Kiku berusaha melangkahkan kakinya seringan dan secepat mungkin selagi ia mencoba mengejar pasangan yang ia intai. Baru kali ini ia benar-benar merasa bersyukur dan merasakan bahwa 'ilmu ninja' yang dulu pernah diajarkan oleh pamannya berguna –walaupun ini termasuk sebagai penyalahgunaan kemampuan tingkat akut.

Ketika melihat sebuah semak-semak yang cukup dekat dengan tempat kedua pasangan itu duduk, segera Kiku melakukan 'lompatan' dan bersembunyi di balik semak-semak yang dimaksud. Ketika sudah mencapai posisi yang dirasa aman, Kiku membenarkan kumis palsu yang dipinjam dari kakaknya Feli beserta topi mancing dan kacamata hitam sebagai pelengkap yang menjadi alat menyamarkan dirinya.

Pemuda itu menghela nafas lelah. Ternyata capai juga membuntuti orang selama dan sejauh ini. Mana mereka dari tadi hanya berjalan-jalan tanpa tujuan yang jelas di sekitar pertokoan ini.

"Aku akan beli minum dulu... Jangan kabur ya, ndon!" ucap si laki-laki sembari melangkah pergi.

"Kamu kali, dasar Malon!" jawab sang gadis sembari terkekeh geli.

Akhirnya!

Kiku menghela nafas lega. Akhirnya pasangan crack (menurut Kiku) ini berpisah juga setelah semua hal itu.

Semua hal yang membuat hatinya geram dan panas.

Kenapa mereka harus pegangan tangan?! Kenapa mereka harus senyum-senyum seperti itu?! Kenapa harus seakrab itu?! Apakah Nesia-san jatuh cinta pada pemuda itu?!

Kembali Kiku mengacak rambutnya frustrasi. Dia benar-benar kehilangan karakter dirinya dan bertingkah layaknya orang bodoh saat ini –ralat; idiot. Tidak bisa tenang, tidak bisa berpikir lurus, tidak bisa rasional. Membuntuti, atau halusnya mengawasi Nesia pergi kencan dengan pemuda lain benar-benar membuatnya gila dan ingin menggigiti topi mancing yang kini ia pakai.

Pada awalnya, rencana Kiku untuk hari ini hanyalah satu; Hibernasi. Pemuda itu berusaha untuk melupakan hari ini dengan tidur sepanjang hari atau dengan kata lain men-skip hari yang ia perkirakan akan menjadi sangat panjang ini. Sangat tidak seperti dirinya yang biasanya giat beraktivitas fisik, walaupun lebih seringnya beraktivitas pikiran. Tapi daripada harus tersiksa karena mengkhawatirkan yang macam-macam, lebih baik ia menimbun tenaga untuk Senin besok, bukan?

Jikalau ia nantinya bangun di tengah atau sore hari, setidaknya hanya tinggal sedikit waktu untuk menunggu Nesia pulang dan gadis itu akan berada di jangkauannya lagi. Kiku bisa menghabiskan waktu sisa itu dengan membaca buku seperti Sabtu kemarin atau bertukar pikiran lagi dengan .

Tapi semua berubah setelah 'kekagetan' menyerang.

Kiku yang baru pulang ke kamarnya dari semalaman suntuk membaca buku di perpustakaan Germania, pagi tadi seperti mendapat tamparan keras. Dirinya yang mengantuk hebat –memang rencananya seharian ini akan hibernasi– langsung bangun dan memberontak tidak terima ketika berpapasan dengan Nesia yang telah siap untuk pergi kencan dengan teman sekelasnya.

Pemuda itu tidak percaya, dan tidak habis pikir, kenapa Nesia bisa-bisanya mengenakan baju yang dulu ia belikan untuk kencan hari ini?! Mana gadis itu berdandan sangat manis dan tampaknya habis-habisan tanpa kata menor.

Surai satin hitamnya yang mengikal di bawah berkilauan di bawah terpaan mentari pagi, dibiarkan tergerai lepas tanpa ikatan dan hanya sebuah jepit kecil berhiaskan sebuah bunga anggrek bulan yang menghiasnya dengan sangat elegan. Betapa tangan Kiku gatal, sangat ingin membelai benang-benang sutra hitam itu.

Pagi itu pun adalah pertama kalinya Kiku melihat Nesia mengenakan make-up. Pulasan bedak tipis membuat wajah Nesia semakin bercahaya dan lip-gloss berwarna peach lembut di bibir mungilnya yang sangat kissable itu membuat dirinya berteriak dalam hati. Beberapa asesoris cantik juga menghiasi dress yang ia belikan itu dan tas kecil berwarna pink menyelempang dengan manisnya melengkapi penampilan Nesia.

Sangat cantik, sangat modis, sangat anggun, sangat sempurna.

Sangat membuat sakit hati.

Kiku tidak terima, tidak mungkin dan tidak akan pernah menerima kenyataan ini. Mana mungkin ia membiarkan Nesia dengan dandanan seperti itu pergi dengan pemuda lain sedangkan dia malah hibernasi?!

Lupakan soal hibernasi!

Persetan dengan kantuk, kantung mata yang sangat tebal dan kesadaran yang tinggal setengah.

Ini adalah masalah yang sangat urgent! Sangat gawat! Tidak bisa diabaikan dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja!

Maka dari itu, di sinilah ia sekarang. Mengubah semua rencananya, menjadikan hari ini menjadi hari mengintai meskipun kantuk menghantui dirinya karena ia belum tidur selama lebih dari 24 jam. Semua ini untuk satu tujuan;

Jangan sampai teman kencan Nesia itu melakukan hal-hal aneh seperti menyatakan cinta atau bahkan mungkin mencium Nesia.

Tidak akan Kiku biarkan!


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


Isi kaleng kopi kedua telah Kiku habiskan selama ia menguping pembicaraan tidak berguna (menurut hati dongkol Kiku) tentang Asia Tenggara dari sepasang TEMAN ini. Kiku benar-benar mendoakan tidak akan ada kecocokan di antara mereka berdua. Terakhir ia dengar –entah kapan, kedua negara mereka bertengkar entah karena apa. Kiku berpikir mungkin ini pertanda bagus baginya.

Ya, pasti pertanda bagus. Mungkin saja itu adalah ramalan hubungan kedua orang ini. Lirih namun pasti, Kiku terkekeh jahat menyetujui pikirannya ini.

"Benarkah?! Kau tidak tahu?" seru Razak tak percaya, "Kau tidak pernah pulang ke rumahmu di Indonesia?"

"Tidak... Aku belum pernah ke sana..." jawab Nesia jujur.

"Yah... Di sana sangat... Jujur saja bagiku yang melihatnya... Indah... Tapi sangat tidak teratur..."

"Hmm... begitu..."

Kiku tertegun. Nesia no.1 tidak pernah pulang ke Indonesia? Apakah itu berarti Nesia no.1 bukan Alter yang asli? Karena Kiku sendiri berkeyakinan, setidaknya Nesia lahir di negaranya sendiri. Atau Nesia tidak pernah keluar dari benua biru ini? Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujami kepala Kiku. Kini pemuda itu menyimak dengan serius segala perkataan Razak seserius Nesia menyimaknya.

Banyak sekali kesimpulan yang Kiku dapatkan sebanyak pertanyaan yang muncul. Kini ia merasa khawatir, dan ragu. Siapa sebenarnya Alter asli Nesia? Karena selama ini ia berpikir bahwa Nesia no.1 adalah si asli. Tapi lihat kenyataannya sekarang. Bahkan Nesia no.2 seakan tahu lebih banyak tentang Indonesia –dia pernah mengungkit tentang Nasi goreng yang kurang pas.

Atau mungkin, Alter asli Nesia yang sebenarnya adalah Pertiwi? Mengingat kalau tentang ke-Indonesia-an, Pertiwi jelas yang paling banyak mengerti, terutama di bidang tarian.

Atau ini sama sekali tidak berhubungan dengan pengetahuan tentang negara orang tuanya? Apakah orang tuanya tidak meninggalkan sesuatu yang menjadi 'tanda pengenal' antara Nesia dengan tanah kelahirannya? Lalu bagaimana Pertiwi dan Nesia no.2 tahu tentang tarian dan Nasi goreng itu?

Kiku menggaruk kepalanya lagi. Benar-benar bingung. Tapi satu kesimpulan yang ia dapatkan; Nesia no. 1 bukanlah Alter asli, ia baru bangun akhir-akhir ini.

Atau bahkan, umurnya baru selama 3-4 bulan, mulai dari ia masuk Senior High.

"Yah... Aku bahkan tidak terlalu ingat masa Junior High-ku..." ucap Nesia lagi, "Mungkin karena ingatanku yang pendek... Atau mengalami SMS ini... Aku jadi tidak ingat..."

"Ah... Kau itu memang pikun, Indon!" seru Razak yang kemudian dihadiahi jitakan gemas.

"Apaan sih?!" seru Nesia sebal, terutama ketika pergelangan tangannya ditangkap oleh pemuda Malaysia itu.

"Kurasa tidak ada pilihan lain... Mungkin aku akan membawamu pulang saat liburan nanti... Malaysia kan bertetangga dengan Indonesia... Kita bisa jalan-jalan di sana..." ucapnya ceria dan antusias yang membuat muka Nesia merona merah.

Sedangkan Kiku yang jengkel tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari meremas kaleng kopinya sampai penyok dengan tangan kosongnya.

Nesia mengangguk kecil dengan senyuman manisnya. Sungguh manis, dan Razak terperangkap dalam buaian indah itu. Tangannya pun bergerak menyentuh pipi tembam Nesia. Pemuda itu menarik muka Nesia mendekat, mencoba untuk meninggalkan sebuah kecupan yang tampaknya tidak ditolak oleh sang gadis.

Namun sangat-amat-teramat dikecam oleh Kiku yang dengan sekuat tenaga melempar –membanting, karena jarak sangat dekat- kaleng kopi yang tadi diremasnya ke kepala Razak demi mengganggu dan menghentikan apa yang dua orang ini akan lakukan. Bunyi 'Pletak' pun terdengar cukup keras. Setelah Itu, Kiku buru-buru kabur sebelum sempat disadari oleh Razak yang kini mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya dan Nesia yang kaget serta khawatir akan keselamatan kepala Razak yang kini sepertinya benjol.

*O*

"Apakah di Indonesia ada salju?" tanya Nesia manis sembari terus menatap Razak.

"Tidak tentu saja... Kan di khatulistiwa...? Umnh..." Razak berpikir, "Tapi salah satu gunungnya ada yang berpuncak salju..."

"Begitu, yah..." Nesia tersenyum kecil sembari terus mengejar langkah Razak yang lumayan cepat dengan antusias, "Kalau di Malaysia?"

"Juga tidak... Tapi aku yakin di sana lebih dingin daripada di Indonesia saat musim dingin..." Jawabnya disertai kekehan kecil.

.

Kiku yang membuntuti mereka semakin geram di tiap detiknya. Ia benar-benar tidak habis pikir –atau mungkin ia benar-benar tidak mengenal Nesia no.1?

Pertanyaan terus menghujami otaknya yang telah lelah. Mengapa Nesia bisa bersikap semanis dan semanja itu pada Razak?! Kenapa tidak padanya saja?! Kenapa ia malah mendapatkan sisi permusuhan Nesia no.1?! Mengapa?! Padahal kalau urusan menghormati, menyayangi, dan menjaga, Kiku yakin dirinya lebih baik daripada si Malon ini.

Ingin rasanya Kiku menggigiti tembok beton tempat ia bersembunyi sekarang saat Nesia dengan manjanya memeluk lengan Razak dan memohon untuk pergi ke suatu tempat. Andaikan Nesia mengizinkan, Kiku akan dengan senang hati membawanya ke mana pun Nesia mau, tanpa harus memohon seperti itu. Tanpa syarat apapun. Bahkan ia punya segudang rencana berkaitan dengan itu.

Ya ampun! Kalau saja ada benda yang bisa ia lemparkan lagi!

Namun nyatanya tidak ada. Tidak ada benda yang cukup 'manusiawi' untuk dilemparkan. Ada sih batu bata, tapi Kiku belum sekalap itu untuk melempar seseorang yang hidup dan bernafas dengan sebongkah batu bata. Tidak ada pilihan lain selain diam dan dengan –memaksa- tenang membuntuti mereka sambil mencari sebuah benda yang bisa dilempar.

Atau mungkin Kiku butuh kaleng kopi ketiga karena ia kini mulai mengantuk lagi.

*O*

"Kau memang bodoh!" seru Nesia saat Razak gagal mengenai sebuah boneka di stand tembakkan suatu taman bermain.

Taman bermain yang dulu Kiku kunjungi bersama dengan Nesia no.2.

"Memangnya kau bisa?" tantang Razak tak mau kalah.

"Sini! Aku coba!" Jawab Nesia percaya diri sembari merebut tembakkan dari genggaman Razak dengan cara yang manis. Jelas-jelas gadis itu menggoda dan mengajak Razak untuk bermain.

"Ah! Memegang saja kau tak bisa!" seru Razak disertai tawa geli saat Nesia kebingungan ketika membidik.

"A-aku bisa! Aku hanya sedang memperhatikan senapan angin ini! Weeek!" ucap Nesia sembari menjulurkan lidahnya mengejek Razak. Namun beberapa menit berlalu, Nesia masih saja 'memperhatikan' senapan itu.

"Biar aku bantu..." ucap Razak pada akhirnya sembari melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Nesia untuk membantu memposisikan senapan yang dipegang oleh Nesia, "Seperti ini..." bisiknya di telinga Nesia.

Secepat muka Nesia berubah menjadi merah padam, secepat itu pulalah sebuah kaleng kopi melesat dan menimpuk kepala Razak untuk yang kedua kalinya dalam sehari ini. Razak yang kaget akan timpukan kaleng itu tak sengaja mendorong Nesia dan menggagalkan tembakannya.

"Duuuuuh... Kau itu ngapain sih?!" seru Nesia keheranan.

"E-entahlah... Sepertinya ada seseorang yang... tidak suka denganku..." ucapnya sembari menggosok kepalanya yang terkena lemparan kaleng kopi yang remuk.

Pandangannya memencar ke segala arah, mencari siapa yang sebenarnya tega melemparinya dengan kaleng kopi itu. Namun ia tak menemukan siapa pun di sekitar sana yang mungkin telah melemparinya.

"Apakah kau tidak apa-apa?" ucap Nesia khawatir sembari ikut mengelus kepala Razak.

"Ya..." jawab Razak sembari tersenyum, "Aku sudah sembuh sekarang... Berkat kau..."

-buk...-

Nesia sontak memukul dada Razak pelan. Meminta untuk berhenti menggodanya karena mukanya sudah panas.

"Aww..." Razak pura-pura mengaduh kesakitan, "Uwooo... Tenaga monster Indon!"

"Apa?! Katakan sekali lagi?!" wajah Nesia benar-benar merah padam sekarang.

"Paksa aku..." ucapnya cengengesan sembari berlari menjauh.

.

Kiku tahu hal ini akan terjadi, seluruh anime, manga, dan games telah memberitahukannya akan semua ini. Jika kau ingin merusak kencan seseorang, yang terjadi bisa saja kebalikannya. Benarlah semua itu, dan Kiku hanya bisa menatap pasangan itu dengan penuh kemurkaan sembari keluar dari semak-semak tempat persembunyiannya. Tapi semua ini memang kesalahnya, ia tidak bisa bersabar dan menghentikan tangannya yang bergerak sendiri untuk melempar sesuatu ke arah pemuda itu. Ia bisa gila jika harus menahan si tangan dalam mengekspresikan keinginannya untuk memisahkan dua insan itu.

Dan kini ia sangat-sangat butuh amunisi lagi.

"Tolong, aku ingin bola-bola plastik itu..." ucap Kiku mencoba sesopan mungkin pada penjaga stand tembakan yang tadi dikunjungi oleh Razak dan Nesia.

"Kau ingin sesuatu... kau mendapatkannya jika berhasil mengenainya... Mulai dari 1 euro per 3 tembakan..." tantang sang penjaga.

"Ii desu..." jawab Kiku dengan intonasi dingin, saat ini ia benar-benar tak ingin ditantang.

*O*

"A-aku benar-benar berpikir ada yang ingin membunuhku..." ucap Razak mulai ketakutan.

Ini sudah yang ke 14 kalinya ia tertimpuk bola-bola kecil dari plastik. Tidak berbahaya memang, tapi tetap saja sakit dan selalu merusak semua momen bagus yang ada.

"Mungkin hanya anak kecil yang iseng?" Nesia mencoba membantu Razak berpikir positif.

"Mungkin seorang anak kecil yang cemburu karena hari ini aku kencan dengan seorang bidadari?"

Aura hitam kelam di sekitar Kiku pun membara.

"Ah! Kekuatan gombal Malon!" seru Nesia mengejek Razak.

"Hei... Aku serius..."

"Uh-huh... Kalau begitu cepatlah kembali dengan es krim yang kau janjikan..." ujar Nesia lagi, "Ingat? Kau kalah di game sebelumnya?"

"Huh... Semuanya karena bola sialan itu..." sesal Razak.

"Memangnya kalau kau menang, kau mau minta apa?"

"Kau tahu aku akan minta apa..."

.

.

"Es krim?" jawab Nesia polos.

Razak refleks menghela nafas lelah, kecewa karena tebakan yang salah dari Nesia.

"Salah ya?"

"Tidak... Maksudku... Oke... Tunggu sebentar..." ucap Razak sembari tersenyum kecil.

.

Kiku menggenggam erat-erat sebungkus bola-bola plastik berwarna-warni yang baru saja dibukanya untuk menggantikan sebungkus lainnya yang isinya telah habis dilempar. Sedangkan sebuah boneka beruang yang cukup besar ia letakkan di sampingnya sebagai teman mengintai. Boneka itu adalah hasil dari peluru nomor tiga karena bola-bola kecil yang menjadi amunisi Kiku untuk mengganggu pasangan Asia Tenggara itu hanya tersedia dua bungkus saja.

Ketika telah benar-benar yakin bahwa Razak tidak berbuat macam-macam pada Nesia-nya, ia pun mengembalikan satu bola berwarna hijau pastel yang tadinya akan dilemparkannya pada pemuda berambut agak ikal itu. Karena pemuda itu tak melakukan apapun, maka lebih baik Kiku menghemat amunisinya untuk nanti –atau lebih baik Razak segera menghentikan semua ini karena senja mulai tiba dan Kiku sangat tidak senang melihat Nesia masih di luar saat malam menjelang.

Bagus, sekarang ia terdengar bagaikan seorang ayah yang super protektif dan paranoid.

.

"Loh? Nesia?"

Kiku mengerjap kaget ketika menyadari ada sepasang muda-mudi yang mendekati kohainya itu, dan bertambah kaget saat mengenali mereka.

Mei dan Hong.

Tampaknya mereka sedang berkencan atau apa –Kiku tidak tahu, tapi ini merupakan situasi gawat darurat. Yang mereka hampiri adalah Nesia, bukan Pertiwi. Ini akan menjadi pembuka dari sebuah kesalahpahaman, kemarahan, pertengkaran, kecurigaan dan apapun itu yang Kiku tidak mau mengurusinya. Segera ia mengambil handphone-nya untuk menelepon Hong dan memintanya untuk membawa Mei jauh-jauh dari sana.

Sayangnya, setelah berkali-kali meraba semua saku yang ada di pakaiannya, Kiku tidak menemukan alat komunikasi itu. Rupanya Kiku tak sengaja meninggalkan barang yang pada detik ini sangat berharga itu. Sekarang ia hanya bisa gigit jari dengan sangat khawatir menyaksikan 'tragedi' di hadapannya.

"Siapa, ya? Apakah aku mengenalmu?" tanya Nesia sopan.

Mei mengerjap kaget, begitu pula dengan Hong walaupun tidak tergambar jelas di wajahnya yang datar.

"I-ini aku... Mei... Kakak kelasmu..." seru Mei tak percaya.

"M-mei? K-kakak kelasku? Umnh... Dimana kita berkenalan?" tanya Nesia lagi dan kali ini benar-benar kebingungan.

"Nesia! Kumohon jangan bercanda!" Mei mulai kelihatan jengkel, jika bukan karena Hong yang menahannya di sebelahnya, pasti ia telah meledak.

"A-aku benar-benar tidak mengenal anda..." jelas Nesia lagi.

"Kita satu klub! Klub tarian tradisional... Setidaknya seperti itu sampai sebulan yang lalu..." desah Mei mencoba untuk tetap tenang, "Kemana saja kau selama ini?! Dan ketika kita akhirnya bisa bertemu... Kenapa kau malah bilang tidak mengenalku?!"

"A-aku benar-benar tidak mengenal anda!" Nesia yang mulai terbawa emosi beranjak dari tempat duduknya, "Dan aku tidak mengikuti klub apapun! Aku bahkan tidak tahu ada klub tarian tradisional!"

"Nesia!" desis Mei sekali lagi, ia benar-benar tidak percaya apa yang baru saja melewati gendang telinganya.

"Nesia?"

Mei dan Hong menoleh ke arah belakang mereka dan menemukan seorang pemuda dengan dua buah es krim di tangannya. Pemuda itu terlihat kebingungan dan terus menatap Nesia meminta sebuah penjelasan.

"Kenalanmu?" tanya Razak clueless.

Nesia menggelengkan kepala. Hal ini membuat Mei semakin heran dan marah.

"Apa yang kau lakukan dengannya? Siapa dia? Pacarmu? Lalu bagaimana dengan Kiku?" tanya Mei bertubi-tubi penuh dengan tuntutan.

"Kiku? Honda Kiku? Senpai anehmu yang waktu itu?" tanya Razak bingung, "Nesia... kau..."

"Bukan! Aku tidak tahu siapa mereka..." ucap Nesia sembari menarik tangan Razak, "Ayo kita pergi dari sini!" seru Nesia dengan kekesalannya.

"T-tunggu! Berhenti..." Mei berusaha mencegah Nesia untuk pergi, namun adik kelasnya itu malah menambah kecepatan untuk menghilang dari hadapannya.

Mei ingin sekali mengejar kedua adik kelasnya itu, namun Hong berpikiran lain. Pemuda itu menahan tubuh Mei dan memintanya untuk tidak mengikuti ke mana Nesia pergi.

"Aku akan tanya gege..."

"U-uh..." Mei menghela nafas pasrah, "Baiklah..."

*O*


Kiku berlari secepat yang ia bisa untuk memasuki mansion sekaligus kantor ketua yayasan dan langsung melesat menuju ke arah kamarnya. Sampai di kamarnya, pemuda itu segera mengganti bajunya dengan baju training dan menghambur ke atas kasur. Diusahakannya untuk terlihat telah tidur selama seharian penuh. Meskipun begitu ia tidak lupa untuk memasang wajah tidur yang inosen –di beberapa shoujo manga, ketika si perempuan melihat wajah tidur laki-laki yang dibencinya dan melihat kepolosan atau kekanakannya wajah 'musuh'nya itu, biasanya hati si perempuan akan luluh dan tidak jadi marah-marah.

Dan terkadang beberapa informasi pun tak sengaja keluar di saat seperti itu.

Kiku berusaha untuk tetap bangun walaupun kini ia telah berbalut kenyamanan. 36 jam lebih ia telah terjaga dan tanpa istirahat. Kalau sampai ia tertidur di sini, sekarang, 36 jam itu bisa sia-sia menurut insting Kiku.

Kuso! Kenapa Nesia-san tidak datang-datang? J-jangan-jangan di bawah... Nesia-san sedang diapa-apakan oleh kohai itu...

Mendadak tubuh Kiku menegang ketika ia mengingat bahwa 95% kencan akan berakhir dengan ciuman setelah si laki-laki mengantar perempuannya sampai di depan rumahnya. Kini ia benar-benar menyesal telah kabur duluan untuk pasang posisi aman di atas kasur ini dan tidak menghantam Razak dengan sisa bola-bola plastik yang berwarna-warni itu.

Tapi mungkin itu tidak akan terjadi.

Bukan karena ia ingin menampik kenyataan, tapi karena mood Nesia yang jatuh drastis setelah bertemu dengan Mei. Kiku yang mengikuti pasangan itu dari belakang mengerti, meskipun jaraknya cukup jauh. Nesia tidak lagi ceria dan merespon Razak –sesuatu yang Kiku entah harus khawatir atau senang. Gadis itu terlihat tengah memikirkan sesuatu yang berat –yang sepertinya Kiku tahu apa itu.

-tok... tok...-

Hati Kiku berjengit kaget saat pintu kamar diketuk dan dibuka. Cepat-cepat ia mengeksekusi rencananya yang sudah di ACC atas kerapian dan jaminan berhasilnya oleh pikirannya sendiri. Meskipun jantungnya berdegup kencang, Kiku mencoba untuk bernafas selambat mungkin.

Pemuda itu tahu Nesia tengah mendekatinya dan menatapnya. Gadis itu meletakkan tasnya di meja kecil di sebelah tempat tidur dan menarik kursi ke dekat tempat tidur.

T-tunggu?! Nesia-san akan menungguiku untuk bangun?! Dia akan memandangiku terus?!

Kiku mulai panik dan mulai berpikir untuk mengganti rencana ke rencana B1 –balik badan. Namun ketika ia mendengar Nesia yang menghela nafas dan terduduk lemas, ia urung untuk menindak lanjuti perubahan. Ingin rasanya Kiku mengintip, apa yang sebenarnya tengah Nesia lakukan. Membuka buku kah? Mainan ponsel kah? Atau jangan-jangan mengabadikan muka tidurnya di ponsel?

Kiku merasa dirinya telah berubah menjadi orang ter-Ge-eR sedunia.

.

"Senpai... Apa yang sebenarnya terjadi padaku?!" keluh Nesia pada akhirnya.

Ah... Hajimette yo... –sudah dimulai...

"Pertama kita bertemu... senpai menanyaiku tentang kaset dan sebuah klub yang tidak aku ketahui... Kemudian sebulan yang lalu, selama sebulan aku harus meredam dan meluruskan semua masalah yang aku tak mengerti apa, bagaimana dan kenapa bisa terjadinya... Kemudian kemarin... Temanku memberikan baju ini... Beserta foto yang aku tak tahu... siapa si gadis itu... yang sangat mirip denganku... Kemudian hari ini... Yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan... seseorang datang dan merusak semuanya dengan pertanyaan akan klub itu... Klub yang sebulan lalu dipertanyakan oleh senpai..."

.

.

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?! Apakah senpai mempermainkan aku?! Kenapa tanggung jawab atas diriku diberikan pada senpai?! Kenapa senpai ada di sampingku?!" seru Nesia sembari meninggikan intonasinya secara bertahap.

"Siapa sebenarnya senpai ini?! Siapa sebenarnya aku ini?! Kenapa aku tidak tahu tentang keluargaku... Tempat asalku..." Nesia mulai terisak, "Tentang diriku sendiri?"

Kiku menghembuskan nafasnya pelan-pelan, menjaga supaya tetap terlihat tidur. Ia menunggu sebuah momen, sebuah momen yang tepat walaupun hatinya sudah gatal untuk merespon –menghapus air mata Nesia yang mulai membanjiri pipi tembam itu.

Nesia no. 1 yang menangis tidak termasuk dalam perhitungannya.

"Senpai... Tolong jawab aku... Aku tidak mengerti lagi... Tolong hentikan semua ini..."

.

.

"Nesia... –san?" ucap Kiku parau seperti baru bangun, berusaha serealistis mungkin, "Kau menangis?"

"Eh? H-huh?! Uh... T-tidak... Aku..." Nesia mengusap wajahnya.

"Apakah teman kencanmu berbuat sesuatu?" Tanya Kiku tajam sembari memasang posisi duduk.

"T-tidak kok..."

"Lalu kenapa kau menangis?" tanya Kiku lagi sembari menghapus sebutir air mata yang berhasil lolos dan kembali membasahi pipi Nesia.

"Eh... Ini..."

"Ah... Aku ingat... seorang teman datang mengganggu tidurku tadi siang..." ucap Kiku berpura-pura malas, "Dia berbicara panjang lebar padaku... Tapi aku mengantuk jadi tidak terlalu paham apa yang dibicarakannya... dan dia memberikanku ini... entah apa maksudnya..."

"Huh?" Nesia tertegun saat sebuah boneka beruang yang cukup besar muncul di hadapannya. Boneka beruang yang tadi sangat diinginkannya, namun tidak bisa didapatkan oleh Razak.

"Nesia-san boleh memilikinya... Asalkan berhenti menangis... Bagaimana?" tawar Kiku.

Nesia mengangguk kecil. Setelah ia menghapus air matanya, ia pun merengkuh boneka beruang itu dan memeluknya erat-erat.

"Bagaimana kalau Nesia-san mandi dan ganti baju dulu... Aku akan ambilkan air minum... Kemudian kita bisa berbicara?" ucap Kiku lagi yang mendapat anggukan kecil dari Nesia.

"Baiklah..." jawab Kiku sembari meninggalkan tempat tidur dan kamar.

*O*

Kiku hanya bisa terdiam –terpana- saat memasuki kamar. Hampir saja ia menjatuhkan gelas yang penuh dengan air dingin karena terlalu syok melihat Nesia yang sudah duduk manis di pinggiran tempat tidur mengenakan gaun tidurmanis berwarna biru pastel dan ditemani boneka beruang yang belum lepas dari pelukan gadis itu.

Oh, lucky-bear. Kiku ingin sekali menggantikan tempatnya.

Kiku memberikan gelas berisikan air dingin itu pada Nesia yang menerimanya tanpa melepas si boneka beruang. Diteguknya sampai setengah habis dan dikembalikannya gelas itu pada Kiku untuk ditaruh di meja kecil tempat tasnya tadi berada.

"Baikan?" tanya Kiku sembari duduk di kursi yang tadi ditarik oleh Nesia, "Kau tidak makan malam setelah ini?" lanjutnya sembari memberikan tanda ke arah pakaian Nesia.

Nesia menundukkan kepala dan menggeleng lemah, "Aku sudah lelah..."

"Aku minta mereka mengantarkannya ke sini? Kau harus makan..."

"Aku tidak nafsu..."

"Tapi..."

"Malam ini saja..." ucap Nesia tanpa menengadahkan kepala, "Tolong... Aku tidak mau..."

"Umnh... Nesia-san... Ada apa sebenarnya?" tanya Kiku khawatir.

"Senpai masih ingat tentang pertemuan pertama kita?" tanya Nesia, "Senpai mencariku di kelasku..."

"Ya... aku ingat..."

"Waktu itu senpai mengira bahwa aku pemilik dari sebuah kaset yang memiliki label pertiwi bukan? Dan senpai bilang aku berada di sebuah klub tarian tradisional..."

"Y-ya..."

"Kenapa seperti itu? Kenapa senpai mengiraku adalah orang yang senpai cari?"

.

.

"Kenapa senpai tidak menjawab?" tanya Nesia lagi menyadari ia tak mendapat jawaban setelah menunggu beberapa saat, namun Kiku hanya terdiam dan menatapnya teduh.

"Nesia-san... Mengapa mengungkit hal ini?" Kiku malah balik bertanya.

"Tadi... aku bertemu dengan seseorang... Aku tak mengenalnya... tapi... orang itu mengaku mengenalku dan ia bilang aku adalah anggota klub tarian tradisional..." jawab Nesia, "Aku sudah mencari selama satu bulan ini... seseorang yang mungkin mirip denganku... Tapi tidak ada..."

"Nesia-san... mencarinya?" ini hal yang cukup mengagetkan bagi Kiku, ternyata Nesia sendiri 'bergerak' mencari tahu. Kiku kira Nesia sama sekali tak peduli.

"A-aku harus membersihkan namaku tentu saja... dan karena aku tidak bertemu dengannya... Aku jadi frustrasi..." jawab Nesia lagi, "Senpai... apakah bertemu dengan perempuan yang senpai cari?"

"Dalam sebuah sudut pandang... Ya... Aku bertemu dengan pemilik kaset itu..." jawab Kiku hati-hati.

"Senpai sudah mengembalikan kasetnya?"

"Ya... tentu saja..." ucap Kiku bingung.

Nesia meraba sakunya, mengambil sesuatu, "Lalu kenapa ini masih di sini?"

"Umh..." Kiku terdiam saat melihat kaset yang berlabelkan 'Pertiwi' itu.

"Di kardus milikku..." tambah Nesia, "Aku menemukannya saat pindah kemarin... Ini ada di antara barang-barangku... Tapi aku tidak percaya... jadi aku tidak ambil pusing tentang ini..."

"Nesia-san..."

"Juga... Foto ini..." Nesia memberikan Kiku foto yang datang bersamaan dengan baju yang seharian ini dipakainya, "Dan baju yang barusan kukenakan..."

Kiku menerima foto yang dimaksud dan terus menatap ke arah foto itu.

"Kenapa senpai ada di foto itu? Kenapa ada seorang gadis yang mirip sekali denganku di foto itu? Kenapa di sana gadis itu terlihat sangat bahagia dan sangat dekat dengan senpai?! Siapa dia sebenarnya?" tanya Nesia bertubi-tubi.

"Nesia-san..."

"Apakah itu aku?!" Nesia memotong ucapan Kiku, "Lalu kenapa aku tak bisa mengingatnya? Apakah aku hilang ingatan?! Amnesia?"

Nesia membenamkan wajahnya di kepala boneka beruang yang berada di dalam pelukannya. Kiku tahu Nesia mulai terisak, namun kali ini ia tidak menghentikannya. Kiku membiarkan gadis itu mencurahkan semua emosi yang telah dipendamnya.

"Lalu apa arti senpai bagiku?!" lanjut Nesia lagi, "Orang yang kutemui tadi begitu marah melihat aku jalan dengan Razak... Seperti... Aku baru saja ketahuan selingkuh dari senpai..."

"Tolong beri tahu aku... Apakah kita sepasang kekasih?" tuntut Nesia.

.

Hening menyelimuti mereka selama beberapa saat. Ini terjadi karena Kiku memilih untuk diam daripada mulai menjawab seluruh pertanyaan Nesia. Hal ini membuat Nesia semakin jengkel dan sebal. Ia menginginkan jawaban, namun malah dibalas dengan keheningan yang tidak normal ini. Ia sangat yakin, senpainya ini tahu semuanya yang ia tak mengerti. Ia memegang kuncinya.

"Kenapa senpai tidak menjawab?!" seru Nesia, "Aku tahu senpai menyimpan banyak rahasia! Tolong beri tahu aku! Aku tak mau hidup seperti ini..."

Nesia menyingkirkan boneka beruang dari dekapannya, tak peduli ke mana. Tangannya kini meraih lengan-lengan Kiku, berpegangan erat seakan takut terjatuh. Ia meminta, benar-benar meminta. Selama sebulan ini Nesia hidup dalam kebingungan yang membuatnya depresi dan emosinya bergejolak.

"Senpai... Kumohon... Kumohon..."

Namun Kiku tak kunjung menjawabnya. Pemuda itu hanya menepuk kepala Nesia pelan dan dengan penuh kasih sayang membelai surai Nesia.

"Hentikan!" hardik Nesia yang langsung menghentikan gerakan Kiku, "Aku ingin jawaban! Senpai!" serunya sembari menatap Kiku lekat-lekat.

"Mnh... Aku sudah berjanji pada Nesia-san untuk tidak bicara yang aneh-aneh bukan?" ucap Kiku sembari tersenyum lembut, "Aku tidak akan bicara tentang sesuatu yang tak masuk akal pada Nesia-san..." lanjutnya sembari mulai mengelus kepala Nesia lagi.

Pernyataan Kiku cukup menohok hati Nesia. Kini ia ada di persimpangan jalan. Nesia dulu membenci senpainya ini karena berbicara hal yang tidak masuk akal. Tentang Alter, personalitas ganda. Nesia tidak mungkin menerimanya. Ia hanya gadis normal yang biasa-biasa saja bukan? Dia tidak mengidap satu penyakit kejiwaan atau sebangsanya bukan?

Tapi, Nesia tidak memiliki jawaban lain.

Gadis itu hanya bisa menubrukkan kepalanya di dada Kiku. Berusaha untuk mengumpulkan semua keberanian dan kesiapan mental untuk mendengarkan penuturan yang paling dibencinya. Bahwa ia tidaklah normal.

Ia bukan gadis normal seperti apa yang diinginkan Razak.

"Aku tak peduli lagi..." ucap Nesia lirih, "Tolong beri tahu aku..." lanjutnya putus asa.

"Tentang apa?" tanya Kiku.

"Kenapa aku tidak bisa ingat diriku...? Kenapa ada waktu yang terloncat...?"

"Nesia-san... memiliki kepribadian lain..." ucap Kiku tegas dan sangat jelas. Ia merasakan bajunya diremas sebagai respon dari Nesia, "Tapi Nesia-san tak perlu khawatir... Mereka tak akan menyakiti Nesia-san..."

Kiku mencoba menenangkan tubuh Nesia yang mulai bergetar. Inginnya hati memeluk Nesia saat ini, namun Kiku tak bisa berbuat sembrono. Malam ini ia harus berhasil membuat Nesia no. 1 mau mengakui kepribadian lainnya.

Dan Kiku rasa Nesia no. 1 akhirnya mau menerimanya.

"Berapa?" tanya Nesia lirih.

Kiku tidak yakin untuk menjawab hal ini, terlalu banyak Alter yang dimiliki oleh Nesia dan ini bisa saja membuatnya syok. Tapi Kiku juga tak ingin berbohong pada gadis yang sedang mencoba menerima kenyataan ini.

"Sampai saat ini... sembilan yang aku ketahui..."

Dan benarlah tebakan Kiku. Tubuh Nesia langsung menegang mendengar semua itu. Tentu saja gadis mungil itu tidak akan terima dirinya terpecah menjadi sembilan orang. Mendengar kata dirinya terpecah saja, ia baru mau menerima sekarang.

"L-lalu aku harus bagaimana?!" tanyanya panik, benar-benar panik sembari menatap Kiku.

"Nesia-san tidak perlu khawatir... Satu diantaranya sudah kembali... Jadi saat ini Nesia-san memiliki delapan Alter..." jawab Kiku, "Aku sedang berusaha menyatukan mereka semua..."

"Ini bisa kembali?! Aku bisa menjadi normal lagi?! Bagamana caranya?!" tanya Nesia memburu.

"Ochi-tsuitte kudasai, Nesia-san... –Tenanglah..." Kiku mencoba menenangkan Nesia.

"Tapi!" Nesia tetap keras kepala dan memaksa Kiku, "Kalau aku bisa mengembalikan mereka semua... Kalau aku bisa... Maka..."

"Nesia-san... Onegaishimasu..."

"Tidak mau! Aku akan mengembalikan mereka semua! Aku akan menyatukan mereka semua! Bagaimanapun caranya! Dengan begitu aku dan Razak–..."

-brugh...-

"II KAGENNISHIRO!" bentak Kiku sembari menahan Nesia ke arah kasur.

"U-uh..." Nesia tercekat saat menyadari posisinya yang sangat tidak menyenangkan. Ia dikunci oleh senpainya yang kini berada di atasnya. Ketakutan.

"Kumohon berhenti..." ucap Kiku melembut namun tetap tajam sembari menyentuh pipi Nesia.

Gadis itu bergetar merinding ketakutan sekarang. Ia tak tahu, dan tak mau tahu apa yang akan terjadi padanya di tangan senpainya yang masih menatapnya dengan tajam setelah ini. Nesia menutup matanya rapat-rapat dan mencoba memalingkan wajahnya demi menghindari Kiku. Getaran tubuhnya semakin menjadi saat pemuda itu menyentuh bibirnya dengan lembut.

"Nesia-san... Salah satu Altermu adalah kekasihku... Jadi tolong... Jangan sebutkan nama pemuda lain dengan bibir ini... Jujur saja... Aku tidak senang mendengarnya... Nesia-san mengerti kan apa maksudku?"

.

.

"Y-ya..." Jawab Nesia takut-takut.

"Bagus... Dan aku minta Nesia-san untuk tenang saja..." lanjut Kiku sembari menarik tubuhnya dan memungut boneka beruang yang terjatuh di atas karpet, "Boneka beruangmu..." ucap Kiku selembut tatapannya sembari menaruh boneka itu di samping Nesia yang tampaknya tidak mempedulikannya lagi.

Berbicara dengan nada tinggi pada Nesia bukan termasuk skenarionya. Tapi nama itu; Razak. Kiku sangat tidak ingin mendengarnya terucap dari mulut Nesia. Telinganya seakan meminta untuk ditutup, atau disembunyikan agar tidak mendengar nama itu disebut oleh suara Nesia. Nafasnya memburu mendenguskan kekesalan tanpa bisa ia tahan. Rasanya ada sesuatu yang membakar di dalam dirinya saat nama itu muncul, dan ada sesuatu yang terbakar di ulu hatinya. Pokoknya sangat tidak menyenangkan.

.

"Senpai... akan 'menghapus' aku?"

"Uh?" Kiku mengerjap kaget.

"Senpai akan 'menghapus' diriku... agar kekasih senpai ini bisa kembali?"

.

"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" tanya Kiku.

"Huh?"

"Sejujurnya... Aku lebih tertarik pada jalan yang sulit..."

"Jalan yang sulit?" tanya Nesia lugu.

Kiku memajukan tubuhnya, mengecup kening Nesia dengan sangat lembut. Membuat muka Nesia merona merah. Sayangnya Kiku tidak melihat rona itu karena dirinya terus bertahan di posisi mengecup itu, sampai ia berpindah ke telinga Nesia dan membisikkan sebuah janji.

Sebuah janji yang sangat jelas dan tegas.

Sebuah janji penuh dengan tantangan.

Sebuah janji, yang membuat jantung Nesia berdetak tak terkendali.

"Aku akan membuat kalian semua menjadi milikku..." bisik Kiku sebelum mengecup pipi Nesia dan meninggalkan kamar untuk tidur di Perpustakaan pribadi milik Germania.

*O*


"Dan setelah mengatakan semua itu, kau sakit?!" dr. Greef tak habis pikir ketika memeriksa Kiku yang kini terbaring lemas di tempat tidurnya.

"Greef-sensei... tolong... biarkan aku istirahat..." ucap Kiku parau dengan nafas berat.

Tubuhnya serasa terbakar, sungguh gerah. Kiku mencoba untuk melepas atasan trainingnya yang menyiksa. Dr. Greef yang melihatnya malah menghentikan tindakan Kiku.

"Biarkan saja... semakin kau cepat berkeringat, semakin kau cepat sembuh..." ucap dr. Greef sembari menginstruksikan istrinya untuk menaruh air putih di meja kecil dekat tempat tidur.

"Nak Kiku mungkin mau berganti pakaian atau menyeka tubuh?" ucap nyonya Greef penuh perhatian.

"Kukira biarkan saja ia tersiksa seperti ia menyiksa tubuhnya kemarin..." celetuk dokter Greef tajam sembari membantu Kiku untuk duduk dan minum.

#QuotesOfTheDay: Jika kau sakit demam atau flu... Perbanyaklah minum air putih... –dr. Greef

"Sayang!" tegur nyonya Greef sembari membawa nampan yang berisikan sisa makanan Kiku keluar meninggalkan kamar.

Sedangkan Kiku hanya bisa melirik sang dokter dengan sebal sembari membuka resleting baju atasannya. Setidaknya ia merasa lebih nyaman sebelum kembali mencari posisi yang enak untuk beristirahat.

Pagi tadi, ketika dr. Greef bermaksud melihat-lihat koleksi buku Germania ia menemukan Kiku yang tergeletak di sofa perpustakaan dengan kondisi yang sangat tidak baik-baik saja. Segera ia, dengan batuan beberapa penjaga, memindahkan Kiku ke kamar miliknya sendiri.

Nesia tentunya tersentak kaget saat kamarnya dibuka dan beberapa orang pria bertubuh besar memasuki kamarnya sembari membawa seonggok senpai untuk dibaringkan ke tempat tidur yang baru saja dirapikannya. Kiku masih ingat bagaimana khawatirnya wajah Nesia yang ia intip dari matanya yang sangat berat, dan itu sedikit membuat hatinya merasa sejuk dan tenang.

Nesia kini berada di sekolah tentu saja. Ini hari Senin dan aktivitas pastinya akan padat.

"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu... Kau menyiksa dirimu sendiri dengan tidak tidur sama sekali selama hampir 2 hari! 48 jam! Demi apapun! Dan parahnya lagi kau juga lupa makan, menegak 3 kaleng kopi... Aku akan rekomendasikan pada lambung Nak Kiku untuk kudeta!"

"Sudah..." jawab Kiku pendek.

"Semoga itu sangat parah dan membuat Nak Kiku jera!"

"Sesuai keinginan sensei..."

dr. Greef mendengus sebal mendengar jawaban dingin itu. Sedetik kemudian suara alarm kecil yang berasal dari sebuah termometer terdengar. Ia pun menarik pengukur suhu yang tadi diselipkan ke ketiak Kiku itu, "39,2! Bagus! Sesuai dengan tindakan gilamu!"

Kiku mendesah lelah. Inilah yang mereka sebut dengan 'sudah jatuh, tertimpa tangga'. Sudah sakit, masih dimarahi oleh dokternya.

Mana ini dokter spesialis kejiwaan lagi, bukan dokter spesialis demam.

"Ini hanya karena aku lupa membawa selimut..." Kiku menggumam tidak jelas, namun telinga dr. Greef lebih tajam dari yang ia perkirakan.

"Dan ditambah dengan kau tak membawa selimut! Kondisimu sudah sangat down dan kau tidak membawa selimut sehingga kau seperti ini! Katakan padaku, kenapa kau tak membawa selimut?!"

"Aku sudah di luar kamar ketika mengingatnya..." Kiku berhenti untuk melepaskan batuknya, "Setelah berkata seperti itu pada Nesia masa aku mau kembali masuk dan mengambil selimut? Kan tidak lucu..." ucap Kiku dengan muka yang tambah memerah, entah karena demam yang semakin parah atau karena apa.

"Gengsi?" decak dr. Greef tak percaya.

"A-aku tak pernah mengucapkan kata-kata seberani itu pada siapapun sebelumnya..." Kiku terbatuk lagi, "Entah kenapa ada sesuatu yang membuatku... Berani... Mungkin karena aku tak menyukai kencan kemarin, aku jadi menyatakan perang dengan Nesia no. 1..."

"Ya... Bisa aku lihat bagaimana dia panik, salah tingkah, merona malu kemudian langsung memucat khawatir ketika melihat Nak Kiku diangkat masuk ke dalam kamar..." dengus dr. Greef, "Lalu?"

"Lalu... Akhirnya aku mencoba menunggu sampai Nesia tidur sembari membaca buku dan malah ketiduran di sofa..." ucap Kiku lemas dilanjutkan dengan batuk yang menjadi.

"Idiot!" seru dr. Greef gemas.

"Arigatou gozaimashita..." desah Kiku lemah.

Dr. Greef hanya bisa menyipitkan matanya jengkel pada Kiku yang masih bisa bersikap sarkastis walaupun demam separah ini, "Asal Nak Kiku tahu... Aku tak membawa obat demam... yang kubawa hanya beberapa botol dopamin... kukira cukup untuk membungkammu..."

Kiku tak punya tenaga lagi untuk memutar bola matanya dengan sebal, maka ia hanya menutup mata dan menelan semua ancaman dr. Greef yang tentunya tidak akan dijalankan itu. Pemuda itu menunjuk ke sebuah laci dan dr. Greef menatap laci itu bingung.

"Kompres demam... Tolong, sensei..." ucap Kiku dengan suaranya yang semakin parau.

Dr. Greef hanya bisa menaikkan alisnya dan membuka laci tersebut. Isinya obat-obatan.

Banyak sekali.

"Nak Kiku ingin menjadi seorang apoteker?" tanya dr. Greef heran sembari mengacak laci yang penuh dengan berbagai obat, mulai dari obat umum seperti parasetamol sampai obat-obatan aneh, "Lanoxin? Memangnya kau punya penyakit jantung?"

"Kompres demam... dokter..." Kiku mengabaikan dr. Greef.

"Kenapa kau punya obat-obat aneh itu?" ucap dr. Greef sembari mengupas kompres gel itu dan menempelkannya di dahi Kiku setelah menyingkirkan poninya.

Kiku terdiam, berpikir sejenak, "Aku akan mati..."

.

.

"Biar kutelepon temanku... Dia ahli jantung..." ucap dr. Greef sembari mengambil ponselnya.

Kiku menarik seringai kecil, "Tidak perlu... Aku tidak meminum obat-obatan itu, dokter... Kalau aku sakit, aku lebih suka herbal... Anda harus lihat wajah anda sendiri... Priceless..." ucapnya sebelum menarik selimut dan berusaha untuk terlelap.

Kiku tahu ia sedang mendidihkan darah dr. Greef di belakang sana. Tapi ia tidak menyesal telah mempermainkan dokter yang tidak kunjung membiarkannya istirahat itu. Seharusnya sebagai seorang dokter, dr. Greef tahu yang dibutuhkan oleh Kiku adalah istirahat bukan?

"Nak Kiku tidak sesopan yang kukira..." celetuk dr. Greef.

"A... Sumimasen-deshita... Ego State pemberontak sedang aktif karena aku tidak diberikan kesempatan untuk istirahat..." ucap Kiku diakhiri dengan batuk yang sedari tadi tidak kunjung reda.

"Baiklah..."

"Oh ya... sensei... Anda bisa mengambil buku notes di tasku... Di sana ada laporan tentang Nesia selama anda tidak ada... Kita bisa membahasnya setelah aku merasa baikan nanti..."

"Baiklah..." dr. Greef melenggang pergi mencari notes yang dimaksud saat kesadaran Kiku menghilang.

*O*


Nesia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada senpainya yang masih tertidur tanpa bergerak sedikit pun ini –kecuali bernafas dengan kesulitan.

Gadis itu mendengus sebal sembari meremas rok selutut dari gaun tidurnya yang tak berlengan. Bagaimana ia akan tidur malam ini? Ataukah ini gilirannya untuk tidur di perpustakaan? Tapi Kiku tidak pernah mengungkit tentang sift semacam ini.

Tapi masa ia tega mengusir orang yang sedang sakit seperti ini?

"Ungh..."

Nesia menaikkan alisnya ketika mendengar lengguhan itu. Berasal dari senpainya. Kini ia mulai khawatir akan keadaan Kiku yang tampaknya semakin memburuk.

Oh! Haruskah Nesia kabur sekarang? Haruskah ia menggedor pintu kamar di depan kamar mereka? Tapi ini sudah sangat larut. Jadi apa yang baiknya ia lakukan?

"O-onegai... C-chichiue*..." Kiku mulai mengigau. *ayah (super formal)

Nesia mendekat ke arah senpainya itu. Kiku tampak sangat tersiksa, entah dari sakitnya atau dari mimpinya saat ini. Gadis itu menghela nafas sebelum menyentuh dahi Kiku dan sontak menariknya kembali karena merasa terbakar.

Suhu tubuh Kiku sangat tinggi. Tanpa termometer pun Nesia paham akan kenyataan itu.

Segera Nesia berlari untuk mengetuk pintu kamar dr. Greef meminta pertolongan atau apapun yang bisa menurunkan suhu tubuh kakak kelasnya itu.

.

"Dokter! Dokter!" panggil Nesia panik sembari mengetuk pintu kamar dr. Greef.

Namun tak ada jawaban walau berapa kali pun pintu itu Nesia ketuk. Nesia berpikir mungkin dr. Greef tak ada karena adanya panggilan pasien.

Oh! Pasien! Di sini juga ada satu dan sangat gawat darurat!

Nesia terus mengetuk, berharap ada jawaban secepat mungkin. Namun lama-kelamaan ia mulai memikirkan kemungkinan dr. Greef benar-benar pergi atau lainnya.

Ya, mungkin memang pergi.

Namun Nesia masih terus mengetuk pintu itu, berharap nyonya Greef bangun dan membantunya –setidaknya ia adalah istri seorang dokter dan ibu dari paling tidak seorang anak, seharusnya ia tahu apa yang harus dilakukan. Namun tak ada satu pun jawaban yang didengar oleh Nesia. Kalau dr. Greef tidak ada ia bisa mengerti, tapi nyonya Greef yang juga menghilang? Apakah sang dokter membawa istrinya juga?

Merasa yakin tak ada orang di kamar dr. Greef, Nesia kembali ke kamarnya sendiri dengan lesu. Kini ia yang harus berhadapan dengan Kiku yang mulai meracau dalam bahasa Jepang yang tidak ia mengerti. Nesia menebak-nebak, apa yang ada di mimpi senpai-nya itu.

Bukan mimpi yang indah tampaknya.

Sekali lagi Nesia meletakkan tangannya di kening Kiku, kali ini bertahan walau panas dahi Kiku membakar tangannya. Kiku mulai tenang dan tidak meracau lagi. Mungkin tangan Nesia yang dingin membuatnya nyaman. Nesia tidak sengaja melepas senyum lega sembari bergantian menempelkan tangan kanan dan kirinya ke dahi Kiku untuk membantu kompres demam yang tampaknya sudah tak bekerja. Ia pun mengecek suhu tubuh Kiku untuk mengetahui seberapa parah demam senpainya itu.

40,5 derajat celcius.

Nesia tahu itu bukanlah angka yang baik –faktanya itu sangat buruk dan lebih buruk daripada apapun. Ini bisa berujung kematian –Nesia pernah membaca bahwa demam 41 derajat akan berpotensi merusak otak.

Nesia semakin panik, ia menggigit bibir bagian bawanya. Di saat itulah ia menemukan sebuah catatan dari dr. Greef yang terselip di bawah bantal Kiku. Catatan tersebut berisi tentang kepergiannya dan istrinya untuk sementara dan cara merawat Kiku serta apa saja yang harus dilakukan jika kondisinya memburuk.

Nesia menghela nafas lega. Bersyukur akan bantuan ini dan beranjak untuk mempersiapkan peralatan untuk apa yang harus dilakukan olehnya sesuai catatan itu. Ia pun segera mempersiapkan sebaskom air hangat-hangat kuku walaupun terus menaikkan alisnya heran. Nesia tak yakin akan hal ini karena logikanya bilang 'lawan panas dengan dingin'. Akan tetapi seperti membaca pikiran Nesia, dokter itu meninggalkan peringatan keras untuk tidak keras kepala dan mengompres Kiku dengan air dingin.

Yah, Nesia menurut sajalah. Gadis itu pun keluar dari kamar mandi dengan baskom berisikan air hangat dan handuk kecil, kemudian kaos bersih yang menyerap keringat dan...

Alis Nesia berkedut saat membaca tulisan itu.

-Bantu Kiku untuk menyeka dirinya dengan handuk yang telah dibasahi oleh air hangat/panas, kemudian gantikan bajunya—

Nesia bertanya-tanya, kenapa tidak dituliskan untuk mengguyur senpainya ini dengan air panas dan membiarkannya ganti baju sendiri?! Tapi Nesia tak memiliki pilihan lain saat Kiku mulai mengigau lagi dan mulai memanggil-manggil namanya.

Nesia tidak terkesan sama sekali ketika namanya dipanggil di dalam igauan Kiku, baginya ini adalah kutukan yang menyusahkan.

Nesia membuka selimut yang menyelubungi –dan menyiksa- Kiku. Bernafas sejenak sebelum akhirnya mengangguk pada dirinya sendiri. Meyakinkan dirinya, ini hal yang benar, dia hanya membantu seorang kakak kelas yang merepotkan dan semua akan baik-baik saja.

Nesia harus memandikan Kiku...

.

.

Memang apa lagi pilihan Nesia? Membiarkan senpainya ini mati di depan matanya?

.

Nesia mulai dari melepas cooling pad di dahi Kiku dan menyeka wajah serta leher Kiku yang penuh dengan peluh. Nesia mencoba untuk selembut mungkin agar Kiku tidak terbangun. Bisa jadi masalah dan kesalahpahaman nanti kalau sampai senpainya itu bangun.

Nesia terdiam saat ia telah selesai menyeka wajah Kiku, memperhatikan ketidaknyamanan senpainya itu. Ia bernafas sangat berat, bagaikan habis berlari sprint beratus-ratus meter. Nesia merasa sangat kasihan, namun ia benar-benar tidak tahu harus apa.

Oh! Dia benar-benar penakut! Kenapa ia tidak bisa profesional, membuka baju Kiku dan memandikannya? Nesia berulang kali menghardik dirinya sendiri. Mengatakan pada logikanya yang terus menolak untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan bahwa senpai-nya itu sedang sakit dan masa ia tega untuk membiarkannya begitu saja?

Nesia menggaruk kepalanya frustrasi. Benar-benar frustrasi karena nyalinya yang tadi dipersiapkan mendadak hilang saat melihat baju dalam jaket training Kiku yang basah dan mulai berpikiran untuk melarikan diri.

Oh, ayolah! Kalau dia punya Alter lain, kenapa kesadarannya tidak hilang sekarang dan biarkan Alter lain mengambil alih dan melakukan semua yang harus dilakukannya sekarang ini? Nesia pun mulai bertanya-tanya, mencari-cari orang lain dan berteriak-teriak di dalam pikirannya sendiri tentang Kiku yang sedang sakit dan dia harus merawatnya saat ini juga.

Bukankah senpainya itu bilang bahwa salah satu Alternya itu adalah kekasih Kiku? Seharusnya ia keluar sekarang dan mengatasi semua ini! Hei, tanggung jawablah sebagai kekasihnya!

Nesia mengusap mukanya untuk menjernihkan pikiran. Tetapi di detik berikutnya pikirannya malah bertambah runyam karena hal aneh mulai terjadi.

Tangannya mulai bergerak sendiri dan ia mendengar sesuatu yang berteriak penuh amarah dan rasa jengkel di dalam kepalanya, "MINGGIR!"

Nesia tertegun saat tangannya mulai dengan cekatan mengambil handuk kecil dan membenamkannya dalam air hangat nyaris panas yang kemudian ia memerasnya serta mulai –sekali lagi menyeka wajah dan leher Kiku. Namun kali ini dengan lebih pelan, hati-hati dan penuh kasih sayang.

Ini menakutkan tentu saja, ketika menemukan tanganmu bergerak sendiri tanpa kau perintahkan untuk menarik dengan pelan kakak tingkat yang sebulan lalu kau musuhi dan mendudukkannya –menyandarkannya di pundakmu. Nesia bahkan bisa merasakan nafas berat dan panas Kiku di tengkuknya. Nesia ingin melinguk ke arah Kiku, melihat kepala yang sangat-terlalu dekat dengan miliknya, bahkan pipi mereka bergesekan, karena dagu senpainya itu dikaitkan di pangkal lehernya ketika tangan-tangannya bergerak sendiri untuk mulai melucuti jaket Training berwarna biru tua yang dipakai oleh pemuda itu.

Nesia merasakan jantungnya berdebar kencang dan matanya panas. Kemudian merasakan kepalanya berdenyut dan sebutir air mata meleleh entah kenapa. Oh, ayolah! Dia sedang malu sampai ingin kabur, bukannya khawatir setengah mati sampai-sampai menangis seperti ini.

Khawatir setengah mati.

Nesia kembali tertegun lagi. Berpikir, mungkinkah yang menggerakkan tangannya sekarang adalah si 'kekasih' senpainya ini? Mungkinkah yang tadi berteriak di dalam kepalanya adalah 'dia' yang mencintai senpainya ini?

Lamunan Nesia berhenti mendadak saat menyadari tangannya tengah berusaha untuk melepas baju Kiku. Ia berteriak sembari mencoba menghentikan–namun entah kenapa mulutnya tidak terbuka dan gerakannya tidak pula terhenti. Ia malah mendengar sebuah suara yang menghentaknya lagi, penuh kekesalan.

"Diamlah!" seru suara itu di dalam pikiran Nesia.

Nesia tidak punya pilihan lain, dia memang sudah diam; tidak menguasai fisiknya sendiri untuk bergerak. Dia hanya bisa diam menahan malu dan mukanya yang terasa sangat panas serta berharap kesadarannya akan menghilang seperti yang seharusnya agar ia tidak mengalami semua ini.

Mengalami kenyataan bahwa tangannya kini telah berhasil melepaskan kaos dalaman yang tadi dipakai oleh senpainya itu sehingga kini Kiku menyender kepada dirinya tanpa baju atasan. Bare-chest.

Nesia mengutuk dirinya karena tadi memilih night-dress yang sangat 'minimalis' ini.

Tangan Nesia kembali bergerak setelah melemparkan baju Kiku entah ke mana. Mengambil handuk kecil yang dibasahi oleh air hangat dan mulai menyeka punggung Kiku dengan pelan dan hati-hati.

Nesia terpaksa ikut merasakan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit milik Kiku dan ketika panas tubuh Kiku menjalar ke tubuhnya. 40,5 derajat, dan Nesia mengerti kenapa Kiku merasa sangat tidak nyaman sampai-sampai bermimpi buruk.

Tapi ia tidak mengerti kenapa ia harus mendekatkan dirinya dan meletakkan kedua lengan senpainya itu di atas pundaknya sehingga senpainya itu kini memeluknya dengan sangat panas –dalam artian yang sesungguhnya.

Nesia sangat ingin lari. Kemanapun yang ia bisa. Namun tubuhnya malah mengeratkan pelukan itu. Dan demi nilai kuis Nesia yang baru-baru ini mendapatkan angka 20! Nesia benar-benar tidak mengerti apa yang ia lakukan dengan menaruh kepalanya di pundak Kiku dan bertengger di sana.

Nesia hanya bisa berteriak-teriak di dalam kepalanya karena kini semakin banyak permukaan kulitnya yang menempel dengan permukaan kulit Kiku.

Tega sekali Alternya yang lain melakukan hal ini padanya?! Apakah mereka tidak tahu bahwa ia menyukai Razak dan hal seperti ini sangat...

Tidak bisa diterima dan ditoleransi?!

Nesia ingin pergi sekarang juga, namun ia merasa seperti sedang disekap di satu ruangan tertutup yang disebut tubuhnya sendiri. Tidak memiliki pilihan lain selain menuruti tangannya yang mulai mengambil handuk basah dan kembali mengelap seluruh punggung Kiku dengan lembut.

Kiku mendesah kecil, ia mulai tenang. Mungkin ia mulai merasa nyaman.

Setelah selesai, tangan Nesia yang bergerak sendiri itu meraba kasur, mencari bantal dan mulai menyusun dudukan untuk membaringkan Kiku yang masih terlelap di sana.

Nesia benar-benar tak ingin melihatnya. Oh! Demi apapun! Melihat laki-laki tidak memakai baju atasan adalah normal di tepi kolam renang. Tapi ini di tempat tidur! Nesia berusaha keras untuk menutup matanya atau mengalihkan pandangannya itu.

Tapi lagi-lagi tidak bisa. Alternya yang bangun dan mengendalikan fisiknya saat ini tidak setuju dengannya. Ia sibuk memeras handuk yang kembali ia basahi dengan air hangat dan mulai menyeka tangan kiri Kiku serta mengulangi hal yang sama untuk tangan kanan senpainya itu.

Sekali lagi tangannya bergerak memasukkan handuk ke dalam air yang hangatnya belum berkurang, memerasnya dan mulai membasuh dada bidang Kiku. Nesia meneguk ludahnya, kali ini ia dan Alternya sepakat melakukan hal yang sama.

Nesia cukup kaget sebenarnya, ia kira tubuh kecil Kiku sama dengannya –Yah, sebenarnya Kiku lebih tinggi darinya 25-30 senti. Tapi mungkin inilah letak perbedaan laki-laki dan perempuan, dan Alternya yang lainpun tampak sepemikiran dengannya.

Ia menghentikan mengelap tubuh Kiku dan memperhatikan lengan dan pundaknya sendiri yang sangat ramping, mungil dan lembut. Kemudian tangannya itu bergerak menuju pundak dan lengan Kiku yang benar-benar berbeda dengan miliknya; lebar dan kuat. Oh, apakah ini otot?

Tunggu, kenapa ia berpikiran akan sangat nyaman jika berbaring di sana?

Nesia yang kini mulai sepenasaran alternya yang lainpun berhenti memikirkan untuk kabur atau hilang kesadaran. Seluruh perhatiannya mulai tertarik untuk mempelajari perbedaan yang sangat kontras ini.

Ia menyentuh dadanya sendiri, membuat Nesia keheranan juga saat melihat dada bidang Kiku yang datar. Benar-benar berbeda. Juga dengan perutnya, Nesia merasakan perutnya benar-benar kenyal dan lembut, tapi milik Kiku tidak seperti itu. Perut Kiku keras dan terasa aneh di tangannya saat ia meraba.

Oh, Nesia ingat! Hampir seperti baju tempur Romawi lama yang ada di film-film gladiator itu, yang sispek-sispek itu, tapi milik Kiku tidak begitu kelihatan. Nesia berpikir mungkin karena senpainya ini kurus dan kecil?

Kiku yang menggumam kecil memanggil namanya membuat Nesia kaget dan ketakutan. Khawatir tertangkap basah sedang melakukan hal yang menurut akal sehatnya ini tidak baik dan tidak boleh. Dan tampaknya, alternya yang lain pun setuju dengannya karena tangannya segera menuntaskan pekerjaannya untuk menyeka tubuh Kiku.

Sekarang tinggal memakaikan baju yang bersih, kering dan nyaman pada senpainya itu.

.

Nesia menghela nafas di dalam hatinya saat ia menyelesaikan semua keabsurdan itu. Alternya yang lain tampak setuju dengannya. Kini tubuhnya membawa baskom bekas air seka untuk dibuang ke wastafel.

Kembali ke dalam kamar, Nesia melihat kondisi Kiku yang tampaknya mulai membaik. Tatapannya kini mengarah pada kompres demam. Nesia mengangguk setuju ketika Alternya yang lain membuat tangan mereka mengupas sebuah cooling pad dan menempelkannya di dahi Kiku. Nesia merasa tugasnya sudah berakhir sekarang. Ia sepertinya bisa mengambil alih tubuhnya sekarang.

Sayang alternya yang lain tidak memberikan kesempatan pada Nesia untuk mengambil alih. Setelah mereka duduk, tangannya kembali memegang catatan dari dokter. Dan tatapan matanya terarah pada poin ke dua, tentang pemberian obat.

Kepalanya menoleh ke atas meja kecil di samping tempat tidur. Obatnya ada di sana beserta air mineral dalam botol dan gelasnya. Nesia tidak tahu obat apa itu, atau ketentuan harus makan dulu atau tidak, dituliskan di catatan itu untuk meminumkan obat saat keadaan Kiku benar-benar gawat.

Itu berarti Kiku harus minum obat sekarang.

"Kiku-senpai..." panggil Alter lain Nesia dengan halus.

Nesia berpikir, mungkin tidak seharusnya mereka membangunkan Kiku. Dia sangat kelelahan, bahkan dimandikan saja tidak bangun.

Segera matanya menatap poin nomor dua lagi, kali ini tentang cara pemberian obat. Di sana dituliskan, kalau tidak bangun ia bisa membantunya lewat mulut seperti CPR (nafas buatan), atau lewat cara suppositoria (lewat lubang BAB).

Si dokter sih lebih menganjurkan cara suppositoria karena takut Kiku tersedak atau kalau Nesia salah melakukannya dan malah memasukkan cairan dan obat ke paru-paru.

Ini tidak segampang yang ada di dorama, drama Korea, anime ataupun komik shoujo yang biasanya memperlihatkan dengan mudahnya si (biasanya) cowok merebut obat dari dokter dan meminumkan paksa ke si (biasanya) cewek.

Kelihatan sangat maskulin dan romantis memang, padahal itu salah dan bisa membunuh.

Sedangkan Nesia punya pemikiran lain;

TIDAK DUA-DUANYA!

Nesia menjerit-jerit layaknya orang kesurupan di dalam hati. Berpikir kenapa dunia kedokteran bisa segila ini. Pilihan pertama berarti mereka berciuman, pilihan ke dua...

Tidak membantu, tidak lebih baik. Bahkan sangat buruk! Apakah dokter itu baru saja secara tidak langsung menyuruh Nesia untuk melakukan tindakan asusila?!

Namun alternya yang lain tampaknya telah membuat keputusan. Setelah ia menghela nafas, ia menarik dan 'memposisikan' tubuh Kiku untuk mendapatkan yang sering disebut "meminumkan obat mulut ke mulut".

Nesia berteriak-teriak menghalangi alternya yang lain, berusaha mengingatkan peringatan tertulis dr. Greef tentang tersedak dan cairan yang masuk ke paru-paru. Itu sangat tidak aman dan malah bisa membunuh.

Tapi seperti dr. Greef dan Nesia, Alternya ini tampak memiliki pemikiran lain;

Bangunkan Kiku.

Pakai ciuman.

.

.

"Uunh!" Kiku mengerang saat ia kehabisan nafas. Nesia pun melepaskan Kiku untuk mengambil nafas.

"Ugh..." keluh Kiku sembari terus mengerjapkan matanya yang buram supaya bisa melihat jelas, "Nesia...-san?" ucap Kiku parau ketika berhasil mengidentifikasi gadis yang ada di hadapannya.

"Kiku-senpai..." Nesia tersenyum manis sembari mengusap pipi Kiku.

"Nani ga-...?" tanya Kiku kebingungan, masih seperempat sadar karena kepalanya yang sakit.

"Tidak apa-apa... Senpai telan saja, oke?"

"Telan?" ucap Kiku kebingungan, dan di detik berikutnya semakin kebingungan saat merasakan kepalanya ditarik mendongak dengan lembut dan mulutnya dibekap dengan mulut lain; mulut milik Nesia.

Kiku yang tidak stabil dan masih keheranan apa yang terjadi hanya bisa menarik baju bagian belakang Nesia untuk berpegangan. Saat sesuatu yang segar mengalir ke dalam mulutnya, Kiku baru mengerti arti dari perintah 'telan' itu. Ia menuruti karena tidak memiliki pilihan dan pemikiran lain. Kepalanya terlalu berat untuk menanyakan apa yang baru saja ditelannya.

Sedangkan Nesia no. 1 berteriak-teriak geli di dalam hati saat semua itu terjadi. Apalagi dirinya yang lain tidak kunjung melepaskan ciuman itu. Kiku pun tak memberikan tanda-tanda akan melepaskan tautan mulut mereka yang dirasakan bagai oase di tengah gurun.

Nesia tahu, Kiku hanya seperempat sadar atau malah kurang dari itu, tapi ia tetap merasa sebal karena tidak kunjung dilepaskan. Malah kini ia merasakan jemari Kiku berada di antara kulit kepalanya dan menariknya untuk semakin intens.

Oke, Nesia merasa sudah mendapatkan pelajaran bahwa menjadi pihak ketiga adalah benar-benar hal yang super buruk. Siapa saja, tolong cabut kesadarannya ini sekarang juga sebelum Alternya yang lain ini melakukan sesuatu yang berbau 'kekasih' pada senpainya ini –meskipun sekarang sudah terlambat.

Di dalam alam bawah sadarnya ia menghardik-hardik alternya yang lain itu, yang tetap melanjutkan perbuatannya dan malah naik ke atas kasur dan tiduran di atas senpai mereka. Tidak tahukah ia bahwa Nesia merasakannya juga?! Tidak tahukah ia bahwa rok mereka telah tersingkap cukup tinggi?!

"Kau sangat dingin..." ucap Kiku dengan mata yang tertutup, tampaknya ia tak menyadari bahwa ini bukan mimpi.

"Ya..." bisik Nesia lembut sembari mengelus rambut Kiku.

"Sangat nyaman..." desah Kiku, di detik berikutnya ia membalikkan tubuh dan membuat dirinyalah yang kini setengah berbaring di atas tubuh Nesia yang menurut tubuhnya yang panas 'lebih dingin'.

Nesia hanya tersenyum kecil sembari menaruh kedua lengannya di atas pundak Kiku dan memeluk kepala senpainya itu, "Istirahat... Senpai..." ucapnya kembali mengelus rambut hitam Kiku yang membuatnya rileks dan keduanya pun terlelap.

*O*


Nesia no. 1 hanya bisa mengumpat-umpat tidak percaya. Kenapa alternya yang lain itu bisa bertindak seperti itu?!

Oh! Ayolah! Senpainya itu tidur di atasnya! Bagaimana kata Razak nanti jika ia tahu akan hal ini!?

"Kau dan Razak tidak akan terjadi..." ucap sebuah suara.

Nesia no. 1 hanya bisa mendengus sebal, "Kenapa kau pikir seperti itu?"

"Kita tak akan jadi dengan siapapun, lagipula..."

"Mnh?"

"Karena aku... sama sekali tidak percaya pada hal-hal seperti itu..." ucap seseorang yang memiliki paras dan wajah yang sama dengannya.

Tunggu. Sama?

"K-kau... Aku yang lain, huh?"

Gadis itu hanya tersenyum kecil. Senyum yang dipenuhi luka.

"Kau... Kalau kau berpikir tidak percaya pada hal-hal seperti itu... Kenapa kau melakukan semua itu pada senpai aneh itu?" seru Nesia.

"Aku tak bisa melihatnya kesakitan... Aku... hanya ingin dia baik-baik saja..."

"Jujur..." Nesia menyilangkan kedua tangannya di dada, "Aku tidak mengerti..."

"Kau tahu... Nesia... Aku tak percaya semuanya... Tapi dia berbeda..." ucapnya sembari membalikkan badan. Tampaknya ia akan pergi.

"Dia... hangat... Dan aku hanya ingin membalas kebaikannya... Setelah itu... Kita harus pergi dari kehidupannya... Aku tak mau menyakitinya..."

"Oke... Aku semakin tidak mengerti... Padahal kau adalah diriku yang satu lagi..."

"Kau tak harus mengerti... Kau tahu itu..." ucapnya sembari tersenyum lembut ke arah Nesia.

"Tapi aku setuju padamu tentang satu hal... Kita pergi dari kehidupan orang ini... Meskipun aku tak tahu bagaimana caranya... Dan kita bisa pergi ke Razak..."

"Kau sebaiknya menyerah, Nesia... Kita bukanlah seseorang normal yang mereka inginkan... Kalau kau menyayanginya... Tinggalkan mereka... Jangan seret mereka ke dalam kegelapan yang kita miliki... Kita hanya akan menyakiti mereka..." ucapnya sebelum menghilang dibalik pintu.

"Tunggu!" seru Nesia sembari mengejar gadis itu.

Dan ia pun keluar dari ruangannya yang nyaman ke dalam lingkungan yang tidak pernah terbayangkan ada di dalam dirinya.

Tidak heran kenapa Kiku maupun Razak harus menjaga jarak darinya.

.

It's a deep, dark Abyss no one wants to come.


A/N:

It's 21! Yeeey... (Panjang banget *dibunuhsamareader)

Balas reviewnya di chapie selanjutnya ya :D :D

Mohon kritik saran dan reviewnya, yaaaa :D

Selamat ulang tahun yang ke 69, Indonesia! Dirgahayu Negriku! \(OvO)/

*baru nyadar review Juga ada 69 buah