Kiku sangat khawatir sekarang, pasalnya sudah hampir 2 menit Nesia tidak bergerak-gerak.
J-jangan-jangan aku terlalu keras membantingnya? U-uh... Itu tindakan penyelamatan diri!
"Nesia-san... Nesia-..." Kiku menepuk-nepuk lengan Nesia, "-san?"
"Oh... Kau..."
.
.
.
.
"Shitsureishimasu..." Menyadari siapa yang mungkin ada didalam tubuh Nesia sekarang, Kiku melarikan diri.
"Hei... Tunggu!" ucap Garuda sembari bangkit dan mulai mengejar.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Ini gawat! Gawat!
Feli memandang Kiku yang berlari mendekatinya dengan heran, "Ada apa, vee?"
"I-ini situasi sangat gawat, Feli-san! Sebaiknya kita cepat-cepat lari!"
"Lari? Kenapa?"
-hei? Ada apa di sana?-
Terdengar suara Lovino di seberang telepon.
"Tidak... Hanya Kiku, vee..."
"Heeei... Tunggu aku!"
Yabai!
"Feli-san! Ayo cepat lari!" ucap Kiku yang menyadari gadis itu semakin mendekat.
"Ah! Ada anak perempuan!" ucap Feli polos saat melihat Nesia (Garuda), "Lovi, di sini ada anak perempuan manis, vee..."
-Memang aku peduli?! Hei, Tunggu! Dengarkan aku! Si pemuda spanyol itu tadi...-
"L-lovi... T-tampaknya bukan waktu yang tepat, vee..." ucap Feli yang ditarik oleh Kiku untuk berlari ke tempat yang aman.
"Lovi... Maaf sepertinya aku harus memutus, vee..."
-T-tunggu!-
"Heeei! Tungguuuu!" terdengar suara Nesia (Garuda) semakin mendekat.
"Kiku, kenapa kita berlari, veee?" tanya Feli, "Lihat! Ada anak perempuan yang mengejar kita, vee... Dia manis, vee..."
"Akan aku jelaskan nanti... P-pokoknya kita harus menyelamatkan diri darinya!" ucap Kiku di sela larinya.
"Memangnya kenapa, vee? Aku ingin menyapanya..." ucap Feli sembari menghentikanlarinya.
"Tidak! Feli-san... Terlalu bahaya!" ucap Kiku panik.
Dirinya tersentak dan sontak bersembunyi di belakang Feli saat melihat si kohai sudah berada tepat di belakang mereka.
"Huh! Akhirnya berhenti juga!" ucap gadis itu diikuti tarikan nafas panjang.
"Halo, veee... Kenapa kau mengejar kami?" tanya Feli innosen.
"Aku mengejar dia..." ucap Garuda sembari menunjuk Kiku yang sekarang bersembunyi di belakang Feli.
"Kiku, veee? Ada apa ya?"
"Aku ingin celanaku..."
.
.
"C-celana, vee?" ucap Feli dengan muka yang memerah. "K-Kiku... Kau..."
"Feli-san! Jangan berpikir yang macam-macam!" komplain Kiku dengan muka yang lebih merah, "Aku dan dia tidak ada apa-apa!"
"Loh? Kau kan Uke aku?"
.
.
"SEJAK KAPAN?!" sergah Kiku membuat Feli kaget.
"Hee? Bukankah kita sudah sepakat kemarin?"
"Siapa yang..." Kiku menghentikan kata-katanya saat Feli menepuk pundaknya.
#QuotesOfTheDay: Tak apa jika kau memiliki seme seorang perempuan, vee... Dia cantik lagipula,vee... -Feli
"Chigau! Feli-san... Ini... Dia adik kelas... Dia... Uh-?" Kiku kembali memutus kata-katanya saat melihat tubuh Nesia oleng dan refleks menangkapnya.
-Bruk-
"H-hei!"
"A-apa yang terjadi, vee?" Feli mulai panik sekarang, "A-apakah dia memiliki penyakit, vee? Haruskah aku panggil petugas klinik, vee? Atau kita yang bawa ke sana?"
"Tidak usah..." ucap Kiku lelah.
"V-veee! Tapi Kiku... Bisa gawat kalau..."
"U-uh..."
"Ah! Dia sadar, vee... Syukurlah!"
"D-daijoubu desu ka?"
"huh? Honda-senpai?" ucap bibir kecil itu.
Pertiwi-san ka?
"H-honda-senpai!" kali ini dengan mata yang berkaca-kaca dan pelukan.
"H-heeei!" Kiku panik sekarang, ia tak biasa untuk dipeluk, namun tepukan kecil di pundaknya membuatnya menoleh.
"Kau ada kemajuan, vee... Itu bagus, vee... Kau bisa jadi semenya kalau begini terus..."
Feli-san... Yamete kudasai!
"Feli-san... Ini..."
-sruks-
Kiku berhenti saat tubuhnya semakin kencang dipeluk. Ia tertegun sekarang, melihat bahu Nesia yang bergetar dan tangannya yang meremas kuat seragamnya.
"Feli-san... Aku menyusul nanti..."
.
.
"Kemana, vee?"
"M-maksudku... Feli-san kembali duluan..." muka Kiku semakin memerah karena ketidak pekaan Feli.
"O-oh... Mau berduaan ya, vee? Bilang saja, veee..."
"Ini tidak seperti itu, Feli-san!"
"oke... Aku juga sepertinya harus telepon Lovi, vee... Dia pasti marah karena aku putus... Aku duluan ya, vee..."
"U-un..." ucap Kiku sembari mengangguk kecil.
Tak guna ternyata membawa Feli, mungkin di kesempatan berikutnya ia harus membawa Francis-senpai?
Iie... Itu lebih menakutkan!
Setelah Kiku yakin bahwa Feli telah pergi, ia kembali mengamati gadis yang masih memeluknya erat ini.
"Pertiwi-san? Daijoubu desu ka? Pertiwi-san?"
"S-senpai... Aku... Hiks... Aku... Takut!"
.
.
"Nande desu ka?" tanya Kiku hati-hati, "Ah... temanku sudah pergi... Walaupun begitu, dia baik sekali kok... Feli-san orang yang sangat baik..." Kiku menebak sendiri jawaban pertanyaannya dengan nada lembut, mencoba untuk menenangkan.
"Bukan... Bukan..." Pertiwi semakin mengeratkan pelukannya.
"P-pertiwi-san... Aku... Tak bisa bernafas..."
"U-uhuh?!" Pertiwi sontak melepaskan Kiku, "M-maaf! M-maaf! Hiks... Maaf!"
Kembali Kiku tak bisa berkata-kata ketika melihat Pertiwi. Seragam dan kuciran rambutnya masih berantakan –walau ia telah merapihkan rambut gadis itu sedikit tadi, matanya yang sembab dan wajahnya yang kusut memperparah tampak gadis itu. Ditambah ia menangis sekarang.
"Berhentilah menangis... Nanti tidak jadi manis..." ucap Kiku sembari menepuk kepala Pertiwi.
"Hiks..." Pertiwi mencoba untuk menghapus airmatanya.
"Kau selalu melupakan sapu tanganmu? Atau orang Indonesia tak pernah membawanya?" tanya Kiku sembari mengelap airmata Nesia menggunakan sapu tangannya, "balik badanmu..." lanjutnya sembari memberikan sapu tangannya kepada Pertiwi dan membalik tubuh mungil pertiwi agar duduk membelakanginya.
"senpai?"
"hum?" gumam Kiku sembari menarik ikat rambut Pertiwi dan membiarkan surai indah itu tergerai lembut.
-glek-
Kiku meneguk ludahnya, ia menggelengkan kepalanya, mencoba untuk kembali fokus.
Diambilnya surai-surai legam itu. Begitu lembut menyelip di antara jari-jarinya.
Fokus... Fokus... Fokus... Fokus Kiku! Fokus!
"Pertiwi-san mau bilang apa tadi?" ucap Kiku mencoba mengalihkan pikirannya dari rambut Pertiwi yang coba ia rapihkan.
"Tidak... Tidak jadi..." ucap Pertiwi malu-malu. Ia sungguh menikmati rambutnya disisir tangan dan dirapihkan oleh Kiku.
"Begitu..."
"Mnh... Aku suka Honda-senpai merapihkan rambutku..." ucap Pertiwi sembari melinguk ke belakang, mencari wajah Kiku.
"O-oh... Oh ya... Sapu tanganku yang kemarin bagaimana?" Kiku melarikan diri dari pembicaraan saat dirinya selesai mengikat rambut Pertiwi.
"Huh?"
Kiku terkekeh saat melihat muka polos Nesia yang mulai teralihkan pikirannya ke sapu tangan.
Nesia terlihat mencari-cari sesuatu di seragamnya.
"Sapu tangan senpai..." ucapnya saat menemukan secarik kain yang diujungnya terdapat inisial yang menunjukkan nama Kiku.
"A-ah... Ya..."
"jimat pelindung..."
.
.
"E-eh?"
"Pelindung..." ucap Pertiwi polos. "Melindungiku sepanjang malam... Terimakasih, senpai..."
.
.
"S-sumimasen... Aku tidak begitu paham..." ucap Kiku sembari mengelus tengkuknya.
"Uh... Gelap... Kemudian... Aku tak tahu harus kemana... Uh..." ucap Nesia, "Kemudian... Ada cahaya lilin dan orang aneh beralis tebal... Jadi aku mengikutinya dan... Bersembunyi karena dia melakukan hal-hal menakutkan..."
.
.
"Err..." Kiku mencoba menerjemahkan apa yang baru saja didengarnya.
"Gelap? Maksudmu malam?"
Angguk.
"Orang beralis tebal... Arthur-san ka?"
Alis Pertiwi berjengit bingung.
"Kau mengikutinya? Ke suatu ruangan?"
Angguk.
"Dia melakukan hal-hal aneh?"
"Ya... Dia... Mulutnya berbicara sesuatu yang tak kumengerti..."
Klub sihir kah?
"Kau... Melihat Arthur-san melakukan sihirnya?"
Pertiwi terlihat bingung.
.
.
"Tunggu... Apa yang kau lakukan malam-malam di sekolah?"
Pertiwi hanya menggerakan kepalanya ke samping.
"Kau... Seharusnya kan ada di dorm? Kenapa kau malah kemari?"
"Dorm? Apa itu?"
.
.
"K-kau... Tidak pulang? Dorm itu tempat tinggal... Tempat kau tidur... Makan..."
"Rumah?"
"Y-ya!"
"rumahku di ruang tari..."
.
.
Eh?
"T-tunggu, Pertiwi-san... Apa maksudmu? Er... Maksudku... Setiap hari... Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya menari... Aku suka menari dan aku selalu menari... Tapi... Setelah bertemu dengan Honda-senpai... Aku agak bingung... Karena... Aku tidak selalu menari... Aku tersesat... Dan berbicara banyak... Dan..." Pertiwi menghentikan penjelasan panjangnya ketika melihat raut muka Kiku yang berubah pucat, "Honda-senpai?"
Tidak mungkin bukan? Dia... Dia tak tahu apapun selain menari?
"Pertiwi-san... Aku punya ini..." ucap Kiku sambil mengeluarkan sebungkus permen, "Kau tahu apa ini?"
Pertiwi segera meraih benda berbungkus plastik yang apik itu dan menggeleng dengan polosnya.
"I-ini permen... Kau tahu..." ucap Kiku sembari membuka bungkus permennya. Pertiwi memandanginya dengan takjub.
"Permen? Aku hanya pernah mendengar namanya… Jadi seperti itu… Permen…"
"Ini..." Kiku mengambil permen tersebut dan mendorongnya masuk ke mulut Pertiwi, "Dou?"
Wajah Pertiwi mencerah, ia menganggukan kepalanya senang.
"Permen..." gumam Pertiwi senang, "Jadi seperti ini yang namanya permen..."
.
Apa yang harus kulakukan padanya? Dia bahkan tak tahu permen... Dia tak tahu dorm dan tidak pulang... Semalaman?
.
.
Tunggu... Bagaimana dia sekolah dan melakukan kegiatan sehari-harinya kalau begitu? Apakah personalitinya yang lain yang bertanggung jawab akan hal itu? Kalau personalitinya yang lain tidak muncul-muncul... Maka...
"Nesia-san... Kau... Sudah pulang ataupun makan?" Kiku bertanya pertanyaan yang mungkin ia sudah tahu jawabannya dengan melihat seragam Pertiwi yang masih kusut, "Boleh aku meminjam tasmu?"
Pertiwi hanya mengangguk dan menyerahkan tasnya selagi ia menikmati permennya.
Kiku membuka tas Pertiwi, ia meneliti buku-buku yang di bawanya.
Bagus... Dia bawa catatan jadwal pelajarannya!
Kiku segera mencocokkan buku yang Pertiwi bawa dengan jadwal hari ini, namun tidak cocok dan malah cocok dengan jadwal hari yang lalu.
Kiku agak merinding melihat kenyataan ini. Pertiwi benar-benar tak pulang malam tadi dan malah ketakutan melihat sisi lain dari seorang Arthur.
Pantas ia ketakutan seperti itu... Tapi... Bukankah ini sangat gawat?
Pertiwi hanya membalas tatapan kasihan Kiku dengan keheranan. Ia kemudian tersenyum, "Permennya... Enak... Terimakasih, Honda-senpai..."
Dan dia bilang... Dia berumur sembilan tahun...
-tep-
"H-honda senpai? Ada apa?" tanya Pertiwi menanggapi tepukan lembut di kepalanya.
"Apakah tadi malam sangat menakutkan?"
Pertiwi mengangguk, "T-tapi aku memegang sapu tangan Honda-senpai dan aku ingat Honda-senpai... Jadi tak apa-apa... Aku juga sudah bertemu Honda-senpai... Jadi aku tak takut lagi... Karena ada Honda-senpai..." serunya sembari memperlihatkan sapu tangan yang dimaksud.
Pertiwi menarik lengan baju Kiku yang kini mukanya memerah, "Senpai akan selalu di sampingku kan?"
.
.
"M-maa..." Jawab Kiku sembari membuang mukanya yang sudah fix merah.
Kiku... Dia hanya anak berusia sembilan tahun! Dia tidak serius! Dia tak tahu apapun! Hentikan pikiran liarmu!
.
.
"Tidak bisa… ya?" ucap Pertiwi dengan nada bergetar.
"Humnh?" Kiku sungguh kaget melihat Pertiwi yang sudah kembali siap untuk mulai menangis lagi, "Nani ga arimasuka?"
"Honda-senpai… Tidak bisa selalu disampingku?" Isak Pertiwi.
"N-nakunai! Uh-… Siapa yang bilang aku tak akan di samping Pertiwi-san?" jawab Kiku panik.
"H-habis… Senpai membuang muka senpai… Berarti… Berarti…"
-plook-
Kiku menepuk kedua pipi Pertiwi pelan. Menahannya agar menatap kearah mukanya.
"Aku akan selalu di samping Pertiwi-san… Tak akan pergi kemana-mana…" ucap Kiku serius namun juga tulus. Dicobanya untuk memberikan tatapan seteduh dan semenenangkan mungkin, "Pertiwi-san percaya padaku?"
"U-un…" Pertiwi mengangguk lemah, dihapusnya air matanya dan diperlihatkan kembali senyum termanisnya kepada Kiku.
"E-er... Oh ya... M-mei mencarimu! Aku akan mengambil foto kalian..." ucap Kiku sambil berdiri, "ayo..." Kiku menawarkan tangannya.
"Ya!" ucap Pertiwi riang sembari menerima uluran tangan Kiku.
Kami-sama... Apa yang harus aku lakukan padanya?
"Kau kemana saja? Aku mencarimu tahu!" dengus Mei, "Sudahlah... Karena kau sudah di sini... Ayo berfoto!" lanjutnya riang sambil menarik tubuh Pertiwi.
"Geser lagi, da ze!"
"Gajahmu,tuh, Thai! Jangan diikutkan! Mereka bukan anggota klub!"
"Mereka anggota, ana!"
"Semuanya, bilang 'cheesss!'"
"Cheeeeeesssss!"
-clik-
Kami-sama... Haruskah aku menghindar darinya? Atau ini pertanda aku harus selalu berada di sampingnya? Dari seluruh murid yang ada di sini... Kenapa aku?
*O*
"Kalau begitu... Ini saatnya kita pulang? Nesia, kita pulang bersama?" ucap Mei menawarkan, "Atau kau masih ingin di sini seperti biasa?"
"U-uh... Aku..."
"Mei-san... Bawa dia pulang... Bawa dia ke dorm..."
"H-huh?"
Dia bisa tak pulang lagi kalau dibiarkan...
"I-ie... Nesia-san kelihatan lelah... Tidak boleh latihan lebih dari ini..."
.
.
"Kiku..."
"Hai?"
"Aku tahu kau peduli padanya... Tapi kalau seperti itu caranya, Nesia akan menganggapmu sebagai ibu loh... Bukan sebagai pria..." ucap Vie heran.
"Kiku... Kau aneh..." seru Mei
Terserah kalian mau menganggapku apa...
"Nesia-san... Pulanglah dengan mereka... Ya?" ucap Kiku lembut.
"U-un..." Pertiwi mengangguk pelan, namun semua orang bisa melihat bahwa ia tidak rela dan agak takut.
-tep-
"Honda-senpai... tidak ikut?" ucap Pertiwi sembari menyentuh tangan Kiku.
"Eh..."
.
.
"Benalu deh... Benalu... Kita pulang saja... Daripada jadi pengganggu mereka..." Vie mendengus kesal sembari menarik Mei yang terlihat bahagia.
"Selamat ya, Kiku! Kau memang saudaraku deh! Awas saja kalau kau malah membuatnya menangis! Aku akan laporkan ke Yao-gege!"
Hong mengangguk setuju sembari bertepuk tangan dengan muka datarnya.
Bukankah kemarin aku sudah dibuang?
"Yah... Nesia sudah diambil, da ze... Aku kurang cepat..." sesal Yong sembari ikut melenggang menyusul Hong.
"apa maksudmu, ana?!"
"err…. Lupakan…."
"Oh ya, Kiku... Black magic Thailand itu cukup menyakitkan... Perhatikan langkahmu ya, ana..." ucap Thailand sembari meninggalkan disertai seringaian manisnya.
Bahkan... Aku sudah tak kaget lagi...
"Kalau begitu aku juga, veee... Berikan padaku kameranya, biar aku yang menjelaskannya pada Ludwig, vee..."
"T-tidak ada yang perlu dijelaskan... Aku akan-..."
-tep-
Melihat Kiku yang akan pergi, kini kedua tangan kecil Pertiwi menahan tangan Kiku.
"Uh..."
"Sudahlah, veee..." ucap Feli sembari meminta kamera Kiku.
Dengan berat hati akhirnya Kiku memberikan kameranya pada Feli. Ia menatap Pertiwi yang terlihat sedang memperhatikan Feli, mungkin menimbang-nimbang apakah Feli adalah orang yang baik atau tidak.
"Kalau begitu... Aku duluan ya, vee..."
"Un... Kiyousukete –Hati-hati..." ucap Kiku.
.
.
"Saa... Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Kiku, namun ia tak mengharapkan sebuah jawaban, "Kita pulang?"
"Un!" angguk Pertiwi sembari menuju ke ruangan tari dengan tangan yang masih menggandeng Kiku.
"Tidak! tidak! Itu bukan rumahmu!"
"Huh?" Pertiwi menggerakkan kepalanya kesamping heran.
"Rumahmu itu di dorm... Aku akan menunjukkannya... Jadi kau bisa pulang walaupun kau yang lain tidak ha-..."
-bruuuk-
"-dir... Hgh..." Kiku menghela nafas lega karena ia bisa menangkap tubuh Pertiwi yang kini kembali pingsan, "Kali ini siapa yang akan keluar?"
"Uh..."
"Apakah kau tidak apa-apa? Kau tiba-tiba pingsan..." ucap Kiku lelah.
"U-uh... Huh? Dimana ini?" ucap gadis tersebut sembari membenarkan posisinya.
Sepertinya dia bisa mengurus dirinya sendiri...
"Ini di sekolah..."
"Sekolah? Kau bercanda..." ucap gadis itu tak percaya.
"Eh?"
"Aku tak... Huh?" gadis itu mulai kaget saat melihat ke arah seragamnya sendiri, "A-aku... Aku... Sekolah!"
"Huh?!" Kini Kiku yang heran bercampur kaget luar biasa.
"Jadi... Siapa kau? Apakah kau teman sekelasku? Apakah kau guruku?"
"A-aku... Senpai-mu... Begitu?" Kiku tak yakin.
"Begitu ya... Senpai ya?" ucap gadis itu riang, seriang Mei.
"Eh... Siapa namamu?" intuisi Kiku mengatakan ia harus tahu siapa 'Nesia-san' yang satu ini.
"Aku? Aku Ayu..." ucapnya disertai senyuman secerah mentari, "Senpai siapa?"
Dan intuisi Kiku menyatakan dia harus membuat perbedaan agar mereka mudah dikenali, "Kau bisa panggil aku Kiku..."
"ah... Kiku-senpai ya... Nama yang bagus..." ucapnya masih girang.
"Ayu-san... Biasanya sehari-hari apa yang dilakukan?"
"o-oh! Benar juga! Aku harus cepat-cepat menyiapkan makanan dan menunggu Tuan muda! Ini sudah senja!" ucapnya sembari bangkit dari duduknya.
"Tunggu... Ayu-san!"
"ya?"
"kemana kau akan pergi?"
"pulang ke... "Ayu terlihat terkejut, dan mulai panik sekarang, "dimana aku sekarang?"
Nah... Kan...
.
.
"I-ini aneh... Harusnya... Harusnya aku tak ada di sini... Seharusnya aku menunggu... Aku..."
Dan sekali lagi Kiku melihat tubuh itu ambruk –kali ini munjgkin karena tekanan.
Entah ke berapa kalinya hari ini Kiku harus menangkap orang yang sama. Kenapa setiap ganti personality tidak berkedip saja atau apapun itu yang tidak membahayakan tubuhnya. Untung saja ia kembali bisa menangkap tubuh kecil itu walaupun dengan start duduk. Apakah segitu syoknya ketika berganti personality?
Apakah mereka saling berebut tempat? Saling berebut kesadaran?
Pikiran Kiku masih di selimuti tanda tanya ketika ia mencoba mengangkat tubuhnya agar tidak menindih gadis itu dan segera menyingkir agar...
Kiku tertegun saat melihat manik yang lebih gelap darinya dan lebih besar pula, berkedip heran dan lama-kelamaan mulai ketakutan.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
.
.
Sepertinya akan ada kesalah-pahaman lagi.
A/N:
Capie 6 YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEY!
Neth: Yang telat updet... yang telat updet...
Author: Nesia ambilkan spon cuci piring! Mulut liefje-mu perlu disumpal nih!
Nesia: Kiku... Ambilkan 2 spons... ada dua mulut yang harus kusumpal...
Kiku: Ara...
Author: Eits! Jangan sumpal mulutku! Aku belum selesai uplod!
Nesia: Huh? Ini belum berakhir?
Author: Ya... Ini Permintaan maafku karena telat Uplod... Tapi sebelum itu... Balas Review...
.
.
Author: Kiku... ini benar Faneda-san? Perasaan kemarin kan Faracchi Neko Darkblue-san...
Neth: Cuma ganti nama aja kok rame... dasar Author lebay...
Author: Kiku... Aku tuliskan script panas kau dan Nesia... mau?
Kiku: *Blushing*Beruap*menahanmimisan
Nesia: Boneka santet... Boneka santet...
Neth: benar! Santet saja Nes! Author sarap gitu kok!
Nesia: Boneka santet dua... Boneka santet dua...
Neth: K-kok dua?
Author: Coba aja kalau berani santet! Maafkan mereka Faneda-san... Pokoknya terimakasih karena sudah mau ngeriview yang sangat membangun... :D :D Dan untuk ravenilu597-san... Ikuti saja ceritanya *wink* Karena itu surprise... *bisik* yah, ada rencana bikin 17 alter sih,, kayak tanggal kemerdekaan gitu...
Nesia: Aku dengar itu thor! Kau mau membunuhku apa?! Banyak banget!
Author: Daripada sesuai dengan jumlah provinsimu -34? Mau 35 malah ya? Pemekaran lagi, Nes?
Nesia: Terlalu banyak!
Author: refrensi-ku malah memiliki 24 alter...
Nesia: Hgh... ya sudahlah...
Author: Dan... Nesia... Kau udah official?
.
.
Nesia: KIKU! KAPAN AKU OFFICIAL?! *mencak2* MASA CUMA SKETSA DOANG?!
Kiku: N-nanti... Aku tanyakan sama Himaruya-sensei dulu... *kabur
