Kiku menyeruput coklat hangatnya pelan-pelan. Ditariknya nafas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan seperti yang dokter jiwa itu praktekkan.
"Merasa lebih baik?" tanya sang dokter.
"Domo arigatou gozaimashita... Sensei..." ucap Kiku setelah dirinya tenang.
"Greef..." sahut sang dokter lembut.
"Greef-sensei..."
Dokter itu mengangguk, "santai saja..." ujarnya lagi.
Kiku mengangguk kecil. Ia mencari posisi santai di sofa leather yang didudukinya. Diletakkannya mug berisi coklatnya di meja kecil di sebelah sofa. Membiarkannya mendingin sembari merebahkan tubuhnya. Dipijatnya matanya pelan.
"Greef-sensei... Apakah tidak ada pasien lagi?" tanya Kiku setelah menyadari ia sudah cukup lama di dalam ruangan.
"Tidak ada perawat yang masuk... Jangan khawatir... Saya juga sedang senggang... Dan saya masih penasaran..." jawabnya.
Ara...
"Kita bangunkan dia lagi?" tanya sang dokter sembari melinguk ke arah Nesia.
Benar... Nesia-san sudah tertidur cukup lama... Apa dia tak apa-apa?
"Nesia-san? Nesia-san?" panggil Kiku lembut.
Kiku mengguncang tubuh Nesia pelan, "Nesia-san... Okite kudasai... Nesia-san... Bangun..."
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"H-huh?" Nesia mengerjap bangun karena sentuhan lembut di pipinya.
"Nesia-san?"
.
.
"Huh? Honda-senpai?" ucap gadis itu saat membuka mata dan menangkap bayangan Kiku.
"Nesia-san?"
Nesia bangkit, mengambil posisi duduk yang nyaman, "Dimana aku?" ucapnya sembari celingukan.
"Ini... Nesia-san?" tanya Kiku menerka siapa kira-kira yang sedang 'sadar'.
"Ya? Kenapa senpai tanya? Senpai lupa denganku?"
Mungkin ini Nesia no.2-san... Kalau Nesia no.1-san pasti marah-marah...
"Tidak... Kita makan siang bersama bukan?"
Nesia mengangguk, "Lalu kenapa aku di sini... Dan... Piyama?"
"Eerr..." Kiku tak tahu harus menjelaskan dari mana.
Nesia masih celingukan, dan berhenti saat menemukan sosok Greef.
"Halo nak Nesia..."
Nesia mengangguk lemah, ia masih bingung. Terutama saat melihat papan nama dan jabatan yang ada di meja kerja sang dokter.
"Psikiatri?" Nesia menengok Kiku heran.
"Er... Begini Nesia-san... Um... Tenang saja, Nesia-san baik-baik saja, spesial malah... Karena mungkin... Nesia-san memiliki... Kepribadian ganda..." ucap Kiku hati-hati.
"Kepribadian ganda?" tanya Nesia mencari kejelasan.
"Y-ya... Apakah Nesia-san pernah merasa aneh... Seperti waktu yang meloncat-loncat... Ingatan Nesia-san tak ada..."
"Humnh... Yah... Kukira seperti itulah dunia berjalan..."
.
.
"Nesia-san... Itu tidak normal..." Kiku mengenyirtkan alisnya.
"Begitu ya..."
"Nak Nesia... Boleh saya bertanya?"
"Tentu saja boleh dokter... Selama saya bisa menjawab, saya akan menjawab..." ucap Nesia sembari tersenyum manis.
dr. Greef melinguk ke arah Kiku, ia paham bahwa sekarang ini adalah Nesia yang romantis. Artinya, ia bisa menurunkan ketegangannya.
"Kira-kira... Ingatanmu yang paling lama itu kapan?" tanya sang dokter lembut namun masih hati-hati.
"Humnh... Mungkin... Saat akhir elementary... Mau ke Junior High... Aku mengikuti test... Mnh... Tapi tahu-tahu aku ada di Junior High dan sedang masa ujian akhir semester... Aku jadi belajar ngebut deh..." ucap Nesia diikuti kekehan renyah, "Tapi aku yakin pasti hasilnya bagus kok!"
"Menurut Nak Nesia kenapa bisa keluar saat itu?"
"Entahlah... Tapi waktu itu aku merasa renggang dan sadar saja... Setelah itu aku pasti mengikuti ujian... Selalu ujian... Sampai senpai datang dan mengubah duniaku..." ujarnya sambil melempar senyum 'terimakasih' pada Kiku.
Kiku flushtered mendengar pernyataan tersebut.
M-mengubah dunia? Itu terlalu berat...
"Mnh?" Nesia bergumam seperti menyadari sesuatu.
"Ada apa Nak Nesia?"
"Humnh... Kalau diingat-ingat... Pernah sekali aku sadar tapi tubuhku itu bergerak sendiri... Kalau tak salah saat kuis di Junior High... Aku banyak menjawab salah... Tapi aku tak bisa membenarkannya... Aneh... Seperti... Ada yang membatasiku dan tak membiarkanku mengambil tindakan..."
"Begitukah?"
"Yah... Dan... Pernah seperti aku seperti ditarik seseorang kemudian kesadaranku hilang dan ketika bangun aku ada di kelas... Mengerjakan tugas..."
.
.
"Mungkin cukup masuk akal jika penjelasannya aku memiliki kepribadian lain... Berapa banyak?"
"Itu juga yang sedang kami cari tahu... Kami harap Nesia mau bekerja sama..."
"Tentu saja..." Nesia mengangguk setuju.
"Nesia-san... Apa mungkin Nesia-san pernah mendengar suara lain seperti mencoba bicara dengan Nesia-san?"
.
.
.
Nesia menggeleng pelan, "Tapi... Aku pernah bermimpi menemui seseorang yang mirip denganku... Dia ada di dalam... Semacam kurungan? Entahlah... Tapi dia diam saja..."
"Kira-kira seperti apa orang dalam kurungan itu?" tanya dr. Greef.
"Huh? Yah... Aku mengajaknya bicara... Namun dia hanya menatapku... Oh... Walaupun aku bilang mirip denganku... Tapi rasanya ia lebih muda daripada aku..."
Kiku mengambil nafas panjang. Ini terlalu aneh. Terlalu membingungkan. Ia pun mendekati dr. Greef dan berbisik, "Sensei... Apakah mungkin... Di dalam kurungan itu..."
"Mungkin... Pribadinya yang paling genuine..." balas dr. Greef.
"Nak Nesia... Nak Nesia rileks saja..."
Nesia mengangguk kecil. Ia mengikuti isyarat dr. Greef untuk berbaring.
"Nak Nesia coba tutup mata... Rileks..." ucap dr. Greef menuntun Nesia, "Rileks..."
"Mnh?" Kiku bergumam kaget saat tangannya digenggam oleh Nesia, ia balas menggenggam.
"Daijoubu desu... Watashi wa koko ni iru...Aku di sini..." ucap Kiku dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan, "saa..."
Nesia mengangguk kecil tanpa melepaskan pandangannya dari keping onyx Kiku. Ia mencari kepastian dan keamanan dari apa yang akan dilakukannya.
Dan semua itu ada di keping coklat milik senpainya.
Nesia pun mengambil posisi santai di sofa empuk berwarna krem itu.
.
.
"Rileks... Ambil nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan..." ucap dr. Greef.
Nesia mengikuti tuntunan dokter, begitu juga dengan Kiku, terbawa dan bermaksud mencontohkan pada Nesia.
"Rileks... Nesia bisa bayangkan Nesia berada di suatu tempat yang sangat Nesia suka..."
"Padang bunga?"
"Ya... Nak Nesia... Padang bunga... Di sana benar-benar indah bukan? Nesia juga merasakan angin sepoi-sepoi meniup bunga-bunga itu..."
"Ya... Sangat indah... Bunga-bunga tulipnya bergoyang..." ucap Nesia lirih.
Nesia-san suka bunga tulip?
"Nesia san kemudian merasa sangat mengantuk... Karena itu Nesia ingin duduk... Nesia sungguh mengantuk... mengantuk dan tertidur di hamparan bunga tulip itu... Semakin dalam... Semakin dalam... Sampai tak terdengar apapun kecuali suara saya..."
Kiku merasakan pegangan tangan Nesia melemas. Nesia pasti telah tertidur pikirnya.
"Nak Nesia masih bisa mendengar saya? Jika ya... Saya minta Nak Nesia mengangguk..."
Nesia mengangguk lemas.
"Oke... Nak Nesia... Saya akan bertanya pada Nak Nesia... Nak Nesia akan menjawabnya dengan jujur dan apa adanya... Jika Nak Nesia mengerti, tolong anggukkan kepala..."
Nesia mengangguk sekali lagi.
"Nak Nesia... Di mimpi anda, anda pernah melihat seorang gadis dalam kurungan bukan? Siapa dia?"
Nesia menggeleng, "Aku tidak tahu..." ucapnya lemah.
"Apa yang Nesia tahu dari diri Nesia?"
"... Aku selalu menghadapi ujian... Ulangan... Kuis... Belajar... Itu hidupku..."
"Selain itu apa lagi yang Nesia lakukan?"
"Makan siang dengan Honda-senpai..."
"Selain itu... Sebelum bertemu dengan Honda-senpai?"
Nesia menggeleng pelan, "Tak ada... Aku selalu berada dalam sebuah ruangan... Tidak... Sepertinya itu lorong... Yang sangat gelap..."
.
.
"Aku takut..." lanjut Nesia lirih.
Refleks Kiku menggenggam tangan Nesia yang masih bertaut dengan miliknya, berharap dapat mengirimkan kehangatan dan perasaan nyaman serta aman.
"Apakah Nesia ada di sana sekarang?"
Nesia menggeleng pelan, "Aku ada di sebuah tempat... Aku berdiri di sebuah bongkahan batu besar hampir segi empat... Sisanya adalah void... Ruang kosong tanpa apapun... Mnh?!"
"Ada apa nak Nesia?" ucap sang dokter menyadari bahwa Nesia menemukan sesuatu.
"Aku ada di sana... Dalam mimpiku yang waktu itu... Gadis dalam kurungan itu... Menatapku..."
.
.
dr. Greef menelan ludahnya, ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum lupa bagaimana caranya, begitu pula dengan Kiku.
#QuotesOfTheDay : Bernafaslah... Jangan lupa... -dr. Greef
Kami sama...
"K-kira-kira... seperti apa tempat... kurungan itu... Kondisinya?" tanya dr. Greef hati-hati.
"Itu tempat yang sangat gelap diantara void... Hanya beberapa obor kecil menyala sebagai penerangan di dekat pintu kurungan..." ucap Nesia menggambarkan.
.
.
"Bagaimana dengan jalan ke sana Nesia?"
"Um... Sangat sulit... Habisnya seperti menara... Gadis kecil itu terkurung di puncak menara... Kurungannya terlihat sangat kuat... Mungkin berbahan semacam platina? Pokoknya sangat kuat..."
"Begitukah?" dr. Greef mencoba mengolah.
"Tapi... Walaupun ia terkurung di sana... sepertinya ia memiliki pengawasan mutlak pada tempatku berdiri... Hanya ada satu tangga dari batu yang sudah hampir runtuh yang menghubungkan tempatku dan tempatnya... Selain itu tak ada jalan lagi ke sana..." lanjut Nesia.
"Bisakah kau ke sana?"
"Tidak... Aku tidak berani... Tangga itu perlahan runtuh dan tidak stabil... Aku takut merusaknya... Aku takut tak ada jalan lagi untuk ke sana atau kembali..."
"Nak Nesia... Selain itu... Apa yang kau lihat?"
"Umnh... Di belakangku... Ada banyak jalan yang lain... Satu jalan rasanya cukup... Aman dan... Kukenali..."
"Kau ingin ke sana?" tanya dr. Greef.
"Aku coba..." ucap Nesia.
.
.
.
"Nak Nesia? Ada apa di sana?" tanya dr. Greef hati-hati.
.
.
"Nak Nesia?" panggil dr. Greef lagi.
"Nesia-san? Nesia-san?" Kiku ikut memanggil.
Panik. Ia semakin mengeratkan tangannya sembari berdoa.
Kami-sama... Onegai...
.
.
"U-umnh?" Nesia berkedip dan membuka matanya.
"Nesia-san?"
"Huh? Honda-senpai?"
.
.
I-ini... Apakah mereka sudah berganti?
"Honda-senpai... Ini... Dimana?" tanya gadis itu heran, nampak di wajahnya raut ketakutan dan titik-titik air mata.
"Pertiwi... -san?"
"ya?"
.
.
.
"Kita kehilangan track Nesia..." ujar dr. Greef, "Tampaknya jalan tadi adalah semacam 'jalan pulang'..."
"Umnh..." Kiku hanya bisa diam mendengarkan. Otaknya masih sibuk mengolah apa yang terjadi.
"Jadi... Nak Pertiwi?" ucap dr. Greef.
Pertiwi langsung bangkit dan berlari, bersembunyi di belakang Kiku.
"Pertiwi-san... Daijoubu desu yo..." ucap Kiku lembut sembari mengelus kepala Pertiwi, "Ini dr. Greef... Teman baikku... dr. Greef... Ini Pertiwi... Usianya masih 9 tahun dan hobinya menari..."
"E-eh... Halo Pertiwi..." ucap dr. Greef ramah.
"H-halo..." balas Pertiwi malu-malu.
"Nak Pertiwi apa kabar?"
"Umn... Baik..."
dr. Greef memberikan senyum terbaik dan tertulusnya. Ia ingin Pertiwi bisa mempercayainya seperti Pertiwi percaya pada Kiku.
"Pertiwi-san... Boleh kita bertanya kepadamu?"
Pertiwi mengangguk. Pertanyaan dari Kiku pasti, dengan senang hati akan ia jawab.
"Um... Pertiwi-san... Sebelum Pertiwi-san bangun... Apakah Pertiwi-san merasakan sesuatu... Atau... Mungkin hal lain yang bisa diceritakan?" tanya Kiku.
"?" Pertiwi hanya merengut heran.
"Umn... Pertiwi-san... Apakah ada hal yang aneh akhir-akhir ini?"
Pertiwi menggeleng pelan, ia menarik ujung baju Kiku, "Tidak ada yang aneh, Honda-senpai... Malah semakin baik..." ujarnya sambil tersenyum.
"Apa yang semakin baik, Pertiwi-san?"
"Uh... Itu... Setiap hari aku bisa melihat senpai... Sejak ada senpai... Aku memiliki hari-hariku... Aku bisa menari lagi... Aku bahagia..." ujarnya malu-malu.
.
.
"D-doita..." ucap Kiku sembari blushing.
"Nak Honda sangat berharga ya buat Nak Pertiwi?"
Pertiwi mengangguk dengan sekuat tenaga, "Ya! Honda-senpai sangat berharga!"
"Kenapa? Kalau saya boleh tahu?"
"I-itu... Karena..." Nesia melirik Kiku malu-malu.
Yang dilirik tambah salah tingkah. Namun Kiku mengerti maksud sang dokter. Jawaban Pertiwi mungkin akan membawa informasi penting untuk mereka. Maka Kiku menegakkan tubuhnya dan menatap teduh ke arah Pertiwi, "Aku juga ingin tahu... Pertiwi-san..." ucapnya hangat, meyakinkan.
"Err... Honda-senpai... Hanya Honda-senpai yang mau memanggilku dengan nama Pertiwi... Honda-senpai juga tak membenciku... Honda-senpai mau menerimaku... Honda-senpai mau menemaniku..." jelas Pertiwi sembari menggenggam ujung baju Kiku.
Tatapan menengadahnya membuat jantung Kiku serasa berhenti berdetak.
Stop sikap moe-mu ini Pertiwi-san... Aaaargh!
"Aku suka Honda-senpai... Aku ingin terus menari untuk Honda-senpai... Aku ingin terus melihat Honda-senpai... Aku ingin terus bersama Honda-senpai..." ucap Pertiwi sungguh-sungguh.
Iiiiiaaa! Iiiaa! Kiku! Tahan dirimu!
"Tapi..."
"Tapi?" dr. Greef penasaran.
"Uh... Aku..."
"Tidak apa, Pertiwi-san... Ceritakan saja..." ucap Kiku sembari menepuk kepala Nesia (Pertiwi) lembut. Ia berusaha keras menutupi pikirannya.
"Aku... Tidak bisa..."
.
.
"Kenapa?" tanya Kiku lumayan kaget.
"Apakah ada yang mengancam Nak Pertiwi sehingga nak Pertiwi tak bisa bilang?"
Pertiwi menggeleng pelan, "Aku tidak bisa selalu bersama senpai... Karena aku... lemah..." ucap Pertiwi sembari terisak.
"Pertiwi-san?"
"Hiks... Aku ingin bersama Honda-senpai... Tapi... Tapi... Ada yang selalu mendorongku... Hiks... Ada yang selalu merebut tempatku..." Pertiwi terus menangis, " Aku ingin bersama senpai... Tapi mereka selalu... Hiks... Selalu... Hiks... Uh..."
"Pertiwi... -san?" Kiku terkesiap saat Pertiwi memeluk dirinya dengan sangat kencang.
"Jangan... Tolong..."
Eh?!
-Sruuuuks...-
"P-Pertiwi-san?!" seru Kiku kaget sembari menahan tubuh Nesia (Pertiwi) yang mulai merosot.
-bruk...-
"Pertiwi-san?! Pertiwi-san?! Pertiwi-san?! H-hei?! Daijoubu desuka? Pertiwi-san?!"
"Kita kehilangan dia..."
.
.
"Pasti... Pasti ada yang merebut... Oleh karena itu Pertiwi-san seperti ini..."
"Nak Honda..."
"Bangun! Aku tahu kau ada di sana!" seru Kiku, "Bangun!"
"Hgh..." gadis itu menghela nafas panjang, "Sepertinya kau memang pintar..." ucapnya sembari membuka mata.
"Uh?!" Kiku berjengit.
Kepribadian lainnya?!
"Honda Kiku-senpai, ya?"
"K-kau... Mengenalku?"
"Tidak... Aku hanya tahu namamu..."
"Aku merasa dirugikan... Siapa kau?"
"Aku? Dirgantara... Kau bisa panggil aku Tara..."
"Tara-san?"
"Ya... Ini pertama kalinya kita bertemu ya? Senpai? dr. Greef?"
"Anda mengenalku, Nak Tara?"
"Aku mengawasi kalian semua selama ini..." ujarnya dingin, "Dan aku tak suka kau ikut campur dalam urusan kita, senpai..." lanjutnya sembari menatap tajam keping monokrom Kiku.
Tara beralih ke sofa leather tempat Nesia tadi duduk, ia merebahkan dirinya dan memposisikan dirinya dengan sangat santai. Kakinya dan tangannya ia silangkan sembari bersender like a boss.
"Tara-san..."
"Jujur saja... Aku sangat benci pada orang tipikal seperti kau..." lanjutnya dengan nada sarkatis.
Kiku terdiam, tak bisa membalas Tara. Yah, dia ada benarnya, lagipula belum genap seminggu Kiku mengenal Nesia.
"Aku ingin kau tak menemui kami lagi... Pergi dari kehidupan kami!"
"Muri desu yo..." -itu mustahil
"mnh? Maksudmu?"
"Itu tak mungkin... Aku tak mungkin melakukannya..."
"coba kau bila-"
"Aku tak akan pernah pergi dari kehidupan kalian! Nesia-san! Nesia-san satunya lagi! Pertiwi-san! Gadura-san! Ayu-san! Psikopat-san! Tara-san!"
"K-kau!"
"Dan aku sudah berjanji pada Pertiwi-san untuk selalu di sampingnya..."
"Urgh! Anak itu!" Tara mendengus sebal.
"Tampaknya Nak Tara adalah Ego State Normal yang paling mengerti keadaan..."
"Memang..."
"Tara-san... Bisakah kita..."
"Lalu apa setelah aku menceritakan semuanya?" ucap Tara memotong pertanyaan obvious Kiku, "Menertawakan kami? Bilang pada orang lain tentang semua ini?! Huh?!" Tara bangkit dari tempat duduknya menuju ke arah Kiku, mencoba untuk memberikan sedikit teror kepada pemuda kuning itu.
"Kau bukan yang pertama anak muda... Dan aku tak akan membiarkan Nesia hancur lebih dari ini!" serunya sembari menarik kerah Kiku dan menyudutkannya di tembok.
"Tara... Hentikan... Nak Honda bermaksud baik..." ucap dr. Greef sembari mencoba memisahkan mereka.
"Jangan ikut campur! Kau tak tahu apapun! Enyah!" teriaknya pada dokter malang itu.
"Dan kau! Uh-?" Tara terkesiap saat tubuhnya dibalikkan dan menghantam tembok.
"Jelaskan... Dan kami akan mengerti..." ucap Kiku dingin.
"Bagaimana kalau aku tak mau?" tantang Tara penuh percaya diri walaupun ia sudah terdesak.
"Bagaimana kalau aku memaksa?"
"Kau tak bisa memaksaku!" ucap Tara berang.
Kiku memamerkan senyuman jahatnya. Ia mendekat ke arah telinga Tara.
"Kau tak bisa menolakku..." bisik Kiku dingin, dilanjutkan dengan kekehan aneh yang membuat tubuh Tara merinding.
"K-Kau..."
"Tenang saja... Aku orang baik-baik yang tentunya ingin Nesia baik-baik saja..."
"Satu-satunya cara agar Nesia baik-baik saja adalah dengan kau enyah dari kehidupan kami! Kau tak tahu betapa kejamnya perebutan di dalam karena mereka semua ingin bertemu denganmu!"
"Uh?" Kiku tertegun, ia mencoba me-replay perkataan Tara.
Perebutan di dalam? Karena ingin bertemu denganku?
" 'Honda-senpai memanggilku... Honda-senpai menungguku! Aku ingin bicara dengan Honda-senpai!'" Tara mendecak, "ck! Sungguh bodoh dan menyebalkan... Aku tahu kau akan meninggalkan mereka suatu saat nanti... Dan mereka akan kembali tercecer! Itu yang sebenarnya kau inginkan bukan?!"
"Aku tidak menginginkannya! Aku hanya ingin bersama dengan kalian..."
"Kenapa?"
"uh..."
.
.
"Itu..."
"Jika alasannya adalah suka atau cinta... Sebaiknya kau mati saja!" geram Tara sembari melepaskan diri. Tatapan garangnya belum lepas dari mata Kiku.
.
.
"Wakarimasu..." dengus Kiku sebal, "Tapi aku ingin kau berjanji untuk menjaga mereka, Tara-san..."
"Huh! Tentu saja! Aku yang selama ini menjaga mereka! Sekarang pergilah! Kami tak butuh kau!"
.
.
.
*O*
"Kemana sebenarnya kau akan pergi?! Kita seharusnya pulang!" seru Tara geram.
"Kau tak butuh aku... Silahkan pulang sendiri... Aku sedang ingin berjalan-jalan saja... Ah... Aku juga belum sarapan..." ucap Kiku sembari melenggang pergi.
"Tidak dengan piyamaku!"
"Salah sendiri..." dengus Kiku lagi, tak menghentikan langkahnya.
Bad boy... Bad boy... Bagus... Sesuai rencana... Walaupun menurut Greef-sensei aku tak boleh seperti ini... Tapi...
.
.
Aku tak tahu harus apa lagi!
"Heh! Kau... Benar-benar tak bisa kupercaya!"
"Kau yang pertama tak mempercayaiku..."
"Ugh..."
.
.
"Hei..." Kiku tiba-tiba berhenti, membuat Tara menabrak punggung Kiku.
"A-apa?!"
"Jika kau percaya padaku dan membutuhkanku... Mungkin aku akan bertindak manis..." ucap Kiku sembari memamerkan smirk nakalnya.
.
.
"Aku muak denganmu!" ucapnya sebelum meninggalkan tubuh Nesia dan membiarkannya terjatuh begitu saja.
Untungnya Kiku bisa langsung menahan tubuh itu.
"H-Hei?! Hei?! Urgh... jika seperti ini... Bagaimana mungkin aku mempercayakan Nesia-san padamu Tara-san?" ucap Kiku pada Tara.
Kiku yakin Tara bisa mendengarnya, tapi entah didengarkan atau tidak, Kiku tak yakin.
Kiku menghela nafas panjang, ia tak memiliki pilihan lain selain membopong tubuh Nesia dan menuju ke bangku di pinggir trotoar.
.
"Nesia-san?" panggil Kiku setelah meletakkan Nesia di bangku.
"Uh?"
"Nesia-san?"
Nesia mengangguk menanggapi.
Yokatta... Jadi... Ini Nesia-san yang mana?
"Doshita yo?" Tanya Kiku saat tangannya disentuh oleh Nesia.
Kiku menoleh dan menemukan mata coklat Nesia memandangnya intens, memerangkap seluruh kehidupan Kiku di benik indah itu.
Nesia tersenyum aneh, senyum yang tak pernah Kiku lihat sebelumnya.
Kiku tak tahu harus berbuat apa, dan tak tahu bagaimana harus mengartikan senyum aneh tersebut.
Apa ini Alter lain?
Kiku ingin terus berpikir tentang apa dibalik senyum tersebut, namun ia tidak bisa. Entah karena apa, ia tidak tahu, tapi kembali otaknya membeku.
Dan ia benar-benar terperangkap di ruang esklusif hanya untuk dirinya dan Nesia.
Tangan Nesia menyentuh pipi Kiku, tampak penasaran menelusuri semburat merah yang menghiasi kulit pucat itu.
Kiku hanya diam coretmenikmaticoret mengamati. Ia bertanya-tanya, kenapa Nesia melakukan hal ini?
Jangan-jangan ini Nesia 1-san?
Kiku berpikir mungkin karena ia sudah tak sengaja mengambil kiss Nesia, mereka jadi harus menikah dan Nesia sedang mempersiapkan diri untuk menerima dirinya.
Iie! Iie! Iie! Memangnya ini abad ke berapa?!
Nesia tersenyum kembali. Masih senyum yang sama. Kali ini dengan mata yang penuh kelegaan. Setelah puas memandangi keping monokrom Kiku, Nesia meletakkan kepalanya di pundak Kiku.
Kiku menahan nafasnya canggung.
Apa yang sedang terjadi saat ini?! Dareka! Onegai... Beri tahu aku apa yang sedang terjadi?
"Syukurlah..." ucap Nesia masih membenamkan kepalanya.
"N-Nesia-san?"
Nesia menggeleng pelan, "Tidak... Senpai tak perlu khawatir..." ucapnya sembari menengadahkan kepalanya menatap Kiku.
"Diriku yang lainnya sudah membawa kita keluar ya?"
"Y-ya... Seperti itulah..." jawab Kiku was-was. Ia menebak, bila ada masalah dengan Nesia atau hal buruk lain.
"Hoooh... Lalu dr. Greef?" mulai terdengar di suara sang gadis nada bermain.
Kiku menghela nafasnya lega. Semua spekulasi buruknya menguap. Ia pikir Nesia no.2-san yang kembali saat ini.
"Masih di rumah sakit... Ah... Tapi beliau memberikan kita kartu namanya... Kita bisa membuat janji dan bertemu di rumahnya..."
"Begitukah? Humh..."
"Nani ga arimasuka? Nesia-san?"
.
.
"Uh... Tentang jalan itu..." ucapnya sembari berdiri.
Tatapan Kiku mengikuti kemana gadis itu bergerak. Tanpa berpaling, ia berdiri. Diperhatikannya Nesia dengan seksama dan diikutinya langkah Nesia yang mulai menjauh.
"Di ujungnya... Ada sesuatu seperti... Pintu besar perpustakaan... Dan kurasa..."
Nesia menghentikan jalannya dan membalik badan menatap Kiku, "Aku penjaga 'perpustakaan' itu..."
"S-sumimasen... Nesia-san... Aku tak mengerti tentang 'perpustakaan' yang kau maksud..." ucap Kiku.
Masa di sesuatu seperti alam bawah sadar ada sebuah pintu perpustakaan? Kiku benar-benar tak paham.
"Tak apa... Aku juga tak mengerti... Hanya saja... Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting di dalam sana..."
"Sesuatu yang penting?" tanya Kiku mengklarifikasi.
"Un..." Nesia mengangguk, "Tapi... Aku sendiri memiliki firasat buruk tentang itu... Aku... Tak tahu apa yang harus aku lakukan..."
.
.
.
-pluuk-
"Uh?" Nesia terkejut saat Kiku menepuk kepalanya. Ia menengadah memastikan, kemudian menunduk kembali saat melihat tangan yang lebih besar dari tangannya itu mengelus kepalanya lembut.
"Daijoubu desu yo... Semua akan baik-baik saja... Tidak apa-apa kalau kau tidak yakin... Tidak perlu dibuka..."
"Un..." Nesia mengangguk kecil.
"Nesia-san... Ada apa lagi?"
.
.
.
"Senpai... Berjanjilah satu hal padaku..."
"Nani sore?"
"Jangan pernah berurusan dengan Ina..."
"Sore wa... dare desu ka?"
Kiku tertegun saat matanya menemukan mata Nesia. Iris gadis itu lebih gelap dari biasanya dan benar-benar mencerminkan kekhawatiran. Ada sesuatu yang tak bisa diceritakan oleh Nesia. Sesuatu yang buruk menurut Kiku.
Dan Kiku menebak, "Ina-san... Dia yang agak... Um... Psikopat?"
Muka Nesia memucat. Benar-benar ketakutan. Kedua tangannya kini menggenggam erat lengan baju Kiku, meminta jawaban kepastian akan pertanyaan yang tak diucapnya.
Kiku mengangguk sekali, "Tak apa Nesia-san... Aku telah bertemu dengannya dan sekarang masih baik-baik saja bukan?"
Nesia menggeleng, mulanya pelan namun semakin kencang dan berhenti. Tubuhnya bergetar, merinding.
Doshita yo, Nesia-san?
Kiku mengelus kepala Nesia lembut, "Ii yo... Daijoubu desu yo... Nesia-san... Watashi ni shinjite kudasai... -percayalah padaku..." Kiku menarik bibirnya membentuk lengkungan yang hangat.
"Saa... Kaerimashou ka?" -pulang yuk?
A/N:
Yeeeeeeey 10!
Author : 10 loh Neth! Chapitra 10!
Neth : 3000 doang...
Author : A-ahahahahaha! *ngasahpisau
Neth : Heh, Kiku!
Kiku : N-nani ga arimasu ka, oranda-san?
Neth : Gitu doang?
Kiku : A-apanya?
Neth : Hgh... Nesia sayang... Mending nge-date sama aku saja deh... Kau lihat kan? Nge-date sama Kiku kau diajak ke Rumah sakit... Instansi kejiwaan lagi! Nggak ada romantis-romantisnya! Mending sama aku... Kita bisa ke manapun yang kau suka pagi sampai sore, kemudian candle-light dinner dan malamnya... kau dan aku...
-Bugh!-
Nesia : Mimpi saja nggak akan, Neth!
Neth : O-ouch... *ngeluspipi
Author : Bener Nes! Jangan mau sama dia! Paling nanti diajaknya ke gedung-gedung angker peninggalannya itu lagi! -Well... Walaupun kau sudah cs-an sama penunggunya... kan tetep aja... Nggak asik!
Kiku : *angguk* Seikai-desu...
Neth : A-apa? Ya nggak lah! Aku kan romantis!
Author : Tau ah... Lu mah ngomong doang! Mending bales review...
Yuki Hiiro-san,saya selamat, kok... Soalnya kalau saya disantet... saya berjanji pada mereka berdua akan membuat skandal tentang mereka... :D Entahlah dengan Neth... -tampaknya karena mereka berdua tak bisa menyantetku, jatahnya Neth jadi double...
Neth : Menurutmu ini salah siapa?! Huh?!
Kiku : *buang muka* Memangnya siapa lagi?
Neth : Huuuh?!
Nesia : Kak Yuki Hiiro, saya nggak pesen bom Nuklir sama Om Ivan,, tapi saya sudah beli beberapa kapal selam dari Om Ivan :D *2jempol* Jadi... Kalau Neth macam-macam, tinggal runtuhkan saja bendungannya! Pasti kelelep tuh negara! Ahahahaha! Ya kan, Om?
Ivan : Iya, da... Oh ya Nesia... Sekali lagi kau panggil aku Om, aku akan pastikan kita bersatu, da... kolkolkol...
Nesia : I-iya... Maaf...
Author : Kemudian azukihazzel-san, *kasihjempol* Oke... Selama mereka nggak nyantet aku, yaa... *wink
Faneda-san, *wink* udah ada tanda-tandanya kan? :D :D
Neth: A-aku... aku... aku ada di FF ini?
Kiku: *mojok-sulking-bisik2* curang... curang... curang... curang... curang...
Nesia : err...
Neth : Author... Ternyata kau...
Author : Yah... Jadi tukang sapu atau ngepel juga boleh lah...
-cleb-
Neth : Sudah kuduga! Kau memang kejam!
Kiku : *smirk* amin... amin... amin...
Nesia : Err... *garukkepala
Author : Next... Everly De Mavis-san, kalau berubah rate karena mereka berdua...
Nesia : *ngeluarinKeris
Kiku : *ngeluarinKatana
Author : Iya kali... tapi jadi gore... *Sweatdrop* Untuk selanjutnya mungkin agak adem dikit lah... Ya?
Nesia : *angguk2
Kiku : ...
Author : *griningkeKiku*
Kiku : *buangmuka
Author : Lanjut! xxx-san, Sip okeh :D saya usahakan updet cepat :D
ravenilu597-san, malay-indo yah?
Nesia : S-sama Malay? *keringatdingin
Author : Kenapa, Nes?
Nesia : Bukannya nanti incest?
Author : Nggak apa-apa lah... lagipula udah jadi rahasia umum kalo adikmu itu suka sama kamu... sekali-kali kabulkan mimpinya... Lagipula cuman hint...
Nesia : T-terserah deh... *buang muka
Author : *nyadar* Loh Kiku? Kenapa dengan Katanamu?
Kiku : *senyum* Kuro menyuruhku membersihkannya... Katanya, barangkali akan dipakai dekat-dekat ini...
Author : O-oh... Oke... BTW... ravenilu597-san suka bagian kisu2... Jadi aku banyakin boleh ya?
Neth : NEEEEEEEEEEIIIIIIIIIIINNNNNNN!
Author : S-sepertinya aku akan diburu oleh 3 personifikasi... jadi... terakhir... mohon review dan sarannya yaaa! *kabur
-TUNGGUUUUU! JANGAN LARI AUTHOR!-
