Naruto senang hujan. Karena hujan, ia bisa duduk manis dirumah. Tanpa harus buru-buru ke kantor. Ia bisa merasakan coklat panas sang istri, ah..jangan lupakan pelukannya juga.

Naruto suka sekali bermanja-manja dengan sang istri. Duduk dipelukkannya, atau saling berkecup mesra. Apapun itu, jika datangnya dari sang istri akan Naruto sukai. Terlebih saat sang istri merajuk, seperti saat ini.

Wajahnya merah padam, tak lupa gumaman kasar dari bibir ranumnya. Ih...gemas rasanya Naruto. Ingin-hehe, aku rasa yang ini tak perlu diteruskan.

"Aih..kenapa juga harus hujan? Kan bungaku bisa rusak." Hinata benar-benar benci hujan saat ini.

Naruto menyeruput coklat panas, selagi ekor matanya mengikuti langkah tergesa-tergesa sang istri. Hinata mendesah kecewa, dirasa hujan tak mungkin reda dengan waktu yang cepat.

"Aish!"

"Daripada mendumal disana mengharapkan hal hampa, lebih baik duduk disini. Hangat." rayu Naruto. Walau tanpa menoleh, dapat ia rasakan jika pipi sang suami tertarik kebelakang.

Hinata mendengus. "Aku merasakan hawa rayuan basi disini."

Terdengar tawa dari bibir manis sang pemuda. Membuat Hinata semakin melipat wajahnya.

"Aigoo..kejam sekali ucapanmu, Istriku. Duduklah. Apa kau tidak lelah berdiri disana? Hanya memandang air turun dari langit." Naruto menepuk kursi di sampingnya.

Hinata sebenarnya malas untuk mengakui ini, tapi mau bagaimana lagi. Ia lelah. Ia juga bosan hanya berdiri didekat jendela. Dengan segan, ia hampiri sang suami yang asik menatap acara pagi ini. Entah kenapa jantungnya serasa bertalu-talu jika bersama sang suami. Sejak hari itu, dimana ia jadi milik Naruto seorang. Ia rasa ada yang tak beres dengan jantungnya.

"Kenapa? Kau gugup? Duduklah dengan santai."

Hinata tersentak mendengar penuturan sang suami. Bagaimana caranya pemuda itu tahu?

Ia sandarkan punggungnya pada sandaran kursi, selagi matanya menikmati tontonan manis di benda berlayar 34 inchi tersebut. Berbanding Naruto, ia begitu menyukai segala hal dari hujan, dan dari istrinya. Seperti ini.

Naruto segera merangkul sang gadis, membuat gadis itu melotot padanya. Naruto hanya menanggapinya dengan senyuman. Hinata mendesah tertahan. Astaga! Jantungnya semakin tak bisa diajak bekerja sama!

Naruto usap lengan atas Hinata. Matanya masih fokus pada layar dihadapannya. Sedangkan, si gadis bersusah payah menahan hasratnya. Ingat ia masih dalan keadaan merajuk.

"Kau tak berangkat kerja, Naruto-kun?"

"Tidak. Diluar hujan."

Hinata mendelik terkejut, "Hanya karena hujan kau membolos? Ya Tuhan!"

Naruto berdecak. Aih..istrinya merusak suasana. "Iya. Kenapa? Diluar dingin, Hime-chan. Aku kan tak kuat dingin, kau sendiri tahu itu."

Kali ini dengusan yang keluar dari Hinata. "Pembual!"

"Apa kau bilang?"

"Pembual. Kenapa? Memang benar. Kau itu kuat. Sejak kapan juga kau tak tahan dingin? Setahuku kau bahkan senang tidur telanjang. Itu berarti kau tahan dingin. Bodoh."

Naruto melototkan matanya. Apa ia baru saja di panggil bodoh oleh istrinya sendiri? Ia tak terima.

"Hime-chan!" gadis itu balas menantang Naruto. Membuat lengkungan tajam terpeta disudut bibirnya. "Kau harus dapat hukuman dariku."

"Kenapa juga aku harus dihukum? Memangnya apa salahku?" serunya tak terima.

"Kau sudah mengataiku bodoh, dan lagi aku kedinginan, Sayang." Hinata memundurkan duduknya, menatap was-was sang suami. "Kenapa juga kau pakai baju seksi ini, Hime-chan? Mau menggodaku?"

Hinata merutuki kebodohannya yang salah mengambil baju tadi. Awalnya ia biasa saja, tapi saat ia tahu Naruto tidak bekerja, ia menyesal.

Segera saja pemuda itu raup bibir ranum sang istri. Memeluk pinggang Hinata, hingga si gadis terlentang diatas sofa. Naruto semakin semangat melihat kepasrahan sang istri.

Ia angkat tubuh itu membawanya kedalam surga mereka. Dan Naruto dapat kehangat yang ia cari.

Naruto senang hujan. Karena hujan, ia dapat kehangatan dari sang istri.

Fin.

cerita ini remake dari ceritaku berjudul "Cho Family—Hangat" dengan cast berbeda, sudah lengkap di wattpad.

Salam RaraZurie