OUR HAPPINESS

CAST

Jung Daehyun x Byun Baekhyun

Kim Joonmyeon

Kris Wu (Wu Yifan)

Luhan

Zhang Yixing

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Rating : T

Genre : GENDERSWITCH,Family,Romance,Comedy

Author : Hanako Kim x Daebaektaeluv


Author Note :

Annyeong reader! Author kembali dengan ffnya hahhaa,semoga menghibur untuk para reader. mohon reviewnya jika ff ini mau lanjut hehe.

tapi ada sedikit balasan review dari Author :

PChuu : gomawo udah baca,ditunggu terus ya ffnya hehehe ^^

honeykkamjong :makasih udah nunggu hehehe,maaf author kemarin banyak tugas jadi lama kekke,gomawo for review.

fienyeol : ini udah lanjut,makasih ya udah baca and review wkwkwk,maaf saja disini tak ada yeoljae yang next nanti ada hehehehe ^^

nadhira788 : makasih udah baca dan review ne,hmm nanti dulu ya buat yeoljae ada segment khusus kok nanti ^^ ditunggu terus ffnya hehe.

dhantieee : cieee kamu :v ,hahahah gomawo for review and bacanya hahaha

sampai disitu ya balasan reviewnya,kalo reviewnya banyak banyak lagi yang balasannya hehhee,see you next time..

!THIS STORY IS MINE!

"Hey, Baek!" Seru Daehyun begitu ia sampai di atap sekolah. Dua hari sebelumnya, ia dan Baekhyun berjanji akan bertemu di atap sekolah saat istirahat kedua, setiap hari. Baekhyun yang awalnya berdiri menghadap gedung tua disamping sekolah, segera membalikkan tubuhnya kebelakang begitu mendengar suara Daehyun.

"Lama sekali..." Gumam Baekhyun sambil menunjukkan wajah lesunya. Daehyun kemudian mengusap pelan rambut Baekhyun dan kemudian bersandar pada pagar pembatas disana.

"Yah, Kang songsaenim kembali membahas kejadian minggu lalu. Ia bilang, ia tak mau kejadian seperti kemarin terulang dan kemudian percakapan itu mengakar kemana-mana." Jelas Daehyun yang kembali membayangkan ucapan-ucapan yang dilontarkan Kang songsaenim. Dan semua ucapan itu membuatnya mengantuk.

"Oh, kejadian itu.. aku tidak akan menyangka kejadian seperti itu akan terjadi.." ucap Baekhyun pelan. Ia teringat betapa kacaunya hari itu. "Joonmyeon bahkan tidak mau lagi membahasnya. Kalaupun ia cerita, ia tidak menceritakannya secara lengkap."

"Yongguk bilang, semua itu gara-gara Yixing. Aku tidak tahu pasti kenapa.." Sahut Daehyun. "Ngomong-ngomong, kenapa kita jadi membahas hal seperti itu, huh?"

"Hahaha, baiklah.. aku tidak akan membahasnya lagi." Ucap Baekhyun. Daehyun tersenyum mendengarnya.

"Oh ya, ngomong-ngomong.. kenapa kemarin kau tidak membalas LINE dan menjawab panggilan teleponku?" Tanya Daehyun. "Aku khawatir, kau tahu?"

Baekhyun hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Daehyun. Ia hanya menundukkan kepalanya, tak berani melihat wajah Daehyun. Daehyun yang merasa aneh pada Baekhyun kemudian mendekatkan dirinya. "Baekhyun?"

"Orang tuaku.."

Setelah mendengar kata-kata itu, Daehyun segera membelalakan matanya. Pikiran-pikiran negatif merayapi otaknya. 'Apa orang tua Baekhyun tahu kalau aku pacaran dengannya dan tidak menyetujuinya, lalu meminta kami putus?!' Batin Daehyun. 'Jangan sampai begitu tuhan..' Lirihnya tak berdaya.

"Mereka.. bertengkar.. lagi." Sambung Baekhyun.

"Eh?" Daehyun agak kaget begitu mendengar ucapan Baekhyun barusan. Ternyata apa yang ada di pikirannya bukanlah sesuatu yang terjadi. Tapi ia masih dibingungkan dengan pernyataan Baekhyun yang menyebutkan orang tuanya bertengkar. Apakah alasan Baekhyun tinggal terpisah dari orang tuanya adalah karena mereka bertengkar?

"Kemarin mereka datang ke rumah Joonmyeon-kemudian mereka saling meninggikan suara mereka di hadapanku dan Joonmyeon." Lirih Baekhyun pelan. "Joonmyeon kemudian mengunci dirinya di kamar, membiarkan aku menonton pertengkaran Umma dan Appa."

"Ba-bagaimana.. bisa? A-aku kira orang tuamu.." Daehyun tertarik mendengar cerita Baekhyun.

"Tidak." Sangkal Baekhyun. "Mereka tidak seperti yang kau bayangkan, atau orang lain bayangkan.."

"Mereka memperebutkan hak asuh.. diriku."

Daehyun meneguk ludahnya pelan. Belum pernah ia bertemu dengan orang lain yang mempunyai masalah dengan orang tua mereka, mungkin yang paling parah mereka bertengkar dengan orang tua masing-masing karena kenakalan mereka sendiri. Namun untuk masalah seperti Baekhyun, jujur saja, baru kali ini ia mengalaminya. Apalagi, Baekhyun adalah pacarnya sendiri.

Daehyun sebelumnya tahu hal-hal seperti ini dari drama-drama yang ia tonton di televisi-dan dia baru menemukan kejadian yang benar-benar nyata saat ini.

"Mereka.. kenapa bisa begitu? Maksudku.."

"Mereka hampir berpisah! Sudah lima tahun yang lalu sejak mereka menelantarkanku begitu saja!" Seru Baekhyun meninggikan suaranya. Wajahnya memerah dan Daehyun dapat melihat air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. "Dan kali ini mereka datang begitu saja dan ingin mengambil hak asuhku! Itu gila, kan?!"

Tanpa aba-aba, Daehyun kemudian mendekap Baekhyun dalam pelukannya. Memeluknya seerat mungkin, membiarkan Baekhyun menangis sepuasnya menghilangkan kemarahan dan kesedihan yang bercampur dalam hatinya. Walaupun Daehyun tidak mengalaminya, namun ia dapat merasakan juga apa yang Baekhyun rasakan saat ini.

Baekhyun sangat membutuhkan kasih sayang orang tua.

Dan Daehyun tak habis pikir, mengapa tiba-tiba pembicaraan meereka berdua mengakar pada pertengkaran orang tua Baekhyun?

"Shh, tenanglah... mereka sayang padamu, Baekhyun.." Ucap Daehyun meyakinkannya.

"Tidak.. kalau mereka sayang padaku, mereka tidak akan bertengkar seperti ini.." Gumam Baekhyun. Suaranya tidak terdengar terlalu jelas.

"Percaya padaku, mereka sangat sayang padamu.." Daehyun semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak mungkin orang tua tidak sayang pada anak mereka sendiri. Buktinya, kau diperebutkan. Yah.. walau caranya agak keras seperti itu."

"Aku tidak ingin mereka berpisah begitu saja kemudian membiarkanku memilih salah satu diantara mereka.." Baekhyun melepas pelukan tersebut kemudian menyeka air matanya. "Aku ingin mereka tetap bersama.. bagaimanapun caranya."

"Ah!" Seru Daehyun. Baekhyun yang mendengarnya sedikit kaget. "Ada apa, Dae?" Tanyanya.

Daehyun tersenyum kemudian memegang kedua pundak Baekhyun. "Dengar Baekhyun! Aku akan membuat kedua orang tuamu akur kembali!" Seru Daehyun antusias.

Baekhyun terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum. "Terima kasih, tapi, kurasa hal itu tidak mungkin terjadi."

"Hei! Percayalah, aku bisa!" Daehyun meyakinkan. "Aku janji. Aku pasti bisa membuat mereka akur kembali."

"Daehyun.."

"Percayalah padaku!" Jawab Daehyun mantap.

Mendengar perkataan Daehyun yang sangat meyakinkan barusan, membuat Baekhyun percaya sepenuhnya bahwa Daehyun akan benar-benar membantunya. Kemudian Baekhyun segera memeluk Daehyun erat-erat.

"Terima kasih, Daehyun.."

-8888-

Joonmyeon berlari kecil menuruni tangga menuju halaman sekolah, tempat seseorang yang ia cari biasa menghabiskan waktu istirahatnya disitu. Sebelumnya, ia berkata pada Luhan kalau ia tidak akan makan siang bersamanya hari ini.

"Yongguk.. dimana dia?" Gumam Joonmyeon pelan. Matanya menjelajahi seluruh tempat yang ada disana. Biasanya, anak itu bila tidak dicari selalu mudah ditemukan. Tapi entah kenapa begitu dicari sangat susah ditemukan. Seperti potong kukunya saja, pikir Joonmyeon.

Ya, Joonmyeon mencari Yongguk karena ia ingin mengucapkan terima kasih padanya atas makanan yang ia kirimkan minggu lalu. Walaupun hanya cokelat dan pocky, namun baginya makanan sesimple itu sangat berarti. Jarang-jarang sahabat –mantan pacar- masih peduli.

Joonmyeon masih menerawang keseluruh penjuru sekolah, mencari Yongguk. Dan anak itu masih belum juga ditemukan. Kesal sekali rasanya saat ini.

Namun disela-sela pencariannya, ia melihat sosok orang yang membuatnya menangis minggu lalu disana. Kris Wu. Sedang duduk menyendiri dibawah pohon cherry blossom yang mengugurkan daun berwarna merah mudanya. Entah kenapa, timbul rasa ingin menghampiri Kris saat itu juga.

Joonmyeon berpikir sejenak. Ia harus meminta maaf pada Kris akan sikapnya minggu lalu, namun ia juga harus mengucapkan terima kasih pada Yongguk.

Agak berpikir lama, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat Kris. Berterima kasih pada Yongguk bisa nanti.

"Ahem.." Joonmyeon berdeham. Kris yang mendengarnya segera menolehkan kepalanya dan terlihat kaget karena melihat Joonmyeon berdiri disana.

"Joon.. Myeon?"

"Uh.. begini.. Aku minta maaf atas sikapku minggu lalu. Aku tidak tahu keadaan yang sebenarnya.. Jadi, yah, aku merasa akulah yang menyebabkan kekacauan sehingga menyebabkanmu, Yongguk dan Yixing.. terlibat masalah." Ucap Joonmyeon panjang lebar. "Aku minta maaf."

Kris kemudian tertawa mendengar ucapan Joonmyeon barusan. "Kenapa harus meminta maaf? Tidak ada yang salah pada kejadian itu. Yixing juga sudah minta maaf padamu, kan?" Tanya Kris kemudian.

Joonmyeon mengangguk pelan kemudian duduk disebelah Kris. Kursi kayu tersebut lumayan besar untuk menampung dua orang, jadi jarak mereka sangatlah jauh. "Ya, Yixing kemarin lusa datang ke rumah dan meminta maaf sambil bersujud- Sungguh, dia tidak perlu melakukan hal itu.."

"Dia bilang dia tidak sengaja." ucap Kris. "Well, aku juga harus minta maaf karena tidak melawan pada saat itu."

"Kau tidak perlu meminta maaf, Kris.." Sahut Joonmyeon. "Dengar.. yang jelas, aku minta maaf!"

Kris mengangguk mendengarnya. Matanya masih menerawang jauh kedepan, melihat sekumpulan anak-anak sekolahnya yang pulang bersama dengan teman mereka. Dari air mukanya, Kris nampak memikirkan sesuatu.

Sedangkan Joonmyeon, ia hanya diam disana. Berharap Kris kembali mengajaknya berbicara. Ia ingin sekali pergi dari sana saat itu juga. Tapi entah mengapa, kakinya tidak ingin beranjak dari tempat itu, serasa susah digerakkan. Seperti ada sesuatu yang menyuruhnya untuk tetap tinggal di tempat itu.

"Jadi, bagaimana.." Ucap Kris tanpa melihat Joonmyeon.

"Eh? Bagaimana apanya..." Sahut Joonmyeon agak heran.

"Uh.. hubungan kita. Kau belum menganggap kita berdua.. berakhir, kan?" Tanya Kris ragu. Ia tak berani memandangi wajah Joonmyeon. "Walaupun.. kau berkata.. berakhir. Waktu itu?"

Joonmyeon yang mendengarnya kemudian tersenyum dan mendekatkan tubuhnya pada Kris. "Kau maunya bagaimana? Berakhir atau tidak?" Tanya Joonmyeon.

"Jangan sampai! Aku tidak mau!" Seru Kris blak-blakan. Baru saat ini, ia berani melihat Joonmyeon. "A-aku... tidak mau.."

"Aku juga tidak mau." Sahut Joonmyeon.

Kris kemudian membelalakan kedua matanya. "E-eh? Jinjja?!"

Joonmyeon mengangguk mantap. "Jadi, kita masih ada hubungan. Berjanjilah padaku, yang seperti kemarin tidak akan terulang." Ucap Joonmyeon.

Kris kemudian memeluk Joonmyeon erat-erat. "Aku janji. Yang seperti kemarin tidak akan terulang!"

"Aku pegang janjimu." Ucap Joonmyeon membalas pelukan Kris.

hubungan?berakhir?mungkin kalian bingung kenapa,yap ternyata Kris dan Joonmyeon sudah menjalin hubungan dan itu sudah berjalan dua tahun yang lalu. Mereka tidak memberitahu teman-teman mereka termasuk sahabat Joonmyeon,Baekhyun. Mereka merahasiakan demi hubungan mereka terjalin baik.

Dan tanpa mereka ketahui, seseorang tengah melihat mereka berdua. Berdiri dengan senyuman yang terukir di wajahnya, disertai rasa sakit hati yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

'Sebaiknya aku harus memulainya..'

-8888-

"Ahem, Luhan?" Panggil seorang perempuan yang kebetulan melihat Luhan berdiri di ambang jendela sana. Luhan segera membalikkan badannya dan melihat perempuan tersebut.

"Oh, Yixing?" Nada suara Luhan terdengar agak kaget. "Eum.. ada apa?"

Luhan sebenarnya menyimpan rasa tidak suka pada Yixing karena kejadian minggu lalu. Namun, rasa itu menghilang begitu melihat Yixing menangis dihadapannya dan Joonmyeon kemarin. Betapa menyedihkan sekali begitu tahu kalau Yixing dipaksa berbuat begitu .#Ambigu

Ya, Yixing menjelaskan semuanya kemarin. Dari awal ia bertemu orang itu. Yixing bilang orang itu sangat baik dan ramah padanya. Umurnya satu tahun lebih muda darinya-kalau diperkirakan, orang itu seumuran dengan Joonmyeon. Awalnya, Yixing kira pertemanan mereka akan berjalan normal seperti kebanyakan orang.

Namun tidak. Yixing baru tahu sifat asli orang itu semenjak ia bilang kalau laki-laki yang ia sukai telah menjadi hubungan dengan orang lain. Sifat periangnya seketika berubah menjadi anak yang punya banyak dendam dan rencana-rencana jahat lainnya. Bahkan dia sudah seperti orang gila, ia hampir mencelakai orang lain dan dirinya sendiri.

Hingga akhirnya Yixing turun tangan ingin membantu temannya itu. Yixing tidak ingin temannya-sahabatnya kenapa-kenapa. Walaupun ia harus mengambil resiko. Seperti kejadian kemarin.

"Apakah orang itu.. salah satu murid disini?" Tanya Luhan yang disahut gelengan oleh Yixing.

"Bukan. Tapi dia kenal dengan salah satu murid disini. Yang aku asumsikan, dia salah satu teman Joonmyeon." Gumam Yixing. "Maksudku, tidak mungkin dia menyuruhku berbuat begitu pada Joonmyeon dan Kris.. tanpa ada alasan.."

"Aku geram sekali dengan tingkahnya. Siapa namanya? Apa maunya?" Ujar Luhan dengan mata yang berkilat dengan kemarahan. "Yixing cepat beritahu aku!"

"Maaf Luhan, aku tak bisa..." Tolak Yixing halus. Hey, Yixing tak sejahat yang kalian kira! Dia orang baik. "Aku... tidak ingin kalian marah padanya.. dia sahabatku!"

"Sahabat memang sahabat! Tapi kalau sampai mencelakakan orang lain tidak bisa di toleran!" Tegas Luhan.

"Sebenarnya dia anak baik, Luhan.. mungkin sikapnya hanya bawaan emosi.." Sangkal Yixing.

"Huh. Lihat saja.. kalau aku bertemu dengannya, atau dia ada disini.. aku tidak akan segan-segan menghajarnya!" Luhan mengeraskan telapak tangannya. Yixing kemudian menepuk keningnya. "Kalaupun dia akan masuk sekolah ini, aku akan memakai segala cara untuk menghalanginya!"

"Terlambat Luhan.." Lirihnya pelan. Luhan yang mendengarnya memasang wajah heran, agak bingung dengan ucapan Yixing barusan.

"Maksudmu?"

"Dia sudah resmi menjadi murid sekolah ini!"

-8888-

"Bagaimana kalau akhir pekan nanti? Kita ajak dulu Umma-mu santai bersama.. pokoknya, ajak santai dulu.." Ujar Daehyun antusias. Dia senang sekali dapat membantu Baekhyun saat ini. Memang, membuat orang tua Baekhyun akur adalah hal yang sulit. Namun, Daehyun akan melakukan yang terbaik untuk membuat Baekhyun senang.

Membuat Baekhyun bahagia adalah tujuan utama hidupnya. Lebay memang.

"Heum.. boleh. Aku akan telepon Umma nanti. Ia pasti suka!" Sahut Baekhyun. "Euh.. kau tidak masuk duluan?" Tanyanya kemudian

"Eoh.. kau tidak mau mengobrol lebih lama denganku?" Tanya Daehyun balik dengan nada agak kecewa. Baekhyun kemudian menggeleng pelan. "Pelajaran selanjutnya Biologi, kan? Apa kau mau dihukum Lee songsaenim?" Ujar Baekhyun.

"Ah iya... benar juga.." Daehyun mengacak rambutnya. "Euh.. aku harus masuk duluan! Aku tunggu kau di depan gerbang sekolah, ya! Annyeong~!" Seru Daehyun sebelum ia berlari meninggalkan Baekhyun disana ia mengecup pipi Bakekhyun seklias dan sukses membuat Baekhyun merona hebat.

Baekhyun kemudian segera menaiki tangga menuju kelasnya, mengingat Luhan pasti menunggunya disana. Namun disela-sela 'perjalanannya', ia melihat seseorang tengah terduduk memegangi lengannya. Tanpa berpikir ada apa, Baekhyun segera menghampiri orang tersebut.

"Ada apa ini? Kau kenapa? Siapa yang berbuat begini padamu?!" Ujar Baekhyun. Ia segera meraih wajah orang itu, melihat beberapa luka lebam akibat dipukul dan.. wajah yang tidak asing baginya. "Ah! Kau kan..."

"Baekhyun..?" Gumam orang itu. "Kau Baekhyun, kan?"

Baekhyun tak menjawab pertanyaan orang tersebut dan segera menaruh lengan kanannya pada bahunya, agar dapat menopang tubuh orang itu untuk segera dibawa ke ruang kesehatan. "Kau harus segera diobati. Kau tahan ya."

-8888-

"Songsaenim! Apa ada ranjang kosong?" Seru Baekhyun begitu masuk ruang kesehatan. Songsaenim yang sedang berjaga disana segera menghampiri Baekhyun, dan begitu melihatnya membopong orang lain, songsaenim tersebut segera membantu Baekhyun.

"Disini saja.." Ucap songsaenim itu. Ia kemudian bergegas ke arah belakang, yang Baekhyun asumsikan sedang mengambil kotak P3K dan keperluan lainnya.

Baekhyun segera memeriksa kondisi fisik orang itu, dengan melihat setiap memar yang ada di tubuh orang tersebut. Parah, orang ini dipukuli dengan benda tumpul diseluruh tubuhnya. Baekhyun bahkan hampir tak bisa melihat warna kulit asli orang ini.

"Kau.. siapa namamu?" Tanya Baekhyun. Orang itu terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Namaku Jongin, Kim Jong In. Kau Baekhyun kan?" Ujar orang itu. Entah sudah keberapa kalinya ia menanyakan hal tersebut.

"Ya, aku Baekhyun. Baiklah Jongin.. kenapa kau bisa dipukuli sampai semua badanmu berubah menjadu warna biru dan ungu seperti ini?" Tanya Baekhyun.

Belum sempat pertanyaan Baekhyun dijawab, songsaenim datang dengan membawa handuk, semangkuk air hangat, dan kotak P3K. "Baiklah, luka lebamnya harus segera diobati."

"Biar aku saja songsaenim. Songsaenim kerjakan saja tugas mendata para murid disini." Ucap Baekhyun yang mengambil semua peralatan dari tangan songsaenim yang tidak diketahui namanya tersebut.

Songsaenim tersebut kemudian tersenyum melihat Baekhyun. Senyuman aneh yang tidak bisa Baekhyun ataupun Jongin jelaskan. "Baiklah.. bila ada perlu, aku ada di meja depan.." Songsaenim tersebut kemudian menyibak sedikit tirai yang menutupi mereka, dan Baekhyun sibuk dengan kegiatannya.

Baekhyun tidak sadar, selama ia mengobati luka-luka Jongin, anak itu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Apalagi untuk saat ini, saat Baekhyun sedang mengompres memar yang ada di wajah Jongin, matanya seakan tak bisa dialihkan dari wajah Baekhyun.

"Tenang... ini tidak akan sakit.. jangan memandangiku begitu terus.." ucap Baekhyun.

Jongin yang mendengarnya kemudian gelagapan. "Ah.. ma-maaf.."

"Sudahlah, tak apa... begini saja, aku mengobatimu dulu.. sehabis itu, kau harus ceritakan semuanya. Kenapa kau bisa seperti ini. Oke?" Ujar Baekhyun.

Jongin mengangguk. "Iya.. Terima kasih.."

"Apa kau tidak masuk kelas? Nanti kau akan dihukum songsaenim yang mengajarmu." Ucap Jongin. "Kau anak 12-B, kan?" Tanya Jongin kemudian.

"Pelajaran kesenian. Aku bisa bilang kalau kepalaku pusing dan istirahat di ruang kesehatan. Songsaenimnya baik pada semua murid, kok." Sahut Baekhyun yang masih sibuk dengan kegiatannya.

Kai kemudian tersenyum. "Terima Kasih, Baekhyun.. kau baik sekali.."

Baekhyun tidak membalasnya, namun ia hanya menatap mata Jongin dan tersenyum.

Dan tanpa mereka sadari, seseorang melihat keakraban mereka dari sana. Sosoknya memang tak kelihatan karena terhalang tirai yang menutup mereka.

'Jongin.. sedang apa dia dengan anak itu?!' Gumamnya dalam hati, dengan perasaan cemburu. Ya, orang ini bisa dibilang sangat dekat dengan Jongin.

"Do Kyung Soo? Kenapa belum kembali ke kelasmu?" Tanya songsaenim ruang kesehatan pada Kyungsoo. Namanya Kyungsoo.

Kyungsoo kemudian tertegun dan membalikan tubuhnya menghadap songsaenim itu. "Ya.. ini baru mau kembali.."

"Ngomong-ngomong, terima kasih datanya." Ucap songsaenim tersebut.

"Ah ya! Songsaenim.. apa songsaenim tau.. kenapa Jongin ada di dalam sana bersama anak itu?" Tanya Kyungsoo. Songsaenim sempat menyipitkan matanya sejenak, kemudian melihat arah jari Kyungsoo menunjuk. Arah ranjang tempat Baekhyun mengobati Jongin.

"Ah, itu.. aku juga tidak tahu.. tadi anak perempuan itu tiba-tiba datang membopong temanmu yang bernama Jongin itu. Nanti akan kutanyakan mengapa.." Jawab songsaenim dengan senyumnya.

"Dan apa songsaenim tahu.. siapa nama anak perempuan itu?" Tanya Kyungsoo dengan nada intimidasi dan penekanan pada kata 'anak perempuan'.

"Hmm.. sebentar.." Songsaenim kemudian membuka map berwarna hijau yang ada di hadapannya. Membuka lembar-lembar kertas yang terikat disana. Kyungsoo menunggu dengan sabar, namun sesekali matanya melirik ke arah Baekhyun dan Jongin, serta mendengar suara tawa mereka berdua. Membuat hatinya semakin panas saja.

"Ah! Namanya Byun Baek Hyun. Murid kelas 12B!" Ucap songsaenim yang kemudian menutup map tersebut. "Ada apa dengannya?" Tanyanya kemudian.

"Eum.. tidak ada apa-apa!" Jawab Kyungsoo sambil tersenyum. "Baiklah.. saya.. permisi dulu songsaenim.." Pamit Kyungsoo yang keluar dari ruang kesehatan dengan perasaan campur aduk.

Entah mengapa, ia langsung merasa sedih dan kecewa dengan Byun Baek Hyun tersebut. Ia kemudian berhenti berjalan. Dan menatap kosong koridor sekolah.

Dan kemudian ia tersenyum. Manis sekali.

"Byun Baek Hyun, Byun Baek Hyun... entah mengapa, rasanya perbuatanmu itu harus kubalas.." Ucapnya. Senyuman manis tersebut sangat tidak cocok bila disandingkan dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan.

"Tunggu saja, Baekhyun. Kau akan mendapat balasannya."

.

.

.

.

TBC