Musim gugur mulai menampaikan dirinya. Dimulai dari pohon yang menguning, jalan yang penuh daun, dan angin dingin yang berhembus menerpa kulit. Hinata-suka musim gugur.
Itulah, jiwanya. Jiwa terpendam si gadis dengan senyum paling menawan. Menurut siapa? Tentu saja orang yang kini mengernyitkan keningnya. Bukan apa, tapi musim gugur baru saja tiba. Hujan bahkan sudah menjajah sewaktu musim panas. Mulai ada yang aneh dengan bumi ini, perubahan cuaca sedang tak menentu.
Dan yang jadi masalah adalah-gadis kecil itu enggan memakai mantel ataukah jacket, setidaknya.
Hinata asik menghambur-hamburkan daun dengan lengkungan yang menggoda Naruto. Tapi, kekeras kepalaannya membuat Naruto hampir menyerah.
"Hime-chan, pakai jacketmu dulu, Sayang."
"Tak mau." tolaknya halus.
Naruto mendesah kasar. Apalah yang harus ia lakukan pada sang istri?
Tak elak jika musim gugur kali ini nampak lebih indah dari biasanya. Entahlah hanya ia yang merasa atau yang lain pun juga. Aku rasa Naruto merasa ini berbeda karena ia kini berstatus menikah. Hehe..
Hinata kian tergelak saat daun itu jatuh tepat di wajahnya. Ia begitu cinta musim gugur, karena musim gugur semuanya nampak jelas. Kalau nyatanya pohonpun akan menua, seperti ia dan sang suami. Akan menua tapi bersama.
Suami. Hinata menoleh kebelakang dan merasakan hawa mendidih dari ubun-ubun sang suami. Ia rasa ia akan dapat hukuman.
"Sayang.."
Pemuda itu balas datar padanya. Hinata mengulum senyum manis seperti biasa. Senyuman yang meluluhkan hati keras Uzumaki Naruto.
"Naru-"
"Kau tahu ini musim apa' kan, Hinata?"
Hinata mengatupkan bibirnya rapat. Sang suami sedang marah. "Ya."
"Kalau begitu, kenapa kau tak pakai jacketmu, Hinata? Merasa kuat?" Naruto menatapnya tajam, seolah ia sekumpulan debu dimata sang pemuda.
"Maaf, Naruto-kun."
"Ah..aku lelah bicara denganmu, Namikaze Hinata. Kau keras kepala!"
Si gadis tersentak. Jika sang suami sudah menyebut namanya lengkap, maka tamatlah riwayatnya. Naruto marah besar padanya. Lagipula ia hanya tak menggunakan jacket, bukan telanjang.
"Naruto-kun, kau ini kenapa? Tak baik bicara kasar pada istrimu." sentaknya.
Naruto mendecih. Ia diam tanpa niat membalas sang istri. Hinata kembali mengulum senyum teduh.
"Sayang, kau tahu kalau musim gugur itu, musim yang paling indah."
"Hm"
Hinata terkikik dalam hati. "Pohon begitu rela dirinya berpisah dengan daun, dan diterpa musim dingin yang lama. Kau tahu kan ada pepatah 'jadilah sekuat pohon, yang tetap berdiri walau angin menhancurkannya' Aku ingin seperti itu. Lagipula, kau harus sekuat dan setabah pohon, Naruto-kun. Jika aku pergi nanti, kau harus bisa urus dirimu sendiri."
Naruto tertegun. Sejenak mendelik tak suka pada sang istri. "Hime-chan, jaga bicaramu. Apa maksudnya itu? Kau mau pergi? Kemana? Hah! Kenapa tak memberitahuku?"
Senyuman itu kian melebar, dirasa mata jernih sang suami memburam. Memancarkan sinar ketidak relaan yang jelas. Bahkan nada bicaranya mulai gugup. Hinata suka Narutonya.
"Kenapa? Kau takut aku pergi?" godanya. Mengangkat satu alisnya.
Naruto memalingkan muka. Hinata terlihat gemas, ia meringsek lebih dekat dengan sang suami tersebut.
"Naruto-kun, kau mencintaiku? Kau tak ingin kehilanganku? Sayang.."
Naruto menghela. "Iya. Aku tak takut kehilanganmu. Kau tak boleh pergi jika aku tak mengijinkan."
Hinata terkekeh. "Ish..kau tak boleh bilang begitu. Bagaimana pun juga, semua orang pasti mati. Kau mencintaiku?"
"Tentu saja, Nyonya Namikaze. Aku sangat mencintaimu."
Hinata kembali terkekeh. "Aku juga."
Naruto menatapnya datar. "Tidak."
"Apa?"
"Kalau kau mencintaiku, maka kau harusnya mau memakai jacket ini."
Hinata menghela berat. "Ugh.. aku tak mau."
Pemuda itu menggeleng keras. Lalu dengan paksa memakaikan jacket coklat susu tersebut kepada si pendumal.
"Nah..ini baru istriku." gadis itu masih saja cemberut. "Kemarilah, Sayang."
Naruto memeluk sang istri disertai kecupan ringan pada kepalanya. Hinata mengulum senyum malu.
"Bagaimana-kau suka?"
Ah..jika hangatnya seperti ini, bahkan Hinata mau setiap hari. Jacket dari sang suami, ditambah pelukannya. Hihi..Hinata suka.
Alasan ia tak mau mengenakan jacketnya, karena ia ingin pelukan suaminya.
Fin.
Masih cerita dari judul yang sama "Cho Family" milik saya. hanya dengan cast yang berbeda, tersedia lengkap di wattpad.
follow akun wattpad saya @AshimaNur
