Kiku terdiam memperhatikan salju yang mulai turun dan memberikan aksen putih pada taman tempatnya berada sekarang. Suasana lingkungan di sekitarnya terlihat sangat nyata.
Namun ia tahu, ini bukanlah dunianya.
Saat ini masih musim semi di Hetalia School, ia ingat benar alur waktunya. Tidak seperti ini, dan ia tak seharusnya berada di sini. Ia pun hanya bisa bertanya-tanya di dalam dirinya.
Watashi wa... Hountou ni doko ga arimasu ka? -Dimana aku sebenarnya?
Tidak mendapatkan jawaban, Kiku akhirnya menghelakan nafas sembari duduk di sebuah ayunan kecil dan mengayunkan dirinya sendiri.
Suara besi yang berdecit membuat suasana semakin tak menyenangkan. Tapi Kiku tak bisa berbuat hal lain. Ia tak mengenal tempat ini, ia tak tahu siapapun di sini -bahkan tak ada orang yang lewat di jalan yang ada di sebelah taman.
Ini dunia yang sangat sunyi dan penuh dengan kesepian. Kiku berani bertaruh, tidak ada yang mau tinggal di dunia ini.
"Kenapa kau bisa berada di sini?" Tanya Kiku pada anak kecil yang duduk di ayunan sebelahnya, "Kau tidak pulang... Kartika-san?"
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Kau akan masuk angin loh..." ucap Kiku lagi.
Ia tahu suaranya tak bisa didengar oleh anak kecil di sebelahnya, tapi ia tak peduli, ia tetap berusaha untuk mengajak bicara gadis kecil berumur 11 tahun itu.
Gadis kecil itu mengayun dirinya dalam diam. Ia masih mengenakan tas sekolahnya. Bukti bahwa ia belum pulang ke rumahnya.
"Nanti kau dicari oleh keluargamu... Kartika-san..."
Di name tag yang tergantung pada tas sekolahnya, tertuliskan nama dan tempat sekolah gadis kecil itu.
Kartika – 6th Grade - Patricia Elementary School.
Bukan Hetalia Elementary School.
Namun Kiku yakin 100 persen, gadis cilik di sebelahnya adalah Nesianya -atau saat ini Kartika. Ia yakin, atau paling tidak itulah yang dikatakan oleh insting dan perasaannya. Ia juga mengenali iris coklat gelap itu. Iris yang biasanya ia lihat penuh dengan keceriaan dan membuatnya berdebar.
-Hatsi!-
Kiku sontak melinguk ke arah gadis kecil itu. Meyakini dari mana suara bersin itu berasal, Kiku beranjak meninggalkan ayunan dan berdiri di depan Kartika.
"Pulanglah sekarang... Nanti Kartika-san sakit..." ucap Kiku sembari mencoba menarik tangan Kartika.
Namun tangannya hanya bisa menembus tangan mungil yang dingin itu. Kiku melihat tubuh mungil Kartika pun bergetar menahan dingin.
Baru ia sadari, walaupun pakaian Kartika kebesaran, namun pakaian-pakaian itu cukup tipis untuk cuaca semacam ini. Bagaikan itu hanya pakaian lungsuran yang terpaksa didapatkan oleh Kartika demi menghindari tak berpakaian sama sekali.
"Kartika-san..."
"Ah... Ini waktunya memberi makan si kitty..." gumam gadis bersurai sebahu itu sembari melompat dan mulai berjalan pergi.
Kiku tak memiliki pilihan lain selain mengikutinya. Tentunya ia penasaran pada kehidupan Kartika di sini. Kiku mulai menebak-nebak bahwa ini merupakan salah satu masa lalu dari Nesia -sebagai Kartika.
Kenapa ia bisa ada di sini?
Tolong ingatkan Kiku untuk membuka buku teori kinematika antar dimensi atau sebangsanya saat ia kembali ke alamnya lagi. Tapi mungkin itu percuma. Tidak akan ada penjelasan yang masuk akal untuk kejadian ini.
Kiku terus mengikuti langkah-langkah kecil Kartika. Gadis itu menggumamkan sebuah lagu yang Kiku tak ketahui. Tampaknya mood gadis kecil itu telah berubah sekarang, lebih ceria daripada yang tadi diperlihatkan di taman.
Kiku menghela nafas lega, bersyukur ini bukanlah kehidupan miris yang akan membuat hatinya tersayat-sayat ketika melihatnya. Sampai akhirnya gadis kecil itu berhenti di depan sebuah panti asuhan milik negara yang
-Kiku tak yakin harus berkomentar apa dengan semua ini.
Semuanya normal, panti asuhan yang normal. Namun bukan satu yang tampaknya penuh kehangatan ataupun kasih sayang.
Gadis kecil itu tersenyum kecil, dan Kiku akhirnya mengerti, sedari tadi Kartika mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Kitty... Aku bawa makanan untukmu..."
Perhatian Kiku pun teralihkan pada seekor kucing kurus yang tengah tidur malas di atas tembok pagar yang telah runtuh sebagian. Kucing belang itu hanya menatap Kartika dan sepotong roti yang dibawanya.
"Hari ini makan siangku roti ayam... Kesukaanmu..." ucap Gadis kecil itu sembari mengelus lembut sang kucing yang tengah dengan lahapnya menyantap roti yang Kartika berikan.
"Aku harus masuk... Dah... Kitty!" lanjutnya sembari berlari kecil memasuki rumah yang menurut Kiku 'angker' karena anak laki-laki nakal berjaga di pintu depan dengan tatapan garang ke arah Kartika.
Kartika masuk tidak dari pintu depan, gadis kecilnya itu masuk dari pintu belakang -pintu dapur yang sebenarnya tak perlu lagi untuk diketuk, namun Kartika melakukannya.
-tok... tok...-
"Kau sudah pulang? Kartika... Cepatlah! Dunia ini tak begitu ramah untuk pemalas..."
"Ya... Selamat siang..." ucap Kartika ceria sembari melepaskan tas sekolahnya dan menaruhnya di sebuah ruangan kecil dengan tumpukan jerami dan kayu bakar.
Kiku hanya mengawasi gadis itu bergerak lincah dan ceria, namun anehnya tak menghiburnya sama sekali seperti biasanya.
Terutama ketika Kartika kecil menyingsikan lengan bajunya yang kebesaran dan mulai mencuci tumpukkan piring kotor yang menggunung.
Oke, membantu mencuci piring mungkin perbuatan bagus, namun bukan seperti ini. Apalagi dengan semua tatapan sebal yang mengarah pada gadis kecilnya, Kiku benar-benar tidak bisa terima.
*O*
"Selamat makan!" seru seluruh anak-anak yang telah duduk rapih di bangku masing-masing.
Mereka berumur antara 6-15 tahun, menyesakki sebuah ruangan kecil dengan perapian seadanya yang menghangatkan ruangan bercat oren cerah itu. Kiku menghitung jumlah kepala pirang itu.
15 dirty blonde, 20 brown blonde, 5 platinum blonde, 1 no-blonde.
Kartika ada berasama dengan mereka, duduk di ujung meja makan dan jauh dari perapian. Namun senyuman manisnya tak kalah hangat dari penghangat lapuk itu, malah lebih menghangatkan daripada api yang menjilati kayu bakar yang entah dengan alasan apa irit sekali digunakan.
Kiku yakin sekali bahwa empat anak kecil di samping Kartika sepemikiran dengannya.
"Aku masih lapar!"
"Kau sudah memakan jatahmu!"
"Kau bisa makan milikku..." ucap Kartika menengahi pertengkaran dua anak yang kelihatannya lebih muda darinya, namun berperawakan lebih tua dan besar.
Oh... Dasar Kaukasian...
Kartika membagi rotinya yang berukuran kecil menjadi dua, kemudian memberikan salah satu potongannya kepada anak yang mengeluh kekurangan tadi.
Setelah melakukannya, satu-satunya gadis dengan surai no-blonde di ruangan itu meminta ijin untuk pergi dari makan malam, meskipun tak ada yang memperdulikannya. Ia kembali ke dapur dan menemui orang dewasa yang menyambutnya dengan sindiran ketika Kartika pulang tadi.
Kiku menebak wanita itu adalah penanggung jawab panti asuhan ini. Namun sepertinya ia tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik sehingga anak-anak di sini terlihat terlantar. Atau mungkin ada alasan lainnya yang Kiku tak pahami.
Bukankah ini panti asuhan milik negara? Dimana pengasuh yang lain?
"Kau mau tidur sekarang?"
"Ya... Selamat malam..." jawab Kartika sopan sembari melayangkan senyum manisnya dan menutup tirai yang membatasi kamarnya dengan dapur.
Kiku berjalan menembus tirai kain tipis tersebut, tak percaya dan tak mengerti kenapa Kartika beristirahat di sini -di atas jerami berbantalkan tas sekolahnya.
Dilihatnya gadis kecil itu membuka bukunya sembari mencubiti rotinya sedikit demi sedikit sebagai cemilan.
Kartika sedang belajar, di kegelapan malam dan hanya dicahayai oleh sinar dari dapur yang menerobos masuk melewati tirai kain tipis di belakang Kiku. Kiku hanya bisa duduk di samping gadis kecil yang sangat tangguh itu. Menemaninya, meskipun ia tidak akan tahu.
"Satelitnya Neptunus..." Kartika menggumamkan apa yang sedang dikerjakannya.
"Triton... Nereid... Naiad... Thalassa... Galatea...-" Kiku terus bergumam menjawab sampai tirai tipis itu tersingkap dan mereka berdua melinguk bersamaan.
"Kartika... Aku tidur denganmu ya?" ucap seorang anak perempuan kecil dengan surai pirang chesnut berumur sekitar 9 tahun.
"Kenapa?" Kartika menggeser tubuhnya, membiarkan anak perempuan itu mengambil tempat di sebelahnya.
"Jack menggangguku... Dia mengambil kasurku juga... Katanya masih belum cukup walaupun kau sudah pindah kemari..."
"Oh... Oke... Tidurlah duluan..." ucap Kartika sebelum kembali ke bukunya.
*O*
"Menjauhlah! Penyihir!" seru seorang anak laki-laki sembari memukul kepala Kartika dan berlari pergi.
"Kau akan kena kutuk jika melakukan itu loh!" seru teman berlarinya ikut mengejek.
"Siapa takut?!" jawab anak lelaki menyebalkan yang sangat ingin Kiku kutuk saat ini.
Namun Kiku tak punya waktu untuk memperhatikan bocah-bocah pembulying yang tampaknya selalu ada di sekolah manapun, kapanpun dan di era apapun.
Oh, bahkan mereka belum sampai di sekolah dan ini masih sangat pagi untuk membulying seseorang.
Kiku tak mengerti mengapa gadis semanis Kartika dibulying oleh mereka. Apakah karena surai dan mata gelap yang menurut Kiku pribadi sangat indah itu? Batin Kiku mendengus kesal.
Wew, mereka sungguh merugi.
Kartika kini hanya bisa mengelus bekas pukulan itu pelan sembari melangkah menyusuri trotoar untuk sampai ke sekolahnya.
Sebuah sekolah normal menurut Kiku. Sekolah dalam kategori bagus malah untuk ukuran kehidupan Kartika -kecuali fakta bahwa anak-anak nakal juga bersekolah di dalam sana.
Patricia Elementary School -Kiku tak bisa menebak ini sekolah negara ataupun swasta. Akan tetapi, ia yakin sekolah ini adalah sekolah yang mencetak anak-anak berprestasi tinggi. Bisa dilihat dari jejeran piala, piagam dan medali yang sengaja dipamerkan di sudut ruangan yang berfungsi sebagai lobi pintu masuk.
Kiku tak mengerti apa maksud dipajang di situ, selama ini ia hanya melihat loker untuk ganti sepatu di lobi yang menyambutnya pertama kali -ups, itu di Jepang, di Hetalia School ia langsung pergi ke kelas tanpa ganti sepatu.
Penghargaan seperti itu seharusnya ditumpuk saja di ruang kepala sekolah -atau dilipat di gudang.
Kiku terus membuntuti Kartika yang melangkah dengan tampang datar. Kiku paham kenapa, itu adalah pilihan kedua selain menunduk jika kau ditatap penuh dengan intimidasi sepanjang koridor.
Sesekali seseorang mencoba menggoyahkan keberanian Kartika dengan ejekan-ejekan menyakitkan.
Tentang dirinya yang begitu jelek, atau tentang mata dan rambut gadis kecil itu, bahkan beberapa menuduhnya akan mendapatkan nilai bagus dengan black magic.
Kiku tak habis pikir. Ada apa dengan mereka semua? Maksudnya, Kartika anak yang manis, senyumnya juga manis, dan ia adalah pekerja keras kalau mereka mau tahu.
Kiku berhenti mengerutkan dahinya saat mendengar bisik-bisik di belakangnya.
-Dia lagi-lagi bicara sendiri loh!-
-Dia membolos! Lalu ia tertangkap mencuri sesuatu di kantin!-
-Dia itu pembohong! Tak boleh percaya akan perkataannya sama sekali!-
-Dia itu tak punya orang tua! Makanya tak ada yang pernah mendidiknya!-
-Dia pasti sudah gila! Atau jika tidak, dia pasti benar-benar penyihir!-
-Aku tak suka dengannya! Matanya sangat hitam dan gelap! Dia pasti makhluk dari kegelapan!-
-Kemarin ia mendorong seorang kakak kelas! Kakak kelas itu sampai dibawa ke klinik!-
-Jangan berurusan dengannya! Kau akan mati jika berbicara padanya!-
Kiku benar-benar heran, satu sekolah -seluruh murid menjelekkan Kartika. Apa yang salah dengan anak ini?!
Kiku terus bertanya-tanya sampai ia menyadari Kartika terdiam dan tak melangkah lagi. Wajahnya sangat pucat, ia menatap ke satu titik dan Kikupun ikut menatap titik itu.
-Kartika! Hari ini aku akan menangkapmu!-
Kiku memucat saat benda transparan berwujud manusia -namun hanya setengah badan- tertawa horor ke arah Kartika.
Ketika tertawa itulah, potongan tak terlalu rapih di bagian perutnya menjuntaikan sesuatu yang membuat siapapun ingin memuntahkan sarapannya.
Sontak gadis kecil tersebut berteriak keras sembari berlari ke arah sebaliknya diikuti oleh tawa 'senang' sang hantu gila.
Kiku tak sempat untuk mengejar gadis malang itu, terlalu kaget. Sebagai konsekwensinya, ia harus menahan hati mendengarkan seluruh hall yang dipenuhi berbagai macam emosi -mulai dari tawa senang, tawa mengejek, ngeri sampai keheranan.
Namun tak ada yang mengasihani.
Kiku berdiri dengan kepalan tangan di hadapan kumpulan anak laki-laki yang tertawa mengejek. Mereka pikir ejekan dari merekalah yang membuat Kartika berlari ketakutan.
Demi apapun, kalau Kiku tak tembus sekarang, ia akan menghajar mereka semua tanpa peduli jarak umur diantara mereka. Mereka memang masih kecil, namun menyebalkan luar biasa!
Kiku akhirnya mengambil pilihan untuk mengejar Kartika yang telah pergi entah kemana dikejar oleh hantu pagi buta seseram itu daripada semakin naik pitam di sini.
Tidak bisakah mereka mengerti bahwa Kartika adalah anak yang sangat spesial karena memiliki indera ke enam dan tidak menganggapnya sebagai pendusta?!
Kiku rasa tidak.
*O*
Bel pelajaran ketiga berbunyi. Setelah sekian lama mencari di areal sekolah yang cukup luas itu, Kiku akhirnya menemukan Kartika tengah terduduk lemas di bawah pohon sembari mengatur napasnya. Di samping Kartika, terlihat ada bekas diagram tergambar di atas salju. Kiku menebak, baru saja gadis cilik itu menyegel setan jahil yang mengejarnya bahkan sebelum bel masuk berbunyi.
Dari perspektif orang awam, tentunya Kartika adalah murid bermasalah dan perlu perhatian khusus. Itu yang menyebabkan seorang guru muda menghampiri murid 'nakal' yang tak sengaja ditemukannya itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?! Kau membolos lagi?!"
Kartika tak bisa menjawab, tentu saja. Jika ia mengatakan kebenarannya, dia akan dianggap lebih bermasalah lagi. Gadis itu hanya diam, dan mencoba tersenyum menahan sakit hatinya.
Semua yang dibayangkan Kiku benar, tentang bulying, tentang tak bisa bicara kepada orang lain, orang dewasa yang tak bisa diandalkan, tentang tak ada tempat peraduan.
Ingin rasanya ia memeluk Kartika kecil sekarang dan menjadi tempat pelampiasannya. Namun Kiku hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan geraman emosinya sembari menggertakan gigi-gigi putihnya ketika melihat Kartika ditarik oleh guru yang tak tahu apapun itu dengan kasar.
"Ikut aku! Sekarang!"
*O*
Sungguh ruangan yang sangat apik dengan warna-warna cerah yang sangat ceria tempat mereka berada sekarang; Ruang Konseling. Meskipun nama ruangan itu menakutkan –dan yang masuk kemari pasti anak-anak bermasalah- namun kesan angker sama sekali tak ditunjukkan di sini. Ruangan ini sangat menyenangkan, dengan beberapa wallpaper bergambar kartun dan bunga-bunga besar dan beberapa mainan kecil. Hampir mirip dengan ruang kelas anak TK, namun tentunya tidak sekanak-kanak itu.
Kartika duduk di sebuah bangku kecil berwarna biru langit, menghadap ke arah sebuah meja bundar yang rendah dengan tatapan kosong. Di atas meja itu telah tersedia segelas coklat hangat yang tak pernah disentuhnya. Ia menunggu –disuruh untuk menunggu kepala sekolah.
Gadis berbaju merah kusam itu memainkan jemari-jemarinya, bosan untuk menunggu. Kiku juga telah bosan untuk menunggu. Demi apapun, apa sih sebenarnya yang mereka lakukan? Negoisasi jual-beli? Lama sekali?!
Kiku mendengus sebal. Ia berpikir, kalau seperti ini bukankah akan lebih baik untuk membiarkan Kartika masuk kelas saja? Kemudian mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau sampai jam sekolah berakhir.
"Kau di sini lagi..."
Seseorang menyapa Kartika dan Kiku merengut kearah sumber suara yang tak disadarinya telah masuk.
Seorang guru muda –perempuan. Berbeda dari guru yang tadi menyeret Kartika, guru ini lebih terkesan ramah. Kiku menghela nafas lega –guru inilah yang akan menangani Kartika, bukan guru galak yang telah pergi entah kemana.
Tapi ia juga kecewa. Guru ini nampaknya bukan sang kepala sekolah. Dilihat dari pakaian dan umurnya itu tidak mungkin.
Tapi tidak apa...
Kiku tersenyum simpul saat menarik tubuhnya untuk memberi jalan pada guru itu –refleks. Ia baru sadar setelahnya, bahwa ia pasti akan ditembus oleh guru bersurai coklat gelap itu dan tak perlu mundur.
Guru itu menarik bangku kecil berwarna hijau muda di samping Kartika, "Kali ini apa lagi?"
"Kau tahu apa yang membuatku seperti ini..." ucap gadis itu ketus tanpa melirik ke gurunya, membuat Kiku kaget setengah mati atas perlakuan Kartika yang tidak sopan itu.
Namun sang guru hanya tersenyum simpul, "Kenapa kau berubah, Kartika?"
"Kau juga tahu kenapa..."
Apakah ini Alter lain?
"Kartika... Kau masih tidak mau memaafkanku?"
"Aku memaafkanmu... Hanya tak mau bertemu denganmu lagi..." bisik Kartika masih tak mau menatap gurunya.
"Oh... Begitu..." Guru itu menghela nafas.
Apakah gurunya ini pernah berbuat kesalahan yang fatal?
"Yah... Itu benar... Karena Kartika mencoba membantuku semua orang di sekolah ini jadi membencimu... Benar kan?"
Kartika hanya meremas roknya sembari menggigit bibir bagian bawahnya.
Benarkah? Apa yang telah terjadi sebenarnya?
-Tok... tok...-
"Kartika..." panggil seseorang di arah pintu yang terbuka, membuat Kiku dan Kartika melinguk bersamaan ke arahnya.
Pria tua itu adalah kepala sekolah. Ia berwajah sangat ramah dan penuh pengertian. Kiku tersenyum simpul, satu lagi orang yang bisa diandalkan.
"Boleh aku duduk di sampingmu?"
"Tidak!" seru Kartika.
Kiku mengerutkan keningnya.
"Kenapa Kartika?" tanya pria tua itu.
"Ya? Kenapa Kartika? Dia hanya ingin duduk di sampingmu..." ucap sang guru wanita itu dengan senyum yang sulit diartikan.
"Diam!" hardik Kartika padanya.
Kartika-san... Kau tak boleh melakukan hal seperti ini... Membentak pada orang yang lebih dewasa itu tidak boleh...
"Nak Kartika..." Pria tua itu mendekat dan merentangkan tangannya menembus sang guru –mencoba untuk mengelus kepala Kartika.
Kiku menelan ludahnya saat Kartika menangkis tangan sang kepala sekolah.
"Kartika..."
"Kumohon pergilah..." bisik Kartika lirih.
"Baiklah... Kami hanya ingin memberi tahumu... Kau dipersilahkan untuk belajar di rumah sampai waktu ujian tiba... Apakah itu tidak apa-apa?"
"Ya... Itu yang terbaik..." jawab Kartika datar.
"Itu artinya kau tak akan bisa melindungi pria tua ini lagi, Kartika..."
"Baiklah... Aku sebenarnya tak ingin kehilangan murid sepertimu... Aku tahu kau sebenarnya adalah murid yang sangat baik... Aku mengerti itu sejak kita pertama bertemu... Maafkan keputusanku ini..."
"Tidak apa-apa, pak... Terimakasih..." ucap Kartika sembari beranjak dari bangkunya dan melangkah pergi.
"Aku hanya tinggal menunggu perlindunganmu atas pria bau tanah ini lepas bukan?" seru sang guru yang Kiku pikir baik tadi masih dalam nada manis –yang kali ini memuakkan.
*O*
"Tak akan kubiarkan! Tak akan kubiarkan!" isak Kartika sembari berlari menyusuri koridor untuk menuju halaman luar, "tak akan kubiarkan!"
-sruuuuuugh-
Kartika terjatuh di tumpukkan salju yang dingin. Ia tak bergerak untuk beberapa saat, membuat Kiku menjadi sangat khawatir, "Kartika-san... daijoubu desu ka? Kartika-san?"
"Kenapa..." Kartika menarik tubuhnya untuk duduk di atas salju.
Kiku tertegun sejenak.
"Kenapa harus seperti ini..." keluhnya lagi dengan isakkan yang kini menjadi tangisan.
.
.
.
"Kartika-san..."
Oh, andaikan suara Kiku dapat menggapai Kartika sekarang. Namun itu tak mungkin terjadi. Ia hanyalah masa depan yang tak ada sangkut pautnya di sini. Ia bahkan lebih kasat mata –lebih mistis juga daripada hantu-hantu itu sekarang.
"Tak akan kubiarkan!" desahnya sembari bangkit berdiri kemudian mulai berlari ke sebuah pojok dari sekolah tersebut.
Kiku tergopoh mengikutinya. Dilihatnya gadis mungil itu mencari-cari sesuatu yang mungkin tersembunyi di bawah salju.
Sebuah pecahan batu, dan dengan itu Kartika menyayat tangannya. Kiku berteriak keras memprotes, namun suaranya tak akan sampai pada Kartika sekeras atau sekuat apapun Kiku berusaha untuk menghalangi gadis itu menjalankan niatnya.
Kiku berlutut supaya dapat meraih Kartika, berulang kali berusaha untuk memeluk dan menarik tubuh gadis itu. Namun itu tak pernah berhasil, usahanya sia-sia.
Kuso!
Kini ia hanya bisa memerhatikan apa yang Kartika lakukan dengan hati yang kesal. Gadis itu mengucapkan sesuatu yang lagi-lagi Kiku tak mengerti. Darah merah segarnya menetes deras di atas salju putih. Sedetik kemudian sebuah diagram yang terbuat dari cahaya muncul.
Kiku pernah melihatnya, di dalam game online RPG, ia tak menyangka akan melihatnya di kehidupan nyata. Meskipun berbeda, namun ini masih satu macam dengan apa yang pernah ia lakukan ketika bermain sebagai seorang wizard ataupun sorcerrer. Kartika bermaksud membuat sebuah kekkai –penghalang magis.
Selesai pada satu titik, Kartika berlari ke pojok lainnya. Kiku mengikutinya sembari merinding ngeri.
Apakah gadis sekecil ini bermaksud untuk melindungi area seluas sekolah ini?!
"Kartika-san! Darahmu bisa habis!" seru Kiku lagi, namun masih sia-sia, "Kartika-san!"
Semuanya berlalu begitu cepat. Tidak terasa kini mereka telah kembali ke halaman depan. Kondisi Kartika sudah tak dapat dijabarkan. Pucat, terengah, berantakan, kecapaian –setidaknya dia telah membuat 20 titik energi untuk penghalangnya itu.
Kiku tidak percaya ia tidak bisa berbuat apapun untuk menghalanginya. Ia sungguh tidak berguna, hanya berlari-lari dan berteriak-teriak tidak jelas di belakang Kartika tanpa diacuhkan sama sekali.
"Sudah terlambat!" seru Kartika galak yang membuat Kiku terperanjat.
Pemuda itu menengok ke arah dimana iris hitam Kartika menatap. Guru wanita yang tadi berada di Ruang Konseling itu telah berada di sana. Marah. Kiku tahu kenapa.
"Singkirkan semua ini!" teriaknya, luntur sudah semua keramahan sang guru.
"Tidak..."
"K-kau!" sang hantu guru itu mengeluarkan sesuatu, seperti pisau lipat, dan berlari dengan cepat menyerang ke arah Kartika.
Gadis kecil itu tak sempat untuk bereaksi, ia hanya tercekat. Berbeda dengan Kiku yang dengan sekuat tenaga dan pikirannya mencoba untuk memeluk Kartika dan melindunginya. Menjadikan punggungnya sebagai perisai dari hantu yang kini siap untuk menusuk mereka.
"HENTIKAAAAAANN!" teriak Kiku sesaat sebelum pisau itu melukai belakangnya dengan sayatan panjang.
Kartika semakin terkejut, terlebih sang guru yang gagal menyerang Kartika itu.
"Sekarang, Kartika-san!" seru Kiku menyadarkan Kartika untuk memulai mengaktifkan kekkai-nya.
Sebuah kilatan cahaya membentuk pusaran di tengah gedung, semakin meluah dan melebar sembari mendorong makhluk halus apapun yang ditemuinya. Ini adalah pembersihan masal –Kiku tak percaya Kartika bisa melakukan hal semacam ini. Begitu banyak makhluk halus yang terusir –termasuk sang guru yang kini entah lenyap kemana Kiku tak mau tahu.
"T-terimakasih... uh... Kau... tidak ikut terusir?"
Kiku tertawa kecil, "tentu tidak..." ucapnya sembari mencoba memeluk Kartika lagi –namun kali ini kembali gagal. Tidak hanya itu, perlahan ia merasakan tubuhnya semakin transparan dan siap menghilang.
"Jadilah gadis yang baik... Kita akan bertemu lagi nanti... pasti..." ucap Kiku.
Kartika mengerutkan keningnya, sedetik kemudian ia menutup mulutnya bagaikan mengerti. Gadis kecil itu kini berpindah ke belakang Kiku yang tersayat, "Kau tak seharusnya melakukan ini! Kau yang sekarang yang akan menanggungnya!"
"Huh?" Kiku merengut heran.
Namun tidak lagi di detik berikutnya. Ia ingat sekarang bahwa sewaktu kecil dulu pernah terluka tanpa alasan yang jelas – seluruh keluarganya yang masih beraliran kuno sepemikiran bahwa itu adalah ulah youkai, dan tampaknya memang benar, seorang obake yang membuatnya seperti ini. Hal ini juga menjadi sebab ia tahu bahwa ia memiliki saudara seorang omyouji dan harus menjalani ritual penyucian yang suaaaaaangat membosankan di kuil penuh debu itu.
Tapi kalau waktu itu ia tahu bahwa semua ini adalah untuk Kartika, mungkin ia akan lebih menikmatinya.
"Tidak apa-apa..." ucap Kiku tenang, "Aku cukup tangguh saat di usia ini..."
Setelah Kiku mengatakannya, semua pemandangan itu menjadi kabur dan menghilang. Kini ia berada di ruang void yang tak dikenalnya.
Kiku hanya berharap, Kartika akan baik-baik saja setelah ini. Oh, mungkin memang baik-baik saja. Ia bertemu dengan mereka semua bukan di masa depan? Hal ini membuatnya merasa sangat lega.
Sesuatu menarik perhatiannya, sebuah cahaya. Kiku berjalan mendekati cahaya itu dan menemukan sebuah pintu. Kini ia sangat tertarik untuk membukanya.
-ckleeeek-
Adalah sebuah ruangan penuh dengan –Kiku tak tahu apa itu, tapi semua itu mengingatkannya akan bagian elektronik di sebuah supermarket. Seperti tv LCD yang memutar banyak sekali film tentang memori. Kiku menyadari Kartika berdiri di tengah-tengah semua itu mengamati semua memorinya.
Kiku segera menghampiri Kartika. Kini tangan kecilnya menggenggam tangannya sekarang, membuat Kiku tersenyum manis ke arah seorang gadis yang sangat dikenalnya itu.
"Kini aku merasa duniaku dulu sangat indah... Ketika aku membayangkan senpai ada di sana mengawasiku... Ketika aku tahu aku tak sendirian..."
Semua film memori itu berubah. Kiku ada di sana –walaupun sebenarnya tidak demikian-, mengawasi Kartika walaupun tak berbuat hal lain selain berdiri.
"Aku benar-benar berterimakasih untuk waktu itu... Aku tidak menyangka..."
"Aku sangat bersyukur Kartika-san mau membawaku ke dunia Kartika-san... Yang paling menyenangkan adalah ketika aku berhasil melindungi Kartika-san..."
"eh?"
Kiku menarik Kartika kedalam pelukannya, "Apa yang Kartika-san inginkan... adalah kepercayaan dan keramahan kasih sayang bukan?"
Kartika hanya terdiam di dalam dekapan Kiku, mengangguk kecil, "Aku hanya ingin seseorang yang memelukku sehangat ini..."
"uh?"
"Tidak lebih kok..."
Kiku merasakan sesuatu yang hangat membasahi kain yang menutupi dadanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya itu saat tangan Kartika memeluknya pula.
"Ini sangat hangat... Aku merasa hatiku meleleh..." ucap Kartika sembari tertawa kecil di antara senggukan tangisnya, "Oh ya... dan juga orang yang mau berbagi dunia denganku..."
"Kartika-san... Nanimo iwanaide... wakarimashita yo..." –Kartika tak perlu berkata apapun... aku sudah mengerti...
"Un..." Kartika mengangguk kecil sembari mengeratkan pelukannya.
.
.
Kiku mengelus surai Kartika sembari tersenyum lembut merasakan kepala Kartika yang menggeliat mencari kehangatan yang lebih di dadanya. Gadis itu berhenti saat akhirnya menemukan suara detak jantung Kiku yang berpacu cepat. Kiku kembali dapat mendengar suara tawa kecil Kartika yang sangat renyah.
Gadis itu telah berhenti menangis sekarang. Ia sangat menikmati momen diam berdua ini seperti Kiku menikmatinya. Tak ada apapun di sini, yang ada hanyalah perasaan hangat yang menjadi-jadi, melelehkan perasaan dan pikiran mereka berdua serta meleburkannya menjadi satu.
"Aku menemukan tempat istirahatku..." bisik Kartika lirih, hampir luput dari telinga Kiku.
Kartika menatap Kiku dengan tatapan terhangatnya, begitu pula dengan Kiku –seolah Kartika adalah satu-satunya.
"Tempat istirahatku... Ada di dalam hati senpai..." ucapnya lirih sembari menarik tengkuk Kiku, memberi kecupan hangat di bibir pemuda itu yang dibalas dengan sangat lembut dan manis oleh Kiku.
Segala emosi bertemu, bertaut, dan dilepaskan saat itu juga sampai mereka tak merasakan apa-apa lagi selain mereka berdua.
Kartika tersenyum kecil di tengah jeda mengambil nafas, "Jaga aku... senpai..."
"Hai..." jawab Kiku lirih sembari melanjutkan kecupan itu –sebelum Kartika benar-benar menghilang, menyatu dengan Alter lainnya.
Semua memori itu –juga ruangan tempatnya berada kini mulai menghilang, melebur bersama empunya, menyatu ke tempat lain. Kiku memperhatikan semua itu dalam diam, merasakan sedikit kecewa karena ia cukup menyukai Kartika. Tapi ini untuk yang terbaik dan ia tidak benar-benar kehilangan Kartika.
Memori-memori itu membentuk sesuatu yang bercahaya dan melayang pergi melewati sebuah pintu. Kiku tertarik untuk mengikutinya, maka dengan berlari kecil ia mengejarnya dan menemukan 'dunia' Nesia yang pernah dijabarkannya sebelum ini.
Ia melihat semuanya, yang dimaksud dengan tangga batu yang runtuh itu dan ruang void yang melingkupi semua jalan yang berantakan melingkar-lingkar tak jelas ujungnya –lebih parah daripada roller coaster yang pernah ia naiki. Cahaya kecil Kartika membuatnya dapat melihat beberapa 'ruangan' suram yang melayang di beberapa ujung tangga batu itu. Juga sebuah 'stage' di tengah-tengah void –yang siapa bisa menguasainya maka akan mengambil kendali tubuh Nesia.
Tidak terlewat pula, kurungan dari platina yang berada jauh di puncak sana –tempat cahaya kecil Kartika menuju.
Uso yo...
*O*
Kiku terbangun dengan mata yang sembab, beberapa air mata jatuh ketika ia mengedipkan kelopak matanya. Hal kedua yang disadarinya adalah Nesia yang masih berada di dalam dekapan eratnya. Kiku tersenyum lembut saat menyadari ada bekas linangan air mata mengalir menghiasi pipi tembam itu. Kiku memajukan tubuhnya, menjilat bekas itu. Sebelum seseorang datang mengganggu mereka.
Sesehantu maksudnya.
"Selamat pagi, Sir Honda..." Erinna memberika salam yang membuat Kiku berjengkit mundur.
"P-pagi..." jawab Kiku dengan kikuk.
-tte... Aku masih bisa melihatnya?! Aku masih bisa melihatnya?! K-kartika-san kan...
"Jangan khawatir... kemampuan itu nanti akan hilang sendiri... Nona Kartika hanya membuka mata batin anda untuk sementara waktu..."
Yokatta...
"Apakah dia sudah benar-benar menghilang?"
"Tidak... dia hanya membuka pintunya dan melebur dengan alter lainnya..."
"Apakah itu hal baik?"
"Ya... seharusnya..."
"Syukurlah kalau begitu..." ucap hantu itu lagi, "Kalau begitu, kami mohon diri... Kami akan menjaganya dari dunia kami..."
"Ya..."
Hantu 'tuan putri' itupun menghilang setelah memberi hormat layaknya bangsawan eropa.
Kiku melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu jam berapa sekarang.
08.20...
Wajah Kiku pun memucat. Tidak banyak berpikir lagi, ia langsung meloncat turun dari tempat tidurnya dan berlari memasuki kamar mandi.
Kiku baru saja melepas kemejanya saat teringat Nesia belum bangun. Tentunya gadis itu ingin berangkat hari ini setelah ikut membolos bersamanya kemain bukan?
"Nesia-san! Nesia-san! Okite! Okite kudasai! Nesia-san!"
"H-huuuh?"
"Nanti kita telat..." seru Kiku lembut.
Pemuda itu tersenyum hangat ketika iris brown-sugar Nesia terbuka.
.
.
.
.
.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
*O*
"Mulai lagi, deh... Dasar Asia..."
"Mereka itu sebenarnya makhluk apa sih?"
"Siapa yang tahu... Alien mungkin?" Germania menjawab bisik-bisik pelayannya sembari menyesapi kopi paginya.
*O*
Kiku berlari menelusuri koridor yang mengarah ke kelasnya sembari mengusap pipinya yang masih sakit. Tadi pagi setelah teriakan keras Nesia yang disusul dengan teriakannya sendiri saat ia menyadari bahwa dirinya tidak memakai baju, gadis itu menamparnya.
Ya, Kiku merasa dirinya memang pantas mendapatkannya. Betapa cerobohnya ia! Itu memalukan sekali! Rasa-rasanya ia telah berbuat sekuhara terhadap Nesia.
Mana yang bangun adalah Nesia no.1-san yang terakhir kali sadar adalah ketika tragedi mobil taksi sarap itu.
Aku benar-benar pusing...
Apalagi, selama perjalanan dari mansion kepala yayasan Nesia terus menatapnya jijik. Membuat Kiku semakin merasa bersalah. Namun karena mereka hanya memiliki waktu 5 menit lagi sampai jam 9 –ketika bel masuk berbunyi, tak ada debat argumentasi yang terjadi di antara mereka berdua.
Setelah ini, ia harus meminta maaf atau melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.
.
.
"Kau bicara dengan siapa Arth? Jangan-jangan peri-perimu lagi?!" ledek Alfred ketika Kiku membuka pintu ruang kelasnya.
"Biarkan aku sendiri, git!"
"Ah! Kiku! Kau sudah datang! Lihat, Artie berbicara dengan makhluk khayalannya lagi!"
"Apaan sih?!" Arthur mendengus sebal ke arah Alfred meskipun mukanya memerah entah kenapa.
"Kalau kau merasa kesepian... Sini... biar aku temani kau... mon cheri!" ucap seseorang yang asing di kelas itu.
"Menyingkir dariku, you frog! Kenapa kau ada di sini?! Ini kelas 2!"
"Aku mengantarkan titipan guru pelajaran pertama kalian... Sekalian ingin menyapa adik-adikku yang manis..." kalimat yang membuat bulu kuduk berdiri itupun ditutup dengan kedipan mata yang membuat sarapan pagi ingin keluar.
"Pergi! Shooo! Shoo!" usir Arthur sembari menendang kakak kelasnya itu keluar melewati Kiku dan pintu belakang kelas yang dibukanya.
"Ohayou gozaimasu... Arthur-san..."
"Ah... Pagi..." ucapnya malas.
Arthur segera menuju ke tempat duduknya, diikuti dengan Kiku yang memang duduk di sebelah pemuda Inggris itu. Sesampainya di tempat duduk, mood Arthur berubah menjadi bahagia kembali.
Kiku tahu kenapa, dan ia memasang seringaian di wajahnya.
"Ada apa, Kiku?" tanya Arthur saat menyadari Kiku memperhatikannya.
"Bukankah tidak boleh membawa hewan peliharaan di dalam kelas, Arthur-san?"
"Eh... Itu... Uh? Eeeeh?" Arthur kini kebingungan sekarang. "K-ka-kau... bisa melihatnya?"
"Melihat apa?" tanya Kiku menguji. Ia ingin tertawa atas reaksi Arthur yang gelagapan.
"Uh..." Kini wajah si tsundere kembali memerah, ia merasa ragu untuk menyebutkannya. Terlebih Alfred di belakangnya sudah siap untuk menggodanya jika ia mengungkit hal ini lagi.
"Aku melihat... 3 yang cantik dan terbang... kemudian kelinci yang terbang... dan unicorn..." bisik Kiku.
"B-b-be-benarkah?!" seru Arthur antusias, tapi menyadari Alfred ingin menguping ia pun melipat tangannya di depan dada, "I-itu mana mungkin! Mana ada yang seperti itu di dalam kelas ini..."
Ah... Dasar tsundere...
"Ya sudah..." Kiku menutupnya dengan senyuman tak peduli.
Sedangkan Arthur harus menghabiskan hari ini dengan melirik penuh dengan rasa penasaran dan tidak nyaman ke arah Kiku. Sampai akhirnya di penutup jam pelajaran ke tiga, Kiku memberinya secarik kertas yang membuatnya malu dan jengkel tak tertolong karena merasa kembali menjadi korban kejahilan pemuda Jepang itu entah untuk yang keberapa kali.
- Aku hanya bercanda... TeeHee \(^o^)/-
Kiku tersenyum menatap langit lewat jendela kelasnya, pura-pura tidak memperdulikan kemarahan seorang anglo di sampingnya –nyatanya, ia sangat menikmati trik mengerjai paling simple-nya yang sukses besar.
Aku benar melihatnya loh... Sampai akhir jam pelajaran pertama tadi...
.
.
.
Ya, kan? Kartika-san...
A/N:
Chapitra 17!
Review dibalas di chapter selanjutnya ya... Ini hanya memungkinkan untuk publish... Gomennasai... m(_ _)""m
Mohon kritik saran dan review selalu... .
