Kiku menghelakan nafasnya.

Nesia... san...

Cukup panjang untuk menjadi nafas terakhirnya sebelum mengerjap dan membuka matanya. Ia mengenali ruangan berbau steril dan bercat putih ini.

Pusat kesehatan ya?

Iris kayu jatinya melihat ke sekeliling. Menghela nafas lagi saat ia melihat infus dan kantung darah yang isinya mengalir memasuki dirinya memalui selang dan jarum. Sepertinya ia kehilangan terlalu banyak darah sehingga harus mendapat transfusi.

Nesia-san… Dimana Nesia-san?

Kiku hanya bisa memijat pelan kepalanya yang sakit walaupun inginnya tubuh adalah untuk bangkit dan berlari mencari dimana Nesia berada. Tapi apa daya, tubuhnya merengek meminta istirahat. Maka, pemuda itu kini hanya bisa melingukkan kepalanya untuk mempelajari keadaan di sekelilingnya.

Angka empat ditunjuk oleh jarum kecil sebuah bundaran yang tergantung tinggi di tembok yang menghadap tempat Kiku berbaring. Menjawab salah satu dari pertanyaan yang ada di kepala Kiku yang berdenyut. Sore hari yang cerah. Matahari senja terlihat merangsek masuk di jendela yang letaknya agak berjauhan dari tempat tidur Kiku sehingga ia tidak terkena sinar jingganya yang mewarnai tembok putih klinik.

Terakhir ia ingat, ia sampai di asrama putri tengah hari. Entah hari ini, kemarin atau kapan, Kiku tak tahu pasti berapa lama ia tak sadarkan diri.

-Cklek...-

"Oh... Anda sudah bangun..." ucap seorang perawat saat memasuki ruangan, "Hari yang menakutkan bukan? Tapi anda tenang saja... Semua ini telah berakhir..."

Hri ini belum berakhir yah? Kuat juga diriku... hanya tak sadarkan diri empat jam...

"Dimana... Nesia...-san?" tanya Kiku berusaha keras mengeluarkan suaranya yang sepertinya tertahan sesuatu.

"Umnh? Anda tak perlu mengkhawatirkannya... Dia sudah diamankan..."

Diamankan?! Yang benar saja! Berurusan dengan polisi?

Kiku memaksa menarik tubuhnya yang sangat berat untuk duduk walaupun juga dicegah oleh sang perawat, "H-hei! Jangan paksakan diri! Istirahatlah..."

"Kemana... kalian... membawanya?" ucap Kiku tegas -tetap sopan, "Kumohon... Jawablah! Kemana?!"

"I-itu..."


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


Kiku melangkahkan kakinya cepat, tak peduli lagi pada kepalanya berikut bahunya berikut sekujur tubuhnya yang dihujam rasa sakit tak terelakkan. Ia mendorong tiang tinfusnya secepat ia bergerak.

Beberapa perawat mencoba menahannya. Namun ia tak peduli, ia terus melangkah bagaikan tidak ada yang menghalangi. Ia sama sekali tidak mengacuhkan ancaman perawat-perawat itu. Mulai dari melaporkannya ke dokter, melaporkannya ke guru, mengancam lukanya akan terbuka dan infeksi dan bertambah parah –yang ia jawab "Lebih baik seperti itu, daripada saya harus kehilangan jejak Nesia-san...".

Kiku mempercepat langkahnya, dan para perawat itu mulai tumbang satu-persatu, menyerah, sesuai dengan keinginannya.

Nesia-san!

Akhirnya, ia berhasil keluar dari Klinik kesehatan yang mirip rumah sakit kecil itu. Pemuda itu segera melingukkan kepalanya, mencari bus yang biasa mengelilingi area akademis Hetalia School yang lumayan -sangat- luas -sekali- ini.

Tak lama menunggu, bus berwarna kuning itupun datang. Kiku pun segera menaikinya dan duduk di bangku terdekat dari pintu.

Ini kali kedua ia naik bus yang penuh dengan tatapan heran ke arahnya.

Kiku masih juga tak peduli, bahkan pada seorang perawat yang masih saja keras kepala mengikutinya. Ia ingin cepat-cepat sampai di Kantor Kepala Yayasan dimana Nesia berada dan memastikan gadis -yang tidak bersalah- itu tidak mendapat perlakuan yang tak menyenangkan.

Setelah lima menit perjalanan dengan bus akademi, Kiku akhirnya sampai di bangunan yang mungkin berumur sama dengan jaman Restorasi Meiji. Namun, bangunan bergaya Renaissance itu sangat terawat.

Di depan bangunan megah tempat ketua yayasan bersemayam, terdapat fountain dengan tugu batu yang ukirannya sama seperti badges yang ada di blazernya, sebagai penanda Hetalia Academy.

Jalan berpaving yang lurus -mengembang karena memutari fountain- dan dipagari oleh tumbuhan semak yang dipotong rapih menjadi sirkulasi utama bagi orang-orang yang memiliki urusan di bangunan mirip kastil kecil itu.

Seperti Kiku sekarang ini, yang sedang cepat-cepat melintasinya tanpa memperhatikan taman bunga cosmos yang sedang bermekaran indah di sekitarnya ataupun luka di bahunya yang turut 'mekar' dan meninggalkan noda merah di kain perban dan sedikit kain bajunya. Ia terlalu terfokus untuk menemui kepala yayasan sebelum matahari senja bersembunyi di balik horizon.

Kiku menyelonong masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu luar yang telah tertutup. Membuat beberapa penjaga meneriakinya untuk berhenti.

Oh! Sudah cukup satu perawat keras kepala mengikutinya! Ini masih ditambah dua orang penjaga lagi! Kiku mendengus sebal.

"Jam kunjungan telah selesai... Silahkan anda kembali besok!"

"Ini menyangkut nyawa seorang murid…" tegas Kiku.

Sebenarnya tak ada siswa yang terancam nyawanya, tapi dengan keadaan Nesia yang seperti itu... -Yah, bisa dikatakan ini adalah white lies.

Mendengar alasan Kiku yang tak main-main, mereka akhirnya menyingkir dari hadapan Kiku. Namun mereka tetap mengikuti pemuda yang kepayahan membawa tiang infusnya sendiri itu ke ruang kepala yayasan.

-Tok... Tok...-

"Oh, silahkan masuk!" ucap seseorang dengan suara berat di dalam ruangan. Dari Intonasinya, Kiku menebak bahwa ia telah pasrah dan kehabisan akal.

"Ia di sini... Anak ini mengamuk dan berhasil membuat salah satu murid teladanku hampir mati... Serta guru yang sampai saat ini masih syok..." ucap seseorang yang Kiku kenali sering memberikan ceramah pengantar tidur murid-murid Senior High –dilanjutkan dengan dirinya sendiri yang ikut tertidur walaupun sedang memberi ceramah tak bermutu- saat upacara pembukaan semester. Seorang pria paruh baya yang sangat aneh menurut Kiku. Namanya Bapak Roman –Kepala Sekolah Senior High Hetalia School.

"Saya harap bapak..." ucapannya terhenti saat ia berbalik dan menyadari bukan polisi atau penuntut atau bahkan pengacaranya yang baru saja ia panggil. Yang ada di pintu masuk hanyalah seorang murid dengan pakaian klinik lengkap dengan tiang infusnya.

"Saya masih muda, pak kepala sekolah... Belum cocok dipanggil bapak..." ucap Kiku sopan.

"K-kau... Ke-kenapa kau di sini?" ucapnya kebingungan dicampur panik. Ia segera menghampiri yang Kiku kenal sebagai Ketua Yayasan, Bapak Germania, yang hanya menatap aneh ke arahnya.

"Saya ingin bertemu dengan Nesia-san..." ucap Kiku.

"T-tapi..." tolak pria berdarah –sepertinya*- Italia itu panik, tidak mencerminkan umurnya yang telah dewasa.

"Katakan kenapa, Honda?" tanya Pak Germania kalem.

"Saya butuh bicara dengannya, Pak... Mohon diijinkan..."

"Baiklah..." ucap Sang Kepala Yayasan, meski kepala sekolahnya tetap menggeleng menolak.

Kenapa mereka mengingatkanku dengan Ludwig dan Feli ya?.

Walaupun ditolak oleh kepala sekolah, toh kepala yayasan mengijinkannya. Maka, Kiku tetap berjalan mendekat ke seorang gadis yang tengah duduk terdiam dan tertunduk di salah satu kursi tamu. Ia sama sekali tak terganggu akan kehadiran Kiku.

Kiku merengut miris melihat tangan dan kaki Nesia yang terikat. Bermaksud mencegah gadis mungil tersebut lari atau bertindak sesuatu di luar kendali -walaupun sebenarnya mungkin tidak perlu, gadis itu benar-benar diam. Kiku malah khawatir akan keadaan Nesia sekarang. Ia berdecak kecil mengeluarkan kekesalannya.

Koto sugiru! –Berlebihan!

"Ketua yayasan... Boleh saya ambil cutter-nya?" Kiku meminta ijin pada yang lebih 'dewasa'.

"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Pak Roman tak yakin.

"Kau yakin?" tanya Pak Germania.

"Saya yakin..." ucap Kiku.

"T-tapi..."

"Dia tak berbahaya... Tak perlu mengikatnya seperti ini..." ucap Kiku sopan, tangannya -dengan hormat- mengambil cutter di tempat pensil, di atas meja Oak yang cukup besar dan memiliki penanda Ketua Yayasan itu.

"Apakah kau... Kau gila?! Dia bisa saja mengamuk seperti tadi!" ucapnya semakin panik.

"TIDAK AKAN!" Kiku mangambil nafas, "Sumimasen... Pak kepala sekolah yang terhomat... Dia tidak akan mengamuk..." Kiku tak habis pikir, bukankah Pak Roman seharusnya orang yang hebat dan tenang dan seorang kepala sekolah yang patut dicontoh? –kecuali ketika memberikan sambutan atau petuah.

"Kenapa kau tak percayakan saja pada mereka, Roman?" tanya pria berambut platina agak panjang itu.

"Tapi kan..." Pak Roman melemas, ia beralih pada Kiku, "Bagaimana kau bisa seyakin itu?! Kau sudah terluka olehnya tadi..."

Sedetik kemudian ikatan tangan Nesia terlepas, dan Kiku beralih pada kaki-kaki kecil Nesia yang tak beralas. Sang kepala sekolah mengambil langkah mundur.

"K-kenapa kau tak menjawabku?" ujarnya sambil bersembunyi di dekat Pak Germania.

"Sudahlah... Ini masalah anak muda..." Pak Germania mencoba menenangkan.

"Nesia-san...?" panggil Kiku lembut.

Namun kohai yang dipanggilnya tak kunjung memberikan jawaban. Bahkan Kiku hampir tak merasakan tanda-tanda kehidupan Nesia.

"Nesia... San?" ucap Kiku sembari menyentuh tangan Nesia.

Sangat dingin, bagaikan es. Pucat, bahkan mengalahkan kulit Asia Timur Kiku yang notabene pucat.

Kiku menyingkirkan helai-helai rambut Nesia yang menutupi wajah manisnya. Jika Kiku tak mengenali gadis yang menjadi pujaan hatinya ini, sejak di ambang pintu tadi ia pasti telah berteriak 'sad*ko!' atau semacamnya. Kiku mencoba membuat simpul untuk mengikat surai itu dari rambut Nesia sendiri, sehingga ia bisa melihat wajah Nesia dengan lebih jelas.

Pucat pasi. Bagaikan darah tak mengalir lagi di sana.

Mata gelap Nesia membesar, seakan ingin masuk dan menyembunyikan dirinya namun tak bisa, sehingga imbasnya, kedua bola itu harus menyaksikan yang tak ingin mereka saksikan. Iris itu pun sudah tak memantulkan cahaya keceriaan yang seharusnya lagi. Keping yang kini lebih tak berjiwa darinya itu terbuka tanpa berkedip sekalipun. Menatap kosong lantai marmer yang dingin tanpa kehidupan.

"Nesia-san?" panggil Kiku cukup keras sembari mengguncangkan tubuh Nesia.

Nihil. Tanpa jawabanlah yang ia dapat. Bagaikan mulut Nesia terkunci rapat dan bahkan gadis itu tampak tak mengambil nafas sama sekali.

Rasa takut dan khawatir mulai menjalari diri Kiku. Ia mengguncangkan Nesia lebih kencang. Namun kohai itu bagaikan sebuah manequin. Sebuah boneka tak bernyawa yang mirip sekali dengan manusia.

Ya, seperti itulah keadaannya sekarang. Bukan lagi seorang gadis yang sangat manis layaknya boneka.

"Nesia-san! Jawab aku! Nesia-san!" Kiku memanggil-manggil panik.

"Apakah dia baik-baik saja, Honda?"

"S-saya tidak tahu..." jawab Kiku dipenuhi dengan nada horor.

Doshite? Nande? Nesia-san! Onegai!

"Nesia-san... Hanashite kudasai... Bicaralah padaku! Ceritakan padaku!" Kiku memohon.

"H-hei? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Pak Roman diantara keheranan dan kepanikan.

Namun Kiku tak punya waktu untuk menggubris pertanyaan tak bermutu dari kepala bersurai coklat gelap yang tiba-tiba sok peduli itu. Ia menarik wajah Nesia untuk menengadah menatapnya.

Dan Kiku benar-benar ketakutan sekarang ketika melihat keping legam itu mati.

"Nesia-san! Watashi wa koko ni iru yo!" ucap Kiku sembari menepuk pelan pipi Nesia, "Watashi wa daijoubu desu! Nesia-san!"

Iia! Iia! Iia yo! Nesia-san! Watashi ni mitte yo! –Lihatlah aku!

"Haruskah kutelepon dokter?" tanya sang kepala sekolah yang ketakutan itu.

"Tampaknya itu akan membantu..." jawab Pak Germania.

Kiku terhenyak.

dr. Greef!

"S-sumimasen!" ucap Kiku sembari merebut telepon genggam Pak Roman.

"H-hei!"

Tanpa memperdulikan yang terhormat Bapak Kepala Sekolah Senior High Hetalia School yang ia 'kacangin' secara terbuka, dengan cekatan Kiku memencet nomor yang baru ia hafalkan ketika menunggu si empunya nomor tadi pagi.

-pip-

-selamat sore... dr. Greef disini, ada yang dapat-...-

"Sensei! Honda Kiku desu! Sensei! Ini gawat sekali! Aku tak tahu apa yang harus kulakukan!" ucap Kiku sembari mengacak rambutnya frustasi.

-Nak Honda... Tenanglah... Ada apa?-

"Nesia-san tak mau bicara... Dia... Dia seperti... Jiwanya tak ada..." ucap Kiku buru-buru sembari terus berusaha menahan emosinya.

-Apakah Nak Nesia mengalami syok? Sesuatu terjadi?-

.

.

.

"Ya..." Jawab Kiku mulai mengerti, ia mengingat mimpi buruk siang tadi.

-Menurut Nak Honda... Nesia sangat membencinya?-

.

.

"Ya... Sangat..." ucap Kiku lemah.

-Apa yang terjadi?-

"Sebenarnya..." Kiku memijat pangkal hidungnya, "Bisa dikatakan... aku hampir mati di... hadapannya..." ucap Kiku lirih mencoba menangkap informasi yang berdatangan ke kepalanya selagi ia mengucapkannya.

Bisa Kiku dengar desahan nafas kecewa dari seberang. Ya, ini memang kejadian yang super mengecewakan, dan sangat tidak diinginkan. Apalagi jika tahu akibatnya akan seperti ini.

Nesia-san menyalahkan dirinya sendiri... Nesia-san sangat syok atas apa yang terjadi padaku... Nesia-san...

-Nak Honda! Cepat sadarkan dia sebelun ia lari dan membuat Alter baru! Yakinkan dia! Jangan buat ini menjadi pengalaman traumatik yang menyebabkan ia mengunci dirinya!-

"A-apa yang harus aku lakukan?" Kiku panik.

-Tarik perhatiannya! Buktikan kau baik-baik saja! Aku akan segera ke sana!-

dr. Greef terdengar buru-buru, tak peduli lagi akan formalitas. Dan di sinilah Kiku, bingung atas apa yang harus ia lakukan setelah dr. Greef menutup teleponnya.

"K-kau menelepon siapa?" tanya Pak Roman.

"Iie..." Jawab Kiku tak acuh.

Apakah aku harus koprol untuk menarik perhatiannya?!

Kiku menggeleng.

Kiku! Jangan bercanda! Ini serius!

Dicobanya lagi untuk mengguncangkan tubuh Nesia sambil memanggil-manggil nama gadis itu.

Tak berhasil.

Ditariknya kembali wajah Nesia menghadapnya. Ia memilih untuk menarik tubuh Nesia sebagai langkah selanjutnya. Kiku berusaha -sangat- untuk menghangatkan tubuh Nesia yang dingin. Namun tubuh lemas dan pasrah tak bernyawa Nesia membuat Kiku semakin ketakutan.

"Nesia-san... Kumohon! Bangunlah!" ucapnya di setiap guncangan.

Tak memberikan balasan apapun, Nesia hanya diam dan berguncang.

.

Kiku tetap memanggil-manggil Nesia. Ia mencoba memberdirikan Nesia di atas kakinya sendiri. Berkali-kali. Namun Nesia tidak merespon dan terus merosot.

Kiku tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, akhirnya dia hanya berulang kali berbisik di telinga Nesia. Memanggil-manggil nama gadis itu. Berharap siapapun di dalam sana mengambil tempat dan membuat tubuh di dekapannya ini bergerak.

Bahkan ia rela jika harus menjadi korban pelecehan Garuda, di depan Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah ini jika perlu, jika itu artinya Nesia tak apa-apa.

Oh, ia sungguh mengutuk perasaan tenangnya tadi sebelum pingsan. Tenang karena Nesia no. 2 yang bangun, sesuai dengan permintaannya. Sungguh kalau waktu bisa diputar, ia akan meminta yang bangun adalah Garuda. Ia tak akan peduli jika Alter itu harus syok seperti ini –malah bersyukur mungkin.

Tidak. Kalau Garuda sih tidak mungkin sesyok Nesia-san... Mungkin malah aku akan diapa-apakan olehnya tanpa peduli apa yang terjadi padaku...

.

.

Yang penting itu akan lebih baik untuk Nesia-san...

"Nesia-san... Mou... Yamete kudasai... Onegai... Onegai... Sumimasen! Maaf! Aku tak akan mengulanginya... Aku tak akan berurusan dengan Ina-san lagi! Dakara... ne... Onegai! Okite kudasai!"

Kiku tak berhenti berbisik walaupun ketua yayasan menepuknya ataupun memberikan instruksi dengan nada sebal ke arah bawahannya. Kiku tidak mengurusi sama sekali, yang ada di dalam pikiran Kiku hanya satu; Nesia.

Pak Roman akhirnya hanya bisa melenggang pergi keluar dari ruangan yang membuatnya kepalanya pening itu diantarkan oleh Pak Germania yang mengangguk menyerahkan masalah pada Kiku. Meninggalkan Kiku di tengah kepanikannya sendiri.

Tak bertanggung jawab memang. Namun dengan mereka –terutama Roman, sahabatnya- ada di sana malah memperkeruh keadaan. Begitulah pemikiran Pak Germania.

Kami-sama! Douka! Watashi wa... Nanimo shimasu! -Tolonglah! Aku akan lakukan apapun!

Tak juga bergerak, Kiku lebih dari desperate. Dipeluknya Nesia lebih erat, lebih hangat, tak peduli bahunya yang kembali sakit melilit sekarang.

Onegai!

Onegai!

ONEGAI!

.

.

"Nesia-san... Onegai... Jangan lakukan ini padaku..." ucap Kiku getir sembari menenggelamkan mukanya di bahu Nesia, "Jangan pergi... Jangan tutup pintunya..."

.

.

Masih tak ada jawaban.

Yang bisa di dengar Kiku hanyalah detak jantung Nesia yang sangat lemah berikut juga nafas kecilnya.

Kiku sungguh ketakutan. Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ia sungguh putus asa. Inginnya ia bisa melakukan sesuatu, tapi tak ada hal yang mungkin bisa ia lakukan. Jika saja ia tak ingat bahwa dia seorang laki-laki, ia akan menangis frustasi sekarang. Karena seluruh hati, pikiran, jiwa dan raganya telah mengetuk palu persetujuan; Nesia adalah yang paling berharga baginya.

Dan gadis itu sungguh tega, masih tak mau bergerak.

Andaikan aku bisa masuk ke pikiran Nesia-san... Kmai-sama...

-Tep...-

"H-huh?"

Kiku merasakan sentuhan lemas di pinggangnya. Bukan hanya sentuhan lemas, kini semakin terasa dan sentuhan itu kini bergerak ke atas.

"Nesia-san?" ucap Kiku parau sembari melepaskan pelukannya untuk melihat Nesia.

Ia memastikan tangan kecil gadis itulah yang menyentuhnya. Setelah itu ia memastikan pula iris sang gadis yang kini kembali memerangkap kesadarannya di dalam keindahan.

Oh... Bagaimana dia tetap bisa melakukan ini padaku saat kondisinya seperti ini?

"Nesia-san…" bisik Kiku bahagia.

Kini Nesia berdiri di kedua kakinya.

Kini mata Nesia mulai memantulkan sinar kehidupan.

Kini kepingnya mulai bergerak-gerak, mengamati keadaan, semakin menjerumuskan Kiku dalam perangkapnya yang manis.

"Nesia-san?" panggil Kiku hati-hati.

Nesia belum mau menjawab. Ia hanya terus memperhatikan wajah Kiku yang mulai dihiasi rona-rona kebahagiaan. Bagaikan mencari-cari jawaban atas pertanyaan pribadinya.

Kiku membiarkan wajahnya ditelusuri oleh jemari-jemari kecil Nesia yang penasaran akan semburat kemerahan di pipi pucatnya. Kiku tertawa kecil, akhirnya, setelah semua raut frustasinya.

"Kusuguttai -geli, Nesia-san..." ucapnya sembari menangkap tangan Nesia dan menyenderkan kepalanya di telapak tangan mungil yang mulai menghangat itu.

"Nesia-san... Kau membuatku takut saja..."

Nesia masih tak mau menjawab, pandangannya kini beralih ke bahu kanan Kiku yang tertutupi perban kemudian beralih ke tiang infus yang berada tak jauh dari penggunanya.

"Sudah tak apa-apa, Nesia-san... Aku baik-baik saja..." ucap Kiku masih tetap tersenyum dan menutupi bahunya.

"Ne... Maukah kau membalas perkataanku? Aku seperti sedang bicara sendiri..." lanjutnya lagi.

.

.

"Nesia...-san?" tanya Kiku khawatir.

Okashii –aneh... Ada yang tak beres...

Kiku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Padahal Kiku telah coretmenunggucoret bersiap apabila Nesia akan memeluknya erat dan girang setelah mengetahui dirinya selamat.

Atau ini bukan Nesia-san? Tapi siapa? Pertiwi-san?

Nesia hanya memiringkan kepalanya heran, tetap menatap Kiku dengan tatapan mempelajari. Tidak ada lagi yang dilakukannya selain itu.

"Watashi desu yo... Honda Kiku... Anata no..." Kiku terdiam mendadak, "Anata no senpai... -desu..."

Kiku menelan dengan pelan, ludah dan sebuah kata benda yang tadinya amat-sangat-teramat-ingin-sekali-banget ia ucapkan sembari terus mengamati gerak-gerik Nesia.

Gadis itu membuka mulutnya sedikit, menggumamkan kata 'Ah!' seperti mengingat sesuatu, namun kata itu tak keluar dari mulutnya. Dan kemudian kembali tertutup rapat.

Kiku menghela nafas kecewa. Dikiranya akan ada satu-dua kata yang keluar. Kini ia merasa sangat merindukan suara Nesia yang jernih melengking ceria.

Apalagi ketika memanggil namanya.

Mungkin besok ia akan mengijinkan Nesia menggumamkan –dan menyanyikan- namanya lagi.

.

Suara kecil di koridor luar ruangan mengambil perhatian Nesia. Gadis itu segera menengokkan kepalanya ke arah double-door dari kayu oak yang menjadi tempat masuk-keluar ruangan ini.

"Ada apa?" Kiku mengikuti arah kepala Nesia.

Sebuah perbincangan –atau mungkin perdebatan terjadi di luar ruangan ini. Suara kepala yayasan, suara kepala sekolah, serta penjaga dan perawat yang tadi mengikutinya.

Juga dua suara laki-laki lain yang membuat alis Kiku terangkat.

.

.

-ckleeeek-

"Kita akan tahu ketika kita melihatnya..." ucap salah seorang pria berpakaian formal saat memasuki ruangan, "Detektif Kingsleigh dari kepolisian pusat..." lanjutnya sembari memperlihatkan lencana ke arah Kiku.

Detektif itu terlihat sedikit kebingungan dengan posisi terduga korban dan terduga tersangka yang tadi dilaporkan oleh seseorang yang mengaku sebagai ketua yayasan.

Harus petugas itu akui, Kiku dan Nesia terlihat sangat manis. Mereka berdiri hampir seperti memerankan adegan novel tragis dimana si pria mengidap penyakit kronis dan si perempuan menjenguknya dan memberikan semangat walaupun tahu waktu mereka tinggal sedikit.

"Jangan bilang ini hanyalah pertengkaran sepasang kekasih yang tidak sengaja melukai salah satunya!" ucap detektif itu kesal sembari membalikkan badan menatap ketua yayasan.

"T-tapi... Dia benar-benar terluka... dan..."

"Saya tak mengajukan gugatan apapun, pak..." ujar Kiku, "Ini hanya kecelakaan seperti yang telah bapak asumsikan..." lanjut Kiku coretmumpungcoret dengan –mencoba tenang.

A-a-apakah aku dan Nesia-san terlihat seserasi itu?

"Bagus! Anda dengar?" ucap detektif itu lagi. Sedang temannya hanya mencatat apa yang dilontarkan oleh Kiku.

"Tapi..." ketua yayasan kebingungan.

"Padahal kita sudah jauh-jauh kemari! Tapi hanya pertengkaran pasangan! Kalian sudah baikan?"

Kiku mengangguk, mengabaikan mukanya yang memerah "Hai... Maaf telah merepotkan..."

"Bagus! Jika kalian bertengkar lagi... Akan kumasukkan kalian berdua ke satu sel yang sama sampai berbaikan!"

#QuotesOfTheDay: Jangan praktekan ini di rumah... -Kepolisian

"ee... Hai... Saya mengerti..." Kiku berpikir bahwa polisi-detektif ini pasti 'agak-agak'.

"Dan untukmu nona..." detektif itu berjalan mendekat.

Tanpa diduga, Nesia langsung mengambil langkah. Gadis itu berdiri dengan posisi melindungi Kiku yang keheranan melihatnya.

Alis detektif Kingsleigh terangkat heran, ia menghentikan langkahnya. Kini ia berdiri 3 meter dari Nesia.

"Nona?"

"Harus... -Kiku..." Nesia bergumam hampir tak jelas.

Merasa namanya ada dalam ucapan Nesia, Kiku menepuk pundak Nesia untuk menanyakan. Namun ia tersentak kaget karena yang ia dapatkan adalah muka serius dan siap menyerang yang sangat menakutkan dari wajah imut Nesia.

"N-nesia... -san?"

"Harus melindungi Honda Kiku... Dari siapapun... Tak boleh ada yang mendekat!" ucap gadis itu lantang yang membuat Kiku bergidik ngeri dan heran.

Gerakan tubuhnya semakin mengisyaratkan bahwa gadis itu siap menyerang apabila sang polisi berani mendekat. Seolah-olah polisi itu adalah musuh bebuyutan yang akan mencelakai Kiku, dan Nesiapun siap mencoba melindungi pemuda yang keheranan luar biasa itu dengan cara apapun.

.

.

Apa yang... Siapa ini?!

"N-nona?" panggil sang detektif-polisi itu kebingungan.

Yabai! Kalau seperti ini bisa-bisa keadaan memburuk!

"H-hai... Wakarimashita, Nesia-san... Watashi wa daijoubu desu... Mou... Yamette yo... Watashi wa anata no... Dakara ne..." Kiku menebak-nebak apa masalah 'Nesia' sembari menarik lengannya dan memeluk gadis itu. Menyembunyikan tatapan seram Nesia di dadanya, berkali-kali, karena Nesia masih keras kepala menantang polisi itu, "Mou... Yamete kudasai... Er... Pak polisi... Maaf... tapi dia sangat cemburuan... dengan siapa saja..." karang Kiku –yang mulai ngawur.

-tte! Apa hubungannya dengan cemburuan?!

.

.

"O-oh..." Polisi-detektif itu mengerti, "Nona... dengarlah... walaupun muka pacarmu itu sungguh manis... tapi saya straight dan saya telah berkeluarga..." jelasnya, "I'm not going to take your man..."

Nesia sontak melingukkan kepalanya, menatap sang polisi penuh ancaman. Polisi itu malah tertawa karena candaannya ditanggapi serius.

GAAH! Tak perlu memperumit ini! Pergilah cepat!

Kiku mengabaikan mukanya yang merah padam atas kata 'your man' dan menarik kepala Nesia kembali padanya.

"Haha... Nesia-san dengar?" Kiku tertawa aneh, kali ini ia juga ingin mengancam duo polisi-detektif yang masih menertawai mereka dan tak mau pergi tersebut, "Tak apa-apa Nesia-san..."

Demi apapun! Apakah kalian tak punya belas kasihan padaku?! Aku kesulitan dan kesakitan menahan kohaiku yang manis yang akan mengamuk dan menyerang kalian sekarang ini!

Kiku mengeratkan pelukannya, mengusap kepala Nesia –menenangkan gadis itu. Namun si gadis semakin cepat dalam gumaman tak jelasnya.

Kiku pun penasaran, ia mencoba –sangat mencoba- mendengarkan.

"Bunuh semua yang mengganggu Honda Kiku... Bunuh semua yang menyakiti Honda Kiku... Bunuh yang berani membuat Honda Kiku sebal... Bunuh-..."

.

.

Dan Kiku merasa nyawanya tercabut oleh shinigami yang kebetulan saja lewat.

IIA! IIA! IIA! SONNA MONO DEKIMASEN YO! –Itu tidak boleh dilakukan!

"N-nesia-san... Aku tak apa-apa... sungguh... mereka tidak mengancamku..." ucap Kiku getir.

Oh! Pergilah dari ruangan ini! Cepat! Sebelum aku tak bisa lagi menahannya!

"Harus... Melindungi Honda Kiku..."

Kiku menghela nafas, mengerti akan satu poin. Karakter pribadi Nesia yang kini di dekapannya, dan inti dari penciptaan kepribadian ini; Melindungi.

Kiku mendekat ke telinga Nesia, berbisik, "Nesia-san... watashi wa... onegai ga arimasu..." –aku ada permintaan

Nesia melinguk ke arah Kiku, perhatiannya kini tertuju pada wajah oriental Senpai-nya dan Kiku menggumamkan kata 'Yes!' di dalam hatinya.

"Kowai yo... Nesia-san... Aku ketakutan..." ucap Kiku berpura-pura, namun mampu membuat alis gadis itu bertaut. Ya, kata-kata itu sangat dianggap serius oleh Nesia.

Kiku dapat merasakan, sekujur tubuh gadis itu menegang. Kohainya itu kembali menatap duo polisi yang kini sedang berbicara entah apa dengan kepala yayasan dengan tatapan 'I-want-to-cut-you-into-pieces-so-much'.

"Dakoshite –Peluk aku, Nesia-san..." ucap Kiku dengan muka merah, dan berhasil membuat Nesia mengacuhkannya, "Itu akan membantu... Kau akan melindungiku bukan? Tak akan meninggalkanku bukan? Peluk aku..."

Demi ramen level 10 yang bulan lalu membuat trio Axis diare dan telat deadline, Kiku merasa sangat malu sekarang mengatakan hal seperti itu. Darah bushido-nya ingin mengamuk, tidak terima karena ia seakan dipermalukan. Namun ia tak memiliki pilihan lain –dan Kiku tak mungkin melakukan harakiri sekarang.

Dan benar saja, setelah Kiku mengatakan semua hal yang sangat-amat-teramat-memalukan-sekali-banget itu, Nesia sontak memeluknya erat dan mencoba menenangkan Kiku, "Aku di sini... Aku akan melindungimu... Jangan takut..."

S-sore wa watashi no serifuu desu... – I-itu kalimatku...

.

Hh! Kami-sama... Ini sungguh jungkir balik...

.

.

Tapi... Sejujurnya... Ini... semakin buruk...

Kiku mulai menyadari ia semakin ditarik ke pelukan Nesia. Tidak, kepalanya-lah yang ditarik dan dipeluk oleh sang gadis. Ia merasakan jemari-jemari lentik kohainya itu menyusup ke kulit kepalanya, beberapa mengelus surainya perlahan, berusaha menenangkan dirinya.

Hangat dan harum Nesia sungguh membuatnya nyaman. Sangat ampuh untuk melupakan sakit di sekujur tubuhnya yang menjadi-jadi. Lupakan dopamin ataupun morfin! Ini lebih ampuh 100 kali lipat daripada dua anti-depresan itu –walaupun hanya dengan dosis minimum berupa pelukan semacam ini.

Oh... Aku bisa seperti ini selamanya...

.

.

Iie... iie... Salah fokus! Tak boleh seperti ini!

Saat Kiku akan menarik dirinya lepas dari Nesia, ia teringat bahwa tadi yang meminta adalah dirinya. Oleh karena –masalah- itu, Kiku urung menarik dirinya sendiri. Namun sekali lagi ia galau, dan memutuskan untuk menarik dirinya saja. Ia rasa sudah cukup dan hatinya tak bisa mengolah lebih dari-

"Tak apa-apa..." Nesia mengecup pucuk kepala Kiku, menenangkan –yang meresahkan- hati Kiku, "Aku ada di sini..." bisiknya lembut.

W-wa-watashi no atama... – K-Ke-Kepalaku...

Ini saatnya Kiku menghitung sampai sepuluh untuk menenangkan dirinya (lagi).

"Ehm..."

Dan usahanya untuk tenang dibuyarkan dengan sangat mudahnya oleh dehaman dan tatapan penuh kedengkian dari seberang.

Kuso...

"Oke... Kami lihat kalian baik-baik saja... Jadi kami pergi... Sampai jumpa! Dan jangan bermain dengan senjata tajam jika kalian bertengkar! Oh! Lebih baik jangan sampai bertengkar! Aku akan menculik kalian dan membawa kalian ke pengadilan!" candanya panjang lebar –sampai-sampai tak lucu lagi.

"H-hai..." ucap Kiku datar.

A-KHIR-NYA!

"Daaah!" ucap kedua polisi itu sembari menutup pintu

-Blaaaam-

.

-Sruuuuukh...-

"N-nesia-san!" Kiku panik saat Nesia kembali kehilangan kesadarannya, dengan cekatan ia menahan gadis itu dan mengembalikannya ke kursi tamu ruang kepala yayasan.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya sang Kepala Yayasan bingung.

"Apakah kalian benar-benar bertengkar dan menggunakan senjata tajam?! Jika benar begitu aku harus men-skors kalian..." ucap kepala sekolah Senior High –yag sekarang sudah tenang dan kembali coretwarascoret bijaksana.

Watashi wa ima shinemasu... -Aku mati sekarang... Argh! Bagaimana cara menjelaskannya?!

-Tok... tok...-

Siapa lagi?!

"Masuklah..." Pak Germania membukakan pintu, dan merengut heran saat tamu memperkenalkan diri, "Ada yang memanggil psikiatri?"

"Greef-sensei!" panggil Kiku spontan.

"A-ada apa ini? Kok... Kok sampai psikiatri?" Pak Roman kalang kabut lagi, Kiku mulai merasa kasihan padanya.

"Honda... Kau memanggilnya? Ada apa ini?" tanya Pak Germania tenang.

"Saya akan menjelaskannya nanti... Pak Germania... Saya janji..." ucap Kiku sembari mendekat ke arah Pak Germania dan dr. Greef.

"Nak Honda... Apa yang terjadi?" tanya dr. Greef.

"Sensei... Kurasa aku... gagal..."

"Dia... berhasil menciptakan alter baru?" dr. Greef menebak dengan nada tidak percaya.

Kiku hanya bisa mengangguk pasrah, "Ya... Sepertinya begitu..."


A/N:

YEAAAAAAAAAH! 14!

Neth: sungguh telat dan ter-la-lu!

Author: menghormati yang ujian...

Neth: Alasan lo! Ngaku aja lo kena santet Nesia kan? Kayak Kiku dan Kuro?!

Author: ... Y-yah... Benar juga sih... Lah itu tahu!

Neth: Soalnya yang nyantet kamu sedang senyum2 nista sekarang...

Author: *nglingukkeNesia* Oh iya...

Nesia: Puas -thor?

Author: BANGET! dan tunggu saja skandal yang akan aku buat Nes! kikikikikikik!

Kiku: N-nesia-san... Tampaknya Kuro-san sudah jera... Tolong lepaskan dia... Kasihan dia kesakitan di rumah... Sakura-cahn sakit kepala karenanya...

Nesia: Belum... Ini juga menyangkut dendam dulu! Dan jangan lupa kau kulepaskan karena ada FF ini!

Kiku: Er...

Neth: Ehm... Nes...

Nesia: Apa? Kau mau santet?

Neth: Jangan gitu dong... Aku lagi Happy nih...

Nesia: Berarti besok kiamat...

Neth: Dengerin dong! Serius!

Nesia: Apa?

Neth: 5 gol itu... Untukmu...

Nesia: ...

Neth: Er... 5 kiss...

Kiku: 5 gol 5 kiss... berarti besok... dengan Pantai gading aku harus... *hitung2*

Nesia: *facepalm* gimana kalo 5 kali santet?

Neth: K-kok gitu!?

Kiku: A-aku nggak mungkin nggak nyetak gol bukan?

Author: Silahkan kalian bicara... Aku balas review... Azukihazzle-san, Ya... dia Kiku... dan aku yang membuatnya seperti itu... dan Nesia menyantetku karenanya... *nangisdarah* 39 chapter... er... mungkin aku harus banyakin aja words-nya ya... biar nggak sebanyak itu chapternya?

Kiku: Author-san bikin 1 hari di dalam cerita aja sampai 3-4 chapter...

Author: Iya... padahal aku mau buat sampai kalian menikah... sampe punya anak... sampe kakek-nenek...

Neth: NEEEEEEEEEEEEEIN! Nesia milikku! Nesia menikah denganku!

Nesia: Pliss deh, thor... Ini bukan C**ta Fitr*!

Kiku: S-sampe kakek-nenek? *blush

Nesia: Nggak usah bohong dan PHP!

Author: I-iya... iya... Dan rating itu... Saya akan lebih berusaha untuk real psiko tanpa nyenggol M... Doakanlah... Eng? Kiku kenapa?

Kiku: *Sulking* Y-yah... cuman bohong dan PHP...

Author: Lanjut, Kiku... dari Faneda-san nih... Katanya kau sungguh fu*king badass...

Kiku: Dan itu alasan kita bertiga disantet, author-san...

Author: Benar... Besok lagi ya?

Kiku: *speechless

Author: Yuki-san, yang dimaksud bagian kepala Nether... *nengok Nether* Rambut tulipnya sudah turun beberapa senti...

Kiku: Author-san bilang bagian kepalanya... rambut kan termasuk...

Author: Dan itulah yang membuat kita disantet...

Kiku: Wakarimashita... Besok lagi...

*Author dan Kiku tos di bawah meja*

Nesia: Kalian konspirasi kan?!

Author: Ah... kata siapa, Nes?

Kiku: *geleng2

Author: Everly-san, tak mungkinlah saya bosan... :D :D Iya... tu anak kalo mau mencoba juga bisa jadi seme kok...

Kiku: Er...

Author: Pengennya... Tapi belum... Nanti pas libur puasa kayaknya...

Neth: Nanti Updet tiap hari ya?

Author: Menurut loh?! Oh ya Kiku... xxx-san bilang kau lucu saat bilang kepo... *bisik* oh ya... sebagian cewek itu suka sama cowok lucu... Neth kan nggak terlalu lucu... Kalau kau bisa jadi lucu... mungkin...

Kiku: E-eh? Eeeh?! *blushing sendiri

Author: *bisik* oke... Tinggalkan saja orang yang gampang di PHPin ini... ravenilu597-san, Oke... Aku mungkin nggak ngeluarin Ina mulu... tapi sisi itu memang ingin kugali... Adanya FF ini salah satu tujuannya memang menggali sisi dark! dan maskulin seorang Kiku yang Uke akut... Kiku... I'll make you a real man here!

Nesia: Hati-hati OOC loh... Dia udah mulai OOC...

Author: Oke... Dan... Fisika-san... Iya... Semoga Nesia sembuh -tidak main santet lagi... Dan Kiku... Kau posesif?

Kiku: Di dalam Script-nya begitu Author-san...

Author: Aslinya kau itu posesif nggak?

Kiku: M-maa... n-no comment...

Author: Heeeeh... Ah... Yang terakhir kau saja yang bales!

Kiku: N-nande?

Author: Udah! Bales...

Kiku: O-oke... Umnh... Honda-san...

.

.

Neth: Lu yang nulis Review, Kiku?!

Kiku: C-chigaimasu! Bukan aku!

Author: Saudaramu?

Kiku: Saudaraku... Author tahu sendiri...

Author: Apa bilangnya?

Kiku: ... Intinya lanjutin...

Nesia: Itu benar bukan kau yang nulis?

Kiku: Bukan! Nesia-san... percayalah!

Author: Oke... baiklah... Kita tutup... Ini Author Note malah sepanjang ceritanya #plak mungkin besok aku PM-in aja masing2 buat mbales... Semuanya~!

-Minna, terimakasih sudah membaca, mohon review, kritik dan saran yaaaa~~~...!-