Kiku mengerjapkan matanya saat seseorang menyolek pipinya dengan lembut. Namun pemuda yang berasal dari tanah matahari terbit itu belum mau mengikuti jejak sang surya yang telah bertengger dan tersenyum cerah di langit. Ia masih enggan untuk membuka matanya yang sangat berat – hasil dari tidur jam 3 dini hari. Lelah dan tidak mau bergerak dari tempat ini satu senti pun. Ditambah lagi dengan kenyamanan, kelembutan dan kehangatan yang ia rasakan selama kesadarannya mulai naik ke permukaan.
Sebuah cubitan gemas menggantikan colekkan itu. Membuat Kiku sedikit mengerutkan alisnya. Siapa sih yang tega mengganggu tidurnya yang cantik ini?
Kiku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Tadi malam merupakan malam yang sangat panjang baginya. Setelah ia diculik oleh Kakek Tara, diseret oleh Hong dan dibawa ke hotel tempat Kakek Tara menginap bersama dengan Nesia yang masih syok karena Kakek Tara membongkar kenyataan (palsu) bahwa Kiku adalah suaminya, ia harus bergulat dengan Garuda dan mendengarkan hampir seluruh mimpi buruk yang ditanggung oleh alter-alter Nesia.
Kiku menelan ludahnya. Ia melakukannya untuk masa lalu Nesia yang bisa dibilang sangat buruk –sangat di luar perkiraannya, dan kenyataan bahwa ia tidur dengan Nesia. Ia masih bersama Nesia sekarang. Kiku mulai merasakan bahwa ia masih memeluk seseorang yang lebih kecil darinya, terasa lembut dan hangat serta beraroma melati. Itu berarti, yang saat ini kembali mencubitnya adalah Nesia – atau paling tidak salah satu alter miliknya.
Kiku menahan tawa geli saat pipinya kembali ditarik dengan lembut. Ia menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh Nesia. Apakah gadis itu sekarang sedang mengamatinya, ataukah sedang memberikannya kasih sayang, atau sekedar gemas padanya, atau mungkin menggodanya – mungkin tidak, atau berusaha membangunkannya?
Ya, itu yang paling masuk akal.
Kiku tersenyum geli, masih dengan mata tertutup. Jika maksud Nesia adalah membangunkan Kiku, gadis itu hanya perlu untuk memanggil namanya saja, tidak perlu memainkan pipinya seperti ini. Akan tetapi, karena Nesia telah melakukannya, Kiku jadi lebih memilih untuk menikmati cubitan Nesia pada pipinya yang semakin lama semakin gemas sampai akhirnya cukup menyakitkan.
"Nesia-san... Jangan lakukan itu..." ucap Kiku dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia terus memeluk Nesia yang dipercaya ada di dalam dekapannya.
"S-senpai... Bangun..." bisik Nesia.
"Iie desu... Tadi malam kau membuatku tidak tidur cepat... Aku masih mengantuk..." ucap Kiku yang masih memenangkan keinginannya untuk tetap terlelap dan mendekap Nesia.
Cubitan gemas itu berhenti. Mendadak Kiku merindukannya.
"S-senpai..." desah Nesia ketika merasakan pelukan Kiku semakin erat, "Kumohon... Bangunlah sekarang..."
"Iie..." ucap Kiku tegas yang membuahkan sebuah cubitan keras.
"Hentikan cubitan ini, Nesia-san... Nesia-san sudah mulai terlalu keras..." keluh Kiku yang belum sadar sepenuhnya.
"S-senpai... itu..."
"Nesia-san... kubilang jangan cubit aku lagi... Atau Nesia-san ingin aku membalasnya?"
"Dengan apa?" jawab sebuah suara laki-laki.
.
.
Kaget, Kiku membuka matanya dengan sedikit enggan dan menatap ke arah pelukannya. Nesia ada di pelukannya yang erat, membelakanginya, tak bergerak, tak berpindah dan sedang meliriknya dengan khawatir. Satu yang Kiku perhatikan baik-baik adalah kedua pergelangan tangan mungil Nesia masih terikat kuat dan jauh dari pipi Kiku.
Namun, Kiku masih bisa merasakan sebuah jari menyolek-nyolek pipinya. Akhirnya, setelah mengumpulkan nyali, Kiku pun menoleh ke belakang. Ia menemukan seorang pria tua yang tengah menaikkan alisnya demi menunggu jawaban dari Kiku.
"E-eh? T-tara jii-san?"
"Sou yo... Kiku-kun..." ucap Kakek Tara dengan sedikit bahasa Jepang yang ia ketahui.
"A-ano ne... w-watashi wa..." keringat dingin mulai mengucur di kulit pucat Kiku.
"Bagaimana kalau Nak Kiku bangun dulu... Kemudian melepaskan Nak Nesia, termasuk ikatan tali itu..." ucapnya dengan sedikit amarah.
Kiku tahu amarah itu berasal dari mana. Kemungkinan terbesar karena ia melihat tangan Nesia yang terikat. Mungkin Kakek Tara mengira Kiku baru saja melakukan BDSM kepada Nesia tadi malam. Kiku tahu apa artinya ini; Ia akan diceramahi sepanjang hari tanpa bisa menjelaskan bahwa ia tidak melakukan apapun pada Nesia, dan bahwa ia sedang menjaga diri mereka berdua dari saling raep.
Shinemasu... – Aku mati...
.
.
"Cepat lepaskan Nak Nesia dan jelaskan semuanya pada kami!"
"Kami?" Kiku mengulang pernyataan Kakek Tara.
-Ehem...-
Kiku mendengar seseorang berdeham untuk mengambil perhatiannya. Tentu saja perhatian Kiku terambil dan jantungnya berdetak lebih cepat ratusan kali lebih kencang daripada sebelumnya sebagai akibatnya. Kiku menoleh ke arah suara dehaman itu. Pandangannya berubah menjadi horor dan panik. Ia merasa ingin mati saat ini juga.
Tidak, ingin mati pun tidak cukup untuk mendefinisikan perasaan Kiku saat ini, saat ia melihat Mei, Hong, Vie, Thai dan Yong berdiri mematung di sana. Ralat, Mei berada di bopongan Hong karena ia sudah pingsan sejak melihat 'kenyataan' ini. Sedangkan Vie tengah menyender lemas ke arah Thai yang meremas Toto-chan dengan penuh dendam kesumat. Hanya Yong saja yang terlihat senang, entah kenapa, pemuda Korea itu mulai tebar-tebar potongan kertas blink-blink sambil bersiul menggoda Kiku.
.
.
Kiku memaksakan dirinya untuk memejamkan matanya lagi.
Kore wa yume... desu yo ne? – Ini pasti mimpi... kan?
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Ini hanya salah paham! Benar kan, Nesia-san?!" ucap Kiku panik meminta dukungan. Ia tidak bisa bergerak sekarang karena berada di posisi duduk seiza dengan tangan terikat di belakang. Posisi yang membuatnya tidak berdaya dan tidak berbahaya.
"Jangan berani-berani melirik ke sini! Dasar otaku hentai! Rendah!" salak Mei garang sembari menyembunyikan Nesia yang berada di dalam pelukannya.
"A-aku nggak bisa bernafas..." rengek Nesia mencoba untuk melepaskan diri, namun semua daya yang dikeluarkannya tidak ada yang berhasil.
Sejak Mei berhasil disadarkan tadi, gadis Taiwan itu terus menempel dan menyembunyikan Nesia, plus memaki Kiku bersama dengan Kakek Tara, Thai dan Vie. Ia tidak percaya – benar-benar tidak percaya, walau sebenarnya mungkin masuk akal kalau Kiku memperlakukan Nesia seperti ini. Mei mengambil nafas lagi, bersiap untuk memulai mengadili, "Aku malu sebagai saudaramu! Aku tahu kau itu otaku! Aku tahu kau itu suka melihat anime yang aneh-aneh! Aku paham kau seorang fudanshi! Tapi kenapa kau harus menjadi seperti ini?! Kenapa?!" lanjut Mei dengan nada terkhianati.
"Mei-san... Tolong, jangan mendramatisir... juga jangan bilang seperti aku sudah melakukan tindakan kriminal ataupun hal terkutuk..." ucap Kiku tenang.
-YANG KAU LAKUKAN ITU SANGAT TERKUTUK!-
"Lihat yang kau lakukan pada Nesia sekarang! Dia ketakutan! Kau masih bisa bilang ini bukan hal terkutuk?!" lanjut Vie.
Sebenarnya apa sih yang mereka sangkakan padaku!? Dan Nesia-san ketakutan karena reaksi Mei-san! Bukan karena aku!
Kiku menghela nafas lelah. Ia tidak tahu harus berbuat apa dari situasi semacam ini. Posisi yang menguncinya serta pintu keluar dari kamar ini yang dijaga dan dihalangi oleh Hong dan Yong Soo, membuatnya tidak bisa melarikan diri. Kalau sudah begini, tidak ada jalan lain selain mengamini apa mau saudaranya ini.
"Hai... Itu benar... Aku marah pada Nesia-san... Aku melakukan kekerasan pada Nesia-san... Aku melakukan tindakan asusila... Aku memaksa Nesia-san... dan semua yang kalian bayangkan itu... Terus apa? Nesia-san sendiri tidak keberatan..." tantang Kiku dengan intonasi yang cukup datar pada teman-temannya yang segera memucat sesaat setelah kalimatnya selesai.
"Jadi ini jawabanmu?! Ini jawabanmu?!" ucap Mei sembari melepas Nesia dan menyerahkannya ke Kakek Tara, gadis itu membunyikan jari-jemarinya yang lentik menjadi simfoni yang mematikan, "Vie... Kau bawa dayung yang kemarin kan?"
"Ya... Ada di luar... Tunggu sebentar..." tukas Vie sembari bergegas keluar mengambil sebuah dayung keramatnya tercinta.
"Thai! Kau siapkan Black Magic-mu!"
"Sudah siap, ana!" sahut Thai sembari tersenyum horor ke arah Kiku.
Ara...
*O*
"Nak Kiku... Hei... Nak Kiku..." seru Kakek Tara mencoba menyadarkan Kiku lagi.
Kiku tidak bergerak, ia masih dongkol dan berpura-pura untuk pingsan.
"Aduh... Apakah Hyung mati, da ze?!" seru Yong Soo khawatir.
Hong hanya memutar matanya memberi tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Ia tahu pukulan Mei, walaupun cukup kuat, tidak akan berdampak separah itu pada Kiku. Dia sendiri masih bisa menahannya dengan baik. Dayung keramat yang dibawa Vie pun hanyalah barang suvenir berbahan sintetis yang tidak begitu keras. Hong menyangsikan bahwa orang seperti Kiku akan pingsan –kalau orang lain mungkin Hong akan percaya. Sedangkan santet milik Thai, tidak terlihat tanda-tanda bekerja. Mungkin kurang kuat, atau mungkin santet tidak bekerja pada orang-orang yang hidupnya dikelilingi teknologi dan pikiran kritis-analitis-logis.
"Mereka sudah pergi, Gege..." ucap Hong sembari mendorong tubuh Kiku agar berbaring miring, tidak tengkurap lagi.
"Nesia-san?" tanya Kiku pendek pada Hong.
"Dibawa..."
"Hgh..."
"Syukurlah... Kukira hyung akan mati atau apa, da ze..." seru Yong Soo lega. "Hyung membuatku takut saja, da ze!"
"Nak Kiku benar tidak apa-apa? Kupikir pukulan tadi cukup keras..." tanya Kakek Tara khawatir.
"Ini sudah biasa..." jawab Hong datar.
"O-oh... Kebiasaan kalian seram sekali..." gumam Kakek Tara.
"Ano... Bisa lepaskan ikatanku dulu?" tegur Kiku sembari berusaha untuk duduk.
"Ah... Sebelum itu... Aku akan tanya satu hal..." seru Kakek Tara dengan semangat yang mengundang seluruh kecurigaan Kiku.
"Nan... desu ka?" –apa itu?
"Jadi... Bagaimana, Nak Kiku?" tanya Kakek Tara semangat dan antusias.
"Nani ga? –apanya?" Kiku mulai memasang facepalm, batinnya merasakan bahwa ia akan kembali diadili, dan ia tahu bahwa pertanyaan itu akan mengarah ke sesuatu yang terjadi tadi malam. Namun Kiku tidak mau membahasnya, maka ia mengalihkannya, "Pukulannya? Lumayan sakit..." jawab Kiku malas.
"Bukan! Uh... Jadi rencanaku berhasil dengan sempurna?" tanya Kakek Tara, "Tidak juga, yah... kalau hasilnya seperti ini, sih... berarti kita gagal Hong..." jawabnya sendiri.
"Ini karena gege yang menghancurkannya..." balas Hong tajam.
"Tunggu... Rencana apa?" kali ini Kiku benar-benar bingung.
"Honeymoon..."
.
.
"Heh..." ejek Kiku penuh kemenangan.
.
.
.
"Sialan, anak itu!" bisik Kakek Tara jengkel pada Hong di acara briefing mendadak, "Awas ya!"
"Tapi setidaknya mereka melakukannya?" bisik Hong dengan datar.
"M-melakukan apa, da ze?! Apakah hal terlarang, da ze?! Hal terkutuk, da ze?!" Yong Soo mulai panik sendiri, mengayun-ayunkan tangannya dengan kencang, "Hyung bersekutu dengan setan, da ze?! Gawat! Hyung sendirian juga sudah seram, da ze! Kalau Hyung jadi komandan pasukan setan dan membawa mereka ke camp ini bagaimana, da ze?!" seru (bisik) Yong Soo kalang kabut yang disambut dengan raut muka 'kau-kehilangan-akalmu?' milik Kakek Tara dan Hong.
"Kita coba lagi?" bisik Hong sembari mengekang Yong Soo kuat-kuat agar kelakuannya tidak semakin menjadi.
"Uuung!" erang Yong Soo tak bisa melawan.
"Kalau begitu malam ini harus berhasil!" bisik Kakek Tara penuh dedikasi, "Kau akan membantuku kan, Nak Hong?! Nak Yong Soo?!"
Hong menganggukkan kepalanya mengerti dan memaksa kepala Yong Soo untuk mengangguk juga walaupun sejatinya Yong Soo sudah menggelengkan kepala dengan histeris, "Aku nggak mau dimakan, da zeee! Umph!"
.
.
"Oke... Kau bisa hancurkan tadi malam tapi tidak dengan malam ini!" seru Kakek Tara menantang Kiku, "Kau akan melakukannya dengan lembut!"
"Memotong dahan bonsai?" balas Kiku random, tidak mau tahu.
"Tunggu saja, Nak Kiku!" bisik Kakek Tara jengkel pada forumnya sendiri.
Kiku hanya bisa mendengus lelah. Ia tidak mau kejadian seperti tadi malam terulang. Sudah untung ia bisa selamat dan nyawanya diampuni kemarin, kalau harus mengulanginya nanti malam? Tidak. Bagaimana kalau nyawanya tidak terampuni lagi? Bagaimana kalau ia benar-benar kehilangan...
Tidak.
Tidak.
Cukup. Tidak perlu dipikirkan. Ia hanya perlu kabur sejauh mungkin dari mereka bertiga; Kakek Tara, Hong dan Yong Soo.
"Jadi... tadi malam melakukan apa saja?" tanya Kakek Tara lagi.
Kenapa kembali ke pertanyaan itu lagi?!
Kiku jengkel sendiri ketika kembali berhadapan dengan rasa ingin tahu kakek tua di hadapannya ini. Oh, ayolah! Kakek Tara bukan seorang mertua yang sedang meminta laporan pertanggungjawaban tentang apa yang baru saja terjadi di malam pertama anaknya bukan? Kiku pun tak perlu menjawab pertanyaan keras kepala yang ditodongkan padanya karena Kakek Tara bukan mertuanya! Lagipula dia juga tidak melakukan apapun tadi malam.
"Aku tak melakukan apapun..." jawabnya gemas.
"Tapi kau kan tidur dengannya... masa kau tidak melakukan apapun? Pasti ada bukan?" goda Kakek Tara.
.
.
.
Tidak ada jawaban.
Muka Yong Soo langsung memerah dan panas, namun tak menghalanginya untuk terus memajukan dirinya mendekati Kiku seakan-akan jika ia lebih dekat ia akan menjadi orang pertama yang tahu. Hong sendiri tak bisa menyangkal rasa ingin tahunya, namun harga dirinya membuatnya bergeming di tempat dan tidak melakukan hal-hal bodoh seperti apa yang Yong Soo lakukan sekarang.
"A... A-anatatachi! –kalian ini!" desis Kiku sebal, "Sudah aku bilang aku tak melakukan apapun padanya!"
"Loh? Kenapa? Bagaimana bisa?" Kakek Tara merengut bingung.
"Karena ini–... uh..."
Gawat... Tara-jiisan tentu tidak akan mengerti... Apa yang harus aku katakan?!
Kiku menelan ludahnya. Hampir saja ia bilang semua hal tentang moral, kehormatan, kesusilaan dan kawan-kawannya. Jika mereka suami-istri maka mereka tidak akan bermasalah dengan hal semacam itu bukan? Ia harus berpikir alasan lain.
"Tadi malam Nesia-san tidak mau berhenti menggedor pintu... Maka dari itu aku ikat dan aku tutup mulutnya sampai ia pingsan dan tertidur... Aku tidak melakukan apapun dengannya apalagi hal tentang BDSM atau lainnya..." jawab Kiku dingin mencoba siap untuk menerima konsekuensinya.
-Kreeeeeeeek... Kreeeeeek... Kreeek...-
"Nak Kiku benar-benar rendah..." ucap Kakek Tara membunyikan jemarinya, "Ini lebih rendah! Nak Kiku, bersiaplah... pukulan dari laki-laki mungkin akan lebih sakit..."
Yappari... –sudah kuduga...
*O*
"Aku... Aku... Aku tidak tahu harus apa, Vieeee! Aku ingin menangis!" seru Mei terisak di pundak Vie saat mereka berjalan di koridor Hotel tempat kejadian perkara.
"Sudahlah, Mei..." ucap Vie sembari menepuk-nepuk Mei lembut.
"Tapi... Tapi... Mereka benar menikah? Kenapa tidak ada undangan atau apapun itu ke keluargaku?! Apakah aku bukan keluarganya Kiku lagi!?" seru Mei terlalu keras sehingga membuat Nesia dan Thai yang berjalan di depan mereka menoleh.
"Ah... Eh... Uh... tidak..." ucap Mei meminta maaf, "Vie?" ucap Mei dengan nada yang lebih rendah setelah Nesia dan Thai kembali membicarakan sesuatu.
"Eh... Kalau undangan itu aku tak terlalu yakin... Mungkin karena mendadak? Tapi yang pasti, kata Thai... Kalau kakek-kakek yang tadi kita lihat itu, Kakek Tara, sudah bilang dan bertingkah seperti itu, pasti benar..."
"Siapa sih kakek-kakek itu? Tidak meyakinkan!" gerutu Mei.
"Dia... Humh... Kakek Tara itu kakaknya kakeknya Thai dan kakekku..." jawab Vie yang membuat Mei memasang muka illfeel, merasakan sesuatu yang buruk akan datang karena masalah pohon keluarga yang rumit akan segera dijelaskan.
"Jangan pasang muka seperti itu!" dengus Vie, ia mengerti Mei sedang tidak ingin sesuatu yang runyam, maka ia langsung memotong, "Pokoknya... Kakek Tara itu kakeknya Nesia... Thai pikir mungkin karena setelah berpisah begitu lama dan kemudian bertemu dengan Nesia yang kebetulan sedang 'diurusi' sama Kiku, Kakek Tara langsung saja 'mengamankan' Nesia..."
"Maksudnya?"
"Yah... Thai dengar Kakek Tara sering mengeluh sudah tua, sudah bau tanah, sudah mau meninggal... Mungkin... Sekalian ketemu seseorang yang sudah terbukti bisa dipercayakan Nesia, sekalian dititipkan? Dan kalau bisa memberinya cicit?"
"Oh... jadi karena itu..." ucap Mei menyimpulkan, "Hgh... Tapi tetap saja... Kabar ini begitu mengagetkan..."
"Tapi... Itu berarti kita benar-benar menjadi saudara bukan?" ucap Vie sembari tersenyum lembut.
"Aku yang jadi kakak!" seru Mei kembali ceria dan semangat.
"Kan Nesia lebih muda daripada aku dan Thai?"gumam Vie memupuskan harapan Mei, "Nesia malah yang jadi kakakmu bukan? Soalnya Kiku lahir Februari sedangkan kau Oktober?"
Raut muka Mei yang tadinya kesal kini berubah jadi horor, "Nesia!"
"Huh?" merasa namanya dipanggil, Nesia pun menoleh ke belakang, "A-ada apa, Mei-senpai?"
"K-kau... Jadi kakakku?!"
"Uh... Eh... Mei-senpai... Aku tidak bisa... Maaf... Masalahnya..." Nesia tampak berpikir, "Mei-senpai kan lebih dewasa?"
"Bagus!" seru Mei sembari memeluk Nesia, "Panggil aku Mei-jiejie mulai sekarang!"
"Mei... jiejie?" ucap Nesia bingung.
"Kau memang pintar!" seru Mei sembari mengacak rambut Nesia dan melepaskannya untuk kembali ditanyai oleh Thai yang masih mendengus sebal gara-gara santetnya tidak berfungsi.
.
"Tapi... Aneh juga..."
"Kenapa lagi?" tanya Vie bingung.
"Aku kagum dan heran... Paman, maksudku ayahnya Kiku, bisa setuju... Padahal orang itu kan... Hiy..." Mei bergidik ngeri mengingatnya.
"Eh... Seingatku Kakek Tara juga mengerikan kalau serius..."
"Yah... Mereka para pengusaha veteran..." sahut Vie agak ngeri membayangkan bagaimana 'transaksi komitmen' yang terjadi.
"Itu sangat mengerikan... Entah mengapa... Aku jadi merasa bersyukur tidak ada di pernikahan mereka..." ucap Mei dengan nada yang ikut bergetar bersama tubuhnya, "Nesia... Kau pasti ketakutan..." ucapnya sembari merengkuh tubuh mungil Nesia dan kembali menghentikan percakapan gadis cilik itu pada Thai.
"Mei-se-... uh... Mei-jiejie?"
"Tidak apa-apa... Kau adikku sekarang... Aku akan melindungimu! Aku pasti melindungimu dari Kiku!"
"Kenapa... dengan Honda-senpai?" tanyanya lagi, lirih, tak mengerti.
"Uh?" Mei mengedipkan matanya, baru menyadari sesuatu yang janggal.
Adik tingkatnya itu kembali bertingkah seperti saat pertama kali ia kenal. Seperti 'Nesia' anggota klub tarinya. Diam, polos, pemalu, takut-takut, dan seperti anak kecil. Bukan seseorang yang keliatannya agak tegas walaupun masih polos dan lemot dan agak dewasa sedikit.
"Nesia?"
"Ya, Mei-jiejie?"
"Menurutmu... Kiku –bukan... Honda-senpai orang yang seperti apa?" tanya Mei menguji.
Raut muka Nesia berubah. Selain semburat warna merah yang menghiasi pipi langsatnya, matanya pun berubah, berbinar seakan mencoba mengatakan banyak hal istimewa dan sempurna tentang orang yang dimaksud.
Mei tahu satu hal yang pasti, Nesia sangat berbeda.
Entah mengapa Mei merasa sedikit ngeri dan mendengar panggilan yang menyuruhnya untuk berbalik dan membunuh Kiku sekarang ini juga.
"Honda-senpai adalah pangeranku! Honda-senpai sudah janji seperti itu!" sahutnya semangat.
"Tunggu! Kalian berdua mau kemana?!" seru Vie sembari menahan Thai dan Mei yang merasakan tarikan kuat untuk kembali ke kamar di lantai 10 dan melakukan pembunuhan sadis di sana.
"Mencoba menyantetnya lagi, ana! Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku!" jawab Thai penuh semangat gelap.
"Aku akan membantu Thai!" sahut Mei.
"Abang Thai... Tidak boleh menyantet Honda-senpai! Soalnya Kak Karti-..."
"Huh?"
"Soalnya Perti-... S-soalnya Nesia yang melindunginya!" lanjut gadis kecil itu lagi gelagapan.
"Kenapa kau malah melindunginya, Nes?!" seru Thai jengkel sembari mengguncang tubuh Nesia, "Sudah cukup! Kalau kau melindunginya seperti itu... Tidak apa-apa, ana... Kalau otomatis tidak bisa, secara manual pun oke, ana..." seru Thai disertai seringaian yang manis-manis mengerikan, ia kembali menuju ke arah kamar hotel Kiku sebelum ditahan lagi oleh Vie.
"Itu benar! Manual juga bisa!" seru Mei setuju.
"T-tunggu! Kalian ini! Jangan bercanda!" Vie mulai kewalahan.
*O*
"Tapi ini mustahil! Tidak mungkin! Tidak masuk akal!" seru Razak sembari menambah kecepatan berjalannya mengitari ruangan.
"Iya! Aku tahu itu! Maksudku... Nesia juga masih sekolah! Masih tahun pertama, sekelas dengan kita!" imbuh Maria.
Lee dan Haqq hanya bisa menolehkan kepala mereka mengikuti gerakan kedua sahabatnya itu untuk mencari sebuah pencerahan. Mereka sama sekali tidak paham apa yang terjadi dengan dua makhluk aneh yang sejak pagi buta mengganggu kehidupan damai mereka dengan kalimat-kalimat konyol seperti "Tidak mungkin terjadi!" atau "Ini tidak masuk akal!" atau "Ini tidak bisa dibiarkan!". Tapi menyela pun mereka tidak mampu karena akan langsung menuai kalimat yang lebih aneh lagi; "Kita harus merencanakan operasi coretpenculikancoret merebut Nesia dari tangan kakak tingkat itu!"
Haqq sungguh khawatir pada Maria. Gadis itu terlihat sungguh kesal, sangat berantakan, sangat lelah. Dari kantung mata dan wajah lesunya Haqq dapat membaca bahwa Maria sama sekali tidak tidur tadi malam. Kuncir twintail-nya pun kusut, satu pita sudah longgar dan siap untuk jatuh meninggalkan rambut ikal gadis Filipina itu. Begitu pula dengan Razak, kondisinya tidak lebih baik daripada Maria dengan rambut, muka, baju yang lebih semrawut dan kusut dari pada sehabis bangun tidur. Haqq bertanya-tanya berapa kali Razak mengacak rambut karena kesal serta mengusap muka frustrasi seperti yang sekarang ini tengah dilakukan kembali.
"Maria, apa yang sebenarnya terjadi pada Nesia?" tanya Haqq hati-hati.
"Itulah! Kita harus segera menjemputnya! Kemudian merebutnya kembali! Nesia itu milik kita!" seru Maria sembari menghentikan langkahnya, "Pikirkanlah sesuatu!"
.
.
.
"Bagaimana kalau kalian istirahat dulu, laa? Ini sudah menginjak siang... Kalian seperti mayat hidup saja!" seru Lee mengingatkan.
"Tapi kan, Lee!" tolak Maria dan Razak bersamaan.
"Aku kan mindmaster di sini?" Lee memastikan posisinya, "Aku salah?" tanyanya lagi sembari membenarkan kacamatanya.
"Iya... sebaiknya kalian istirahat dulu... Kalau Nesia melihat kalian seperti ini, pasti kalian kena marah... Nanti bukannya berhasil kita rebut, ia malah memilih bersama kakak tingkat itu! Bagaimana?" seru Haqq, "Lagipula, setelah makan siang nanti bukan acara bebas lagi... Kita ada acara bersama untuk pergi ke museum kota dan tempat-tempat lainnya bersama-sama rombongan..."
"Ya... Saat itu Nesia akan bersama kita, laa? Dia kan kelompok kita?" tambah Lee.
Maria dan Razak spontan memberikan seluruh perhatian yang mereka miliki pada Lee. Mereka menunggu Lee untuk kalimat yang menentukan, kalimat yang ada di atas awang-awang mereka tapi tak terucapkan.
"Kita bisa merebut Nesia saat waktu kelompok, laa... Kemudian sepulang camp ini... Nesia tidak akan bersama dengan kakak tingkat itu..." ucap Lee dengan senyum licik penuh arti sembari membentuk lingkaran dengan jemarinya kemudian memainkannya di depan mulutnya.
*O*
Siang itu cukup panas. Matahari bersinar kelewat terik, tak memberi ampun pada makhluk-makhluk yang menggeliat kepanasan di bawah terpaannya. Termasuk pada sekelompok siswa yang seharusnya sudah terbiasa hidup di bawah naungan matahari sepanjang tahun karena tempat tinggal mereka yang tidak jauh-jauh amat dari garis khatulistiwa. Mereka tetap saja melolong tak percaya pada matahari yang kiranya sedang tersenyum licik pada anak-anak dari Asia Tenggara itu. Ditambah lagi dengan ribuan manusia yang menghimpit mereka di antrean untuk masuk ke dalam sebuah museum. Membuat kondisi gerah yang sudah buruk menjadi mematikan.
"Ih! Aku nggak ngerti kenapa bisa sepanas ini!" keluh Maria sembari mengusap peluh di pipinya.
"Padahal aku sekolah di Eropa biar dapet dingin, laa..." gumam Lee sembari terus mengipasi dirinya sendiri dengan brosur yang diterimanya saat di halaman museum, "Aku tidak yakin kita akan masuk ke bangunan itu, laa... Dari sini saja kelihatan kalau bangunan itu akan membunuh siapa saja yang masuk ke dalamnya..."
"Kita kabur saja gimana?" balas Maria mulai merencanakan tindakan tidak terhormat sembari mendorong balik pengunjung lain yang tidak sengaja mendorongnya.
"Jangan! Kita tidak boleh melakukannya! Nanti kita dimarahi... Lagipula tidak ada salahnya berkunjung ke museum, menambah pengetahuan kita..." ujar Haqq mencegah kedua temannya dari menghindari acara bersama sekolah.
"Iya... Tapi aku juga tidak mau mati tertelan oleh antrean ini, apalagi oleh panas yang seperti neraka ini!" jawab Maria membela pemikirannya untuk kabur.
"Percayalah... Ini tidak akan membunuh..." ucap Haqq sembari tersenyum kalem walaupun bajunya pun sudah basah oleh keringat.
Lee menghela nafas lelah, sedangkan Maria memutar bola matanya jengkel. Mereka tahu mereka tidak boleh kabur, tapi lihat! Lihatlah ke arah mulut bangunan mengerikan yang telah penuh sesak dengan ribuan nyawa itu!
"Ini tidak akan seburuk yang kalian pikirkan..." ucap Haqq lagi mencoba menaikkan mood.
Lee mendengus sebal. Padahal Haqq telah membaca brosur yang Lee kibaskan terus menerus demi sebuah tiupan angin, tentang alasan kenapa museum yang biasanya kosong tanpa pengunjung bisa penuh sesak seperti ini. Pada hari ini, saat sekolahnya mengadakan kunjungan mengerikan ini.
Kenapa mereka tidak memilih hari lain? Atau... Tidak bisakah kita pergi besok atau lusa saja?
"Lagipula hari ini ada penambahan koleksi baru di museum, juga ada event tahunan... Pas sekali bukan?" seru Haqq lagi, masih mencoba menaikkan mood para sahabatnya.
"All hail, positive thinking!" dengus Maria jengkel sekaligus iri pada pemikiran Haqq yang terlalu 'bersih'.
"Terimakasih..." ucap Haqq sembari tersenyum lembut, salah mengartikan.
"Hahaha... Sama-sama..." jawab Maria lelah.
"Hei! Ini minumannya!" seru Nesia menyusup, memaksa menerobos antrean padat di belakang Maria, namun baru satu tangannya yang berhasil bebas, "Pegang dulu, tolong! Aku tersangkut!"
"Tentu saja!" dengan senang hati Maria menggapai kaleng minuman yang dingin dan berembun sebelum Lee merebutnya, "Ladies first!"
Lee mendengus jengkel pada Maria yang kini tengah menempelkan kaleng yang menyejukkan itu di pipinya.
"Hei! Tolong aku!" seru Nesia meminta bantuan.
Tangan Lee yang masih menggantung di udara akhirnya beralih menarik Nesia, membantu gadis itu untuk menerobos orang-orang di belakangnya, "Permisi, dia temanku... Mau lewat..." ucapnya memohon kelonggaran untuk jalan Nesia.
"Uh! Razak masih di belakang!" seru Nesia lagi pada Lee.
"Yang penting kau ke sini dulu, laa... Razak biarkan saja gepeng..." ucapnya sembari menarik Nesia dengan kuat sehingga gadis itu berhasil keluar dan mendarat di pelukannya, "Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut dan tenang.
"U-uh... Ya... Terimakasih... Maaf merepotkan..." ucap Nesia sembari membetulkan pijakannya.
"Fine, laa..." ucap Lee tersenyum lembut sembari membetulkan kaca matanya, "Minumanku?"
"Uh... Oh... Ya... Silahkan..." ucap Nesia kaget sembari memberikan kaleng ice coffee pesanan Lee.
"Terimakasih..." ucapnya sembari membuka kaleng minuman dan meminumnya. Ia kemudian berbalik badan untuk melihat kemajuan kondisi pintu masuk yang tampaknya nihil - dan mereka pun masih jauh dari sana, "Kukira kita baru akan masuk sore nanti... Ini menyebalkan sekali, laa..."
"Ya... Menyebalkan sekali..." gumam Maria lirih penuh kesumat, "Peng-khi-a-nat!"
"M-masa pengkhianat sih? Lee kan tidak melakukan apa-apa!" ucap Haqq sembari menahan tubuh Maria yang ia kira akan loncat dan menghujam kemudian menghabisi Lee.
"Dia bersikap sok cool gitu!" serunya pada Haqq tanpa Lee sadari, "Dia musuh dalam selimut!"
"Ya enggak lah... Lee cuma membantu Nesia!" balas Haqq tidak percaya.
Maria hanya bisa mendengus sebal dan berusaha melepaskan diri dari Haqq, "Nesia! Di mana Razak?!" tanyanya dengan suara yang membuat Nesia merengut bingung.
"U-uh... Masih di belakang..." ucap Nesia inosen.
"Aku akan cari Razak deh..." ucap Haqq mencoba menetralkan kejengkelan Maria, "Kalian tunggu di sini, ya..."
"Tidak per-lu..." ucap sebuah suara di belakang mereka, suara yang terjepit oleh tubuh orang-orang yang berdesakan.
"Razak!" panggil Haqq khawatir sembari menarik pemuda Malaysia itu untuk bebas.
"Hgh... Akhirnya..." desah Razak lelah, " Ini minumanmu..."
"Ah... Terimakasih..." ucap Haqq sembari menerima kaleng dingin berlabelkan ice lemon tea.
"Kau dari mana saja?!" dengus Maria jengkel pada Razak.
"Aku tertahan di belakang..."
"Kau tahu! Tadi... Baru saja-Uh!"
"Ada harimau lewat!" potong Haqq sembari menutup mulut Maria.
"Apa iya?" tanya Nesia antusias.
"Jelas mereka bercanda lah, Nes..." Razak memutar bola matanya.
"Oh..."
"Hei! Teman-teman! Aku melihat jalan! Cepat!" ucap Lee sembari menarik seseorang di belakangnya; Nesia.
"Hei! Tunggu!" ucap Razak sembari menggapai tangan Nesia yang satu lagi, "Haqq..."
"Un..." Haqq mengangguk mengerti dan membawa tangan Maria ke genggaman Razak sementara ia menjaga paling belakang untuk melancarkan ide menerobos yang Lee pikirkan.
*O*
Yong Soo kembali menjauh, bersembunyi di belakang Mei demi kesehatan dan keselamatan jiwanya yang kembali terancam oleh seseorang yang kini telah berubah menjadi monster super berbahaya yang tampaknya siap untuk menghancurkan sebuah kota –salah, negara. Bahkan arisan ibu-ibu Godzilla di tengah kota tidak lagi terdengar lebih mengkhawatirkan daripada mood pemuda yang sedari tadi mata onyx-nya terus menyapu seluruh sudut pandangan sembari mencuri-curi foto akan hal-hal yang random. Yong Soo tahu sebenarnya Kiku tengah mencari seseorang yang kini ia tempatkan pada jabatan kakak sepupu ipar -bukan adik kelas lagi.
"Moodnya hyung mengerikan, da ze..." keluh Yong Soo.
"Hgh... Tau gitu sih, tadi kita tahan aja biar dia tenang..." gumam Vie heran.
"Tidak bisa, ana! Aku tidak akan membiarkan Nesia dilempar untuk menjadi tumbal penenang Kiku, ana!" seru Thai sebal.
"Itu benar!" imbuh Mei.
"Ya tapi... Sekarang jadi seperti ini..." jawab Vie sembari menunjuk ke arah Kiku.
Di sekeliling Kiku sangat longgar, bagaikan ada sebuah lingkaran yang menghalangi dan mencegah orang-orang untuk mendekatinya. Sehingga, ketika Kiku berjalan di antara kerumunan orang-orang, mereka langsung menepi karena -mungkin- merasakan bahaya.
"Tampaknya Nesia memang harus menjadi tumbal agar orang itu mau tenang..." ucap Vie datar.
"Vie!" sela Thai tidak percaya.
"Ya daripada ada tragedi pembantaian atau yang lebih parah?" jawab Vie sembari membuang mukanya.
"Tapi Nesia ada jauh di belakang..." ucap Hong datar memberikan informasi.
"Ya! Seluruh adik kelas ada di belakang dan kita tidak bisa berhenti di sini untuk menunggui mereka... Kita harus terus berjalan..." sahut Mei sembari mendorong Vie melewati senjata-senjata kuno yang sudah tidak utuh.
"L-lagipula kalau kita menunggu dan benar-benar bertemu dengan kelompok mereka... Nanti hyung malah rebutan... terus ada kekerasan... terus ada... ada..." Yong Soo mencoba meyakinkan kelompoknya untuk terus berjalan.
Uh... Ya... Pasti ini akan berujung tragedi...
"Tapi... walaupun begini keadaannya... Aku pun tidak menyukai ini! Aku merasa seperti dikalahkan dan aku mulai khawatir kalau Nesia berbalik ke arah adik tingkat itu..." ucap Mei kesal yang entah mengapa membuat Kiku melinguk.
Keringat dingin spontan membasahi Mei, Hong, Vie, Thai dan Yong Soo. Mereka semua menggeleng, menolak untuk mengulangi apa yang baru saja mereka diskusikan. Mereka tak mengerti, mengapa Kiku bisa menjadi sesensitif dan se-tidak-seperti-Kiku ini. Setelah pemuda itu berbalik badan, kembali mencari gadis dari khatulistiwa, barulah mereka berlima menghela nafas panjang dan mengendurkan otot yang tadi sontak menegang.
"Sudahlah Thai! Aku tahu ini egois... Tapi ini diantara nyawa orang banyak atau nyawa Nesia sendiri... Lagipula kupikir Nesia tidak terlalu keberatan..." ujar Vie membujuk Thai.
"Tapi!"
"Teman-teman, hyung menghilang, da ze!"
.
.
Oh... God... No...
*O*
Kiku berdiri di depan palang yang bertuliskan 'Don't take pictures'. Pemuda itu memandanginya dengan jengkel dan emosi. Setelah puas mengutuki tanda larangan yang tak bersalah itu dengan tatapan mata seramnya, ia akhirnya beralih pada pintu keluar di sebelah pameran ratusan topeng dari berbagai negara. Ia sudah tidak kuat lagi untuk berada di dalam museum yang entah mengapa membuat panas hatinya semakin membara. Mungkin karena musim panas, gerah, terjepit, banyak orang. Mungkin karena ia tak kunjung menemukan seorang gadis yang memiliki banyak kepribadian. Atau mungkin, karena tadi ia ketahuan mengangkat kamera oleh petugas, padahal ia tidak ingin mengabadikan apa yang dipamerkan.
Oh, please! Demi Tokyo Tower yang bercat merah! Mengabadikan momen emas USUK atau PruAus atau GerIta atau RoChu lebih berharga dibandingkan bom yang sudah lapuk dan karatan.
Kiku menghela nafas lelah setelah berhasil duduk di salah satu bangku kafe di taman belakang museum tersebut. Setelah memesan ocha yang entah kenapa bisa ada di sana, Kiku pun membuka buku catatannya dan kembali berkutat pada isi buku kecil berukuran 11 cm x 8,5 cm itu. Kembali ke pada permasalahan Nesia dan alter-alternya yang malang dan butuh perhatian. Kiku mulai dari menyusun seluruh urutan Alter Nesia. Mulai dari Inesia, Pertiwi, Ina, Ayu-Garuda, Tara, Kirana, Ina no. 2, Kartika, Lestari, Nesia no.1 dan terakhir Nesia no. 3. Itu 12 personalitas yang sangat banyak. Terlalu banyak untuk Nesia.
Kiku menautkan tangannya seraya berpikir. Ia baru sadar kalau ia belum bertanya tentang tiga alter paling awal milik Nesia. Terutama tentang Inesia, alter paling genuine yang baru Kiku ketahui kemarin, yang membuat semua hasil berpikir kerasnya menguap sia-sia. Akan tetapi menjawab kenapa Thai mengenal seseorang bernama Nesia yang menjadi saudaranya itu karena Inesia bisa dipanggil sebagai Ines atau Nesia. Kiku kembali menghela nafas setelah membubuhi tanda centang pada pertanyaan yang ditulis oleh dr. Greef saat ia sakit dulu.
Aku bahkan belum menagih jawaban dari Thai-san... Tapi saat ini Thai-san sedang marah-marah...
Perhatian Kiku sedikit teralih pada kedatangan seorang pelayan yang membawa ocha-nya. Ocha dingin yang menyegarkan dan tidak terlalu pahit karena diseduh dengan sempurna. Di sebelahnya diletakkan pesanan Kiku yang lain, jajanan manis berbentuk bunga sakura yang terlihat lucu dan beberapa macam kue manis lainnya. Kiku tersenyum kecil saat membungkus kue berbentuk bunga sakura itu dan meletakkannya di tas kecil miliknya. Senyum Kiku semakin melebar saat membayangkan wajah Nesia ketika menerimanya nanti sampai-sampai tak terasa ia sudah mulai menarik perhatian pengunjung lain.
Kiku berdeham sembari membuka lagi buku catatannya. Kembali ia pada pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah dibuatnya. Ia pun kembali memberikan tanda centang pada urutan Alter Nesia. Lalu bagaimana dengan Pertiwi yang sekolah di Hetalia Elementary School serta Kartika yang ada di Patricia Elementary School? Ada enam alter di antara mereka berdua!
Enam. Tidak kurang.
Kiku kembali kebingungan sekarang. Menurut deduksi awalnya, mungkin saja Pertiwi memang sekolah di Hetalia Elementary School kemudian dipindahkan ke Patricia Elementary School. Tapi, yang pertama untuk apa ia dipindahkan? Kedua, kenapa jauh sekali? Apakah ini karena reshuffle panti asuhan yang dikatakan oleh Garuda? Kalau begitu kenapa tidak masuk dorm? Selain itu, ketiga... Kenapa ada banyak sekali, maksud Kiku enam alter, di antara Pertiwi dan Kartika? Padahal menurut yang diceritakan, Garuda, Ayu, Tara, Kirana, Ina no.2 memiliki waktu aktif yang cukup lama sampai akhirnya mereka tertidur, rusak dan digantikan. Apalagi ditambah Ina yang asli. Oke... Kalau Pertiwi hanya di kelas satunya berarti keenam alter itu ada saat kelas dua dan tiga?
Enam dalam dua tahun? Yang benar saja!
Jika benar seperti itu, pasti dua tahun itu adalah dua tahun yang paling mengerikan dalam hidup Nesia. Sosok gadis kecil tak berorang tua yang lemah dengan rambut terpotong acak-acakan, baju lusuh, luka di sekujur tubuh yang kelaparan serta dijahati habis-habisan oleh lingkungannya pun mulai merasuki pikiran Kiku dan membuatnya mimpi buruk di siang bolong. Tangan kanan Kiku berpindah dari memegang bolpen menjadi menutupi mulutnya. Entah mengapa perasaan yang mulai merasuki hatinya membuat perutnya jungkir balik dan nafasnya tercekat hebat.
Iie... Sonna mono... Nesia-san ni... –Hal seperti itu... Pada Nesia...
Kiku mulai menggigit bibir bagian bawahnya ketika merasa matanya panas dan tubuhnya bergetar. Segera ia raih ocha dinginnya dan ia teguk sampai Kiku (agak) tenang kembali. Setelahnya, Kiku masih memegang gelas itu erat-erat sebagai upaya berjaga-jaga karena hal-hal psikologi yang mungkin Nesia rasakan saat itu mulai masuk dan mempermainkan jiwanya. Sosok yang menyedihkan itu kesepian, ketakutan, terkhianati, dipenuhi dengan kebencian, Kiku bahkan membayangkan Nesia menyendiri di sudut ruangan yang gelap tanpa ada yang peduli akan keberadaannya dan keadaannya.
"Nesia-san..." gumam Kiku lirih. Ia mencoba melawan ngilu yang menyiksa di dalam dirinya, mencoba menahan air mata yang hampir saja melarikan diri dari kelopak matanya dan langsung mengusap mukanya sebelum orang lain berpikir bahwa ia adalah orang gila; sedari tadi senyum-senyum sendiri, kini menggigil menahan sakit.
Ocitsuitte! Honda Kiku! Dame desu! -Tenanglah! Honda Kiku! Jangan seperti ini!
Kiku terus mengingatkan dirinya kalau ia sedang berada di ruang publik. Banyak sekali orang-orang berlalu lalang. Walaupun tempat Kiku duduk cukup membuat orang lain tidak menyadari apa yang ia perbuat, tapi ia sebagai seorang pria seharusnya tidak melakukan sesuatu yang berbahaya bagi reputasinya sebagai seorang pria seperti ini. Jika ia meneruskannya, maka benar semua kata Elizaveta; ia dilahirkan sebagai Uke, dan itu tidak mungkin!
Lagipula, apa yang bisa ia raih dengan bersedih seperti ini? Masa lalu Nesia tidak akan pernah berubah.
Masa depan Nesia-lah yang bisa ia ubah.
Kiku mengepalkan tangannya, meremasnya kuat-kuat sembari bersumpah bahwa ia akan memberikan dunia yang lebih baik untuk Nesia. Dunia yang penuh dengan 'hearts and flowers'. Dunia tanpa ada rasa takut dan kesepian, dimana senyum dan tawa Nesia bisa abadi. Kiku ingin sekali menghadirkannya untuk Nesia.
Tapi pertanyaannya, apakah ia sendiri bisa?
Dia hanyalah seorang Kiku. Dia bahkan juga menginginkan orang lain menghadirkan dunia ideal seperti itu untuk kehidupannya yang monoton dan kosong. Kiku pun terus bertanya-tanya, bisakah ia, seseorang yang monoton, datar, membosankan, memiliki dunia sendiri yang jarang dimengerti orang lain, otaku kelas berat –seorang fudanshi juga, hanya seorang pengikut – entah itu Ludwig ataupun Alfred yang diikutinya, bukan seorang alfa atau dominan atau tokoh utama, bahkan teman-temannya sering bilang bahwa tatapan matanya begitu kosong dan datar. Bisakah ia menghadirkan dunia yang cerah dan berwarna-warni untuk Nesia yang bahkan lebih ceria dan semangat daripada dirinya? Bisakah ia menjadi seseorang yang Nesia butuhkan sedangkan dia sendiri seperti ini? Apakah ia harus berubah?
Kiku memejamkan matanya sembari terus berpikir. Ia tidak mungkin berubah, maksudnya, berubah menjadi seperti apa? Jika ia harus berubah menjadi seorang Alfred atau mungkin Feli yang sangat ceria, tentunya ia tidak akan bisa dan malah akan terlihat aneh – bahkan mengkhawatirkan. Kiku masih ingat bagaimana Ludwig yang khawatir setengah mati. Pemuda Jerman itu harus begadang demi mencari cara untuk mengembalikan Kiku yang ketularan Feli untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Hal ini terjadi setelah Feli membawanya ke Italia untuk liburan.
Maka tidak. Lagipula, jika ia menghadapi Nesia dengan tidak menjadi dirinya sendiri, maka itulah bukti mereka benar-benar tidak cocok –bahkan sejak awal.
Lupakan. Itu tak akan pernah berhasil.
Setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri, Kiku pun kembali menghadapi catatan kecilnya. Ia mulai lagi dengan mencoba memperkirakan waktu-waktu milik para alter Nesia. Inesia yang paling awal mungkin ada saat 0-4 tahun dan dia mengalami hal yang amat-sangat-teramat buruk sehingga bisa membuat sistem alter ego ini. Kiku teringat Thai yang pernah mengatakan Nesia menghilang entah kemana saat berumur empat tahun. Mungkin saja, sebuah tragedi terjadi di sini, dan Kiku harap itu bukan sesuatu seperti Nesia melihat pembantaian kedua orang tuanya atau-...
Ugh... Iie! Sonna mono... – Tidak! Sesuatu seperti itu...
Kiku meninggalkan kalimatnya tergantung. Tidak ada keberanian untuk melanjutkannya ataupun berpikir hal yang lebih buruk. Ia melanjutkan ke Pertiwi yang menjadi kelanjutan Inesia. Jika menurut deduksinya, Pertiwi adalah kelanjutan Nesia setelah 'tragedi itu' dan berumur 2 tahun, sampai Nesia berumur 6 tahun. Apa yang terjadi setelah 'tragedi itu', bagaimana Pertiwi muncul, Kiku mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia mungkin akan menyesal dan bertambah sakit jika mengetahuinya.
Kemudian saat berumur 7-8 tahun Ina dan lima alter yang diceritakan Garuda semalam muncul, karena kekerasan, karena seorang anak laki-laki, karena tuntutan, karena pengkhianatan, karena kesepian, dan juga karena pemuda yang kemarin mengaku mengenal Kirana. Tahun-tahun yang paling rusak menurut Kiku, yang jika itu terjadi padanya, ia pasti sudah harakiri. Untungnya, setelah itu Kartika bisa bertahan selama 3 tahun walaupun dengan keadaan supranatural yang tidak cukup membantu sampai Nesia berumur 11 tahun. Kemudian dilanjutkan oleh Lestari selama 4 tahun sampai berusia 15 tahun. 16 tahun adalah waktunya Nesia no. 1 dan Nesia no. 3.
Sembari melakukan Pen Spinning, Kiku mulai memikirkan hal-hal yang mengganjal. Pertama, tentang keberadaan Nesia no. 2. Kiku sama sekali tidak memiliki petunjuk tentang alter yang mengerjainya dengan makan siang yang sangat coretromantiscoret tidak bisa dilupakan itu. Nesia yang hampir ia 'tembak' secara spontan. Nesia yang ceria dan, entah mengapa membuat Kiku sangat senang ketika mengingat saat-saat itu. Garuda bilang, itu mungkin Lestari, Tara versi perempuan. Tapi itu tidak mungkin bukan? Kalau ia adalah Tara versi perempuan, maka ia tidak akan pernah mengajak Kiku makan siang atau bersikap semanis itu.
Ya, Tara adalah tsundere. Kiku yakin 1000 persen. Tara versi perempuan? Kiku pastikan dia juga seorang tsundere.
Kiku tidak yakin jika Lestari adalah Nesia no. 2, hal ini menyisakan satu alter lagi; Inesia. Kiku tidak pernah tahu Inesia itu seperti apa wataknya –ia belum pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, jika menurut cerita yang ia dengar, Inesia adalah alter yang seperti kakak (menurut Pertiwi), sangat tegas dan dihormati oleh Garuda. Bukan Alter yang ceria dan playfull seperti Nesia no. 2 yang Kiku temui.
"Umnh..." Kiku mengingat-ingat kembali semua perkataan yang keluar dari mulut Nesia, entah dari alter manapun. Ia mengingat Nesia no. 1 pernah mengatakan bahwa Nesia no. 2 menjengkelkan, pintar karena bertanggung jawab untuk seluruh nilai 100 mereka, kemudian pembohong. Mungkin bukan pembohong? Mungkin karena penyakit tsundere itu? Pintar dan menjengkelkan juga bisa menjadi indikasi seorang tsundere. Tapi sekali lagi, belum terdengar seperti Nesia no. 2 yang Kiku temui. Mungkin ia memang harus bertemu dengan Lestari dulu baru bisa menentukannya.
Masalah yang kedua adalah Lestari dan empat tahun yang dikuasai olehnya. Apakah semua itu habis oleh junior highnya? Atau ada alasan lain? Lagi-lagi Kiku merasa ia harus bertemu dengan Lestari terlebih dahulu baru bisa menyimpulkan semua ini. Sedangkan masalah yang ketiga yang menjadi beban pikiran Kiku adalah Inesia. Kemana ego state yang paling asli itu berpihak?
Mendengar cerita tambahan Garuda tadi malam, tentang perpecahan yang ada di antara Nesia dengan alter-alternya membuat Kiku khawatir dan sedikit sebal. Pasalnya, lebih banyak yang mendukung untuk tidak bersama dengan dirinya. Empat banding –berapa, delapan? Jika Ina no.2 masih mengakuinya mungkin lima lawan tujuh, tapi Kiku tidak bisa yakin akan Ina no. 2.
Kiku menghela nafas lelah. Padahal Kiku kira ia sudah sangat dekat dan bisa dipercaya oleh alter-alter Nesia. Semua keanehan Nesia yang sebulan itu, yang mengirimi notes-notes tidak jelas, yang berakhir dengan absurd di kamar mandi pria di dalam ruang ganti pria, kemudian Garuda yang bisa berbicara panjang lebar seperti kemarin membuat Kiku bertanya-tanya. Ia kira telah bisa membuat seluruh Alter mengerti kalau Kiku bisa mereka percaya.
Itulah yang menimbulkan pertanyaan ketiga meluap di pikirannya.
Padahal semua kegiatan yang dilakukan oleh tubuh Nesia akan diketahui oleh Inesia, alter utama yang tidak pernah tidur selama tubuh Nesia sadar. Inesia ada di dalam kubu kontra, dan menjadi lawan dari Garuda dan Nesia no. 1. Namun kenapa ia tidak bertindak saat dua alter ini, ditambah mulut coretembercoret polos Pertiwi, membocorkan semua yang mungkin membuat keseimbangan 'Nesia' runtuh? Apa yang sebenarnya alter utama itu inginkan?
Apakah Inesia sedang menantang Kiku sekarang?
.
.
"Boleh aku ikut duduk?"
Kiku tersentak saat seorang pemuda berdiri di hadapannya dan menunggu Kiku mempersilahkannya. Mata onyx-nya beralih melihat ke arah kursi kafe yang siap ditarik saat Kiku mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia masih kaget tidak memperkirakan akan ditegur di sini karena ia pikir Mei dan yang lainnya masih ada di belakang, di dalam gedung museum bergaya kolonial yang masih memancarkan aura anehnya itu.
"Namaku Austin... Kau bisa memanggilku Aussy..." ucapnya sembari tersenyum kecil.
"D-douzo..." ucap Kiku sembari menatap pemuda yang kini mengambil tempat duduk di hadapan Kiku. Ia tidak menyangka sama sekali akan bertemu dengan salah satu aktor yang dulu pernah berperan dalam masa lalu Nesia sekarang. Ada urusan apa pemuda ini menemuinya? Apa yang harus Kiku katakan padanya? Apakah ini akan mengungkit tentang masa lalu Nesia? Kemungkinan besarnya iya.
"Boleh aku tanya namamu?" ucap Aussy pada Kiku yang masih tertegun heran.
"Kiku... Honda Kiku..." jawab Kiku, "Aussy-san... ada urusan apa dengan saya?" tanya Kiku hati-hati.
"Tidak... hanya saja... Temanku mengenalimu sebagai orang yang menarik Kirana... Maksudku... Gadis yang kemarin aku dan seorang bocah perebutkan..." ucap Aussy cukup tenang.
#QuotesOfTheDay: Anda memperebutkan sesuatu dengan bocah, berarti anda juga bocah... -Kiku
"Itu benar..." jawab Kiku datar.
"Kenapa?" balas Aussy serius, "Aku kira kau tidak berhak..."
"Kenapa menurut anda saya tidak berhak?"
"Karena..." Aussy berpikir sejenak, "Kau... Punya hubungan apa dengan Kirana?"
"Saya kurang lebih adalah pengawasnya..." jawab Kiku tegas.
Kiku pikir lebih baik mengambil posisi aman seperti 'pengawas' daripada masuk dan terlibat ke dalam konflik perebutan Nesia bersama dengan seorang adik kelas yang membuat mood-nya jungkir balik. Lagipula, ia butuh informasi dari Aussy, ditambah lagi, Aussy terlihat tidak begitu terobsesi dengan Nesia. Kiku tebak, Aussy hanya ingin bertemu dan berbincang dengan Kirana layaknya teman lama.
"Pengawas?"
"Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah memberikan tugas untuk saya mengawasinya..." jawab Kiku lagi.
"Lalu... Dia tidak bersamamu sekarang? Padahal kau pengawasnya..." sela Aussy curiga.
"Itu karena ia bersama dengan teman-temannya... Kita berbeda kelas, bahkan berbeda angkatan..."
"Begitu kah... Tapi benar bukan dia Kirana? Masalahnya bocah yang kemarin bilang ia bernama Nesia... Aku yakin sekali dia adalah Kirana..." ucap Aussy lagi sembari menggosok hidungnya.
"Tidak... Nesia-san... maksud saya Kirana-san... masuk ke sekolah dengan nama Nesia Dirgantari... Jadi itu juga bukan kesalahan..." jawab Kiku lagi.
.
.
"Oh... Jadi dia sudah diadopsi ya... Syukurlah... Benar juga... Dia sudah bisa tertawa dan tampaknya bisa bicara... Dia juga sudah tidak ketakutan jika dipegang..." ucap Aussy lega.
"Aussy-san kenal dengannya sejak kecil?" tanya Kiku pura-pura tidak mengerti.
"Ya... Kami dulu satu panti asuhan... Dia anak yang manis dan pendiam... Juga baik..." ucap Aussy dengan intonasi yang mulai ramah dan berteman, "Sayangnya dia sungguh pendiam, bahkan aku belum pernah melihatnya bicara... Kau tahu? Walaupun dulu ia pernah menolongku... Ia tak bicara sepatah kata pun padaku... Ia hanya menunduk dan mengangguk ataupun menggeleng jika diperlukan... Itu saja... Aku juga seringnya melihat dia selalu melamun..."
"Benarkah?"
"Ya... Dia sungguh misterius... Namun teman-teman malah menganggap sikapnya itu sebagai sikap sombong dan menyebalkan... Dia terlalu pendiam dan susah untuk diajak main... Jadi teman-teman bilang dia sangat membosankan..." ucap Aussy mengingat-ingat, "Tapi menurutku... Dia seperti boneka yang sangat cantik... dan bisa dipandangi kapan saja..."
Ugh...
.
"Aku menemukan Hyung, da ze!" seru Yong Soo sembari menunjuk-nunjuk ke arah Kiku.
"KIKU! KAU KEMANA SAJA?!" seru Mei sembari berjuang menerobos orang-orang untuk mendekat ke arah Kiku.
"Wups... Kita punya pengganggu... Padahal kita baru bicara sebentar..." Aussy terkekeh saat melihat sekawanan orang yang tampaknya mengenali Kiku mendekat.
"Eh... Mereka..."
"Oh ya... Kalau kau hanya pengawasnya... Berarti aku bisa minta tolong padamu..."
"Huh?"
"Aku ingin bertemu dengan Kirana... Ada yang ingin kusampaikan padanya..." pinta Aussy, "Uh... ini nomorku... kalau ada waktu senggang kau telepon saja... Aku akan kabur dan langsung melesat!" ucapnya sembari menulis nomor di notes Kiku, "Aku tunggu, ya! Kalau begitu aku pergi dulu!" sahut Aussy sembari berdiri.
Kiku tidak tahu harus bereaksi apa. Ia tidak bisa berpikir karena semuanya berlalu begitu cepat di depan matanya. Ia akhirnya hanya bisa memandangi sekumpulan nomor yang nantinya bisa ia hubungi jika ada waktu kosong. Jika Kiku mengikhlaskan, karena Kiku merasa ia belum merestui pertemuan Nesia dengan pemuda bernama Aussy ini.
.
"Lewat sini, laa!" seru Lee sembari menerobos pengunjung dan memasuki areal kafe.
"Lee! Kayaknya itu bukan pintu masuk!" seru Nesia sebal karena tangannya yang masih sakit terus ditarik-tarik ke arah yang sesat.
"Memang bukan, laa... Ini pintu belakang museum... Pintu keluar..."
"Heeeee?! Kenapa kita tidak masuk?!" seru Haqq.
"Aku tidak mau masuk ke bangunan pembunuh itu, laa! Mendingan kita nyantai di kafe, laa... Iya kan? Maria?"
"Iya! Benar!"
"Bocah itu!" seru Aussy sembari menggebrak meja Kiku saat tidak sengaja menemukan tampang menyebalkan (menurut Aussy) milik Razak.
"H-huh?!" Kiku yang kaget hanya bisa menoleh ke arah tatapan mata Aussy.
"Orang gila itu!" seru Razak mengenali suara yang menggaungkan kata bocah, "Tunggu! Aku bukan bocah!"
"A-ada apa ini?!" Nesia menoleh kebingungan antara Razak dan Aussy, "Orang yang kemarin? Honda-senpai?"
"Nesia-san?"
"Kirana!"
"He?" Nesia mengedip kaget.
"Kirana! Kirana!" seru Aussy sembari menghambur ke arah Nesia.
"Woah! Woah! Woah! Tunggu dulu, laaa! Kau siapa?! Main seruduk saja!" seru Lee menghalangi Aussy dari mendapatkan Nesia.
"Oh... Siapa lagi kau ini!? Tidak bisakah aku reuni dengan temanku sendiri?!" decak Aussy kesal.
"Kau yang siapa, orang aneh!" seru Razak yang ada di belakang dan ditahan oleh Nesia, "Namanya Nesia! Bukan Kirana, freak!"
"A-aussy-san... Razak-san..."
"Tidak! Kau tidak perlu ikut campur abang tingkat! Urusan kita setelah ini!" salak Razak lagi.
"Apa-apaan sih, Malon!?" seru Nesia kebingungan, "Senpai juga... Lalu... Kau..."
"Ini aku... Aussy! Kau tidak ingat padaku?"
"Aussy... Oke... Bisa kita duduk dan bicarakan ini baik-baik?!"
"Kirana..." ucap Aussy lirih, ia tidak percaya Kirana-nya tidak mengenalinya lagi.
"Tidak! Tidak ada bicara!" tolak Razak mentah-mentah, "Sebaiknya kita pergi dari sini!" serunya lagi sembari menarik tangan Nesia.
"Kau mau bawa Kirana kemana?!" seru Aussy tak mau kalah, ia pun turut menarik tangan Nesia yang bebas.
"H-hei!" Nesia mulai panik ketika tubuhnya tertarik ke dua arah yang berlawanan. Inginnya ia berlari sejauh mungkin atau bersembunyi dari masalah yang ia sendiri tidak mengerti ini. Akan tetapi, gadis tidak bisa melepaskan diri walau sebagaimana pun ia mencoba.
"Heh! Orang aneh! Lepaskan Nesia sekarang!" seru Razak mulai kalap.
"Iya! Lepaskan Nesia!" seru Maria mulai membantu Razak menarik Nesia, "Lee! Haqq! Bantu! Cepetan!"
Lee dan Haqq hanya bisa terdiam mematung dan kebingungan dengan situasi seperti ini. Di pikiran mereka, mereka harus menghentikan ajang tarik tambang ini dengan segera demi keselamatan Nesia. Namun Lee berpikir bahwa bukan ide yang bagus untuk ikut menarik Nesia. Sedangkan Haqq memang tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Nesia, tubuhnya pun tetap bergeming walaupun pikirannya sudah oke dengan acara membantu-Maria-menarik-Nesia ini.
"Tidak bocah! Kau yang lepaskan Kirana! Sekarang!" balas Aussy tidak mau kalah.
"A-ano... Anatatachi..." Kiku mencoba menengahi, menenangkan keduanya karena pengunjung lain mulai tertarik ke arah mereka.
"Bersik!" seru Razak dan Aussy kompak menyuruh Kiku untuk pergi.
"Lepaskan aku! Sakit!" rintih Nesia mulai tidak tahan.
.
"Apa yang kalian lakukan?!" seru Mei dari balik badan Kiku.
Gadis itu langsung melesat ke arah Razak dan Aussy, menyarangkan bogem pada dagu kedua pemuda yang sudah mengambil perhatian seluruh makhluk yang ada di kafe itu. Membuat mereka sontak melepaskan Nesia dari tarikan keduanya. Nesia yang kini bebas langsung berlari, bersembunyi di balik badan Kiku. Ia mulai menggosok pergelangan tangannya. Merutuki nasib sial miliknya dua hari ini yang menjadi bahan tarikan orang-orang aneh di sekelilingnya. Padahal luka lembam gara-gara diseret oleh orang di depannya ini kemarin masih membiru dan masih terlihat jelas di kulit langsatnya. Tidakkah dua orang ini melihat, atau paling tidak, tidakkah Razak ingat bahwa pergelangan tangannya sedang sakit?
"Siapa lagi kau ini?!" seru Aussy sembari menggosok dagunya yang sakit.
"Aku yang harusnya tanya! Kau itu siapa?! Kau mau merebut Nesia juga ya?!" tuduh Mei.
"Hei! Jangan lupa kalau kalian juga ingin merebut Nesia!" seru Maria.
"Apa?!" kini Mei mulai memelototi gadis twintail yang juga melakukan hal yang sama kepada Mei.
"Aku bukan bahan rebutan!" seru Nesia menengahi dari balik punggung Kiku.
"Diam Nesia!" salak keduanya tanpa melepaskan tatapan membunuh mereka satu sama lain.
"Mei... Tenanglah..." ucap Hong sembari menarik tubuh Mei menjauh dari Maria dan memberikan tatapan peringatan pada Yong Soo yang malah menyoraki dan menyemangati Mei, "Yong Soo! Cari Thai dan Vie sana!"
"O-oke..." jawabnya sembari melarikan diri.
"Kau juga... Maria... Tolong hentikan ini..." pinta Haqq.
"Nggak! Aku nggak akan berhenti!" seru gadis Filipina itu jengkel, "Nesia! Kau juga! Jangan sembunyi di balik kakak tingkat itu!"
"Huh! Itu berarti Nesia lebih memilih Kiku daripada temanmu ini!" sahut Mei bangga, "Dan kalian! Sebaiknya kalian pergi!" serunya lagi pada Razak sekaligus Aussy.
"Nesia!" seru Razak meminta Nesia melakukan sesuatu, seperti, mungkin beralih ke pihaknya atau apa. Nesia ada di kelompoknya, seharusnya Nesia kini berada di belakangnya dan meminta perlindungan di balik punggungnya. Bukan di balik pemuda yang kini sudah berkeringat dingin untuk ikut menenangkan saudara sekaligus teman perempuan satu angkatannya yang mulai meledek Maria lagi.
"Kirana!"
"Uh...?"
"Kirana! Ini aku! Aussy! Austin!"
.
"Pertiwi! Kita harus bagaimana?! Itu orang nyalak-nyalak terus nyariin Kirana!"
"Aku nggak tahu Kak Nesia... Aku bingung..." ucap Pertiwi kebingungan setengah mati, "Aku tanya Kak Inesia dulu!"
"Woi! Jangan!" seru Nesia sembari menahan Pertiwi.
"Kau berikan tempatmu padaku saja, Nesia... Aku akan buat ini menjadi lebih mudah..." ucap Garuda tenang.
"Kau punya ide Garuda?" tanya Nesia sembari menoleh ke arah Garuda yang tengah dijaga oleh Nesia no.3.
"Ya... Mencium Kiku di depan umum akan membuat teman-temanmu dan si Aussy itu mundur..."
.
.
"Kau boleh memukul Garuda sekarang, Nesia no.3..." ucap Nesia mengizinkan Nesia no.3 untuk melampiaskan amarahnya.
-Bugh!-
"Ugh..."
"Menyesal aku mendengarkan kamu..." balas Nesia jengkel, "Pertiwi... Kau tahu di mana Kirana!?"
"Eh? Ya... Kenapa memangnya?"
"Atau kita lakukan *piiiiiip* saja? Atau *piiiip*! *piiiip*juga boleh!" seru Garuda semangat.
"Hell no! Garuda! Apa kau gila?!" seru Nesia mulai jijik mendengarkan celotehan Garuda, "Tunjukkan di mana Kirana, Pertiwi!"
"Eh, tapi kan..."
"Tidak ada waktu!" seru Nesia, "Nesia no. 3! Jaga Garuda baik-baik! Jaga dia dari berbuat sesuatu yang berbahaya pada Honda-senpai! Jaga! Jangan sampai merebut kesadaran!"
"Siap laksanakan!" jawab Nesia no.3 sembari menghormat ke arah Nesia yang berlari entah ke mana.
.
-sruuuks...-
"U-uh? N-nesia-san? Daijoubu desu ka?" seru Kiku lirih saat merasakan tubuh Nesia yang melemah di belakangnya, "Nesia-san?"
Kiku berusaha untuk tidak bergerak sekaligus mencoba memegangi Nesia tanpa berbalik agar teman-temannya, adik angkatannya, dan orang aneh yang baru ditemuinya tadi tidak curiga dan mengambil kesempatan ini untuk mengklaim, menculik atau membawa pergi Nesia seenak jidat mereka. Kiku mencoba untuk tetap tenang, namun bayangan akan kemunculan Garuda membuat seluruh bulu kuduknya meremang.
Kami-sama... Douka... – Ya Tuhan... Tolonglah...
"Ochitsuitte kudasai! Mina-san! –Tenanglah! Semuanya!" seru Kiku mulai panik karena semua hal yang tengah terjadi ini, ditambah ia melihat beberapa pelayan kafe yang tadinya sibuk mulai mendekat untuk –mungkin mengusir mereka, "Kita selesaikan di tempat lain saja... Kita sudah membuat keributan di sini..."
"Berisik! Kiku!" seru Mei tidak mau berhenti walaupun Hong sudah sekuat tenaga menahannya.
"Jangan ikut campur urusan kami!" imbuh Maria tak lagi menghiraukan siapa pun.
"Enyah!" Razak menambahi.
"Ii yo... –baik..." ucap Kiku sembari menyipitkan matanya, "Silahkan kalian bertengkar di sini..." ucapnya sembari membopong Nesia dan berjalan pergi.
"H-hei!" Maria yang menyadari Kiku membawa Nesia pergi dari sudut matanya.
"Woi! Tunggu! Mau dibawa kemana Nesia?!" seru Razak sembari mulai mengejar Kiku.
Namun demikian, Kiku telah keluar dari areal kafe. Pemuda itu telah lenyap ditelan arus orang-orang yang lalu lalang di sekitar taman Museum. Ditambah lagi orang yang baru saja keluar dari bangunan museum semakin mempersulit penglihatan dan jalan Razak dan teman-temannya untuk ikut mengejar. Akan tetapi Razak dan Maria tidak kehilangan asa, ditambah kakak tingkat bernama Mei dan Hong –juga seorang pemuda bernama Aussy belum menyerah mengejar mereka dari belakang.
"Itu! Itu kakak tingkatnya, laaa!" seru Lee saat melihat surai raven Kiku yang mencolok diantara kepala-kepala pirang.
Mendengar arahan Lee, Razak langsung melesat mendekati Kiku dan Nesia. Ia menerobos puluhan orang, melawan arus, meninggalkan Maria dan yang lainnya di belakang demi secepatnya merebut Nesia dari tangan Kiku. Ia sungguh kesal sekarang, seluruh amarahnya berkumpul di ubun-ubunnya. Setelah lepas dari samudra orang dan memasuki areal taman di seberangnya, Razak segera menuju ke arah Kiku yang sedang mendudukkan Nesia ke sebuah bangku. Menyiapkan kepalan tangannya, Razak berjalan semakin kencang dan siap untuk meninju pelipis Kiku saat pemuda itu selesai dan kembali berdiri dengan tegap.
Kiku yang sudah merasakan hawa penyerangan segera menyingkirkan kepalanya dari lintasan pukulan Razak dan mundur beberapa langkah. Mencoba untuk tidak terpancing akan provokasi yang sudah dilancarkan oleh adik tingkatnya. Kiku terus menatap Razak yang sudah siap dengan kuda-kudanya sendiri, kuda-kuda yang tidak pernah Kiku lihat sebelumnya. Tentu saja, itu bukan karate, judo ataupun aikido. Itu sesuatu yang berbeda; silat. Kiku baru saja melihatnya di pameran olah raga bela diri dunia di dalam museum tadi.
"Kau takut melawanku?" ucap Razak sembari menggerakkan tangannya membuat gestur; ayo ke sini.
"Iie... Chigau desu.. –Tidak... tidak seperti itu..."
"Benarkah?" ucap Razak semakin menantang dan mulai melancarkan serangan demi serangan yang selalu dihindari oleh Kiku.
"Razak-san... Onegaishimasu... Yamette kudasai..."
.
"Di mana dia Pertiwi?!" seru Nesia sembari terus berlari di lorong yang entah di mana pintu keluarnya.
"S-seharusnya di dekat sini... Tapi... Tapi..."
"Tapi kenapa?" tanya Nesia tidak sabaran.
"Ada Tara yang menjaga Kirana..." sahut sebuah suara yang datang dari arah depan mereka.
"Tara..." desis Nesia saat menemukan seseorang di depan sebuah pintu di akhir lorong yang baru saja dilewatinya.
"Selamat datang, Nesia..."
"K-kak Tara..."
"Pertiwi..." ucap Tara datar sembari menatap Pertiwi lekat-lekat, "Kau memiliki keuntungan di sini... Karena jika aku melukaimu, Inesia akan marah... Namun sepertinya tidak dengan Nesia..."
"K-kak Tara! Kak Nesia bermaksud baik!" Pertiwi mendekat sembari mencoba menjelaskan.
"Jangan bergerak! Kau akan menyesal jika berani mendekat!" seru Tara tanpa kompromi.
"Uh..."
"Minggirlah Tara! Masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh Kirana!" seru Nesia.
"Tidak!" ucap Tara penuh ancaman, "Aku tak akan membiarkan Kirana hancur lebih dari ini!"
"Tara! Di luar sana ada pemuda mengaku bernama Austin –atau Aussy yang mengenal Kirana! Aku kira Kirana juga menunggunya!" teriak Nesia sekuat tenaga, "Kirana! Aussy ada di luar sana!"
"Bodoh! Kau tidak tahu apapun! Kau-!" kata-kata Tara sontak berhenti ketika ia merasakan sesuatu yang janggal.
Nesia menahan nafasnya saat melihat pintu raksasa di belakang Tara mulai bercahaya di bagian ukiran-ukirannya, mulai dari ujung-ujungnya menuju ke arah tengah, menuju ke gagang pintunya yang juga besar. Pintu itu mengeluarkan suara kunci terbuka saat seluruh ukirannya menyala, kemudian perlahan mulai terbuka dengan suara decit engsel yang menggaung di udara. Seorang gadis kecil mulai terlihat. Gadis yang tentunya sangat mirip dengannya, namun dengan pakaian yang lusuh dan tubuh yang lemah.
"Aussy... Aussy..." gadis itu terus memanggil-manggil sembari menolehkan kepalanya ke penjuru ruangan.
"Kirana! Kumohon! Kembalilah! Kembalilah ke ruanganmu sekarang juga!" pinta Tara sembari menahan gadis yang Nesia kira adalah Kirana.
"Aussy... Aussy..." ulangnya lagi, "Ada Aussy... di luar sana... Kak Tara..."
"Tidak... Jangan pergi... Kau akan terluka lagi..." ucap Tara memohon, "Kumohon... Hanya kau..."
Kirana menggeleng lemah.
"Kirana... kumohon..." ucap Tara panik saat Kirana melepaskan dirinya dan mulai berlari melewati Nesia dan Pertiwi, berlari melewati lorong panjang untuk mencapai panggung utama, untuk mengambil kesadaran tubuh Inesia.
"Kak Tara..." panggil Pertiwi tidak yakin.
"Ini semua... salah kalian! Jika terjadi apa-apa... Jika Kirana terluka..."
"Tidak apa-apa Tara... Di luar sana ada Honda-senpai..."
"Dia tidak menyelesaikan masalah!" salak Tara pada Nesia dan Pertiwi seraya mendekati keduanya, "Kalian tidak tahu apapun! Kalian... Kalian... Ugh!"
.
"Itu mereka, laaa! Di sana!" seru Lee lagi, berhasil menemukan Kiku dan Razak.
"Razak!" seru Maria sembari mendekat.
"Jangan mendekat!" ucap Razak sembari memasang kembali kuda-kudanya untuk bersiap menyerang lagi.
"Razak-san... Hentikan semua ini! Kita bisa bicara! Kalau kita ketahuan guru atau komite kedisiplinan, kita bisa dapat skorsing!"
"Tidak sebelum kau kembalikan Nesia!" seru Razak menanggapi.
"Asal kau tahu ya, keriting! Kiku tidak menculik Nesia!" seru Mei yang terus ditahan oleh Hong agar tidak loncat dan mencakar muka Razak.
"Heh! Itu ikal!" balas Maria membela.
Mattaku... – Ya ampun...
"Kirana!"
"Sial! Dia juga datang!" desis Razak ketika menyadari keberadaan Aussy.
.
"Aussy... Aussy... Aussy... Aku bisa mendengarnya... Suara Aussy..." gumam Kirana sembari terus berlari.
.
"Razak-san... Onegai... Beri kesempatan untukku, dan untuk Aussy-san..." ucap Kiku sembari bergeser karena Razak mulai mengincarnya.
"Tidak..." ucap Razak datar.
Razak tersenyum kecil dan membuat Kiku mulai panik. Itu karena posisi Razak sekarang ada di depan Nesia dan ia cukup jauh dari mereka. Kiku takut jika ini harus berakhir dengan adegan kekerasan. Sungguh, ia tidak mau cerita ini terpajang di koran sekolah dan membuat Ludwig ataupun kelas 2-A malu. Ia pun tidak ingin mengotori ajaran ayahnya yang kolot dan sakral itu. Namun ia tetap butuh meneguk ludahnya saat Razak berbalik dan teman-teman Razak mendekati pemuda Malaysia itu.
"Umnh..."
"Heh, Indon! Jangan tertidur di sini! Lihat tuh akibatnya, kau diculik oleh senpai aneh-mu itu!" seru Razak saat menyadari Nesia yang mulai sadar.
"Kirana..." ucap Aussy lirih dari kejauhan, ia merasa dikalahkan, entah mengapa saat Razak akan menyentuh dan membawa pergi Nesia.
"Aus... –sy?" ucap Nesia lirih sembari membuka matanya, ia memperhatikan pemuda di hadapannya dan mulai memasang wajah pucat.
"H-hei? Indon... Kau seperti baru lihat hantu saja!" ucap Razak mengejek yang membuat Kiku melebarkan matanya.
H-huh? Hantu? Tapi... Kartika-san kan...
"Ayo pulang! Di sini banyak sekali pengganggu..." seru Razak sembari menarik tangan Nesia.
"Huh?! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Nesia histeris yang membuat Razak kaget dan refleks melepaskannya, "JANGAN SENTUH AKU! LEPASKAN AKU! LEPASKAN! LEPASKAN!" seru Nesia lagi sembari berjongkok memeluk dirinya sendiri.
"N-nes..." panggil Maria yang masih kaget dan ketakutan karena teriakan Nesia tadi.
"Heh! Indon! Jangan bercanda!" seru Razak yang berubah marah karena menganggap Nesia sedang melemparkan lelucon yang buruk.
"Sagatte kudasai... Razak-san... –mundurlah, Razak..." ucap Kiku sembari mendekat.
"Sial! Kau mau apa, huh?!" seru Razak sembari mencoba memukul Kiku.
Namun kali ini Kiku bukan hanya menghindarinya, ia juga menangkap tangan Razak, menekuknya sekaligus menahan tubuh Razak dan membantingnya ke tanah serta menahannya dalam satu gerakan cepat, "Kore wa joudan dewa arimasen! –Ini bukan bercanda!"
"Lepaskan aku! Apa maksudmu?!" gerutu Razak dalam ketidakberdayaannya, "Kau tidak punya hak untuk mencegahku dari Nesia! Aku tidak percaya kau adalah suaminya!" serunya lagi sembari menggeliat dan mencoba melepaskan diri.
"Lihat Nesia-san sekarang, Razak-san!" bentak Kiku pada akhirnya yang membuat Razak tertegun.
Ia mendapati seorang gadis yang sangat ia kenal sedang berjongkok dan memeluk dirinya sediri di sana. Berjongkok, histeris, pucat pasi, menggigil, menangis, frustrasi dan ketakutan setengah mati –tidak, bahkan lebih dari itu. Gadis itu masih berteriak-teriak histeris walaupun tak ada yang menyentuhnya lagi. Razak kira sebentar lagi Nesia akan berubah menjadi orang gila.
Tidak, itu bukan Nesia. Bukan 'Indon'-nya.
"In... don..." gumam Razak lirih sembari berhenti melawan, ia terus tertegun, tengkurap di atas tanah walaupun Kiku kini telah melepaskannya.
Kiku beralih mendekati Nesia, melepaskan blezer yang ia kenakan untuk menutupi kepala bersurai hitam legam itu, "Daijoubu desu..." bisiknya lirih pada yang ia tebak adalah Kirana, satu-satunya Alter yang tidak menginginkan sentuhan, karena sentuhan adalah mimpi buruk baginya. Kiku menggigit bibir bagian bawahnya, menahan keinginan untuk memeluk Kirana, serta menahan sakit yang menjadi-jadi saat melihat mata kosong yang dipenuhi oleh ketakutan tanpa dasar, "Kirana-san... Ne... Tidak apa-apa..."
"H-huh?" Kiku berhasil menarik perhatian Kirana dengan memanggil namanya, Ia pun tersenyum sangat lembut, lebih lembut daripada apapun yang ia punya. Mencoba untuk meyakinkan Kirana bahwa dirinya bukanlah orang yang jahat.
"Ne... Apakah Kirana-san mencari Aussy-san?"
"A-Aussy... Aussy... Aussy... Aussy!" ucapnya lirih, namun semakin kuat.
Kiku kembali tersenyum lembut, "Dia di sana..." ucap Kiku sembari mengarahkan Nesia kepada Aussy tanpa menyentuh gadis itu.
"Kirana?"
"Aussy... Aussy... Aussy..." gumam Kirana terus menerus bagaikan itu adalah mantra yang membuat ia kuat.
Kirana mulai berdiri sambil terus menggaungkan nama Aussy. Semakin keras, semakin kencang seperti langkah kakinya yang kini telah berubah menjadi lari. Kirana terus menatap wajah Aussy, mencari persamaan akan Aussy-nya yang dulu karena kini pemuda itu telah berubah banyak. Namun tidak dengan plester di hidungnya yang membuat Kirana yakin.
Pemuda itu adalah Aussy-nya.
"Aussy..."
"Kau menyebutkan namaku... Kirana..." ucap Aussy terharu sebelum merengkuh tubuh mungil Kirana yang herannya tidak membuat Kirana histeris.
Namun membuat Kiku merasakan ngilu yang luar biasa di relung dadanya.
*O*
A/N:
Chapie... 28!
Author: Ah... Terlalu lama ya updetnya... Maafkan aku... *nyiapintaligantung
Neth: Ya... Kamu ke mana saja, rakyat jelata?! Terus ini bukan 28... ini 29!
Author: R-rakyat jelata? Yang kemarin Part... jadi ini tetep kehitung 28 dong...
Neth: Korupsi...
Author: Biarlah... Lagipula tidak bisa dipisah...
Neth: Oke... Oke...
Author: Balas reviewnya di chapter berikutnya ya... :P Habisnya ceritanya aja udah 9500+ words...
Neth: Dasar... Udah dibilangin kemarin nggak boleh sampai panjang-panjang!
Author: Ya maap sih, lah... Nggak bisa dipisah... TT_TT
Neth: Huh... Ya udah ini Author's Note-nya dihentikan! Nanti malah 10.000 words lagi...
Author: O-oke... Terimakasih ya, untuk para Readers... :D Maaf kalo ini kepanjangen... Maaf nggak bisa balas revie dulu... maaf kalo updetnya jadi lama... Terus... Mohon kritik, saran dan reviewnya ya... :D
