OUR HAPPINESS
CAST
Jung Daehyun
Byun Bakehyun
Kim Joonmyeon
Luhan
Zhang Yi Xing
Other Cast lainnya
Rating : T
Genre : GENDERSWITCH! Family,Romance(?),and Comedy
Author : Daebaektaeluv x Hanaku Kim
WARN!TYPO EVERYWHERE AND ESPECIALLY IN THIS CHAPTER ABOUT 'KEBINGUNGAN'. IF DON'T LIKE JUST CLOSE AND DON'T BASH.
Note : Mungkin kalian bingung dengan jalan cerita. Tentang orang tua Baekhyun, Sahabat Yixing, munculnya Kyungsoo, atau yang lainnya. Tapi author mohon maaf, itu semua demi kepentingan alur cerita. Semua mungkin dibuat rumit, tapi itu cuma di awal sama pertengahan. Jadi kemungkinan, endingnya cerita gak bakalan rumit. Buat yang bingung, mohon maaf!
STARTED!
"T-tunggu.. apa maksudmu 'dia resmi menjadi murid sekolah ini'? Dia tidak mungkin bersekolah disini, kan?" Tanya Luhan. Yixing yang mendengarnya hanya menggeleng pasrah.
"Tidak, mulai besok, kau akan melihat keberadaannya di sekolah ini dan saling membaur. Dengar, Luhan. Dia sebenarnya anak yang baik... walaupun mungkin sikapnya kurang mengenakkan atau sewaktu-waktu berubah." Ucap Yixing. "Dia anak yang menyenangkan. Percayalah padaku!"
"Mengapa aku harus percaya? Dia telah membuat Joonmyeon menderita. Kau harus memutus hubungan pertemananmu dengannya, Yixing!" Tukas Luhan sedikit tidak sopan karena telah membentak Yixing. Sungguh, Luhan kurang percaya dengan ucapan Yixing mengenai sahabatnya itu.
#JanganPercaya,DiaDitaburiWijen :v
"Mana mungkin diputuskan begitu saja?! Kau kira mudah memutuskan hubungan pertemanan yang kau jalin hampir selama 5 tahun?!" Bentak Yixing. Hening. Luhan yang mendengar bentakkan Yixing tak tahu harus berkata apa. Nafas Yixing masih menderu-deru karena mengucapkan kalimat yang sangat 'powerful' tersebut. Perasaan bersalah kemudian menyelimutinya. "Ah, maaf aku.. tidak bermaksud membentakmu.."
"T-tak apa.. aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku yang harusnya minta maaf.." Gumam Luhan. "Aku mengerti. Dan aku akan mencoba untuk tidak memperlakukannya dengan tidak baik."
"Jangan dipaksakan. Kalau kau tidak suka, lebih baik kau diam saja. Tapi aku harap, kau tidak membuatnya tertekan. Jangan perlakukan dia dengan kasar.." ujar Yixing.
"H-hei.. aku tidak sekejam itu." Luhan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. "Aku akan memperlakukannya seperti anak yang lain!"
"Hufh.. terima kasih. Kau baik." Ucap Yixing.
"U-uh.. yeah.. Aku jadi ingin melihatnya..." Gumam Luhan.
"Hey! Kau bisa melihatnya saat pulang sekolah nanti! Aku akan menemuinya, kau boleh ikut." Sahut Yixing.
"Baiklah.."
-8888-
"Uhm... Luhan? Kenapa kau.. daritadi diam saja?" Tanya Baekhyun yang melihat wajah lesu Luhan. Luhan hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Apa kau seperti ini gara-gara aku tidak menemanimu saat istirahat tadi?" Tanya Baekhyun lagi.
"Bukan. Bukan itu.. euh, tapi.." Luhan menggantungkan kalimatnya, membuat Baekhyun sedikit penasaran. Luhan kemudian menggelengkan kepalanya. "Lupakan. Ngomong-ngomong, dimana Joonmyeon?"
"Ah.. Joonmyeon tadi bilang kalau ia harus menemui Kepala sekolah, kan?" Ucap Baekhyun dengan nada heran. "Mana mungkin kau lupa.."
"Ah, iya.." Gumam Luhan.
Luhan bersikap seperti ini karena janjinya pada Yixing beberapa saat yang lalu. Ia tidak mau melihat wajah 'teman' Yixing, maupun berkenalan dengannya. 'Bodohnya aku.. harusnya aku tidak bilang seperti tadi..'
"Ah. Kau tidak pulang bersama Daehyun?! Dia pasti sudah menunggumu, kan?!" Tanya Luhan, lebih tepatnya bentakan. Nada bicaranya seperti sedang membentak.
"Eh.. iya sih. Tapi, apa tidak apa-apa kalau kau.. pulang sendirian?" Baekhyun memandang sahabatnya dengan pandangan ragu. Karena, Luhan biasanya tidak mau pulang sendirian.
"Aku... masih ada urusan. Jadi mungkin aku akan pulang dengan Joonmyeon saja. Jangan khawatir." Ucapnya dengab senyum yang menyakinkan. Baekhyun mengangguk singkat kemudian mulai melangkah pergi.
"Baiklah, sampai besok!" Ujarnya sembari melambaikan tangannya. Luhan juga membalasnya dengan lambaian, serta senyumnya.
Namun tak lama kemudian, senyuman itu berubah menjadi sebuah 'rengutan'. Luhan menarik-narik rambut ikalnya sambil melompat-lompat. Untungnya, disana tidak ada orang.
"Hufhh.. baiklah.. apa boleh buat." Gumamnya pelan.
-8888-
Joonmyeon berlari menaiki tangga menuju ruang Kepala Sekolah begitu diberitahu bahwa ia dipanggil. Mau tak mau, ia harus menurut. Yah, walaupun panggilan ini sangat menyita waktunya. Ia ingin cepat pulang dan menonton drama favoritnya.
"Uh.. seharusnya aku sudah sampai di rumah saat ini.." Gumamnya. Dari nada bicara yang ia lontarkan, terdengar jelas bahwa ia sedang kesal-sekesal-kesalnya.
Begitu sampai didepan pintu ruang Kepala Sekolah, ia tidak langsung masuk. Ia berdiri disana, karena melihat siluet seseorang sedang berbicara dengan Kepala Sekolah. Jendela ruangan tersebut terbuat dari kaca yang berwarna sedikit buram, sehingga hanya terlihat bayangan siluet orang yang berada di dalamnya.
"Guru.. baru?" Gumamnya. Kemudian, tanpa berpikir apa-apa lagi, ia segera memutar knob pintu dan melangkah masuk. Menutup pintu kemudian membungkukkan tubuhnya, sebagai tanda hormat, tentu saja.
"Songsaenim.. Saya dengar, anda memanggil saya. Ada apa gerangan?" Tanya Joonmyeon dengan bahasa formal.
"Ah, Joonmyeon! Benar, aku memanggilmu." Sahut Kepala Sekolah. "Kau wakil Organisasi Siswa, benar?"
Joonmyeon menganghuk. "Iya, saya wakil Organisasi. Memangnya kenapa, Songsaenim?"
"Aku ingin kau, memperlihatkan seisi sekolah ini pada murid baru yang akan masuk kesini. Bisa?" Tanya Kepala Sekolah.
Joonmyeon kemudian tersenyum dan mengangguk mantap. "Dengan senang hati, Songsaenim. Dimana anak barunya?"
Kepala Sekolah kemudian menggeser tubuh gempalnya kesamping, memperlihatkan seorang Yeoja yang tidak memakai seragam sekolah yang mempunyai mata besar dengan rambut hitam sebahu yang ujungnya ikal, sedang tersenyum ke arah Joonmyeon. Sorot matanya yang 'khas' membuat Joonmyeon mengerutkan alisnya.
Joonmyeon kenal sorot mata itu. Seketika, ia merasa bahwa detak jantungnya berhenti saat itu juga, tubuhnya seakan sulit digerakkan, mulutnya seakan sulit untuk berkata. Suara yang seharusnya ia keluarkan, tertahan didalam kerongkongannya. Yeoja itu tersenyum padanya, namun entah kenapa, Joonmyeon merasa tegang. Seakan hawa yang tidak mengenakkan mengelilingi dirinya. Hanya ada satu kalimat yang terngiang dalam pikirannya.
'Ini tidak mungkin dia, kan?' batin Joonmyeon.
Yeoja tersebut kemudian menghampiri Joonmyeon yang masih terdiam, masih tersenyum, Yeoja itu kemudian memeluk erat tubuhnya, membenamkan wajahnya pada bahu Joonmyeon. Dan kemudian, mendekatkan mulutnya pada telinga Joonmyeon.
Membisikkan sesuatu, "Aku senang bertemu denganmu lagi disini, Joonie. Kau masih ingat aku, kan?" Kemudian Yeoja tersebut melepaskan pelukannya, namun mengaitkan tangannya pada Joonmyeon.
"Aku tidak percaya kita bertemu disini, Joonie!" Ucapnya dengan nada riang.
"A-aku.. juga tidak.. percaya.." Sahut Joonmyeon terbata-bata. "Kenapa.. kau ada disini?" Tanyanya pelan. Suaranya hampir tidak kedengaran.
"Sekolah, tentu saja." Jawab Yeoja itu santai.
"Ah, apa kalian berdua saling mengenal?" Tanya Kepala Sekolah. "Joonmyeon dan... euh, siapa namamu?"
Yeoja itu mengangguk mantap. "Jung Yong Hoon. Benar, aku dan Joonie memang saling mengenal. Ia sepupuku. Appaku dan Eomma Joonie adalah saudara. Benar, kan, Joonie?" Ucap Yonghoon-nama Yeoja itu dengan nada riangnya.
"B-benar.. Yonghoon.. adalah sepupuku.." Sahut Joonmyeon masih dengan nada terbata-bata.
"Ah, baguslah kalau begitu! Kau bisa mengantarnya berkeliling sekarang, Joonmyeon!" Ucap Kepala Sekolah.
"Ayo, Joonie! Aku ingin melihat seisi sekolah ini.." Yonghoon menarik-narik lengan seragam Joonmyeon.
Joonmyeon menelan ludahnya pelan kemudian mengangguk dan tersenyum. "Ah.. baiklah. Akan aku tunjukkan.."
"Baiklah. Terima Kasih atas waktunya, Kepala Sekolah!" Ucap Yonghoon sembari membungkukkan tubuhnya, yang dibalas Kepala Sekolah dengan bungkukkan juga.
"Tidak masalah, YongHoon!"
.
.
.
.
'Oh, tuhan.. bilang kalau ini cuma mimpi..' Gumam Joonmyeon dalam hatinya. Daritadi pikirannya tidak tenang karena datangnya Yonghoon. Yonghoon memang anak yang manis, namun entah kenapa, Joonmyeon merasa tegang bila bersama Yonghoon. Ia tidan bisa tenang.
"Apa Joonie tidak suka kalau aku sekolah disini?" Tanya Yonghoon tiba-tiba.
"A-apa?! Ah.." Joonmyeon gelagapan. "Tidak.. lagipula, jangan panggil aku Joonie! Memalukan, tahu?!"
"Aku lebih suka memanggilmu Joonie daripada Joonmyeon. Seperti nama laki-laki." Sahut Yonghoon.
"Yonghoon juga seperti nama laki-laki."
"Jahat!"
"Huh.. diamlah. Baiklah, aku akan menunjukkan ruang kelas dulu. Jangan bersikap seperti anak kecil! Ingat umurmu, Yonghoon!"
"He-um.. arraseo joonie.."
"YAAAKK.."
-8888-
"Apa rencanamu?"tanya Daehyun.
"Rencanaku? Maksudmu?"tanya Baekhyun balik yang bingung dengan pertanyaan Daehyun.
"Apa yang akan kau lakukan terlebih dahulu, Baekhyun? Tentang.. orang tuamu.." Ucap Daehyun dengan pandangan bertanya.
Baekhyun menghela nafasnya. "Entahlah. Aku baru saja mengirin pesan pada Eomma dan Appaku. Jawabannya sama. Mereka sibuk."
"Keren." Puji Daehyun.
"Keren apanya?! Apanya yang keren saat orang tua menelantarkan anaknya sendirian dan hanya mengurusi urusan pribadi masing-masing?!" Tukas Baekhyun.
"Baek, Baek, sabar..." Daehyun mengelus pundak Baekhyun, berinisiatif menenangkan Baekhyun yang sedang dalam fase menggila.
"Ah... handphoneku bergetar." Gumam Baekhyun. Ia membuka handphonenya dan melihat ada dua pesan masuk. Satu dari Appanya dan satu dari Eommanya.
"Walaupun mereka bertengkar, mereka tetap kompak.." Gumam Daehyun yang mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan sehingga bisa melihat apa isi kedua pesan tersebut. "Hei, mereka berdua mengajakmu bertemu hari Sabtu nanti."
Baekhyun mematikan layar handphonenya kemudian memasukannya kembali kedalam tasnya. "Appa mengajakku makan siang bersama, sedangkan Eomma mengajakku makan malam. Di hari yang sama."
"Kesempatanmu sangat besar. Tenang, aku akan membantumu!" Ucap Daehyun. "Ngomong-ngomong.. apa mereka tahu kalau kita...?"
"Belum. Karena itu, aku ingin memberitahu mereka secepatnya, bahwa anak perempuan mereka sudah dewasa." Sahut Baekhyun. "Agak memalukan memang. Tapi aku yakin, mereka tidak akan peduli. Kau sendiri.. Apa orang tuamu tahu?" Tanyanya kemudian.
Daehyun tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, Appa dan Eommaku sudah tahu. Karena itu, mereka ingin segera bertemu denganmu."
"A-apa?! Ingin segera bertemu denganku?" Ujar Baekhyun tidak percaya.
Daehyun mengangguk. "Terutama Eommaku. Aku sudah menunjukkan fotomu padanya, tapi ia bilang, kalau ia ingin bertemu langsung denganmu. Ia juga ingin mengobrol denganmu."
Baekhyun merasa wajahnya memanas sekarang. "Kenapa kau tunjukkan? Aku kan.. Malu.." Ucap Baekhyun, lirih.
"Eoh? Memangnya tidak boleh?" Tanya Daehyun. "Dengar, Baek. Eommaku, Eommamu juga nantinya. Tidak ada salahnya, kan, kalau seorang Eomma ingin melihat foto Anaknya?"
"Apa yang Eommamu bilang? Tentang.. diriku." Ujar Baekhyun.
"Ya, seperti yang tadi. Ia ingin bertemu denganmu." Sahut Daehyun.
"Ah.. begitu.."
"Ia bahkan menyuruhku untuk mengundangmu makan bersama keluargaku. Kau tahu? Ia bahkan rela akan memasak semua menu makanan untukmu." Ucap Daehyun.
"Ah... tidak usah berlebihan seperti itu.."
"Kapan kau bisa?" Tanya Daehyun. "Eommaku sudah menunggu.."
"Yah.. entahlah. Kurasa untuk minggu ini kurasa belum. Aku harus menyelesaikan urusan Eomma dan Appaku." Gumamnya. Daehyun yang mendengarnya kemudian memasang wajah kecewa. "Bagaimana kalau minggu depan saja. Aku janji."
"Benar? Kau janji?" Tanya Daehyun dengan nada bicara penuh semangat. Baekhyun kemudian mengangguk mantap.
"Aku janji."
"Baiklah, akan segera aku sampaikan pada Eomma! Eomma pasti senang mendengarnya!" Ujar Daehyun.
"Ya.. Kuharap ia senang."
.
.
T. B. C
Author Note's
Annyeonghaseyo reader~~
mianhaaaeee jeongmal mianhaaaaeeeee ff ini sangat terlambat T.T. salahkan otak author atau mood author sering hilang atau diculik/? seseorang
maafkan bila DaeBaek momentnya kurang dan kalian kebingungan. hmm sekian disini author note,annyeong~
Mohon reviewnya neee,thank you for favorite or follow this story once again THANK YOU! Silent Reader,aku harap kalian sedikit mendukung saya ya *ABAIKAAAANN*
