Kiku memandangi sosis gurita di kotak bentounya. Sosis itu dipahatnya tersenyum, namun tidak demikian dengan hasilnya. Tampaknya benar apa kata orang tentang 'Seni adalah kata hati'. Ketika kau senang, maka hasil karyamu akan penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Sedangkan jika kau sedih...

Semuanya akan berakhir seperti sosis gurita yang tampaknya ketakutan akan dimakan seperti dua temannya barusan.

Padahal senyum pahitnya sudah membuat Kiku tak nafsu makan. Seharusnya ia berganti ekspresi menjadi tersenyum senang, mengejek atau apa, mengingat nafsu makan Kiku tampaknya tak akan kembali dalam waktu dekat.

"Hyuuung..." sapa Yong dengan senyuman penuh arti, "Bentounya... nganggur?"

Kiku menaikkan alisnya sebelum menangkap maksud Yong, "Mochiron... Douzo..." ucapnya sembari memberikan bentounya kepada Yong yang mulai meneteskan air liur.

"YEEEEEEEEEY!" seru Yong bersorak-sorai penuh gembira.

Oh... Maaf Sosis-san... Saudaraku yang akan memakanmu...

Kiku melihat sang tuan sosis semakin tersenyum kecut. Tapi Kiku tidak peduli, daripada sosis itu menjadi basi, lebih baik ia dimakan oleh sepupunya yang kelaparan setengah mati bagaikan belum makan selama setahun.

Padahal dua bungkus sandwich sudah ludes dilahap olehnya.

"Eh! Hyuuung..." panggil Yong lagi ketika Kiku membuka botol minuman teh hijaunya, "Ini apa?"

"Hmn?" Kiku mengernyitkan alisnya bingung.

.

To: Honda Kiku Senpai

From: Kau-tahu-siapa

Masing-masing dari kita punya tujuan... Dan keinginan... Ketika kami meraih dan mendapatkan keinginan kami... Maka jiwa kami akan terbebas...

.

"Er... Hyung... Kau tidak ikut klub 'spiritual'nya Arthur kan?" tanya Yong hati-hati pada Kiku yang masih menatap kertas notes itu dengan alis yang bertautan.


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


Kiku mendesah jengkel dalam hati.

From: Kau-tahu-siapa

Oh, demi kesaktian teman beralis unik yang duduk di sebelahnya; Arthur! Ini bukan film sekolah sihir, dan si pengirim notes ini bukan si penjahat utama, si you-know-who yang botak dan diindikasikan mancung ke dalam itu. Hidungnya, maksud Kiku.

Demi apapun, tidak! Nesia tidak botak, Kiku tahu itu. Rambut hitamnya panjang mengikal di bawah, bagaikan benang-benang sutra yang berkilauan di bawah terpaan sinar matahari. Dan hidungnya, walaupun tidak mancung-mancung amat, tapi Kiku yakin Nesia punya. Ada di sana, di atas mulut. Ada –dan berwujud pokoknya.

Kiku benar-benar tak bisa mengerti akan apa yang telah merasuki gadis itu sehingga menjaga jarak dengannya lagi. Sebulan full. Seperti belum puas menyiksa Kiku sebulan yang lalu.

Oh, sebulan yang lalu itu masih belum apa-apa. Mereka dipisahkan oleh dua tembok dan satu koridor –mereka di dua ruangan yang terpisah. Tapi kali ini, mereka berada di dalam satu kamar dan tidak ada pembahasan atau perbincangan yang tidak berguna sekalipun. Hanya Kiku yang menyapa dan hanya dibalas dengan anggukan kecil kemudian disusul dengan menghilang.

Begitu saja interaksi mereka di luar notes aneh 'From: Kau-tahu-siapa' ini. Yang kalau Kiku coba paksa bicarakan, gadis itu pasti langsung kabur, atau izin pergi, atau bersembunyi entah di mana hanya Tuhan dan Nesia sendiri yang tahu.

Intinya tidak mau membahas.

.

.

.

APA MASALAHNYA?! APA LAGI SALAHKU?!

Kiku menjerit-jerit gemas dalam hati sembari meremas-remas kertas notes itu, tapi tak sanggup ia robek. Setelah ia merasa lebih tenang, ia buka kembali si kertas dan menyelipkannya di dalam buku notesnya.

Sudah sebulan dan hanya ada sekitar 10 notes yang dikirim oleh kau-tahu-siapa, berisi tentang pesan singkat yang menggelikan dan membuat bingung setengah mati.

Oh, pertama kali Kiku mendapatkan pesan ini dan membacanya, ia kira ia mendapat pesan langsung dari Tuan V*ld*m*rt. Kiku akui bahwa dirinya memang memiliki jiwa yang gelap dan tidak mengherankan jika ia direkrut menjadi tangan kanan si penguasa kegelapan itu. Tapi sayangnya, isi dari pesannya bukan pemberitahuan perekrutan, permintaan curiculum vitae, skrip IPK atau ijazah yang diakui, ataupun paspor dan bukti visa sebagai tanda pengenal, melainkan;

Jangan dibalas! Semuanya mengawasi! Tunggu semuanya tidur dan aku akan menjelaskan semuanya padamu!

Kiku nyaris membuang pesan itu. Ia mengira ini adalah permainan baru dari Mei. Tapi apa untungnya buat Mei? Dan Mei juga hanya mengernyitkan alisnya kebingungan ketika Kiku meminta penjelasannya saat tengah malam menjelang pagi buta.

Hei, kertasnya bilang 'tunggu semuanya tidur' bukan?

Mei yang awalnya merasa jadi korban kejahilan Kiku tentu saja marah dan mengelak permainan yang keterlaluan ini. Namun setelah Kiku menjelaskan kertas notes dan masalah yang dialaminya –yang Mei tidak paham karena penjelasan absurd Kiku yang melompat-lompat tidak runtut, gadis Taiwan itu malah khawatir dan mengasihani karena berpikir bahwa Kiku sudah gila setelah dicampakkan oleh Nesia.

Ingin Kiku membalas Mei dengan, "Hei, aku tidak dicampakkan, oke? Dia pergi kencan dengan izin dan pengawasanku...", tapi tentu saja itu akan menuai pertanyaan baru dan pastinya akan membuang tenaganya. Lebih baik Mei berpikir bahwa Kiku dan Nesia tidak pernah jadian dan Razak yang menjadi kencannya waktu itu bukan urusan Kiku.

Kiku tidak berbohong. Memang tak pernah ada kata 'aku suka kau', ataupun 'I Love you', atau yang lebih panjang lagi 'Anata no subete koto ga daisuki desu'. Dan ia tak merasa jadian dengan Nesia.

Kecuali waktu malam itu, kira-kira dua bulan lalu, saat Nesia no. 2 bilang bahwa Kiku adalah segalanya bagi Nesia no.2.

Tapi apakah itu cukup untuk menjadi kata-kata 'jadian'? Tampaknya belum cukup. Kiku menyesal karena tidak bilang kata-kata yang lebih meyakinkan ataupun yang lebih 'berani'.

'Aishiteru' mungkin tidak begitu berlebihan, walaupun sebenarnya kata-kata itu hanya diucapkan oleh orang-orang yang telah terikat pernikahan.

Di negaranya.

Kiku tahu di negara Nesia –Indonesia, arti kata aishiteru tidak sedalam dan se-Cleeeeebbb itu. Kiku tak tahu kenapa, padahal aishiteru adalah kasta tertinggi dengan filosofi terdalam dibandingkan dengan 'koi' ataupun 'suki'.

.

.

Lalu, bagaimana Kiku tahu tentang si kau-tahu-siapa yang nyatanya Kiku-tidak-tahu-siapa itu? Begini isi pesan keduanya;

Aku bersyukur senpai mengerti dan tidak membalas pesanku yang pertama. Mereka semua masih terjaga. Masih mengawasiku (aku menulis pesan ini saat mereka lengah, semoga tidak ada yang sadar). Maaf aku harus mengabaikan senpai karena itulah yang aku janjikan pada mereka. Di sini sangat mengerikan. Mereka benar, seharusnya tidak ada yang mendekat padaku. Tapi aku tidak sependapat dengan mereka. Apa mereka gila?! Aku tak bisa menjauhi Razak!

Di sana. Di kalimat terakhir.

Ya, nama itu.

Nama itu membuat Kiku tidak mengerti harus bernafas lega karena kini tahu siapa pengirimnya dan ternyata Nesia tidak benar-benar mengabaikannya. Atau ia harus bernafas menghembuskan api amarah karena ada nama 'itu' yang tercantum?!

Tapi tentunya bukan itu yang menjadi perhatian khusus Kiku.

.

Y-yah, memang itu sih, tapi tidak selama dua hari.

.

Ya, oke anda semua menang. Memang selama dua hari. Tapi toh pada akhirnya Kiku mengerti apa yang menjadi fokus utama dari pesan Nesia itu.

Bahwa Nesia sedang berada di dalam pengawasan mutlak dari 'mereka' yang Kiku tidak yakin siapa. Tapi, yang membuat Kiku jengkel-sejengkel-jengkelnya-jengkel selain mengetahui nama Razak tertulis di situ adalah Nesia berjanji pada 'mereka' untuk mengabaikan Kiku.

Kenapa?! Kenapa coba? Kenapa harus dia yang diabaikan?! Tidak tahukah Nesia bahwa diabaikan itu sakit?

Tapi sepertinya Nesia tidak menyadarinya. Nesia tidak tahu bagaimana Kiku menatapnya penuh arti dari kejauhan. Diabaikan oleh Nesia itu sama seperti ditenggelamkan ke dasar kolam, dan notes-notes itu, notes-notes yang isinya tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan itu adalah satu-satunya Life-saver, kesempatan mengambil oksigen yang Kiku tidak tahu kapan mendapatkannya.

Kiku ingin sekali bertanya. Kenapa ia harus diabaikan? Kenapa seharusnya tidak ada yang mendekat pada Nesia? Kiku terus memikirkannya sampai notes ketiga yang datangnya berjeda cukup lama, namun hanya berisi;

Ina menyeramkan ya...

Alis Kiku berkedut jengkel saat membacanya. Dia sudah tahu Ina itu menyeramkan –bukan menyeramkan juga sih, hanya saja tidak banyak berpikir. Padahal ia sudah meluap-luap gembira, sudah senyum-senyum sepanjang hari saat mendapatkan lembaran berukuran 10x10 cm itu.

Hanya tiga kata yang tidak jelas itu yang keluar.

KUSO!

Tapi notes keempat tampaknya lebih baik. Ditulis dengan lebih banyak kata, walaupun masih membingungkan;

Senpai, aku tidak mengerti apa maksud mereka.

Yang Kiku balas dalam hati dengan dongkol dan penuh sarkasme.

Oh, aku lebih tidak mengerti daripada kau, Nesia-san... Apalagi dengan notes anehmu ini...

Dan begitulah seterusnya, sampai hari ini. Sampai teman-teman Germania berencana pulang. Sampai tiba saatnya liburan musim panas. Sampai OSIS merencanakan camp musim panas setelah test yang akan diadakan minggu depan.

Test minggu depan... Bagus!

*O*


"Hhhhhhhh..."

Kiku menghela nafas panjang –sangat panjang, dan mungkin ini adalah yang terpanjang di dalam hidupnya.

"Ini masih pagi dan kau menghela nafas sepanjang itu... Ada apa sebenarnya?" tanya Arthur keheranan menyadari sikap Kiku yang semakin hari semakin 'tidak bernyawa', "Kalau kau sakit sebaiknya istirahat saja di UKS... Aku akan bilang pada guru Olahraga kalau kau tidak enak badan..." ucapnya lagi sembari melepas dasi dan kemeja berlengan pendek seragam musim panas sekolahnya untuk digantikan dengan baju seragam olah raga.

"iie... Daijoubu desu..." ucap Kiku datar.

Bodohnya dia. Sampai-sampai membuat temannya khawatir. Masalah seperti ini seharusnya tidak boleh mempengaruhinya, apalagi sampai terlihat oleh orang lain. Apa kata dunia kalau ia sampai ketahuan menggalau seperti ini karena masalah perempuan?

"Hubungan cintamu tidak lancar, Kiku?! Biar HERO bantu!" teriak Alfred sembari menutup lokernya dan menghambur, merangkul pundak Kiku dengan sangat 'friendly'.

"A-alfred-san... Hountou ni daijoubu desu..." ucap Kiku yang sedikit kaget karena harus menyeimbangkan tubuhnya yang mendadak ditarik Alfred.

"Kiku! Kau terlalu tertutup! Ceritakan masalahmu kepada HERO dan semuanya akan selesai dalam hitungan detik!" seru pemuda penggemar hamburger itu dengan penuh percaya diri.

Jika benar seperti itu... Aku pasti cerita...

"Iie... Alfred-san..." Kiku mencoba untuk menyingkirkan lengan Alfred yang semakin mengekangnya.

"Lepaskan dia, git! Kau adalah masalahnya! Setidaknya itulah yang aku lihat sekarang!"

"Ih... Artie cemburu ya?"

"WHAT?!" teriak Arthur dengan muka merah padam.

"Oke deh... Aku lepas..." ucap Alfred sembari melepaskan Kiku dan beralih merangkul Arthur, "Kita ke lapangan bersama?"

Seketika itu juga Kiku melihat Alfred melayang keluar dari ruang ganti laki-laki –setelah menabrak dan membuka pintu ruangan karena depakan homerun seorang tsundere yang tengah megap-megap menenangkan detak jantung dan pernafasannya.

"Veeee~~! Arthur hebat sekali!" seru Feli kagum.

"Kurasa itu bukan sesuatu yang harus dikagumi..." gumam Ludwig sembari ber-sweatdrop-ria.

"Berisik!" seru Arthur sembari membanting pintu loker dan pergi meninggalkan ruang ganti laki-laki.

"Kau benar tidak apa-apa, Kiku?" tanya Ludwig pada Kiku yang sedang melepas dasinya, "Jangan paksakan dirimu..."

"Ludwig-san... Watashi wa hountou ni daijoubu desu... Benar-benar sehat dan tidak ada masalah..." ucap Kiku ramah tanpa berbalik untuk menatap Ludwig.

"Yah... Baguslah jika begitu..." Ludwig menepuk kepala Kiku dari belakang, "Kau tidak pernah mengatakan apapun tentang masalahmu..."

Umh...?

"Kita duluan ya..." ucap Ludwig sembari melepaskan tangannya.

"Kita tunggu di lapangan ya Kiku! Hari ini katanya kita mau main sepak bola, veee!" ucap Feli semangat sebelum pergi membuntuti Ludwig.

Sepak bola yah...

Bukan berarti Kiku tak menyukai sepak bola, hanya saja mood-nya tidak sedang mem-vote sepak bola yang butuh kerja sama tim untuk hari ini. Ia ingin sesuatu yang individual yang bisa mengeluarkan unek-unek di dalam kepalanya seperti lari Marathon atau lainnya.

Walaupun merasa semangatnya semakin berkurang karena agenda sepak bola itu, Kiku berusaha untuk mempercepat acara ganti bajunya karena teman-temannya yang lain mulai meninggalkan ruang ganti.

"Cepat Kiku! Kau yang terakhir! Nanti kau disuruh lari memutari lapangan, loh!" seru salah seorang temannya sebelum menutup pintu dan pergi meninggalkan ruang ganti.

Kiku yang sedang memakai sepatu olah raganya hanya bisa bergumam kecil untuk menjawab peringatan itu. Tidak masalah baginya jika harus dapat hukuman lari itu. Memang ia sedang membutuhkannya.

.

-Ckleeek... blaaam...-

"Nani? Wasure mono ka? –Apa? Ada yang ketinggalan?" tanya Kiku datar sembari menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang ganti, "H-he'?!"

Wajah Kiku memucat. Namun, sebelum ia spontan berteriak, tubuhnya keburu terbanting ke lantai karena dorongan keras dan mulutnya keburu dibekap oleh tangan kecil dari gadis yang sangat ia kenal.

"Ssssssssssssssssssssshhhhhhhhhh!" desis Nesia sembari menempelkan telunjuk di bibirnya untuk meminta Kiku agar diam tak bersuara.

Kiku tak memiliki pilihan lain. Tidak ada pikiran untuk membuat suara sama sekali kecuali sedikit rintihan untuk kepalanya yang sakit karena barusan terantuk cukup keras. Lagipula mulutnya ditutup dengan erat oleh sang gadis yang datang entah dari mana Kiku tidak tahu.

"Senpai, jangan panik! Semuanya baik-baik saja!" ucap Nesia mencoba menenangkan Kiku.

K-kore wa... Nesia no.1-san ka?

Kiku hanya bisa menatap Nesia yang kini ada di atasnya, menahan tubuhnya dan membekap mulutnya dengan pandangan keheranan. Ia tidak yakin semua ini akan baik-baik saja.

Oh, ayolah! Kepalanya baru saja terantuk begitu keras. Siapa tahu ia mengalami suatu gangguan atau sedikit amnesia?

Dan apakah Nesia sadar dimana mereka sekarang ini?!

\(^O^\) RUANG GANTI LAKI-LAKI (/^O^)/

.

Kiku mendengus tak percaya. Gadis macam apa Nesia ini? Berani-beraninya masuk ke dalam ruang ganti laki-laki? Apa yang ia lakukan di sini!? Sekarang?!

Apa yang sebenarnya ada di dalam otak cantik Nesia itu?!

"Senpai... Ini waktunya!"

Huh!? Waktu untuk apa?

"Tapi aku tidak yakin di sini aman..." ucap sang gadis sembari menoleh ke sekitarnya.

Ya, itu benar sekali Nesia-san... Dan boleh kutambahkan lagi? Posisi kita juga sangat tidak aman sekarang!

Kiku hanya menatap pasrah pada Nesia yang masih mengambang di atasnya, membekapnya dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Berhenti memegangi kepalanya yang sakit, salah satu tangannya menyingkirkan tangan Nesia agar ia bisa mengeluarkan pendapat.

"Nesia-san... Ini Ruang ganti laki-laki! Nesia-san tidak seharusnya di sini!" tegur Kiku dengan tegas.

"Aku tahu! Tapi kesempatan itu jarang datang!"

"Kesempatan apa?!" tanya Kiku.

"Oooi! Kiku! Kau masih di dalam?! Cepatlah! Pak guru memberikanmu waktu 5 menit lagi... kalau tidak kau harus memutari lapangan 2 kali lipat... Itu berarti 40 putaran..." seru sebuah suara dari luar ruangan, "Kiku?!"

-Ckleeeek...-

.

.

"Tidak ada?"

"Mungkin ia benar tidak enak badan dan pergi ke UKS..." ucap teman yang datang bersamanya.

"Oh... Ya sudah... Memang hari ini ia kelihatan pucat..."

-Blaam...-

*O*


Seharusnya sunyi.

Tapi telinga Kiku benar-benar sakit karena suara gedoran maksimum yang berasal dari jantungnya sendiri. Apalagi kedua tangannya tidak sedang bebas untuk menutupi telinganya, menahan dan meredam suara itu agar mereda. Tidak bisa. Bahkan untuk menutupi mukanya yang memerah, panas dan mendidih. Tangannya kini tengah memiliki sebuah tugas yang sangat penting; menahan tubuh Nesia agar diam.

Jika tadi Nesia yang terus-menerus membekap mulut Kiku, kini gilirannya untuk mencegah Nesia dari berteriak setelah ia seret masuk ke dalam salah satu kamar mandi di ruang ganti laki-laki dan menahannya agar tidak bergerak.

Kiku terus berusaha untuk tidak berpikir. Ia mencoba menahan dirinya dan mengosongkan semua isi otaknya.

Namun itu percuma karena logikanya terus menerus berteriak menghardik dirinya sendiri.

Apa yang kau lakukan berdua dengan Nesia di dekapanmu di dalam kamar mandi paling pojok pula?!

.

.

"Unh!" Nesia yang menebak bahwa teman-teman Kiku telah pergi mulai mencoba melepaskan diri.

Sayangnya kekangan Kiku sangat kuat dan membuatnya tak bisa berbuat banyak kecuali mengaduh. Tapi Nesia tak putus asa, ia mencoba untuk meraih keran shower agar air dingin bisa mengalir dan mungkin saja menyadarkan senpainya yang sudah berbuat cukup gila ini.

"Ugokanaide... –jangan bergerak..." ucap Kiku dengan suara rendah yang membuat Nesia urung meraih keran dan mulai ketakutan, terlebih ketika ia merasakan tubuhnya diseret ke bawah untuk duduk di lantai keramik kamar mandi yang untungnya masih kering karena belum digunakan.

Nesia benar-benar ketakutan sekarang. Pasalnya tak ada kesempatan lagi untuknya kabur. Ia sudah mencoba berkali-kali untuk melepas kekangan yang membelitnya, namun semakin mencoba, semakin ia terbelit lebih kencang. Kedua tangan Kiku menahannya dengan kuat, satu membekap mulutnya dan yang lain melingkari perutnya, menariknya ke belakang dan menahannya agar tidak kemana-mana. Nesia pun telah berjuang menendang-nendang dengan kakinya yang bebas, namun hanya untuk mendapatkan kekangan lain dari kaki-kaki jenjang milik Kiku.

"Nnnn!" erang Nesia sembari terus memberontak tanpa kenal menyerah sampai sebuah ancaman terbisikan di telinganya.

"Damatte kudasai... Nesia-san... –Tolong diamlah-..." ucap Kiku dengan intonasi yang sangat gelap, meninggalkan Nesia dalam keadaan speechless dan bergetar ketakutan walaupun gadis itu tak tahu pasti apa artinya.

.

.

Kuso! Kuso! Kuso! Kuso! Kuso!

Kiku sudah tak tahu lagi berapa kali ia mengumpat. Ia tidak pernah mengumpat sebanyak hari ini –ia bahkan sangat jarang mengumpat. Hanya saja ia tak tahan lagi untuk tidak mengumpat dirinya sendiri. Semuanya diluar rencananya. Semuanya menjengkelkan. Semuanya membuatnya gila. Semuanya! Kiku tidak punya pikiran lain selain terus mengutuki keadaan ini.

Hanya satu yang membuat dirinya merasa lebih baik; semakin mengeratkan dekapannya pada Nesia.

Tapi itulah yang jadi masalah sekarang ini! Ia mendekapnya!

Aku harus melepaskannya! Honda Kiku! Kau harus melepaskannya! Sekarang!

Akan tetapi, walaupun logikanya telah berteriak-teriak sampai serak menyuruh Kiku untuk melepaskan Nesia, tubuh Kiku tak jua menurut.

Iie desu...

Kiku tak bisa melepaskan gadis yang tengah ia rengkuh kini. Instingnya bilang bahwa ia akan kehilangan Nesia jika ia berani melepaskan dekapannya ini.

Iie desu...

Nesia akan menghilang jika ia berani melepaskan pelukannya ini dan itu adalah kejadian yang buruknya sejajar dengan akhir dunia.

Hal paling terakhir yang Kiku inginkan –bahkan tak akan ia tuliskan dalam list keinginannya meskipun dia diancam.

Sonna mono... Iie desu...

Logikanya yang telah kehabisan suara akhirnya menyerah. Ia tahu ia tak akan bisa menang melawan rasa rindu yang akhirnya meluap dan membuncah tumpah tak terbendung lagi untuk saat ini. Akhirnya, setelah hari-hari yang menyakitkan itu, detik ini Nesia berada di dalam dekapannya. Akhirnya, setelah helaan nafas lelah dan frustrasi selama sebulan, detik ini Kiku bisa menghela nafas lega. Akhirnya, setelah khawatir dan resah tanpa dasar yang jelas, Kiku bisa merasa damai dan nyaman kembali dengan Nesia sebagai jawabannya. Semua masalah yang berkecamuk di otak Kiku; tentang pelajaran, tentang masalah pribadi, tentang ambisi, tentang masa lalu Nesia yang membuat frustrasi dan 'Only-God-knows', tentang Alter utama Nesia yang tidak jelas, tentang apa yang seharusnya ia lakukan sekarang, tentang semua kerusuhan yang terjadi tampak membening dan menjelas.

Ini sesuatu yang sederhana. Kebahagiaan manis yang sederhana yang membuat perasaan Kiku mengembang. Tidak perlu penjelasan.

Saat memeluk Nesia seperti ini, rasanya ia tak membutuhkan hal lain lagi. Rasanya seperti ia baru saja dibukakan sebuah jalan yang terang untuk keluar dari sebuah hutan gelap, terkutuk dan diembel-embeli nama 'Kematian'. Rasanya seperti Nesia tengah mentransfer energi masuk ke dalam dirinya yang 'kehausan' akan energi –atau ia menyedot energi Nesia? Kiku tidak peduli. Ia hanya ingin lebih merasakan kehangatan dan kelembutan kohai mungilnya ini dan terbenam selamanya di dalamnya.

Melepaskan?

Bahkan sekarang logikanya mendukung untuk lebih mengeratkan dekapan lengannya.

.

.

"Senpaiii! Lepaskan aku!" teriak Nesia saat tangan Kiku melepaskan mulutnya dan beralih melingkari pundaknya, menarik tubuh Nesia untuk bersandar di dada Kiku.

Tangan Nesia mencoba untuk melepaskan belitan itu, namun tangan Kiku bergeming di tempatnya, menjaga Nesia dari 'menghilang'. Saat Nesia merasakan sesuatu menempel di pundaknya dan mencoba untuk mencari aroma tubuhnya ia berjengit kecil dan langsung berusaha untuk menahan kepala senpainya yang terus menyusup ke pangkal lehernya.

"Senpai!" jerit Nesia saat merasakan hidung dan bibir Kiku menempel pada kulit lehernya.

"Ugokana! –Diam!" Kiku memberikan peringatan.

Nesia terdiam, ketakutan. Ia hanya bisa menutup matanya erat-erat dan menahan perasaan aneh yang menyerang dirinya. Dalam diam itu ia bisa merasakan di punggungnya, degupan jantung Kiku yang berpacu cepat, secepat miliknya, begitu pula dengan nafas berat Kiku yang kini menggelitik bagian belakang telinganya.

Saat Kiku menarik kakinya sendiri, yang membuat Nesia terpaksa menarik kakinya juga, sehingga tertekuk di depan dadanya, Nesia tahu keadaan akan semakin gawat. Sekarang ia benar-benar tidak bisa bergerak dan berbuat macam-macam dengan tubuh Kiku yang membungkusnya erat, dengan kedua tangan senpainya yang melingkari tubuhnya sempurna dan kaki-kaki di kedua sisi tubuh Nesia yang memagari gadis itu dalam areanya. Nesia hanya bisa melakukan hal terakhir yang paling mudah untuk dilakukan walaupun sebenarnya sangat sulit; berteriak meminta untuk dilepaskan, yang tampaknya tidak terlalu mengganggu Kiku.

Senpainya itu malah tersenyum kecil seakan menikmati suara yang dikeluarkan oleh Nesia, meskipun itu sebuah umpatan yang sangat jahat.

"Hiiiy! Lepaskan aku! Pervert! Lepaskan!" teriak Nesia lagi yang mendapatkan balasan sebuah tawa kecil dari sang pengekangnya, "Jangan tertawa! Sialan!"

"Nesia-san..." bisik Kiku di belakang telinganya yang membuat seluruh tubuh Nesia meremang.

"A... A-apa?!"

"Gomenasai..."

"H-huh?!"

"Bisakah kita bertahan seperti ini untuk sementara?" ucap Kiku memohon, suaranya yang lembut membuat Nesia tertegun.

"T-tentu saja tidak! Apa yang senpai pikirkan?!" seru Nesia lirih saat menyadari ia sudah memakan cukup banyak waktu hanya untuk menjawab.

"Ya... Benar... bodohnya aku..." bisik Kiku lirih, namun bukannya melepaskan, rengkuhannya malah semakin erat.

"S-senpai! Aku tidak bisa bernafas!" komplain Nesia kesakitan.

Meskipun Kiku memeluknya dengan lembut, namun jika sekencang ini tentu saja akan tetap sakit. Menyadari Nesia benar-benar tidak bisa bernafas, Kiku hanya melonggarkan sedikit pelukannya, namun tidak dengan kekangannya dan penjagaannya. Ia juga sama sekali tidak menurunkan suasana 'Kau milikku' yang sedari tadi melingkupi mereka.

"Warui... Umnh... Maaf..."

"Kalau senpai mau minta maaf... Setidaknya lepaskan dulu aku! Apa yang terjadi pada senpai?! Senpai mabuk ya?!" cecar Nesia sembari berusaha untuk melonggarkan sendiri.

"Ya... Sepertinya begitu..."

"Y-yang benar saja! Aku laporkan ke guru!"

"Tidak..." ucap Kiku sembari kembali membenamkan hidungnya dalam pangkal leher Nesia dan menghirup aromanya dalam-dalam, "Nanti Nesia-san disita..."

"H-huh? Disita?" seru Nesia kebingungan, "Senpai pasti sudah gila!"

"Un... Seikai desu... –benar..." ucap Kiku lirih yang membuat Nesia kehilangan kata-kata dan ketakutan.

Kiku tersenyum kecil saat merasakan Nesia menyerah untuk keluar dari penjaranya. Gadis itu tampaknya mulai berpikir untuk membiarkannya selama ia tak melakukan hal-hal aneh. Kiku tahu itu, dan ia sendiri tidak berencana untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat Nesia lari ketakutan dan menghilang. Pemuda itu hanya mengeratkan sedikit pelukannya saat ingatan pengabaian Nesia terputar kembali di kepalanya. Ditariknya kepalanya dari pundak sang gadis dan ia beralih ke puncak kepala yang bersurai lebih legam daripada miliknya, mengecupnya lembut, kemudian menaruh dagunya sehingga kepala Nesia tertarik ke belakang, menyender sepenuhnya pada leher Kiku.

"S-senpai..."

"Jadi... Ini waktu untuk apa?" tanya Kiku menyambung apa yang tadi terputus, "Kenapa ini begitu penting sampai Nesia-san berani masuk ke ruang ganti laki-laki?"

"U-uh... itu..." Nesia gugup menjawabnya, tentu saja, ia merasakan suara Kiku yang bergetar di kepalanya dan itu membuatnya agak... Nervous.

"Nesia-san tahu, masuk ke sini itu salah..."

"A-aku tahu..." gumam Nesia sebal, ia sudah merasakan sendiri trauma memasuki ruang ganti laki-laki, saat ini.

#QuotesOfTheDay: Bagi perempuan! Jangan sekali-kali masuk ke ruang ganti laki-laki! Oke?! –Nesia

"Jadi?"

"Umh... 'Mereka' tidak sedang mengawasiku sekarang... Jadi aku langsung mencari senpai..."

"Benarkah? Apa yang sedang 'mereka' lakukan, Nesia-san?"

"Yah... Tampaknya mereka kembali ke 'ruangan' mereka masing-masing... Mereka percaya aku sudah tidak perlu pengawasan..." ucap Nesia, "Tapi jika aku ribut seperti ini... Mereka pasti akan keluar..."

"Makannya... tenanglah..." ucap Kiku lembut.

Pemuda itu ingin sekali tertawa saat merasakan tubuh Nesia menegang dan tangan gadis itu mengepal. Ia tahu Nesia ingin menjitaknya atau apa karena yang membuat sang gadis sedari tadi 'ribut' adalah dirinya sendiri. Ya, mungkin ia memang pantas untuk mendapat jitakan itu.

Tapi tidak.

Kiku butuh balas dendam untuk kelakuan Nesia yang telah mengabaikannya selama sebulan. Dan balas dendam ini sungguh manis sampai-sampai tidak terpikirkan oleh Kiku untuk mengakhirinya. Syukurlah ia masih memiliki hampir satu jam untuk melakukan semua ini sebelum teman-temannya kembali dan merusak mimpi indahnya ini.

"Senpai sendiri! Jangan berbuat yang macam-macam!" dengus Nesia sebal.

"Aku hanya memeluk Nesia-san..."

"Kenapa?"

"Watashi wa..." Kiku mengambil jeda pendek, "Nesia-san ni akogarete... Nesia-san no inakute... sabishii..." –Aku mendambakan Nesia... Tanpa Nesia... Aku kesepian...

.

"Er?" Nesia mengernyitkan alisnya bingung, "Artinya?"

"Iie... Nandemo arimasen..."

"Artinya?"

"Bukan apa-apa..." jawab Kiku lagi, "Lalu? Sekarang Nesia-san sudah menemukanku... Apa yang ingin Nesia-san sampaikan?" tanya Kiku sebelum Nesia sempat komplain tentang penggunaan bahasa lain itu.

"Umnh... Apakah senpai... Akan menyerah?"

"Tentang?"

"T-tentang diriku yang lain... T-tentang aku... S-senpai tahu... dan sejak kemarin aku sudah peringatkan untuk menjauhiku bukan?"

"Tidak... Aku tidak menyerah..."

"Oh... Begitu..." ucap Nesia lirih, "Walaupun itu berarti terjun bersamaku ke dalam neraka?"

.

.

"Aku tidak pernah merencanakan untuk terjun bersama Nesia-san ke neraka... Itu perbuatan yang bodoh..."

"Uh..."

"Aku lebih suka untuk menarik Nesia-san ke tempat lain yang membuat Nesia-san nyaman dan bahagia..."

"Tapi... itu tidak mungkin... Jika... Jika Senpai tetap bersikeras untuk mengenalku maka..." Nesia menoleh ke belakang, mencari kepastian di iris monokrom Kiku.

"Maka aku memiliki kemungkinan lebih banyak untuk menarik Nesia-san keluar dari apa yang kau sebut dengan 'neraka' itu..." potong Kiku dengan suara lembutnya, "Bagikan padaku... Kita cari penyelesaiannya bersama... ya?"

"Umnh..." Nesia tersenyum kecil, "Senpai begitu baik dan optimis... ya?"

"Begitukah?" jawab Kiku pendek.

Optimis? Tidak.

Seluruh teman-temannya selama ini selalu menganggap bahwa dirinya sangat pesimis dan paranoid. Baru kali ini ada seseorang yang menyebutnya sebagai orang yang optimis. Mungkin ini karena Nesia. Mungkin karena Kiku ingin memberikan kekuatan untuk gadis yang tengah menatap plafon kamar mandi dalam diam, mencari-cari kata untuk dikeluarkan. Dia jadi orang optimis.

Tidak heran, mengingat ia berkali-kali tidak mengenali dirinya saat menghadapi Nesia.

.

"Senpai... Apa senpai tahu? Kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa kepribadianku ini tercipta?" tanya Nesia tanpa intonasi.

"Tidak... Tapi Nesia-san bukanlah sebuah kesalahan..."

"Ya... Aku tahu..." Nesia tertawa kecil pada tebakan Kiku yang salah namun sedetik kemudian tawa renyah itu berubah nada menjadi tawa yang aneh, "Senpai... Aku dibuat dengan tujuan 'hidup normal sebagai siswi Senior High'... Dan sekarang aku gagal untuk menjalankannya... Aku tidak seharusnya tahu akan personalitas-ku yang lain..."

"Umnh... Sou ka?"

"Sebelum ini... Kehidupanku –maksudku, kehidupan Alterku yang lain itu benar-benar kacau... Jadi mereka memutuskan untuk membuat sebuah kepribadian baru yang 'normal' dan tidak tahu tentang masa lalu kita... Sebuah kepribadian, atau menurut keinginan mereka, 'kehidupan baru' yang terpisah dari masa lalu... Mereka ingin aku memegang baton kehidupan seorang 'Nesia' ketika mereka semua perlahan-lahan melenyapkan diri dan menghilang... Membuat aku menjadi Alter dominan sampai aku benar-benar tak memiliki Alter lain..."

Nesia melemaskan tubuhnya dalam pelukan Kiku. Merasakan hangat dan nyamannya tubuh senpainya itu saat ia bercerita tentang 'mimpi buruk'-nya.

"Semuanya adalah salah senpai..." ucap Nesia sembari memejamkan mata, mencoba menahan emosinya yang meluap, "Kalau senpai tidak ada di sana waktu itu... Kalau Garuda tidak pernah bertemu senpai... Kalau senpai meninggalkan saja masalah ini dan tidak penasaran... kalau senpai membiarkan kita semua... Kalau senpai meninggalkan kita semua... Pasti... pasti..."

Kiku sedikit melonggarkan pelukannya karena merasa bersalah.

"Pasti akan lebih mudah bagi kita... Karena senpai tidak memberikan kita benih harapan..." Nesia tetap berusaha untuk berbicara walaupun suaranya bergetar.

"Nesia-san..."

"Ini semua... Gara-gara senpai... Kita semua jadi berani berharap!" seru Nesia penuh emosi.

Saat Nesia mengatakannya, ada sesuatu yang tesulut di dalam diri Kiku. Entah itu marah, kesal, jengkel, senang, takjub, Kiku tidak yakin yang mana. Satu yang pemuda itu pahami, bahwa ia sudah melakukan hal yang membuat keseimbangan dalam diri Nesia hancur dan tentunya ia harus bertanggung jawab membenahi semuanya dan itu bukan sekedar 'ada' dan menghapus air mata Nesia seperti sekarang ini.

Tapi dia juga memberikan sebuah harapan pada Nesia.

"Karena senpai ada di sini... Semuanya tidak mau menjalankan kesepakatan untuk menghilang... Dan semuanya kembali kacau..." ucap Nesia di sela isakannya.

Kiku kembali mengeratkan pelukannya, setidaknya ia memberikan kehangatan dan kenyamanan walaupun saat ini ia tidak mengerti harus berbuat apa.

Kore wa... Zenbu... watashi no sei... –Ini semua karena aku...

"Seharusnya kita tidak bertemu... Senpai..." ucap Nesia lirih hampir tak terdengar.

Namun demikian, Kiku masih bisa mendengar keluhan yang menyayat hatinya dengan sangat dalam itu. Kata-kata itu terus berulang di dalam kepalanya seperti kaset rusak dan membuat dirinya membeku. Tidak pernah ia sangka kata-kata seperti ini akan keluar dari Nesia. Kata-kata yang dulu sudah ia anggap bukan masalah lagi untuk dirinya.

Benarkah? Apakah seharusnya kita tidak pernah bertemu?

"Tapi... Pertiwi-san... dan klub tari itu..."

"Klub itu tidak berpengaruh... Tidak ada yang bertanya-tanya tentang Pertiwi dan menyelidikinya seperti yang Senpai lakukan... Pertiwi akan dilupakan ketika saatnya tiba... Dan yang ada hanya aku yang mewarisi kemampuan menari Pertiwi bagaikan itu sebuah bakat terpendam..." jawab Nesia, "Satu-satunya kesalahan adalah Senpai..."

"Mnh... Sumimasen deshita..."

"Tapi... Kenapa aku tak bisa menyalahkan senpai seperti apa yang aku inginkan?" tanya Nesia lagi.

"Nn?"

"Kenapa senpai tidak meninggalkanku... Kenapa senpai masih ada di sini menungguku setelah dua bulan kutinggalkan? Kenapa senpai sungguh keras kepala?! Padahal itu kesempatan senpai untuk menjauh dariku! Itu kesempatan senpai... Untuk memberitahukan pada semuanya bahwa 'mereka' tidak berarti... Agar 'mereka' menyerah... Agar... Agar aku menyerah..." ucap Nesia penuh tuntutan, "Kenapa?"

Tubuh Nesia semakin kencang bergetar. Kiku dapat merasakannya, bahwa pikiran Nesia dipenuhi dengan kekhawatiran, bahwa hati Nesia dipenuhi dengan ketakutan. Bahwa dirinya ini tengah dipenuhi dengan ketidakpastian. Kiku menebak-nebak, apakah baru kali ini Nesia menghadapi seseorang yang begitu –Kiku tidak yakin- keras kepala. Ia rasa ia tidak sekuat dan se-'keras kepala' itu. Ia hanya bertahan, dan mengikuti apa yang dibisikkan oleh hatinya karena ia tak tahu lagi harus berbuat apa.

Dan yang dibisikkan oleh hatinya adalah bahwa Kiku tidak bisa melepaskan Nesia.

"Nesia-san wa... Watashi no ichiban taisetsuna hito desu..." jawab Kiku lembut, "Nesia-san adalah orang terpenting bagiku..."

"Kenapa? Apa yang sebenarnya senpai lihat dariku? Apa yang sebenarnya aku lakukan sehingga senpai... Menganggapku demikian?" tanya Nesia lagi, "Kenapa aku bisa seberharga itu bagi senpai? Seberapa... Seberapa berhargakah aku?"

Kiku terdiam saat seluruh pertanyaan itu disodorkan padanya. Ia punya satu jawaban; Tidak tahu.

Jujur saja. Ia tidak tahu kenapa Nesia adalah orang yang terpenting baginya. Ia juga tidak tahu apa yang ia lihat dari Nesia. Ia juga tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Nesia sehingga ia menganggap gadis itu sangat berarti.

Nesia hadir di sini dan dia berarti, itu saja.

Tapi, seberapa berhargakah Nesia? Kiku tidak yakin.

Ia sungguh tak akan berpikir dua kali lagi untuk mati demi Nesia. Sekarang. Sebelum pertanyaan Nesia kembali terputar di dalam otaknya.

Doushite?

Bahkan Mei, saudara sekaligus teman dari kecil yang mengetahui seluruh masa lalunya dan hampir semua rahasianya tidak pernah seberharga ini. Apakah itu karena Nesia tidak pernah tercapai olehnya? Apakah ini hanya keinginan sementara sampai ia berhasil memiliki Nesia, atau sampai ia mengungkap semua rahasia Nesia, setelah itu ia akan membuangnya?

Demo...

Kiku tidak menjawab pertanyaan Nesia. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya dan berharap Nesia bisa paham dari gesturnya bahwa Nesia sangat berarti baginya, dengan ataupun tanpa alasan apapun. Dan ini bukanlah untuk sementara atau hanya sampai ia benar-benar mendapatkan Nesia. Kiku tahu tidak ada yang bisa menjamin kebenarannya, namun perasaan ini pun tidak ada yang bisa menafsirkannya secara jelas.

Yang bisa ia artikan dari perasaannya hanya tentang membahagiakan Nesia dan apapun yang akan ia lakukan demi senyum Nesia.

Karena Kiku suka ketika Nesia bahagia. Sesederhana itu saja.

Apakah itu bukan alasan yang cukup bagus dan kuat?

"Senpai?"

"Aku tidak tahu... Aku tidak punya alasan apapun... Tapi... seandainya aku harus melepaskan Nesia-san... Aku tahu aku akan menghancurkan diriku sendiri... Insting dan logikaku bilang demikian..."

"Aku tidak mengerti..."

"Kenapa Nesia-san menanyakan hal seperti ini?"

"Uh? Mnh... Yah..." Nesia menunduk menatap tautan tangannya yang basah karena air mata, "Karena... Selama ini tidak ada yang menganggap kami berharga..."

"Itu tidak benar..." sanggah Kiku spontan.

"Itu benar!" seru Nesia penuh emosi dan air mata.

.

.

"Itu benar, senpai..." isak Nesia pada Kiku yang terbungkam, "Semua yang kita lakukan adalah salah... Bahkan keberadaan kita adalah salah... Itu sebabnya semua orang membuang kita dan-..."

"Aku dan teman-temanmu tidak..."

"Mereka tidak tahu masalahku dan gangguan kepribadian ini!" ucap Nesia sembari berputar untuk menatap Kiku.

"Aku tahu..." jawab Kiku dengan suara selembut mungkin.

"Oleh karena itu!" Nesia kini terisak dan mulai menangis di dada Kiku.

.

"Oleh karena itu aku harus tahu seberapa berharganya aku bagi senpai! Sehingga aku bisa yakin senpai tidak akan membuangku... Karena senpai satu-satunya yang mau bertahan setelah mengetahuinya... karena... detik ini dan seterusnya... jika senpai sampai membuangku... maka... Huh?!"

Nesia tersentak saat mulutnya bertemu dengan mulut Kiku. Ia tak mungkin lagi menyelesaikan kalimatnya yang terputus di tengah jalan sebelum berhasil mengeluarkan kata terburuknya. Di dalam dirinya tertimbun banyak sekali pertanyaan tentang apa yang terjadi. Mengapa ia tidak menyingkirkan kakak kelasnya ini? Kenapa ia terdiam bagaikan boneka seperti ini? Kenapa rasanya ia malah ingin membalas kecupan ini?

Padahal, seharusnya ini tidak boleh terjadi.

Apakah ini karena kepribadiannya yang lain? Apakah ini karena obsesi Garuda yang menular padanya? Ataukah... Karena ia telah terperangkap seperti yang lain? Beranikah ia mempercayakan sebuah harapan pada kakak kelasnya ini? Bukankah ia sudah mempercayakan harapannya pada Razak? Tapi kenapa-...

"Apapun bisa terjadi... Apapun bisa berubah... Tapi melepaskan Nesia-san adalah hal terakhir yang aku pikirkan..." bisik Kiku saat mengambil nafas, "Nesia-san tidak perlu takut untuk menyeretku dalam 'neraka'... Lagipula, satu-satunya cara agar aku jatuh ke dalamnya adalah dengan Nesia-san meninggalkanku..."

"Huh?"

"Daripada Nesia-san... Sepertinya aku yang lebih takut kehilangan, aku yang lebih takut jika Nesia-san pergi dan meninggalkanku..." ucap Kiku sebelum kembali mengecup Nesia.

Yang kali ini dibalas dengan lembut.

*O*


"Jadi... dia dihantui oleh Alternya yang lain?" tanya dr. Greef setelah ia mendengarkan semua penjelasan Kiku malam itu.

"Hai... Mereka bermaksud untuk kembali ke 'rencana A'... Rencana yang mereka buat sebelum aku masuk ke kehidupan mereka, sensei..." jawab Kiku sembari terus berjalan-jalan memutari ruangan perpustakaan pribadi Germania.

"Itu pilihan yang baik... Itu berarti Nak Nesia gadis yang pintar dan bisa mengurus dirinya sendiri..." ucap dr. Greef menyetujui tindakan Nesia.

"Benarkah?" tanya Kiku tidak yakin. Ia menghentikan gerakannya dan memilih untuk duduk karena sepertinya pembicaraan sudah mulai masuk ke tahap diskusi.

"Yah... Apa yang disebut sebagai 'rencana A' itu sebenarnya mungkin adalah sebuah mediasi antara para Alter agar mereka dapat terkoneksi sendiri... Nak Nesia bisa berpikir sampai sejauh itu... Ia bisa menyelesaikannya sendiri... Bukankah itu hebat?"

"Aku tidak mengerti..." bisik Kiku lirih.

"Umnh... Coba Nak Kiku baca sekali lagi notes ini..." dr. Greef memberikan sebuah notes yang berasal dari Nesia. Notes yang ia dapatkan kemarin.

'Masing-masing dari kita punya tujuan... Dan keinginan... Ketika kami meraih dan mendapatkan keinginan kami... Maka jiwa kami akan terbebas...'

"Jika mereka bisa sepakat untuk satu tujuan seperti 'Melanjutkan hidup yang lebih baik'... Dan ketika mereka mulai mendapatkannya dengan Nesia no. 1 memegang setir ke arah yang lebih baik... Kurasa Alter-Alternya akan mulai terkoneksi satu per satu... Dan ia bisa kembali normal..." jelas dr. Greef pada Kiku yang masih mengerutkan keningnya.

"Tapi... Kalau begitu... Apa yang bisa kita lakukan, sensei?" tanya pemuda oriental itu lagi.

.

"sensei?"

"Yah... Ada... Tapi aku tidak yakin kau akan melakukannya, Nak Kiku..." ucap dr. Greef hati-hati.

"Tentu aku akan melakukannya, sensei... Ini demi Nesia-san..." sanggah Kiku penuh keheranan.

"Walaupun itu berarti kau harus menjauh darinya?"

.

.

"Eh?" gumam Kiku kaget.

Benar-benar kaget. Ia tak menyangka hal seperti ini akan keluar dari mulut dr. Greef. Terlalu kaget, sampai-sampai Kiku melupakan semua yang ada di sekitarnya.

Kiku merasa dunianya seketika menggelap dan hilang menjadi ruang void yang kelam dan kosong.

.

.

"Nak Kiku... Apa yang dilakukan Nak Nesia... Menjauhi Nak Kiku... Saya setuju dengannya... Maaf..." ucap dr. Greef penuh kehati-hatian, takut jika sampai Kiku meledak.

"K-kenapa? Kenapa, sensei?!" tanya Kiku benar-benar tidak mengerti, ia benar-benar tidak bisa menerima hal ini.

"Apakah aku melakukan hal yang salah?"

"Yah... Nak Kiku tidak bermaksud melakukannya... Tapi... Jika dari sudut pandang Nak Nesia... Keberadaan Nak Kiku memang merupakan hambatan bagi Nak Nesia... Bahkan ancaman..."

Ancaman?

"Uso... desu yo ne?" gumam Kiku tak percaya.

"B-begini... Nak Kiku... Nak Nesia dengan 'rencana A'-nya seperti sebuah garis lurus ke sebuah tempat yang sudah mereka setujui dan baik bagi mereka... Namun ada Nak Kiku di seberang yang membuat Nak Nesia menoleh dan berbelok..." ucap dr. Greef sembari terus memperhatikan Kiku yang menegang, "Padahal kita tak pernah tahu... Apa yang Nak Kiku bawa dan tempat seperti apa yang dijanjikan oleh Nak Kiku..."

.

"Belum terlambat untuk mundur dan membiarkan Nesia berbelok untuk kembali ke 'jalan lurus'-nya... Itu yang ingin kusampaikan... Tapi sepertinya Nak Kiku tak akan setuju..."

"Tentu saja aku... Aku..." Kiku menelan kata-katanya, ia berdiri di kebimbangan sekarang.

Apa yang ia inginkan adalah menjadi penyelamat Nesia, bukan seseorang yang menariknya ke sebuah tempat yang tidak pasti. Kiku ingin Nesia bahagia dan bukan menjadi penghancur kebahagiaan yang mungkin sedang dibangun oleh diri Nesia sendiri.

"Aku..." bisik Kiku lirih pada lantai marmer yang terlihat dingin.

"Aku mengerti... Itu sebabnya... Tidak ada yang bisa kita perbuat selain terus mengawasinya... dan mempercayakan hubungan kalian berdua pada takdir..." gumam dr. Greef.

"M-maksud sensei?"

"Nak Kiku... Dengan menyesal aku bilang hal ini... Jika kita hanya mengawasinya pun... kemungkinan besarnya hal yang terjadi akan sama dengan jika kau meninggalkannya..." ucap dr. Greef hati-hati, "Kemungkinan kau akan berakhir menghilang dari hidup Nesia dan... Menjadi sebuah kutukan baginya..."

"Huh?" Kiku melinguk heran ke arah dr. Greef, "Kutukan?"

"Er... Maaf... Mungkin tidak seburuk itu..." jawab dr. Greef.

"Tapi, Nak Kiku... Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi setelah ini... Pertama... Jika Nak Kiku tetap keras kepala untuk bersama dan hadir di kehidupan Nesia... Nesia mungkin tak akan pernah menjadi normal... Karena semua Alternya menginginkan Nak Kiku... Bahkan mungkin akan menimbulkan persaingan dan diskonek yang lebih parah pada Nak Nesia..."

"Kedua... Jika Nak Kiku sampai memberikan jarak dengan absennya Nak Kiku di kehidupannya setelah ini... Walaupun sebenarnya hanya memberikan spaces untuk Nesia memperbaiki dirinya sendiri... Atau kita sebut saja 'kita hanya mengawasi'... Itu sama saja seperti jika meninggalkannya sama sekali..." ucap dr. Greef, "Nak Kiku tidak boleh hadir lagi... Sama sekali tidak boleh muncul di depan Nesia jika tidak mau ia hancur lebih parah dari pada yang sekarang ini... Karena Nak Kiku akan menjadi trauma yang bisa mengingatkan dan membangunkan Alter-alter Nak Nesia agar terpisah lagi..."

"Maksud... Sensei...? Trauma?"

"Walaupun semua Alternya sudah terkoneksi saat kita biarkan sendirian... Jika Nak Kiku sampai muncul di hadapannya lagi... Takutnya Nak Nesia mengenali Nak Kiku dan malah menyulut 'benih harapan' masing-masing Alter serta membuahkan kerusakan dan masalah yang lebih parah di kejiwaannya..." lanjut dr. Greef.

"Bagaimana dengan orang lain? Jika ia bertemu dengan temannya?"

"Kurasa... Selama tidak sedalam hubungan dengan Nak Kiku... Atau mereka tidak menebar benih harapan seperti Nak Kiku... Atau mereka bukan sasaran obsesi salah satu Alter Nak Nesia seperti Nak Kiku... Tidak akan apa-apa..." jawab dr. Greef.

"Ini semua... karena kalian bertemu dengan cara yang spesial..."

Karena kita bertemu dengan cara yang spesial... Karena itu semua masalah ini ada?! Bukankah jika kita dipertemukan secara spesial... Seharusnya akan berakhir seperti 'Kita akan bersama'? Kenapa aku malah menjadi seperti penjahat utama di ingatan traumatisnya?!

Kiku hanya bisa memandangi jemarinya yang bertautan. Ia mencoba berpikir. Keras. Ia tahu keputusannya hari ini akan menentukan nasibnya dan Nesia. Apakah ia akan mengikuti jalan yang sudah pasti? Ataukah ia akan bertaruh pada ketidakpastian yang nyaris tidak memberikan petunjuk apapun. Apakah ia akan mengorbankan ke-normal-an yang ibaratnya tinggal di depan mata Nesia. Ataukah mengorbankan egonya untuk bersama dengan Nesia? Dan ia sekalipun tak boleh bertemu dengan Nesia setelahnya. Selamanya.

Bisakah ia hidup dengan semua itu?

Namun jika ia berani mengorbankan 'rencana A' milik Nesia, apa yang bisa ia tawarkan sebagai gantinya? Padahal menjawab alasan mengapa Nesia berarti baginya saja ia tak mampu. Ia tak memiliki alasan apapun di otaknya tentang mengapa ia tak bisa melepaskan Nesia.

Nesia bukan gadis yang memenuhi persyaratannya. Nesia bukan gadis normal yang memiliki satu kepribadian. Nesia adalah kesalahan dari setiap perencanaannya. Nesia adalah... sesuatu yang abstrak yang tidak ia mengerti.

Oh! Berpikirlah Honda Kiku! Jika kau tidak menemukan alasannya... Bagaimana kau akan mempertahankannya setelah ini?!

Kiku sadar, jika ia dengan nekatnya mengambil pilihan untuk memenangkan keinginannya tanpa alasan yang jelas, ia bisa berakhir dicampakkan oleh Nesia. Itu masih lebih baik daripada kemungkinan bahwa ia bisa mencampakkan Nesia suatu saat nanti. Ia tahu, bagi Nesia hal itu akan berimbas sangat fatal. Kau mempercayakan seluruh hidupmu sampai ke akar-akarnya pada seseorang dan orang itu meninggalkanmu, mengkhianatimu –demi apapun, siapa pun tahu itu sama buruknya dengan kematian. Apalagi dengan masalah seperti yang Nesia miliki –tentang keberadaan yang salah, tentang orang-orang yang membuangnya.

Orang-orang yang membuangnya.

Kiku menggeram kecil saat pikirannya membayangkan siapa yang tega membuang Nesia dan sekujur tubuhnya menegang saat ia dihadapkan pada pertanyaan yang dilontarkan oleh dirinya sendiri.

Apakah kau akan menjadi selanjutnya? Kau tidak memiliki alasan dan kau tidak yakin untuk mempertahankannya! Honda Kiku! Kau juga tidak tahu apapun tentangnya! Bagaimana jika ternyata ia menyimpan sebuah rahasia yang membuatmu meninggalkannya tanpa berpikir lagi?! Apakah kau akan menjadi yang selanjutnya yang akan menghancurkan Nesia-san menjadi lebih parah lagi?

"Sensei... Bagaimana membuat seseorang menjadi berarti?"

"Maksud Nak Kiku?"

.

.

"Aku tidak menemukan alasan kenapa Nesia-san bisa berarti untukku... Tapi itu benar... Dia benar-benar berarti untukku tanpa aku mengerti kenapa..." jawab Kiku, "Aku hanya ingin memastikan sesuatu... mengikatkan jangkar pada hubungan kita... atau semacamnya..."

"Apakah itu berarti Nak Kiku memilih untuk bertaruh?" ucap dr. Greef cukup kaget.

"Aku hanya..." Kiku menghentikan kata-katanya, ia mencari kepastian dalam dirinya sendiri.

.

.

.

"Apa yang sedang Honda-senpai lakukan di sini?" tanya sebuah suara yang datangnya tidak disadari oleh Kiku dan dr. Greef yang kini terperanjat.

"N-nes..." Kiku terdiam sejenak, "Pertiwi-san... ka?"

Wajah gadis itu mencerah, sepertinya tebakan Kiku benar dan membuatnya begitu senang. Masih dengan senyuman yang lebar ia beralih untuk duduk di pangkuan Kiku.

A-apa... Apa yang kau lakukan Pertiwi-san?!

Tubuh Kiku yang tegang karena semua pikiran buruk semakin membeku karena perbuatan kekanakan Pertiwi. Semua pikiran beratnya lenyap dalam sekejap saat Pertiwi mulai tertawa renyah menikmati dipangku oleh Kiku.

"P-pertiwi-san... c-cotto..." Kiku mencoba menggeser Pertiwi, di saat itulah ia menyadari sebuah buku yang dibawa oleh sang gadis, "Apa itu?"

"Ini? Buku dongeng! Aku menemukannya di pojok sana!" ucap Nesia sembari menunjuk ke sebuah rak buku di dalam perpustakaan yang cukup besar itu, "Bacakan ya?" pintanya manis.

"N-nak Pertiwi... Maaf tapi... Kami sedang bicara..."

"O-oh..." gumam Pertiwi kecewa.

"Mnh..." Kiku mengusap kepala Pertiwi lembut, "Kami sudah selesai, kok..."

"Nak Kiku..." seru dr. Greef khawatir.

"Sensei... Aku akan memikirkannya malam ini..."

"Memikirkan apa?" celetuk Pertiwi bingung.

"Tidak apa-apa, Pertiwi-san... Mana bukunya?"

"Tapi bacanya di kamar... Ini dongeng sebelum tidur..." ucap Pertiwi penuh kepolosan dan mata berbinar.

"Er... Tidak bisakah-..." Kiku menghentikan kalimatnya dan mendengus jengkel saat melihat dr. Greef yang sedang menahan smirk nakalnya.

Bisa-bisanya dokter itu tersenyum seperti itu setelah tadi melontarkan semua kemungkinan buruk yang sangat mengerikan?!

"Tidak bisa?" tanya Pertiwi kecewa.

"Iie... chigaimasu... Maksudku... Baiklah..." ucap Kiku lemas.

"Yeeeeeeey!" Pertiwi bersorak-sorai, ia pun turun dari pangkuan Kiku dan menarik tangan pemuda itu agar mengikutinya ke kamar, "Ayo! Ayo!"

"Nak Kiku..." panggil dr. Greef saat Kiku sudah di ambang pintu, "Pikirkan baik-baik..."

"Uh... Hai... Wakarimashita..."

*O*


"Kemudian... sang pangeran dan sang putri hidup bahagia selama-lamanya..." ucap Kiku membacakan halaman terakhir dari buku cerita bergambar itu.

"Apakah pangeran dan putri benar-benar ada di dunia nyata?" celetuk Pertiwi yang tengah berbaring nyaman di samping Kiku sembari mengamati gambar pangeran dan putri di buku dongeng itu.

"Y-yah... Mereka benar-benar ada..."

"Hmmm..." Pertiwi bergumam takjub, "Apakah aku bisa menjadi seorang putri?"

"Uh..." Kiku berpikir sejenak. Tidak mungkin ia bilang pada Pertiwi bahwa Putri adalah gelar warisan dan tidak sembarang orang menyandangnya, bukan?

"Pertiwi-san adalah tuan putriku..." ucap Kiku pada akhirnya.

"Benarkah?" mata Pertiwi berbinar menatap iris monokrom Kiku yang canggung.

"Hai... Pertiwi-san wa watashi no Hime-sama desu..." Kiku memastikan dengan senyumnya yang tulus.

"Apakah itu berarti Honda-senpai adalah pangeranku?" tanya Pertiwi lagi, menuntut dan antusias.

Muka Kiku sontak memerah. Hilang sudah perasaan dan pikiran tidak nyaman yang terus menggelayutinya saat ia membacakan cerita. Hanyut sudah terbawa arus darahnya yang mengalir sangat cepat saat ini. Digantikan dengan fokus baru; Apakah ia adalah pangeran dari Pertiwi.

"Senpai?"

Ini sungguh memalukan. Ini seperti anak kecil yang sedang mengikat janji tanpa mengerti apa arti dan konsekuensi dari janji itu –kecuali kenyataan bahwa Kiku menyadarinya 100 persen.

"J-jika boleh..."

"Huh?"

"J-jika boleh... Aku... ingin menjadi pangeran Pertiwi-san..." bisik Kiku lirih menahan malu dan mukanya yang semakin memanas.

Kiku memejamkan matanya, menantikan seruan gembira ataupun hal over-aktif lainnya yang mungkin keluar dari Pertiwi. Tapi tidak ada. Bahkan persetujuan sesimpel 'OK' pun tidak ada. Perlahan Kiku pun membuka matanya, penasaran sekaligus takut akan reaksi Pertiwi yang mungkin tidak setuju dan menolaknya.

Akan tetapi, yang dilihat Kiku adalah sebutir air mata yang meleleh di pipi tembam Pertiwi.

"P-pertiwi-san? J-jangan menangis..."

"Uh..." Pertiwi menghapus air matanya, "Aku tidak apa-apa..."

"Pertiwi-san?"

"Honda-senpai... Pertiwi sangat bahagia..." ucap Pertiwi sembari merengkuh baju Kiku, "Honda-senpai... Benar mau menjadi pangerannya Pertiwi kan?"

Kiku tersenyum lembut, "Ya..."

"Hehe... Pangeran milik Pertiwi..." gumam Pertiwi lembut, "Sekarang karena Pertiwi sudah menemukan pangeran Pertiwi... Apakah kita juga akan bahagia selama-lamanya?"

Apakah kita akan bahagia selama-lamanya?

Kiku menahan senyumnya saat ingatan diskusinya barusan dengan dr. Greef terputar kembali di dalam pikirannya.

Iie... Ini bukan waktunya memikirkan itu...

"Seberapa lama 'selama-lamanya' itu, senpai?"

"Selama-lamanya... itu... sampai berhentinya waktu..." jawab Kiku lembut.

"Sampai jamnya kehabisan baterai...?" celetuk Pertiwi polos dan ketakutan yang membuat Kiku harus menahan tawanya.

"Uh... Pertiwi-san... Bukan seperti itu... Selama-lamanya itu... Lama sekali... Sejujurnya aku pun tidak tahu sampai kapan..."

Karena itu... jika harus menghilang darimu... Atau aku harus melepaskanmu... Aku...

.

"Senpai kenapa?" Pertiwi menggeser tubuhnya untuk lebih nyaman di dalam lengan Kiku.

"Iie..."

"Benar?"

"Un... Benar... Pertiwi-san... Tidak perlu mengkhawatirkanku..." ucap Kiku dengan senyum manisnya.

Aku malah membuat Pertiwi-san khawatir... Bodohnya aku...

"Benar ya... Tidak ada apa-apa?"

"Iya..."

.

.

"Honda-senpai tahu... Pertiwi selalu ada di sini... Seperti Honda-senpai ada untuk pertiwi..."

"Ya..." jawab Kiku dengan senyumnya yang semakin manis demi menutupi perasaannya.

"Jika Honda-senpai tidak cerita... Pertiwi tidak akan paham... Pertiwi bukan Kartika... dan Kartika tidak kembali ke Pertiwi karena Pertiwi hanyalah teman dari Ines..." ucap Pertiwi sembari meringkuk di pelukan Kiku.

"Ines?"

"Inesia... Dia teman baikku selain Ina..."

.

.

"Ina?"

"Un... Ina memang agak menyeramkan... Tapi dia melindungi kita berdua... Tapi aku tidak ingin Ina bertemu dengan senpai... Maka dari itu aku mengurungnya di kurungan itu..."

.

Eh?

.

"Pertiwi-san... melakukan apa?" ucap Kiku kaget, tanpa sadar pemuda itu bangun dan mengambil posisi duduk.

"A-aku tahu itu tidak boleh dilakukan... Tapi... Tapi... Aku suka Ina... Tapi... Ina hanya bisa melukai orang lain..." Pertiwi yang panik mengikuti Kiku untuk duduk, ia berusaha keras untuk meyakinkan Kiku bahwa ia tidak melakukan hal yang salah, "Lagipula Ines juga bilang... Ini demi kebaikan Ina, Ina akan semakin gila ketika menyadari ia melukai orang lain lagi... Makanya... Ina kita kurung... dan kami pastikan tidak akan pernah membukanya lagi... Lagipula kami kuat!"

"Ina... ada di dalam kurungan itu?" tanya Kiku lagi, memastikan pendengarannya.

"I-iya... Kami tak akan membukanya lagi... Terakhir kali karena salahku... aku ketakutan di ruangan itu sehingga aku melemah dan Ina menggantikanku... A-aku dengar Ina sempat mencekik senpai ya? M-maafkan Ina... Ia tidak bermaksud melukai senpai... Ia hanya membela diri... membelaku..."

"T-tunggu... terakhir kali... kapan?"

"I-itu... Di hari senpai mengambil fotoku bersama Mei-senpai dan klub tari..."

Itu tidak mungkin... Terakhir kali aku bertemu Ina adalah ketika aku mendapatkan luka di bahu... dan kita membuat perjanjian itu...

"Apakah kau tidak salah Pertiwi-san? Setelah itu... apakah kau membiarkan Ina-san keluar lagi?"

"Tidak pernah... Ines tidak memperbolehkannya... Makanya aku jarang bisa keluar... Aku menjaga Ina... Aku menari untuknya agar ia mau tenang..."

Benarkah? Pertiwi... Ina... Lalu...

"Siapa Ines... Inesia-san itu?"

"Ah! Inesia... Dia sahabatku... bagaikan kakakku... Dia sungguh hebat... baik dan lembut... Tapi juga tegas dan kadang-kadang menyeramkan..." Pertiwi tertawa kecil.

Apakah... apakah Inesia-san ini...

"Pertiwi-san... Apakah Inesia ini... Diikuti oleh yang lain... maksudku... yang lainnya menurut padanya?"

"Ya... Bagaimana senpai bisa tahu?"

"Apakah... Inesia-san ada sebelum ingatan Pertiwi-san ada?"

"Ya..."

"Kurungan itu... Siapa yang ada di dalamnya saat ingatan Pertiwi-san mulai?"

"Inesia... Ah... Honda-senpai... Akan kuberitahukan sesuatu... Tapi Honda-senpai janji tak akan marah karena aku mengurung Ina ya?"

Kiku tidak berpikir apapun, ia hanya mengangguk. Pertiwi benar-benar sebuah ember bocor. Semuanya informasi tumpah ruah sampai Kiku tak yakin sanggup menampungnya.

"Janji ya..." Pertiwi tersenyum kaku.

Gadis itu beralih memeluk dirinya sendiri. Seakan ia kedinginan, seakan ia ketakutan. Kiku yang memperhatikannya mulai merasa tidak enak dan khawatir, takut ini merupakan mimpi buruk bagi Pertiwi. Ia merasa bersalah karena tega membuat Pertiwi mengingatnya lagi.

"Inesia... Dulu adalah anak yang menakutkan... Aku mengerti kenapa, karena akupun merasakan apa yang ia rasa... Aku sama sepertinya... Aku tidak suka dengan semuanya... Mereka membuatku bermimpi buruk... mereka memaksaku menari... mereka..." Pertiwi mengeratkan pelukan ke tubuhnya.

"Ii yo... Pertiwi-san... Cukup... Tidak perlu diingat lagi..." ucap Kiku sembari memeluk tubuh Pertiwi yang bergetar hebat karena trauma yang ia ingat.

"Mereka... Hiks... menakutkan..."

"Wakarimashita yo... Mou... Ii yo... Ii..." ucap Kiku sembari mengelus surai Pertiwi.

.

.

"Honda-senpai..."

"Ya?"

"Senpai benar-benar mau menjadi pangeranku kan?"

"Ya... Pertiwi-san..."

"Senpai... Aku ada permintaan..."

"Aku akan melakukan apapun untuk Pertiwi-san..."

"Honda-senpai... Mungkin ini sulit..." Pertiwi mendorong Kiku untuk melepaskan pelukannya, namun gadis itu tetap menggenggam erat lengan baju Kiku untuk berpegangan, "Tapi aku minta... Percayalah pada kita..."

"Uh?"

"Aku ingin... Honda-senpai percaya pada kita..."

"A-aku percaya pada ka-..."

"Tidak... Senpai tidak percaya pada kita..." potong Pertiwi, "Karena itu... Aku minta... Percayalah pada kita seperti aku percaya pada senpai... Kumohon..."

"uh... Aku tidak mengerti maksud Pertiwi-san..."

"Honda-Senpai... Percayalah bahwa kita tidak selemah itu..." ucap Pertiwi sembari menyentuh kedua pipi Kiku, "Bagikan pada kami... Kita cari penyelesaiannya bersama... ya?"

"Huh?!" Kiku tersentak saat mendengarkan ucapan Pertiwi.

"Kalau ini... Honda-senpai paham artinya kan?"

Kiku tahu ucapan itu tentu saja. Siang tadi baru saja ia katakan hal ini pada Nesia no. 1 agar ia mau bercerita. Agar ia mau berbagi dan menjadikan Kiku berharga baginya.

"Senpai tahu... Apa yang selalu diteriakkan Garuda saat kami menahannya?"

"Uh?"

"Dia selalu berteriak... 'Aku harus menyelamatkannya... Aku harus menyelamatkan Uke-ku...'... Aku tidak mengerti bagian Uke... Sudah kubilang berkali-kali nama senpai adalah Honda Kiku... Tapi aku mengerti bagian menyelamatkan... Aku... Huh?!"

Kiku memeluk Pertiwi tiba-tiba, membuat tubuh itu tersentak kecil saat menabrak dadanya. Ia tidak peduli lagi akan keheranan Pertiwi, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanyalah kata-kata yang pernah Garuda katakan padanya.

.

"Aku melihat seseorang yang sungguh kontradiktif... Tidak jujur pada dirinya sendiri..." ucap Garuda sembari memencet hidung Kiku.

"Apa yang sebenarnya ada di dalam sini?"

"Aku hanya menghindari konfrontasi yang tidak perlu, Garuda-san..."

"Dan selalu mencoba menjadi normal dan mematuhi semua aturan secara baku... Kau selalu mencari aman..." tambah Garuda, "Aku bisa melihat semua itu..."

.

Pertiwi melirik bingung ke arah Kiku yang masih membisu, tidak yakin apa yang harus dikatakan, "Honda-senpai... Garuda bilang... Jangan berpikir kalau senpai hidup sendirian... Jangan menahan apalagi membunuh perasaan senpai sendiri... Tidak apa-apa kalau itu membuat k-ko-kon"

"Konfrontasi... Pertiwi-san..."

"Kenapa semua orang suka dengan kata-kata sulit seperti itu sih? Menyebalkan..." dengus Pertiwi.

"Ya... Menyebalkan..." ucap Kiku sembari mengeratkan pelukannya.

Bukan kata-kata sulit yang membuatnya sebal tentu saja. Tapi kenyataan yang sungguh di luar dugaannya.

Kadang anak kecil bisa jadi orang dewasa.

Kadang orang mesum tak berperasaan yang sepertinya senang sekali melihatnya tersiksa lahir dan batin, bisa menjadi yang paling mengerti dirinya.


A/N:

Chapie 23 nih... Oh yeah!

Author: Akhirnya bisa publis...

Neth: Memangnya kemana saja kau?

Author: Terlalu sibuk... Sudahlah... ayo balas review... *tidakadatenaga

Kiku: A-author-san tidak apa-apa? B-biar kami yang balas reviewnya!

Nesia: Tidak perlu mengasihaninya Kiku...

Author: Hueeeeeee... Nesia jahat!

Nesia: Jahat mana sama kau?! Membuatku melakukan semua hal itu?!

Author: Teehee!

Nesia: Ketawa pula!

Kiku: Maa-maa... Hai... Sekarang kita balas review saja... Pertama, Brownchoco-san...

.

Kiku: Haha...

Nesia: ?

.

.

Kiku: *melipatkertasreview, menyembunyikannya* Hahaha...

Nesia: Ketawamu seram...

Kiku: Daijoubu desau... Nesia-san... Hanya tidak paham apa maksudnya dengan kata-kata 'padahal aku ngarepnya anu...'...

Nesia: anu? Anu apaan? *natapKikuintens

Kiku: Eh... Tidak! Tidak... Bukan apa-apa... Nesia-san tidak perlu mengerti! *salting

Nesia: Huuuh?

Kiku: Tolong bacakan saja yang selanjutnya! *kabur* AAAAAAAAAAA!

Nesia: *sweatdrop* ? Oke... Selanjutnya... BlackAzure29-san... Author! Katanya nggak papa lebih dari 30 chapie!

Author: Huuuh? Beneran nih?!

Nesia: Tapi semakin cepat selesai semakin baik! *penuhancaman*

Author: Heee? Kenapa? Bukannya kau senang?

Nesia: Aku di FF ini disiksa mulu! Aku jadi orang gila di sini!

Author: Di mananya? Dan kau bukan jadi orang gila... Kau hanya memiliki kepribadian ganda...

Nesia: Huh... Umnh... Garuda badass banget? Iya... dia keterlaluan...

Author: Artinya kau yang keterlaluan... Garuda = kau yang memerankan = kau yang badass...

Nesia: terus siapa yang nulis naskah kayak gini?!

Author: Ye... Aku kan cuma nulis... Kalau bekas kissmark kan bisa pakai riasan, kau malah melakukannya beneran...

Neth: APA?!

Nesia: Siapa yang melakukannya beneran?! Tentu saja tidak!

Kiku: ...

Nesia: Nggak! Itu riasan! Jangan berpikir yang aneh-aneh!

Kiku: A-aku cuma diam...

Nesia: Itu 100 persen riasan!

Kiku: A-aku mengerti... *buangmukanyayangmerahpadam

Nesia: Beneran! Jangan mikir yang aneh-aneh deh!

Author: Kiku kapan jadi badass lagi? Nanti kalau suasana mendukung... Oke! Kau yang selanjutnya baca, Neth...

Neth: Kenapa aku?

Author: Neth!

Neth: Oh... Baiklah... Hmm... saudara hunterxx70 bilang cepetan updetnya... jangan molor... Authornya jangan malas...

Author: =.= aku tahu dia tidak nulis gitu Neth...

Neth: saudara hunterxx70 juga tanya siapa Ayu...

Author: Ayu... Dia memang Alter yang masih kusimpan... Dia pernah keluar sekali saat... Hmm... Sebelum ke psikiatri... Dia sempat nongol sore-sore cuma menyapa saja... Habis itu pergi lagi...

Neth: Buat apa kau ciptakan karakter kayak gitu?

Author: Ye... Suka-suka aku dong... Next... Azukihazzle-san... Iya dikangenin :D :D Biar aku tanyakan...

Kiku: A-aku mengerti Nesia-san...

Nesia: Aku benar-benar-benar tidak melakukannya!

Kiku: Aku mengerti...

Nesia: Kalau begitu hentikan muka itu! Jangan blushing-blushing tidak jelas seperti itu!

Author: Nee... Kiku... Ada yang mau memanggilmu Darling-sama boleh?

Kiku: IIIAAAAA DESUUUUU!

Author: AH... Boleh...

Kiku: TIDAK BOLEH!

Author: Lah... Tadi katanya Iya?

Kiku: IIA... Zenzen!

Author: Iya kan?

Kiku: Nggak pake 'y'! Ini bahasa Jepang!

Author: Aku tahunya kalau menolak pakenya IIE...

Kiku: *tepokjidat* Itu sama saja!

Neth: Hgh... Dasar aneh... Aku melanjutkan deh... Umh... Iya... Nama depannya kayaknya Jonathan...

Greef: Iya... Jonathan :D

Neth: Lalu...

.

.

*twiiiiiiitch*

Neth: *mutung* Aku nggak tahu kenapa... tapi Author begitu tega dan tidak memunculkan aku... malah dia memunculkan Malon...

Author: Suka-suka aku...

Nesia: Oke... Selanjutnya! Kuro...-san?

.

.

*horormode*

Nesia: Kiku... dia punya kepribadian lain?

Kiku: A-aku juga baru tahu...

Author: Menggali Kiku... Iya... Aku ingin tahu, dia bisa apa saja?

Kiku: Ma... Iro-iro dekimasu yo... –banyak yang bisa kulakukan...

Author: Rate M sekalipun?

.

.

Kiku: IIE desu! IIE!

Author: AH... berarti kau tidak bisa melakukan semuanya...

Kiku: Aku bilang kan banyak hal... bukan semuanya!

Author: Ya sudahlah... Mari kita akhiri dulu Chapie ini :D

Terimakasih buat semuanya :D Maaf sudah telat updet dan mohon review, saran dan kritiknya yaaaaaa :D :D :D

Sampai jumpa lagi :D

NB: Buat kokuri. kasane-san,, tolongampuni author... .. Author g ngerti kok itu bisa tiba-tiba lenyap gitu... Aaaa! Maafkan daku, onegaishimasu... Itu udah di perbaki...