Kiku menahan napasnya. Telat sudah untuk mundur. Tak ada lagi kata berbalik ketika Nesia menggenggam tangannya erat.
"Aku selalu ingin mencoba ini!" serunya riang, "Uwaaah... Deg-degan nih! Senpai gimana?"
Kiku membuang mukanya.
M-maa... Watashi mo doki-doki desu... Tapi dua kali lipat karena dua alasan...
"Idih senpai... Ditanyain kok malah buang muka?" tanya Nesia lagi.
"Iie, betsuni..." jawab Kiku pendek masih menghadap arah lain.
Dilihatnya rangkaian besi-besi membentuk rel yang jalurnya memutar-mutar dan melingkar-lingkar. Seketika Kiku merasa menderita nausea* akut, bahkan sebelum kereta yang ia tumpangi bergerak menjajaki rangkaian tersebut dengan kecepatan diatas 150 km/jam.
Mana mereka duduknya paling depan lagi!
Kalau bukan demi senyuman manis gadis di sampingnya ini, sudah pasti ia akan coretkaburcoret turun dari wahana yang menurutnya 'menantang maut' ini.
"Jangan-jangan... Senpai takut yaa?!" tuduh Nesia nakal, siap mengejek Kiku jika ia bilang 'Ya'.
"Siapa yang genggam-genggam?" Kiku balik bertanya dengan nada datar.
Nesia sontak melepaskan genggamannya, mulai tertawa dan bertingkah aneh.
Dan Kiku merasa -sangat- menyesal.
.
.
-tolong perhatikan kepala anda... Pengaman akan segera diturunkan...-
Kiku melirik Nesia yang sedang mengamati turunnya pengaman yang akan mencengkram kuat tubuh mereka, memastikan mereka tak terlempar karena gaya sentrifugal.
Wajahnya memerah untuk melihat si kohai yang memakai one-piece pilihannya tadi. Sangat cocok dipakai Nesia, walaupun tadi ditolak hebat.
One-piece putih itu memiliki panjang hampir dibawah lutut, dihiasi lace warna merah. Ia pun memadukannya dengan blazer merah dengan lengan sesiku.
Kiku memilihnya dengan pertimbangan trait orang Indonesia yang katanya 'normal berpakaiannya' seperti ini -tertutup, rapih dan sopan.
Kiku hanya bisa tersenyum simpul saat mengingat pegawai toko yang mengkomplain kepadanya bahwa mereka memiliki ukuran yang lebih kecil -lebih cocok di badan Nesia, terutama saat onepiece itu.
Tapi yang Kiku pentingkan hanya tiga, Nesia tak lagi murung akan Ina, Nesia tak pakai piyama, dan Nesia nyaman.
Dan, Ya. Ia kelihatan lebih nyaman dengan ukuran (agak kebesaran) ini daripada ukuran aslinya yang pastinya memperlihatkan... Ehm... Diatas lutut 10-15 senti.
Kiku menggelengkan mukanya. Menghapus pikiran ngawurnya.
Kawaii... demo... Nesia-san punya kebudayaannya sendiri... Ya... Seperti itu...
Kiku melirik lagi Nesia. Ia berpikir, sepertinya ia cocok jadi stylist. Dress itu, hair-do itu, sandal itu sangat cocok pada Nesia -atau memang Nesia saja yang cantik sehingga diapa-apakan juga pasti cantik?
Tak sengaja Kiku menarik sudut-sudut bibirnya dan tersenyum bangga.
Maa... Walaupun aku tak bisa membeli game untuk 3 bulan kedepan... Pantas lah...
#QuotesOfTheDay : Untuk saat ini... Reality lebih besar daripada Maya -Kiku
Dilihatnya gadis itu kini menggigit bagian bawah bibirnya, namun masih tersenyum.
Canggung. Takut. Khawatir. Penasaran. Antusias.
Bahagia.
Kiku masih memandang Nesia yang antusias ketika mengencangkan pengaman kedua.
"Watashi mo..."
"Umnh?" perhatian Nesia terambil oleh potongan kata dari Kiku.
"doki-doki shimasu..." lanjutnya dengan senyuman manis.
Wajah ceria Nesia semakin mekar. Dibalasnya Kiku dengan pameran gigi putihnya.
"Sumimasen, ojou-san... Pengaman kedua mohon dipasang..." ucap Kiku sembari memasangkan pengaman kedua Nesia, "Aku tak ingin Nesia-san terlempar dari kereta... Atau mungkin dimarahi oleh petugas untuk permulaan..." lanjutnya sambil mulai cengengesan menatap petugas yang akan menghampiri mereka.
.
.
"Nani?" tanya Kiku heran karena melihat muka kaget Nesia.
"Pft! Nggak!" ucap Nesia menahan tawanya, membuat Kiku tambah kebingungan sekarang.
"Nesia-san..." ucap Kiku gemas.
"Senpai... Kepo deh!"
K-kepo? N-nani kore?
"Kepo wa nani desu ka?" tanya Kiku bertambah bingung.
"Kepo itu... Mau tahu ajah..." ucap Nesia di sela tawanya.
.
.
"Ne-si-a-san?" Kiku menghayati dan menekan setiap pengucapannya.
"Ih! Beneran senpai! Artinya kepo itu 'mau tahu ajah'... Hon-da-sen-pa-i..." Nesia mengikuti cara Kiku memanggil namanya tadi.
Mou... Kau mengerjaiku?!
"oh..." ucap Kiku dengan intonasi -mencoba- sebal.
"S-senpai..." Nesia menghentikan tawanya saat melihat Kiku membuang muka dan membalasnya seperti itu.
"S-senpai... Ada apa?"
Kiku melinguk ke arah Nesia, ia menemukan muka Nesia telah berubah ketakutan.
Mattaku... -ya ampun...
"Nesia-san... Kepo deh..." ucap Kiku sembari memencet hidung Nesia dengan telunjuknya diikuti tawa kecilnya yang membuat Nesia rileks lagi.
"Ternyata Senpai bisa juga bercanda! Hihihi!" lanjut Nesia tertawa riang.
"U-ukh..." kini hati Kiku dalam masalah besar.
"Aku suka senpai yang seperti ini!" ucap Nesia ceria, tak memberikan kompensasi pada perasaan Kiku yang belum tenang.
-bluuuuuush...-
"Hihihi!" Nesia terus melanjutkan tawa kecilnya, membuat Kiku terbawa dalam tawanya.
"A-apaan sih Nesia-san ini..." ucap Kiku mencoba menahan dirinya yang mulai tergelitik untuk ikut tertawa.
Namun gagal. Ia tak kuat lagi menahan tawanya saat melihat wajah bahagia Nesia.
"Heh.. Nesia-san ini... Sungguh aneh..." ucap Kiku di selingan tawanya.
"Senpai lebih aneh!" komplain Nesia, "Tapi, senpai yang sedang tertawa, paling cakep sedunia! Aku suka!"
.
.
.
Kiku terdiam. Ia mengerjap beberapa kali.
"Hihihi... Uh? Kenapa berhenti senpai?" ucap Nesia sembari menengok ke arah Kiku dan menemukan wajah senpainya itu sudah semerah apel.
"E-eto... A-ano ne..."
Nesia terdiam menyadari ucapannya barusan. Ia sangat malu sekarang dan ketularan memerah mukanya.
"A-anu... Itu..."
Suasana sangat awkward sampai petugas mengumumkan mereka akan segera berangkat.
Kereta itu melaju perlahan pada mulanya, sampai akhirnya menanjak sangat tinggi dan membuat Nesia gugup. Dia tak menyangka akan setinggi ini. Maka, dicengkramnya kuat-kuat pelindung tubuhnya seraya memejamkan mata rapat-rapat.
"Nesia-san..." ucap Kiku sembari menarik tangan Nesia untuk digenggamnya, "daijoubu desu..."
Senyum lembut Kiku adalah yang terakhir ia ingat sebelum kereta meluncur turun dengan deras dan ia berteriak ngeri bersama dengan para penumpang lainnya.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Kiku merebahkan tubuhnya pelan di bangku taman bermain yang terbuat dari besi. Ia mencoba mengatur napasnya, mencoba untuk tenang duluan sebelum gadis di sebelahnya.
"Hountou ni..." Kiku bergumam pada dirinya sendiri sebelum ia melinguk ke arah Nesia, "Nesia-san... Daijoubu desu ka?"
Nesia terkekeh di sela sengalan napasnya, "Naik lagi, senpai?"
"Iie... Arigatou... Tidak hari ini..."
"Haha... Ya... Aku kira cukup sekali saja..." Nesia setuju.
"Saa... Nesia-san mau minum apa? Jus?" ucap Kiku sembari bangkit dari tempatnya duduk.
"E-eh... Senpai... Tak perlu..."
"Teh? Kopi?" lanjut Kiku tak menghiraukan penolakan dari Nesia.
"Jus jeruk..." ucap Nesia pasrah, ia mengerti Kiku tak ingin dibantah.
"Nesia-san... Koko ni matte kudasai... Sugu kaerimasu..." ujar Kiku.
Nesia mengernyit bingung.
"Nesia-san... Tunggu di sini... Aku akan segera kembali..." ucap Kiku mengartikan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Iya ya... Nesia-san hanya mengerti nihon-go yang awam-awam saja... Kenapa baru sadar?
"Oke!" jawab Nesia sembari mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum riang.
Mattaku... Padahal tadi begitu murung...
Kiku tertawa kecil melihat tingkah Nesia. Setelah itu ia menghela napas lega.
Maa... Baguslah kalau dia sudah tenang sekarang...
Kiku tersenyum khawatir saat melirik Nesia yang terlihat sedang mengayunkan kakinya, menunggu dirinya. Cukup jauh gadis itu dari jangkauannya. Dan entah kenapa Kiku sudah merasa bahwa dirinya merindu.
Joudan desu yo ne? Ini hanya 10 meteran... Nai! Nai!
Ia melepas senyumnya dan beralih ke mesin penjual minuman di depannya. Menekan tombol di bawah gambar jus jeruk setelah ia memasukkan uang koin, ia mengulanginya untuk sekaleng teh hijau.
Kiku merunduk untuk mengambil kedua minuman itu sekaligus. Setelah ia mengambilnya, ia berdiri tegap lagi dan terdiam. Digenggamnya kedua kaleng minuman itu di depan dadanya sembari merenung.
Kono kimochi wa nani desu ka? -perasaan apa ini?
Kiku menghela nafas panjang.
Melihat Nesia-san murung seperti tadi... Kenapa... Aku tak rela? Kenapa...
Teringat kembali kejadian di jalan tadi. Nesia yang sungguh ketakutan dan tak mau mendengar Kiku. Padahal ia sudah menunjukkan bukti bahwa ia akan baik-baik saja. Ia sudah bilang pada Nesia bahwa ia sabuk hitam Karate, Judo, Aikido, ditambah ia bisa Kendo pula, namun belum bisa meyakinkan Nesia dan membuatnya tersenyum lagi. Haruskah ia berlatih Wing Chun atau Thai Boxing juga? Atau mungkin Debus? Apakah itu perlu?
Enggak kan?
Baru setelah ia mengalihkan perhatian Nesia pada sebuah toko pakaian dan menyeretnya masuk ke sana, gadis itupun mulai melupakan tentang Alternya yang satu lagi itu.
Kiku menyuruh Nesia untuk memilih dress sendiri, namun berakhir dipilihkan oleh Kiku karena taste Nesia yang menurutnya agak unik dan tidak umum. Walaupun Kiku yakin Nesia akan tetap saja cantik dengan pakaian pilihannya sendiri, namun tidak hari ini.
Dan setelah berdebat selama hampir 15 menit tentang pembayaran dengan Nesia, akhirnya mereka keluar juga dari toko pakaian itu. Namun, Nesia belum mau tersenyum. Memang ia tak lagi merengut karena Ina, akan tetapi karena kalah berdebat dengan Kiku dan akhirnya membiarkan pemuda itu membelikannya dress manis itu.
Kiku segera memutar otaknya lagi. Saat itulah mereka melintas di depan taman bermain.
Dan di sinilah mereka sekarang, dengan Nesia yang sudah tersenyum lagi.
.
.
Kiku membalikkan badanya, namun masih menunduk merenungkan perasaannya yang masih terganjal oleh pemikiran –bagaimana untuk lebih mengembangkan senyum Nesia?- Walaupun begitu ia terus berjalan.
Tapi kemudian berhenti ketika menemukan sandal yang ia kenal –ia membelinya sekitar 2 jam lalu. Kiku pun menengadah dan mendapati Nesia telah berdiri di hadapannya.
"Apa-apaan muka seperti itu?" ucap Nesia sebal, "Sudah kubilang bukan? Senpai seharusnya tersenyum!" lanjutnya sembari menempelkan ujung-ujung jari telunjuknya di kedua sudut bibir Kiku.
"Senyum..." Nesia menatap Kiku lembut sembari menekan jari-jarinya sehingga menarik bibir Kiku untuk tersenyum.
Kiku mendengus, namun beralih menjadi tawa kecil, "Wakarimashita..." ucapnya sembari melempar tatapan hangat yang dapat membuat hati seluruh yang melihat melting.
Tatapan yang juga membuat pipi Nesia merona merah.
Aku malah membuat Nesia-san khawatir... Dan malah ia yang membuatku ceria...
Kiku menaruh kedua kaleng minuman di dekapan tangan kirinya, karena tangan kanannya kini ia gunakan untuk mengelus surai lembuat Nesia. Berharap Nesia merasakan kehangatan, yang ia rasakan karena ada Nesia, yang ingin ia berikan kembali pada gadis yang tengah tersenyum manis itu.
Aku harus bisa mengendalikan diriku... Aku harus bisa menjadi kuat dan ceria... Demi menopang dan membantu Nesia-san...
Kiku menikmati waktunya. Ia merasa sangat hangat juga bahagia di dalam hatinya. Terutama ketika tangannya disentuh oleh Nesia untuk ditarik menyentuh pipi tembam itu. Dan Nesia menyenderkan kepalanya ke telapak tangan Kiku. Serta tersenyum hangat ke arahnya seakan mengerti dan telah menerima pesan tersirat dari Kiku.
"Apa senpai akan menahan jus jerukku dan melakukan hal ini terus?" tanya Nesia disertai tawa kecilnya yang menghiasi wajah blushing kohainya itu.
Betapa Kiku harus memberi tahu gadis di depannya ini bahwa ia sangat manis, lebih manis daripada Neotame** atau apapun di dunia ini. Kiku merasa harus menambahkan jadwal bertemu dengan dokter penyakit dalam di Week-listnya untuk mengkonsultasikan gula darahnya minggu ini juga.
"Senpai? Senpai?" Nesia melambaikan tangannya berusaha untuk menyadarkan lamunan Senpainya.
"O-oh..." Kiku terkejut. Refleks ia melihat ke sekelilingnya, mencari tahu keadaan, situasi dan kondisi karena ia merasa seperti baru pulang dari dunia lain.
Dunia lain yang sangat hangat. Sangat manis.
Wajah Kiku sontak mendidih karena malu saat ia sadar akan tatapan orang-orang sekitarnya yang blushing berat -tak peduli itu perempuan ataupun laki-laki. Kiku merasa kehilangan mukanya, ia pun menunduk lagi, menyembunyikan wajahnya.
"Senpai... Seorang pria harus menaruh tatapannya seperti ini..." Nesia mengangkat wajah Kiku dengan kedua tangannya, membuat pemuda kuning itu menatap lurus ke depan.
"N-nesia-san? Umnh..." Kiku menelan ludahnya, ia menyadari sesuatu yang aneh saat mengucap nama gadis yang masih menaupkan tangannya di kedua pipinya itu.
Lidahnya kelu dan mukanya semakin memerah sekarang. Padahal kemarin tidak seperti itu.
"Senpai... Kita jadi bahan tontonan nih... Kita duduk ya? Aku mulai malu nih..." ucap Nesia, masih mendorong muka Kiku untuk menatap lurus.
Kiku melirik ke bawah, mencari-cari wajah Nesia yang dipalingkan karena malu oleh empunya. Kiku hampir terkiki melihat wajah blushing Nesia dan alisnya yang bertautan menahan malu. Dan ia lupa rasa malunya tadi.
Kawaii...
"Ya... Senpai... Kita duduk?" ucap Nesia sembari memutar kepalanya, menengadah menatap Kiku dengan 'cat eyes-please feed me'
Seketika Kiku merasa seluruh darahnya dipompa paksa ke kepalanya karena rasa malunya berangsur kembali namun berkali-kali lipat.
.
.
*O*
"Douzo... Nesia-san..." Kiku memberikan jus jeruk Nesia.
"u-um... Terimakasih..." ucap Nesia sambil menerima dan kemudian duduk di sebuah bangku.
Kiku melingukkan kepalanya, mempelajari sekitarnya. Cukup sepi di sini, mungkin karena bukan jalur utama ke wahanan yang menarik.
"Doitashimashita..." jawab Kiku pendek, tak berani menatap Nesia. Ia menyusul Nesia untuk duduk di samping gadis yang biasanya berponi-tail tersebut.
Namun tidak hari ini, surai lembut itu tadi pagi ia kepang dari atas, turun menyamping ke pundak kirinya.
Lagi-lagi ia tak bisa menahan mukanya untuk tidak blushing. Akhirnya ia memilih untuk membuka kalengnya dan meminumnya membelakangi Nesia.
Kiku yakin, sekali, dari gerak-gerik gadis di sampingnya, Nesia pasti sedang benar-benar penasaran akan tingkahnya.
"Senpai?"
"H-hai? Nani?" ucap Kiku canggung.
"Ada yang salah? Aku salah?"
Tidak Nesia-san... Sumimasen... Tapi yang salah di sini hanyalah hati dan pikiranku saja... Jangan khawatir... Biarkan aku tenang dulu... Onegai...
"err... S-senpai..."
"Iie... Iie... Daijoubu desu, Nesia-san.." ucap Kiku kelu.
Aku harus kuat! Aku harus kuat! Harus menopang dan membantu Nesia-san!
Kiku melirik Nesia hati-hati, namun matanya malah tertangkap basah oleh keping coklat penuh rasa penasaran Nesia. Sontak Kiku melempar pandangannya kembali; melarikan diri.
Arrrrgh! Kalau seperti ini terus bagaimana aku mau menjadi kuat dan menjaga Nesia-san?!
"Senpai..." panggil Nesia disela menyisip jus jeruknya.
"Umnh?"
.
.
"mnh... Tidak..."
"Nesia-san... Tolong jangan setengah-setengah seperti itu..." ucap Kiku penasaran.
"Umnh... Maaf..."
"Nesia-san bisa cerita semuanya padaku..."
"H-Honda-senpai..."
"Nani?" jawab Kiku ramah walaupun sebenarnya nggak sabar.
Kiku menebak ini bukan pernyataan cinta, oleh karenanya ia tenang-tenang saja. Tentu saja bukan. Mereka saja baru bertemu kurang dari seminggu yang lalu.
Mungkin Nesia-san akan bicara tentang Alternya yang lain?
"Boleh aku memanggilmu Kiku-senpai?"
-UHUK! UHUK! UHUK!-
.
"H-honda senpai? Senpai baik-baik saja?" seru Nesia panik menatap Kiku.
"U-un... D-daijoubu desu..." ucap Kiku sembari mengeluarkan sapu tangan dan mengelap mulutnya.
Walaupun bukan pernyataan cinta, entah kenapa hatinya mengkategorikannya dalam tingkatan yang sama. Kiku menyumpahi hatinya yang tak bisa tenang sedikit saja jika itu tentang Nesia.
"U-umnh..." Nesia berbalik duduk dan kembali memainkan kakinya, namun kini dengan lesu.
"Umnh..." Kiku tersenyum kecil, menyadari Nesia kecewa karena tak bisa memanggilnya dengan 'Kiku-senpai'.
Entah kenapa, Kiku merasa masih ada harapan. Dan ia ingin memperbesar harapan yang tidak jelas apa itu.
"Ii yo... Nesia-san boleh panggil aku Kiku..."
"Bener?!" ucap Nesia riang.
"M-maa..." Kiku meneguk kembali teh hijaunya.
"Hanya Kiku?"
-UHUK!-
.
Kiku melirik kesal bercampur malu bercampur banget ke arah Nesia.
"Kiku-senpai..." ucap Kiku dengan nada tegas. Namun dengan muka merah Kiku, hampir saja Nesia mengira senpainya ini seorang tsundere.
"B-baik... Kiku-senpai..." ucap Nesia menurut.
Kiku tahu sebenarnya Nesia ingin tertawa lagi. Entah karena kasihan padanya atau merasa tak enak, tawa itu jadi tertahan dan menjadi gembungan pipi yang cubit-able.
Gah! Kau dan pikiranmu Honda Kiku!
"Hehehe... Kiku-senpai..." bisik Nesia mengetes.
.
.
A-apakah aku baru saja mengasah pedang untuk membunuh diriku sendiri? Aku merasa aku bisa tertusuk kapan saja sekarang...
Kiku merasa kepalanya berputar sekarang, ia sudah tak tahu lagi semerah apa wajahnya sekarang. Ini semua semata karena Nesia tak hentinya menggumamkan nama kecilnya itu.
Bahkan kini telah bernada dan bisa dinyanyikan.
"Yamete kudasai... Nesia-san... Onegai..."
"Huh? Kenapa?"
Kau seperti mengeringkan darahku... Kumohon sebelum aku... Aku... Ugh!
Kiku mengacak rambutnya sendiri, berusaha menghilangkan pikiran tentang menutup mulut Nesia dengan miliknya.
Honda Kiku! Nesia-san wa anata no kanojo dewa arimasen! –Nesia bukan pacarmu!-
.
D-dua yang tadi itu hanya kecelakaan! Kau ingat itu Kiku! Hanya kecelakaan!
Kiku mulai bergelut dengan dirinya sendiri yang melawan.
"S-senpai... Sebenarnya keberatan ya? K-kalau begitu... Aku..."
"I-ii yo... Hountou ni..." potong Kiku, "Hanya saja... Jangan dibuat mainan seperti itu..."
.
.
"Padahal aku sangat suka mengucapkannya..." Nesia membuka negoisasi dan memasang puppy eyes.
Watashi no kokoro... Ganbatte kudasai! -Hatiku... Berjuanglah!
Kiku ingin berteriak dan berlari kabur saat itu juga. Namun tubuhnya tak mau bergerak sama sekali. Benar-benar lemas saat melihat mata Nesia yang berkilauan.
.
.
"O-oh... Maaf..." Nesia munduk, benar-benar meminta maaf. Ia sadar Kiku tak mau merundingkan hal ini.
Nesia tersenyum pahit, berpikir bahwa sudah untung ia bisa memanggil senpai di sebelahnya dengan nama kecilnya tanpa dibenci. Ya, dia harus mensyukurinya.
Kiku menghela nafas kecil, mencoba agar Nesia tak menyadari. Ia memperhatikannya, guratan ketakutan di raut muka Nesia yang kembali terukir.
Pertiwi-san juga... Begitu ketakutan membuat kesalahan... Ada apa dengan mereka?
"Hai... Permintaan maaf diterima..." ucap Kiku sembari menepuk kepala Nesia.
Nesia memberikan senyuman terbaiknya sebagai jawaban terimakasih.
"Nesia-san... Kenapa kau sepertinya begitu takut jika membuat kesalahan?"
"? Maksud senpai?" Nesia balik bertanya.
"Contohnya... Saat namaku tadi... Kau begitu ketakutan..."
.
.
Nesia tak kunjung menjawabnya, ia bahkan terus mengayunkan kakinya bagaikan menunggu momen untuk menjawab hilang.
"Aku benar-benar butuh untuk tahu... Nesia-san..." ucap Kiku lembut.
Kiku tersenyum hangat saat menemukan iris coklat gelap itu menatapnya, mencoba meyakinkan Nesia untuk menjawab.
"Aku... hanya tak ingin kehilangan senpai..." ucap Nesia sembari meneguk jus jeruknya, "Senpai... Jika ada yang berbuat salah pada senpai... Apakah senpai... Akan..."
-glek-
Nesia meneguk ludahnya sebelum melanjutkan, "Meninggalkannya?"
.
.
"Itu..." Kiku menahan dirinya untuk menjawab.
Ia sadar, bagaimana jawabannya ini akan mempengaruhi seluruh cara berpikir Nesia kedepannya.
"Itu tergantung... Dalam banyak hal..." ucapnya lembut sembari mengelus Nesia, "Maa... Khusus Nesia-san... Apapun alasannya... Aku sepertinya tak bisa meninggalkanmu begitu saja... Walaupun kau membuat kesalahan besar sekalipun..."
"U-umnh..."
Kiku tahu Nesia mulai mencari-cari kebenaran perkataan dari matanya, maka ia berikan tatapan tertulus yang ia miliki.
Lagipula semua itu benar adanya. Lebih kurangnya, Nesia telah menjadi pusat 'universe'-nya selama seminggu terakhir. Pertama kalinya Kiku merasakan hidupnya berputar dan terus memutari satu orang.
Ia tak bisa memikirkan hal lain, dan tak bisa melepaskan dirinya dari gadis bersurai hitam ini.
Dakedo, zenbu wa kamawanai... -Tetapi, semuanya tak masalah...
Kiku sungguh menikmatinya, dan berharap bisa menjadi lebih dekat setiap detiknya.
"Desu kara... Daijoubu desu yo... Nesia-san... Bahkan boleh memaksakan ego Nesia-san padaku... Aku akan lihat sampai mana batasannya nanti..."
-tes-
Kiku tersentak melihat air mata Nesia meleleh tanpa disadari oleh empunya, "N-nesia... san? Nakunai de... Jangan menangis... Watashi wa..."
Nesia menubruk dan memeluk tubuh Kiku saat itu juga, ia menenggelamkan tangisannya di dada Kiku.
Kiku tak bisa berbuat banyak, hanya mampu mengelus kepala Nesia dan mencoba menenangkannya.
Kurasa... Ini memang masalah kesepian, over-ekspektasi dan pelarian...
"Nesia-san... Watashi wa... Zutto... Zutto anata no soba ni iru kara... Dakara, ne... Kowakunai yo... Nigerarenai yo..." ucap Kiku dengan lembut, "Aku akan selalu... Setiap saat berada disamping Nesia-san... Karena itu... Jangan takut... Jangan melarikan diri... ya?"
Kiku merasakan tubuh Nesia terhenyak. Kiku tahu, ia sedang berbicara hal paling mengena dalam diri tetang melarikan diri itu.
"Samishikunai yo... -jangan merasa kesepian... Mou... Daijoubu dakara... Nesia-san..."
Kiku mendekap Nesia erat namun juga hati-hati, bagaikan mencegah hati Nesia yang menangis dengan keras dan pilu untuk tidak pecah berkeping-keping.
Diusapnya kepala Nesia lembut, instingnya menuntun untuk memberikan kecupan di puncak surai legam itu.
Watashi wa... Nesia-san o mamotteimasu... Zutto... kanarazu... -Aku akan melindungi Nesia-san... Selalu... Pasti -tanpa gagal...
*O*
Kiku merebahkan tubuhnya sembarangan di atas kasur, membuat Hong yang menjadi teman sekamarnya mengangkat alis heran. Tentu saja heran. Seharian ini temannya itu tak kelihatan, bahkan sejak ia membuka matanya dan baru pulang malam-malam begini. Hong juga tak melihat Kiku membawa kamera, jadi ia tak pergi untuk menstalk seperti yang biasa dilakukannya. Hampir saja Hong menelepon bagian kesiswaan dan melaporkan hilangnya Kiku sebagai tragedi penculikan. Namun Mei menahannya -dan untung saja menahannya.
.
.
"Makan?" tanya Hong singkat.
"Sudah..." jawab Kiku tanpa melinguk ke arah Hong.
.
.
"Aku panaskan air mandi..." ucap Hong sembari meninggalkan meja belajarnya menuju kamar mandi.
"Arigatou..."
-maru kaite chikyuu... Maru kaite chikyuu... Nihon to moushimasu... Pip-
"Moshi-moshi?" Kiku duduk dan menjawab teleponnya, ia tak memperdulikan Hong yang berhenti melangkah di depannya karena kaget dan memberikan tatapan najis kepadanya.
"Ah... Greef-sensei... Ah... Hai... Besok sendirian? ... O-oh... Baiklah kalau begitu... Terimakasih..."
-pip-
"Siapa?" tanya Hong hanya untuk memecah kesunyian setelahnya.
"Biar kuberitahu kau satu kata yang kupelajari hari ini, Hong..."
Hong mengangkat alisnya sebagai ganti kata 'apa itu?'.
"Kepo deh..." ucap Kiku sembari masuk ke kamar mandi, meninggalkan Hong yang tengah mengernyit bingung akan arti kata itu.
*nausea : rasa akan muntah; rasa mual
** Neotame : pemanis sintetis (manisnya 7000-13000xlipat gula biasa)
A/N:
Chapie 11! Yeeeeey!
Author : *senggol Kiku* Udah tuh... Keren tuh date nya...
Kiku : ? M-maa...
Neth : Apaan... Biasa saja... cuman taman bermain saja... nggak ada candle-light dinner!
Author : Selow Neth... Nesia aja nggak komplain... Jangan-jangan lu sendiri yang ngimpiin candle-light dinner? Terus nggak kesampean-kesampean?
-Cleeeb-
Author : Nah kan... Ng? Loh! Udah ada yang review! Bales! Bales! Yuki Hiiro-san, Tara-chan ya?
Nesia : Tara-chan...
Author : Belum kelihatan cowo ya? *ngelihatchapiesebelumnya* Ya sudahlah... nanti di chapie selanjutnya... dan... 1945 Alter...
Nesia : *geleng2*
Kiku : *angkat tangan* Yuki Hiiro-san, kemarin saya ngintip di lepi Author... Per Alter harus aku tangani... Kalau ada 1945... Jujur saja saya tidak sanggup...
Neth : Kau bisa serahkan padaku...
Kiku : *meliriksengit,buangmuka*
Neth : ? Apa?
Kiku : Iie... Betsuni...
Author : Loh? Padahal aku rencanain segitu...
.
.
.
-GANYANG AUTHOOOOOORRR!-
