Kiku berdiri di pintu masuk kamar Nesia, menatap sang gadis yang tengah duduk terdiam dan berpikir di tempat tidur miliknya. Kiku tidak berani masuk lebih dalam lagi. Ia tahu mood Nesia sedang sangat rusak, memasuki kamarnya lebih dari ini akan membuat Nesia 'meledak'.
Tidak ada yang bersuara diantara mereka berdua. Ketegangan semakin memuncak seiring dengan berjalannya waktu. Sesuatu yang sangat tidak dinikmati oleh Kiku.
"Nesia...-san..." Kiku mencoba memecahkan kesunyian.
Tapi suasana malah bertambah awkward.
"Jadi... Kamar mana yang kalian pilih?" ucap Germania yang baru datang. Pria paruh baya itu telah mengenakan night-robe nya dan tampak siap untuk tidur, "Kalian masih belum memutuskan, eh?"
"Er... Germania-sensei... Masalahnya... Kita tidak bisa tidur bersama... Apakah kita memiliki pilihan yang lain? "
"Bukankah sebulan yang lalu..." Germania terdiam saat melihat gestur Kiku untuk tidak membahas hal itu.
Kini pria yang berusia kepala tujuh itu tampak memikirkan 'alter lain' Nesia yang mungkin tidak tahu akan kejadian sebulan yang lalu, "Tidak ada pilihan lain... Meskipun ada... Akhirnya akan sama saja, kan? Kalian kan tidak boleh dipisah?" ucap Germania datar.
"Kenapa begitu?" tanya Nesia tidak terima.
"Karena dia yang bertanggung jawab atas kau..."
"K-kenapa..." Nesia benar-benar kebingungan sekarang, ia tak mengerti kenapa tanggung jawab dirinya ada pada pemuda yang sangat ingin ia tendang keluar dari kamarnya saat ini.
"Lalu apa maksud cincin ini?!" tanya Nesia lagi sembari memperlihatkan cincin yang merupakan isi dari salah satu kotak yang diberikan.
"Aku tak melihat kalian begitu mirip untuk menjadi saudara... Jadi seperti kata Roman... Sebaiknya kalian menikah..."
Dan dagu keduanya pun jatuh dengan sangat tidak elitnya ke lantai.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Na-naze desuka?" ucap Kiku yang pertama sadar dari keterkejutan, sedangkan Nesia masih dalam pose kaget dengan mulut terbukanya.
Pertanyaan yang cukup kalem dari pikiran yang menggebu-gebu dan tak tenang milik Kiku. Demi apa?! Mereka 'bertengkar' sebulan ini kemudian saat pergantian bulan mereka disuruh menikah?
"Pura-pura... Supaya ada alasan kalian terlihat sekamar... Kalian akan kuakui sebagai saudara jauh dari Asia yang tradisinya berbeda... Terakhir aku cek, tidak ada larangan bagi pasangan menikah untuk sekolah di sini –kalau ada, akan aku hapus sementara..." Germania terlihat sekali hanya mengambil inti-inti dari penjelasannya yang mungkin sebenarnya amat panjang.
"Aku tidak terima!" seru Nesia pada akhirnya, "Kenapa bapak tidak pindahkan saja kami ke dorm atau sebagainya?" lanjutnya sembari melangkah mendekat ke arah Germania.
"Dorm yang mana?" tanya Germania.
"Dorm yang mana? Ya... kita berpisah... orang itu di dormnya sendiri dan saya di dorm perempuan... Kita bisa ambil kamar kita yang dulu!" jawab Nesia.
"Aku tak yakin mengembalikanmu ke dorm..."
"K-kenapa? Aku salah apa?"
"Tidak... hanya kau tak aman saja di sana... Kau harus tinggal di sini..." jawab Germania datar.
"Y-ya kalau begitu aku tinggal di sini dan dia di dorm!" Nesia masih tidak terima akan pemikiran Germania.
"Aku tak yakin untuk memisahkan kalian..."
"K-kenapa?! Memangnya aku ada apa dengan dia?"
Germania berpikir sejenak, "Sekali lagi... dia adalah pengawasmu... Jika kau memaksa berpisah dengannya... Kau pasti keluar dari sini..."
"K-k-ke-kenapa?! Ini tidak adil!" seru Nesia lagi.
Kiku hanya bisa melihat kedua manusia di hadapannya bertukar argumen. Kiku tahu ini tidak adil bagi Nesia no. 1-san yang tidak tahu apapun dan tidak mau menerima penjelasan apapun tentang kepribadiannya yang lain.
"Kalau begitu aku akan tidur di luar, Germania-sensei... Perpustakaan pribadimu terlihat sebagai tempat yang nyaman..."
.
.
.
"Sejujurnya aku tidak setuju... Tapi, kalau dengan begini kalian berhenti merengek... Silahkan..." akhirnya Germania mau mengalah.
"K-kenapa... Aku masih tidak setuju..."
"Biar Honda yang menjelaskannya padamu... Cepat tentukan pilihan dan rapihkan barang-barang kalian... Mereka datang besok pagi..." ucapnya sembari meninggalkan Nesia yang masih penuh dengan rasa kesal dan argumentasi.
"T-tunggu! Ukh!" Nesia memukul kusen pintu dan menggumamkan sesuatu yang Kiku tak mengerti –tapi sepertinya itu umpatan.
"Nesia... –san..."
"Jangan bicara padaku!"
"Uh... Ano... Barangku sepertinya lebih banyak darimu... Supaya lebih cepat... Bagaimana kalau Nesia-san yang pindah ke kamarku? Aku akan membantu mengangkatnya..." tawar Kiku yang kini menarik diri ke koridor demi keamanan.
Nesia hanya mendengus kesal dan melangkah masuk ke kamarnya –dan membanting pintu lagi. Kiku tak bisa mengartikan apa mau Nesia. Ia tidak mengenal Nesia yang satu ini. Sepertinya, apapun yang Kiku lakukan adalah salah dimata Nesia no.1.
Kiku kembali menghela nafas, namun kemudian tersentak kaget saat melihat Nesia yang membuka pintu dan membawa kardus besar keluar dari kamarnya.
"Biar aku bantu..." ucap Kiku sembari tersenyum selembut intonasinya.
Kiku segera mengambil kardus yang dibawa oleh Nesia dan memasukkannya ke kamarnya, sedangkan Nesia masuk lagi ke kamarnya untuk mempersiapkan barangnya yang lain.
.
Butuh waktu satu jam sampai semuanya benar-benar selesai dan mereka bisa beristirahat. Begitu semuanya selesai, Nesia langsung saja menjatuhkan dirinya di kasur dan terlelap. Membuat Kiku tersenyum kecil.
Pasti berat sekali bagi Nesia-san... Mungkin sebaiknya aku mengalah lebih lagi dari ini... Sampai ia benar-benar mau setidaknya untuk menatapku...
Kiku masuk ke kamar mandi, sekedar untuk mencuci tangan dan kaki serta mukanya. Ia juga harus mengganti pakaian. Dia tadi membereskan barang-barang Nesia, sedangkan Nesia hanya mengurusi pakaiannya saja, dan sekarang pemuda itu merasa tubuhnya kotor dan tidak nyaman untuk tidur. Karena itulah kini ia harus setidaknya bersih-bersih ringan dan ganti baju.
Ia tersenyum bangga sekarang di depan kloset yang berisikan baju-bajunya karena kali ini ia memiliki banyak sekali pasokan baju training yang diimpor langsung dari rumahnya demi keamanannya jika ada masalah seperti ini. Dan 'masalah seperti ini' memang datang –Kiku sungguh bersyukur dia telah berjaga-jaga dan mempersiapkannya.
Yah, walaupun ia sebenarnya akan tidur di perpustakaan, tapi baju training yang hangat tak akan sia-sia.
Masih dengan senyum yang mengembang ia membuka salah satu pintu kloset yang terbuat dari alumunium, namun dicat bercorak kayu supaya tidak begitu menyimpang dengan konsep kamar.
.
.
-SLAAAAAAAAAMM!-
Belum beberapa detik membuka klosetnya, Kiku segera menutupnya lagi kencang-kencang sehingga menimbulkan bunyi bantingan yang keras.
Nani sore?! Nani sore?! NANI SORE?!
Kiku jatuh terduduk di lantai. Berusaha mengatur nafasnya yang memburu dan jantungnya yang berdetak terlalu cepat karena kaget.
Oh, sudah lama ia tak merasakan semua ini, semua pacuan adrenalin ini, semua miss placed ini –akhirnya, datang juga hari dimana semuanya tidak sesuai dengan kehendak dan persiapannya lagi. Kiku tidak tahu ia harus senang ataupun jengkel.
Bukan, bukan karena baju trainingnya menghilang semua. Hanya saja, sesuatu yang salah tertangkap oleh iris matanya di dalam kloset bajunya.
Shikanishite... Honda Kiku... Daijoubu desu... –Bertahanlah... Honda Kiku... Tidak apa-apa...
.
.
Ugh... Lebih baik aku cari tahu dulu apa yang terjadi di sini... Ya... lebih baik begitu...
Kiku mengangguk pada dirinya sendiri, kemudian membuka bagian lain dari kloset itu yang berisikan baju seragam dan baju-baju kesehariannya. Kiku melihat, baju-bajunya yang tadinya tersusun rapi dan terpisah-pisah menjadi 5 bagian; baju seragam, baju formal, baju semi formal, celana dan baju santai –termasuk yukatanya kini sudah berubah aturan menjadi 3 bagian; baju seragam, baju formal + semi formal + santai + yukata, dan celana.
Semua ini karena ada seragam Nesia dan baju-baju setipe milik sang gadis di sebelah baju Kiku, di kloset yang sama.
Kikupun mengambil kesimpulan, Nesia mencoba hidup berdampingan dengan 'aturan' Kiku, sengaja atau tidak –tapi Kiku mengambil keputusan Nesia pasti tidak sengaja dan dengan polosnya mengikuti aturannya. Kiku sungguh menyesali tidak memindahkan pakaiannya ke satu sisi kloset sebelum Nesia memasukan bajunya atau setidaknya bilang untuk memindahkan seluruh bajunya ke salah satu bagian dari kloset sehingga Nesia bisa menggunakan sisi kloset yang lain.
Kiku yang telah tenang dan mempelajari apa yang terjadi kini menghelakan nafasnya, menyiapkan dirinya sebelum membuka lagi bagian kloset yang bermasalah itu. Bagian kloset yang berisikan baju dalamannya dan pakaian pendukung seperti Training –yang kini berdampingan dengan baju tidur dan jenis pakaian yang sealam milik seorang gadis bernama Nesia.
Kiku menutup matanya dan berusaha untuk mengambil baju trainingnya yang kini terletak di sebelah kaos dalam Nesia.
Ganbatte! Ganbatte! Ganbatte!
Kiku merasa seperti seorang idiot, menyemangati dirinya sendiri hanya untuk mengambil baju.
Akhirnya, setelah 'perjuangan mempertaruhkan nyawa'–nya, Kiku menyabet training kemenangannya dan segera membanting pintu kloset itu sekali lagi. Dengan perasaan yang kesal bercampur malu, ia mengganti bajunya dan siap untuk tidur. Namun, entah kenapa perasaannya sedikit tergelitik untuk menengok ke dalam kloset itu lagi, namun kini pada bagian bawah. Bagian yang menyimpan pakaian krusial-nya.
Kiku menelan ludahnya, membuka klosetnya lagi dan langsung berjongkok untuk menghadapi bagian yang harus ditarik keluar untuk mengambil isinya. Kiku menghitung sebagai upaya mempersiapkan dirinya. Pada hitungan ketiga, iapun menarik laci besar tersebut.
Wajah Kiku memucat ketika menemukan apa yang ditakutinya menjadi kenyataan. Dengan muka yang sangat amat merah ia mendorong laci itu perlahan dan bersender menutupi 'masalah' itu.
Nesia-san wa baka desu ka?! –Apakah Nesia bodoh?!
Baginya, ketika rasa gemas dan frustrasi menjadi satu seperti ini, mereka akan menimbulkan ajang penghabisan nyawa, jika tidak, pasti ajang mengeringkan darahnya. Ia merasa jiwanya melayang entah kemana, merasa lelah mendadak dan merasa menjadi tua lebih cepat beberapa tahun untuk menghadapi semua ini.
Atau dia saja yang lebay? Karena sepertinya Nesia baik-baik saja menaruh semua dalamannya di samping dalaman milik Kiku.
Sontak wajah Kiku kembali memanas. Pemuda itu menahan kepalanya dengan kedua tangannya seakan kepalanya itu akan lepas dan pergi entah kemana.
-tte... N-nesia-san wa... wa-watashi no mono... mitemasu ka?! –Nesia... punyaku... dia melihatnya?!
Kini Kiku mengerti kenapa murid perempuan selalu kesal ketika baju dalamannya terlihat. Kesal karena sangat-terlalu-malu-sekali, seperti yang ia rasakan kini. Namun ia tak bisa berbuat apapun.
Maksudnya, jika ia memindahkan pakaian Nesia 'yang ini' dan memperbaiki keadaan, ia pasti akan kena marah gadis itu karena seenaknya memindahkan benda-benda pribadinya. Kiku bisa dicap mesum tingkat akut –walaupun dirinya sendiri sudah mengecapnya demikian. Namun Kiku tak mau memperkeruh hubungannya dengan Nesia.
Kiku harus mengalah, dan mencoba untuk tenang dan tidak mempedulikan semua ini.
.
.
.
BULLSHIT! DOU SURU DESU KA?! –Omong kosong! Memangnya bagaimana caranya?!
Pakaiannya –semuanya, termasuk dalaman- kini satu kloset dengan orang yang ia sukai. Jika dia hentai-to-the-core mungkin ini merupakan surga.
Tapi Kiku bukan!
Demi apapun, bukan!
Dia seorang pria Jepang terhormat yang tahu asas dan norma –meskipun seringnya lupa jika sudah menggarap doujinshi dan sebagainya. Akan tetapi, hal seperti ini, jika dia tidak peduli, berarti setiap harinya sama saja dengan dia akan mengintip pakaian dalam orang.
Pakaian dalam orang yang disukainya.
.
.
–oh, itu terdengar menarik... –tte! Apa yang kupikirkan?! Bagaimana mungkin aku melakukan ini pada Nesia-san?! Ini sama saja dengan tidak menghormatinya! Bagaimana mungkin aku bisa tidak menghormati gadis yang kusukai?!
Kiku pun menghabiskan malamnya di kloset itu, bertarung dengan dirinya sendiri.
*O*
Kiku menggosok giginya dengan perlahan. Ia memandangi seorang pemuda kusut yang tampaknya kekurangan tidur di dalam kaca cermin wastafel kamar mandi –bayangan dirinya di Jumat pagi itu.
Setelah menggosok gigi, pemuda itu segera membasuhkan air dingin ke mukanya. Berharap sedikit memperbaiki tampilan muka lusuhnya. Mungkin mandi pagi akan membantu? Lagipula ini sudah hampir masuk musim panas, ia akan butuh dua kali mandi di musim-musim seperti ini.
Tapi mandi setelah semalaman tidak tidur tampaknya tidak baik bagi kesehatan, bahkan ada kabar seram bahwa seseorang meninggal setelah melakukannya.
.
.
Kiku menghela nafas panjang. Heran. Kenapa hidupnya bisa berubah menjadi begitu rumit dalam hitungan jam saja. Padahal sampai kemarin hidupnya begitu sempurna sesuai dengan rencana-rencananya –walau sedikit terganggu karena pikiran tentang Nesia yang membuatnya melamun dan menghabiskan waktu dengan percuma. Namun sungguh, selebihnya sempurna.
Kiku benar-benar tak habis pikir dengan pengacau yang sepertinya tidak menyadari sedikit pun bahwa dia telah (sekali lagi) menghancurkan jadwal (cadangan yang telah direvisi) kehidupan Kiku yang sangat sempurna dan terstruktur. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus menghadapi gadis itu hari ini.
'Rencana' tidak akan berjalan akur dengan Nesia. Kiku tahu akan hal itu. Nesia adalah tipikal spontan yang tidak akan pernah selaras dengannya yang tipikal terencana. Meskipun begitu, karena memang sudah cara kerja otak Kiku yang selalu merencanakan sesuatu, saat melamun seperti ini pun ia tak sengaja memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti.
Mungkin... aku akan menyapa... Selamat pagi mungkin netral dan tidak menyulut kemarahannya... Setelah itu mungkin...
-Tok... tok...-
"Haitte..." –masuk
Kiku melihat pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan seorang gadis yang baru bangun tidur tepat di belakangnya lewat pantulan kaca cermin. Nesia masih mengucek matanya saat mendekati wastafel dan meraih sikat giginya sendiri. Rambutnya terkuncir tidak rapih dengan kunciran yang menggantung di sekitar bahu kecilnya.
"Ohayou gozaimasu... Nesia-san..." sapa Kiku ramah.
"Hmm..." balas Nesia setengah sadar.
Karena merasa tidak dipedulikan, Kiku hanya bisa tersenyum simpul dan keluar dari kamar mandi itu menuju kloset terkutuk yang membuatnya tidak tidur semalaman. Mencoba mengambil baju seragamnya sebelum ketahuan Nesia bahwa ia melihat sesuatu yang tak pantas dilihatnya –meskipun itu bukan kesalahannya.
Kiku menutup kloset setelah mengambil semua baju yang diperlukannya. Kini ia bingung, mau ganti baju dimana? Kalau di kamar, bagaimana nanti kalau tiba-tiba Nesia selesai dan membuka pintu kamar mandi dan...
Oh, mereka pasti akan teriak bersama.
.
.
Kenapa hidupnya menjadi seribet ini? Kiku menghela nafas lagi.
-Tok... tok...-
"Hmm?"
"Nesia-san... Aku akan ganti baju... Jangan buka pintu-..."
"Kau... mau ganti baju?" ucap kepala Nesia yang langsung nongol dari balik pintu kamar mandi, seringai lebar menghiasi wajah yang baru terbasuh air itu.
.
.
"N-nesia... –san?" Kiku mulai merasa bahaya mengancam.
"Hmm?" gumam Nesia –Kiku harap- saat keluar dari kamar mandi, semakin mendekat ke arah Kiku dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
"G-garuda... –san ka?"
"Uh-huh... Bingo!" ucapnya penuh dengan happy beam, senyuman yang sangat ceriabagai matahari bersinar di atas kepalanya.
-yang membuat tubuh Kiku bergetar ketakutan.
"G-garuda-san... c-cotto..." Kiku terus berjalan mundur dengan tangan yang terentang membentuk gestur stop, diikuti Garuda yang masih saja tersenyum senang seperti baru saja mendapatkan grandprize satu unit mobil Honda.
"Hehehe..."
KOWAI DESU!
"A-apa yang Garuda-san inginkan!?" tanya Kiku lagi, masih bergerak mundur.
"Menurutmu?"
"W-watashi wa wakarimasen..."
"Hmm... Yang aku inginkan... yah?" Garuda memasang pose berpikirnya, pose yang sungguh menggoda dengan jari tengah tangan kanannya memoles bibir mungilnya dan dengan sengaja membuat mulutnya terbuka sedikit, matanya menggelap dan terus memandang Kiku dengan tatapan; "Aku ingin kau..."
.
NAAAANIIIIII?!
"S-s-s-so-sore wa... Dame desu! Uh..." tubuh Kiku semakin merinding ketakutan, terutama ketika ia tidak menemukan jalan untuk mundur lagi.
Kiku harus melarikan diri dari sini. Secepatnya. Sebelum ia disantap oleh kepribadian Nesia yang 'kelaparan' ini bulat-bulat.
Garuda tersenyum manis seraya membentangkan kedua tangannya untuk memanggil Kiku ke dalam pelukannya.
"Uke-ku... Kesini dong!" ucapnya dengan nada girang terus mengundang Kiku.
Di mata Kiku itu adalah undangan kematian.
Kami sama! Onegai! Tatsukete!
"Haruskah aku menangkapmu?" ucap Garuda dengan mata yang berkilat penuh dengan keantusiasan.
Berbanding terbalik dengan Kiku yang hampir pingsan dan mencoba untuk terus bertahan dan sadar, karena jika tidak, habislah ia di tangan gadis yang kini 'menjadi laki-laki' itu. Padahal sampai kemarin gadis ini menjauhinya dan mengabaikannya habis-habisan, pagi ini ia menginginkannya dalam artian yang horor bagi Kiku –sangat teramat di luar bayangan rencananya.
"IIE! Garuda-san! Sagatte kudasai! SAGATTE!" –mundur!
Kalau ia tahu paginya akan menjadi serunyam dan selelah ini, mungkin baiknya semalam ia tidur lebih cepat. Oh, mengapa penyesalan selalu datang terakhir?!
"Aku datang~~~!" ucapnya ceria sembari menghambur ke arah Kiku.
Akan tetapi, Kiku tidak tinggal diam, ia segera mengambil langkah seribu berlari menjauh dari Garuda. Membuat Garuda mendengus sebal karena hanya menangkap angin. Namun di detik berikutnya, ia tidak lagi memperlihatkan kekesalannya –malah bertambah antusias.
"Heee... Kau ingin bermain? Boleh juga..."
"IIE DESU! Garuda-san! Dame desu!" Kiku terus menolak dan mundur dari tempatnya, wajahnya kini sangat hidup –terlalu hidup dengan semu kemerahan dan pucat ketakutan (?).
"Aku tak mengerti maksudmu... Kau menolakku atau malah mengajakku?" tanya Garuda dengan nada seduktif, masih berjalan mendekati Kiku.
"Aku menolakmu! Tentu saja menolakmu!" seru Kiku dengan muka merah padam.
"Heee? Benarkah?"
"Benar! Garuda-san! Jangan bercanda! Kita harus sekolah!"
"Lalu... kenapa kau menggiringku ke tempat tidur?" ucapnya sembari menunjukkan arah belakang Kiku dengan anggukan kepalanya.
Nani?
-duk-
Kiku terkejut saat kakinya menyenggol sesuatu. Itu adalah pinggiran tempat tidur.
"Jadi... yang mana?" tanya Garuda yang tahu-tahu berdiri tepat di depan Kiku, membuat pemuda itu terlonjak kaget dan jatuh telentang di atas kasur.
-Bruuuuuukh...-
"Aku rasa... Kau mengajakku..." ucap Garuda dengan senyum yang sangat lebar seraya merayap untuk mengunci Kiku di atas kasur.
IIIIIIIAAAAAAAAAA!
Kiku berusaha bangun dan menopang tubuhnya dengan kedua sikunya. Ia melinguk ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari 'penyelamatan' yang tampaknya tidak dipersiapkan di dekatnya. Tubuh Garuda semakin maju, menyadari itu, iapun semakin mundur dan kini membuatnya kembali berbaring di atas kasur yang oh-sangat-mengerikan ini.
Tanpa permisi –bahkan dengan senyum lebar pula, gadis yang sekarang 'laki-laki' itu setengah duduk di atas perut Kiku, membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Kiku sepertinya ingat posisi ini. Ini posisi ketika ia 'mengancam' Ina.
Oh, hukum karma memang berlaku. Bahkan balasannya dua kali lebih mengerikan.
"G-garuda-san... Tolong jangan lakukan ini..."
"Lakukan apa? Hmm?" terdapat nada bermain dalam intonasinya.
"Semua yang kau lakukan ini..."
"Aku sudah terlanjur melakukannya... bagaimana?"
"Jangan dilanjutkan!" seru Kiku tegas.
"Hee... Tidak asik..." Garuda pura-pura sebal, ia menggembungkan pipinya.
Jangan menggembungkan pipimu! Jangan mendekaaaaat!
Kiku menutup matanya erat-erat, ia berpikir Garuda akan menciumnya lagi. Tetapi ternyata tidak demikian. Ia hanya mengecup kening Kiku dengan lembut dan bertahan di sana.
"Aku bercanda... Aku tidak akan memaksa..." ucap Garuda lembut layaknya seorang gentleman yang membuat Kiku mengedipkan matanya berulang kali, tak percaya.
"Garuda-san...?" Bisik Kiku heran sembari menatap bola mata Garuda lekat-lekat.
"Ya?"
"Garuda-san... tidak..."
"Kalau kau mau, aku dengan senang hati-..." ucapnya sembari bersiap menyerang.
"Iie, arigatou gozaimashita!" tolak Kiku tegas sembari menahan tubuh Garuda, Ia merasa ia pernah mendengarkan percakapan mirip-mirip ini.
Oh ya... Dulu dengan Ina-san...
"Pelitnya..." dan kembalilah Garuda dengan gembungan pipinya.
"Ini bukan masalah seperti itu!"
"Hmmft... Aku tidak mengerti apa yang kau katakan..." sahutnya lagi dengan tawa kecil.
Aku tidak mengerti apa yang tengah kau lakukan!
"Kau tahu? Kau sungguh lucu..." lanjutnya sembari memainkan poni Kiku.
.
.
Kenapa aku mendapat pikiran bahwa Garuda-san adalah Seme yang lembut?! Iia! Hapus pikiranmu itu, Kiku! Kita harus pergi dari sini secepatnya! Eh?! Apa lagi yang kau lakukan!?
Tubuh Kiku bergetar saat menemukan Garuda merendah untuk berbaring tengkurap di atas dadanya. Ia menggunakan kedua lengannya untuk menahan dagu dan kepalanya supaya tetap bisa melihat iris Kiku.
"Aku melihat seseorang yang sungguh kontradiktif... Tidak jujur pada dirinya sendiri..." ucapnya sembari memencet hidung Kiku.
Namun Kiku kini tidak mempedulikan godaan Garuda, pikirannya saat ini terfokus pada kata-kata yang Garuda lontarkan. Sejujurnya, ia cukup kaget dengan pernyataan dari kepribadian yang ia cap 'tidak waras' ini.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam sini?" Garuda mengetuk lembut kening pemuda yang kini diam seribu bahasa dan tanpa emosi apapun.
"Kau tak mau bilang?" Garuda menaikkan alisnya, "Tidak asik..."
.
.
"Aku hanya menghindari konfrontasi yang tidak perlu, Garuda-san..." jawab Kiku datar.
"Dan selalu mencoba menjadi normal dan mematuhi semua aturan secara baku... Kau selalu mencari aman..." tambah Garuda, "Aku bisa melihat semua itu..."
Eh?
"Apa maksud Garuda-san sebenarnya?" tanya Kiku hati-hati.
Garuda memutar bola matanya lelah.
"Kau sebenarnya menikmati permainan ini bukan?" bisik Garuda di telinga Kiku, "Aku tak marah jika kau mengakuinya... Lebih baik kita saling mengaku dan saling menikmati..."
.
.
"Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau maksudkan, Garuda-san..."
"Ah! Itu lagi!" dengus Garuda kesal, dan detik berikutnya ia sudah melumat bibir Kiku dengan ganas.
Kiku mengerang kaget, terutama saat Garuda mengecupnya semakin dalam dan mencoba memasuki mulutnya. Kiku berusaha keras untuk mengatupkan mulutnya, tidak membiarkan dan tidak membuat jalan bagi Garuda.
Tidak semudah itu.
"Tampaknya mengatasimu akan memerlukan waktu yang panjang..." bisik Garuda saat mengambil nafas.
"Apa..." Kiku tersengal saat berusaha menanyakan maksud Garuda. Namun, belum sempat ia melanjutkan pertanyaannya, kembali ia berada di bawah penguasaan Garuda.
Karena Kiku akan menanyakan pertanyaan, mulutnyapun terbuka dan membuat Garuda dapat mengklaim semua yang ia inginkan –termasuk lidah Kiku yang kini dipaksa untuk berdansa dengan milik Garuda.
Setelah puas mengklaim Kiku, setelah ia merasakan bahwa dirinya masih makhluk ber-paru-paru yang harus mengambil udara untuk bernafas, Garuda melepaskan Kiku. Namun demikian, mulutnya masih ada di sekitar sana, dan kali ini menelusuri dagu Kiku.
"G-Garuda...-san..."
"hmm?"
"C-cotto..." Kiku berusaha mendorong Garuda, namun tubuh Garuda yang sudah sepenuhnya membebani tubuh Kiku ternyata lebih sulit untuk digeser daripada bayangan Kiku.
"Pikirkanlah..." bisik Garuda sembari menggigit dan menjilat telinga Kiku, "Semua. Yang. Aku. Katakan..." ucapnya terpisah-pisah di antara kecupan di leher Kiku.
"ukh..."
"Ini menjadi PR-mu..." ucap Garuda sembari menarik kerah baju training Kiku dan meninggalkan kiss mark di pangkal leher Kiku sebelum tidak sadarkan diri.
*O*
"Heeeh... Kau akan maju jadi ketua OSIS, Arth?" seru Alfred saat jam makan siang.
Kiku yang sedang membuka bungkusan bentou-nya pun tertarik dengan pembicaraan itu.
"Nanti sekolah kita hancur bagaimana?" lanjut Alfred tak yakin.
"Mana mungkin, git! Itu kalau kamu yang maju!" decak Arthur sebal.
"Terus kau mau meninggalkan kelas 2-A ini?" tanya Alfred lagi, "Kau tidak bisa jadi ketua kelas ini lagi?"
"Itu yang membuatku bingung..."
"Menyerah saja jadi Ketua OSIS... Aku rasa tidak cocok untukmu... Dan alismu..."
"Apa kau bilang?!" Arthur mulai bangkit dari tempat duduknya, dan karena Alfred melarikan diri sembari mengejeknya, pemuda gentleman tersebut refleks mengejarnya, "Stop there, you bloody git!"
"Not even in your f*cking dreams!" jawab Alfred sembari lari dan cengengesan.
'Pertengkaran' coretcoupleoftheyearcoret kedua temannya itu pun membuat Kiku kehilangan nafsu makannya. Segera Kiku menutup kotak bentou miliknya dan membungkusnya kembali. Ia berpikir untuk memberikannya pada Yong atau siapa saja.
Terlintas di benak Kiku untuk memberikannya pada Nesia no. 1 saja sebagai permintaan maaf.
Ya, mungkin itu ide yang bagus dan Kiku segera beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Nesia.
.
Tadi pagi, setelah Garuda pergi, Nesia no.1 segera bangun dan membuat masalah diantara dua insan ini semakin runyam.
Nesia masih terus menuduh Kiku melakukan macam-macam, padahal tidak sama sekali. Ingin Kiku memperlihatkan bukti bahwa dirinya-lah yang diserang kepada Nesia, namun Kiku urung karena ketika ia menyentuh bekas kiss mark yang bertengger di pangkal lehernya itu pikirannya jadi merunyam.
Ia jadi malu untuk memperlihatkannya.
Kiku berjalan menelusuri koridor-koridor dengan bentou di tangannya. Ia menuju ke gedung kelas 1 di seberang gedungnya. Berjalan melewati taman yang biasa dilewatinya sekali lagi, Kiku berhenti sejenak karena matanya menemukan si kohai yang sedang ia cari. Tanpa gengnya pula, suatu kesempatan besar bagi Kiku.
Hanya saja gadis itu ternyata sedang berbicara dengan seseorang. Kiku sepertinya tahu siapa gadis yang mengajak Nesia berbicara. Segera ia mendekat ke arah bangku taman yang terletak di pinggiran taman dan diduduki oleh dua gadis itu. Menemukan sebuah pilar yang cukup besar dan dekat untuk bersembunyi, pemuda itupun merapatkan tubuhnya agar tidak diketahui oleh Nesia.
"Maaf mengganggumu... Aku Lily Zwingli kelas 2-B... Aku tinggal di kamar yang sepertinya bekas milikmu..." ucap gadis manis itu.
"Kenapa kau berpikir demikian?"
"Itu... Kemarin ibu-ibu pengurus laundry mengantarkan ini ke kamar... Dia bilang sudah sebulan ini tidak diambil..." gadis itupun mengambil sebuah tas karton yang dibawanya dan memberikannya kepada Nesia. Nesia hanya merengut bingung menerima tas yang ternyata berisikan baju dan sepatu yang dulu pernah Kiku belikan.
"I-ini bukan milikku..." ucap Nesia setelah mengecek baju dan sepatu yang ada di tas karton yang cukup besar itu.
"Tapi..." Lily segera mengecek saku yang ada di dalam dress onepiece yang manis itu, "Aku rasa... Ini adalah kamu..." ucapnya sembari menarik selembar foto.
Kiku ingat foto tersebut. Nesia no. 2 tidak pernah tahu yang namanya photobox sehingga Kiku mengajaknya untuk berfoto dan mengabadikan hari bahagia itu dalam selembar kertas yang berisi empat foto berbeda itu.
"Bukankah ini adalah kamu?" tanya Lily sekali lagi dengan nada lembut.
Nesia hanya diam terpaku. Bingung tentu saja. Gadis di dalam foto-foto itu sangat mirip dengan dirinya. Sedangkan laki-laki kalem yang bersama dengan gadis bahagia di dalam foto itu sangat mirip dengan seseorang yang sangat menjengkelkan yang membuat paginya tadi rusak.
Dan mereka terlihat bagaikan pasangan bahagia di salam sana.
"Oh ya... Aku ada janji dengan kakakku... Aku pergi duluan ya?" pamit Lily sebelum meninggalkan Nesia dalam tanda tanyanya.
Saat Lily memasuki koridor untuk menuju ke gedung kelas 2, ia melihat Kiku yang memperlihatkan gestur 'jangan berisik'. Lily mengerti dan ia tertawa kecil. Ia berpikir kalau pasangan yang sedang bertengkar ini butuh waktu untuk berpikir dan berbaikan.
Sedangkan Kiku malah mengernyitkan keningnya bingung.
.
Setelah memastikan adik dari pembawa AK-47 menghilang di belokan koridor, Kiku mengalihkan perhatiannya lagi pada Nesia. Gadis itu masih duduk di bangku taman, ia tengah menggaruk kepalanya heran sambil memandangi foto dan baju yang Kiku berikan.
Kiku kini tidak tahu harus bagaimana menyapa Nesia. Jika ia tiba-tiba muncul, bisa saja Nesia berpikiran negatif bahwa Kiku telah mengatur semua ini. Jika ia tidak muncul, kesempatan berbaikan hilang.
Mungkin ini waktunya untuk memasang muka tebal...
Kiku mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian ia segera mengambil langkah tanpa ragu untuk mendekati Nesia.
Kiku tahu, Nesia menyadari kedatangannya. Gadis itu segera menyembunyikan barang-barangnya di belakang tubuhnya.
"A-apa yang kau lakukan di sini?!" serunya kagok tanpa repot-repot berdiri untuk menyambut Kiku.
Namun Kiku tidak menjawab dan pemuda itu segera memasang pose duduk seiza* di atas rumput dan menaruh kotak bentou di sebelahnya.
"A-apa yang kau lakukan?! K-kenapa kau duduk di bawah seperti itu?!"
"Aku akan minta maaf..."
"Huh?"
"Aku minta maaf atas kejadian pagi tadi..." ucapnya sembari bersiap untuk melakukan dogeza*, namun tertahan karena Nesia menahan tubuhnya.
"Kau pikir apa yang kau lakukan, huh?! Kita jadi bahan tontonan tahu!" Ucapnya panik.
"Ini cara meminta maaf yang paling merendahkan diri di Jepang... Kurasa aku sudah banyak berbuat salah padamu dan harus melakukan ini..."
"Aku nggak ngerti dan nggak mau ngerti! Hentikan semua ini! Kau membuatku malu!" Ucap gadis yang kini ikut-ikutan duduk di rumput dan mencoba mengangkat tubuh Kiku.
"Tidak... sampai kau mau memaafkanku..." ucap Kiku datar.
"Kau sedang mengancamku?!" jeritnya sembari terus menahan tubuh Kiku.
.
.
.
"OKE! OKE!" Nesia akhirnya mengalah, "Aku memaafkanmu! Kau puas?!"
"Tidak... Kau tidak ikhlas memaafkanku..." ucap Kiku yang masih menunduk, menyembunyikan seringaiannya.
"Apa sebenarnya yang kau ingingkan?!"
"Kau memaafkanku..." ucap Kiku datar.
"Oke... Aku memaafkanmu..."
"Setelah aku menyelesaikan dogeza ini..."
Nesia menggeram kecil menahan amarahnya. Ditepuknya kedua pipi Kiku sehingga pemuda itu terkejut, dan menjadi lebih terkejut ketika mukanya ditarik untuk menatap wajah malu Nesia.
"Kalau kau melakukannya... aku tidak jadi memaafkanmu!" ucapnya sembari membuang muka.
Muka yang merah padam. Dihiasi dengan alis yang bertautan dan bola mata yang melirik Kiku berkali-kali, memastikan pemuda itu tak melanjutkan perbuatan anehnya. Bahkan dengan bonus pipi yang menggembung sebal.
KUSO!
Kiku jadi ingin mencubit muka yang menggemaskan itu. Sekarang.
Tidak... tidak... Ingat rencana kita, Honda Kiku! Rencana kita! Ini pengecoh! Ini pengecoh!
"Sudah selesai urusanmu?!"
"Huh?"
"S-sudah selesai belum?! Kalau sudah bangunlah! Kita jadi tontonan orang!" rengek Nesia lagi, membuat Kiku kembali ke realitas dan menemukan beberapa orang memandangi mereka.
"A-ah... H-hai..." muka Kiku berubah merah padam sekarang, sama dengan milik Nesia.
Tidak... strategi muka tebalku!
"Hgh... Aku tidak habis pikir... Tidak perlu segitunya minta maaf padaku... sampai sujud-sujud segala... Emangnya aku apaan?!" dengus sang gadis sebal.
"Nesia-san menghindariku selama lebih dari sebulan..."
"I-itu..."
"Nesia-san membanting pintu dan tidak mau berbicara denganku..."
"Uh..."
"Aku sungguh minta maaf... Aku tidak akan berkata yang tidak masuk akal lagi... dan tidak akan berbuat yang aneh-aneh lagi..." ucap Kiku tegas sembari menatap Nesia lekat-lekat, ia ingin Nesia merasakan keseriusannya.
.
.
.
"Itu bukan kesalahan senpai seutuhnya..." ucap Nesia datar sembari melihat jauh ke taman.
"Eh?"
"Tampaknya aku saja yang belum dewasa..." lanjutnya lagi, "Maksudku... Ya ampun... Sudah sebulan, yah?"
"Nesia-san?"
"Tapi jujur saja... melihat muka senpai membuatku sebal sih..."
Ukh...
"Aku tidak tahu kenapa... Hanya saja firasatku selalu bilang 'orang ini akan mengungkit bahwa kau punya masalah kejiwaan'... Aku tidak suka hal seperti itu... Aku tidak suka... dan aku takut jika ternyata senpai benar..."
Kiku hanya bisa menatap wajah Nesia yang mulai mendung.
.
"Maksudku... Aku... Aku hanya ingin menjadi gadis normal... Aku ingin bermain dengan teman-temanku seperti biasa... Juga dengan orang yang kusukai... Menurut senpai apa kata mereka jika aku tidak normal?"
"umnh..." Kiku mulai berpikir.
.
.
"Kan? Senpai sendiri tak bisa menebaknya...?" ucap Nesia memotong pikiran Kiku.
"Juga... Senpai membuatku gila karena terus menerus mengetuk pintu kamarku selama minggu-minggu awal..."
"Eeh?"
"Senpai sih mungkin tak perlu belajar... Tapi aku perlu! Mana akhir-akhir ini aku kena marah terus karena nilai kuis-ku turun... Itu semua karena senpai!"
"K-kan aku sudah berhenti mengetuk pintu kamarmu..."
"Tidak dengan notes-notes itu... Itu juga menggangguku! Dan entah mengapa... Seperti apapun aku belajar aku tidak bisa membuat mereka puas... Apa sih yang sebenarnya terjadi?! Perasaan waktu di dorm dulu aku belajar biasa saja... Mereka biasa-biasa saja... Dan sekarang ketika aku belajar keras... malah nilaiku anjlok semua?!"
Itu karena kau tidak membiarkan Nesia no.2-san mengambil alih...
"Atau mungkin sebenarnya aku jenius? Kalau nggak belajar malahan pintar?"
Nai... nai... Sore wa nai... –itu nggak mungkin...
"Bagaimana menurut senpai?" tanya Nesia dengan tampang polosnya ke arah Kiku.
Nesia-san... mudah sekali melupakan sesuatu... padahal aku baru saja minta maaf...
"Kalau Nesia-san mau... aku bisa mengajari Nesia-san..." ucap Kiku dengan senyuman lembutnya.
"Memangnya senpai bisa?" lanjutnya tanpa dosa, membuat Kiku bertambah gemas.
"Aku akan lihat sampai mana aku bisa membantumu..." ucap Kiku lagi, "Tak ada salahnya mengingat-ingat pelajaran kelas satu..."
"Ya sudah kalau Senpai tidak masalah... Umnh?"
"Doshita yo?"
"Ini bungkusan apa?" tanya Nesia sembari mengangkat kotak bentou Kiku.
"A-ah... Sore wa... bentou desu... Nesia-san e ni..."
"Aku buka ya?" ucapnya sembari membuka kotak bekal makan siang Kiku dan menemukan lauk pauk dan nasi yang tersusun dengan sangat indah.
Segera Nesia menutup kotak itu.
"Nande?"
"K-kumohon bawa ini jauh-jauh dariku... sebelum aku ngiler melihatnya..." ucap Nesia malu.
"Ini memang untuk Nesia-san..." Kiku tertawa kecil karena lupa mengartikan perkataannya untuk Nesia.
"B-b-be-be-beneran nih?!" seru Nesia dengan mata penuh sinar harapan.
" U-un..." Kiku mengangguk
"Asik! Aku juga mulai kepalaran!" Seru gadis itu riang sembari memilih mana yang mau dicomotnya duluan.
-Plaaaaak-
"Aduh! Apaan sih, senpai?!" seru Nesia sembari mengelus punggung tangannya yang barusan di tepuk oleh Kiku.
"Sopan santunmu!"
"Iiiiih apan sih... katanya buat aku?!" dengus Nesia sebal.
"Ini sumpitnya..." tegas Kiku sembari memberikan Nesia sumpit berbahan besi.
"Huh!" Nesia mendengus sebal, berpikir pasti ada masalah antara senpainya ini dengan makanan.
"Dan doa juga..."
Alis Nesia berkedut sebal, sekali lagi senpai-nya ini memerintah, mungkin ia akan menarik lagi pemberian maafnya.
"Selamat makan!" serunya sembari menatap Kiku sebal.
"Goyukkuri douzo... -selamat menikmati..." ucap Kiku sembari tersenyum ramah, membuat Nesia menurunkan ketegangannya dan berpikir bahwa Kiku tak seburuk dan seketat itu.
.
.
"Jangan ditusuk-tusuk seperti itu!" seru Kiku geram saat melihat bentou yang telah ia susun dengan indah mulai ditusuk-tusuk oleh Nesia.
"Aku nggak bisa pakai benda ini!" Nesia menarik kembali pikirannya. Senpainya ini memang bermasalah dengan manner dan makanan!
"Sini! Buka saja mulutmu!" ucap Kiku sembari merebut sumpit dari tangan Nesia. Kesabarannya bisa habis jika seperti ini terus.
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!"
"Kalau begitu berhenti bersikap seperti anak kecil!"
"Kau-! Umnh..." argumen Nesia berhenti karena Kiku menjejali mulutnya dengan egg-roll.
"Jangan bicara sambil makan..." ucap Kiku sembari menyiapkan suapan selanjutnya.
Sedangkan Nesia hanya bisa mengunyah dengan perasaan dongkol berat sekaligus merutuki senpainya yang ternyata bisa masak seenak ini, juga dengan jam istirahatnya yang entah mengapa bisa berakhir menjadi absurd seperti ini.
"Aa..." ucap Kiku menyuruh Nesia membuka mulutnya.
"Aku mau sosis gurita..."
"Habis ini..."
"Pelit!"
*O*
"Hei, Artie! Aku menemukan restoran dengan steak yang enak! Mau ke sana minggu ini? Atau kita ke tempat hamburger yang biasa?" Seru Alfred saat memasuki ruangan kelas.
"Pelankan suaramu!" balas Arthur dengan muka merona. Ia tak habis pikir dengan Alfred yang tidak tahu kata malu.
"Jadi yang mana? Oh ya... Kiku, kau mau ikut?" Alfred terdiam saat menemukan Kiku dan kondisinya, "Ada apa dengan Kiku, Arth?"
"Mana aku tahu... sejak masuk kelas dia terus menubrukkan kepalanya ke mejanya..." jawab Arthur pura-pura malas.
"Kiku... Kiku... Oooi! Kiku!" panggil Alfred dari bangku Arthur.
"N-nani ga arimasu ka? Alfred-san?" tanya Kiku tergagap saat menyadari dirinya dipanggil.
"Kau tahu, Kiku... kau aneh sekali sejak kelas dua ini..."
"A-ah... Sou ka..." balas Kiku lemas.
Alfred mengernyitkan alisnya heran karena Kiku tak membela dirinya.
"Ada masalah apa, huh? Sebulan kemarin kau tidak bernyawa, sedangkan sekarang kau begitu hidup? Kalau ada masalah ceritakan saja pada HERO! HERO pasti akan membantumu!" Alfred memberikan dua jempolnya pada Kiku.
"Sebaiknya kau tidak dengarkan dia, Kiku... dia ini omong besar..." gumam Arthur.
"Kenapa kau bilang seperti itu, Artie? Kita kan harus saling membantu..."
"Berhenti mencampuri urusan orang lain... Kau itu... selalu saja mau tahu dan mencampuri urusan orang..."
"Tentu saja! Aku selalu ingin tahu tentang keadaan sahabatku!" seru Alfred sembari tersenyum lebar, "Jadi... Apa ini? Sekolah? Keluarga? Ah! Pacar ya?!"
-Dheeeeeeeeeeeeeeeg...-
Kiku merasa mukanya memanas seketika.
Ketika ia melihat muka Alfred dan Arthur yang terkejut, mukanya bertambah panas. Ia merasa mendidih, bukan karena amarah, akan tetapi karena malu yang datang bergulung-gulung dan menamparnya keras dengan perasaan yang sangat aneh yang membuatnya ingin menyembunyikan mukanya saat ini juga.
Ia sudah tak tahu lagi semerah apa mukanya sekarang di hadapan kedua temannya itu.
Apalagi ketika Alfred berteriak mengumandangkan pernyataan yang sangat-amat-teramat-memalukan-sekali, "TEMAN-TEMAN! KIKU SUDAH PUNYA PACAR!"
Satu kelaspun bersorak-sorai menyambut berita tersebut, sedangkan Kiku ingin lenyap dari muka bumi ini (lagi dan lagi).
"Siapa?! Siapa nih?!"
"Beritahu kami!"
Kiku semakin terpojok ketika teman-teman sekelasnya menodongnya dengan pertanyaan yang tidak bertanggung jawab.
"Aku tahu, da ze!"
Seluruh kepala pun melinguk ke arah Yong.
"Aku tahu siapa pacar hyung!" ucap Yong ceria, namun segera dibekap oleh Hong yang kemudian menyembunyikan si pembuat onar itu.
"K-kenapa huyung melakukan ini padaku?!" keluh Yong sebal.
"Kau mau 'dikuliti' oleh Kiku?!" seru Hong lirih namun tetap mengancam.
Yong meneguk ludahnya saat menatap ke arah Kiku untuk memastikan perkataan Hong. Benar saja, pemuda itu sudah stand by dengan aura membunuhnya yang sangat kental.
"Kalian seperti nggak tahu Yong saja sih?! Kan biasa ini orang ngaku-ngaku!" Mei mencoba membantu dan menutup-nutupi Yong, "Salah ah! Pasti kalian salah kabar..."
"Tapi mukanya beneran memerah kok..." seru Alfred yang tak mau mengalah.
"Berarti kalian kalah dari otaku itu dong?" Mei yang keras kepala mulai ngelantur dalam membela Kiku.
Sedangkan pemuda yang menjadi perbincangan hanya bisa sweatdrop dan facepalm di kursinya sembari memandangi kelasnya yang terbagi menjadi dua kubu hanya karena berita tidak benar ini.
Yamette kudasai... Onegai...
#QuotesOfTheDay: Jangan sampai teman sekelasmu tahu kehidupan asmara-mu... Bahaya dan bisa merusak persatuan... –Kiku
*O*
Seiza : Posisi duduk sopan yang menduduki kedua betis, posisi duduk sinden.
Dogeza : Bersujud meminta ampun.
A/N:
Yeeeeeey... Chapter 19!
Author: Bagaimana ini... Hgh... Sudahlah... Lanjut saja... Sampai Chapter entah berapa... Umnh... Ada apa dengan kalian? Kenapa mematung semua?
Neth: Bagaimana dia bisa masuk ke sini?
Author: Siapa?
Neth: Itu... Saudara Brownchoco... Mana idenya top banget! Aku setuju Nesia sama aku *piiip* *piiip* *piiip* tapi aku nggak terlalu suka threesome... Aku suka Nesia menjadi milikku pribadi!
Author: =.=a Inget Neth... Ini FF Kiku x Nesia... Kalau ada *piiip* *piiip* *piiip* paling-paling itu diantara mereka berdua...
Kiku: *ningukcepatdenganmukamerah
Neth: Nein!
Nesia: Author!
Author: Apa?
Nesia: You don't dare!
Author: Kita sudah bahas ini berkali-kali, yang ada rate T+++, bukan rate M dan aku sudah nggak peduli sama santetmu!
Nesia: Durhaka!
Author: Whatever... Umnh... Ah... BlackAzure29-san, Endingnya... Iya... Yang pasti tetep mereka... Kan aku bikin ini FF karena terlalu banyak melihat KikuxNesia yang kandas...
Kiku: H-hountou ka?
Author: Iya... Jangan nangis makannya...
Kiku: N-naitemasen!
Author: Oh ya Neth... BlackAzure29-san tanya tuh... Gimana rasanya kalah dari Argentina?
Neth: Jangan. Ungkit. Itu. Lagi!
Author: Tampaknya dia sangat kesal... Entah kenapa, tapi Neth tampaknya gagal terus ketemu sama doitsu... Tahun lalu doitsu yang gagal... Mereka nggak jodoh kali...
Nesia: Plis, Author... NethGer itu 'Super Epic Crack Pair'... Walaupun mereka tetanggaan...
Kiku: *Angguk2
Author: Kemudian... Ung...
Nesia: Ada apa?
Author: Kiku-san...?
Kiku: Hai?
Author: K-kau yang nulis review Kiku?! Kau sudah pakai Honda kemarin! Sekarang pakai nama Kiku?!
Kiku: S-sore wa... Boku ja nai!
Author: Terus siapa?!
Kiku: Aku tidak tahu!
Author: Mana ini nulisnya tentang kepolosan Kartika...
Kiku: Sudah kubilang mereka berdua bukan aku!
Author: Next... Azukihazzle-san...
Kiku: Aku sabar... Banget...
Neth: Iya.. sudah... juara ke 3 untuk Nesia... Walau pelatihnya bilang itu bukan hadiah terbaik... Semua ini gara-gara Nesia tidak menonton pertandinganku di Brazil!
Nesia: Aku ada PilPres waktu itu... Masa aku mau menelantarkan negara? Aku lihat pertandinganmu dari rumah... Lagipula aku sudah membayarnya dengan datang ke pertandingan juara ke3 mu yang tidak penting itu...
Neth: Siapa yang loncat-loncat senang pas gawang Brazil dibobol ya?
Nesia: S-siapa memangnya?!
Author: Next! Ravenilu597-san... Kiku! Kau dibilang keren nih!
Kiku: D-domo...
Author: Kenapa Nesia no. 1 jahat? Dia nggak jahat... Hanya pas ketemu Kiku pasti salah paham... Dan akhirnya itu deh... Nimbun kekesalan... Tapi udah baikan kok...
Kiku: Hikikomori itu penyakit psikologis sosial... Mengunci diri di kamar, menghindari interaksi dengan orang lain... Biasanya diidap oleh para Otaku...
Author: Internet sehat itu... tidak ada hubungannya dengan koneksi sih... cuma kau tidak bisa membuka halaman dan langsung dialihkan ke halaman Internet sehat... Tujuannya biar bangsa ini nggak mbukain yang aneh-aneh... Tapi dasarnya remaja Negara ini yang panjang akal... Habislah Internet sehat itu oleh proxy...
Nesia: Berikutnya... Fisika-san, Iya... itu... satu kamar... Semoga dia nggak aneh-aneh...
Kiku: Aku normal-normal saja, Nesia-san...
Nesia: B-bagus kalau begitu...
Author: Oke... Sampai sini dulu ya... Mohon saran, kritik dan reviewnya yaaaaa :D :D Aku sangat menantikan loh :D
