Kiku membiarkan peluhnya menetes. AC mobil yang dingin tak membantu meringankan suasana yang panas ini sama sekali. Tapi apa pedulinya? Kini ia hanya terfokus untuk menahan tubuh Nesia yang terbaring dan kedua tangan Nesia agar tidak memberontak.

Cukup sulit menahan gadis yang mengelak sekuat tenaga di jok belakang sebuah mobil sedan walaupun Kiku telah menggunakan seluruh tubuhnya. Ruang gerak terbatas, ia tidak bisa leluasa. Kiku menyesal ia tak membawa tali pengikat tadi. Tapi ia bersyukur hari ini dia memilih baju semi formal dan memakai dasinya.

Kiku mendesah pelan sembari melepaskan dasinya. Lumayan bisa dijadikan sebagai pengikat tangan Nesia yang benar-benar menganggu.

"S-senpai?!" kaget Nesia ketika tangannya mulai disatukan di atas kepalanya dan diikat dengan kuat.

Mata Kiku hanya menatap tajam Nesia, mengisyaratkan agar tidak banyak bergerak dan berisik. Namun si gadis tetap berteriak-teriak dan mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman kuat Kiku.

"ah! S-senpai!" ucap Nesia mengadu, "l-lepas! Lepaskan aku!"

Tapi tidak.

Kini kedua tangannya telah sempurna terikat ke atas. Nesia tak bisa berbuat banyak walau hanya tangan kiri Kiku yang menahannya sekarang.

"Senpai! Lepaskan… Aku!"

"Tidak..." jawab Kiku tegas tak memberikan toleransi apapun pada Nesia.

"Senpai! Aku... Sudah kubilang... Aku tidak mau! Aku tidak suka ini! Lepaskan aku! Pulangkan aku ke dorm!"

"Apakah aku terlihat memberikan pilihan kepadamu?" ucap Kiku dingin.

"S-se-senpai!" teriak Nesia saat tubuhnya merasakan berat dan hangat tubuh senpainya itu.


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


Hari ini bisa dibilang merupakan hari yang sangat sial bagi seorang supir taksi yang mukanya telah memerah sempurna.

Ini adalah pengalaman pertamanya mengangkut penumpang yang melakukan hal *piiiiip* di dalam mobil yang dikendarainya. Selama 10 tahun ia menekuni profesi ini, belum pernah ia menemukan pelanggan segila mereka.

Pasangan muda-mudi, karena muka mereka oriental ia berpikir mereka seumuran Senior High. Muka muda orang Asia memang membingungkan, entah kalau memang ternyata masih elementary atau junior, si supir taksi tidak mau –tidak berani- berpikir lebih.

Tapi bukankah di Asia malah hal *piiip* seperti ini sangat ketat atau merupakan taboo malah? Atau jangan-jangan mereka menggunakan aji mumpung di Eropa? Jadi mereka melakukan semua ini?!

Tapi mengapa juga harus di dalam taksi yang ia supiri?!

Sang supir memukul stir mobil guna melampiaskan kekesalannya. Tapi itu tak membuat keadaan lebih baik karena akhirnya ia harus kembali mengerem mendadak. Akhirnya ia memilih menghela nafas berkali-kali sambil terus berusaha menenangkan pikirannya.

Ia seka keringat dingin yang mulai membasahi tubuhnya. Ia mencoba untuk tetap berkonsentrasi ke jalanan. Jika tidak, bisa-bisa ia menabrak sesuatu - seseorang - atau sesemakhluk jika pikirannya berlari liar memikirkan apa yang sedang terjadi di kursi penumpangnya.

Sekarang ia menyesal, padahal baru beberapa hari yang lalu ia mengelu-elukan London-type Taxi –mobil taksi yang memberikan privasi ke supir karena adanya pembatas antara supir dan bangku penumpang kepada temannya yang lebih suka Private-type Taxi. Ia sungguh senang dan bangga karena dengan mobil taksi coretsenorakalisArthurcoret seunik itu ia mendapatkan banyak penumpang.

Coba saja kalau tak ada pembatas ini, ia yakin, kedua muda-mudi itu tak akan berani melakukan tindakan tak senonoh seperti yang mungkin sekarang tengah berlangsung di belakang.

Atau jika mereka tetap berani melakukannya, ia akan memiliki tontonan bagus. Bukan hanya penasaran dari suara di gadis yang kelihatannya terus menolak dan mendesah.

Sialan! Aku tak bisa melihat mereka!

"nn!"

Sang Supir kembali mengerem mendadak. Mukanya kembali memerah untuk mendengarkan erangan samar itu.

Ngapain sih mereka di belakang?! They driving me crazy!

Si supir mulai misuh-misuh tak jelas.

Great! Aku ganggu saja mereka terus! Kau harus sadar siapa driver-nya!

Si supir mulai melaksanakan niatnya. Ia dengan sengaja menyetir ugal-ugalan di jalanan pagi yang sudah cukup ramai. Tidak lupa ia mengerem mendadak di setiap kesempatan guna mengganggu acara di belakang.

Oh! Aku ada ide lain!

Ia kemudian membanting stirnya dan melakukan drifting ke arah jalanan ber-paving yang sepi. Permukaan paving yang tak halus membuat mobil dengan kecepatan lumayan tinggi bagaikan meloncat-loncat. Si supir percaya ini akan sangat mengganggu kegiatan di belakang.

Oh, dia melupakan satu hal. Rem mendadak.

-ckiiiiiiit... Brukh-

Si supir terkikik puas. Dikiranya pasangan muda-mudi itu pasti akan berhenti melakukan *piiiip*.

Namun yang terjadi tak sesuai dengan bayangannya. Suara nafas yang tersengal, erangan dan isakan tak berhenti jua, kembali mereka membuat mukanya memerah.

Demi apapun! Mereka mesum amat sih?! Harus aku apa lagi aku ini?!

.

.

.

-DAAAANG!-

Saat ia berencana melakukan aksi yang lebih gila, sesuatu menggedor pembatas itu sangat keras. Membuat nyalinya naik turun.

Oh... A-aku membuatnya marah...ya... Hahaha... Baguslah! Ha-ha-ha... Mereka sudah sadar!

"Pak… Saya mohon kepada anda untuk tidak bertindak macam-macam! Saya tak segan untuk mematahkan leher bapak jika ini terulang..." ucap suara di belakang dengan nada yang sangat mengerikan.

Si supir kesulitan meneguk ludahnya. Ia merasakan hawa pembunuh yang sangat mengancamnya. Bulu kuduknya berdiri. Suasana menjadi sangat tegang. Ia mengendarai mobil dengan perlahan.

"Bagus..." terdengar lagi suara dingin itu yang membuat tubuhnya meremang ketakutan, "Bisa kita sampai ke tujuan kita dalam 10 menit ke depan?"

"B-b-baik..."

Segera ia alihkan pikirannya ke kertas yang tadi diberikan oleh si pemuda oriental sebelum memaksa masuk si gadis.

Jangan-jangan si gadis adalah korban penculikkan?! Suaranya terdengar sangat jahat! Jadi... Sekarang gadis manis itu.. sekarang sedang di... Tidak! Tidak! Tapi kalau itu benar bagaimana?!

.

.

Agh! Aku tak tahu! Aku tak ada nyali!

*O*

Kiku membayarkan argo taksi lewat jendela kecil yang ada di pembatas antara supir dan penumpang. Ia sedikit heran pada sang supir yang tampaknya sangat keheranan memandang gedung tempat mereka berhenti, atau -entahlah Kiku tak paham.

Kiku segera keluar, dengan membopong Nesia yang tak sadarkan diri.

Si supir hanya bisa mendelik ke arah muka Kiku yang stay cool membopong Nesia. Ketika ia melihat tangan si gadis yang masih terikat, baju Kiku yang lumayan acak-acakan, pikirannya me-ruwet tak karuan.

Kau apakan gadis manis itu?! Kau tidak bilang kau 'bermain' sampai dia pingsan kan?!

Namun karena Kiku terburu-buru, ia tak menyadari tatapan sang supir. Segera ia melangkahkan kakinya menelusuri jalanan untuk memasuki sebuah bangunan yang sangat besar di depannya.

Rumah Sakit Pusat - Instansi Kejiwaan.

Dan si supirpun pergi setelah mengumpat pada Kiku, "Kau memang pantas di sini"


*O*

Rumah sakit pusat memang cukup jauh dari Hetalia Gakuen yang berada di pinggiran kota. Walaupun Kiku berangkat selepas terbit, akhirnya ia sampai di rumah sakit pada jam 9, dimana rumah sakit sudah lumayan -sangat ramai. Untungnya dia akan bertemu di satu poliklinik yang lumayan sepi.

Kiku mendudukkan Nesia di salah satu bangku. Tanpa melepas pegangannya pada Nesia, ia duduk di bangku sebelah kanan. Ia tarik kepala Nesia agar menyandar ke pundaknya.

Ia menjernihkan pikirannya sembari menunggu nomornya dipanggil. Menjernihkan pikiran dari apa yang telah terjadi tadi.

Hari ini merupakan hari yang paling gila di hidupnya, dari lahir sampai saat ini. Dan jujur saja, hampir ia berpikiran untuk meraep anak orang di dalam taksi tadi.

Semua ini di luar bayangan Kiku. Memang, sore itu Kiku spontan menetapkan ide ke rumah sakit ini, namun otaknya langsung merangkai semua tetek bengek dan cara pelaksanaannya di detik berikutnya. Walaupun pada detik berikutnya lagi rencananya langsung blown up karena Nesia.

Ya, Nesia menolak ajakannya pergi kemarin. Tapi Kiku tak mengenal penolakan untuk hal ini. Entah sejak kapan, namun ia merasakan dirinya semakin hari semakin keras kepala.

Bukti nyatanya, walaupun semua paksaan halus Kiku kemarin ditolak mentah-mentah oleh Nesia, ia tak jua menyerah dan mengalah.

Dan subuh tadi, ia tak segan lagi meng-hack sistem keamanan dorm putri untuk menculik satu siswinya.

Ia tahu bahwa Nesia tak memiliki teman satu kamar dari data sekolah yang ia dapatkan cukup dengan dua menit. Nesia yang sendirian adalah sebuah kesempatan dan kemudahan baginya dalam menjalankan tindakan kriminalnya hari itu. Walaupun ia harus tetap berhati-hati dan waspada terhadap siswi lainnya dan para staf dorm.

Setelah ia pastikan bahwa Nesia telah ia culik dan tak ada bekas dari kejahatannya, ia segera menelusuri jalur-jalur blindspot kamera cctv dan pergi keluar dari lingkungan akademi.

Jam 7 pagi. Sempurna ia keluar dari lingkungan Hetalia Gakuen. Walau begitu ia harus menunggu datangnya bis pagi dan ini membuatnya sangat was-was.

Syukurlah, tak ada siswa atau siapapun yang datang.

Setelah bis datang, ia segera membawa Nesia menaiki bis. Karena jauh dari pusat permukiman, tidak banyak orang yang menaiki transportasi massal tersebut. Membuat Kiku sedikit lega walau ia sadar akan sang supir dan beberapa penumpang yang terus meliriknya heran karena Nesia yang masih tertidur dan memakai piyama.

Kiku hanya mengangkat bahunya dan berpura-pura heran juga.

Setelah ia berganti 2 bis, dan sampai di tempat yang ia inginkan, ia pun turun dan membopong Nesia. Kemudian, ia segera memanggil taksi yang kebetulan lewat.

Rencananya berjalan rapi sampai saat itu, dan Kiku menghela nafas lega saat taksi mulai melaju untuk membawanya ke tempat yang telah ia sebutkan pada sang supir.

Tapi, bukan Nesia kalau keseluruhan rencananya mulus tanpa guncangan. Nesia bangun lebih cepat daripada perkiraannya. Membuatnya harus bergulat dengan pemberontakan sang gadis di jok belakang yang sempat membuatnya gila.

Dan walaupun piyama, tetap saja cukup sulit untuk menahan dirinya.

Tapi Kiku berhasil mengatasinya dan ia cukup bangga saat itu dengan pertahanan kewarasannya.

Namun ketika sang supir gila mulai melakukan pengereman mendadak dan semua yang membuat mobil bergerak-gerak tak jelas, ia merasa kewarasannya melambaikan tangan perpisahan, bahkan menggodanya dengan kiss-bye a la Francis-senpai.

Permainan menyetir ugal-ugalan si supir pastinya membuat Kiku harus menahan tubuhnya dan tubuh Nesia agar tidak jatuh tersungkur.

Kiku tak melihat cara lain selain mengurung tubuh Nesia yang terbaring dengan tubuhnya, meletakkan seluruh berat tubuhnya di cagakan sikunya. Tangannya lurus, berpegangan erat pada kursi penumpang.

Dan suara komplain Nesia yang bergaung di otaknya, memperburuk semuanya, bagaikan membawa pergi sisa-sisa peninggalan pengendalian dirinya.

Membuat gila.

Tooooooooooottemo! –Suuuuuuuuangat!

Pikirannya sudah kelewat ruwet saat ia harus melakukan tindakan pengamanan itu.

Ia tetap berusaha untuk melupakan kenyataan absurd yang terjadi saat itu, namun harus tetap fokus menjaga agar sebisa mungkin ia tak bersentuhan atau bahkan menekan.

Dan ketika Kiku salah mengambil keputusan untuk membuka matanya, ia hanya bisa terdiam terperangkap.

Selama beberapa menit, mereka membeku, saling menatap keping coklat yang berjarak sangat dekat. Begitu dekat, begitu dalam. Lupa sudah tentang posisi dan situasi mereka berdua. Dapat mereka rasakan hebusan nafas berat lawannya dengan sangat nyata.

Kiku melihat adanya semburat merah di wajah Nesia. Entah kenapa perasaannya menjadi begitu senang, apalagi pandangan mata Nesia tak pernah lepas dari menatapnya.

Rasanya begitu aneh, begitu salah untuk sedekat ini. Akan tetapi, begitu benar untuk hatinya.

Namun satu rem mendadak membuat tubuhnya terjerembab menubruk kelembutan Nesia. Menghantarkan berjuta watt listrik ke otaknya dalam sekejap. Sedetik kemudian gelombang kedua dari sengatan listrik itu datang melalui suara rintihan mengeluhkan "berat" yang sangat dekat dengan telinganya.

WASURETE YOOOOOOOOOOOO! –LUPAKAAAAAAAAAAAN!

Kiku menghardik dirinya sendiri sembari mengambil nafas menenangkan diri.

Namun tetap tak bisa. Taksi sialan itu terus bergerak abnormal. Kiku mengerti, jika ia tak ingin hal seperti ini terulang,

Ia tak boleh setengah-setengah…

Kiku menarik kedua tangan kohainya yang terikat menjadi satu untuk melingkari bahunya walaupun si kohai terus menolak di tengah-tengah setir ugal-ugalan a la supir taksi sarap.

Tangan kirinya, yang kini telah pensiun dari menjaga kedua tangan Nesia, menyusup ke bawah pinggang kecil itu dan menariknya ke arah tubuhnya yang sekarang sudah merapat bahkan menekan ke arah Nesia. Menciptakan satu pelukan yang intens diantara mereka.

Ia mengambil langkah ini supaya coretmoduscoret lebih aman dari guncangan mobil. Untuk masalah benar atau tidaknya, tak terpikirkan di otak Kiku yang sudah runyam.

Kiku berusaha tak memikirkan tindakan gilanya. Yang penting mereka baik-baik saja dan tak terlempar-lempar. Ia berpikir untuk membenamkan wajahnya yang semakin beruap di bangku sampai ketika ia menyadari tak ada bangku yang terlihat karena ditutupi oleh rambut panjang Nesia yang tergerai.

Nesia tidak menguncirnya menjadi poni-tail tentu saja, bangun saja belum ketika mereka berangkat.

Membuat Kiku syok setengah mati.

.

.

Kiku tak bisa membuat keputusan, ia tak ingin setengah-setangh karena itu berbahaya, tapi jika dilanjutkan juga berbahaya.

Shineba ii yo ni… -mati saja lah…

.

.

Tapi takdir memang coretbaikcoret terus berjalan, satu lagi rem mendadak memilihkan apa yang harus Kiku lakukan selanjutnya.

Terjerembab.

Kiku mengutuk si supir karena telah membuatnya terbelai oleh surai halus itu dan membuat aromanya meledak di hidungnya.

Sialnya lagi, tempatnya membenamkan wajahnya adalah di dekat pangkal leher Nesia -demi kemakmuran para FujoDanshi saat melihat USUK beraksi! Kiku bisa mencecap tempat itu sekarang juga!-. Kiku semakin mabuk saat semerbak aroma khas Nesia menari indah memasuki paru-parunya.

Dengan lengan Nesia yang menahan di kanannya, atau leher jenjang Nesia di kiri, percuma Kiku mengalihkan mukanya ke kiri atau ke kanan. Lebih baik ia semakin membenamkan wajahnya ke kursi serta menahan nafasnya.

Panik? Sedari tadi… dan semakin menjadi…

Kiku berusaha dengan sangat untuk mengalihkan pikirannya dengan melakukan presensi tugas-tugas sekolah yang telah ia kerjakan, Anime dan game yang sudah ia nikmati selama hidupnya sampai kemarin. Ia ingat ingat kembali kenangannya saat menikmati itu semua bersama kawan-kawannya.

Feli yang selalu ingin bermain game memasak pasta.

Ludwig yang serius dan selalu ia tantang bermain games arcade, terutama tentang managemen.

Alfred – si penggila game horror dan hero. Ah, kiku belum sempat menawarkan game sentai padanya.

.

.

Kiku menghela nafas pendek, ia berasa sedang memikirkan draft surat wasiat.

Tidak berguna.

Semua yang ia coba, gagal total mengalihkan perhatiannya karena semakin ia mencoba, semakin ia merasakan dirinya tak waras. Terlebih ketika drift kasar dari si supir membuat mereka terguncang dan mengeratkan 'pelukan' Nesia padanya.

Ketika Nesia mengaduh setelahnya, otaknya lebih dari sekedar 'meledak dan hancur berkeping-keping'.

Kiku tak berani mengangkat wajahnya untuk mengecek keadaan Nesia. Terlalu takut menatap muka gadis itu ketika kini ia merasa sedang berada di ujung-terujungnya ujung jurang kewarasannya. Bergerak sedikit lagi -bahkan untuk bernafas dapat membuatnya jatuh.

Namun tetap di posisi ini juga merupakan bunuh diri karena jalanan yang entah mengapa Kiku tak mengerti jadi berguncang-guncang. Membuat dirinya terpaksa mengambil pilihan untuk semakin menekan dan menarik Nesia agar mereka tetap stabil dan tak saling bergesek.

#QoutesOfTheDay: Hgh… Aku lelah… Boleh mati sekarang? -Kiku

Ya, rasanya malu sampai ingin mati. Rasanya gila sampai-sampai kematian merupakan pilihan yang waras.

Suara rintihan Nesia yang tak bisa bernafas dan meminta untuk dilepaskan. Isakannya yang terus menghujam otaknya yang telah berdenyut-denyut menahan 'keinginannya'. Keadaan yang terus berguncang dan semakin memburuk.

Dan rem mendadak sialan yang menghempaskan tubuh mereka dari bangku mobil belakang ke tempat kaki.

Membuat kepala Kiku terantuk sangat keras lahir dan batin.

Lahiriah dimana kepalanya benar-benar terantuk bagian dari mobil. Batiniah ketika menyadari first kiss-nya diambil saat itu juga.

Lebih lembut daripada yang pernah ia pikirkan dan lebih manis daripada yang pernah ia bayangkan.

Kesan itu menghalangi seluruh informasi di otak jeniusnya. Membekukan seluruh dendrit di setiap sel syaraf-nya. Memutus segala bentuk synapsis. Mengoyak seluruh pengendalian dirinya. Dan ia terjun bebas ke dalam jurang 'kebebasan'.

Ia tak peduli lagi dengan erangan Nesia yang menginginkan kepalanya untuk tidak ditarik demi kecupan yang semakin dalam. Dalam dirinya, timbul semua rasa penasaran akan gadis di atasnya ini. Tangannya mulai berjalan dari rambut, bahu, punggung...

Sampai akhirnya Kiku mendengar kikikan seseorang yang seolah menamparnya untuk kembali ke kesadarannya.

Pertama yang ia sadari adalah Nesia yang tampaknya pingsan karena ketakutan. Kedua tentang mulut mereka yang masih bertaut dan sontak ia lepaskan. Ketiga tentang betapa rendahnya dirinya.

Kiku menggeram menahan malu dan amarahnya yang menjadi-jadi. Marah kepada semuanya, terutama dirinya sendiri. Dipukulnya sekat pembatas supir dengan keras dan tampa ampun sehingga menghasilkan bunyi yang sangat mengancam.

Otak Kiku mulai bergerak mencari pelampiasan, maka dicurahkanlah semua kekesalannya itu pada sang supir. Ia tak bercanda sama sekali ketika mengatakan akan mematahkan leher si supir ugal-ugalan tersebut.

Sungguh. Walaupun keadaan membaik setelah itu -supir yang menyetir dengan pelan dan aman serta Nesia yang diam tak memberontak- hatinya malah berubah tak tenang.

Ia telah melakukan tindakan asusila. Dirinya benar-benar rendah dan menjijikkan. Ia pantas dihukum apapun. Sungguh, ia sangat bersyukur karena sadar dengan cepat sebelum melakukan tindakan yang lebih keji.

Tapi juga terdapat perasaan aneh yang menggelitik perutnya. Perasaan bukan senang, namun juga bukan kecewa. Perasaan yang menuntunnya ingin tertawa tanpa alasan. Perasaan yang membuatnya terus menutupi mulutnya dan mengusap wajahnya yang memerah.

Kini, di ruang tunggu, dirinya mulai membaik. Perjalanan yang tenang membantunya menetralisir seluruh umpatan sumpah serapahnya pada dirinya sendiri juga seluruh perasaan hina. Kecuali satu perasaan aneh tadi yang malah semakin meledak-ledak dan tak bisa ditenangkan seperti apapun ketika ia melihat bibir Nesia atau menarik mulutnya sedikit saja.

Kami-sama... Tatsuketeeeeeee...

Kiku mengacak rambutnya. Terlalu banyak sudah keluhannya hari ini. Dan hari ini bahkan belum melewati pertengahannya! Ini masih jam 09.57 -jam 10 lah.

Kiku mencoba memikirkan kembali tentang dirinya yang dirasakan semakin berbeda dari dirinya yang biasanya. Jangan-jangan ia ketularan Nesia, memiliki pribadi lain?

Hgh.

Dia juga masih sebal kepada sang supir yang sepertinya mengerjainya. Mungkin ia harus belajar dark magic atau santet.

Hari ini benar-benar melelahkan... Tapi... Hari ini masih bisa lebih buruk ya...

Kiku mendesah lemas. Dirinya sungguh pasrah.

"nomer 045..."

Terdengar suara menyebutkan nomer antriannya. Segera ia membopong Nesia dan menghampiri perawat yang menyebutkan nomornya.

"045..." ucap Kiku sembari menyerahkan nomer antrian.

"silahkan masuk..."

*O*

Ruangan itu seperi tipikal ruangan di rumah sakit yang lainnya. Simple dan steril dengan pencahayaan yang cukup.

"Silahkan..." sebuah suara yang berat terdengar.

Kiku menuju ke suara tersebut yang berada di balik sebuah tirai. Ketika ia masuk, terlihatlah seorang pria paruh baya yang sedang mengecek beberapa berkas.

"selamat pagi..." ujarnya ramah sembari menyembunyikan keterkejutannya karena melihat Kiku membopong seseorang.

"selamat pagi..."

.

.

"apakah... Dia... Masih bernafas?" ucap sang dokter takut-takut saat Kiku mendudukkan Nesia.

Kiku menatap sang dokter heran, "tentu...?"

Helaan nafas lega sang dokter menghiasi ruangan. Ia sangat lega karena salah mengira pasiennya kali ini telah membawa korban yang berhasil dibunuhnya.

"Syukurlah... Anda bukan psikopat seperti pasien saya yang lainnya..." ucapnya keceplosan.

.

.

"er... Saya waras-waras saja, dok..." ucap Kiku tak yakin.

"oh... Ya... Ya... Itu benar... Silahkan berbaring di kursi itu... Saya akan memulai terapinya..."

"dok... Saya waras... Saya tidak gila..." ucap Kiku dengan segala penekanan sopannya.

.

.

"tidak apa-apa... Kau memang waras... Silahkan ke sana..." ucap sang dokter dengan senyum ramahnya.

"saya baik-baik saja dokter! Kau bisa mengetesku!" seru Kiku.

"o-oh... Baiklah..." ucap sang dokter tak yakin. Ia segera menentukan tes yang cukup mudah untuk permulaan.

"Jika A sama dengan B sedangkan B tidak sama dengan C dan D sama dengan A makan B sama dengan D..."

"benar..." ucap Kiku tanpa berpikir.

.

.

"ibu akan berbelanja, dibawanya uang 10 dolar... Yang harus dibayarkannya adalah 8.75 dolar... Sedangkan ia menerima kembalian 25 sen..."

"karena ia membayar dengan uang 5 dolar ditambah pecahan satu dolar sebanyak 4 lembar... Atau total 9 dolar..." potong Kiku bosan.

.

.

"Gilbert memiliki uang 7 dolar. Harga minyak seliternya 1 dolar. Sayang di tempat pembelian minyak tak ada takaran... Yang ada hanyalah tempat berkapasitas 10 liter, 5 liter dan 3 liter..."

Kiku menarik bibirnya mendengar nama di soal dan membayangkan senpainya benar-benar akan membeli minyak, namun ia segera berdeham dan menjawab soal tersebut bagaikan itu bukan masalah,

"ambil tempat yang 5 liter untuk mengambil minyak, kemudian taruh di tempat 10 liter... 2 liter yang lain kita dapatkan dari... Ambil tempat yang 5 liter untuk menampung minyak, kemudian tuangkan ke tempat 3 liter sampai penuh, sisanya 2 liter taruh ke tempat 10 liter yang telah menampung 5 liter tadi..."

"duluan mana ayam dan telur?"

"anda percaya teori yang mana? Penciptaan atau evolusi?"

"oke... Saya percaya anda waras..."

"terimakasih, dok..." ucap Kiku datar.

"lalu kenapa anda kemari?" tanyanya, "oh ya... Siapa nama anda?" ucapnya sembari mengecek selembar kartu pasien.

"Honda... Honda Kiku... Kenapa saya kemari..."

Kiku melirik gadis yang ia bawa.

"Namanya Nesia Dirgantari... Atau... Setidaknya itulah informasinya..."

Sang dokter menerka-nerka tentang gadis manis berpiyama itu.

"apakah dia menyerangmu dan kau men-takle-nya kemudian kau bawa ia kemari karena berpikir bahwa ia gila?"

"sejujurnya dia bisa dibilang waras dengan tanda kutip dan sedang membuat saya gila..."

"k-kenapa demikian?"

"dok... Menurut anda kepribadian ganda itu apa?" tanya Kiku serius.

Sang dokter sungguh terkejut, "kepribadian ganda? Kepribadian ganda yang mana? Ada beberapa jenis kepribadian ganda... Ada yang benar-benar berganti... Ada yang anda masih sadar namun memiliki keinginan tak biasanya..."

"Yang benar-benar jadi orang lain, dok..." ucap Kiku.

Sang dokter bergumam tak percaya, " itu kasus yang sangat langka, anak muda... Kasus yang sangat langka..."

Kiku diam, membiarkan sang dokter berjalan memutar dan mengamati Nesia sembari menjelaskan tentang kepribadian ganda,

"kepribadian ganda itu masih misteri... Beberapa mengartiknnya dengan simpel seperti perubahan pola pikir sementara... Atau secara mendalam seperti dalam satu tubuh terdapat beberapa kepribadian... Beberapa jiwa... Beberapa pikiran yang biasanya saling kontradiktif... Tapi karena saling berlawanan itulah mereka saling mengisi..."

Kiku menyengirt.

"Mudahnya itu... di dalam diri penderitanya ada dirinya sendiri dan ada orang lain... Tapi sebenarnya itu juga bagian dari dirinya..." lanjut sang dokter.

"dari beberapa kasus... Banyak diantaranya yang terjadi karena trauma... Karena dorongan yang terlalu kuat untuk menjadi diri lain atau karena ingin melarikan diri... berapa kepribadian yang ia miliki?"

"Aku tak yakin... Tapi sampai sekarang ini sudah enam kepribadiannya yang muncul dihadapanku..." ucap Kiku khawatir.

"Enam? Itu cukup banyak..." ucap sang dokter, "Memiliki satu alter sendiri artinya sudah buruk... Kalau enam maka..."

"A-adakah cara untuk mengobatinya?" Kiku bertambah panik.

"Jangan khawatir... Semuanya baik-baik saja... Ini bukan penyakit kronis seperti kanker atau apa... Kecuali alternya yang lain membahayakannya..." jelas sang dokter yang malah semakin membuat Kiku khawatir.

Kita tak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh Garuda-san dan psikopat-san...

"Daripada itu... Seperti apa keenam kepribadiannya?" lanjut sang dokter.

"Ada Nesia 1-san... Kukira dia kepribadian aslinya... Nesia 2-san yang pintar dan romantis... Pertiwi-san yang sangat profesional dalam hal menari... Ayu-san yang saya belum kenal... Garuda-san yang mengaku sebagai laki-laki... Dan... Psikopat-san..."

"Dia memiliki alter yang psikopat?" tanya sang dokter, "kemudian yang mengaku laki-laki?"

"Y-ya... Maka dari itu..." Kiku menatap Nesia khawatir, "dok, adakah cara untuk dia sembuh?"

Raut muka sang dokter melembut, "Dia pasti sangat berharga untukmu..."

"S-sore wa..." muka Kiku sontak memerah dan kemudian dipalingkan oleh empunya.

"oh ya, nak Honda... Apakah mereka tak menyadari diri mereka yang lainnya?"

"tidak..."

"berarti alternya sudah sangat kuat... Dan belum terintegrasi..."

Kiku terdiam, tak tahu harus apa.

"oh... Nak Honda... Dia mulai bangun..."

Mata itu terbuka, memperlihatkan bijinya yang sewarna dengan milik Kiku. Dan biji itu terus memperhatikan Kiku yang kebingungan sekarang.

Namun tidak lagi di detik berikutnya.

Gadis itu melompat ke arah Kiku. Menerjangnya hingga Kiku jatuh terkapar di lantai. Menahannya sambil mencoba menarik celananya.

Kiku sontak berteriak ketakutan, "Yameteeeeeeee!"

Dan makhluk lain diluar ruangan itu menyengirt heran.

Sang dokter yang kebingungan akhirnya sadar dan membantu Kiku untuk menghalangi sang gadis yang terus berucap, "Celana... Celana..."

"Ini celanaku!"

"tidak! Itu celanaku!"

"Kau sudah pakai celana sendiri!" teriak Kiku sambil menghalangi tangan (yang diduga) Garuda yang menarik-narik celananya.

"mnh? Kau benar..." ucapnya sembari melihat celananya dan berhenti, "lalu? Siapa pria paruh baya ini?" ucapnya sembari melirik dokter dengan tak suka.

"h-halo... Boleh saya bertanya? Siapa anda?"

"Aku? Aku Garuda... Semenya anak ini..."

"Chigau!" teriak Kiku lagi.

"S-seme?" dokter itu tak mengerti, "Kenapa Garuda menjadi semenya?"

"Aku menyukainya tentu saja..."

Muka Kiku memerah seketika. Walaupun itu Garuda yang menyatakan, namun suaranya masih milik Nesia.

"Dan aku yang lebih 'cowo' darinya..."

-cleeeb-

.

.

"Garuda... Bisa kita bicara di sana?" ucap dokter sembari menunjukkan kursi yang terlihat empuk.

"Aku sudah PW -posisi wuenak-..."

"Aku tidak!" ucap Kiku yang diduduki keberatan. Ia mencoba untuk menggeser tubuh Nesia, namun tak berhasil. Sungguh keras kepala gadis (pemuda) itu.

"Kau sungguh pelit..." ucap Garuda sembari melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Kiku yang masih berusaha menggeser tubuhnya.

Meninggalkan tangan-tangan Kiku di pinggangnya, ia meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala Kiku untuk menahan tubuhnya.

S-Shimata! Ukh?!

Helai-helai surai hitam itu jatuh dengan lembutnya, menggoda siapa saja yang melihatnya, mencitakan ruang tertutup bagi pandangan Kiku agar terfokus pada wajah Nesia (Garuda).

Dilihatnya gadis itu tersenyum penuh misteri. Kiku membeku, tak bisa berpikir hal lain selain mengagumi indahnya wajah itu. Bahkan suara debaran jantungnya yang meloncat-loncat ganas tak lagi didengarkannya.

Perlahan Nesia menarik surainya yang sebelah kanan untuk diselipkan ke belakang telinganya sembari berujar, "Aku tak suka jika Uke-ku begitu pelit..."

Kiku tersentak mendengarnya, namun terlambat untuk menyadari bahwa Nesia telah mendekat ke telinganya dan berbisik, "haruskah aku memberimu... 'sedikit'... pelajaran?" dengan seduktif.

Kecupan kecil di telinganya mencabut paksa nyawa Kiku dari tempatnya. Termometer kepanikan dan malu mendadak naik secara signifikan bersamaan dengan menguapnya wajah Kiku.

Seketika, ketel otak Kiku menjerit.

"Garuda... Di sana lebih empuk dan nyaman loh..." ucap sang dokter mencoba memisahkan mereka.

"Aku sudah nyaman di sini... Kau menggangguku! Pergi!" bentak Garuda kasar sembari menatap tajam sang dokter, "aku ingin bermain dengannya!" lanjutnya dingin.

Garuda memalingkan mukanya kembali menatap wajah kusut nan kaku Kiku. Ia pun terkekeh geli.

"Akhirnya. Aku. Menangkap. Mu!" ucap Garuda dengan nada stakato sembari memainkan ujung hidung Kiku.

Kami-sama! Onegai! Tastuketeeeee! Badanku tak mau bergerak! Kiku Honda! Bergeraklah! Aku akan membencimu jika kau tak mau bergerak!

Kesadarannya terus membentak tubuhnya yang kaku mendadak. Namun percuma, tubuhnya menginginkan hal lain.

Dalam hati, Kiku ketakutan. Ngeri akan dirinya jikalau sampai menganggap godaan Nesia (Garuda) sebagai hal serius. Ngeri jika ia harus sampai jatuh ke jurang pikirannya lagi dan lepas kendali.

Bertahan Kiku! Bertahan! Aku perintahkan kau untuk BERTAHAN!

Tapi fokusnya kembali dibuyarkan oleh kekehan renyah gadis yang sedang memainkan rambut poni Kiku. Selanjutnya, jemari lentik itu membelai pipinya yang merona dan berakhir menahan dagunya.

Tubuh Kiku meremang seram, namun juga antusias. Bagaikan melihat film horor. Ingin melihat namun ketakutan dengan apa yang akan terjadi.

Garuda kembali tertawa renyah.

"Kau milikku..." ucapnya posesif dan sedetik kemudian merebut second kiss pemuda malang itu.

Membuat Kiku lemas, serasa dibanting, serasa disapu bersih tanpa sisa semua pertahanannya, terutama ketika kedua tangan Nesia menaup kepalanya. Menariknya, sehingga ia semakin mabuk dalam kecupan itu.

Tak terasa, tangan Kiku kini menyelip di sela surai panjang itu, menarik kepala (Nesia) untuk lebih.

.

.

"hehehe..." Garuda terkekeh di tengah sengalan nafasnya, "Aku suka itu, sayang..." lanjutnya saat melepaskan Kiku. Membiarkan pemuda pucat itu mengisi paru-parunya.

Sedetik kemudian kepala Nesia (Garuda) jatuh bebas menimpa dada Kiku.

Kiku hanya diam dan menahan nafasnya, seluruh tubuhnya tengang dan terasa kaku. Ia masih belum sadar jika gadis itu benar-benar pingsan. Pikirannya masih bergulat dengan apa yang baru saja dilakukannya.

Demi apapun! Apa yang tadi kulakukan?! AAAAAAAAaaaaaaaaaakh!

"ck... panas sekali..." celetuk sang dokter membuat muka Kiku semakin beruap.

Aku melupakan dunia! Apa yang barusan kulakukan?! Uwaaaakh! Kami-sama!

"Anda baik-baik saja, nak Honda?" ujar dokter sembari menarik tubuh gadis itu.

"n-nak Honda? Anda tidak apa-apa?" ucapnya khawatir setelah meletakkan tubuh Nesia di kursi empuk yang tadi ditolak sang gadis, kemudian beralih kepada Kiku.

A-aku merasa seperti menjadi korban sekuhara... Atau... Ini balas dendamnya atas apa yang terjadi di mobil tadi?!

Tapi kalau korban sekuhara... Watashi no te wa... –tanganku…

Kiku melihat kedua tangannya yang telah mengkhianatinya tadi.

"nak Honda... Bisa berdiri?" tanya sang dokter sembari membantunya duduk.

"aku merasa kewarasanku menghilang setiap detik bersamanya..." gumam Kiku lirih.

Sang dokter hanya tersenyum simpul,

Sepertinya aku memiliki dua pasien unik sekaligus...


A/N :

Yosha! Chapie 9 yang sangat absurd sudah keluar!

Neth: *Speechless

Author: Gimana Neth? Puas?

Neth: *narikkerahAuthor* kau! kau!

Author: Hebat? Awesome?

Neth: APA YANG KAU LAKUKAN PADA NESIA-KU?! *ngguncang2

Author: Lah?! kemarin kau bilang mau yang hot?!

Neth: Kalau yang hot nanti saja pas ceritaku dan Nesia! Jangan pas sekarang! Itu apa-apaan lagi?! Batal! Batal! *rebutanmousesamaAuthor

Author: Publish! Publish! *sekuattenagangeklikPublish

*klik*

Neth: Ah...

Author: Yes! Berhasil! Berhasil! Berhasil! U-yeah!

Neth: heeeh... *terduduklemas

Author: Sudahlah Neth... daripada nggak uplod2... *puk-puk* Eh ya... dimana kedua personifikasi itu?

.

.

Nesia: kakek Majapahit... maafkan cucumu ini... hiks... Aku... aku tak bermaksud melakukannya! Ini semua perintah Author! *membuka Keris

Kiku: Aku... melakukan hal asusila... kehormatanku telah hilang... oleh karena itu... aku... *menyiapkanSeppuku

Author: NOOOOOOO! JANGAN MATI SEKARANG! *lari menghentikan* Neth! Balas review!

Neth: NEEEEEIIIIIIINNNNN!

Author: Atau akan kubuat jadi rate-M!

Neth: NEEEEEIIIIIIINNNNN!

Nesia: *kaget* Kakek! Aku menyusulmu saja sekarang!

Kiku: Minna... Sayonara...

Author: GAAAAH!

.

.

Neth: Baiklah... Daripada nanti jadi Rate-M... Balas review... Balas review... *sulking*

Saudara Faneda,Jujur saja... Bagiku interaksi mereka itu *(%^&*$%^&%#&*^!

Author: *lemparsepatukeNeth* Woi! jawab yang bener! -oke Kiku... Pliss! Jangan lakukan seppuku! Nesia! Lu mau nelantarin rakyat loe?! taruh tu keris! Siapa yang ngajarin lo bunuh diri?!

Neth: *mengeluspundakyangkenasepatu* Oke... Maaf aku sedang kesal... coba saudara Faneda bayangkan! Kenapa bukan aku coba?! Kenapa?! kenapa harus seperti ini! *ngegalau* Terus... Terus... Iya... Memang dia udah selesai... Tapi sampai chapie ini doang... Dia masih harus nggambar bukti cintaku pada Nesia...

Author: heh! Bandung Bondowoso jadi-jadian! Ini bukan Prambanan! Tu bangunan kolonial lu garap buat lo sendiri! Nesia! Daripada kau mati, kenapa kau nggak santet saja tuh personifikasi?!

Neth: Dasar author nggak punya sense seni (?) Sudahlah, lanjut... Umnh... saudara Yuki Hiiro...saya tekankan pada anda... mohon digaris bawahi... NESIA ADALAH MILIKKU ! Oke?

Nesia: *berubah pikiran, bisik* Author... Kau benar... sebelum aku mati... ada baiknya aku santet seseorang dulu...

Author: *gestursetuju* Lakukanlah! Aku merestuimu!

Nesia: *angguk

Author: Kiku... Plis... Tuh... Nesia udah nggak apa-apa... Jangan ngambek dong! Ceritanya belum selesai nih! Ah! Kau sebenarnya juga seneng kan?!

Kiku: *blushing berat* Siapa bilang?!

Author: Lu Tsundere?

Kiku: SIAPA BILANG?! *AllRed*

Neth: ... bla-bla-bla-bla! Pokoknya Nesia itu milikku! Oke?! nanti pesan saudara Yuki Hiiro akan saya sampaikan pada Malay... tenang saja! Saya akan pastikan dukungan anda untuk menyantet Kiku tersampaikan

Author: BUKAN! *nglemparsepatusatunya* Yuki Hiiro-san... Jangan dengarkan kata-katanya! Duh Kiku! Pliiiiissss!

Kiku: Tidak... Ini tanggung jawabku... mempertahankan kehormatanku...

Neth: Lanjut... saudara Everly De Mavis ...

.

.

.

Author: NETH! LU BANTING LEPI GUE, NI FF RATE-MA++++++++++!

Neth: *berhenti

.

.

.

Neth: *ambilnafasmenenangkandiri* Huh! Kiku bagaimana rasanya menjadi Uke-nya Nesia?

Author: Kiku! Tuh! pertanyaan! Jawab! Jawab!

Kiku: eh... *buangmuka* s-sore wa... himitsu desu... -rahasia

Neth: Lu bahagia kan?! kan! kan?! Ngaku lo! Muka lo tuh keliatan! *maubantinglepi

Author: RATE-MA!

Neth: *berhenti* UGH! Lanjut! saudara ravenilu 597...

.

.

Neth: Aku pergi dari sini... *terlalu kesal

Author: Lu pergi Rate-M!

Neth: *bisik* Entah kenapa gue jadi pengen nangis... Rate-M... Rate-M... Huh! Umnh... Well... saudara ravenilu597... Anda senasib dengan author... bedanya kalau anda mungkin memang salahnya sekolah, kalau author itu karena karmanya... dia nggak mau nggarap kisah aku dan Nesia sih!

Author: Gue denger Neth!

Neth: ehem... refrensi yang pair sama Nesia... *grining* hehehehe! Di filter ajah... Masukan bahasanya menjadi Bahasa Indonesia dan karakternya aku -Netherlands yang cakep ini! *menyisir keatas rambut tulipnya* Banyak sekali loh!

Author: Emang ravenilu597-san carinya Nesia pair ama elo?

Neth: Pokoknya carinya yang itu saja! Dan dukung NethxNesia!

Nesia: *datang bawa perlengkapan* Kiku... Tolongin... Aku mau nyantet Author dan Nether besar-besaran... Kau mau membantuku bukan?

Kiku: Mochiron... Nesia-san... *bantuin Nesia nyantet

Author: N-nesia... Ini...

Neth: N-nes...

Nesia: tenang saja -thor... -ther... Ini tidak akan sakit... hanya mengerikan... *evil smile

Kiku: Santet macam apa Nesia-san? *devilgrin

Nesia: hehehe...

.

Author: Untuk semuanya... yang sudah membaca... terimakasih... yang sudah meriview... terimakasih (sangat) banyak... yang telah memuji... saya akan coba pertahankan... yang mau kerjasama... Oke :D ayuk! dan yang belum puas, silahkan meriview dan saran...

Oh ya... tolong doakan Author... semoga author bisa selamat... Bye...