Kiku menghela nafas lelah sembari duduk di pinggiran kasur. Ia menatap ke arah kaca besar yang membingkai ruangan itu menggantikan dinding. Menjadikan kamar di mana ia berada sekarang seperti akuarium yang mungkin bisa langsung terlihat dari luar.

Ah, tapi tidak akan ada yang melihatnya dari luar. Ini di lantai 10 dan tidak ada apapun semacam beranda atau bangunan yang berdekatan. Jadi bisa dibilang ia akan aman.

Gorden yang memiliki warna krem keemasan belum menutupi kaca itu saat ia masuk dan sampai saat ini. Terlihat dari 'jendela' itu, pemandangan cakrawala pesisir laut Baltik pada jam 2 dini hari; laut malam, cahaya kelap-kelip di beberapa titik dekat pinggir pantai tanda keramaian di sana masih belum berakhir, dan bangunan hotel lainnya yang bervariasi tingginya.

Kiku tidak takut pada ketinggian dan ia tidak kagok karena telah terbiasa dengan hotel bintang lima yang royal semacam ini. Ia bahkan biasa ditempatkan di lantai teratas di mana Presidential Suit atau Grand Deluxe Suit diletakkan. Membuatnya berpikir betapa menyusahkannya karena ia selalu harus naik sampai paling tidak 30 lantai ke atas. Masih bagus kalau liftnya langsung dari dasar sampai ke puncak, kalau pas dapat yang dipisah karena terlalu tinggi?

Yah, paling tidak pemandangannya bagus sih.

Teringat ia saat di Sky Lounge – Yokohama Landmark Tower. Hari itu, setelah ia pergi ke luar bangunan untuk suatu pertemuan dengan menuruni 65 lantai lebih, ia harus naik ke lantai paling pucuk untuk melamun di lantai 70 sepanjang sisa hari itu demi menanti dokumen "masalah keluarga" yang perlu ia tanda tangani.

Menyebalkan, sekaligus menakutkan. Kiku kira ia akan mati bosan di dalam lift walaupun Yokohama Landmark Tower terkenal memiliki lift tercepat kedua di dunia –saat ini.

Kiku benar tidak takut dengan hotel seperti ini, tapi kali ini dia gelisah.

Meskipun ia hanya di hanya lantai 10, hanya di kamar Bussiness Class yang bernuansa nyaman, hangat –dengan lampu tidur warna kuning yang menyala di kedua sisi tempat tidur double-bed (tempat tidur tunggal berukuran kingsize), ditambah aksen gorden dan seprei yang berwarna jahe yang lembut, pemuda Jepang itu ketakutan setengah mati karena aspek ketenangan yang tidak terpenuhi.

Kenapa? Karena Nesia masih belum putus asa untuk mencoba mendobrak pintu kamar hotel mereka yang terkunci rapat.

"Nesia-san... Itu percuma... Pintu itu bukan dari kayu yang tipis dan kau perempuan..." gumam Kiku mencoba membuat si gadis –yang entah mengapa, dress tidur tanpa lengannya membuat jantung Kiku berhenti berdetak– berhenti berteriak-teriak layaknya corethampirdiraepcoret dunia akan kiamat besok.

"Kakek Tara! Jangan bercanda! Keluarkan aku! Keluarkan aku!" seru Nesia galak walaupun ia sebenarnya tahu bahwa Kakek Tara sudah pergi ke kamarnya dan tidak ada orang lagi di koridor, "Senpai! Bantu aku!"

"Pintu itu menggunakan sistem RFid dan hanya bisa dibuka dengan kartu, Nesia-san... berhubung kartunya dibawa Tara-jiisan..."

"Aku nggak mau dikurung seperti ini!" jerit Nesia.

"Hai! Wakarimashita! Ochitsuitte kudasai! – Baiklah! Aku mengerti! Tenanglah sebentar!" seru Kiku frustrasi, "Watashi wa nanika o kangaetta! – Aku akan memikirkan sesuatu!"


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


"I-itu tidak mungkin..." bantah Kiku pada resepsionis di ujung teleponnya, "Apa maksudnya tidak bisa dibuka secara manual dari luar?" lanjutnya sembari menggeser duduknya untuk tegap dan tidak menyender pada kepala kasur lagi.

-"Maaf... tapi petugas mekanik akan datang besok pagi dan mengeluarkan anda... Kami harap anda bersabar... Selamat Malam"-

-pip...-

Kiku menghela nafas lelah sembari menurunkan telepon wireless dari telinganya. Sesaat ia merasakan kasur bagian belakangnya turun tanda seseorang mendekat.

"Bagaimana?" tanya Nesia dari balik pundak Kiku yang membuat pemuda itu langsung bangkit dan menjauh dengan muka merah.

Kiku menggeleng lemah setelah berhasil menenangkan hatinya, "M-mereka bilang, besok pagi petugas akan datang..." ucapnya tanpa berani melihat ke arah Nesia.

"Begitukah? Hgh..." Nesia menghela nafas lelah sembari menjatuhkan kepalanya, "Kenapa jadi seperti ini?"

Jangan tanyakan itu padaku...

"Etto... Nesia-san..."

"Ya?"

"Tolong turun dari kasur itu..."

"Kenapa?" tanya Nesia tidak mengerti.

Karena kau sedang menyerang pengendalian diriku sekarang dengan pose merangkak di atas kasur itu! Nesia-san! Aduh! Bagian belakangmu itu tersingkap! Kuso! Kulitnya tampak halus...

.

.

Chigaaaauuu!

"Karena... Sebaiknya Nesia-san tidur..." ucap Kiku memasang pokerface paling mutakhir untuk menutupi kegilaan yang sedang menari-nari di dalam kepalanya.

"Heeeh... Baiklah... Selamat malam..." ucap Nesia sembari menarik selimut dan tidur di tengah kasur kingsize itu.

Kiku menghela nafas kemudian tersenyum tipis melihat tingkah Nesia. Diambilnya remote untuk mematikan lampu utama dan mengatur suhu AC, "Nesia-san ingin lampu tidur menyala?"

"Gelapkan saja, senpai... Hemat listrik, Global Warming..."

Kiku tertawa kecil mendengar jawaban Nesia. Ditekannya tombol untuk mematikan seluruh penerangan yang tersisa sehingga kamar itu sekarang hanya disinari oleh cahaya bulan yang menyelinap diantar gorden yang kini Kiku tutup. Diletakkannya remote di meja bufet di bawah TV LCD yang berlayar cukup besar dan terpasang di dinding. Setelahnya, Kiku merapatkan jaket trainingnya dan mengambil posisi di tempat duduk kecil dekat jendela.

Sofa single. Warnanya hitam dan berbahan kain yang cukup nyaman. Kiku menebak ini pasti tempat menandatangani berkas, menyusun presentasi atau apapun itu ketika melirik meja kecil di dekatnya yang ukurannya tidak terlalu besar maupun kecil – tempat yang pas untuk beberapa berkas, sebuah laptop dan secangkir kopi.

Kiku membayangkan betapa nyamannya mengerjakan proyek perusahaan di sini. Simpel dan dengan pemandangan bagus ke arah laut saat Sunrise maupun Sunset. Sangat pantas untuk menjadi kamar tipe Business Class.

Setelah menemukan posisi yang agak nyaman, Kiku menarik kakinya untuk ikut naik dari lantai dan menghangatkan tubuhnya.

.

.

.

"Senpai lagi ngapain?"

"Mencoba untuk tidur..."

Nesia menyibakkan selimutnya dan mengambil posisi duduk. Keningnya mengerut saat menemukan posisi tidur Kiku yang sungguh menyedihkan, "Senpai... di sini ada kasur..."

.

.

"Nesia-san saja..."

"Tubuh senpai bakalan sakit sepanjang hari kalau tidur seperti itu..."

"Bukan masalah... Nesia-san... tidurlah... ini sudah larut... Besok adalah hari yang panjang menurut perkiraanku..." ucap Kiku sembari terus mencoba tidur di posisi yang sulit itu.

"Tidak sebelum senpai ke sini..." seru Nesia.

"Nesia-san..."

"Honda-senpai..."

"Nesia-san... Onegaishimasu..." ucap Kiku menekan setiap perkataannya dengan kelelahan.

Kiku tidak akan mau. Hatinya sudah teguh tak akan tergoyahkan. Segalanya tentang Nesia sangat berbahaya pada malam ini.

Tidak.

Kiku terlalu takut pada nightdress yang Nesia kenakan. Selembar kain itu bagaikan sedang mengusir kewarasannya untuk pergi tanpa ampun. Salahkan Kakek Tara yang dengan keras kepalanya menyuruh Nesia mengganti onepice yang dipakainya dengan nightdress itu. Oke, Nesia memang tidak mungkin terus-terusan memakai onepiece yang sudah gadis itu pakai seharian, tapi setidaknya Kakek Tara memikirkan modelnya! Kenapa tidak sesetel piyama saja yang normal, tebal dan aman sehingga Kiku tidak akan mengajak ribut Nesia di tengah malam seperti ini?!

Untungnya Kakek Tara tidak membawa lingerie, karena jika ia, besok di Hotel ini pasti akan ada penemuan mayat.

.

"Atau aku akan terus mengoceh sampai pagi..." Nesia mulai mengancam Kiku.

"Watashi wa nemasu... – Aku akan tidur..." gumam Kiku (mencoba) tidak peduli.

.

.

"Kenapa sih senpai tidak mau tidur di sini?!" ucap Nesia kesal.

"Bukankah itu hal yang sangat jelas?!" jawab Kiku gemas.

"Senpai marah denganku?" tanya Nesia lagi.

"Bukankah itu Nesia-san yang sedang marah dan membenciku..."

.

.

"I-itu benar!" jawab Nesia salah tingkah setelah berhasil mengingat pertengkaran siang tadi, "Dan aku tak akan memaafkan senpai kalau senpai tidak mau tidur di sini!"

"Nesia-san berpikir apa sih?" balas Kiku sedikit jengkel.

.

.

"Honda-senpai?"

.

.

"Honda-senpai sudah tidur belum?" tanya Nesia lagi.

Tidak ada jawaban.

Namun Kiku belum tidur. Belum.

Bagaimana ia akan tidur? Suara Nesia yang memanggil-manggil namanya membuat tubuhnya meremang dan adrenalin berpacu dengan abnormal.

Kiku menutup telinganya, mencoba untuk menghalangi suara khas Nesia yang memanggil-manggil jiwanya. Gadis itu tak kunjung berhenti dan Kiku sudah mulai frustrasi.

"Hihihihihi..." tawa Nesia terdengar dekat.

Alis Kiku berkedut saat ia merasakan hidungnya dicolek oleh sesuatu.

"Uke-ku sedang tidur..."

.

.

Tubuh Kiku mengejang dengan kuat, mencoba menahan kepanikannya dan tetap berpura-pura tidur walaupun kini ancaman ada sangat dekat dengannya – di depannya persis dan terus menyolek pipinya dengan gemas.

Shinemasu... – Aku mati...

"Kau tidak boleh melakukannya!" seru suara yang sama.

Kiku yang tadinya akan berusaha lari pun mengurungkan niatnya, ia ingin tahu apa yang sedang berlangsung.

"Cuma pegang dikit kok... Pelit amat, Nes... Lagipula dia milikku... Ah, bagaimana kalau kau minggir dan serahkan tubuh ini sepenuhnya padaku? Besok pagi kau akan bangun dengan segar..." ucap Garuda ringan.

Kiku menahan nafasnya saat merasakan nafas hangat berhembus di telinganya. Tubuhnya meremang dan bergetar saat ia merasakan jemari mungil Nesia menyentuhnya di berapa tempat yang membuatnya geli dan tersiksa. Kiku pun semakin merapatkan dirinya ke sofa dan menggigit bibirnya menahan seluruh ketakutan dan erangannya.

Oh, Apakah ia akan habis malam ini? Apakah benar-benar akan ada penemuan mayat di esok hari?

.

.

"Heeei! Tanganmu! Nesia no. 3! Ini si Garuda berulah lagi! Bantuin aku menariknya!" seru Nesia jengkel.

"Garuda! Jangan pegang-pegang Kiku-sama!" seru Nesia no.3 sembari menarik Garuda.

"Yang memegangnya... Tangan kita, Nes..."

"Aku bukan pelaku tindakkan asusila sepertimu!" seru Nesia lagi.

"Ah... Tapi kau juga merasakan ketika aku menyentuhnya, Nesia..." timpal Garuda, "Tidakkah kau merasakan dirinya merespon dengan lucu? Ini akan menjadi permainan yang seru dan panas! Pertama... Kita bangunkan dia!"

"Garuda! Jangan coba-coba!" teriak Nesia jengkel.

"Kakak-kakak ini sedang apa?" tanya Pertiwi heran.

"Anak kecil nggak usah tahu! Balik sana! Tidur! Sudah malam!"

"K-kenapa Kak Nesia marah padaku?" seru Pertiwi sesenggukkan menahan tangis.

"Hayo... Pertiwi menangis! Ines akan datang, loh!" seru Garuda mengancam Nesia.

"Duh... Pertiwi... Maafkan aku..." seru Nesia dengan tak sadar melepaskan Garuda untuk melihat ke Pertiwi, "Ini sudah malam... Aku lelah dan jadi emosional..." lanjutnya lagi dengan lembut.

"Kak Nesia..."

"Hum?"

"Kak Garuda sudah ambil alih tubuh kita tuh..."

"AAAAAHHHHHH!" Nesia berteriak panik, "Nesia no. 3! Kau kerja apa sih?!"

.

.

Kiku berusaha bernafas setenang mungkin saat wajahnya ditarik untuk menengadah. Ketakutannya sejak awal masuk kamar ini terbukti sudah. Garuda muncul, dan Alter mesum ini memiliki kekuasaan mutlak pada tubuh Nesia sekarang. Kiku benar-benar ingin pergi sekarang, bahkan ia merasa memecahkan kaca akuarium ruangan ini dan loncat 10 lantai ke bawah bukan pilihan yang buruk.

Dousuru-ndesu ka?! –Bagaimana ini?!

"Aku tahu kau masih bangun..." ucap Garuda dengan kekehan renyah sembari mengecup kening Kiku.

Jantung Kiku berdetak berkali-kali lebih cepat sekarang. Beruntung ruangan gelap sehingga Garuda tidak melihat muka Kiku yang langsung panas dan berubah menjadi merah. Tapi Kiku yakin Garuda pasti tahu akan ketidaknyamanannya . Buktinya pemuda itu tertawa renyah sekali lagi ketika tubuh Kiku menegang dan kaku di bawah sentuhannya.

Kiku berdehem kecil berusaha menghilangkan kepanikannya, "Ya..." jawab Kiku sembari membuka matanya, mencoba untuk setegas mungkin.

"Bagus kalau begitu... Kau akan lebih responsif..." ucap Garuda sebelum menempelkan bibirnya pada milik Kiku.

Kiku mengatupkan mulutnya kuat-kuat, tidak membiarkan pengganggu lembut nan manis yang sangat menggoda dan telah menempel di bibirnya ini melumpuhkan otaknya.

"Keras kepala..." bisik Garuda sembari menjilat bibir Kiku yang masih membentuk garis lurus nan kaku tak tertembus.

Kiku mengeratkan tangannya yang memeluk kakinya saat Garuda mencoba menariknya. Namun sontak melepaskannya saat Garuda mulai mengeluh dan ia merasakan keseimbangan Nesia mulai bermasalah. Kiku tak mungkin membiarkan itu jatuh. Secara otomatis, Kiku pun meluruskan kakinya dan berusaha untuk menahan tubuh Nesia, berharap dapat menangkap gadis itu saat perebutan di dalam dirinya memuncak.

Namun sebelum ia memijak lantai untuk menjadi tumpuan menangkap tubuh Nesia, Kiku merasakan tubuh Nesia berputar dan kini Garuda dengan cekatan melompat dan mengambil kesempatan itu untuk duduk di pangkuan Kiku.

"U-uh?! N-nesia-san?"

"Maaf mengecewakanmu... Ini masih aku, sayang..." ucap Garuda yang kini menatap kepanikan Kiku dengan senyuman kemenangan, "Nesia sialan! Enyah!" desisnya penuh amarah.

Kiku tidak bisa memberontak dan bergeser karena tertegun. Ditambah lagi kedua kaki Nesia tertekuk di samping masing-masing pahanya dan mengisi spaces yang tersisa dari sofa kecil itu. Ia pun tidak bisa bergerak leluasa karena mukanya kini ditahan untuk memandangi wajah Garuda yang hanya berjarak beberapa senti.

"Garuda-san! Ini keterlalu-umph!" mulut Kiku tertutup sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.

Garuda menciumnya dengan kasar, mengambil semuanya dengan sangat rakus bagaikan predator yang kelaparan. Kiku tidak bisa mengelak lagi dari Garuda, pasrah, ia hanya bisa berjuang untuk bernafas dan tetap pada akalnya saat lidahnya terbelit sesuatu yang lembut.

Tapi ia tidak sanggup. Ini terlalu memabukkan.

Jari-jari Garuda yang mungil menyusup di rambut legam Kiku. Kulit kepalanya meremang saat Garuda menarik dengan agak kasar rambut dan kepala Kiku agar pemuda itu semakin menengadahkan kepalanya, meminta keleluasaan yang lebih untuk semakin memperdalam dan memperpanas kecupan yang membuat akal mereka melayang.

Kiku menggeram rendah dan menarik tubuh Garuda semakin merapat saat pemuda itu menggigit bibir bagian bawah Kiku. Tak mau mengalah begitu saja, Kiku pun membalas menggigit yang membuat kekehan renyah Garuda keluar sebelum mulai membalasnya lagi dengan lebih ganas.

.

"Anak baik..." puji Garuda saat melepaskan Kiku untuk membiarkannya bernafas.

Garuda tertawa kecil, mengejek Kiku yang masih menutup mata dan terengah dengan nafasnya. Bisa ia tebak walaupun di kegelapan seperti ini, muka Kiku yang memerah malu dan menggemaskan, yang semakin membuatnya semangat untuk mengerjai Uke-nya itu.

"Garuda-san! Berhenti!" erang Kiku saat Garuda mulai mengecup lehernya dengan cukup kuat.

"Tidak... Aku sedang menandaimu sebagai milikku..." ucap Garuda tidak peduli dan kemudian menggigit pangkal leher Kiku.

"Ukh! Garuda-san! Ini acara sekolah!" seru Kiku sembari mencoba mendorong pundak Garuda, namun pikirannya langsung buyar ketika tangannya menyentuh kulit pundaknya yang halus dan kenyal. Berjuta ribu watt listrik menyerang dan melumpuhkan otaknya sekarang hanya dengan satu sentuhan ini.

"Bagus... Semakin banyak yang tahu bahwa kau milikku..." ucap Garuda sembari mundur, "Oh ya... jangan di sini..." lanjutnya lagi sembari menggeser tangan Kiku dari pundaknya.

"Uh?!"

"Di sini..." bisik Garuda sembari menempelkan tangan Kiku di dadanya.

"IIIIAAAA DA!" teriak Kiku sembari menarik tangannya, namun tertahan oleh cengkeraman Garuda. Selain itu, jika Kiku semakin menarik tangannya, semakin mendekat pulalah Garuda dengan dirinya, "Garuda-san! Nesia-san akan marah!"

Iie... Iie... Iie... Yamete kudasai!

"Dia selalu marah padaku setiap hari... sudah biasa... Aku tidak peduli lagi..." bisik Garuda sensual, "Heh... Sudah kuduga... Kau itu tipe maniak..."

"A-a-apa maksud Garuda-san?!" jerit Kiku frustrasi.

"Suka yang kecil dan lembut..."

"Anata no imi wa wakarimasen! – Aku tidak mengerti maksudmu!" raung Kiku tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan oleh bibir mungil itu.

"Oh... Kau suka yang besar? Sabar ya... Tubuh ini masih dalam pertumbuhan kok..."

"Garuda-san! Jangan bahas ini!" seru Kiku sangat ketakutan.

Sangat amat teramat ketakutan sekali banget sebelas per dua belas mati.

"He? Lalu apa?" tanya Garuda sembari melepaskan tangan mungilnya dan menangkupkannya ke wajah Kiku, "Kau lebih memilih cium? Baiklah..."

"Tidak!" ucap Kiku sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Peliiiit!" decak Garuda sebal melihat ia tidak memiliki akses lagi untuk melumat bibir KIku, "Ya sudah... toh masih banyak yang bisa kugoda..." ucapnya sembari menggeser duduknya dan menggesek paha Kiku.

Kiku memejamkan matanya, menahan lenguhan dengan sekuat tenaga dan mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan menghitung sampai sepuluh. Akan tetapi, Kiku tak kunjung tenang, terutama ketika mengetahui bahwa Garuda sengaja menyibakkan roknya saat duduk di pangkuan Kiku tadi sehingga kini hanya celana trainingnya saja yang menghalangi mereka untuk bersentuhan kulit.

"Ah... Sesuatu ba-umnh!" Garuda mengerang kecil penuh pujian saat tiba-tiba Kiku menutup mulutnya agar tidak berkata macam-macam, "Pelan saja, sayang... Masih banyak waktu..." desahnya di bibir Kiku, dan sedetik kemudian membalas melumat Kiku yang sudah terengah walaupun ronde ini baru saja dimulai.

Sekali lagi memberikan ciuman panas yang menggiring kewarasan Kiku ke pinggir tebing dan siap untuk loncat.

KORE WA SUGOKU KYOUKI DESU! – Ini sangat gila!

Kiku tahu ia tidak akan bisa kabur ke mana-mana. Tapi jika dibiarkan begini terus maka dia benar-benar akan habis. Jadi satu-satunya cara adalah ia harus melakukan sesuatu yang akan membuat dirinya menyesal, meng-KO-kan Nesia, atau menahannya untuk tak bergerak sepanjang malam.

"Garuda-san tahu... Ini bukan saatnya bermain... besok adalah hari yang panjang..." seru Kiku sembari melepaskan Garuda.

"Ayolah 10 menit lagi tak masalah..."

"Tidak... Tidur sekarang, Garuda-san!" ucap Kiku dengan nada marah.

"Kau tidak menantangku..."

"Aku tidak menantangmu, Garuda-san... Aku hanya ingin beristirahat..." ucap Kiku tegas.

"Setelah kita selesai bermain... Ugh..."

Kiku berkedip saat melihat tubuh Nesia berubah kaku dan terhuyung. Spontan, Kiku berusaha untuk menangkap tubuh Nesia yang ambruk.

Kiku menghela nafas lelah.

"Kerja bagus..." bisik Kiku lirih pada siapa pun Alter yang membuat Garuda tertahan.

Mungkin Nesia no. 3? Kiku benar-benar harus berterima kasih padanya.

"Hahaha..."

Eh? Nani?

Kiku mengerutkan keningnya saat merasakan gadis di hadapannya ini tersenyum dengan sadis.

"Mereka melakukannya..." ucapnya diikuti kekehan aneh.

"Melakukan?"

"Menggangguku..." desisnya penuh amarah dan tantangan.

C-chotto?! Ini masih Garuda-san?! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?! Kenapa Garuda-san sekuat ini?!

"Hei..." panggil Garuda pada Kiku sembari kembali menyerang leher pemuda itu, kali ini dengan kedua tangan yang turut memeluk leher Kiku, "Bantu aku pikirkan hukuman untuk mereka..."

"H-hu-hukuman apa? T-tunggu! Jangan lakukan ini!"

"Hukuman yang menyakiti mereka... tanpa menyakitiku..." bisik Garuda sembari menggigit telinga Kiku.

"M-ma-mana ada yang... seperti itu! Kalian berbagi tubuh!"

.

.

"Oh... ada..." senyum Garuda semakin mengelap, "Bagaimana kalau dengan senang hati aku berikan 'pengalaman pertama' Nesia padamu? Oh! Itu juga akan mengganggu Ines sampai ke ubun-ubunnya! Ide bagus! Aku memang jenius..."

.

.

"N-NANI?!"

"Histeris amat sih?! Aku tahu kau bahagia..."

"IIE DESU!"

"Kau tidak mau? Yang benar?"

"IIE DESU!"

"Jangan-jangan pengalaman pertamamu juga?"

"Garuda-san! Jangan bercanda!"

"Aku serius..." ucap Garuda sembari mulai membuka kancing nightdressnya.

"Jangan!" seru Kiku berusaha menahan tangan Garuda.

"Kenapa?"

Kiku menangkupkan tangannya pada muka Garuda, berharap pemuda itu menatap kesungguhannya yang terdalam, "Karena aku menghargai dan menghormatimu!"

"Huh?"

"Kau tidak perlu melakukan semua ini untuk disadari Garuda-san! Aku melihatmu... Aku menyadarimu..." ucap Kiku dengan nada khawatir, "Tolong jangan rendahkan dirimu sendiri seperti ini... Kau sangat berharga..."

.

.

"Kau tidak harus menciumku sekasar itu... Aku tahu kau di sana... Dan kau tahu itu..." ucap Kiku lagi, "Kau hanya perlu memanggil namaku..."

.

.

"Sungguh?"

"Ya!" seru Kiku tanpa keraguan, mencoba membuat Garuda untuk menghentikan semua kegilaan ini dan berpikir serta bertindak lebih rasional.

.

.

"Hmft... Bagus kalau begitu... Aku semakin menyukaimu..." bisik Garuda dengan nada yang aneh, "Tapi aku tak mempercayaimu..." ucap Garuda dingin, "Yang aku butuhkan adalah menundukkanmu... Membuatmu tergila-gila padaku sehingga kau akan mati ketika aku meninggalkanmu, sayang... uh?!"

Garuda terperanjat saat tubuhnya diangkat oleh Kiku dan digendong oleh pemuda oriental itu. Sesaat ia kebingungan dengan apa yang terjadi, namun saat Kiku menurunkannya di kasur dan menyatukan kedua tangannya di atas kepalanya serta menindihnya sehingga ia tidak leluasa bergerak, ia tersenyum kecil.

"Kau sependapat denganku pada akhirnya?"

"Tidak... Aku hanya akan menahan Garuda-san semalaman agar Garuda-san tidak bertindak macam-macam lagi!"

"Heeeh? Ini malam pertama kita dan kau hanya akan tidur tanpa melakukan apapun?"

"Tolong jangan bahasakan ini dengan ambigu..." jawab Kiku datar, "Ini akan membosankan, jadi Garuda-san kembali saja dan biarkan Nesia-san mengambil alih..."

"Setelah aku berhasil mengambil alih tubuh ini dengan sempurna? Tidak, sayang... Aku lebih memilih untuk menggodamu sepanjang malam..." jawabnya percaya diri sembari menggerakkan tubuhnya untuk menggesek dan menggoda Kiku.

"Berhenti lakukan itu!" seru Kiku kesal.

Namun Garuda hanya menertawakan kepanikan Kiku dan sikap malu-malu kucingnya itu. Ia percaya, Kiku tidak memiliki pilihan apapun lagi dan hanya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya ia kehilangan akalnya dan jatuh bertekuk lutut padanya, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Garuda untuk dikuasai dan dimiliki sepanjang malam.

Oh, itu pasti menyenangkan.

Sedangkan Kiku terus berjuang untuk mempertahankan kewarasannya. Berjuang demi dirinya sendiri dan beberapa Alter lain milik Nesia. Walaupun pengendalian dirinya sudah di pucuk tebing seperti saat ini, walau nafasnya terus tersangkut di tenggorokannya karena gerakan Garuda yang semakin coretmenggodacoret menakutkan, ia tak jua menyerah.

Salah, ia tak boleh menyerah!

Kiku memikirkan bagaimana cara menahan Garuda tanpa mengorbankan dirinya seperti ini. Ia butuh tidur nyenyak malam ini karena besok ia pasti akan dicecar oleh Mei dan kawan-kawan dengan berjuta pertanyaan. Kiku menoleh ke segala arah, mencari sesuatu yang dapat membantunya.

Ia menemukan tali.

Tali yang digunakan oleh Hong untuk mengikat dan menyeretnya ke masalah ini. Tergeletak begitu saja di lantai, terkena cahaya bulan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara ia mengambilnya karena tali itu cukup jauh dari Kiku. Pemuda itu tahu bahwa ia harus melepaskan Garuda untuk meraih tali tersebut. Tapi melepaskan Garuda sama saja dengan bunuh diri. Sama saja terjun dari tebing menuju jurang. Akan tetapi diam seperti ini, dengan tubuh Garuda (Nesia) yang menggoda di bawahnya, juga menggiringnya ke kematian.

Dengan lebih cepat.

Oke! Tali menang! Persiapkan dirimu wahai tali penyelamatku! Aku hanya butuh timing yang tepat!

"Apa yang akan kau lakukan, sayang?" tanya Garuda menyadari konsentrasi Kiku sudah terpecah.

"Kau akan tahu nanti..." ucap Kiku sembari tersenyum kecil dan dengan gerakan cepat melepaskan Garuda.

"H-huh?!" Garuda mengedipkan matanya kaget saat ia dilepaskan begitu saja oleh Kiku. Namun belum sempurna ia duduk, ia merasakan Kiku kembali mendorongnya ke kasur dan menarik kedua tangannya ke atas dan mengikatnya.

"T-tunggu! Apa yang kau lakukan?!"

"Membuatmu berhenti melakukan semua ini!"

"Hei! Lepaskan aku!"

"Dekita... – Selesai..." gumam Kiku puas setelah berhasil mengikat tangan Garuda kuat-kuat, namun ia bingung sekarang karena tidak menemukan lubang di kepala tempat tidur kasur hotel tersebut.

Kiku menghela nafas lelah.

Ini sia-sia... Aku tetap harus menahannya sendiri...

"Huh! Rencanamu tak akan berhasil!" ejek Garuda saat menyadari kebingungan Kiku.

"Ya... mungkin kali ini kau yang menang, Garuda-san..." ucap Kiku dengan sedikit kesal.

Sebelum Garuda mulai menggodanya lagi, Kiku mengambil tubuh Nesia (Garuda) untuk ia belit dengan tubuhnya sendiri. Tangan Kiku berada di belakang kepala Nesia, menjadi bantal sekaligus menahan tangan Nesia tetap ke atas dan kepala mungilnya dari bergerak dengan bebas. Tangan Kiku yang lain di bawah tubuh Nesia dan kaki-kakinya mengunci kaki-kaki si gadis dengan tujuan yang sewa; mencegahnya dari bergerak sesuaka hati seperti pada kejadian taksi sarap itu, namun kali ini mereka ada di kamar hotel.

Oke, semakin ambigu.

Kiku sebenarnya sedikit khawatir jika ia akan meremukkan Nesia, tapi ia tetap membiarkan seluruh berat tubuhnya jatuh menimpa Nesia untuk benar-benar menghentikan gerakan yang Garuda buat.

"K-kau berat! Lepaskan aku!" erang Garuda tak bisa lagi bergerak, kecuali jemari tangan dan kakinya.

Kiku tidak menjawab. Tidak ada yang perlu dijawab.

Oh, sekarang ia bisa tidur dengan tenang, dan sangat nyaman dengan kehangatan dan kelembutan tubuh Nesia yang diam serta stabil di pelukannya.

Ini surga.

"Aku tidak bisa bernafas! Kau mau membunuhku?!" keluh Garuda lagi, namun Kiku masih tak peduli.

"Lepaskan aku!"

"Berteriaklah sesukamu, Garuda-san... Aku tak akan melepaskan Garuda-san sama sekali..."

"Jangan bercanda! Kenapa kau tak mau melepaskanku?!"

"Garuda-san tahu jawabannya..."

"Oke! Baiklah! Aku tak akan melakukan macam-macam!"

Haruskah aku percaya semua itu?

.

.

Tidak...

"B*******k! Lepaskan aku sekarang juga!"

"Sebutkan satu hal yang dapat meyakinkanku atau satu alasan agar aku melepaskan Garuda-san..."

"Aku sekarat di sini!"

"Tidak cukup meyakinkanku..."

.

.

"Aku ceritakan semua yang kuketahui tentang Nesia!" seru Garuda frustrasi.

Kiku menarik dirinya sedikit, mengambang di atas tubuh Nesia, namun tetap pada jarak yang dekat. Pemuda oriental itu tertarik, "Buat itu tentangmu dan alter yang lain juga, Garuda-san..."

"Terserah! Lepaskan aku sekarang!" seru Garuda setelah mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

"Iie desu..."

"Heeeeeh?!"

"Garuda-san akan bercerita seperti ini!"

"Kau hanya memberiku sedikit ruang untuk bernafas!"

"Kalau aku memberi Garuda-san 'sedikit' ruang lagi maka kau akan menggodaku..."

"Cth! Sialan..." decak Garuda jengkel karena modusnya diketahui.

.

.

"Jadi... Kenapa Garuda-san suka melakukan tindakan asusila seperti ini?"

"Karena kau manis?"

Kiku mengerutkan alisnya mendengar jawaban singkat Garuda yang terkesan tidak niat.

"Garuda-san... Aku bisa menindihmu lagi kalau Garuda-san mau..."

"Sialan! Kau Uke-ku!" seru Garuda jengkel.

"Kalau begitu malam ini aku yang jadi Seme!" jawab Kiku tanpa berpikir karena ikut-ikutan jengkel.

"Tidak! Aku yang Seme! Aku lebih laki-laki daripada kau dan aku akan membuatmu bertekuk lutut dan menyerah padaku!"

"Oh ya? Tapi keadaannya seperti ini sekarang!" seru Kiku merasa menang atas Garuda. Oh, Kiku sangat ingin menebar konfeti sebagai tanda perayaan.

"Sial! Kau curang! Kau lebih berat daripada aku!"

"Ya, itu benar... Dan aku yang memiliki tubuh laki-laki di sini! Sekarang ceritakan kenapa Garuda-san melakukan ini semua?!"

"Sudah kubilang karena kau manis!"

Kiku harus memutar otak, merancang strategi agar Garuda mau terbuka selebar-lebarnya padanya. Garuda memang tidak mempercayainya, tapi itu bukan berarti Kiku akan menyerah bukan? Kiku harus menariknya keluar, walaupun itu berarti harus bertengkar dengan hebat dengan Garuda. Ya, karena ketika kau emosi, biasanya kau tidak tahu lagi apa yang kau katakan. Tidak ada filter yang akan menahan seluruh rahasia, kejujuran terdalam dan curahan hati.

Ini akan susah... Tapi aku harus mencobanya...

"Oh ya... ya... lalu?" jawab Kiku tak peduli.

"Aku menyukaimu... Kau mudah untuk dipegang, reaksimu lucu saat aku menyentuhmu, dan aku tahu kau menginginkanku!"

Ukh...

Kiku tak tahu harus marah atau apa karena keinginannya yang terdalam terbongkar duluan. Apa yang dikatakan oleh Garuda (sangat) benar. Kiku memang selalu menginginkan Nesia. Menyentuhnya dengan lembut dan untuk melampiaskan kasih sayangnya pada gadis mungil itu dan bukan didominasi olehnya.

Demi apapun, ia tidak suka dengan ide Nesia melakukan dominasi kepadanya. Nesia sudah terlalu banyak mendominasi dalam kehidupannya – 80 persen, itu bukan angka yang kecil.

"Garuda-san! Joudan dewa arimasen! Jangan bercanda!" ucap Kiku dengan tegas.

"Oh ya ampun! Aku serius!"

"Garuda-san!" seru Kiku lagi sedikit emosi, "Aku tidak butuh sikap kuatmu... atau kebohonganmu yang sempurna untuk melindungi dirimu!"

"Jangan ikut campur! Apa sih maumu?! Aku hanya ingin menyentuh seseorang! Dan hanya kau yang memperbolehkannya!" jawab garuda mulai tersulut kemarahan.

.

.

Kiku terhenyak mendengar jawaban aneh Garuda, "Maksud Garuda-san?"

Garuda membuang mukanya, lebih memilih menatap ke arah gorden yang menahan sinar rembulan daripada wajah Kiku yang dipenuhi tanda tanya – yang kali ini membuatnya kesal setengah mati.

"Aku ada di sini karena harapan menumpuk Inesia untuk menyentuh seseorang..."

"Siapa?"

"Seseorang! Siapa saja! Aku tidak peduli asalkan aku bisa menyentuh seseorang! Aku tidak peduli!"

"Apakah itu berarti kau juga akan menyentuh orang lain selain aku?"

"Ya!" teriak Garuda menantang Kiku.

.

Kiku menelan ludahnya, berat mendengar kenyataan yang membuat darahnya mengalir dengan tidak beraturan ini. Ia tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Ia benar-benar kesal dan kehilangan mood sekarang.

Tapi ia belum boleh berhenti. Ia harus tahu siapa saja yang sudah 'disentuh' oleh Garuda.

"Sebutkan namanya!" jawab Kiku dengan suara cukup lantang – yang Kiku sendiri pun kaget karenanya.

"Tidak ada..." jawab Garuda datar.

"Jangan bercanda denganku, Garuda-san!"

"Kenapa kau begitu menjengkelkan malam ini?!" seru Garuda keras.

"Aku menjengkelkan karena Garuda-san tidak mau jujur!" balas Kiku tidak mau kalah, walaupun ia masih terus berusaha untuk mengingat-ingat norma dan kesopanan – yang sayangnya, kondisi tidak mendukungnya untuk mengingat.

"Itu kenyataan! Aku, Pertiwi dan Inesia tidak pernah bisa menyentuh siapapun! Kami ingin menyentuh semua orang! Tapi tidak ada yang menerima kami!" jawab Garuda lagi sembari menggerakkan tubuhnya agar Kiku melepaskannya. Ia pikir percuma berbicara dengan seseorang yang tidak percaya padanya.

"Berhenti bergerak!"

"Tidak! Lepaskan aku! Kau tidak percaya padaku! Kau tidak akan pernah bisa paham perasaanku!"

"Aku sedang mencoba memahami kalian! Tapi yang kalian berikan padaku seringnya adalah kebohongan yang sangat sempurna!"

"Atas dasar apa kau berani bilang seperti itu?!" geram Garuda tidak percaya, "Sudahlah! Lepaskan aku! Aku muak denganmu!"

"Aku juga muak dengan Garuda-san! Garuda-san selalu berlaku sesuka Garuda-san! Memaksakan kehendak Garuda-san... Menyentuhku tanpa izin... Melakukan pelecehan padaku... Apakah Garuda-san tidak punya moral?!" seru Kiku tak sengaja mengeluarkan seluruh unek-uneknya.

Nafas Garuda jelas tercekat. Pemuda (Gadis) itu kaget ketika Kiku menyatakan semua itu karena ia tidak pernah menyangka bahwa pemuda Jepang itu bisa membalas perkataannya.

.

.

Kuso! Aku berlebihan...

Kiku menyesal – sangat menyesal dalam hatinya karena telah menggunakan kata-kata itu. Tapi ia tidak memikirkan kata-kata lain. Garuda sudah terlalu keterlaluan.

.

.

"Itu mudah bagimu..." gumam Garuda lirih, "B*******k! Itu mudah bagimu yang bisa menyentuh siapa pun tanpa penolakkan!" serunya dengan nada yang semakin meninggi, "Cuma kau yang bisa kusentuh!"

"Tapi aku merasa dilecehkan!" geram Kiku pada intonasi Garuda yang sangat kasar.

"DAN AKU MERASA SANGAT BAHAGIA DI SAAT ITU KARENA BERPIKIR BAHWA AKHIRNYA AKU BISA MENYENTUH SESEORANG TANPA DITOLAK!" teriak Garuda kehilangan pengendalian amarahnya, "IRONIS!" desisnya penuh kebencian pada Kiku.

.

.

Kiku terdiam. Lidahnya kelu tak mampu bergerak apalagi menguntai sebuah kata. Bahkan kata maaf sekalipun. Kiku tidak mampu menjawab amarah Garuda. Ia memang bermaksud memancing amarah Garuda, tapi tidak seperti ini.

Garuda tidak sedang berbohong padanya.

.

"Jangan sentuh aku!" seru Garuda garang saat melihat tangan Kiku yang mendekat untuk menyentuh pipinya, "Kau juga sama dengan mereka semua! Aku tidak merasakan keberadaanmu... Kau tidak nyata..." serunya sembari terus menatap ke arah gorden, tak mau berpaling walaupun tangan Kiku mencoba menarik mukanya untuk menatap Pemuda oriental itu.

Iie desu... Jangan hapus keberadaanku seperti itu! Garuda-san!

Kiku panik. Matanya berputar mencari-cari bentik cokelat tua milik Garuda yang tidak mau lagi menatapnya. Ia kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa, semakin bingung saat merasakan air mata membasahi telapak tangannya yang masih mencoba menarik wajah Garuda untuk menatap dirinya. Hatinya tertohok saat melihat Garuda yang menjengkelkan, yang sangat mendominasi, dan yang sangat kuat kini tengah menahan air mata kehancurannya.

Dan Kiku lah makhluk sadis yang menyebabkan kehancurannya itu. Menghancurkan apa yang mungkin disebut sebagai harapan oleh Garuda.

"Gomennasai... – maaf..." bisik Kiku hampir tanpa suara sembari menempatkan dahinya di tulang pipi Garuda, "Maaf..."

Kiku tahu ia sudah kelewatan memancing emosi Garuda. Ini bukanlah reaksi yang ia inginkan dan ada di rencananya. Matanya terasa panas sekarang seakan ingin ikut mengeluarkan air mata. Tentunya Kiku tidak boleh membiarkannya. Tapi ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Otaknya tidak bisa menemukan rencana yang apik untuk keluar dari kondisi ini. Kiku akhirnya hanya terus mengulang-ulang permintaan maafnya dengan suaranya yang semakin parau.

Garuda menutup matanya, menenangkan nafasnya yang memburu karena emosi dan menahan agar air matanya tak keluar lebih banyak lagi. Ia berpikir bahwa ia telah melakukan hal yang sangat bodoh, bahkan sampai menangis. Apakah ini karena alter lain di dalam tubuhnya yang ikut tersiksa karena semua masa lalunya terbuka dan menjadi tontonan gratis yang menyakitkan?

Itu akan menjengkelkan. Ketika ia kembali nanti tidak akan ada lagi yang menganggapnya sebagai dominan nakal yang harus dijaga dan diwaspadai oleh alter-alter lainnya. Dia akan mendapatkan banyak tatapan menyesal dan mengasihani – seperti yang selama ini selalu dilakukan Inesia padanya.

Sialan!

Ia memang tidak seharusnya percaya pada orang lain, meskipun itu sedikit. Padahal ia ingin berharap pada Kiku. Ia ingin berharap.

Ia ingin orang yang masih berbisik minta maaf ini tahu, bahwa ia rusak.

Bahwa ia selalu bersikap memaksa dan mendominasi seperti ini karena yang ia inginkan hanyalah sentuhan lembut yang menyenangkan. Dan suatu saat, jika ia sangat beruntung, ia akan menemukan satu yang dihiasi dengan tawa dan kasih sayang.

.

.

"Yang aku tahu... sentuhan itu adalah cara tercepat untuk menunjukkan kasih sayang... dan kecupan itu adalah cara paling efektif untuk bilang aku mencintaimu..." ucap Garuda datar, "Dan itu sangat mahal harganya bagiku... untuk aku dapatkan..."

"Aku tidak bisa menyentuh orang lain... Apalagi mengharapkan disentuh orang lain dengan lembut... Itu artinya aku tidak akan bisa bilang pada mereka aku mencintai mereka... dan aku tidak akan pernah dicintai oleh siapapun..." lanjutnya sembari menatap keping monokrom Kiku, berharap Kiku mengerti akan ketakutannya.

"Sebelum ini aku tidak tahu bagaimana tekstur kulit orang lain... kehangatan yang keluar dari genggamannya..." Garuda menelan ludahnya, "Aku selalu berpikir bahwa orang lain tidak nyata... dan ia akan menghilang di detik berikutnya... Aku hanya sendirian di dunia ini..."

"Itu tidak benar... Garuda-san bisa menyentuh..."

"Ini tidak semudah itu!" potong Garuda geram, "Tidak semudah itu jika seluruh orang yang ingin disentuh oleh kami menjauh, menolak dan menangkis tangan kita! Seperti kau barusan! Bahkan kau lebih buruk! Kau memperbolehkanku, kemudian menolakku... Kau menerbangkanku kemudian menjtuhkan, tidak... bahkan menguburku dalam-dalam..."

.

Kiku tidak mengelak. Ia tidak punya kesempatan dan alasan yang tepat untuk mengelaknya. Kini ia hanya bisa menyumpahi dirinya yang tidak berguna dan tidak terpikirkan cara lain selain membuat Garuda emosi.

"Ini adalah dunia yang sangat kejam... Kita dibesarkan tidak untuk menerima perlakuan yang halus... Kita dibesarkan dengan pukulan, rasa iri, kejengkelan, kebencian, kekecewaan... Dari apa yang kudengar tentang masa lalumu... Aku kira kau paham akan hal ini..."

.

.

Kiku terhenyak, ia tahu arah pembicaraan ini, "Watashi..."

"Aku kira... Kau adalah orangnya... Yang bisa memahami kami... Yang bisa memberikan pada kami sentuhan kasih sayang itu..." ucap Garuda sangat lirih, "Walaupun mungkin hanya satu sentuhan... tapi itu akan membuat jiwa ini terisi dan hangat... Itu harapanku... Cita-citaku..."

"Aku kira kau paham rasanya bagaimana orang berlalu lalang tanpa menyadari atau bahkan mengingkari keberadaan kita... Tanpa mengerti bagaimana kita berjuang setengah mati memenuhi harapan tidak masuk akal mereka, namun mereka memalingkan muka dari kita... Aku kira kau paham bagaimana rasa sakitnya... secara fisik dan hati... ketika gagal... dan perlakuan macam apa yang akan membuntutinya..."

Kiku menutup matanya menahan emosi yang bergejolak ketika mengingat masa lalunya. Ketika mengingat berapa kali ia harus jatuh dan teruka. Berapa kali ia harus dikurung karena tidak bisa menyelesaikan contoh kasus manajemen perusahaan. Berapa kali ia harus menahan teriakan frustrasinya yang ingin mengatakan pada dunia bahwa ia telah berusaha. Berapa kali ia terus ditolak oleh keluarganya dan diperlakukan 'istimewa' yang selalu membuat jiwanya semakin kosong.

"Mungkin kau lebih beruntung daripada aku sehingga kau tidak tahu persis seperti apa rasanya... Maaf sudah menaruh harapan yang sangat besar ini padamu..."

"Iie! W-watashi wa... shiteimasu... –Aku tahu..."

"Aku menyangsikan itu..."

Kata-kata itu bagaikan pemutus semua urat nadi di dalam tubuh Kiku. Pemutus seluruh sinapsis yang selama ini membantu otaknya untuk bekerja. Memutus harapannya untuk mengerti Nesia dan dirinya sendiri.

"Iie desu..." bisik Kiku lirih, "Jangan lakukan ini padaku, Garuda-san..."

"Kau yang pertama melakukan ini padaku..." ucap Garuda tajam tanpa pengampunan.

Kiku mengerti dirinya yang pertama kali salah, ia harus memperbaiki ini.

Ia harus. Bagaimanapun caranya.

"Apakah tubuhku cukup untuk menebusnya?" tanya Kiku berharap pada Garuda.

Kiku tahu ini gila. Ini seperti senjata makan tuan. Dia bermaksud untuk menarik informasi yang banyak pada Garuda, tapi di sinilah ia sekarang, menawarkan dirinya sebagai bentuk permintaan maaf. Namun Kiku tidak memikirkan lagi kehormatannya.

Karena ia kini terlalu takut untuk kehilangan Nesia.

"Onegai..." bisik Kiku lagi, lirih sembari menarik resleting jaket trainingnya dan melepas lapisan hangat itu.

"Ini bukan tentang itu..." tolak Garuda menghentikan gerakan Kiku yang akan melepas kaosnya.

Jantung Kiku serasa berhenti berdetak. Ini penolakan yang menyakitkan.

"Ini tentang seseorang yang tidak merasa keberatan untuk kupegang... Walaupun kau berkata 'tidak' dan 'jangan'... Kau tidak pernah mengusirku dengan serius sebelum ini... Kukira itu permainan dan kau hanya merasa malu... Karena kau selalu balik membalasku dengan lembut dan dengan keinginan yang besar untuk menyentuhku... Walaupun aku tidak mengerti kenapa otakmu yang lain mencoba menolakku..."

.

.

"Tapi sekarang aku tahu... yang merupakan kebenaran... Adalah 'otakmu yang lain' yang menolakku itu..." ucapnya penuh dengan nada yang merendahkan dirinya sendiri, "Kau terpaksa menerimaku..."

"CHIGAU DESU! –Salah!" ucap Kiku panik, "Sonna mono... chigau desu..."

Tubuh Garuda membeku saat ia merasakan sebutir air menetes di pipinya. Itu bukan miliknya.

"Chigau desu..."

"Kau menolakku!" seru Garuda lantang melawan hatinya yang mulai luluh karena setetes air tadi.

"Itu benar... aku menolak Garuda-san... Aku menolak berkata 'jangan' dan 'tidak'... Sekali lagi karena aku ingin menyimpanmu dan menjagamu baik-baik... Ini tidak seperti jika aku tidak ingin menyentuhmu aku membencimu... Aku hanya berjuang untuk tidak melakukan sesuatu yang salah!"

"Sekarang kau tahu ini adalah impianku! Menyentuh dan disentuh adalah harapanku!" seru Garuda lagi.

"Aku juga ingin menyentuh Garuda-san... Ingin menyentuh kalian semua..."

"Lalu kenapa?!"

"Belum waktunya..." jawab Kiku lemah

"Lalu kapan?!" seru Garuda tidak sabar, "Ini bukan sesuatu yang salah karena aku... uh?"

Garuda mengernyitkan keningnya saat merasakan Kiku berpindah. Ketika Garuda menarik tangannya untuk kembali ke depan dadanya, ia merasakan tangan Kiku yang berada di bawah kepalanya kini mengaturnya untuk berbalik menghadap Kiku yang kini berbaring di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Garuda heran, terutama saat kepalanya ditarik oleh tangan Kiku yang lain dan sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya.

Kecupan yang sangat lembut, sangat manis dan sangat tulus.

Garuda tidak mengerti kenapa, tapi ia merasakan nafasnya tersendat di dalam tenggorokkan miliknya. Ia merasakan sesak yang sangat nyata memenuhi dadanya dan memanaskan matanya. Beberapa bulir air mata berjatuhan, sekali lagi lolos tanpa izin darinya. Ketika Kiku beralih mengecup puncak kepalanya, Garuda tidak bisa menahan dirinya untuk meremas kaos milik Kiku dengan tangannya yang masih terikat. Ia menutup matanya erat-erat, menikmati perasaan yang sangat asing dan aneh saat Kiku kembali lagi mengecup tautan alisnya. Perasaannya bertambah tergelitik ketika merasakan jari-jari panjang milik Kiku mengusap kepalanya dengan lembut – kadang menempel ke kulit kepalanya yang membuat kulit kepalanya meremang.

Ia merasa antusias namun juga tenang sekarang. Sesuatu yang sangat asing merasuki dan menyesaki sanubarinya. Membuat matanya meredup sayu dan jantungnya berdetak kencang, terutama saat Kiku mengecup kelopak matanya dan mengecap bekas air matanya.

Oh, kenapa jantungnya menjadi berdetak semakin kencang seperti ini?

"Garuda-san... Apakah kau tahu... Kecupan itu memiliki arti yang berbeda?"

"H-huh?" Garuda setengah kebingungan saat menyadari Kiku sedang bertanya padanya.

"Apakah Garuda-san tahu masing-masing dari arti kecupan itu?"

Garuda berpikir sejenak, "Aku mencintaimu dan aku menginginkanmu?" jawabnya inosen.

.

.

Ukh...

Kiku berasa ingin headbang. Demi apapun, itu suarannya Nesia! –dan uh, Garuda juga...

Kiku mengambil nafas panjang. Ia tidak boleh melepaskan kesempatan ini. Kesempatan saat Garuda tenang di dekapannya dan masih bingung dengan apa yang terjadi.

Dan mungkin... dengan apa yang dirasakannya.

"Garuda-san... Aku tidak ingin mendapatkan kecupan di bibir yang panas dan penuh nafsu... Itu menyenangkan dan bisa langsung diartikan sebagai menginginkan... Tapi bukan itu yang ingin kulakukan padamu..."

"Huh? Kenapa? Bukankah itu cukup baik, sayang? Aku suka rasa bibir ini..." ucap Garuda sembari menyentuh bibir Kiku lembut.

"Tapi aku tidak ingin memperlakukan Garuda-san seperti itu... Aku lebih suka mengecup kening Garuda-san sebagai tanda bahwa aku sangat peduli pada Garuda-san dan ingin melindungi Garuda-san..." ucap Kiku sembari mengecup kening Garuda dan membuat Garuda memejamkan mata lagi.

"Kau... Uke..."

"Tidak masalah... Kita seharusnya memang saling melindungi dan menjaga..." bisik Kiku lembut, "kan?"

"Ukh..." Garuda hanya menyetujuinya dalam hati karena keinginan akan perasaan geli dan aneh yang meluap terlalu banyak di dalam dirinya.

"Atau aku lebih suka mengecupmu di pipi sebagai tanda bahwa aku sangat berterima kasih pada Garuda-san karena ada di sini, di sampingku... Dan aku akan mengembalikannya dengan dukungan dan keterlibatan penuh dalam semua usaha penyelesaian masalah-masalahmu..." Kiku beralih pada pipi tembam Garuda yang membuat Garuda tergelitik dan dapat menyesap aroma lembut teh milik Kiku yang menenangkan.

"Atau di kelopak matamu..." bisik Kiku lembut ketika bibirnya menyentuh bulu mata lentik Nesia, "Ketika aku ingin mengatakan padamu bahwa aku ingin kau ada di sampingku... Selalu... Jangan pernah pergi dariku..." lanjut Kiku dengan permohonan tulusnya.

Sesaat hati Garuda tersentuh dan bergetar, ia merasakan sesuatu meleleh di dalam sana. Sesuatu yang manis dan menyenangkan, yang membuatnya merasa sangat nyaman. Garuda mengerjapkan matanya sedikit, kemudian menutupnya erat saat Kiku mengecup hidungnya dengan lembut dan membuat kepalanya agak pening karena... entah karena apa... dan ia merasa mukanya memanas?

"Atau di hidung... Yang artinya... Aku suka, senang dan bahagia bersama denganmu..." ucap Kiku sembari mengeratkan pelukannya terhadap tubuh Garuda yang masih kaget akan sensasi baru ini.

Garuda benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Ini tidak panas sama sekali, ini bukan sesuatu yang gila, ini juga bukan sesuatu yang melibatkan gairah yang berapi-api. Meskipun begitu ia merasakan jiwanya begitu penuh, begitu hangat, sama seperti tubuhnya yang kini meringkuk di dekapan Kiku. Ia merasa sangat tenang, jiwanya meleleh ketika merasakan setiap tarikan nafas Kiku dan detak jantungnya yang menghibur telinga milik Garuda dengan irama yang menenangkan.

Baru kali ini ia merasa wajahnya begitu panas, merasakan jantungnya berdetak dengan cepat namun berirama konstan. Merasakan kedamaian yang seandainya ia bisa, ia akan mengabadikan waktu ini selamanya.

Ia kini hanya bisa menatap Kiku dengan heran dan takjub. Pemuda oriental itu kini tengah memandanginya dengan tatapan teduh yang sangat lembut dan menenangkan, sangat tulus dan penuh kasih sayang.

Seperti apa yang selama ini Garuda impikan.

"Ini berbeda..." ucap Garuda lirih, "Aku merasa senang... dan bangga... Padahal kita tak melakukan apapun?"

"Ya... Dan hubungan seperti ini yang kuharapkan dari Garuda-san... Apakah Garuda-san keberatan?"

"Anehnya... Tidak..." ucap Garuda masih bingung dengan jawabannya sendiri. Tapi inilah yang sebenarnya selama ini ia cari.

"Seperti inilah aku ingin memperlakukan Garuda-san... Apakah bisa diterima?"

"... Ya..." bisik Garuda lirih sembari tersenyum lembut.

"Apakah Garuda-san akan memperlakukan aku seperti ini juga?"

.

"A-aku tidak tahu apakah aku bisa atau tidak..." ucap Garuda tidak yakin.

"Kita akan pelan-pelan jika begitu..." bisik Kiku lirih.

.

"Baiklah..." ucap Garuda menerima. Sedih juga rasanya jika ia harus meninggalkan kehidupannya yang kemarin dan bibir tipis namun manis milik Kiku.

"Terimakasih..." ucap Kiku sembari kembali mencium kening Garuda, "Dan yang terakhir... Mengecup bibirmu sebagai pengganti kata... uh-"

Kiku tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Garuda keburu melumat bibirnya dengan lembut. Kiku ingin terkekeh geli dengan kecupan sesaat yang pelan dan manis itu. Sama sekali tidak memaksa dan mendominasi.

Aku mencintaimu dan aku menginginkanmu...

"Aku bersyukur kau tidak menghapus favoritku dari list, sayang..." gumam Garuda dengan senyuman nakalnya yang khas.

Garuda tidak tahu kenapa, tapi ia merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Bahkan, ia berani bertaruh, sepanas-panasnya atau semenggebu-gebunya ciumannya yang dulu, tidak pernah terasa semanis dan selezat ini.

"Tapi itu hanya jika kau menjadi anak baik..." ucap Kiku mengingatkan.

"Maksudmu?" Garuda mengerutkan keningnya, "Jangan lupa aku yang Seme di sini dan aku yang menentukan akan dapat kecupan apa!" seru Garuda tidak mau mengalah.

"Tidak... Kau benar-benar Uke malam ini..." jawab Kiku datar dengan senyum kemenangan.

"Tidak! Aku dilahirkan untuk jadi Seme!" seru Garuda lantang.

"Tidak kau Uke..." goda Kiku lagi.

.

.

.

"Lupakan... Aku kembali jadi diriku yang kemarin..." ucap Garuda sembari memasang tampang datar.

"H-huh?!" Kiku berkedip kaget, "T-tunggu! Apa yang..."

Garuda mendorong tubuh Kiku sehingga pemuda itu kini telentang dan cepat-cepat ia naik ke atas tubuh Kiku.

"C-cotto! Cotto matte! – Tunggu! Tunggu dulu!" erang Kiku saat menyadari Garuda telah berhasil naik dan menguasainya.

"Sudah kuduga... bagaimanapun ini lebih menyenangkan..."

"Turun! Garuda-san!"

"Ya... Setelah aku mengingatkan pada dirimu bahwa akulah Seme di sini!"

"K-kenapa berubah seperti ini?! Padahal tadi..."

"Sekarang setelah aku meyakini bahwa kau tidak membuangku dan tak akan pernah membuangku... Tidak ada lagi keraguan bagiku, sayangku..." bisik Garuda penuh kemenangan.

KUSO! – Sialan...

Kiku menyumpah-nyumpahi dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia jatuh ke dalam perangkap Garuda. Kuso. Apakah tadi itu semua hanyalah kebohongan milik Garuda? Kuso. Itu tidak benar. Garuda sangat jujur tadi. Dan yang terjadi kini hanyalah pembuktian dari teori 'Kau tidak bisa mengubah seseorang dalam sekejap mata'.

"Hgh..." Kiku menghela nafasnya lelah – dan pasrah. Seharusnya Kiku tahu bahwa sekali 'Garuda', dia akan tetap menjadi 'Garuda' selamanya dan tak akan berubah – kecuali jika ia melebur ke Alternya yang lain.

Dan itu akan menjadi perjalanan yang sangat panjang.

"U-uh?! A-apa yang kau lakukan Garuda-san?" Kiku mengerjapkan matanya saat pipinya dikecup oleh Garuda dengan lembut. Seketika mukanya panas dan memerah, ia terlalu kaget untuk ini.

"Berterima kasih... bukankah itu artinya dari kecupan di pipi?" jawabnya lembut dengan suara Nesia yang sangat halus.

"U-uh... ya..." Kiku tak tahu harus menjawab apa, terlalu kaget mengetahui suara Nesia bisa dipakai menjadi sehalus itu.

"Dan... Aku akan membantu masalahmu, sayangku..." ucap Garuda ceria seperti intonasi Nesia kebanyakan.

"Huh?"

"Kirana kan?" lanjut Garuda lagi dengan senyum nakalnya yang sangat menggoda.


A/N : Next Part :D