Kiku mengedipkan matanya tak percaya saat Garuda mengatakannya.
"Haruskah aku membongkar masa lalu Inesia padamu? Sesuatu yang tidak akan berani dibocorkan oleh Pertiwi karena ini menyakitinya... Sesuatu yang sangat dihindari oleh Inesia sendiri karena ini menghancurkannya... Kenapa Ina ada... Kenapa kami, alter-alter yang lain juga muncul?" Garuda terkekeh menggoda.
Kiku sangat terkejut tentu saja. Ini bagaikan menemukan harta karun yang selama ini telah dicari-cari oleh Kiku. Garuda menawarkan untuk bercerita dan tidak hanya terbatas pada dirinya atau Kirana yang ia janjikan. Garuda bersedia menceritakan semuanya!
"Onegai... Hanashite kudasai... – Tolong... Ceritakan..." bisik Kiku dengan sejuta pikiran.
Garuda tersenyum lembut, "Bagus... lepaskan ikatan ini dan aku akan membuatmu menjadi milikku dulu... setelah itu aku akan cerita..."
"Apa maksudmu dengan membuatku menjadi milikmu?" tanya Kiku benar-benar tidak mengerti.
"Kau tahu artinya, sayang... Jangan mengujiku... Jangan membodohi dirimu sendiri..." bisik Garuda sensual, "Hanya aku satu-satunya kunci ke masa lalu seluruh alter Ines... Karena Pertiwi tak akan menceritakannya padamu... Aku akan membuatmu menjadi milikku untuk memastikan kau tak akan lari setelah aku menceritakannya... Aku tak berbahaya bukan?"
"Kenapa... Garuda-san tidak mempercayaiku saja dan menceritakan semuanya?"
"Hahahaha!" Garuda tertawa, tawa yang cukup keras, "Hahaha... Kau memang lucu... Aku menyukaimu!"
"Kenapa Garuda-san tertawa? Aku serius..."
"U-ke-ku yang ma-nis..." Garuda menekan setiap suku kata dengan sensual, "Tidak ada dari Alter tinggi kami yang bisa percaya pada orang lain... Kami tidak hidup dengan itu... Kecuali mungkin Pertiwi yang terlalu polos... Aku tidak percaya pada siapapun... Yah, mungkin padamu... sedikit..."
Kiku tidak sempat kecewa bahkan memperhatikan Garuda yang hanya 'sedikit' percaya padanya, pikirannya tertuju pada dua kata, "Alter tertinggi?"
"Mnh... Kita punya hierarki sendiri... Ini aturan main kita... Alter tinggi adalah Aku, Inesia, Pertiwi, Ina dan Tara... Kami selalu berada pada kesadaran yang tinggi... Tidak seperti Alter lain, kami tidak tidur saat Alter lain seperti Nesia, Kartika, atau siapapun di bawah kedudukan kami bangun... Kita ikut mengawasi semua yang terjadi... Kami bisa sesukanya mengambil alih tubuh ini..."
"Dan di antara kalian berlima... Para Alter tertinggi... Siapa yang hierarkinya paling atas, Garuda-san?"
"Tentu saja Inesia... Dia bisa melakukan apapun sesukanya... Bahkan menidurkan kami, 4 alter lain yang termasuk alter tertinggi..."
"Kemudian?"
"Seharusnya Pertiwi... Karena dia adalah alter 'pelarian' pertama Inesia... Tapi Pertiwi tidak menyadarinya dan selalu mengecap dirinya sendiri lemah dan tertidur karena persepsinya sendiri... Dia memang anak kecil yang terjebak di dalam usianya! Tak akan dewasa!" ucap Garuda sembari memutar bola matanya, "Namun akhir-akhir ini ia selalu bangun untuk melihatmu..." ucap Garuda sembari memencet ujung hidung Kiku.
"U-uh... Jadi sesuai urutan diciptakannya? Kalau begitu selanjutnya..."
"Ina..."
"O-oh... Ina-san tidak tertidur?" Kiku agak merinding mendengarnya.
"Ina... dia aktif... Tapi Inesia menyuruhnya untuk menjaga Pertiwi... Selama kau tidak mengganggu dua alter itu atau membahayakan tubuh ini, Ina akan diam dan tak membuat masalah..." ucap Garuda.
"Kemudian Tara?"
"Tidak... Aku lebih kuat daripada Tara... Dan Tara sibuk sendiri dengan urusannya... Dia hanya keluar jika itu benar-benar penting..." ucap Garuda, "Contohnya memperingatkan dirimu yang keras kepala ini untuk menjauhi kami... Kau harus lihat betapa kesalnya ia karena kau tidak mendengarkannya..." lanjut Garuda sembari tertawa kecil.
"Uh... Dan kalian berlima... uh... kecuali Pertiwi-san dan Garuda-san, bertiga, tidak percaya pada siapapun?"
"A-aku tidak percaya padamu..." ucap Garuda sembari memalingkan muka.
"Heeeh? Meskipun Garuda-san bisa menyentuhku?"
"Kau tidak menyerahkan dirimu padaku... Aku butuh penguasaan..." jawab Garuda, "Memastikan kau tidak hilang dari jangkauanku... Baru aku akan percaya sepenuhnya padamu..."
"Aku tak akan hilang dari jangkauan Garuda-san..."
"Buktikan..." Garuda tersenyum menantang, sangat menggoda, sangat lezat, "Serahkan setiap jengkal dirimu padaku..."
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Tidak bisa..." desah Kiku lirih sembari meremas seprei di sekitar tangannya untuk menahan dirinya. Menahan akalnya dari berlari sprint secepat kilat menuju titik persetujuan dengan keinginan Garuda.
"Kenapa? Aku bisa merasakan di bawah sana kau menginginkanku..."
"Diam!" gertak Kiku walaupun dirinya kini merasa sangat malu karena tubuhnya tidak mau ikut berbohong.
"Oke, Uke-ku yang sangat suka membohongi dirinya sendiri..." jawab Garuda masa bodoh, "Padahal kita sudah memakai cincin yang sepasang..."
"K-kita belum sah secara hukum!" ucap Kiku malu-malu.
"Hmft! Itu dia!" seru Garuda sambil tertawa, "Uke-ku memang lucu!"
"G-garuda-san..."
"Kita suka sama suka bukan?"
"Iie desu!"
"Kenapa? Kau tidak menyukaiku? Kau tidak menyukai tubuh Nesia?"
Kiku menggeleng pelan, membuat Garuda keheranan dan mengerutkan keningnya, "Yang aku sukai... Adalah 'kalian'... Dan aku akan menjaga kalian sampai saatnya tiba... Itu tanggung jawabku sebagai seseorang yang menyukai kalian... Tidakkah kau mengerti dari kecupan-kecupan tadi?" ucap Kiku jengkel.
"Aku tahu kau menyukaiku... Jadi kenapa kau menolak?" Garuda semakin merengut heran yang membuat Kiku semakin kuat berusaha untuk tersenyum lembut dan tidak headbang berkali-kali. Terutama ketika perempatan telah muncul di pelipisnya karena Garuda mencoba menggodanya lagi.
"Aku tidak menyentuhmu atau membiarkanmu menyentuhku bukan berarti aku tidak menyukaimu... Aku ingin menjaga kalian semua... Dan aku serius untuk semua hal tentang kalian... Aku tidak ingin main-main..." ucap Kiku dengan nada (berusaha) tenang sembari menghentikan gerakan aneh yang dibuat Garuda.
"Kita tidak main-main... Ini serius... gairah ini ada untukmu dan karenamu..." ucap Garuda lagi, belum menyerah.
Kiku memutar bola matanya, Garuda tak akan mengerti bahasa seperti ini. Kiku memikirkan bahasa lain, bahasa yang ada di dalam kamus milik Garuda, "Artinya... Aku lebih menginginkan hatimu daripada tubuhmu..."
Garuda mengedipkan matanya, heran.
Heran karena ia merasakan sesuatu yang aneh di relung hatinya. Kiku seolah mengatakan tidak mau menyentuhnya tapi ia tidak kecewa, ia malah merasa... senang? Garuda tidak tahu nama perasaan ini. Tapi ia merasakan sesuatu melembut di dalam sana, sesuatu terasa tenang.
"Kau mendapatkan keduanya..." ucap Garuda lagi, lembut.
"Garuda-san tidak percaya padaku... Berarti aku tidak mendapatkan hatimu dan sebelum aku mendapatkannya... Aku juga tidak akan mendapatkan tubuhmu atau menyerahkan tubuhku..." lanjut Kiku dengan awkward dan muka yang merona karena malu. Ia merasa menjadi makhluk yang sangat... mesum (?)... membahas sesuatu yang seperti ini.
"Booooooriiiiiiing! – Membosankan!" rajuk Garuda.
"Biar..." ucap Kiku tidak mau mengalah, "Garuda-san... Berikan aku satu cara selain itu... Untuk membuktikan aku bisa kau percaya..."
.
.
"Tidak ada..." jawab Garuda ringkas, bagaimanapun ia masih belum percaya pada Kiku sebelum pemuda itu menyerahkan dirinya.
"Demo..."
"Kiku..." panggil Garuda tegas yang membuat Kiku kaget, ini pertama kalinya Garuda memanggilnya dengan namanya – nama kecilnya pula, "Bahkan dengan kau menyerahkan dirimu padaku... Masih ada kemungkinan bahwa kau akan meninggalkanku..."
"Selama ini aku bersama dengan kalian... Mengetahui bahwa kalian memiliki kepribadian yang tidak sedikit... Dan aku bertahan... Tidakkah itu menjadi pertimbangan tersendiri? Kumohon... cobalah percaya padaku..."
Garuda berpikir sejenak.
.
.
Oke, bolehlah – toh perasaannya sedang enak, "Setelahnya aku akan mendapatkan ciuman panas selama yang aku inginkan... Dan kau yang melakukannya karena kau sangat menginginkanku..."
"Ukh... Baiklah..." jawab Kiku lirih. Ia menyetujuinya, walaupun ada bagian hatinya yang ketar-ketir, panik mengetahui ia telah membuat perjanjian gelap dan terlarang dengan Garuda.
"Aku tak akan menceritakan secara mendalam karena kau tak menyerahkan dirimu padaku... Aku ceritakan bingkainya saja..."
"Onegaishimasu..." jawab Kiku dengan rasa syukur.
"Baiklah... Apa yang ingin kau ketahui, sayangku?" jawab Garuda dengan bisikkan yang menggoda, "Biar aku memuaskan rasa ingin tahumu yang besar itu sebelum aku memuaskanmu seutuhnya..."
.
.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH! Kenapa Garuda-san selalu menggodaku seperti ini!?
"Kumohon hentikan cara bicaramu itu, Garuda-san..." ucap Kiku datar dengan poker facenya yang (berhasil) sempurna.
"Membosankan..." ucap Garuda sembari memutar bola matanya, kecewa akan reaksi Kiku yang datar-datar saja. Garuda sebenarnya tahu bahwa Kiku sedang mengalami serangan mental akut. Dalam hatinya ia terus mengutuki Uke-nya yang terlalu berbelit dan tidak bisa jujur ini. Oh, harus ia apakan dulu sebelum si Uke ini bisa mengeluarkan semuanya secara jujur dan... manis?
.
"Jadi... apa? Katakan padaku..." ucap Garuda lagi.
Kiku berpikir sejenak. Ia ingin tahu tentang masa lalu Nesia, tetapi ia juga ingin tahu kenapa semua 'Alter Tinggi' – kecuali Pertiwi, tak bisa mempercayai siapapun.
"Kenapa kau tidak bisa percaya siapapun, Garuda-san?"
"Kenapa kau tanyakan hal seperti ini?"
"Karena aku ingin tahu..." jawab Kiku singkat.
"Aku hanya tidak bisa percaya mereka melakukan semua hal ini kepadaku... Mereka menolakku, menangkisku, mendorongku menyingkirkanku, menganggapku sebagai masalah, membuat aku merasa jijik pada diriku sendiri... Saat aku bertanya pada mereka 'kenapa'... Aku tak bisa percaya pada jawaban 'tidak apa-apa' yang mereka ucapkan... dan senyuman palsu itu... Aku membencinya..." jawab Garuda dengan lancar, hampir tanpa emosi, "Hatiku sakit, jiwa ini kosong, tubuh ini kedinginan dan tangan ini terasa kebas menerima semua tangkisan itu..." mata Garuda melirik ke arah gorden, bagaikan di sana terpampang ingatan masa lalunya.
Kiku menatap teduh ke arah Garuda. Kiku tahu gadis (pemuda) ini masih berjuang menahan emosinya, mencoba mengganti rasa sakit hati dan air mata dengan kemarahan. Berjuang untuk tetap kuat, untuk tetap menjadi seorang laki-laki yang dominan – walaupun ia sebenarnya mungkin hanyalah seorang gadis yang lemah.
Garuda-san...
Kiku menaikkan tubuhnya, mengecup kecil bibir Garuda, membuat alis yang rapi dan indah itu naik karena bingung. Kiku tersenyum lembut sebagai balasannya, mencoba untuk menelan bersama rasa sakit hati, amarah, keheranan yang membuat frustrasi yang sedang Garuda rasakan.
"Dan kau di sini menyentuhku dengan sangat lembut... sekali lagi..." bisik Garuda lirih, "Kau menghancurkan bentengku, kau tahu itu? Kau membuatku selalu berharap akan dirimu..."
"Huh?" Kiku mengedipkan matanya dan meminta Garuda mengulangi bisikan terakhirnya yang terlalu lirih.
"Kau kira aku puas dengan kecupan seperti itu?" ucap Garuda menantang sebagai balasannya.
"Garuda-san harus puas... Aku belum selesai..." jawab Kiku datar, seharusnya ia tahu Garuda tak akan mengulanginya, "Kenapa Garuda-san mengambil laki-laki? Padahal aku yakin Inesia-san kan perempuan..."
"Ada seseorang..."
"Huh?"
"Ada seseorang yang Inesia kagumi dan sangat ingin Inesia sentuh... Anak laki-laki yang hanya ingin bermain dengan laki-laki, tidak dengan anak perempuan membosankan seperti Inesia... Jadi Inesia mencoba untuk memenuhi keinginan anak itu dengan berharap menjadi seorang laki-laki... Dipadukan dengan pengharapan yang sangat dalam untuk menyentuh seseorang... Dan, ta-da... Di sinilah aku..."
"Kau berhasil menyentuhnya, Garuda-san?"
Garuda tersenyum pahit, "Tidak... Dia pergi dan mengatakan aku aneh karena bertingkah tidak seperti biasa... Yah, waktu itu aku menggantikan Ayu yang sangat feminin dan naif... Sedangkan aku sangat... laki-laki?"
.
.
"Tentang Ayu-san ini... Siapa dia, Garuda-san?"
"Di mana kecupan kecilku?"
"Eh?! K-kan..."
"Kukira itu intermezo kita..." jawab Garuda penuh harapan.
Kiku berjuang untuk tidak memutar bola matanya saat Garuda menurunkan tubuhnya untuk mengecup Kiku.
"Mesum..." bisik Kiku menghentikan Garuda agar tidak semakin panas.
Garuda terkekeh geli, "Oh... Kau tak tahu apa yang selalu kubayangkan kulakukan padamu..." balas Garuda dengan nada nakal yang membuat Kiku berkedip kaget dan merinding, "Ayu ya?"
"Ya..." jawab Kiku sebal.
"Ayu sebenarnya ada karena Inesia ingin dunia baru yang normal... Alasan yang sama dengan penciptaan Nesia... Ditambah... Untuk mencintai anak laki-laki yang tidak dapat kusentuh itu..."
"Huh?" Kiku terkejut. Tentu saja. Inesia menciptakan sebuah alter untuk mencintai orang lain? Kiku baru dengar sesuatu semacam ini.
"Inesia berpikir dengan ia mencintai seseorang... Hidupnya akan berubah menjadi berbunga-bunga... Penuh dengan kasih sayang... penuh dengan hal-hal manis... Dan di sanalah Ayu... Sangat naif... Sangat feminin... Setiap hari ia mempercantik dirinya demi membuat anak laki-laki itu jatuh cinta padanya... Setiap hari ia memperbaiki dirinya... Membuat tubuh ini meninggalkan kesan sebelumnya yang gila karena dikuasai oleh Ina..."
"Perkembangan yang baik..." gumam Kiku agak tidak suka karena itu bukan untuk dirinya.
"Ya... Sebelum Ayu menjadi rusak karena anak laki-laki itu menghilang entah ke mana... meninggalkan Ayu sendirian tanpa pamit ataupun kabar apapun... Ayu tertidur sekarang, kita paksakan untuk tidur... Ia menunggu pangerannya itu kembali bagaikan sleeping beauty di dalam sana... Alter yang lainnya tak percaya pangerannya itu akan kembali... lagipula, apa yang diharapkan dari pangeran seperti itu... Dan setelah Ayu tertidur... Tara-lah yang menjadi pelanjutnya... Jadi jangan harap berbicara tentang cinta dengannya..."
"Aku mengerti..." ucap Kiku sangat paham. Sangat amat paham.
"Kecupanku..." tagih Garuda sekali lagi.
Kiku menghela nafas lelah.
"Buat tanda padaku..."
"Hah?" pekik Kiku heran saat akan mengecup bibir Nesia (Garuda).
"Ayolah... buat aku merasa nyaman... Buat tanda di leherku, pundakku atau di mana... Kau bisa melakukannya bukan?" tantang Garuda.
"Ini bukan hanya tubuhmu, Garuda-san! Lagipula kita sudah sepakat untuk tidak mengecup di tempat lain..."
"Aku tak peduli... Lakukan... Atau aku berhenti dan kau bisa memberikan ciuman panasmu sekarang..."
Kiku kembali menghela nafas lelah penuh dengan kekalahan. Sial! Kiku tidak bisa tidak mematuhi Garuda karena ia butuh informasi yang Garuda pegang. Sangat butuh. Kiku menggeser tubuhnya, memutar tubuh Garuda sehingga kembali berada di bawahnya.
"Baumu seperti Teh..." gumam Garuda sembari menutup matanya, meresapi kelembutan sentuhan bibir Kiku di lehernya yang berubah menjadi kecupan keras yang akan membuat darah berkumpul di bawah permukaan kulit langsatnya. Membuat tanda merah yang akan bertahan setidaknya beberapa hari.
"Garuda-san sendiri seperti bunga melati..." balas Kiku setelah memberi sebuah tanda yang membuat dirinya sendiri merengut heran saat menatapnya di kegelapan.
Heran karena perasaan bersalah, bagaimana ia bisa melakukan ini, dan bagaimana hal ini membuatnya merasa... bangga? Ini tidak masuk akal!
"Hei... Kita bisa jadi Jasmine Tea... Semua orang suka Jasmine Tea..." celoteh Garuda sembari terkekeh renyah.
Baka... Polosnya bukan main... Tetapi jalan hidupnya seberat ini... Dan mereka masih berusaha membuat orang lain tertawa...
Kiku megangkat mukanya dan mengecup kecil sudut bibir Garuda.
"Apa itu?" tanya Garuda heran.
"Anggap saja bonus..."
"Oh... Jadi mulai ronde ini akan ada bonus?" tanyanya antusias.
"Tidak, bonus itu hanya sekali..."
"Pelit..." decak Garuda sebal.
"Jadi... Bagaimana dengan Tara-san?"
"Tara? Ah... Dia adalah makhluk paling menyebalkan yang pernah aku temui... dan lucunya, dia adalah diriku yang lain..."
"Menyebalkan?"
"Ya... Sikapnya yang dingin dan kuat dibuat-buat... Arogansinya terutama... Padahal ia kesepian luar biasa... Tidak bisa bersosialisasi dengan baik... Tidak bisa berinteraksi dengan normal... Semuanya karena ia dimulai dengan trauma yang terjadi pada Ayu... Meskipun Ayu sendiri tidak trauma... Inesia yang trauma... Tapi ia masih mau berjuang untuk hidup normal... Itu yang membuatku menghormatinya... Walaupun yang ia lakukan adalah membuat alter-alter seperti kita sebagai kelinci percobaan sebelum ia mencoba untuk mendekati orang lain dengan dirinya sendiri..."
Si tsundere itu ternyata memiliki latar belakang seperti ini...
"Karena Tara hampir rusak juga... Maka dibuatlah satu Alter lagi sebagai pendukungnya... Namanya Kirana..."
"Kirana-san?"
"Kau tidak pernah bertemu dengannya... Dia adik kesayangan Tara... Tara jaga penuh 24/7... bahkan dari alter-alter yang lain... Kalau kau ingin berteman dengan Tara... Mulailah dari adiknya..."
"Begitukah?"
"Anggap saja informasi ini bonus..." ucap Garuda dengan senyum menggoda yang membuat Kiku tak bisa menutupi tawa herannya.
"Kalau kau beri aku bonus... aku akan beri kau bonus juga..." lanjut Garuda ikut tertawa dengan Kiku.
"Baka ka?" ucap Kiku heran di sela tawanya yang terasa getir, di mana pahit dan manis bercampur dengan sempurna menusuk ke jantung Kiku.
Kiku memberikan tanda lagi, kali ini di belakang telinga Nesia dengan posisi yang pasti tersembunyi jika gadis itu membiarkan rambutnya terurai. Tubuh Nesia bergetar, merinding mendapatkan perlakuan itu, dan Kiku terkekeh geli mengetahui itu adalah daerah sensitif Nesia.
"Kau tahu apa yang kau lakukan, Huh? Boleh juga..." seru Garuda tertantang dan mencoba membalasnya saat Kiku mengecup bibirnya lembut, namun gagal karena Kiku langsung menarik dirinya.
"Yang namanya bonus tidak lebih besar daripada yang utama..."
"Ish!" desis Garuda jengkel, "Pelit..."
"Siapa Kirana-san dan apa yang terjadi padanya?"
"Kirana... Dia gadis yang baik... Pasif, diam, kutu buku... Adik kesayangan Tara..."
"Ada seseorang yang menjadi sahabatnya?"
"Tidak..."
Huh? Bukannya... Pemuda bernama Austin itu...
"Ada seseorang yang mendekatinya?"
"Tidak..." jawab Garuda singkat.
"Garuda-san... Jangan berbohong padaku..." Kiku mencoba mengklarifikasi lagi.
"Tidak ada yang dekat ataupun bersahabat dengan Kirana... Ataupun Tara... Malah mereka adalah bahan bully..."
"K-kenapa?"
"Kau tahu kenapa Tara menjadi bahan bully... Dan ketika Kirana hadir... Bully-an itu sudah pada puncaknya... Itu alasan Kirana hadir lagipula... menemani Tara..."
"Kau kenal nama Austin... Garuda-san?"
"Bagaimana kau bisa tahu nama pemuda b*******k itu?!" Garuda malah balik bertanya pada Kiku.
"Huh? Dia ada siang tadi dan menemui Nesia... Dia mengaku sebagai sahabat Kirana..." jawab Kiku semakin heran.
"Yah... mungkin karena itu..." jawab Garuda random.
"Maksud Garuda-san?"
"Kirana pernah membelanya saat pemuda itu juga dibully... Dia dibully karena tidak berani membully Kirana... Bodoh sekali..."
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Anak itu adalah anak lama di panti asuhan itu... sedangkan kita baru masuk ke sana karena ada rotasi... Tapi kita memiliki sikap yang menyebalkan milik Tara dan sikap pasif dan diam Kirana... Tentu saja kita dibully habis-habisan di antara anak-anak nakal yang merasa diremehkan oleh Tara dan Kirana – padahal kita tak bermaksud seperti itu... Yang aku tahu Austin hanya bisa melihat saat kita dikerjai anak lain... Dia tidak berada di pihak kami juga... tidak di pihak mereka juga... Jadi ia disuruh memilih di mana ia berpihak... Dan ia dibully untuk mengerjai Kirana... Namun Kirana malah menolong anak ingusan itu..."
Tipe kalian... Menolong walaupun kalian sendiri kesulitan... Tidak peduli pada diri sendiri... Kalian sekali...
"Austin diadopsi sehari setelah kejadian itu... Mungkin itu juga yang menyebabkan ia dibully, karena ia terpilih untuk keluar dari 'penjara' membosankan berisi anak-anak nakal itu... Dan ia pergi meninggalkan anak-anak yang masih mendendam... Dan semuanya berimbas pada Kirana..."
.
.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Kau tak ingin membayangkannya... Kau tak ingin mengetahuinya... Atau mungkin lebih ke... Demi kebaikanmu... Sebaiknya kau tidak tahu, Kiku..." jawab Garuda dengan suara gelap. Pemuda itu pun tidak menatap mata Kiku saat mengatakannya.
Kiku pikir itu hal yang sangat mengerikan. Kiku tahu bully bisa menjadi sangat mengerikan. Ia tahu itu, ia merasakannya juga. Ia ingin tahu apa yang terjadi.
"Oshiette... Oshiette kudasai... – Tolong katakan..." pinta Kiku lirih.
Garuda menutup matanya, mencoba untuk meredam emosi, kemarahan, dendam dan semuanya.
"Itu tragedi yang sangat mengerikan... Di luar kemampuan dan bayangan Inesia... Itu hari di mana Inesia ingin menyerah..." ucap Garuda lirih, "Penjaga panti asuhan saat itu sedang pergi karena urusan administrasi atau apa, aku tidak begitu paham... Mereka semua meninggalkan panti asuhan dan memberikan kepercayaan kepada anak-anak yang umurnya tua di sana... Tapi mereka jugalah yang menjadi pelopor penyiksaan itu..."
"Apakah kau tahu, Kiku? Semua Alter Inesia ini menginginkan untuk disentuh... tapi Kirana... Baginya sentuhan adalah mimpi buruk... Baginya sentuhan adalah siksaan... Ia terlalu takut... dan ia hancur karena sentuhan... Ia berlawanan denganku 180 derajat... Dan sampai sekarang Tara masih menjaganya... Mengurungnya di kamarnya untuk melindungi dan terus menenangkan Kirana yang rusak di 'kamar'-nya..."
Ini lebih buruk daripada yang terjadi pada Kartika, atau bahkan dirinya. Kiku tahu itu.
Kiku membenamkan mukanya pada leher Nesia, memeluk tubuh gadis yang bergetar hebat itu lebih erat. Menjanjikan ketenangan, menjanjikan perlindungan. Menjanjikan bahwa ia akan selalu berada di sampingnya dan tak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi.
"Kirana terus berteriak waktu itu... Memanggil nama Austin karena pemuda itu yang menjanjikan akan melindungi balik Kirana... Tapi ia tak ada di sana untuk melindungi Kirana dari terkoyak dan hancur..." Garuda mengambil nafas cukup panjang, "Itulah sebabnya... Tara tidak menyukaimu... Dia tidak suka pada seseorang yang hanya bisa berjanji melindungi... Namun pada saat dibutuhkan malah menghilang entah ke mana..."
"Demo... Watashi..."
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, Kiku... walaupun kau ingin melindungi kita... Jika nasib tidak mengijinkan kau menyelamatkan kami... maka semua ini akan menjadi kebohongan..." ucap Garuda memotong Kiku, "Dia tidak akan pernah percaya apalagi hanya atas dasar perasaan yang tidak masuk akal dan terbukti... Karena dia sangat takut... Akan ada Alter lain lagi yang hancur seperti adiknya, Kirana... Tidak... Hancur tidak lagi mendefinisikan Kirana..."
"Uh?"
"Hari itu... Rambutnya, rambut kita, yang indah saat itu dicukur dengan acak-acakan... Ia mengelak sehingga gunting itu juga melayang melukai tubuh ini sampai berdarah... tamparan tidak terhitung jumlahnya, terutama datang dari anak-anak perempuan yang iri dengan rambut hitam berkilau, kulit putih langsat, bibir yang mereka bilang indah dan berwarna merah natural ini dan mata besar yang kita miliki... Tubuh kita yang sudah lemah dengan sedikitnya makanan yang diberikan pada kita di panti asuhan dulu... Ditambah siksaan batin dan raga... Pukulan itu... Kami – Kirana sudah teronggok di sana... Dan seorang Kakak berusaha menambahnya dengan mencoba menodai kami..."
Bukan hanya tubuh Garuda yang menegang, tubuh Kiku pun turut menegang. Kiku menggertakkan giginya dan meremas genggaman tangannya sendiri untuk menahan kemarahan. Ia tak habis pikir dengan Kirana yang mengalami semua itu karena ia diawali oleh Tara yang memang sudah bermasalah, namun itu juga bukan salahnya. Semua kejadian ini. Semua jalan hidup ini.
Ini adalah yang terburuk yang pernah Kiku dengar!
"Dan saat itu Ina tak bisa lagi kami tahan... Tidak... Kami biarkan Ina membereskan semua ini... dan semuanya berakhir dengan beberapa masuk ke rumah sakit... ICU..."
ICU? Apakah itu tidak terlalu ringan?! Semuanya pantas mati...
"Hei... tenanglah... kau kembali membuatku tak bisa bernafas..." seru Garuda saat merasakan tubuhnya kembali diremuk oleh Kiku.
"Datte... –tapi kan..." bisik Kiku lirih meminta toleransi atas kelakuannya. Ia tidak bisa memaafkan mereka semua.
"Oh... Aku bersyukur Ina tak membunuh mereka semua karena Inesia berhasil kembali ke kesadarannya... Kalau tidak, masalah akan semakin rumit..." ucap Garuda, "Saat penjaga panti asuhan kembali... Mereka tidak memiliki ampun pada tubuh yang kosong ini..."
.
.
"Tidak ada yang mau mengambil alih tentu saja saat itu... Semuanya menekan... Dunia menyalahkan kita... Dunia membenci kita... Hanya Ina... Ya, ini bagiannya... Tapi Inesia menahannya agar Ina tidak lebih rusak daripada yang sebelumnya..." Garuda tertawa getir, "Dan di saat itulah sebuah alter muncul dan menamakan dirinya sendiri dengan nama Ina... Karena saat itu anak-anak panti asuhan yang lain terus memanggil tubuh ini dengan nama Ina..."
"Eh?"
Moushikashite... Kore wa... Ano toki no Ina-san... –Apakah mungkin, Ina yang ini adalah Ina yang waktu itu...
.
.
"Dia rusak... dia diciptakan dari seluruh ketakutan para Alter yang lain... termasuk diriku... Dan ia juga menangkap ketakutan lingkungannya terhadap Ina yang asli sehingga pikirannya berfokus bahwa dia adalah Ina..." ucap Garuda dengan nada kasihan, "Ia tidak lebih berbahaya, tapi lebih rusak daripada Ina yang asli... Karena ia tidak tahu apapun namun terus dicuci otak dengan kekerasan yang Ina buat... Sungguh... sebenarnya ia tidak berbahaya... Hanya saja ia hanya tahu kekerasan untuk menyelesaikan masalahnya..."
Sou ka? Makanya saat itu... Saat ia menusukkan cutter ke bahuku ia terlihat semakin panik dan gila...
"Tapi di saat itu ada pertolongan kecil yang membuatnya bisa membangun kesadaran... Itu keajaiban... Dan mungkin hanya terjadi sekali dalam kehidupan kami..." ucap Garuda sembari tertawa mengejek kepada nasibnya sendiri, "Rekaman prosesi hari itu... dari awal sampai akhir ditemukan oleh salah satu penjaga... Sepertinya rekaman itu ingin dibuang karena terlalu sadis dan tidak bisa lagi dianggap sebagai lelucon..."
"Sore de?"
"Ina yang ke 2 ini mulai tenang... dan dia masih percaya pada harapan... Namun dasarnya ia dibangun dengan kebencian dan ketakutan... Maka ia sering tidak bisa menentukan apa maunya... Pikirannya terlalu sering terpecah dan tidak stabil... bahkan seringnya tidak memikirkan tindakannya sama sekali... Dia rusak sejak awal lagipula... Dia sering melarikan diri dengan berusaha untuk menjadi Ina yang asli... dan ia akhirnya ditidurkan oleh Inesia, digantikan oleh Kartika... Dan kami dipindahkan ke panti asuhan lain... Ina ke dua sendiri... Ia biasanya bangun dan lepas saat Inesia frustrasi, terpojok dan tidak bisa menentukan pilihannya..."
"Waktu itu aku mengajaknya ke taman bermain dan... kalian baik-baik saja... Nesia no. 2-san waktu itu baik-baik saja..."
"Nesia no. 2?"
"Ya... Nesia-san yang romantis dan sangat ceria..."
"Tidak ada yang seperti itu... kalau romantis... Mungkin Ayu... ya... dia juga ceria... Terlalu positif... terlalu naif..."
"A-apakah Nesia no. 2-san itu Ayu? Dia hadir setelah Garuda-san di dokter itu!"
"E-entahlah... Aku waktu itu dipaksa tidur oleh Inesia... Aku tidak tahu siapa yang menggantikanku..."
"Dia... Dia penjaga pintu seperti perpustakaan..."
.
.
"Kirana dong?"
"Eh?"
.
.
"Yang doyan banget sama buku itu Kirana..." jawab Garuda lagi, "Kamarnya juga berisi banyak 'penetahuan' tentang kita..."
"T-tapi..." Kiku berusaha menyanggah, tapi ia tak tahu apapun yang bisa menyanggah Garuda yang notabene pasti lebih tahu, "Kalau yang ada di kurungan di atas menara?"
"Itu tempatnya Inesia, Ina dan Pertiwi... Yah, itu mulanya tempat milik Inesia, namun sekarang menjadi tempat mengurung Ina asli juga... Pertiwi ada di sana karena Ina diciptakan untuk melindungi Pertiwi dan Inesia... Ina asli akan tenang kalau melihat pertiwi menari... Hanya itu kesadaran yang Ina milikki..."
J-jadi siapa Nesia no. 2-san ini?! Alter yang mana?!
"D-dia pintar!" ucap Kiku lagi.
"Untuk kau ketahui... Aku juga..." jawab Garuda sensual, "Apalagi dalam memuaskanmu... Mau bukti?"
"Dia ada setelah Kartika!" Kiku tidak mempedulikan godaan Garuda lagi.
Garuda tak sengaja mengeluarkan tawanya, namun sedetik kemudian ia menahannya, "Dia?"
"Kenapa dengan dia?" Kiku merengut heran.
"Yah... Dia... Romantis... Mungkin? Ceria... Mungkin itu sisi lainnya? Entahlah..."
"Apa maksud Garuda-san?"
"Kau sedang bicara tentang Tara versi perempuan! Sebenarnya aku meragukan kalau itu alter yang kau cari..."
"T-tara-san versi perempuan?"
"Ya... habis Kartika... Tubuh ini didominasi oleh Lestari... Dia yang bertanggung jawab dengan Junior High kita..."
"A-alter baru?!"
"Katanya kau sudah bertemu dengannya... Oh... Dia yang kau sukai?" tanya Garuda kurang suka, "Lebih baik kau menyukaiku... Dia anak yang sulit dimengerti... Aneh... Apa yang kau harapkan dari Tara versi perempuan?"
"Di mana... Di mana Lestari-san bersekolah... atau... Dimana ia tinggal? Garuda-san tahu? Seperti apa kehidupannya?" tanya Kiku panik, seakan ia ketinggalan informasi penting.
"Aku tidak suka kau bertanya seperti itu..."
"Kumohon..." pinta Kiku. Alter ini yang mungkin selama ini ia cari.
"Dia berada di dorm khusus Perempuan... Sekolah itu cukup terkenal kok... tanya saja pada kepala yayasan... Dia pasti tahu... Dorm itu juga ada koneksi dengan sekolah ini lagipula..."
"B-benarkah?"
"Ya... Dan bisakah aku meminta ciuman panasku sekarang? Aku sudah terlalu lelah dan tidak bisa menjawab pertanyaanmu lagi..." ucap Garuda sembari menguap.
"Ya..." Kiku tersenyum lembut sebelum memberikan kecupan-kecupan kecil dan mencicipi bibir Nesia.
"Jangan menggodaku..." bisik Garuda.
"Aku tidak..." ucap Kiku sembari melumat dan menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Nesia untuk dibalas lebih panas oleh Garuda, seperti biasa.
*O*
A/N:
Chapie 27!
Author: Yeeeeeeeeeeeeey! Kebongkar semua!
.
.
.
Author: Kenapa kalian pada pundung?
Nesia: *nusuk2 boneka santet* Kubilang jangan Garuda... Dia malah munculin full Garuda... dua chapter lagi... Seperti episode spesial milik Garuda...
Kiku: *jongkok menghadap pojokan, nutupin mukanya yang masih panas*headbang*
Neth: *tewas terkapar dengan naas*
Author: Ya menurut kalian siapa lagi yang bakal bak-blakan bicara kayak gini?
Nesia: Inesia mungkin?! Dia cuma dibicarakan saja!
Author: Dia mah keluar akhiran aja...
Nesia: kenapa hidupku harus seperti ini... *jedut2tembok
Author: Sudahlah! Ayo balas Review! Pertama... VS – 125 . 313 –san... Terimakasih kembali karena sudah mau repot-repot meriview FF yang agak nggak jelas ini...
Nesia: Interupsi! FF ini absurd!
Author: Diam! Iya... Itu selingan... Karena aku sendiri udah agak bosan...
Kiku: *nglingukcepat* Masaka?!
Author: Tenang Kiku... Aku pasti selesaikan... =.=a
Kiku: *helanafaslega
Author: Ya, mungkin mulai sekarang percakapan antar alter akan dimunculkan... karena mereka sudah bisa melakukan itu...
Nesia: =.=a Tapi aku seperti orang gila... bicara pada diri sendiri... Hgh...
Author: Kiku yang seram? Aku juga suka :D Besok aku ganti castnya jadi Kuro langsung saja kali ya... yang lebih pro...
Nesia: Uwooooooh! Author! Tidak! Tidak! Tidak boleh!
Kiku: J-jangan lakukan itu, Author-san!
Author: Kenapa?
Nesia: Jangan pura-pura tidak tahu Author! Pokoknya tidak! Kalau tetap bersikeras, aku keluar!
Author: Oke... oke... Dan... Neth...
Neth: Hm? *bangun dari tewasnya
Author: Kau tidak diharapkan untuk muncul...
Neth: *kembalitewas
Nesia: Selanjutnya! Kak Sabila Foster... Iya aku lebih muda... TeeHee... Uh... A-akukan secara personifikasi masih muda! Yao-gege saja yang 4000 tahun masih semuda itu... Kiku juga... umurnya udah ratusan tahun... jadi aku masih muda dong...
Kiku: Iya... tapi secara manusiawi... Nesia-san sudah berumur 69 tahun... Kau lebih tua...
Nesia: Tapi akukan bukan manusia!
Author: Intinya kau sudah tua, Nes... *Trollface
Nesia: Author sialan... Aku santet nih! Aku santet nih! Aku masih muda! Aku masih remaja! *Nusuk-nusuk boneka jerami
Author: Nes, kau harus bilang iya kalau ditanya bahwa kau istri Kiku...
Kiku: *tersedaknafas
Nesia: Tidak!
Neth: Kalau begitu aku...
Nesia: Juga tidak!
Neth: *kembalitewas
Author: Oke, Next... Nessi-chii-san... *pelukbalik* 2016! Cepatlah datang! \^w^/ Awas Kiku! Kalau season 6 Indonesia masih nggak ada...
Kiku: *membuangmuka* Eh... itu... Saya tidak yakin...
Author: Eh... iya... ada typo... T.T" Maaf...
Nesia: Kebiasaan dia mah...
Author: Oke... oke... Bagaimana UTS-nya? *kepo*digampar* semoga sukses dan semoga updetnya nggak ganggu ya... Oke! Sate Kelinci! Siap! *narikkelinciwarnaputihtotol2
Neth: *bangkitdaritewasnya* NEEEEEEEEEEEEEEEEEEIIIIIIN! Mijn konijnen! -Kelinciku!
Author: Nes! Pisaunya sudah siap? *menghalangi Nether dari menggapai kelincinya*
Nesia: Kita masak yang cokelat aja, -thor... lebih gemuk...
Neth: NEEEEEEEEEEEIIIIIINN! *nangisbombay
Kiku: A-ano na... *sweatdrop* Hgh... Sugi wa... Hunter-san... Er... Kok malahan disumpahin... Umnh... Iya... menurutku juga sebaiknya jujur saja...
Author: Jujur ya? Boleh juga... *nglepas kelinci*
Kelincil: *lari ke pelukan Neth
Neth: Mijn konijnen! *peluk2kelincigemas
.
.
.
Nesia: *illfeel
Kiku: *sweatdrop
Author: *jawdrop
-Eng... A-anggap saja tidak ada yang terjadi...-
Author: Oke... Umnh... Kemudian... Azukihazzle-san... Yah, kan mereka temen-temennya Razak juga, mereka mendukung Razak lah, kalau mereka teman-temannya Kiku juga, pasti mereka dukung Kiku... Contohnya kubu Hong dkk...
Hong: Aku netral... Hanya mementingkan Mei...
Author: Ini beresnya... Kuusahakan secepatnya... =.=a Next... BlackAzure29-san... Ini Garuda udah muncul full... 2 chapter...
-Ya... oke... cukup... hentikan pemunculan Garuda ini... ini menyiksa...-
Author: Apa?
-Enggak...-
Author: Kapan kompeni munculnya... Aku nggak tahu... Aaaaa... Aku setres... *TambahinjatahnyaGaruda...
Nesia: TIDAK!
Kiku: IIE!
Neth: NEEEEEIN!
Author: Hgh... Selanjutnya... Alya-san... Iya... 40 tembus kayaknya... oh tidak... *pundung*
Neth: Kau tidak berguna sih, -thor!
Author: ... Alya-san tidak mengharapkanmu Neth...
.
.
.
Neth: Kenapah? *puppyeyes
Author: Aku nggak lihat! *buangmuka* Lanjutnya! Qwerty-san... Iya, Nes... Harusnya kau spontan bilang nggak!
Nesia: Kan di skrip-nya suruh bilang enggak?!
Author: Ah... dasar nggak ngerti improvisasi kau...
Nesia: *nusuk2bonekajerami
Author: Oh ya... Kiku bagaimana rasanya dikatain simpanan?
Kiku: Eto... Biasa saja... Kan itu semua tidak benar... *senyumlembut*
Author: Kalau begitu masukkan Katana-mu... Terus jangan kejar2 Razak lagi...
Kiku: Heee... Naze desu ka? *sweetsmile
Author: *sweatdrop* Oke... Segiini dulu chapternya... :D Apabila ada kesalahan dan kekurangan (dan rate yang nyenggol2) mohon dimaafkan... =.=a
Selalu... mohon kritik, saran dan reviewnya yaaaa :D Byeeeee!
