Kiku mengerjapkan matanya. Ia merasakan kepalanya begitu berat sehingga tak mampu untuk bangun dan duduk. Ia hanya bisa melirik ke sekitarnya, mempelajari keadaan.
Ini sudah tengah hari di hari Selasa. Dengan ini, ia sudah membolos selama dua hari. Yah, bukan membolos sih. Kiku tahu Germania atau dr. Greef atau mungkin Nesia akan menyampaikan keadaannya pada siapapun yang berurusan dengan absensi.
"Kau sudah bangun? Sleeping beauty?" ucap dr. Greef di sela membaca buku notes milik Kiku.
"Ah... Ohayou gozaimasu... Greef-sensei..." ucap Kiku parau sembari mencoba untuk duduk meskipun kepalanya sungguh berat.
"Oh... ya... Kau mungkin mau memakai ini..." ucap dr. Greef sembari memberikan Kiku sebuah baju yang hanya ditatap dengan rasa heran oleh sang pemuda oriental itu.
Kenapa baju?
"Aku rasa... Nak Kiku lebih baik tidak melihat ke bawah dan langsung memakai baju saja..." ucap dr. Greef yang semakin membuat Kiku penasaran.
Kiku menatap ke bawah, membuka selimutnya. Ia masih memakai celana trainingnya yang Kiku tebak tidak ia lepas selama dua hari ini, seperti apa yang seharusnya.
Namun alisnya berkedut heran ketika ia menyadari bahwa dari pinggang ke atas ia tidak menemukan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya seperti apa yang seharusnya. Ia malah menemukan beberapa bekas kemerahan di kulit pucatnya. Seperti ia habis dipukul sesuatu sehingga darah berkumpul di bawah permukaan kulitnya itu atau...
Muka Kiku berubah pucat, ia dipenuhi oleh teror.
"N-nak Kiku tenang saja... Aku berhasil mengusirnya tepat sebelum ia melakukan macam-macam pada Nak Kiku..." ucap dr. Greef panik.
Mengusir? Melakukan macam-macam?
Keringat dingin semakin mengucur deras di sekujur tubuh Kiku. Ia merasa aneh, merasakan firasat buruk ketika menyentuh beberapa bekas merah yang ada di tubuh dan lengannya dengan hati-hati.
Bekas-bekas itu tidak terasa sakit ketika ia sentuh, tidak seperti apa yang ia sangkakan. Tapi terasa menggelikan.
Okashii... –aneh...
"Apakah ini... Dan yang sensei maksud... uh..."
Mungkin karena ia sakit, otak Kiku jadi bekerja lebih lambat. Ia seperti hampir tahu apa ini, tapi di saat yang sama kenyataan seolah lari dari dirinya. Atau dirinya yang mencoba lari dari kenyataan?
Dr. Greef menghela nafas pelan, dengan sangat hati-hati memberi tahu Kiku apa yang terjadi, "Itu... Kiss Mark... Nak Garuda yang melakukannya..."
Kiku pun kembali tidak sadarkan diri bahkan sebelum dr. Greef sempat menyelesaikan kalimatnya.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
W-wa-watashi... watashi wa... IIIIEEEE! Wasurete yo! -Aku.. Aku di-... TIDAAAK! Lupakan!
Kiku tak bisa menyelesaikan kalimat itu, bahkan di dalam pikirannya sendiri, setelah dr. Greef menyadarkannya. Ia hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri yang kini sudah dipakaikan baju. Sekujur tubuhnya itu terasa geli, terasa aneh dan terasa...
Dimiliki.
"Nak Kiku tenang saja... Aku benar-benar datang di waktu yang sangat tepat... Ketika dia hampir melepas celana Nak Kiku... Jadi Nak Kiku tenang saja..." ucap dr. Greef sembari memeriksa termometer yang menunjukkan angka 37,8 derajat itu.
Kiku sangat-amat-teramat ingin pingsan sekali lagi. Sayangnya dr. Greef tampak tidak memberikan izin dan kesempatan untuk melakukannya.
"Nak Kiku... Oh ya ampun! Kau ingin aku bersumpah demi apa? Dia tak melakukan apapun padamu... Well... Dia sudah melakukan sesuatu... tapi belum yang ekstrem..."
Kiku pun menatap sadis ke arah dr. Greef. Ia merasa benar-benar tersinggung atas sikap meremehkan yang dr. Greef berikan padanya.
Belum yang ekstrem? Apa maksud sensei?! Apakah maksud sensei keadaanku yang sekarang ini belum bisa dibilang buruk?! Garuda-san mengambil kesempatan ketika aku sakit! Aku hampir saja di... di... di...
Kiku menutup matanya untuk menahan kepalanya yang sakit. Kembali ia pijat pangkal hidungnya untuk meredakan nyeri sebelum menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya, termasuk kepalanya. Pemuda itu memilih untuk tidak melanjutkan percakapannya dengan dr. Greef yang ia cap telah mengkhianatinya karena datang terlambat.
"N-nak Kiku..."
"Jangan sentuh aku... Kumohon..." ucap Kiku memperingatkan, "Aku sangat sensitif sekarang dan tak mau disentuh oleh siapapun!"
"Oh ayolah! Kau laki-laki dan dia belum melakukannya! Jangan bertingkah seperti gadis kecil yang baru saja diper-..."
"Jangan sebutkan kata itu!" seru Kiku jijik dari balik selimut.
"Oke... Oke! Tidak ada 'kata itu'..." ucap dr. Greef sembari mengangkat kedua tangannya, "Memangnya bisa seorang laki-laki di-gitu-kan? Ayolah! Ini tidak seperti kau kehilangan kepera-..."
"Jangan sebut kata itu juga!"
Dr. Greef mendengus kesal, "Ini tidak seperti kau kehilangan kehormatanmu, Japanesse! Dan kau sebaiknya tidak berpikiran untuk melakukan bunuh diri... Karena kehormatanmu masih utuh setelah kuselamatkan di detik-detik terakhir! Apa Nak Kiku paham?!"
.
.
"Jika kau paham... Hentikan perbuatan bodohmu itu dan lihatlah ke arahku dan makanan ini!" ucap dr. Greef lagi masih dalam nada sebalnya.
Kiku dengan enggan melirik dari dalam selimutnya ke arah dr. Greef yang kini berjalan-jalan di dalam ruangan kamarnya. Dokter itu berdiri di sebelah lemari kecil penuh laci yang bagian atasnya kini berubah menjadi tempat meletakkan makanan.
Perut Kiku berbunyi nyaring. Tak bisa menolak tawaran dr. Greef –lagipula apa untungnya menolak? Segera ia menurunkan kembali selimutnya dan memasang posisi untuk duduk walaupun kepalanya berdenyut.
"Kau seharusnya senang... Istriku yang membuatkan bubur ini untukmu..." ucap sang dokter saat menyiapkan meja kecil untuk membantu Kiku makan, "Habiskan..." perintahnya lagi saat meletakkan semangkuk bubur yang masih panas itu di hadapan Kiku.
"Ittadakimasu..." ucap Kiku lirih sebelum mulai menyendokkan bubur dan meniup uap panas yang masih mengepul.
"Bagus... selagi kau makan... Aku akan melanjutkan membaca ini..." ucap dr. Greef sembari duduk dan kembali membuka notes milik Kiku.
"Kau bisa bertanya padaku, sensei... Aku tak keberatan..." sahut Kiku sembari menyuapkan bubur ke mulutnya sendiri.
Dr. Greef menaikkan salah satu alisnya, "Baiklah... Jika itu maumu..."
.
.
"Kenapa... kau memberikan tanda tanya dan seru di pernyataan Pertiwi bersekolah di Hetalia Elementary School?"
"Pertiwi-san tidak ada di database Elementary... Di tahun berapa pun..."
"Itu aneh..." celetuk dr. Greef.
"Reaksi anda sungguh tenang..."
"Yah... Salah satu aturan main ketika bertemu dengan pengidap Alter Ego adalah tidak mudah percaya... Kita seharusnya siap jika ternyata semua yang dikatakan oleh alter-alter itu ternyata hanyalah kebohongan..."
"Tapi ini Pertiwi-san... Dia polos dan tidak mengenal kebohongan..."
"Nak Kiku yakin sekali?" sanggah dr. Greef.
Kiku meletakkan sendoknya, "Apakah sensei tidak bisa melihat bagaimana ia bersikap?"
"Apakah Nak Kiku yakin Nak Pertiwi tidak dipengaruhi oleh alasan atau sesuatu yang lain?" jawab dr. Greef, "Alter lain misalnya?"
Kiku mendengus kesal, ia kembali mengambil sendoknya, "Setidaknya kita tahu Pertiwi tidak pernah ada di Hetalia Elementary School..."
"Yah... Itu benar..."
Dr. Greef menaikkan alisnya dan mulai mencatat sesuatu di buku catatan miliknya sendiri. Setelah selesai, dr. Greef kembali pada buku catatan milik Kiku dan membalikkan halaman, mulai membaca hipotesa-hipotesa Kiku bahkan yang dicoret.
Hei, semua itu kemungkinan dan kemungkinan bisa jadi apapun. Bahkan yang mungkin sudah dibuang.
.
.
"Lalu kenapa Nak Kiku bisa yakin sekali dengan informasi dari seorang Alter yang bernama Kartika?"
"Dia membiarkanku melihatnya dengan mata kepala sendiri..."
"Maksud Nak Kiku?"
"Itu... tidak bisa dijelaskan secara logis... Sensei bisa lihat tambahan catatannya..."ucap Kiku sembari menyendokkan bubur ke mulutnya.
.
"Memiliki kekuatan supranatural? Sudah ter-integrasi dengan Alter lainnya..." dr. Greef mulai mengelus dagunya, berpikir. "Aku mengerti ter-integrasi dengan Alter lainnya... Tapi kekuatan supranatural? Mungkin hanya khayalan atau kebohongan Alter bernama Kartika ini..."
"Aku sendiri tak percaya... Mulanya aku berpikir Kartika-san adalah Alter yang kesepian dan butuh teman sehingga bisa berkata seperti itu... Tapi Kartika-san tidak seperti itu..." jawab Kiku di sela makannya.
"Tapi... Sesuatu semacam ini..."
"Aku mengerti sensei tak akan percaya... Kartika-san juga sudah tak ada di sini untuk membuka mata batin sensei dan membiarkan sensei bertarung dengan makhluk halus dan ikut ke dalam masa lalunya..."
"Aku sama sekali tak mengerti apa yang Nak Kiku katakan..." ucap dr. Greef.
"Aku juga... Aku tak bisa menjelaskannya tapi aku yakin sekali..." ucap Kiku sembari menatap dr. Greef, "Ini tidak seperti sebuah statement ataupun pengakuan dari Kartika-san... Ini pembuktian yang tidak masuk akal... Dan tidak bisa direkayasa..."
"Oke...?" dr. Greef menaikkan bahunya dan mengalah walaupun ia masih tidak yakin dengan Alter bernama Kartika ini dan kekuatan indra keenamnya serta kemampuannya untuk meyakinkan seseorang logical seperti Kiku sehingga mempercayai sesuatu yang bersifat illogical.
.
.
"Hmm... Tentang Nak Kartika ini... dari mana Nak Kiku bisa tahu yang seperti ini?" tanya dr. Greef heran ketika melihat banyak sekali catatan penting yang pastinya tidak mudah dan tidak sembarangan didapat.
"Tidak perlu khawatir tentang keabsahannya, sensei... Aku mendapatkannya dari sumber yang tepercaya..." ucap Kiku sembari mengangguk meyakinkan.
Dr. Greef hanya bisa menyipitkan mata dan menatap Kiku dengan tatapan curiga.
"Kau melakukan sesuatu yang ilegal? Hacking?"
"Aku yakin aku tidak meninggalkan jejak, sensei... Daijoubu desu..." ucap Kiku sopan dengan keyakinan 100 persen yang membuat dr. Greef semakin jengkel.
"Jadi... Nak Nesia, atau waktu itu Nak Kartika... Dia tinggal di sebuah panti asuhan milik Negara yang cukup jauh dari sini... Juga, bersekolah di Patricia Elementary School... Masuk pada 2007 dan lulus di 2009... ketika ia berumur 11 tahun..." dr. Greef membaca catatan tangan Kiku yang digaris bawahi berkali-kali oleh si empu, membuktikan bahwa Kiku benar-benar memikirkan 'fakta' ini.
Ya, ini fakta. Terlepas dari supranatural atau hal diluar akal sehat lainnya, kenyataan tentang panti asuhan dan sekolah Patricia Elementary School sudah dibuktikan secara ilmiah –dan ilegal.
.
"Tapi... aku merasa seperti dibohongi, sensei... Di time-line yang kubuat... Aku merasa sesuatu tidak beres... tidak tepat pada tempatnya... Seperti 'kecolongan'..." keluh Kiku.
"Mungkin karena ia lulus pada usia 11 tahun yang seharusnya pada umur 12 tahun? Atau dia menghabiskan 4 tahun Junior High?"
"Tidak... bukan seperti itu..." Kiku memijat keningnya sendiri, sesuatu tentang waktu dan tahun membuatnya bingung sendiri, "Yang pasti di tahun 2009 dia berumur 11 tahun..." desah Kiku frustrasi sebelum menyendokkan suapan terakhir ke mulutnya dan meraih minuman serta obat.
"Dan 2014 ini di berumur 16 tahun... Pas... Berarti ia memang benar berusia 16 tahun di tahun ini..." dr. Greef menyimpulkan sembari menunggu Kiku meminum obatnya.
"2009 saat lulus, Nesia-san berumur 11 tahun... 2007 saat ia diterima, Nesia-san berumur 9 tahun... Bertabrakan dengan apa yang dikatakan oleh apa yang dikatakan oleh Pertiwi-san padaku..."
.
.
"Mungkin Nak Pertiwi memang tidak memberikan informasi yang benar? Apalagi Nak Kiku bilang di database Hetalia Elementary tidak pernah ada-... "
"Tapi Pertiwi-san bukan pembohong, sensei..." sergah Kiku.
"Oke... Aku mengerti..." dr. Greef menurut. Pria paruh baya itupun menghela nafas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya.
.
"Kita urutkan dulu oke?" ucap sang dokter lagi, "Jadi... 0-4 tahun... dia baik-baik saja di pangkuan orang tuanya... 4-9 tahun dia tidak diketahui dimana... lalu 9-11 tahun ia bernama Kartika dan bersekolah di Patricia Elementary School... Kemudian 11-16 tidak kita ketahui secara pasti..."
"15... 16..." Kiku merenung sejenak, "Sensei... mungkin tahun ini adalah tahun milik Nesia no.1-san... Atau mungkin Nesia no.1-san bukan nomor satu sama sekali... Mungkin Nesia no.1-san yang paling terakhir dibentuk sebelum Nesia no.3 yang tak sengaja terbentuk karena syok itu..." ucap Kiku mengeluarkan hipotesisnya.
"Oh... Nona Darling-sama..." dr. Greef menggoda, ia menambahkan sesuatu ke time-line yang ada di dalam buku notes Kiku.
"Sensei..." Kiku melirik sengit.
"Masalahnya... Kenapa ia membuat Nesia no.1 ini?" tanya dr. Greef mengabaikan Kiku, "Nak Nesia tidak bersekolah di sini saat Junior High?"
"Tidak... Kalau dia di sini tentunya aku akan mengenalinya..."
"Dan masalah ini akan terjadi setidaknya 3 tahun yang lalu..." imbuh dr. Greef.
"Y-yah..." Kiku mengusap mukanya, "C-cotto..."
"Ada apa?"
"Nesia-san... Nesia no. 2-san!"
"Ada apa dengan incaranmu itu?" dr. Greef bermaksud mengejek lagi, namun kali ini Kiku tidak memperhatikannya.
"Sensei! Waktu di rumah sakit! Ia bilang ingatannya mulai saat selesai elementary dan menuju Junior High!" seru Kiku semangat, tak mempedulikan kepalannya yang berat, "Nesia no.2-san adalah kelanjutan dari Kartika-san!"
"Yah... Bisa jadi... Tapi... Kenapa Kartika butuh membuat Nesia no.2?"
"Eh... Etto..." Kiku kembali bersandar di tempat tidurnya.
Kenapa Kartika yang sudah pintar harus membuat satu Alter yang pintar juga seperti Nesia? Apakah dia membuat Nesia untuk lari dari kekuatan supranaturalnya? Tapi siapa yang waktu itu terus mengerjakan soal dan membuat Nesia terbatasi dalam mengambil tindakan? Pasti ada Alter lain yang bangun dan membuat Nesia no. 2 tak bisa mengambil alih... Dan jelas dia bukan Kartika... Karena Kartika pintar sedangkan waktu itu Nesia mengeluh karena banyak soal yang ia isi dengan jawaban salah... Tapi siapa?
Dan kapan Alter-alter lain seperti Ina, Garuda, Tara, Ayu, dan Pertiwi muncul untuk pertama kali? Apakah itu berarti kelima alter itu yang memiliki kemungkinan tertinggi menjadi Alter asli Nesia?
Oke, Garuda dan Tara tidak termasuk. Mereka mengaku sebagai laki-laki.
"Itu berarti... Kandidat Nesia-san yang asli adalah Ina-san, Ayu-san dan Pertiwi-san..." gumam Kiku, "Menurutku yang paling mendekati adalah Pertiwi-san..."
"Ya... Tampaknya demikian..." balas dr. Greef, "Kecuali dia baru saja memberikan informasi salah tentang dirinya yang bersekolah di Hetalia Elementary School..."
Kiku mengusap mukanya lagi, benar-benar bingung.
.
.
"Ya... mungkin ada alternya yang lain yang salah membisikkan nama tempat padanya?" ucap Kiku desperate memberikan jawaban.
"Tapi Nak Kiku... Jika... Jika saja Nak Pertiwi adalah Alter asli..." dr. Greef membuka sebuah halaman dan memperlihatkannya pada Kiku.
Seketika raut wajah Kiku memucat menyadari bahwa ia tak menemukan apapun ataupun membuat kemajuan sama sekali. Mereka hanya berputar-putar tanpa arah dan senang pada hasil yang mengecewakan.
"Bagaimana dengan Nak Thai yang mengaku mengenal dan menjadi saudara dari seseorang yang bernama 'Nesia'? Yang menghilang saat si 'Nesia' ini berumur 4 tahun?" tanya dr. Greef.
Kiku menelan ludah, tidak mampu menjawab.
"Itu berlaku sama pada Ina-san dan Ayu-san..."
"S-sore wa..." Kiku menunduk menahan kekesalannya karena merasa kembali gagal memahami Nesia.
.
.
"Mada... Wakarimasen..." –Masih... belum tahu...
Dr. Greef merasa simpati pada pemuda yang kini tengah mengacak surai hitam miliknya dengan frustrasi. Penyelidikan yang panjang dan lama oleh Kiku ternyata tidak menghasilkan banyak, "Yah... Setidaknya kita sudah memperkecil jarak... Kemarin 4-11 tahun... Kini tinggal umur 4-9 tahun... 5 tahun yang tidak jelas apa yang terjadi... Dengan 5 alter yang tidak begitu jelas... Dan pada umur 11-15 tahun... Menurutku di sini juga ada sesuatu yang terjadi..."
"Hai..." ucap Kiku lemas, ternyata masih banyak 'PR' yang belum ia kerjakan.
"Aku akan membantumu... Nak Kiku tahu itu..." ucap dr. Greef penuh kesungguhan.
*O*
Siang itu, Kiku yang sedang mencermati notesnya tertegun saat mendengar suara aneh mendekati kamar tempat ia berada. Seperti suara derap langkah yang berat, yang penuh dengan kekesalan. Alisnya mengerut saat pintu kamar diketuk dengan kasar. Ia semakin tidak yakin untuk mempersilahkan masuk siapa pun itu yang ada di luar kamarnya.
Namun pintu kamarnya itu terbuka dan langsung memperlihatkan Nesia dengan wajah kesalnya yang lucu. Gadis itu berjalan dengan cara yang aneh memasuki kamar tidur dan langsung memburu ke arah Kiku.
Kiku meneguk ludahnya, berharap ini bukan masalah besar, "Ada apa, Nesia-san?"
"Kumohon tolong aku dari pervert satu ini!" teriak Nesia kacau.
Alis Kiku bertautan, Kiku merasa sangat marah mengetahui ada yang berani mengganggu Nesia, "Pervert?! Doko desu ka?! –Dimana?!"
"Dia terus berteriak-teriak di dalam kepalaku!" seru Nesia jengkel.
.
.
"Er..." Seketika kemarahan Kiku lenyap, berganti dengan perasaan ngeri.
"A-aH!" Nesia berteriak seperti bagian tubuhnya terseret sesuatu kemudian ia terdiam dan menunduk.
"E-etto... Ne-sia... -san?" Panggil Kiku hati-hati sembari menyentuh tangan Nesia.
Sedetik kemudian Kiku mendengar ada suara tawa yang aneh dari Nesia yang masih menunduk. Dilanjutkan dengan mengangkat kepala dan menatap Kiku dengan pandangan penuh maksud.
.
.
"Iie..." Kiku bergumam ngeri, sementara tubuhnya sudah beringsut menjauh dari Nesia ke pinggiran tempat tidur lain –di mana Nesia tidak berdiri di sana.
Nesia tersenyum menanggapi respons dari Kiku. Senyumnya sangat lebar sampai-sampai menyeramkan. Mata gadis itu pun menggelap, namun Kiku bisa melihat sebuah kilatan antusias dan penuh nafsu menghiasi iris yang besar itu.
"Iie! Iie! Iie! Joudan desu yo ne?! –Kau pasti bercanda!" Kiku segera turun dari tempat tidur saat itu juga dan melarikan dirinya ke kamar seberang, kamar milik dr. Greef. Tak peduli pada kepalanya yang pusing dan berat ataupun tubuhnya yang lemas, ia tetap berlari keluar dari kamar selagi bisa.
"Kemana kau akan lari, sayang?!" suara Nesia berubah menjadi bermain-main dan menggoda.
Di detik itu Kiku tahu Nesia no. 1 sudah menghilang dan digantikan oleh Alter gila yang hampir merenggut 'kehormatannya' pagi tadi.
"SAGATTE KUDASAI, GARUDA-SAN!" teriak Kiku sembari menerobos masuk ke kamar dr. Greef.
"H-hei?! Ada apa?" seru dr. Greef kebingungan ketika Kiku membanting pintu kamar dr. Greef dan mengganjalnya dengan tubuhnya sendiri.
"N-nak Honda?" nyonya Greef ikut-ikutan bingung.
"Oh, ayolah... Sayangku..." seru Garuda dari luar yang membuat bulu kuduk Kiku merinding.
"Itu istri nak Honda bukan, di luar sana? Apakah ia butuh sesuatu?" tanya nyonya Greef khawatir.
"Iie... Iie... Daijoubu desu!" ucap Kiku sembari mencoba tertawa kecil untuk menghilangkan kekhawatiran nyonya Greef. Di dalam hatinya, Kiku menyumpah-nyumpahi dr. Greef karena tidak memberitahukan pada istrinya bahwa Nesia memiliki kepribadian lain.
"Sayang... Kenapa kau malah lari? Kenapa kau tidak menemaniku?" ucap suara Nesia (Garuda) menggoda, sedangkan Kiku hanya bisa kembali nelan ludahnya.
"Nak Honda... Tuh... dicari sama istrinya..." ucap nyonya Greef mencoba dewasa, padahal Kiku tahu istri dari dokter jiwa itu tersipu dan ingin tertawa geli.
Oh, ya! Tertawa geli. Tidak tahukah mereka nyawanya sedang terancam sekarang?!
Nyonya Greef mendekati Kiku dan berjongkok di depan pemuda itu, wanita itu menatap Kiku dengan penuh kasih sayang dan senyum yang ramah, "Nak Honda tahu... Memang tidak sopan melakukannya saat matahari belum tenggelam..."
Apa? Apa? Melakukan apa?
"Tapi sebenarnya tidak apa-apa... Oh... dulu aku dan Jonathan juga tak mengenal waktu... tapi itu karena kami masih muda..." nyonya Greef tertawa kecil.
Apa? Apa maksudnya? Siapa Jonathan?
Kiku merasa ada sesuatu yang mengucur dari pelipisnya. Rasanya seperti; keringat dingin.
Pemuda itu masih sibuk menahan pintu yang mendapat gedoran keras dari Nesia. Ia tak begitu memperhatikan apa yang dimaksudkan oleh nyonya bersurai cokelat terang itu. Hanya sesekali ia benar-benar mendengarkan dan kepalanya yang sakit terlalu malas untuk mengartikan kata-kata wanita cantik yang kini melihat ke arah suaminya.
"Ah! Sayangku... Jangan ceritakan tentang kita berdua!" dengus dr. Greef.
"Tapi kita memang tak mengenal waktu..." ucap wanita yang pipinya bersemu merah itu, "Nak Honda... Tidak apa-apa... Tapi aku tetap ingatkan dengan 'pengaman' milikmu... Kau dengar bukan salah satu nenek yang menjadi teman Germania? Yang seorang dokter itu... Istri Nak Honda belum siap dan secara psikologis juga kalian belum siap untuk punya anak..."
Apa? Apanya yang pengaman? Nenek teman Germania, ada apa dengannya? Lalu apa pula hubungannya dengan anak?!
"Pokoknya... Bersikaplah yang lembut padanya... Jangan egois dan jangan tergesa-gesa... Biarkan kalian menikmatinya dulu..."
ANATA NO IMI WA WAKARANAI! –Aku tidak mengerti maksudmu!
Kiku memucat –bertambah pucat dan semakin memucat saat berusaha menelan teriakan frustasinya. Demi apapun! Ini dan itu sama sekali tak ada hubungannya. Tak bisakah mereka menyadari bahwa dirinya sedang meregang nyawa di sini?! Kenapa ia malah mendapatkan pelajaran Extreme Biology di sini?!
"Dengarkan dia Nak Kiku... Dia seorang Seksolog profesional lagipula..." ucap dr. Greef sembari menyesap kopinya.
Extreme Biology oleh seorang Seksolog pula! Kiku mendengus frustrasi. Ia butuh seorang Psikolog! Psik-olog! Bukan apalah-olog yang lainnya!
"Sayang... Kau menelantarkan aku?" terdengar kembali suara Nesia dari balik pintu.
"Ayo! Nak Honda! Temui dia!"seru nyonya Greef antusias.
Kiku merasa seperti spesies hewan yang hampir punah dan baru saja ditemukan lewat suatu keberuntungan. Kemudian setelah dibawa ke tempat penangkaran, sekarang sedang dipaksa untuk menikahi betina satu spesiesnya dan dibebankan tanggung jawab yang sangat besar dan mulia untuk menjaga eksistensi dari spesiesnya sendiri.
Rasanya itu... Mengerikan.
"Nak Honda... Lakukanlah... Nanti malam kau bisa berkonsultasi padaku jika sore ini merasa-..."
"Nyonya Greef! Tolong!" seru Kiku dengan suara yang parau karena sakit, "Sekali lagi... Tolong... Jangan loncat ke sana... Tolong... berhenti..." Ucap Kiku melembut sembari mencoba menenangkan antusiasme nyonya Greef.
"Nak Honda?"
"Saya sangat menghargai bantuan anda... dan nasihat anda... Akan saya ingat... pasti..." lanjut Kiku, "Tapi saat ini... Saya butuh bicara dengan Greef-sensei... Kalau anda mengijinkan?"
"T-tentu..." ucap nyonya Greef sembari mengedipkan matanya bingung. Ia kembali berdiri dan melirik ke arah suaminya.
"Terimakasih nyonya..." ucap Kiku lemas, tenaganya sudah benar-benar terkuras, "Terimakasih... sungguh..."
"Lalu apa yang ingin kau diskusikan denganku, Nak Kiku? Dengan 'istri'mu di balik pintu itu?" ucap dr. Greef menggoda.
"Jangan bermain denganku, sensei! Kau tahu siapa yang sedang mengejarku!" ucap Kiku jengkel, "Itu Garuda-san!"
"Garuda?" tanya istri dr. Greef.
"Kepribadian lain Nak Nesia..." jawab dr. Greef ringkas pada istrinya.
"Oooh..." nyonya Greef menaikkan alis dan menganggukkan kepalanya, mencoba memahami apa yang terjadi saat ini.
"Kau memanggilku, sayang?" tanya Garuda dari balik pintu.
"Tidak! Aku tidak!" seru Kiku lagi.
"Oh, itu menyakitan..." gumam Garuda dengan suara yang membuat bulu kuduk Kiku meremang, "Aku rasa kau harus kuberi pelajaran... Keluarlah sekarang!" seru Garuda pada akhirnya dengan nada yang tinggi.
"Tidak akan! Bahkan di dalam mimpi terbaikmu aku tidak akan keluar!" jawab Kiku panik dan sedetik kemudian semakin bertambah panik karena ia merasa telah melakukan sebuah kesalahan fatal;
Menantang Garuda.
Oh tidak... Oh tidak... Oh tidak... Apakah Garuda-san marah? Apakah dia marah?
Kiku menatap dokter Greef dengan gelisah, menanyakan apakah Garuda benar-benar marah padanya. Kiku tahu, Garuda yang marah adalah kabar terburuk di dalam hidupnya. Entah mengapa.
"Keluar sekarang juga! Dan aku akan membuat perhitungan yang sangat menyenangkan padamu!" serunya lagi, lantang, penuh amarah.
Kuso! Garuda-san benar-benar marah!
"Ya... Nak Kiku... dia benar-benar marah..." ucap dr. Greef datar.
Tidak! Kau tidak memberitahukannya sekarang! Aku sudah tahu!
"Oh, ya ampun... Anak muda..." celetuk nyonya Greef, "Tertarik pada BDSM..."
Chigaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
-duk... duk...-
"Keluar sekarang juga!"
"Tidak! Tidak akan!"
"Heh! Dokter yang tadi pagi! Aku tahu kau ada di dalam! Cepat keluarkan dia!" merasa Kiku keras kepala dan tak mau menurutinya, Garuda mulai memerintahkan dr. Greef.
"Dia sungguh kasar..." gumam dr. Greef, "Apakah ia mengalami pelecehan seksual atau apapun itu?"
"Jangan tanyakan padaku! Aku tidak tahu!" seru Kiku frustrasi.
"Apakah kau... Setiap hari mengalami ini?" tanya dr. Greef.
"Aku akan mati jika setiap hari seperti ini..." jawab Kiku lemas, "Tolong aku... sensei..."
"Sayang?" ucap nyonya Greef lembut, ikut memohon bersama Kiku.
-Duk... duk...-
"Nak Garuda... semakin kau marah... Semakin Nak Kiku tak mau keluar, kau tahu itu..." seru dr. Greef dari balik pintu.
"Apa maksudmu?!" seru Garuda.
"Maksudku... jika kau ingin Nak Kiku keluar... Kau harus tenang... Berikan Nak Kiku spaces agar dia merasa aman..."
"Oh... Dia sangat jauh dari kata aman sekarang ini..." gumam Garuda penuh janji dari kegelapan. "Ayolah sayang! Akhirnya aku menguasai tubuh ini lagi! Biarkan aku melanjutkan yang tadi pagi!"
"Tidak! Demi apapun! Tidak!" Seru Kiku frustrasi, mukanya yang memerah karena demam semakin bertambah merah karena bayangan kata 'melanjutkan'.
"Nak Kiku... Bagaimana kalau..."
"Sensei!" Kiku menggeleng penuh rasa tidak setuju atas apapun yang mungkin diusulkan oleh dokter ini. Intingnya bilang, ia akan 'habis' jika mendengarkan ide dari sang Psikiatri.
"Nak Garuda..."
"Diam, dokter sialan! Hari ini aku akan memilikinya! Aku akan mengklaimmu malam ini juga, Uke-ku!"
"Tidak! Kau tidak akan melakukan apapun Garuda-san!" teriak Kiku panik dan ketakutan.
"Oh! Kita lihat saja! Setelah aku berhasil mengeluarkanmu dari balik pintu ini... Aku akan *piiiip* *piiiip* *piiip* *piiiip* *piiiip*sampai kau memohon ampun! Dan aku tak akan mengampunimu sebelum kau pingsan di lenganku!"
IIIIIIIIIIIIIIIIIIAAAAAAAAAA! KIKOENAI! KIKOENAI! –Tidak dengar! Tidak dengar!
"Bagaimana kalau kita mulai dengan-..."
"Hentikan kata-kata gilamu itu, Garuda-san! Itu tak akan terjadi! Tidak akan!" teriak Kiku dengan nafas-nafas terakhirnya.
"Oh... itu akan terjadi... Tidakkah kau merasakannya? Aku semakin dekat..."
Hiiiiiyyyyy! Kami-sama! Tatsukette kure!
Entah mengapa, situasi ini membuat dr. Greef merasa jengkel dan sebal. Ia ingin sekali membuka pintu dan melemparkan Kiku keluar dari kamarnya sekarang juga demi menghentikan kegilaan dua muda-mudi yang bertengkar di pintu kamarnya.
Tapi dr. Greef urung melakukannya. Sepertinya itu sangat tidak manusiawi. Terutama setelah melihat wajah Kiku yang memelas.
"Sensei! Kau punya morfin atau dopamin atau obat penenang apapun untuknya?! Kumohon!"
"Bagaimana kalau kita bicara dengannya? Dengan tenang?"
"Iie! Arigatou! Aku pasti sudah habis di tangannya bahkan sebelum kita mendapatkan sesuatu!" seru Kiku jengkel sembari terus menahan pintu yang sepertinya tidak akan bertahan lebih lama lagi.
-Kreeeeeeeeeeeek-
Oh tidak... Oh tidak... Oh tidak...
Kiku terdiam seribu bahasa saat mendengar suara itu dan saat mengetahui dari mana asal suara itu. Matanya kehilangan fokus dan otaknya berhenti bekerja. Dokter dan nyonya Greef tampaknya tidak terlalu peduli –dan bahkan tampaknya mendukung Garuda untuk melakukan apapun yang gadis (pemuda) itu inginkan. Tak ada yang membelanya, tak akan ada yang menyelamatkannya. Ia hanya bisa pasrah, hanya bisa berdoa sesuatu –mungkin keajaiban- akan datang dan menyelamatkannya sekarang juga dari situasi yang benar-benar membuatnya mati lemas ini.
Kiku benar-benar tidak takut jika ia disuruh mengganti pintu kamar yang tampaknya cukup mahal ini. Yang ia khawatirkan sekarang hanyalah keselamatan dirinya –jiwa dan raga, jika pintu ini rusak.
Garuda akan memilikkinya.
.
.
.
.
"Berhenti?" dr. Greef menanyakan apa yang ditanyakan oleh raut muka Kiku.
Kiku menggeleng tidak tahu, ia tidak mengerti apapun dan dirinya belum merasa aman dari predator yang menunggunya di luar sana.
"Biar aku cek..." ucap dr. Greef yang langsung membuat Kiku menggeleng keras.
"Nak Kiku?" dengus dr. Greef jengkel meminta Kiku untuk minggir, tapi ia tak mendapati respons positif. Kiku tetap di sana, menjaga pintu supaya tidak terbuka.
"Oh ayolah! Ini sudah cukup lama sejak dia berhenti! Minggirlah! Atau aku akan terang-terangan mendukung Garuda dan melemparkan Nak Kiku padanya?"
Segera Kiku menyingkir, berlari masuk cukup dalam ke dalam kamar dr. Greef, bersembunyi di dekat lemari dan membiarkan dr. Greef keluar untuk melihat keadaan.
.
"Dia pingsan..." ucap dr. Greef yang membuat Kiku menghela nafas lega.
Kiku merebahkan tubuhnya lemas di lantai. Pemuda itu berusaha menenangkan nafasnya yang tak teratur karena siksaan mental yang baru saja dialaminya. Ingin rasanya dia juga pingsan atas semua tekanan ini.
"Umnh?! Dia bergerak..." ucap dr. Greef lagi.
Kiku yang baru saja merasa tenang kembali panik dan berusaha keras untuk bangkit. Sayangnya, tubuhnya terasa sangat berat, seberat kepalanya. Kiku tak bisa lari kemanapun lagi. Tidak bisa. Kiku hanya bisa menatap ke arah Nesia penuh horor dan kepasrahan.
"Ugh..." desah gadis kecil itu semari mencoba untuk duduk.
"Kau tidak apa-apa?" tanya dr. Greef.
Gadis itu mengambil posisi duduk dan mengusap kepalanya seperti habis terantuk sesuatu. Kemudian ia menolehkan kepalanya ke segala arah untuk mencari seseorang, atau dalam hal ini mencari Kiku. Gadis itu langsung bangkit dan berjalan mendekati Kiku yang masih berusaha untuk bangkit dan kabur –namun terus menerus gagal.
Kiku masih berjuang dengan nafasnya saat tangan mungil Nesia membelai lembut pipinya, membuat si pemuda menahan nafasnya dan menutup matanya erat-erat.
"Kiku-sama tenang saja... 'Anak nakal' itu sudah saya kalahkan dan kurung... Kiku-sama... Akan baik-baik saja..." ucap Nesia lembut, dan sangat menenangkan seperti pelukan hangatnya yang kini menenangkan tubuh Kiku yang bergetar hebat, "Kiku-sama... tak perlu takut... saya akan melindungi Kiku-sama..."
Oh... Oh, Kami-sama... Oh! Ya ampun... Nesia no. 3-san...
Kiku menghela nafas lega. Melepaskan semua ketegangan dan ketakutannya. Dirinya balik memeluk Nesia. Berpegangan sangat erat pada tubuh mungil Nesia yang bagaikan sepotong kayu penyelamat di tengah lautan, seraya menenangkan hatinya.
"Dia nakal... Dia nakal... Saya tahu... Saya akan melindungi Kiku-sama darinya... Saya akan mengurungnya..." Nesia meninggalkan sebuah kecupan kecil di pucuk kepala Kiku sebelum pemuda itu kembali tak sadarkan diri.
*O*
"Tuan Greef! Tuan Greef! Kiku-sama sudah sadar!" ucap gadis per-ponitail itu riang sembari berlari keluar kamar.
Kiku yang baru saja kembali ke alam sadarnya hanya bisa mengerjapkan mata dan memijat lembut pangkal hidungnya. Kepalanya sangat-amat-teramat pusing. Ia tidak heran jika demamnya divonis semakin parah dan harus meninggalkan sekolah lagi. Kiku menghela nafas lelah. Ia tak mau meninggalkan sekolah terlalu lama. Ia bisa-bisa ditinggal oleh teman-temannya yang sangat pintar dan harus mengejar mereka sampai terengah-engah.
Kiku tak suka dirinya tertinggal.
"Nak Kiku..." panggil dr. Greef dengan suaranya yang rendah dan datar.
"Ini... Hari apa?"
"Aku yakin ini masih Selasa..." ucapnya kalem sembari menarik kursi untuk duduk di samping tempat tidur Kiku.
"Apakah Kiku-sama butuh sesuatu? Saya akan dengan senang hati membawakannya..." ucap Nesia no. 3 dengan senyuman yang sangat manis.
"Tidak... tidak perlu... Terimakasih... Umnh... Dan terimakasih juga sudah menyelamatkanku..."
"Tidak apa-apa... melindungi Kiku-sama sudah menjadi kewajiban saya... Untuk itulah saya ada di sini..."
"Uh... Ya..." ucap Kiku agak risih, bukan risih pada Nesia, tapi pada tambahan '–sama' yang ia berikan.
"Sekarang..." Nesia no. 3 menyentuh tangan Kiku dan menggenggamnya, "Saya pamit dulu..."
"Eh?" dr. Greef dan Kiku tersentak kaget.
Pamit? Kemana?
"Nesia ingin bicara dengan Kiku-sama... Saya akan mengurus Anak Nakal dulu... Oke?" ucapnya dalam intonasi yang ceria dan menyenangkan, selanjutnya ia terdiam dan mengambil nafas.
.
.
"Itu... Sangat... Absurd!" seru gadis itu setelahnya.
Kiku dan dr. Greef bertukar pandangan. Tidak yakin siapa Nesia yang dimaksud oleh Nesia no. 3. Juga dari cara mereka berpindah tempat yang sangat...
Tidak disadari.
Lihat cara mereka berpindah tempat sekarang! Tidak akan ada yang tahu lagi sekarang bahwa mereka memiliki yang disebut Alter Ego. Tidak ada lagi jatuh pingsan saat bertukar tempat. Sesuatu yang bagus memang. Tapi bagi Kiku itu adalah kenyataan yang menakutkan.
Ia tidak akan tahu kapan Garuda akan muncul.
Oh, Tapi Nesia no. 3 sudah meyakinkannya bahwa Garuda aman bersamanya. Mungkin Kiku tak perlu sepanik itu.
Kiku mengamati 'Nesia' yang sekarang tengah menguasai tubuh 'Nesia'. Muka gadis itu merona malu ketika bertemu mata dengannya. Gadis itu menggigit bagian bawah bibirnya dan menunduk, sedangkan Kiku mengerutkan keningnya bingung.
"Aku... Minta maaf..."
"Sumimasen?"
"Er... Aku minta maaf... Sepertinya... selama ini... yang salah adalah aku..." Ucap Nesia malu-malu, namun ia segera mengoreksi, "Maksudku... Bukan aku... Ya... Memang aku... Tapi itu aku yang lain yang aku tidak kenal dan tidak aku harapkan..."
Ah... Kore wa Nesia no. 1 –san desu...
"Apakah dia yang membuat kita selalu... er... salah paham?" tanya Nesia no. 1 lagi.
"Ya..." ujar Kiku datar, tidak mau mengingat-ingat.
"Oh... Oke... Senpai mau dia dicincang atau dibakar?" tanya Nesia no. 1 dengan alis yang berkedut.
"Nak Nesia..."
"Um? Oh... Ya? Ada apa?" tanya Nesia kaget menyadari kehadiran dr. Greef.
"Pertama... Aku ingin mengoreksi kalimatmu tadi pagi... Aku bukan dokter umum... Aku Psikiatri yang selama ini memberikan saran pada Nak Kiku tentang keadaanmu..." ucap dr. Greef secara profesional sembari menjabat tangan Nesia, "Maaf aku tak ada di sana saat masa-masa tersulitmu..."
"Yah... itu sudah berlalu lagipula...?" Jawab Nesia tidak yakin, ia tidak mengerti apapun.
"Boleh aku bertanya padamu? Bagaimana caranya Nak Nesia..." dr. Greef berhenti, mencari kata yang pas, "bertukar dengan Alter lainmu?"
"Maksud anda?"
"Seperti tadi Nesia no. 3 dan dirimu... ia bilang tadi kau ingin bicara..." jelas dr. Greef.
"O-oh... itu... Aku memintanya... Umnh... Aku... tidak tahu... Tapi setelah tadi malam..." Nesia berhenti dan mukanya berubah memerah, "Yah... Tadi malam aku seperti 'menggedor-gedor pintu tetangga' untuk mencari bantuan karena aku tidak bisa mengatasi 'masalah' sendiri..."
"Masalah?" tanya Kiku.
"B-bu-bukan apa-apa..." Potong Nesia. Ia tentunya tak mau menjelaskan tentang kejadian memandikan senpainya itu ataupun mouth-to-mouth-dramatical-medicine-things, "Eh... Pokoknya aku ingin keluar dan meminta izin pada yang sedang menguasaiku... dan kalau urusannya selesai... ia memberikan giliran padaku... Yah... Meskipun Anak Nakal tak seperti itu..."
"Anak Nakal?" tanya dr. Greef heran.
"Ya... Anak Nakal... Si Pervert... Yang tadi mengejar-ngejar senpai... Uh... Garuda..." jelas Nesia.
"Dari mana kau tahu dia 'Anak Nakal', Nesia?"
"Oh... semuanya menyebutnya demikian... dia memang nakal... Dan dia berbuat sesuatu yang menyebabkan kesalahpahaman antara aku dan senpai..."
Kiku mendengus sebal.
Anak Nakal? Apakah kalian tidak berlebihan menyanjungnya? Maksudku, Garuda-san adalah monster!
Kiku tidak habis pikir atas sebutan 'Anak Nakal' itu. Garuda memang sesuatu, bahkan alter lainnya memanggilnya dengan sebutan anak nakal. Kiku jadi penasaran, seberapa nakalnya Garuda dan apa yang membuat Garuda bisa muncul? Trauma macam apa sehingga Garuda eksis?
"Jadi... Nak Nesia ikut-ikutan menyebutnya anak nakal?"
"Dia memang nakal, bukan?" Nesia berbalik tanya.
Tottemo... –Sangat...
Kiku memutar bola matanya dan kembali mendengus sebal ke arah dr. Greef. Menyetujui kalimat Nesia yang tidak perlu ditanyakan lagi oleh dr. Greef.
"Lalu... Bagaimana caranya si 'Anak Nakal' atau... Garuda ini keluar?"
"Merebut paksa... Seperti yang terjadi padaku saat pulang tadi..." ucap Nesia, "Pokoknya Senpai harus hati-hati... Garuda sangat terobsesi pada senpai... Super-duper terobsesi..."
-gleeeek-
Kiku menelan ludah. Ia tahu pasti tentang keinginan nista Garuda, tapi ia tidak tahu bahwa itu sudah sangat parah sehingga menjadi sebuah obsesi.
Apakah kabar ini bisa lebih buruk lagi?
"Dan semakin kemari Anak Nakal semakin tidak terkendali karena senpai selalu di sekitarku... Apalagi ia selalu bisa merebut paksa kesadaran siapapun... Umnh..."
Y-yang benar saja? Ada apa dengan dunia ini?!
"Nak Nesia?" ucap dr. Greef sembari menyentuh Nesia yang terdiam.
.
.
"Nak Nesia?"
"U-uh Huh? Ya?" tanya Nesia seperti orang yang baru sadar dari melamun.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya... Tidak apa-apa... Hanya Anak Nakal ingin merebut tempatku lagi..." ucap Nesia, "Ini giliranku, Garuda!" bentaknya dengan suara lirih pada –Kiku tebak- Alter gila di dalam dirinya.
.
"T-tapi... umnh... Nesia no. 3 bilang bahwa ia akan menjaganya..." ucap Kiku.
"Ya... Kita akan menjaganya... menjauhkannya dari senpai... Karena tubuh ini juga milik kita..."
"Aku senang kau paham akan hal itu..." ucap Kiku lega.
"Y-yah... Maaf..." ucap Nesia down.
"Apakah Nesia punya sesuatu untuk disampaikan?"
Nesia terlihat menyembunyikan kekagetannya, namun Kiku yang terbaring dan melihat Nesia dari bawah mengetahuinya. Ada sesuatu yang disimpan oleh Nesia. Sesuatu yang, bisa dikatakan, membuat perangainya sungguh berubah.
Kiku yakin ini bukan hanya perasaannya. Tapi karakter Nesia no. 1 memang beubah. Seperti... –menjadi lebih pintar?
"Kalau begitu... Aku akan ada di kamarku... Kalau Nak Kiku dan Nak Nesia butuh bantuan..." ucap dr. Greef sembari menatap Kiku dan memberikannya sinyal dengan menaikkan kedua alisnya.
Kiku mengerti maksud dr. Greef. Sang dokter menyerahkan urusan ini kembali padanya, kepada satu-satunya orang yang dipercayai oleh Nesia.
.
.
"Nesia-san... Kau tahu... Kau selalu bisa bercerita padaku... mungkin aku tidak ada sangkut pautnya... Tapi..."
Nesia menggeleng, menghentikan perkataan Kiku, "Tidak senpai... Kau ada sangkut pautnya... Karena kau hadir di sini dan... Kau yang membuat keseimbangan kami... terutama aku... runtuh..."
"O-oh... Umnh... Aku akan bertanggung jawab..." ucap Kiku menyesal.
"Aku harap demikian... Tapi aku tak akan mengatakannya sekarang..."
"Naze desu ka?" tanya Kiku pelan.
"Senpai sakit..."
"K-kinishinaide kudasai..." –tolong jangan diresahkan...
"Tidak... senpai sakit..." ucap Nesia lagi sebari mengerutkan keningnya, mencoba memberikan sebuah sinyal yang membuat Kiku menyerah.
"Baiklah..." desah Kiku.
"Bagus..." ucap Nesia sembari tersenyum ramah. "Istirahat... Senpai..."
A/N:
Author: Oke... Langsung bales review... First, FISIKA-san, syukurlah kalau mudah dimengerti :D Aku agak bingung kemarin soalnya ceritaku kayaknya bertema cukup berat (?) Dan, jadi suami-istri beneran nggak ya? =.=a
Kiku: jadi... jadi... jadi... jadi... *ngarep
Author: Yah, itu cerita lain... Nanti mungkin... Kedua, Brownchoco-san, Terimakasih PM-nya, dan terimakasih untuk penilaiannya :D Maaf dibales lewat sini =.=a aku tidak tahu ada masalah apa dengan PM-ku yang nggak bisa dibuka (Author baca review & PM lewat e-mail nih...) :D
Neth: Itu tergantung amal dan ibadah...
Author: Maksudmu?!
Neth: Lanjut –thor! Irit waktu!
Author: AH, lu aja yang pelit! Masih marah lu, Nesia aku buat kencan bareng Malay?
Neth & Kiku: MASIH!
Author: Oke Next... BlackAzure29-san, I-iya... Honda Nesia itu... Aku juga kaget kok bunyi-bunyinya enak gimana gitu...
Kiku: Tanda-tanda cocok... Yes... *senyum2aneh
Nesia: ? Kau sedang apa di pojokan Kiku?
Author: Terimakasih juga untuk penilaiannya :D Dan maaf FF ini terlalu panjang... =.=a aku nggak sadar sepanjang ini...
Neth: Cepetan di ending-in!
Author: Aku berusaha! Oke?! Dan request Kiku nyanyi...
Kiku: E-eh? W-watashi?
Author: *angguk2* Ini sulit... Tapi suaranya memang bagus... Tidak... itu kan milik seiyuu-nya... Ah! Setidaknya nyanyikan selamat ulang tahun untuk Nesia!
Kiku: E-etto... Ano... S-so-sore wa... Iie desu! Hatsukashii desu! –Aku malu! *Kabur*
Nesia: Yaaaaaaah...
Author: Dia cowok bukan sih? Oh ya sudahlah... Aku tambahin saja di skrip... *evilgrin* Next... Ramagrochowska-san, salam kenal balik :D Ups, iya... di situ ada typo... Terimakasih udah ngingetin :D Kapan-kapan saya benerin deh...
Neth: Kapan-kapannya itu kapan?
Author: Hahaha... Berisik! *sumpelNeth* Pokoknya... Selamat menikmati cerita yang tidak jelas endingnya ini... ""OTL
Kiku: ending-nya jelas kok... jelas... *senyum2darijauh
Nesia: Dasar orang aneh...
Author: Next... xxx-san, Serius... itu di chapie 21 udah kencan, digangguin terus malah :D Nggak kok... Saya bahasa Jepang juga masih belajar *wink
Kiku: Author-san wa mada mada desu... –Author masih belum apa-apa...
Author: Iya... oke Kiku... =.=a Awas kau... Kubikin skandal baru tahu rasa! Next, Guest-san (yang mungkin Chrysantemum1412-san) Ini, Nesia no. 3 sudah muncul :D Aku nggak akan naikin rating kok... tetep di T+ aja... Cuma nyenggol2 buat guyon... *wink* Kemudian... ravenilu597-san, yang dikangenin oleh Author... :D :D Hehe...
Neth: Dasar orang aneh...
Author: Setidaknya aku 'orang'... Dan... Iya... itu... unh... gimana ya njelasinnya... Sebenarnya bisa di-ending-in yang pendek... Cuma takut endingnya nggak bagus dan memuaskan... Habisnya... Kalau cerita seperti ini kan biasanya ada bongkar-bongkaran masa kelam (?)... Happy endingnya itu... pokoknya sih, rencananya akhir tahun cerita ini harus sudah selesai... Rencananya sih... Dan, Terimakasih atas reviewnya ya :D
Author: Kemudian selanjutnya Azukihazzle-san, yang juga dikangenin Author :D
Neth: *bergumamsesuatu*
Author: *abaikan* Berapa chapter ya... *garukkepala* tidak masalah lah... :D :D tapi reviewnya selalu ditunggu loh :D Iya ini mau cepet-cepet bangun klimaks supaya cepet-cepet rampung... Tapi bingung juga mau dibawa kemana kalau cepetan gini...
Kiku: Makannya... tidak perlu cepat-cepat, Author-san...
Author: Kemudian VS-125.313-san, Salam kenal juga! :D :D anda super sekali membacanya... Oh ya, terimakasih juga atas penilaiannya :D semoga pas membaca bisa dinikmati dan tidak kesulitan ataupun kebingungan karena skill Author masih rendah, apalagi di deskripsi, makannya baru kerasa di chapter 15, padahal sudah berusaha dari awal chapter... #mojok
Neth: Kau sudah berusaha dari awal?
Author: #cleeeeeeeeeeeeeeb *mencoba abaikan* S-selanjutnya... kokuri. kasane-san... Salam kenal ya, dan ya... Itu memang ada kata-kata G3A...
Nesia: Sudah kuduga...
Author: Soalnya kalau G3A itu dimasukin ke genre Romance... Itu cukup Sweet...
Kiku: *tersipu
Nesia: DARI MANANYA?! ITU JELAS-JELAS SEMANGAT IMPERIALISME!
Author: Tapi di satu titik itu adalah 'semangat memiliki'mu...
Nesia: Uh-huh! Tidak! Aku sudah bebas sekarang! Ini tahun yang ke 69!
Author: Tahunnya sesuatu deh...
Nesia: DIAM!
Author: Iya... Iya... Terus... Reos-san... etto... terimakasih :D Duh, tapi masih bisa nafas kan?
Neth: FF-mu membunuh orang –thor...
Author: Mana ada?! *jitakNeth* Terus... Kuro-san...
*sunyisenyap*
Kiku: Etto... Ini sepertinya Kuro-san yang lain...
Nesia: Hahaha... Iya... pasti begitu...
Author: Kuro-san, terimakasih reviewnya :D :D Iya, FF ini memang mau 'menggali' Kiku... sekaligus menistakannya...
Kiku: *bersin
Author: Kenapa sama Malon? =.=a Hmm... Kenapa ya? Soalnya yang ada si Malon... :D
Neth: Kenapa bukan aku... kenapa bukan aku saja seperti kata Kuro? *puntung
Author: Alya-san, terimakasih buat reviewnya :D Wanita itu... Adalah...
.
.
Author: Ya... ikutin saja ya, Alya-san :D Oke... Segini dulu... Ini mungkin acara balas review terpanjang yang pernah Author lakukan... Semoga nggak lebih panjang daripada ceritanya... Amin :D
Mohon kritik saran dan reviewnya lagi yaaaaaa :D
Terimakasih semuanya :D
PS: maaf updet lama, lagi jadi panitia ospsek niiih... m(_ _)m
