Kiku menatap mug kecil di hadapannya. Isinya cappuccino. Kopi yang Feli rekomendasikan bila datang ke cafe ini. Rasanya lumayan enak bagi Kiku, walaupun masih lebih enak teh hijau menurutnya. Sayang, di kafe itu tidak menyediakan teh hijau kesukaannya.
Kiku meneguknya lagi, walaupun kali ini sedikit kecewa karena gambar daun di busanya menjadi hilang. Kemudian ia melihat ke arah jamnya.
09.55... 5 menit lagi...
-Tling... Tling...-
Bunyi lonceng pintu masuk kafe menarik perhatian Kiku. Ia meninguk ke arah pintu dari kayu mahoni dan menemukan seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan setelan jas formal.
Pria itu tersenyum ke arahnya dan melangkah mendekati Kiku.
"Selamat pagi, Nak Honda..."
"Um..." Kiku mengangguk kecil. Ia berdiri dan menyalami tangan dr. Greef, "Selamat pagi, sensei..."
"Hari ini kita akan sedikit serius... Well, tentunya ini adalah tentang nak Nesia... Saya ingin, Nak Honda, sebagai yang paling dekat dan paling dipercaya oleh Nak Nesia untuk memahami hal-hal yang akan disampaikan... Ini demi kebaikan dan kesembuhan Nak Nesia..." ucap dr. Greef panjang lebar.
"Sebenarnya... Seharusnya saya bicarakan hal ini dengan keluarga atau kerabatnya... Namun saya menduga sedikit banyak mereka merupakan asal dari DID (Dissociative Identity Disorder) atau dulunya dikenal sebagai MPD (Multiple Personality Disorder) yang diderita oleh Nak Nesia..."
"Apakah sampai di sini masih bisa diterima?"
"Hai... Wakarimashita..." ucap Kiku serius.
"Tidak setegang ini, Nak Honda... Saya ingin kita sama-sama berpikir dan bertukar informasi tentang Nak Nesia..."
"O-oh... Umnh... Ya... Tentu..." ucap Kiku sembari menurunkan ketegangannya.
"Sebelum itu, biarkan saya memesan kopi dulu..." gurau sang dokter membantu mencairkan suasana.
"A-ah... Douzo... Douzo..." Kiku tertawa aneh.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Terimakasih..." ucap dr. Greef saat pesanannya datang.
Kopi Espresso dan Tarte kecil.
"Baik... Karena pesananku sudah datang... Kita bisa mulai obrolan kita..." lanjutnya sembari menyisip kopi panasnya.
"Uh... Baik, sensei..."
"Baiklah... Nak Honda... Yang ingin saya lakukan pada Nak Nesia adalah Ego State Therapy..."
"Ego State Therapy?" Kiku mengulang pernyataan dr. Greef.
"Ya... Untuk memahami terapi ini... Kita harus paham dengan Ego State dulu, Nak Honda..."
Kiku mengangguk, "Saya siap, sensei..."
Kikupun mengeluarkan notes. Ia bermaksud mencatat hal-hal penting yang mungkin bisa ia pikirkan sendiri nanti.
"Ego State itu... Mudahnya adalah bagian dari diri kita yang aktif melakukan kegiatan kita... Dia adalah sebuah sistem yang dipisahkan oleh batas-batas tertentu namun masih dapat ditembus hingga kedalaman dan fleksibilitas tertentu karena adanya kesamaan prinsip..."
"Kita bisa bayangkan Ego State adalah sebuah rumah... Satu rumah yang ruangan-ruangannya dibatasi oleh dinding... Dinding kita bayangkan sebagai batas-batas... Dan ruangan di rumah akan dihubungkan dengan pintu..."
"Pintu inilah 'kesamaan prinsip' yang membuat kita dapat menembus ruangan... Sampai di sini bisa diterima?"
Kiku mengangguk.
"Bagus... Bagus..." ucap dr. Greef sembari meneguk kopinya. Membuat kesempatan untuk Kiku meresapi informasi yang telah diberikannya.
Ia tahu Kiku anak yang pintar, namun ia juga harus hati-hati agar ia bisa menyiapkan Kiku membantu Nesia.
"Sensei... Sepertinya ini... Terjadi pada orang-orang yang normal?"
"Nak Honda memang pintar..." dr. Greef tersenyum, "Ya... Kita yang normal memiliki 'rumah' yang sehat dan bisa diakses dengan mudah oleh setiap kesadaran kita..."
Kiku mulai mencatat beberapa hal.
"Kita... Sebagai orang normal sebenarnya memiliki empat sampai sembilan 'diri' yang masing-masing memiliki kehidupan, fungsi, kepribadian dan tugas masing-masing... Namun karena kita normal... Kita masih bisa mengontrol dan terhubung..."
"Contohnya... 'diri' kita saat menghadapi teman yang baru bertemu di sekolah dan 'diri' kita menghadapi teman dari kecil di rumah..."
"Kalau yang di sekolah... Kita mulanya akan cenderung berhati-hati dan mempelajari... Kita akan bersikap sopan dan tidak memperlihatkan keabsurdan kita pada awalnya... Sehingga ada ungkapan dari teman kita seperti 'Kupikir kau itu dulu gini loh! Eh… Nyatanya gini!'… Pernah mengalaminya, nak Honda?"
Kiku mengangguk, ia teringat pada ucapan Ludwig yang awalnya mengira ia sangat pasif, alim dan pendiam, namun setelah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Fudanshi... Yah, kata-kata semacam itu keluar.
Kiku tertawa kecil mengingatnya.
"Oke... Saya anggap tawa itu adalah tanda paham... Dan saya yakin tingkah anda dengan teman sepermainan dari kecil paling tidak sedikit berbeda dengan tingkah saat menghadapi teman baru... Anda pasti merasa lebih leluasa... Lebih bebas menunjukkan 'warna' anda pada teman dari kecil itu... Apalagi jika anda bermainnya di rumah anda sendiri -yang merupakan teritorial anda..."
Kiku mengangguk menyetujui.
"Walaupun anda merasa melakukan hal yang berkebalikan dengan sifat anda... Namun anda tetap menyadarinya... Itu adalah kita... Orang-orang normal yang masih memegang kendali terhadap kesadaran dan keputusan kita... Ego State kita masih sehat... Masih terhubung dan bisa diakses semua dengan kesadaran dan keinginan kita..."
"Jadi... Kalau yang memiliki Alter... Maka... 'pintu-pintu' dalam rumah 'tertutup'?" Kiku membuat kesimpulan.
"Jangan... Jangan loncat ke sana dulu Nak Honda... Anda benar... Namun belum loncat ke sana... Oke?"
"Umn..."
"Apakah Ego State sudah jelas?"
"Kurang lebihnya... Intinyanya Ego State adalah posisi kesadaran kita..."
"Oke... Kita lanjut..." dr. Greef tersenyum, "Sebelum itu anda bisa bernafas dulu... Karena saya juga membutuhkannya..."
Kiku tertawa kecil mendengar lelucon garing itu.
"Jadi Nak Honda... Saya akan bertanya... Kira-kira bagaimana kesadaran kita terbentuk?"
.
.
"Er..."
"Oke... Kita ulang lagi... Bagaimana kira-kira cara kita menentukan baik atau buruk?"
"Pengalaman?"
"Benar... Kita hidup... Sadar membuat keputusan setelah kita menimbang baik atau buruk... Yang kita pelajari dari pengalaman..."
"Berarti Ego State terbentuk dari pengalaman membedakan?"
"Tepat! Nak Kiku..." ucap dr. Greef semangat, "Dan bukan hanya dari membedakan baik dan buruk... Namun juga makanan favorit atau tidak... Suka atau tidak... Orang baik dan orang jahat..."
"Umnh... Berarti... Seperti... Saya menyukai teh hijau... Maka Ego State penyuka teh hijau sedang aktif... Dan suatu ketika saya memiliki pilihan lain seperti jus jeruk... Maka Ego State jus jeruk tengah aktif..."
"Ya... Walaupun itu adalah pengartian dangkalnya... Tapi, ya... Benar... Ini tentang pilihan-pilihan dan pilihan... Dan anda sadar telah memilihnya..." jawab sang dokter.
"Hal lain yang mempengaruhi Ego State adalah orang-orang di sekelilingnya..."
"Keluarga dan kerabat..." tebak Kiku.
"Benar sekali, Nak Kiku... Juga idolanya dan yang penjadi panutannya seperti, contohnya guru... Ini yang disebut dengan Introject..."
"Introject?"
"Nak Kiku... Dari mana trait-mu menyukai teh hijau?"
"Ayah dan ibu... Juga keluarga besar... Maa... Teh hijau... Chanoyu –upacara minum teh... Tipikal keluarga Jepang yang masih menjunjung adat secara kental..."
"Kalau cara Nak Honda berbicara? Yang sangat sopan ini?"
"Keluarga juga... Terutama dari Ibu... Bahkan cara saya bicara sangat mirip dengan beliau..."
"Ya..." dr. Greef tersenyum, "Anda pasti sangat menyayangi ibu anda dan menjadikannya sebagai 'sumber' Introject anda... Trait suka teh hijau dan cara bicara terserap oleh Nak Honda dengan sangat baik dan membentuk 'Bagian Diri' Nak Honda... Dan karena Nak Honda menyukainya... Nak Honda mengambil keputusan untuk menggunakannya dan 'mewujudkan' sosok ibu anda dalam berbicara pada diri anda..."
"Jadi... Introject itu... Seperti kita mencontoh orang lain?"
"Ya... Itu benar..." ucap dr. Greef, "Introject itu perwujudan figur penting yang kita adopsi di dalam alam bawah sadar kita... Dia hidup di dalam diri kita... Sayangnya... Introject bisa negatif juga... Karena tidak semua orang tua... Baik..."
Kiku menerka kemana ini pergi. Ya, dia sekarang mengerti kenapa dr. Greef memilih memberitahunya daripada orang tua Nesia yang belum tentu 'sebaik' orang tuanya.
"Nak Nesia bisa jadi telah mulai menyerap anda sebagi Introject... Dia terlihat begitu mengagumi anda... Bisa jadi besok dia ikut meminum teh hijau... Atau kebudayaan anda yang lainnya..." canda dr. Greef, "Dan anda... Pastinya akan selalu hidup di dalam dirinya... Hidup... Benar-benar hidup..."
"Maksud anda, sensei?"
"Yah... Dengan kondisi mental Nak Nesia yang seperti ini... Jangan heran jika suatu saat anda akan menemui Alter yang mengaku dirinya sebagai Kiku Honda... Nak Honda..."
.
.
.
"I-itu... seram sekali..." keringat dingin Kiku mulai mengucur.
"Kita akan usahakan agar itu tak perlu terjadi..."
Kiku mengangguk setuju. Menarik sih, namun itu terlalu seram untuk jadi kenyataan.
#QuotesOfTheDay : Tentunya 'aku' tidak mau 'mencintai' 'diriku' sendiri seperti itu... Aku bukan seorang narcist! - Kiku
"Kemudian... Ketiga... Yang mempengaruhi Ego State... Adalah pengalaman traumatik..."
Kiku menelan ludah. Ini yang paling crucial.
"Pernah Nak Honda mengalami pengalaman yang Nak Honda tak suka, Junior High... Bullying?" tanya dr. Greef
"Ya..."
"Bisa nak Honda ceritakan?"
"Uh... Sebenarnya itu juga pengalaman memalukan karena ketika saya mengingatnya saya merasa sungguh kekanakkan... Hanya bullying dari teman-teman saat Elementary... Karena wajah oriental ini... Sebenarnya bukan hanya saya... Beberapa saudara saya juga mengalaminya..."
"Bedanya saya dan saudara saya... Karena terus diganggu... Saya berubah pikiran dan melawan mereka... Saya jadi terkenal sebagai 'Iblis dari Timur' setelah mengalahkan ketua geng bullying... Sepertinya Ego State kasar aktif pada waktu itu... Haha..." Kiku tertawa aneh.
"Hal ini terus berlanjut bahkan sampai Junior High... Tapi ketika Senior High sudah berkurang... Karena suasana mulai kondusif di sana... Ego State kalem kembali..."
"Tampaknya Nak Honda sudah bisa menggunakan kata Ego State... Ya... Nak Kiku benar... Ego State seperti itu... Ganti kepribadian... Namun tetap sadar..."
"Saya fast-leaner..." ucap Kiku sembari tersenyum ramah.
"Nah... Nak Honda... Pengalaman Nak Honda tadi tentunya traumatik... Tapi saya harus memuji Nak Honda karena bisa menanganinya... Walaupun dengan cara yang lumayan tak bisa diterima..."
"Maa... Masa Elementary dan Junior High... Tak bisa berpikir sedalam dan setenang sekarang..."
"Nah! Itu kata kuncinya, Nak Honda! Anak-anak tak bisa berpikir sestabil kita..." seru dr. Greef semangat.
"Umnh...?"
"Jika sebagai anak... Nak Honda tak mampu menangani semua bullying itu... Apa kira-kira yang Nak Honda akan lakukan?"
"Saya..."
"Ditambah orang tua anda... Bukan orang yang cocok dijadikan contoh sebagai Introject... Dan mungkin guru anda tak mengerti..."
.
Seketika Kiku membayangkan semuanya. Nesia kecil yang di bullying habis-habisan. Nesia kecil yang tidak sanggup melawan. Nesia kecil yang tak memiliki orang tua yang bisa dijadikan pelarian. Nesia kecil yang... -Oh tidak.
Kiku menutup mulutnya sembari mengambil nafas dalam-dalam.
"Nak Nesia... Mungkin pada awalnya memilih untuk menciptakan Ego State temporal seperti 'tak peduli' yang khusus berfungsi untuk menangani semua traumanya..."
"Namun pada akhirnya... Ia tak punya pilihan lain selain menutup 'pintu akses' ke memori trauma itu... Satu ruangan dalam rumah telah tertutup dengan satu jiwa terluka dikurung tertidur di sana..." lanjut dr. Greef.
"Dan Nesia-san menciptakan kepribadian baru... Demi melanjutkan kehidupannya..." tebak Kiku.
"Ya... Mungkin begitu... Karena saya pribadi belum pernah mendengar ada anak kecil yang menyerah dan mencoba untuk bunuh diri... Ini menjadi satu-satunya cara melarikan diri dan bertahan dari kehancuran..."
Kami-sama... Nesia-san wa...
"Ini hanya spekulasi saja... Kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nak Nesia bukan?"
Ini masih bisa menjadi lebih buruk?
Kiku menatap dr. Greef dengan tatapan gelap.
"Mungkin..." dr. Greef menjawab pertanyaan tak terucapkan Kiku.
Sonna mono... Nesia-san...
"Itu... Teori secara psikologis... Nak Honda..." dr. Greef mencoba tersenyum menenangkan, "Biar saya ceritakan secara perkembangan otak... Mungkin Nak Honda mau mencatatnya?"
"umnh..."
"Kalau teori perkembangan otak... Adalah Ego State terbentuk dari kejadian berulang... Misalnya Nak Kiku yang halus dan sopan... Karena sering melihat dan dididik dengan halus dan sopan..."
"Pengalaman secara berulang ini menstimulasi otak Nak Honda untuk membentuk jalur syaraf yang mewakili pengalaman itu... Semakin sering dialami, jalur itu semakin sering dilewati... Semakin Nak Honda hapal dan melaluinya, membuat Nak Honda juga menjadi halus dan sopan... Kalau keras... Ya nanti akan membentuk jalur keras dan akan menjadi keras... Ini yang mendasari like father like son..."
"Sou ka..."
"Istirahat sebentar?"
Kiku mengangguk. Ia menghabiskan cappuccino-nya.
Saat ini ia benar-benar ingin menemui Nesia. Memeluknya seperti kemarin, dan mengusap surai hitam yang berkilau itu. Membiarkan Nesia berbagi semua masalahnya dengan dirinya.
Oh, Kiku akan selalu siap untuk hal itu.
.
.
"Nak Honda... Boleh saya sarankan satu hal?"
"Mnh?"
"Tersenyumlah..."
Kiku tertegun mendengar saran dr. Greef.
"Nesia-san butuh dukungan psikologis... Jika yang mendukungnya ikut murung... Bagaimana kita akan mencapai kata sembuh? Apalagi Nak Honda dengar sendiri bukan kemarin? Bahwa Nak Honda sangat spesial bagi Nak Nesia..."
"Umnh..."
"Jika Nak Nesia murung... Bagaimana perasaan Nak Honda?"
"T-tentu saja..."
"Itu juga yang dirasakan oleh Nak Nesia saat melihat Nak Honda murung... Oleh karena itu..."
"Saya mengerti... dr. Greef..." ucap Kiku mencoba tersenyum, "Akan saya usahakan..."
"Bagus... Sekarang kita bisa lanjutkan... Kita akan masuk pada interaksi Ego State..."
"Interaksi Ego State?"
"Ya... Benar... Secara keluar dan kedalam... Secara keluar yaitu bagaimana Ego State kita berinteraksi dengan kegiatan dan lingkungan kita... Ego State bisa terus berganti-ganti saat kita melakukan sesuatu... Namun karena kita normal... Kita sering tidak memperhatikan perubahan Ego State... Karena pintu-pintu kita terbuka dan mudah diakses tanpa halangan..."
"Sedangkan ke dalam... Adalah interaksi antara Ego State... Kalau kita... Pernah tidak ketika memilih makanan... Kita sudah membuat keputusan... Tapi setelahnya ada pemikiran lain yang entah muncul dari mana untuk memilih yang lain saja?"
Kiku mengangguk.
"Sebenarnya di sana ada interaksi antar Ego State... Ini memang selalu masalah menentukan pilihan..." ucap dr. Greef, "Dan kalau ini terjadi pada seseorang yang memiliki Alter... Maka ia biasanya akan mendengar suara dalam otaknya..."
"S-seperti itu?"
"Ya... Tapi itu kalau mereka kuat dan telah bisa terintegrasi... Mereka bisa melakukan percakapan dalam diri mereka sendiri..."
"umnh... Itu pasti ramai..."
"Ya... Dan lucu..." imbuh dr. Greef.
"Saya menantikannya... Itu hal yang bagus bukan?" tanya Kiku.
"Ya... perkembangan yang bagus..."
.
.
"Sebenarnya Nak Honda... Ada 2 tipe Ego State... Yaitu yang ada di permukaan -atau kelihatan oleh kita... Dan yang tersembunyi -jarang kelihatan... Coba kita lihat contoh Nak Nesia..."
"Umnh... Nesia no.1-san pastinya ada di permukaan... Dan yang jarang adalah Ina-san..." Kiku mencoba menebak.
"Ina-san?"
"Nama dari Alter psikopatnya..." jawab Kiku.
"O-oh... Seperti itu... Ya..." dr. Greef mengangguk mengerti. "Ada perbedaan diantara mereka... Kita bisa menemui Nak Nesia dengan leluasa dan berkomunikasi dengannya dengan mudah... Itu bukan masalah... Yang sulit adalah mengakses informasi dari Nak Ina... Dan dia psikopat..."
"Saya mengerti maksud anda, sensei... Ini sungguh buruk bukan?"
"Ya... Kita harus melakukan hal khusus untuk itu... Saya akan lihat apa yang bisa saya lakukan dengan Ego State Therapy ini…"
"Tolong..." ucap Kiku lirih.
"Saya mengerti…." Ucap dr. Greef sembari melemparkan senyum penenang, "Jadi Nak Honda... Dari semua itu... Sudah bisa mendeskripsikan apa itu Alter Ego?"
"Alter Ego itu... Hubungan komunikasi antara Ego State atau kesadaran-nya sangat buruk... Pintu akses mereka ke Ego State lain tertutup... Sehingga Ego State mereka jadi berdiri sendiri-sendiri dan membentuk kepribadian sendiri-sendiri..."
"Itu benar... Dan kenapa orang sering menyebutnya jiwa yang terpecah?" tanya dr. Greef lagi.
"Karena kesadaran mereka memang terpecah..."
"Ya... Seperti tarte ini..." ucap dr. Greef memotong tarte menjadi beberapa bagian, "Nak Honda mau?"
"Tidak... Terimakasih..."
"Baiklah..." ucap dr. Greef mulai memakan tarte-nya.
"Sensei... Kalau kesadaran mereka terpecah... Maka apabila Ego State teh hijau-ku sedang mengambil kendali... Ego State jus jerukku yang tak aktif akan... Tidur?"
"Ya... Dan dia umumnya tak akan mendapatkan ingatan Ego State teh hijau... Tapi kalau sudah bicara seperti ini... Ego State akan diganti dengan kata Alter... Alter jus jeruk anda tidak akan tahu apa yang telah diperbuat Alter teh hijau anda... Inilah DID... atau Alter Ego..."
Kiku menatap dr. Greef serius.
"Mekanisme pertahanan diri dalam pikiran bawah sadar yang membuat 'lupa' pada kejadian traumatik dengan memutus jalur komunikasi Ego State yang terluka demi menghindari hancurnya seluruh Ego State... Demi menghindari... Gila..." tekan dr. Greef memastikan Kiku mengerti.
"Dan ketika Alter terluka itu bangun dan mengambil kesadaran penderita... Saat itulah... Kejadian tak tertebak akan terjadi... Yang pasti... Di sana kita akan dibawa ke masa kelamnya..."
.
.
"Saat seperti itulah Nak Nesia akan sangat butuh Nak Honda untuk ada di sampingnya..."
.
.
"Hai... Wakarimashita..." angguk Kiku.
"Saya anggap itu sebagai OK..."
.
.
"Sekarang... Saya ingin kita membahas strategi kita dalam terapi ini..."
"Strategi?"
"Ya... Untuk memulihkan kembali Nak Nesia..."
"Apa yang akan kita lakukan, dok?" tanya Kiku sembari mulai bersiap mencatat lagi.
"Nak Honda tak ada pikiran untuk menghancurkan alter-alter itu bukan?"
"M-menghancurkan? Apakah begitu caranya?"
"Tidak! Itu hanyalah pilihan terakhir... Coba Nak Honda bayangkan jika ada satu ruangan dalam rumah yang dihancurkan?"
"Y-yah... Itu... Tidak baik..."
"Benar..."
"Lalu... Kita harus apa?"
"Di terapi ini... Kita harus negoisasi dan membuat mereka sepakat, seprinsip dan mau 'membuka pintu' agar akses Ego State mereka kembali normal..."
.
.
"Sensei... Apakah itu berarti... Alter mereka akan menghilang?"
"Ya... Tapi tidak hilang juga... Umnh... Seperti... Anda lihat tarte ini?"
Kiku memperhatikan tarte dr. Greef.
"Kita andaikan selai asamnya sebagai Alter A dan kuenya sebagai Alter B... Dan jika mereka sudah membuat kesepakatan... Maka akan bercampur seperti ini..." ucap dr. Greef sembari menaruh selai di atas kue.
"Memang, kuenya akan terasa asam nanti... Dan selainya akan berkurang keasamannya... Tapi rasanya akan lebih enak dan pas bukan?"
"Jika saya... Menyukai asamnya selai apa adanya?"
.
.
"Itu..." dr. Greef terdiam, mencoba berpikir.
.
.
"Biarkan waktu yang menjawabnya... Benar dr. Greef?"
"Nak Honda... Begini..." dokter itu membetulkan cara duduknya agar lebih nyaman, "Menyukai hanya selainya yang asam... Mau menerima kekurangannya... Itu baik... Tapi dalam menerima seseorang... Anda harus menerima seluruhnya... Kekurangan dan kelebihannya... Seluruh dari hidupnya... Itu yang baru dinamakan dengan menerima apa-adanya... bukan hanya sebagian saja..."
.
.
"Sou ka... Wakarimashita... Jadi... Apa yang harus dilakukan?"
"Mnh... Pertama kita petakan dulu alter-alter Nesia yang kita ketahui..."
"Tujuh Alter..." ucap Kiku sembari menuliskan siapa saja di notes-nya.
"Delapan, Nak Honda... Kita tak tahu siapa yang ada di kurungan memang... Bisa Nak Nesia no. 1 atau siapapun... Atau bahkan Nak Ina... Tapi kita harus memperhitungkannya..."
"Ya..."
"Dan dia adalah tokoh utama... Nak Nesia yang paling asli... Kepribadian utamanya..."
"Saya harap saya bisa ke sana dan menghancurkan kurungan itu..." bisik Kiku.
"Anda akan... Tapi ini bertahap..."
"Saya mengerti..."
"Nesia dalam kurungan itu kita masukan dalam Vaded Ego State..."
"Vaded?"
"Ego State yang mungkin menjadi awal mula... Yang paling 'rusak'... Yang jarang sekali keluar... Jika kita ingin menyembuhkan Nesia... Kita harus bisa menggapainya... Tapi dia pasti tertidur di bagian terdalam dari kesadaran Nak Nesia..."
"Atau dengan penjagaan terkuat dari kurungan platina..."
"ya..."
.
"Lalu... 6 selain Ina... Kita masukan dalam Functional Ego State... Walaupun beberapa dari mereka masuk ke conflicting Ego State karena bertentangan... Seperti Tara contohnya yang belum menerima Nak Honda... Padahal yang lainnya menyukai Nak Honda..."
"Saya tidak melihat adanya kemarahan tak terkendali atau emosi negatif lainnya... Mungkin mereka belum memperlihatkannya... Nak Honda harap bersiap-siap saja..."
"Uh..." Kiku meneguk ludahnya.
"Tapi kalau kita bisa membuat perjanjian dengan mereka... Itu akan sangat bagus dan lebih konstruktif... Dan ini tugas kita juga selain meraih Nesia dalam kurungan..."
"Begitu... Lalu... Bagaimana dengan Ina-san?"
"Nah! Inilah yang paling penting!" ucap dr. Greef, "Ina-san dikategorikan di Malevolent Ego State... Sifatnya ganas, keras, kejam... Bukan hanya kepada kita atau diri penderita karena ada kemungkinan menyakiti diri sendiri... Namun juga berbahaya terhadap Alter yang lain..."
"Maksud anda?" tanya Kiku sedikit merinding, ia mengingat sesuatu sekarang.
"Dia bisa saja memiliki intention untuk... Menghancurkan Ego State lain... Demi mengambil alih semua kesadaran fisik dan mental Nesia..."
"Menghancurkan?" bisik Kiku pada dirinya sendiri.
Ia mengingat tingkah Nesia no. 2 kemarin dan senyuman kelegaannya yang begitu mengkhawatirkan.
Apakah... Nesia-san... Dan Ina-san...
"Nak Honda?"
"Umnh... Kemarin, Nesia-san sadar... Dan dia terlihat begitu lega melihatku... Apa mungkin... Di dalam sana... Ina-san..."
.
.
"Ya ampun... Ya ampun... Nak Honda pasti bercanda!" seru dokter paruh baya itu tak percaya. Tangannya mengusap rambut yang mulai memutih dengan pelan.
Kiku menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun... Tapi... Dia tak apa-apa bukan?" tanya dr. Greef.
"Y-ya..."
"Itu menambah tekanan kita..." ucap dr. Greef dilanjutkan dengan helaan nafas.
"Greef-sensei?"
"Malevolent Ego State sangat sulit diajak komunikasi, negoisasi, apalagi ditundukkan... Dia juga yang akan selalu menghambat terapi... Selama dia ada... Jangankan berpikir untuk menggapai Nesia yang terkurung, menyelamatkan Ego State yang lainnya pun..."
.
.
dr. Greef menggelengkan kepala.
Tatapan Kiku menggelap. Memikirkan Tara, Garuda, Ayu, Pertiwi, Nesia no. 1
.
Nesia no.2...
.
.
Nesia menghilang dihancurkan oleh Ina.
Nesia-san...
Kiku meremas celananya, menahan emosi kesedihan yang memuncak. Rasanya sungguh sakit hanya untuk membayangkannya.
Membayangkan ia tak akan pernah lagi melihat senyuman Nesia. Tawanya, candanya. Kegilaan Garuda -walaupun dia sangat menyebalkan. Tarian indah Pertiwi yang sangat mengagumkan...
"Tak bisa... Tak akan membiarkan Ina-san menghancurkan mereka..." ucap Kiku dalam pikiran gelapnya.
"Nak Honda! Nak Honda!" dr. Greef mengguncangnya, "Nak Honda!"
"dr. Greef? Apa yang harus kita lakukan?" ucap Kiku benar-benar tak tahu harus apa, "Bagaimana cara menghancurkannya? Kita harus cepat..."
"Netralkan dirimu dulu! Jangan taruh Ina-san sebagai penjahat!"
"Tapi... TAPI!"
"Ina mungkin yang terluka paling dalam... Yang terluka paling keras... Yang paling rusak... Jangan hakimi dia... Nak Honda!"
"Uh..."
"Tenanglah dulu... Kita harus selalu netral... Nak Honda... Karena memang demikian... Semakin agresif... Semakin kita tak menyukainya... Mungkin adalah tanda bahwa semakin ia rusak..."
-maru kaite chikyuu... Maru kaite chikyuu... Nihon to -pip-
"Moshi-moshi..." Kiku menjawab teleponnya setelah meminta ijin pada dr. Greef, "Mei-san? Nani ga..."
-KIKU! KAU DIMANA?!-
Mei berteriak dari seberang, suaranya benar-benar ketakutan dan diburu. Benar-benar situasi gawat.
"Aku di sebuah kafe..."
-CEPAT KEMARI DALAM 5 MENIT!-
"Tapi..."
-CEPAT!-
"B-baiklah..."
.
.
"Nak Honda... Ingat... Anda harus selalu tenang..." ucap dr. Greef mengingatkan, "Pergilah... Biar saya yang membayar..."
"T-terimakasih... dr. Greef..." ucap Kiku sembari menyambar blazer-nya, membungkuk hormat dan berlari keluar.
.
.
"Kuharap mereka akan baik-baik saja..." bisik dr. Greef pada dirinya sendiri.
A/N:
Yeaaaaaaaaaaah! 12!
Author : Ih woooowww... Serius amad Neth... Sampai ngeces nggak nyadar...
Neth: S-s-siapa?!
Author: Lah eloh... dan ecesanmu itu loh...
Kiku: Sapu tangan, oranda-san? *Nawarinsaputangan
Neth: Tidak terimakasih! *melengos+mengelapmulutnya
Kiku: Oke... *nggak yakin
Nesia: Aku... sama sekali nggak paham...
Kiku: *menepukkepalaNesia* Serahkan saja padaku... *tersenyummanis
Neth: WOOOOOY! TANGAN LOOOH!
Nesia: Ribut amat sih Neth?
Kiku: *senyumnistakeNeth
Author: Oke... biarkan mereka... Balas review saja... Umnh... Kiku-san... Sini deh!
Kiku: Ada apa, Author-san?
Author: Baca deh... dari ravenilu597-san...
.
.
-bluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuush...-
Kiku: U-un... S-saya akan bilang pada om Hidekazu... Pasti!
Neth: Ada apa sih?
Nesia: *nyobangintip
Author: Kepo amat sih lu pada? Cuma tanya si Tara itu tsundere bukan...?
Nesia: ... Yah...
Kiku: Symptom-nya sudah kelihatan... Bangga... tak bisa jujur...
Author: Kukira aku akan buat dia sebagai seme kedua-mu...
Kiku: *menghunuskanKatana
Author: I-i-iya... oke... nggak ada seme kedua!
Kiku: Bagus!
Author: Kau akhir2 ini jadi agresif ya?
Neth: Lagi PMS kaleee...
-Background : Neth kabur, Kiku mengejarnya dengan pedang terhunus-
Author: Oke, selanjutnya Faneda-san, Ingat kok :D :D *bisik* er... Faneda-san, mungkin untuk koplak itu saat ini tak perlu disampaikan pada yang bersangkutan... saya tidak mau ada Katana nyasar ke rumah anda... Yah, kalau sampai ada, saya rela kalau anda jual barang itu ke tukang cosu terdekat #apaini
Nesia: Bukannya kalau di jual ke pasar antik lebih mahal?
Author: Benar juga... #semakinngawur Yang penting Kiku nggak denger *nglinguk ke Kiku yang masih ngejar Neth* Kemunculan Neth ya? Nanti... Ada bagiannya sendiri... Tungguin yah... *wink* dan berasa nonton anime yah...
Nesia: Kukira ini brand new sinetron... Genrenya aja Drama Romance...
Author: gue pengen nyantet ni personifikasi satu... tapi ilmu gue nggak nyampe! Dan ini negara gue! Nasib!
Nesia: *nyadar* apa?
Author: Endak... Lanjut... Yuki Hiiro-san...
Nesia: *pissed* Thor... Beneran deh... Kalau... KALAU! sampai...
Author: Gue ngerti! Okeh! Okeh! *bisik* Yuki Hiiro-san, saya pertimbangkan nanti...
Nesia: *natap tajam*
Author: Nggak! Nggak! Masa mau segitu banyaknya?! Nti sampai aku mbah2 nggak selesai ni FF loh?
Nesia: Bagus kalau kau ngerti! *memperlihatkanbonekajerami
Author: Katanya date-nya hebat...
Nesia: Huh?
Author: Kau menikmatinya kan?
Nesia: ... Aku tak mengerti maksudmu...
Author: Kiku! Nesia mau kalau kau ajak date lagi!
Nesia: Nggak seperti itu! *blush
-Background : Kiku berlari dengan muka merah, Neth memburunya dengan kalap-
Author: Ada HolPan di sini?
-Background: Kiku dan Neth teriak serempak 'NGGAAAAAAK!'-
Author: Syukurlah... Balik lagi... Umnh... Iya... Alternya nggak ganti... sama aja sih... yang ngrasain satu personifkasi... dan roler coaster... *ngelihatbagiankru* Hei... kameramennya sudah berhenti vomit belum?
-Udah nggak apa-apa thor!-
Author: Bagus... bagus... Kemudian... Azukihazzle FryingpanMusic-san, Setengah cerita?
Nesia: Iya nih... udh 12 chapter...
Kiku: Tapikan pendek-pendek... sehari saja 3 chapter sendiri biasanya...
Author: Bilang aja lu masih mau lanjut... *nglirikKiku* Sebenarnya... Ini masih sepertiganya...
Kiku: *sedikitgesturYES!*
Author: Tuh baru dijelain sama dr. Greef tentang Alter Egonya bukan?
dr. Greef: Yup Author-san... Penjelasanku lumayan nggak?
Author: Lumayan memusingkan... iya... Lumayan *angguk2* Kemudian... Everly De Mavis-san, belum... masih sepertiga...
Neth: Mereka pasti capek membaca *piiiiiiiiiiip* ini...
Author: Kiku... Kalau kau bisa membawakanku bagian kepala Neth... Aku turutin apa yang kau mau dengan FF ini...
Kiku: Beneran...?
Author: 100 rius!
Neth: O-ow...
Nesia: Entah kenapa... aku merasa harus membantu Neth? *geleng2* Nggak! Ngapain juga aku bantu dia?!
Author: Updet cepet itu karena liburan... Nyehehe :D D Kalau semakin banyak libur semakin cepet updet :D :D
Oke... Segitu dulu hari ini,,, akhirnya... Mohon review, kritik dan saran :D Selamat weekend!
Kiku: Author! Saya berhasil menebas rambut anti gravitasinya! Ini termasuk bagian dari kepala oranda-san kan?!
.
.
er...
