Kiku hanya bisa duduk termenung bagaikan patung di bawah sebuah pohon–apa nama pohon ini? Palem? Kelapa?- sembari terus memperhatikan seorang gadis. Kiku pikir gadis itu sangat amat teramat bahagia saat ini, buktinya makhluk bersurai ikal sepinggang yang diikat ponytail itu terus tersenyum simpul sepanjang langkahnya dengan seorang pemuda yang memiliki plester di hidungnya, entah karena apa Kiku tidak tahu–dan tidak berharap untuk tahu.
Meskipun biasanya, setahu Kiku, normalnya gadis itu akan mengekspresikan kebahagiaannya secara terbuka, bahkan over-excited. Hari ini Nesia hanya tersenyum lembut, sangat amat lembut saat memandang iris hijau pemuda yang minta dipanggil Aussy itu.
Ya, hanya senyum. Akan tetapi, senyum itulah yang menjadi masalah.
Kiku tidak pernah melihat senyum semacam itu sebelumnya. Mengukir begitu indah dan cantik di wajah Nesia dan membuatnya ingin gigit jari. Senyum yang selalu dan hanya terfokus pada pemuda Aussy itu, seolah terhipnotis, seolah tak ada yang lain lagi di muka bumi ini. Senyum yang menggerakkan tubuh Nesia beserta rambut ikalnya yang lincah itu untuk terus mengikuti gerakan Aussy, ke mana pun pemuda itu bergerak.
Hanya senyum, tetapi seolah meneriakkan secara gamblang pada dunia bahwa gadis itu secara tulus, murni, sungguh-sungguh, dan tidak terbantahkan telah mencintai, mengasihi, menyayangi, akan mengikuti, dan mau melakukan semua hal yang romantis-romantis itu pada pemuda beruntung yang ada di hadapannya.
Dan itu bukan Kiku.
Perasaan Kiku kini sungguh sangat campur aduk. Hitam kelam seperti langit di atas dan belakangnya yang mulai tertutupi awan badai yang, entah Kiku tidak tahu kenapa bisa –Kiku pikir alam ini juga sedang ikut-ikutan mengoloknya dengan menjadi background.
Kini ia hanya bisa terdiam dengan lidah yang kelu, dengan perasaan yang campur aduk tak menentu. Berusaha agar tidak lupa untuk bernafas, berusaha untuk menahan rasa nyeri yang sangat ngilu, berusaha untuk tidak memuntahkan sesuatu, atau bahkan mengeluarkan sesuatu dari matanya–bukan, bukan paku, apalagi bola matanya! Maksud Kiku semacam air.
Dan yang paling utama dan terutama, berusaha untuk tidak menyerang, menyerbu pemuda bahagia itu dan menghabisinya. Kiku tahu itu ide yang sangat buruk dan Nesia, atau saat ini Kirana, tidak akan menyukai hal itu.
Maka ia harus diam saja di sini. Menahan seluruh gejolak yang menyerangnya secara membabi-buta, memuntir-muntir jiwa gelapnya dengan sebilah pisau sampai Kiku merasa hampir-hampir kehilangan akalnya sembari terus mengawasi kedua muda-mudi yang ia selamatkan barusan.
Yang ia menyesal sudah selamatkan barusan.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Adalah kedatangan Thai dan Vie yang akhirnya memecahkan suasana absurd tersebut. Suasana canggung, haru, menyakitkan, kebingungan yang bercampur aduk tanpa takaran yang jelas, menghasilkan atmosfer yang sangat tidak manusiawi bagi beberapa di antaranya.
Terutama bagi Kiku yang setelah itu terus berusaha agar tidak menyantet dirinya sendiri karena telah mempertemukan Nesia–atau tepatnya Kirana- dengan Aussy. Ia terus bergumam dalam hati, meyakinkan dirinya sendiri bahwa pada saat itu, detik itu, Aussy-lah yang dibutuhkan oleh gadis yang mendadak histeris itu.
Bukan dirinya.
Thai dan Vie kelihatannya cukup mengenal adik-adik tingkat yang akan merebut Nesia. Terbukti dengan Thai yang kelihatannya cukup dihormati oleh pemuda Malaysia itu. Sedangkan Vie yang dekat dengan Mei akhirnya bisa membuat sepupunya itu mereda. Sebelum mereka, kedua kubu yang sedang bermasalah, menyulut sumbu lain dan memulai pertengkaran kedua yang lebih besar. Kali ini diperparah dengan keterlibatan Vie versus Thai beserta gajah impiannya –fosil Mammoth-, yang dipandanginya selama berjam-jam, sebagai 'panitia dan sponsor tunggal pertengkaran' secara tidak disengaja.
Pertengkaran yang super kacau pokoknya. Kiku sampai speechless ketika Yong Soo dan dua adik tingkat yang Kiku ingat bernama Haqq dan Lee ikut terlempar setelah Toto-chan akhirnya bisa terbang bebas melayang di udara. (Baca: dilempar oleh Vie)
Merasa keadaan tidak akan semakin membaik, Kiku akhirnya menarik kerah belakang Aussy yang masih dengan hikmat memeluk tubuh Nesia sebelum pertengkaran yang mulai merambah ke hal pribadi yang tidak perlu dibahas melibatkan mereka bertiga. Sebelum mereka kembali menyadari bahwa fokus dan hal yang seharusnya mereka rebutkan adalah Nesia.
Tentunya pemuda Jepang itu harus berhati-hati untuk tidak mencekik Aussy dengan tarikan pada kerah baju polo warna beige milik pemuda beriris hijau itu, walaupun sebenarnya ia sangat ingin melakukannya karena pemuda itu tak kunjung melepaskan Nesia(nya).
Namun sekarang ini, dia harus diam di sini. Mengambil perannya sebagai 'pengawas' yang merupakan penyesalan keduanya. Seharusnya Kiku akui saja tadi bahwa ia adalah suami Nesia –walaupun itu hanya pura-pura. Setidaknya itu akan membuat Aussy menjaga perangainya dan tidak berbuat hal yang memanas-manasi hati Kiku.
Terutama saat sunset seperti ini.
Gah! Kenapa awan badai di atasnya tidak menelan dan mencabik-cabik setengah lingkaran berwarna oranye yang romantis itu –memuakkan, menurut Kiku saat ini- sekarang juga?!
*O*
"Kirana..." panggil Aussy lembut setelah ia menyelesaikan ceritanya yang sangat panjang tentang kehidupannya selama ini setelah berpisah dengan Kirana.
Namun Kirana tidak menjawab. Ia hanya mendongakkan kepalanya untuk bertemu tatap dengan Aussy dan kembali tersenyum manis.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Aussy yang membuat kedua alis Kirana naik, "Siapa sebenarnya pemuda yang dari tadi mengawasi kita terus?" tanyanya sembari menunjuk ke arah Kiku duduk dengan kepalanya.
Bukannya menjawab, Kirana malah membuat muka heran dan mengembalikan pertanyaan itu pada Aussy. Ia pun menambahkan dengan mengedikan bahunya untuk memperkuat jawaban 'sama sekali tidak tahu dan tidak memiliki petunjuk apapun tentang siapa pemuda itu'.
"Ya... Tapi... Dia mengaku sebagai pengawasmu..." tambah Aussy lagi.
Kirana kini mengalihkan tatapannya ke arah Kiku, memandangi pemuda yang sepertinya tengah bad mood stadium akhir. Kirana tahu orang itu, tapi bukan tahu seperti 'kenal'. Ia hanya ingat bahwa orang itulah yang tadi menyelamatkannya dari tarikan orang asing yang memanggil-manggil dirinya dengan sebutan 'Indon'. Kirana juga bingung karena orang yang sekarang ini terlihat sangat mengerikan di sana itu tahu namanya. Pemuda itu tadi memanggilnya dengan namanya; Kirana. Hanya ada satu orang yang tahu namanya sebelum ini, hanya Aussy saja. Tapi anak laki-laki itu tahu, dan memanggilnya.
Juga memberikan senyuman yang sangat hangat untuknya.
"Kirana?" panggil Aussy lagi yang membuahkan perhatian Kirana, "Apa ini?" ucap Aussy sembari menarik lembut kerah baju Kirana dan menyentuh sebuah bentuk kemerahan yang tadinya tersembunyi, "Kau digigit serangga?"
Kirana hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tidak ingat pernah digigit serangga. Gadis itu masih berusaha untuk melihat tanda merah di pangkal lehernya, yang sayangnya merupakan titik buta dari penglihatannya, ketika Aussy menoleh ke arah Kiku. Pemuda itu menelan ludah dan refleks melepaskan kerah baju Kirana saat menangkap pesan tersirat dari tatapan jahat Kiku.
Pemuda itu sepertinya sudah salah paham dan mulai mendengarkan bisikan dari kegelapan karena melihat Aussy menarik-narik baju Kirana.
"Kau... Jangan-jangan... Ini..." Aussy berdeham untuk membersihkan tenggorokkan miliknya, mempersiapkan nyalinya untuk menanyakan, "Kiss mark?"
Kirana hanya bisa menatap Aussy dengan kebingungan, menanyakan "Apa itu kiss mark? Apakah itu enak dimakan?". Hanya saja, Kirana tidak mengeluarkan satu kata pun, hanya raut mukanya saja yang menanyakan hal itu. Tentu saja Kirana tidak tahu apapun, termasuk apa yang menyebabkan tanda merah yang invisible baginya itu, apalagi alasan yang menyebabkannya. Hey, Kirana baru saja keluar dari 'ruangan'nya setelah mendekam di sana selama–yah, beberapa tahun. Tentu saja ia tidak tahu tentang apa yang terjadi sebelumnya, yang mungkin mengakibatkan tanda ini.
"Kirana! Ini kiss mark kan?! Pemuda itu yang..." Aussy menghentikan perkataannya saat melirik Kiku yang mulai memancarkan aura ungu di kejauhan sana, "Apa yang terjadi antara kau dan pemuda itu? Kau pacaran dengannya?" bisiknya lirih seolah Kiku bisa mendengarnya dari kejauhan sana jika ia bicara normal, padahal tidak –jarak mereka sangat jauh.
"Kalau kau memiliki ini, seharusnya kau sembunyikan! Syukurlah kau pergi dengan sesuatu yang berkerah!" seru Aussy sembari menarik kunciran rambut Kirana dan membebaskan surai hitam nan tebal nan menggoda nan bersinar memantulkan cahaya mentari sore dengan apiknya, "Tutupi seperti ini!" lanjutnya lagi sembari menarik beberapa helai rambut Kirana agar jatuh di depan dadanya, menutupi lehernya termasuk bekas kemerahan itu.
Kirana hanya bisa memperhatikan raut wajah Aussy yang berubah khawatir saat menata rambutnya. Gadis itu tertawa kecil melihat 'kerepotan' Aussy yang seharusnya tidak terjadi. Maksud Kirana, ini adalah masalah kecil, dan Kirana bisa mengatasinya. Tawa Kirana semakin lebar saat, entah mengapa raut wajah Aussy memucat seperti melihat... Prosesi Godzilla melahirkan anak kembar lima puluh? Yah, itu cukup mengerikan.
Namun menurut Kirana itu adalah wajah terlucu Aussy hari ini karena sayangnya Kirana tidak peduli dengan apa yang menjadi penyebab Aussy coretmenangiscoret merinding ketakutan;
Kiku mulai berdiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Kirana! Dia bukan hanya sekedar pengawas kan?!" seru Aussy mulai panik menyadari Kiku yang lambat namun pasti mulai mendekati mereka, "Kirana! Ayolah... Ini bukan saatnya bercanda!" lanjutnya sembari menangkup muka Kirana agar gadis itu memperhatikannya.
Yang entah mengapa membuat seseorang pemuda di sana menambah kadar kecepatan berjalan dan kekalapannya.
"Aussy..." panggil Kirana lembut sembari menyentuh kedua tangan Aussy yang menangkup wajahnya.
Saat itulah Aussy melihat sesuatu di jari manis Kirana –bagian kiri, dan ia menelan ludah ketika mengingat perkataan seorang pemuda berambut ikal yang tidak jelas dan agak aneh tentang bagian 'suami' atau sebangsanya. Kata-kata itu cukup mengganggu Aussy memang, tapi bagaimana ia bisa tahu bahwa itu bukanlah omong kosong?! Bukan kebohongan?! Bukan fakta yang dibuat-buat demi menghindari sesuatu?!
Maksudnya, lihat Kirana di sini! Begitu lekat dengannya, menatapnya dengan lembut dan penuh cinta sehingga membuat 'suami'nya di sana mendekati mereka dan bersiap untuk –entahlah, memutilasinya? Membakarnya hidup-hidup? Melemparkan dirinya ke dasar lautan? Atau yang lebih parah lagi; menangkapnya kemudian mempreteli organ tubuhnya untuk dijual ke pasar gelap?
Karena Aussy sudah meyakini bahwa Kiku adalah titisan Yakuza sekarang. Jika bukan pimpinan tertinggi, pasti kepala keluarganya, atau mungkin malah merangkap keduanya.
"Kirana... Kau... Beneran sudah menikah?! Dengan dia?!" ucapnya panik sembari menarik tangannya demi menghindari kesalahpahaman lebih lanjut, dan mungkin, memperingan hukumannya, "Kenapa kau tidak bilang?!"
Namun Aussy yang panik–dan menggila- bukanlah suatu pertanda hal buruk bagi Kirana, gadis itu malah semakin bersikap ceria dan antusias, mengira ini adalah sebuah game seru padahal bagi Aussy ini adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan –walaupun ia tidak pernah bermimpi akan menjadi sasaran tindakan, umm, kekerasan(?) oleh Kiku.
"Aussy-san..." ucap Kiku dengan suara guntur sebagai backsound-nya.
Aussy berani bersumpah, seluruh tubuhnya merinding dan meremang saat itu juga. Ia tidak berani menoleh ke samping kanannya, mengetahui si 'monster' sudah berdiri di sana dan siap menerkamnya hidup-hidup apabila ia berani bergerak satu senti saja atau bila ia menjawab pertanyaan dengan jawaban yang salah. Aussy dapat membaca dari raut muka Kiku yang walaupun (dipaksa) datar dan tanpa ekspresi, terlihat sekali bahwa terdapat pertanyaan sebanyak kemarahan yang telah dipendam oleh pemuda ini.
Satu yang tidak bisa Aussy cerna adalah, kenapa Kirana semakin riang tertawa? Seharusnya gadis itu tahu bahwa ia ada di dalam bahaya juga. Maksud Aussy, Kiranalah yang bertanggung jawab atas semua kesalahpahaman ini bukan? Kalau saja gadis kecil itu jujur bahwa ia sudah dimiliki, maka Aussy akan lebih berhati-hati.
"Aussy-san... Ini sudah sore, dan kelihatannya hujan akan turun... Kami akan kembali ke camp kami, kalau boleh..." ucap Kiku datar, "Saya yakin, Aussy-san juga harus kembali ke rombongan Aussy-san..."
Aussy tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa bergumam, "U-uh... Ya..."
"Kirana-san?" panggil Kiku dengan nada lembut berharap Kirana akan mau ikut pulang dengannya.
Namun tidak semudah itu karena Kirana malah bersembunyi di balik badan Aussy. Menghindarinya. Berharap memiliki lebih banyak waktu dengan Aussy. Hal ini membuat Kiku harus mempraktekkan ajaran keramat; hirup udara dengan tenang, tahan emosi, keluarkan nafas dengan perlahan. Sedangkan Aussy tidak tahu harus apa selain berkeringat dingin, menahan teriakan histeris dan berdoa kepada Tuhan.
"Begini, Honda... Bagaimana kalau saya antar?" tawar Aussy sebelum perang dunia ke tiga dimulai.
"Tawaran yang bagus..." jawab Kiku dingin disertai kilatan yang menyambar di langit disusul dengan suara guntur yang sangat keras.
"K-ki-kirana... Aku antar ya... Tapi nanti kau pergi dengan kakak ini... ya?" ucap Aussy kagok pada Kirana yang masih mempelajari Kiku dari balik badannya, "J-jadi... Di mana camp kalian?"
*O*
"K-kalian itu..." Aussy mencoba menanyakan pertanyaan yang cukup aneh bagi dirinya sendiri saat memasuki kawasan penginapan yang dibilang adalah tempat Kiku dan Kirana menginap, "Kalian itu murid Hetalia Academi?!" raungnya tak percaya.
"I-iya?" jawab Kiku bingung.
"Kelas?!" tanya Aussy lagi, menggebu-gebu(?).
"2-A" ucap Kiku sembari menunjuk dirinya, "1-A" lanjutnya sembari menunjuk Kirana.
"Tunggu... Kau... Kau Honda Kiku yang itu?!" tanya Aussy lagi dengan–entahlah, heran? Antusias?
Kiku hanya bisa menatap Aussy dengan heran. Maksudnya, Honda Kiku yang mana? Apakah Kiku pernah mengenal orang ini? Kenapa Aussy mendadak menjadi seperti mengenal dirinya atau apapun itu. Kiku terus bertanya-tanya saat Aussy terus menunjuk-nunjuk dirinya bagaikan menunjuk hantu, atau sesuatu yang sangat aneh di dunia ini.
Namun pertanyaannya itu tidak bertahan lama saat, entah kebetulan apa, Elizaveta-senpai lewat dan menyadari mereka; tiga orang aneh yang membuat heboh di depan lobi penginapan.
"Hei, Aussy! Kau sudah bertemu Kiku?" serunya riang sembari mendekat dan membuat Kiku serta Aussy serasa kehilangan pijakkan, "Kau sudah minta 'foto'nya?" lanjutnya lagi, berharap.
"E-elizaveta-senpai kenal dengan Aussy-san?" tanya Kiku kagok.
"Tentu saja! Dia kan ada di klub renang bersama denganku? Bukankah dulu kau pernah mewawancarai kami dan bertemu dengannya? Kau lupa?" jawab Elizaveta sembari berkecak pinggang, "Kenapa kalian jadi pucat begitu?"
"E-elizaveta! Kenapa kau tidak bilang kalau dia adik kelas kita?!" tanya Aussy kaget.
"Habisnya kau main lari saja setelah kubilang 'Dia mungkin tahu' pada pertanyaan frustasimu tentang seseorang bernama 'Kirana'..." ucapnya tak kalah sebal sembari menunjuk Kiku dan menatap Aussy kesal.
Aussy meneguk ludahnya sendiri, teringat ketika Elizaveta bertanya padanya, "Kenapa sih kau nggak mood gitu?" di pintu keluar museum tadi yang langsung ia jawab dengan, "Seseorang menculik gadis yang berarti bagiku saat aku bertengkar dengan orang aneh..."
Kemudian Elizaveta kembali bilang, "Oh... Yang kau bertengkar dengan anak kelas satu itu?" sembari menoleh ke sana kemari untuk mencari Gilbert yang seenak dengkulnya menghilang bersama Roderich. Namun ia malah menemukan seseorang yang 'tak kalah penting' dan berkata, "Dia mungkin tahu... Dia kan ada di sana juga waktu itu..." sembari menunjuk ke arah Kiku.
Dan saat itulah Aussy ingat bahwa ada satu-dua pemuda lagi yang mendekati Kirana waktu itu. Salah satunya, dan kemungkinan besar penjahat yang menarik Kirana(nya) adalah pemuda oriental itu. Maka bergegaslah ia lari sebelum mendengarkan Elizaveta lebih lanjut.
.
.
"Kau sih... Main lari saja!" sungut Elizaveta tak mau disalahkan karena, yah, itu memang bukan kesalahannya.
Lagi pula kenapa juga harus ada kejadian mereka berdua, yang jelas-jelas sudah bertemu, bisa saling melupakan wajah satu sama lain? Bahkan Elizaveta sendiri pun masih ingat ketika Kiku bertanya pada Aussy dan malah diajak renang beberapa kilometer itu. Elizaveta menyengir licik saat menemukan jawaban mengapa kedua orang ini bisa saling kehilangan fokus dan tidak mengingat hal lain lagi; seorang gadis yang kini sedang mempelajarinya dan bersembunyi di belakang Aussy.
"Jadi... Ini Kirana?" tanyanya sembari menggoda Aussy.
"Eh... Uh... Iya..."
"Heeeeh... Kukira dia sangat dekat dengan Kiku?" tanya Elizaveta kepada Kiku.
"S-sore wa..."
"Tapi aku tidak pernah tahu ada anak kelas satu bernama Kirana?"
"Soalnya, Kirana ketika masuk ke sekolah ini menggunakan nama... Nama... Uh..."
"Nesia Dirgantari..." sambung Kiku datar, bersiap untuk menghadapi Elizaveta. Di dalam hatinya Kiku terus menerus memohon agar kakak tingkatnya ini mau diam dan mundur. Oh, Kiku akan melakukan apa saja untuk itu. Akan tetapi, ketika Elizaveta tersenyum licik hanya kepadanya, kepada Kiku, Kiku tahu ia harus menarik kembali kata-katanya dan menggeleng lemah.
Elizaveta menaikkan kedua alisnya dan menatap Kiku lekat-lekat sampai akhirnya adik kelasnya itu menyerah dan mulai mengeluarkan kartu memori kameranya untuk diberikan kepada Elizaveta.
Secara tidak rela.
"Elizaveta... Kau memalak adik tingkat?" tanya Aussy heran melihat kenyataan ini.
Maksudnya, sedari tadi ia ketakutan bilamana Kiku akan meledak atau apa yang akan membahayakan nyawanya. Namun, di sini, Elizaveta dengan seenak jidatnya coretmemalakcoret meminta hal yang sepertinya cukup penting dari Kiku di depan matanya. Aussy mulai berpikir bahwasanya Elizaveta tidak seperti yang selama ini ia bayangkan; gadis ceria yang kerap bertengkar dengan Gilbert dan berteman baik dengan Roderich –Oh ya, serta mem-pairing-kan mereka menjadi pasangan OTP terabsolute sekaligus terultimate versi Elizaveta.
#QuotesOfTheDay: All hail, Queen of Fujoshi! -Aussy
"Heeeeh? Siapa yang kau maksud?" tanya Elizaveta dengan nada yang membuat Aussy bungkam dan menetapkan bahwa Elizaveta yang asli lebih misterius dan menakutkan dari semua yang pernah ia bayangkan.
"Eh... Tidak..." jawab Aussy cepat-cepat –walaupun akhirnya telat juga.
"Lalu... Kau masih mau bermain dengan adik kelas atau ikut mencari Gilbert dan Roderich?" tanya Elizaveta lagi, namun dengan nada yang berbeda.
"Sudah mencari di kelompoknya Antonio?" ucap Aussy memberikan saran.
Elizaveta tersenyum simpul, ia melakukannya karena baru sadar akan hal itu dan kesempatan emasnya untuk 'berburu'. Ya, mereka pasti sedang berkumpul bersama. Pasti! Kenapa ia baru sadar sekarang?!
Mungkin juga ada tambahan seperti adik tingkat yang sering dikejar-kejar... Dirayu... –eh, tunggu! Maksudnya, digoda... Di dekati(?)
Pokoknya, adik tingkat tsundere itu sering terlihat bersama dengan Antonio sesering mukanya berubah merah seperti tomat. Ditambah kembarannya yang selalu menempel pada adiknya Gilbert. Sedangkan Gilbert sendiri dengan Roderich.
JACKPOT!
Elizaveta tidak bisa menahan tawa yang berasal dari kebahagiaan darah fujoshi-nya. Ia buru-buru mengambil kamera digital yang ada di dalam sakunya dan menyeret Aussy untuk pergi bersamanya. Berharap akan ada keajaiban, seperti munculnya seseorang yang bisa dipasangkan dengan pemuda yang sedang memberontak ini. Jika tidak ada, Francis pun jadi!
Oh, yeah! Itu akan sempurna!
"Tidaaaaak! Kirana!" jerit Aussy histeris ketika Elizaveta berhasil menyeretnya menjauh secepat kilat, meninggalkan Kirana kebingungan dan ketakutan setengah mati karena menemukan Aussy-nya telah lenyap dari pandangannya.
Kirana lantas berjongkok dan memeluk dirinya sendiri, membuat dirinya menyerupai buntalan yang dirundung kesepian, ketakutan dan kebingungan.
"Kirana-san..." panggil Kiku lembut, namun masih saja membuat Kirana terkejut dan bertambah ketakutan saat Kiku mendekat ke arahnya, "Tidak apa-apa..." ucapnya lagi sembari menawarkan senyuman terlembut yang ia miliki, "Aussy-san... Maksudku, Aussy-senpai hanya pergi dengan temannya..."
Kirana menatap Kiku dengan bingung dan takut-takut. Gadis itu tampaknya masih belum bisa untuk percaya bahwa Kiku tidak berbahaya sama sekali–Yah, kecuali saat ia marah dan bad mood-. Akan tetapi Kirana tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak mengenal siapa pun di sini kecuali Aussy-nya yang telah diculik entah ke mana. Meninggalkannya dengan pemuda yang tampaknya cukup... unik(?) bersama dengannya.
Yah, Kirana berpikir bahwa Kiku unik. Maksudnya, Kirana sendiri belum memperkenalkan dirinya pada pemuda itu, namun pemuda itu tahu namanya. Kirana belum melihatnya dengan jelas, namun pemuda yang entah datang dari mana itu tadi sudah meminjamkannya blazer dan memberinya senyuman yang sangat lembut dan hangat kepadanya.
Kirana belum mengenalnya, namun pemuda itu sudah berbuat baik padanya.
Ini adalah sesuatu yang sangat baru baginya. Kirana belum pernah bertemu dengan seseorang yang, yah, sangat baik (mungkin?) seperti Kiku sebelumnya. Aussy baik, tapi tidak sejak pertama mereka bertemu. Namun pemuda yang masih tersenyum lembut di hadapannya ini sudah bersikap sangat baik, bahkan sebelum Kirana menangkap bayangan Kiku di iris mahoninya.
Maka Kirana mengurungkan niatnya untuk kabur dan menyerahkan kesadaran tubuh Inesia pada Tara yang sekarang mulai mengganggunya dari dalam, atau kepada alter Inesia yang lain. Ia tertegun saat Kiku berhenti tersenyum untuk mengucapkan sebuah kalimat.
"Honda Kiku... Kirana-san bisa memanggilku Honda-senpai..." Kiku sedikit tergelitik akan ucapannya sendiri. Ia sudah tidak tahu lagi, berapa kali ia telah memperkenalkan dirinya pada gadis kecil di hadapannya ini, "Senpai itu panggilan untuk kakak tingkat..."
Kiku berjongkok di depan Kirana, menatap gadis yang masih berpikir itu dengan sabar dan penuh pengharapan. Sedangkan Kirana tidak tahu harus melakukan apa dan hanya bisa memperhatikan benik cokelat tanah yang sedang menatapnya itu berdetik-detik kemudian, sampai ia mempelajari sesuatu.
Kirana mencoba untuk mengungkapkan sesuatu lewat pandangan mata dan gestur kepalanya, Kiku tahu itu. Akan tetapi, Kiku tidak bisa mengerti apa maksud dari tatapan Kirana dan kepalanya yang menggeleng ke sana kemari seperti burung beo. Kiku akhirnya hanya bisa menaikkan alis dan membalas tatapan penuh makna Kirana dengan tatapan bingung.
Akhirnya, Kirana terlihat berpikir dan mulai memutuskan sesuatu, "H-honda... senpai?" panggil Kirana hati-hati.
"Hai? Kirana-san?" jawab Kiku lembut.
"Sesuatu... Honda-senpai... Baik-baik saja?"
.
.
.
.
Kiku mengedipkan matanya. Kini gantian Kiku yang keheranan akan reaksi Kirana yang malah –apa ini? Seperti mengkhawatirkannya? Kenapa Kirana harus berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya? Lagipula, yang harus dikhawatirkan di sini adalah Kirana yang telah mengalami ketakutan tanpa dasar, trauma hebat, secara teknis mengidap haphephobia syndrome (takut akan sentuhan) dan mental breakdown.
Oh ya, sebagai pelengkap mimpi buruk itu; Kirana juga mengalami Dissociative Identity Disorder, atau bekennya, Alter Ego.
Kiku bertepuk tangan dalam hati atas fakta yang sangat miris ini.
"Kenapa... Kirana-san berpikir seperti itu?" tanya Kiku.
"Berbeda..." ucap Kirana sembari kembali menatap mata Kiku lekat-lekat dan hampir membuat kepala Kiku meledak karena...
Malu.
Hei, bukan salah Kiku kalau ia jadi grogi karena mata mereka saling bertemu dan ia ditatap selekat itu oleh gadis yang secara teori dan teknis telah mencuri hatinya!
"Mata Honda-senpai dan Aussy berbeda..." ucap Kirana lagi.
"Yah... Tentu saja... Warna mataku cokelat tua dan Aussy-san hijau-..." kata-kata Kiku terhenti ketika Kirana mulai menggeleng perlahan.
"Apakah Honda-senpai mau berteman?"
"Huh?"
.
.
Huh?! C-chotto omachi kudasai! –Tunggu dulu sebentar!
Kiku memalingkan mukanya dari menatap Kirana, ia mulai menautkan alisnya dan berpikir dengan keras. Apakah Kirana melihat sesuatu di dalam dirinya? Apakah Kirana merasa kasihan padanya sehingga mengajaknya berteman? Kiku tak bisa memikirkan hal lain selain tanda tanya besar di dalam otaknya yang kata teman-temannya jenius itu.
Sumpah. Kiku tidak tahu apa yang Kirana maksud. Ia tidak tahu kalau ternyata Kirana se-'bisa berteman dengan baik dan tanpa masalah' ini. Menurut cerita Garuda, dan menurut hipotesanya, seharusnya Kirana adalah salah satu Alter yang akan sangat sulit untuk didekati.
Tapi di sinilah ia, gadis yang mengalami hal yang traumatis dan mengerikan. Menawarkan untuk menjadi temannya. Akan tetapi, setelah berpikir beberapa saat, Kiku akhirnya ingat bahwa percaya–tidak percaya, Kiranalah yang menolong Aussy saat pemuda itu dinakali dulu.
"Apakah Honda-senpai mau berteman?" tanya Kirana lagi.
"Kenapa?" tanya Kiku lirih setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya.
"Apakah kita sama?" Kirana malah balik bertanya, "Apakah Honda-senpai adalah bayanganku? Cerminanku?"
.
.
"Mungkin..." jawab Kiku lirih saat menyadari apa maksud Kirana.
Kiku mencoba untuk tersenyum lembut, namun kini agak sulit untuk dilakukannya. Kiku harus mengakui mata Kirana sangat tajam dalam menilai seseorang.
"Kalau begitu kita berteman... Jadi Honda-senpai tidak perlu takut lagi..."
"Aku tidak takut... Ini lebih seperti khawatir..." ucap Kiku lagi.
Sangat amat khawatir sampai-sampai ketakutan?
Kiku tersenyum pada pemikiran yang melawan kata-katanya sendiri. Yah, mungkin ia harus mengakui bahwa ia sedikit ketakutan dan kebingungan, bagaimana ia akan menghadapi Kirana yang memiliki kenangan buruk itu tanpa membuatnya lebih parah. Bagaimana ia akan meyakinkan Kirana bahwa dirinyalah yang ia butuhkan, bukan seorang Aussy.
Akan tetapi, Kiku sama sekali tidak menyangka bagaimana bisa Kirana membaca perasaannya itu hanya dari menatapnya selama beberapa detik kemudian menawarkan jalan keluar yang sangat pintar dengan polosnya.
"Kirana-san..." panggil Kiku dengan lembut yang malah membuahkan kerutan di kening Kirana, "A-ada apa?" lanjutnya sedikit khawatir karena Kirana kembali ketakutan.
"Kirana..."
"Huh?"
"Kirana... Bukan Kirana-san... Honda-senpai salah..." ucap Kirana lagi, lirih.
.
.
"I-itu... –san itu gelar panggilan..." balas Kiku kagok saat menyadari maksud Kirana.
Kirana menggeleng, tidak menyetujuinya, "Kirana... Ki-ra-na..."
.
.
"Kirana..." ucap Kirana lagi karena Kiku malah terdiam, dan entah mengapa muka pemuda itu memerah.
Kiku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Oke, dia tahu seharusnya ia mengikuti Kirana dan memanggil gadis di hadapannya ini dengan namanya; Kirana, dan tanpa embel-embel honorific itu. Akan tetapi, Kiku tidak bisa!
KIKU TIDAK BISA!
Maksudnya, Kiku sudah tidak memanggil Kirana dengan nama marganya! Walaupun sebenarnya mungkin Kirana tidak punya nama marga, namun tetap saja, itu sudah melambangkan kedekatan! Sekarang ia harus memanggil gadis itu tanpa honorific?
Itu sungguh memalukan!
Bukannya Kiku tidak mau menjadi lebih dekat dengan Kirana atau apa. Akan tetapi, kokoro Kiku belum siap untuk menghadapi loncatan keintiman yang begitu jauh. Ayolah! Kiku baru saja bertemu dengan Kirana sekitar 6-7 jam yang lalu, itupun dari kejauhan. Tentu saja Kiku tidak bisa memanggilnya dengan begitu dekat, non-formal dan akrab.
Jika sampai Kiku memanggil Kirana hanya dengan namanya, Kiku yakin, sangat amat teramat yakin sekali banget logika dan akalnya akan mulai kehilangan kendali pada diri dan hatinya. Kiku tidak mau itu terjadi, Kiku tidak mau dirinya kalah pada keinginan liarnya.
Oh, Kiku seharusnya mulai sadar bahwa yang membunuhnya bukan penyakit ataupun umur ataupun dikejar-kejar oleh masalah perebutan tahta dan bisnis keluarga besar yang sangat runyam.
Memanggil nama kecil.
Ya, hal sepele itulah yang sedang membunuhnya sekarang, saat ini–dengan sangat efektif.
"Kirana..." seru Kirana sekuat yang ia bisa, walaupun akhirnya tidak lebih keras daripada suara kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang. Kirana mulai frustrasi, gadis itu mulai merengek dan menangis karena Kiku tak kunjung memanggilnya dengan nama yang ia inginkan, "Ki-ra-na..." ucapnya lagi.
Kiku panik sekarang. Pertama karena Kirana menangis di depannya, ini bisa merusak hubungan mereka atau yang lebih parah lagi, memanggil Tara. Kedua karena pengunjung lain yang ada di sekeliling mereka mulai berasumsi bahwa Kiku telah berbuat hal yang sangat tidak gentleman dan membuat gadis di hadapannya ini menangis.
"B-baiklah... Baiklah!" seru Kiku kehabisan pilihan, "K-k..."
Kirana menghapus air matanya. Matanya yang tadinya berkaca-kaca kini berubah melebar dan antusias. Gadis itu menunggu Kiku menyebutkan namanya dan memperhatikan serta bertanya-tanya mengapa begitu sulit bagi pemuda di hadapannya ini untuk menyebutkan namanya. Padahal hanya melenyapkan kata '-san' saja.
Oh, demi 1945 buah kanji JLPT yang kudu dikuasai untuk tinggal di Jepang! Itu hanya satu kata dan letaknya di belakang!
Sedangkan Kiku, secara teoritis-teknis-praktis, sudah hampir kehilangan seluruh akal sehatnya hanya untuk menyebutkan nama itu; Kirana –tiga suku kata itu; Ki–ra–na. Matanya terasa berkunang-kunang, tubuhnya terasa berputar dan kakinya terasa lemas.
Kiku kira –dan berharap- ada gempa bumi saat ini juga. Sayangnya, daratan Eropa aman dari bencana alam semacam itu –setidaknya tidak seperti Jepang yang kalau tidak ada gempa sepanjang tahun, berarti besok Ivan akan jadi uke-nya Raivis.
Itu loh, Raivis Galante... Anak laki-laki kelas 2-B yang kecil dan imut, yang sering dibully oleh Ivan, yang berasal dari Latvia.
"K-k-k... K-k... K..." suara Kiku yang biasanya kalem, agak berat dan lembut itu berubah melengking, tinggi dan tergesa-gesa, seperti tercekik sesuatu.
Uwaaah! Sh-shikanishite! Ganbatte!
"K-k... K-k... K-kiii..."
Kirana bertambah antusias dan tegang saat tinggal dua suku kata yang belum terucap, terutama ketika Kiku mulai menutup matanya.
"K-kiiiiiiiiiiiii... Kiku!" seru pemuda itu kencang.
.
.
Kiku mengambil nafas panjang-panjang. Terengah-engah mengisi paru-parunya yang kosong karena siksaan yang baru saja dilancarkan oleh Kirana. Akan tetapi, itu sudah berakhir. Kiku bisa menghela nafas lega sekarang.
"Un... Kiku..." ucap Kirana menyetujui sesuatu.
.
.
"He?" Kiku mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah Kirana setelah paru-parunya terisi sempurna. Entah kenapa ada perasaan buruk mulai menggerayangi jantungnya –bersiap untuk menarik copot dari tempatnya berada sekarang.
"Kiku... Sekarang gantian panggil aku... Kirana..." sahut gadis itu datar nan polos.
.
.
"K-ki... Kirana-san kenapa memanggilku seperti itu?!"
"Kiku yang meminta kan? Barusan? Sekarang gantian... Ki-ra-na..." ucap Kirana berharap.
Chigaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuu desuuuuuuuuuuuuuuu!
"K-ki-kirana-san... I-ini salah paham..."
"Kita kan berteman?" tanya Kirana polos, "kan?"
"B-baiklah... Baiklah... Aku akan memanggil Kirana-san dengan... yang Kirana-san inginkan... Tapi hentikan memanggil namaku seperti itu..." ucap Kiku pasrah dengan muka merah membara.
"Kenapa?" tanyanya polos, "Aussy saja tidak apa-apa..."
"I-iya... Tapi Aussy-senpai, kan..." Kiku menghentikan kata-katanya, ia ingat pada beberapa hal yang membuatnya bungkam.
Alasan pertama Kiku adalah bahwa ia adalah kakak tingkat. Ia ingin ada senioritas agar bisa mengendalikan dirinya dan menjadikan senioritas itu sebagai batasan dan penghalang dari 'loncat dan menerjang' Kirana. Akan tetapi, Aussy bahkan lebih senior daripada dirinya dan itu bukan masalah. Alasan kedua, Kiku bukan teman dekat Kirana. Akan tetapi, kalau ia sampai mengatakan hal itu, Kiku tahu bukan hanya hati Kirana yang akan tersakiti; hatinya bahkan mungkin akan tersayat-sayat jutaan kali lebih parah dan berdarah-darah.
"U-uh... Baiklah..."
"Hmm?" mata Kirana melebar dengan antisipasi.
"K-ki..." Kiku mengambil nafas cepat dan menutup matanya, berjuang menenangkan jiwanya yang sedang kejang-kejang seperti mengidap penyakit ayan, "Kirana-sa...!" Kiku mencoba menghentikan kata-katanya sendiri dengan menutup mulutnya, namun refleksnya terlambat karena ia tak merasakan bibirnya di bawah mulutnya.
Namun sepasang tangan kecil yang lebih cepat menghentikan kata-kata Kiku dengan menutup mulutnya lah yang ia rasakan, di tangannya yang kini juga ikut menutupi mulutnya, di bibirnya.
"Ki-ra-na..." bisik Kirana membenarkan sembari sedikit menarik tangannya, memberikan ruang untuk Kiku memanggil namanya.
"Kirana-s..." panggil Kiku canggung, namun suaranya yang lembut dan hangat berangsur kembali sehingga nada groginya sedikit banyak tertutupi, "Kirana..."
HATSUKASHI YO! –Ini sungguh memalukan!
"K-kirana..."
Kiku tidak tahu lagi semerah apa mukanya saat ini. Ia tidak pernah merasakan hal se-memalukan ini sebelumnya. Oke, ralat, hal paling memalukan yang pernah terjadi padanya adalah saat makan malam dengan teman-teman Germania dan Roman. Memanggil nama Kirana tanpa honorifik menempati peringkat ke dua.
Tapi tetap saja memalukan!
Kirana tersenyum melihat semburat merah mewarnai wajah kuning pucat Kiku sehingga menjadi lebih 'hidup' dan segar. Gadis itu tertawa kecil, puas karena keinginannya dipenuhi, walaupun Kiku terlihat masih berusaha menyesuaikan diri.
"Kirana..."
"Ya?"
"Kirana..." panggil Kiku lagi, mulai terbiasa. Ia mulai merasakan nama itu membelai lidahnya dengan manis.
"Ya?" jawab Kirana sembari tertawa kecil yang membuat Kiku heran dan sedikit lebih tenang –terhipnotis oleh tawa renyah itu.
"Kirana..." panggilnya lagi. Namun kali ini ditambah dengan nada terlembut, terhangat dan sejuta perasaan yang tumpah ruah, "Kirana..."
Kirana mengedipkan matanya, tertegun pada panggilan Kiku. Namun sedetik kemudian nyawanya yang sempat hilang kembali dan ia menyadari kalau tangannya tidak berada di tempat yang seharusnya. Tangannya telah pergi menutupi mulut Kiku tanpa izinnya, dan kini ditahan –digenggam oleh Kiku dengan lembut dan hangat, namun kuat.
"Kirana..."
Kali ini giliran muka Kirana yang memerah dan panas akan panggilan itu, "U-ukh?!"
Cepat-cepat Kirana menarik tangannya dan menyembunyikannya dari Kiku yang tampaknya juga baru sadar bahwa yang disentuhnya tadi itu adalah tangan Kirana –bukan ranting kayu yang bisa digondol seenak jidatnya. Kirana kini hanya bisa diam, membayangkan semua hal buruk yang akan terjadi karena sentuhan itu.
Namun anehnya, ia tidak merasakan ketakutan yang biasanya menghantuinya saat ia menyentuh atau disentuh oleh seseorang. Oke, ia memang merasakannya –cemas, khawatir, namun kali ini tidak begitu menakutkan. Tidak begitu mengerikan seperti ketika orang lain yang menyentuhnya. Rasanya hampir sama seperti menyentuh Aussy, walaupun menyentuh Aussy lebih mudah dan lebih tidak menakutkan daripada ini.
Kirana menoleh ke arah Kiku yang masih memperhatikan tangannya sendiri. Tangan yang barusan menggenggam tangan miliknya dengan... –Kirana tidak bisa mendeskripsikannya. Satu yang Kirana yakini dari cara Kiku menggenggam tangannya, adalah cara itu terlalu asing baginya.
Asing, namun dalam arti positif.
Kirana tidak pernah merasakan seperti itu sebelumnya. Merasakan sentuhan yang membuatnya tenang dan menghangat –bahkan meleleh di detik itu, namun juga membuatnya berdebar sekarang. Menjadikan dirinya penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi karena ia menemukan sentuhan asing yang aneh, yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang –tapi bukan karena ketakutan.
"Mnh... Sumimasen deshita..." ucap Kiku sembari mencoba tersenyum lembut. Namun demikian, Kiku tidak bisa menutupi rasa yang memberatkan hatinya ini.
Kecewa.
Ya, Kiku sangat kecewa, marah serta sedih. Kiku bertanya-tanya, kenapa ia tidak bisa menggenggam tangan Kirana seperti Aussy? Kenapa Kirana harus ketakutan padanya bahkan setelah Kiku menyelamatkannya? Kenapa Kirana bisa sampai seperti ini? Kenapa Kirana tampak sangat tidak nyaman?
"Ki... Kirana-..." panggil Kiku dalam nada yang kembali kagok. Maklum, ia belum begitu terbiasa dengan tanpa honorific ini sehingga harus tiba-tiba berhenti di nada yang canggung, "Maaf..." lanjutnya sembari menundukkan kepala.
Kirana hanya bisa tertegun dengan permintaan maaf itu dan wajah menyesal yang dibuat oleh Kiku. Kirana pikir Kiku tidak harus meminta maaf. Kiku tidak harus memperlihatkan wajah menyesal yang menyedihkan itu. Tidak. Kirana bahkan merasa tidak suka kenyataan bahwa Kiku meminta maaf karena menyentuhnya.
Karena, entah mengapa, Kirana ingin sekali menyentuh Kiku sekarang.
.
.
.
.
.
.
-puk...-
-GYAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!-
Kiku menjerit histeris karena terlalu kaget saat ujung jari Kirana menyolek lengannya. Namun perasaan kaget dan degupan jantung yang berpacu abnormal kini berubah menjadi rasa kesal dan malu luar biasa. Padahal yang ketakutan setengah mati akan disentuh adalah Kirana, kenapa malah dirinya yang teriak-teriak saat disentuh?!
"K-kirana-s... uh..." Kiku hampir saja berteriak jengkel pada Kirana, namun berhenti saat melihat apa yang akan dilakukan oleh Kirana.
Kirana, yang tadinya membuntal ketakutan (lagi) saat Kiku berteriak, kini sedang berusaha untuk berani dan melakukan sesuatu. Akhirnya, Kiku memilih untuk mengamati ujung telunjuk Kirana yang hampir menyentuhnya lagi.
Ujung jari itu bergetar, mungkin karena Kirana yang masih takut. Mungkin gadis itu trauma akan teriakan Kiku yang mungkin terjadi lagi. Mengerti akan hal itu, Kiku akhirnya mencoba untuk tidak bergerak sama sekali, bahkan bernafas, demi melihat Kirana berusaha menyoleknya sekali lagi.
Jantung Kiku pun mulai berdetak sangat keras di dadanya. Melompat dengan perasaan senang, tidak sabar, frustrasi, jengkel, dan takut. Darahnya berlari sprint di nadinya, begitu antusias menunggu ujung jari Kirana yang sangat lambat mendekatinya.
-puk...-
"Oh..." Kirana bergumam kecil saat telunjuknya sampai di tempat tujuan; kain bahan blazer berwarna abu-abu yang tadi dipinjamkan Kiku padanya. Blazer yang kini telah kembali menutupi lengan Kiku, tanpa ada teriakan yang akan membuatnya nangis kejer.
Sedangkan Kiku hanya bisa memalingkan dan menutupi mukanya yang panas serta memerah dari wajah polos nan imut milik Kirana dengan lengannya yang lain, yang tidak dijadikan sebagai bahan eksperimen dan observasi oleh Kirana.
"Kiku..." panggil Kirana lembut sembari kembali menyentuh Kiku.
-Degh...-
"Apakah... tidak gerah menggunakan... jaket?"
"Uh... Ini blazer berbahan linen..." jawab Kiku, "Linen bahan kain yang dingin dan bisa menyerap keringat... Jadi tidak apa-apa..."
Gadis itu berdiri sebentar untuk mengambil tempat yang lebih dekat dari Kiku, kemudian kembali berjongkok di hadapan pemuda yang sudah tidak berani lagi untuk menatap matanya.
"Hmm..." Kirana bergumam mengerti, ia kemudian menelusuri serat-serat kain itu dan melihat telapak tangan Kiku di ujungnya.
Telapak tangan yang tadi menyentuhnya dan sempat menggenggamnya.
-puk... puk... puk...-
"K-kirana... A-apa yang... Apa yang kau lakukan?" tanya Kiku heran saat merasakan ujung jari Kirana terus menyolek dan menggoda telapak tangan Kiku.
-puk...-
Kirana menyolek sekali lagi, namun kali ini telunjuknya berhenti dan bertengger di telapak tangan milik Kiku. Kirana tertawa kecil menyadari prestasi menakjubkannya dan Kiku yang ternyata tidak berbahaya baginya.
Kiku menyadari telunjuk Kirana mulai menyusuri jari-jarinya, pergelangan tangannya dan kembali ke telapak tangannya. Namun, walaupun ini sudah putaran ke 10, Kiku masih belum berani menampakkan wajahnya dan menatap Kirana. Ia malah membenamkan wajahnya di kedua lututnya sembari menyumpah-nyumpahi tawa renyah Kirana yang sangat mengganggu kestabilan detak jantung dan nafasnya, terutama kejiwaannya. Apalagi sentuhan Kirana menggelitik sesuatu di dalam hatinya, membuatnya ingin loncat dan 'menangkap' Kirana sekarang juga.
Akan tetapi, Kiku tahu ia tidak boleh melakukannya. Ia hanya bisa menangkap jari Kirana yang kembali menyolek telapak tangannya itu. Hal ini membuat sang gadis berjengit kaget. Namun Kirana tidak menarik jarinya dengan ketakutan, jari itu tetap berada di sana dan hal ini membuat Kiku penasaran serta membalikkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi pada Kirana.
Gadis itu terlihat seperti hampir menangis. Gusar dan tidak tega, Kiku akhirnya melepaskan jari Kirana, "Warui... –Maaf..." ucap Kiku menyesal, ia segera menarik tangannya menjauh dari tangan Kirana, namun belum bergeser 10 senti, tangannya sudah terhenti karena Kirana malah menangkapnya.
"Uh..."
Kiku mengerutkan keningnya saat merasakan tangan kecil itu menahannya. Ia menoleh ke arah Kirana yang juga mengerutkan keningnya. Kirana menatapnya dengan tatapan 'Kumohon, beri aku waktu, jangan bergerak dulu...' yang membuat Kiku membeku.
Kiku tidak sanggup juga melihat Kirana yang kaku dan ketakutan. Meski demikian, Kiku tidak bisa menolak tatapan Kirana. Akhirnya ia hanya menyembunyikan hidung dan mulutnya dengan lengan atas yang tengah memeluk lututnya saat Kirana mulai melakukan putaran di telapak tangannya dengan hati-hati. Gadis itu mulai menyolek telapak tangan Kiku setelah putaran ke lima dan memberikan tatapan menunggu, Kiku tahu itu adalah permintaan untuk kembali menangkap jari Kirana.
Kiku melakukannya, namun kali ini dengan sangat pelan. Khawatir akan reaksi Kirana selanjutnya, Kiku terus mengawasi wajah yang mulai cemas itu, berusaha untuk tidak membuat gerakan tiba-tiba yang akan menghancurkan segalanya dan menunggu...
.
.
Kirana merengut heran pada jarinya yang digenggam oleh Kiku selama beberapa saat. Namun hanya itu, selanjutnya tatapan Kirana berubah menjadi kagum.
Saat Kirana akhirnya tersenyum senang, Kiku hanya bisa memandangnya dalam diam sembari menghela nafas lega. Terhipnotis oleh senyum yang sama dengan yang Kirana berikan pada Aussy tadi sore. Itu adalah senyuman yang sangat-sangat manis, tulus, polos bagaikan anak kecil yang sama sekali tidak tahu kejamnya dunia. Senyum yang sangat bahagia, yang mencoba menggoda Kiku untuk menarik kepala Kirana dan menciumnya sekarang, saat ini.
Tentunya Kiku tidak akan melakukannya. Bisa menangis atau malah kabur Kirana nanti.
Kiku hanya bisa ikut tersenyum lembut di balik lengannya, ia kemudian mengangkat tangan mereka sejajar dengan penglihatan mereka dengan sangat hati-hati. Sembari terus mengawasi raut wajah Kirana, Ia melepaskan jari Kirana yang baru saja berhasil ditangkapnya, namun tetap menahannya di tempat. Kiku tersenyum meyakinkan saat jarinya menyusup di antara jari-jari lentik Kirana, membuka telapak tangan Kirana dan menyelaraskan masing-masing jari.
Ibu jari dengan ibu jari.
Telunjuk dengan telunjuk.
Jari tengah dengan jari tengah.
Jari manis dengan jari manis.
Kelingking dengan kelingking.
Kiku sempat menahan nafas sebentar karena Kirana mulai menegang lagi, namun setelah beberapa detik penyesuaian, Kirana mulai memandangi tangan mereka dengan antusias.
Senyum Kiku melebar saat melihat mulut Kirana terbuka dan menggumamkan kekaguman yang lugu. Gadis itu bolak-balik menatapnya dan menatap telapak tangan mereka yang menempel, kulit dengan kulit. Ia juga memainkan jemarinya sedikit, penasaran dan heran akan tangan dan jemari Kiku yang lebih besar dan panjang daripada miliknya.
Garuda-san salah... Kirana-san bukannya tidak mau disentuh... Kirana-san hanya trauma... Ia hanya merasa tidak aman dengan sentuhan... Karena selama ini, sentuhan itu menyakitinya... Tapi jika sentuhan itu datang dari orang yang dipercayainya dan tidak menyakitinya...
Kiku menggerakkan jemarinya, menempatkannya di antara jari-jemari Kirana dan menangkupnya, menyatukannya, menggenggamnya erat bagaikan tak ingin melepaskannya. Pemuda itu menunggu reaksi Kirana yang mungkin akan segera menarik tangannya. Namun tidak, gadis itu memang hampir menarik tangannya, namun sepertinya ia sudah lebih percaya bahwa KIku tidak berbahaya. Kini sang gadis yang sudah tak dikuncir ponytail itu hanya mengawasi tangannya dengan cemas, khawatir dan gugup.
Namun senyum Kiku, tangannya yang hangat dan genggamannya yang kuat serta stabil, meyakinkan dan menenangkannya, membuat Kirana kembali tersenyum beberapa menit kemudian bahkan tertawa kecil membanggakan prestasi besarnya –bagaikan ia telah menaklukkan gunung Everest dan menapakkan kakinya di puncak tertingginya. Kini Kirana mulai memainkan jarinya dan mulai membalas menggenggam Kiku dengan lebih erat.
Kirana juga... Merindukan sentuhan...
-EEEEHHHHHHEEEEEEM!-
.
.
Lamunan keduanya berhenti saat mendengar seseorang berdeham. Bersamaan, keduanya menoleh ke sumber suara itu dan melihat seorang cleaning service yang memegang sebuah alat pel otomatis. Petugas itu menaikkan alisnya, meminta Kiku dan Kirana untuk minggir atau melakukan hal apapun yang lebih berguna daripada berjongkok di lobby, melakukan hal yang sangat menggelikan dan mengganggu tamu lain, terutama, mengganggu pekerjaannya.
Kiku yang mengerti maksud petugas itu segera berdiri dan menarik tangan Kirana yang telah bertautan dengannya untuk mengikutinya. Kiku membungkukkan badan, meminta maaf kemudian mulai berjalan bersama Kirana ke tempat yang tidak ada petugas cleaning service pengganggunya dengan muka yang sempurna merah padam.
"Kita mau ke mana?" tanya Kirana polos dari belakang yang membuat Kiku berhenti di dekat restoran.
Kiku berbalik badan dan menatap Kirana lekat-lekat, berpikir tentang apa yang seharusnya ia lakukan pada Kirana saat ini karena ia jelas-jelas tidak akan memilih pilihan untuk mengembalikan Nesia–atau Kirana saat ini ke kelompok gadis itu. Itu sama saja menyerahkan Nesia kepada Razak.
Tidak! Tidak akan Kiku lakukan!
Apalagi yang sekarang ini menguasai tubuh Nesia adalah Kirana yang sama sekali tidak mengenal Razak. Bisa-bisa gadis ini akan membuat kacau dengan jeritan-jeritan histerisnya. Namun ia juga tidak bisa membawa Kirana ke kelompoknya. Kiku tahu itu pilihan yang lebih baik, namun hanya sampai ketika ia teringat bahwa ia harus menjauhi Hong dan Yong Soo yang telah menjadi antek-anteknya Kakek Tara.
Itu berarti Kiku juga harus pergi dari penginapan ini, penginapan di mana kubu adik-tingkat-menjengkelkan dan kubu teman-setingkat-menyebalkan menginap juga. Kiku tahu nanti malam, nanti ketika makan malam dan semuanya makan bersama, akan ada badai yang maha dahsyat tepat di ruangan restoran ini. Kiku harus menghindarinya, dan pastinya, membawa Kirana pergi dari sini bersamanya.
Dan ia juga harus menghindari Kakek Tara dengan cara apapun.
.
.
Demi huruf hiragana 'nu' yang ngeluwer di akhir hayatnya! Kenapa camp musim panasnya jadi tidak jelas seperti ini sih?! Seharusnya camp musim panas kan; menginap bersama, BBQ bersama, wisata bersama, main kembang api bersama, atau uji nyali dan kegiatan aneh lainnya bersama! Bukan melakukan Life-survival dari Hong dan Yong Soo (dan mungkin antek-antek lainnya) serta dari The Last Boss, Absurd God(Grand)Father: Kakek Anggabaya Aji Nusantara R.
"Kiku?" tanya Kirana lagi, kali ini dengan mengayun-ayunkan tangan mereka yang bertautan.
Kiku mengusap mukanya, mencoba menjernihkan pikirannya agar dapat menemukan jalan keluar terbaik dari masalah ini. Mereka harus pergi dari tempat ini jika tidak mau terjadi adegan diikat, diseret, diculik, kemudian dikurung berdua di dalam kamar hotel (lagi). Mereka harus menjauh, sejauh-jauhnya, Kiku tahu akan hal itu.
"Kita ambil barang Kirana kemudian pindah, ya?" ucap Kiku sembari berusaha dengan sangat-sangat keras menekan rasa frustrasinya.
"Bagaimana dengan Aussy?" tanya Kirana polos yang entah mengapa malah menyulut sumbu kesabaran Kiku yang lain.
"Kita ambil barang kita kemudian pergi dari sini..." ucap Kiku sembari menarik Kirana tanpa menjelaskan apapun, "Kirana tadi lihat Aussy-senpai pergi dengan orang lain bukan?" lanjutnya setengah kesal.
.
.
-Hiks-
"Uh? Kirana?"
"Aussy... Pergi lagi?" tanya Kirana sedih, "Aussy meninggalkan Kirana lagi?"
Kiku tahu hatinya mulai hancur saat ini, akan tetapi, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak ingin Kirana menangis, namun ia tidak bisa memberikan jawaban pada pertanyaan Kirana, "Kirana... Kita pergi ya?"
"Kenapa? Aku ingin bersama dengan Aussy... Aku ingin Aussy! Aku tak ingin sendirian lagi!"
"Aku ada di sini, Kirana..."
"Uh?"
"Percayalah padaku?" ucap Kiku memohon.
Dua kata itu menggambarkan seluruh permintaan Kiku. Permintaan untuk tetap di sampingnya. Permintaan untuk lebih mempercayainya daripada pemuda Aussy itu. Permintaan untuk Kirana agar lebih memilihnya.
Permintaan agar Kirana menyadari bahwa Kiku lah yang Kirana butuhkan, bukan Aussy atau siapa pun lainnya.
"Kirana... Aku ada di sini..." ucap Kiku penuh arti yang membuat Kirana tertegun.
Melihat ketakutan mulai menghilang dari mata Kirana, Kiku kembali menarik tangan gadis itu dan mulai menuntun jalan mereka untuk mengambil barang mereka.
*O*
Entah mengapa, petir mulai menyambar-nyambar dan suara guntur mulai saling saut-menyaut di luar sana saat Kiku menemukan sebuah memo ketika ia mencari tasnya.
From : You-surely-know-who
Barang-barangmu dan Nak Nesia sudah kupindahkan kemari, Nak Kiku... Nak Kiku pasti tahu di mana bukan?
PS : Kalau kau mencari tas kecilmu, kau tahu harus mencarinya ke mana... Hint: Ada di atas tumpukan tasmu dan tas Nak Nesia... Teehee :D
PPS: Hong dan Yong Soo memang anak buah yang sangat profesional... Aku sangat bersyukur Nak Kiku memiliki teman seperti mereka...
.
.
Gaaaaaaaaaaaaaaaah!
Kiku memasang muka paling mengenaskan yang ia miliki saat membaca memo yang menggantikan keberadaan tasnya di kamarnya itu dan mengecek tas kecil yang terakhir kali ia ingat ia bawa.
Ia ingat ia membawanya! Kalau tidak, bagaimana ia akan membayar ocha-nya tadi?
Namun sebenarnya tidak. Kiku baru menyadari bahwa ia meninggalkan tas kecilnya saat minum ocha di meja kafe. Kiku merutuki mulai kebodohannya, merutuki pembicaraannya dengan Aussy, merutuki Razak dan kelompoknya yang datang entah dari mana, merutuki pertengkaran yang terjadi, merutuki kenapa ia membawa Nesia pergi namun tidak dengan tas kecilnya yang berisi dengan hal-hal penting seperti dompet, handphone, visa, apapun itu kecuali kameranya yang ia simpan di saku blazernya!
Oh! Kenapa ia bisa menjadi se-tidak-terencana ini?! Kenapa semuanya selalu berantakan dan tidak sesuai dengan keinginannya?! Kenapa ia tidak bisa beradaptasi dengan semua keabsurdan ini?! Seharusnya ia sudah belajar, khatam bahkan dengan aturan "berurusan dengan Nesia tidak akan sesimpel itu".
Kiku sangat ingin membanting atau menebas sesuatu. Hanya itu yang ada di otaknya kini. Atau jika tidak, Ia sangat ingin membunuh sesemakhluk sekarang!
Seharusnya ia ikuti saja apa kata hati dan instingnya kemarin saat mengepak baju-bajunya. Instingnya bilang untuk membawa Katana kesayangannya di camp musim panas ini, namun Kiku tidak menurutinya. Kiku seharusnya tahu bahwa inilah saatnya, saat di mana ia akan sangat membutuhkan Katana warisan para leluhurnya itu!
Paling tidak ia bisa mengancam kakek tua itu untuk mengembalikan barang-barang mereka!
Kiku menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sangat-amat teramat-frustrasi-banget. Ia tidak memiliki pilihan lain selain bermain di telapak tangan kakek tua yang kini telah Kiku yakini adalah pemimpin kawanan mafia di Indonesia –walaupun sebenarnya bukan, namun Kiku sudah tak peduli lagi.
Ini sungguh keterlaluan. Sungguh sangat keterlaluan!
"Kiku... Kau tidak apa-apa?" tanya Kirana polos –dan agak ketakutan.
"Kirana... Tolong diam sebentar..." ucap Kiku dengan nada yang membuat Kirana hampir menangis.
Kiku berusaha sangat keras. Sekali lagi, sangat keras untuk tidak meledak dan marah-marah. Ia butuh menenangkan diri sebentar.
"Ukh... M-maaf... Aku..."
"Hgh... Warui..." ucap Kiku merasa bersalah karena membuat Kirana ketakutan, "Ayo kita ambil barang kita..." ucap Kiku sembari mengulurkan tangannya.
"Uh..." Kirana menggigit bibir bawahnya dengan canggung ketika memberikan tangannya, "Jangan marah-marah..."
"Uh?" Kiku terhenyak sesaat, "Wakarimashita... –Aku mengerti..." lanjutnya dengan senyuman kecil dan menggenggam tangan Kirana kuat.
.
*O*
.
"Kiku... Kita akan kemana?" tanya Kirana memecah kesunyian saat gadis itu tak bisa menahan rasa ingin tahu dan ketakutannya lagi.
"Kita akan ambil barang kita..."
"Di mana?" tanya Kirana lagi.
Namun Kiku tidak bisa menjawabnya. Tidak, tenang saja, mereka tidak tersesat. Kiku ingat jalannya dan ia bisa menanyakan jalan jikalau mereka benar-benar tersesat. Masalahnya adalah, ia tidak bisa bilang ke Kirana bahwa mereka menuju ke sebuah hotel.
Itu akan menyulut kecanggungan tingkat dewa amaterasu yang bahkan membuat dirinya sendiri merinding. Bayangkan saja!
"Kiku... Kita akan kemana?"
"Hotel..."
"Kita mau ngapain di Hotel?"
Uh...
"... Mengambil barang kita?"
.
Oh... Hotel memang sebuah tempat ambigu yang terkutuk!
"Di mana kita mengambil barang?" tanya Kirana sekali lagi, semakin tidak nyaman karena langit di atas kepalanya semakin gelap.
"Hmmm... Nanti Kirana tahu... " ucap Kiku sembari memaksakan sebuah senyuman.
"Kita harus cepat ke sana..." ujar Kiana, "Tampaknya akan hujan deras seka-..."
-BRRRRRRRRRRRRRRSSSSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH...-
"Huwaa!" jerit Kirana kaget saat merasakan dinginnya air hujan yang tanpa peringatan langsung membuatnya basah kuyup dalam hitungan detik.
Kiku segera melepaskan blazernya dan menutupi kepala Kirana serta mengajaknya berlari ke tempat berteguh terdekat –yang tidak terlihat di mana-mana. Tidak sadar bahwa tindakannya sia-sia karena mereka sudah terlanjur basah sebasah-basahnya. Bagaikan habis bermain di arung jeram.
"Kirana..." panggil Kiku saat ia menemukan sebuah halte kecil di pinggir jalan dan mengarahkan mereka ke arah halte tersebut.
Oh! Apakah hari ini bisa menjadi lebih buruk lagi?!
Kiku bergumam sebal di dalam hatinya. Ia mulai menyalahkan Kakek Tara untuk semua ini, apalagi kalau Kirana sampai sakit nantinya. Oke, menyalahkan itu tidak baik, tapi ini semua terjadi benar-benar karena ulah kakek sarap itu!
Jadi tak apa dong kalau Kiku menyalahkan Kakek Tara?!
-Hatsiiiiiiiiiiiiiii...-
Kiku yang kaget akan suara itu memandang horor ke arah Kirana. Dilihatnya gadis itu kini menggigil kedinginan. Giginya yang pulih dan kecil-kecil mulai gemeletuk menahan dingin. Kiku ingin sekali memeluk Kirana sekarang agar suhu tubuh gadis itu meningkat sehingga Kirana tidak sakit. Namun itu tidak bisa dilakukan olehnya. Kiku sendiri basah –sangat-sangat basah. Ia hanya akan membuat Kirana semakin kedinginan.
I'm soooooo gonna kill that old man!
-JGLAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRR...-
"Uh..." Kirana memejamkan mataya erat-erat.
"Kirana?" tanya Kiku lagi, khawatir karena wajah Kirana telah berubah menjadi sangat pucat sekarang.
"Kirana... Daijoubu desu ka?" Kiku mulai mendekat ke arah Kirana, namun terhenti ketika kilatan cahaya petir dan suara guntur yang sangat keras, bagaikan mencambuk langit, mulai beradu.
"TIDAAAK!" teriak Kirana panik sembari menghambur ke arah Kiku.
-Bruuuukh...-
"U-ugh... K-kirana-san?"
"-ssy... Aussy... Aussy... Aussy... Aussy! Aussy!" tangis Kirana mulai pecah, gadis itu terus menerus memanggil nama Aussy ketika memeluk Kiku erat-erat, ketakutan, "Aussy... Aussy..."
"Aussy-san wa koko ni arimasen... –Aussy tidak ada di sini..." ucap Kiku dingin, mengalahkan dinginnya air hujan dan angin, bahkan kalau ada es di sana, tidak lebih dingin daripada suara Kiku yang kini sangat mematikan.
A/N:
Chapie 29!
Author: Gah! 30 lewat nih! *garukkepala* mana kemarin pas 4 April udah lewat setahun pula... FF ini udah setahun!
Neth: Ya... ya... lu doyan ngaret updet terus lebay sih...
Kiku: FF ku dan Nesia yang bertahan sampai setahun... Bukan One-shot yang kandas pula... *smirk
Neth: Eh! Jangan senam-senyum! Dasar gila!
Kiku: *sweet-polite-smile* ... Dasar sirik...
Background: HolPan kejar-kejaran... Dengan aura membunuh...
Nesia: *memutar bola mata* Hgh... selamat deh –thor...
Author: Oke, langsung saja balas review... Pertama... Sabila Foster-san :D :D Terimakasih ya sudah baca FF ini *bantuinkipas2* santai saja membacanya... :D :D Kiku... kau dicintai pembaca tuh!
Kiku: S-sore wa domo... –terimakasih... *masihlaridikejarNeth*
Nesia: Selanjutnya... Kak Nessi-chi :D kita juga bahagia di sini makan sate kelinci... :D
Neth *berhentimendadakterpuruk*
Nesia: Garuda... yah... =_=a aku harap ini yang terakhir kali ia muncul... *nutupmuka* gara-gara Garuda kemarin seperti itu skriptnya... Sekarang aku sal-ting mulu kalo ketemu Kiku...
Author: Berjuanglah Nesia...
Nesia: *tatapanjahat* Ini salahmu!
Author: Ya... ya... semua salahku... Aku yang buat =.=a Sampai sekarang udah 12 alter yang muncul :D Salam mistis juga :D Selanjutnya... QWERTY-chan... Hahaha... Panas ya...
Nesia: *mutarbolamata*
Author: Tambahin porsi Garuda? Oke deh... Kalau ada kesempatan ya...
Nesia: *menghelanafaslelah*
Author: Pair sama Kuro?
Nesia: TIDAK! Sama Kiku saja sudah masalah!
Author: Begitu kata Nesia... == kalau sama Kuro mah, berhasil naik rate nanti...
Nesia: *geleng5*
Author: Kiku... cara banting Razaknya keren tuh kaanya...
Kiku: Domo... Itu Judo :D
Author : Ngilu nggak ngelihat Nesia dipeluk orang lain?
Kiku: ... Jangan diungkit ya... *sweetdarksmile
Author: S-selanjutnya... BackAzure29-san... Iya, 2 chapter full Garuda Kiku :D Nanti Kiku sering-sering gitu deh...
Kiku: Sering-sering apa?
Author: Ya... Kayak gitu... Teehee...
Kiku: *facepalm* Aku merasakan niatan buruk?
Author: kemudian... Iya... endingnya nyesek... Biar Kiku magis Bombay...
Kiku: =_=a
Author: Idih... Bercanda... Selanjutnya... Hunterxx70-san... Kiku... tobatlah kau nak... Tobat Kiku...
Kiku: Author itu yang kudu tobat... Dan rate FF ini sudah 70% mendekati M... =.=a
Author: Lah... Kan nggak ngapa-ngapain aku?
Kiku: Nggak ngapa-ngapain? Kau bilang semua itu 'nggak ngapa-ngapain'?!
Nesia: Author mulai sarap... =.=a Lanjut... Kak Chrynsantemum1412, it's a no no no no and no... Sama Kiku saja seperti itu! Sama darksidenya?*horormode*
Author: Mungkin pantas dicoba...
Kiku: Author-san... cukup... Itu nanti tidak ada remnya...
Author: Kau takut Kiku?
Kiku: ...
Author: Takut ya?
Kiku: Aku hanya menghargai Nesia-san saja...
Author: Iya kah? Masa?
Kiku: Ugh... Selanjutnya xyx-san... Iya, di sana terbuka semua... Masalah rate itu... ya... Sudah nyenggol2... *nglirikAuthor
Author: *bisik* Jadiin M saja sekalian ya? *sweetsmile
Kiku: joudan desu yo ne?!
Author: Di deskripsinya saja... Di ceritanya g bakal 'itu' kok... Nggak ngerti hal-hal seperti itu soalnya...
Kiku: Kenapa aku tidak percaya, ya?
Nesia: Selanjutnya... Kak Orang Nyasar... *ngelihatnamanyalagi* Uh... Terimakasih sudah mau membaca FF alay di mana aku disiksa secara lahir batin juga psikologi ini... Doakan aku selamat...
Author: Lu yang alay, Nes...
Kiku: *blushing* G-ganbarimasu!
Author: "mudah-mudahan ada scene Kiku Nesia lagi 'ehem'..." Ehem...
Kiku: Mungkin demi kebaikan Nesia-san aku mundur saja dari FF ini...
Author: kalau kau mundur yang gantiin Kuro loh?
.
.
Kiku: ... Demi kebaikan bersama, mungkin aku harus bersabar sedikit lagi...
Neth: Kenapa tidak bersamaku saja?!
Author: Kau kan belum muncul, Neth...
Neth: Kenapa aku nggak muncul-muncul?!
Author: Next... Azuki-hazl san... Terimakasih masukannya... :D akan saya biasakan... :D *ngelihatbagianitu* Iya juga ya... Saya baru sadar...
Kiku: Author-san... Iie desu...
Author: ya... ya... Selanjutnya... Yuki Hiiro-san... Wow, sudah lama sekali ya, Author kangen *digeplak* Iya... sudah banyak banget ya wordsnya... sudah satu tahun sih... Si Neth ngancem-ngancem mau mbotakin masal seluruh manusia di bumi ini kalau sampai rambut anehnya itu...
Neth: Rambut berseni tinggi...
Author: *nyipitkanmata* sampai dibotakin... katanya biar adil... walaupun saya nggak tahu letak keadilannya dimana... Alternya sudah 12... Dan sepertinya sudah cukup(?)
Nesia: YEEEEEEEEEEEEESS!
Author: Sepertinya, Nes... Oh ya... Yang soal Tara itu dan honorifiknya... Kemarin baru buka buku catatan lagi, ternyata cowok bisa dipanggil 'chan' dan cewek juga bisa dipanggil 'kun'... tapi konotasinya jadi ngikut...
Kiku: Aku sudah mengingatkan... Tapi Author-san lupa mulu... *angkattangan
Author: Iya... Aku salah... Maaf... Maaf tidak menjelaskan di cerita juga... Tahu-tahu muncul saja... Selanjutnya... Veria-313-san... 40-50 chapter? Woah... Banyaknya... Mengalir saja ya... Oh ya, tentang typo itu, nggak apa-apa kok :D Itu karena pas nulis yang ada di pikiran itu "That is so like you..." yang aku nggak ngerti bahasa Indonesianya... jadi kutulis saja "Kalian sekali"... :P
Nesia: Dia nggak tahu bahasa Indonesianya... Durhaka!
Author: Pliss, Nes... Ada beberapa yang memang tidak bisa di bahasa Indonesiakan... Kadang juga aku berpikir sesuatu dengan bahasa Jawa, terus nggak ada bahasa Indonesianya... Aji mumpung dan saking itu apa coba bahasa Indonesianya?
Nesia: kesempatan? Saking itu karena terlalu?
Author: Nggak sedalem artisan aji mumpung dan saking... Aji mumpung itu tidak sedangkal kesempatan... Itu kesempatan yang... gimana gitu...
Nesia: nanti aku tanya sama Mba Surakarta deh... =.=a
Author: Lanjut... Seijuuro Fans-san... I-itu... Rate-M itu kalau 'begitu' kan? Ini belum sampek situ... kan?
Nesia: Kalau sampai situ malahan rate MA kayaknya...
Author: Ih... kan nggak ngapa-ngapain...
Kiku: ya... Hanya menurut Author-san...
Author: *bisik* Kayaknya aku nggak bakal bilang kepada Nesia untuk bawa senjata tajam... Karena jika iya, aku pasti sasaran pertamanya... T_T"" Dirgantara itu... salah satu Alternya Nesia... Dia... Apakah dia terlihat seperti om-om? Atau maksudnya Kakek (Nusan)Tara?
Kiku: Terlalu banyak nama Tara sih... Ini lagi salah satu Alternya Nesia-san yang lain ada yang namanya Lestari... Paling nanti disingkat jadi Tari sama Author-san...
.
.
Author: Kok tahu?
Kiku: Tidak kreatif... Selanjutnya... HiromiRI-san... Mungkin... Ada kemiripan sedikit... Dan, Author-san... masih banyak Typo...
Author: O-oke...
Kiku: Kemudian... Terimakasih, dan ini harus lanjut sampai selesai... kalau tidak... Saya sediri yang akan hantui Author!
Author: semangatnya...
Kiku: Kemudian...
.
.
Kiku: Hai... Kita akan berjuang!
Author: ?
Kiku: Selanjutnya, xxx-san... Ini sudah dilanjut... Saya pasti muncul kok :D Saya tokoh utamanya :D :D
Author: Tumben ya Kiku jadi tokoh utamanya...
Kiku: A-ada banyak FF yang aku menjadi tokoh utamanya kok!
Author: Iya... iya... Ya sudah... segini dulu ya :D Besok dilanjut lagi... Mohon kritik saran dan reviewnya ya... :D :D :D
Byeeeee~~~ :D
