Kiku hanya bisa sweatdrop melihat tubuh kepala sekolah yang merinding disko dan ditopang oleh Ketua Yayasan Hetalia School. Ia tak habis pikir, dan mulai curiga jika pria paruh baya ini benar-benar kepala sekolah yang dikenalnya atau bukan -atau jangan-jangan dia punya alter ganda juga?
Ah, itu tak mungkin.
Tapi, mengatasi kabar dimana salah satu siswinya mengidap Alter Ego saja paniknya bukan main. Bagaimana nanti jika ia tahu bahwa sebenarnya di kelas 3 Senior High ada seorang psikopat yang selalu membawa pisau dan mengajak kakak sepupunya untuk menikah?
Kiku menghela nafas, ia rasa tak akan ada yang sampai hati melaporkan hal semacam itu kepada pria malang bersurai coklat yang tengah merengek ini.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Dikeluarkan..." ucapnya sembari bergetar dan langsung diteriaki dengan keras oleh tiga manusia sadar lainnya.
"Roman... Anak ini masuk dengan nilai yang sangat bagus... Alter Ego tidak ia rencanakan... Ia tidak menginginkannya dan tidak berniat jahat berdasarkan akal sehatnya..." jelas Pak Germania.
Pak Roman membesarkan matanya. Jarang sekali ia –apalagi seluruh murid- melihat Pak Germania yang notabene sangat kalem itu mengeluarkan kata sepanjang ini. Mungkin ini yang terpanjang setelah beliau berhasil memberikan sambutan selama -nyaris- 2 menit pada upacara kemarin.
Mungkin kalau masalah penting seperti ini, baru ia mau bicara panjang.
"Pak Kepala sekolah yang terhormat... Mengeluarkan Nak Nesia karena hal seperti ini sangat tidak adil baginya... Apakah bapak tidak kasihan? Dia sudah sakit... Masih dianiyaya... Bagiku dia adalah gadis yang malang..."
Dan Kiku tidak mengerti sama sekali apa maksud dari mimik memelas dr. Greef barusan.
"D-dia memang gadis yang malang... Tapi jika sampai ada yang terluka karenanya... Kau tahu... Tak akan ada yang bertanggung jawab!" ucap Pak Roman getir.
"Maksud anda tidak ada yang bertanggung jawab? Bagaimana dengan walinya?" dr. Greef kembali bertanya.
"Sebelum ia masuk ke sini dan tinggal di dorm, ia tinggal di sebuah panti asuhan... Dan sekarang panti asuhan tersebut telah ditutup... Sedangkan orang yang bertanggung jawab serta menandatangani semua dokumennya telah hilang entah kemana... Itulah mengapa kami memanggil polisi tadi... kami tak bisa menghubungi walinya..." jelas Pak Germania panjang lebar (lagi).
Pak Roman muai tersenyum senang. Ya! Masalah seperti ini bisa membuat Germania yang diam jadi angkat bicara!
Sedangkan Kiku dan dr. Greef hanya bisa saling berpandangan mengirimkan telepati tentang informasi yang baru saja mereka peroleh.
Apakah itu berarti Nesia-san tak memiliki siapapun lagi di dunia ini?
"Tapi… Masalahnya... Jika ia dikeluarkan dari sekolah ini... Anak yang cukup pintar ini akan terlantar... Apakah anda tega?" ucap dr. Greef kembali ke masalah.
"Aku tahu akan hal itu… Tapi... Proseduralnya…" Pak Roman kembali bimbang.
"Saya akan bertanggung jawab..." ucap Kiku tegas, "Kalau perlu saya akan menandatangani dokumen tentangnya..."
.
.
"Kau sendiri masih dibawah umur!" raung ketiga makhluk sadar lainnya yang ada di ruangan itu.
"Memangnya aku tak tahu kalau orang Jepang baru diakui dewasa itu saat berusia 20 tahun? Kau belum melalui upacara itu..." ucap dr. Greef, mendengus ke arah Kiku.
"S-so-sore wa... a-anda bertiga tidak ada yang mau bertanggung jawab atasnya..." bela Kiku tak mau kalah.
"Y-yah..." ketiganya pun berpikir lagi.
"Nak Kiku... Kau akan menikahinya?" celetuk dr. Greef.
.
.
.
.
.
Kiku tak mampu menahan kepanikannya yang menjadi-jadi saat kesadarannya kembali, "T-t-tu-tunggu dulu! Itu tak mungkin! Ma-maksud saya... Memang pemerintah Jepang saat ini sedang gencarnya menggalakan program regenerasi karena pertumbuhan penduduk kita minus, tapi tidak seperti ini juga! A-anda juga tahu saya harus melalui upacara kedewasaan dulu bukan?!" jelas Kiku kagok dengan muka semerah lampu stop pada traffic light.
"Kan tidak apa-apa kalau ada ijin orang tua? Mumpung batas umur minimal Indonesia untuk perempuan masih 16 tahun..."
Ke-kenapa ini dokter tahu?!
"Sekarang sudah ada wacana ditingkatkan ke 20 loh... mumpung belum diubah..."
"Saya sendiri juga tidak bisa, sensei..."
"Bukankah laki-laki 18 dan perempuan 16? Menurut Undang-Undang Pernikahan pasal 731 sampai 737 Hukum Perdata Jepang..."
"Saya sendiri baru 17 tahun Februari kemarin..." Kiku ber-facepalm ria.
Darimana psikiatri ini tahu berapa umur minimal menikah negaraku dan negara Nesia-san?!
"Kalau begitu tahun depan..."
Kiku terlonjak.
Masih dilanjutkan?!
"Aku hanya bercanda..." namun wajah dr. Greef kini dihiasi dengan seringaian lebar mengetahui muka Kiku semakin detik semakin memerah, "Lagipula itu tak mungkin... Kalian masih kecil…"
Kiku memutar bola matanya. Namun ia semakin sebal saat mengetahui bahwa kedua petinggi di sekolahnya juga ikut terkikik-kikik.
Oh, betapa ia merindukan Katana-nya sekarang.
"Kecuali kalau kita samarkan umur mereka atau kita nikahkan mereka di desa terpencil di atas gunung..." dr. Greef membuka diskusi.
"Itu bisa dilakukan... Ya... Benar..." Pak Roman menyetujui, diikuti anggukan Pak Germania.
J-joudan desu you ne?! –K-kalian bercanda kan?!
"Jadi kalian lebih setuju yang mana?"
"Mungkin pilihan kedua... Kita tak ingin berurusan dengan dokumen palsu..." Pak Germania memberikan saran dengan kalemnya.
Kiku berusaha untuk tidak syok melihat sisi lain dari Pak Germania.
"Ya... ya! Ide bagus Germania!" Seru Pak Roman riang.
"Nak Honda..." dr. Greef melinguk ke arah Kiku.
"Apa?" jawab Kiku disertai senyuman angelic yang berapi-api; 'Oh-I-am-sooo~-wanna-kill-you-three-right-now'
.
.
.
"Er... Tidak... Jadi..." dr. Greef balik ke forum, "K-ke-keputusan tadi dibatalkan saja ya..."
"O-oke..." jawab Pak Roman yang ikut terkena imbas dari senyuman maut Kiku. Ia tampak seperti orang yang desperate menahan panggilan alamiah.
Sedangkan Pak Germania hanya mengangguk sambil mengacungkan jempol tangannya dengan senyum tipis.
dr. Greef berdeham untuk mencairkan suasana,"Jadi... Kita kembali pada masalah... Siapa yang akan bertanggung jawab pada Nak Nesia..."
.
.
.
"Sebenarnya... Jika ia bisa tetap berkelakuan baik dan normal serta menjaga prestasinya... Tanpa walipun dia akan tetap baik-baik saja... Biayanya kan dari full scholarship..." ucap Pak Roman, "Lagipula aku tak sampai hati membiarkan murid semanis Nesia terlantar entah kemana... Nesia manis sekali ya? Kau setuju kan Germania?" Pak Roman -sepertinya- mulai kembali ke sifat aslinya.
"Umnh..."
-Ni orang berubahnya cepat sekali... Padahal tadi mau mengeluarkan begitu saja...-
Pak Germania hanya bisa menghela nafas lelah. Sedangkan dr. Greef berusaha menenangkan Kiku yang mulai mempraktekkan ajaran krusial dr. Greef –bernafas dengan tenang.
"Sebenarnya hanya sebatas itu sih... Kau sanggup, Honda?" tanya Pak Roman.
"Uh... Hai..." jawab Kiku akhirnya setelah berhasil menenangkan diri.
Kiku menunduk 45 derajat, memberikan hormat seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang di negerinya, "Saya yang akan bertanggung jawab untuk itu... Saya yang akan memastikan itu semua... Jika perlu saya akan mengawasinya 24 jam setiap hari... Menjadi mentornya jika perlu agar prestasinya tak turun... Karena itu saya mohon kepada Roman-sensei selaku Kepala Sekolah dan Germania-sensei selaku Ketua Yayasan... Ijinkan Nesia tetap bersekolah di sini... Onegaishimasu!"
Pak Roman tersenyum bodoh, "Baiklah... Aku tak mungkin menolak permohonan murid manisku... Apalagi temannya Feli!"
.
.
Er... Apakah ini termasuk nepotisme?
"Domo arigatou gozaimashita!" ucap Kiku tegas sebelum menegakkan kembali tubuhnya.
"Kalau begitu Germania yang tanda tangan!" lanjut Pak Roman.
"Kenapa aku?" Tanya Pak Germania sembari mengangkat satu alisnya.
"Karena kau Kepala Yayasannya... Oh, ya! Ide bagus!" gumam Pak Roman pada pikirannya sendiri, membuat alis yang menyaksikannya berjengit penasaran, "Kau dan Nesia akan pindah kemari..."
.
.
"Huuh?" Kiku menggerakkan kepalanya ke samping sebagai tanda respon yang gagal.
"Menurutmu kami akan membiarkan Nesia yang tak stabil seperti ini tinggal di dorm? Apalagi setelah kejadian semacam itu! Kita juga harus mengkover kejadian ini juga... Benar kan Germania?" lanjut Pak Roman.
"Itu benar juga..." jawabnya sembari berpikir.
"S-saya mengerti tentang Nesia-san... Dan baiknya mungkin seperti itu... Tapi kalau saya?" ujar Kiku heran.
"Siapa tadi yang mengajukan diri mengawasi 24/7?" Pak Roman balik bertanya.
"S-saya..." Kiku baru menyadarinya. Rasanya ia ingin menepok jidatnya sendiri karena akhir-akhir ini ia merasa isi dari jidatnya yang tertutupi poni lurus itu bermasalah. Mungkin karena obat, atau asupan darah ke otaknya belum memenuhi standar kerja.
"Tenang saja... Kamar kalian tentunya dipisah..." jelas Pak Germania datar.
M-menurut anda?! Sore wa kimatteru desu yo! –Itu sudah pasti/harus!
Kiku ber-facepalm ria (lagi).
"Dengan begini masalah administrasi sekolah selesai bukan?" tanya dr. Greef.
"Ya… aku akan mengurus sisanya..." Ucap Pak Germania kembali dengan senyuman tipis yang cukup untuk melegakan perasaan Kiku.
*O*
Kiku menelusuri sebuah koridor untuk menuju sebuah kamar yang kuncinya tadi telah diberikan oleh Kepala Yayasan. Di sampingnya, dr. Greef tampak menikmati perjalanan di koridor penuh dengan lukisan itu. Sesekali Kiku mendengarkan komentar-komentar seni yang dikeluarkan oleh sang dokter. Akan tetapi, Kiku bukanlah seorang seni. Jujur saja, ia lebih berat di otak bagian kiri. Oleh karenanya, ia lebih memilih untuk diam dan mengawasi penjaga yang dipunggungnya terdapat Nesia yang terlelap.
Jika saja bahunya tidak bermasalah, jika saja ia tak harus membawa tiang infus ini, tentunya ia akan membawa Nesia sendiri di dekapannya dan memboyongnya sampai ke kamar.
K-ke-kenapa hal normal seperti itu jadi terdengar sangat aneh di pikiranku? Otakku pasti sudah konslet...
Kiku mengusap mukanya pelan, melancarkan darah di bagian mukanya sehingga dr. Greef tak sadar akan wajahnya yang sempat memerah.
"Di sini kamarnya... Dan di sana kamar satunya..." jelas penjaga sembari menunjukkan pintu dua kamar yang saling berhadapan.
dr. Greef berbisik lirih, "Hanya dua tembok dan satu koridor... Jika kau mengerti maksudku..." ia menutupnya dengan sebuah kedipan.
S-sensei! Yamette kudasai! Apa tidak ada orang dewasa yang normal di sini?!
-ckleeek...-
Kamar tidur Nesia yang baru tidak kalah luas daripada kamarnya yang ada di asrama, dan lagi-lagi ia tidak akan membaginya dengan siapapun –tentu saja. Ruangan berwallpaper krem lembut itu dipenuhi dengan perabotan dari kayu yang dipernis mengkilat dan sangat indah. Serat-serat kayunya terlihat menghiasi warna dasar yang senada dengan keping Nesia yang gelap. Lantai marmer di sekeliling tempat tidur Queen Size dilapisi dengan karpet Turki yang sangat besar dan lembut. Sedangkan tempat tidur berkanopi itu ditutupi dengan seprei dan bedcover sewarna dengan gorden yang menutupi pintu kaca ke 2 beranda kecil di sebelah kanan dan kiri tempat tidur. Menciptakan kesan royal and classic seperti yang pernah Kiku lihat di majalah dan foto-foto dari seorang Arthur Kirkland.
Dan Kiku yang pertama memasuki ruangan itu hanya bisa memiringkan kepalanya.
-tte! Ini kamar tamu atau kamar hotel Pressident class? A-apakah ini berarti kita sangat merepotkan? T-tapi kan...
"Bahkan honeymoonku kemarin kamarnya tak semewah ini..." gumam dr. Greef –yang sengaja menarik perhatian Kiku.
Shirukayo!? –Memangnya aku peduli!?
Kiku mencoba untuk tak mendengus sebal, ia tak ingin meladeni dr. Greef yang mulai bertindak aneh.
"Kau benar-benar beruntung Nak Kiku... Jarang loh ada cerita kehidupan yang novel-like seperti ini..."
Sumimasen... Anata no imi wa wakarimasen... –Maaf... Aku tak mengerti maksudmu...
Kiku tetap mengabaikan sang dokter sembari berjalan ke ruang yang ia tebak sebagai ruang pakaian karena di sebelahnya terdapat kamar mandi.
Kamar mandi yang sangat luas. Lengkap dengan bath-tub, shower dan closet-dudukyang anehnya sangat modern dan higienis. Ruangan berdinding keramik putih itu memiliki kaca besar di depan wastafle-nya dan Kiku kini yakin sekali bahwa ini adalah kamar hotel pressident class–bukan kamar tamu.
Setelah puas mengecek ruangan, Kiku mendekat ke arah tempat tidur. Nesia telah dibaringkan di sana dan penjaga itu siap untuk pamit keluar. Kiku mengangguk kecil mengijinkan penjaga itu pergi meninggalkan mereka. Setelah itu ia mengambil sebuah kursi dan duduk di sebelah tempat tidur, memandangi Nesia yang damai dalam mimpinya.
Kiku mendengar suara pintu branda dibuka oleh dr. Greef. Angin senja-pun menyapa mereka dengan lembut.
"Sekarang... Kita masuk ke masalah utama..." ucap dr. Greef datar, "Nak Kiku... Apa yang terjadi tadi? Dan kenapa kau... terluka seperti ini?"
"Ina-san keluar... Dan dia mengamuk... Ina-san memegang cutter dan aku mencoba untuk memisahkan subjek dan objek itu..." jelas Kiku sembari menutup matanya, menikmati angin malam yang masuk melalui pintu jendela balkon.
"Apa yang terjadi dengan Ina-san? Maksudku... Kenapa ia bisa bangun?" tanya dr. Greef lagi.
"Entahlah, sensei..."
"Jadi... Nak Ina... Seperti apa dia?"
"Dia... Tipe Yandere... Kasar... Dia bilang membunuh banyak orang..."
"eh?!"
"T-tapi sepertinya ia tidak benar-benar membunuh... Hanya mungkin merasa membunuh, tapi sebenarnya orang-orang itu selamat... Jika tidak, tentunya ia tak akan ada di sini... Atau jika tidak, dia menggunakan kata-kata itu hanya untuk menakuti... Hanya sebagai bluff..." jelas Kiku panjang lebar.
Ia menelan ludah untuk pikirannya yang baru saja melintas.
.
.
"Ada apa, Nak Honda?" tanya .
"Dia... Setelah kupikirkan lagi –dengan tenang kali ini... sepertinya, aku sendiri tidak yakin jika psikopat... atau mungkin tidak... Kemampuan menyerangnya nol... Dia bahkan tak bisa lepas dariku yang melemah karena terluka..." Kiku mengingat lagi mimpi buruknya siang itu, "Dia hanya bisa... Istilahnya mengonggong tapi tidak menggigit..."
.
"Yah... Berbohong... Memang ciri utama sebuah Alter Ego..." ucap dr. Greef.
"Tapi sepertinya ia tidak berbohong ketika memiliki keinginan untuk membunuh... Dia benar-benar mengayunkan... Umnh..."
.
.
.
"Aku gagal mengolahnya lagi..." desis Kiku, kembali ia memikirkan informasi yang diterimanya melalui peristiwa yang cukup gore.
"Dia berbohong... Nak Kiku..." dr. Greef membaca raut Kiku yang meragu, "Nak Ina mungkin sangat panik saat itu dan terbawa oleh kebohongannya karena ia tak tahu apa yang harus dilakukannya... Kita juga harus mempertimbangkan itu..."
"Ya... ya... Dan saat ia melihat kondisiku, jika diperhatikan Ina-san juga sebenarnya... Lumayan panik dan ketakutan –walaupun ditutupi dengan ancamannya... Jika ia benar-benar psikopat maka... Ia tak hanya akan mengancam..."
"dr. Greef... Jika ia benar-benar seorang psikopat... Ia sudah membunuh guru itu... Ketika aku datang, itu sudah sangat lambat..."
"Aku bersyukur di tidak seperti yang kita pikirkan..." dr. Greef mengomentari.
"Dan lagi... ia tak akan berhenti untuk berpikir... Ia tak akan memperdulikanku dan akan langsung, uh... pada guru itu..."
Kiku mengingat lagi detai kejadian tragedi tadi. Memang, Ina selalu terdiam dan kelihatan kaku ataupun berpikir saat akan menusuk.
"Mungkin... Ia tidak sepenuhnya psikopat?" Kiku menyimpulkan.
"Ya... Mungkin seperti itu..." dr. Greef mengusap mulutnya, berpikir, "Ada cerita lain?"
"Ina-san... Sepertinya sangat takut untuk disentuh... Dari potongan informasi yang dilontarkannya... Kemungkinan ia pernah menjadi korban sekuhara..." Kiku mengigit bibir bagian bawahnya frustasi.
Ia sungguh menyesali tak mengenal dan melindungi Nesia sedari kecil. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Mereka baru dipertemukan sekarang.
.
.
Umnh...
"Tapi Ina-san bilang... Walaupun banyak yang menggangguna... Dicium saja tak sampai..." Kiku mulai berpikir ulang.
"Itu di dalam ingatan Nak Ina... Kalau Alter yang merasakan peristiwa yang menyebabkan adanya Nak Ina..."
"Sensei!"
"Tapi kita tak punya bukti... Kecuali kau mau aku keluar agar kau bisa membuktikan sendiri bahwa Nesia tak pernah mengalami semua itu..."
"Berhenti! Aku..." Kiku menjatuhkan mukanya di kedua telapak tangannya, "Aku tak mungkin melakukan hal semacam itu..."
"Ini abad 21... Dan ini di barat..."
"D-demo... Kalau sepihak... Bukan suka sama suka... Itu namanya... Argh! Kok kita jadi ke sini?!"Keluh Kiku dengan muka yang semakin memerah.
Sensei punya perasaan nggak sih?! Tolong jangan permainkan aku!
"Kalau begitu cara lainnya adalah membangkitkan Alter yang aktif sebelum Ina-san... Tapi... Itu mungkin susah... Apalagi kalau benar-benar kejadian..." lanjut dr. Greef.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" keluh Kiku.
"Entahah... Dan ini belum Alter di kurungan itu... Atau mungkin ini Alter di kurungan itu..." dr. Greef berasumsi.
Kami-sama... Mou...
"Selain itu... Ada hal lain?"
"Humnh? Yah... Sampai saat ini aku baru sampai pada kesimpulan Ina-san tak mau disentuh dan pertahanan dirinya adalah menjadi atau berpura-pura menjadi psikopat... Alter yang mudah panik dan mengambil keputusan yang salah... Dan untungnya aku telah membuat perjanjian dengannya..."
"Benarkah? Seperti apa? Bagaimana caranya?" dr. Greef mulai antusias.
"Er... Aku mengancam akan menyentuhnya jika ia tak mau... Aku membuatnya berjanji untuk menjadi milikku dan menurutiku... Sehingga aku memiliki kendali atasnya... Cukup sulit melakukannya... Tapi..."
"Nak Kiku beruntung dia tak menjadikan hal ini sebagai kejadian traumatik dan berlari membuat Alter baru yang lebih bermasalah..." dr. Greef berkomentar penuh sarkasme.
"Aku tidak terpikirkan hal lain... Dan aku sungguh menggila mendengar ada orang lain yang mungkin pernah menyentuhnya…" ucap Kiku lirih.
#QuotesOfTheDay: People in love are very STUPID! -dr. Greef
"Baiklah... Setidaknya kita bisa memegang kendali atasnya..." ucap dr. Greef pasrah.
"Tapi yang aku khawatirkan... Bagaimana caranya membangunkan Nesia-san sekarang? Dia tertidur sekarang... Bagaimana cara membangunkannya?"
"Yah... Kalau dia terlalu syok... Mungkin tidak akan keluar lagi..."
.
.
.
Kiku terdiam menanggapi pernyataan dr. Greef.
Apakah aku tak akan bisa melihat Nesia no.2-san lagi?
"Ada bukan... Alter yang tidak keluar-keluar lagi... Karena tidak merasa harus keluar atau terlalu syok?"
"Maksud sensei... Ayu-san?" Kiku menahan nafasnya.
Itu benar... bagaimana kalau Nesia no.2-san menjadi pasif seperti Ayu-san?
"Ya... dan aku sungguh ingin mengenalnya... Siapa tahu ia juga sebenarnya seperti Tara, menyimpan banyak informasi..."
"Uh... Tapi..."
.
.
"Mnh... Nak Honda... Mungkin Nak Nesia yang romantis butuh waktu untuk menenangkan diri... Nak Honda tenang saja... Nak Nesia akan baik-baik saja... Yang harus Nak Honda lakukan mungkin berjaga di dekatnya... Jadi, ketika Nak Nesia bangun... Dia akan langsung mengerti bahwa kau baik-baik saja..." dr. Greef mencoba membesarkan hati Kiku.
"Mungkin..." Kiku menghela nafas lagi, "Arigatou, sensei..."
"Sama-sama..."
Tapi... Kenapa masih ada yang mengganjal ya? Sepertinya... Ada sesuatu yang terlewat olehku...
.
.
Tapi apa?
"Mari kita bangunkan salah satu diantara mereka... Mungkin Alter barunya..." ucap dr. Greef.
"B-bagaimana caranya?"
dr. Greef tersenyum lebar menatap Kiku, "watch and learn..." ucapnya riang yang membuat Kiku mengenyirtkan dahinya.
.
"Nak Nesia... Ada yang ingin membunuh Honda Kiku..." ucapnya tanpa dosa.
Tubuh Nesia sontak terlonjak dan gadis itu dengan cekatan memasang kuda-kuda walaupun sebenarnya ia belum membuka matanya.
Kiku mencoba untuk tidak menjatuhkan dagunya ke lantai karena terlalu syoknya. Ia bolak-balik menatap dr. Greef dan Nesia.
Gadis itu membuka matanya perlahan, mencari-cari keadaan Senpainya yang masih kaget luar biasa. Dan ia menemukan orang lain di sebelah senpai yang harus dilindunginya itu.
"O-ow... Aku dalam masalah..." ucap dr. Greef, "Nak Honda... bisa lindungi aku?"
Namun sebelum Kiku bereaksi atas permintaan dr. Greef, dokter itu sudah dikejar gadis yang penuh dengan insting membunuh itu memutari ruangan kamar yang cukup luas.
"Yamette kudasai! Futaritomo!" seru Kiku lumayan keras pada akhirnya setelah melihat dokter itu hampir tertangkap.
Kiku mengambil nafas, cepat-cepat ia mengisi paru-parunya yang barusan ia kosongkan. Kembali ia menyentuh bahunya yang nyeri.
Oh! Bisakah dunianya tenang untuk barang sebentar saja? Kiku menjawab pertanyaannya sediri dengan pesimis,
Kurasa tidak...
Nesia menghentikan pengejarannya, ia mendekat pada Kiku dan melakukan hal yang membuat Kiku ingin menjatuhkan dagunya lagi.
Berlutut.
Gadis itu berlutut di hadapannya.
Demi Jepang tanpa gempa dalam setahun! Kiku tidak bisa percaya sama sekali hal ini terjadi padanya. Iapun segera turun dari tempat duduknya dan duduk di depan Nesia, menjadikan mereka selevel.
"Tuan Honda Kiku sebaiknya duduk di atas..." ucap gadis kecil itu sembari menundukkan dan tak ingin memperlihatkan wajahnya.
"Tidak mau..." jawab Kiku datar.
"K-kenapa?"
"Kenapa kau melakukan hal ini juga?" Kiku balik bertanya.
"Aku seorang penjaga Honda Kiku-sama..." Nesia menengadahkan wajahnya menatap Kiku yang stuck krena panggilan '-sama' itu.
"Jangan panggil aku demikian..."
"Tuan muda?"
"Nggak!"
"Tuan besar..."
"Demi apapun, tidak!" Kiku mulai merasa sebal.
"Lalu... Dengan apa saya harus menyebut anda?" Nesia mulai panik.
"Darling..." celetuk dr. Greef.
Dan Kiku membeku –terlalu speechless sebagai responnya.
"Baiklah, Darling-sama..." ucap Nesia penuh dengan kesungguhan yang membuatnya semakin manis.
"IIAA! Jangan panggil aku seperti itu!" ucap Kiku frustasi.
Kami-sama... Tolong jangan permainkan aku seperti ini...
"Dia hanya malu-malu Nak Nesia... Percayalah padaku... Darling-sama memang pemalu... Aku sudah bersamanya beberapa tahun... Ah... perkenalkan... Saya butlernya... Greef..."ucap dr. Greef bermain-main.
"Tuan Greef... Apakah Tuan Greef tahu siapa yang berani melukai Darling-sama?Aku akan membalasnya!" Ucap Nesia yang sangat polos ini sungguh-sungguh, membuat dr. Greef harus berusaha keras menahan pingkalan tawanya.
Sedangkan Kiku hanya bisa mengusap mukanya desperate sembari berharap dirinya lenyap saat itu juga dari muka bumi ini karena terlalu malu. Kiku memijat kepalanya yang pening dengan pelan, mencoba mengambil nafas sebelum berusaha untuk meluruskan semua ini.
"Darling-sama tidak apa-apa?" Tanya Nesia yang menyadari gelagat Kiku, dengan segera ia membantu Kiku untuk berdiri.
"Tidak... Tidak... aku di sini saja!" Ucap Kiku sembari duduk di kursinya saat Nesia menuntunnya ke kasur. Kiku masih memegangi kepalanya.
"Darling-sama? Anda tidak apa-apa?" Nesia mulai khawatir, ia kembali berjongkok untuk menatap muka Kiku yang tertunduk.
"W-wajah Darling-sama merah!" seru Nesia clueless, "Tuan Greef, apa yang harus kita lakukan?!" ujarnya benar-benar panik.
"Coba cek suhu tubuhnya! Barangkali dia sakit! Tempelkan jidatmu dengannya!" dr. Greef pura-pura ikut panik.
Dan sebelum Kiku sempat bereaksi, gadis itu benar-benar melakukan apa yang diperintahkan. Kiku hanya bisa kesulitan meneguk ludah, saat wajah mereka berdekatan.
"Darling-sama agak hangat..." ucap Nesia khawatir, "Apa yang harus kulakukan?!" Nesia kembali melinguk ke dr. Greef yang tampaknya merencanakan sesuatu.
"Kau bisa mengompresnya... Tapi tak ada kompres di sini... AH! Kau bisa menurunkan suhunya dengan suhu tubuhmu yang lebih dingin darinya... Caranya kau lepas bajumu dan Darling-sama... Kemudian..." dr. Greef berhenti saat menyadari Kiku akan melempar vas yang cukup besar ke arahnya.
"Lepas baju?" Gadis polos itupun mulai menarik kancing bajunya yang membuat Kiku sontak menaruh vas dan berteriak histeris sembari menghentikan gerakan Nesia.
"YAMETTEEEEEE!"
"D-darling-sama?" Nesia keheranan namun semakin khawatir saat mengetahui muka Kiku yang lebih merah dari yang tadi.
"dr. Greef! Jangan bercanda! Kumohon!" pinta Kiku sembari melayangkan tatapan horor, "Nesia-san... Tolong jangan ikuti ajaran sesatny! Dan jangan panggil aku darling-sama... Aku kakak tingkatmu! Seorang senpai..."
Nesia merengut bingung.
"Panggil aku Honda-senpai..." ucap Kiku mereda pada akhirnya.
Namun gadis itu menggeleng, "Tidak mungkin... tugasku di sini adalah untuk melindungi Honda Kiku-sama... yaitu darling-sama... Darling-sama tak perlu berbohong... Ah... Kalau darling-sama malu... Aku akan melindungi darling-sama secara tersembunyi..."
"Aku bukan darling-sama! Dan kau tak perlu melindungiku!" komplain Kiku.
"Tapi anda Honda Kiku-sama bukan?"
"Iya... –tte! Tidak pakai '-sama'!" koreksi pemuda Jepang itu desperate.
"Kalau begitu Tuan muda..."
"Itu juga nggak boleh!"
"L-lalu?"
"Nak Nesia... Bagaimana dengan Denka –your highness? Atau Geika –your eminence? Itu panggilan paling top!"
"dr. Greef! Jangan main-main!" seru Kiku
"Denka... Geika..." Nesia menimbang-nimbang.
"N-nesia-san! Aku tak punya darah bangsawan Jepang! –Mungkin ada... Tapi aku bukan emperor yang bisa dipanggil seperti itu!"
Kiku tak habis pikir dengan dokter Greef. Tadi ia tahu tentang Undang-undang Negara-nya. Sekarang tentang panggilan-panggilan semacam itu.
"Kalau begitu... Honey... Sweetie... Ah... yang agak ke-Jepangan... Ki-chan..."
Kiku memasang facepalm ter-ultimate-nya.
"Honda Kiku-sama... Saya memberikan dua pilihan... Denka atau Darling-sama..."
"K-kenapa?!" Kiku terlonjak kaget.
"Karena hanya dua itu yang kusukai... yang lainnya terdengar norak..."
Bukankah 2 itu juga norak?! Salah satunya sangat norak malah!
Kiku menghela nafas frustasi dan kembali ke tempat duduknya.
"Kalau begitu... Darling-sama..."
"Pilihan yang bagus Nak Nesia!" dr. Greef mengajak high five.
-ploook-
"Nesia-san..."
"Ya, Darling-sama?" jawab gadis itu dengan tatapan manis.
Kiku! Tahan dirimu!
Pemuda itu menelan ludahnya, "Kau akan menurutiku?"
"Tentu saja... Dan saya siap menyingkirkan siapapun yang mencoba mengganggu Darling-sama..."
Eto...
.
Kowai desu...
Kiku hanya kembali menghela nafasnya, mencoba untuk tenang. PR pertamanya adalah meluruskan panggilan dari Nesia.
"Aku menginginkanmu memanggilku 'Kiku-sama' saja kalau begitu..." ucapnya datar.
Wajah Nesia jatuh, gadis itu tampak sangat kecewa. Begitu pula dengan dr. Greef yang menghentikan kikikannya di belakang sana.
"Tapi..."
"Atau tidak sama sekali dan aku akan membuangmu..."ucap Kiku tegas tanpa toleransi.
Sejak mengenal Nesia ia benar-benar menjadi pelajar otodidak pada banyak hal; keras kepala, marah, sebal, tenang saat keadaan menggila, ketegasan dan pengendalian diri –juga belajar untuk tega. Sangat bertentangan dengan usahanya selama ini untuk mengalir bagaikan air yang tenang.
Gadis ini –Nesia, 'mengobok' semua aliran yang menghanyut tenang itu. Membuat riak-riak yang terkadang tak bisa Kiku kendalikan sama sekali.
Riak perasaannya termasuk dalam kategori 'sama sekali' itu.
Demi apapun, dia bisa-bisa kena stroke, jantungan atau mati kejang –atau cara mati mengenaskan lainnya- jika situasi berjalan seperti ini terus. Ia mengambil tangan Nesia dan menggenggamnya.
"Baiklah... Kiku-sama.." Nesia sedikit memajukan bibirnya, memanggil Kiku dengan tidak ikhlas.
Kiku menarik tangan Nesia, menggenggamnya. Ia tersenyum tipis karena permintaannya dikabulkan. Walaupun ia masih tidak puas karena panggilan '-sama' masih menggantung di situ.
Ia menempelkannya ke pipi seraya bersender di telapak mungil itu. Entah karena alasan apa –Kiku tak mengerti, ini membuatnya mendapatkan setidaknya sedikit ketenangan batin. Walaupun yang membuatnya sakit kepala adalah si empu tangan kecil itu sendiri.
Dan gadis itu kembali ceria dengan cepat.
"Nak Nesia... Sebagai bodyguard Kiku-sama... Kau memiliki kewajiban untuk melindunginya..."
Dr. Greef! Tolong jangan ikut-ikutan!
"Ya..." jawab Nesia riang.
"Adakah yang menyuruhmu melakukannya?"
"Banyak..."
Kiku tertegun, rasanya ia baru bangun dan kembali ke kesadarannya saat mendengar kata itu.
"Siapa saja?" tanya dr. Greef lagi.
"Entahlah... Tapi semua suara itu ada di kepalaku... Aku harus melindungi Honda Kiku... Kiku-samatenang saja... Aku pasti melindungi anda..." ucap gadis itu dengan senyuman manisnya.
"Nesia-san... Tahu cara berkomunikasi dengan suara-suara itu?" tanya Kiku datar.
Nesia menggeleng, membuat Kiku menghelakan nafasnya lagi, kali ini dengan kecewa.
Tampaknya... Nesia no.2-san sudah... Tertutup...
"Apa yang... Selain Nak Nesia di sini untuk melindungi darling-sama... maksudku Nak Kiku... Nak Nesia punya misi apa lagi?"
"Tidak ada..." ucapnya sembari menggeleng.
"Begitukah? Baiklah..."
*O*
dr. Greef telah pulang sejak dua jam yang lalu, sejak Nesia no. 3 kembali kehilangan kesadarannya setelah memberi tahu mereka bahwa ia akan 24 jam melindungi Kiku-sama yang tidak mau dipanggil sebagai darling-sama-nya.
Mereka meninggalkan Kiku dalam lamunan panjangnya tentang semua informasi yang telah ia dapatkan sampai saat ini. Ia masih berjaga di tempatnya meskipun bulan kini telah meninggi. Ia merasakan sebuah kejanggalan dari alter-alter yang ditemuinya.
Tapi apa?
Kiku menghela nafas panjang.
"Minggu yang sangat panjang... Ya?" gumamnya pada dirinya sendiri dan Nesia yang tertidur.
Enam hari setelah mengenal Nesia, hanya enam hari dan ia telah mengalami semua hal luar biasa aneh yang tak pernah sekalipun terbayangkan akan terjadi dalam kehidupannya. Semua hal rumit itu, semua hal gila itu.
Semua hal manis itu.
Kiku mencoba mengingat lagi hari Selasa yang lalu. Saat ia harus meliput klub baru garapan Mei. Dan pertama bertemu Nesia –atau waktu itu Pertiwi. Sungguh, Kiku yang waktu itu sama sekali tak mengerti bila dunianya akan berubah 180 derajat hanya dalam enam hari.
Dan Kikupun tertawa kecil mengingatnya.
Apakah aku menyesal telah bertemu dengan Nesia-san dan mengalami semua ini?
Kiku bertanya-tanya dalam hati. Jika ia tak pernah bertemu Nesia, apa yang sedang dilakukannya sekarang?
Kembali Kiku tersenyum simpul. Ia memajukan tubuhnya dan membuat tangannya menyangga tubuhnya di atas kasur. Ia memainkan poni Nesia yang lelap bagaikan putri tidur.
"Nesia-san... anata ni deai-tte hontou ni yokatta desu..." –Aku beruntung dapat bertemu denganmu
"Walaupun banyak konsekwensinya..." dan tawa kecil yang renyah mengikuti tatapan lembut Kiku untuk gadis yang sungguh merugi karena telah melewatkan momen sweetface pemuda itu.
"Tampaknya aku juga harus ke kamar baruku dan beristirahat..." canda Kiku sembari menarik tubuhnya, "Oyasuminasai... Nesia-san..." ucapnya lembut sembari berniat meninggalkan kecupan di dahi Nesia.
Namun gagal karena irisnya kini menangkap keping coklat yang berkedip di bawahnya.
A-ano... ne...
"Nesia... –san?" Panggil Kiku canggung. Ketahuan sudah niatannya, tertangkap basah saat ia telah lelah dan ingin sekali beristirahat.
Semoga bukan Garuda-san ataupun Tara-san ataupun yang menyebalkan lainnya!
"S-sen-pai?" ucap bibir Nesia terbata, tampak tak mempercayai penglihatannya. Jemarinya mencoba menyentuh, menelusuri, memastikan di hadapannya adalah nyata.
Bibir Kiku bergetar, pikirannya mencoba untuk meyakinkannya sendiri. Terjadi pergolakan di hatinya, antara percaya atau tidak. Antara keyakinan Nesia no. 2 telah menutup pintunya,
Atau pintu itu masih terbuka untuk memberikan kesempatan padanya sekali lagi.
"N-nesia... san..."
Beberapa bulir air mata mengalir melintasi pelipis gadis yang masih menelusuri wajah Kiku dengan jemarinya, ia mencoba untuk tersenyum. Namun gagal karena emosinya tak bisa dibendung.
"Itu benar... Suara-suara itu benar..." ucap gadis itu terbata, matanya bergerak-gerak memastikan yang dilihatnya benar-benar nyata.
Kiku menghela nafasnya sembari tertawa, pikirannya yang dipenuhi kebahagiaan entah dari mana asalnya itu kini telah setuju akan satu hal.
Nesia-san belum menutup pintunya!
"Watashi desu yo... Nesia-..."
-Greeeeeeeeb...-
Uwaaaaakh!
Kiku mencoba menstabilkan dirinya –tidak, ia sudah tak menapak lantai lagi. Satu-satunya yang menyetabilkan dirinya agar tidak membebani Nesia hanyalah lengannya yang kini berdenyut dengan sangat nikmatnya meneriakkan kesakitan.
Namun ia tetap saja tertawa tanpa suara, bahagia seperti orang bodoh.
Kedua lengan Nesia menahannya, melingkar di pundak dan lehernya tanpa membiarkannya bergerak sesentipun. Saat pada akhirnya sakit di bahunya tak tertahankan lagi, Kiku pun mencoba menarik dirinya dari pelukan Nesia, tapi tidak berpengaruh banyak, malah semakin menyakiti bahunya.
Menyerah. Ia juga tidak tega merusak momen –tampaknya- bahagia Nesia saat ini. Masalah bahunya tambah parah bisa lain kali sajalah...
"Syukurlah... syukurlah... Senpai..." isak Nesia penuh kelegaan.
"Nesia... san..." Kiku tersenyum kecil.
"O-oh... ya..." Nesia buru-buru melepas pelukannya.
Saat Kiku menarik dirinya untuk berdiri, Nesia mengikutinya dan mengambil posisi duduk. Saat itulah ia menyadari pakaian Kiku dan tiang infus di sebelahnya –yang membawa cairan infus hampir habis itu.
"Senpai..."
"Hai? Doshita yo... Nesia-san?"
"Le-lebih baik senpai istirahat sekarang!" ucap Nesia.
Ya... aku bermaksud melakukannya-... T-tunggu! Apa yang sedang kau lakukan?!
Kiku tak habis pikir ketika gadis itu turun dari tempat tidurnya dan memaksa Kiku untuk berbaring menggantikannya. Di tengah keheranannya, Kiku tak berbuat apapun selain menuruti mau kohainya itu.
Dan disinilah mereka sekarang, bertukar tempat.
"Senpai istirahat sekarang, ya..." ucap Nesia sembari mengelus kepala Kiku.
.
.
Ini... Sungguh... Kontradiktif...
Kiku memalingkan mukanya, melemparkan pandangannya ke arah perabotan –kemana saja selain senyum Nesia yang sangat manis di sampingnya.
Demi mochi tahun baru yang terlupakan dan kadaluarsa! Tukang Mie Ayam dan Batagor juga pasti tahu kalau senyum-senyum mencurigakan seperti itu, mengelus-elus gemas seperti ini dan bersenandung kecil menyanyikan lullaby sembari tertawa-tawa kecil seperti sekarang tak akan membuatnya beristirahat.
Malah kebalikannya!
Kiku menangkap dan menahan tangan Nesia, memberhentikannya dari –seenaknya- mengelus surai hitamnya. Namun ia masih belum menatap gadis itu, ia masih belum meredakan wajahnya yang memerah panas membara.
"Senpai..."
"H-hai?"
"Aku sungguh bahagia..."
Kiku sempat kaget karena tangannya yang menahan tangan Nesia ditarik. Ia merasakan sesuatu yang lembut –dan menggemaskan- di punggung tangannya. Nesia menempelkan tangan Kiku di pipinya, dan ia bersender di tangan yang mulai berkeringat dingin itu.
"Aku pikir aku kehilangan senpai..."
Oh! Daripada panas-dingin dan berpikir yang nggak-nggak, akhirnya Kiku menolehkan kepalanya. Menatap wajah murung yang dipaksa tersenyum oleh Nesia. Murung akan banyak alasan, mungkin salah satunya adalah kondisinya kini yang sempat membuat gadis itu syok.
"Warukatta ne..." ucap Kiku meminta maaf, "Sepertinya aku melanggar janjiku... Untuk tidak berurusan dengan Ina-san..."
Nesia hanya menggeleng pelan menanggapi Senpai-nya itu. Baginya, ini adalah kesalahannya. Ia membiarkan senpainya bertemu dengan alternya yang satu itu. Ini adalah kesalahannya, membiarkan senpainya sampai terluka seperti ini.
"Nesia-san... Aku tidak apa-apa... Luka segini sih... hanya tergores..."
"Jangan!", potong Nesia, "Jangan bicara seperti itu..."
"mnh..." Kiku terdiam, ia mencoba membaca keadaan.
.
.
"Kenapa... Senpai masih di sini?" tanya Nesia lirih.
"Huh?"
"Kenapa senpai masih ada di sampingku?" Nesia memperjelas pertanyaannya, "Aku sudah membahayakan nyawa Senpai... Seharusnya Senpai... menjauhiku... memutus hubungan denganku..."
"Kalau aku bilang 'tidak mau'?" tanya Kiku datar.
"eh?"
"Aku mau berada di samping Nesia-san... Itta darou? Watashi wa zutto anata no soba ni ittai... zutto... anata no soba ni arimasu..." –aku sudah bilangkan? Aku ingin selalu di sampingmu... Selalu ada di sampingmu...
"Tapi..."
.
.
Nesia menahan kata-katanya melihat keseriusan Kiku dalam menatapnya. Ia tak ingin bertengkar karena masalah ini.
Tapi ia harus bertengkar –kalau perlu. Ini demi keselamatan Senpainya juga...
"Senpai... Aku..."
"Lagipula... Ina-san telah berjanji untuk menurutiku..."
"eh?"
Kiku membalik tangannya yang digenggam oleh Nesia, ia mengelus pipi dan surai hitam Nesia yang bertengger di sekitarnya. Ia berusaha untuk membuat Nesia lebih rileks dan membiarkannya berbuat semaunya –termasuk dengan Ina.
"Aku tak mau senpai terluka... Tidak seperti ini..."
"Nesia-san... Semua ini tidak ada apa-apanya bagiku..."
"Berhenti! Tentu ada apa-apanya!" tegas Nesia.
.
.
"Nesia-san... Shiteru ka? Watashi wa... Anata no yuusha ni naritai..." ucap Kiku lagi membuat Nesia tertegun heran.
"Ini kekanakkan... Tapi... Aku benar-benar ingin menjadi pahlawanmu, semacam Alfred... menjadi seorang Hero hanya untuk Nesia-san... menjadi apa yang Arthur bilang tentang 'your-knight-in-shining-armour-and-white-horse'... –walaupun sepertinya lebih keren kuda hitam sih..." Kiku tertawa kecil dengan celetukannya sendiri.
Nesia hanya diam menanggapinya. Meskipun begitu, alis gadis itu terlihat berkerut.
Seperti ingin, tapi takut.
Tapi Kiku belum menyerah untuk meyakinkan Nesia, ini baru permulaan.
.
"Watashi wa... Anata no kibou mo hikari ni naritai... Aku ingin menjadi harapan juga cahaya bagimu..." lanjut Kiku lagi dengan suara yang lebih lembut.
Pemuda itu bisa melihat, lagi-lagi sebuah efek mencelos bukti perkataannya sangat mengena. Namun gadis itu mencoba untuk tidak percaya, walaupun kelihatannya dia sangat ingin.
"Onegai... Nesia-san..." pinta Kiku saat Nesia menundukkan kepalanya dan menempelkan dahinya di tangan Kiku.
"Selama ini... aku tak menyadarinya..."
"hm?"
"Tapi... itu semua... Sudah terjadi..."
"Nesia... -san?" Kiku meminta penjelasan karena ia merasakan sesuatu seperti air membasahi tangannya.
"Nakanai kudasai..." –tolong jangan menangis
"Sudah..." isak Nesia sembari menatap Kiku. Gadis itu meminta pengertian melalui tatapan matanya yang tak bisa lagi menahan air mata terlepas dari kelopak matanya.
Nesia meminta Kiku dengan sangat untuk berhenti meminta, karena itu tak perlu.
"Senpai sudah menjadi segalanya bagiku..."
Kiku mengambil nafas cepat dan tercekat saat otaknya berhasil menyimpulkan maksud gadis yang tengah menangis di depannya ini.
Pemuda itu tertawa bahagia tanpa suara –sembari menghelakan nafas lega. Ia juga merasakan perutnya tergelitik geli –entah karena apa. Apakah itu wajah Nesia yang kini sangat lucu karena tangisan –yang biasanya akan Kiku benci, ataukah jawaban Nesia, Kiku tak tahu.
Ia melingukkan kepalanya ke arah lain, mencari siapapun yang mungkin bisa dibagikan kabar gembira ini sambil terus tertawa layaknya orang aneh. Namun tak ada siapapun di sana.
Dan ia tak peduli.
Ia hanya merasa begitu bahagia dan ingin sekali berteriak memberitahukan dunia juga memeluk dan mencium Nesia –tapi itu tidak bisa. Kiku hanya bisa melanjutkan kalimatnya dengan lidahnya yang mendadak kelu karena terlalu bahagia.
"Saigo ni... Nesia-san... Anata o mamoritai –ndesu..." –Yang terakhir... menjadi pelindungmu...
Kiku tersenyum lebar, baru kali ini ia tersenyum selebar itu –ia merasa wajahnya akan terbelah menjadi dua karena panjangnya senyuman itu, "Aku ingin menjadi pelindungmu... Oleh karena itu... Ini semua bukan apa-apa..."
"Ditolak!" sergah Nesia panik.
Dan senyum Kiku luntur bersamanya.
.
.
"Naze desuka?" tanya Kiku setelah berhasil menenangkan dirinya.
"Jika aku menyetujuinya... Nanti Senpai akan terluka lagi..." isak Nesia, "Aku tidak mau... Senpai... Senpai terlalu berharga..."
"Kalau begitu aku akan menjadi pahlawan yang tidak akan terluka lagi..."
Nesia tetap menggeleng.
"Aku janji... Yakusoku desu..." tawar Kiku.
"Senpai baru saja melanggar janji..." tolak Nesia.
.
.
"Ii yo... Tak ada ujungnya membicarakan hal ini denganmu... Apapun yang Nesia-san putuskan... Aku sudah memutuskan untuk berdiri di sini dan berjuang untukmu... Dan tak ada yang bisa menggoyahkan keputusanku..." ucap Kiku percaya diri.
Ia sendiri bingung, kapan ia memutuskan hal sepenting itu dalam hidupnya? Tapi yang pasti ia sangat yakin dan teguh untuk keputusan mendadak ini. Ia sangat yakin, entah karena apa. Dan tak ada yang bisa membuatnya menarik kata-katanya lagi, sekalipun itu raut ketakutan di wajah Nesia.
Nesia terlihat menghela nafas pasrah. Tidak bisa ia berargumen lebih jauh, pemuda di hadapannya ini terlalu keras kepala –entah ia belajar dari mana. Nesia hanya bisa menggenggam tangan Kiku dan menubrukkan jidatnya berulang kali ke punggung tangan pucat itu.
"Berjanjilah... senpai tak akan terluka seperti ini lagi..."ucap Nesia menyerah pada akhirnya, memandang Kiku penuh kekhawatiran juga harapan di balik tangan Kiku.
.
.
"Wakarimashita... Watashi no Hime-sama..." ucap Kiku seraya mengecup punggung tangan Nesia dengan penuh kebahagiaan.
Setelahnya ia beralih memiringkan tubuhnya dan menjadikan lengan kirinya yang tak terluka sebagai tumpuan, dan dengan tangan kanannya yang kini telah melingkar di bahu Nesia, ia menarik gadis itu mendekat ke arahnya dan mengecup keningnya.
Manis.
"Arigatou gozaimasu, Nesia-san... Watashi ni shinjite kudasai... Onegaishimasu..."
.
.
.
.
.
.
"Ya..."
A/N:
Yippie... 15!
Author: Walaupun begitu aku jadi khawatir... Berapa chapter lagi yah kira-kira...
Neth: Nah kan... Nah kan...
Author: Mana ni jabrik belom nongol lagi... nggak usah aja kalini jabrik nongol?
Neth: Nein! Kau sudah janji!
Author: Oh, baiklah... semoga reader nggak bosan saja...
Nesia: *ngumpet di belakang Author*
Author: Ini anak kenapa lagi?
Kiku: N-nesia-san?
Nesia: Menjauh dariku! Kau menyeramkan!
Kiku: Eeeh?!
Nesia: Kau... dan cara pelafalan keinginanmu itu...
Author: Mirip banget dengan Kuro yang ngomong 'Gerakan 3A' itu yah? *senyumnista
.
.
Nesia: Tunggu pembalasanku... Hahaha! *tawanista
Author: Siapa takut?! Hohoho!
.
Kiku: Sepertinya perang akan terus berlanjut diantara Author-san dan Nesia-san... Baiklah... Saya yang akan membalas Review... Dan Oranda-san juga...
Neth: Baiklah... Pertama... Saudara Fisika... Ya, itu Alter baru... karena Nesia-san syok dan tak bisa melindungi Kiku... Jadinya ia buat Alter yang -mungkin- bisa melindungi Kiku... Walaupun menurutku tak perlu selebay itu... Dia laki-laki dan itu hanya goresan saja...
Kiku: *nyiapin Katana
Neth: Dan... *twiiitch* Saudara Fisika, perlu anda catat... Satu-satunya yang serasi dengan Nesia hanyalah saya! Terimakasih... Selanjutnya!
Kiku: A-aku belum komentar... T-tapi... Serasi yah... *blushing
Neth: Nggak perlu blushing2 nggak jelas deh! *nglirik nista
Kiku: Ah... Yuki-san, Namanya... Karena sedari sadar aku panggil Nesia... Maka yang terpatri seharusnya nama Nesia... Jadi Nesia no.3-san...
Neth: Alasan sebenarnya karena si Author udah nggak ngerti mau kasih nama apa... *dilempar sepatu
Author: Wooooi! Jangan buka kartu!
Neth: Berisik! HuH!
Kiku: Author-san! Yuki-san mau foto...
Author: ...
.
.
Author: Gue nggak bisa nggambar...
Kiku: *kecewa*
Neth: Hahaha! *bacalagi* ... *doubletwitch* Saudara Yuki... Rambutku yang indah ini akan kupertahankan sampai akhir hayatku!
-HUEEEEEEEEEK!-
Neth: Napa? Keberatan?!
Author: Nggak nahan banget deh...
Nesia: AKu masih mual...
Kiku: *nutup mulutnya masih berusaha nahan* S-selanjutnya... Dari Faneda-san...
.
.
.
Kiku: *desperate
Author: *puk2* tenang saja... masih ada dua kesempatan lagi... Eh... tapi lawan Heracles, yah *grin...
Kiku: ... Anata no imi wa wakarimasen... *tatapangarang
Author: Ahahaha... Kau dibilang imut loh...
Kiku: S-sore wa... domo... *bow
Author: Neth muncul kapan yah? Aku coba percepat deh...
Neth: Benarkah?
Author: Wani piro?
-cleeeeeeeeeeeeb...-
Neth: *sulk
Nesia: Makanya jadi personifikasi jangan pelit-pelit...
Kiku: M-maa...
Author: Last, BlackAzure29-san, Terimakasih banyak :D :D Berapa chapter? Itulah pertanyaan saya pada diri saya sendiri... Ini udah kelihatan genteman belum? :D :D #JustTry
Sekian untuk chapie ini... Mohon kritik, saran dan reviewnya yaaaa :D :D
