Kiku menaikkan alisnya tak percaya saat Mei menjawab pertanyaannya ketika ia mendatangi klub tarian tradisional. Ia datang kemari setelah menyelesaikan tugasnya di klub surat kabar karena berpikir Pertiwi akan kemari, namun nyatanya tidak demikian.

"Nesia belum ke sini tuh... Aku juga mencarinya... Apa mungkin ia lupa kalau ini hari selasa dan kita ada latihan menari ya?" ucap Mei sembari mengelus dagunya, memberikan pose berpikir.

"Dari pada itu... Kau sebaiknya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Aku khawatir padamu!"

"S-sore wa..."

"Kau ditemukan berlumuran darah dan Nesia seperti itu keadaannya... Apa yang terjadi sebenarnya?! Apakah benar Nesia yang..."

"C-chigau desu!" potong Kiku panik.

"Lalu apa?" tuntut Mei.

"Kita juga mau dengar yang sebenarnya, ana..." ucap Thai yang akhirnya menghentikan pemanasannya.

"Aku juga..." Vie ikut menuntut.

"Ceritakan saja, hyung! Kami akan membantu kalau ada masalah, da ze..."

"E-eto... Jitsu wa..." –sebenarnya...


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


"Hoooh... Jadi Nesia berteriak-teriak seperti itu karena ada penjahat di dalam kamarnya?" Mei berdecak antusias.

"Lalu guru itu masuk dan penjahatnya memukul guru itu sampai pingsan?" Vie mengulangi cerita bagaimana guru itu ditemukan tidak sadarkan diri.

"Lalu hyung melawan penjahatnya, da ze?! Seperti yang ada di anime-anime milik hyung? Itu keren sekali da ze!" Yong menutup dengan gerakan super sentai yang pernah dilihatnya.

"M-maa... Kurang lebihnya..." Kiku berusaha untuk tidak memutar bola matanya, kalau ia sampai melakukannya, pasti akan ketahuan itu cerita bohong.

"Sayang sekali penjahatnya kabur, da ze! Aku juga ingin menghajar penjahat!" seru Yong semangat.

Kiku tersenyum simpul, "W-watashi wa... cotto ishogashii desu... Sore ja..." –aku agak sibuk... Sudah dulu ya...

Tanpa melepas senyumnya, Kiku berbalik badan dan meninggalkan Klub baru yang kini heboh sendiri dengan cerita penjahat itu. Namun, ketika ia hampir berbelok di tikungan dan baru saja mau mengambil nafas lega, seseorang menepuk pundaknya.

"Tunggu dulu..."

E-etto...

"T-thai-san? H-hong-san?" Kiku membalikkan tubuhnya, masih dengan senyum yang sama.

"Kau mungkin bisa mengelabuhi ketiga orang itu, ana... Tapi tidak dengan kita..." ucap Thai dengan senyum manisnya.

YABAI! -gawat

"Jujurlah pada kami, gege..." ucap Hong datar.

"Pasti... ada sesuatu antara kau dan Nesia, ana... Aku yakin sekali, ana..."

"E-etto... Thai-san... W-watashi wa... A-anata no imi wa wakarimasen..." Kiku memalingkan pandangannya, mencoba untuk menghindar dari senyuman maut pemuda Thailand di hadapannya. Keringat dinginpun mulai menetes sebagai tanda kepanikan.

"Kiku... Toto-chan bilang aku boleh menyantetmu kalau kau tidak mau jujur..." Thai mengeluarkan boneka gajahnya yang beraura sangat negatif dan mendekatkan boneka itu ke telinganya seakan gajah mungil itu membisikkan sesuatu.

Kiku tahu bahwa ini adalah sesuatu yang berbahaya, meskipun ia sudah tak bisa 'melihat' lagi, namun rasa-rasa itu masih ada yang tertinggal dan memberitahukannya.

"Kiku..."

"Gege..."

"E-eto..."

"Baiklah kalau kau memilih jalan sulit, ana... Jangan salahkan aku jika kau merasa kesakitan sekarang, ana..." ucap Thai dengan senyum beraura ungunya.

.

.

"Eto... Sumimasen... Aku tak merasakan apapun..." Kiku masih menunggu.

.

.

.

.

.

"S-sebentar... Jangan kabur, ana!" Thai mulai gusar.

"H-hai?"

.

"K-kok nggak mempan ya, ana?!" Thai menarik Hong dan berbisik-bisik panik di sudut ruangan.

Hong hanya menaikkan pundaknya tak mengerti dengan muka datar. Dia kan bukan spesialis santet menyantet, kenapa Thai malah bertanya padanya?

"Anaaa... Ada sesuatu yang melindunginya dari santetku..." Thai melirik Kiku yang masih keheranan dengan sebal, "Jadi ini kekuatan magis Jepang, ana? Nantangin ya, ana?!" Thai mulai tertawa dengan aneh.

"Sebaiknya kau tidak melakukannya..." Hong mencoba menahan Thai dan niatan untuk menantang Kiku. Ia merasa jika mereka sampai 'berduel', akan ada penambahan cerita tragedy-mystery di sejarah sekolah tua ini.

Sedangkan Kiku tak tahu harus melakukan apa ketika kedua temannya ini asik berbisik-bisik dengan aura aneh dibelakang mereka. Jika ia lari –Ia yakin akan dikejar dan tututan akan menjadi dua kali lipat. Jika ia berdiri terus di sini –Ia yakin ia terlihat seperti orang aneh –atau mungkin orang bodoh karena tidak mengambil kesempatan lebar ini untuk kabur.

Ano futari... nani ga shimasu ka? –mereka berdua itu sedang apa?

"Ehem... Kiku... Pokoknya jujur saja, ana..." Thai kembali menghadap Kiku sembari membetulkan kacamatanya, mencoba untuk terlihat serius.

"Gege, kau bisa percaya pada kami..."

"Kiku... Kau kan tahu, ana... Nesia itu saudara jauhku... Bagaimanapun juga ini tanggung jawabku, ana..."

Saudara jauh? Oh! Benar juga!

"T-thai-san... Seberapa jauh persaudaraanmu itu?" tanya Kiku setelah ia memikirkan sesuatu.

"Sejauh kau dengan Hong, ana... Kurang lebih seperti itu..."

"Thai-san... tahu dari mana kalau Nesia-san saudara jauhmu?"

"Dulu Nesia pernah bermain ke rumahku, ana..." Thai tersenyum manis, "Aku juga memiliki foto mereka sekeluarga dengan keluargaku... Jadi aku masih ingat parasnya, ana... Lagipula dulu kami bertemu juga karena Nesia mau dijodohkan denganku, ana... Biar keluarga kami erat lagi..."

-JGLAAAAAAAAARRRRRRR-

Petir imajiner menyambar-nyambar di belakang Kiku saat Thai dengan clueless-nya memberikan seluruh informasi itu secara cuma-cuma kepadanya.

.

.

N-na... nani?

Otak Kiku berhenti bekerja, bahkan sepertinya, medulla oblongatanya lupa untuk mengerjakan tugas penyokong kehidupan Kiku –bernafas dan mendetakkan jantung. Keadaan Kiku bagaikan robot canggih yang kabelnya putus, sekrupnya hilang, dayanya tinggal dua watt dan siap untuk mati.

Dalam satu kata : Miris.

.

.

E-e-e-tto... A-a-ano...

Kiku masih berusaha keras untuk memutar 'gear' otaknya.

"Kiku? Kau kenapa, ana? Kiku! Hoooooiii!" Thai melambaikan tangan di depan wajah Kiku yang membatu.

Nyawa Kiku seakan melayang-layang terbang entah kemana. Hati dan pikirannya masih saja tidak mau untuk kembali dan menghadapi kenyataan yang datangnya terlalu 'menggemparkan' ini.

K-k-ko-ko-konyakusha?! –Tunangan?!

Kaki Kiku melemas. Pemuda Jepang itu jatuh terduduk, masih belum bisa menerima apa yang dikatakan pemuda Thailand di sampingnya. Ia hanya bisa menatap lantai koridor sekolah yang dengan samar memperlihatkan cerminan dirinya.

Seorang pemuda Jepang dengan wajah yang sangat pucat dan mata terbuka –terbelalak selebar itu. Bahkan Kiku baru tahu matanya bisa sebesar itu jika ia mau mencoba. Peluh dingin karena frustasi mulai berjatuhan. Kiku benar-benar tak tahu apa yang akan dilakukannya mulai dari sekarang.

Membatalkan pertunangan itu?

Menculik Nesia?

Oh! Apa kata keluarganya di Jepang nanti?!

"H-hong... Apa yang terjadi, ana?! Kenapa Kiku menjadi seperti ini ana?!"

Hong berpikir sebentar dengan muka datarnya. Kemudian menepuk tangannya seakan mengerti dengan muka datarnya dan kemudian menatap Thai dengan muka datarnya, "Santetmu, Thai..." ujarnya datar.

"Santetku pending ya, ana?! Aduuuh... koneksinya pasti buruk, ana..."

Dan Hong sama sekali tidak mengerti maksud Thai.

Bukan santet yang pending, hanya saja sepertinya transmitter-transmitter di otak Kiku-lah yang pending karena konslet serentak berkat tersambar petir imajiner saat Thai mengatakan dia-

Dia

Pemuda berkacamata itu

Yang masih sempat senyum-senyum kalem di sampingnya

Bertunangan dengan Nesia

.

.

Shinemasu! –Aku mati saja!

.

Hong menepuk kepalan tangannya lagi, "Gege pasti syok... Gege kan pacarnya Nesia... Kau malah bilang bahwa kau tunangannya Nesia..." ucapnya tanpa intonasi.

"AH! Aduh! Anaaa! Itu tidak jadi, anaaa! Pertunangan itu sudah batal sejak lama, ana! Kiku... Itu sudah berakhir, ana!"

Kiku melingukkan kepalanya untuk menatap Thai dengan tatapan horor tidak percaya.

"Anaaa! Jangan menatapku seperti itu! Kita sudah selesai, kok, ana! Sumpah, ana!"

"H-hountou ka?" Kiku mulai menatap Thai dengan tatapan memburu.

"Benar, ana! Percayalah padaku, ana!" Thai mulai menarik Hong yang akan melarikan diri untuk menjadi tamengnya.

"T-tunggu! Ukh!" Hong hanya bisa menelan ludahnya frustasi menghadapi tatapan Kiku yang kini terarah padanya.

Betapa teganya Thai menjadikannya sebagai human-shield menghadapi Kiku yang sedang 'going berserk' seperti ini. Hong hanya bisa menutup matanya selagi keringat dingin mengucur deras membasahi bajunya –bahkan lebih dari saat ia pemanasan atau menari. Pemuda Hongkong itu berdoa, supaya setelah ini masih bisa bertemu dengan Mei lagi.

"Hountou ka? Thai-san?" suara Kiku sungguh rendah dan terdengar sangat sadis. Sungguh dingin dan mengerikan sampai bulu kuduk Thai dan Hong berdiri setegak tiang bendera.

Bukan suara dari neraka lagi, ini dari INTI neraka.

"B-benar! Kiku! Ana! Percayalah padaku! Kalau belum berakhir sekarang, detik ini juga akan kuakhiri!" ucap Thai sembari menutup matanya meremas pundak Hong yang juga bergetar ketakutan.

Siapa yang nggak akan mengakhiri pertunangan dengan Nesia kalau lawannya penjelmaan ketua para shinigami kayak gini?

"Thai-san... Aku pegang kata-katamu..." ucap Kiku sembari berdiri,

"Jika kau berbohong..." Kiku menyeringai manis, namun penuh kelicikan, kekejaman dan kesadisan yang sengaja tidak ditutupi. Ia, dengan mata tak berjiwanya yang berkilat mendiskriminasi, menatap rendah ke arah Thai dan Hong yang terduduk lemas minta diampuni,

"Watashi no Katana ga anata no kubi ni aimasu..." –Katana-ku yang akan menemui lehermu...

Jika tatapan bisa membunuh, jika suara bisa membunuh, jika aura bisa membunuh, jika senyum bisa membunuh, Hong dan Thai pasti sudah mati empat kali berturut-turut dengan sangat mengenaskan di tiap kematiannya.

"Oke! Mengerti! Mengerti, ana! Kru ā ĥyud! Khu ā klạw!" –Tolong berhenti! Kau menakutkan!

Thai sungguh menyesali keputusannya tadi. Apa yang sebenarnya tadi ia pikirkan? Mengorek informasi dan kebenaran dari Kiku itu taruhannya nyawa! Padahal ia tadinya berharap akan melihat Kiku memohon ampun dari santetnya dan menceritakan semua yang terjadi pada hari minggu kemarin.

Sedangkan Hong hanya mengutuki Thai yang menyeretnya ke dalam masalah ini. Terakhir kali ia merasakan ketakutan seperti ini adalah ketika Yao-gege bersembunyi di dalam lemari di kamarnya demi menghindari orang yang sama karena masalah garam dapur yang selalu 'diamankan' saat Kiku memasak - ini terjadi saat liburan kenaikan kelas yang lalu, saat mereka semua main ke Hongkong.

Kenapa selalu aku yang jadi korban?

#QuotesOfTheDay: Menjadi saudara (jauh) mereka itu menyenangkan, tapi susah dijalanin... –Hong

"Sa..." Kiku kembali berjongkok, menatap Hong dan Thai yang kembali berjingkrak ketakutan dan semakin merapatkan diri ke tembok. Walaupun tatapannya kembali normal –tak berjiwa dan melembut, kedua temannya itu masih ketakutan.

"Kenapa pertunanganmu batal?" tanya Kiku.

"S-soalnya... saat Nesia berumur empat tahun atau sekitar itu... ia dan keluarganya hilang..."

"Hilang?"

"I-iya... beneran, ana... Kalau tidak begitu pasti masih dilanjutin..."

Tatapan Kiku menajam.

"Tapi nyatanya kan tidak, ana!"

"Sou ka... Sou desu ne..." Kiku mengangguk mengerti, "Dimana ia dan keluarganya menghilang?"

"K-kalau itu... Diluar pengetahuanku, ana... Tapi Nesia sekarang di sini kan? Yah... Walaupun namanya berubah, ana... Tapi parasnya masih sama... jadi aku mengenalinya..."

Kiku hanya bergumam kecil untuk menanggapinya.

Cotto... Nesia-san no namae ga kawattemashita? –nama Nesia berubah?

"Siapa nama Nesia-san yang dulu?"

"Uh... Yang pasti bukan Dirgantari, ana... Nama belakangnya itu ada Rengga... Ronggo... Aku tak ingat, ana... Ada banyak kata dan semuanya sulit untuk diucapkan... Oh ya... Kiku tahu kan kalau Indonesia tidak punya marga atau sesuatu seperti itu, ana... Tapi Nesia punya... Keluarganya cukup tua dan penting tampaknya, ana... Tapi nama panggilannya sama kok, ana... Nesia..."

"Sou ka..."

"Bukankah sebaiknya kita memberi tahu keluargamu sebagai keluarga yang diketahui, Thai-gege? Kasihan Nesia bukan selama ini ia berpikir bahwa ia sebatang kara?" Hong memberikan saran, "Tapi nanti pertunangannya dilanjutkan, yah..."

.

.

HOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONG!

Thai sangat ingin berteriak di depan muka Hong saat merasakan aura disekitar mereka kembali berubah. Sedangkan Hong sendiri sangat menyesali celetukannya yang tak sengaja keluar.

"Uh... A-aku tak akan bilang, ana!" Thai kembali panik saat tak sengaja menatap mata Kiku yang kembali menggelap, "Ya ampun, ana! Kiku! Aku sudah suka orang lain!"

"Itu Vie, gege..." Jelas Hong.

"HONG!" seru Thai malu bercampur jengkel.

"Sou ka..." Kiku mengangguk kecil, "Ada lagi yang kau ketahui tentang Nesia?"

"M-mungkin aku harus tanyakan ke orang tuaku, ana... Aku tak begitu mengerti dan ingat..."

Kiku pun akhirnya berdiri dan siap meninggalkan kedua orang dihadapannya, "Wakatta... Ja... Matteimasu..." –aku menunggu

"O-o-oke... hahaha..." Thai tertawa aneh mengantar kepergian Kiku.

*O*

Kiku mengerutkan keningnya lagi, "Dia sudah pulang?"

"Ya... Seperti biasa... Bersama Razak, Maria, Haqq dan Lee... Mereka kan selalu bersama..." jawab seorang Kohai yang sedang mengerjakan tugas piketnya.

"Begitukah? Domo..." Kiku pamit sembari menundukkan tubuhnya menghormat.

Kiku menelusuri koridor yang tadi dilewatinya saat akan ke kelas Nesia. Kembali ia melewati sebuah taman yang menggodanya untuk beristirahat sejenak di bawah salah satu pohonnya.

Kemana aku harus mencari Nesia no.1-san? Apakah ia masih Nesia no.1-san? Umnh...

Kiku menemukan sebuah pohon yang cukup rindang. Seakan mengerti bahwa pohon itu menjadi tempat favorit anak-anak untuk beristirahat, sekolah menyiapkan beberapa bangku taman panjang di bawahnya.

Kiku duduk di salah satunya. Setelah menghela nafas pendek, ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah notes. Di dalamnya Kiku sudah menyalin Alter-alter yang pernah ditemuinya, berikut dengan informasi-informasi yang dilontarkan oleh masing-masing Alter.

Kiku memasukkan informasi yang barusan ia dapatkan dari Thai. Meloncati informasi bahwa Nesia pernah dijodohkan dengan pemuda pecinta gajah itu, ia langsung menuliskan tentang Nesia yang dulu menghilang bersama keluarganya saat berusia empat tahun –Kiku tebak di Eropa dan di dekat-dekat sini pastinya, juga Nesia yang memiliki nama asli entah siapa. Andaikan Kiku tahu nama asli Nesia, semua ini mungkin bisa menjadi mudah –ia mungkin bisa masuk ke sistem dinas kependudukan Indonesia dan mencari tahu tentang siapa Nesia sebenarnya.

Yep, illegal, tapi efektif –lagipula ia tak berniat jahat.

Selain catatan-catatan mengenai Nesia, ia juga membuat perkiraan life-time Nesia.

Ya, Kiku memang born to stalk –so leave him be.

Dengan rapihnya ia memetakan kemungkinan-kemungkinan Nesia menjalani kehidupannya. Memang masih banyak yang kosong karena Kiku tidak tahu kehidupan pasti Nesia –tapi beberapa sudah terisi. Misalnya seperti saat Nesia berumur 0-4 tahun, Kiku menandainya dengan stempel smiley hijau yang menandakan semuanya baik-baik saja. Setelah itu kosong –Kiku tak tahu apa yang terjadi.

Meloncat ke Alter yang sudah memperlihatkannya dengan pasti kehidupannya dulu; Kartika. Sejujurnya Kiku masih bingung cara apa yang digunakan sehingga ia bisa sampai 'melihat' semua itu bahkan melihat yang disebut dr. Greef sebagai 'sistem kasta/pengaturan Alter'.

Yang sangat berantakan.

Di umur 11 tahun Alter Kartika bangun, dan tampaknya ia baru dibentuk tidak jauh dari umur itu. Kartika mungkin mengkover pada umur 10-11 tahun Nesia. Kiku tersenyum kecil, mengingat satu puzzle dalam kehidupan Nesia telah ditempatkan di tempat yang benar.

Sepertinya tidak sesulit itu untuk membuat komitmen dengan alter-alter Nesia. Kiku hanya harus menebak apa yang menjadi masalah Alter tersebut dan berusaha untuk meyakinkannya bahwa Kiku ada di samping mereka dan akan 'melengkapi' mereka.

Kiku melihat catatannya, mencari alter-alter yang sudah percaya padanya. Mereka pastinya akan lebih mudah untuk diyakinkan agar mau membuka 'pintu' mereka dan bergabung dengan alter dominan -yang Kiku harap adalah Nesia No. 2.

Jika bukan, Kiku akan membuatnya demikian -menjadikan Nesia No. 2 sebagai alter dominan karena Kiku tak ingin kehilangan Nesia No. 2.

.

.

Kiku tahu itu egois -dan ini untuk kepentingannya, tapi ia juga tidak tahu siapa kepribadian Nesia yang paling asli.

Tidak akan ada yang menyalahkannya.

.

.

Kiku teringat akan Pertiwi, kepribadian berumur sembilan tahun yang cukup mempercayainya dan menurut padanya.

Segera Kiku menambahkan Pertiwi di tempat yang bertanda 'umur ke sembilan'. Pertiwi adalah calon utama yang akan diintegrasikan dengan Alter Nesia yang lain setelah Kartika. Kiku berharap akan mudah membuka 'pintu' si penari jenius ini.

.

Umur ke sembilan, Pertiwi-san. Hobi menari, bersekolah di...

Kiku menahan guratan bolpennya. Berpikir.

Pertiwi-san mengaku bersekolah di Hetalia Elementary School... Tapi... Kenapa Kartika-san ada di Patricia Elementary School? Apa mungkin Pertiwi-san berbohong? Tapi Alter sepolos Pertiwi-san?

.

.

Kiku memikirkan berbagai macam kemungkinan. Salah satunya adalah kemungkinan pindah tempat tinggal. Ya, mungkin saja Pertiwi aslinya memang di Hetalia School kemudian harus pindah dan entah di kota mana ia menjadi Kartika dan masuk ke Patricia Elementary School.

Tapi itu tak masuk akal, maksud Kiku, Hetalia School adalah sekolah yang bagus dan sulit untuk dimasuki. Bukankah sayang kalau harus keluar dari sekolah sebagus ini? Kalau 'pengasuh' mereka pindah, mereka kan bisa menggunakan sistem dormitory yang ada di Hetalia Academy?

Terlalu sayang untuk meninggalkan Nesia-san sendirian, kah?

.

.

Tunggu... Tapi Kartika-san kan ada di panti asuhan milik negara? Sejak umur berapa tapi?

Kiku kini bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di kurun waktu antara umur 4-11 tahun itu. Tujuh tahun, waktu yang cukup lama, dan Nesia bisa ada dimana saja dan menjadi siapa saja dengan Alternya yang ia tak yakin ada berapa.

Tapi setidaknya ia masih memiliki 3 clue. Pertama Thai dan informasi dari keluarganya yang sedang ia tunggu. Kedua, ia harus mengecek database Hetalia Elementary School – Let's go hacking some system! Ketiga, memori yang diperlihatkan oleh Kartika.

Kiku mengemas barang-barangnya. Rencana sudah ada di dalam otak mindmaster-nya, tinggal eksekusi. Ia ingin cepat-cepat pulang sekarang. Namun sebelum itu ia harus ke dorm perempuan dulu –Kiku menebak Nesia ada di sana.

*O*

Dan Kiku benar.

Si ponytail itu terlihat sedang bersandar di lobi bangunan yang sebenarnya tak boleh dimasukinya itu –walaupun ia sudah masuk ke sana beberapa kali. Kali ini ia tidak bisa masuk lagi. Banyak siswi yang berjalan-jalan di sekitar sana, membuat Kiku merasa salah tempat dan salah strategi.

Bagaimana cara aku membuat Nesia-san keluar?

Kiku berpikir keras. Terlalu keras, bahkan ia tak menyadari bahwa gadis yang menjadi masalahnya ternyata sudah tepat berada di depannya.

"N-nesia-san?" panggil Kiku menyembunyikan kekagetannya.

"Apa sebenarnya yang terjadi?" ucap gadis itu menuntut.

.

Kiku menatap ke arah lain, "M-ma... iro-iro aru-ndesu kedo..." –yah, banyak sekali

"Apa sebenarnya yang telah aku lakukan?!" tanyanya lagi, kali ini dengan penekanan dan paksaan.

"M-ma..."

"Jawablah! Kepalaku hampir pecah!" tuntut Nesia tak sabar pada satu-satunya orang yang mungkin mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

"K-kita cari tempat yang tenang dulu, bagaimana?" ujar Kiku sembari menarik tangan Nesia.

Namun gadis itu sontak melepaskan tangannya dengan kasar membuat Kiku tertegun.

"Jangan sentuh aku!"

"N-nesia-san..."

"Kemana kita pergi?"

"Kantor kepala yayasan...?" ucap Kiku tidak yakin.

"Baiklah..." Nesia mengambil langkah cepat meninggalkan Kiku.

"C-cotto matte kudasai!" pinta Kiku sembari menyusul langkah Nesia, namun karena gadis itu memberikan sinyal untuk menjauh setidaknya 3 meter, Kiku akhirnya memperlambat langkahnya.

Nesia-san...

*O*

"Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?!" ucap Nesia jengkel.

"Nesia-san... Kau baik-baik saja?" tanya Kiku yang kini tidak yakin tengah berbicara dengan siapa. Nesia no. 1 tidak pernah sekasar ini.

"Menurutmu bagaimana?!" serunya tanpa kesabaran yang tersisa.

"Terakhir kali aku sadar kau menculikku dan membawaku entah kemana... kemudian 3 hari berturut-turut hilang dari memoriku... kemudian saat aku sadar dan bangun senpai di sana tanpa baju senpai... kemudian saat aku sekolah aku dibicarakan banyak teman-temanku... juga tentang sesorang yang tidak aku kenal dan aku tidak yakin siapa dibilang sebagai pacarku... kemudian ada tragedi penusukan yang entahlah aku tidak paham... kemudian pada akhirnya aku tidak bisa masuk ke kamarku karena sudah menjadi kamar anak lain! Jadi dimana aku tinggal sekarang?!" seru Nesia menumpahkan seluruh kekesalannya tanpa mengenal ambil nafas, kini gadis itu terengah sembari menatap Kiku garang.

Hai... Nesia-san wa daijoubu dewa arimasen... –Nesia tidak baik-baik saja

"Nesia-san... tenanglah..."

"Jawab aku sekarang!" Nesia menggertakkan giginya kesal.

"H-hai... Wakatta..." Kiku mengalah, "Selama tiga hari kemarin... Kepribadian lain Nesia-san yang mengambil alih Nesia-san..."

.

.

.

"Kepribadian lain?" Nesia tampak tersentak.

"H-hai..."

"Kau bercanda... kan?"

"Iie desu..."

.

.

"Plis katakan senpai hanya bercanda!" gadis itu kini terlihat sangat kebingungan.

Kiku hanya menggelengkan kepalanya pelan.

"Ini bukan novel sci-fi!" desahnya masih belum mau menerima kenyataan.

Tentu saja ini kenyataan, bukan novel sci-fi. Kiku tak melihat Gund*m atau Kn*ghtmare atau teknologi penjelajahan waktu ataupun makhluk mutan. Ia melihat masa lalu Kartika –itu mungkin dimasukkan ke supranatural.

Kiku hanya memasang muka datarnya, terus memperhatikan gadis yang kini sedang menggaruk kepalanya frustasi. Kiku merasa kasihan. Sungguh, ia ingin membantu Nesia, namun ia tak ingin membohongi Nesia dan mengatakan tidak terjadi apa-apa.

Nesia harus mau menerima semua ini.

"Aku menculikmu waktu itu... Aku membawa Nesia-san ke seorang psikiatri... tiga hari itu... Alter lain milik Nesia-san yang mengambil alih... waktu Nesia-san sadar... itu sepenuhnya kecerobohanku... Tapi aku benar tak melakukan apapun... kemudian Nesia-san sekarang tinggal di bangunan ini..."

Kiku menunjukkan bangunan mansion sekaligus kantor kepala yayasan dengan kedua tangannya. Ia mengunggu apa reaksi Nesia terhadap semua ini.

"Senpai pasti gila dan sedang bercanda! Itu tak mungkin! Cerita senpai benar-benar tak masuk akal! Senpai... Senpai bahkan lebih gila daripada si Razak!"

Kiku memutar bola matanya.

Ya... Aku merasa aku benar mengidapnya... Tapi itu fakta, Nesia-san...

"Tolong jangan paksakan dirimu, Nesia-san..."

"Tidak! Semua ini omong kosong!" seru Nesia tegas.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita masuk dan mengecek semuanya?" tantang Kiku dengan nada tenang.

"B-baik! Siapa takut?!"

*O*

"Barang-barangmu, Nesia-san..." ucap Kiku ketika pintu kamar Nesia yang baru dibuka.

Mulut Nesia ternganga dan matanya berkedip-kedip tak percaya melihat tiga buah kardus yang memiliki namanya di sebuah kamar. Salah satunya telah terbuka, memperlihatkan barang-barang miliknya –yang berarti ini adalah miliknya.

"Kau pasti melakukan sesuatu sehingga semua ini bisa ada di sini!" tuduh Nesia.

Kiku menghela nafas lelah.

Ya... Seorang pelayan Germania-sensei yang mengepaknya... Tapi kepindahan kemari bukan rencanaku...

"Apa yang bisa aku lakukan sehingga kita pindah kemari, Nesia-san? Maksudku... Kita hanya murid biasa dan sekarang tinggal di mansion ini..." tanya Kiku balik.

"Kita?"

"Kalau Nesia-san mau ingat..." Kiku menggeser tubuhnya, memperlihatkan satu pintu tepat di depan pintu kamarnya.

"Kau bercanda!"

"Ini kenyataan... dan... maaf... Aku harus membuka salah satu barangmu untuk mengambil baju seragammu dan buku-bukumu tadi pagi..." Kiku memandang ke arah kardus yang telah terbuka dan terus menunduk saat mengucapkan kata-kata itu.

.

.

.

.

"PERVERT!" Nesia mendorong Kiku keluar dan membanting pintu kamarnya dengan kasar.

Kiku memakluminya –pagi tadi Kikupun menghardik dirinya sendiri berkali-kali saat mengambil baju Nesia. Baju –pakaian, secara keseluruhan, dari atas sampai bawah, yang berada di dalam maupun yang di luar.

Ya, pemuda itu tidak perlu mengintip, ia sudah tahu 'warna' Nesia hari ini –bahkan dengan kata lain, dia yang memilihkan.

Kiku merasa stalking level-nya telah meningkat drastis hari ini.

*O*


Kami-sama...

Kiku menghela nafasnya pasrah.

Sudah hampir satu bulan sejak hari dimana Nesia membanting pintu kamarnya di depan muka Kiku untuk yang pertama kalinya. Dalam sebulanan ini, itu sudah tumbuh menjadi sebuah kebiasaan baru –membanting pintu sebagai ekspresi jengkel dan marah saat tidak sengaja menemukan muka Kiku. Hal ini tentu saja sangat mengganggu Kiku –juga siapapun yang mendengarnya.

Nesia tidak pernah tahu, Kiku akan terus memandangi pintu yang dibantingnya selama beberapa menit sebelum menghela nafas dan masuk ke ruangannya sendiri.

Gadis itu sama sekali tidak mau melihat apalagi bertemu. Salam sependek 'hai' saja tak pernah dikeluarkan dari mulut mungil Nesia, apalagi berbicara –ini menjadi hal yang mustahil. Bagaikan mulutnya sudah terkunci untuk Kiku dan bagaikan mereka adalah dua orang asing yang saling tak mengenal.

Kiku mengerti Nesia no.1 sulit untuk menerima kenyataan. Sama-sekali tidak mau menerima bahwa ia memiliki Alter lain –Nesia akan langsung marah-marah ketika Kiku mengungkitnya.

Kiku tidak tahu kenapa. Kiku kira orang dengan kepribadian ceria dan ramah seperti Nesia no. 1, saat pertama kali bertemu, akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang keren, hebat atau lainnya yang positif –dan Kiku akan berusaha mati-matian untuk meyakinkan Nesia bahwa ini hal serius.

Tapi nampaknya tidak. Ah, Kiku ingat sekarang, Nesia memang memucat saat mengetahui waktunya skip -dan Kiku harus mengantarnya ke dorm waktu itu.

Nesia jadi sangat benci jika Kiku mencoba mengajaknya bicara. Berkali-kali Kiku mencoba berbicara dari luar kamar Nesia, dari selepas makan malam sampai tengah malam hanya untuk mendapatkan jawaban kasar untuk menyuruhnya pergi. Itu di minggu pertama.

Minggu ke dua, Nesia sama sekali tak merespon –ia membiarkan pemuda itu sampai pagi mengetuk pintunya.

.

Oke, tidak separah itu.

Kiku sempat beristirahat sejenak dan tertidur di koridor karena kecapaian dan mulai mengetuk kembali saat pagi menjelang. Namun tak ada respon positif.

Minggu ke tiga, tidak lebih baik. Kiku masih mencoba berbicara dengan gadis itu bahkan mengiriminya surat tertulis, e-mail, SMS, catatan kecil, -semua telah ia coba. Namun hasilnya nihil.

Semua usahanya hilang –bagaikan tidak pernah terkirim ke orang yang dituju dan bagaikan Nesia menghilang entah kemana.

Padahal mereka hanya berjarak dua tembok dan satu koridor.

Dan akan menjadi hanya satu koridor dan satu pintu saja ketika Kiku membuka pintu kamarnya. Hatinya seperti tercubit. Nyeri saat menarik pintu oak itu untuk membukanya dan menemukan pintu dengan corak sama yang tidak pernah terbuka untuknya.

Kiku hanya bisa mengigit bibir bagian bawahnya.

Nesia-san...

.

.

Di sekolah, Nesia bagaikan orang lain dengan kepribadian ceria dan ramahnya yang pernah Kiku rasakan sebelum semua ini. Kiku hanya bisa mengawasinya dari jauh, karena begitu ia mau mendekat –entah setan apa yang memberi tahu Nesia untuk segera pergi dari tempat itu sebelum Kiku sempat melangkah.

Kiku pernah berpikir untuk setidaknya bicara dengan teman-teman Nesia. Tapi urung, karena masalah Alter seperti ini Kiku tak yakin bisa menceritakannya pada siapapun.

Hey, tidak semua beranggapan positif dengan split personality dan hampir semua orang tidak percaya akan masalah ini. Nesia sendiri contohnya.

Berbicara kepada teman se-geng Nesia bahwa Nesia yang 'normal menurut mereka' memiliki kepribadian ganda akan dianggap sebagai memfitnah dan tentunya itu adalah hal yang sia-sia.

Masih syukur kalau tidak direspon over-negatif. Akan tetapi, ketika Kiku menatap kohai yang ia kenal bernama Razak dari kejauhan, ia yakin anak itu tak akan tinggal diam ketika Kiku melakukannya. Mengingat kohai yang satu itu saja membuat Kiku bertambah kesal. Karena Kiku tahu, kohainya itu bisa jadi merupakan saingannya yang beruntung karena saat ini tidak diabaikan mati-matian oleh Nesia, seperti dirinya.

.

.

Kiku sudah pernah menelepon dr. Greef dan membicarakan ini semua. Tapi dokter itu hanya menyarankan Kiku untuk sabar dan bertahan –tidak lebih, tidak membantu. Bagi dokter itu, selama Nesia tidak terlukai ataupun melukai seseorang, selama ia bersikap sewajarnya dan menjalani harinya dengan normal, semuanya tidak masalah.

Jika masalahnya adalah Kiku menginginkan kepercayaan Nesia no. 1, pemuda itu harus membangunnya sendiri, dan dr. Greef memberikan catatan yang Kiku sudah ketahui dengan pasti.

'Ini sangat sulit'

Sisa dari telepon itu hanyalah curhatan lanjutan dr. Greef yang tidak dipercayai oleh pasiennya yang gila. Pasiennya itu hanya percaya pada koleganya yang perempuan. Mungkin karena cantik atau apa, tapi begitulah, ia memberikan semua informasi penting dan benar hanya kepada mereka-mereka yang cantik.

dr. Greef bahkan sempat menyarankan pada Kiku untuk menjadi cantik –yang tentu saja ditolak oleh Kiku mentah-mentah.

.

Semakin hari, di mata Kiku, tingkah Nesia semakin dingin dan membuatnya semakin khawatir dan nelangsa. Akan tetapi, bukan hanya Kiku saja yang khawatir. Mei juga akhirnya selalu menanyakan kabar Nesia pada Kiku karena Nesia (Pertiwi) tidak pernah berangkat latihan –yang membuat hati Kiku semakin mencelos, tercabik-cabik, dan perih karena mengingat Nesia.

Kiku mencoba bertahan, mencoba melupakan Nesia sampai ada kesempatan yang lebih baik. Ia mencoba menyibukkan dirinya dengan belajar, main game, berguling-guling di kasur, membaca manga, nonton anime, berguling-guling di karpet, menggarap naskah koran sekolah, menggarap doujinsi, mojok di sudut ruangan, berlatih pedang di kamarnya, meng-hack beberapa situs mencurigakan, me-repair website sekolah, dan lain sebangsanya.

Dan penyakit hikikomori Kiku hampir kumat. Namun meskipun hampir kumat dan sudah melakukan semua hal yang bisa ia lakukan, Kiku tak pernah bisa melupakan Nesia sedetikpun.

Belajar fisika – ingat Kartika dan anomali supranaturalnya yang tak bisa dijelaskan.

Main game, dating sims – tangan Kiku berhenti saat ada heroin –tokoh utama perempuan- yang bersurai hitam dan dikuncir kuda, membuat Kiku menggalau dan berguling-guling sebelum mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan game-nya.

Apalagi ketika menggarap doujinsi.

Di pikiran Kiku tidak ada cerita lain selain mendoujinsikan dirinya sendiri bersama dengan Nesia –yang membuatnya merasa sangat malu, tidak punya muka dan ingin menghilang dari dunia ini (lagi) karena memiliki pikiran dari A sampai Z yang coretber-ratetinggicoret tidak masuk akal. Cerita tentang ehem dengan ehem atau uhuk dengan uhuk tak terbayang sama sekali. Pada akhirnya ia hanya bisa pundung di pojokan.

Semuanya tidak berjalan dengan baik. Tidak seperti rencananya, dan Kiku mulai khawatir seluruh resolusinya semester ini tak akan tercapai.

Hanya karena satu perempuan yang tinggal di depan kamarnya.

Kiku selalu hanya bisa menghela nafas saat menatap pintu kamar Nesia yang tertutup rapat dengan helaan nafas panjang –seperti sekarang, dan tidak lebih dari itu. Ia hanya berharap ada Alter lain yang mengambil alih sementara sehingga ia bisa kembali menatap benik coklat gelap Nesia yang selalu bisa membuatnya terperangkap dan terpesona.

Kiku sungguh merindukan saat-saat dirinya terjebak di dalam pace Nesia. –Ma... saat ini juga sih, tapi Kiku tidak mau yang seperti ini.

*O*


"Apakah kalian bertengkar?" bisik Germania pada akhirnya saat sebuah makan malam berlangsung.

Germania tidak selalu makan malam bersama. Lebih seringnya ia meminta makanannya dikirim ke ruangannya karena pekerjaan yang menumpuk. Sesekali ia makan malam bersama dengan Kiku, namun tanpa Nesia. Kiku berdalih Nesia sedang sibuk belajar ataupun kurang enak badan saat Germania bertanya. Germania tidak pernah tahu bahwa selama ini Kiku hanya makan malam sendirian.

Namun malam ini berbeda, Germania meminta mereka berdua untuk makan malam bersama dengannya. Ada yang ingin ia sampaikan.

Kiku segera menghentikan makannya dan meminum air putih untuk membantu menelan makanannya, dan menjawab "Tidak, sensei... Ini... Alternya yang lain..."

"Begitukah? Kukira kalian bertengkar atau apa... Hanya mengingatkan... Jauhi benda-benda berbahaya... Aku tidak mau ada kejadian seperti bulan lalu..."

"S-saya ingat, Gemania-sensei... Terimakasih telah mengingatkan..." ucap Kiku lirih sembari melirik ke arah Nesia.

Nesia tahu Kiku tengah memandanginya –memandangi matanya, berharap mereka bisa bertemu tatap. Namun tampaknya Nesia tidak membuatnya semudah itu. Ia melanjutkan makannya, terus berlagak tak peduli, menganggap Kiku tidak pernah ada di sana sejak awal.

"Dia sepertinya tidak menyukaimu..." bisik Germania semakin menohok hati Kiku.

"M-ma... Banyak hal terjadi... Banyak kesalahpahaman juga..." Kiku tersenyum pahit mencoba melupakan Jigoku no go-gatsu atau bulan Mei yang bagaikan neraka miliknya yang semoga saja akan berakhir besok dengan datangnya bulan Juni.

Kiku berdoa supaya dengan pergantian bulan ini, berganti pula Alter Nesia.

"Ini akan sulit..." desah Germania

"Nani ga?" –apanya?

"Dirgantari... Honda..." panggil Germania tegas, membuat Nesia kaget dan menghentikan makannya.

"Aku punya sesuatu untuk kalian..." Germania mengeluarkan dua buah kotak kecil yang sangat mencurigakan, "Aku ingin kalian bekerja sama denganku... Ini bukan permintaan... Ini perintah... dan jika kalian masih ingin ada di sekolah ini... Tidak ada hal lain selain menerimanya..."

Keduanya meneguk ludah.

"Tenang saja... Ini tak seburuk yang kalian pikirkan..."

"G-germania-sensei... apa yang terjadi sebenarnya?" Kiku mulai bertanya-tanya

.

.

.

"Bukan hal yang penting sih... hanya saja merepotkan..." jawab Germania setelah berpikir, "Kalian bisa menentukan setelah aku bercerita..."

Seluruh perhatian Kiku dan Nesia tertuju pada Germania dan kata-kata yang akan diungkapkannya, "Teman-temanku memutuskan untuk reuni di sini... Dan... Aku akan membutuhkan paling tidak sembilan kamar tamu untuk sebulan ini..."

.

.

Kiku meneguk ludahnya.

Seingatnya, Germania-sensei hanya memiliki 10 kamar tamu di mansionnya yang luas ini, dan dua diantaranya dipakai oleh dirinya dan Nesia.


A/N:

Chapitra 18!

Author: Oh... Tidak... tidak... tidak...

Kiku: Nani ga arimasu ka?

Author: Harus menggemukkan chapter lagi... =.=""

Kiku: Santai saja, Author-san... Ini ceritaku dengan Nesia-san lagipula, banyak chapter tidak masalah...

Author: Bagimu... *huh* Mana FFN ternyata kena Internet sehat... =.=" Dari kemarin itu yang terus menerus menghalangi... Nesia! Kenapa FFN kena Internet sehat, sih?!

Nesia: *tersenyum* Mungkin para Mentri-ku tahu aku sering dibullying di tempat ini...

Author: Apaan?! Dibullying gimana?!

Nesia: Kejadian taksi itu... lalu peran sebagai Garuda...

Author: Kukira kau Oke2 saja?

Nesia: APANYA?!

Author: Oh ya... Terus kenapa si Neth nemplok di situ kaya cicak? *nunjuk Neth yang nemplok di pundak Nesia*

Nesia: Tau ah, ini! Ih! Sudah kubilang lepasin aku!

Author: Ah... gara-gara kalah kemarin ya...

Nesia: Cengeng nih! Nggak ngerti, aku! Lepasin! *mencoba melepas Neth

Kiku: Aku saja nggak apa-apa... Kalah menang biasa, Oranda-san...

Neth: =.=" aku tak mau mendengarnya dari mu yang tersisihkan di sesi grup...

*cleeeeeeb*

Kiku: S-sou ka... sou desu ka...

Author: Udah... Yang berlalu tinggal berlalu... Yang penting doitsu masuk final... Hehehe... :D Sekarang waktunya bahas review! Pertama, Yuki Hiiro-san,

.

Author: *bisik* A-aku nggak tahu apakah ini waktu yang pantas untuk menggoda Neth atau bukan... *berpikir*

.

.

Author: Pantas pantas aja sih sebenarnya...

Nesia: Neth! Kau mencekikku! Kau mencekikku!

Kiku: O-oranda-san!

Neth: Aku tahu Author dan Saudara Yuki Hiiro merencanakan sesuatu... Pokoknya, kalau kalian mau aku botak... Aku juga botakin mereka berdua! Ah, kau juga Author!

-HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?!-

Nesia: Kau tega Neth?!

Neth: Aku menyukaimu bagaimanapun kau... Tenang saja...

Nesia: Mana bisa tenang?! Dan lepaskan aku!

Kiku: W-watashi wa... hage... *membayangkan dirinya botak* S-sore wa... totemo kowai desu...

Author: K-kenapa malah jadi nyebar sih?!

Neth: Berhenti tentang botak itu! Sekarang! *Kumpeni mode - activated*

Author: O-oke... Oke... Yuki-san mau dibukakan tuh mata batinnya, Nes... Tapi nggak mau lihat hantu-hantu aneh...

Nesia: Bisa sih... Eh, tapi... Menurutku hantu-hantu Indonesia tidak aneh...

-Ya, menurut lo...-

Author: Oke, Next... BlackAzure29-san, selamat bergabung di FFN -walau kini di blok sama Internet positif *hiks

Kiku: Ya, Kartika-san tau hal-hal mistis -entah si Author-san kesambet apa sehingga membuat chara Kartika-san menjadi seperti ini...

Author: Ya, biar lebih berwarna... Biar nggak monoton... :D

Kiku: Sugi wa... -selanjutnya... Brownchoco-san

.

.

.

.

Kiku: *blushing, melipat surat review dengan rapih dan mengantunginya*

Author: Dia bilang apa?

Kiku: I-iie... D-daijoubu desu... S-shiteru ka? Author-san? Tokyo Sky Tree wa...

Author: Aku tanya review... bukan menara siar...

Kiku: A-ah... S-sore wa... Brownchoco-san, tanya tentang Garuda-san...

Author: Yang benar?

Kiku: Benar kok!

Author: Besok dia akan raep Kiku...

-HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?!-

Neth: Nein! Nein! *tambah erat nemplok di Nesia*

Nesia: Lu ngomong apa -thor?! Tobat -thor! Bulan puasa! Kamu juga! Lepaskan aku!

Kiku: A-a-a-aku... Aku dipanggil Shinzo Abe-san... A-aku harus pulang...

Author: Ya kali... Aku nggak berencana ada kenaikan Rate sih...

-Fyuuuuuuuuuuuuuh-

Author: Tapi yang 'nyaris2 gimana gitu' tetep ada palingan, lagipula ini Garuda... Tak usah memberi tahu mereka... pasti dikecam...

Nesia: Selanjutnya... Azukihazzle-san, Tidak apa-apa kok... Kalau alter baru itu... Itu salah Author-san... Tau-tau muncul ajah...

Author: Kan cerita ini berjalan sesuai dengan perspektif Kiku... :D Kiku juga kaget kan ada Alter baru?

Kiku: Hai... Itu sama sekali tidak ada di skript-ku... *buang muka

Nesia: Dia pasti ngerubah di tengah jalan... Pasti... huh! Oh ya... lalu tentang pertanyaan berapa peliharaanya Arthur... Menurut yang aku lihat sih... Banyak... Banyak sekali malah... aku sampai tidak mengerti kenapa bisa sebanyak itu... Apalagi kalau Afternoon tea =.=" Keluar semua tuh..

Author: Selanjutnya,, ravenilu597-san, di void itu semuanya belum gabung -Kiku hanya diperlihatkan seberapa banyak dan rusaknya 'Nesia' oleh Kartika... Yang melebur dan menghilang itu Kartika dan ruangannya sendiri... Kalau Kartika melebur dan tidak stay, berarti bukan Kartika Alter aslinya :D Kenapa yang bangun Nesia no. 1? Karena itu apesnya Kiku...

Kiku: Apesku yang ngrancang adalah Author-san...

Author: Uh,, Oke... Ini... Berapa Chapter ya... duh... Aku juga mau ngebut nih... mungkin chapter selanjutnya2 agak dipaksain gemuk biar cepet selesai ni cerita =.="

Kiku: D-dame desu yo!

Author: Suka-suka aku! Lagian kau nggak mau cepat-cepat lihat endingnya? *padahal ending masing abu-abu*

Kiku: Uh...

Author: Aku... Puasa kok :D :D ravenilu597-san, terimakasih sudah mengingatkan :D Selamat berpuasa juga ravenilu597-san, dan untuk semuanya yang sedang menjalankannya... :D :D

Neth: Payah... sampe lupa... Dia pikun...

Author: 2 kesempatan yang lalu kan masalah koneksi...

Neth: Oke... oke...

Author: Sampai di sini dulu ya,, mohon kritik, saran dan reviewnya :D :D Sekali lagi... Selamat berpuasa di bulan Ramadhan ini... Tahan diri ya dari FF yang menjurus... Aku juga kok... *wink*