Kiku benar-benar berada di ujung tanduk sekarang. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya. Yah, ini memang kesalahannya. Ia tidak waspada dan teliti karena sibuk dengan pikirannya yang diluluh lantakkan tadi.
Sebuah remasan kertas melayang menimpa kepalanya. Kiku melirik ke arah kertas yang pastinya penuh sengketa itu.
Terjatuh di lantai, dekat dengan kakinya.
Setelah memastikan bahwa sang guru tengah menghadap ke arah lain, Kiku merendahkan tubuhnya, mencoba menggapai gumpalan kertas laknat tersebut. Dalam benaknya ada rasa was-was, rasa khawatir.
Setelah Kiku berhasil menggapainya, ia angkat dan kemudian buka kertas yang cukup mengancam itu.
- To: Kiku
Hei, siapa gadis manis yang membuatmu bertekuk lutut itu?
From: Vash -
Kiku sontak melingukkan kepalanya penuh horor ke deretan bangku di belakangnya. Ia melihat ke arah pemuda swiss yang tengah menatapnya penasaran.
Kami sama... Joudan desu yo ne?! Bahkan orang seperti Vash juga?!
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Kiku salah ketika mengira bahwa hari ini telah berakhir dengan makan siang bersama Nesia no.2-san. Nyatanya sekarang ia masih harus menghadapi masalah karena ternyata teman-teman sekelasnya tahu apa yang terjadi siang tadi.
Adalah seorang pemuda dari Polandia yang memulai semua ini. Ia memergoki Kiku siang tadi di kantin, kemudian menceritakan semua yang terjadi -dilengkapi dengan banyak bumbu menegangkan- di depan kelas sehingga seisi kelas tahu -cerita versi 'awesome'nya. Entah seperti apa cerita yang dikisahkan oleh Feliks tapi Kiku yakin itu pasti ngawur sekali.
Terbukti dari pukulan Mei dan Thai saat Kiku sampai di kelas tadi. Mereka memukul dengan muka merah padam dan bergumam sesuatu seperti 'aku bahkan belum' dan 'sialan, dia mendahuluiku'. Entahlah, Kiku benar-benar tidak paham.
Dan bukti lainnya sampai orang semacam Vash menimpuk dia dengan pertanyaan seperti ini juga.
Orang tipikal Vash! The world should be ended soon!
-Pukk-
Lagi, ada yang menimpuk dirinya dengan segumpal kecil kertas.
- To: Kiku
Hei, bagaimana rasanya jalan bareng kohai? Apakah menyenangkan?
From: Hero -
Kiku menghela nafas kecil.
Aku ingin cepat kembali ke dorm saja...
*O*
Hari itu, kelas 1-A periode siang kosong. Sang guru tengah pergi menghadiri seminar Internasional yang tidak bisa ditinggalkan. Meskipun begitu, tugas yang diberikan tak ada ampun, membuat seluruh murid duduk manis di tempatnya masing-masing dan mengerjakan titipan nista tersebut sampai akhirnya konsentrasi mereka dipecahkan oleh pemuda berambut agak ikal asal Asia Tenggara.
"Heh, ndon! Sudah dibilangin kalau jadian harus kasih PJ!" seru pemuda Malaysia bernama Razak lumayan keras sehingga seisi ruangan sontak melinguk ke arah dua murid dari Asia Tenggara itu.
"Eh? Eh? T-tidak apa-apa! Biasa si Malon ini! Hahaha..." ucap Nesia aneh untuk membuat seluruh tatapan menghilang.
"Jadian? Apa maksudmu?" tanya Nesia bingung setelah memastikan bahwa temannya yang lain telah beralih ke tugas mereka masing-masing.
"Tadi kami melihatmu makan siang bersama seorang cowok..." imbuh Maria, siswi dengan twin-tail asal Filipina seraya mendekat.
Haqq mengangguk, "Dan sepertinya bukan angkatan kita..."
"Makan siang bareng cowok? Ya, sama Razak kan? Atau kau mau bilang dia bukan cowok?" jawab Nesia bingung yang dibalas dengan dengusan sebal seorang Malaysia. Nesia tetap menatap heran pada siswa asal Brunnei tanpa memperdulikan Razak yang tengah merajuk. Walaupun sebenarnya dia sendiri tak ingat apakah tadi ia sudah makan siang atau tidak.
Nesia berpikir kalau sebenarnya ia menderita penyakit SMS. Bukan SMS handphone, tapi SMS -Short Memory Syndrome. Penyakit inilah yang kadang membuat dia lupa bahwa dia sudah makan siang, mengerjakan PR atau hal lainnya, padahal ia melakukannya bersama orang lain.
Razak lebih suka menyebutnya sebagai penyakit pikun dan Nesia pasti langsung menjitak kepalanya tanpa ampun.
"Heh, ndon! Kita nggak makan siang bareng! Kan tadi kamu dipanggil sama guru Fisika buat ulangan susulan di ruang guru?!" seru Razak.
"Eh?"
"Iya... Makannya aku, Razak, Lee, dan Haqq makan sendiri tanpamu... Tapi kau malah suap-suapan sama cowok tak dikenal..." ucap Maria menjelaskan, "Si Razak sampai hampir memecahkan piring karena melihat kalian..." ucap Maria lirih sambil melirik nakal pemuda asal Malaysia yang mukanya kini lebih merah dari pada kepiting rebus.
"Aku sudah susulan Fisika?" Nesia malah balik bertanya.
Lee, pemuda dari Singapura itu berjongkok di dekat Nesia dan mengambil kertas di saku rok Nesia. Ia kemudian membuka kertas yang terlipat cukup kecil itu dan setelah ia mengeceknya, ia memperlihatkannya pada Nesia.
Razak menyabet kertas yang dibubuhi angka 100 besar dengan bolpen merah tersebut dan bergumam, "Nah... Mulai lagi penyakit pikunnya..."
-pletak!-
"Kalau begitu kalian salah orang kali... Kan aku lagi ulangan susulan..." ucap Nesia sembari merebut kertas ulangannya setelah puas menjitak Razak.
"Tapi kukira itu benar-benar kau, Nes..." imbuh Maria.
"Yang pakai ikat rambut merah putih itu hanya kau, Nes..." ujar Lee datar.
"Tapi..."
"Cowok itu... Senpai yang waktu itu mencarimu..." ucap Razak tak suka, "Yang menjemputmu pagi tadi juga..."
.
.
"Honda-senpai?"
Razak tertawa nista dan pergi untuk mempersiapkan alat santet, bahagia kini ia telah mendapatkan nama senpai yang dimaksud.
"Razak... Kau jangan ketularan Nesia deh!" Haqq menarik kerah belakang Razak agar tinggal di tempat.
"Tapi aku tak ada apapun dengannya... Lagipula aku juga belum bertemu dengannya lagi hari ini..." ucap Nesia bingung.
"Ah... Kau tak bisa dipercaya, ndon... Kau kan pikun!"
"Coba bilang sekali lagi?!" Nesia mengangkat boneka jerami dan paku.
"Hiiiiiiiiiy!"
"Nesia... Jangan kumat, lah..." Lee segera merebut boneka seram beserta pakunya itu dan membuanganya ke luar jendela setelah mencabut sesuatu seperti rambut.
"Huuh..." Nesia mendengus kesal, "Tapi bener deh... Aku nggak tahu apa-apa... Apalagi suap-suapan sama senpai yang nggak aku kenal dekat? Sama Malon saja nggak pernah suap-suapan..." ucap Nesia.
"S-s-siapa juga yang mau disuapin sama kamu?!" seru Razak dengan muka yang memerah.
"Jangan-jangan ada doplengganger? Itu loh... Yang mirip banget gitu?" seru Maria.
"Iya kali..." seru Nesia, "Sudahlah! Kita punya tugas yang harus di selesaikan bukan? Balik sana ke bangku kalian! Malah ngegosip sih?!" perintah Nesia.
Payah... Mereka itu ada-ada saja...
Nesia beralih ke lembar soalnya. Ia membuka lembar pertama dan bersiap untuk mengerjakannya.
Namun sedetik kemudian ia terdiam kaku. Pensil yang sedari tadi dimainkannya pun tak berputar lagi ketika ia melihat ke arah soal-soal yang telah terjawab sempurna itu.
Nesia meletakkan pensilnya dan memegang kertas soal dengan kedua tangannya. Kini ia membuka-buka dan mengecek soal-soal tersebut. Telah terisi sempurna, tanpa kosong di satupun nomer. Dan tulisan yang mengisinya adalah tulisan tangannya sendiri.
Nesia telah menjawab semuanya, dan dia tak ingat apapun.
K-kenapa... Bisa seperti ini?
.
.
.
.
Jangan-jangan... aku jenius?!
*O*
Kiku menghela nafas kecil. Lelah ia memikirkan penjelasan yang akan ia berikan kepada teman-temannya nanti saat bel pulang berbunyi, pikirannya malah berkelana ke jam makan siang tadi.
Apa yang kupikirkan? Menyatakan cinta? Yang benar saja! Memangnya aku sudah yakin? Memangnya aku benar-benar menyukainya? Aku bersyukur tak jadi menyatakannya...
Kiku membuka lembaran-lembaran buku catatannya dengan malas.
Aku hanya terbawa suasana saja tadi... Mnh?
Kiku berhenti di salah satu halaman. Ia tertegun pada tulisannya sendiri. Diambilnya bolpen di tempat pensilnya tanpa mengalihkan pandangannya pada buku catatannya itu.
Tertulis di buku catatannya, list tentang personality Nesia. Ia menambahkan satu lagi, Nesia no.2-san. Personality yang terlihat pintar, namun seperti kebanyakan personality Nesia yang lainnya; polos.
Kiku terkikik hanya untuk mengingat muka clueless Nesia tanpa memperdulikan teman-teman sekelasnya yang sedang melirik dirinya dan menyatukan pikiran;
Dasar orang kasmaran...
.
-teng... Teng... Teng... Teng...-
"Kalau begitu sampai di sini dulu pelajaran hari ini..."
.
.
.
.
"Eh? Anak-anak? Kalian memperhatikan? Pelajaran telah selesai!"
Seluruh kelas terhenyak. Terlalu banyak mereka melamun memperhatikan siswa yang mereka cap sedang 'lost in love'.
Lost in someone who lost in love. Begitulah keadaan mereka.
Arthur berdehem kecil. Setelahnya, si ketua kelas 2-A itu mulai menyiapkan kelas untuk memberikan hormat sebelum guru keluar dari kelas.
"Terimakasih, pak guru..."ucap kelas saat mereka semua telah berdiri.
"Kalian jangan space out begitu! Menyeramkan!" ucap sang guru sembari meninggalkan kelas.
.
.
"Hgh... Akhirnya selesai juga..."
"Oke... Ini waktunya Kiku cerita..."
Semua mata pun tertuju pada pemuda kuning asal Asia Timur yang dimaksud. Kiku kini panik. Mau bilang apa ia pada teman-temannya?
Tampaknya tak ada cara lain selain bersikap 'apalah mau pengertianmu'. Namun dia juga harus meluruskan cerita pemuda Polandia yang kini sedang cengengesan di deretan bangku belakang.
"Arthur-san... Memangnya cerita tentangku bagaimana?" tanya Kiku pada si ketua kelas yang duduknya tepat di sebelah kanannya.
Namun yang ditanyai malah berubah serius mukanya. Ditatapnya Kiku dengan tajam sebentar dan kemudian kembali ke tasnya untuk membereskan, "Kau tidak seharusnya berbuat seperti itu pada seorang Lady... Itu tidak Gentle sama sekali..."
Kiku hanya bisa cengo mendengar kata-kata dari pria Inggris itu, "M-memangnya kata Feliks-san apa yang aku lakukan?"
"Kiku... You're like... Totally hot there..."
Kiku memandang lelah pada suara yang mendekatinya. Seingatnya ia tak melakukan suatu apapun yang diluar batas kewarasan di kantin, "Maksudmu? Feliks-san?"
"Jangan pura-pura..." Feliks kembali dengan tawa meremehkannya, "Kau melakukan *piiiip* *piiip* *piiip *piiip* seperti *piiip* *piiip* benar-benar *piiip* *piiip*... Kau tahu, Kiku... Kau, ck... Benar-benar senpai yang hebat..."
Muka Kiku tidak lagi memerah kaget saat Feliks selesai menjelaskan. Tuduhan yang diberikan benar-benar melenceng dari fakta.
"Kohai manis itu, like... Totally a docile doll... Benar-benar tidak bisa melakukan apapun..." lanjut Feliks lagi.
Faktanya, Kiku-lah yang tak berkutik di hadapan si kohai. Kenapa bisa makhluk ini menterjemahkan terbalik?
Kiku mencoba untuk tenang, dirapihkannya peralatan tulis dan bukunya.
"you're like... Totally a criminal!" tutup Feliks dengan tawa dan gerakan gemas. Kalau dia seorang gadis, pasti sudah berteriak-teriak fangirling-an.
"E-er... Feliks... Kurasa... Kau... Keterlaluan..." sahut pemuda Lithuania sembari menariknya mundur.
"Heeee? Aku hanya menyatakan yang aku lihat..."
-grak-
Terdengar suara bangku yang bergeser ringan. Semua mata kembali menatap serius ke arah Kiku yang kini telah berdiri -Kecuali pemuda Polandia yang masih fangirling-an dan menolak untuk mundur bersama pemuda Lithuania.
Namun sedetik kemudian mata-mata itu mencoba menatap hal lain dan hanya bisa melirik ketakutan ke arah Kiku yang sedang terdiam memperhatikan gerak-gerik Feliks.
Anak-anak sekelas berdoa agar Feliks mau tenang dan mundur saja. Mereka sudah tahu dari gestur Kiku bahwa kabar itu salah.
Gestur yang simpel; menatap dalam ke arah si iris hijau tanpa senyum ataupun amarah, walaupun alis kiku tak tertaut dan ia tampak tak mengeluarkan tenaga apapun, tapi aura yang dipancarkannya seakan ia akan melenyapkan surai pirang itu dari muka bumi ini sekarang juga.
Bahkan seram AK-47 yang di bawa-bawa oleh Vash sudah tak menyaingi Kiku lagi.
"Hei... Kiku... You're like... Uh-" kata-kata Feliks tertahan saat keping hijaunya bertemu dengan keping coklat gelap yang kini penuh dengan kegelapan. Tubuhnya kaku, mulutnya tercekat dan keringat dinginnya keluar deras, menjadikannya seperti habis keluar dari sauna.
Tak berbeda dengan Toris, pemuda Lithuania itu tak sengaja bertemu apes gara-gara ingin menyelamatkan sahabatnya. Tak sengaja ia memperhatikan 'tatapan membunuh' Kiku dan stuck di sana tanpa bisa melingukkan kepalanya ke arah lain lagi. Tubuhnya pun bergetar hebat, tidak beda jauh saat ketika ia harus menghadapi senyum abnormal kakak tingkatnya yang bernama Ivan.
Dan seluruh kelaspun melanjutkan kata-kata Feliks yang terputus di dalam hati mereka masing-masing;
Totally frightening!
"Veeee... Ludwig! Aku takut, vee!" rengek Feli sembari bersembunyi di belakang tubuh pemuda jerman yang memang cukup besar.
"H-hei... Kiku...?" ucap Ludwig yang cukup berani menyapa sahabatnya yang sedang dalam dark mode.
"Sumimasen... Tapi semua itu hanya khayalan milik Feliks-san..." ucapnya sembari melirik Feliks, "ya? Feliks-san?"
Semua yang ada di sana meneguk ludah berjamaah. Cara Kiku mengucapkan nama pemuda yang kini setengah pingsan tersebut sungguh sadis. Cara Kiku bertanyapun pasti membuat siapa saja tak mungkin menjawab tidak.
Mereka mengira setelah ini akan terjadi sesuatu pada jiwa malang yang memang keterlaluan itu.
.
.
"Aku duluan... Mata ashita..."
Tapi tidak.
Kiku mengambil tasnya dan pergi dari bangkunya setelah nada dingin pengantar salam pamit itu selesai. Membuat seluruh mata kini mengikuti gerakannya.
Kiku balik menatap teman-temannya, mengirimkan pesan 'jangan tatap aku' secara horor ke arah mereka.
Kelas 2-A memang dipenuhi orang-orang pintar sehingga mereka langsung menarik pandangan mereka dan merinding ngeri di bangku masing-masing.
.
.
"D-dia... Apa sudah pergi?" tanya Alfred kepada pemilik bangku sebelah kirinya, Arthur.
"T-tampaknya..." jawab Arthur pendek.
"Sepertinya aku butuh toilet sekarang... Tapi kalau aku bertemu Kiku lagi di koridor bagaimana ya?" keluh seorang siswa.
"H-h-hong! Kiku tak... Kiku tidak kembali seperti dulu lagi bukan?" ucap Mei sembari mengguncangkan tubuh Hong.
Hong hanya terdiam, baginya sudah syukur Mei tidak kena dampak dark side Kiku, mengingat tadi Mei dan Thai memukul Kiku cukup keras saat bel masuk.
Thai dan Vie harus lihat ini… Sayang mereka di kelas lain…
"Apakah kalau Kiku marah memang seperti itu?" tanya seorang siswi di belakang Hong.
Hong hanya menggeleng, "Dia belum begitu marah... Dia belum melakukan apapun... Dan katana-nya belum keluar..." ucap Hong datar.
.
.
"S-seriusan?"
Hong mengangguk kecil.
"I-itu benar..." ucap Yong yang berada di sebelah Hong, "Jika Hyung marah... Bahkan Yao-hyung tak bisa menghentikannya..." lanjutnya semakin mengkirut mengingat masa kecil mereka.
.
.
Kita harus minta maaf secepatnya...
#QuotesOfTheDay: Jangan buat Kiku (walaupun sekedar agak) marah. -Kelas 2-A
"Ah... Aku gagal lagi mengambil foto Kiku saat ia marah..." ucap Heracles ngantuk sembari menatap pemuda Turkey di sampingnya.
"Aku tak mau meminjamkan kameraku untuk -mungkin ia banting!" serunya sebal.
*O*
Kiku membasuh mukanya di wastafel kamar mandi sekolah demi menenangkan dan me-refresh kembali dirinya. Ditatapnya pemuda dalam cermin dengan muka dan rambut yang sedikit basah sembari menghela nafas kecil.
Kiku tengah menyesali tindakannya sekarang. Ia telah melakukan hal yang tidak sopan pada teman-temannya. Walaupun tuduhan tadi cukup berat, seharusnya ia masih bisa memegang teguh prinsip 'pria sejati selalu sanggup mengendalikan emosi'.
Ditatapnya dengan lekat pantulan keping matanya sendiri sebelum menepuk wajahnya dan pergi.
Tujuannya adalah kelas 1-A, ia berjanji untuk menjemput seseorang, kalau anak itu ingat dan belum berganti kepribadian lagi sih.
Kiku melangkah agak cepat melintasi koridor di sebelah taman. Ia biarkan angin sore musim semi mengeringkan surai hitamnya yang tadi basah. Kalau ini di negaranya, pasti pemandangan akan lebih indah karena dihiasi oleh bunga pink yang berjatuhan.
Kiku mendadak home sick, mungkin karena ia lelah dengan semua 'tragedi' empat hari terakhir ini. Tapi ia tak menyesali semua itu. Setiap hari, setiap detik, ia malah bertambah penasaran. Walaupun kadang nyawanya juga terancam, tapi ia tak jua jera.
*O*
"sudah pulang?" tanya Kiku tak percaya.
"iya senpai... Tadi sama si Razak, Maria, Lee dan Haqq..." jawab seorang siswa yang tadi ditanyai Kiku tentang keberadaan Nesia.
"unh... Baiklah... Domo..." ucap Kiku sembari sedikit menundukkan kepalanya dan pergi.
Ma... Syukurlah kalau dia sudah pulang...
Walaupun agak kecewa, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Yang terpenting baginya adalah Nesia selamat sampai dorm dan tidak berkeliaran semalaman di sekolah.
Kiku melangkahkan kakinya untuk pulang ke dorm. Ia melewati jalan yang tadi ia lalui. Aneh rasanya ia bisa pulang tanpa masalah. Mungkin malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi besok hari sabtu.
Libur.
Biasanya ia hanya akan ke sekolah untuk diskusi klub dengan Ludwig dan Feli. Namun tampaknya besok mereka tak bisa hadir. Kiku menebak-nebak jika mereka berdua akan pergi nge-date atau melakukan hal *piiiiiip*.
Siapa yang tahu? Atau besok ia stalk saja mereka berdua? Lumayan untuk menambah koleksi -salah, mengganti koleksi yang dirampas oleh Elizaveta-senpai.
Ide yang bagus...
Kiku mengangguk-angguk merencanakan persiapan untuk men-stalk dua sahabatnya itu besok.
Tapi saat ia sampai di perencanaan x, dirinya teringat oleh Nesia. Kiku jadi malu sendiri, ia seperti orang yang kurang kerjaan saja.
Yah, selama ini dia memang kurang kerjaan.
Tugas sekolah tidak begitu menantangnya, terlalu cepat diselesaikan. Anime dan game telah ia selesaikan pula, sampai membuat review malah.
Maka dari itu, kehadiran Nesia sekarang merupakan pemutar balik dan pemberantak kehidupan langgeng tanpa masalah milik Kiku.
Masalah Nesia cukup sulit untuk dihadapi dan dipecahkan. Penuh misteri dan selalu membuat penasaran. Dan selalu membuat jantungnya berlari lebih cepat pula.
Kiku tak pernah mengerti apa maksud dari semua tindakan yang dilakukan oleh gadis itu.
Contohnya saja saat ini. Sedang apa gadis mungil itu berada di atas pohon dan ketakutan? Ada-ada saja.
.
.
.
N-n-na-nani?!
"Ne-Nesia-san?!" ujar Kiku sembari menghampiri pohon yang lumayan besar dan tinggi, 10 meter di kanan gerbang sekolah.
"U-u-uh... H-h-honda-senpai... T-to-tolong... A-a-ku..." ucap gadis itu terbata sembari memeluk dahan pohon tempat ia berada. Tubuhnya bergetar hebat, linangan air mata sudah menderas.
"Apa yang sedang kau lakukan di atas sana?" tanya Kiku khawatir sembari celingukan mencari tangga atau sebangsanya yang bisa membantunya menurunkan Nesia.
"A-aku tidak tahu... Aku... Aku... Tahu-tahu... Hiks..."
Kiku mulai berpikir, dari semua personality Nesia yang akan menangis ketakutan tanpa tahu apapun hanya ada satu, "Pertiwi-san?"
"U-ukh?" Pertiwi mendongak untuk merespon.
-tte! Tega sekali mereka berganti personality di saat seperti ini. Paling tidak turunkan dulu anak ini baru ganti atau apa...
"Pertiwi-san... Percaya padaku..."
Pertiwi mengangguk lemah.
"Lompatlah... Nanti kutangkap..."
.
.
Pertiwi menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Pertiwi-san?"
"A-aku memang percaya pada senpai... Tapi... Seperti ini..."
"Berarti Pertiwi-san tidak percaya... Aku akan sedih..." ucap Kiku membujuk Pertiwi, namun nampaknya merupakan sebuah teror bagi gadis berponi-tail itu.
Pertiwi terdiam memikirkan apa yang akan dipilihnya. Loncat, atau Honda-senpai akan sedih. Dia sungguh tak menginginkan keduanya.
Sedangkan Kiku di bawah menyengirt heran melihat muka ketakutan Pertiwi yang semakin menjadi.
"Ayo... Aku siap menangkapmu..." ucap Kiku dalam nada ramah dan meyakinkan setelah merentangkan tangannya.
Pertiwi menghela nafas pasrah menenangkan dirinya. Kalau suratannya memang loncat dan terjatuh, ya sudahlah. Setidaknya ia berusaha untuk memenuhi keinginan senpainya. Kalau ia sampai mati karena jatuh, setidaknya ia telah berusaha. Tak ada penyesalan.
Pertiwi-san mau loncat saja seperti mau terjun ke peperangan?
Kiku melambai-lambaikan tangannya, meyakinkan Pertiwi bahwa ia telah sangat siap untuk menangkap.
Pertiwi meneguk ludahnya. Ia mencoba melepaskan pelukan eratnya dari dahan pohon.
Dan tibalah saat ia harus meloncat.
.
.
-bruk-
"Ii ko yo... Tsukamaita yo... Aku sudah menangkapmu…" ucap Kiku ramah disertai kekehan ringan untuk menenangkan Pertiwi, "Pertiwi-san... Mou... Daijoubu desu yo..."
Kiku berhasil menangkap Pertiwi dengan sempurna. Walaupun ia sedikit kaget karena ternyata gadis mungil itu lebih berat daripada yang ia duga.
Mungkin karena pengaruh percepatan gravitasi?
Kiku masih menggendong Pertiwi a la bride karena Pertiwi masih tak mau melepaskan leher Kiku yang ia peluk dengan erat.
"Pertiwi-san... Sudah tak apa-apa... Kau bisa turun sekarang..." ucap Kiku lagi. Ia mulai panik sekarang, semburat merah yang tadinya telah hilang kini muncul kembali. Kiku semakin galau ketika menyadari murid lain yang melintasi gerbang mulai memperhatikan mereka.
Walaupun jarak 10 meter, tetap saja akan menarik perhatian.
Dan jika sampai ada pemuda seabsurd Feliks yang memergokinya, mungkin Katana yang dipajang di kamarnya perlu ia bawa ke sekolah.
Sudah cukup lama waktu berlalu. Namun Pertiwi tak menyahut apapun, ia tetap memeluk leher Kiku dengan erat.
"Pertiwi-san..." Panggil Kiku lagi.
Ia merasa agak risih, meskipun begitu sebenarnya di dalam hati kecil Kiku yang terdalam ada rasa nyaman. Dirinya bergulat sendiri sekarang, antara membiarkan atau menurunkan gadis kecil yang berada dalam bopongannya ini.
Akal sehatnya tentu menyuruhnya untuk menurunkan Pertiwi. Selain tidak sopan, tidak lazim, menyalahi aturan dan norma, ia juga melakukannya di areal umum -sangat umum terlebih di saat ini.
Namun tubuh Pertiwi begitu hangat dan lembut, dipadu dengan harum melati dan sedikit aroma kayu bekas dahan yang tadi dipeluk si gadis. Kalau Kiku bisa menghentikan waktu, ia pasti akan menghentikannya selamanya.
"Pertiwi-san?" panggil Kiku lagi, begitu kontadiktif dengan kepalanya yang malah menyusup ke pangkal leher Pertiwi.
Setidaknya ia mengikuti prosedural penolakan dengan (sangat tidak) niat. Masalah Pertiwi mau turun atau tidak, tidak menjadi pasal. Terbukti dengan tidak diturunkannya Pertiwi agar menapak tanah dan berdiri sendiri.
Ya, Modus.
.
.
Hening mulai menggelayuti, tangan Kikupun mulai lelah karena telah membopong kohainya itu selama lebih dari 10 menit tanpa beranjak ke manapun. Namun Kiku masih saja tetap dalam posisi dan menikmati waktu tenang ini, sampai pada akhirnya ia merasakan sebuah dorongan yang cukup kuat di pundaknya.
Membuat Kiku yang sedang tenang-tenangnya menghirup aroma Pertiwi kaget dan secepat mungkin menstabilkan dirinya agar ia dan yang digendongnya tidak jatuh.
"A-apa yang senpai lakukan?! T-turunkan aku! Turunkan aku sekarang juga!" ucap gadis itu dengan muka merah, namun tak semerah Kiku saat ini yang mengetahui kepribadian gadis dalam bopongannya ini telah bertukar.
"Aku hanya menangkapmu..." ucap Kiku memberi alasan sembari menurunkan yang Kiku tebak adalah Nesia no.1-san.
"Lama-lama aku tak akan percaya alasan itu... Senpai..." ucap Nesia sebal, "uh? Kok kita sudah di luar? Terus... Kok..."
Kiku beralih serius, mungkin ini saatnya Nesia menyadari bahwa di dalam dirinya ada jiwa yang lain.
"Jangan-jangan... Penyakitku kumat lagi?Sungguh menakutkan!" seru Nesia pada dirinya sendiri.
"Nesia-san sakit apa?"
Tampaknya terlalu cepat bagi Nesia yang memang lemot.
"Aku? Aku sakit Short Memory Syndrom... Mungkin... Jadi aku tak ingat... Atau jangan-jangan aku ketiduran dan senpai mau mengantarku?" tanya Nesia tak yakin, "Kalau seperti itu... Maaf ya, senpai... Duh... Ada apa sih sebenarnya denganku?" decak Nesia sebal, "Maaf ya... Senpai..." lanjutnya disertai senyum manis.
.
.
"Nesia-san..." ucap Kiku serius, "Besok... kau... Apakah senggang?"
"Eh?"
Kiku memutar bola matanya, mencari kata-kata yang tepat.
"Kalau iya... Maukah kau pergi bersamaku... Besok?"
.
.
.
Eeeeeeeeeeeeehhhhhhh?!
A/N :
Chapie 8~~! Chapie 8~!
Neth: Aku tahu sebenarnya kau nimbun cerita!
Author: Ya... cuman nggak bisa publish2 aja...
Neth: Kok perasaanku nggak enak ya... semakin ke sini... Mereka berdua semakin... -Urgh...
Author: Hahaha... Sabar ya Neth... makannya... Jangan. Buat. Aku. Sebal.
Neth: Kaunya aja yang pembohong! Katanya kau nge-ship aku dan Nesia?!
Author: Aku nge-ship Nesia x World... Bahkan ada pikiran Nesia x North Korea...
Neth: YOU DON'T DARE!
Author: Nesia x Russia juga boleh...
Neth: K-kau! Nesia itu milikku!
Author: Nesia itu milikku Neth... Aku WNI... lah lu apa? Personifikasi lu...
Neth: -ukh...
Author: Ya sudah ya Neth... Oh ya... Sebaiknya kau cepat kejar mereka... Sepertinya mereka mulai nge-date duluan...
Neth: A-apa?!
