Kiku terdiam sejenak memandangi dirinya dalam kaca setelah selesai mencuci mukanya, mengamati dan menilai sendiri penampilannya hari ini. Keningnya sedikit berkerut karena menyadari kantung mata di bawah kelopak matanya. Tidak terlalu besar, tapi kelihatan dan mengganggu. Untungnya hari ini libur sehingga ia tidak perlu menghadapi pertanyaan dari teman-temannya.
Oh! Terpujilah tanggal merah!
Walaupun Senin besok sudah mulai tes.
Pemuda oriental itu pun mendesah kecil. Menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa cepat menentukan pilihannya tadi malam, bahkan sampai detik ini. Tapi mau bagaimana lagi? Saat ia mencoba untuk memikirkan PR-nya yang akan menentukan tindakannya dan masa depannya dengan Nesia, semua informasi yang ditumpahkan oleh Pertiwi merasukinya dan mencemari pemikirannya.
Bukan saatnya Kiku untuk memilih. Tidak sekarang karena Kiku tidak bisa meninggalkan semua informasi yang Pertiwi berikan.
Tidak saat ini.
Tidak selamanya. Kiku tidak bisa meninggalkan Nesia sendirian.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Oh... Kau di sini? Benar juga... hari ini libur yah..."
"H-huh? T-tara-jii-san?" seru Kiku kaget saat menyadari seorang kakek bernama Tara –teman Germania memasuki Perpustakaan pribadi Germania pagi itu, "Ohayou gozaimasu..."
"Selamat pagi..." balasnya ramah, "Tidur nyenyak tadi malam? Nak Kiku?"
"Uh..." Kiku sedikit ragu untuk menjawabnya.
"Tidak? Sayang sekali... tapi untungnya hari ini libur ya?"
"S-sou desu..." jawab Kiku kagok.
"Ada apa, Nak Kiku? Ada masalah?" tanya laki-laki yang rambutnya kini didominasi oleh warna putih, tidak hitam legam lagi seperti orang Indonesia kebanyakan.
"Tidak... Aku hanya..."
"Menyembunyikannya..." potong kakek tua itu.
.
.
"U-uh..."
"Tidak apa-apa, Nak Kiku... Aku paham trait orang Jepang... Mereka sungguh menyusahkan, selalu diam dan menutupi semuanya... Tidak membiarkan orang lain menyadarinya atas dasar pride... Selalu menanggung masalah sendiri... sampai akhirnya menjadi depresi dan melakukan harakiri..."
Kiku merasa dirinya ditusuk-tusuk oleh banyak Katana saat Kakek Tara mengatakannya. Memang ada benarnya –tapi Kiku tak percaya kalau separah itu. Maksudnya, apa yang dikatakan oleh Kakek Tara itu seperti mengatakan bahwa orang Jepang itu adalah makhluk-makhluk paling Introvert dan masochist di dunia.
Tentu saja tidak!
"Yah... Lebih baik daripada orang Indonesia yang tidak mengatakan apa yang ada di pikirannya karena tidak paham, malu, atau pun rendah diri..." imbuhnya lagi, "Benar?"
"Uh? M-ma... Aku tidak yakin..."
"Oh... Ini bukan masalah Nak Nesia? Baguslah kalau kalian tidak Mis-komunikasi... Bahaya kalau sampai terlintas perceraian di usia segini..."
T-tara-jiisan! Anda lompat terlalu jauh!
"Jadi? Ada apa?"
"U-uh..." Kiku melirik tidak yakin pada Kakek Tara.
"Ceritakan saja... Kau takut apa memangnya? Takut aku membocorkannya pada orang lain? Apa untungnya bagiku?"
"Tara-jiisan... Saya tidak menyangka anda suka mencampuri orang lain..." gumam Kiku lirih yang membuahkan cubitan di hidungnya.
"Orang lain? Maafkan aku Nak Kiku... Biar kuberi tahu satu trait dari seorang Indonesia... Kekeluargaan, kebersamaan, musyawarah, saling berbagi adalah hal yang paling mendasar di kehidupan kami... Walaupun itu dengan orang lain yang sudah kuanggap sebagai cucu sendiri..." seru Kakek Tara sembari memamerkan senyum 'bijaksana'-nya.
"H-hai! Wakarimashita!"
"Bagus..." ucap Kakek Tara sembari melepaskan hidung Kiku.
Kiku mendengus sebal sembari mengelus hidungnya. Ia bersyukur hidungnya masih dalam keadaan normal walaupun sedikit sakit –dan ia tidak mengikuti jejak seseorang yang, yah... you-know-who yang hidungnya... –oke, berhenti bahas itu!
"Lalu? Apa masalahnya?" tanya Kakek Tara lagi.
"U-uh... Sebenarnya..." Kiku beralih menatap Kakek Tara, "Bagaimana membuat seseorang menjadi berarti bagi anda?"
"Bukannya; Bagaimana agar bisa menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain?" Alis Kakek Tara mengerut heran.
"Tidak... Bagaimana membuat seseorang menjadi berarti bagi anda?"
.
.
"Itu pertanyaan yang aneh..." ucap Kakek Tara heran.
"S-saya tahu... Saya sudah memikirkannya... Membuat seseorang menjadi berarti bagi saya... Yang seharusnya berusaha adalah pihak lain..."
"Ya... itu benar..." jawab Kakek Tara, "Jadi, jika kau yang ingin orang itu berharga bagimu... Ya, orang itu pasti sudah berharga bagimu sejak pertanyaan ini muncul... walau dengan alasan keterpaksaan sekalipun..."
"Uh... Saya mengerti..." ucap Kiku sembari menghela nafas, "Saya hanya... Takut... Jika satu saat nanti saya kehilangan alasan untuk bersama dengan Nesia-san... Saya ingin menjadikannya begitu berarti bagi saya sehingga saya tidak akan lepas darinya..."
.
"Inilah masalah yang akan timbul jika kau menikah terlalu muda!" tuduh Kakek Tara.
"W-wakarimashita yo... D-demo..." Kiku terpaksa mengikuti alur yang dimengerti oleh Kakek Tara daripada harus menceritakan tentang kepribadian ganda dan semuanya, "Ini semua terlanjur terjadi..."
"Hgh... Kalau begitu ingat-ingat saja... kenapa Nak Kiku mau menikahinya..."
"Desakan keluarga..." ucap Kiku sembari memalingkan muka.
"Tentu saja bukan desakan keluarga... Aku melihat Nak Kiku cukup bahagia..."
"S-sore wa..."
"Jadi... Kalau itu desakan keluarga... Nak Kiku tidak masalah menikahi gadis aneh, jelek, bodoh, tidak menjaga kebersihan, psikopat... Eng... Apa lagi, yah... yang buruk-buruk..." gumam Kakek Tara sembari berpikir, "pokoknya seperti itu... Bagaimana? Kau tetap mau?"
Kiku terdiam. Ia hanya memandangi jemarinya yang bertautan.
"Kau benar mau melakukannya?!" seru Kakek Tara kaget saat Kiku tak kunjung menjawab.
"Jika itu titah dari chichiue –ayahanda... Tidak ada gunanya untuk membantah..."
.
.
"Nak Kiku... Keluargamu ekstrem sekali?" gumam Kakek Tara tanpa intonasi, "Tapi... untungnya itu Nak Nesia bukan?"
"U-un..." ucap Kiku tetap menyetujui walaupun dalam kenyataannya Kiku belum mencapai 'titik aman' ini.
Ia tidak pernah tahu apa rencana ayahnya, dan apa yang dipikirkan oleh beliau. Jika ayahnya memutuskan sesuatu –seperti pernikahannya dengan entah siapa- yang membuatnya terpisah dengan Nesia, bisakah ia menolaknya?
Kiku menggerutu pada dirinya sendiri. Kesal karena baru ingat tentang kenyataan yang semakin mendorongnya untuk melepaskan Nesia.
"Jadi... dia berarti bukan?"
"Eh?"
"Ayolah... Nak Nesia sudah membuatmu merasa beruntung bukan? Tidakkah itu berarti di dalam kehidupanmu?" seru Kakek Tara heran.
Tidak di kehidupan nyataku...
"Kalau belum... Nak Kiku... Mengapa kau merasa beruntung menikahi Nak Nesia?" tanya Kakek Tara yang berhasil membuat muka Kiku memerah.
"Nesia-san... Cantik? Dia juga pintar? Umnh... Baik? Ceria? Uh..."
"Berusahalah lagi, Nak Kiku..." ucap Kakek Tara kehilangan harapan.
"A-aku tidak tahu pasti! Tapi... Tapi dia sungguh berarti bagiku tanpa alasan yang jelas! Aku ingin tahu apa alasan itu agar... Jika ada sebuah rintangan aku bisa mengingatnya dan mempertahankan semuanya..." ucap Kiku tegas.
"Wow... Aku terkesan padamu, Nak Kiku... Di usiamu yang muda, kau sungguh dewasa untuk mempertahankan keluargamu..." ucap Kakek Tara takjub sembari bertepuk tangan.
Er... Domo? –Terimakasih?
"Tapi bukankah itu sesuatu yang sederhana?"
"Huh?"
"Ayolah... Kau pintar tapi kau tidak mengerti juga kenapa Nak Nesia begitu berarti bagimu? Perlu kuberi tahu?" goda Kakek Tara.
"Onegaishimasu..."
Kakek Tara menepuk keningnya yang berkerut sembari menggeleng pelan, "Kau benar-benar tidak tahu? Ya ampun... Itu namanya cinta... L-O-V-E... Hgh... Kau menyuruh seorang kakek-kakek membicarakan hal ini... Aku sudah kadaluwarsa..."
.
.
"Kalau tentang perasaan ini... saya tahu itu... hal itu adalah... c-cinta..." gumam Kiku sembari membuang mukanya yang memerah.
Ia tak tahu pasti kenapa, tapi lidahnya terasa kelu saat mengucapkan kata itu, juga hatinya yang membengkak dengan perasaan yang memalukan, tapi menyenangkan. Apakah ini juga merupakan imbas dari perasaan yang membuatnya tidak tenang ini? Perasaan karena cinta?
"Benarkah? Kau sepertinya tidak meyakinkan..." timpal Kakek Tara dengan smirk menggoda sembari menggosok dagunya.
"H-hountou desu..."
"Lalu apa yang menjadi pertanyaanmu sebenarnya?"
"Kenapa... Aku bisa merasakan hal ini?" jawab Kiku datar.
"Ya karena kau manusia normal..." jawab Kakek Tara tanpa pikir panjang.
"M-maksud saya..." Kiku berhenti, "A-apa yang... membuatku tertarik padanya... se-sesuatu seperti itu..."
"Dan Nak Kiku tak menemukan apapun?"
Kiku menggeleng lemah.
"Nak Kiku... Biar kutawarkan dua kebijaksanaanku..." ucap Kakek Tara sembari mengambil posisi yang lebih nyaman, "Jangan terlalu banyak memakai logika... Kau terlalu banyak berpikir tentang alasan... Cinta itu bukan sesuatu yang eksak dan bukan sesuatu yang bisa dikaji secara ilmiah... Kau mencari-cari alasan kenapa kau mencintai Nak Nesia? Kau hanya buang-buang masa mudamu saja..."
"Uh... Itu benar tapi... Aku butuh jawaban... Jika suatu saat..."
Jika suatu saat Alter Tara-lah yang menanyaiku seperti kemarin... Dia tampak membenci alasan abstrak bernama 'cinta' ini... Hgh... Dia bagaikan seorang ayah saja...
"Jika suatu saat Nesia menanyaiku... Bagaimana bisa aku... mencintainya..." Kiku mencoba menenangkan dirinya saat menyebut kata itu, "Padahal... Nesia-san sungguh jauh dari semua yang kubayangkan... dan tampaknya Nesia-san tahu akan hal ini..."
.
.
"Sebenarnya Nak Kiku, kebijaksanaan no.2 ku adalah..." Kakek Tara menengadahkan kepalanya menatap lampu gantung besar yang dipasang di tengah ruangan, "Kau tidak memerlukan seseorang yang sempurna, cukup orang yang membuatmu merasa bahagia dan merasa lebih berarti lebih dari siapapun..."
"Eh?"
"Menurut pelajaran hidupku... Orang yang 'hanya' sempurna secara otak, pribadi dan fisik... hanya cocok dijadikan partner bekerja dan kau hanya butuh dia di dalam kantormu..." gumam Kakek Tara.
"Tapi seseorang yang tidak memiliki apapun atau bisa dikatakan tidak bisa melakukan apapun... Akan bernilai jauh lebih berarti daripada apapun di dunia ini jika dia bisa membuatmu merasa hebat, berarti, bangga akan dirimu sendiri... walaupun itu hanya hal kecil yang kau lakukan... Dan kau akan membutuhkannya di setiap nafasmu... Kau setuju?"
"Uh..." Kiku tertegun melihat keseriusan Kakek Tara dalam mengucapkannya, terdengar samar oleh Kiku nada getir di intonasi Kakek Tara, bukti hal ini benar-benar merupakan pengalaman.
"Yah... Memang kalau ada seseorang yang sempurna sekaligus bisa membuat kita merasa lebih berarti daripada siapapun itu lebih baik... Tapi itu tidak mungkin... Terlalu tidak adil..."
"Tapi... Aku..."
"Mnh... masih belum ya? Kau susah juga ya...", Kakek Tara mendengus gemas, "Nak Kiku... Apakah Nak Kiku merasa damai dan bahagia bersamanya?"
"U-uh... ya... Bersama Nesia-san... Aku merasa tak membutuhkan apapun lagi... Agak menakutkan sih..."
"Kalau begitu... Itu cukup untuk dijadikan alasan... Apakah nak Kiku tahu? Kedamaian jiwa dan kebahagiaan itu sangat berharga?"
"Huh?"
"Nak Nesia berarti bagi Nak Kiku karena ia berhasil mendamaikan hati Nak Kiku dan membuat Nak Kiku bahagia..."
M-maa... Sebelum ia berubah menjadi Garuda-san... Tapi... Bukan berarti Garuda-san... Uh?! A-apa yang kupikirkan?! Tidak! Tidak! Garuda-san itu masalah! T-tapi...
Kiku menggelengkan kepalanya sekencang mungkin agar pikiran anehnya bisa lepas.
"Bukan ya?" Kakek Tara salah menangkap maksud Kiku, "Kalau begitu... Nak Nesia secara sengaja atau tidak sengaja... sudah melengkapi Nak Kiku..."
"Melengkapi...?" tanya Kiku meminta penjelasan.
"Cocok di ranjang contohnya?"
.
.
IIIIIIIIIIIIIIAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! CHIGAU! CHIGAU! CHIGAU! CHIGAU! CHIGAAAAAAAAUUUU!
Kiku berteriak-teriak histeris di dalam hatinya, berusaha keras untuk melupakan apa yang baru saja dikatakan oleh Kakek Tara. Ingin rasanya ia head-bang sampai amnesia untuk melupakan kata-kata kakek coretpevertcoret tua di hadapannya ini barusan karena secara tidak sengaja telah menyulut sesuatu yang forbidden di dalam dirinya.
"Yang lainnya... Onegaishimasu?" ucap Kiku datar, memasang poker-face, menyembunyikan isi hatinya yang melompat-lompat gila.
"Humnh... Seperti... Nak Nesia berhasil menjinakkan monster ganas di dalam hati Nak Kiku? Tapi sepertinya Nak Kiku adalah orang alim, kalem dan bukan pembuat onar ataupun badboy di sekolah..."
"Kalau yang lainnya?" sahut Kiku lagi, masih berusaha mempertahankan poker-face-nya yang hampir buyar.
"Nak Nesia mungkin menyimpan rahasia Nak Kiku yang terdalam dan tergelap? Tapi sepertinya itu juga bukan... Nak Kiku terlalu tertutup..."
"Rahasia?"
"Ya... Kadang-kadang seseorang berarti karena bisa dijadikan tempat curhat..." ucap Kakek Tara, "AH! Itu bisa dipakai!"
"Eh?"
"Itu bisa dipakai sebagai penyelesaian masalah pertamamu... Bagaimana kalau Nak Kiku menceritakan seluruh rahasia Nak Kiku sampai ke akar-akarnya... Sampai ke bagian tergelap dan terkelam-mu... Sehingga ketika ada pikiran untuk meninggalkan Nak Nesia kau tidak akan berani..."
"I-itu seram sekali... Seperti meneror diri sendiri..." Kiku tidak yakin, ia tidak dibesarkan untuk 'curhat' ke orang lain.
"Tapi kau bisa mencobanya..." ucap Kakek Tara, "Lagipula, dengan kau menceritakan rahasiamu pada Nak Nesia... Nak Nesia akan tahu kalau ia adalah seseorang yang memiliki nilai lebih di kehidupanmu... Seseorang yang spesial dan berarti... Dan yang paling utama... Dipercaya..."
"Eh?" Kiku tertegun, ia mengingat kembali kata-kata Pertiwi tadi malam.
.
"Aku ingin... Honda-senpai percaya pada kita..."
.
"Yah... yang namanya curhat atau menceritakan rahasia tidak selamanya harus menghasilkan sebuah jalan keluar... Kau tahu itu, Nak Kiku... Take and Give... Membuat ikatan..."
"Tapi... Kalau begitu..."
"Nak Kiku... Kenyataan itu menyeramkan... Dunia ini tidak adil... Takdir memiliki rencana sendiri yang tidak bisa diubah sesuai dengan apa yang kita inginkan..." ucap Kakek Tara, "Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang Novel-like... Apalagi shoujo-manga-like... Ikatan harus dibuat dengan usaha..."
"Er... Tara-jiisan?" Kiku melirik tidak yakin.
"Nak Kiku... Komunikasi memang bisa memutuskan hubungan... Tapi guna utama dan dasar dari komunikasi adalah membuat ikatan dan memperdalamnya... Ketika kau tahu sesuatu tentang Nak Nesia apakah kau merasa bahagia?"
"U-uh... Yah..."
"Apa yang kau rasakan saat itu?"
"Aku merasa... akulah yang paling tahu dirinya... Aku... merasa aku menjadi orang yang paling berarti baginya karena..."
"Karena senpai satu-satunya yang mau bertahan setelah mengetahuinya..."
"Karena ia tampak sangat bergantung padaku dan sangat mempercayaiku... Dan sesuatu yang buruk nampaknya akan terjadi bila aku tidak ada di sampingnya... dan..."
Kau tidak memerlukan seseorang yang sempurna, cukup orang yang membuatmu merasa bahagia dan merasa lebih berarti lebih dari siapapun... Merasa lebih berarti lebih dari siapapun... Sou ka... Sou desu ka...
Kiku meletakkan tangannya di keningnya untuk menahan kepalanya yang terasa berat karena berpikir. Berpikir, bagaimana caranya gadis itu bisa melihatnya. Bagaimana caranya Nesia bisa sampai pada titik ini di dalam dirinya dan bagaimana ia tidak sadar bahwa Nesia telah sampai di sini.
Kiku kira pertahananya tak tertembus oleh siapapun, apalagi oleh Nesia.
Tapi di sinilah gadis itu sekarang, bahkan tanpa usaha, tanpa dibuat-buat, tanpa sengaja.
"Sifat dasar manusia memang selalu ingin 'dianggap ada' ya..." gumam Kiku lirih, "Tidak... itu adalah keinginan semua makhluk yang eksis..."
"Aku tidak mengerti maksudmu..." ucap Kakek Tara kebingungan, "Tapi... Dengan Nak Nesia bercerita banyak tentangnya... Apakah itu membuatmu merasa berarti baginya? Dibutuhkan oleh Nak Nesia?"
"Ya..."
"Kalau begitu lakukanlah hal yang sama padanya... Buat dia menjadi seseorang yang paling mengerti dirimu..." ucap Kakek Tara lagi.
"Tapi... Aku yang memberi tahunya?" gumam Kiku tidak sadar, "Kalau Nesia-san tidak mau menerimanya, uh..."
"Benarkah?"
Nesia-san... Pertiwi-san bahkan sudah memintanya...
"Aku..."
"Sudah kubilang ini bukan shoujo-manga-like! Kau tidak bisa mengharapkan Nesia mengerti tanpa kau beri tahu... Mungkin ada orang-orang yang mengerti dirimu tanpa perlu kau bicara padanya... Tapi itu paling hanya orang tuamu, saudaramu, atau teman terbaikmu dari kecil yang telah memiliki banyak waktu untuk memperhatikanmu..." ucap Kakek Tara, "Kau tidak bisa mengharapkannya dari seseorang yang baru bertemu denganmu... Ataupun dari anak mantan musuh keluargamu..."
.
.
"Iie..." gumam Kiku, "Itu tidak sepenuhnya benar..."
"Huh?"
"Tidak... Dia mengerti... Garu-... Nesia-san mengerti... Mereka mengerti dan curiga... Mereka melihatku..."
"Huh? Mereka?" Kakek Tara bergumam heran.
"Mengapa mereka semua tertarik padaku... Mengapa mereka berambisi padaku... harapan yang mereka maksud..." Kiku menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha untuk tidak memutuskan rangkaian di dalam otaknya.
Ia hampir sampai. Ia hampir sampai di sebuah kesimpulan.
"Mereka tahu... Mereka berpikir bahwa aku hampir sama dengannya... Dan aku tertarik padanya... Karena kasihan... karena aku berpikir hal yang sama... karena aku melihat dirinya sebagai..."
-AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!-
Kiku tersentak saat mendengar jeritan itu. Buyar semua rantai pemikiran Kiku, digantikan dengan rasa takut dan khawatir yang langsung menyerangnya tanpa peringatan. Karena itu adalah suara Nesia. Karena itu adalah suara gadis yang sangat berarti baginya. Karena itu adalah suara gadis yang membuatnya merasa menjadi paling berarti di dunia ini dan merasa menjadi satu-satunya yang bisa menyelamatkan Nesia dari semua mimpi buruknya.
Sontak Kiku berlari meninggalkan Perpustakaan pribadi Germania untuk menuju ke kamarnya, dimana Nesia berada tanpa mempedulikan Kakek Tara yang merengut bingung dan mengejarnya di belakang.
*O*
"Nesia-san? Doushita yo?" seru Kiku sembari memasuki kamarnya. Kiku mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencari-cari keberadaan Nesia.
"Nesia-san?" panggil Kiku lembut saat mendekati sebuah gorden yang bagian bawahnya menggembung tidak normal, "Watashi da yo..."
Kiku menyentuh pelan gorden itu, dan dengan perlahan membuka 'tempat persembunyian' Nesia yang ternyata cukup sulit untuk dilakukan, "Nesia-san?"
"S-s..." Nesia tidak mampu berkata-kata, ia hanya duduk di sana, bergetar ketakutan dibalut dengan gorden dan memandang Kiku dengan iris yang berusaha untuk fokus.
Kembali, hati Kiku tersayat melihat keadaan Nesia yang seperti ini. Ia tidak pernah tahan.
"Nesia-san... Daijoubu desu... Watashi wa koko ni iru yo... –aku ada di sini..." ucap Kiku perlahan sembari merengkuh tubuh Nesia yang masih berbalutkan gorden, menahan rasa dan intonasi getirnya sendiri agar tidak semakin menakuti Nesia.
"S-se..."
"Hai? Nani?" ucap Kiku berusaha super lembut sembari terus mencoba melepaskan Nesia dari gorden yang sedari tadi dipertahankan oleh Nesia sebagai pelindungnya.
"Ukh... Tidak!" seru Nesia sembari mencegah Kiku mengulitinya dari kain berwarna krem kelabu-abuan itu.
"Onegai... Watashi ni shinjite kudasai..." mohon Kiku, "percayalah padaku..."
Genggaman erat Nesia pada gorden pun mulai melemah, gadis itu mencoba untuk mempercayainya. Benar-benar mencoba. Kiku bisa melihatnya dari mata Nesia yang melebar dipenuhi dengan ketakutan dan calon air mata, nafasnya yang tertahan serta tubuhnya yang menegang dengan sangat kaku saat Kiku melepaskan belitan kain yang melilit sang gadis.
Oh... Nesia-san...
Kiku mengelus surai hitam Nesia saat ia telah selesai menyingkirkan gorden, memeluknya dan mengatakan kata-kata penenang dengan suaranya yang lembut. Namun sepertinya tidak terlalu efektif untuk menenangkan Nesia.
Apa yang membuat Nesia-san menjadi seperti ini?
"Nesia-san bermimpi buruk?" tanya Kiku pada Nesia yang masih merungkel di dekapannya, "Itu hanya mimpi buruk Nesia-san... Itu tidak nyata..."
Kiku merasakan sesuatu di dadanya, seperti gelengan kecil. Alisnya pun merengut heran.
Jika bukan karena mimpi buruk... Lalu karena apa?
Kembali Kiku melemparkan pandangannya ke seluruh tempat di dalam ruangan itu. Berusaha mencari-cari semakhluk ataupun sesuatu yang membuat Nesia menjadi seperti ini. Tapi Kiku tidak melihat apapun yang aneh, ataupun yang bergerak seperti tikus, kecoa ataupun hantu.
Tidak ada yang aneh di sana. Ada satu yang tidak berada di tempatnya memang, sebuah buku dongeng. Benda yang terakhir Kiku ingat ada di atas meja kini berpindah tergeletak tak berdaya di atas lantai yang tidak tertutupi oleh karpet.
"Nesia-san... Buku..."
"TIDAK!" teriak Nesia keras dengan suaranya yang parau.
Kiku tertegun. Apa yang salah dengan buku dongeng itu? Padahal Pertiwi tadi malam begitu menyukainya sampai-sampai buku itu dipeluknya sampai tertidur dan butuh usaha keras dari Kiku untuk menyingkirkan buku coretpengganggucoret dongeng itu dari dekapan Pertiwi tanpa membangunkannya.
Kiku melinguk ke belakang, ke arah buku itu dan menemukan Kakek Tara memungutnya. Beliau dengan pandangan khawatirnya menatap ke arah Kiku, mengangguk kecil sembari membawa buku bermasalah itu pergi.
"Sudah menghilang... sudah tidak ada Nesia-san..."
"Ukh..."
"Kalau tidak percaya... Nesia-san bisa lihat sendiri..."
Nesia menegang saat Kiku menarik tubuhnya, tampaknya gadis itu masih tidak percaya pada Kiku yang menyuruhnya untuk mengecek buku itu masih ada atau tidak. Gadis itu pun menahan Kiku dan menggeleng dengan sekuat tenaga.
"Nee... Daijoubu desu..." ucap Kiku sembari menarik tangan Nesia yang terlipat di depan dadanya dengan cepat, mengarahkannya ke pinggang Kiku sehingga kini Nesia bisa memeluknya, "Kau bisa mengintipnya dari pundakku, Nesia-san..." ucap Kiku lembut.
Nesia bergeming. Ia tetap membenamkan mukanya di pundak Kiku walaupun pemuda itu sudah berusaha meyakinkannya berkali-kali. Namun Kiku tak kehabisan kesabaran, ia mengerti ini sangat sulit bagi Nesia.
"Sebentar saja... Dan aku akan melakukan apapun untuk Nesia-san..." bujuk KIku.
Kiku merasakan pelukan Nesia mengerat saat kepala gadis itu mulai bergerak dengan kecepatan yang oh-sangat-pelan, dan semakin kencang saat kepala itu kembali menubruk pundaknya dengan kecepatan cahaya demi bersembunyi lagi.
"Nesia-san sudah lihat?"
Gelengan yang sangat keras jadi jawabannya.
"Nesia-san... Percayalah padaku... Buku itu sudah tidak ada sejak 10 menit yang lalu..."
"Tidak... tidak mau..." bisik Nesia lirih di pundak Kiku yang terasa basah.
"Nesia-san..."
"Aku mau pergi... Aku mau pergi!"
"Huh? Pergi?"
Setelah Nesia mengatakannya, tubuhnya yang tegang dan memeluk Kiku dengan erat pun melemas. Kiku hanya bisa menghela nafas kecewa, ia tidak berhasil membuat Nesia percaya padanya dan Nesia kembali melarikan dirinya.
"U-uh?"
"Ohayou..." sapa Kiku lembut.
"H-huh? Huh? K-kok? Kok?" Gadis itu terlihat kebingungan, dan iapun sontak melepaskan pelukannya pada Kiku saat menyadari apa yang dilakukannya, "M-maaf... Aku... Aku..."
Kiku tertegun pada semburat merah yang mulai menghiasi wajah pucat Nesia, memberikan benih-benih kehidupan yang tadinya hilang.
"Ii yo..." ucap Kiku sembari menepuk kepala gadis itu.
"Uh... Maafkan aku, senpai..." ucap sang gadis dengan lesu.
"Kore wa... Dare desu ka?"
"Huh? Aku Nesia... Masa Senpai lupa?"
"Nesia yang mana?"
"Loh? Nesia Dirgantari... Yang masih menganggap senpai sebagai pervert tingkat akut..."
"O-oh..." Kiku menelan ludahnya. Nesia tidak perlu mendeskripsikannya seperti itu bukan?
"Senpai bagaimana sih? Kan cuma ada satu Nesia..." seru Nesia sebal.
"Huh? Bukannya ada tiga?"
"Tiga?"
"Nesia-san yang... romantis dan ceria... Nesia-san yang kejam..." ucap Kiku sembari melirik Nesia, "Dan Nesia-san yang overprotektif..."
"Kenapa senpai melirikku saat kata-kata 'kejam'?" dengus Nesia sebal.
"Baiklah... Nesia-san yang selama dua bulan tidak menganggapku..."
"U-ugh..." Nesia hanya bisa menggerutu dalam benaknya, "D-daripada itu... Nesia itu hanya ada satu... dan itu adalah aku! Si overprotektif itu bukan Nesia!"
"Lalu dia siapa?"
"Uh... Mnh... Dia tidak punya nama..."
"Aku memberinya nama Nesia no.3..."
"Itu namaku! Dan jangan diembel-embeli dengan nomor!"
Kiku hanya bisa menatap Nesia dengan dengusan sebal, begitu pula sebaliknya. Nesia tidak mau mengalah terhadap tatapan Kiku yang membuatnya jengkel.
"Dengar... Hanya ada satu Nesia di sini! Si overprotektif itu ada karena kecelakaan dan karena kesalahan gadis menyebalkan itu!"
"Nesia-san tidak berhak menyebutnya sebagai kecelakaan dan kesalahan Alter milik Nesia-san yang lain..."
"Kalau begitu siapa yang disalahkan? Senpai?"
"Ya... Salahkan aku!"
"Uuuuugh..." Nesia semakin menyipitkan matanya, "Huh! Sudahlah!" seru Nesia yang akhirnya menyerah dari kontes 'menatap sebal' itu.
"Kalau begitu... Bagaimana dengan Nesia no.2-san?"
"Sudah kubilang Nesia hanya aku! Sudahlah! Kita hentikan ini!"
"Tidak... Nesia no.1-san belum menjelaskannya..."
"Ih! Senpai menyusahkan saja! Aku harus belajar untuk test besok! Gadis menyebalkan itu tidak mau mengambil tempatku untuk test karena keegoisannya dan aku tak mungkin membiarkan nilaiku jatuh bukan?!"
"Gadis menyebalkan? Egois?" Kiku mencoba memperjelas, karena yang ada di dalam pikirannya, Nesia no. 1 sekarang sedang membahas Nesia no.2.
"Ya! Dia sungguh memuakkan!" seru Nesia yang membuat perut Kiku berputar.
"Nesia-san!" Kiku memperingatkan.
"Apa?" Nesia kembali menatap Kiku dengan jengkel, memulai kembali kontes tatap seram itu.
Dame! Dame desu, Honda Kiku! Ochitsuite! –Tidak! Tidak boleh, Honda Kiku! Tenanglah!
"Siapa sebenarnya 'gadis menyebalkan' itu, Nesia-san?" ucap Kiku sembari menenangkan dirinya.
"Kau tahu dia senpai! Dia yang bertanggung jawab mendapatkan semua nilai 100-ku... Dan aku yang harus bertanggung jawab mempertahankannya... Jadi sekarang biarkan aku belajar!"
"Aku akan membantumu..."
"Oh ya? Terimakasih, tapi tidak... Aku tidak akan membahas gadis itu sebagai gantinya..." ucap Nesia membaca pikiran Kiku.
"Setidaknya... Siapa namanya? Aku akan memastikan kau mempertahankan nilaimu..."
Nesia tertegun terhadap tawaran menggiurkan itu. Bagaimanapun juga, Nesia tetap butuh nilainya stabil agar bisa mempertahankan beasiswa full-nya.
Sayangnya, ia tak memiliki jawaban. Jadi biarkanlah.
"Aku tidak tahu..."
"Huh?"
"Dia itu pembohong besar... Semua yang dikatakannya hanyalah kebohongan! Siapa yang tahu kalau ia berbohong tentang namanya?" dengus Nesia sebal.
"Pembohong?"
"Ya! Dan mungkin mulai saat ini aku bisa memanggilnya demikian..."seru Nesia sembari melenggang ke meja belajarnya.
"Nesia-san!" cegat Kiku sembari menahan lengan Nesia.
"Ina!"
"Huh? Ina?"
"Iya! Ina! Bohong kan? Kita semua tahu siapa Ina! Dan dia mengaku sebagai Ina... Sekarang senpai mau membantuku atau tidak?"
"Aku... Aku akan ambil bukuku dulu di perpustakaan..." ucap Kiku sembari meninggalkan kamar dan menutup pintunya pelan.
Di luar kamar Kiku hanya bisa terdiam sembari menyender ke pintu berbahan kayu oak itu, berpikir tentang semua kemungkinan.
Apakah Nesia no.2-san adalah benar pembohong? Atau Nesia no.1-san yang sedang berbohong sekarang? Tapi... Nesia no.1-san bukan tipe pembohong... Dan Nesia no.2-san... Ina?
Kiku mengingat lagi hari ketika mereka makan siang bersama dan malam manis yang mereka habiskan berdua. Ia berpikir, tidak mungkin Nesia yang romantis dan ceria itu adalah pembohong. Tidak mungkin.
Muri desu yo ne? –mustahil kan?
Tak terasa kini Kiku menekuk lututnya dan terdiam. Ia merasa hatinya sakit. Mungkin karena Nesia no. 2 yang selama ini ditunggunya dikatai pembohong. Mungkin karena pertengkarannya dengan Nesia no.1. Mungkin karena ada sebagian dari hatinya yang mengkhianatinya dengan cara lebih percaya pada perkataan pedas Nesia no.1, entah kenapa.
Daripada itu... Siapa 'Nesia-san' yang ketakutan pada buku dongeng ya? Mnh... yang pastinya bukan Pertiwi-san...
*O*
"Ukht! T-tanpa ampun..." gumam Nesia lirih saat melihat bukunya.
"Nesia-san, kerjakanlah dengan cara yang kuajarkan tadi..." ucap Kiku datar sembari meletakkan beberapa buku di karpet dan meja rendah tempat mereka belajar sekarang.
"T-tapi tidak sebanyak dan sesulit ini juga! Senpai punya dendam padaku ya?" seru Nesia jengkel.
"Nesia-san tidak punya banyak waktu, kan? Sebaiknya jangan buang waktu Nesia-san untuk merajuk..." jawab Kiku datar.
"Siapa yang merajuk?! U-ugh! Dasar kejam! Tidak berperasaan! Iblis!"
"Kalau Nesia-san bisa lebih dulu selesai daripada aku... Akan aku beri hadiah..." ucap Kiku sembari tersenyum simpul dan memperlihatkan buku soal kelas 2 yang cukup tebal.
"Itu sama sekali tidak adil!" dengus Nesia.
"Aku akan mengerjakan satu buku full..."
"Monster kah?!"
"Kalau begitu kita mulai, Nesia-san..." ucap Kiku sembari mengambil pensil mekanik dan mulai mengerjakan dari halaman pertama.
"T-tunggu!" seru Nesia sembari mengambil pensilnya dan mulai mengerjakan.
"Pelan saja Nesia-san... Ikuti contohnya..." ucap Kiku lembut sembari menunjukkan contoh soal yang barusan ia garap untuk mengajari Nesia.
"A-aku tahu!" seru Nesia sembari mulai mengerjakan soal buatan Kiku.
.
.
"Itu... persamaan pertamanya x = 3y + 7... persamaan keduanya x = 6y - 8" gumam Kiku.
"H-huh? Huh?!"
"Kau salah di sini..." ucapnya lagi sembari mengetuk bagian yang salah, "Hati-hati..."
"O-oh... Terimakasih..."
.
.
"y = 5x -3..." gumam Kiku tiba-tiba saat Nesia berhenti mengerjakan.
"A-aku sedang memikirkannya!" dengus Nesia sebal.
"Dan nomor 3 jawaban Nesia-san salah... seharusnya x= 9"
"Berisik! Kerjakan saja soal-soal milik senpai sendiri!" seru Nesia jengkel, "Aku pindah!"
Nesia membereskan bukunya dan bangkit, lalu berpindah ke sudut ruangan yang tidak terjamah oleh Kiku. Setelah ia memastikan Kiku tak akan mengganggunya lagi, Nesia pun membuka bukunya demi mengerjakan 15 soal lainnya.
"Hati-hati saat mengerjakan soal nomor 7... Teliti lagi, kau mudah salah saat substitusi..."
"Diamlah!" seru Nesia sembari melempar tempat pensilnya ke arah Kiku yang berhasil dihindari dengan indah.
"Hai... Wakarimashita..."ucap Kiku dengan tawa kecil, setelahnya ia kembali mengerjakan buku soal miliknya.
*O*
"SELESAI!" sorak Nesia saat berhasil menyelesaikan 20 nomor soal Matematika-nya. Nesia pun mencari Kiku yang dipercayainya masih berada di tempat karena belum selesai mengerjakan soalnya, "Senpai! Aku... –sudah... selesai..."
Nesia merengut bingung. Ia tak menyadari Kiku telah pergi dari mejanya –mungkin karena ia terlalu asyik mengerjakan soal-soal yang akhirnya bisa ia mengerti ia sampai tidak menyadari bahwa kakak kelasnya itu telah pergi entah kemana.
-Tok... tok... Ckleeeek...-
"H-huh?" Nesia melinguk ke arah pintu dan terheran-heran menatap siapa yang datang.
"Doushita yo, Nesia-san? Owari ka? –Sudah selesai?" ucap Kiku sambil menutup pintu, "Waktu yang tepat... Aku membawakan snack..." ucap Kiku sembari memperlihatkan sandwich dan lemon tea dingin yang dibawanya.
.
.
"Dan si iblis berubah menjadi pelayan kafe..." seru Nesia tak habis pikir.
"Hidoi yo... –Kejamnya..."gumam Kiku datar, "Kalau tidak mau..." Kiku berhenti di kalimatnya saat menyadari tatapan mupeng Nesia, "Nesia-san... air liurmu..."
"U-uh... I-ini..."
"Mnh... Goyukkuri douzo... –Silahkan menikmati..."ucap Kiku dengan senyum lembutnya.
Wajah Nesia langsung mencerah dan ia bersiap untuk menerkam sandwich buatan Kiku, "AS... –syik...?" Namun ia tertahan saat ada aura aneh yang menyelimuti, "S-senpai?"
"Sikapmu..." ucap Kiku dengan suara rendah yang mendiskriminasi.
Nesia pun mengambil sikap duduk sopan sebelum ada tragedi berdarah, "S-s-se-selamat m-makan..."
Tangan Nesia bergetar saat mencoba mengambil sandwich yang ada di atas meja, berbeda dengan hatinya yang sedang menyumpah-nyumpahi senpainya yang bermasalah dengan manner dan makanan ini. Namun saat sandwich itu telah masuk ke dalam mulutnya, Nesia sudah tak memikirkannya lagi karena terlalu sibuk menikmati rasanya yang sungguh lezat.
"Dou?" Kiku menopang dagu dengan telapak tangannya demi mendapatkan view terbaik saat Nesia sedang makan.
"Enak! Senpai pintar sekali memasak!"
"Yokatta desu... Arigatou..." ucap Kiku sembari memamerkan senyum lembutnya, "Jadi... pekerjaanmu?"
Kiku tertawa kecil saat Nesia menggeser bukunya tanpa kehilangan konsentrasi pada sandwich nomor tiga-nya. Ia senang karena Nesia memakan masakannya dengan lahap, namun kesenangannya berakhir saat ia melihat hasil jawaban milik Nesia.
"Nesia-san?"
"Hmm?"
"Setelah ini... Tolong kerjakan ulang semuanya selagi aku menyiapkan soal baru... Setelah itu kita akan membahas ini dan kau akan menyelesaikan soal baru sampai makan malam... Setelah itu aku akan mulai mengajarimu Fisika... Kimia dan Biologi akan kita simpan untuk besok pagi... Sore kita akan mengejar sejarah dan malamnya kita akan membahas Ilmu sosial... Untuk hari Minggu kita akan review semuanya sekaligus dari pagi hingga malam..." ucap Kiku dengan nada serius yang membuat Nesia kehilangan nafsu makannya.
"Kejam! Tak berperasaan! Iblis!"
"Ini kebutuhanmu..."
"Berisik! Senpai urusi saja buku soal senpai yang tebalnya menggelikan itu!"
"Sudah selesai..."
"MONSTER KAH?!"
*O*
"Monster iblis pemakan buku soal sialan! Monster iblis pembuat soal menyebalkan! Monster! Monster! Senpai adalah monster mesum!" sungut Nesia lirih di sudut ruangan saat ia mengerjakan soal-soal lainnya, berusaha agar Kiku tak mendengarkannya.
"Kau tampak tidak ikhlas mengerjakannya..."
"Ahahahaha... Kata siapa?" jawab Nesia kagok.
"Kalau kau tidak serius mengerjakannya... Kau hanya membuang waktumu dan tidak akan ada materi yang masuk..."
"Memangnya ini salah siapa?" gumam Nesia lirih.
"Apa?" tanya Kiku saat menyadari Nesia menggumamkan sesuatu.
"T-tidak... Tidak ada apa-apa..."
"Coba lihat pekerjaan Nesia-san..." ucap Kiku sembari mengintip dari balik punggung Nesia.
"H-heeee?! Jangan!" seru Nesia sembari menyembunyikan pekerjaannya.
"Naze desu ka? Pada akhirnya aku juga yang akan mengoreksi, bukan?"
"Jangan! Senpai pergi saja sana cari kerjaan lain! Buat makanan lagi atau apa deh!"
"Nesia-san... lama-lama mirip Yong..."
"Huh? Siapa itu?" ucap Nesia yang perhatiannya mulai teralihkan.
"Saudaraku..." sahut Kiku sembari merebut buku Nesia.
"Ah! Kembalikan! Kembalikan!"
"Nesia-san mengerjakannya sudah mulai rapi..." ucap Kiku sembari mengangkat tinggi-tinggi buku milik Nesia agar si empunya tidak bisa meraihnya, "Tapi sayangnya masih salah..."
"Berisik! Menyebalkan! Kembalikan!" seru Nesia sembari melompat-lompat untuk meraih bukunya, "Ah!"
"ABUNAI! –Bahaya!" seru Kiku saat menyadari tubuh Nesia oleng.
-Bruuuugh...-
"Ugh... Daijoubu ka, Nesia-san?" tanya Kiku sembari mengambil posisi duduk.
"Hentikan!" teriak Nesia kasar sembari merebut paksa buku miliknya, "Jangan bercanda! Aku tidak seperti gadis sialan itu ataupun monster berotak seperti senpai!"
"Uh..."
"Kalau aku salah... Ya sudah! Biarkan saja!"
"Benarkah?" tanya Kiku datar.
"Uh?"
"Benarkah? Biarkan saja? Nesia-san tidak ingin tahu cara yang benar?"
"Ukht!" Nesia menggertakkan giginya, menahan rasa amarah dan jengkel, "Ya! Biarkan saja! Aku dapat nilai 0 juga tidak masalah!" seru Nesia sembari beranjak pergi.
"Itu masalah!"
Kiku menangkap tangan Nesia sebelum gadis itu sempat pergi menjauh, menahannya untuk mengambil posisi duduk kembali, "Nesia-san tahu itu masalah besar..."
"Oke! Aku tahu itu masalah besar! Lalu aku harus apa? Harus bagaimana?! Aku bukan senpai yang jenius yang bisa memahami banyak materi yang sesulit dan serumit itu dalam semalam!"
"Aku juga tidak!"
"Uh..."
"Aku juga tidak, Nesia-san..."
"Pembohong! Pemegang nilai tertinggi di kelas 2 dan bahkan hampir sempurna tidak mungkin-..."
"Itu kenyataan!"
"Aku tidak percaya!" teriak Nesia dengan volume maksimalnya.
"Karena kau tidak melihatnya dari awal!"
"U-uh..." Nesia terdiam, ketakutan. Baru kali ini ia tahu bahwa senpainya juga bisa meninggikan suara sekeras ini –dan itu sangat menakutkan.
"Maaf... Nesia-san... aku... Aku minta maaf..."
"Lepaskan aku..." ucap Nesia, "Lepaskan aku sekarang! Aku mau pergi! Uh?!"
Bukannya melepaskan, Kiku malah menarik Nesia ke arahnya. Memeluknya. Menjaga sang gadis untuk tidak pergi meninggalkannya.
"Dame desu..."
"Apa-apaan sih?! Senpai! Pervert! Lepaskan!" seru Nesia liar, "Sialan! Aku tak punya waktu untuk ini!"
"Diam dan dengarkan aku!" seru Kiku mencoba menenangkan Nesia.
"Baik! Aku diam!" seru Nesia menghentikan perlawanannya, "Senpai punya 5 menit untuk bicara setelah itu senpai harus melepaskanku!"
"U-uh..."
"Jadi... Apa?"
.
.
.
.
.
"Senpai tidak mengatakan apapun! Lepaskan aku sekarang juga!" seru Nesia kembali melawan.
"Nesia-san... Aku..."
Mnh... apakah aku...
"Aku... sebenarnya..."
Bisakah? Biasakah aku... Menceritakan ini padanya?
"Aku..."
"Iya, senpai kenapa?" dengus Nesia tidak sabar.
"Hgh... Tidak..."
"Ya sudah! Lepaskan aku sekarang!"
Iie! Ini salah... Harusnya... Seharusnya aku menceritakannya... Percaya pada Nesia-san... Aku...
"U-uh... Ini... saat aku berumur 3 tahun..."
"Huh?"
Tidak! Apa yang kukatakan?! Itu jauh sekali! Kenapa aku harus mulai dari sejauh itu?!
"A-aku tidak pandai cerita... Jadi... uh..." Kiku mencari cari kata sambung yang tepat untuk melanjutkan ceritanya, sayangnya ia tak menemukan apapun atau bagaimana ia memulai curhat perdananya ini.
Ingin rasanya ia headbang sampai pingsan dan melupakan semua ini.
"Ada apa saat senpai berusia 3 tahun?" tanya Nesia penasaran.
"Mnh..." Kiku mengeratkan pelukannya, "Saat itu... semua mimpi burukku dimulai..."
"Mimpi buruk?"
"Ya..." ucap Kiku lirih, "Begini... Nesia-san... Di negaraku, ada sesuatu yang bernama 'Klan'... Itu adalah... bisa kau sebut kumpulan keluarga-keluarga yang dipersatukan oleh leluhur yang sama –atau kepentingan menguasai sesuatu yang sama... Atau kata lainnya kita memiliki semacam relasi... Sebuah dinasti..."
Kenapa aku malah bercerita ke sini?!
Kiku mengernyitkan keningnya menyadari ketidakberesan ceritanya.
"Seperti punya kakek dan nenek yang sama?"
"Ya... tapi lebih jauh daripada kakek dan nenek... Bahkan bisa bergenarsi-generasi..."
"Lalu?"
"Keluargaku adalah salah satu anggota dari Klan yang memiliki nama besar... Tapi aku bukan Yakuza tenang saja..." ucap Kiku cepat-cepat sebelum Nesia salah persepsi.
"Lalu?"
"Lalu... Begini... Jadi di Klan ini kita memiliki satu keluarga utama yang bertugas mengepalai seluruh keluarga-keluarga yang ada di dalam Klan... Dan menjalankan bisnis keluarga yang... er, sangat besar..."
"Jadi senpai benar-benar yang memiliki perusahaan Honda yang itu? Yang bikin motor, mobil dan robot itu?"
"Eh... Bukan... Keluargaku tidak berhubungan dengan Honda Soichiro..."
"Heeeeeh? Kok gitu..."
"M-maaf mengecewakanmu... Tapi itu Honda yang lain..."
"Humh... Begitu ya..."
"Y-yah..."
"Jadi Senpai mau bilang bahwa senpai adalah pewaris tunggal dari sebuah klan dan senpai tersiksa karena tuntutan nama keluarga itu?"
Kiku tersenyum lembut mendengar celotehan Nesia.
Hampir benar.
"Itu pasti akan menyenangkan... Tapi posisi keluargaku sendiri dalam Klan-ku tidak terlalu istimewa... Aku bukan 'putra mahkota' pewaris Klan itu..."
"Huuumnh?"
"Kakekku dulu termasuk ke dalam lini utama calon pewaris klan... Beliau anak pertama, dan berhak atas posisi pemimpin Klan... Jadi sebenarnya keluargaku seharusnya adalah pewaris utamanya... Sayangnya ada sebuah tragedi yang, aku akan lewatkan demi kebaikanmu, sehingga garis keluarga kami terlempar sampai ke pinggir..."
Satu sisi hati Kiku benar-benar kebingungan sekarang, ia tidak bermaksud untuk menceritakan asal usulnya pada Nesia. Tapi sisi hati yang lain merasa semakin tenang ketika ia membagi cerita ini.
Padahal awalnya, Ia hanya bermaksud menyemangati Nesia dengan sedikit cerita motivasi. Bahwa ia yang sebenarnya hanyalah anak biasa saja bisa menjadi seperti ini karena berusaha. Tapi kini ia malah keceplosan dan tidak bisa melarikan diri lagi karena nampaknya Nesia menikmati ceritanya.
Oh ya... Dia pasti menikmati... Dan Alternya yang lain juga pasti menikmati...
Kiku menghela nafas lelah.
"Lalu?"
"Chichiue... –Ayahku... Tidak bisa menerima semua ini... Kau tahu... Kehormatan itu sesuatu yang sangat penting di Jepang dan... Hal seperti ini sama saja dengan melukai kehormatan, maka chichiue mengatur banyak cara agar keluarganya bisa masuk setidaknya ke kandidat pewaris Klan lagi... Dan modalnya yang pertama dan paling utama... Adalah aku... musuko –anak laki-laki..."
"Hmh?"
"Mungkin ini adalah pembalasan dendam Kakekku yang dulu mereka singkirkan... Banyak yang bilang... Arwah-nya mengutuk Klan-ku sehingga hanya ada beberapa anak laki-laki –sisanya perempuan... Dan kita bersaing agar bisa diadopsi oleh keluarga utama agar bisa menjadi penerus Klan... Apalagi ketika Keluarga utama sudah divonis tak memungkinkan untuk menghasilkan pewaris..."
"Begitu..."
"Pengumuman itu saat aku berusia 3 tahun... Setelahnya... Aku hidup di dalam neraka... Dengan banyak tuntutan seperti yang Nesia-san tebak..."
Nesia membalikkan tubuhnya untuk mendekap Kiku dengan erat, membuat Kiku terkaget-kaget karena reaksi yang tidak terduga ini. Tapi Kiku tak berlama-lama untuk heran. Ia tahu mengapa Nesia melakukan hal ini.
Nesia pernah mengalami hal yang sama –atau setidaknya mirip. Bukan di bagian Klannya mungkin, tapi di bagian 'neraka'-nya.
"Nesia-san... Daijoubu desu... –semuanya baik-baik saja..." ucap Kiku tenang sembari mengelus punggung Nesia.
"Senpai, maaf... tapi... Aku masih penasaran... A-apa yang terjadi pada senpai?"
"Mnh... Tidak apa-apa... Aku memang akan menceritakan semuanya pada Nesia-san..." ucap Kiku lembut, "Kau tahu... seorang pewaris dan penerus klan pasti memiliki persyaratan-persyaratan dan kemampuan tertentu... Jadi aku menghabiskan seluruh waktuku untuk mempelajarinya..."
"Sayangnya... Aku bukanlah anak yang jenius..."
"Mnh?"
Kiku memeluk Nesia dengan erat, "Aku bukanlah anak yang pintar ataupun memiliki fisik yang kuat... Bahkan... Ada yang salah dengan kesehatanku..."
"Apakah itu alasan senpai menyimpan banyak obat di laci itu?"
"Yah... Walaupun aku sudah cukup lama tidak menggunakannya..." ucap Kiku lirih saat membenamkan mukanya di pundak Nesia, "Tapi... ini demi kehormatan keluarga... Aku harus melakukannya..."
Kiku mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba untuk tenang sebelum mulai melanjutkan ceritanya, "Karena itu... Fisik-ku pun mulai dilatih... Dari Karate, Judo, Kendo sampai Kyudo –Panahan Jepang... Juga dari segi pengetahuan... Dari sosial, Chanoyu –Upacara Minum Teh, pengetahuan tentang relasi... sampai bisnis... Jika aku melakukan kesalahan... Aku akan dikurung di dalam sebuah bilik kecil, gelap dan sempit tanpa makanan sampai aku memohon ampun... Jika melakukan prestasi... pujian akan melayang ke ayahku... Karenanya... Aku... Mnh?"
-Sruuuuuuukh...-
"Nesia-san... Naitemasen... Onegaishimasu..." bisik Kiku sembari mencoba menenangkan Nesia yang mulai terisak.
"A-aku... aku hanya tidak tahu harus melakukan apa..."
"Nesia-san tidak harus melakukan apapun..."
Nesia menggeleng kuat, "Setidaknya... Biarkan aku menggantikan senpai untuk menangis..."
Oh... Nesia-san...
Kiku mengeratkan pelukannya pada Nesia dan berbisik lembut, "Nesia-san... Itu sangat manis... Terimakasih karena kau mau ikut menanggungnya... Tapi aku lebih masalah jika kau menangis... Aku tidak ingin kau bersedih..."
"T-tapi... Tapi..."
"Sekarang aku ada di sini... Sudah jauh dari ayahku... Aku juga adalah kandidat terkuat dan hanya tinggal menunggu usia kedewasaanku... 20 tahun, itu tinggal 3 tahun lagi... Dan sebagai kandidat terkuat, tidak ada yang berani macam-macam dan melakukan hal seperti itu lagi padaku... Bahkan hanya menyela atau meragukanku mereka tak akan berani... Wakarimashita ka?" ucap Kiku sembari menarik tubuh Nesia untuk sedikit menjauh agar ia bisa melihat wajah Nesia saat gadis itu mengangguk kecil, "Saa... Waratte kudasai..." –kalau begitu... tersenyumlah...
Kiku membantu Nesia yang tengah mengelap air matanya dan mencoba tersenyum, "Aku bercerita seperti ini bukan untuk membuat Nesia-san menangisiku... Aku tidak suka Nesia-san menggantikanku menangis... Aku suka tawa dan keaktifan Nesia-san... Itu seperti sihir yang memberiku kekuatan..."
"L-lalu kenapa senpai bercerita hal ini padaku?"
"Uh... Tadi Nesia-san bilang bahwa aku jenius... Aku hanya ingin meluruskan pada Nesia-san bahwa aku ini tidak jenius... Aku bahkan bisa dikatakan yang paling bermasalah dalam belajar di antara semua kandidat itu... Jadi aku harus dengan rajin mengamati kemudian mengembangkan... Apalagi saat sosialisme... Mengingat aku pribadi yang sangat tertutup..."
"Tidak percaya..."
"Aku mendapat pukulan karenanya... sayangnya tidak membekas... kalau membekas aku akan perlihatkan pada Nesia-san sebagai barang buktinya..."
"Uh..."
"Aku mungkin yang paling tidak berbakat dari semua kandidat... Tapi... Aku bersyukur karena aku ternyata memiliki bakat untuk bekerja keras dan pantang menyerah... Kukira itu yang menyelamatkanku... Karena aku percaya... bakat sendiri bisa kalah dengan kerja keras... Apa Nesia-san percaya padaku?"
"Un..." ucap Nesia sembari menyandarkan keningnya pada dada Kiku, "Aku percaya Senpai..."
"Arigatou..." ucap Kiku sembari menyunggingkan sebuah senyuman, "Karena Nesia-san percaya padaku... Apakah Nesia-san mau mencoba lagi?"
"Huh?"
"Aku tidak pernah mengajari... Jadi aku minta maaf kalau metodeku tidak pas..."
"Tidak..." Nesia membuang muka, "Senpai sangat bagus mengajari... Hanya saja... Beri aku ruang dan kesempatan untuk mengerjakan sendiri... Jangan terlalu cerewet!"
"Hai... Wakarimashita..." Ucap Kiku sembari memberikan senyum kecil, "Nesia-san adalah yang pertama menyebutku cerewet..."
"Bohong... Senpai adalah orang tercerewet dan terbawel yang pernah kukenal..."
"M-Masaka? –Mana mungkin? Semua relasiku bilang aku sangat pendiam..." ucap Kiku berargumen, "Dimana cerewet-nya?
"Saat makan... Saat mengajari... Saat bicara..."
"Uh..." Kiku melirik ke arah lain dan mengingat saat Yong dengan tanpa manner mencomot bentounya, tapi kala itu Kiku diam saja, "Yah... Yong seorang laki-laki jadi tidak kupusingkan... lagipula keluarganya akan mengurusnya... Dan ini pertama kalinya aku mengajari..." gumam Kiku pada dirinya sendiri.
"Hihi..." Nesia tertawa kecil melihat tingkah aneh senpainya yang sedang mengoreksi dirinya sendiri.
"Nani?" tanya Kiku lembut.
"Kalau begitu... Tolong ajari aku lagi... Senpai..."
"Un... Mochiron desu..."
*O*
A/N:
24! Chapie 24!
Bales review di chapter selanjutnya ya :D :D
Next! - - -
