Aku mencintaimu. Sangat. Bisakah kau rasakan itu? —Naruto
Perjalanan memang kadang tak mudah. Banyak halangan yang membuatku mudah menyerah. Tapi, jika dunia terbalik sekalipun, aku akan tetap bersamamu. Hinata.
Menikah dengannya adalah suatu keberuntungan. Bagaimana tidak?
Hinata gadis tercantik di kampus waktu itu, mengambil jurusan kedokteran, dengan perangainya yang manis. Pipinya yang selalu merona, matanya yang berkedip manja, senyum yang menawan mata memandang, dan...ia istriku.
Oh, aku harus bangga mendapatkannya. Tidak mudah menjatuhkan hati seorang dokter muda itu. Selain cuek akan perhatian lelaki, Hinata amat menjujung tinggi prinsip menikah. Sedangkan aku, waktu itu hanya seorang pengusaha roti biasa.
Belum ada keberanian melamarnya, jika saja ia tak datang dan menawariku menjadi suaminya.
Setelahnya, Hinata melepas pekerjaannya di rumah sakit besar, dan memilih membuka klinik sederhana di dekat toko rotiku. Alasanya supaya mudah mengurusku, dan ia ingin fokus mendapatkan anak.
Hehe..Hinata tak pernah menolak jika aku menawarinya 'bermain' sebelum malam berdentang keras. Karena ia juga ingin mendapatkan anak, dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan.
"Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu?" cetusnya, mengibaskan handuk pada surai hitamnya.
Aku hanya tersenyum kecil, memuaskan mataku melihat betapa manisnya istriku ini.
"Apa hanya aku yang merasa? Atau semua juga merasakannya?"
Hinata mengangkat alisnya, kembali menyisir pelan rambut panjangnya. "Apa maksudmu?"
"Jika kau kian hari semakin cantik."
Pipinya merona.
"Berhenti menggodaku, Naruto-kun."
Aku berjalan mendekatinya yang terduduk manis di depan meja rias. Mengambil alih sisir yang tengah ia pegang, dan mulai menyisir rambutnya perlahan. Sedangkan Hinata hanya memberikan senyuman mautnya.
"Aku tak pernah menggodamu, Hinata. Itu kenyataanya. Jika kau semakin cantik."
"Masih banyak wanita yang lebih cantik dari aku, Naruto-kun."
Aku menantangnya, "Oh ya, siapa saja?"
Aku yakin ia akan menjawab nama-nama sahabatnya.
"Sakura, Ino, Tsuna, Yui."
"Benarkah mereka cantik? Ah...seharusnya aku menikahi mereka." ujarku dengan mendesah kecewa.
"Yak!" pekiknya memukul tanganku yang memeluknya.
Setelah adegan menyisir tadi, aku sengaja mengodanya dengan sedikit pelukan posesive. Kini dapat kulihat wajahnya memerah menahan luapan marahannya.
Aku tertawa, "Kau pikir aku menikahimu karena kau cantik?"
Hinata terdiam.
"Jika iya, bukankah Sakura lebih cantij darimu? Bahkan dia pintar memanah. Lalu, kenapa tidak Ino? Dia cantik, bagus pula badannya. Tsuna sahabat kuliahmu juga menawan. Hidungnya mancung, bibirnya kecil, dia juga cantik.Yui harus aku akui cukup menarik. Walau ia lebih pendek darimu, tapi ia amat pas untuk dipeluk. Mungil yang menggemaskan."
Hinata melepaskan paksa pelukannya, berbalik menuju balkon kamar kami. Aku yakin, sebentar lagi ia akan menangis.
"Kalau begitu menikah saja dengan mereka!"
Betul, kan?
Aku terkekeh, menggapai bahunya. Membawanya dalam rangkulanku. Mencium aroma mint dari rambutnya, masih menggantungkan kalimatku tadi.
"Kenapa kau harus menangis?"
Ia membisu. Tak kunjung mengangkat wajahnya. Membuat lengkungan itu melebar.
"Mereka memang cantik. Tapi, apa mereka mau menerimaku seperti dirimu, Hinata?"
Ia mengangkat wajahnya, memandangku dari balik bulu matanya.
"Belum tentu juga mereka mau melepaskan jabatan tingginya hanya untuk hidup berdua denganku. Tapi, kau? Mungkin kau akan kalah cantik dengan Kate Middleton, atau Lady Diana. Karena kecantikan itu akan pudar, tapi jika kau mencintaiku karena sisi hatimu, maka itu akan terus selamanya.
"Kau itu cantik, Hinata. Kecantikanmu lain dari wanita luar. Karena kau memandang dunia dengan kedua matamu. Dan menyentuhnya dengan tanganmu, bukan hatimu. Itulah kau. Kau itu unik. Tak perlu berdandan berlebihan, kau cukup tersenyum..begitu..sudah mampu melelehkan hatiku."
Pipinya kembali merona, dan itu menjadi kesempatanku mencuri ciuman darinya.
"Aish..kau memang pandai menggombal, ya."
"Dan kau suka, bukan?"
Ia memukul dadaku. Lalu melemparkan senyuman mautnya. Aku yakin aku tak dapat menahan lagi.
Kau tahu kan maksudku?
Fin...
Saya kembali lagi..makasih yang udah review, kata-kata kalian amat membantuku.
