Kiku kembali ke kesadarannya setelah beberapa jam tertidur. Namun ia belum mau membuka matanya yang silau karena terkena cahaya mentari pagi yang menyelip di antara tirai gorden berwarna coklat susu yang menghiasi ruangan. Ia merasakan sungguh nyaman, terlalu nyaman untuk bangun.
Ah, dia baru ingat. Ini kamar barunya.
Tepat di depan kamar Nesia, hanya berjarak satu koridor dan dua tembok –seperti kata dr. Greef. Pikiran itu membuatnya tersenyum bodoh, padahal ia pun belum membuka matanya.
Kiku menggeser tubuhnya, lari dari terpaan sinar yang masuk tanpa ijin dan membangunkannya. Ia memiringkan tubuhnya ke kiri, menarik selimut dan bantal guling. Ia tak tahu jam berapa sekarang, tapi hari ini ia mengambil libur sesuai rekomendasi Pak Germania demi pemulihannya. Jarang sekali Kiku merasa semalas ini, kondisi terlalu nyaman ini mungkin akan sangat berbahaya.
Ah, ia ingat idenya malam tadi. Setidaknya ia harus berterimakasih pada Pak Germania dengan membuatkannya sarapan atau bento untuk pria paruh baya itu. Begitu banyak kebaikan dan kemudahan yang telah diberikan Ketua Yayasan Hetalia School itu.
Ia harus bangun sekarang.
-eto...
Kiku merasakan ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang sangat ganjil dengan bantal gulingnya. Iapun membuka matanya perlahan dan memperhatikan keanehan tersebut.
Lima detik kemudian, pagi pemuda Jepang yang biasanya sangat damai itu dihiasi oleh teriakan yang sangat keras dan panjang serta menggetarkan seluruh mansion itu.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Kau tahu... Kau tidak perlu membangunkan kami dengan teriakanmu itu, Honda..." ucap Germania setelah siswa yang mengganggu mimpi indahnya keluar dari kamarnya.
Kiku hanya bisa menunduk berulang kali meminta maaf, "H-hontou ni... sumimasen deshita!"
Ia merasa sangat tidak enak ketika melihat orang-orang di depan kamarnya; Pak Germania yang masih dalam night robe-nya, beberapa pelayan yang membawa pel dan sapu, penjaga taman dengan gunting tamannya, penjaga yang sudah mengeluarkan senjatanya masing-masing –tongkat, pistol dan senjata lainnya, sampai koki yang membawa pisau dapur.
"Apakah orang Asia menyambut pagi dengan cara seperti ini?" Pria paruh baya itu masih melipat tangannya di depan dadanya, memperhatikan Kiku yang tak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"E-eto... T-tidak seperti itu... Germania-sensei... Tapi..."
"Ada sesuatu di dalam kamarmu?"
"Tidak... Tidak ada... Ahahaha..." Kiku tertawa aneh, berusaha menyembunyikan pintu kamarnya yang tentunya lebih besar dari dirinya. Di dalam sana ada kenyataan yang ia tidak ingin ada orang lain tahu.
"Minggir..."
Kiku tak punya pilihan lain. Ia menelan ludahnya sebelum akhirnya dengan berat hati menggeser tubuhnya menjauh dari pintu. Ia membiarkan Germania untuk masuk. Selama proses masuknya Germania, Kiku ingin sekali lenyap mendadak dari bumi ini –entah untuk yang keberapa kalinya, namun yang bisa ia lakukan hanyalah berjongkok dan menutup semua indranya, serta membenamkan kepalanya bagaikan orang yang sedang menghadapi gempa bumi dan takut kejatuhan sesuatu.
Ia tidak menginginkan informasi apapun untuk masuk ke otaknya, sekarang.
"Tak ada apa-apa di sini..."
-E-eto?
Kiku membuka matanya dan langsung mengarah ke kasurnya. Sudah jelas-jelas pokok permasalahannya ada di sana, masih tertidur pulas dengan wajah tanpa dosa walaupun Kiku telah berteriak sedahsyat itu.
"G-germania-sensei... Aku... Ini... Masalahku adalah di tempat tidurku..."
"Ya? Kenapa? Terlalu keras? Terlalu empuk? Kau ingin futon, Japanesse?"
"Tidak... Terimakasih, maaf merepotkan anda... tapi di sana... ada..."
"Ada Nesia di sana..."
"I-itulah masalahnya..."
Germania hanya bisa menggerakkan kepalanya bingung, "Ada apa dengan Nesia?"
"A-aku tak menaruhnya di sana! Kita tidak tidur bersama... dan aku tidak melakukan apapun..." Jelas Kiku.
"Itu bukan urusanku, Asia... Kau mau tidur sekasur atau bahkan apa-apakan dia... Kalian sudah Senior High, sudah dianggap bisa menentukan sendiri pilihan kalian..."
"T-tapi..."
Seluruh yang ada di sana menghela nafas kecewa, kiranya mereka hari ini bisa mendapat tangkapan besar seorang pencuri, malah masalah sepele seperti ini. Para pelayan dan penjaga –juga koki beranjak meninggalkan Kiku yang masih syok dan tidak percaya atas reaksi mereka. Bahkan ia mendengar umpatan-umpatan yang sangat menohok;
"Amatir!"
"Naif!"
.
.
Alis Kiku berkedut jengkel.
Demi berantakkannya perencanaan wilayah kota Tokyo! Menurut mereka ia harus apa?!
Honda Kiku hanyalah seorang pemuda Jepang yang kebetulan berasal dan dididik oleh keluarga (sangat besar) yang eksis sejak Joumon Jidai*, yang memegang teguh warisan budaya Jepang dengan sangat kentalnya –mengalahkan kentalnya susu kental manis dan madu.
Oke, mungkin tidak setua itu, tapi tetap saja –menyentuh lawan jenis diluar pernikahan itu sesuatu.
"Aku percaya kau tahu perbedaan kebudayaan kita, Honda... Kau hanya melupakannya..."
"Ya... mungkin karena saya belum bangun 100 persen..."
"Ya... Itu benar... Dan yang kau lakukan itu sehat-sehat saja... Asalkan kalian tidak membuat keluarga kecil di sini.."
Kiku memasang senyum ramah penuh perempatan kesal-nya, "Tentu... Nasehat anda sangat saya perhatikan..."
S-siapa juga yang mau membuat keluarga?!
"Bagus... Bagus..." Pak Germania menganggukkan kepalanya setuju, "Baiklah... aku tinggalkan kalian berdua... Ingat... jangan buat keluarga... walaupun angka pertumbuhan penduduk negaramu minus... Masih ada banyak cara lain untuk berbakti pada negaramu..." Pak Germania menepuk pundak Kiku dan melenggang meninggalkan pemuda yang sedang susah payah menahan argumentasinya.
Tidak perlu diurusi... nanti tambah panjang... Honda Kiku... tenanglah...
Kiku mengambil nafas panjang dan menghelakannya perlahan. Setelahnya, baru ia berbalik badan dan menghadapi gadis asal Indonesia yang entah kenapa bisa mendarat di sana. Beberapa pertanyaan berputar di otak Kiku.
Bagaimana Nesia-san bisa masuk?! Bukankah aku sudah mengunci pintu tadi malam!?
Tadi malam, setelah sesuatu yang ehemsweetehem itu, Kiku tak berujung beristirahat. Ia hanya saling bertukar tatapan dengan Nesia, memandangi matanya yang bulat besar penuh ke-kepo-an tingkat akut sedangkan iris Nesia memerangkap manik monokromnya –tak membiarkannya kabur ke manapun, entah sampai jam berapa ia tak tahu.
Kiku tahu ia sudah menjadi orang gila sekarang –mereka berdua. Pasangan bodoh. Semalaman melakukan hal abnormal dan tidak jelas seperti itu disertai seringaian ataupun tawa yang tak jelas atau bahkan tak ada alasannya.
Oh, mungkin ia tertawa karena tangan Nesia terus menggenggam dan memainkan jari-jemarinya, atau mungkin ia tertawa karena Nesia tertawa lebih dahulu yang Kiku sendiri tak tahu mengapa, atau karena sesuatu di otaknya over-sekresi cairan hormon bahagia.
Dan kini ketika ia menyadari apa yang perbuatannya mereka yang aneh itu, Kiku hanya bisa menubrukkan kepalanya berkali-kali ke tembok sebagai ganti menepok jidat yang dirasa kurang ampuh.
Kiku bergumam lirih, "Nesia-san... Watashi ni nani o shitemasu ka?!" -Apa yang kau lakukan padaku?!
Dilanjutkan dengan helaan nafas lagi –pasrah, ia berjalan mendekat ke arah Nesia dan berjongkok di pinggir kasur ia lakukan dengan pelan. Menatap senyuman kecil Nesia yang tengah berada di dalam samudra mimpinya, Ia telah membenarkan isi surat Vash yang lalu.
-Hei, siapa gadis manis yang membuatmu bertekuk lutut itu?-
Gadis aneh macam Nesia-san...
Kiku tertawa kecil ketika menjawabannya. Ia tak menyangka, sama sekali. Ia pikir, ia mungkin akan jatuh cinta pada seseorang yang diam, teratur dan terstruktur seperti dirinya –pokoknya sepikiran, atau mungkin pada Elizaveta-senpai yang memiliki hobi yang sama dengannya atau pada Mei yang ia biarkan untuk 'tahu lebih'.
Atau mungkin ia akan jatuh cinta nanti, pada seseorang yang akan dikenalkan orang tuanya melalui Omiai**, atau mungkin tidak sama sekali karena standarnya cukup tinggi.
Kiku terhenyak. Ia mengedipkan mata berulang kali dan kembali mengamati Nesia lebih intens.
Bahkan ia tak ada dalam list standarku...
Kiku merasa dirinya kali ini sedang dikerjai oleh alam dan penguasanya. Namun ia hanya bisa tertawa kecil karena lucunya dan manisnya fakta ini.
Dia tidak tenang, tidak dewasa –anak kecil malah, ceroboh iya, sesukanya, menyusahkan, cengeng, aneh, pintar mungkin –tapi aku tidak tahu sepintar apa ia yang sebenarnya jika tak ada Nesia no.2-san, tinggi tidak, memiliki mata berwarna terang tidak...
Kiku terus mengabsen semua standarnya yang tak terpenuhi oleh Nesia dan semakin ia geli dan tertawa. Memang sedikit menggoyahkan pikirannya, tapi ia tetap tak bisa membohongi hatinya yang selalu menjawab dengan gaya pongah dan tidak peduli, "Dakara nandesu ka?" –Terus apa?/memangnya kenenapa?
"Doushita yo?" gumam Kiku heran setelah mengabsen semua standarnya –dan malah menambahkan alasan kenapa ia tak harus jatuh cinta pada gadis di hadapannya ini.
Nesia mengidap Alter Ego.
Yang lagi-lagi dijawab dengan seringaian menantang dari hatinya, "Dakara nandesu ka? Warui desu ka?" –Terus apa? Emang salah?
.
.
"Hgh... Nesia-san... watashi wa koufuku-shimasu..." –aku menyerah
Lagi-lagi, otot pipinya tertarik tanpa alasan.
"I can watch you sleep forever... Should i stalk you from now on?"
Kiku menyeringai geli penuh keantusiasan menggumamkan kata-kata yang pernah ia baca dari sebuah novel tugas kelas literatur itu. Oh yeah, Nesia bisa menjadi subjek utama dalam hobinya sekarang.
Meskipun awalnya ragu, namun pemuda yang telah berjongkok di pinggir kasur dan memperhatikan putri tidurnya itu akhirnya menarik dirinya untuk duduk di tepian kasur.
Lelah tentu saja, jika harus berjongkok selagi memperhatikan Nesia tertidur. Apalagi ia tak bosan-bosan dan bisa saja memperhatikan wajah damai itu selamanya. Apalagi dengan view dari tempatnya sekarang, wajah Nesia menjadi semakin jelas –dan lucu.
Semakin ia memperhatikan Nesia, semakin ia terhanyut, semakin ia terhanyut, semakin tenang dan damai jiwanya. Suasana ini sungguh sangat menyenangkan seperti apa yang ia inginkan dan sukai. Walaupun ia tak membenci suasana tak teratur dan berantakan ketika Nesia terbangun.
Karena ketika Nesia terbangun, itu adalah kesempatan dirinya untuk belajar tentang Nesia lebih dalam, tentang kehidupan dan kesabaran yang amat sangat.
Kiku tersenyum simpul ketika melihat kelopak mata Nesia bergerak karena rangsangan cahaya pagi yang akhirnya mengganggu tidur Nesia. Perlahan ia melihat kembali iris coklat yang dirindukannya menampakkan diri dan mencari-cari situasi.
"Ohayou gozaimasu... Hime-sama..." sambut Kiku penuh dengan kelembutan, mengalahkan mentari pagi musim semi.
.
.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
*O*
"Dasar Asia amatir!"
"Ck!"
"Bukan! Mereka teralu naif!"
*O*
"C-c-cotto! Ke-kenapa Nesia-san berteriak? T-tolong jangan berteriak... Tolong tenanglah! A-aku tidak melakukan apapun!" Ujar Kiku panik sembari menyilangkan kedua tangannya di dada membentuk X dan mundur beberapa langkah.
"Aku tak kenal kau! Kau siapa? Kenapa ada di kasurku?!"
-tte?
.
.
"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!?" Kini giliran Kiku yang berteriak kebingungan.
*O*
"Roman... Jujur saja... kalau pagiku seperti ini terus... mungkin aku akan kena stroke..." ucap Germania di ujung telepon, "For heaven's sake! This is just ten minutes before seven..."
Roman hanya bisa tertawa simpatik, "Sabarlah... kan baru hari pertama..."
"Maka dari itu..."
"Yah... Setidaknya kau tidak mengeluh karena mansionu sepi bukan?" Ucap Roman sembari terkekeh yang hanya mendapatkan balasan sebuah gumaman kecil dan helaan nafas berat.
*O*
"K-kartika-san..."
"Ya... Itu namaku..."
"Em... Berapa umurmu?"
"11 tahun..." Kartika melayangkan happy beam.
.
.
Kiku menelan ludah, "B-begitukah...?"
"Kakak siapa? Dari tadi belum menjawabku?"
"Eh... Aku... Honda Kiku..."
"oooh..." Kartika membentuk mulutnya menjadi sebuah O besar, "Kakak orang Jepang ya?"
"Y-ya... Benar..."
"Di tempatku sekolah dulu juga ada... Dan dia dipanggil dengan sebutan nii-chan... Apakah aku harus memanggil kakak dengan sebutan itu juga?"
"Bagaimana kalau senpai?"
"Senpai?"
"Eh... Kakak tingkat... Maa... Dalam kehidupan ini aku juga kakak tingkatmu?" Ucap Kiku tak yakin.
"Baiklah... Senpai..." Kartika terseyum lebar, matanya sampai tertutup karena senyum besar itu. Namun ketika ia membukanya, wajahnya berubah menjadi pucat sepucat-pucatnya.
"K-kartika... san?"
"TIDAK!" jerit Kartika sembari menghambur ke arah Kiku.
"N-na-na-nandesu yo?!"
"TIDAK! TINGGALKAN AKU! PERGI! PERGI! JANGAN GANGGU AKU!" teriaknya sembari semakin erat memeluk Kiku.
A-apakah ia sedang diganggu Ina-san dari dalam?
"Ina-san?! Kau dengar aku?! Jangan ganggu Kartika! Kau berjanji menurutiku bukan?!" seru Kiku, mencoba menghubungi dan menghentikan Ina.
"TIDAK!"
-TOK... TOK... TOK-
"H-he?!" Kiku bertambah panik sekarang ketika ia mendengar pintu kamar diketuk dengan tenaga.
"Aku masuk..."ucap Pria yang Kiku kenal sebagai Germania-sensei.
Pria itu mendengus sebal, tak habis pikir, "Apa sebenarnya masalah kalian berdua?!"
"D-di sini... Banyak sekali arwah gentayangannya pak!" seru Kartika jelas, keras dan tegas.
.
.
Sungguh... Kiku dan Germania hanya merasa bumi bergonjang-ganjing ria dan pijakan mereka menghilang. Untungnya tak lebih dari itu.
.
.
"Benar! Baru saja... Baru saja si 'maaf-saya-tidak-punya-kepala' mengangguku lagi setelah sealaman mengangguku pak! Percayalah padaku! Kumohon!"
"E-eto..." Terpecahkan sudah kenapa Nesia (Kartika) bisa ada di kamarnya
-TTE! CHIGAIMASU!
"Kartika-san... jangan bicara seperti itu ah!" ucap Kiku khawatir.
"Senpai tidak percaya padaku?! Senpai tidak melihatnya?! Tadi ia jelas-jelas di belakang senpai! Dia ingin membawaku! Tolong percayalah padaku!"
Kiku terdiam, mengamati manik yang hampir mengeluarkan air mata karena ketakutan itu. Kiku bukanlah orang yang percaya akan hal-hal mistis –ia lebih percaya trik, kepiawaian dan teknologi, bahkan ia adalah salah satu yang berteori melawan 'hobi' milik Arthur.
Tapi ia tidak merasa melawan Kartika adalah hal yang bijaksana. Maka ia menuruti gadis itu dengan mudah –walaupun sedikit terganjal, "Aku percaya Kartika-san..."
"uh..."
"Kartika-san tenang saja... Aku akan melindungi Kartika-san... jadi tolong tenanglah... ya?"
Kartika mengangguk setuju setelah Kiku memeluk dan mengelusnya lembut. Walaupun ia mulai ketakutan lagi karena kini ia tampak tengah melihat sosok lainnya.
*O*
Siang itu, Kiku tengah duduk santai sembari membuka buku pelajarannya. Walaupun ia sedang libur hari ini, tapi pelajaran tidak bisa ia telantarkan. Ia tidak ingin nilainya kembali nyaris dilampaui oleh Arthur Kirkland dengan perbedaan angka yang kecil lagi. Semester ini –atau paling dekat tengah semester ini ia akan pastikan nilainya jauh berada di atas alis ctrl+b. Sempurna sekalian kalau bisa, ia tidak dikirim ke negeri orang tanpa alasan ataupun hanya untuk hal sia-sia.
Akan tetapi, siang itu ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi.
Sama sekali.
Semua ini karena gadis aneh yang selalu mondar-mandir memutari ruangan kamarnya.
"K-kartika san... Ano ne..."
"Huuh?"
"Ano... Apa yang sedang kau lakukan?" Kiku memaksakan diri untuk tersenyum pada gelagat Kartika yang semakin aneh. Ia menempelkan sesuatu –Kiku tak mengerti apa itu- di dinding kamarnya.
"Mengusir roh-roh itu!" jawabnya serius, antusias dan tanpa berdosa.
K-kau membuatku merinding... Kartika-san...
"A-apa yang akan kau lakukan dengan cutter itu?" tanya Kiku lagi, kali ini ia menelantarkan buku pelajarannya.
"Ini bayaran..."
"Kau tidak bermaksud mengeluarkan darah entah dari mana dan meneteskannya pada mangkuk tembikar aneh dengan sajen bunga yang entah kau dapat dari mana dan kemudian membakar dupa atau kemenyan yang telah kau siapkan di sampingnya bukan?"
"Persis seperti itu... Dan darahnya pakai darahku, tenang saja... Biasanya mujarab..."
.
.
.
.
Masih dengan senyum terpaksa di wajah orientalnya, dalam hitungan nano-second, Kiku segera menyingkirkan –membawa lari dan kabur- peralatan mengerikan itu sejauh-jauhnya dari hadapan Kartika. Bahkan Kartika sama sekali tidak menyadari bahwa peralatan kerjanya telah lenyap sampai ia mengedipkan matanya.
"T-tunggu senpai! Aku membutuhkannya!" Kartika mulai bangkit untuk mengejar Kiku yang telah mengambil jarak cukup jauh dari dirinya.
"SONNA ATTE NAINDAROU?!" –mana mungkin kubiarkan hal itu?!
"Senpai!"
"IIA DESU!" seru Kiku sembari terus berlari, tak peduli lagi dengan seruan para pelayan dan penjaga yang menyuruh mereka untuk tidak memasang kecepatan 30 km/jam di koridor mansion –yang sebenarnya cukup lebar dan aman untuk hal ini.
"Senpai! Aku mohon!"
Kiku berbelok tajam dan melihat sebuah ruangan terbuka. Sebuah gudang. Ia buru-buru memasukinya sebelum Kartika berbelok dan menemukannya memasuki ruangan tersebut.
Kiku menutup pintu gudang dan duduk menahan pintu geser berbahan plywood itu dengan tubuhnya sembari beringsut untuk duduk. Ia terus mengatur nafasnya. Ia tak menduga Kartika bisa berlari secepat itu. Semoga saja ia tak ditemukan di gudang ini.
Selagi menarik nafasnya, Kiku melirik horor ke barang yang dibawanya, dan melemparnya jauh-jauh dari dirinya.
#QuotesofTheDay: Jangan pernah bermain dengan barang-barang seperti ini! Mengerti?! -Kiku
Semua itu bohong kan? Maksudku... Kartika tak benar-benar melihatnya bukan?! Hantu itu tidak ada kan?
"hgh..."
Aku harus bicarakan hal ini dengan Kartika...
Kiku membuka pintu geser itu setelah ia yakin tak ada orang di sekitar sana. Segera ia keluar dari ruangan itu dan berpura-pura tak ada kejadian apapun. Kini ia harus segera mencari Kartika, dan bicara padanya.
Eto- Moushikashite... –apa mungkin...
Perjalanan Kiku berhenti karena sebuah pikiran melintas di benaknya.
Apakah mungkin... Kartika sangat kesepian sehingga... Ia melakukan semua ini? Berhalusinasi seperti ini?
Kiku lebih meyakini hal itu ketimbang kenyataan bahwa gadis yang mengaku bisa melihat makhluk halus sedari kecil itu memiliki indera keenam. Namun kembali ia tertegun saat menemukan gadis itu di sudut lorong,
Berbicara entah pada siapa.
"Begitu ya... Ya ampun... tampaknya aku yang harus minta maaf..." ucapnya diselingi dengan tawa, "A-aku tidak sekuat itu kok... Anda terlalu memuji..."
D-dare?
"Huh? Benarkah?" Dan gadis itupun melinguk dan mendapati Kiku yang bersembunyi, "Kau benar Erinna... Senpai ada di sana... Terimakasih ya!" Ucapnya sembari berlari kecil untuk menubruk tubuh Kiku yang masih tak percaya atas apa yang disaksikan.
B-benarkah Kartika-san memiliki indera keenam?
"nh? Oh... Dah! Lady Erinna!" ucap Kartika dengan lambaian tangan perpisahannya, "Terimakasih telah membantuku menemukan senpai ya!"
"K-kartika... san..."
"Ya? Senpai?"
"A-anata wa... da-dare ka ni... o hanashimasu?" –Kamu... Ke siapa... bicara?
"Lady Erinna..."
"Do-donata desu ka?" –siapa?
"Nona Erinna... Dia sudah lama menunggui bangunan ini... Katanya dia istri dari Tuan 'maaf-saya-tidak-berkepala' yang terus menggangguku tadi malam..."
.
.
"S-sou ka? Ahahaha..." Kiku tertawa aneh.
KO-WA-I DESU!
"Erinna sangat baik dan cantik! Senpai benar-benar tak bisa melihatnya ya? Sayang sekali! Padahal kalau lihat, senpai pasti jatuh cinta..."
Maaf tapi hatiku sudah dicuri duluan... Aku tak punya hati cadangan untuk dicuri lagi... Dan bukankah dia istri orang? Akan jadi masalah kalau aku jatuh cinta padanya, apalagi dia sudah mati...
"Warna rambutnya platina... Sepanjang rambutku... tapi tidak dikuncir... Kemudian matanya biru... cantik sekali! Kemudian ia mengenakan baju abad 17an sepertinya... Beliau seperti tuan putri..."
"Benarkah?"
"Ya! Dan dia mengajakku untuk afternoon tea jam tiga nanti..."
A-afternoon tea? Yang benar saja!?
"Uh... Kartika-san... Apakah... Apakah kau yakin... tidak akan ada apa-apa?"
.
.
.
"Umnh... Itulah yang agak membuatku ragu... S-senpai... boleh aku minta tolong?"
"A-apa itu?"
"D-datanglah bersamaku ke Afternoon tea itu!"
.
.
.
"T-tapi Kartika-san... Aku... tidak bisa melihat mereka..."
Kiku sebenarnya sangat ingin ikut, ia sangat khawatir dengan Nesia. Tapi ia merasa sangat tidak aman, karena musuh kali ini tidak berwujud dan tidak berbentuk –dan yang pasti tidak bisa ia banting dengan ilmu Judo-nya.
"Tidak masalah... Tetaplah di sampingku... Itu saja cukup..."
.
.
Hai, wakarimashita... Sekarang, berapa nomor telepon saudaraku yang seorang omiyouji*** itu?
*O*
Dan... di sinilah kita...
Kiku melirik cemas di balik buku biologinya ke arah Kartika. Ia kini tengah duduk di taman belakang mansion besar yang merangkap sebagai kantor kepala yayasan itu bersama dengan Kartika kecil yang sedang berbicara entah pada siapa dengan ceria. Tak hanya itu, sepertinya, lawan bicaranya sangat banyak.
Dan Kiku sama sekali tidak bisa melihatnya. Satupun.
"Huh? Dia, senpai-ku... Yah, dia tidak bisa melihat kalian..." Kartika menjelaskan dengan tenang, "Senpai sangat baik kok..."
Kiku hanya tersenyum simpul saat Kartika menatapnya. Ingin ia masuk ke dunia kecil Kartika, tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Hal itu cukup membuatnya sedih.
"Kenapa... senpai?"
"I-iie... Kartika-san lanjutkan saja..."
"Umnh... apakah senpai... kesepian?" Tanya Kartika sembari memandangi buku jarinya.
"Tidak... Ada buku Biologi yang menemaniku... Kartika-san tak perlu khawatirkan aku..."
Sejenak Kartika menoleh ke arah yang lain –arah yang Kiku tebak ada seorang Erinna sedang duduk di sana. Kartika selalu memanggilnya saat menatap tempat itu. Kini gadis itu terlihat hanya memperhatikan kata-kata yang mungkin tengah diucapkan Nona hantu tersebut.
"Apa katanya?" tanya Kiku dengan senyum tipis saat Kartika kembali menatapnya.
"Maukah senpai melihat mereka?"
.
.
.
.
"er... Tapi... Aku... tidak punya indera keenam?" Kiku tidak yakin.
"Aku bisa membuka mata batin senpai..."
.
.
.
.
Bisakah ini menjadi lebih menakutkan lagi?!
"senpai?"
Kiku menenangkan diri. Ia mengusap dan mengelus surai Kartika untuk membantunya.
"Senpai tak perlu takut... Mereka semua baik..."
Oke... aku adalah warga negara Jepang... Negara berteknologi maju... dan aku sendiri ingin menjadi Proffesor di bidang teknologi itu... Kini aku harus berhadapan dengan sesuatu yang mistis dan bukan hanya dihadapkan pada teori supranatural-nya saja...
.
.
Tapi penawaran praktek langsung untuk melihatnya...
"Lakukanlah, Kartika-san..." ucap Kiku yang kini mulai tenang setelah menghelakan nafas.
Kartika beralih dari kursinya menuju ke bagian belakang Kiku, dengan lembut gadis itu membisikkan kata-kata yang membuat Kiku menutup mata dan mengambil nafas dalam-dalam –juga blushing berat. Kiku merasa bagian tubuhnya ditekan dan ada sesuatu yang berbeda dengannya sekarang.
"Senpai, mungkin baiknya menghadap ke bawah dulu... biar tidak kaget..." ucap Kartika bagaikan seorang praktisi profesional.
Kiku mengangguk, ia menuruti mau Kartika untuk menunduk.
"Senpai boleh buka mata..." ucapnya lagi, "Pelan saja, senpai..." Kartika kembali ke tempat duduknya dan menautkan tangannya ke tangan Kiku. Hal ini membantu pemuda itu untuk lebih tenang dan mengambil nafas panjang sebelum menengadahkan kepalanya dan menatap senyum manis Kartika.
"Halo, anak muda..." ucap sebuah suara, dan Kiku pun melingukkan kepalanya, "Apakah kau sudah bisa melihat kami semua?"
Kiku mengeratkan genggaman tangannya saat melinguk berkali-kali ke arah seorang Lady yang Kartika sebut-sebut bernama Erinna dan Kartika sendiri –yang sedang tersenyum bangga.
Uso... darou?!
*O*
Suugaku... Kagaku... to... –Matematika... Kimia... terus...
Kiku beralih pada sebuah kardus besar tempat barang-barang –atau lebih tepatnya buku-bukunya berada guna mencari bukunya untuk esok yang belum masuk ke dalam tas.
Hari ini Ia belum selesai membereskan barang-barang yang dipindahkan. Mengingat siang –menjelang sore tadi harus minum teh dengan makhluk halus, bertepatan saat paket barang-barang dari asramanya datang. Makan malam yang panjang karena ia harus menjelaskan 'kondisi' Kartika pada Germania turut memotong waktu untuk beres-beresnya. Belum lagi gangguan yang ditimbulkan karena,
Hei! Kiku bisa melihat makhluk halus sekarang! Hebat bukan?!
Ini semua karena Kartika terus bermain dengan makhluk-makhluk yang mengaku menunggui mansion ini ketimbang mendengarkan Kiku yang telah merasa cukup melihat dunia lain.
Ah... Watashi no seifuku... -ah, seragamku...
Kini Kiku beralih pada koper hitam dari kain yang bertengger di atas ranjangnya. Ia mencari-cari seragam musim semi beserta blazer yang biasa dipakainya ke sekolah. Saat mengangkat blazer-nya, ia menemukan sepucuk surat di kantung dada pakaian tersebut.
Surat dari Hong. Kiku segera membuka dan membacanya.
To: Kiku
Aku tidak mengerti apa yang terjadi padamu, tapi aku doakan kau selamat dan tidak ada barang yang tertinggal. Aku sibuk di sini menenangkan Mei. Kau harus menjelaskannya secara rinci saat berangkat. Aku juga berdoa agar teman sekamarku yang baru tidak lebih berisik darimu.
From: Hong
Kiku tersenyum simpul, membayangkan wajah datar Hong sembari mengatakan semua itu.
Tidak, Hong tak akan bicara sepanjang ini. Hanya di dalam bahasa literatur saja Hong mau mengungkapkan lebih, kalau verbal? Jangan harap.
Persiapan untuk besok sudah selesai... Mungkin aku akan membaca beberapa manga sebelum tidur...
-tok... tok...-
Atau mungkin tidak...
Kiku berjalan mendekat ke arah pintu. Ia menebak-nebak, siapa yang mungkin mengetuk pintu kamarnya malam-malam seperti ini. Terbesit di pikirannya bahwa Kartika-lah yang mengetuk pintunya. Kiku menjadi ragu-ragu, haruskah ia membuka pintu ini dan menghadapi masalah yang mungkin dibawa gadis kecil itu –kau tahu, ini sudah malam dan bisa saja mereka berakhir seperti tadi pagi.
Akan tetapi, semakin ia mendekat, Kiku sadar, yang diketuk bukanlah pintu kamarnya, namun pintu kamar Nesia. Tentunya Kiku penasaran pada sosok yang mengetuk pintu kamar seorang gadis di jam 12 malam seperti ini. Ia ingin mengetahuinya.
Maka Kiku perlahan membuka pintunya, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Ia mendapati sosok yang agak transparan, besar dan beraura negatif. Sosok itu tertawa-tawa memanggil nama Kartika. Meminta gadis itu untuk keluar dan mengikutinya.
-Kartika... Ikutlah denganku... Ikutlah dengan pria tua kesepian ini... hihihi...-
Pelan, Kiku menutup pintu kamarnya dan mengambil nafas dalam-dalam.
NANI SORE?!
Saat Kiku terlepas dari rasa kagetnya, ia segera menuju ke arah Katana-nya yang telah tergantung indah di dinding kamar. Katana itu sama tua-nya dengan tigaperempat umur keluarganya. Sangat tua –dan sangat klenik. Katana yang diturunkan dari generasi ke generasi kepada kepala keluarga Honda, dan saat ini berada di tangannya lebih cepat sebagai jimat pelindung karena Kiku pergi ke tanah orang.
Kiku menyobek sebuah kertas dan mengambil kuas serta tinta isi ulang spidol, ia menuliskan sesuatu di atas kertas itu –sesuatu yang ia ingat sebagai mantra ketika ia berkunjung ke rumah saudara jauhnya yang seorang omiyouji.
Kiku kembali mendekat ke arah pintu, mengambil nafas dalam-dalam sebelum membuka pembatas ruangan berbahan oak tua itu.
Apakah ini akan berhasil? Aku tak yakin... tetapi, setelah bisa melihat dan mendengar mereka... Aku bisa menyentuh mereka dan mereka tak menembusku lagi... Jadi... mungkin saja... Katanaku dapat menebas mereka... Walaupun kertas mantra ini mungkin salah...
.
.
Yosh!
Kiku membuka pintu kamarnya pelan, mencoba untuk bergerak seringan mungkin sehingga tak ada suara yang terdengar oleh siapapun, makhluk halus sekalipun –apalagi oleh hantu pengidap pedofil ini.
-Kartika! Kartika! Buka pintunya!-
"Pergi! Jangan ganggu aku!" terdengar seruan Kartika dari dalam kamarnya.
-Ayolah... temani pria tua kesepian ini-...—
-tlek-
Kiku meletakkan bilah tajamnya di leher sang hantu pengganggu itu, "Sumimasen, Youkai-san... Sepertinya Kartika tak mau diganggu..."
Hantu itu tertawa keras, sangat keras. Namun Kiku bertaruh hanya ia dan Kartika saja yang dapat mendengarnya.
-Kau mau membunuhku?! Aku sudah mati!—
Kiku memutar bola matanya.
Tentu saja kau sudah mati...
-Mau apa kau dengan benda ini? HUUUUHHHH?!—
Kiku melompat mundur cukup jauh saat hantu yang mengenakan pakaian abad ke 17 menyerangnya. Pemuda itu memasang kuda-kuda terbaiknya untuk bertahan dari kapak besar yang ternyata dibawa oleh hantu sarap tersebut.
Kini yang terdengar di lorong hanyalah suara dentingan besi dan suara tawa hantu sialan itu. Kiku berusaha keras untuk tak terkena sabetan kapak besar itu dan di lain kesempatan mencoba untuk menekan sang Youkai dengan permaianan Katana-nya yang mendapat nilai A+ dari ayanya sendiri –sebagai catatan, itu sangat sulit.
-SIALAN! SIALAN KAU!—
Kiku tak berhenti untuk membuat Youkai itu mundur, meskipun terkadang ia juga harus menjaga jarak karena besarnya senjata lawan. Pada akhirnya mereka kembali lagi ke tempat semula, di depan kamar Nesia.
Ini pasti hanya mimpi buruk! Ini tidak masuk akal! Demi apapun!
-Tlaaaaaaaaaaang-
Aku melawan hantu!
-TLAAAAAAANG!-
Dentingan terakhir bersuara lebih keras karena Kiku tak hanya bertahan, tapi juga sekaligus melawan. Membuat kedua makhluk beda dunia itu masing-masing mundur beberapa langkah. Kiku tak melewatkan kesempatan ini dan melempar secarik kertas yang di klaimnya sendiri sebagai kertas mantra untuk menyegel arwah penasaran.
Namun sayangnya, pada dasarnya Kiku bukanlah seseorang dengan kekuatan semacam itu. Kertas itu hanya terbang melayang dengan eloknya mencium lantai, menjadi bahan cacian hantu gila yang kini tengah terpingkal-pingkal menyebalkan.
Kuso! Tentu saja akan jadi seperti ini...
-Cukup bercandanya! Kau akan mati!—
Tepat saat hantu itu akan menyerang, pintu kamar Nesia terbuka. Penghuninya berlari keluar dan dengan tangan kosong,-
Ya, tangan kosong
-menghentikan hantu itu. Kiku hanya bisa melihat mulut kecil Kartika bergumam sesuatu, seperti mantra, tapi ia tak mengerti.
"Aku perintahkan kau untuk pergi!"
Setelah seruan keras Kartika, secercah cahaya yang sangat terang menyilaukan seluruh pengelihatan. Hantu itu mengeluarkan sebuah lengkingan dan melayang menjauh meninggalkan mereka berdua.
Tubuh Kartika terhuyung lemas, begitu pula dengan Kiku.
Namun tidak seperti Kartika yang mengeluarkan keluhan sambil terduduk lemas, Kiku harus mengamankan Katananya terlebih dahulu, "Kartika-san... buji desu ka?" – Kartika tak apa-apa bukan?
"Huh?"
"Kartika-san baik-baik saja?"
"Ya... Aku rasa... Bagaimana dengan senpai?" ucap Kartika sembari menatap Kiku, "Maaf aku lama... Butuh waktu banyak untuk mempersiapkannya..."
Kiku mengangguk kecil, "Daijoubu desu... Yokatta desu ne?"
"Maaf..."
"Huh?"
"Ini semua gara-gara aku menyeret senpai masuk dalam duniaku... Aku benar-benar minta maaf... Benar kata orang... Tak seharusnya aku..."
-Puk-
Kartika terdiam saat Kiku berjongkok dan menyentuh kepalanya, "Syukurlah Kartika-san belum menutup pengelihatanku... Sehingga aku bisa membantu Kartika-san..."
"eh?"
"Tidak apa-apa... Kartika-san... Duniamu ini sungguh hebat dan menyenangkan..."
"B-benarkah?"
"Ya..."
"Begitukah?"
Kiku tersenyum simpul sembari mengusap kepala Kartika, "Setidaknya aku beranggapan demikian... Terimakasih telah membawaku masuk ke dunia Kartika-san..."
Kartika mengangguk kecil dan Kiku kembali tersenyum hangat menanggapinya.
"Oh ya... darimana Kartika-san belajar sesuatu seperti itu?"
"Cari di internet... Juga ada beberapa hantu yang berbaik hati mengajari..." terang Kartika.
Hantu... mengajari?
"Apakah ia akan datang dan mengganggu lagi?" tanya Kiku.
"Tidak..."
"Bagaimana kalau ada seperti dia lagi?"
"Senpai tenang saja... sebagian besar hawa negatif di bangunan ini sudah kuusir..." jawab Kartika, "Tapi..." gadis itu menarik ujung baju Kiku.
"Aku masih takut..."
Seharusnya hawa negatif itulah yang takut dan lari terbirit-birit... Kartika-san kan mengusirnya dengan tangan kosong?
"Apakah Tuan tanpa kepala?"
Kartika menggeleng, "Tuan tanpa kepala ternyata baik... Kemarin ia hanya memperingatkanku..."
"B-begitu... Lalu? Apa lagi yang ditakuti oleh Kartika-san?"
.
.
"Tidak ada kan? Sekarang tidurlah..." ucap Kiku tenang, namun dijawab dengan gelengan super dari Kartika.
"Aku... Aku... Tidak mau sendiri..."
"Unh?"
"Aku takut sendirian... B-boleh aku tidur bersama senpai?!"
.
.
.
.
Breathe! Kiku! Breathe!
"K-kenapa denganku? B-bagaimana kalau aku temani Kartika-san... Kemudian setelah Kartika-san tidur-..."
"Aku tak mau bermimpi buruk!" seru Kartika memohon, "Aku takut... Mimpi buruk..."
Ugh...
.
.
.
Dengan tangan gemetar dan perasaan yang berkecamuk, Kiku mendorong sangat pelan pintu kamarnya sampai menghasilkan bunyi decitan horor yang menakuti dirinya sendiri.
Glek...
"D-dou... zo..."
Berbanding terbalik dengan muka Kiku yang merah padam dan tertunduk menahan malu yang amat sangat, Kartika beralih ceria dan langsung melompat memasuki kamar Kiku serta menyingkirkan koper hitamnya ke lantai. Tanpa aba-aba, gadis itu meloncat terjun ke kasur empuk Kiku dan menarik selimut, siap untuk tidur.
Kiku diam tak bergerak sedikitpun dari tempatnya, tak pula mengangkat kepalanya untuk tahu apa yang dilakukan Kartika di kamarnya. Suara jatuhnya koper dan decitan ranjang sudah memberitahukan semuanya. Ia merasa ada tanda tak kasat mata yang menandakan 'Totally defeated' mengarah padanya.
Yang pasti, malam ini ia akan bermimpi buruk menggantikan Kartika.
"Senpai! Aku sudah siap!"
.
.
JANGAN MENGGIRINGKU KE ARAH YANG ANEH-ANEH!
"K-kartika-san... Bisa tidur duluan..." ucap Kiku yang masih duduk tertunduk di koridor.
"Tidak mau! Kita tidur bersama!"
Dia hanya 11 tahun... baru berumur 11 tahun... tidak paham semua ini!
Perlahan, Kiku menegakkan tubuhnya. Mencoba berdiri, meskipun ia merasa tenaganya menghilang pergi –terutama di bagian kakinya. Dengan bantuan tembok, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu berwarna coklat tua yang suara tertutupnya menggetarkan seluruh tubuhnya.
Kiku rasa, malam ini ia tak perlu berganti baju dengan yukatanya untuk tidur.
Amat sangat tidak aman.
Kain tipis yang pengikatnya cepat longgar itu bisa-bisa membawa masalah besar besok pagi. Lebih baik ia tidur dengan agak tidak nyaman; dengan kemeja-nya yang semi-formal demi kesehatan pikirannya.
Kenapa aku memakai baju trainingku untuk tidur kemarin dan bukan hari ini saja?! Heeegh...
Kiku melangkahkan kakinya berat menuju ke tempat tidurnya. Bagaikan berjarak beratus-ratus kilometer antara dirinya dan tempat tidur menggelikan itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya Kiku sampai juga di tepian lain dari sisi yang ditiduri oleh Kartika. Kiku menaruh Katananya di meja kecil di samping tempat tidur. Tanpa menoleh sedikitpun pada gadis yang tengah mengernyit bingung, ia menarik selimutnya cepat seraya menyampaikan salam selamat malam, "O-oyasuminasai!"
"Senpai..."
"H-ha-hai?!" Kiku menutup matanya erat-erat merasakan Kartika berpindah posisi dan menghadap ke arahnya.
"Satu permohonan lagi..."
"N-na-nan desu ka?"
"Peluk aku..."
Dan seluruh bulu kuduk Kikupun berdiri, merinding. Ini adalah kenyataan yang lebih memacu adrenalin daripada menghadapi makhluk halus.
"H-haruskah?"
"Senpai... Aku mohon..." ucap Kartika sembari menarik bagian belakang baju Kiku, membuat pemuda itu semakin berkeringat dingin.
Hgh... Honda Kiku... Tenanglah... Ini bukan masalah besar... tenanglah... Ini hanya memeluk... Hanya memeluk... Tidak lebih! Dan tak akan kubiarkan lebih!
Kiku membalikkan badannya dan menemukan wajah Nesia (Kartika) yang sedang menatapnya lekat-lekat. Perlahan ia menempatkan lengan kirinya yang berada di bawah sejajar dengan dadanya, membuat bantal untuk kepala yang bersurai lebih gelap darinya.
Kartika tersenyum polos dan dengan senang hati menggeser dirinya masuk ke pelukan Kiku. Ia menyamankan dirinya di dalam kehangatan pemuda yang mukanya sudah tidak bisa dikatakan merah lagi.
"Hangatnya..."
"u-uh..."
.
.
Setelah Kiku bertarung dengan dirinya sendiri, setelah ia bimbang dengan banyak alasan, akhirnya tangan kanannya kini memeluk erat punggung Kartika yang kembali menggeliat di dalam dekapannya.
Gadis itu terkekeh renyah, menertawakan kecanggungan Kiku, "Aku bisa mendengar detak jantung senpai... sangat keras..." Kartika semakin menempelkan telinganya ke dada Kiku untuk mendengarkan lebih jelas.
Sedangkan Kiku hanya bisa menghembuskan nafas panjang –sekali demi menenangkan kejiwaannya.
"Aku suka berada di sini... di dekapan senpai..." ucap Kartika lirih sembari meremas kemeja Kiku.
"mnh?"
"Rasanya sangat hangat dan sangat nyaman... Juga sangat damai... Aku ingin seperti ini terus..."
.
.
"W-watashi... mo..." bisik Kiku lirih.
Kartika kembali tertawa kecil, "Senpai... Maukah selalu menemaniku?"
.
.
"Ya... Kenapa tidak?" bisik Kiku sembari menutup mata dan mengeratkan pelukannya, mengantarkan Kartika ke dalam mimpi indah.
*O*
*Joumon Jidai: 14000-400 SM, Zaman Prasejarah Kep. Jepang, seumuran dengan Zaman Batu Pertengahan (mulai dikenal tembikar)
**Omiai: Pertemuan untuk perjodohan
***Omiyouji: Pengusir setan, pendeta kuil di jepang, dan sebangsanya
A/N:
Akhirnya... Chapie 16!
Neth: Terlalu lama...
Author: Iya... AKu tahu... Tapi setidaknya tugas akhir sudah fix beres :D hehe #bahagia sekarang tinggal bagaimana caranya memecahkan minim koneksi...
Kiku:Pindah ke negaraku saja, Author-san?
Author: =.=" Nggak ah... Aku masih mau berguling-guling di pangkuan Nesia...
Neth: Aku juga mau...
Kiku: curangnya...
Author: Oke... Mari kita balas review sebelum lost connection lagi! Pertama BlackAzure29-san, :D Saya juga pas nulis senyum-senyum gaje gimana gitu... Pasti mereka berdua akan dimunculin kok :D
Neth: Kedua, Saudara Yuki Hiiro, *twiiiitch* Heh! Author sengaja ngasih aku bagian ini!
Author: Cepetan Neth! Koneksi!
Neth: Uh... Aku botak? Bahkan di bayanganmu tak akan pernah! Soal dokkter gila itu... Author... Kok kayaknya mereka nggiring-nggiring gitu?
Author: Nggiring-nggiring? Maksudnya?
Kiku: *lihat bar koneksi* Oke! Sanban! *blushing* d-domo arigatou... Fisika-san...
Nesia: Ke empat ya... Amelia-chan... Sarannya ditampung dulu yah :D soalnya tampaknya Author mau Kiku menderita dan menanganiku single-handed...
Kiku: H-hountou ka?
Author: Kalau tidak kuat tinggal lambaikan tangan ke kamera,, nanti aku kiirimkan pembantu...
Kiku: Joudan janai! -Jangan bercanda!
Author: Ah! Honda-san!
Kiku: Nani?
Author: iiiiiiiihhhhh... GeeR!
*cleeeeeb*
Author: Nanti ada cara nyatuinnya...*wink tunggulah...
Nesia: Romeo n Juliet? Nanti Kita mati -thor?
Author: Maumu gimana?
Nesia: Yaaaa... Gimana?
Author:*facepalm,, untuk ravenilu597-san,, tetap semangat ya! Ayu itu yang waktu itu cuma sedikit bangun terus tidur lagi sebelum Kiku nganterin Nesia no.1 ke dorm...
Kiku: Chara nanggung...
Author: Kau kualat nanti... Daripada itu,, :D Senang bisa menghibur :D
Kiku: Author!Koneksi! koneksi!
Author: Oh! no!
Neth: Cepat tutup!
Author: Oke! Sekian dulu! Mohon kritik review dan saran yaaaaaaaa~~!
Neth: Publish! Publish!
*piiiip*
