Kiku menghentikan gerakan untuk membuka pintu kamar saat mendengar seseorang memanggil namanya. Pemuda itupun melinguk ke arah suara yang sepertinya ia kenal.

"Nak Kiku... Apa kabar?"

"Baik... Greef-sensei..." jawab Kiku lumayan kaget mengetahui siapa yang datang, "Ada apa sensei kemari?" tanya Kiku.

"Aku khawatir dengan kalian... terakhir kau bilang kalian bertengkar, bukan?"

"Ya... itu benar... T-tapi sekarang sudah baikkan, kok..." jawab Kiku masih dalam nuansa bingung.

"Bagus kalau begitu... Di mana Nak Nesia sekarang?"

"Nesia-san... tidak ada di sini... Dia belum pulang, sensei..."

"Oh... tidak apa-apa... Itu bukan masalah..." ucap dokter itu tenang.

Kiku mengerutkan keningnya bingung, "Lalu... sensei kemari untuk bicara denganku?"

"Ya... tapi nanti saja bersama dengan Nak Nesia..."

"O-oh..."

.

.

"Apakah sensei akan pulang dulu... atau..."

"Tidak Nak Kiku... sebulan ini aku akan tinggal di depan kamarmu... jadi kau tenang saja... Kita bisa bicara kapan saja..."

.

.

.

"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?!"


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


-tok... tok...-

"Aku pulang..." seru Nesia ceria sembari membuka pintu kamar.

"Okaerinasai..." jawab Kiku datar.

"Senpai! Apakah senpai tahu!? Tadi di sekolah... uh? Senpai kenapa?" Nesia mengerjapkan matanya saat menemukan Kiku yang sedang duduk di kursi meja belajarnya dan memainkan bolpennya bosan.

"Iie... Betsuni..." jawab Kiku dongkol.

"Er... Senpai... tidak apa-apa?" Nesia mulai mengkhawatirkan Kiku.

Kiku menghela nafas, ia tahu Nesia tidak salah apapun dan tidak sopan menumpahkan kekesalannya pada Nesia. Segera ia menarik sudut bibirnya untuk memberikan senyuman walaupun kecil, "Daijoubu desu... Kinishinai de... –jangan khawatir..." ucap Kiku sembari beralih mendekati Nesia.

Pemuda itu menepuk kepala sang gadis yang masih tidak percaya, "Tadi... Nesia-san mau cerita apa?"

"Ah! Itu..." raut wajah Nesia berubah ceria, "Senpai tahu?! Razak mengajakku kencan! Minggu besok! Bagaimana ini senpai?! AAA!" seru Nesia girang.

-JGLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRR-

.

"Menurut senpai aku harus bagaimana?! Aku harus pakai baju apa?!" Nesia masih dengan riangnya bergumam tentang apa saja yang harus dipersiapkannya.

Gadis itu asyik sekali dengan dunianya. Ia sama sekali tidak memperhatikan Kiku yang mematung, tak bergerak karena terlalu syok. Pemuda itu tak tahu harus berbuat apa. Jangankan berbuat, mengatakan sesuatu pun ia tak mampu. Berita ini memperparah perasaannya yang sedang dongkol berat karena tetangga baru di depan kamar mereka.

Ya, dr. Greef.

Dokter jiwa itu sengaja mempermainkan Kiku. Ia yakin sekali karena dr. Greef jelas-jelas bukan seseorang yang berada di angkatannya Germania. Umur mereka terpaut jauh, bahkan dr. Greef cocok untuk menjadi anak dari Germania. Kiku hanya bisa menebak-nebak bagaimana bisa mendapatkan ex-kamar Nesia itu. Dan semakin ia berusaha menebak, semakin sebal ia jadinya.

Sekarang ditambah lagi dengan 'kabar gembira' dari Nesia yang membuat kepalanya berdenyut pusing.

Nani? Deeto? Razak-kun to isshoni?! –Kencan? Bersama Razak?!

"SENPAI!" seru Nesia yang curiga bahwa Kiku melamun, "Jangan melamun! Aku sedang bicara dengan senpai! Dengarkan aku!"

.

"Jangan pergi..." bisik Kiku lirih.

"Huh?"

.

.

"Senpai pasti bercanda..." Nesia mulai mengerutkan keningnya.

Kiku menghela nafas panjang, tentu saja ia tidak memiliki hak untuk mencegah Nesia pergi. Jika ia bersikeras menahannya sekarang pun, bisa jadi Nesia akan marah dan hubungan mereka yang mulai membaik ini bisa saja berakhir tragis.

"Ya... Aku butuh ketenangan..." ucap Kiku datar sembari mengambil Katana-nya yang terpajang di tembok dan pergi keluar dari kamar.

"Eh? Ini kan sudah hampir senja?"

"Sebentar..." jawab Kiku pendek sebelum menghilang.

"O-oke...?" Nesia kebingungan sembari melambaikan tangannya sekali.

*O*


Konsentrasi... konsentrasi... Hgh...

Kiku jatuh terduduk di atas rumput hutan sekolah. Ia masih terus memandangi Katana-nya yang masih terbungkus oleh sarung pedang. Berulang kali pemuda itu berusaha untuk menarik bilah tajam itu keluar, namun hatinya yang tidak bisa tenang membuatnya urung.

Ia terus mengingat pesan ayahnya yang sekaligus merupakan gurunya; "Jangan pernah tarik pedangmu ketika emosimu tidak stabil, kau tidak pernah tahu apa yang akan kau tebas."

Kiku mengerti akan bahaya senjata tajam ini, sangat mengerti. Namun ia butuh pelampiasan. Ia sangat ingin menebas sesuatu, atau mungkin merobohkan beberapa pohon kecil demi menjernihkan pikirannya yang sangat keruh penuh dengan amarah saat ini.

Tenang Honda Kiku... Hanya seorang dokter jahil dan kencan satu hari! Tenanglah! Selama ini kau bisa mengatasinya bukan?!

Kiku kembali menghela nafas penuh depresi.

Dame desu...

Ia tidak bisa mengerti, mengapa perasaannya begitu berkecamuk sedari dirinya mengetahui bahwa teman Germania yang datang hanya delapan keluarga.

Oke, masalah dr. Greef sebagai tamu ke sembilan, yang menurut Kiku 'tak diundang', yang membuatnya menjadi satu kamar dengan Nesia memang keterlaluan. Akan tetapi, Kiku kan masih bisa tidur di perpustakaan. Lagipula, dengan dijadikan satu kamar begini ia dan Nesia jadi memiliki alasan untuk bertemu dan bertegur sapa.

Honda Kiku... Yurushitte kudasai... –maafkanlah...

Kiku mencoba menenangkan dirinya dan memaafkan dokter yang entah sedang apa di kamarnya bersama sang istri –yang membuat Kiku kaget karena dokter itu membawa-bawa istrinya sehingga ia tak bisa menuntut untuk bisa sekamar dengan dokter jiwa itu.

Sedangkan masalah Nesia...

.

.

.

Tidak bisa.

Kiku merasa ingin menghajar seseorang jika ingat akan kencan itu.

Hmm... menghajar seseorang ya...

.

*O*

.

-BRUUUUUGH...-

"SUGI!" seru Kiku meminta orang selanjutnya sembari mengatur nafasnya setelah berhasil membanting seseorang yang tubuhnya lebih besar darinya.

Mendengar ada panggilan, orang yang memiliki giliran setelah orang yang terbanting pun maju dengan langkah hati-hati. Dengan waspada ia mengawasi pemuda yang sudah membanting dan meng-Knock Out-kan belasan anggota dari klub bela diri ini.

"Dia itu siapa sih?!"

"Tidak tahu... Dia datang begitu saja entah dari mana dan minta bergabung dalam latihan kali ini... kemudian ia mulai mengalahkan anggota kita satu per satu..."

"Gerakannya sangat bagus... dan anggota kita belum ada yang bertahan bahkan lima menit dengannya..."

-Bruuuuuuuugh...-

Terdengar suara debaman lagi, tanda seseorang kembali jatuh dan dikalahkan.

"Sugi!" –selanjutnya!

Semua yang ada di sana kini merinding. Sudah orang ke 17 yang terkapar karena melawan pemuda yang asalnya entah dari mana ini dan delapan di antaranya menyandang sabuk hitam. Anggota sisanya sudah tidak memiliki nyali dan harapan untuk bisa menghentikan orang asing yang tahu-tahu muncul dan membabat mereka itu. Sebagian dari mereka pun ada yang berlari untuk memanggil ketua klub mereka.

Iie... Mada... mada yo... Watashi wa... mada... Okotta... –aku... masih... marah...

"SUGI!" seru Kiku meminta lawan, namun orang-orang di sekitarnya, yang tidak mau bernasib sama dengan temannya yang telah terkapar, malah menjauh dan menjaga jarak aman.

.

.

"Mana orang yang membuat onar itu?!" seru seseorang yang tinggi besar sembari memasuki dojo.

Kiku yang masih memasang kuda-kuda terkuatnya pun mengalihkan perhatian pada seseorang yang kelihatannya berperan sebagai ketua klub bela diri ini. Kiku segera melepas kuda-kudanya sembari melepas semua energi yang sedari tadi stand by di sekitarnya, "Osh..."

"Kau orang yang membuat onar itu?" tanya sang ketua klub, "Kau yang melakukan semua ini?" lanjutnya saat melihat anggota klubnya yang terkapar tidak jelas.

"Hountou ni... sumimasen deshita..." jawab Kiku sembari menunduk meminta maaf yang membuat si ketua klub yang Kiku tebak berasal dari daratan Eropa Timur itu tertegun.

"Kau siapa?"

"Honda Kiku... 2-A... Klub surat kabar... Saya kemari karena ingin menjernihkan pikiran saya..." jawab Kiku tegas.

"M-menjernihkan pikiran?"

"Hai..."

Sang ketua klub berambut pirang itu merasa agak jengkel. Ia merasa seperti klubnya digunakan atau dijadikan sebagai bahan pelampiasan oleh seseorang yang tak ia kenal. Ia semakin jengkel karena ternyata tak ada anggotanya yang berhasil melukai atau bahkan menahan pemuda aneh yang mengaku dari klub surat kabar ini.

"Aku akan menjadi lawanmu kalau begitu..." ucapnya sembari memasang kuda-kuda.

"Hountou ni arigatou gozaimashita..." ucap Kiku sambil kembali memberikan hormat dan memasang kuda-kuda.

"Jangan salahkan aku kalau kau teruka atau tulangmu patah ya!"

"Nozomu tokoro desu!" –itu yang aku harapkan!

*O*


-Splaaaaaaaaaaaaaaash...-

Suara air yang tumpah saat Kiku memasuki Bath-tub terdengar menenangkan bagi pemuda yang tengah menenggelamkan seluruh tubuhnya beserta kepalanya di dalam air hangat yang uapnya masih mengepul. Setelah merasa kehabisan oksigen, segera Kiku mengeluarkan kepalanya dari dalam air dan mengambil nafas sebanyak banyaknya.

Ofuro memang merupakan pilihan terbaik saat tubuh dan pikiran sedang kelelahan.

Kiku merasa lebih tenang sekarang. Setelah lelah 'membantai' semua klub yang termasuk dalam cangkupan olahraga bela diri, kini ia menyamankan dirinya dengan mandi berendam yang sangat nikmat dan tenang.

Serta tentu saja, damai.

Oh, andaikan setiap hari dan saat ia bisa merasa senyaman ini terus, pasti akan sangat menyenangkan. Andaikan tidak ada masalah kencan Nesia yang diadakan lusa, saat hari Minggu, semuanya akan sempurna.

Kiku mengambil air hangat di telapakan tangannya untuk membasuh mukanya dan rambutnya saat kembali mengingat masalah kencan Nesia. Mencoba untuk menekan perasaan amarah yang tidak jelas dan mencoba berpikir rasional.

Tidak akan selesai jika aku marah-marah terus... Aku harus merencanakan sesuatu... Tapi apa?! Apa yang bisa kulakukan untuk menahan Nesia-san?

Kiku mulai memutar otaknya, memikirkan berbagai cara untuk menahan Nesia. Mulai dari yang paling aman sampai paling berisiko, dari yang masuk akal sampai perumpamaan yang melantur absurd.

Kiku berpikir untuk menyembunyikan barang-barang atau baju Nesia untuk hari itu, atau mungkin memasukkan obat tidur ke minuman gadis itu, atau mungkin menguncinya di kamar. Semuanya agar Nesia tidak pergi hari Minggu besok.

Tapi semua yang ia rencanakan merupakan ide buruk, kejahatan, dan ia tahu bahwa ia tidak boleh melakukannya.

Kiku menghela nafas, kini ia berharap pada hari itu Alter lain akan bangun dan menggantikan Nesia no.1 sehingga mereka lupa akan janji kencan itu.

Atau mungkin Kiku akan memata-matai mereka, mengikuti mereka dan menggagalkan kencan mereka?

-ooh... Ii kangaeta! –ide bagus!

.

.

Demo... Iia... Iia... Dame desu yo...

Kiku menggelengkan kepalanya, merasa tidak setuju lagi dengan idenya barusan. Merusak kencan orang itu di luar kemampuannya.

Maksudnya, bagaimana nanti kalau ia bermaksud merusak kencan orang dengan Plan A atau Plan B malah membuahkan mereka semakin dekat? Seperti yang ada di anime-anime itu?

Tidak, Kiku tidak mau ambil risiko sebesar itu.

-tok... tok...-

"H-hai?!" Kiku tergagap menjawab ketukan di pintu kamar mandinya.

"Senpai! Cepetan dong! Senpai sedang apa sih di dalam?! Luluran ya?!" seru Nesia dari luar kamar mandi.

"A-aku kan baru masuk?"

"Senpai sudah di dalam selama setengah jam! Ngapain sih? Ngelamun ya?" selidik Nesia, "Atau jangan-jangan berbuat yang nggak-nggak nih di dalam?!" tuduh gadis itu lagi.

Muka Kiku sontak memerah. Bukan karena panasnya air mandi, tapi karena pikiran absurd bahwa Nesia tengah membayangkan dirinya melakukan hal aneh di dalam sini.

Segera ia berseru keras, "Sonna mono arimasen!" –itu nggak mungkin!

Pemuda itu mendengus kesal, baru juga ia masuk dan menenangkan dirinya sekarang sudah mulai 'diserang' lagi.

"Senpai... Tadi mereka memanggil kita untuk turun... Katanya makan malam bersama..." lanjut Nesia.

"A-ah... C-cotto dake!" Kiku segera keluar dari kenyamanannya dan mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya.

"Cepatlah..."

"U-un!" Kiku cepat-cepat memakai pakaiannya dan kemudian bergegas keluar dari kamar mandi.

"Mereka bilang –... Uh..." seruan Nesia berhenti ketika gadis itu mendapati Kiku telah membuka pintu kamar mandi dan berdiri di hadapannya.

"Nani?" tanya Kiku heran ketika menemukan Nesia berdiri mematung di hadapannya, pemuda itu masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah kuyup.

"U-u-uh... T-tidak..." ucap Nesia sembari memalingkan mukanya yang memerah, "C-cepat bersiap..."

"Wakatta..." jawab Kiku datar sembari meletakkan handuk basahnya di tempat yang seharusnya.

Sebenarnya, di balik datarnya intonasi Kiku, pemuda itu penasaran akan reaksi Nesia yang tiba-tiba malu tersebut. Segera ia cek kelengkapan pakaiannya, mungkin saja ada yang terlewat. Kiku menyentuh celananya yang normal, bajunya yang juga tampaknya baik-baik saja, kemudian memeriksa hal lain –seperti, mungkin saja masih ada sabun yang tertinggal sebelum dirinya bertambah heran karena Nesia mulai tertawa kecil.

"N-nani ga arimasu ka?" tanya Kiku hati-hati.

Nesia menghentikan tawanya dan mulai menyentuh rambut Kiku, "Aneh melihat senpai dengan rambut basah seperti ini..."

"K-kore wa..." muka Kiku memanas menyadari kedekatan Nesia dengannya sekarang, "A-ano na... Nesia-san..."

"Hmm?" Nesia menatap Kiku heran, namun sedetik kemudian mulai mengerti dan menjadi salah tingkah, "A-a-aku hanya... Senpai tahu... A-a-aku menganggap senpai aneh! C-cepat keringkan rambut senpai!" serunya lari dari masalah.

"Hai..." Kiku tersenyum lembut sebelum kembali ke kamar mandi dan mengeringkan rambutnya.

-Tok... tok.. tok...-

"S-sebentar..." seru Nesia sembari berjalan ke arah pintu kamar, "Uh...? Kepala sekolah? Ketua yayasan?" gumamnya saat membuka pintu.

"Huh?" Kiku mengerutkan keningnya bingung saat kedua orang penting sekolahnya itu memasuki kamarnya.

"Aku ingin menjelaskan sesuatu sebelum kita makan malam... Kau bisa lanjutkan mengeringkan rambutmu Honda..."

"H-hai..."

.

"Jadi... begini... Salah satu dari teman kami ini ada yang berasal dari Asia... dan cukup kolot dengan tradisinya..." jelas Roman, "Yang kami takutkan adalah jika ia melihat kalian satu kamar... Bagi kami mungkin biasa saja... tapi baginya ini adalah skandal..." lanjutnya menerangkan duduk permasalahan.

"Aku menghabiskan empat tahun berdebat dengannya tentang perbedaan kebudayaan ini... dan aku tak mau reuni kita sebulan habis untuk membahas masalah yang sama... Jadi kami akan mengenalkan kalian sebagai pasangan menikah... Paham?" ujar pria bersurai cokelat itu lagi.

"Kenapa tidak sebagai saudara saja?" tanya Nesia heran.

"Kalian tidak terlihat mirip... maksudku... dia sangat pucat... Tipikal Asia Timur sekali..." Roman menunjuk Kiku, "No offense!" ujarnya sebelum Kiku membuka mulut untuk membela diri.

"Sedangkan kau sungguh Tenggara... Walaupun kulitmu tidak cokelat-coklat amat..."

"Apakah kita sedang rasis di sini?" celetuk Nesia sebal.

"Bukan... Hanya saja... kalian berbeda..." jelas Roman, "Dan aku kira kalian tidak mau menghabiskan sebulan ini dengan diceramahi oleh orang itu..."

.

.

.

"Oke... aku ikut permainan anda..." ucap Nesia menyetujui.

Kiku memutar bola matanya lelah.

"Kalau begitu jangan lupa cincinnya! Dan bersikaplah sebagaimana newlywed bertindak..." tegasnya menutup rapat dadakan ini, "Aku menunggu kalian di bawah..."

-Blaaaaam...-

N-newlywed?!

.

.

"A-ah... N-nesia-san... Cincinnya..."

"E-eh... I-iya..." jawab Nesia sembari bergegas meninggalkan tempatnya berdiri.

Terdengar suara laci dibuka dan ditutup, kemudian suara langkah dan decit ranjang yang memberi tahukan Kiku bahwa Nesia tengah duduk di sana.

"Pasangan menikah ya... Uh..." gumam Nesia sembari berpikir, "Berarti kita harus mesra ya, senpai?"

"U-uh..." Kiku mengangguk kecil tanpa berani melihat pantulan mukanya yang merah padam di dalam cermin.

Setelah itu tak terdengar apapun lagi selain pengering rambut milik Kiku.

.

.

Awkwaaaaard!

Kiku tak tahu kenapa, tapi suasana di kamar itu menjadi sangat tegang. Sempat ia melirik ke arah Nesia, takutnya anak itu berubah menjadi Garuda atau sebangsanya, namun sepertinya tidak.

Lantas mengapa ia merasa begitu tegang seperti ini?

Kiku masih memainkan pengering rambut meskipun ia merasa sudah cukup kering. Entah mengapa ia tak ingin menghampiri Nesia saat ini. Diliriknya Nesia yang sedang duduk di tepian tempat tidur, memegang sebuah kotak kecil yang berisi sepasang cincin dengan muka yang bersemu merah entah karena apa.

Dan Kiku merasa semakin canggung sekarang.

A-apa yang sebenarnya sedang aku lakukan sekarang ini?!

Kiku menyudahi acara mengeringkan rambutnya ketika menyadari hal itu tak membantu sama sekali. Kiku harus menghadapi semuanya yang mungkin terjadi malam ini dan tidak boleh melarikan diri dengan alasan mengeringkan rambut. Segera ia menghampiri Nesia yang masih duduk manis memainkan kotak kecil itu.

"S-senpai?! S-sudah selesai?" Nesia cukup kaget menemukan Kiku telah berdiri di hadapannya.

"U-un..." Kiku mengangguk kecil.

"Mnh... Kerah senpai..." ucap Nesia sembari membetulkan kerah Kiku yang tak rapi.

Dan secara tak sengaja suasana semakin tegang di antara mereka.

"E-eh... Uh..." menyadari ketidaknyamanan yang berlangsung, Nesia segera menarik tangannya dan kembali salah tingkah, "O-oh... ya... cincinnya..." seru Nesia saat menyadari kotak dalam genggamannya.

Uap mengepul di atas ubun-ubun Kiku ketika Nesia menyebutkan benda yang alasan keberadaannya sangat abstrak tersebut. Kiku hanya bisa memandangi Nesia yang gelagapan membuka kotak cincin itu dan memperlihatkan sepasang cincin yang terlihat sangat indah dan manis di dalamnya.

Keduanya terdiam sesaat.

"E-eh... I-ini kok terlihat asli, yah?" ucap Nesia mengutarakan keheranannya.

"M-masaka...? –mana mungkin... hahaha..." Kiku tertawa aneh.

.

.

I-ini kelihatannya memang asli?!

"T-tangan senpai..." ucap Nesia sembari mengambil cincin yang lebih besar, yang polos tak diukir.

Oh, andaikan Nesia teliti, Kiku sungguh gemetar saat memberikan tangan kirinya pada Nesia dan semakin gemetar saat kulitnya bersentuhan dengan kulit dari tangan mungil Nesia. Apalagi saat Nesia melingkarkan cincin berbahan emas putih yang herannya sangat pas di jari manis tangan kirinya.

Jantung Kiku serasa berhenti berdetak saat kedua matanya bertemu tatap dengan Nesia. Muka gadis itu merona merah menahan kecanggungan yang mendera. Dilihatnya Nesia mulai menggigit bibir bagian bawahnya dan melarikan pandangannya, tanda ia sudah mulai tak nyaman. Dan itulah yang semakin membuat Nesia terlihat sangat manis malam ini, selain onepice berwarna oranye-nya.

Naasnya, Kiku yang ingin berteriak-teriak coretgilacoret malu hanya bisa memalingkan mukanya dan mengepalkan tangan satunya demi menahan euforia aneh yang membuat perutnya geli.

.

.

"I-ini hanya bohongan! Ini perintah Kepala sekolah!" seru Nesia dengan muka yang merah padam. Gadis itu benar-benar salah tingkah, terutama setelah melihat senpainya yang bertindak aneh.

Karena terlalu salah tingkah, tak sengaja Nesia menjatuhkan cincin miliknya. Cincin dengan batu permata kecil sebagai penghiasnya itu bergulir di dekat kaki Kiku. Refleks, Kiku pun berlutut untuk memungutnya.

Oh, Kiku bisa melihat kepanikan dan kegugupan Nesia dari bawah sini.

Posisi mereka sebenarnya sungguh manis, jika mereka sepasang kekasih. Kiku yang berlutut membawa cincin yang siap disematkan di jari manis tangan kiri Nesia, dan Nesia dengan muka merona itu –yang seperti habis bilang 'Iya' pada pertanyaan 'Boku to kekkon shite kudasai –Please, marry me' milik Kiku.

Perlahan, Kiku menyematkan emas putih itu di jari manis tangan kiri Nesia yang lentik sembari menahan perasaan yang meledak-ledak. Ia terus mengingatkan pada dirinya sendiri berkali-kali bahwa ini hanyalah bohongan, ini hanyalah pura-pura. Jangan senang dulu. Masih ada jalan yang sangat panjang sebelum mereka bisa sampai ke tahap seperti ini.

Ada sedikit perasaan sakit ketika Kiku mengingat kenyataan itu. Namun, di detik berikutnya Kiku menetapkan satu hal yang pasti.

Ia berjanji pada dirinya sendiri, satu saat, hal seperti ini bukanlah sebuah rekayasa. Suatu saat, ia akan benar-benar menyematkan cincin miliknya sendiri di jari manis yang kini dikecupnya.

Kanarazu... –pasti...

Kiku kembali berdiri tegap dan menatap Nesia yang masih gelagapan dan kaget karena tiba-tiba tangannya dikecup oleh senpainya.

"Ayo kita makan malam..." ucap Kiku sembari menawarkan tangannya yang ditepis oleh Nesia.

"J-jangan bercanda!" bentak Nesia malu sembari melangkah meninggalkan Kiku yang tersenyum pasrah.

Oh, andaikan Kiku mengerti. Betapa campur aduk-nya perasaan Nesia sekarang antara marah, kesal, malu dan perasaan asing yang Nesia tak tahu apa itu.

*O*


"Kiku?" Ludwig mengerutkan keningnya.

"Veee~... Kiku juga datang... Kita lengkap bertiga!" seru Feli bahagia.

.

.

.

J-joudan desu yo ne?! Naze?! Ano futari... –Kau bercanda kan?! Kenapa?! Dua orang itu...

Kiku memucat dan mulutnya terbuka sebagai tanda ketidakpercayaannya. Ia tiba-tiba merasa sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangaaaaaaaaat ingin kabur dari ruangan ini secepatnya. Sayangnya, kakinya tidak merespon perintah otaknya untuk kabur saat itu juga. Nesia yang berdiri di belakang Kiku hanya bisa merengut heran pada Kiku yang tiba-tiba mematung sesaat setelah membuka pintu ruangan makan malam.

"Senpai... Ayo kita ke sana..." ajak Nesia sembari menarik tangan Kiku.

Namun pemuda itu tak bergerak satu senti pun, ia masih stuck di posisi awalnya, yang bergerak hanyalah bola matanya yang sangat ingin menyembunyikan dirinya supaya tidak melihat kenyataan yang terpampang di depan mereka.

"Senpai...?"

Menyadari Nesia terus memanggilnya, Kiku hanya menggelengkan kepalanya lemah, berharap Nesia mengerti akan kengerian yang bisa terjadi jika mereka tetap mengikuti acara makan malam itu. Mata pemuda itu terus beredar mencari alasan mengapa kedua orang itu bisa ada di situ, dan saat itulah ia melihat Roman melambaikan tangan padanya.

S-sou ka... Sou desu ka!? Ludwig-san wa Germania-sensei no mago... Feli-san wa Roman-sensei no mago... Wasuretta! –B-begitu ya... Ludwig adalah cucunya Germania... Feli adalah cucunya Roman... Aku lupa!

-Greeeeeeeeeeb-

Tubuh Kiku sontak bergetar hebat saat merasakan ada yang merangkul pundaknya dari belakang.

"Apakah kau tahu? Berdiri di pintu itu sangat tidak Awesome! Kau menghalangi jalan!" ucap seseorang bersurai perak itu sembari menyeringai lebar pada Kiku.

-glek-

Shinemasu! –Mati aku!

.

.

*O*


"Sebelah sana adalah Gilbert dan Ludwig... Cucuku..." terang Germania memperkenalkan cucu-cucunya pada teman-temannya; 5 orang kakek dan 3 orang nenek dalam masa senjanya yang telah duduk di kursi meja makan yang sangat-sangat besar ini.

Kiku memandangi teman-teman Germania yang sudah sepuh dan cukup takjub karena di usia senja itu, enam dari mereka masih didampingi pasangan hidup mereka yang kini menggenapi kursi meja makan yang totalnya 24 buah.

"Wah... sudah besar-besar ya..." ucap salah seorang nenek.

"Aku adalah orang ter-Awesome di sekolah ini... Benarkan, west?!" seru Gilbert meminta persetujuan.

"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu, Broer..." jawab Ludwig sembari ber-sweatdrop-ria.

"Kalau yang manis-manis ini adalah cucu-cucuku!" kini giliran Roman memamerkan Feli dan Lovi yang kemudian disambut dengan antusias.

"Manisnya... Mereka kembar ya?"

"Iya, vee..." jawab Feli tenang walaupun pipinya mulai dicubiti oleh seorang nenek yang duduk di sebelahnya, berbeda dengan kakak kembarannya yang langsung marah-marah ketika orang yang di sebelahnya sekedar melirik saja.

"Kemudian di sana adalah dr. Greef beserta istri... Beliau menjadi teman dekatku akhir-akhir ini..." jelas Germania.

"Senang bertemu dengan anda semua..." ucap dr. Greef tulus.

"Seorang dokter? Kau sakit Germania?" tanya salah seorang teman pria bersurai platina itu.

"Tidak... tidak... hanya kebetulan teman saja..." jawab Germania.

"Itu benar... Kita bertemu dan akrab karena sebuah masalah... Dan masalah itu sudah bisa diatasi..."

"Ya... itu benar..."

.

"Jadi... siapa dua anak yang terakhir? Cucumu juga?" tanya seorang pria yang duduk di seberang Kiku.

Tubuh Kiku bergetar hebat dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia meneguk ludahnya. Mempersiapkan semua nyali yang ia punya demi menghadapi rekayasa yang membuatnya malu setengah mati ini –ralat, sekarang sudah sebelas-per-duabelas mati.

"Y-yah... Mereka saudara jauhku dari Asia... juga... muridku... dan teman Ludwig dan Feli..." Germania mencoba merinci.

"Juga sainganku yang Awesome ini... Tapi tenang saja! Aku tetap akan menjadi yang ter-Awesome sampai lulus..." seru Gilbert penuh semangat, entah menenangkan siapa.

"Broer..."

"Mereka... Honda Kiku dan Honda Nesia..." lanjut Germania.

-Dheeeeeeeeeeg...-

Muka Kiku sungguh memanas, uap mengepul, dan ceret kepalanya pun berteriak nyaring sehingga memekakkan telinganya sendiri ketika mendengarkan nama 'Honda' disebut sebagai akhiran dari nama Nesia. Rasanya ingin berteriak-teriak malu dan melarikan diri entah ke mana saat ini juga. Terlalu senang, terlalu bahagia, terlalu memalukan, terlalu... Kiku tidak mengerti harus bagaimana mengekspresikan semua energi yang meledak di dalam dirinya ini.

Hanya di dalam dirinya.

Di permukaan ia harus tetap tenang dan sopan tentu saja.

Kiku menggeser kursinya ke belakang dan menepuk tangan Nesia, meminta gadis itu mengikutinya. Ia segera berdiri, "Hajimemashite... Yoroshiku onegaishimasu..." ucapnya sembari mengajak Nesia untuk menunduk bersamanya.

Nesia yang menyadari perannya hanya mengikuti Kiku saja. Jujur, ia tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh mereka. Ia juga melihat para tamu yang lain agak sedikit bingung seperti dirinya, tapi tampaknya mereka memaklumi.

Jadi ini bukan sesuatu yang salah.

Nesia kembali duduk di kursinya, hampir bersamaan dengan Kiku.

"Orang Jepang ya... Sedikit kaget loh di sini..." jelas seorang pria tua yang rambutnya telah memutih sempurna.

"Vee? Aku kira... Mereka..." Feli mulai mengingat sesuatu, "Nesia yang ada di klub tari, bukan?"

"H-huh?" Nesia mengerutkan keningnya.

"F-feli-san... s-sore wa..." ucap Kiku sembari memberikan gestur kecil untuk meminta Feli untuk menahan prasangkanya, syukurlah pemuda Italia itu berhenti.

"Oh... aku pernah melihat mereka... Yang menempati kamar di sayap barat bukan?" imbuh seorang teman Germania yang berwajah Asia. Menurut tebakan Kiku, beliaulah orang yang membuat mereka melakukan semua kegilaan ini, "Jadi mereka ini saudara jauhmu ya..."

"I-iya... Begitulah..." jawab Germania.

"Aku kira siapa... Maksudku... Mereka pakai seragam dan berkeliaran di Mansion-mu serta memiliki kamar di sini..." imbuh lelaki yang rambutnya mulai memutih itu, "Di negaraku sih... yang beginian pasti jadi masalah..."

"Mereka pasangan menikah, Tara... Kau tak bisa menyalahkan mereka..." potong Roman sembari tertawa lebar.

Satu ruangan itupun dipenuhi oleh tawa mengikuti tawa Roman. Bahkan beberapa terlihat sampai terpingkal-pingkal (hanya Gilbert) dan mulai batuk-batuk (para golongan tua). Hanya Kiku dan Nesia yang tidak tertawa sama sekali dan merasa ingin mengubur diri sekarang juga.

"Ya ampun, Roman! Kau dan leluconmu itu tetap saja yang terbaik!" seru pria tua asal Asia itu setelah berhasil berhenti tertawa.

"Well... Aku tak bercanda... Mereka benar menikah!" ujarnya sembari melanjutkan tawanya.

Namun kali ini sendirian.

Seluruh manusia lainnya yang ada di sana terdiam. Terlalu syok, terlalu kagok.

Roman pun menghentikan tawanya karena merasa ada yang tak beres. Ia melihat ke sekelilingnya dan menemukan wajah-wajah yang dipenuhi kebingungan. Ketika ia meminta pertolongan pada Germania, pria itu hanya mengangkat bahunya kebingungan.

Si kembar Vargas saling berpegangan layaknya terjadi gempa. Ludwig hanya bisa menatap Kiku yang menunduk malu dengan mulut ternganga. Gilbert bahkan dengan awesome-nya bereaksi lebih buruk daripada adiknya –dan bahkan terlihat ngeri. Sedangkan sisanya –para orang tua yang menjadi teman Roman dan Germania hanya bisa terdiam dan meneguk ludah.

.

.

.

"M-maaf... A-aku kira kalian berdua kakak adik..." ucap si pria asal Asia itu mencoba mencairkan ke awkward-an yang telah melampaui batas normal.

.

.

N-N-N-N-NA-NA-NA-NA-NA-NAN DESU -TTE?!

Kini giliran Kiku dan Nesia yang menjatuhkan dagu reka ke lantai dengan tidak elit.

.

"I-itu benar... Aku kira seperti itu..." sahut yang lainnya mencoba mencairkan kecanggungan.

"Y-yah... bagi kami muka Asia memang hampir mirip semua sih... jadi kami sering salah..."

"I-iya... maafkan kami... Ah... tapi kalian serasi kok sungguh..." seseorang mencoba menghibur.

Tapi tidak berguna.

Kepala Kiku sungguh sakit dan perasaannya sangat tidak menentu sekarang ini. Antara malu yang over dosis, menjadi makhluk teridiot sejagat raya, gila karena semua kegilaan ini dan marah –tidak, ia sudah murka sekarang. Pemuda itu mencoba dengan sangat keras untuk bernafas dengan tenang demi menekan emosinya yang menggelegak.

Tapi sangat sulit.

Kiku merasa udara di sekelilingnya mendadak menghilang. Mungkin mereka kabur, ketakutan atas kemurkaan dan aura seram yang terpancar dari dirinya saat ini.

Oh, Lupakan peringatan ayahnya! Malam ini ia pasti akan menebas beberapa pohon sampai tumbang!

.

Kiku melayangkan pandangannya ke arah Roman yang mulai salah tingkah sendiri –dan semakin salah tingkah ketika Kiku dan aura kegelapan mengincar dirinya bagaikan mangsa yang siap diterkam. Sedangkan Germania, sebagai host hanya bisa memijat dahinya dan melayangkan tatapan 'Tolong ampuni nyawa Roman' pada Kiku.

-tep...-

Kiku terhenyak saat merasakan tangannya disentuh.

Nesia yang menyentuhnya.

Pemuda itu segera menatap gadis di sampingnya yang tampak mulai terisak. Kiku tahu Nesia sudah tidak kuat lagi untuk menanggung rasa malunya. Ia juga tadinya ingin menangis karena terlalu malu –yang di detik selanjutnya berubah menjadi perasaan murka yang membara.

Itu cukup membuat Kiku sadar, betapa tak menyenangkannya situasi saat ini. Para tamu terlihat canggung dan sangat tidak nyaman. Ini adalah sebuah kesalahan.

Dan hanya Kiku yang bisa memperbaiki keadaan ini.

.

"A-ah... Sou ka... Sou desu ka? D-daijoubu desu... Banyak orang yang salah mengira juga kok... T-tidak apa-apa... hahaha..." ucap Kiku memaksakan diri untuk kembali ramah. Memaksakan untuk menelan kebohongan yang pahitnya ultimate, yang sangat-amat-teramat-tidak ia inginkan ini sendirian.

Pemuda itu berusaha membuat tamu lain merasa enakkan dan tidak terjebak dalam situasi absurd. Tidak lupa ia menarik Nesia ke dekapannya, membiarkan gadis itu menyembunyikan mukanya. Kiku berpikir bahwa ini akan membantu Nesia –karena ia sendiri pun sangat ingin menyembunyikan mukanya dari hadapan semua tamu ini.

"B-begitu ya... Ahahaha... Yah... Maafkan kami, yah..." Seseorang mulai merasa baikkan dan ikut tertawa bersama Kiku.

Satu per satu, teman-teman Germania pun mulai ikut tertawa melepaskan beban canggung mereka sehingga suasana kembali cair –setidaknya di antara para orang tua.

Kiku menyimpan penjelasan yang sangat panjang untuk Ludwig di lain waktu –Kiku rasa hanya dia yang bisa mengerti.

"Tidak apa-apa... sungguh..." ucap Kiku lagi.

"Tapi kalian menikah semuda ini... Apa tidak masalah?"

"A-ah... itu..." Kiku memutar otaknya keras, "Keluarga kami... punya sejarah yang... cukup rumit... dan... Yah... Kami sedang berusaha di sini..." Kiku mencoba memberikan pancingan-pancingan agar para orang tua ini mengerti tanpa harus ada cerita asli tapi palsu.

"O-oh... begitu ya... Kalian sungguh baik dan dewasa..." ucap salah seorang dari teman Germania.

"Menyatukan dua keluarga yang berselisih... Seperti opera sabun yang kemarin kita lihat... Seperti Romeo dan Juliet..."

Kiku yang sudah pucat pun bertambah pucat.

N-n-n-na-na-nan desu ka?!

"I-Iie... Itu tidak seperti itu..." Kiku mencoba meluruskan cerita yang tampaknya mulai melantur di dalam pikiran para tetua itu.

"Tidak perlu merendah... Kalian sungguh berani... Aku salut dengan kalian... Kukira kalian itu menikah karena kecelakaan atau apa... Ternyata tidak ya... Maaf sudah berpikir yang aneh-aneh..." ucap pria tua dari Asia itu.

"H-h-haha-ha... T-ti-tidak apa-apa..." Kiku semakin bingung sekarang. Sepertinya ia salah memilih strategi kali ini.

Pemuda itu merasa tidak enak badan. Ia merasa matanya mulai berunang-kunang, berputar tidak fokus dan keringat dingin telah membanjiri seluruh kemejanya.

Percuma tadi ia mandi.

"Jadi... keluarga kalian sudah harmonis sekarang?" seorang nenek yang duduk di dekat Nesia bertanya pada Gadis yang masih kaget itu.

"I-iya... Begitulah...?" jawabnya random.

"Bagus kalau begitu... Tapi perlu saya ingatkan... Kau masih muda... perjalananmu masih sangat panjang dan masih banyak cita-cita untuk digapai... Lagipula sebagai dokter aku peringatkan... Rahimmu belum kuat... Kalau keluargamu meminta penerus sebaiknya nanti saja di usia 23 keatas..." imbuh sang nenek, "Kalau kau tidak percaya kau bisa tanya dr. Greef..."

"Itu benar..." dr. Greef memberikan anggukan pada Nesia dan sebuah kedipan pada Kiku yang sepertinya hampir pingsan –atau malah meledak.

"S-saya mengerti..." jawab Nesia kagok.

"K-kalau begitu... sepertinya sudah saatnya makan malam dihidangkan?" ucap Germania mengambil seluruh perhatian yang ada.

"Ya... Kau hampir membuatku mati kelaparan..." ucap salah seorang temannya.

"Y-yah... maafkan aku..." Germania pun memanggil pelayannya untuk mulai menghidangkan masakan.

#QuotesOfTheDay: Seharusnya Roman diam saja dan membiarkan mereka berpikir bahwa kedua anak itu adalah saudara... Hgh... –Germania

*O*


Kiku terkapar dengan tidak elitnya sesaat setelah menutup pintu kamarnya. Ia ingin berteriak, namun tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Seluruh energi massive yang tadi meledak telah habis terpakai untuk menahan rasa malu yang menjalar dengan tidak normal ke seluruh syarafnya.

Sungguh, ia merasa urat malunya tadi hampir saja putus. Tidak ada lagi kejadian yang lebih memalukan dalam sejarah hidupnya daripada kejadian malam ini.

Kiku bersyukur –sangat, mengingat ia bisa menahan seluruh emosinya yang bergejolak dan tidak berbuat sesuatu yang semakin memperburuk keadaan tadi. Pemuda itu kini hanya memandang Nesia yang barusan diantarkannya duduk di tepian kasur dengan tatapan datar.

Gadis itu tentu saja merasakan hal yang sama dengan Kiku. Bedanya, Nesia tampak belum bisa untuk mengatasi apa yang terjadi malam ini. Masih ada raut penyesalan, sebal, malu dan amarah di wajah mungilnya.

"N-nesia-san... lupakan saja..." ucap Kiku datar tanpa beranjak dari tempatnya duduk.

"Uh... A-aku tak paham apa yang barusan terjadi... A-aku..."

Menyadari Nesia mungkin lebih syok daripada dirinya, Kiku pun beranjak untuk mendekati gadis tersebut.

"Umnh... Alfred-san bilang... Do it then forget it... pada sesuatu yang seperti ini..." Kiku berusaha menghibur, "Ah... Bagaimana kalau Nesia-san tidur saja? Mungkin besok akan lebih baik..."

.

Nesia menghelakan nafasnya lelah, "Ya... mungkin itu lebih baik..."

"A-aku akan ganti baju dulu dan kemudian ke perpustakaan... Nesia-san bisa beristirahat setelahnya..." ucap Kiku sembari berjalan menuju kloset.

"T-tunggu..." panggil Nesia sembari berdiri dan mengejar Kiku.

Merasa bagian belakang kemejanya ditarik, Kiku meghentikan langkahnya, "H-hai?"

"Uh... itu... umnh... T-terimakasih... Senpai... sudah membantuku... tadi... Aku... uh..." ucap Nesia malu-malu sembari memainkan jemarinya dan menggigit bagian bawah bibirnya canggung.

.

.

"Iie... Daijoubu desu... Nesia-san... cotto matte kudasai, na..."ucap Kiku sembari membalikkan tubuh Nesia dan mendorongnya dengan lembut untuk menjauh.

Nesia mengerjap kaget atas tindakan Kiku. Namun ketika ia membalik badan, ia tak menemukan suami gadungannya dan malah mendengar pintu kamar mandi yang tertutup keras.

"Huuuuh?" Nesia bergumam heran sembari mengedipkan matanya.

.

YABEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE! –Bahaya!

Kiku mengutuki semua yang bisa ia kutuk sembari mengatur nafasnya. Ia tidak percaya kalau Nesia no. 1-san punya sisi seperti itu.

Yah, pada dasarnya mereka semua adalah Nesia.

Kiku menggelengkan kepalanya, berusaha mementalkan pikiran galaunya dari selaput otaknya. Cepat-cepat ia berganti baju, menyikat gigi dan mencuci muka serta mengambil nafas dalam-dalam, bersiap untuk 'melintasi' Nesia.

Yosha!

Setelah mengangguk yakin pada dirinya sendiri, Kiku membuka pintu kamar mandi dan menemukan Nesia sedang mencari baju tidurnya. Sejenak terlintas di pikiran Kiku keinginan untuk melihat Nesia dalam baju tidur.

Tapi itu tidak boleh.

Kiku menggeser tubuhnya dan membiarkan Nesia memasuki kamar mandi. Setelah pintu itu ditutup, Kiku pun menghela nafas lega sembari merapikan pakaian kotornya yang basah dibanjiri oleh keringat dingin saat makan malam tadi. Kini ia siap untuk pergi ke perpustakaan pribadi Germania yang super menyenangkan bagi kutu buku seperti dirinya.

.

*O*


Seperti yang Kiku bayangkan, ruangan Perpustakaan pribadi Germania sangat nyaman. Ruangan yang kental dengan warna cokelat putih dan biru laut tersebut sangat indah. Di tengah ruangan yang berlantaikan kayu, sebuah permadani lembut nan lebar berbentuk lingkaran digelar. Di atasnya, sofa empuk berwarna putih tulang dan mejanya disusun menghadap ke arah perapian yang tidak digunakan. Di sisi lain, terlihat meja kerja Germania –atau mungkin tempat baca khusus milik Germania.

Kiku yang datang dengan membawa selimutnya bergerak menuju sofa di depan perapian. Meletakkan apa yang ia bawa dan kemudian langsung beralih ke arah buku-buku yang tersusun di rak-rak besar dan rak yang lebih besar yang menempel pada dinding ruangan. Ia ingin mencari sesuatu yang bisa membantunya merencanakan sesuatu. Maka, ia pun mulai mengumpulkan buku-buku yang sekiranya dapat membantunya.

Oke, 'rencana' adalah ide buruk untuk mengatasi Nesia, memang. Tapi kalau ia tak punya rencana ataupun gambaran apalagi informasi, semuanya bisa menjadi lebih buruk. Itu yang Kiku yakini.

Kiku mengambil buku terakhir di rak bagian atas yang berisikan buku-buku ensiklopedia. Setelah berhasil, ia pun kembali ke tumpukan bukunya yang lain. Kiku duduk di sebuah sofa empuk yang sangat nyaman yang berada di dekat perapian yang tidak menyala sembari mulai membuka-buka buku yang sedari tadi dikumpulkan olehnya.

.

"Mempelajari tentang Indonesia?"

Sebuah suara mengagetkan Kiku dan membuatnya terlonjak serta melempar buku yang baru saja dibukanya.

"Ups... Maaf mengagetkanmu..." ucap pria tua yang Kiku kenal sebagai salah satu dari teman Germania yang berasal dari Asia, yang membuat pembukaan makan malam mereka menjadi awkward meskipun seaslinya itu bukanlah kesalahan pria tua ini.

"E-etto... Tidak apa-apa..." ucap Kiku sembari mengambil kembali bukunya.

Kiku tidak habis pikir. Apa yang dilakukan orang ini malam-malam seperti ini. Mana pakai mengagetkannya pula. Kiku kan jadi berpikir kalau salah satu hantu yang pernah diperlihatkan oleh Kartika akan mengganggunya.

"Boleh aku duduk dan menemanimu? Aku mengalami sedikit jet-lag... sepertinya..." ucap Pria tua yang Kiku ingat bernama Anggabaya itu.

"Tentu... Anggabaya-san..." ucap Kiku ramah sembari mempersilakan pria itu untuk duduk.

"Jika kau ada pertanyaan, kau bisa menanyakannya padaku anak muda... Lagipula aku tinggal di sana selama hampir seluruh hidupku..." ucapnya sembari tertawa kecil.

"A-anggabaya-san wa Indonesia-jin desu ka?" ucap Kiku kaget.

"Hai... Saya orang Indonesia... dan sebagai pengingat... saya tidak bisa bahasa Jepang yang terlalu susah..." jawabnya ramah.

"O-oh... M-maafkan saya... saya hanya terlalu kaget..." ucap Kiku lagi, namun kini ia merasa antusias.

"Dan kau bisa memanggilku Tara, jika kau mau... Seperti apa yang Roman lakukan..." lanjutnya lagi dengan keramahan yang tak berkurang dari sebelumnya.

"Tara... –san?" Kiku mengernyit bingung. Ia menjadi ingat dengan sese-Alter.

"Ya?"

"M-maaf tapi... K-kenapa anda dipanggil Tara-san?" tanya Kiku hati-hati, "Adakah dalam nama anda... Ada nama Dirgantara?"

Kiku harap-harap cemas.

Moushikashite... –mungkinkah...

"Tidak... Tapi di namaku ada Nusantara... Anakku yang memiliki nama Dirgantara..." jawab pria tua itu sembari tersenyum simpul.

"Ah... Sou ka..." ucap Kiku sedikit kecewa.

"Memangnya ada apa dengan nama Dirgantara?" tanya pria tua itu.

"Uh... Itu adalah nama dari Nesia... Sebelum berubah..." muka Kiku sedikit memerah saat mengucapkannya.

"Begitukah? Pantas saja Nak–..." Pria tua itu mencoba mengingat-ingat.

"Honda Kiku... Kiku saja tidak apa-apa..."

"Nak Kiku... terlihat mengharapkan sesuatu..."

"Ya... kurang lebihnya..." jawab Kiku sembari melayangkan senyum kecil.

"Hmm... Saya sendiri sebenarnya juga mengharapkan sesuatu dari Nak Kiku..." lanjutnya, "Saya penasaran dengan istri Nak Kiku..."

Muka Kiku sontak memerah, "A-ada apa dengan Nesia-san?"

"Umnh... Berapa umur Nak Nesia?"

"eh..." Kiku berpikir, menghitung berapa kira-kira umur Nesia, tak lupa ia mengingat tentang aturan pernikahan di Indonesia, "16 tahun..."

"Begitu ya..." Tara menganggukan kepalanya, "Yah... Itu legal..."

Kiku sungguh bersyukur ia mengingat ejekan dr. Greef tentang umur pernikahan itu. Kalau tidak, mungkin malam ini ia akan 'dibantai' oleh teman Germania yang kata Roman sangat kolot ini.

"16 tahun, yah... Nak Nesia sungguh cantik dan manis ya..."

"Er... Iya..."

"Berjanjilah kau akan menjaganya... walaupun ini pernikahan tanpa cinta..."

Kiku tertegun melihat tatapan pria tua di hadapannya itu. Ia melihat adanya guratan-guratan kekecewaan, khawatir, ketakutan, dan kesepian. Kiku tak paham mengapa, tapi terlihat jelas bahwa orang tua ini serius memintanya untuk menjaga Nesia.

Kiku tak menolak. Tanpa diminta pun ia akan melakukannya.

"Tentu... Tara-san... Dia akan kujaga dengan baik..." ucap Kiku tulus dan bersungguh-sungguh.

"Bagus... jika begitu... Kau terlihat sebagai anak muda yang meyakinkan..." Kakek tua itu menepuk kepala Kiku lembut dan mengelus surainya dengan penuh kasih sayang.

Sebelum menyudahi tindakannya itu, Kiku mendengar sebuah gumaman kecil dalam bahasa Indonesia. Gumaman yang penuh dengan kekecewaan, yang membuat Kiku mengerutkan keningnya.

"Umnh... Tara-san... Kalau boleh bertanya... Kenapa anda tampak tertarik dengan Nesia-san?" tanya Kiku hati-hati.

"Uh... Itu..." Tara sedikit terkejut akan pertanyaan Kiku, ia tak menyangka akan ditanyai hal seperti ini.

"Tidak apa-apa jika Tara-san tidak mau menjawab..."

"Mnh... Nesia-san itu... Mirip seseorang yang aku sayangi..."

"Mnh? Benarkah?"

"Ya... Istriku..." jawab Tara sembari terkekeh geli.

Namun tidak dengan Kiku yang malah merasa di-troll-kan oleh kakek tua ini. Pemuda Jepang itu hanya bisa menghela nafas dan menahan kejengkelannya serta meredakan semua ekspektasinya.

"Aku juga punya seorang cucu perempuan... Tapi seharusnya tahun ini ia berumur 14 tahun..."

"Seharusnya?" Kiku mulai memperhatikan Tara lagi.

"Ya... Dia sungguh cucu yang manis... Sayangnya sudah tak bersamaku lagi..."

"Umnh... Maaf tapi... Dimana dia sekarang?"

"Dipangkuan Tuhan..." ucapnya getir.

"M-maaf... saya tidak bermaksud..." Kiku yang panik buru-buru meminta maaf, ia sungguh tidak enak mengungkit hal seperti ini.

"Tidak apa-apa... Aku sudah bisa menerimanya... Akhirnya setelah 10 tahun terapi, aku bisa menerima semua ini..." Tara menepuk kepala Kiku sekali lagi sembari tersenyum pahit, "Terapist-ku bilang... Sekarang ia sedang bermain bersama Tuhan... menjadi malaikat kecil yang menghibur-Nya... Seperti yang selalu ia lakukan kepadaku..."

Tara menghapus titik-titik calon air mata sembari berusaha untuk tetap tegar, "Seandainya aku lebih cepat bertindak dan selalu bisa berpikir jernih di setiap keadaan... Seandainya aku tak sekolot itu... Pasti tidak akan seperti ini jadinya... Aku tak akan sebatang kara tanpa keturunan dan perusahaanku tidak perlu aku alihkan pada orang lain..."

Kiku mengangguk kecil untuk menyetujui. Ia tahu akan hal itu. Seluruh keluarganya selalu mengingatkannya akan dua hal itu, lagipula ia sendiri telah memiliki pengalaman berharga dengan keduanya.

Cepat bertindak dan selalu berpikiran jernih. Camkan.

"Aku akan ingat hal ini untuk menghormati anda, Tara-san..." ucap Kiku sembari memberikan senyuman hangatnya.

"Terimakasih banyak..." balas kakek itu sembari tersenyum lembut, "Tampaknya obat tidurku mulai bekerja... Aku mulai mengantuk..."

Kiku ikut berdiri ketika Tara bangkit dari duduknya. Ia bersiap untuk menghormat, namun tertahan.

"Senang bisa bicara denganmu, Nak Kiku... Kita lanjutkan besok lagi ya... Oh ya... Panggil saja aku Kakek... Tolong... Kakek tua yang kesepian ini sudah mulai menganggapmu sebagai cucu..."

"Uh... T-tentu... Suatu kesenangan, Tara-san..."

"Kakek..."

"Tara-jiisan..."

"Bolehlah..." Tara mengangguk menyetujui, "Oh ya... Kau bisa menyimpan kartu namaku..."

Kiku segera menerima kertas mungil yang cukup tebal itu dengan kedua tangannya sembari menghormat saat Tara memberikannya.

"Aku punya firasat kita akan bersahabat baik kedepannya..." ucap Tara, "Kalau begitu... Selamat malam..."

"Oyasuminasai..." ucap Kiku sembari tersenyum lembut mengantar kepergian 'Kakek barunya'.

Ketika Tara sudah keluar dari Perpustakaan pribadi Germania, Kiku kembali duduk di kursinya. Sejenak, ia melirik kartu nama itu sebelum menyimpannya. Akan tetapi, ada sesuatu yang menarik dari kartu nama tersebut.

"Anggabaya Aji N. R... Chairman of Nusantara Group..." gumam Kiku membaca kartu nama tersebut. Namun karena kehabisan ide, akhirnya ia beralih kembali pada buku-bukunya setelah menyimpan kartu nama itu di saku bajunya.

*O*


A/N :

It's 20!

Author: *membaca Review

.

.

Author: *grinning

Kiku: A-author-san? D-daijoubu desu ka?

Nesia: Kiku... Sudah kubilang berkali-kali dia orang gila.

Kiku:*ngintipreview

.

.

Kiku: AAAAAAAAAAAAAAAHHHH! *merah padam, ngacak rambut

Nesia: K-kalian tidak apa-apa? *ikutngintip

.

.

Nesia: *pingsan

Kiku: *Nangkep

Author: Jiah! Dia malah pingsan! Lagi dipuji-puji alus banget mainin Garuda kok...

Kiku: A-author-san! Skript macam itu... skript macam kemarin itu...

Author: Kan aku sudah bilang pas kemarinnya lagi... Kiku bakal di raep...

Kiku: Kita kira itu bercanda, Author-san!

Author: Ah... kau juga menikmati kan?

Kiku: Nggak!

.

.

Author: Ya udah... derita kalian berdua... #GakPeduli Brownchoco-san, kemunculan Garuda kapan-kapan lagi... Kalau ada kesempatan... *wink* Jangan khawatir...

Kiku: Aku sangat amat teramat khawatir sekali banget... *buangmuka

Author: Oh ya... Neth mana?

Kiku: O-oranda-san? Itu di pojokkan...

Neth: *mojok* Aku rapopo... Aku rapopo... Aku rapopo...

Author: Next,, BlackAzure29-san... Kiku kawaii... Memang dia Uke akut bukan, makanya manis? Aku saja yang membuat dia OOC dan menjadikan ia terlihat keren dan gentleman... Hanya terlihat loh...

Kiku: A-author san? *nyiapinKatana

Author: Aku suka semua pairing... Bahkan sampai yang paling crack... Itu membuatku berpikir bahwa dunia ini damai (walaupun sebenarnya nggak sedamai itu)... Tapi ya... USUK itu yang paling sering ditemukan... Apalagi katanya sudah diakui sama papa Hima... Jadi itu sudah jadi hal normal, seperti : Ingat sejarah dunia, ingat Hetalia, ingat USUK #maksudmu?!

Tapi aku lebih suka yang straight... USUK yang Alice... Bukan Alis (tebal)... :D :D

Kiku: Ah... Masa?

Author: Ssst! Diem ah!

Kiku: Huuuh... Ngh? Minta gambar? Aku sama Garuda?

.

.

Kiku: err... Aku bisa menggambar sih... Nggak kayak Author... Tapi gimana ngirimnya? Eh... Tapi Feli-san lebih bagus loh nggambarnya... Bagus sekali...

Author: Nanti kau dan Garuda digambar pake cat minyak dan dipajang di galerinya gimana? Mending kalau normal... Kalau gambarnya *piiip* *piip* gimana?

Kiku: F-feli-san itu tidak berpikiran seperti itu!

Author: Neeeeeeth! Katanya karena kau kalah di piala dunia kemarin... Kau harus relakan Nesia!

Neth: *Nglinguk* NEEEEEEEIIIIIINNN!

Author: Nggak boleh nolak!

Neth: *semakin sulking di pojokan* Aku rapopo... Aku rapopo... Aku rapopo...

Author: Baiklah... Review sudah dibales... Tapi ini belum selesai karena sebenarnya aku ingin tanya sama semua reader, mohon dijawab dengan jujur ya... Pake akun, anonim atau PM juga boleh...

1. Selama ini ceritanya terlalu sulit untuk dibaca atau dimengerti tidak? Nyaman tidak para readers membacanya?

Author: udah itu saja...

Kiku: Terus kenapa ada angka satu di situ?!

Author: Terakhir, mohon kritik, review dan sarannya... Yang pedes kayak ramen level 10 juga ga papa... Tenang... Author nggak nggigit kok... *wink* Terimakasih :D