku? Dia sungguh berapi-api ketika aku hanya menceritakan bahwa aku punya foto feomenal tentangmu! Gil memang selalu mencari kelemahanmu selama ini… Di bergumam gumam tidak jelas tentang masalah kau mengalahkan hackingnya minggu lalu dan mempertebal proteksi web sekolah serta mem-block akunnya… yah, aku tak terlalu mengerti… eh tapi bagus juga kalau misalnya aku posting di-bla-bla-bla-bla..." cerocos gadis itu tanpa mengenal ambil nafas.
Gilbert-senpai dendam akan hal itu? Kenapa padaku?! Ini perintah sekolah!
Kiku menangisi kepatuhannya pada permintaan sekolah yang sudah frustasi akan kejahilan BTT. Mereka tidak memberikan ancaman yang berarti pada data sekolah memang, tapi apa yang mereka lakukan itu sungguh menyebalkan.
Tunggu sampai Elizaveta-senpai tahu tentang namanya yang berubah menjadi Miss-Flying-Pan dan aku yang membenarkannya….
"Senpai… Benarkah senpai mau melepaskan Gilbert-senpai dan memberikan 'barang itu' padanya? Apakah senpai tahu bahwa Gilbert-senpai mengubah nama akun senpai dan seluruh data diri senpai? Dan akulah yang membenarkannya?"
"Benarkah?" tanya Elizaveta dengan senyum anehnya. Tampak sangat jelas bahwa ia benar-benar snapped mendengar berita tersebut, "Yah… Terimakasih banyak, Kiku… Setelah ini aku pasti akan melakukan 'hal yang seharusnya' pada Prussen itu..." terlihat aura-aura ungu memancar dari senyum manis Elizaveta.
"Da-dakara… ne..."
"Tidak…. Tidak… Ini dan itu berbeda…" tolak Elizaveta lagi, "lagipula kau membenarkan akunku karena perintah sekolah bukan?"
Kiku sedang mengutuk si 'perintah sekolah' sekarang.
.
.
"Sudahlah… sudah hampir masuk… Berikan saja padaku dan aku akan memberikannya dengan senang hati…" ucap Elizaveta lagi, "ini penawaran terakhir…"
Elizaveta menarik sesuatu dari kantung roknya dan memamerkannya kepada muka horror Kiku, "kalau tidak seluruh sekolah dan dunia akan…"
"M-matte! Aku mengerti!" ucap Kiku memotong pembicaraan senpainya. Ia menyerah sekarang. Jika seluruh sekolah tahu akan hal ini, maka habislah riwayatnya. Semua ini akan menjadi hal buruk terbesar dan pastinya akan membawa bencana berjangka panjang.
Jangan sebutkan tentang tindakan yang mungkin dilakukan anggota klub rahasia ini pada Kiku jika mereka tahu; SORE WA JIGOKU DESU!*
"Yep! Kiku memang baik!" ucap Elizaveta yang ber-watados ria.
Sebal. Kiku membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map coklat yang cukup -sangat tebal dan besar.
"I-ini yang aku punya tentang pasangan *piiiip*... doujin, foto... dan yang senpai minta..." ucap Kiku tidak rela.
Elizaveta menerimanya dengan senang hati -salah, sungguh bahagia sampai ke langit ketujuh.
#QuotesOfTheDay : jika kau pegang aib Kiku, kau bebas meminta doujin dan foto apapun. -Elizaveta
"Ini foto-fotomu yang kemarin..." Elizaveta menyerahkan sebuah CD dan lembar foto yang barusan dikeluarkannya.
"S-sudah kubilang musnahkan saja, senpai!" elak Kiku, namun pada akhirnya tetap ia terima karena Elizaveta terlihat akan membuangnya sembarangan.
"Y-yah... Aku sarankan kau melihatnya dulu... Sayang banget loh kalau dihapus..." ucap Elizaveta riang.
Apanya?! Ini adalah bencana! Bagaimana aku akan melihatnya?!
"Kau tenang saja... Tak ada kopiannya di laptopku... Aku benar-benar tak punya softcopy lagi..."
"Sebaiknya demikian..." ucap Kiku tidak suka.
"Kalau begitu aku kembali ya... Semoga kau beruntung, Kiku!"
Ya... Aku akan membutuhkannya...
Elizaveta tersenyum dan membalikkan badannya serta melangkah menjauh dari Kiku.
Yah... Kiku... Terlalu sayang untuk dihapus...
Elizaveta mengeluarkan selembar foto lagi dari sakunya. Foto yang ia ambil sebelum ia menyadari bahwa subjeknya adalah Kohai sealamnya sendiri; Kiku.
Di foto tersebut terlihat Kiku yang sedang mengecek nafas Nesia -namun lebih terlihat seperti membelai pipi dari sudut pengambilannya. Kiku yang melingkarkan lengan kirinya di atas kepala Nesia dan mengangkat tubuhnya sedikit ke arah Nesia seperti sedang menemani tidur itu terlihat memberikan tatapan teduh yang menenangkan.
Sangat jarang sekali loh melihat kau begitu maskulin... Bisa jadi seme nih... Hihihi...
*O*
"Jadi... Belum ada fotonya?" tanya Ludwig heran saat klub surat kabar berkumpul.
Kiku hanya membuang mukanya, menyadari masalahnya belum selesai 100% seperti sekolah hari ini.
.
Dan lagi-lagi dengan foto.
.
Lama kelamaan dia akan meninggalkan hobby fotografinya kalau begini terus.
Kiku menghela nafas kecil. Padahal ia tak mau kembali ke klub tari itu dan menemui penyebab masalah dalam hidup tenang, teratur dan terstrukturnya; Nesia -atau Garuda -atau Pertiwi semua sama saja.
Pasti... Orang itu menderita personality ganda... Dan situasi sungguh tidak bisa dikendalikan di dekatnya...
"Waktu deadline kita hampir habis..." ucap Ludwig mengingatkan, "Apa sulitnya mengambil sebuah foto?"
Kiku menatap Ludwig dan Feli dengan nanar.
Sangat sulit sampai aku harus kehilangan file x tentang kalian berdua...
Kiku kembali mendesah lelah.
"Bagaimana kalau aku temani, veee? Aku jadi penasaran dengan klub tari!"
"U-uh... Onegai-shimasu..." ucap Kiku penuh rasa terimakasih.
Setidaknya dia tidak pergi sendirian. Setidaknya temannya adalah seorang Pemuda Italia yang berpengalaman tentang perempuan -paling tidak lebih berpengalaman darinya. Kiku sungguh berharap akan bantuan dari Feli nantinya.
*O*
"K-kalian satu klub bukan? Kenapa kalian tidak punya nomor hp-nya?" ucap Kiku hopeless.
"Y-yah..." Yong mencari alasan.
"Nesia tak punya hp, ana..."
Uso!
"Kalau begitu aku akan mengambil foto pengurusnya saja..." Kiku menyiapkan kamera.
"Masa begitu, veee...?"
"I-iya! Karena klub ini kecil, semuanya harus ikut!" ucap Mei.
"Hoho..." Kiku melirik Mei dengan muka nakal. Ia tahu Mei ingin berfoto bersama Hong.
"I-ini... Itu... Uh... Eh..." Mei mulai salah tingkah, "D-daripada itu! S-siapa saja tolong cari Nesia!" ucapnya gelagapan.
"Mau cari dimana, ana? Sekolah sudah bubar... Dia pasti sudah pulang..."
"Di dorm, lah!" jawab Vie.
"Kalau di dorm, berarti cuma 2 orang yang bisa, ana..."
.
.
B-bener sih...
Vie dan Mei menatap langit-langit.
"Kalau begitu aku cari dia di dorm..." Ucap Mei, "Vie... Ikut?"
"U-uh... Ya..." ucap Vie sembari mengikuti Mei.
Hong juga bangkit dari tempat duduknya.
"H-hong mau kemana, da ze?" tanya Yong yang hanya dijawab dengan menunjuk ke arah Mei.
"Iya ya... Hong pasti bosan, ana..." ucap Thai sembari mengeluarkan boneka gajah yang belum jadi, tampaknya ia mulai melanjutkan pembuatan boneka itu.
"J-jadi ini yang kau kerjakan, da ze?!" Yong kaget, "Semua boneka gajahmu itu..."
"Habis aku tidak boleh membawa gajah asli, ana..."
You don't say that! It's obvious!
"Aku ikut Hong saja deh..." ucap Yong bosan, kemudian langsung ngacir menyusul Hong dkk.
"tampaknya aku mengerti mengapa kau sulit mengambil foto mereka, veee..." bisik Feli kepada Kiku.
"M-maa.. Kurang lebihnya..."
*O*
"Kira-kira mereka sudah kembali belum ya?" tanya Feli sembari mencuci tangan setelah ia keluar dari wc.
Entahlah... Tapi kalau mereka ketemu dengan bukan pertiwi bagaimana ya?
-pipipipi-
"A-ah... Itu hp-ku, veee... Sebentar ya, Kiku..." ucap Feli sembari mengambil hp-nya dan mengambil jarak untuk privasi-nya.
"U-un..." jawab Kiku datar. Ia membiarkan Feli dengan hp-nya sendiri, menebak-nebak siapa yang mungkin ada di seberang, saudara kembar Feli atau mungkin Ludwig.
"Mnh?" perhatian Kiku teralihkan pada sesuatu di dalam ruang klub sihir milik pria Inggris.
M-masaka? T-tidak mungkin ada hantu di jam segini kan... Eh, tapi itu ruang klub sihir... Apa mungkin...
Kiku semakin ngeri saat bayangan itu mendekat ke arah pintu dan mencoba membuka pintu ruangan tersebut.
-ckleeek... krieeeeeeeeet-
Pintu ruangan gelap itu terbuka perlahan. Secepatnya Kiku bersembunyi di balik sebuah pilar, namun masih bisa mengawasi keadaan di sekelilingnya. Ia melihat ke arah Feli yang masih menerima telepon, kemudian berbalik melihat ke arah pintu yang terbuka dan makhluk yang keluar dari ruangan yang isinya tidak jelas itu.
.
.
H-huh?! M-matte! Are wa...
-brukh-
Walaupun tidak percaya, walaupun masih curiga dan takut, Kiku tetap berlari menghampiri tubuh yang tergeletak di lantai itu.
Seragamnya tak rapi, rambutnyapun acak-acakan. Kalau dilihat sekilas orang-orang pasti berteriak bahwa murid ini adalah mayat, atau mungkin makhluk astral hasil summon-nan Arthur.
"H-hei! Daijoubu desu ka?" ucap Kiku sembari mengangkat tubuh siswi tersebut.
Tubuhnya sangat dingin, membuat Kiku ragu untuk membalikkan badan si siswi.
Bagaimana kalau ternyata dia adalah obake -makhluk jadi-jadian-?!
.
.
Kiku menelan ludahnya, mempersiapkan diri. Toh ia masih menyimpan o-mamori di saku celananya. Ia menyiapkan diri untuk membalik tubuh kecil yang entah kenapa sepertinya ia kenal itu.
Dengan cepat Kiku membalik tubuh si siswi. Kiku menatap wajah si siswi yang pucat pasi bagaikan mayat. Kelopak matanya yang sembab dan membengkak menambah seram wajah si siswi.
Namun bukan ketakutan yang Kiku rasakan, malahan khawatir tak ketolongan ketika menyadari siapa yang baru saja ia angkat.
N-nesia... san?!
"N-nesia-san! Daiijoubu desu ka?! Nesia-san? Kikoeteru ka? Okite!" seru Kiku panik sembari mengecek apakah ada luka atau sesuatu semacamnya.
Setelah Kiku memastikan tak ada luka atau apapun, ia membantu merapihkan rambut acak-acakan Nesia. Dirinya tersenyum lega ketika melihat ada tanda-tanda sadar yang dikeluarkan oleh gadis cilik itu. Namun ia juga ingat untuk berhati-hati jika saja yang keluar bukan personaliti Nesia yang positif. Garuda-san contohnya.
"Nesia-san?" ucap Kiku lembut saat ia melihat keping hitam menatapnya.
.
.
"K-kau... Kau..."
"H-huh?!"
Kiku tertegun saat melihat mata Nesia yang tak fokus. Sungguh mengerikan. Terakhir kali ia melihat mata seperti itu adalah ketika ia tak sengaja melihat gadis cantik dari Belarus mengejar-ngejar yang dipanggil sebagai kakaknya.
"Nesia... San?" Kiku tercekat saat melihat gerakan siswi itu yang mencoba menyerangnya. Ia membeku, kembali tak bisa berbuat apa-apa. Terlalu cepat, dan Kiku terlalu kaget untuk mengolah informasi bahwa ia kini dalam posisi dicekik oleh siswi psikopat ini.
-bruuk-
"MATI SAJA SEMUANYA! MATI! AKU TAK BUTUH! AKU TAK BUTUH BANTUAN! AKU TAK BUTUH BELAS KASIHAN! MATI SAJA KALIAN SEMUA!" Teriak sang gadis sembari mencekik Kiku di lantai.
Suara itu terus bergema di dalam kepala Kiku yang mencoba melepaskan cekikan kuat dari Nesia. Ia tunda kebiasaannya untuk berfikir dan mencerna informasi dulu karena sistem tersebut terbukti tak pernah mempan untuk menghadapi Nesia.
Sekarang yang ia pikirkan adalah lepas dari gadis yang sepertinya benar-benar ingin membunuhnya.
"KAU MATI! MAT-"
"Jangan... BERCANDA!"
-Sets… Bruk-
Cukup keras Kiku membanting gadis tersebut, kini ia terengah, berusaha untuk mengambil oksigen dan mengisi paru-parunya.
"Uhuk...uhuk... Apa masalahmu?!" Ucap Kiku sembari menggeser tubuhnya, ia tak lupa untuk mengambil jarak agar tidak ada lagi kejadian mengerikan seperti kasus Elizaveta-senpai.
"MATI... MATI SAJA SEMUANYA! MATI! Se...mua...nya..." tutup gadis itu dengan linangan air mata.
"T-tung... Eh..." Kiku menghela nafas saat menyadari 'personality' Nesia yang satu ini telah menghilang bersamaan dengan tertutupnya mata Nesia.
Kami-sama... Apa yang tengah terjadi sebenarnya?
A/N :
Yippiyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeey! Akhirnya! Chapie 5!
Author: Noh! Neth! 2000!
Neth: 2000 aja bangga... 2000 paling cuman dapet nasi kucing...
Author: Apa kau bilang?! *narik tambang
*O*
Kiku: N-nesia san? Daijoubu desu ka? Nesia-san?
Nesia: A-aku rapopo...
Kiku: A-aku terlalu keras membantingmu? Hountou ni sumimasen deshita... *Kiku membantu Nesia duduk
Nesia: Tidak... tidak... Aku... cuman pusing... dan... Author...
Author: *selesai ngikat Neth di pohon beringin* Apa Nes?
Nesia: uh... Kok apdet telat?
Author: Ah... terimakasih kau mengingatkanku... Ini semua karena Neth! *nyiapin gobang
Neth: Apa yang akan kau lakukan dengan itu?! *histeris
Author: Ini semua karena bangunan kolonialmu!
Neth: O-oh... karya cintaku bersama Nesia?
Nesia: Kiku... Aku duluan ya... ada sesuatu yang harus aku hancurkan... *evilsmile sembari nenteng TNT
Kiku: A-are?
Author: Aku menyusulmu Nes! *Lari mengejar Nesia
Neth: Wooooi! Lepasin aku! Kiku! Lepasin aku! Heh! Kunti! jangan tertawa! Ini tidak lucu!
Kunti: Hihihihihi... ada mas-mas ganteng buat jadi sajenku... hihihihihi...
Kiku: *sweatdrop* D-daripada itu... balas review... balas review! *buka page review* Ravenilu597-san...
.
-pooof-
Kiku: *blushing* A-arigatou... a-aku akan berusaha... maaf karena telat apdet... soalnya karena Oranda-san di sana...
Neth: Bukan salahku! Kiku! Lepasin aku!
Kiku: Iia desu... Ravenilu597-san, maafkan kelakuannya... *bow* Eto... Alter Ego itu... ya, bisa dibilang split personality... arti harafiahnya adalah 'aku yang lainnya'... kalau dalam FF ni tentang Nesia-san yang jiwanya terpecah belah menjadi... *garuk kepala* Aku lupa Author bilang berapa... Ikutin terus saja ya... Oh ya, Domo Arigatou Gozaimashita untuk reviewnya... *sweetsmiley
*cek review lagi
Kiku: Eto... Faracchi Neko Darkblue-san, Hountou ni arigatou gozaimashita *bow semua ini karena anda :D :D Terimakasih banyak...
*tutup gadget
Kiku: Mina-san... domo arigatou gozaimashita... untuk selanjutnya mohon kritik dan sarannya, nanti saya sampaikan ke Auth-
-BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM-
Kiku: -thor... *ningukcepat* Oranda-san... Tampaknya mereka sudah mulai...
Neth: *speechless
