Kiku terus menarik tangan Nesia tanpa peduli pada rintihan dan teriakan gadis yang tengah mengancamnya dengan banyak hal jika tidak kunjung melepaskannya. Di pikirannya hanya satu; Bawa pergi Nesia jauh-jauh dari dua manusia aneh yang seenak jidat mereka memperebutkan Nesia(nya). Secepatnya, sebelum keduanya sadar bahwa Nesia yang mereka rebutkan telah menghilang, sebelum keduanya mengejar.

"Senpai! Aku teriak nih! Senpai mau bawa aku kemana sih?!"

"Damatte kudasai... –Tolong diam..." jawab Kiku tak acuh sembari terus menggeret Nesia.

"Iiih! Apaan sih! Jangan menyeretku seperti ini! Sakit tahu!" seru Nesia sembari mencoba untuk berhenti melangkah agar Kiku berhenti.

"Nesia-san!"panggil Kiku tegas sembari membalik badan.

Ingin Kiku menarik Nesia lebih keras lagi. Namun saat dirinya melihat ke arah Nesia yang berkaca-kaca menahan tangis dan pergelangan tangan Nesia yang memerah karena cengkeramannya, Kiku mengurungkan niatnya. Akhirnya pemuda oriental itu mau berhenti juga setelah menyeret Nesia cukup (sangat) jauh. Kiku menghela nafas kecil, berpikir bahwa mungkin jarak ini sudah cukup aman dari adik kelasnya dan seorang pemuda aneh yang tak pernah ia kenal.

"Apa yang sebenarnya senpai pikirkan?!" seru Nesia sembari menghentakkan tangannya agar lepas dari Kiku dan mulai mengelus pergelangan tangan kanannya yang memerah.

"Menjauhkan Nesia-san... sejauh-jauhnya dari mereka..." ucap Kiku dingin sembari menatap Nesia dengan tatapan yang tidak cukup ramah seperti biasanya.

"Tapi tidak dengan cara menyiksaku juga! Kenapa sih senpai malah marah-marah seperti ini?!"

"Aku tidak marah..." elak Kiku menyembunyikan perasaannya yang kini ingin membunuh seseorang – atau mungkin dua.

"Jangan bohong! Alisnya masih bertautan gitu kok!"

"Ck!" desis Kiku sembari melarikan pandangannya ke arah lain dan mulai menenangkan dirinya.

Sayangnya ia tak bisa tenang. Kiku tak bisa tenang jika keadaan terus-menerus tidak menguntungkannya seperti ini.

Kiku suka informasi. Ia suka mengetahui hal baru tentang Nesia. Tapi tidak dengan cara munculnya seorang sahabat yang mengaku sangat kenal dan apalagi menjadi tunangan Nesia karena celotehan masa kecil. Ditambah ia merangkul-rangkul Nesia dengan akrabnya. Ingin Kiku mematahkan tangan pemuda yang asalnya tidak jelas dari mana itu. Kenapa bisa tiba-tiba muncul pemuda seperti itu?! Bahkan di hari di mana rasa dongkol dan jengkelnya memuncak sampai ke ubun-ubun karena Razak.

"Pokoknya Nesia-san tidak boleh dekati mereka berdua! Jangan kembali ke kelompok Nesia-san dan jangan jauh-jauh dariku!"

"Memangnya senpai punya wewenang apa menyuruhku demikian?! Kalau aku tidak kembali ke kelompokku, itu akan jadi masalah!"

"Nesia-san!"

"Bodoh! Aku nggak mau bicara sama senpai! Aku benci senpai! Weeeeeek!" seru Nesia sembari menjulurkan lidahnya dan kabur meninggalkan Kiku.

N-NANIIIII?!


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


Kiku tidak tahu kenapa ulu hatinya serasa ditonjok oleh sesuatu.

Sakit.

Rasanya Kiku ingin memuntahkan sesuatu saat melihat Nesia dirangkul oleh pemuda bernama Aussy itu. Ada sesuatu yang mencekik tenggorokannya sehingga ia berhenti bernafas dan berpikir waras saat itu juga. Ada percikkan –bahkan ledakkan kejengkelan dan kebencian saat dengan akrabnya pemuda itu memanggil Nesia dengan sebutan Kirana.

Seakan nama itu adalah nama sayang untuk Nesianya.

Kiku tidak bisa menerimanya, apalagi menerima kenyataan bahwa dirinya hanya bisa terdiam, terpaku melihat Aussy yang sok akrab dengan Nesia. Ia bahkan lebih memuji Razak yang bisa dengan gamblangnya merebut Nesia dan melepaskannya dari rangkulan Aussy.

Kiku benci dirinya yang tidak bisa agresif –dan hanya bisa agresif di saat-saat yang tidak tepat dan tidak penting. Itu pun dengan cara yang salah.

Atau mungkin tadi dirinya terlalu syok mengetahui Nesia –atau dalam hal ini Alter Kirana yang memiliki seorang yang dekat dengannya? Tapi kenapa Kiku malah marah-marah? Bukannya itu bagus, Nesia selama ini tidak benar-benar sebatang kara dan mengarungi kehidupan sendirian?

Harusnya Kiku bisa bersikap tenang dan profesional seperti biasanya atau paling tidak, mengorek informasi yang pemuda itu miliki tentang Alter Nesia yang bernama Kirana walau dengan sedikit emosi.

Tapi kenyataannya, ia malah diam di pinggir, menyaksikan perebutan dan mengirimkan aura aneh yang tidak membantunya sama sekali –karena kedua penerimanya lebih berkonsentrasi pada menarik-narik tangan Nesia.

"Dame desu..." keluh Kiku lirih pada dirinya sendiri.

Nesia-san sekarang marah dan membenciku... Apa yang harus aku lakukan?

Kiku berpikir keras. Setidaknya setelah ini ia harus minta maaf pada Nesia jika tidak ingin didiamkan selama sebulan lagi. Sambil terus merencanakan caranya minta maaf, Kiku terus mengeruk-ngeruk pasir pantai yang ada di dekat kakinya, mengumpulkannya untuk dijadikan sebagai bahan material miniatur Istana Himeji setinggi dirinya yang ia buat selama menenangkan pikirannya.

Kalau aku langsung minta maaf... Apakah Nesia-san mau mendengarkanku ya? Apa aku harus buat Bentou?

.

.

.

"AKU MENEMUKAN KIKU, ANA!"

Thai berteriak keras dari balik istana pasir Kiku, mengagetkan Kiku yang sedang serius berpikir dan mengukir atap dan dinding di lantai ketiga, menyebabkan seluruh lantai di atasnya runtuh.

T-THAAAAAAAAAIIIIIIIIIIIIII!

Kiku hanya bisa menggeram sebal pada pemuda jabrik yang telah berbalik badan menghadap ke teman-temannya. Tidak ada yang bisa Kiku lakukan selanjutnya, marah pun percuma – dan untuk apa marah karena istana yang ia buat dengan susah payah kini telah runtuh setengahnya. Ia akhirnya menghela nafas pasrah dan beralih menatap teman-temannya yang mulai berdatangan ke arahnya.

Dan menelan ludah, karena setelah ini sepertinya ia akan diinterogasi habis-habisan oleh seorang gadis dari Taiwan yang telah berkecak pinggang menatapnya.

"Hari yang buruk?" tanya Mei

"Iie... Hari ini biasa saja..." jawab Kiku dengan senyum kecil sembari mulai melanjutkan membentuk istanahnya yang tadi runtuh.

"Yong Soo sudah cerita... Kau marah-marah seharian..." ucap Vie menambahi sahabatnya.

"Ah... Sore wa..." Kiku menaruh lebih banyak pasir di proyeknya, "Sudah selesai kok... Shimpai-shinaide kudasai... –jangan khawatir..."

"Nesia ya?" tebak Mei.

Kiku tak menjawab, ia hanya menghentikan pekerjaannya sebentar karena sedikit kaget dan melanjutkannya kembali di detik berikutnya. Kiku tahu Yong Soo pasti sudah melapor macam-macam pada teman-temannya.

"Kenapa sih Kiku tidak pernah cerita pada kami... Apa sih yang sebenarnya terjadi? Ada apa di antara Kiku dan Nesia? Kenapa Nesia sudah tidak pernah ikut latihan? Dia bahkan melewatkan International Festival Perdana kita..." tanya Mei bertubi-tubi pada Kiku, "Kenapa Kiku harus pindah dan tak sekamar lagi dengan Hong? Kenapa sekarang Kiku jarang bermain dengan kita?"

.

.

"Kenapa... Kiku berubah?"

*O*


Kawatte... ka? – Berubah ya?

Kiku duduk di samping kastil Himeji yang berhasil dibangunnya. Pemuda itu terngiang pertanyaan dari sepupunya yang tak bisa ia jawab dengan sempurna sembari memandangi matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Angin sore semilir meniup surai hitamnya, membuatnya acak-acakan, namun Kiku membiarkannya dan masih tetap terdiam mencerna pertanyaan Mei.

Kiku tahu dirinya berubah. Itu kenyataan yang tidak bisa dielak lagi. Akan tetapi, semuanya nampak memasang wajah khawatir saat menyatakannya. Kiku terus berpikir bila ia berubah ke arah yang buruk. Tapi ia merasa tidak seperti itu.

Ia merasa dirinya bahkan biasa-biasa saja dan perubahan ini adalah normal. Seperti perubahan umur, perubahan tinggi badan, perubahan dari musim panas ke gugur, semuanya memang seharusnya terjadi.

Tentu saja semuanya seharusnya terjadi. Ia telah belajar banyak hal, dan bahkan sangat banyak hal tentang dirinya sendiri saat ia mencoba menyelesaikan masalah Nesia. Dan hasil pelajaran itu membuatnya sampai di sini.

Dan Kiku merasa normal dan semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang mengkhawatirkan.

Kecuali betapa dirinya mendidih saat melihat Nesia diperebutkan oleh dua makhluk aneh, atau saat gadis itu pergi dengan orang lain, atau saat gadis itu menyimpan rahasia sendiri dan tak mau membaginya pada Kiku, atau saat formulirnya Nesia berikan pada tangan tak bertanggung jawab (menurut Kiku) – itu mengkhawatirkan.

Kiku sendiri tidak mengerti apa yang dimaksudkan berubah oleh Mei sehingga gadis itu mengatakan bahwa ia hampir tak mengenali Kiku lagi. Bahwa Kiku menjauh ke tempat yang asing. Mungkin karena mereka kurang berbicara?

Masaka? – Tidak mungkin...

Setiap hari mereka bertemu – mereka sekelas, dan mereka berbicara seperti biasa, saling melempar kejahilan seperti biasa, walaupun akhir-akhir ini memang lebih sering Mei yang menjahilinya karena Kiku sudah terlalu lelah memikirkan bagaimana mengatasi Nesia.

Atau karena itu? Karena ia terlalu banyak memikirkan Nesia? Mungkin ia harus mengurangi jatah memikirkan Nesia untuk teman-temannya.

.

.

.

Oh ayolah, seperti ia bisa saja!

Meskipun Kiku tak ingin memikirkan Nesia, gadis itu selalu menempel di otaknya seperti telah direkatkan dengan lem super. Bagaimana cara melepaskannya sedetik saja? Kiku tidak mengerti. Ia selalu merindukan Nesia setiap saat dan selalu ingin Nesia berada di sampingnya, berada di jangkauan tangannya dan siap untuk direngkuhnya kapan saja.

Ini juga perubahan yang sangat mengkhawatirkan...

Kiku menggelengkan kepalanya dengan cepat saat menyadari bahwa lagi-lagi ia memasukkan Nesia ke dalam pikirannya saat harus menjawab pertanyaan teman-temannya. Menghela nafas dan kembali menatap surya yang tinggal setengah nun jauh di sana.

"Gege... Tidak kembali ke penginapan?"

"Mnh? Hong-san?" Kiku menoleh ke arah pemuda yang kini berdiri di sebelahnya, "Tidak... Nanti saja..."

"Apa yang dimaksud berubah oleh Mei... Mungkin kelakuan gege..."

"Sumimasen... Watashi wa mada wakattemasen... –maaf... aku masih tidak paham..."

"Gege yang kita kenal... yang pertama; yang pendiam dan sangat tenang namun juga sangat ambisius, hampir bisa dibilang kejam, dia membungkam seluruh jajaran direktur berpengalaman di usia ke 15-nya, yang membawa Katananya hampir ke mana-mana seperti Vash membawa AK-47nya, yang auranya bahkan mungkin bisa membunuh makhluk apapun..." ucap Hong dengan nada datar.

"Yang kedua; yang kalem dan memiliki senyum simpul untuk menutupi pikirannya yang kami bertaruh tidak ada makhluk yang dapat menebaknya... yang bisa menahan emosi dan perasaannya seutuhnya... yang ternyata bisa bermain dan bercanda bersama kami... Dan yang hanya bisa kami ketahui setelah bersekolah bersama Gege di Eropa..."

Hong terus mengarahkan matanya ke arah Kiku menatap; matahari yang tinggal seperempat saja, sembari menunggu pemuda yang cukup ia hormati ini menjawab.

"Sore de? –lalu?"

"Hanya dua sisi itu yang kami ketahui selama 15 tahun mengenal Gege... Kami hanya bingung saja karena Gege sangat tidak stabil..."

"Imi wa? –artinya?"

"Kami kira –terutama Yong Soo, sisi gelap Gege hanya muncul saat Gege pulang dan di bawah pengawasan "rumah", dan tidak akan di sini..."

"Sou ka... Karena itu kalian khawatir?"

Hong tidak menjawab. Di pikirannya, buat apa ia menjawab pertanyaan yang sudah dijawab berulang kali oleh Mei tadi. Itu sangat membuang tenaga.

Ditatapnya pemuda yang dulu pernah dipuja oleh gadisnya dengan datar. Bahkan Hong yang sangat tenang saat ini pun transpirasi dari pemuda yang ia ketahui selalu menyimpan emosinya dalam-dalam. Mei pernah bilang itu yang membuat Kiku keren – tapi Hong yang mengikutinya karena terpengaruh perkataan keren itu mengerti, ini tidak keren sama sekali. Diam dan menyimpan emosi dalam-dalam pun terkadang menyulitkan serta yang pasti; menyakitkan.

"Aku hanya ingin tahu, gege yang mana yang sekarang ini?"

Kiku tersenyum kecil sembari menoleh ke arah Hong, "Hong-san berkata seolah-olah aku memiliki dua kepribadian yang berbeda..."

"Aku tahu yang disembunyikan oleh Gege adalah hal yang sama, dan Gege memperjuangkan dua hal yang berbeda sehingga gege yang di sini tidak sama seperti yang di rumah... Gege yang di sini memperjuangkan "teman", oleh karena itu gege berubah menjadi ramah..." ucap Hong sembari membalas tatapan Kiku, "Tapi sepertinya akhir-akhir ini bukan "teman" lagi yang Gege perjuangkan... Mungkin ada, tapi ada satu lagi yang lebih Gege prioritaskan?"

"Hong-san sudah tahu..."

"Dan itulah yang membuat Mei khawatir karena adik kelas ini tidak lagi dipercaya oleh Mei..." ucap Hong menjelaskan maksud Mei.

"Sudah kubilang... Kencan waktu itu hanya sekedar pergi saja... Tidak ada apa-apa di antara mereka..." sanggah Kiku mengingat kejadian kencan Nesia dan Razak yang membuat darahnya sedikit berdesir.

"Aku pribadi khawatir karena bagiku bukan 'hanya sekedar', Gege..." balas Hong dengan sedikit intonasi kesal.

"Hm?"

"Aku tidak suka ketika Mei sedih dan khawatir... Sama seperti Gege tidak suka Nesia sedih dan khawatir... bahkan mungkin lebih dari itu..." ucap Hong kembali ke intonasinya yang datar, "Apalagi mengkhawatirkan gege..."

.

.

.

"Jujur saja aku masih merasa eksistensiku hilang di mata Mei saat ia mengkhawatirkan Gege... Aku bahkan mengharapkan hal yang sama persis dengan Gege saat Gege melihat Nesia dengan "teman"nya itu..." ucap Hong sembari menatap Kiku dalam-dalam.

"Hong-san..."

"Gege pasti tahu apa rencana keluarga besar... dan ini tidak sesimpel yang terlihat... jadi tolong jangan buat Mei khawatir lagi... Dan aku tak akan pernah 'mengembalikan' Mei pada gege..." lanjutnya lagi dengan sedikit emosi yang gagal dipendamnya.

"Aku akan berhati-hati..."

"Jangan tertawa!" ucap Hong dengan muka memerah yang masih berusaha ditahannya.

"Apakah Hong-san mendengar suara tawa?" ucap Kiku sembari kembali menatap matahari dan berusaha mati-matian menahan tawanya.

"Ukh... Gege tahu bagaimana rasanya bukan? Sekarang..."

"Mnh... Ya, aku paham... Maaf karena dulu aku sudah mengatakan bahwa itu tidak berarti..."

.

.

"Sudahlah... ayo kembali ke penginapan... Kita sudah mau makan malam dan Gege dicari seseorang..."

"Huh? Siapa?"

"Orang tua... Katanya dia teman Pak Germania... dan mengaku sebagai kakek Gege... Aneh..."

N-ngapain Tara-jiisan ada di sini?! Bukannya ia sudah pulang dengan teman-temannya yang lain?!

*O*


"Itu kenapa aku menyuruhmu diam, menjauhi senpai itu dan melaksanakan rencana kita!" seru gadis yang seolah terpantulkan di cermin membentak Nesia.

"Dia tidak berbahaya... Dan kita semua tahu dia bisa membantu kita!" balas Nesia dengan geraman rendah ke arah cermin.

"Itu benar... Senpai sangat baik..."

"Oh diamlah Pertiwi! Anak ini sudah sulit diatur! Kau tidak perlu menambahi!" seru gadis itu lagi berputar-putar di kepala Nesia dan membuat darahnya mendidih.

"Kau yang diam! Dasar pembohong ulung! Bukankah kita sepakat untuk mempercayainya?! Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran dan malah merencanakan sesuatu yang 180 derajat berkebalikan dengan kesepakatan kita?!" seru Nesia lagi.

"Dan kau yang dulu membencinya sekarang malah membelanya... Ironis..."

"Tutup mulutmu, Tara!"

"Kau yang tutup mulut! Kau ada di sini karena keinginan Ines dan kami semua! Tidak bisakah kau menjalankan apa rencananya dan membuat hidup kami semua menjadi normal?!"

"Maaf saja tapi kalian tidak bisa menyuruh-nyuruh diriku seenaknya! Aku tidak mau mendengarkan rencana itu lagi! Aku keluar!" seru Nesia galak.

"Kau bisa bersikap seperti ini karena kau tidak merasakan penderitaan, Nesia! Kau akan menyesal saat senpaimu itu pergi! Kau akan sendirian karena kami tak akan menolongmu!"

"NESIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Maria berteriak super kencang.

"M-maria? A-ada apa?"

"Kau sudah melamun menatap kaca cermin itu selama lebih dari setengah jam! Kau juga memasang muka jelek! Nanti kalau Razak lewat gimana?"

"U-uh... Ya... Tinggal lewat saja... memangnya ada apa? Akukan tidak menghalangi jalan..." jawab Nesia polos.

Maria menepuk jidatnya berkali-kali atas jawaban yang tidak peka dari Nesia. Siapa pun juga tahu Nesia sedang duduk di sofa dan tidak menghalangi jalan. Maria sungguh khawatir sekarang tentang perasaan Nesia yang mungkin telah pergi ke orang lain. Bagaimana nanti nasib Razak?

Tadi siang mood Razak sudah benar-benar hancur. Kalah dari pemuda asing lalu kehilangan Nesia tanpa ia dan pemuda asing itu sadari. Dan Maria serta teman-temannyalah yang terkena imbasnya.

"Kenapa kau menepuk jidat seperti itu? Aku salah apa?" tanya Nesia tidak mengerti, "Lagipula ini sudah malam, semuanya sudah tidur dan aku yakin Razak juga... Kau tidak tidur Maria?"

"Aku menemanimu, kau tahu?!" Maria yang duduk di sebelah Nesia mendengus sebal, "Kemana saja siang tadi?" tanya Maria mulai mengintograsi Nesia.

"Main di pantai?" jawab Nesia sembari memalingkan pandangannya ke seluruh sudut livingroom yang sepi. Ia baru sadar bahwa cat-nya unik sekali; berwarna kuning jahe dan biru.

"Bukan! Nesia, kau menghilang saat Razak berusaha merebutmu..."

"Honda senpai menarikku..."

"APA?!" Maria berteriak kaget.

"Er... memangnya kenapa?"

"Nes! Razak sedang berjuang kau malah pergi dengan orang lain!"

"Aku tidak punya pilihan... Dia menarikku sangat kuat... Lihat! Bekasnya masih ada, nih..." seru Nesia membela diri sembari memperlihatkan pergelangan tangannya yang terdapat bekas cengkraman, "Aku korban di sini!"

Raut muka Maria langsung berubah khawatir saat melihat tanda yang mulai membiru di pergelangan tangan Nesia, "Apakah sakit?"

"Banget!"

"Sudah diobati?" Maria semakin panik.

"Sudah direndam air laut kok..." jawab Nesia tidak peduli.

"Bodoh! Kalau ada luka terbuka kau bisa infeksi!" seru Maria garang memarahi Nesia, "Nesia diam di sini! Aku ambilkan P3K!" lanjutnya sembari meninggalkan Nesia.

"Tunggu... Ini... benar-benar tidak apa-apa kok..." sahut Nesia, namun tidak dipedulikan lagi oleh Maria yang telah menghilang entah kemana, "Hgh..."

"Kak Nesia... Aku tahu Honda senpai sudah melukai kita... Tapi maksud Honda senpai bukan seperti itu..." sebuah suara yang ketakutan muncul di kepala Nesia.

"Aku tahu Pertiwi... Aku tahu ia berusaha mengamankanku atau apapun itu..."

"Kalau begitu jangan marah lagi padanya, ya?"

"Tidak... untuk saat ini aku juga akan menjaga jarak..."

"Kenapa?"

"Dia tidak bisa emosi sesuka hatinya seperti itu! Dia harus belajar kalau melakukan kekerasan seperti ini paling tidak ia harus membayar sesuatu!"

"T-tapi kan... Kakak sudah jaga jarak selama 2 bulan... terus ditambah seminggu kemarin gara-gara formulir Kakak berikan ke Kak Razak..."

"Salah sendiri dia ngambek begitu! Maaf tapi aku bukan seorang masochist..."

"Kan kasihan senpai... Dia pasti khawatir..."

"Bagus kalau begitu!" dengus Nesia menutup pembicaraan dengan Pertiwi.

"Kak Nesia... Nanti kalau Senpai minta maaf harus dimaafin ya? Janji ya?" Pertiwi memohon sebelum meninggalkan tempatnya dan kembali tidur di dalam diri Nesia.

"Kita lihat saja nanti..." gumam Nesia sendirian.

Hgh... Kenapa jadi seribut ini?

Nesia pada awalnya hanya ingin meminta nasihat pada dirinya yang lain tentang perlakuan kasar Kiku. Ia tidak menyangka bahwa semua alternya akhirnya bangun dan menjadikan hal ini sebagai perdebatan yang sangat panjang dan panas di antara Alter-alternya. Terbagilah sekarang dirinya menjadi dua kubu.

Pertama adalah kubu 'Tetap bersama senpai walaupun dia menjengkelkan dan tolak rencana awal' yang beranggotakan Nesia sendiri sebagai pemimpinnya, Garuda sebagai wakil pimpinan (yang dikhawatirkan akan melakukan kudeta dan merebut posisi Nesia sebagai pimpinan), Pertiwi dan Nesia no. 3.

Sejujurnya Nesia risih dengan nama Nesia no. 3 itu. Akhirnya ia memanggil gadis yang menjaga Garuda 24 jam itu dengan nama Sekar dan hampir membuat kubu mereka hancur. Tidak mau kalah sebelum bertarung, akhirnya Nesia urung dengan nama Sekar. Ia mengalah dan tetap memanggilnya dengan nama Nesia no. 3 karena nama itulah yang diberikan Kiku pada Alter yang Nesia anggap agak Yandere itu.

Kedua adalah kubu "Depak senpai jauh-jauh dari kehidupan kita yang baru dan lakukan penggabungan" yang jumlah anggotanya lebih banyak, dan merupakan alter-alter profesional, daripada Kubu sebelumnya. Ditambah lagi Ines, si ketua Suku Nesia, ada di dalam kubu ini.

Tentu saja, dia yang mencetuskan ide penggabungan itu.

Nesia memijat kedua sisi pelipisnya dengan jari-jarinya, mencoba untuk menyusun strategi penyerangan terhadap kubu lawan. Sulit tentu saja, mengingat anggota kubunya adalah orang mesum, anak kecil dan setengah Yandere.

Akan tetapi, ada yang lebih menyulitkannya; Apa yang dipikirkan mungkin terbaca oleh Ines.

Tentu saja! Dialah kepribadian asli dari tubuh yang seaslinya bernama Inesia ini. Membaca pikiran Nesia itu mudah. Inilah hal yang paling merugikan ketika kau melawan diri paling aslimu.

Menyebalkan!

Nesia kembali mendengus sebal pada alter-alter yang menjadi lawannya, sayang mereka sudah kembali ke 'ruangan' masing-masing.

-Tep...-

"Kau cepat sekali... uh..." alis Nesia berkerut saat menyadari bukan Maria yang sedang berdiri di pintu masuk livingroom penginapan putri.

Nesia tertegun sekaligus bingung. Matanya terus mengikuti ke mana gadis berbaju Pink itu melangkah.

Di mana aku pernah bertemu dengannya?

"Jangan bilang kau melupakanku lagi!" tuduh Mei pada Nesia.

.

.

"Kau benar sudah lupa aku?!" seru Mei membuat Nesia berdiri dari tempatnya duduk dan kabur beberapa langkah ke belakang.

"Aku tidak bermaksud melupakan kau... Maksudku... Aku tahu aku pernah melihatmu..." jawab Nesia kebingungan.

"Aku Mei! Kakak tingkatmu!"

-ploop-

Nesia memukul telapak tangannya pelan, "Ah! Yang di taman bermain itu!" ucapnya menyimpulkan.

"Aku tak tahu kalau ternyata kau benar-benar menyebalkan!" seru Mei lagi, "Padahal kukira kau anak yang manis!"

"Kak Mei mengenalku ya?"

"Kau salah satu anggota klub tarian tradisional! Apakah kepalamu terbentur sesuatu?!" seru Mei lagi.

"Kak Nesia! Kak Nesia! Pertiwi kenal Mei-senpai! Biar Pertiwi bertemu Mei senpai!"

"Tidak sekarang Pertiwi... Kau akan dimarahi... Kembalilah dan jangan dengarkan pembicaraan kita!"

"T-tapi kan..."

"Demi kebaikanmu sendiri... jangan curi dengar!" perintah Nesia tegas.

"Uh..." Pertiwi menggumam kecewa dan kembali ke ruangannya.

"Ya... mungkin kepalaku memang terbentur sesuatu... Aku tidak ingat apapun sebelum 2 bulan yang lalu..."

"Eh?"

"Kata dokter... Aku amnesia..." jelas Nesia sembari mendekati Mei yang masih keget, "Apakah dulu kita bersahabat?"

Nesia lebih memilih menjelaskan bahwa dirinya menderita amnesia daripada hal rumit seperti Alter Ego yang tidak akan dapat dipahami dalam sekejap mata, lagi pula ia juga bisa dianggap berbohong.

"Kau bohong! Kau tidak seperti seseorang yang mengidap amnesia!" tolak Mei pada gadis yang 10 senti lebih pendek darinya.

Tuh kan... bilang amnesia saja tidak diterima... Apalagi hal yang lebih gila seperti kepribadian ganda...

"T-tapi... aku benar-benar tidak memiliki ingatan tentang senpai..." ucap Nesia mencoba membela diri.

"Jangan bohong! Aku tahu kau mendekati kami karena kau mengincar Kiku!"

Eng...?

"Aku tahu kau mempermainkan Kiku!" tuduhnya lagi, "Aku tidak tahu kenapa kau melakukannya! Tapi sekarang ia begitu menderita!"

Ayolah! Antara aku dan monster yang memakan buku Teori Fisika Nuklir sambil main danting sims itu, akulah yang lebih menderita! Setidaknya aku tidak membuat pergelangan tangannya membiru karena cengkraman yang terlalu keras!

"Kalau kau hanya bermain-main dengannya sebaiknya kau pergi saja!" serunya lagi.

"Mei!" seru seseorang di ambang pintu.

S-siapa lagi ini?!

"Kau tidak akan menghentikanku, Vie! Aku harus bicara dengannya empat mata! Dia harus tahu bagaimana rasanya disakiti!"

Aku tahu rasanya disakiti... Setidaknya alterku yang lain tahu...

"Memangnya apa salah Kiku sehingga kau membencinya dan mempermainkannya?!"

Aku tidak mempermainkannya... Tapi kesalahan Honda Senpai? Haruskah aku berikan daftarnya?

"Mei! Kita sepakat menyelesaikan ini baik-baik bukan?" seru Vie menenangkan Mei.

"Tidak! Setelah aku melihatnya, aku akan menyelesaikannya malam ini juga!"

"Ya... Tapi tidak dengan marah-marah seperti ini... Ini sudah tengah malam..."

"Aku tidak peduli!"

"Mei! Jangan seperti ini! Masa kau menghadapi adik tingkat dengan cara seperti ini?!"

"T-tapi... tapi..."

"Maaf... Tapi... Bisakah kita tenang dulu... duduk... dan baru berbicara? Aku tidak paham jika kalian berteriak-teriak... Dan ini sudah malam... Aku sudah lelah..." ucap Nesia, "Jadi kalau masalahnya harus selesai sekarang... Lebih baik pelan-pelan..."

"Itu benar Mei..."

"Huh!" Mei mendengus sebal sembari duduk di sofa terdekat.

Vie hanya mendesah lelah dan mengikuti sahabatnya untuk duduk di sampingnya. Begitu pula Nesia, namun ia duduk berhadapan dengan Mei.

Ada atmosfer yang sangat tidak enak, Nesia merasakannya. Namun Nesia tahun Mei adalah orang baik karena Pertiwi saja percaya padanya. Nesia harus mencoba, lagipula ini demi kebaikan dirinya sendiri. Ia tak mungkin terus mengandalkan Kiku untuk menyelesaikan masalahnya bukan?

"Pergelangan tanganmu kenapa?" tanya Vie saat menyadari tangan Nesia yang cukup mengerikan kondisinya, "Pasti sakit ya?"

"Ya... dan yang harus disalahkan itu seseorang yang akan kita bahas..."

"Kiku tidak..." Mei mencoba untuk membela Kiku, namun ia teringat cerita Yong Soo tentang Kiku yang menebarkan aura jahat dan menyeret Nesia tanpa ampun.

Benar-benar tanpa ampun.

"Jadi... Apa yang akan senpai 'selesaikan' denganku? Dan... Senpai ini, siapanya Honda senpai? Pacaranya?"

"Ya!" jawab Mei langsung.

"Heeee?" sontak Vie berteriak kaget, "Apa yang kau lakukan Mei?" bisik Vie tak terdengar Nesia.

"Memanas-manasi Nesia..." balas Mei dengan bisikan.

"Tapi kalau begini malah bisa menjauhkan Kiku dari Nesia... Kau tahu... Nesia jadi berpikir Kiku sudah punya pasangan..." bisik Vie lagi.

-plooop...-

Nesia kembali menepuk tangannya, menyimpulkan, "Oh begitu ya! Pacarnya Honda-senpai..." ucap Nesia berpura pura mengerti sembari menahan nada getir.

"Tuh kan!" bisik Vie gemas kepada Mei.

"Kalau dia tidak sakit hati atau menangis... Berarti dia tidak baik untuk Kiku!" bisik Mei lagi, "Aku ingin Nesia menjauhi Kiku! Pergi sejauh-jauhnya! Dan dari Mansion itu juga!" pinta Mei tegas pada Nesia.

"Itu malah akan menyulut Kiku, Mei! Dia akan lebih dari menjadi shinigami!" Vie menolak rencana Mei.

"Kita lihat ekspresinya dulu!"bisik Mei menahan Vie.

"Itu akan susah ya..." jawab Nesia sembari berpikir.

"Kenapa?"

"Kepala sekolah dan kepala Yayasan mengancamku... Kata mereka aku akan dikeluarkan jika berpisah dengan Honda-senpai..."

.

.

.

-P-PERMAINAN MACAM APA YANG DIMAINKAN OLEH SEKOLAH INI?!-

"A-aku tidak percaya!" seru Mei.

"Silahkan konfirmasi ke Pak Roman dan Pak Germania, kalau perlu... Aku juga tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal seperti ini... Mereka juga memindahkanku dan Honda-senpai dari dorm ke Mansion... Aneh kan? Siapa yang bakal paham coba?" jelas Nesia dengan datar.

Ia tahu kenapa; karena dirinya memiliki masalah pribadi yang tidak mungkin dibiarkan dan Kiku menjadi penanggung jawabnya agar dirinya tidak dikeluarkan dari sekolah. Tragedi? Ya.

"A-aku... Aku tidak terima hal ini!" seru Mei, "Kenapa harus seperti itu?!"

"Aku sendiri tidak mengerti, senpai..."

"Kalau begitu seharusnya kau dekat dengan Kiku dan tidak mempermainkannya!" seru Mei.

"Perlu senpai catat... Aku tidak mempermainkannya! Lagipula bagaimana caraku mempermainkan senpai seperti dia?!"

"Apakah kau tidak tahu kalau Kiku... Umnh!"

"Kau tidak mempermainkannya, ya... Nesia..." seru Vie memotong Mei sembari menutup mulut gadis Taiwan itu.

"Kenapa kau melakukan ini?" bisik Mei.

"Kau kan sedang berperan jadi pacarnya Kiku?! Masa mau bilang Kiku suka dengan orang lain?! Lagipula ini berarti Kiku belum bilang pada Nesia! Tega kau membocorkannya, Mei?" jelas Vie panjang lebar.

"Eh... Benar juga..."

"Tapi akhir-akhir ini... Mood Kiku berubah-ubah dan seringnya buruk... mungkin kau tahu kenapa?" tanya Vie lagi.

"Hmm... Terakhir kali... mungkin karena aku menyerahkan kertas formulir camp ke Razak..."

"K-kenapa kau menyerahkannya ke Razak?" tanya Mei sedikit sebal atas ketidakpekaan Nesia.

"Soalnya... Honda senpai bilang bahwa ia biasanya tidak ikut camp ini... Jadi Aku juga tak berencana ikut dan aku tidak peduli apa yang terjadi pada kertas formulirku..." jawab Nesia, "Tapi kalau senpai sudah punya pacar secantik Mei-senpai... kenapa dia masih meributkan formulirku? Bukankah lebih masuk akal kalau pergi dengan Mei-senpai?"

.

.

"Eh... Kiku itu terlalu penurut... Dia kan disuruh terus bersamamu oleh kepala sekolah dan ketua yayasan?" jawab Mei kagok.

"Kaku sekali... Tidak fleksibel..." keluh Nesia.

Vie dan Mei saling melirik. -Kami tahu itu...-

"Oh ya... dan orang asing yang kau temui siang ini?" tanya Mei lagi.

"Er... kalau itu aku benar-benar tidak tahu... Dia memanggilku Kirana... Kukira dia salah orang..." jawab Nesia.

"Dan Kiku menyeretmu menjauhinya?"

"Ya... Itulah sebabnya aku mendapatkan ini..." jawab Nesia lagi sembari memperlihatkan tangannya.

"Aku menyesalkan itu..." ucap Mei melembut.

"Jangan khawatir... Paling besok atau lusa juga sembuh..." sahut Nesia sembari tersenyum.

"Tidak... Untuk sikap tidak sopanku juga..." ucap Mei tulus, "Maaf sudah menuduhmu tidak baik... Nesia yang kukenal sangat manis dan polos... Begitu lugu dan bisa dikatakan lemah... Jadi aku tidak percaya kalau kau seperti ini sekarang..."

Nesia tersenyum simpul menanggapi Mei yang bercerita tentang Pertiwi. Mereka memang berbeda, dari segi umur dan kedewasaan adalah yang paling berbeda.

"Aku kira kau menipu kami untuk mendapatkan Kiku dan mempermainkannya... Kau tahu? Kiku sangat berharga bagiku..." ucap Mei dengan sedikit merona.

"Ya... Aku bisa melihatnya..." jawab Nesia sembari menelan rasa aneh di dalam hatinya.

"Aku bertemu Kiku pertama kali saat kami masih kecil dulu..." lanjut Mei.

Oh tidak... dia akan bercerita tentang sejarah kehidupannya! Maria... Kau di mana? Lama sekali sih?

"Waktu itu kami masih 2 tahun..." Mei memulai ceritanya, "Kami sebenarnya dari klan yang berbeda... tapi kami masih terikat persaudaraan... Waktu itu kami bertemu karena ada masalah antar keluarga yang cukup rumit... Dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama..."

"O-oh... begitu ya... Manis sekali..." balas Nesia sembari mempertahankan poker facenya.

"Tapi mengejarnya itu sungguh melelahkan dan pahit...", Mei tertawa kecil, "Dia terlalu kaku dan dingin... tidak peka sama sekali dan tidak menunjukkan emosi apapun..."

"Sampai sekarang juga masih seperti itu..." gumam Nesia.

"Ya... kadang dia masih seperti itu... Tapi sekarang ia lebih sering tersenyum lembut bukan?"

"Heee... Jadi yang mengubah Honda-senpai adalah Mei-senpai?" ucap Nesia menggoda Mei, padahal ia sedang kebigungan akan rasa sakit yang menyesakkan dadanya.

Mey tersenyum kecil, "Kurasa... Itu berkat Ludwig dan Feli..."

"B-begitu ya?"

Kok malah seperti ini ceritanya? Maksudku... Seharusnya biar maniskan kau yang seharusnya membuatnya tersenyum secara perlahan! Kenapa ini malah dua (kelihatannya) pemuda lain?!

Nesia tidak habis pikir dengan sejarah yang menurutnya agak konyol ini. Namun di sudut hatinya yang terdalam ia merasakan nafas lega.

"Waktu kecil kami terlalu takut untuk mendekatinya... Pernah kami bermain dengannya, meskipun sekali dua kali saja... Dia benar-benar sangat menyeramkan! Sangat disiplin... sangat... tenang, dewasa dan bisa diandalkan..." ucap Mei, "Namun saat di sini... Dia begitu ramah dan lembut..."

"Ya... aku tahu itu..." ucap Nesia.

Bagian dari menghindari konfrontasi itu... Sepertinya yang mengubah Honda-senpai bukan Ludwig ataupun Feli... Tapi dirinya sendiri karena memasang muka datar, kedisiplinan dan kekakuan pasti akan menuai paling tidak tanda tanya di Eropa ini...

Nesia berpikir bagaimana Kiku mengalami kesulitan-kesulitan dan bullying yang mungkin terjadi karena muka datarnya. Oh, jika Nesia melihatnya pun, Nesia pasti akan mengganggunya. Pasti.

Nesia tersenyum tipis karena pikirannya.

"Kiku itu... Dia dibesarkan dengan tuntutan yang terlalu besar... bahkan tidak masuk akal... Dan dia diajarkan untuk tidak melepas emosi ke siapapun... Jadi sampai saat ini ia masih susah dalam menceritakan dirinya..."

Ya... aku mengerti itu...

"Kita harus benar-benar memperhatikannya untuk tahu apa yang ia pikirkan..." lanjut Mei lagi.

"Sepertinya Mei-senpai sangat mengerti Honda-senpai? Sudah memperhatikannya sejak umur 2 tahun itu ya?" tebak Nesia.

Muka Mei memanas. Nesia benar, ia memang selalu memperhatikan Kiku.

"N-nesia tahu... keluarga klan kami sangat dekat... Dan sebenarnya tanpa berusaha pun... Aku akan mendapatkan Kiku... untuk menyatukan klan kita..."

"Aku mengerti..." ucap Nesia sembari mengusahakan sebuah senyuman.

"Tapi aku melihatmu... Dan menemukan sesuatu..."

.

.

.

"Aku tidak menggoda pacarmu, Mei-senpai... Maaf saja... Aku sudah punya terlalu banyak masalah... Aku tak punya waktu untuk memperebutkan seorang laki-laki..."

"Y-yang aku temukan!" Mei mencegah agar pembicaraan mereka tak terputus, "Yang aku temukan Kiku... sangat tidak stabil... sangat aneh... bukan Kiku yang kukenal jika ia bersamamu... Dia... hanya... Kiku..."

"Hm?"

"Aku tidak pernah melihat ia begitu frustrasi akan suatu masalah... seperti tidak tertolong... Kiku di mataku selalu sempurna... Tapi saat bersamamu... Dia seperti... Kiku..."

Nesia mengerutkan keningnya, "Oke... Dia memang Kiku Honda senpai sejak awal... Maksudku... Dia tidak memiliki masalah kepribadian ganda atau apapun itu kan?"

"Vie! Aku tidak bisa menjelaskannya!" bisik Mei frustrasi.

"Mau bagaimana lagi... ini susah..." jawab Vie.

"Begini... Nesia..." Vie memutar otak, "Maksud Mei, Kiku tidak seperti yang selama ini kita kenal... Selama ini dia tidak sering tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila... atau depresi berlebihan... Atau benar-benar memutar otaknya... Atau apapun itu yang memerlukan usaha... Di mata kami... Kiku selalu melakukan semuanya tanpa mencoba, dan hasilnya selalu sempurna... Maka dari itu kami sedikit kaget saat Kiku memperlihatkan sisi tersembunyinya lebih banyak akhir-akhir ini..."

"Apakah itu buruk?" tanya Nesia.

"Tidak... hanya saja... Itu terjadi setelah ia bertemu denganmu... Apa yang sebenarnya Nesia lakukan? Ini bukan masalah kok... kami senang dia sepertinya lebih jujur... Dia jadi lebih banyak memperlihatkan emosi... dan menjadi lebih manusiawi..."

"Vie... bahasa macam apa itu?" bisik Mei memprotes.

"Entahlah... Aku hanya seseorang dengan masalah yang kelewat rumit untuk dipecahkan, senpai... Mungkin dia hanya penasaran denganku... dan setelah selesai rasa penasarannya... dia... akan menghilang..." ucap Nesia sembari melawan nada getirnya yang muncul di akhir kalimatnya.

"Masalah apa sebenarnya?"

Nesia tersenyum pahit, "Masalah besar... Honda-senpai yang menyadarinya terlebih dahulu... Baru kemudian ia memberitahuku... Kumohon jangan cemburu... Tapi hanya ia yang bisa membantuku saat ini..." ucap Nesia,

"Mei-senpai... yang tak tertolong itu... aku... Aku minta maaf..."

"K-kenapa?"

"Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri dan mengatasi masalahku sendiri... Aku jadi melibatkan Honda-senpai dan membuat kalian khawatir..." ucap Nesia tulus meminta maaf.

"Eh itu..."

"Aku tidak bisa menceritakan semuanya... Tapi aku mohon Mei-senpai tak perlu khawatir... Aku tidak akan menjadi orang ketiga... Aku sudah merasakan tidak enaknya menjadi orang ketiga..."

"Nesia... serius tidak memiliki rasa apapun pada Kiku?" tanya Mei lagi.

"Ada... Rasa terimakasih..." jawab Nesia sembari memberikan senyum paling manisnya, "Honda-senpai memang agak aneh, konyol, bawel dan menjengkelkan... Tapi dia membantuku..."

-Aneh? Konyol? Bawel? Menjengkelkan?-

"Benarkah?" tanya Mei.

"Rasa terimakasih ini? Tentu saja..." jawab Nesia.

"Bukan... Maksudku... Konyol?"

"Ya! Tindakannya itu tidak masuk akal bagiku... Dia selalu mengkhawatirkanku... Aku tidak mengerti kenapa... Dan aku tahu dari raut mukanya yang dipaksa tenang itu... ia sering bertarung di dalam dirinya sendiri dengan alasan yang tidak jelas... Dia juga sering tertawa-tawa sendiri sambil menggambar sesuatu... Atau melihat foto-foto yang sepertinya haram untukku... Padahal aku sangat ingin tahu itu foto apa..."

Jangan... Jangan melihatnya Nesia... Demi kebaikanmu sendiri...

"Dia sering marah-marah tidak jelas... Dan bertindak aneh... Dia juga sangat bermasalah dengan makanan, manner... dan garam! Aku baru menyadarinya tapi yang di masaknya itu pasti asin dan gurih... dan terlalu banyak garam... oh ya... super higienis!"

"E-er..."

"Dan aku juga menyadarinya akhir-akhir ini kalau dia sering mengikutiku... Aku tidak tahu kenapa..."

M-mungkin... Kiku sedang men-stalk-mu... Yang sabar ya Nesia...

"Dan dia itu terlalu overprotektif... terlalu posesif... otoriter... sering membuatku sakit kepala..."

K-kiku jadi semakin menakutkan?

"Dan dia... Konyol... Itu saja yang dapat kupikirkan... Ya... dia memang memiliki sisi tenang dan dapat diandalkan... Tapi bagiku lebih banyak keanehannya daripada ke-kerenannya... Aku rasa aku bahkan belum melihat sisi kerennya... Selain dia membantuku dengan masalahku sih... Tapi Mei-senpai pasti sering melihatnya ya?"

"Eh... ya... tentu..." Mei melirik ke arah Vie yang balik meliriknya.

"Nesia! Aku bawa kotak P3K juga Razak nih!" seru Maria memasuki livingroom tanpa memperdulikan Mei dan Vie.

"Aku sudah bilang apa Nes?! Senpai itu tidak baik untukmu! Kau teruka karenanya kan?! Dasar Indon bodoh!" seru Razak sembari mengambil tangan Nesia yang sakit.

"Ih! Pelan-pelan! Kau kira tak sakit apa?!"

"Ini siapa, Nesia?" tanya Mei menahan kemarahannya.

"Aku? Aku Razak! Ada apa?"

"K-kau siapanya Nesia?!" tanya Mei lagi, ia mengenali pemuda ini; yang jalan-jalan bersama Nesia waktu itu.

"Ugh... A-aku..." Razak melirik ke arah Nesia dengan tidak yakin, "D-daripada itu... Apa yang Kakak tingkat lakukan di sini?!"

"Aku sedang bicara dengan Nesia... Tentang Honda Kiku..." jawab Mei menantang Razak, ia tahu Razak menyukai Nesia dan ini akan menyulut api kemarahannya. Pasti.

Lihat saja, muka pemuda Asia Tenggara itu telah berubah, marah.

"Apa yang kau bicarakan dengannya, Nes?!"

"Lah? Tadi kan baru dikasih tahu sama Mei-senpai...?"

Razak melirik serius pada Mei yang tengah merayakan kemenangannya. Begitu juga dengan Maria, gadis ini ikut tersulut karena menyadari bahwa ia telah menemukan lawannya.

"Kakak tingkat ini siapanya Kiku Honda-senpai?"

"Aku saudaranya yang sangat mendukungnya dengan Nesia!" jawab Mei lantang.

"Loh? Bukannya senpai itu pacarnya Honda-senpai?" tanya Nesia kebingungan, melewatkan bagian 'mendukung siapa'.

"Sepertinya bukan, Nes... Waktu itu kan dia pergi dengan cowok lain..." ucap Razak.

"Loh... iya ya..." Nesia baru menyadarinya, "Iya juga ya... waktu itu... Senpai marah karena aku jalan bareng Razak dan meninggalkan Honda-senpai kan?"

-Gleeeeeeeeek...-

"Dasar Indon lemot!" seru Razak gemas.

"Er... itu..." Mei dan Vie saling bertukar pandang.

.

.

"Sebaiknya kalian berdua jangan ribut..." terdengar suara seorang laki-laki di hall, "Nanti semuanya bangun..."

"Tara-jiisan! Ini sudah malam! Dan Nesia-san pasti sudah tertidur!"

"Tidak ada gunanya kalau dia belum tidur! Kita bermaksud menculiknya bukan?!"

"Hong-san! Kenapa kau malah berkomplot dengannya?!"

"Dia memberikanku 1000 euro..." jawab Hong datar.

"Tara-jiisan! Kau menyuap Hong-san?!"

"Oh ayolah... Aku terlalu tua untuk melakukan ini sendirian... Aku butuh tenaga... dr. Greef tidak bisa datang bersamaku dan melakukan proyek ini karena ada panggilan darurat di rumah sakit..."

"Kenapa tidak anda batalkan saja rencananya?! Lepaskan aku sekarang juga!"

"Terlalu seru untuk dibatalkan... Iya kan Hong?"

"Ya... Jarang aku punya kesempatan untuk mengerjai Gege... Bahkan secara aman..."

JADI INI MODUS UTAMAMU?!

"Sudahlah Nak Kiku... Ini juga untuk keuntunganmu sendiri bukan? Umnh?" Kakek Tara menghentikan perjalanannya saat ia melihat ada lima anak yang masih terjaga di livingroom.

Dan semuanya melihat ke arah mereka. Dan mereka bertukar tatap dalam diam dan keheranan.

"Kakek Tara... Ada apa?" tanya Hong sambil menyeret tali yang mengekang Kiku untuk berbuat macam-macam, "Kita ketahuan?"

"H-hong?!" teriak Mei tidak percaya, "K-kenapa ada di sini?!"

"Mei? Belum tidur?" tanya Hong sembari menahan Kiku dari kabur.

"Uh? Atuk Nusantara?"

"Lah, Razak? Kau ada di sini?"

"Iye laah... Saya kan sekolah bersama abang Thai?"

"Kau kenal Thai?" gumam Vie.

"Iya kah? Aku baru tahu..." ucap Kakek Tara.

"Ah... Nah itu pacar kakak tingkat yang asli, ndoon!" seru Razak pada Nesia sambil menunjuk-nunjuk Hong, "Yang diseretnya itu simpanannya!"

"Haaaaaaaaaaaaaah?!" Mei, Hong, Kiku, Vie serta kakek Tara sontak melengguh kaget.

"Simpanan? Nak Kiku... Kau... Kau tidak selingkuh dari Nak Nesia kan?"

"Tentu saja bukan! Jangan mengatakan seolah-olah aku ini cewek murahan ya!" raung Mei pada Razak.

Untungnya Vie bertindak cepat dan memegangi lengan Mei sebelum gadis itu berhasil mencakar Razak.

"A-apa yang terjadi sebenarnya di sini?" Nesia mengerutkan keningnya bingung.

"Nesia! Lebih baik kau memilih Razak saja! Senpaimu itu terlalu banyak masalahnya!" ucap Maria memanfaatkan keadaan yang aneh ini.

"Nak Kiku belum menjawabku!" seru Tara marah.

"Gege... Aku tidak akan mengembalikan Mei pada Gege... Apapun bayarannya!"

"Ini tidak seperti itu Hong! Ini salah paham!" seru Mei panik dan meronta tanpa mempedulikan Vie yang berjuang segenap tenaga menahan sahabatnya ini.

Thai! Kau di mana sih?! Dasar maniak gajah!

"Tara-jiisan! Hong-san! Kalian tahu aku tidak mungkin melakukannya!" sahut Kiku dengan tegas.

"Aku mulanya masih berpikiran positif ketika melihat cincin kalian ditinggal di Mansion... Namun saat sampai di sini aku mengetahui kalau kalian bertengkar... Dan sekarang Nak Kiku ketahuan selingkuh?!" ucap Kakek Tara berapi-api.

"Chigau desu! – Ini tidak seperti itu!" erang Kiku frustrasi.

"Hong! Bawa dia ke mobil! Kita ganti rencana dengan rencana B-ekstrem!"

"Nani sore?! B-ekstrem?! Nani sore?!" seru Kiku panik mendengar rencana yang namanya merupakan pertanda bahaya.

"Kakek Tara... Ini sebenarnya ada apa?" tanya Nesia lugu.

"Nak Nesia! Tenang saja! Aku akan mengkuliahi suamimu yang bejat ini!"

Eh?

.

.

.

Apa?

.

.

.

Apa barusan?

"S-suami?" Mei tercekat tak percaya.

"Suami?" ucap Hong kaget sembari melihat ke arah Kiku yang kini berusaha mati-matian melarikan mukanya yang merah padam.

"Suami?" tanya Razak pada Nesia yang sempurna memucat.

"Suami?" ulang Vie tak percaya.

Sedangkan Maria pingsan seketika.

"L-loh... Memangnya salah? Mereka kan suami-istri?"

.

.

.

"Kenapa kalian semua diam? Memang mengejutkan... Aku juga terkejut... tapi mereka benar-benar suami-istri loh! Ah... aku bawa cincin mereka... di mana aku menyimpannya..." ucap Kakek Tara sembari merogoh mantelnya.

"Hong-san... Kau ingin membunuhku kan? Ayolah... Demi mendapatkan Mei... Kau bilang kau merasakan apa yang kurasa saat aku melihat Nesia dengan Razak kan? Tolong bunuh aku sekarang?" bisik Kiku lemas.

"G-gege..."

"Aku tidak sanggup hidup lagi..." bisik Kiku sembari menolehkan kepalanya lemas.

"Ah! Ini dia cincin mereka!" seru Kakek Tara tak menyadari ketegangan yang berlangsung.

"N-nes... Nesia... Apakah itu benar?" tanya Razak pada Nesia yang seolah tak bernyawa lagi.

"Nesia?" panggil Mei lirih.

Nesia tidak bisa menjawab apapun. Dirinya benar-benar terpojok. Jika ia menjawab iya, maka akan terjadi masalah. Dan jika ia menjawab tidak, Nesia tidak tahu pasti masalah akan menjadi lebih kecil atau besar, mengingat Kakek Tara sangat tegas, sangat berpengaruh, sangat disiplin, sangat memegang budaya, sangat...

Menakutkan.

Bisa-bisa ini akan menjadi masalah sangat besar yang menyeret Pak Roman dan Pak Germania. Bisa-bisa mereka malah dinikahkan sungguhan oleh Kakek yang super strict ini.

.

.

"Nesia! Awak tidak boleh melakukan ini pada saya! Indon! Jawab?! Jawab tidak!" seru Razak panik, "Kan? Ini tidak betul?"

.

.

"Indon..." Razak melemas saat Nesia tidak kunjung menjawabnya.

"Kenapa denganmu Razak?" tanya Kakek Tara.

"Atuk... Mereka... Mereka..."

.

.

"Oh... ya ampun..." Kakek Tara sepertinya menangkap sesuatu, "Nak Nesia!"

"Uh?!" Nesia berjingkat kaget ketika namanya dipanggil setegas itu.

"Ikuti Nak Hong sekarang juga!" seru Kakek Tara sembari memberikan kunci mobilnya pada Hong, "Aku pasti menyusul Hong..." bisiknya pada Hong.

"I-ini..." Nesia mencoba menjelaskan.

"Tanpa perlawanan!" seru kakek tua itu lagi.

"B-baik..." jawab Nesia lirih sembari menyeret langkahnya menuju Hong.

#QuotesofTheDay: Ouuuuuuuuu... –Vie

*O*


A/N :

It's 26! Chapie 26!

Author: OMG! OMG! OMG!

Neth: Tembus nih... tembus 30 nih...

Author: Oh tidak... =.=a

Neth: Niat banget kau menggarap ini?! Sampai sepanjang ini...

Author: Niat dong... Kalau menyiksa Neth pasti niat!

Neth: Apa?!

.

Nesia: Author! Ini Reviewnya udah kubawakan... Hng?

Kiku: Ada apa Nesia-san?

Nesia: Mereka berantem lagi...

Kiku: Kalau begitu kita yang balas review...

Nesia: Baiklah... Pertama... Ah! Namanya hampir sama denganku! Halo Kak Nessi-chii!

.

.

Kiku: Kenapa berhenti?

Nesia: A-aku tidak lihat... aku tidak lihat... Eh... kak Nessi-chii tanya bagaimana ekspresi Kiku dan Neth mengetahui Aussy adalah tunanganku? Er... Author-san... Tolong hentikan menjambak rambut Neth... ini ada pertanyaan...

Author: Baiklah... *lepas

Neth: ekspresi ku? Heh... Tunangan saja kok ramai... Silahkan kalian bertunangan... Toh pada akhirnya Nesia akan kembali kepadaku karena dia adalah takdirku...

Author: *pppfft! Bwuahahahahahaha! Kain gombal!

Neth: Diam!

Nesia: Dasar aneh... Kalau kau Kiku? Er... Kiku?

Kiku: *melinguk* Nani ga arimasuka? Nesia-san? Watashi wa chotto isogashii desu... *menajamkan Katana* Ada apa Nesia? Aku agak sibuk di sini...

Nesia: Apa yang akan kau lakukan dengan pedang itu?! *carireviewlain* Selanjutnya... Kak Azzukihazle... Maaf sudah membuat lama menunggu... Jadi... Kakek tara dan dr. Greef itu otak H ya?

Kiku: SEIKAI DESU! – ITU BENAR!

Nesia: Ngotot amat ngomongnya...

Kakek Tara: Eh... Kita mah bukan otak H ya dr. Greef...

Dr. Greef: Itu benar! Siapa saja yang melihat keluguan Nak Kiku pasti ingin menggodanya seperti itu... Dia mau, di bisa, dia ada kesempatan... Tapi karena gengsi dan harga diri, dia tidak melakukannya... Apa nggak sempurna tuh untuk menjadi bahan godaan?

Kiku: Sudah kuduga... Ini bullying...

Nesia: Berarti kalian bangsa S dong... Menggoda iman...

Kakek Tara: Nesia... Kau bilang kakekmu ini apa?

Nesia: Ya kalian jangan menggoda kayak gitu! *balikkereview* Kirana siapa? Kirana itu...

Author: Stop! Jangan spoiler!

Nesia: Oke... oke... Selanjutnya... Kak Sabila Foster...

Kiku: Sepertinya aku mengenali Capslock itu...

Nesia: ...

.

.

Nesia: *melihat ke Kiku

Kiku: N-nani...?

Nesia: Aku tidak tahu harus ngomong apa...

Author: coba lihat... Oh... Kiku! Kau disuruh lebih berbahaya...

Kiku: M-maksudnya?!

Author: Kalau nggak kamu bakal disemein Garuda... Yah... Aku lebih suka kau disemein Garuda sih...

Kiku: Nani?!

Author: Abang ganteng Netherland? Dia baik-baik saja... belum tenggelam kok...

Neth: Author! Cepet masukin aku!

Author: Kemana? Lubang kubur?

Neth: Ukh!

Author: Oh ya Kiku... cepetan bikin anak sama Nesia...

Kiku & Nesia: Mana mungkin kita melakukan hal seperti itu!?

Author: Oke Next! BlackAzure29-san... Nesia alternya berapa? Hahaha... Aku juga nggak tahu...*digaplok* Kapan Neth sengsara? Sekarang juga sudah sengsara kok... sengsara menanti untuk dimasukin ke cerita..

Neth: Author sialan...

Author: Kiku... kenapa sainganmu begitu banyak?

Kiku: Entahlah... Padahal aku tidak pernah mencari musuh...

Author: Itu karena kau tokoh utama...

Kiku: benarkah? O-oh...

Author: Next... Guest-san... Kok Aussy?

Aussy: Soalnya aku sahabatnya Nesia! Iya kan Nes?

Nesia: Tidak... sebelum kita menyelesaikan masalah pencari suaka di perbatasan Indonesia-Australia...

Aussy: Iiih...

Neth & Kiku: Nah loh... kena kan?!

Author: Nes, kau disukai empat cowo... Kau pilih siapa? Kiku, Neth, Malon atau Aussy?

Nesia: ...

.

.

Nesia: Kangmas Yogyakarta atau Kangmas Surabaya boleh? Aa Bandung juga! Terus Uda Padang! Abang Balikpapan, Daeng Makassar, Kaka Ambon... Kaka Jayapura juga! Ah... Banyak sekali... Bang Jakarta mbolehin nggak ya?

Author: K-kenapa?

Nesia: Cakep...

Kiku, Neth, Malon & Aussy : Kita kalah sama kota... Padahal kita negara...

Author: Rasain lo... Harus bersaing sama kakak-kakaknya...

Neth: Nesia! Kau kan Negara... Pilihlah Negara juga!

Nesia: *geleng* nanti aku nggak jadi RI lagi!

Author: Tapi... kalau misalkan terpaksa negara lain... kau pilih siapa?

.

.

Nesia: Malon dan Aussy dicoret...

Malon: Kenapa?!

Aussy: Kok gitu?!

Nesia: Malon saudaraku sendiri... Aussy... Kita terlalu banyak bersitegang...

Aussy: Tapi...

Nesia: Selesaikan pencari suaka itu dulu...

Aussy: Ukh...

Author: Berarti tinggal Kiku sama Neth, nih...

Nesia: Kalau Kiku... Dia investor yang sangat besar di negaraku bahkan di 2013 dia yang terbesar... 2014 salip-menyalip sama dek Singapura sih... dan banyak infrastruktur yang dibangun oleh Kiku, meskipun jalan-jalan rusak karena dia juga...

Kiku: Uh... =_='

Nesia: hutangku juga banyak banget ke dia... Kapan aku melunasinya? T_T"

Author: Kalau Neth?

Nesia: Kalau Neth... Dia... bagaimana menjelaskannya ya? Kalau jalan-jalan ke kota tua atau yang banyak bangunan kolonialnya pasti tahu deh...

Author: Terikat masa lalu yang dalam...

Nesia: *angguk

Author: kenangan lama memang sulit untuk dilupakan ya?

Nesia: *angguk

Author: Romantis, manis, walaupun agak menyakitkan... tapi ia sudah menjadi bagian dari hidupmu...

Nesia: Ya...

Neth: Kerja bagus Author!

Kiku: ... Yah... Dibandingkan Oranda-san yang 350 tahun... aku cuma 3,5 tahun... Kalau keberadaan diukur dengan lamanya masa lalu... aku hanya 1 persen dari Oranda-san...

Author: Tapi kalau aku jadi kau, aku lebih memilih masa depanku karena aku tidak hidup di masa lampau... anggota G-8 lagi! *nunjukKiku*kabur

Neth: PENGKHIANAT! *kejar

Nesia: U-uh... *lirik Kiku

Kiku: Eh?

Nesia: Kangmas Surabaya tetep lebih keren! *mukamerah

Kiku: H-hai... ^_^a

Nesia: S-selanjutnya... kak PF-reito-masahina... Jelasin dr. Greef?

Dr. Greef: Aku? Aku itu... Laki-laki...

-rollingeyes-

Dr. Greef: Aku berumur... 40... tinggi normal, bapak-bapak berkacamata... Aku cakep loh...

Kakek Tara: Iya... kata istrimu...

Dr. Greef: perutku... nggak buncit-buncit amat sih... Dan aku nggak serius-serius amat... Kau tahu... Negara-negara ini gila! Dan aku sebagai United Nation, kalau meladeni mereka dengan serius bakalan gila juga... Jadi biasa saja...

Nesia: dr. Greef saja yang nggak niat menyelesaikan masalah... Itu perang masih ada!

Dr. Greef: hahaha...

Nesia: Selanjutnya... Kak Qwerty-chan... Aku juga... Kukira dia dinamai Honda itu gara-gara Honda yang itu terkenal (dan mungkin lebih terkenal dari saingannya)... Jadi kalau yang lebih terkenal Toyot*... Namanya akan jadi Toyot* Kiku... Atau Daihatchii Kiku...

Kiku: N-nesia-san... *jengkel

Nesia: Terus... Mnh... Nggak... Nggak mungkin naik rate! Aku nggak mau... *geleng2* terus... Kak AA, Garuda belum dimunculin... Iya... Aku nggak mau dia muncul... *mojok

Kiku: *geleng* aku juga... Dia agak... menakutkan...

Author: EH? Garuda? Dia pasti muncul kok! Pasti! Ahahahahaha!

Nesia & Kiku: Haruskah buat surat wasiat sekarang?

Author: Sekian dulu ya untuk chapter ini :D Sampai jumpa di chapter berikutnya :D :D

Always, Kritik, saran dan review selalu ditunggu :D