Kiku berlari memasuki dorm perempuan. Ia melihat beberapa guru dan penjaga telah ada di sana. Bukan menantinya tentu saja -mereka malah keheranan melihatnya ada di tempat ini-, namun khawatir akan keadaan satu anak yang katanya sejak tadi kondisinya aneh; berteriak-teriak di dalam kamarnya. Sungguh mengerikan. Tak ada yang berani masuk ke dalam sana. Ke kamar nomor 178 itu.

Beberapa guru mencoba menggedor pintu plywood tersebut. Namun tak ada jawaban selain teriakan lainnya.

"Kau... Murid laki-laki kenapa ada di sini?!" seru seorang guru menyadari keberadaan Kiku.

"Saya..."

"Saya yang memanggilnya bu!" jawab Mei.

"K-kenapa?!" seru sang guru kaget, "Sudah cukup satu masalah anak teriak-teriak... Ini ditambah murid laki-laki masuk ke dorm perempuan! Kau... Kau juga anggota surat kabar bukan?! Ini bukan sesuatu yang..."

"Sensei... Tolong..." sahut Kiku dengan nada serius.

"umnh..."

Sang guru agak canggung untuk membiarkan Kiku mendekati pintu. Namun ia tak memiliki pilihan karena tampaknya murid satu ini memiliki rencana -atau apapun yang bisa menghentikan masalah ini.

"Nesia-san... Kikoeteru ka? Watashi desu yo..."

.

"Ina..." bisik Kiku di lubang kunci. Ia yakin panggilannya akan bergema dan sampai ke telinga Ina.

Berharap Ina akan terpancing karena Kiku tahu namanya.


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


-cklek... Krieeet...-

"Tolong tinggalkan kami... Kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian... Tolong..." ucap Kiku setelah merasakan pintu telah bisa dibuka.

"Tentu saja tidak bisa! Aku harus masuk ke sana!" ucap sang ibu guru berkacamata bulan sabit itu sembari memaksa Kiku untuk bergeser, "Minggir sekarang juga!"

"Sensei... Kumohon... Ini bisa jadi sangat berbahaya!" ucap Kiku panik, ia terpaksa bergeser karena perintah sang guru.

"Sensei!"

Wanita yang bertitelkan guru itu tetap memasuki kamar Nesia, mengabaikan peringatan Kiku.

"Kau murid laki-laki tetap di luar!" sahutnya saat merasakan Kiku mengikutinya.

"Tapi!"

"Kau bahkan seharusnya ada di luar gedung!"

.

.

Kiku menggeram dalam hatinya. Gurunya memang benar, tapi ini situasi gawat.

Sangat gawat dan sangat berbahaya.

"Kiku..." panggil Mei khawatir.

Jika itu Ina-san yang ada di dalam...

-GYAAAAAAAA!-

"S-SENSEI!" Kiku bergegas masuk saat terdengar suara teriakan gurunya itu, meninggalkan Mei yang semakin merinding ketakutan di samping Vie.

-Blam... Ckrek...-

Kiku menutup pintu kamar Nesia dan menguncinya. Mencegah adanya orang yang ingin masuk -walaupun sepertinya tak ada lagi yang ingin memasuki ruangan penuh teror itu.

"Ina-san..." panggil Kiku.

Kiku mengambil nafas dalam-dalam. Mencoba mempersiapkan mental dan fisiknya untuk semua yang mungkin terjadi.

Ya, di dalam sana adalah Ina. Ego State Nesia yang berbahaya dan bisa menghancurkan Alter lainnya. Alter Nesia yang harus ia tundukkan dan buat perjanjian sebelum Alter psikopat ini melukai siapapun.

"Aku masuk... Ina-san..." ucap Kiku sembari melangkah masuk dengan pelan dan hati-hati.

Kiku pernah kemari hari sebelumnya, dan ia rasa kemarin lebih rapih dibandingkan dengan hari ini.

Dan lebih terang.

Kiku memperhatikan sekelilingnya, ruangan itu sangat redup. Hanya disinari oleh cahaya matahari siang yang keras kepala memaksa menembus tirai gorden yang tertutup.

Ruangan yang sangat kelam, dan sangat berantakan. Bed cover berantakan, buku-buku di meja belajar telah beterbangan entah kemana saja – satu hampir ia injak-, Kiku menebak, Ina pasti mengamuk berat.

.

"Ina... San?" tubuh Kiku membeku saat melihat gadis itu sedang menduduki gurunya yang pingsan dan tak berdaya dengan pisau cutter yang akan diayunkan.

"Ina-san!" seru Kiku sembari berlari mendekat.

-Swaaats... Swaaats...-

"Mundur!" teriak Ina sembari mengayunkan cutternya tanpa arah agar Kiku berhenti dan menjaga jarak.

"Mundur! Mundur atau kutusuk!"

"H-hai... Wakarimashita..." Kiku mengambil satu langkah mundur.

"Jangan mendekat... Jangan coba-coba mendekat... Atau aku bunuh kalian!"

Kiku pun menelan ludah sebagai jawabannya.

TOTTEMO KOWAAAAIIIII! -serem banget!

"H-hai! Saya mengerti..." ucap Kiku sembari mengangkat tangannya di dada, membuktikan ia tak membawa apapun yang mungkin membahayakan Ina.

"Ina-san... Tolong... Orang itu tak bersalah... Dia guru... penjaga dorm... Kau pernah bertemu dengannya?"

"Diam!" Ina kini mengarahkan cutter-nya ke Kiku.

"H-hai..." ucap Kiku getir.

Doushi yo?!

Kiku benar-benar-benar bingung sekarang. Bagaimana caranya untuk menghentikan Ina?

"I-ina-san... Yamete kudasai..." ucap Kiku lirih saat matanya menangkap gerak-gerik Ina yang akan menusuk guru mereka yang masih pingsan itu.

"Ina-san... Yamete..."

Namun Ina tak memperhatikan sama sekali perkataan Kiku. Kedua tangan Nesia (Ina) yang memegang cutter dengan erat tetap dalam rutenya untuk menusuk leher sang guru.

"YAMETEE!" teriak Kiku sembari berlari ke arah Nesia.

-Bruuuugh...-

Kiku mendorong tubuh Nesia (Ina) sebelum gadis itu berhasil melukai sang guru. Ia tak bisa berpikir hal lain lagi karena kepalanya benar-benar blank. Ditahannya kedua tangan Nesia (Ina) di lantai, memastikan cutter itu aman.

"Lepaskan! Lepaskan aku!" Ina mencoba memberontak.

Kiku mencari-cari cutter yang seharusnya ada di salah satu tangan Nesia. Tapi, barang laknat itu tak kunjung ditemukannya.

Doko?!

-Drip... Drip...-

Dua tetes cairan merah kental berbau logam menarik perhatian Kiku. Perlahan ia mulai merasakan nyeri di bahu kanannya, dan hangat rembesan cairan di daerah sekitar sana.

Kuso! Aku tak waspada!

"Kau akan mati! Kau akan mati sebentar lagi! Hahaha! Rasakan!" seru Ina bahagia disertai dengan kekehan menyeramkan.

Itu hanya luka di bahu, bukan organ vital. Kiku tahu ia akan baik-baik saja sampai beberapa menit kemudian, sampai ia kehabisan darah.

Kiku sungguh berharap Nesia berganti kepribadian sekarang juga. Siapapun boleh, asalkan jangan Ina. Bahkan jadi korban sekuhara lebih baik daripada semua ini.

"Lepaskan aku! Biar kubuat kematianmu lebih cepat!" seru Ina sembari terus memberontak.

Kuso!

Kiku merasa dirinya sedang menjadi seorang tokoh yang disiksa dalam film S*w, F*nal D*stin*t*on ataupun film thriller-gore lainnya.

"Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan!" seru Ina tanpa henti, "LEPASKAN!"

"URUSAAAAAAAAAAAAAAIIIII!" teriak Kiku garang pada akhirnya.

Ina mengerjap, kaget. Ia melihat mata monokrom Kiku menggelap penuh kemarahan.

Di saat itulah Kiku melihat kesempatan untuknya menyatukan tangan Nesia dan mencabut cutter sialan di bahu kanannya itu. Dilemparnya menjauh benda berbahaya itu. Kiku tak peduli kemana, yang penting benda laknat itu menghilang dari hadapannya, terutama dari jangkauan Ina.

Ia meringis menahan sakit. Berharap cepat menyelesaikan semua ini dan berlari –atau mungkin dilarikan ke klinik terdekat.

"Tidak... Tidak... Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku! Lepaskan! Lepaskan! Tidaaaaaaak!" Ina mulai panik dan berteriak keras.

Kiku terheran-heran. Ia tak mengerti mengapa Ina menjadi serisau ini. Ia hanya bisa menatapnya bingung sembari tangan kirinya menekan bahu kanannya dengan sapu tangan miliknya untuk menghentikan pendarahan.

Gadis itu terus menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Namun tak bisa berbuat banyak karena terganggu oleh lengannya sendiri yang disatukan ke atas dan ditahan dengan tangan kanan Kiku. Ia mencoba semakin keras memberontak, namun dengan ketakutan yang amat sangat seolah Kiku akan meraepnya sekarang juga jika ia tak berhasil lolos dari cengkraman pemuda Jepang itu.

"Lepaskan! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" isaknya lagi, semakin ketakutan.

Kiku melihat mata tak fokus Ina semakin liar mencari-cari cara untuk lepas. Namun pada akhirnya tertutup erat menyerah. Kini bulir-bulir air mata telah berlarian menuju telinga Nesia (Ina) beberapa berhasil melarikan dirinya menghiasi pipi Nesia (Ina) yang bersemu merah menahan malu dan marah, menambah coretmenggodacoret bukti ketakutan di wajah Asia Tenggara itu.

"Lepaskan!" teriaknya lemah dengan sisa-sisa harapannya.

Kiku hanya bisa membeku, memandangi gadis di bawahnya yang sungguh membuatnya panas-dingin sendiri.

Ina-san! Anata no kao to koe o Yamete kudasai!-Hentikan muka dan suaramu itu!-

Aaaaaargh! Itu sungguh distracting and rape-able!

"L-lepaskan... Hiks..."

Breathe Kiku! Breathe! Nafas! Bernafas! Tenangkan dirimu!

Kiku menutup matanya, mengatupkan mulutnya membuat garis datar, mencoba mengitung sampai sepuluh. Ia mencoba untuk menenangkan diri dan bernafas. Jika ia tak melakukannya, jika ia tak menghentikan jantungnya yang semakin cepat memompa darahnya sekarang juga, ia akan semakin cepat kehilangan darah.

Sayangnya sampai hitungan ke 30 ia belum juga tenang 100 persen. Kini ia malah merasakan bahunya semakin nyeri setiap tarikan nafas, membuatnya kesulitan dan menjadikan nafasnya berat dan memburu.

Sungguh ingin ia berbaring, beristirahat sekarang juga. Hitungan ke 50 ini juga membuat matanya semakin berat.

Tapi dimana? Bagaimana?

Kiku berusaha memutar otaknya yang sepertinya telah kekurangan asupan dua hal paling penting; darah dan oksigen.

Kiku menyerah untuk memikirkan rencana 'menetralkan' Ina. Baginya yang terpenting sekarang adalah menjaga kesadarannya agar tidak berhalusinasi dan menyerang seseorang yang sangat menggoda dan tak berdaya di bawahnya.

Ina-san itu psikopat... Ini adalah jebakan! Ini jebakan! Oh ya ampun! Hentikan muka alluring itu!

.

.

"Kenapa?" tanya Ina dengan suara datar.

Berhasil mengambil perhatian Kiku yang sekarang telah kembali menatapnya dengan serius.

Muka polos dan innocent Nesia (Ina) saat ini membuat Kiku mencapai kesepakatan dengan dirinya sendiri; Ina adalah Yandere.

Apakah... Ina akan mengeluarkan informasi?

"Kau... Tidak... menyentuh ku?" ucapnya sembari merengut heran menatap matanya.

.

.

"Kau ingin kusentuh?" tanya Kiku spontan dan clueless.

.

.

Tidak! Tidak! Kami-sama! Jangan biarkan ia bilang 'Ya'! Tidak! Tidak! Tidak!

Kiku menghardik dirinya sendiri yang sungguh bodoh menanyakan hal itu. Ia melihat mata Nesia terlihat kembali menggelap sebagai jawaban pertanyaan absurdnya. Kiku merasakan pemberontakan Ina kembali.

Dan 70 persen dirinya merasa sangat bersyukur, meskipun sisanya yang lain kecewa setengah mati.

Maka, sekali lagi dikencangkannya cengkraman tangan kanannya ke kedua tangan Nesia (Ina).

"Kau tidak ingin kusentuh bukan? Maka hentikan ini semua! Tenanglah! Kau tahu... Jika aku ingin menyentuhmu, aku sudah lakukan sejak tadi..."

.

.

"Aku tidak percaya!" teriak gadis itu.

"Kenapa begitu?" tanya Kiku datar.

"Mukamu terlalu mencurigakan! Mesum!"

-cleeeeb-

.

.

M-m-me-me-mesum?!

Sudut-sudut perempatan kemarahan mulai menghiasi kepala Kiku yang menahan amarah. Kini hanya 50 persen dari dirinya yang bersyukur Ina mengisyaratkan kata penolakkan.

Jangan sampai kita melihat sebagaimana jauh kemesumanku bisa menjadi-jadi, Ina-san! O yeah... Aku seorang stalker dan pelajar sejati! Aku tahu apa yang harus dilakukan padamu jika kau tak tutup mulut!

"Lepaskan aku sekarang juga!"

"Diamlah! Atau aku akan benar-benar akan menjadi mesum!"

"Kau sudah! Pervert! Lepaskan aku sekarang juga! Brengs*k! Rendah! Tak bermoral!"

S-sou... ka?! Sou desu ka?!

Kiku tertawa sadis ketika neraca dirinya kini memperlihatkan hanya 30 persen yang mensyukuri –dan semakin mengecil. Persetan dengan apa yang dikatakan oleh dr. Greef tadi!

Sabar? Tidak!

Ina-san memang harus diberi pelajaran!

"Lepaskan aku sekarang juga! Kau bisa lari setelahnya! Pengecut!"

"Tidak! Kau akan membunuhku! Aku tahu itu dan kau tak bercanda saat bilang akan membunuhku! Kau menungguku kehilangan konsentrasi bukan?!"

"Ugh!"

"Sepertinya aku benar..."

"Sial!" umpat Ina sembari memalingkan mukanya.

.

.

Demi apapun! Tampaknya aku harus menjadi lebih gila daripada ini untuk bisa mengatasinya!

"Hei... Kenapa kau sangat agresif?" tanya Kiku datar setelah ia yakin dengan skema mastermind-nya.

"Bukan urusanmu!"

"Aku bisa memaksamu mengeluarkan jawaban..." sahut Kiku dingin.

Kami-sama... Sumimasen... Ini untuk kebaikan bersama dan menyelamatkan guru keras kepala itu!

"Oh ya?" tantang Ina.

"Yep... Dengan menyentuhmu... Kurasa..." Kiku mulai memainkan nada bicaranya.

"TIDAK! KAU TAK AKAN MELAKUKANNYA! KAU!"

"Oh... Aku bisa... Dan aku sangat leluasa..." ucapnya sembari tersenyum lebar, "Menyentuhmu..." Kiku sengaja memberi penekanan di kata tersebut.

Kiku tersenyum puas saat Ina meneguk ludahnya, saat sang gadis mulai ketakutan lagi. Ia tahu bahwa dia sedang memancing monster keluar, tapi memang itulah yang menurut Kiku harus dilakukan.

"Kau! Lepaskan aku! Lepaskan aku sekarang juga!"

Kiku tertawa, benar-benar tertawa dengan sadis. Ia mengembalikan dirinya saat Junior High yang dijuluki 'Iblis dari Timur' itu. Bahkan ia berusaha untuk mengingat dan mencontoh pimpinan Yakuza yang pernah ia lihat di salah satu film yang pernah ia tonton. Ina-san tidak bisa dilembuti -ia harus dikerasi.

Dan entah mengapa perut Kiku serasa tergelitik dan ia sangat antusias untuk melakukannya.

Oh yeah... I'm feeling like sooooo... badass now...

"Ina-san... Maaf tapi... Aku sudah lelah dan kapasitas otakku tinggal sedikit..." Kiku memainkan dagu Ina yang tersentak kaget.

"Aku hanya ingin mendengar apa yang aku inginkan... Oke? Jika tidak... Kurasa aku akan menghukummu..." ucap Kiku dengan nada bermain dan senyum lebar yang sangat licik.

Padahal, Kiku sendiri di dalam hatinya cukup heran dengan dirinya. Apakah sekarang ia adalah seorang penikmat BDSM? Scene sekarang sudah cocok, dia terluka dan akan menghukum Ina jika gadis itu tak menjawab sesuai keinginannya.

"Kau sakit!" hardik Ina tak percaya.

"Aku tak ingin mendengar itu..." ucap Kiku sembari mendekat.

"A-apa yang... Apa yang akan kau lakukan?!" ucap Ina ketakutan.

Sedetik kemudian ia tahu apa yang dilakukan oleh Kiku, dan itu sungguh membuat hatinya bergetar ketakutan. Sebuah jilatan kecil mendarat di siku kirinya, dan ia tak bisa berbuat apa-apa selain memandangi pemuda Asia Timur itu melakukannya.

"Tidak! Hentikan!"

"Sekarang... Kau mau menceritakan? Kenapa kau begitu agresif?" tanya Kiku dingin, bergeming di tempatnya.

Mengecap kulit Nesia (Ina) yang lembut di sekitar sana, dan semakin turun ke bawah lengan gadis itu demi meneror dan menekan Ina, Kiku mulai menyadari bahwa Ina hanya dan masih menggunakan baju tidur yang tak berlengan dan sangat...

Oh... No... O-M-G!

Ingin rasanya Kiku menepuk jidatnya sampai tepos dan menghentikan rencananya -yang kini dirasa sangat berbahaya- lalu kabur entah kemana.

Tapi itu tak mungkin.

Jika guru pingsan ini tak ada di sini!

Jika ia tak harus menyelamatkan dan membawa guru pingsan ini!

Guru kok malah merepotkan muridnya sih?!

"H-hentikan!" pinta Ina.

"Katakan... Kenapa kau begitu agresif?" ulang Kiku, mencoba menutupi nada getirnya.

"T-Tentu saja demi melindungi diriku sendiri dari orang-orang yang menyerangku! Macam kau!" teriaknya sembari mencoba menyingkirkan Kiku dari sikunya.

"Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan!" seru Ina kembali ke mode Yan-yan.

"Pernah ada yang... Menyerangmu?" tanya Kiku dengan nada yang sangat gelap dan suram, seolah suaranya itu datang dari perut neraka.

"Banyak! Dan ada satu sekarang!" jawab Ina lagi penuh sarkatisme, "Dan seperti mereka dulu yang berani menyentuhku... Aku akan membunuhmu! Hihihihi!"

"Kau disentuh oleh mereka, Ina-san?" tanya Kiku lagi, masih dengan nada yang sama.

Ia benar-benar lupa bagaimana cara menutupi amarahnya hanya karena mendengar seseorang di luar sana telah menyentuh Ina.

Lupa karena terlalu marah. Kalap.

Tatapan Kiku menajam, menekan keping coklat di hadapannya. Membuat yang ditatap tak berani melakukan apapun termasuk bernafas.

"Seperti ini?" ucap Kiku dengan nada dingin nan sadis.

Jemari tangan kiri Kiku yang berlumuran darah mulai menelusuri wajah Nesia (Ina), meninggalkan bekas merah di kening menuju ke hidung mungil Nesia dan bibir ranumnya.

"H-hentikan... Hentikan..." pinta Ina kembali ketakutan setelah melihat manik monokrom yang tak berjiwa itu semakin gelap dan mendiskriminasinya.

Tak terasa air mata kembali meluncur dari matanya. Ia ingin memberontak, sangat. Namun tak ada yang bisa ia lakukan, tak seperti saat masa lalunya yang ia bisa lepas dengan mudah dan melukai mereka.

Ina tak bisa menendang Kiku karena pemuda itu berada di atas perutnya, ia hanya bisa menendangnya ke depan dengan dengkulnya.

Namun itu berarti Kiku akan terdorong ke arahnya seperti saat ini -walaupun tak signifikan karena stance Kiku benar-benar stabil.

"Ne... Pernahkah?"

Suara sadis Kiku kembali terdengar saat tangan kirinya bergerak menelusuri pipi tembam Nesia (Ina).

Mata Ina mengikuti arah jemari-jemari yang menari di pipi kirinya itu -walaupun ia tidak bisa terlihat jelas karena blind spot-nya. Namun sedetik kemudian teralihkan pada dagu sebelah kanan yang mulai dijelajahi oleh Kiku.

"Pernahkah mereka melakukan INI padamu?" ucapnya lagi sembari menghentikan permainannya dan menaup dagu Nesia (Ina) serta melumat bibir mungil itu tanpa ampun.

"Huh?! Ungh!" Ina mencoba mengelak.

Ia memutar kepalanya dan berhasil melepaskan kecupan itu, namun sekali lagi wajahnya ditarik dan kembali ia dikuasai oleh Kiku.

Berulang kali ia mencoba melepaskan diri dari jajahan mulut Kiku, namun tidak berhasil. Ina benar-benar terkunci dan tak memiliki pilihan lain selain menyerah.

Kiku tersenyum kecil saat merasakan kepasrahan Ina, juga saat menyadari betapa ironisnya dunia ini. Kalau Kiku harus mengaku, yang mengajarinya ciuman seperti ini adalah Garuda atau dengan kata lain Ina sendiri -kemarin.

"Apakah mereka melakukan ini?" tanyanya di sela-sela kecupan sembari mengambil nafas.

"Tidak..." jawab Ina tersengal, "Tidak... Unh!"

Sekali lagi, Kiku menguasainya. Namun kali ini lebih lembut dan manis.

Ada sedikit rasa lega menghampiri Kiku, namun ia belum bisa tenang sebelum memastikan berapa jauh 'mereka' menyentuh Nesia yang sudah ia anggap sebagai miliknya itu.

"Lalu? Sampai mana? Sini?" Kiku beralih ke belakang telinga kiri Nesia (Ina) memaksanya untuk menengok ke arah kanan, "Jawab..." bisiknya.

"Tidak! Hentikan! Lepaskan aku!" jawab Ina semakin ketakutan ketika merasakan sesuatu yang lembut dan basah mulai memetakan lehernya.

"Itu bukan jawaban yang kuinginkan..."

"Tidak... Tidak ada yang menyentuhku di sana!" ucap Ina dengan nada bergetar.

"Bagus... Bagus..." Kiku terkekeh, namun sedetik kemudian berhenti dan kembali menegang, "Bagian bawahmu..."

Kata-kata itu sukses menyetrum Ina dengan listrik 100 ribu mega watt. Membuat muka kecil itu bersemu -merah padam bahkan- karena malu dan amarah yang tak terbendung.

"Demi apapun! Tidak! Aku langsung membunuh semua yang berani menarik tanganku dan menyentuhku tanpa ijin! Kau yang pertama melakukan semua ini! Dan aku bersumpah tidak hanya akan membunuhmu! Lepaskan aku sekarang juga!"

Kiku malah tertawa di telinga Nesia (Ina) ketika mendengar berita itu. Antara senang dan mencoba untuk lebih mendiskriminasi, meyakinkan Ina bahwa ancamannya tak berarti apapun padanya.

Dan ia siap kembali ke rencananya yang telah benar-benar ia tinggalkan saat mendengar Nesia pernah disentuh.

Atau bahkan melanjutkan situasi yang sudah bagus ini?

"sou ka... Yokatta desu ne?"

"Lepaskan aku!" erang Ina sekali lagi -entah ke berapa kali yang tak kunjung dikabulkan oleh pemuda yang masih bertengger di atasnya ini.

"Ina-san... Aku terluka, kau tahu itu..."

"Syukurin!" teriak Ina jutek.

"Dan kau harus mengakui bahwa aku masih bisa melakukan hal seperti ini..." bisik Kiku dingin sembari melarikan tangan kirinya menelusuri Ina.

"Berhenti! Berhenti!"

"Ketika aku sembuh nanti... Kau tahu apa yang mungkin terjadi padamu jika kau melawanku?"

"Tidak!" teriak Ina ketika mengerti apa yang mungkin terjadi.

Kiku tersenyum licik, "oh... Kau saaangat mengerti... Karena itu... Berjanjilah padaku... Jika Ina-san tak ingin aku berbuat macam-macam..."

"Ugh!"

"Aku memberimu lima detik... Untuk menyetujuinya..." ucap Kiku, "Satu... Dua... Tiga..." hitung Kiku cepat sembari terus memojokkan Ina.

"Empat... Li-..."

"Iya! Iya! Baik! Aku menyerah! Berhenti! Hentikan! Aku setuju!" ucap Ina tanpa mengerti apa perjanjiannya.

"Ii ko yo... -Anak baik..." Kiku kembali dengan senyuman liciknya.

Ditatapnya Ina tajam, "Berjanjilah bahwa kau tak akan pernah disentuh oleh orang lain selain aku... Karena kau milikku... Dan aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhmu... Aku akan melindungimu..."

Ina mengerjap bingung, apakah ia disuruh berjanji untuk membiarkan pervert satu ini melindunginya?

Kiku tersenyum kecil, "Kecuali dari diriku sendiri... Karena hanya aku yang boleh menyentuhmu..."

Ina terkesiap, orang ini menginginkan dirinya hanya menjadi milik pribadinya.

"Posesif!"

"Seikai desu..." -kau benar.

Kiku tersenyum manis menatap Ina yang sepertinya jijik padanya.

"Dou?"

"Ugh! Dengan aku menjadi milikmu... Kau tak akan membiarkan orang lain menyentuhku?"

"Aku yang akan menggantikanmu membunuh mereka jika mereka berani menyentuhmu..." ucap Kiku dengan senyum sadis yang berhasil membuat Yandere Ina pun ketakutan.

.

.

"Baiklah... Sesukamu..."

"Tapi sebagai gantinya... Kau akan menurut padaku apapun perintahku..."

"Control freak!" teriak Ina spontan.

"Seikai desu..." kekehan Kiku terdengar sangat renyah, "Kau milikku... Ina-san..."

.

.

"Katakan!" perintah Kiku tegas, "Kau milikku..."

"Y-ya... Milikmu..."

"Milikku pribadi... Dan kau menuruti apapun yang kuinginkan..."

"Apapun yang... Kau inginkan..."

Ina menutup matanya saat Kiku mengklaim mulutnya lagi.

"Istirahatlah... Ina-san..." ucap Kiku sembari mengelus pipi yang telah dihiasi cairan merahnya tadi tanpa melepas kecupannya, "Aku akan memanggilmu kembali nanti... Wakatta?"

"un..." Ina setuju tanpa pilihan lain.

"Ii yo... Watashi no itoshii Ina-san..." –Ina-ku tercinta

Sedetik kemudian Kiku merasakan tubuh Ina melemas.

.

.

Kiku menarik dirinya setelah menghela nafas lega. Sudah selesai menurutnya dengan Ina. Ia pun melepaskan cengraman tangannya.

Kiku sudah tak tahan lagi dengan luka di bahunya. Tampaknya sudah terlalu banyak darah yang keluar. Keadarannya menurun drastis. Ia kini hanya bisa kembali menekan bahu kanannya yang terluka. Berharap darahnya masih cukup untuk mengantarnya membuka pintu dan meminta pertolongan.

"u-ungh?"

"Huh? Kau bangun?" ucap Kiku khawatir.

"H-huh? K-Kiku... Senpai?" kaget Nesia sembari menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya.

"O-oh... Nesia-san ka?" Kiku menghela nafas, "Yokatta..."

-Brukk-

"S-senpai?!" Nesia tercekat saat melihat tangannya yang memerah karena cairan kental dari senpainya itu.

"Sen... -pai? SENPAI!"


A/N:

Yeaaah! 13 nih!

Neth: *melongo

Nesia: ... *natepkeKiku* Kamu itu... Kiku... kan?

Kiku: Hai? *tersenyum

Nesia: *nggeretAuthor* Thor! Seriusan deh! Kiku... kan?

Author: Siapa lagi emangnya?

Nesia: Apa nggak kepikiran thor? Jangan-jangan... Dia...

Kuro: Kau membicarakan aku, Nes? *naughtysmirk

Nesia: Err... T-thor... a-aku... aku balik dulu ya ke Istanah Merdeka... Pak Presiden manggil nih!

Author: Kenapa ni bocah ada di sini!?

-teps-

Kuro: *nangkepkerahNesia+ketawa2horor* Kau sungguh kejam, Nes... Aku bela-belain dateng nih... hehe...

Nesia: Coba ngaca dulu! Siapa yang kejam!? *melarikandirisekuattenaga*

-puk-

Kiku: *nepuktanganKuro* Kuro-san... tolong... jika seperti ini terus... aku yang susah!

Kuro: Ini terimakasihmu setelah merengek semalaman minta diajarin *piiiiiip* *piiiiip* *piiiiiiiip* buat FF ini? Lumayan sih kau... tapi akan lebih bagus jika kita bertukar... Biar aku yang...

Neth: WOOOOOOOOOOOIIII!

Kiku: *tatapanLangkahiMayatku!*

Nesia: Nggak! Nggak! Nggak!

Author: *facepalm* Oke... Absurd! Aku balas review ajah... Oh ya... sebelum itu... Maaf untuk chapter sebelumnya yang rada membingungkan itu... Tapi kukira itu perlu untuk dimasukkan (beberapa hal penting di dalam cerita ini),, saya sudah mencoba seringan mungkin... dan memberi Coffee Break dimana-mana... Tapi kalau masih susah... mohon maafnya... ""OTL

Dan mohon maaf juga untuk chapie ini yang kayaknya agak T++,, habisnya mainnya sama psiko... salahkan Kiku!

Kiku: Eeeeeeeh? Watashi no sei?! -salahku?

Author: Y-ya... Kan...

Kiku: *bisik* Bukannya kita sudah setuju... bagian kepala oranda-san...

Nesia: Kenapa aku mencium sebuah konspirasi?

Author: Nggak! Nggak! Nggak ada! haha! Balas review! Azukihazzle FryingpanMusic-san, ya... Ini masih panjang... Dan aku juga masih meraba mau diapakan ini FF... Apakah nanti bagaimana-bagaimana-bagaimana... Masih abu-abu... Doain ajah semakin bagus dengan ending yang bagus :D

Yuki Hiiro-san, benarkah? Itu juga favoritku :D :D Sampai mbah2 belum selesai itu... *speechless* Nanti kalau ceritanya malah jadi C*nta F*tri gimana?

Kiku: *geleng2* Iie desu... Watashi wa F*rrel ja nai!

Nesia: Boleh... tapi itu artinya aku nggak urusin rakyatku... gimana?

Author: Nes... Ancamanmu itu loh... Nanti deh... Tentang jumlah Alternya Nesia nanti ada... :D Penjelasannya... Iya... Panjang banget... satu chapter malah... *garukkepala* #BuangAuthorKeLautKidul

Taiwan-chan kenapa? Ini sudah dijawab di cahpter ini :D :D

Faneda-san, karena aku bukan praktisi kesehatan ataupun psikologi... Jadi aku nurut saja dengan apa yang dikatakan temanku yang menggeluti bidang itu... :D :D Mungkin iya... tapi kukira dunia kesehatan itu dinamis dan berubah2 :D :D Ini nggak lama kan? cuman jeda beberapa jam? hehe... #soalnyachapie12berat

Kemunculan Neth...

Neth: *blink2eyes

Author: Masih lama lah...

Neth: Nesia... aku mau dong diajarin santet!

Nesia: Katanya kau nggak percaya ginian!?

Author: Hohoho... Aku ada ilmu kebal Neth! kau tak bisa menyantetku begitu saja!

ravenilu597-san, maaf... banget T_T soalnya butuh... Sekali lagi maaf... Ini sudah digantikan... Tapi kayaknya nggak lebih mending yah... #santetsajaaku

Bukan anak psikolog kok... Ayahku swasta #maksudloe?!

Neth: Dia mah anak galau yang kerjaannya menikmati indahnya bangunan cinta

Author: Sumpel mulut! Sumpel mulut! Itu cerita lama!

Neth: Umph!

Author: nggak papa kalau kelewatan :D santai saja :D :D yang penting di review :D #sudahbahagiasampailangitke7 Akunya juga yang updet seenak jidat sih... :P

Pokoknya gitu deh... Sekali lagi maaf ya m(_ _)m,,, dan mohon kritik saran dan reviewnya :D :D :D