Kiku tersenyum lembut saat melihat papan pengumuman yang ada di Hall utama Senior High. Ia tidak tersenyum pada nilai-nilainya yang kembali mengundang decak kagum teman-temannya. Tidak pula pada nilai kohainya, Nesia yang ia didik seminggu ini, yang menduduki peringkat pertama di angkatannya.
Apa yang membuat Kiku tersenyum sendiri dengan bodohnya adalah karena menyaksikan namanya berada di samping nama Nesia sebagai sesama pemegang peringkat pertama.
Kiku seakan merasakan bahwa takdir mereka berdua memang untuk berdampingan, dan hal ini membuat senyum anehnya semakin melebar.
"Hanya olahraga, huh?" desis Arthur ketika melihat satu-satunya nilai miliknya yang unggul dari Kiku. Satu-satunya nilai dimana Kiku mencetak nilai B, bukan A+ seperti yang lainnya.
"A-a-a-ar-arthur-san?! A-ahahaha... Iie... K-ko-kore wa..."
"Pantas saja kau senyum-senyum sendiri, Kiku!" teriak Alfred dari belakang Arthur yang membuat si pemuda Inggris kaget setengah mati.
"A-aku tidak senyum-senyum sendiri..." gumam Kiku sembari menyembunyikan muka dengan cara memalingkannya.
"Jangan teriak dari belakangku, git!"
"Artie! Kau harus lihat nilai Hero!" Seru Alfred lagi, "C-ku hanya 3 kali ini! Hebat kan? Hebat kan?"
"Ya... Ya..." Desis Arthur lelah.
"Ini semua karena "service"mu sepanjang malam..."
"Service?" ucap Kiku kaget dan agak kecewa karena merasa melewatkan 'Harta Karun'.
"Aku hanya membantunya belajar! Jangan pikir yang tidak-tidak!" seru Arthur dengan muka merah padam.
"Padahal Artie tidak hanya... Umnh!"
"Berisik! Diamlah!" gerutu Arthur sembari menyumpal mulut Alfred dan menyeretnya pergi.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Karena test sudah lewat, sekarang ayo kita bahas tour musim panas kita! Aku ingin pergi ke Florida!" seru Alfred membuka Forum Angkatan untuk menentukan usulan acara camp musim panas.
"Hell!Itu di Amerika! Terlalu jauh dari sini! OSIS tidak akan setuju!" sanggah Arthur.
"Kan cuma satu samudra... Pantai di sana sangat keren! Sekeren Hero! Lagipula nanti kau bisa bertemu dengan orang tuaku..." ucap Alfred antusias sembari mengangkat jempolnya ke arah Arthur.
"Siapa yang mau ketemu dengan orang tuamu?!" Arthur menangkis Alfred dengan galak dan muka yang memerah.
"Kesesesesese... Lebih baik ikuti aku yang Awesome ini ke Neuschwanstein!" seru seorang Prussen.
"Aku tidak mau menghabiskan musim panasku di kastil aneh berhantu... Buang-buang kesempatan untuk menikmati matahari saja!" cegat Elizaveta.
"Kau tidak tahu betapa Awesome-nya Neuschwanstein! Itu adalah kastil negeri dongeng ter-Awesome sejagad raya, seperti diriku!" balas Gilbert.
"Honhonhon! Bagaimana kalau kita wisata seni dan belanja di Paris? Setelah itu kita bisa menikmati hidangan lezat buatan chef ternama... yang skill -nya sangat jauh di atas Arthur..."
"Kau sengaja menambahi untuk mengejekku, you frog?!" geram Arthur sembari mengepalkan tangannya.
"Honhonhonhon..."
"Kita ke Florida! Kau setuju denganku kan Kiku?!" desak Alfred.
"A-aku ikut sa-..."
"Kiku! Buat pilihanmu sendiri!" seru Vash, "Kita ke Alpen!"
"Itu ide yang bagus, kak..." sahut Lily.
"Bagaimana kalau ke Moscow, da?" usul Ivan.
"JANGAN BERCANDA!" semua sontak memeluk dirinya sendiri -kedinginan.
"Kan sedang musim panas, da..."
"Tetap saja, Aru..."
"Pokoknya kita menghabiskan camp di Paris!"
"Yang benar saja! Masa kita mau mengadakan camp di tengah kota?!"
"Sudah HERO bilang! Pantai Florida pilihan terbaik!"
"Heeeh... Padahal kalau pantai... Sychelles pasti lebih baik..." gumam seorang gadis berkuncir dua.
"Bagaimana kalau kita ke Sealand?"
"Memangnya muat?" seru gadis kecil tahun pertama yang berasal dari Wy.
"Oke kita ke Florida!" seru Alfred tak peduli.
"SEENAKNYA SAJA MEMUTUSKAN!" raung yang lainnya menolak.
-BRAAAAAK-
"KALIAN BISA TENANG TIDAK?! APA KALIAN TIDAK TAHU KALAU RUANGAN SEBELAH ADALAH PERPUSTAKAAN?! KENAPA TIDAK TENTUKAN BEBERAPA PILIHAN LALU MELAKUKAN VOTING?!" seru Ludwig saat membanting pintu.
"Sh*t... Padahal aku sudah memberitahu waktu yang salah pada west tentang rapat kali ini biar perabotan tidak digebrak... Ternyata masih datang tepat waktu dan masih juga digebrak... Bisa dimarahin kakek nih..." gumam Gilbert lirih.
"B-broer bilang apa?"
"West... Tidak Awesome kalau nggebrak-nggebrak! Nanti tekanan darah tinggi! Nanti membuat yang lainnya jantungan!" seru Gilbert mengkuliahi adiknya.
"Memangnya siapa yang membuatku harus seperti ini?!"
"Vee~~... Jangan bertengkar... Kita makan pasta saja..."
"Aku akan makan, Feli... Tapi kau yang memasak... Jangan Arthur..." ucap Francis sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Aku dengar itu, bloody frog!"
"Veee~~... Aku tidak mungkin membiarkan Arthur memasak... Masakannya tidak enak... dulu aku dan Lovino pernah mencobanya dan rasanya sangat tidak enak... Apalagi kue rasa sikat pispot itu..." ucap Feli innosen.
"Itu benar Feli... Itu benar! Kau sangat cerdas! Francis-niisan bangga padamu!"
"WOOOOOIIII!"
"Tidak apa-apa, Artie... Aku bisa hidup dari hamburger kok... Kau tidak perlu memasak..."
"APA MAKSUDMU?!"
"A-ano... Mina-san... C-camp-nya..." ucap Kiku lirih, bermaksud menyudahi, "Uh... Elizaveta-senpai...?"
"Ya? Kiku? Aku sedang sibuk..." ucap Elizaveta sembari menekan tombol di kamera ponselnya.
D-di saat-saat seperti inipun 'berburu'?!
"Kau mau membantuku Kiku? Sepertinya perspektif dari sana cukup bagus..."
"I-ini... Ini tidak boleh..." ucap Kiku.
"Haaaaaaaah?" seru Elizaveta sembari menoleh tajam ke arah Kiku.
.
.
.
S-shikatanai... –Apa boleh buat...
*O*
"Jadi... Tidak ada hasil, senpai?" ucap Nesia sembari memainkan sedotan jus jeruknya.
Ya... Kecuali beberapa bidikan yang hebat... Oh... Aku akan pamerkan ke Elizaveta-senpai...
"Senpai?" tanya Nesia heran sebelum kembali menyuapkan bentou buatan Kiku ke mulutnya.
"E-eh... A-ah Hai... Ini hal yang biasa terjadi..." dengus Kiku lelah sembari menatap keluar jendela kantin, "Ah, sou... Omedettou gozaimasu... –Selamat ya..."
"Huh?"
"Rangking 1..."ucap Kiku dengan senyuman manis.
"O-oh... Itu kan berkat senpai... Umnh... Terimakasih..."
"Iie... Sore wa Nesia-san no doryoku desu... –Ini semua karena usaha Nesia-san..."
"U-uh... Senpai juga... Selamat..." ucap Nesia malu-malu yang membuat Kiku menjadi ingin menepuk sayang kepala Nesia.
Uweeeh... Ganbeshite! Watashi no te! –Bertahanlah, tanganku!
"D-domo arigatou gozaimasu..." jawab Kiku lembut.
"Eh... K-kalau begitu... Setelah ini bagaimana?"
"Kita tunggu saja rapat OSIS selesai..."
"Bukan... Maksudku... Senpai..."
"Huh?"
"Senpai... uh... Senpai ikut camp-nya... kan?" ucap Nesia sembari menggigit bibir bagian bawahnya.
"Eh? Itu... Sebenarnya aku tidak tahu..."
"Eh? Kenapa?" ucap Nesia kaget dan menghentikan makannya.
"Aku tidak pernah ikut sesuatu seperti ini... Aku selalu pulang saat liburan musim panas... Dari hari pertamanya..."
"B-begitu ya..." gumam Nesia kecewa.
"Doushita ka?"
"Uh... Tidak..." Nesia menggelengkan kepalanya lemah, "Tidak ada..."
"Sou desu ka? Ja... Nanti aku akan memandu Nesia-san untuk mengisi formulir camp, ya?"
"Tidak perlu..." jawab Nesia cepat.
"Huh?"
"Aku akan tinggal di Mansion saja..."
"Na-..."
"Aku tidak ingin ada masalah terjadi... Seperti Ina membunuh seseorang atau Garuda melakukan hal aneh pada orang lain..."
"Nesia-san?"
"Aku permisi dulu, senpai... Terimakasih atas makan siangnya..." ucap Nesia sembari membereskan kotak bentou dan meninggalkan Kiku sendirian di kantin, "Sampai nanti..."
"U-un...?"
*O*
Menyebalkan! Menyebalkan! Aku tak peduli lagi! Pulang saja sana! Ke neraka sekalian! Tidak perlu kembali lagi! Sialan!
"Nesia? Ada apa? Kok serem sih?" seru Maria sembari mencolek-colek pipi Nesia.
"Tidak apa-apa..." jawab Nesia lelah.
"Kau ikut camp musim panas?" tanya Lee.
"Aku akan tinggal di sini saja..."
"Dan jadi juru kunci dorm?" imbuh Razak.
"Apaan sih?!"
"Ikut saja, Nesia... Daripada kau tidak ada kerjaan... Ya kan?" ucap Haqq mencoba melerai.
"Tidak..."
"Kau itu kenapa sih?" dengus Razak sebal, "Kau banyak sekali berubah, Nes..."
"Di mana?"
"D-di... Di..." Razak tergagap saat akan mengucapkannya.
"Kenapa mukamu jadi merah, laa?" sahut Lee.
"Tidak! P-pokoknya kau harus ikut! Awak akan tulisken form-mu!"
"Hei! Itu pemaksaan!"
"Bodoh!" serunya sembari pergi entah ke mana.
.
.
"Ih! Apaan sih itu anak!?" dengus Nesia jengkel, "Kalian juga... kenapa tertawa-tawa nggak jelas gitu?"
"Ah... Perasaanmu saja, Nes..." ucap Maria sembari menyembunyikan senyumnya.
"Mungkin Razak cemburu, Nes..." Lee menjelaskan tingkah Razak.
"H-huh?" Nesia berkedip tidak percaya.
HEEEEEEEEEEEEEEEEEEH?! Masa sih?! Masa sih?! Masa sih?!
"C-cemburu? Kenapa?" ucap Nesia mencoba tetap cool.
"Habisnya... Kau kelihatan bersama dengan senpaimu itu terus akhir-akhir ini..."
"I-itu hanya... karena... Dia itu tutorku..." seru Nesia mengelak.
-Kelihatan banget bohongnya...-
"Nesia..." Maria menepuk pundak Nesia lembut, "Kasihan Razak kamu PHP-in terus... Kau sukanya sama siapa sih?"
"He? Suka?"
"Iya... Sama Razak atau sama senpai bernama Honda Kiku itu?"
.
.
.
"YA ENGGAKLAH! DEMI APAPUN AKU NGGAK AKAN SUKA SAMA IBLIS KEJAM ITU!" seru Nesia galak.
"E-eh? Iblis kejam?" Maria yang kaget akan teriakan Nesia berangsur mundur untuk bersembunyi di belakang Lee dan Haqq.
"Kau tahu apa yang ia lakukan padaku!? Dia membuatku mengerjakan soal-soal gila itu terus menerus tanpa berhenti! Mana dia bawel banget lagi! Yang bilang dia pendiam dan alim pasti sudah gila!" seru Nesia tanpa henti, "Mana dia seenaknya mau pergi! Pokoknya aku tak peduli lagi!"
"K-kamu ini sedang bicara apa, Nes?" ucap Haqq menurunkan tensi.
"Nggak tahu!" seru Nesia sembari meninggalkan Maria, Haqq dan Lee.
.
.
"Ini tidak baik..." gumam Maria lirih.
"Apanya, laa?" tanya Lee dengan gaya tak peduli.
"Nesia... Nesia jangan-jangan suka sama kakak tingkat itu!"
"Eh? Bukannya tadi dia bilang 'nggak bakal suka'? Berarti nggak akan kan?" sanggah Haqq dengan kalem.
"Kalian memang tidak pengertian! Pokoknya kita harus ikut juga! Dan misi kita di camp ini adalah membuat Nesia kembali menyukai Razak!"
"Nesia menyukai Razak kok... Buktinya dia hanya main-main saat bilang mau menyantet Razak..." ucap Haqq sembari tersenyum simpul.
"Ini bukan seperti itu Haqq!" seru Maria, "Ini masalah hati!"
"Oh... Aku mengerti, laa..." sahut Lee dengan intonasi datarnya.
"Bagus! Lee! Kau ahli strateginya!"
"Serahkan padaku!" ucap pemuda Singapura itu sembari membenarkan letak kacamatanya.
"Eh? Teman-teman... sepertinya kita tidak boleh mencampuri hal-hal seperti ini..."
"Haqq! Saat-saat seperti inilah sebagai sahabat kita dibutuhkan! Apapun yang terjadi, kita akan membuat mereka berdua bersama lagi!"
"Eh... Aku tak yakin akan hal ini..." ucap Haqq lirih.
*O*
"Desu kara ne... Sakura-chan... Onegaishimasu..." ucap Kiku memohon di telepon. –karena itu, tolonglah, Sakura...
"Watashi wa dekimasen... Aniue wa wakatteimasu... Chichiue wa okonni narimasu!" jawab suara dari seberang. –Aku tidak bisa melakukannya... Kakak mengerti... Ayah akan sangat marah!
"Jitsu wa... Nani ga arimasu ka? Aniue? Naze Aniue wa ie ni kaeru koto ga dekimasen?" –sebenarnya... apa yang terjadi, Kak? Kenapa kakak tidak bisa pulang ke rumah?
"S-sore wa..." Kiku menelan ludah, "T-tanomu yo!"
"He?! C-c-cho-chotto o machi kudasai! Ani-" T-tunggu dulu, kak-...
-pip...-
"Sudah?" tanya Kakek Tara yang tengah menyeruput tehnya.
"Watashi wa chichiue ni korosareta... –Ayah akan membunuhku..." lirih Kiku yang kini tergeletak tak berdaya di lantai.
"Mana mungkin ayahmu akan membunuhmu? Ini menyangkut istrimu... Kau tidak boleh meninggalkannya sendirian! Bagaimana sih kau ini?!"
"Tidak... beliau pasti akan membunuh saya..."
"Nak Kiku... Ayahmu seorang sadis? Masa membunuh anak sendiri?" tanya dr. Greef.
Aku tidak mau mengatakannya dan menjadi anak durhaka... tapi, ya... semacam itulah...
"Kalau begitu bawa saja Nesia ke rumah? Gampang kan? Kenapa kau tidak mau membawanya ke rumah?" imbuh dr. Greef
Karena itu akan menjadi sangat seram sekali! Tidak... demi kebaikan Nesia-san... tidak...
"Bukankah malah bagus jika kau membawa Nesia ke rumah keluargamu? Mendekatkan ia pada keluargamu atau apa seperti itu? Supaya keluargamu semakin mengenal Nak Nesia sehingga mereka semakin suka dan mau menerimanya..." lanjut Tara.
-DHEEEEEEEEG...-
Iie... Iie... Iie... C-chotto! Pikiranku... jangan berlari ke hal-hal yang aneh!
"Jadi masalah di antara keluarga kalian bisa cepat hilang..." imbuh kakek tua itu lagi.
Aaah! Bagaimana ini?! Apakah aku membawa Nesia-san ke rumah? Tidak! Tidak! Chichiue terlalu berbahaya bagi Nesia-san... apalagi kalau mengetahui kepribadian ganda Nesia-san... Ah!
"Nak Kiku? Kau mendengarkanku?"
"A-ah... Hai?"
"Sudah... Bawa saja ia pulang ke rumah... Kalau kau takut dituntut tentang keturunan, bilang saja masih muda atau sedang berusaha... Kalian masih muda... tidak perlu malu..." ucap Kakek Tara sembari menepuk pundak Kiku.
Ini sebenarnya pembicaraan apa?!
"Kenapa?"
"I-Iie... Jangan sekarang... Lebih baik aku yang tinggal di sini..."
"Yah... Nak Kiku yang lebih tahu..." ucap Tara sembari tersenyum, "Tapi hebat juga Nak Kiku... Akhirnya Nak Kiku nekat menolak pulang ke rumah..."
"Jangan ingatkan itu... Onegaishimasu, Tara-jiisan..."
"Baiklah... Sekarang waktunya kau mengisi formulir camp musim panas dan pastikan kalian duduk bersama dan kedapatan kamar untuk berdua... Oh, ini seperti honeymoon! Benar kan? Dr. Greef?"
"Benar sekali!"
"Sonna mono arimasen!" seru Kiku dengan muka merah.
"Hee? Kenapa?"
"N-nesia-san... Nesia-san wa... Ukht... I-ini acara sekolah! Mana mungkin melakukan hal seperti ini!"
"Seperti apa?" tanya Tara dan dr. Greef hampir berbarengan.
"Kenapa kalian mem-bully-ku?"
"Hee? Siapa yang mem-bully?" ucap dr. Greef menggoda.
"Iya... Siapa yang mem-bully?" Kakek Tara mengikuti.
K-kalian berdua kelihatan sekali sedang bersekongkol!
"P-pokoknya... Nesia-san... dan aku..."
"Kenapa denganku?" potong sebuah suara yang sangat Kiku kenal.
-Dheeeg-
Hiiiiiiiiii! Darimana Nesia-san muncul?!
"Ah... Nak Nesia... Kau sudah pulang?"
"Ya... Kalian sungguh ramai... Jadi aku mengecek ada apa... Jadi... Ada apa denganku?"
"Iie... Nandemo arimasen... Nesia-san..."
"Ah... Nak Kiku sudah berhasil dapat izin untuk ikut camp... Kalian bisa pergi berdua..."
"T-tara-jii-san!"
"Senpai... akan ikut?"
"U-uh... Maa..." jawab Kiku agak malu.
"Benarkah?" seru Nesia tak percaya namun sinar keceriaan tak bisa disembunyikan dari parasnya.
"Ah... Hai..." jawab Kiku setengah tertegun.
"Demi kamu, ia sungguh nekat loh Nak Nesia... Kau harus beri hadiah untuknya!"
"Hadiah?"
"Kiss atau sesuatu yang nakal seperti-..."
"Nesia-san... sebaiknya kita tidak perlu mendengarkan dua pervert ini dan pergi sekarang juga!" seru Kiku sembari menutup telinga Nesia dan menuntunnya keluar dari ruang perpustakaan.
"U-un..."
*O*
"Hgh..." Kiku menghela nafas saat ia dan Nesia telah sampai di dalam kamar mereka.
"Apa yang terjadi?"
"Iie... Bukan sesuatu yang penting... Daripada itu, Nesia-san... di mana formulir milik Nesia-san?"
"Formulir?"
"Ya... Setelah diumumkan tujuan kita oleh OSIS, kau dibagikan lembaran kertas kan?"
"Ah! Kertas itu!" seru Nesia ketika mengingatnya, "Razak yang ambil..."
"Huh? N-na-naze desu ka?"
"Aku tidak berminat dengan camp ini... jadi kuserahkan saja kertasnya pada Razak..."
HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH?!
"Naze desu ka?!"
"Eh? Y-ya... Karena aku tidak berminat..." jawab Nesia heran.
"Tapi kenapa harus diserahkan ke anak itu, Nesia-san?" ucap Kiku mencoba untuk tenang dan tetap berkata dengan lembut. "Kita harus mengambilnya kembali..."
"Lagipula senpai kan bilang senpai tidak mau ikut..." gerutu Nesia lirih, "Memangnya ada apa dengan formulir itu sih, senpai?"
"Formulir itu buat menuliskan Nesia-san akan pergi sekelompok dengan siapa..."
"Nggak masalah kan? Tujuan kita kan sama..." ucap Nesia sembari mengerutkan keningnya pada wajah panik Kiku.
"Demo..."
"Tapi?"
.
.
.
"P-po-pokoknya kita harus ambil!" seru Kiku dengan muka yang memerah.
Nesia hanya mengernyitkan kening sebagai bentuk kebingungannya saat Kiku tergesa-gesa meninggalkan kamar untuk pergi entah kemana.
Memangnya sepenting itu ya formulirnya?
*O*
*O*
Nesia melihat keluar kaca jendela bus. Gadis itu memperhatikan beberapa kendaraan yang mendahului bus yang ditumpanginya. Selang beberapa saat, kini giliran pemandangan Highway yang menjadi perhatiannya.
Bosan.
Nesia sungguh menyesal ia tidak membawa sesuatu yang bisa ia mainkan atau dengarkan di perjalanan panjang yang maha membosankan ini.
"Nesia... Kau mau kukis?" tanya Razak sembari menyodorkan sebungkus kukis.
"Eh? Boleh..." ucap Nesia sembari menerima, "Wah... ini enak..."
"Huh! Tentu saja! Itu buatanku!"
"Heee... Kau bisa bikin kukis?"
"Kau meremehkanku, Indon?!"
"Hihihihi..."
"U-ukht!" Razak memalingkan mukanya yang memerah malu.
"Terimakasih ya, Malon..."
"Huh! Tidak perlu!" ucap Razak malu-malu.
Diliriknya Nesia dengan hati-hati. Gadis yang duduk di dekat jendela bus itu kini tengah menikmati kuis buatannya satu per satu. Sungguh tepat idenya; membuat jajanan untuk dinikmati berdua saat perjalanan. Razak tersenyum sendiri saat melihat Nesia dengan manis dan polosnya memainkan kukis berbentuk ikan dan beruang. Menjadikan mereka seolah-olah sedang berkomunikasi. Namun senyum itu harus hancur karena ia merasakan sesuatu.
Hawa pembunuh.
"Huh?!"
"Ada apa, Malon?" tanya Nesia.
"Eh... T-tidak... mungkin... perasaanku saja..."
"Apanya yang perasaanmu saja?" tanya Nesia tak mengerti, "Kau mau kukisnya?"
"Y-ya..." jawab Razak setelah memastikan sekitarnya aman dari hawa pembunuh.
Yang lagi-lagi datang saat Razak akan mengambil beberapa kuis.
Razak melingukkan kepalanya ke semua sudut, mencari siapa sumber hawa pembunuh itu.
"Kau kenapa sih?"
"Tidak... aku..."
"Aku suapin?" Tanya Nesia sembari mengambil kuis dan menyodorkannya ke mulut Razak.
"N-nes..."
-PLETAK!-
Sebuah bola plastik menghantam kepala Razak dengan kecepatan cahaya, bagaikan dilemparkan tanpa ampun.
"Wah! Kukisnya!" seru Nesia saat kuis yang disodorkannya pada Razak terdorong jatuh, "M-malon?! Kau tidak apa-apa?!"
"K-kepalaku..."
"A-ada apa dengan kepalamu? Kau tidak apa-apa?" seru Nesia sembari menelantarkan kukisnya untuk melihat kepala Razak, "Apa yang terjadi?"
"Seseorang melemparkan sesuatu..."
"Mana yang sakit?"seru Nesia khawatir sembari menoleh mencari si 'penjahat'.
"Di sini..." tunjuk Razak ke bagian kepalanya yang tertimpuk dengan manja.
Nesia menggosokkan tangannya ke bagian kepala Razak yang diklaim sakit karena timpukkan sesuatu yang tidak diketahuinya, mencoba untuk meringankan rasa sakit yang diderita oleh pemuda Malaysia itu, "Masih sakit?"
.
.
.
"Woi, Malon? Masih sakit nggak?" tanya Nesia heran karena sebelumnya tidak mendapatkan jawaban.
"N-nesia..." ucap Razak diikuti menelan ludah, "Sebaiknya kau duduk dengan tenang..."
"H-huuuh? Apa maksudmu? Kepalamu sudah sembuh belum? Apa semakin rusak?" tanya Nesia tidak peka pada keringat dingin yang mengucur deras di pelipis Razak.
"J-jangan... Untuk sekarang, tolong berhenti..." ucap pemuda itu lagi, gemetaran, sembari menurunkan tangan Nesia dari mengelus kepalanya, "Aku merasa aku akan dibunuh saat ini juga jika kau tak menghentikannya..." gumam Razak sangat lirih sampai-sampai Nesia tak jelas mendengarnya.
"Kau kenapa sih? Mabuk kendaraan ya? Kok pucat sekali?"
"T-tidak... tolong... hentikan... tolong..."
*O*
"H-h-hy-hyu-hyung..." panggil Yong Soo takut-takut kepada iblis yang tengah dengan 'santai' menyadarkan kepala ke topangan dagunya dan memperhatikan sesuatu di depan.
"K-kumohon, da ze... H-hentikan apapun yang... sedang hyung lakukan... ini..."
"Hee?" gumam Kiku dengan seringaian jahat.
"N-n-ng-nggak... N-nggak jadi..." Yong Soo menarik permintaannya.
Thai! Hong! Kalian super kejaaaaaam!
Yong Soo mengutuki kedua sahabatnya itu yang sekarang pasti tengah enak-enakan berduaan dengan pasangan masing-masing di bus lain. Tega-teganya mereka 'mempercayakan' makhluk yang satu ini pada dirinya. Bahkan sebelum camp dimulai saja, hari Yong Soo sudah dikerubuti awan badai.
Kiku tersenyum saat memastikan Nesia telah kembali menatap jendela dan tidak memperhatikan Razak lagi. Baginya ini sebuah kemenangan yang layak untuk dirayakan setelah ia kalah untuk merebut kertas formulir dari tangan Razak.
Kiku benar-benar kesal saat itu. Ia terlambat ketika akan coretmerebutcoret meminta formulir milik Nesia dari Razak. Saat Kiku sampai, formulir itu telah di-submit ke OSIS.
Tapi untungnya dia adalah seorang Honda Kiku sehingga pengurus OSIS memperbolehkannya untuk melihat formulir-formulir yang telah terkumpul. Ingin rasanya Kiku mengganti isi di formulir milik Nesia, sayangnya waktu itu Kiku diawasi oleh Francis-senpai yang menggalau –dan curcol- karena usulnya untuk pergi ke Paris ditolak mentah-mentah oleh Allastor Kirkland, sang ketua OSIS.
Tapi tidak apa, setidaknya Kiku sudah mengetahui informasi lengkap dari di bus mana dan kursi nomor berapa Nesia duduk sampai di kamar mana Nesia ditempatkan dan bersama siapa saja. Sisanya ia tinggal mengandalkan kemampuannya sebagai seorang Stalker dan wakil ketua klub Fujodanshi.
KANPEKI! Ahahahahahahahahaha! -sempurna!
Sekali lagi Kiku tersenyum tipis. Wajah yang tenang dan normal bagi yang tidak mengenal Kiku cukup lama. Namun bagi Yong Soo, raut wajah Kiku tadi memperlihatkan bahwa pemiliknya ini tengah tertawa dengan horor di dalam hati. Yong Soo yang duduk di sebelahnya dan tidak sengaja menyaksikannya semakin menciut. Ingin rasanya ia kabur dari tempat ini.
Tapi tidak bisa.
Kini ia menyesali kenapa ia memaksa untuk duduk di dekat jendela dan bukan di pinggir saja sehingga ia bisa kabur sekarang ini.
Sekarang ini.
Sekarang, ketika aura gelap entah kenapa kembali mencuat dengan ganas.
Mengumpulkan keberaniannya sedikit demi sedikit, Yong Soo berusaha untuk kembali menegur Kiku. Ia tahu bukan hanya dia yang menderita akibat perubahan mood ekstrem dari bahagia –saat berangkat- menjadi suram mencekam penuh ancaman pembunuhan karena seseorang. Seluruh siswa yang duduk di bagian belakang bus telah merasakan itu semua dari tadi.
Mood Kiku yang sangat 'dinamis' benar-benar memacu jantung mereka hari ini.
Diliriknya beberapa adik tingkat yang telah memilih pingsan ataupun yang mengerut menjauhi si penebar ancaman, serta beberapa teman setingkatnya yang komat-kamit merapalkan doa –atau mantra pengusir setan (?).
Kasihan.
Yong Soo tidak ingin pengalaman camp yang seharusnya menyenangkan menjadi menakutkan.
"K-k-k-ki-ki-KIKU HYUNG!" seru Yong Soo penuh keberanian.
"Hai?" jawab Kiku terganggu sembari melirik sekilas ke arah Yong Soo.
.
.
.
"Doshita?" Kiku akhirnya menoleh sedikit ke arah Yong Soo yang telah terlanjur pingsan.
-Semoga Yong Soo Oppa diterima dan ditempatkan di sisi terbaik... Amin...-
*O*
"Angin! Air yang melimpah! Pohon kelapa! Pasir pantai!" Maria melakukan presensi pada apa saja yang dirasakan oleh kelima indranya, "Horizon!"
"Waaah!" Nesia berdecak kagum.
"Selamat datang di Laut Baltik... Perairan payau terbesar di dunia..." ucap Lee menjelaskan.
"Wah! Laut! Laut!" seru Nesia sembari lari menuju ke pinggir pantai tempat ombak berlabuh.
"Kampungan..." dengus Razak, "Kau juga Maria... Padahal kau sering ke pantai kan? Kau tinggal di Negara kepulauan..."
"Nggak apa kan? Aku sudah lama nggak melihat laut... Lagipula penghuni Negara kepulauan terbesar di dunia saja seperti itu..." seru Maria sembari menunjuk Nesia yang sedang bermain air dengan sangat antusias.
"Nesia seperti tidak pernah melihat pantai saja..." ucap Lee.
"Dia belum pernah pulang ke Indonesia..." jawab Razak datar.
"Heeeeh? Benarkah?" sahut Lee.
"Sayang sekali ya..." imbuh Maria.
"Malon!" panggil Nesia tiba-tiba.
"U-uh?"
"Sini! Sini! Aku menemukan sesuatu!" seru Nesia ceria dari kejauhan.
Cuaca yang cerah hari ini membuat matahari tidak malu untuk menunjukkan dirinya, membuat kilauan-kilauan indah di atas air payau laut Baltik. Membuat sebuah background indah bagi Nesia yang dengan ceria dan kilauannya sendiri yang membuat Razak menggigit bibir bagian bawahnya dengan canggung.
"Razak! Sini! Cepetan! Nanti kepitingnya keburu lari!" panggil Nesia lagi.
"Dasar... Terlalu bahagia..." dengusnya sembari menunduk malu saat melihat Nesia terus melambai ke arahnya.
"Tuh... dipanggil tuh..." seru Maria sembari mencolek-colek pundak Razak.
"Ayo sana kejar!" imbuh Haqq.
"Keburu didahului orang lain loh... seorang senpai misalnya?" goda Lee.
"Ugh..." raut wajah Razak berubah serius, ia menelan ludah.
"Kami mendukungmu! Tenang saja!" seru Maria sembari mendorong Razak.
"S-semuanya..." Razak berbalik badan menghadap Maria, Haqq dan Lee, "T-terimakasih!" seru Razak pada ketiga sahabatnya.
"Harus dapatkan loh..." ucap Lee.
"Awas kalau lepas!" seru Maria menyemangati.
"Aku mengerti!" jawab Razak sembari berbalik badan dan tanpa ragu melangkah.
.
.
.
"D-DI MANA NESIANYA?!"
*O*
"Di mana sih si Hong sama Thai, da ze?! Mereka meninggalkanku sendirian?" keluh Yong Soo lirih.
"Yong Soo-san..."
"I-iya... Hyung?"
"Aku akan jalan-jalan... Yong Soo-san mau ikut?"
"Y-yah... Aku tidak ada kerjaan, da ze..." jawab Yong Soo sembari melangkah, namun terhenti karena Kiku tak beranjak dari tempatnya, "Hyung?"
Yong Soo melihat arah ke mana Kiku menatap dan menemukan seorang gadis yang dikenalnya, "Ah! Itu Nesia, da ze!"
"Ssh!" Kiku menahan Yong Soo dan menyuruhnya untuk diam.
"K-kenapa, hyung?" tanya Yong Soo heran.
Namun, bukannya menjawab, Kiku hanya tersenyum lembut ke arah Yong Soo dan membuat pemuda Korea Selatan itu tertegun.
Dan merinding ketakutan.
I-ini terlalu mengerikan! Ini sumpah lebih seram daripada film horor manapun da ze! Tidak ada yang lebih menakutkan daripada ini da ze! Untungnya Kiku bukan dari Korea da ze!
Yong Soo tidak mengerti atas mood Kiku yang lagi-lagi berubah dengan super cepat. Tadi di bus Kiku seperti akan membunuh seseorang dengan senyum mengerikan itu. Akan tetapi, sekarang pemuda itu terlihat akan -dan mungkin sanggup- untuk membangkitkan seseorang dengan senyumannya yang sangat lembut.
Yang sekarang diarahkan pada Nesia.
Sayang gadis itu tak jua menyadari bahwa Kiku tengah memperhatikannya dengan senyum itu. Ia hanya terus berlarian dan membuat riak di ombak yang telah pecah.
Yong Soo hanya bisa menghela nafas lelah. Ia tahu sejak lama kalau Kiku pasti menyimpan sesuatu pada kohainya itu. Namun, ia tak menyangka kalau sesuatu itu bisa sehebat ini. Sangat hebat sampai-sampai membuat Kiku tak sadar tengah melepaskan emosi yang begitu kuat.
Dan ini adalah kali pertama Yong Soo melihatnya.
Mungkin di bus tadi juga gara-gara Nesia, da ze... Kalau begini sih... demi menjaga kedamaian hidup seluruh makhluk di bumi, kita harus menyatukan mereka da ze... Sebaiknya aku meminta bantuan Mei, da ze...
"Ah!" pekik Kiku terkejut saat melihat Nesia jatuh dan membuat seluruh tubuhnya basah oleh air laut, namun sedetik kemudian mulai tertawa kecil karena melihat Nesia juga tertawa.
Sumpah, da ze! Ini sangat krusial, da ze! Aku harus lapor Mei, da ze!
"Ah... Hyung?"
"Nandesu ka? Yong Soo-san?" Kiku menoleh setelah menyelesaikan tawa kecilnya dan sebentar kemudian kembali menatap Nesia.
"A-aku... cari Thai-Hyung dan lainnya ya..."
"U-uh... Hai..." jawab Kiku agak berat.
"A-ada apa lagi, hyung?" tanya Yong Soo khawatir –dan ketakutan menyadari Kiku telah berubah kembali.
Kiku tak menjawab, ia hanya melangkah pelan menuju ke arah Nesia. Yong Soo yang kebingungan akhirnya menoleh ke arah Nesia dan menemukan seorang pemuda tak dikenal tengah mendekati Nesia yang masih tertawa.
ANIYAAA! INI AKAN MENJADI TKP PEMBUNUHAN!
"Hyuuuuuuuung! Sabar, da ze! Jangan bunuh orang, da ze!" seru Yong So sembari menahan Kiku.
Namun Kiku tetap tak peduli, ia terus melangkah mendekati Nesia berusaha untuk lebih dulu sampai daripada saingannya.
"Uweeh! Nesia! Tolong hentikan hyung, da ze!" panggil Yong Soo meminta bantuan.
"Huh? Senpai?" seru Nesia saat menyadari Kiku dan Yong Soo mendekat, "Ada apa senpai ke sini-sini ya?" tanya Nesia pada dirinya sendiri saat merasakan ketidakberesan.
"NESIA! KAU KEMANA?! INDON! WOOOI!" sebuah teriakan yang memanggil namanya membuat Nesia menoleh ke arah belakang.
"Razak juga?" gumam Nesia bertambah heran.
-tep...-
"Huh?!" Nesia terkejut saat merasakan sebuah tangan menarik lengannya, membuat dirinya tertarik untuk berdiri dan menoleh ke arah sang penarik.
"Kirana?"
"Eh?"
"Kirana kan?! Sudah lama kita tak bertemu! Kau sudah besar ya sekarang! Wah! Aku hampir saja tak mengenalimu!"
"Kirana?" gumam Kiku bingung sembari menghentikan langkahnya, tak bisa mendekat.
"Kok Kirana? Bukannya Nesia, da ze?" gumam Yong Soo lirih sembari terus menahan Kiku walaupun telah berhenti bergerak.
"Uh? Huh? Huh?" Nesia hanya bisa menoleh kebingungan
"Kirana... Kau tidak ingat aku?! Ini aku!" seru pemuda itu lagi dengan ceria.
"Hei! Lepaskan dia!" seru Razak ketika sampai sembari menggenggam erat tangan pemuda yang memiliki bandaid di hidungnya.
"Huh?! Kau ini siapa?"
"Harusnya aku yang tanya! Kau ini siapa!?" seru Razak naik darah.
"Aku?" pemuda itu melepaskan Nesia, tapi malah beralih merangkul pundak gadis yang tengah kebingungan itu, "Aku Austin, kau bisa memanggilku Aussy... Sahabat baik Kirana saat kecil dulu! Bahkan Kirana janji mau jadi pengantinku loh! Itu artinya kita bertunangan ya, Kirana?"
"Eeeeeeeeeeeeeeeeh?" Nesia mengelak kebingungan.
"Jangan sembarangan! Kirana siapa?! Ini Nesia!" seru Razak semari menarik Nesia keluar dari rangkulan pemuda yang mengaku bernama Austin itu.
"Tidak mungkin! Aku tahu dia Kirana! Dia pasti Kirana!" seru Aussy keras kepala.
"Yakin sekali! Kau salah orang!" seru Razak keras kepala sembari menarik lengan Nesia agar bisa lepas dari rangkulan Aussy.
Kiku hanya bisa terdiam mematung menyaksikan pertengkaran memperebutkan Nesia itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa dengan keadaan ini.
Pemuda bernama Austin.
Sahabat baik Kirana.
Kirana.
Apakah itu adalah Alter lain milik Nesia?
*O*
A/N :
Chapie 25! \(^o^)/
Neth: Lu masih hidup, -thor?
Author: Aku tahu ini udah dua bulan... Aku tahu updetnya telaaaat banget... Aku minta maaf... Tapi kau juga ga perlu sekejam itu! Aku masih hidup! Dan aku masih benci kau!
Kiku: Oh, karena itu yang keluar bukan Oranda-san... Tapi malah Osutoraria-san...
Aussy: Yeeeeeeey!
Neth: Huh!
Nesia: Ini... Camp ini sepertinya akan menjadi sangat mengerikan...
Author: Tidak semengerikan yang kau bayangkan... tenang saja Nes...
Nesia: Aku malah khawatir karena Author bilang seperti itu...
Neth: Mau dibawa ke mana sih ini cerita?
Nesia: Ke mana saja boleh...
Kiku: Entah kenapa... Aku jadi punya background story...
Author: Kau harus berterimakasih padaku Kiku!
Kiku: Iie... Maksudku... Daripada bikin background storyku... lebih baik kelarin punya Nesia saja... masa chapter 25 ini kita belum tahu apapun tentang Nesia-san?
Author: I-itu... Mengalir saja... O-oh iya! Balas Review! Kiku! Balesin!
Kiku: Tidak bertanggung jawab! *ngambil review* Pertama dari Brownchoco-san...
.
.
.
Kiku: *melipat cepat*
Author: Dibaca!
Kiku: E-eh... itu... Nggak bisa! Brownchoco-san... Kenapa review dari anda selalu bikin saya jantungan TT_TT
Author: Kau nggak bisa baca? Sini aku baca! *ngrebut
Kiku: Ah!
Author: *membaca* Suit... Suit... Kiku top deh... Brownchoco-san, aku setuju denganmu!
Kiku: URUSEEE! *kabur dengan muka merah
Nesia: Kenapa sih –thor? *mupeng
Author: Ini masalah orang dewasa... Ohohohoho!
Nesia: =.=a
Author: Untuk Neth... Kapan dia muncul? Nggak usah saja kali ya?
Neth: *Jawdrop*
Author: Enteringnya nggak pernah pas sih... Mau masukin Neth bingung...
Neth: Kalau begitu kenapa kau maskulin Aussy?! Dan kayaknya gampang-gampang saja!
Author: Memangnya kau tipe ndekatin dan langsung nyapa, "Hei! Kau Kirana kan?"
Neth: B-bukan sih... Aku kan cool...
Author: Nah... Kan... Lagipula aku nggak kepikiran Neth ada di pantai, lagi main... Nggak mungkin, yang ada paling kau lagi jual ikan asin...
Neth: Kenapa ikan asin!?
Author: Yang di-Anime-kan ikan asin...
Neth: Ukh! Next!
Author: Aku belum selesai loh...
Neth: Bodo! Selanjutnya saudara kokuri kasane... Yang lenyap itu kalau nggak salah nama saat membalas review, tapi sudah dibenarkan... Oh... Ada pesan nih... Kiku, jangan macem-macem ke Nesia... Nesia itu punyanya Neth! *mukadatar
Author: LOL... =.= Pasti yang belakang dia tambahin sendiri...
Kiku: U-uh...
Neth: Author... secepatnya munculin Neth dan jadiin sama Neth...
Author: Dia pasti mengarang...
Neth: Nesia, disuruh tambah Alter...
Nesia: Nggak mau!
Author: Itu tergantung padaku! Hohoho...
Neth: Next... dari saudara kuro... Kiku... Kau nggak bisa rate-m?
Kiku: NGGAK!
Neth: Heeeh...
Kiku: O-oranda-san?
Neth: Sudah besar begini nggak bisa rate-m? ME-MA-LU-KAN! *tawamengejek
Author: A-aku nggak tahu kenapa... tapi aku rasa ada yang salah di sini... =.=a
Kiku: A-Aku...
Neth: Sana temui saudara kuro... Jangan pulang sebelum kau bisa... dan saat itu Nesia akan menjadi milikku!
Nesia: Dasar... membahasnya yang nggak-nggak! Selanjutnya! Author! Ada saran dari Kak BlackAzure29... Katanya Neth suruh dimunculin...
Neth: *cahayaharapan
Nesia: Tapi dibuat sengsara...
Neth: *luntur
Author: Bisa jadi...
Neth: Heeeeh?!
Nesia: Untuk Kiku...
.
.
Kiku: Apa pesannya untukku, Nesia-san?
Nesia: I-iya? *mukamerah
Kiku: ?
Nesia: Gimana aku bilangnya?! A-aku... aku membaca ini.. Masa aku bilang... *Gigitbibir
Kiku: Doushite?
Nesia: D-disuruh... *mukamerah
Kiku: Disuruh?
Nesia: N-ng-ngaku... *semakinmerah
Kiku: Ngaku? Ngaku apa?
Nesia: Ngaku kalau... Kalau... Kau yang melakukannya kan?! Iya kan! Ahahaha! *kabur
.
.
Kiku: ... B-blackAzure29-san... Aku melakukan apa memangnya? *Sweatdrop
Author: Nggak tahu... Selanjutnya! Na-chan, maaf ya kalau kepanjangan...
Neth: Iya itu panjang sekali... Nggak kira-kira kau! 9000 coba!
Author: Aku ingin FF ini cepat selesai... dan waktu itu sayang kalau bagian itu dipisah-pisah... Aku minta maaf... Bener-bener minta maaf... Aku takut terlalu banyak Chapter... Chapter awal padahal 1000-an ya...
Neth: Dan hanya memuat 1/3 hari...
Author: Salah dari awal... Sudahlah... Yosh! Ganbarimasu! Next!
Kiku: Hunterxx70-san...minta maskulin Neth biar ada cinta segitiga Kiku, Neth, Malon...
.
*horor*Petirmenyambar*
-M-maksudnya hunterxx70-sanminta sesuatu seperti... t-threesome?!-
Kiku: B-bukan kan?
Neth: Tentu saja bukan!
Kiku: D-da you ne...
Author: A-aku nggak bisa bikin yang seperti itu hunterxx70-san... Maafkan aku! *bow
-SYUKURLAH!-
Kiku: K-kemudian... dr. Greef itu OC?
Author: Anggap saja dia United Nations... atau APEC juga boleh... WWF juga bisa...
Dr Greef : K-kok WWF?
Author: Chrysantemum1412-san... Domo Arigatou Gozaimasu... Maaf ini telat banget... Lagi sibuk banget soalnya... Ini saja curi waktu...
Neth: Tuh Nes... Author saja korupsi waktu!
Nesia: *mukamelas
Author: IYA MAAF... Habis ini aku balik! Next, Guest-san... Kaya Mie apa gitu ya... Rasanya nendang :D Kau berbakat posesif, Kiku...
Kiku: M-maa...
Author: Selanjutnya Araina V B-san... Dia memang keren... Dia Alter favoritku...
Neth, Nesia, Kiku: Bukan favorit-ku...
Author: Maaf telat updet ya... lagi padat banget jadwalnya... Oke... Review sudah dibalas semua... Jadi sekian untuk Author's Note yang panjangnya hampir 1000 ini... =.=a Maaf telat updet... Maaf untuk kesalahanku selama ini... Maaf karena Neth nggak keluar-keluar... Kapan dia keluarnya ya? Entahlah...
Selalu, mohon kritik, review dan sarannya ya... :D Sampai jumpa di Chapter selanjutnya! :D :D
