Kiku mengusap pipinya pelan. Masih terasa dan masih berbekas di pipinya tamparan keras dari gadis di hadapannya.

Hari ini juga… Tottemo Nagaaaaaaaiiiii desu! –Sangaaaat panjaaaaang….

Kiku mengeluh dalam hati. Ingin rasanya ia pulang sekarang dan memulai membuka buku pelajarannya saja.

Bahkan matematika dan fisika -atau mungkin filsafat?- lebih mudah daripada masalah ini...

"A-a-a-apa yang senpai lakukan?!" raung gadis itu pada akhirnya, setelah hampir 5 menit diam untuk menyetabilkan emosinya.

"Kau jatuh pingsan dan aku mencoba menangkapmu..." ucap Kiku, entah keberapa kalinya alasan itu menjadi tamengnya menghadapi satu makhluk aneh di depannya.

"K-kok senpai di atasku? Kan kalau nangkep harusnya..." Nesia mencoba memperagakan cara menangkap.

"Aku mau menyingkir... Jadi aku memutar tubuhmu!"

"S-se-senpai tidak melakukan apa-apa kan?!" selidiknya.

"Tentu saja tidak!" seru Kiku dengan muka semakin memerah.

"Benar?"

"Benar!" seru Kiku lagi.

.

.

"Tunggu... Kau mengenalku?" tanya Kiku yang baru menyadari bahwa ia sepertinya tak perlu berkenalan dengan gadis yang kini berada di hadapannya.

"S-senpai yang waktu itu mencariku sampai ke kelas bukan? Yang bertanya hal-hal aneh..."

S-sou ka... Ini Nesia-san...

"Y-yah... Terimakasih sudah menolongku... Aku akan pergi..." ucap Nesia sembari bangkit.

"Kemana?" tanya Kiku lagi.

"Tentu saja ke kelas, lah?"

"Nesia-san... Hari ini sudah berakhir... Kau tahu?" ucap Kiku hati-hati, "Mentari sudah terbenam di barat..."

Kiku melihat gadis itu kebingungan dan mulai mengecek perkataannya. Mimiknya berubah kosong namun ketakutan saat menyadari perkataan Kiku adalah benar.

"K-kok... Bisa?" tanyanya tak percaya, "I-ini... Jam berapa? T-t-tanggal berapa?"

"ini sudah jam 6 sore... Tanggal 10... Bulan 4... Tahun 20XX..."

"o-oh... Hanya sehari ya... Syukurlah..." ucapnya.

Kiku menangkap keanehan itu, walaupun Nesia sekuat tenaga menahannya dan menyembunyikannya, tubuh dan bibir mungilnya tetap bergetar.

"N-nesia san... Tahu akan hal ini?" tanya Kiku, masih dengan hati-hati.

"ukh..." Nesia menundukkan kepalanya dan menggeleng.

Kiku yang masih duduk itu melihatnya, sebutir air mata telah jatuh.

"N-nesia san... Baik-baik saja?" tanya Kiku yang hanya dijawab dengan anggukan lemah Nesia.

"S-senpai... Aku... Pulang dulu... Ya?" ucap Nesia lemah, ia masih menunduk.

"Biarkan aku mengantarmu..."ucap Kiku sembari berdiri.

"Un..." angguk Nesia lemah.


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


"Jangan pernah berpikir untuk mengagetkanku, Mei..." ucap Kiku yang masih sibuk dengan skemanya.

"Tidak seru!" dengus Mei, iapun menghentikan aksi mengendap-endapnya yang telah tertangkap basah, "Jadi... Bagaimana kemarin?"

"Apanya?"

"Kau malah sampai mengantarnya masuk ke dorm perempuan kan? Kau tahu kamarnya? Kau jadi bahan perbincangan tahu! Katanya kau begitu keren!"

"Entahlah... Aku hanya mengantarkannya dan menjelaskan beberapa hal pada pengawas dorm..." ucap Kiku datar.

Pikirannya kembali ke sore itu, sore dimana ia harus menjelaskan macam-macam demi membantu Nesia yang hanya menunduk lemah.

*O*

-Flashback-

"Ini sudah ke 4 kalinya kau menghilang tanpa kabar! Kemana sebenarnya kau ini?! Kali ini kau diantarkan oleh seorang laki-laki pula!" ucap sang ibu penjaga dorm keras.

"Saya menemukannya di koridor sekolah... Karena dia terlihat tak sehat jadi saya antarkan... Saya tak bermaksud apapun..." ucap Kiku menjelaskan.

"Kau juga... Kau... Anak tahun ke dua ya..." ucap ibu itu sembari bergantian menatap Nesia dan Kiku.

"Ya... Saya Honda Kiku... Tahun ke dua... kelas A..."

"Ah! Kau Honda yang itu! Begitu ya... Kalau kau aku bisa percaya..."

Pada saat-saat seperti inilah Kiku mensyukuri prestasinya. Jika ia bukan Honda Kiku, siswa dari Jepang yang memegang peringkat pertama dengan nilai nyaris sempurna -macam yang ada di shoujo manga- maka habislah mereka hari ini.

"Kau seharusnya berterimakasih pada senpaimu ini..." ucapnya kembali ketus pada Nesia.

"Un... Terimakasih telah mengantarkanku... Senpai..." ucap Nesia yang masih menundukkan kepalanya.

"Setelah ini naiklah! Pergi ke kamarmu! Renungkanlah perbuatanmu! Jika sekali lagi kau melakukannya, aku tak segan melaporkan hal ini pada kepala sekolah!"

"B-baik..." ucap Nesia lemah yang dilanjutkan dwngan langkah gontai memasuki dorm.

-tep-

"Uh?" kaget Nesia yang tangannya ditahan oleh seseorang.

-puk-

Nesia hanya diam, mencoba mengolah informasi yang ia terima dari kepalanya yang ditepuk lembut.

"Jangan khawatir... Istirahat saja... Besok aku akan menjemputmu..." ucap Kiku disertai senyuman manisnya.

.

.

.

"B-baik..." Nesia ngeloyor pergi begitu saja. Namun, Kiku yang tahu bahwa gadis itu malu dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan kabur, terkekeh geli.

"Tolong jaga dia ya, bu..." pamit Kiku saat meninggalkan asrama perempuan. Meninggalkan ibu penjaga dorm heran dan beberapa siswi yang lewat teriak-teriak tidak jelas.

Terlihat di sudut lirikan Kiku, ibu penjaga dorm perempuan mulai berpikir. Kiku menebak pasti tentang perlakuannya tadi pada Nesia. Terlihat juga sang ibu mengambil keputusan bahwa ia tak akan mengganggu Nesia, paling tidak itulah yang ditangkap oleh intuisi Kiku.

Ma... Sepertinya beliau mengerti...

.

Kukira tak apa menggunakan 'fasilitas' seperti ini... Ini bukan salah Nesia-san juga sih...

#QuotesOfTheDay: jadilah murid berprestai agar kau bisa selamat di situasi apapun -Kiku.

-End Flashback-

*O*

"Hei! Kabarnya kau menjemputnya tadi pagi dan mengantarkannya sampai ke kelas ya?" Mei mulai mencoba menggoda Kiku, namun yang ditanya bergeming.

"Lalu? Sudah sampai mana kau ini?" tanya Mei lagi.

"Apanya?" ucap Kiku malas.

"Date? kiss? Atau..."

"Kau dan pikiranmu itu... Sepertinya harus dicuci, Mei-san..." ucap Kiku dengan nada mengancam.

"Jadi? Belum sampai manapun? Kau benar-benar lambat! Huh! Ini sebabnya aku menyerah padamu!"

.

.

"I-itu dulu..." Muka Mei memerah menyadari perkataannya.

"Jadi kau sudah melakukan apa saja dengan Hong?" balas Kiku datar.

.

.

"T-TENTU SAJA KAMI TIDAK NGAPA-NGAPAIN! KIKU MESUM!" seru Mei galak dengan muka yang memerah. Segera Mei menjauh sebelum Kiku mulai menggodanya lagi.

Sedangkan Kiku hanya menghela nafas dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tanpa memperdulikan teman-teman sekelasnya yang kini menatapnya dengan tatapan tak percaya tapi percaya (?) karena satu kalimat; Kiku mesum.

Hgh... Sampai mana tadi aku? Oh ya... Nesia-san punya 5 kepribadian... Nesia-san, Pertiwi-san, Garuda-san, Ayu-san, psikopat-san... Yang berbahaya adalah Garuda-san dan psikopat-san... Nesia-san mungkin kepribadian dominannya... Sepertinya aku harus meng-konsul-kan ini pada guru...

.

.

Apakah tidak apa-apa melaporkannya? Apakah Nesia-san akan terima jika sebenarnya ia memiliki jiwa lain? Apakah orang lain akan percaya?

*O*

"Susu strawberry dan roti melon... Yong mau apa?" tanya Mei.

"Kalau begitu aku mau kimchi, da ze... Kimchi itu dari Korea, da ze... Enak sekali, da ze!"

"apa yang enak dari sawi fermentasi?" Tanya Vie lelah.

"bukan sawi fermentasi! Kimchi! Dan itu enak sekali da ze!"

"Masalahnya tidak ada Kimchi di kantin, ana..." ucap Thai dengan senyum manisnya.

"Hee? Kenapa, da ze? Mereka seharusnya punya!"

"Cepetan! Mumpung Kiku masih belum berubah pikiran Yong!" seru Vie.

"Apa ya... Aku ikut saja deh..."

"Maa... Kalau begitu aku pergi dulu..."

.

.

"Mei... Apa yang terjadi pada Kiku? Tumben mau nurut dan membelikan makan siang?" tanya Vie heran.

"Kesambet apa anak itu, ana?"

"Hehehe... Rahasia! Ya? Hong?" jawab Mei cengengesan.

Hong hanya melirik Mei bingung. Yang ia tahu hanyalah Kiku menanyakan sesuatu seperti apakah Mei percaya pada personaliti ganda dan Mei akan menjawabnya jika Kiku mau membelikan makan siang.

Hong tak yakin. Bukan karakter Kiku untuk mau menurut hanya karena sebuah pertanyaan. Setelah ini Hong harus memastikan Mei tak apa-apa dan selamat dari -mungkin- balas dendam Kiku. Kedua anak ini suka sekali saling menjahili sih.

Atau hal yang Kiku tanyakan benar-benar serius? Sampai-sampai Kiku rela jadi kurir makan siang? Hong tak habis pikir di belakang muka kalemnya yang ia tunjukkan pada teman-teman sekelasnya itu.

*O*

"Titipan Mei... Vie... Thai... Hong... Milikku..." Yong melakukan presensi pada makanan yang baru saja dibelinya, " Sudah semua, da ze... Kiku bagaimana?"

.

"Hyung?" tanya Yong lagi.

"Kau kembali saja duluan..."

"Kenapa begi-..."

"Bento-ku ada di laci..."

"MAAAAUUUUUUUUUUUU!" Yong pun melesat secepat kilatan cahaya.

Sedangkan Kiku melangkahkan kakinya ke arah ruang guru yang berada di seberang koridor karena gadis aneh yang dikenalnya terlihat sedang berada di sana. Berdiri di depan ruang guru, dengan segala keanehan gerak-geriknya.

Kiku terus memperhatikan gadis yang sepertinya tengah bimbang untuk memasuki ruang guru atau tidak selagi ia melangkah mendekat. Gadis itu tak hentinya bergerak-gerak, meloncat-loncat kecil untuk mengintip ataupun menoleh gusar. Tampaknya ia sedang menunggu sesuatu yang sangat serius.

Sungguh aneh. Ada sesuatu yang rasanya menggelitik saat ia memperhatikan gadis itu bersikap demikian, membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak menarik sudut bibirnya sepanjang yang ia bisa.

Sungguh, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kenapa jantungnya mulai berdetak dua kali -tidak, tiga - atau mungkin empat kali lebih kencang? Kenapa ia begitu antusias? Kenapa kakinya sendiri seakan mengoloknya karena melangkah terlalu lambat?

Doushite... Darou...?

Kiku mempercepat langkahnya, tak terasa kini ia setengah berlari. Keping monokromnya tak lepas dari wajah manis si pony tail yang walaupun terlihat kesulitan dan cemas, entah kenapa, wajah kecil yang dibingkai surai legam yang terlihat lembut nan tebal itu terlihat semakin menggemaskan.

Semakin Kiku melihatnya, semakin Kiku tertular rasa penasaran yang kini pastinya kuat dirasakan oleh gadis yang akhirnya memutuskan untuk mengintip lewat kaca kecil yang terpatri di pintu ruang guru. Untuk itu, gadis dengan tinggi 150 lebih 'syukuri apa yang ada' itu harus berjinjit ria.

Untuk melihat itu, Kiku harus menahan tawa masif-nya sekuat mungkin.

Ma... Cocok sudah dia jadi stalker...

.

.

-tep-

"Hei..."

"H-HIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaa!"

"UWAAAaaaaaah!"

Kiku yang bermaksud mengagetkan sang gadis dengan menepuk pundaknya pelan malah ikut kaget karena teriakan keras dari makhluk yang tak lebih tinggi dari pundaknya ini. Selagi ia menenangkan jantungnya yang berdetak sepuluh kali lebih cepat sekarang, ia melirik ke arah sang gadis yang tampaknya melakukan hal serupa.

"Apa yang kau lakukan? Mengagetkanku saja! Huuuh!" decak sang gadis sebal di sela mengambil nafas.

"S-sumimasen..."

"Hgh... Oh! Kau mau masuk ke ruang guru?"

.

.

.

-tte...

"Maaf ya... Aku menghalangi ya?" ucap sang gadis sembari menyingkir, "Silahkan..."

.

.

M-matte!

"N-nesia... San?"

"H-huh?" gadis itu melingukkan kepalanya ke arah Kiku, ekspresinya terlihat kebingungan.

"Nesia-san... Desu yo... Ne?"

"Un..." Nesia mengangguk-anggukkan kepalanya merespon, "Kau mengenalku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

.

Satu lagi alternya yang lain ya... Hgh... Sebenarnya ada berapa banyak, sih?

-sreeeegh-

"oh?"

Kiku dan Nesia segera melinguk ke arah suara. Pintu ruang guru perlahan terbuka dan memperlihatkan seorang pria paruh baya yang memegang selembar kertas ulangan.

"Kau masih menunggu, Nesia?"

"Y-yah..."

"Sudah kuduga..." ucap sang guru yang kemudian memberikan kertas yang sedari tadi ia bawa, "Full score... Kerja bagus..."

"Uwaaah! Terimakasih pak!"

Hoo... Full score ya...

Kiku memandang kagum ke arah nesia dan kertas ujiannya.

"Sekarang pergilah dan kerjakan hal lain selain ribut di depan ruang guru! Oh! Kau juga Honda... Kalau kau punya urusan masuk saja jangan ribut di luar..."

"U-uh... Maaf, sensei..."

"Kalau begitu saya permisi pak..." ucap Nesia sembari memberikan hormat.

"Oh! Ya... Tapi ingat Nesia... Sekali lagi kau bolos seperti itu... Aku tak akan mengadakan ujian susulan..."

"U-uh... Saya akan berhati-hati..." ucap Nesia tak yakin.

Apakah ini akibat kejadian kemarin?

.

.

"Ne... Jangan murung..." ucap Kiku tiba-tiba.

.

.

"O-oke?" jawab Nesia tak yakin.

B-benar juga... Dia tak mengenalku... Aku benar-benar tukang ikut campur...

"Kau... Nesia-san... Kelas 1-A bukan?" ucap Kiku langsung, ia tak ingin berputar-putar lagi. Sudah terlanjur ia bersikap dekat dengan gadis ini.

"Aku Kiku Honda... Kelas 2-A..."

"Ho! Kau senpai-ku! Yang juara umum itu! Ya… ya… Begitu ya..."

.

.

"Jadi... Darimana senpai mengenalku?" tanya Nesia lagi.

.

.

"T-temanku?" jawab Kiku canggung.

Y-yah... Kau diperkenalkan oleh Mei... Ini bukan kebohongan...

"Hee... Begitu ya?"

.

"Lalu?"

.

"Huh? Apanya?" Kiku balik bertanya. Ia harus membalikkan keadaan sekarang agar pembicaraan tidak terputus.

.

.

Tapi sayangnya malah menambah awkward suasana karena Nesia tak kunjung menjawab. Kiku mengeraskan mukanya, rasanya ia ingin pergi, kabur dari tempat itu sekarang juga. Namun kakinya tak mau bergerak dan tubuhnya tak mau menurut untuk pergi saat keping ambernya menangkap senyum gadis di hadapannya.

.

"Pffft! Hihihihi!"

.

H-heeee? Nande? Nande? Aku melakukan hal yang salah? Apa aku melakukan hal yang aneh?

Kiku memandang Nesia dengan perasaan heran bercampur malu. Semburat merah di kulit kuning pucatnya pun tak bisa menyembunyikan dirinya. Ini pertama kalinya ia melihat Nesia tertawa, walaupun Kiku sendiri tak yakin apa masalahnya.

"Senpai ini... Terlalu kaku!" ucap Nesia tanpa tertebak oleh Kiku. "Santai sajalah... Ah... Kita masih jam makan siang... Mau makan siang bersama?"

"U-uh?"

-tep-

"Ayo cepat! Keburu nasi gorengnya habis niih!" ucapnya riang sembari menarik tangan Kiku dan membawanya lari ke kantin.

*O*

"Senpai! Sini! Di sini!" ucap Nesia girang sembari melambaikan tangannya.

Jadi... Disinilah kita...

Kiku tersenyum simpul sembari mendekat ke arah Nesia. Diletakkannya nampan di meja kecil untuk berdua itu.

"Wah! Terimakasih ya senpai! Jadi ngerepotin nih... Hehe..." ucap Nesia lagi sembari membantu Kiku.

"Iie..." ucap Kiku disertai senyum tulusnya saat menarik kursi di hadapan Nesia, "Nesia-san pintar mencari tempat duduk ya?"

"Tidak... Aku hanya beruntung... Dan gesit juga! Hehe..." jawab Nesia.

Kiku tersenyum kecil saat mendengar jawaban ceria Nesia. Ia menengokkan kepalanya, tidak menyia-nyiakan pemandangan dari mejanya yang berada di posisi strategis. Meja kecil untuk dua murid tersebut memang terletak di pinggir ruangan, menempel di kaca yang menjadi sekat antara luar dan dalam ruangan. Dari kaca tersebut tertangkaplah seluruh pemandangan taman sekolah beserta danaunya. Angin semilirpun terkadang bertiup melalui sebuah pintu besar dari kaca di belakang Nesia, meniup surai indah kohainya yang sedang sibuk menata sepiring nasi goreng dan sepiring Sushi roll milik Kiku serta menyingkirkan nampan ke pinggir meja.

.

.

-Pakkk!-

Kiku menangkis bayangan 'Nesia menjadi istrinya yang sedang menyiapkan makan untuknya' jauh-jauh.

.

"ada apa senpai?" tanya Nesia sembari menyiapkan sendok-garpunya.

"I-iie... Daijoubu desu..." ucap Kiku sembari menyambar sumpitnya, "Itadakimasu..."

"U-un... Selamat makan..." ucap Nesia ragu.

.

.

Kiku makan sembari membuang muka ke halaman luar, tak berani ia untuk sekedar melirik Nesia makan. Entah kenapa, tapi yang ia meyakini bahwa jantungnya akan melompat lebih kencang jika ia berani melakukannya.

Untuk memikirkannya saja dia sudah berdebar begini.

Akhirnya Kiku mencoba mengisi pikirannya dengan hal lain. Pilihan jatuh pada desain bangunan ini. Berbeda dari bangunan Hetalia Gakuen yang lain, yang berkonsep eropa lama, bangunan baru yang ditempati sebagai kantin ini memiliki disain cafe terrace terbuka. Kantin yang terdiri dari kantin dalam ruangan dan kantin di beranda ini memungkinkan murid untuk menikmati pemandangan dan hembusan angin secara langsung saat menyantap makanan, namun juga tidak kepanasan karena atap dan kerindangan pohon-pohon di sekeliling. Walaupun terkesan modern, aksen eropa lama masih bisa ditemui di pilar-pilar putih bergaya victoria yang menyangga ruangan sejuk kantin.

Dulu ia sering makan di sini saat masih bulan-bulan awal ditahun pertamanya. Namun setelah ia mendapat ijin untuk menggunakan dapur dorm, ia lebih memilih untuk membuat bentou dan makan di kelas atau di taman saja.

Kantin saat jam makan siang terlalu chaotic. Kiku tak terlalu suka suasana ramai seperti ini, apalagi bila harus berdesakkan untuk membeli makanan. Oleh karena itulah dia memilih menerapkan kebiasaan anak sekolah di negaranya; Ber-bentou-ria.

Namun khusus untuk hari ini, dia telah rela berdesakkan demi ajakan makan siang seorang kohai yang tak bisa ditolaknya.

"apa senpai tahu? Nasi goreng itu enak loh! Senpai harus coba!" ucap Nesia memecahkan keheningan diantara mereka dengan semangat sembari menyantap hidangan asal negaranya itu. Nesia sangat antusias, begitu mirip dengan anak kecil yang baru saja diberikan mainan. Membuat Kiku mulai menebak-nebak, berapa umur Nesia yang saat ini di depannya.

"Ne... Bagaimana menurut senpai?" ucap Nesia dengan mata berbinar. Kiku mulai ingat dengan kucingnya yang sedang meminta makan.

Begitu menggemaskan.

"M-mirip omu-raisu..." ucap Kiku sarkatis mencoba mengambil route lain. Ia tak ingin terus terseret dalam pace Nesia no.2-san atau bertambah flushtered melihat manisnya sikap Nesia.

"Beda laaaah!" rajuk Nesia sembari menggembungkan pipinya.

"Dari mananya?" lanjut Kiku pura-pura tak peduli sembari menyibukkan tangannya dengan sushi roll pesanannya. Bahaya jika tangannya mengarah ke arah lain dan mengambil pipi yang masih menggembung lucu itu.

Kami-sama!

Kiku masih mencoba untuk tenang dan mengontrol dirinya. Dilahapnya Sushi rollnya lebih cepat untuk menepis pikiran dan niat tak sopannya.

"Senpai ini... Dari namanya juga sudah beda..." ucap Nesia sembari mulai melahap nasi gorengnya, "Capi... Munch-munch-munch!" Nesia mencoba mengucapkan sesuatu, sayang mulutnya yang penuh tidak merestui kata-katanya untuk keluar.

.

Alfred-san ka?!

Sedangkan Kiku memalingkan mukanya dan sekuat tenaga menahan tawanya.

"Munch?"

Tidak bisa! Mukanya terlalu aneh! Muka polos itu! Berhenti kau menatapku dengan muka heran seperti itu! Aku tak bisa menelan makananku!

"Nasinya terlalu kering nih... Yah... Apa boleh buat... Ini di luar negeri sih..." komplain Nesia lugu setelah menelan makanannya.

"Eh? S-senpai tak apa-apa? Duh senpai!" ucap Nesia panik saat menyadari posisi Kiku yang tak lazim. Nesia-pun panik, ia kira senpainya itu tersedak.

Aku tak bisa menelan makananku! Ini gara-gara kau...

"S-senpai... T-tenang! Tenang!" ucap Nesia sembari menarik tisu dan beralih jongkok di depan Kiku yang masih memalingkan muka.

A-apa yang kau inginkan?!

Nesia mendekatkan tisu ke arah mulut Kiku, "Keluarkan saja! Keluarkan... Batukkan... Uh?"

Kiku menahan uluran tisu Nesia, kini ia memalingkan mukanya ke arah lain dan cepat-cepat berusaha menelan makanan dalam mulutnya.

Nesia yang melihat Kiku membuang mukanya ke arah lain berpindah sesuai arah kepala Kiku, "Duh! Senpai! Aku ingin membantumu!"

Kalau begitu biarkan aku menelan makananku! Jangan buat aku ingin tertawa!

"Duh, Gustiiii!" dengus Nesia sebal karena seluruh upayanya ditahan dan ditolak terus oleh Kiku.

"nn!" seru Kiku.

"Huh?" Nesia bingung saat Kiku memberikan perintah untuk balik badan dengan memutar-mutar tangannya, "Aku? Balik badan?"

Kiku mengangguk.

"B-baiklah..." ucap Nesia heran sembari berbalik badan.

.

.

-glek-

"Hgh..."

Kiku menghela nafas saat ia akhirnya berhasil menelan Sushi rollnya. Mulai sekarang ia harus berhati-hati dan waspada saat makan bersama kohainya yang satu ini. Diraihnya kotak jus jeruk, disedotnya sampai tinggal setengah.

Kiku baru tahu bahwa tak bisa menelan makanan adalah bencana besar yang tak bisa diremehkan.

"Sudah belum, Senpai?" tanya Nesia.

"Hai..." jawab Kiku lemah.

"Duh senpai bikin cemas saja... Jangan terlalu banyak wasabinya sih..." keluh Nesia sembari duduk kembali di kursinya, "Tuh... Mukanya sampai memerah gitu..."

Ini bukan tentang wasabi... Baka...

Kiku kembali memakan sushinya sembari menenangkan dirinya. Bahaya jika ia kembali terseret dalam pace Nesia.

Doushite?

Kiku menghentikan makannya. Ia baru sadar akan suatu hal yang menurutnya sebuah keanehan.

Yah, Kiku memang sering terseret dalam irama orang lain. Alfred terutama, dengan teriakan dan semua tindakan 'HERO'nya, selalu menyeret Kiku untuk mengikutinya. Namun Kiku masih bisa berhenti dan memutar arah serta mengambil alih jalan pembicaraan sehingga Alfred kembali ke jalur yang benar.

Namun kenapa dengan gadis yang ada di depannya sekarang, yang tengah menyendokkan nasi goreng dan mengarahkan sendoknya ke arah Kiku, ia tak bisa berbuat banyak.

.

.

"A-apa?" tanya Kiku heran saat menyadari Nesia dalam posisi akan menyuapinya.

"Senpai melihat ke arah nasi gorengku terus... Senpai mau?"

.

"I-itu... Bukan..."

"Sudahlah... Tak usah malu-malu... Nanti gantian aku yang minta sushi roll senpai... Gampang kan?"

Tapi... Sendoknya... Kan...

Ada sekumpulan uap terlihat di atas kepala Kiku, mukanya terlalu panas sekarang sehingga menghasilkan anomali ini. Alasannya cukup rumit bagi Kiku; sendok yang sama = Indirect French Kiss.

Dan sayangnya ia tak mungkin kembali ke antrian sepanjang 30 meter hanya untuk meminta sendok demi menghindari kenyataan absurd di hadapannya.

"I-iya... Tapi... Uh... Biar aku yang pegang sendiri... ya?" ucap Kiku sembari meminta sendok yang penuh akan nasi goreng itu. Setidaknya ia bisa mengurangi kesalah pahaman.

Padahal dalam hati ia merutukinya.

Kiku! Kau sungguh pengecut!

"Kenapa? Biar aku suapin saja kan lebih mudah jadinya?" Nesia menarik tangannya, "Sekarang, buka mulut senpai... A! A!"

"A-aku bisa sendiri!" ucap Kiku dengan muka merah padam menahan malu.

.

-tte! Kau ingin menjadikanku seorang Tsundere apa?!

Kiku menarik nafas dalam-dalam. Ia menepuk-nepuk wajahnya untuk melancarkan darah yang seenaknya berhenti mendadak di bagian pipinya sehingga membuat wajahnya merah.

Sepertinya dia benar-benar harus menyerah dalam mengubah pace agar menjadi miliknya. Setidaknya sekarang yang harus dia pikirkan adalah membuat seluruh mata di kantin yang kini menatap dirinya dan gadis di hadapannya tidak berpikir bahwa Kiku memiliki penyakit psikologi kronis yang ia kenalkan dan cantumkan pada anak keempat dari Kirkland bersaudara.

Kiku memandang Nesia yang masih keukeuh memegangi sendok pembawa masalah itu.

M-ma... Baiklah kita bermain...

"Baiklah..."

.

.

Suasana kantin siang itu sangat ramai, penuh dengan murid-murid yang sedang beristirahat. Ada yang berteriak-teriak memesan makanan, ada yang kemudian menyahuti, ada pula yang bercerita tentang kelas yang baru saja mereka lewati atau gosip picisan yang tak pernah ada habisnya.

Namun Kiku tak bisa mendengar semua itu karena yang menggema dalam telinga dan otaknya sekarang hanyalah suara debaran jantungnya sendiri yang entah siapa yang mengatur volumenya menjadi maksimum.

Kepala Kiku berdenyut, pusing, sakit seperti ada yang menjeratnya kuat. Otaknya bagaikan dikocok seperti saat ia pergi bersama Feli dan mobilnya.

Sensasi yang Kiku tidak mau, tidak sudi dan membuat ia bersumpah untuk tidak akan pernah merasakannya lagi sehingga setiap ia pergi berdua dengan Feli dan mobilnya, Kiku selalu menawarkan diri untuk menyetir saja.

Tapi untuk kali ini, sesuatu seperti ini, entah kenapa rasanya ia tak keberatan untuk mengulanginya lagi. Walaupun rasa-rasanya kedua kondisi ini memiliki sensasi dan feel yang benar-benar serupa; Membuat kepalanya sakit dan membuat semua hormon adrenalinnya keluar.

Namun hatinya, untuk masalah ini, malah memberikan restu berupa kompromi. Pikirannya mengajukan toleransi yang membuatnya merasa walaupun hal seperti ini mengancam nyawanya sekalipun -atau mungkin lebih parah lagi, ia masih akan tetap menerimanya.

Bila ada kesempatan lagi.

.

Waktu seakan melambat, dan fokusnya entah mengapa semakin kabur. Semakin sendok itu mendekat ke arah mulutnya semakin keras suara detakan jantungnya. Bagaikan telinganya hanya ingin mendengarkan suara pemompa kehidupannya itu dengan seksama, teliti karena takut apabila jantungnya mungkin berhenti mendadak.

-haup-

"Gimana? Enak kan? Beda kan sama omu-raisu?" ucap Nesia dengan senyum bahagianya.

Kiku hanya memandang Nesia pasrah sambil terus mengunyah nasi goreng di mulutnya pelan. Wajahnya kini telah sewarna dengan lingkaran di bendera negaranya.

"Hihihi! Muka senpai lucu!" sahut Nesia sembari terkekeh kecil. Manis sekali.

Mou! Sampai kapan kau ingin mengerjaiku?!

Kiku mendengus sebal, namun sedetik kemudian sudut bibirnya memperlihatkan sebuah smirk nakal, "Maa... Sekarang giliranku berarti..." ucapnya sambil menjepit sushi roll dengan sumpitnya.

"Un!" seru Nesia tanpa ragu sembari malahap suapan dari Kiku yang kini telah sempurna membuang mukanya yang memerah lagi walau berapa kalipun ditenangkan.

Kuso! Habis ini aku harus cek gula darah...

"U? U-uuuuung!" erang Nesia sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

A-ah! Aku lupa! Bad-boy... Bad-boy...

"Dou?" tanya Kiku nakal berusaha menghapus pikiran para penonton bahwa ia sempat mengenyam tsundere mode. Walaupun sebenarnya ia sangat-sangat malu dan sangat-sangat tak yakin dengan pilihan Bad-boy. Tapi di cap anak nakal seperti Asem-senpai mungkin lebih baik daripada dicap sebagai uke-tsundere akut seperti seseorang beralis 6 tingkat.

Kiku terkekeh manis sembari memainkan sumpitnya sebelum akhirnya menawarkan minuman milik Nesia kepada sang empu yang tengah dalam perjuangan hidup dan mati menelan sepotong sushi.

Teh hangat. Pasanganlanggeng, favorit, ultimate bagi sepiring nasi goreng.

Namun bukan pilihan yang bijaksana untuk menghilangkan rasa wasabi yang kabarnya bisa membuat flu berat ngacir mendadak.

Nesia masih sekuat tenaga menelan sushi sadis dari Kiku. Kini mata dan hidungnya mulai berair. Tentu saja Nesia sebal pada senpai yang sedang tersenyum nakal menggodanya sekarang. Tega-teganya memberikan sushi penuh dengan wasabi begitu?

Yah, tapi ini juga salah Nesia yang tidak teliti melihat krim hijau yang teramat laknat tersebut.

Tapi Nesia tak mau menyalahkan dirinya sendiri, maka ia menunjuk ke arah jus jeruk dingin milik Kiku yang tampaknya cocok untuk melawan rasa wasabi sebagai permintaan tanggung jawab kepada Kiku.

Dan uap kembali terlihat mengepul di atas kepala Kiku.

Mau sampai kapan kau mendeklarasikan perang pada kejiwaanku?!

Namun sebelum sempat Kiku menenangkan jiwanya, sedotan kotak jus jeruk yang sangat precious untuk Kiku itu telah mendarat di bibir mungil Nesia.

.

.

Kiku diam tak berkutik. Bahkan sumpitnya terjun bebas karena si empu terlalu syok.

.

.

"Senpai... Kau kejam sekali memberiku wasabi sebanyak itu..." keluh Nesia setelah ia berhasil menuntaskan masalahnya dengan sushi berwasabi massal.

"Ah... Ya... Sumimasen..." ucap Kiku lelah. Hari ini ia telah kalah telak.

"Hihihi... Aku tak menyangka Honda-senpai seramah ini..." lanjutnya lagi.

"H-huh?"

"Kukira Honda-senpai itu orang idealis yang dingin dan mengejar nilai sekolah... Tahunya juga baik dan lucu..."

"M-maa..."

"Ehehehe..."

Kiku melirik lemas ke arah Nesia yang tertawa kecil. Dihelanya nafas sekali lagi saat melihat tawa manis itu.

Baka...

Kiku membenarkan posisi duduknya, "Kau..."

"Huh?"

"Memang cepat akrab dengan orang yang baru kau temui?"

Nesia menggeleng lemah, "Tidak juga... Biasanya aku sulit..."

"Mnh?"

"Tapi... Entah kenapa ada suara di kepalaku yang mengatakan bahwa senpai adalah orang yang baik dan istimewa..." ucap Nesia polos, "Kenapa ya?" lanjut Nesia dengan senyuman manisnya yang membius total Kiku.

.

.

"Ne... Nesia-san..." ucap Kiku lagi, "Watashi wa..."

Nesia memajukan badannya dengan penasaran karena suara Kiku mulai melemah

"Watashi... Anata no... koto ..."

-teng... Teng... Teng... Teng...-

.

.

Kata-kata Kiku terputus saat lonceng pertanda kelas siang akan dimulai berbunyi, membuat sunyi di antara dua orang yang kini saling terdiam mendengarkan pengingat itu mengalun.

"Ah... Kelas siang akan dimulai, senpai..." ucap Nesia sembari bangkit dari tempat duduknya, "Aku duluan, ya?"

"A-ah..." ucap Kiku pendek. Masih dalam posisi menundukkan kepalanya, menyembunyikan mukanya yang memerah.

Kiku tetap terdiam walaupun Nesia sudah mulai melangkah pergi. Ia menggertakan giginya, menahan segala emosi dan malu. Saat-saat seperti inilah dia merutuki dirinya yang tak bernyali besar. Saat-saat seperti inilah ia merasa iri kepada Alfred yang blak-blakan ataupun Feli yang secara natural bisa mengatasi hal semacam ini. Atau bahkan iri pada Francis-senpai yang mengaku sebagai master of conquer.

"Honda-senpai!"

"uh...?" Kiku melinguk ke arah suara. Ia melihat Nesia yang sedang melambaikan tangannya.

"Lain kali kita makan siang bersama lagi yaaa!" serunya riang sebelum berbalik badan dan berlari menghilang.

"Un..." Kiku tersenyum lembut.

.

.

-tte... Aku lupa menanyakan tentang ujian susulannya itu...


A/N :

YEEEEEEEEEEEY Chapie 7!

Author: NETH! 4000 NETH!

Neth: Yaayaya...

Author: Napa? Pissed off? *happygrin

Neth: *sulking* Untuk mendeskripsikan mereka -AARGH!

Author: ahahaha!

Neth: Tapi nggak panas tuh... adem2 aja... panas itu harusnya *piiip* *piiip* *piiip*

Author: *Ambil Pisau

Nesia: *Ambil Keris

Kiku: *Ambil Katana

Author: SERAAAANG!