My stalker
Cast:
Lee Eunhyuk
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
Lee Ryeowook
Kim Yesung
Kim Kibum
Choi Siwon
Leeteuk
Others (seiring berjalanya cerita)
Synopsis:
Seorang namja periang bertemu dengan namja tampan yang sangat dingin. membuat si namja manis terperangkap dengan perasaan penasaran, jengkel dan..."apakah aku mencintainya?"/ "kau mengatakan aku pengecut"/ "jadi selama ini kau membuntutiku?"/ "menjadi stalker itu lumayan juga, mencintai tanpa harus mengatakanya"
Warning: yaoi/BL, AU, EYD berserakan, OOC, abal+Geje
.
Tidak suka jangan dibaca
.
.
.
Chapter 17
Angin musim dingin berhembus. Dinginnya angin ini tidak membuat dua namja yang sejak tadi berada di taman rumah sakit bergeming dari tempatnya. Namja berbadan kurus yang diketahui bernama Eunhyuk, tetap duduk di bangku kayu dengan wajah menunduk. Namja tampan di depannya juga diam, berpikir apa yang harus dilakukannya.
Sampai akhirnya, Eunhyuk berdiri dari kursinya dan berjalan menuju rumah sakit.
"Mau kemana Hyukkie?" tanya Siwon yang langsung menggenggam tangan itu.
"Lepaskan hyung! aku mau menemui Donghae, aku harus menjelaskannya sekali lagi! aku harus meyakinkannya!"
"Tidak! Hyukkie jangan sekarang! Kau tahu, apa yang kau lakukan akan membuat keadaan makin buruk!"
"Lalu aku harus bagaimana hyung? aku tetap disini, diam tanpa berbuat apa-apa?"
"Ada saatnya kita bertindak, tapi berpikirlah dulu apa yang akan kita dapat dari tindakan yang kita ambil itu," tidak ada respon, Eunhyuk masih tetap berusaha masuk. "Hyukkie, ada apa sih denganmu? Kenapa kau keras kepala seperti ini?"
"Karena ini menyangkut orang yang aku cintai hyung… aku tidak bisa jika hanya diam dan berpura-pura tidak tahu!"
"Tapi sekarang lihat kondisi Donghae? Apa yang kau lakukan ini bisa membunuhnya?"
"Jadi hyung menyalahkan tindakanku?" hening. Pertanyaan Eunhyuk langsung membuat Siwon diam. "Hyung… jawab pertanyaanku! Jika hyung berada diposisiku apa yang akan hyung lakukan?" Eunhyuk melepaskan tangan Siwon dan berlari masuk kedalam rumah sakit. Siwon berdecak kesal dan berlari menyusul Eunhyuk.
Eunhyuk membuka pintu kamar, Siwon yang berada di belakangnya mencoba menghadang tetapi gagal. Eunhyuk tetap masuk. Pemandangan yang dilihat pertama kali adalah Kibum yang tengah menatapnya sambil tersenyum kecil dan Donghae yang tengah berbaring memungungginya.
Hening, mereka berempat diam dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Kibum angkat bicara.
"Siwon, hari sangat dingin… bagaimana kalau kita kekantin mencari coklat panas." Kibum langsung berjalan sambil mengandeng Siwon yang kebingungan. Eunhyuk menatap dua namja ini sampai menghilang dibalik pintu.
Eunhyuk mengalihkan tatapan, saat mendengar suara ranjang berdecit. Dia menatap Donghae yang tengah memandangnya. Entah alasan apa, tiba-tiba Eunhyuk diam. Sekarang dia bingung dan takut. Keberaniannya yang sejak tadi menggebu-gebu musnah.
"Kau masih disana?" tanya Donghae yang membuat Eunhyuk mengerjapkan mata. Dia mengangguk kaku.
"N-nde." jawab Eunhyuk singkat. Dengan menggenggam kedua tangan dia berjalan mendekati tempat tidur Donghae. Donghae tersenyum samar saat mendengar langkah kaki Eunhyuk semakin mendekat.
"Bagaimana kabarmu?"
"Hah… oh ka-kabarku eum ba-baik,"
"Seharusnya, pertanyaan itu yang aku katakan saat bertemu denganmu tadi… tapi aku malah mengusirmu, ck aku juga bersikap memalukan, mianhae?"
"Ti-tidak… aku yang salah Donghae! aku terlalu terbawa emosi?" kata Eunhyuk dengan raut wajah menyesal. Mereka kembali terdiam. Eunhyuk menundukkan kepala menyesali tindakan kekanakannya. Donghae tetap tersenyum samar.
"Kau sekarang sudah tahu bagaimana keadaanku kan?" pertanyaan itu sukses membuat Eunhyuk mendongakkan kepala. "Kanker ini akan terus menyerangku! Dokter bahkan sudah memerediksi berapa lama lagi aku bisa bertahan,"
"Donghae jangan begitu, semua orang juga pasti akan mati,"
"Kau tidak tahu, bagaimana rasanya hidup seperti ini," Donghae terdiam saat mendengar isakan yang keluar dari mulut Eunhyuk. "Mianhae?"
"Donghae hiks,"
"Mianhae…. kau jadi terlibat dalam hidupku yang menyedihkan ini," kata Donghae masih sambil tersenyum. "Mianhae karena kau menderita dengan kelakuanku yang sangat egois, mianhae?" Eunhyuk menggeleng dengan tangan terkepal mencoba meredam tangisannya. "Gomawo sudah mau menjengukku hari ini, tapi kuharap kau tidak akan kemari lagi… anggap saja setelah dari sini kau tidak mengenal namja bernama Donghae,"
"Hiks… hiks kenapa aku harus melakukan hal itu?"
"Kita berbeda, hidupmu masih panjang dan penuh impian! Sedangkan aku… aku hanya bisa berharap semoga besok dapat membuka mata! Aku tidak mau kau mencampuri hidupku lagi dan menderita karenanya, sekalipun itu hanya sebatas teman,"
"Tidak, hiks… tidak! aku tidak mungkin melakukan hal itu!"
"Inilah yang tidak kuharapkan! Membuat orang lain menangis meratapi nasibku! Aku tidak suka dikasihani!"
"Aku tidak mengasihanimu! Kau salah jika berpikir seperti itu!"
"Sudahlah, kembali dikehidupan masing-masing! aku lebih bahagia jika kau menganggapku jahat!"
"Benarkah? Donghae pernah bilang kan, bahwa sekarang terus berjalan di dalam kesalahan! Kenapa tidak kembali? Masih ada waktu untuk kembali!"
"Kau tidak mengerti"
"Aku tidak mengerti karena Donghae tidak memberikanku kesempatan untuk mengerti" kata Eunhyuk yang membuat mata Donghae membulat. "Donghae air mata ini bukan karena kasihan padamu, tapi karena orang itu menyayangimu!" teriak Eunhyuk kesal. Setelah itu dia berhambur memeluk Donghae. "Aku tidak tahu perasaanmu… aku tidak mengerti jalan pikiranmu, tapi bagiku itu bukanlah hal penting lagi! aku hanya memohon, ijinkan aku untuk menemanimu dan menuntunmu kembali dari jalan kesalahan itu! Aku siap menjadi kakimu saat kau tidak bisa berjalan, aku siap menjadi matamu saat kau tidak bisa melihat, aku tidak meminta balasannya, aku tidak meminta kau untuk memliki perasaan sepertiku, lupakan tentang stalker atau apalah itu… maaf tapi sekarang bolehkan aku yang egois?" Eunhyuk tidak tahu, keberanian dari mana sehingga dia memeluk Donghae bahkan menangis di ceruk leher namja tampan ini. Donghae terdiam, air mata yang sejak tadi ditahannya pun tumpah. Dia mencengkram tangan Eunhyuk yang melilit di bahunya. Menumpahkan semua yang dirasakannya lewat sebuah tangisan mungkin bukan pilihan yang buruk.
…haehyuk…
Inilah kebiasaan Lee Eunhyuk yang baru. Pagi hari dia sudah bersiap pergi ke rumah sakit. Tentunya dengan membawa bekal makanan dan senyum lebarnya. Setelah itu dia berangkat ke kampus dan langsung kembali ke rumah sakit. Malam harinya dia baru pulang ke kontrakan untuk beristirahat. Sudah hari keempat dia melakukan hal ini. Kibum hanya terseyum melihat tingkah polos dan kekanakan Eunhyuk, Siwon malah berterimakasih karena berkat mengantar Eunhyuk dia bisa bertemu dengan Kibum. Sepertinya namja tampan ini mulai ada rasa dengan namja dingin yang sedikit ekspresi itu. Lain dengan Donghae. namja bersurai brunette satu ini sudah lelah menyuruh Eunhyuk untuk tidak mencampuri kehidupannya. Dia baru tahu bagaimana keras kepala Eunhyuk.
"Nah ini apelnya, kau mau disuapi?"
"Aku bisa sendiri,"
"Baiklah~"
#Eunhyuk pov
Aku terus menatap Donghae. ini seperti mimpi… aku bisa disini, duduk disebelahnya tanpa harus berpura-pura menjadi Kibum. Tanpa harus takut, dan salah tingkah. Yah walaupun Donghae tetap dingin, tapi aku tidak peduli… dulu karena sifat ini kan aku penasaran dan menyukainya.
"Jangan melihatku seperti itu!"
"Hah! Oh Donghae tahu?"
"Tentu saja! kau kira orang buta mudah dibodohi?"
"Mianhae, aku tidak bermaksud seperti itu," aku menunduk. Sekarang aku tahu, ternyata selain pendiam dan dingin, dia juga mudah tersingung, dan kaku.
"Hari ini kau tidak kuliah?" tanyanya yang membuatku tersenyum. Inilah dia… walaupun kecil, tapi perhatiannya membuatku tidak berhenti merona.
"Iya ini aku mau berangkat!" jawabku yang dibalas gumamam singkat darinya. "oh iya, Donghae tidak ingin sesuatu?" pertanyaanku itu hanya dijawab gelengan olehnya. "Baiklah, aku berangkat dulu ya?" aku tersenyum dan berjalan membuka pintu. Sampai akhirnya aku menoleh saat mendengar Donghae memanggil.
"Eunhyuk,"
"Nde," lama dia terdiam, membuatku mengerutkan alis. "Ada apa?"
"Tidak jadi,"
"Hah?"
"Sudahlah cepat berangkat." Donghae mengalihkan tatapannya. Aku tersenyum saat melihat telinganya memerah. Aku tidak tahu apakah cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Tapi aku bahagia dapat mencintai Donghae dan merawatnya seperti sekarang. kurasa itu sudah lebih dari cukup.
#Eunhyuk pov end
Sore hari yang tenang. Eunhyuk duduk di dekat jendela dengan kesibukannya. Donghae yang tengah bersandar dikepala ranjang mengerutkan alis. Tumben namja manis ini tidak berisik seperti biasanya. Dengan keyakinan penuh dia berdehem.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Donghae yang dibalas gumaman tidak jelas dari si namja manis.
"Aku membuat origami burung, waaa ternyata aku hebat juga bisa mendapat setengah toples,"
"Untuk apa?" pertanyaan Donghae membuat Eunhyuk tersenyum.
"Untuk kesembuhanmu"
"Hah?"
"Aku pernah baca, orang dulu percaya bahwa origami burung dari kertas menjadi symbol untuk kesembuhan! Semakin banyak membuat origami ini dengan harapan tulus, semakin cepat doanya sampai ke tuhan! makanya aku ingin membuat yang banyak untuk Donghae," kata Eunhyuk mantap. "Dulu waktu kedua orang tuaku meninggal, aku tidak sempat membuatkan origami ini untuk kesembuhan mereka! Aku sangat menyesal karenanya… Sudahlah, aku yakin mereka bahagia sekarang! Dan aku akan bahagia juga, karena aku percaya mereka selalu ada,"
"Selalu ada?"
"Nde, aku memang tidak bisa bersama mereka lebih lama! tapi kenangan yang mereka berikan sebelum meninggal menjadi suatu memory penting yang tidak bisa aku lupakan! Memory yang membuatku bahagia disaat sedih, menguatkanku di saat aku rapuh dan memberiku kepercayaan bahwa mereka tetap ada untukku sekalipun tidak ada disampingku," penjelasan Eunhyuk ini membuat Donghae terdiam. "Menurutku… memang ada kalanya yang ditinggalkan ini sedih saat mengingat orang yang telah meninggal itu, tapi bagiku itu malah sebuah tanda kalau kita pernah memiliki hubungan dengannya! Pernah mencintainya, pernah menyayanginya dan pernah menganggap dia penting!" tidak ada balasan. Donghae malah menundukkan kepala, Eunhyuk yang melihatnya hanya bisa mengerutkan alis bingung.
"Gwenchana? Donghae merasa sakit lagi? dimana?" tanya Eunhyuk takut. Donghae menghembuskan napas dan mendongak. Memperlihatkan senyumnya yang tampan.
"Gwenchana"
Suara kicau burung terdengar, pertanda sore hari telah menjelang. Setelah Eunhyuk pulang, Donghae terus terdiam di tempat tidurnya. Menatap langit kamar yang tidak terlihat apa-apa. pikirannya menerawang jauh. Sampai akhirnya dia mengalihkan tatapan karena mendengar suara pintu terbuka.
"Donghae," kata namja yang kita ketahui bernama Kibum. Dia berjalan menghampiri tempat tidur sepupunya. "Kenapa belum istirahat?" tanya Kibum yang dibalas keheningan oleh Donghae. Kibum mengertutkan alis melihat sikap sepupunya ini. "Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya. Menjadi sepupu plus teman dekat sejak kecil membuat Kibum mengetahui kebiasaan namja tampan ini.
"Eunhyuk menceritakan orang tuanya," kata Donghae tanpa menatap Kibum.
"Lalu?" lama tidak ada jawaban. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Kibum bisa tolong telponkan eomma?"
"Hah? Leeteuk ahjumma?"
"Nde, aku ingin bicara," jawab Donghae yang malah membuat Kibum terbengong ditempatnya. "Kibum… kau masih disana?"
"Oh, n-nde… eum tunggu sebentar!" antara bingung dan senang, Kibum mengambil handphone itu dari kantong celananya.
…haehyuk…
2 hari kemudian.
"Apa-apaan ini? Banyak sekali gula-gulanya?"
"Hehehe tidak apa-apa eomma! Pesta kali ini harus semeriah mungkin benar kan, Hyukkie hyung?"
"Yap! Ayo kita rapikan Wookie!"
Leeteuk ahjumma menggeleng melihat kelakuan dua namja itu. Aku tertawa dan mendekatinya.
"Sudahlah ahjumma… mungkin mereka ingin yang terbaik untuk Donghae?"
"Iya Bummie, tapi itu makanan kesukaan mereka semua? Benar-benar seperti anak kecil!" Leeteuk ahjumma tersenyum begitupun denganku. Apalagi saat Yesung dan Kyuhyun datang mengacaukan pekerjaan Eunhyuk dan Ryeowook.
"Tapi anak kecil itu yang berhasil membuat Donghae sadar jika pilihannya salah," kataku yang mendapat anggukan dari ahjumma.
"Aku bersyukur tuhan mengirimkan Eunhyuk untuk Donghae… saat mendengar ceritamu entah balasan seperti apa yang harus aku berikan untuknya?"
"Nde, Donghae tepat menyukai seseorang, tidak salah dia menunggunya sejak kecil!" Leeteuk ahjumma tersenyum, memperlihatkan lesung pipitnya yang cantik sekalipun sudah berumur. Aku pun membalas senyum itu.
Hari ini, Leeteuk ahjumma, Ryeowook, Yesung, Kyuhyun, Sungmin, Eunhyuk, Siwon dan aku berencana membuat pesta kejutan untuk Donghae. entahlah sebenarnya untuk apa pesta ini. Mungkin untuk menyambut Donghae kembali.
Semuanya bersemangat terutama Eunhyuk dan Ryeowook. Eunhyuk? Dia sangat hebat, aku tidak menyangka hanya karena ucapannya yang polos, pikiran Donghae yang keras bisa luluh. Padahal aku sudah berusaha seperti itu, tapi tetap tidak ada hasilnya.
"KEJUTAN!" seru semua orang kecuali aku setelah membuka pintu kamar rawat Donghae. aku hanya berdoa semoga para suster tidak menegur kami karena membuat gaduh rumah sakit. Donghae menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang dibantu oleh Leeteuk ahjuma.
"Kalian semua? ada apa ini?"
"Ini pesta untuk merayakan kebodohanmu, ikan!" celutuk Kyuhyun yang langsung dideathglare oleh Sungmin dan Ryeowook ditambah pukulan dari Yesung. Aku dan Siwon menggeleng melihat tingkah mereka.
"Eomma?"
"Nde, ini karena kau bersedia kembali bersama kami! Apapun yang terjadi jangan pikirkan sendiri Hae? Karena tanpa kau sadari masih banyak orang yang bersedia membantumu dan setia disampingmu," jelas Leeteuk ahjumma. Aku tersenyum melihatnya, Donghae menundukkan kepala. Aku yakin saat ini dia sedang menahan air matanya. Dasar, dari dulu tidak mau merubah! Sok kuat!
"Go-gomawo… maaf untuk sekarang aku pasti akan lebih merepotkan,"
"Bukanya sejak dulu kau sudah merepotkan kakak ipar!" celutuk Yesung. Wajah Ryeowook memerah karenanya.
"Hyung jangan bicara seperti itu, malu tahu!" kata Ryeowook sambil memukul lengan Yesung cukup keras.
"Umurmu itu tidak pantas memanggil Donghae dengan sebutan kakak, menggelikan!" kata Kyuhyun yang membuat mata Yesung membulat.
"Yaa…! kau mengejekku tua?"
"Tidak, kau sendiri yang bilang TUA kan?"
"Argh dasar menyebalkan! Kemari kau evil, kemari!" mereka berdua malah berlarian. Semuanya tertawa, begitupun dengan Donghae.
#Kibum pov end
"Donghae, kenapa jendelanya dibuka? angin dinginnya nanti masuk?" kata Eunhyuk sambil menutup jendela, belum tertutup sempurna dia berhenti karena mendengar gumaman Donghae. "Donghae mengatakan sesuatu?"
"Apa halaman sudah dipenuhi warna putih?" Eunhyuk terdiam lalu menatap halaman rumah sakit.
"Belum, mungkin seminggu lagi,"
"Begitukah? Sejak dulu aku suka melihat salju yang pertama kali turun,"
"Benarkah? Waaa aku juga suka! aku selalu menunggu salju turun di taman dekat makam, karena saat itu mengingatkanku pada eomma! Bagaimana dengan Donghae?"
"Aku suka, karena saat itu aku bisa melihat senyum seorang malaikat!"
"Malaikat?"
"Nde, paling indah dan sempurna didunia,"
"Aku tidak mengerti, bukanya malaikat ada disurga?"
"Suatu saat aku akan menunjukkan malaikat itu padamu! Kau mau melihatnya?"
"Tentu! Aku ingin melihat malaikat!" kata Eunhyuk bersemangat. Donghae tersenyum lalu berubah suram. Membuat Eunhyuk diam. "Kenapa?"
"Aku lupa kalau sekarang aku tidak bisa melihat, bagaimana cara aku memperlihatkan malaikat itu padamu?"
"Donghae jangan bersedih! Donghae tinggal bilang dimana malaikat itu, aku akan mencarinya! Lalu kita berdua akan melihatnya, kalau kau tidak bisa melihat, aku akan menjelaskan bentuk malaikat itu!" perkataan Eunhyuk yang menggebu membuat Donghae tertawa. "Ada yang salah?"
"Tidak." mereka kembali diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Eunhyuk melirik Donghae yang tengah menatap halaman.
"Kudengar kau terpilih untuk ikut perlombaan teather?" perkataan Donghae sukses membuat raut wajah Eunhyuk berbuah. "Apa berjalan lancar?"
"Aku… aku dikeluarkan dari teather itu," jelas Eunhyuk dengan wajah tertunduk. Donghae terdiam lalu menghembuskan napas. "Yah~ mungkin aku yang terlalu payah dan suka bermain-main! Aku akan berusaha di tahun depan!" ucap Eunhyuk sambil tertawa garing. Dia diam saat mendengar Donghae berbicara tanpa menatapnya.
"Karena salahku… padahal aku ingin melihatmu,"
"Hah? aniyo ini tidak seperti yang Donghae pikiran, ini…"
"Aku tidak tahu, apakah tahun depan aku masih bisa melihatmu,"
"Donghae…"
"Mianhae… oh aku istirahat dulu ya?" tanpa bantuan dari Eunhyuk, Donghae berjalan ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya memunggungi Eunhyuk yang tetap diam.
#Eunhyuk pov
Aku termenung di kantin rumah sakit. Menatap secangkir capuchino yang mulai dingin. Sampai akhirnya aku merasakan tepukan dipundaku.
"Hyukkie!" aku tersenyum sebagai balasan. Kibum duduk dihadapanku lalu menatapku dengan alis terangkat. Sepertinya dia sadar ada yang salah denganku. "Sejak tadi aku mencarimu! Hei, ada apa dengan mimic wajahmu ini? kau tampak sedang bingung?"
"Kibum, eum apa menurutmu seseorang yang telah gagal bisa mengulang kegagalannya agar mendapat keberhasilannya lagi?"
"Hah? Maksutmu?"
"Kau tahu kan aku dikeluarkan dari teather yang akan diperlombakan akhir tahun," kataku sambil melihatnya takut. Dia mengangguk sebagai jawaban. "Waktu itu aku memang sedih karena ini adalah mimpi terbesarku dan dengan mudah aku gagal! Tapi itu sudah tidak jadi masalah lagi, sampai akhirnya…" Eunhyuk diam sambil memainkan tangannya. "Kibum, menurutmu apakah aku bisa ikut lagi, oh tidak maksutku mencoba untuk bermain lagi?" mungkin penjelasanku ini terlalu ambigu tapi kenapa Kibum tersenyum?
"Tidak ada kata terlambat sebelum mencoba! Bukanya itu yang kau tanamkan pada Donghae?"
Aku terdiam mendengarnya. Benar juga… aku masih bisa mencoba! Demi Donghae yang ingin melihatku, mungkin dulu aku gagal karena kesedihanku. Tapi sekarang, bukanya Donghae ada disini? aku pasti bisa!
…haehyuk…
Saat ini aku berada didepan semua anggota teather dan tentunya pak pelatih yang tengah duduk menyilangan tanganya.
"Izinkan saya mencoba sekali lagi! Saya mohon pelatih," kataku sambil membungkuk.
"Bukanya waktu itu kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan?"
"Saya sungguh minta maaf, tapi kali ini saya berjanji tidak akan mengecewakan! saya mohon, izinkan saya bermain?"
"Kenapa aku harus memberimu kesempatan?"
"Karena… karena…" aku menunduk dengan leleran air mata. entah kenapa aku tidak bisa menghentikan tangisanku ini. bahkan aku tidak peduli semua orang sedang melihatku dengan bisikan-bisikannya.
"Eunhyuk, tidak ada kesempatan dua kali didunia ini! kau sudah membuatku kecewa, tidak mungkin aku dengan mudah memasukkanmu kembali! Kau tidak berpikir bagaimana perasaan yang lain? Mereka bekerja sangat keras untuk pertunjukan ini!"
"Sa-saya akan berusaha lebih keras, saya akan mengganti latihan saya yang dulu,"
"Kau kira aku bisa bersikap seenak hatiku? Apa kau pikir semuanya diatas keputusanku?" pertanyaan itu membuatku diam. "Kau dulu memnag kebanggaanku Hyukkie, tapi sekarang… aku tidak bisa! bahkan tempatmu sudah ada yang menggantikan" aku mendongak menatap seorang namja yang sedang tersenyum sinis kearahku. Kenapa harus dia? "Berlatihlah lagi, dan tunjukan kepadaku tahun depan!"
"Ta-tapi pelatih…"
"Baik, ayo mulai berlatih lagi! kembali ke posisi semula!"
"Pelatih, saya mohon… berikan saya kesempatan? Saya mohon? Sekali ini saja pelatih, pelatih…." aku tertunduk di tempat. Apakah ini akhir? Tidak bisakah aku ikut ke panggung itu dan memperlihatkan pada Donghae? saat kebingungan ini melanda otakku, aku merasakan tepukan dipundak. Aku mendongak melihat Sungmin dengan wajah menyesal.
_skip time_
Aku berjalan dengan gontai kekamar rawat Donghae. kata-kata pelatih membuatku terus berpikir. Seharusnya aku tidak seperti itu kemarin. Seharusnya aku tidak menuruti perasaanku, dan larut dalam kesedihan. Seharusnya aku tidak membuat pelatih dan yang lain kecewa. Sekarang, bagaimana caranya aku bilang pada Donghae? dia pasti akan merasa sedih dan kembali menyalahkan dirinya. Padahal bukan Donghae yang salah, yang salah itu aku. aku tidak bisa mengontrol emosiku. Pabo! Hyukkie pabo! Pabo!
#Eunhyuk pov end
Eunhyuk membuka pintu ruangan Donghae. matanya terbelalak saat melihat Donghae kesakitan karena tidak bisa bernapas.
"Donghae… Donghae!" seru Eunhyuk sambil menyingkirkan makanan di meja. dengan panic dia segera berlari keluar memanggil perawat yang dia temui. Tiga orang perawat dan satu dokter masuk keruangan itu. Eunhyuk hanya bisa menunggu diluar, melihat bagaimana Donghae dikelilingi tenaga medis itu. tangannya gemetar, air matanya tidak berhenti keluar. Namja manis ini mencoba menggenggam tangannya untuk mengusir ketakutan dihatinya.
"Hyukkie!"
"Kibum, Wonnie hyung, ahjumma,"
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu, saat aku kekamar Donghae, dia sudah seperti itu,"
"Ck pasti karena tersedak lagi…"
"Hanya karena tersedak?" pertanyaan Eunhyuk mendapat anggukan dari Kibum. Siwon menghembuskan napas sebelum akhirnya duduk di dekat Eunhyuk.
"Saat ini syaraf Donghae baik yang diperintah maupun tidak sudah tidak bekerja secara maksmimal seperti dulu! Tersedak sebutir nasi saja bisa menyebabkan kegagalan dalam bernapas dan akhirnya berujung kematian. Semakin lama semuanya akan rusak dan akhirnya tidak berfungsi," penjelasan dari Siwon membuat air mata Eunhyuk kembali keluar. Bukan hanya Eunhyuk, bahkan Leetuk sampai bersender di tembok, dan Kibum terus menunduk mencoba menyembunyikan tangisannya.
"Bertahanlah, aku mohon…" kata Eunhyuk pelan sambil menatap Donghae dari kaca pintu.
#Eunhyuk pov
Aku terus menggenggam tangannya. Tidak lupa dengan doa yang senantiasa aku ucapkan dalam hati. tuhan.. sungguh aku tidak tega melihatnya. Tidak bisakah aku berbuat sesuatu untuknya?
Kemana Donghae yang dulu? Tampak sehat, dengan wajah dingin dan sedikit bicara. Kemana sikapnya yang acuh dan menyebalkan, tapi dengan mudah membuatku salah tingkah? Kemana si alien planet Jupiter itu? bodoh! Aku memang bodoh, aku ingin berguna bagi Donghae… bahkan aku ingin menghilangkan rasa sakitnya! Tapi… pabo! Bahkan aku tidak dapat kembali ke teather itu! inikah yang disebut ingin berguna? Tidak bisakah aku mengukir sedikit saja memory indah untuk orang yang aku cintai ini? eomma appa tolong Hyukkie~
…haehyuk…
Mengingat Donghae yang kesakitan, menderita akibat penyakitnya membuatku tidak bisa berpikir jernih. Entah kenapa, terbersit suatu pemikiran yang sangat bodoh dalam otakku. Bagaimana jika Donghae tidak ada dan aku belum berbuat sesuatu untuknya. Padahal aku pernah bilang jika bisa menjadi mata ataupun kaki untuknya, tapi kenyataan yang terjadi… aku bahkan tidak bisa mengabulkan keinginannya.
Aku tidak tahu, aku ini apa dimata Donghae. teman, sahabat, orang special, cinta atau hanya namja pengganggu. Bagiku itu tidak penting! Sekarang yang aku tahu, aku ingin membuatnya bahagia, aku ingin membuat memory yang menyenangkan dengannya, aku ingin melukis senyumnya didalam otakku. Dan aku ingin… saat dia tidak ada, aku bisa mengingatnya sebagai seseorang yang pernah aku cintai walaupun tidak bisa kumiliki.
Aku mendongak, merasakan tetesan hujan yang mulai membasahi tubuhku. Dingin, sakit… tapi entah kenapa aku tidak ingin beranjak dari tempatku. Aku bahkan tidak peduli, beberapa orang menertawakanku, cacian mereka, hinaan itu bahkan tidak masuk kedalam pendengaranku.
"Hyukkie, ayo bangun! Kau bisa sakit nanti?" Aku merasakan ada yang memegang bahuku sambil memayungiku. Dia Sungmin hyung, tapi aku masih tidak ingin beranjak.
"Sudah kalian semua kembali masuk! Sungmin segera bawa Eunhyuk ke ruang kesehatan!"
"Nde pelatih, Hyukkie ayo, keningmu berdarah!" Sungmin hyung bilang pelatih? Aku menatap namja yang berdiri tidak jauh dariku. tanpa merasakan nyeri di kepala, aku segera merangkak mendekati orang itu.
"Pelatih, tolong saya, sekali ini saja… saya mohon! Saya mohon hiks… ijinkan saya bermain, saya mohon~"
"Hyuk sudah kubilang, aku tidak ada kuasa?"
"Saya mohon, tolong saya sekali ini saja! jika menunggu tahun depan saya takut dia tidak bisa melihat saya! Pelatih, saya mohon~jebal?"
"Dasar keras kepala! Sudah tahu ditolak tapi tetap memohon, dasar tidak punya malu!" aku kembali merasakan tubuhku jatuh ketanah. Aku menatap namja itu tersenyum sinis, cacian demi cacian yang terus kuterima.
"Yaa siapa yang menyuruh kalian tetap disini! aku bilang cepat masuk!" seruan itu membuat mereka bubar. Aku merasakan sebuah tangan yang membantuku berdiri.
"Pelatih?"
"Hyuk jangan seperti ini, kau sama saja merendahkan harga dirimu! Aku bilang kau bisa mencoba tahun depan kan?"
"Ani, karena mungkin ini kesempatan terakhirnya! Hiks tolong saya pelatih, tolong berikan saya kesempatan? Saya akan melakukan yang terbaik, saya janji! Tolong saya~" itulah perkataan terakhirku sebelum aku merasakan semuanya hitam.
#Eunhyuk pov end
"Donghae…" Siwon terdiam melihat Donghae meneteskan air mata.
"Jadi ini alasan dia jarang ke rumah sakit beberapa hari ini?"
"Nde, eum… sepertinya sudah waktunya kita pulang, kajja!"Siwon mendorong kursi roda Donghae meninggalkan area kampus.
.
.
.TBC
.
.
Annyeong…
Mian, batapa menjamurnya ff ini karena tidak pernah terjamah manusia? #plak, saia minta maaf untuk para pembaca yang menunggu ff ini #emang ada ya?
Okelah, selamat merayakan hari puasa bagi yang menjalankan, jangan mewek apalagi baca ff yadong nde? #padahal dianya sendiri gitu, plak!
Gomawo semua yang sudah me review, baca komentar kalian itu rasanya kayak ada manis-manisnya gitu #kebawa iklan hehehe pokoknya gomawo, maaf kalau ff saia ini jauh dari kata keren dan tentunya tidak sesuai harapan. Maaf juga karena keadaan tidak bisa membalas comment satu-satu pokoknya TERIMAKASIH yang banyak untuk kalian…
Okelah see you next chap (kayaknya untuk next chap mungkin terakhir atau 2 chap terakhir#plak #abaikan) ^^
